Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

56 

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Anika Restu Pradini

Tempat / Tanggal Lahir : Payakumbuh / 29 Januari 1994

Agama : Islam

Alamat : Jl. Pembangunan USU no. 120 Medan

Telepon : 083180975655

Orang Tua : Ayah : Drs. Rakiman, MM Ibu : Suratmi, SH

Riwayat Pendidikan : SD Negeri 01 Sarilamak

SMP Negeri 01 Kota Payakumbuh SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang Riwayat Organisasi : PHBI FK USU 2011-2014

(2)

LAMPIRAN 2

LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN

“Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang”

Saya, Anika Restu Prradini, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara semester VII, sedang melaksanakan penelitian dengan judul

“Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status gizi dan ganggguan tidur pada remaja.

Untuk kepentingan pengumpulan data penelitian ini, saya mohon kesediaan responden untuk dilakukan pengukuran berat badan dengan timbangan, tinggi badan dengan alat stadiometer, dan penilaian gangguan tidur dengan pengisian kuesioner.

Setelah memahami hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini, saya mengharapkan Anda dapat mengisi lembaran persetujuan dan berpartisipasi dalam penelitian ini.

Padang Panjang, 2014 Hormat saya,

(3)

LAMPIRAN 3

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :

Jenis Kelamin : Umur :

Alamat : No. Telp/Hp :

Setelah mendapat keterangan secara terperinci dan jelas mengenai penelitian

“Hubungan Status Gizi dan GAngguan Tidur pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang”, maka dengan ini saya meyatakan bahwa saya secara sukarela bersedia diikutkan dalam penelitian tersebut.

Padang Panjang, ...2014 Yang menyatakan,

(4)

Lampiran 4

1. Jam berapa biasanya anda mulai tidur malam?

2. Berapa lama biasanya anda baru bisa tertidur tiap malam? 3. Jam berapa anda biasanya bangun pagi?

4. Berapa lama anda tidur di malam hari? 5. Seberapa sering masalah-masalah di bawah

ini menggangu tidur anda? a. Tidak mampu tertidur selama 30 menit sejak

berbaring

b. Terbangun di tengah malam atau terlalu dini c. Terbangun untuk ke kamar mandi

d. Tidak mampu bernafas dengan leluasa e. Batuk atau mengorok

f. Kedinginan di malam hari g. Kepanasan di malam hari h. Mimpi buruk

i. Terasa nyeri j. Alasan lain

6. Seberapa sering anda menggunakan obat tidur?

7. Seberapa sering anda mengantuk ketika beraktifitas disiang hari?

Tidak peduli

Kecil Sedang Besar

8. Seberapa besar antusias anda ingin menyelesaikan masalah yang anda hadapi?

(5)
(6)

LAMPIRAN 6

Output Penilitian

1. Status Gizi dan Gangguan Tidur

Psqikel Total

Continuity Correctionb 10.140 1 .001 Likelihood Ratio 11.677 1 .001

Fisher's Exact Test .001 .001

N of Valid Cases 100

(7)

2. Jenis Kelamin dan Gangguan Tidur

Continuity Correctionb 1.028 1 .311 Likelihood Ratio 1.479 1 .224

Fisher's Exact Test .237 .155

N of Valid Cases 100

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23.03. b. Computed only for a 2x2 table

3. Usia dan Gangguan Tidur

(8)

4. Distribusi responden

Umur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

(9)

32

Daftar Pustaka

Agustin, Destiana. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur Pekerja Shift di PT Krakatau Citra Industri Cilegon. Jakarta. FK UI

Alonso-Vale,et all.2004.Melatonin enhance leptin expresion by rat adipocytes in the presence of insuline. Brazil : American Physiological Journal (288) 805-812 available from : http://dx.doi.org/10.1152/ajpendo/00478

Antczak.J. 2008.The Influence of Obesity on Sleep Quality in Male Sleep Apnea Patients Before and During Therapy. Poland: JPP;6:123-134 available at : http://www.jpp.krakow.pl

Arisman. 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2013. Departemen Kesehatan RI

Beebe W.Dean.2007.Sleep in Overweight Adolescents: Shorter Sleep, Poorer Sleep, Quality, Sleepiness, and Sleep Disorder Breathing. Ohio : Oxford University Press. Journal of Pediatric Psychology 32(1);69-79. Available from : http://dx.doi.org/10.1093/jpepsy/jsj104ooks,H.L.,2008.

Barret,K.E.,Barman,S.M.,Boitano,S., and Brooks,H.L.,2008. Ganong Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta : EGC hal 269-304

CDC,2013. National Centre for Chronic Disease Prevention and Health

Promotion. Available from :

http://www.cdc.gov/healthyyouth/obesity/facts.htm

Downey,R., 2012. Obstructive Sleep Apnea. In : Medscape Drugs Disease and Procedures. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/295807-overview

(10)

33

Haryono, Adelina dkk.2009. Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Usia 12-15 Tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Sari Pediatri(11) ; 149-154

Kalra,Maninder et al.2005.Obstructive Sleep Apnea in Extremely Overweight Adolescents undergoing Bariatric Surgery. Ohio: Obesity Research (13);1175-1178

Kemenkes RI.2010. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak

Lowry et al, 2012. Association of Sleep Durationwith Obesity among US High School Students. USA: Journal of Obesity .Available from www.hindawi.com/journals/jobe/2012/476914

Mateos S.Sanchez et all. 2007. Melatonin and estradiol effect on food intake, body weight, and leptin in ovariectomized rats. Spain : Elsevier.Maturitas(58) ;91-101. Available from : http://www.elsivier.maturitas.com/locate/maturitas Meltzer,J.L and Jodi A.Mindell,PhD.2008. Behavioural Sleep Disorders in

Children and Adolescents. Philadelphia: Elsevier Saunders. Sleep Med Clin(3);269-279

Rahayu R.A. 2009. Gangguan Tidur . Dalam Sudoyo W.Aru, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta : Interna Publishing hal.802-811 R. M. Kliegman, R.E. Berhman, B.F. Stanton, & H.B. Jenson.2007. Nelson

Texbook of Pediatric Ed18th. Philadelphia: Elsivier

Sadock J.Benjamin,&Virginia A.Sadock.2012. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi II. Jakarta : EGC

(11)

34

Stores, Gregory.Aspect of Sleep Disorders in Children and Adolescents. University of Oxford: Dialogue Clin Nauroaci.2009;11:81-90

Tanjung,M.C dan Rini Sekartini.Masalah Tidur pada Anak. Jakarta: Sari Pediatri.2004; 6: 138-142

Tortora,G.J. and Derrickson,B., 2009. Principles of Anatomy and Physiology. 12th Ed. Hoboken : John Wiley&Sons, Inc.

