DAFTAR PUSTAKA
Ginting, Paham dan Syafrizal Helmi Situmorang. 2008. Filsafat Ilmu dan Metode Riset. USU Press, Medan.
Komaruddin. 2014. Analisis Manajemen Produksi. Alumni. Bandung
Nopirin. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro. BPFE. Yogyakarta
Sarwoto. 2014. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. Ghalia Indonesia. Jakarta
Soekartawi. 2010. Teori Ekonomi Produksi, dengan pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Rajawali Pers, Jakarta
Soedarsono. 2010. Pengantar Ekonomi Mikro. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial. Jakarta
Stoner, F. J. 2010. . Manajemen. PT. Penerbit Hallindo, Jakarta
Sugiyono.2012. Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.
Wattanuthariya, S dan T. Panayotou. 1981. Ekonomi Budidaya Perairan : Kasus Ikan Lele di Thailand. Yayasan Obor dan Gramedia (diterjemahkan oleh Harijadi Hadikoesworo)
Ahmad Taufiq Az-Zarnuji (2011)Analisis Efisiensi Budidaya Ikan Lele di Kabupaten Boyolali (Studi Kasus di Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali)
Teguh Risdiansyah(2011)Analisis Kelayakan Ekonomi Budidaya Rumput Laut di Pesisir Kabupaten Jepara
Yance K. Sutiray (2013). Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Petani Rumput Laut Di Propinsi Maluku Utara
Cakra Iswahyudi (2015) Analisis Tingkat Pendapatan Petani Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng
Daftar Website :
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, berjenis deskriptif.
Dikatakan pendekatan kuantitatif sebab pendekatan yang digunakan di dalam
usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisa data dan
kesimpulan data sampai dengan penulisannya menggunakan aspek pengukuran,
perhitungan, rumus dan kepastian data numerik. Deskriptif karena bertujuan
membuat pencanderaan/ lukisan/ deskripsi mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat
suatu populasi atau daerah tertentu secara sistematik, faktual dan teliti.
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian
Adapun yang menjadi lokasi pada penelitian ini adalah Dinas Kelautan
dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, Jalan Sei Batu Gingging No. 6 Sumatera
Utara, Medan dan penelitian juga di
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan kurang lebih satu bulan, terhitung dari bulan
Januari 2016 sampai Ferbruari 2016.
3.3.Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam melakukan penelitian ini
Data sekunder adalah data yang berisikan informasi dan teori-teori yang
digunakan untuk mendukung penelitian. Penelitian memperoleh data sekunder
dari literatur, buku dan internet.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Library Researchyaitu
dengan menggunakan studi kesepakatan dan literature-literatur lainnya yang ada
hubungannya dengan penelitian yang dilakukan dimana akan didapatkan data-data
yang dibutuhkan oleh peneliti guna melengkapi hasil dari penelitian.
3.4 Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini adalah ada dua variabel yang
digunakan dalam penelitian ini, yaitu variabel input dan variabel output,
1. Variabel input yang digunakan meliputi luas area keramba, jumlah benih ikan,
jumlah pakan, jumlah obat, dan jumlah tenaga kerja manusia.
2. Variabel output yang digunakan meliputi, jumlah hasil budidaya ikan,
pendapatan penjualan hasil budidaya ikan, dan laba
3.6 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan pada suatu variabel
dengan memberikan arti dan membenarkan kegiatan atau suatu operasional yang
diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Penguraian definisi operasional
variabel – variabel yang akan diteliti merupakan suatu cara untuk mempermudah
pengukuran variabel penelitian, jugamemberikan batassan – batasan pada objek
Definisi operasional dari variabel – variabel yang akan diteliti adalah :
a. Variabel Input
Merupakan sumber daya yang dipergunakan untuk menjalankan fungsi dalam
budidaya hasil ikan
b. Variabel output
Merupakan hasil perwujudan dari kegiatan budidaya hasil ikan
3.7Teknik Analisis Data
Pengukuran Efisiensi dengan metode DEATeknik analisis yang digunakan
untuk menganalisis tingkat efisiensi TPI adalah dengan menggunakan pendekatan
non parametrik DEA, yang pada dasarnya merupakan teknik berbasis linier
programming. Konsep DEA adalah untuk mengukur skor efisiensi relatif Unit
Kegiatan Ekonomi (UKE) yang menggunakan banyak input dan UKE yang lain
dalam sampel yang menggunakan jenis input dan output yang sama. Dalam DEA,
efisiensi relatif UKE didefinisikan sebagai rasio total output tertimbang dibagi
dengan total input tertimbang (weighted output/weighted input) (Syakir,2005).
Efisiensi yang diukur oleh analisis DEA memiliki karakter berbeda dengan
konsep efisiensi pada umumnya. Pertama, efisiensi yang diukur adalah
bersifatteknis, bukan ekonomis. Artinya, analisis DEA hanya memperhitungkan
nilaiabsolut dari suatu variabel. Satuan dasar pengukuran yang mencerminkan
nilaiekonomis dari tiap-tiap variabel seperti harga,berat, panjang, isi dan lainnya
tidakdipertimbangkan. Oleh karenanya dimungkinkan suatu pola
perhitungankombinasi berbagai variabel dengan satuan yang berbeda-beda.
lingkupsekumpulan Unit Kegiatan Ekonomi yang diperbandingkan tersebut.
Model terpenting dari DEA adalah CCR (Charnes, Cooper and Rhodes,1978).
Ada dua model DEA yang berkembangyaitu CCR dan BCC
(Banker-Charnes-Cooper). Model BCC merupakanpengembangan dari CCR. Perbedaan
CCR dan BCC terletak pada acuan yangdigunakan untuk menetukan batas
titik-titik efisiensi DMU (Decision Making Unit)dalam suatu frontier. Garis batas
terluar efisiensi dalam CCR ditarik dari satu titikefisiensi terluar berupa garis
lurus, sedangkan dalam model BCC batas efisiensiditarik oleh garis yang
menghubungkan titik-titik terluar efisiensi (Gambar 3.1danGambar 3.2). Baik
model CCR maupun BCC dibagi menjadi dua tipe, yaitu input-orienteddan
output-oriented dengan notasi CCR-I; CCR-O; BCC-I; BCC-O.
Tipeinput-oriented digunakan untuk meminimalkan input, sedangkan output
orienteddigunakan untuk memaksimalkan output, perhitungan kedua tipe
akanmenghasilkan angka efisiensi yang sama.
Sumber : Cooper, et all, 1994
Berdasarkan data yang ada, dapat dihitung efisiensi suatu DMU
menggunakan data input dan output. Jumlah variabel input dan output bisa satu
atau lebih. Apabila ada n DMU: DMU1, DMU2,..., dan DMUndimana j = 1,
....,n, sedangkan ada sejumlah m input dan s output, maka input data untuk DMUj
menjadi (X1j, X2j,...,Xmj) dan output datanya adalah (Y1j, Y2j,..., Ysj). Matriks
input data X dan output data Y dapat ditulis sebagai berikut ;
Sumber : Cooper, et all,1994
Gambar 3.2
Pembatasan Produksi Model BBC
Pengukuran efisiensi pada dasarnya merupakan rasio antara output dan
input, atau:
Pengukuran efisiensi yang menyangkut multiple input dan output dapat
dilaksanakan dengan menggunakan pengukuran efisiensi relatif yang dibobot
sebagaimana tertulis berikut :
Keterangan :
w1 = Pembobotan untuk output
iy1j = Jumlah output 1 dari unit jv
1 = Pembobotan untuk input 1
x1j = Jumlah dari input 1 ke unit j
Namun demikian, pengukuran tersebut tetap memiliki keterbatasanberupa
sulitnya menentukan bobot yang seimbang untuk input dan output.Keterbatasan
tersebut kemudian dijembatani dengan konsep DEA, efisiensi tidaksemata-mata
diukur dari rasio output dan input, tetapi juga memasukkan factor pembobotan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Sejarah Ringkas Dinas Perikanan Kabupaten Provinsi Sumatera Utara
Pada awal berdirinya Dinas Kelautan dan Perikanan adalah Dengan nama
Jawatan Pertanian yang terdiri dari Seksi Perikanan Darat dan Seksi Perikanan
Laut, berdasarkan PP Nomor 49 Tahun 1951. PP mengenai Jawatan Perikanan
Darat Daerah Sumatera Utara ini berlaku sampai dengan Tahun 1974,
sedangkan untuk Seksi Perikanan Laut adalah berdasarkan PP Nomor 64
Tahun 1952 tentang Jawatan Perikanan Laut Daerah Sumatera Utara, PP ini
berlaku hingga Tahun 1975, kemudian pada Tahun 1974 Perikanan Darat dan
Perikanan Laut digabung dengan nama Dinas Perikanan Daerah Tingkat I
Sumatera Utara berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara Tanggal 13 Maret
1974 No 29/1974 yang berlokasi di Jalan Sei Batu Gingging No. 6 Medan,
dipimpin oleh IR. Bambang Suboko dari Tahun 1974-1984. Setelah itu pada
Tahun 1984-1986 dibawah Kepemimpinan IR. Koesno Raharjo, kemudian
pada Tahun 1986-1990, Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Sumatera Utara di
bawah pimpinan IR. Boedi Soesilo, Pada Periode 1990-1999 Dinas Perikanan
Daerah Tingkat I Sumatera Utara berada dibawah pimpinan IR. H. Zainuddin
P. Siregar, dan pada periode akhir Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Sumatera
Utara adalah dibawah pimpinan IR. Sofyan Sori Nasution pada Tahun
1999-2001.
Pada Tahun 2001 berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2001 terbentuklah
Drs. H. Ridwan Batubara MM yang memimpin dari Tahun
2001-2006. Sedangkan berdasarkan Pergub Nomor 56 Tahun 2011 tentang Struktur
Organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Lingkup Provinsi
Sumatera Utara maka terbentuklah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Sumatera Utara yang berkedudukan di Jalan Sei Batu Gingging No. 6 Medan
Kel, Medan Selayang Kec, Medan Baru Kota Medan tepatnya pada saat
kepemimpinan IR.Yosep Siswanto pada Tahun 2006-2009. Untuk periode
2009 – 2014 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara dibawah
kepemimpinan H. OK Zulkarnain, SH, M.Si dan Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Sumatera Utara dipimpin oleh Bapak H. Zonny Waldi
S.Sos MM sejak 15 Agustus 2014 sampai dengan sekarang.
Dengan Adanya Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang baru
terbentuklah 5 UPT di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara
yang terdiri dari :
1. Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai Pulau Tello (UPT PPP
P. Tello)
2. Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu
Hasil Perikanan Medan (UPT LPPMHP Medan)
3. Unit Pelaksana Teknis Pembinaan Penangkapan Ikan Belawan (UPT PPI
Belawan)
4. Unit Pelaksana Teknis Budidaya Ikan Kerasaan (UPT BI Kerasaan)
5. Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Balai (UPT
4.2Visi dan Misi Perusahaan
A. Visi
“Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Memiliki Daya Saing dan
Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Masyarakat.”