University of Pittsbur. Sleep Medicine Institute. Pittsburg Sleep Quality Index. Available from : www.sleep.pitt.edu/content.asp?id=1484&subid=2316

Verhulst, SL.,2006. Sleep Disorder Breathing in Overweight and Obese Children and Adolescents : prevalence, characteristics, and the role of fat. Belgium : Arch Dis Child(92);205-206. Available from : http://dx.doi.org/10.1136/adc.2006.10189

WHO.2007. WHO Reference 2007 for Child and Adolescene. Ganeva. Available from http://www.who.int/growthrcf/

Yuan,Haibo, et al,2013. Relationship between Body Fat Distribution and Upper Dynamic Function during Sleep in Adolescents. Philadelphia : SLEEP(8); 1199-1207. Available from : http://dx.doi.org/10.5665/sleep.2886

(12)

18

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian

3.2. Identifikasi Variabel 3.2.1. Variabel independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah status gizi pada remaja.

3.2.2. Variabel dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah gangguan tidur pada remaja.

3.3. Definisi Operasional

Tabel 3.2. Definisi Operasional Penelitian

(13)

19

Nominal Nominal Nominal Nominal

3.3.2. Remaja

Remaja adalah sekelompok anak berusia 10-19 tahun, yang terbagi dalam tiga tahapan early usia 10-13 tahun, middle usia 13-16 tahun dan late usia 16-19 tahun. Dalam penelitian ini dilakukan pada sekelompok remaja usia 16-18 tahun.

3.4. Hipotesa

(14)

20

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik yang melihat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur pada remaja. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, yang bertujuan mempelajari hubungan antara kelebihan berat badan (faktor risiko) dengan gangguan tidur (efek), baik pada subjek yang memiliki faktor risiko maupun pada kelompok tanpa faktor risiko. Pengukuran terhadap variabel dalam penelitian ini dilakukan hanya satu kali, pada satu saat tanpa ada follow up.

4.2. Waktu dan Tempat Penilitian

Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Padang Panjang. Waktu penelitian dimulai dari bulan Juli sampai Agustus 2014.

4.3. Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

4.3.1.1. Populasi target

Populasi target pada penelitian ini adalah anak usia 16-18 tahun. 4.3.1.1. Populasi terjangkau

Populasi terjangkau penelitian ini adalah anak usia 16-18 tahun yang bersekolah di SMA Negeri 1 Padang Panjang tahun 2014. 4.3.2 Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

4.3.2.1 Perkiraan besar sampel

(15)

21

Dengan rumus , yaitu:

n1 =n2=

(

2PQ +Zβ

P1Q1+P2Q2

)

2

(P1-P2)2

n1 =n2=

(

1,96

2x0,15x0,85 +0,842

0,24x0,76+0,06x0,94

)

2

(0,24-0,06)2

Keterangan :

N = jumlah sampel tiap kelompok

Zα =tingkat kemaknaan α 5% = 1,96 (ditetapkan) Zβ =power β 20% =0,842 (ditetapkan)

P1 =proporsi efek yang memiliki faktor risiko=0,24 (Marcus et al) P2 =proporsi efek yang tidak memiliki faktor risiko=0,06 (ditetapkan) Q1 =(1-P1)=0,76

Q2 =(1-P2)=0,94 P =( P1+P2) / 2 =0,15 Q =(1-P) = 0,85

4.4. Kriteria inklusi dan kriteria eksklusi 4.4.1. Kriteria inklusi

1. Anak usia 16-18 tahun.

2. Anak dengan status gizi normal dan berlebih. 3. Telah menandatangani lembar persetujuan. 4.4.2. Kriteria eksklusi

1. Anak yang menderita gangguan kejiwaan, meliputi gangguan psikosis, shizofrenia, gangguan depresi mayor, dan gangguan bipolar. 2. Anak yang menderita keterbelakangan mental.

3. Anak yang menderita penyakit kronik, seperti penyakit paru kronik, dan gangguan neuromuskular.

4. Anak yang mengkonsumsi alkohol dan narkotika.

(16)

22

4.5. Teknik pengumpulan data

Pengambilan data dilakukan secara primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung dari sampel penelitian. Dimulai dengan melakukan sosialisasi tentang maksud dan tujuan penilitian kepada sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi. Responden menandatangani informed consent sebagai bukti bersedia ikut serta dalam penelitian.

Penilaian status gizi melalui pengukuran IMT dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan responden. Pengukuran berat badan menggunakan timbangan berat seika. Pengukuran ini dilakukan dalam keadaan responden menggunakan baju yang tipis, tidak menggunakan sepatu, mengosongkan isi kantong, dan melepaskan jam tangan, perhiasan, juga kacamata. Posisi responden membelakangi hasil pengukuran berat badan pada timbangan dan kedua tangan di samping dengan telapak tangan menghadap ke paha. Pengukuran tinggi badan menggunakan portable rigid stadiometer. Pengukuran ini dilakukan dengan posisi responden berdiri tegak dengan skapula bersandar pada tembok dan menghadap ke depan dengan melepas sepatu. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali untuk memastikan hasilnya. Apabila pada hasil pemeriksaan ditemukan perbedaan lebih dari 0,5cm, pengukuran dilakukan untuk ketiga kalinya. Angka yang diambil pada pengukuran tinggi badan adalah angka rata-rata dari ketiga pengukuran. Indeks Masa Tubuh (IMT) dihitung dengan membagi berat (kg) dengan tinggi kuadrat (m2). Pengukuran IMT tersebut kemudian diplotkan ke dalam kurva z-score WHO

IMT untuk usia 5-19 tahun. Ditegakkan status gizi normal apabila hasil z-score antara -2SD dan +1SD. Status gizi berlebih meliputi ditegakkan apabila hasil z-score di atas +1SD.

Penilaian gangguan tidur dilakukan dengan pengisian kuesioner, yaitu Pittsburg Sleep Quality Index(PSQI) oleh masing-masing responden penelitian.

(17)

23

4.6. Metode Pengolahan dan Analisa Data 4.6.1 Pengolahan Data

Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan. Tahapan pengolahan data meliputi editing, coding, cleaning, dan saving. Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data. Apabila

data belum lengkap ataupun ada kesalahan, data dilengkapi kembali dengan menanyakan kepada responden. Coding berarti memberi kode secara manual pada variabel penelitian berdasarkan suatu kategori. Data status gizi responden dibagi menjadi dua kategori, yaitu normal dan berlebih. Kuesioner gangguan tidur yang telah diisi oleh responden juga dibagi menjadi dua kategori, yaitu normal(tanpa gangguan tidur) dan ada gangguan tidur. Entry data dimasukan ke dalam program Statistic Package for Social Science (SPSS). Pada tahapan selanjutnya, cleaning, semua data yang telah dimasukan ke dalam komputer diperiksa kembali guna menghindari kesalahan dalam pemasukan data. Data yang telah tepat akan di analisa. 4.6.2. Metode Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisis data univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari seluruh variabel penelitian. Penyajian akan didistribusikan dalam bentuk tekstual dan tabel.

2. Analisis Bivariat

(18)

24

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Padang Panjang yang berlokasi di Jalan Ahmad Dahlan No 09, Guguk Malintang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat 27128. SMA Negeri 1 Padang Panjang merupakan salah satu sekolah terbaik di Sumatera Barat , yang menciptakan kesinambungan antara IMTAQ dan IPTEK.