B. Misi
1. Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasar
hasil perikanan
2. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya Kelautan dan Perikanan secara
efisien, efektif yang berkelanjutan
3. Meningkatkan penyediaan bahan pangan dan bahan baku industri di dalam
negeri serta ekspor hasil perikanan yang berkualitas
4. Meningkatkan sistem pendukung yang terdiri dari sarana dan prasarana,
permodalan, teknologi, kelembagaan serta iklim usaha yang kondusif
5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaannya serta
perlindungan terhadap masyarakat
4.3Struktur Organisasi
Struktur organisasiadalahkomponen-komponenataususunan organisasi yang
saling berkaitan yang menunjukkan kerangka dan perwujudanpola
tetaphubungandarifungsi-fungsi,bagian-bagian,atau
posisi,maupunorang-orangyang mempunyaikedudukan,tugas, wewenang, dantanggung
jawabyangberbedadalamsuatuorganisasi.Seiringdengan terbitnya Peraturan
Pemerintah No. 41 Tahun 2007Tentang Organisasi
dibentukberdasarkan PeraturanDaerahProvinsi Sumatera Utara Nomor 8
Tahun 2008, tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas
DaerahProvinsiSumateraUtaradanPeraturanGubsuNomor56Tahun 2011
tentang Tugas, Fungsi, dan Uraian Tugas Dinas Kelautan dan
PerikananProvinsi SumateraUtara.
5. Suatu instansiterdiridariberbagaiunitkerjayang dapatdilaksanakan
perseorangan, maupunkelompokkerjayang berfungsi melaksanakan
berbagaikegiatan tetentu dan mencakup tata hubungan secara vertikal
melaluisalurantunggal.Adapunstruktur organisasidariDinasKelautandan
PerikananSumateraUtara dapat dilihat darigambar4.1 berikut :
Gambar 4.1.
MerujukkepadaPeraturanGubernurSumateraUtaratentangTugas,
Fungsi danUraianTugasDinasKelautandan PerikananProvinsiSumatera
Utaraadalah sebagai berikut:
1. Sekretariat
Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris dan mempunyai tugas pokok
membantuKepalaDinasKelautandanPerikananProvinsiSumateraUtara
dalam melaksanakanperumusanrencanaprogramdan kegiatan,
mengkoordinasikan, monitoring, urusan administrasi umum dan
kepegawaian, keuanganserta perencanaanevaluasi dan pelaporan.
2. BidangPerikananTangkap
Bidang PerikananTangkapmempunyaitugaspokokmembantu Kepala
DinasKelautandanPerikanan ProvinsiSumatera Utara dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Perikanan Tangkap.
3. BidangPerikanan
BudidayaBidang PerikananBudidayamempunyaitugaspokok
membantuKepalaDinasKelautandanPerikanan Provinsi Sumatera Utara
dalam menyelenggarakan urusan Pemerintahan dibidang Perikanan
Budidaya.
4. BidangPengawasandanPengendalianPerikanandanSumberDaya
Perikanan
Bidang PengawasandanPengendalianPerikanandanSumberDaya
PerikananmempunyaitugaspokokmembantuKepala DinasKelautandan
tugas Dinasdibidang PengawasandanPengendalianSumberdaya
Perikanandan Kelautan.
5. BidangPengelolaanWilayahPesisirdanPulau-PulauKecil
Bidang PengelolaanWilayahPesisirdanPulau-PulauKecilmempunyai
tugas pokok membantu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Sumatera Utara dalam melaksanakan sebagian tugas Dinas di bidang
Pengelolaan Wilayah Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil.
6. UPTD Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil
Perikanan(UPTDLPPMHP)
UPTD Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil
Perikanan(LPPMHP)mempunyaitugasmembantuKepala Dinasdalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidangKetatausahaan,
Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan.
7. UPT Pembinaan Penangkapan Ikan Belawan (UPT PPI
BELAWAN)
UPT Pembinaan Penangkapan Ikan Belawan (PPI Belawan)
mempunyaitugasmelaksanakansebagiantugasDinasdiBidang
pembinaan dan pelatihan dalam rangka usaha meningkatkan
pengetahuandan keterampilan nelayan,pemeliharaan dan perawatan
sarana pelatihan penangkapan ikan.
UPTBudidayaIkanKerasaan(BI Kerasaan) mempunyaitugas
melaksanakansebagiantugasdinasdibidang kegiatanproduksi,
pengembangan dan penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan
ikan airtawar, pelatihan danpeningkatan keterampilanserta
pengawasan.
9. UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pulau Tello (UPT PPP P.Tello)
UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pulau Tello (UPT PPP P.Tello)
mempunyaitugasmelaksanakansebagiantugasdinasdibidang
operasional pendaratanikanserta pemeliharaandan perawatansarana
pendaratanikan.
4.4Deskripsi Pekerjaan
Berikut ini adalah d e s k r i p s i p e k e r j a a n dari setiap unit Dinas
Kelautan dan PerikananSumateraUtara:
1. Sekretariat
a. Menyelenggarakan penyusunan koordinasi rencana program
kerjaSekretariat,Bidang-bidang danUnitPelaksanaTeknis Dinas;
b. Menyelenggarakanpengkajiandankoordinasiperencanaandan program
Dinas,
c. Menyelenggarakanpengkajianperencanaandanprogram kesekretariatan;
d. Penyelenggarakan pengelolaan dan pembinaanadministrasi keuangan;
e. Menyelenggarakanpengkajiananggaran belanja;
f. Menyelenggarakan pengendalian administrasi anggaran belanja;
h. Menyelenggarakanpenyusunanrencanastategis,Laporan
AkuntabilitasKinerjaInstansi Pemerintah (LAKIP)LKPJdan LPPD Dinas;
i. Menyelenggarakan penatausahaan, kelembagaan dan ketatalaksanaan;
j. Menyelenggarakanpengelolaandanpembinaannaskahdinas, kearsipan,
pertelekomonikasian dan persandian;
k. Menyelenggarakanfasilitasipelayananumumdanpelayanan minimal; dsb.
2. BidangPerikananTangkap
a. Penyelenggaraan kebijakan pembudidayaan ikan;
b. Penyelenggaraankebijakanprodukpembenihanperikanandiair tawar ,air
payaudanlaut;
c. Penyelenggaraan kebijakan mutu benih/induk ikan;
d. Penyelenggaraankebijakan,pembangunandanpengelolaanbagian benih ikan
airTawar,airpayau dan laut;
e. Penyelenggaraankebijakanpengadaan,penggunaandanperedaran
sertapengawasan obat ikan,bahan kimia,bahan biologis dan pakan ikan;
f. Penyelenggaraan kebijakan akreditasi lembaga sertifikasi perbenihan
ikan;
g. Penyelenggaraankebijakanpembinaantatapemanfaatanairdan
tatalahanpembudidayaanikan;
h. Penyelenggaraankebijakanpengelolaanpenggunaansaranadan prasarana
Pembudidayaan ikan;
i. Penyelenggaraan kebijakan rekomendasi ekspor, impor, induk dan/benih
3. BidangPerikananTangkap
a. Penyelenggaraankoordinasikebijakanpenetapanlokasi pembangunan
pengelolaan pelabuhan perikanankewenangan provinsi
b. Penyelenggaraan dukungan pembangunan dan pengelolaan
pelabuhanperikananpada wilayah perbatasandenganNegara lain.
c. Penyelenggaraan kebijakan pembangunankapal perikanan;
d. Penyelenggaraan kebijakan pembuatanalat penangkapanikan;
e. Penyelenggaraan kebijakan penggunaan peralatan bantu dan pengedaran
jauh untuk penangkap ikan;
f. Penyelenggaraandankordinasikebijakanpenempatanrumpon di perairan laut
kewenangan provinsi;
g. Penyelenggaraan dukungan rekayasa dan pelaksanaan teknologi
penangkapan ikan;
h. Penyelenggaraan kebijakanpengelolaanhasilperikanandan pemasarannya;
i. Penyelenggaraan kebijakan pembangunan dan pengelolaan .pusat
pemasaran ikan; dsb.
4. BidangPengawasandanPengendalianPerikanandanSumberDaya Perikanan
a. Penyelenggaraan dan koordinasi pengawasan untuk
pengelolaandanpemanfaatansumberdaya ikan dalamwilayah kewenangan
provinsi;
b. Penyelenggaraan pengawasan pemanfaatan,pembenihan dan
perlindunganplasma nutfahperikanandanpembudidayaikan sistem
c. Penyelenggaraanpembinaan,pemantauandanmengawasi lembaga sertifikat
perbenihanikan,mutu,benih,induk,pakan ikan dan obat bahan lainnya;
d. Penyelenggaraan dan koordinasipenetapan jenis ikanyang dilindungi;
e. Penyelenggaraan, koordinasi, mengeksploitasi dan mengeksplorasi,
Konservasi dan pengelolaan kekayaan perairandanau,sungai,rawa
danwilayahperlainnya diwilayah provinsi;
f. Penyelenggaraandankoordinasikebijaksanaandalamrangka pengawasan
wilayah pesisir dan pulau-pulaukeciltermasuk sumberdayaalam
diwilayahlautkewenangan provinsi;
g. Penyelenggaraan pelaksanaanpengawasanpemanfaatan dan perlindungan
sumberdayadi pulau-pulaukecil di wilayah kewenangan perovinsi;
h. PenyelenggaraanpengawasanProgramManajemenMutu Terpadu (PMMT)
atau Harzard Analytical Critical Control Point (HACCP);
i. Penyelenggaraanpemanfaatansumberdayaikandiwilayahlaut kewenangan
provinsi.
5. BidangPengelolaanWilayahPesisirdanPulau-PulauKecil
a. Penyelenggaraankebijakanpengelolaansumberdaya kelautan dan ikan di
wilayah lautprovinsi;
b. Penyelenggaraandankoordinasikebijakanpenataanruanglaut
c. Penyelenggaraankebijakandalamrangkapemberdayaan masyarakatpesisir
antar kabupaten/kota dalamwilayah kewenangan provinsi;
d. Penyelenggaraandanpelaksanaankebijakanreklamasipantai
danmitigasibencana alamdiwilayahpesisirdanlautdalam kewenangan
provinsi;
e. Penyelenggaraan kebijakan peningkatan kapasitaskelembagaan dan SDM
di bidangkelautan dan perikanan;
f. Penyelenggaraandankoordinasimitigasikerusakanlingkungan pesisirdi
wilayah laut provinsi;
g. Penyelenggaraan penyerasian dan pengharmonisasian
pengelolaanwilayahdansumber dayalautkewenangan provinsi;
h. Penyelenggaraandankoordinasipenyusunanzonasidantata ruangdalam
wilayah kewenangan provinsi;
i. Penyelenggaraandankoordinasidankonservasisumberdaya ikan dan
lingkungan sumberdaya ikan kewenangan provinsi;
j. Penyelenggaraan dan mengkoordinasikan kebijakan dalam
rangkapemgelolaanwilayahpesisir danpulau-pulaukecil termasuksumber
dayaalamdiwilayahlautkewenangan provinsi;
k. Penyelenggaraankebijakanperizinanterpadupengelolaandan pemanfaatan
wilayah laut kewenangan provinsi;
l. Penyelenggaraandankoordinasidalamrangkadankoordinasi dalam hal
berbatasandenganwilayahantarnegaradiperairanlautdalam perairan
provinsi; dsb.
6. UPTD Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil
Perikanan(UPTDLPPMHP)
a. Penyelenggaraan penyusunan rencana kegiatan pengendalian dan
pengujian mutu hasil perikanan
b. Penyelenggaraanpengelolaandanpemeliharaansarana untuk pengujian
mutu hasil perikanan
c. Penyelenggaraan pelaksanaan pengendalian dan pengujian mutu hasil
perikanan
d. Penyelenggaraan pelaksanaan tugas-tugas ketatausahaan dan sertifikasi
mutu hasil perikanan
e. Penyelenggaraan pelaksanaan tugas-tugas lain yangdiberikan
olehKepalaDinas.