Sekolah ini memiliki sarana antara lain yaitu asrama, ruangan kelas, ruang administrasi, ruang laboratorium komputer, ruang laboratorium fisika, ruang laboratorium biologi, perpustakaan, ruang guru, aula, kantin, kamar mandi, dan lapangan olahraga. Sekolah ini memiliki siswa kelas X sebanyak 262 orang, kelas XI sebanyak 276 orang, kelas XII sebanyak 224 orang dan 90 orang dari tiap angkatan adalah siswa asrama.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden

Penelitian dilakukan mulai Agustus 2014 di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang. Data lengkap mengenai karakteristik responden dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Karakteristik Gangguan tidur Total (%)

(19)

25

(20)

26

5.1.3. Hasil Analisa Data

Tabel 5.2. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Tidur

Jenis Kelamin Gangguan Tidur Total

Tidak (%) Ada (%)

Laki-laki 29 (59,2%) 20 (40,8%) 49 (100%)

Perempuan 24 (47,1%) 27 (52,9%) 51 (100%)

P = 0,225 Chi Square Test

Pada tabel 5.2. dapat dilihat bahwa mayoritas responden laki-laki tidak memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 29 orang (59,2%) sedangkan yang memiliki masalah gangguan tidur sebanyak 20 orang (40,8%). Pada responden perempuan, mayoritas adalah memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 27 orang (52,9%) dan yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 24 orang (47,1%). Tingkat kepercayaan pada tabel ini adalah sebesar 0,05. Dari uji Pearson chi-square didapat nilai p = 0,225 (p > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan gangguan tidur.

Tabel 5.3. Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur

Status Gizi Ganggguan Tidur Total

Tidak Ada (%)

Normal 36 (69,2%) 16 (30,8%) 52 (100%)

Lebih 17 (35,4%) 31 (64,6%) 48 (100%)

P = 0,001 Chi Square Test

(21)

27

sebanyak 17 orang (35,4%). Tingkat kepercayaan pada tabel ini adalah sebesar 0,05. Pada tabel ini didapat nilai p = 0,001 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan gangguan tidur.

5.2. Pembahasan

Pada penelitian ini dijumpai gangguan tidur pada remaja sebesar 47%. Penelitian yang dilakukan Fisher et al menunjukan frekuensi gangguan tidur sebesar 35-46% pada remaja usia sekolah, persentase jenis gangguan tidur yang dialami 39% insomnia, 17% OSA, 8,98% hipersomnia, dan 28,2% mengalami hipersomnia. Sedangkan penelitiann yang dilakukan Ohida et al di Jepang menunjukan prevalensi gangguan tidur pada siswa SMP dan SMA yang bervariasi 15,3% - 39,2% tergantung jenis gangguan tidur yang dialami. Sementara di Indonesia belum ada penelitian epidemiologi mengenai gangguan tidur pada remaja.

Gangguan tidur merupakan kumpulan kondisi dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas, dan waktu tidur seseorang. Jika terjadi gangguan tidur secara kronik bisa mengganggu pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan sosial seorang remaja. Berbagai faktor mempengaruhi pola tidur remaja, yaitu faktor non-medis dan faktor medis. Remaja yang sudah mengalami pubertas akan mengalami perubahan irama sirkadian dan pematangan system neuroendokrin, yang bisa mempengaruhi pola tidur. Perubahan pada HPA-axis akan meningkatkan sekresi kortisol menyebabkan keadaan hyperaurosal sehingga tejadi delayed sleep onset. Factor non-medis terdiri dari jenis kelamin, pubertas, social

ekonomi, gaya hidup dan lingkungan. Faktor medis terdiri dari riwayat penyakit kronik seperti asma dan dermatitis, dan gangguan neuropsikiatri (Milmann, 2005)

(22)

28

yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan tidur, karena perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi dalam menghadapi kelelahan akibat pubertas, prevalensi gangguan mental yang lebih tinggi, serta lebih sensitive dan mudah stress dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan penelitian yang dilakukan Mindell (2003) menyatakan bahwa delayed sleep phase disorder lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, karena adanya perubahan pada irama sirkadian yang dipengaruhi oleh kondisi medis, lingkungan, sosial, psikologi, merokok, dan kafein. Pada penelitian ini tidak dijumpai hubungan antara jenis kelamin dan gangguan tidur, mungkin karena jumlah sampel yang terlalu sedikit, tidak melihat faktor penyebab gangguan tidur lainnya, dan dari kuesioner PSQI yang digunakan tidak dapat mengidentifikasi jenis gangguan tidur yang dialami responden.

Penelitian ini menunjukan ada hubungan antara status gizi lebih dan gangguan tidur, dengan prevalensi sebesar 66% dan nilai p < 0,001. Seiring dengan penelitian yang dilakukan Marcus et al menjelaskan bahwa 36% anak dan remaja yang obesitas ditemui kelainan pada pemeriksaan polysomnography(PSG), 24% di dalamnya menderita OSA. Penelitian yang dilakukan Verhulst et al (2006) menemukan prevalensi OSA pada obesitas adalah 16% dan 41% pada pasien overweight. Pada obesitas terjadi akumulasi lemak di daerah leher, lidah, ataupun

di struktur saluran nafas atas (Yuan,2013). Sehingga menyebabkan penyempitan saluran nafas atas, hal ini menimbulkan mendengkur(snooring) saat tidur. Jika penyempitan saluran nafas terus terjadi secara progresif, ini akan menimbulkan OSA (Downey,2010). Hal ini menunjukan korelasi positif antara obesitas dan OSA. Pada penelitian yang dilakukan Zimberg et all (2011), menjumpai hubungan antara variabel antropometri dan pola tidur. Penelitian tersebut menemukan korelasi positif pada persentase slow wave sleep dan lean body mass, korelasi positif antara terbangun-bangun tengah malam dengan BMI. Penelitian tersebut menyimpulkan semakin tinggi deposit lemak tubuh akan meningkatkan risiko gangguan tidur.

(23)

29

slow wave sleep(SWS) yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki

BMI 26,8kg/m2. Pasien dengan SWS yang rendah akan mendapatkan risiko menjadi obese 1.4 kali. Dengan demikian, terdapat hubungan dua arah antara pola tidur dan variabel antropometri.

Pengaruh obesitas dalam pola tidur sangat terlihat pada pasien OSA, karakteristik pola tidurnya dijumpai penurunan effisiensi tidur, penurunan fase REM dan slow wave sleep (tahap 3 dan 4 fase NREM), peningkatan light sleep (tahap 1 dan 2 fase NREM) serta EDS. Hipotesis beberapa peneliti menyebutkan efek ini timbul karena peningkatan sitokin seperti interleukin-6 dan tumor necrosis factor-a dalam serum pasien obesitas. Dan ada mekanisme lain yang

(24)

30

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 100 responden di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang, maka dapat disimpulkan hal sebagai berikut:

1. Prevalensi remaja dengan status gizi normal pada penelitian ini sebesar 52%, dan remaja dengan status gizi lebih sebesar 48%. 2. Prevalensi gangguan tidur yang ditemukan dalam penelitian ini

sebesar 47%.

3. Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan gangguan tidur. 4. Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan

gangguan tidur.

6.2. Saran

1. Perlu dilakukan pendekatan terhadap siswa yang beresiko mengalami gangguan tidur dan untuk menentukan penanganan lebih lanjut dengan melibatkan Bimbingan Konseling (BK) di sekolah dan orangtua siswa tersebut.

2. Perlu dilakukan penurunan berat badan ideal kepada responden dengan gizi lebih karena akan memiliki banyak risiko penyakit . 3. Penelitian ini tidak mengidentifikasi berbagai faktor lain yang

(25)

31

psikologis, akademik, dan lingkungan remaja yang mungkin berkaitan dengan terjadinya masalah gangguan tidur pada remaja 4. Perlu dilakukan penelitian yang mengobservasi hubungan status gizi

(26)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Status Gizi

2.1.1. Pengertian status gizi

Status gizi adalah ekspresi keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi tertentu atau keadaan fisiologis akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh (Supariasa, 2002).

2.1.2. Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi Status Gizi dibagi menjadi empat, yaitu : a. Gizi berlebih, termasuk overweight dan obesitas b. Gizi baik

c. Gizi kurang, termasuk under weight yang mencakup mild dan moderate PCM (Protein Calori Malnutrition)

d. Gizi buruk, termasuk severe PCM, marasmus, marasmik-khwasiorkor, dan kwashiorkor.

2.1.3. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi terbagi atas dua, yaitu : A. Pemeriksaan Langsung, yang terdiri dari:

1) Antropometri

Pengukuran antropometri relatif sering digunakan karena prosedurnya yang sederhana,aman, dapat dilakukan pada jumlah sampel yang besar,dan hasilnya mudah disimpulkan karena memiliki ambang batas (cutt off point) dan buku rujukan yang sudah pasti.

(27)

5

2) Biokimia

Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan menggunakan spesimen jaringan tubuh(darah, urine, tinja, fungsi hati, dll) yang diuji secara laboratorium terutama untuk mengetahui kadar hemoglobin, feritin, glukosa, dan kolesterol. Pemeriksaan biokimia bertujuan mengetahui kekurangan gizi spesifik.

3) Klinis

Pemeriksaan dilakukan pada jaringan epitel permukaaan seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral. Pemeriksaan klinis bertujuan mengetahui status kekurangan gizi dengan melihat tanda-tanda khusus.

4) Biofisik

Pemeriksaan dilakukan dengan melihat kemampuan fungsi serta perubahan struktur jaringan tertentu.

B. Pemeriksaan Tidak Langsung, yang terdiri dari : 1) Survey Konsumsi Makanan

Penilaian konsumsi makanan dilakukan dengan wawancara kebiasaan makan dan perhitungan kalori konsumsi makanan sehari-hari. Tujuan penilaian ini adalah mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan gizi. 2) Statistik Vital

Pemeriksaan dilakukan dengan menganalisis data kesehatan seperti angka kematian, kesakitan yang terkait dengan masalah gizi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan indikator tidak langsung status gizi masyarakat.

3) Faktor Ekologi

(28)

6

2.1.4. Pengukuran Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi dari beberapa parameter disebut indeks antropometri; TB/U , BB/U, BB/TB, dan IMT/U. Akan tetapi dalam penilaian status gizi anak dan remaja 5-19 tahun bisa digunakan BMI/U dengan ajuan baku WHO-NCHS 2007.

Indeks Massa Tubuh merupakan indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur populasi berat badan lebih dan obesitas. Pada remaja dan anak-anak pengukuran IMT sangat terkait dengan umurnya, karena seiring dengan pertambahan umur terjadi perubahan komposisi dan densitas tubuh .Tetapi pengkuran IMT tidak bisa dilakukan pada pasien dengan keadaan khusus, seperti adanya edema, asites, dan hepatomegali.

IMT = Berat Badan (kg)

(Tinggi Badan X Tinggi Badan )

Dalam menginterpretasikan hasil pengukuran indeks antropometri, diperlukan ambang batas(cutt of points) dan baku rujukan yang sudah pasti. Ambang batas disajikan dalam dua cara, yaitu :

a. Persentil : tingkatan posisi seseorang pada distribusi referensi(WHO-NCHS atau CDC-2000), yang dijelaskan dengan nilai seseorang sama atau lebih besar daripada nilai persentase kelompok populasi.

(29)

7

b. Z-score : deviasi nilai seseorang dari nilai median populasi referensi dibagi dengan simpangan baku papulasi referensi.

Z-score = nilai IMT yang diukur – Median nilai IMT(referensi) standar deviasi referensi

Tabel 2.1. Klasifikasi status gizi menurut WHO berdasarkan IMT/U Nilai Z-score Klasifikasi

z-score > +2 Obesitas z-score > +1 Overweight -2 < z-score < +1 Normal -3 < z-score < -2 Kurus z-core < -3 Sangat kurus

Tabel 2.2. Klasifikasi status gizi menurut Menkes RI 2010 berdasarkan IMT/U Nilai Z-score Klasifikasi

z-core > +2 Obesitas +1 < z-score < +2 Gemuk -2 < z-score < +1 Normal -3 < z-score < -2 Kurus z-core < -3 Sangat kurus

2.2. Konsep Tidur 2.2.1. Definisi

(30)

8

2.2.2. Siklus Tidur

Stadium tidur pada manusia ditentukan berdasarkan karakteristik dari pemeriksaan polysomnography yang mencakup pemeriksaan electroencephalogram (EEG), electrooculogram (EOG), dan electromyogram

(EMG) yang diukur sekaligus sebagai parameter electrophysiologic. Berdasarkan profil polysomnographic, stadium tidur dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Non-Rapid Eye Movement (NREM)

Tidur NREM disebut juga tidur gelombang lambat, karena gelombang otak yang ditunjukan sangat kuat dan frekuensinya lambat. Periode ini menguasai 75-80% dari total tidur. Terdapat 4 tahap pada fase NREM, yaitu a. Tahap I

Fase ini merupakan fase transisi dari keadaan bangun ke fase tidur yang normalnya berlangsung antara 1-7 menit(3-8% total tidur) . Fase ini ditandai dengan berkurangnya gelombang alfa(8-13Hz) dan munculnya gelombang teta (4-7 Hz) pada gelombang EEG. Pada EOG tidak tampak kedip mata atau REM, tetapi lebih banyak gerakan mata berputar yang lambat dan terjadi penurunan potensial EMG (Barrett et al.,2010). Pada fase ini, orang bisa dibangunkan dengan mudah oleh stimulus sensori. b. Tahap 2

Fase ini berlangsung 10-12 menit dari tahap tidur dan merupakan fase pertama dari true sleep, karena pada EEG mulai dijumpai gelombang delta pertama. Pada EEG tampak kumparan tidur atau sleep spindles dan kompleks K yang bersifat sementara. Komplek K adalah gelombang disphasik(gelombang yang memiliki dua komponen, terdiri dari gelombang negatif yang diikuti gelombang positif) dengan amplitudo tinggi (>100V) dan durasi yang panjang (>200ms)yang keduanya berakhir lebih dari 0.5detik. Sleep spindles adalah suatu gelombang yang berbentuk kumparan dengan frekuensi 12-14Hz, dan berlangsung meinimal 0,5detik. Potensial EMG lebih rendah dari fase 1 (Barrett et al., 2010).