7. UPT PembinaanPenangkapanIkanBelawan(UPT PPIBelawan)
a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan, arahan dan
penegakandisiplinpegawai pada lingkupUPT Pembinaan
PenangkapanIkanBelawan (PPIBelawan) ;
b. Menyelenggarakan keamanan dan kenyamanan tugasdalam lingkungan
kantor;
c. Menyelenggarakanpenyusunanperencanaandanprogram kegiatanUPT
PembinaanPenangkapanIkanBelawan;
e. Menyelenggarakanpelatihan keterampilan untuk nelayan;
f. Melaksanakan penyebarluasan informasi bidang teknologi
penangkapan ikan;
g. Menyusun laporan tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
SumateraUtarasesuai tugas pokok dan fungsinya;
h. Melakukanevaluasi dalam pelaksanaantugas;
i. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.
8. UPT BudidayaIkanKerasaan(UPTBIKerasaan)
a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan, arahan dan
penegakandisiplinpegawaipada lingkupUPTBudidayaIkan
Kerasaan(BIKerasaan);
b. Menyelenggarakan keamanan dan kenyamanan tugasdalam lingkungan
kantor;
c. Menyelenggarakanpenyusunanperencanaandanprogram kegiatanUPT
BudidayaIkanKerasaan(BIKerasaan);
d. Menyelenggarakanpembinaan,pengawasan,danpengendalian
budidayaikan airtawar;
e. Menyelenggarakanpelatihanketerampilanuntukpembudidaya ikanairtawar;
f. Menyelenggarakanpenyebarluasaninformasibidangteknologi
budidayaikan airtawar;
g. Menyelenggarakan penyusunan laporan tahunan Dinas Kelautandan
PerikananProvinsiSumatera Utarasesuaitugas pokok dan fungsinya;
i. Menyelenggarakantugas-tugaslainyangdiberikanolehKepalaDinas.
9. UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pulau Tello (UPT PPP P.Tello)
a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan, arahan dan
penegakandisiplinpegawaipada lingkupUPT Pelabuhan PerikananPantai
PulauTello (PPP P.Tello);
b. Menyelenggarakan keamanan dan kenyamanan tugasdalam lingkungan
kantor;
c. Menyelenggarakan operasional pendaratan ikan dan
pemeliharaansarana danprasarana pendaratanikan;
d. Menyelenggarakanfungsipenyuluhankepadamasyarakat nelayan;
e. Menyelenggarakan penyusunan laporan tahunan Dinas Kelautandan
PerikananProvinsiSumatera Utarasesuaitugas pokok dan fungsinya;
f. Menyelenggarakanevaluasi dalam pelaksanaantugas;
g. Menyelenggarakantugas-tugaslainyangdiberikanolehKepala Dinas.
4.5Jaringan Kegiatan
Dalamrangka mencapaitujuan sasaranpembangunanKelautan dan
Perikananmaka disusunlahprogramprioritasDinasKelautandan Perikanan Provinsi
SumateraUtarasebagai berikut :
1. Program PemberdayaanEkonomi Masyarakat Pesisir
2. Program PengembanganBudidayaPerikanan
3. Program PengembanganPerikananTangkap
Program-programprioritas pembangunan Kelautan dan Perikanan Provinsi
Sumatera Utara untuk Tahun Anggaran 2014 yang dijalankan melalui kegiatan
pokok antaralain :
1. GerakanBersihPantai diPantai Barat danPantaiTimur Sumut
2. Sosialisasi Mitigasi Bencana dan Penyusunan Kajian Perencanaan
Minapolitan Tahan Bencanadi Kab.MadinadanAsahan
3. Buletin KP3K
4. Operasional Kapal MCS CoremapP.Tello
5. BiayaPemeliharaanKapal MCS CoremapP.Tell
6. BiayaPerawatanPeralatanSelam
7. PenanamanMangroveBerbasis Masyarakat di SumateraUtara
8. Identifikasi dan Pemetaan Potensi Pulau-PulauKecil
9. Sertifikasi Selam
10. DanaPendukungCoremap
11. PendidikandanPelatihanUntukKelompokWanitaNelayandiKawasan Pesisir
12. PembinaanLubukLarangan di PerairanUmum
13. PengawasandanPengendalianKerusakanSumberDayaIkandiPerairan Umum
14. Operasi Gabungan Penertiban Pelanggaran Peraturan Perikanan di
SumateraUtara
15. Operasi RutinPengawasanSDKPdi Pantai Timur SumateraUtara
16. Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana Bidang Perikanan di
SumateraUtara
18. DockingKapal Pengawas Perikanan diBelawan
19. Pembinaan KelompokMasyarakat Pengawas (POKMASWAS)
20. Evaluasi dan Penilaian Kelompok Masyarakat Pengawas
(POKMASWAS).
21. KegiatanForum Koordinasi Kelompok Masyarakat Pengawas
22. PengawasanKerusakanEkosistem Terumbu Karang
23. Operasi Rutin Kapal Patroli di Danau Toba
24. PengawasanUsahaBudidayadi SumateraUtara
25. Docking Kapal Pengawas Perikanan di Danau Toba
26. Hari NusantaraTingkatProvinsi TA. 2014
27. PromosiUsahaKelautandanPerikananDenganMengikutiPamerandi Dalam
Negeri dan diLuarNegeri
28. Sosialisasi PeraturanKelautan danPerikanan
29. Surveyidentifikasi jenis-jenis ikanlangka
30. Analisa Pengembangan Potensi Daerah Pesisir Sebagai Kawasan
Agromarinedi Sumut
31. Transplantasi TerumbuKarangdi PantaiBarat SumateraUtar
32. MonitoringKesehatanKarang
4.6Hasil Analisis Deskriptif Penelitian
Statistik deskriptif dapat memberikan gambaran mengenai rata – rata (mean),
dari suatu variabel. Hasil Perhitungan deskriptif masing – masing variabel dapat
dilihat dalam tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Luas Area 5 1.58 56.00 19.2300 22.88099
Jumlah Benih Ikan 5 18.30 4057.00 915.5600 1757.92478
Jumlah Pakan 5 57.60 57.60 57.6000 .00000
Jumlah Tenaga Kerja 5 1756.00 25409.00 14377.2000 11119.14181
Hasil Budidaya Laut 5 14.40 3091.00 870.0000 1277.97877
Pendapatan 5 695000.00 1.74E8 4.6014E7 7.26476E7
Valid N (listwise) 5
Sumber : Output SPSS, 2014
Berikut ini adalah penjelasan dari tabel hasil analisis deskriptif diatas :
1. Variabel Input – Luas Area
Variabel Input – Luas Area dengan jumlah sampel 5 kabupaten/kota memiliki
nilai terendah 1,58 dan nilai tertinggi 56,00. Nilai rata – rata yang dimiliki
adalah sebesar 19,2300 dengan standar deviasi sebesar 22,88099. Standar
deviasi ini menunjukkan bahwa ukuran penyebaran data variabel ini besar
karena nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata – ratanya.