(31)

9

c. Tahap 3

Tahap 3 merupakan suatu periode menuju tidur dalam. Pada EEG tampak adanya gelombang delta amplitudo tinggi (0,5-4 Hz), aktivitas gerakan mata cepat atau REM tidak ada pada EOG, dan aktivitas EMG menetap dengan potensial yang lebih rendah. Pada fase ini, suhu tubuh dan tekanan darah menurun. Orang yang sudah berada di fase 3 biasanya sulit untuk dibangunkan.

d. Tahap 4

Tahap 4 merupakan level paling tinggi dari tidur dalam. Gelombang EEG didominasi oleh gelombang delta, tidak ada REM pada EOG, dan potensial EMG rendah. Pada fase ini, metabolisme otak menurun secara signifikan dan suhu tubuh juga menurun. Akan tetapi kebanyakan refleks tubuh masih menetap dan tonus otot sedikit menurun.

2. Rapid Eye Movement Sleep(REM)

Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit, berlangsung selama 5-30menit dan durasi akan meningkat pada setiap siklus total tidur. Otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat hingga 20%, sehingga ditemui peningkatan denyut jantung, laju pernafasan, sekresi asam lambung, dan tekanan darah yang berfluktuasi tidak teratur. Karakteristik lain dari fase ini adalah terjadi mimpi yang penuh warna dan tampak hidup (Ganong,Ed.22).

Pada EEG tampak gelombang dengan frekuensi campuran dan amplitudo rendah yang serupa dengan fase 1 dari NREM sleep. EOG memperlihatkan adanya gerakan mata cepat atau REM serupa dengan yang terlihat pada kondisi bangun dengan mata terbuka. Oleh karena itu, REM sleep disebut juga dengan paradoxical sleep. Selain itu, aktivitas pada EMG juga tidak ada sehingga terlihat

atonia otot pada fase ini.

(32)

10

Tidur nokturnal normal pada orang dewasa umumnya sekitar 7-8 jam dan konstan setiap malam. Setelah inisiasi tidur, biasanya tidur dimulai dari NREM sleep fase 1-3 dalam 30 menit. Stadium pada NREM sleep fase 4 harus berbalik

terlebih dahulu ke fase 2 NREM sleep sebelum memasuki fase REM sleep membutuhkan waktu + 20menit. Dalam 1 periode tidur nokturnal, terdapat 3-5 episode REM sleep yaitu sekitar 90-120 menit. Episode pertama dari REM sleep biasanya berlangsung selama 10-20 menit. Kemudian setelah episode REM sleep berakhir, maka fase tidur akan kembali lagi ke fase NREM sleep. REM sleep akan muncul setiap 90 menit dan biasanya episode terakhir REM sleep berlangsung lebih lama yaitu sekitar 50 menit.

Gambar 2.2. Siklus Tidur REM dan NREM (Potter,2005)

2.2.3. Regulasi Siklus Bangun Tidur

Pengaturan mekanisme tidur dan bangun sangat dipengaruhi oleh sistem yang

disebut Reticular Activity System di midbrain. Bila aktivitas Reticular Activity System

ini meningkat maka orang tersebut dalam keadaan sadar jika aktivitas Reticular

Activity System menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktivitas Reticular Activity System (RAS) ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas

neurotransmitter, yang dilepaskan oleh formatio reticularis di midbrain seperti :

Tahap pra-tidur

NREM tahap 3 NREM tahap 3

NREM tahap 2 NREM tahap I

REM sleep

(33)

11

a.Serotoninergik

Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotoninergik ini terletak pada nucleus raphe dorsalis di batang otak, terdapat hubungan aktivitas serotonine di nucleus raphe dorsalis dengan tidur REM.

b.Adrenergik

Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepinefrin terletak di badan sel nucleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur.

Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktivitas neuron noradrenergik(misalnya amfetamin) akan menyebabkan penurunan yang pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.

c.Sistem kolinergik

Pada obat-obatan yang menghambat pelepasan kolinergik pada locus cereleus , akan tampak gangguan pada fase awal dan penurunan fase REM.

Perangsangan pada formasio retikularis midbrain dan hipotalamus posterior menghasilkan keadaan bangun akibat pelepasan histamin, adrenalin, serotonin, dan penurunan asetilkolin. Sementara untuk menghasilkan tidur diperlukan perangsangan pada hipotalamus anterior dan daerah di sekitar basal forebrain dan melepaskan GABA.

Irama sirkadian siklus tidur dan bangun adalah bangun sepanjang hari terang

dan tidur sepanjang hari gelap. Stimulasi cahaya terang akan masuk ke melalui mata

dan mempengaruhi bagian hipotalamus yang disebut nucleus supra chiasmatic

(NSC). Pada malam hari, NSC akan merangsang pelepasan hormon melatonin dari

parenkim kelenjar pineal, sehingga orang mengantuk dan tertidur. Kadar melatonin

yang meningkat dalam darah akan mempengaruhi penurunan temperatur badan dan

relaksasi saat tidur (Rahayu,2009).

Sintesis melatonin berasal dari serotonin melalui proses N-asetilasi dam

M-metilasi. Saraf simpatis yang menuju ke kelenjar pineal(nervii conari) juga mengatur

irama sirkadian sintesa melatonin melalui aktifitas N-asetyltransferase yang

(34)

12

dilepaskan ujung syaraf simpatis bekerja melalui reseptor B-adrenergik dan

meningkatkan siklik AMP, lalu mengaktifasi N-asetyltransferase. Konsentrasi

melatonin pada malam hari mengalami penurunan sesuai usia. Anak usia 1-3tahun

250pg/ml, remaja 8-15tahun 120pg/ml, dewasa 70pg/ml, dan orang tua 67-84tahun

30pg/ml (Ganong, Ed.22).

2.2.4. Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat (Kozier, Erb 2004 dalam Agustin 2012). Tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang di pagi hari, perasaan energik, dan tidak mengeluh gangguan tidur. Menurut Hidayat (2006), kualitas tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Tanda-tanda kekurangan tidur dapat dibagi menjadi tanda fisik dan tanda psikologis. Di bawah ini akan dijelaskan apa saja tanda fisik dan psikologis yang dialami.

a. Tanda fisik

Ekspresi wajah (area gelap di sekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung), kantuk yang berlebihan (sering menguap), tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian), terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.

b. Tanda psikologis

Menarik diri, apatis dan respons menurun, merasa tidak enak badan, malas berbicara, daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi, dan ilusi penglihatan atau pendengaran, kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.

(35)

13

Pemeriksaan PSG sebagai instrumen diagnosis untuk penelitian epidemiologi tentang gangguan tidur memiliki beberapa kelemahan. Pertama, peralatan tidak praktis. Kedua, skoring PSG tergantung penilaian subjektif dari rekaman EEG dan ketimpangan inter-informan. Ketiga, PSG umumnya dilakukan pada laboratorium tidur, sehingga memungkinkan timbul bias dalam menilai kualitas tidur.

Kelemahan ACG adalah kurang peka untuk menilai keadaan terjaga, beberapa subjek yang mengalami kesulitan dalam inisiasi tidur yang berbaring dengan tenang di atas tempat tidur, terjadi misinterpretasi ACG menilainya sebagai keadaan tidur. Kelemahan lain adalah gerakan malam hari yang dapat salah interpretasi sebagai keadaan terjaga. Sehingga, ACG tidak diindikasikan sebagai pemeriksaan diagnosis rutin pada setiap gangguan tidur (Tanjung,2004).

Penilaian kualitas tidur secara subjektif dapat menggunakan kuesioner. Dan merupakan instrumen effektif dalam penelitian epidemiologi. The Pittsburg Sleep Quality Indeks(PSQI) dapat menilai kualitas tidur, pola tidur, dan membedakan

tidur yang baik dan tidur yang buruk dengan pemeriksaan tujuh komponen : latensi tidur, durasi tidur, kualitas tidur, effisiensi kebiasaan tidur, penggunaan obat tidur, dan gangguan fungsi tubuh pada siang hari. (Kulnert,2007 dalam Agustin 2012)

2.2.5. Gangguan Tidur

Terdapat 3 kategori utama dalam Diagnostic and Statistical Mental Disorders 4th ed (DSM-IV): (1) gangguan tidur primer, (2) gangguan tidur yang

berhubungan dengan gangguan mental lain, dan (3) gangguan tidur lain, khususnya gangguan tidur karena kondisi medis umum dan obat (Kaplan, 2010). Klasifikasi gangguan tidur menurut DSM IV :

1. Primary sleep disorder, terdiri dari : a. primary insomnia

b. primary hipersomnia

c. narcolepsy

(36)

14

e. Circadian rhythm disturbance

f. Unspecified dyssomnia

2. Parasomnia, terdiri dari : a. Nightmares

b. Sleep terors

c. Sleep walking

d. Undefined parasomnia

3. Sleep disorder related psychiatric disorder

4. Sleep disorder related medical condition and drugs abuse.

Secara umum terdapat 4 gejala utama yang menandai sebagian besar gangguan tidur, yakni:

1) Insomnia, adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur.

2)Hipersomnia, adalah jumlah jam tidur yang berlebihan dan mengantuk(somnolen) yang berlebihan di siang hari. Istilah somnolen ditujukan kepada pasien yang mengeluhkan rasa mengantuk dan memiliki kecendrungan untuk jatuh tertidur secara tiba-tiba pada keadaan terjaga. Narcolepsy adalah salah satu gangguan tidur yang menimbulkan hipersomnia.

3) Parasomnia, yaitu fenomena yang tidak umum dan tidak diinginkan yang tampak secara tiba-tiba selama tidur atau yang terjadi pada ambang antara bangun dan tidur. Parasomnia biasanya terjadi pada tahap 3 dan 4 tidur NREM, sehingga dikaitakan dengan ingatan buruk mengenai gangguan ini.

(37)

15

2.2.6. Gangguan Tidur yang Terkait dengan Pernafasan

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR gangguan tidur yang terkait dengan pernafasan : 1. Penghentian tidur yang menyebabkan rasa mengantuk berlebihan atau insomnia, yang disebabkan oleh sindrom apnea tidur obstruktif atau sentral dan sindrom hipoventilasi alveolar sentral.

2. Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan jiwa lain dan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat, atau keadaan medis umum lain (selain gangguan terkait pernafasan).

Gangguan pernapasan saat tidur atau lebih dikenal dengan nama Sleep Disorder Breathing (SDB) menggambarkan abnormalitas respirasi selama tidur.

SDB terjadi jika ada episode berulang penghentian aliran udara (apnea) atau penurunan aliran udara (hypopnea) selama tidur disertai dengan adanya fragmentasi tidur, sering terbangun, dan penurunan saturasi oksigen (Marcus,2012).

Gizi lebih merupakan salah satu faktor risiko untuk mencetuskan SBD, terutama OSA. Penelitian yang dilakukan Verhulst et al (2006) menemukan prevalensi OSA pada obesitas adalah 16% dan 41% pada pasien overweight. Pada obesitas terjadi akumulasi lemak di daerah leher, lidah, ataupun di struktur saluran nafas atas (Yuan,2013). Sehingga menyebabkan penyempitan saluran nafas atas, hal ini menimbulkan mendengkur(snooring) saat tidur. Jika penyempitan saluran nafas terus terjadi secara progresif, ini akan menimbulkan OSA (Downey,2010).

Gejala-gejala OSA dapat dibagi menjadi dua garis besar, yaitu gejala yang timbul pada saat tidur (Nocturnal Symptoms) dan gejala yang timbul pada siang hari (Daytime Symptoms).

Nocturnal Symptoms terdiri dari: mendengkur(snooring) yang kuat, terjadi

(38)

16

Daytime Symptoms terdiri dari: rasa lelah saat bangun tidur; sakit kepala di

pagi hari;rasa mengantuk berlebihan di siang hari/Excessive Daytime Sleepiness (EDS); rasa lelah di siang hari; defisit kognitif; gangguan memori dan intelektual; penurunan kewaspadaan; perubahan mood dan kepribadian (seperti depresi dan ansietas); disfungsi seksual; gastroesophageal reflux; hipertensi (Welch,2008)

SDB memiliki suatu spektrum perjalanan penyakit dari mendengkur menjadi obesity hypoventilation syndrome. Obesity hypoventilation syndrome merupakan gangguan pernapasan saat tidur atau SDB yang paling berat dan dikarakteristik dengan chronic alveolar hypoventilation, obesitas, daytime hypercapnia (PaCO2 >45mmHg). Hal ini dapat bermanifestasi menjadi hipertensi

pulmonar dan gagal jantung kanan (Welch, 2008).

2.2.7. Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur

Pengaruh obesitas dalam pola tidur sangat terlihat pada pasien OSA, karakteristik pola tidurnya dijumpai penurunan effisiensi tidur, penurunan fase REM dan slow wave sleep (tahap 3 dan 4 fase NREM), peningkatan light sleep (tahap 1 dan 2 fase NREM) serta EDS. Hipotesis beberapa peneliti menyebutkan efek ini timbul karena peningkatan sitokin seperti interleukin-6 dan tumor necrosis factor-a dalam serum pasien obesitas. Dan ada mekanisme lain yang

disebutkan yaitu obesitas menginduksi gangguan siklus sirkadian; leptin dan melatonin (Antczak,2008). Melatonin juga berperan dalam regulasi energi dan berat badan, pada orang yang memiliki kelebihan berat badan dijumpai penurunan melatonin, yang berkorelasi dengan peningkatan lemak visceral dan gangguan tidur (Mateos,2007). Marcus et al menjelaskan bahwa 36% anak dan remaja yang obesitas ditemui kelainan pada pemeriksaan polysomnography(PSG), 24% di dalamnya menderita OSA. Hal ini menunjukan korelasi positif antara obesitas dan OSA.

(39)

terbangun-17

bangun tengah malam dengan BMI. Penelitian tersebut menyimpulkan semakin tinggi deposit lemak tubuh akan meningkatkan risiko gangguan tidur.