2. Variabel Input – Jumlah Benih Ikan
Variabel Input – Jumlah Benih Ikan dengan jumlah sampel 5 kabupaten/kota
memiliki nilai terendah 18,30 dan nilai tertinggi 4057,00. Nilai rata – rata
yang dimiliki adalah sebesar 915,5600 dengan standar deviasi sebesar
variabel ini besar karena nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata –
ratanya.
3. Variabel Input – Jumlah Pakan
Variabel Input – Jumlah Pakan dengan jumlah sampel 5 kabupaten/kota
memiliki nilai terendah 57,60 dan nilai tertinggi 57,60. Nilai rata – rata yang
dimiliki adalah sebesar 57,6000 dengan standar deviasi sebesar ,00000.
Standar deviasi ini menunjukkan bahwa ukuran penyebaran data variabel ini
kecil karena nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata – ratanya.
4. Variabel Input – Tenaga kerja
Variabel Input – Tenaga Kerja dengan jumlah sampel 5 kabupaten/kota
memiliki nilai terendah 1756,00 dan nilai tertinggi 25409,00. Nilai rata – rata
yang dimiliki adalah sebesar 14377,2000 dengan standar deviasi sebesar
11119,14181. Standar deviasi ini menunjukkan bahwa ukuran penyebaran data
variabel ini kecil karena nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata –
ratanya.
5. Variabel Output – Hasil Budidaya Laut
Variabel Output – Hasil Budidaya Laut dengan jumlah sampel 5
kabupaten/kota memiliki nilai terendah 14,40 dan nilai tertinggi 3091,00. Nilai
rata – rata yang dimiliki adalah sebesar 870,0000 dengan standar deviasi
sebesar 1277,97877. Standar deviasi ini menunjukkan bahwa ukuran
penyebaran data variabel ini besar karena nilai standar deviasi lebih besar dari
nilai rata – ratanya.
Variabel Output – Pendapatan dengan jumlah sampel 5 kabupaten/kota
memiliki nilai terendah 695000,00 dn nilai tertinggi 1,748. Nilai rata – rata
yang dimiliki adalah sebesar 4,60147 dengan standar deviasi sebesar
7,264767. Standar deviasi ini menunjukkan bahwa ukuran penyebaran data
variabel ini besar karena nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata –
ratanya.
4.7Hasil Pengolahan Data Envelopment Analysis (DEA)
Metode DEA adalah metode nonparametrik yang digunakan untuk menilai
tingkat efisiensi relatif tiap unit/sampel, yaitu kabupaten/kota di Sumatera Utara
pada tahun 2014. Untuk memperoleh skor efisiensi dari tiap unit yang
diperbandingkan, penulis menggunakan Software Banxia Frontier Analysis 4.
Suatu unit akan dinyatakan telah memperoleh efisiensi relative apabila mencapai
skor 1 atau 100% dan semakin tidak efisien jika semakin jauh dari 1 atau 100% .
Adapun nilai efisiensi tiap unit berdasarkan pengolahan DEA adalah sebagai
berikut :
Tabel 4.2
Nilai Efisiensi Tiap Kabupaten/Kota Sampel
Kabupaten/Kota Tingkat Efisiensi (%)
Kabupaten Nias Selatan 7,7
Kabupaten Nias Utara 3,9
Kabupaten Tapanuli Tengah 88,5
Kota Medan 100,0
Kabupaten Langkat 100,0
Sumber : Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Dari hasil perhitungan efisiensi hasil budidaya laut pada 5 kabupaten/kota di
Sumatera Utara pada sampel tahun 2014 ditemukan bahwa, terdapat 2
kabupaten/kota telah memiliki kinerja budidaya hasil laut yang bekerja dengan
efisien dibanding dengan kabupaten/kota lainnya. Sedangkan terdapat 3
kabupaten/kota yang mengalami inefisiensi yang ditunjukan dengan nilai efisiensi
< 100 persen . Kabupaten Nias Utara merupakan daerah yang memperoleh nilai
efisiensi terkecil yaitu sebesar 3,9 persen. Selain Kabupaten Nias Utara , Sampel
lain yang mengalami inefiensi adalah Kabupaten Nias Selatan dengan nilai
efisiensi 7,7 persen, dan Kabupaten Tapanuli Tengah dengan nilai efisiensi 88,5
persen.