Rao et al (2009) dalam penelitiannya menunjukan hubungan peningkatan BMI dengan pola tidur. Pasien yang memiliki BMI 27,4 kg/m2 memiliki fase slow wave sleep(SWS) yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki

(40)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia untuk fungsi restorasi dan homeostatis seluruh sistem organ tubuh, yang bersifat menyegarkan dan penting dalam termoregulasi normal serta penyimpanan energi. Kebutuhan tidur remaja sekitar 7-8 jam per hari, dengan pola tidur yang irregular, sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, gaya hidup, dan gangguan siklus sirkadian bangun-tidur akibat pengaruh perubahan hormon melatonin saat pubertas (Nelson,Ed.18).

Prevalensi gangguan tidur pada anak dan remaja sekitar 25-40% (Meltzer,2008). Gangguan tidur tersebut meliputi gangguan kuantitas durasi tidur, kualitas tidur, sulit untuk inisiasi tidur , sering terbangun saat malam hari, dan gangguan pernafasan saat tidur. Gangguan tidur yang terjadi akan menimbulkan Excessive Daytime Sleepiness (EDS), perubahan mood dan tingkah laku, serta

disfungsi neurokognitif, yang akan mempengaruhi performa pelajar saat di sekolah (Tanjung,2004).

(41)

2

Dalam American Lung Association ditemukan lebih 6% remaja didiagnosa mengalami Sleep Disorder Breathing(SBD), dimana dijumpai kesulitan dalam bernafas saat tidur. Pada anak dan remaja dengan BMI >85thpersentil for age

mempunyai risiko untuk menderita SBD dua kali lebih besar. Obstructive Sleep Apnea(OSA) adalah bentuk SBD yang paling sering dijumpai, mendengkur(snoring) merupakan gejala umumnya. Marcus et al menjelaskan bahwa 36% anak dan remaja yang obesitas ditemui kelainan pada pemeriksaan polysomnography(PSG), 24% di dalamnya menderita OSA. Hal ini menunjukan

korelasi positif antara obesitas dan OSA.

Berbagai studi telah meneliti hubungan antara obesitas dan gangguan tidur, yang sebenarnya memiliki hubungan dua arah. Penelitian Lowry et al(2012) menunjukan hubungan signifikan antara jam tidur yang kurang dengan kejadian obesitas pada remaja, diduga tidur yang kurang akan menyebabkan gangguan regulasi hormon leptin dan ghrelin yang berdampak pada pengaturan nafsu makan dan jumlah kalori asupan makanan. Peningkatan hormon ghrelin merangsang keinginan untuk makan, sedangkan leptin mengisyaratkan hipotalamus bahwa simpanan energi sudah cukup. Tetapi pada obesitas, peningkatan kadar leptin tidak mengurangi nafsu makan karena terjadi resistensi leptin (Ganong & Hall, 2008). Sedangkan penelitian yang dilakukan Chrunch(2011) menilai hubungan sebaliknya, antara persentase body fat, BMI, dengan PSQI score, kualitas tidur dan durasi tidur. Ditemukan korelasi linier positif antara body fat% dengan PSQI score(r=0.27), dan hubungan linier positif antara BMI dengan PSQI

score(r=0.58). Akan tetapi masih belum terlalu banyak penelitian yang melihat

hubungan antara status gizi dan gangguan tidur tersebut.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin melihat apakah ada hubungan antara status gizi dan gangguan tidur pada remaja.

1.2. Rumusan Masalah

(42)

3

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan gangguan tidur pada remaja.

1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui status gizi melalui pengukuran IMT/U pada remaja di SMA N 1 Padang Panjang

2. Untuk mengetahui gangguan tidur pada remaja di SMA N 1 Padang Panjang

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk : 1. Di bidang akademik/ilmiah

Sebagai salah satu tolok ukur untuk penelitian lebih lanjut dan memberikan gambaran mengenai hubungan status gizi dan gangguan tidur pada remaja.

2. Bagi masyarakat

Data atau informasi hasil penelitian ini dapat membangun kesadaran untuk hidup sehat dan menghindari kelebihan berat badan.

3. Bagi peneliti

(43)

ii

ABSTRAK

Pola tidur remaja yang irregular, sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, gaya hidup, dan gangguan siklus sirkadian bangun-tidur akibat pengaruh perubahan hormon melatonin saat pubertas menyebabkan prevalensi gangguan tidur remaja sekitar 25-40%. Seiringan dengan hal tersebut, kejadian gizi berlebih pada remaja usia 16-18 tahun mengalami peningkatan menjadi 7,3% di tahun 2013, dengan 1,6 % mengalami obesitas dan 5,7% mengalami kelebihan berat badan(overweight).

Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan gangguan tidur. Metode penelitian ini analitik dengan desain crossectional, yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang mulai Juli sampai Agustus 2014. Untuk menilai gangguan tidur digunakan kuesioner PSQI, jika total score di atas 5 responden dinyatakan mengalami gangguan tidur. Dan untuk penilaian status gizi dilihat dari nilai BMI berdasarkan umur yang diplotkan dalam kurva z-score WHO.

Hasil penelitian responden dengan status gizi normal yang tidak memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 36 orang (67,9%) sedangkan yang memiliki masalah gangguan tidur sebanyak 16 orang (34,0%). Pada responden dengan status gizi lebih mayoritas adalah memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 31 orang (66,0%) dan yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 17 orang (32,1%). Dari uji pearson chi-square didapat nilai p = 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur.

(44)

iii

ABSTRACK

Adolescent sleep pattern is irregular, affect by psychological condition, lifestyle, and wake-sleep circadian rhythm disturbance caused by melatonin changes in puberty. Prevalence of adolescent sleep disorder is 25-40%. And prevalence of overweight and obesity is increasing to 7,3% in 2013, obesity 1,6% and overweight 5,7%. This study analyzed the relation between nutritional status and sleep disorder for adolescent.

This was analytic study with cross-sectional design. Research was done at SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang , from July till Agustus 2014. PSQI is used to determine the sleep disorder, cut off point is 5, if total score is above 5 it means a sleep disorder. this study collected atropomethric data, which were Body Mass Index and to interoperated nutritional status we used WHO z-score BMI/age.

Result of this study was thirty six adolescent with normo-nutrition haven’t sleep disorder(67,9%), and sixteen found with sleep disorders(34,0%). Thirty one obese and overweight adolescent found with sleep disorder (66,0%) and seventeen haven’t sleep disorder(32,1%). P value = 0,001 (p < 0,05).

(45)

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur pada Remaja

di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Oleh :

ANIKA RESTU PRADINI

110100143

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(46)

i

LEMBAR PENGESAHAN

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

NAMA : Anika Restu Pradini

NIM : 110100143

Pembimbing Penguji I

dr. Badai Buana Nasution, M.Ked(Ped),SpA. dr. Wan Naemah,Sp.PA NIP.198104222008121003 NIP.196010011987122001

Penguji II

dr. Andriamuri Primaputra Lubis, Sp.An NIP.1981110720081009

Medan, Januari 2015

Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

(47)

ii

ABSTRAK

Pola tidur remaja yang irregular, sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, gaya hidup, dan gangguan siklus sirkadian bangun-tidur akibat pengaruh perubahan hormon melatonin saat pubertas menyebabkan prevalensi gangguan tidur remaja sekitar 25-40%. Seiringan dengan hal tersebut, kejadian gizi berlebih pada remaja usia 16-18 tahun mengalami peningkatan menjadi 7,3% di tahun 2013, dengan 1,6 % mengalami obesitas dan 5,7% mengalami kelebihan berat badan(overweight).

Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan gangguan tidur. Metode penelitian ini analitik dengan desain crossectional, yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang mulai Juli sampai Agustus 2014. Untuk menilai gangguan tidur digunakan kuesioner PSQI, jika total score di atas 5 responden dinyatakan mengalami gangguan tidur. Dan untuk penilaian status gizi dilihat dari nilai BMI berdasarkan umur yang diplotkan dalam kurva z-score WHO.

Hasil penelitian responden dengan status gizi normal yang tidak memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 36 orang (67,9%) sedangkan yang memiliki masalah gangguan tidur sebanyak 16 orang (34,0%). Pada responden dengan status gizi lebih mayoritas adalah memiliki gangguan tidur yaitu sebanyak 31 orang (66,0%) dan yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 17 orang (32,1%). Dari uji pearson chi-square didapat nilai p = 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur.

(48)

iii

ABSTRACK

Adolescent sleep pattern is irregular, affect by psychological condition, lifestyle, and wake-sleep circadian rhythm disturbance caused by melatonin changes in puberty. Prevalence of adolescent sleep disorder is 25-40%. And prevalence of overweight and obesity is increasing to 7,3% in 2013, obesity 1,6% and overweight 5,7%. This study analyzed the relation between nutritional status and sleep disorder for adolescent.

This was analytic study with cross-sectional design. Research was done at SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang , from July till Agustus 2014. PSQI is used to determine the sleep disorder, cut off point is 5, if total score is above 5 it means a sleep disorder. this study collected atropomethric data, which were Body Mass Index and to interoperated nutritional status we used WHO z-score BMI/age.

Result of this study was thirty six adolescent with normo-nutrition

haven’t sleep disorder(67,9%), and sixteen found with sleep disorders(34,0%).

Thirty one obese and overweight adolescent found with sleep disorder (66,0%)

and seventeen haven’t sleep disorder(32,1%). P value = 0,001 (p < 0,05).

(49)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul, “Hubungan Status Gizi dan Gangguan TIdur pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang

Panjang” ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Karya tulis ilmiah

ini disusun sebagai tugas akhir serta prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Perencanaan dan penulisan karya tulis ilmiah ini dapat terlaksana dengan baik dan lancer berkat dukungan berbagai pihak. Maka dari itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Badai Buana Nasution, M.Ked(Ped),Sp.A, sebagai dosen pembimbing tugas akhir, yang telah meluangkan waktu dan tenaga, dengan sabar membimbing serta memberikan banyak masukan kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

3. Dr. Adriamuri Prima Putra,Sp.An dan dr. Wan Naemah Sp.PA selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun sehinggan karya tulis ilmiah ini lebih baik.

4. Seluruh civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, terutama kepada dosen dan staf departemen IKK, serta staff Medical Education Unit (MEU).

5. Keluarga penulis yaitu kedua orang tua tercinta, Drs.Rakiman,MM dan ibu Suratmi,SH, dan adik Afifah Aulia yang selalu memberikan doa, dukungan, serta semangat pada setiap kegiatan penulis.

(50)

v

7. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua, member informasi dan pengetahuan baru dalam pengembangan ilmu kedokteran.

Medan, Desember 2014 Penulis

(51)

vi

1.3. Tujuan Penelitian... 3

1.4. Manfaat Penelitian... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 4

2.1. Status Gizi... 4

2.1.1. Definisi Status Gizi... 4

2.1.2. Klasifikasi Status Gizi... 4

2.1.3. Penilaian Status Gizi... 4

2.1.4. Pengukuran Indeks Antropometri... 6

2.2. Konsep Tidur... 7

2.2.1. Definisi Tidur... 7

2.2.2. Siklus Tidur... 8

2.2.3. Regulasi Siklus Bangun-Tidur... 10

2.2.4. Kualitas Tidur... 12

2.2.5. Gangguan Tidur... 13

2.2.6. Gangguan Tidur yang Terkait Pernafasan... 15

(52)

vii

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL.. 18

3.1. Kerangka Konsep Penelitian... 18

3.2. Identifikasi Variabel... 18

3.3. Definisi Operasional... 18

3.4. Hipotesa... 19

BAB 4 METODE PENELITIAN... 20

4.1. Rancangan Penelitian... 20

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 20

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian... 20

4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi... 21

4.5. Teknik Pengumpulan Data... 22

4.6. Metode Pengolahan dan Analisa Data... 23

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penilitian………... 24

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian………... 24

5.1.2. Deskripsi Krarkteristik Responden………. 24

5.1.3. Hasil Analisa Data………... 26

5.2. Pembahasan………….……… 27

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan……….. 30

6.2. Saran………... 30

(53)

viii

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1. Klasifikasi Status Gizi Menurut WHO……….. 7

2.2. Klasifikasi Status Gizi Menurut MENKES RI…….. 7

3.2. Definisi Operasional Penelitian……….. 19

5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden……... 24

5.2. Hubungan Jenis Kelamin dan Gangguan Tidur…….. 26

(54)

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Kurva Perbandingan nilai z-score ... 6 WHO dan CDC

(55)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2 Lembar Penjelasan Penelitian Lampiran 3 Informed Consent

Lampiran 4 Kuesioner Penelitian

(56)

xi

DAFTAR SINGKATAN

ACG : Actigraphy BMI : Body Mass Index

EDS : Excessive Daytime Sleepiness EEG : Electroencephalogram EMG : Electromyogram EOG : Electrooculogram IMT : Indeks Massa Tubuh NREM : Non-Rapid Eyes Movement OSA : Obstructive Sleep Apnea

PSG : Polysomnography

PSQI : Pittsburg Sleep Quality Index REM : Rapid Eye Movement

Figur

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian
Gambar 3 1 Kerangka konsep penelitian . View in document p.12
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Gangguan tidur
Tabel 5 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Gangguan tidur . View in document p.18
Tabel 5.2. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Tidur Jenis Kelamin Gangguan Tidur
Tabel 5 2 Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Tidur Jenis Kelamin Gangguan Tidur . View in document p.20
Tabel 5.3. Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur Status Gizi Ganggguan Tidur
Tabel 5 3 Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur Status Gizi Ganggguan Tidur . View in document p.20
Gambar 2.1 Kurva perbandingan CDC 2000- WHO 2007
Gambar 2 1 Kurva perbandingan CDC 2000 WHO 2007. View in document p.28
Gambar 2.2. Siklus Tidur REM dan NREM (Potter,2005)
Gambar 2 2 Siklus Tidur REM dan NREM Potter 2005 . View in document p.32

Referensi

Memperbarui...