4.8Hasil Analisis Tingkat Efisiensi Budidaya Hasil Ikan melalui Aplikasi Model Data Envelopment Analysis (DEA)
Seperti diketahui bahwa DEA mampu memberikan nilai perbaikan pada unit
yang mengalami inefisiensi , maka kabupaten/kota yang menjadi sampel yang
mengalami inefisiensi hasil analisis tingkat efisiensi budidaya hasil ikan dapat
dicari perbaikannya berdasarkan similasi manajerial yang dilakukan oleh Data
Envelopment Analysis (DEA) .
a. Kabupaten Nias Selatan
Tabel 4.3
Efisiensi Kabupaten Nias Selatan
Variabel Aktual Target Potential Improvement
Pendapatan 785000 920.808,80 17,30
Sumber : Hasil Pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Kabupaten Nias Selatan memiliki pendapatan sebesar Rp. 785.000. Untuk
memperoleh jumlah pendapatan sebesar Rp. 920.808,80, maka luas lahan yang
dibutuhkan 41,76 hektar bukan seluas 5.600 hektar, sehingga terjadi inefisiensi
sebesar 99,25 persen. Nilai efisiensi yang diperoleh Kabupaten Nias Selatan
dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 7,7 persen. Melalui
hitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usaha laut di Kabupaten
Nias Selatan memperoleh hasil pendapatan sebesar Rp. 785.000. Jumlah tenaga
kerja aktual sebesar 1.756 orang. Sehingga tenaga kerja di kabupaten ini telah
mengalami inefisiensi sebesar 92,32 persen. Jumlah aktual benih ikan sebesar
4,057 ton. Sehingga jumlah benih ikan mengalami inefisiensi sebesar 99,97
persen. Jumlah aktual pakan sebesar 57,6 ton. Sehingga jumlah pakan mengalami
inefisiensi sebesar 92,32 persen. Kabupaten Nias Selatan bukan merupakan salah
satu penyuplai hasil laut terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas area
b. Kabupaten Nias Utara
Adapun tabel efisiensi kabupaten nias selatan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4
Efisiensi Kabupaten Nias
Variabel Aktual Target Potential Improvement
Pendapatan 695000 808.515,04 16,33
Sumber : Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Kabupaten Nias Utara memiliki pendapatan sebesar Rp. 695.000. Untuk
memperoleh jumlah pendapatan sebesar Rp. 808.515,04, maka luas area yang
dibutuhkan sebesar 36,66 hektar bukan seluas 3700 hektar, sehingga terjadi
inefisiensi sebesar 99,01 persen. Nilai efisiensi yang diperoleh Kabupaten Nias
dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 3,9 persen. Melalui
hitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usaha laut di Kabupaten
Nias Utara memperoleh pendapatan sebesar Rp. 695.000. Jumlah benih ikan
aktual sebesar 201,5 ton. Target untuk benih ikan sebesar 0,98 ton. Sehingga
mengalami inefisiensi sebesar 99,52 persen. Jumlah pakan aktual sebesar 57,6 ton
dan target untuk pakan sebesar 0,27 ton. Sehingga mengalami inefisiensi sebesar
99,53 persen. Jumlah tenaga kerja aktual sebanyak 3000 orang dan target untuk
jumlah tenaga kerja sebesar 118,37 orang. Sehingga mengalami inefisiensi sebesar
laut terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas area yang sedikit dan jumlah
hasil budidaya ikan yang tergolong sedikit.
c. Kabupaten Tapanuli Tengah
Adapun tabel efisiensi kabupaten Tapanuli Tengah adalah sebagai berikut :
Tabel 4.5
Efisiensi Kabupaten Tapanuli Tengah
Variabel Aktual Target Potential Improvement
Pendapatan 21965000 30.835.865,42 40,39
Sumber : Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki pendapatan sebesar Rp. 21.965.000
untuk memperoleh pendapatan sebesar Rp. 30.835.865,42, maka luas area yang
dibutuhkan 1.398,32 hektar bukan seluas 1580 hektar, sehingga terjadi inefisiensi
sebesar 11,50 persen. Nilai efisiensi yang diperoleh Kabupaten Tapanuli Tengah
dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 88,5 persen. Melalui
perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usaha laut di Kabupaten
Tapanuli Tengah memperoleh hasil pendapatan sebesar Rp. 21.965.000. Jumlah
benih ikan aktual sebesar 91,5 ton dan jumlah benih ikan target sebesar 37,22 ton.
Sehingga jumlah benih ikan mengalami inefisiensi sebesar 59,32. Jumlah pakan
aktual sebesar 57,6 ton dan jumlah pakan target sebesar 10,23 ton. Sehingga
aktual sebesar 2072 orang dan jumlah tenaga kerja target yang diperlukan sebesar
4.514,60 orang. Sehingga jumlah tenaga kerja mengalami inefisiensi sebesar
78,21 persen. Kabupaten Tapanuli Tengah bukan merupakan salah satu penyuplai
hasil laut terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas area yang sedikit dan
jumlah hasil budidaya ikan yang tergolong sedikit.
d. Kota medan
Adapun tabel efisiensi Kabupaten Kota Medan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6
Efisiensi Kabupaten Kota Medan
Variabel Aktual Target Potential Improvement
Pendapatan 33075000 33075000 0
Sumber : Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Kabupaten Kota Medan memperoleh pendapatan Rp. 33.075.000 dan hasil
budidaya ikan sebesar 679 ton. Nilai efisiensi yang diperoleh oleh Kabupaten
Kota Medan berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen.
Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam
usaha laut di Kabupaten Kota Medan pada tahun 2014, baik dalam luas area,
jumlah benih ikan, jumlah pakan dan jumlah tenaga kerja memperoleh hasil
produksi yang maksimum berdasarkan faktor – faktor produksi yang digunakan.
Sumatera Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan
luas area serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
e. Kabupaten Langkat
Adapun tabel efisiensi KabupatenLangkatadalah sebagai berikut :
Tabel 4.7
Efisiensi Kabupaten Langkat
Variabel Aktual Target Potential Improvement
Pendapatan 173550000 173550000 0
Sumber : Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 4
Kabupaten Langkat memperoleh pendapatan sebesar Rp. 173.550.000 dan
hasil budidaya ikan sebesar 3091 ton. Nilai efisiensi yang diperoleh Kabupaten
Langkat berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen. Melalui
perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usaha
laut di Kabupaten Langkat pada tahun 2014, baik dalam luas area, jumlah benih
ikan, jumlah pakan dan jumlah tenaga kerja memperoleh hasil produksi yang
maksimum berdasarkan faktor – faktor produksi yang digunakan. Kabupaten
Langkat merupakan salah satu penyuplasi hasil laut ikan terbesar di Sumatera
Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan luas area
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis efisiensi dengan menggunakan Data Envelopment
Analysis (DEA) yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari 5 kabupaten/kota yang menjadi sampel penelitian, terdapat 2
kabupaten/kota yang memiliki budidaya hasil laut yang efisien dengan skor
efisiensi sebesar 100 persen. Sehingga kedua kabupaten/kota tersebut lebih
efisien dibandingkan 3 kabupaten lainnya yang memiliki skor efisiensi kurang
dari 100 persen. Kabupaten/kota yang efisien tersebut adalah : Kabupaten
Kota Medan dan Kabupaten Langkat. Hal ini menandakan bahwa faktor –
faktor produksi yang digunakan dalam budidaya hasil laut tersebut telah
efektif dan efisien disbanding dengan kabupaten yang memiliki skor
efisiensinya kurang dari 100 persen.
2. Dengan adanya inefisiensi pada pengeluaran faktor – faktor produksi seperti :
luas area, jumlah benih ikan, jumlah pakan dan tenaga kerja di beberapa
kabupaten/kota yang memiliki nilaiefisiensi kurang dari 100 persen
disbanding dengan kabupaten/kota yang memiliki hasil budidaya laut yang
5.2Saran
Berdasarkan dari hasil kesimpulan dan keterbatasan penelitian maka saran
yang dapat diberikan oleh penulis agar tingkat efisiensi hasil budidaya laut di
Sumatera Utara memiliki kinerja yang baik adalah seperti :
1. Melakukan pengurangan jumlah faktor – faktor produksi seperti : tenaga kerja,
luas area, jumlah pakan, dan jumlah benih ikan di beberapa kabupaten/kota
yang tidak efisien sesuai dengan persentase masing – masing jumlah yang
terdapat dalam hasil analisis per kabupaten.
2. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sebaiknya penelitian ini didahului
oleh penelitian tingkat kabupaten untuk memperoleh gambaran rata – rata
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1 Efisiensi
Efisiensi merupakan tindakan memaksimalkan hasil dengan menggunakan
modal (tenaga kerja, material dan alat) yang minimal (Stoner, 2010). Efisiensi
merupakan rasio antara input dan output, dan perbandingan antara masukan dan
pengeluaran. Apa saja yang dimaksudkan dengan masukan serta bagaimana angka
perbandingan tersebut diperoleh, akan tergantung dari tujuan penggunaan tolakk
ukur tersebut. Secara sederhana, menurut Nopirin (2014), efisiensi dapat berarti
tidak adanya pemborosan.
Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output)
dengan masukan (input), atau jumlah yang dihasilkan dari satu input yang
dipergunakan. Suatu perusahaan dapat dikatakan efisiensi apabila
mempergunakan jumlah unit yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah
unit input yang dipergunakan perusahaan lain untuk menghasilkan output yang
sama, atau menggunakan unit input yang sama, dapat mengahsilkan jumlah output
yang lebih besar (Permono dan Darmawan, 2000 dalam Priyonggo Suseno, 2008)
Efisiensi adalah kemampuan untuk mencapai hasil yang diharapkan
(output) dengan mengorbankan tenaga atau biaya (input) yang minimum atau
dengan kata lain, suatu kegiatan telah dikerjakan secara efisien jika pelaksanaan
kegiatan telah mencapai sasaran (output) dengan pengorbanan (input) yang
maka efisiensi merupakan rasio antara output dengan input atau dinyatakan
dengan rumus sebagai berikut :
E = O/I
Dimana :
E = efisiensi O = output I = input
Efisiensi dapat dikatakan sebagai suatu tindakan yang dapat
meminimalkan pemborosan atau kerugian sumberdaya dalam melaksanakan suatu
kegiatan atau dalam menghasilkan sesuatu.
Menurut Slichter dalamSarwoto (2014), ada 3 macam efisiensi :
1. Engineering / Physical Efficiency
Yaitu perbandingan antara jumlah satuan benda yang dipergunakan dengan
benda yang dihasilkan.
2. Bussiness Efficiency
Adalah perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dengan penghasilan yang
masuk.
3. Social Efficiency
Adalah perbandingan antara pengorbanan-pengorbanan manusia dengan
kepuasan atau kemanfaatan bagi manusia yang dapat dinikmati. Mubyarto
(1986) menyatakan bahwa efisiensi adalah suatu keadaan dimana sumberdaya
telah dimanfaatkan secara optimal. Untuk memperoleh sejumlah produk
Selain itu efisiensi merupakan perbandingan antara masukan dengan
pengeluaran. Apa saja yang termasuk kedalam masukan serta bagaimana angka
perbandingan tersebut diperoleh, tergantung dari tujuan penggunaan tolok ukur
tersebut. Usaha peningkatan efisiensi umumnya dihubungkan dengan biaya yang
lebih kecil untuk memperoleh suatu hasil tertentu, atau dengan biaya tertentu
diperoleh hasil yang lebih banyak. Hal ini berarti menekan pemborosan hingga
sekecil mungkin. Segala hal yang memungkinkan untk mengurangi biaya tersebut
dilakukan demi efisiensi.
Efisiensi juga dapat diartikan sebagai upaya penggunaan input yang
sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya (Soekartawi,
2010). Menurut Soedarsono (2010), efisiensi produksi menggambarkan besarnya
biaya atau pengorbanan yang harus dibayar / di tanggung untuk menghasilkan
produksi. Sedangkan menurut Wattanutchariya dan Panayotou (1981), efisiensi
penggunaan masukan menghendaki bahwa setiap masukan digunakan pada suatu
tingkat tertentu sehingga nilai produk marjinal suatu masukan sama dengan
harganya atau MVPi = Pi sehingga MVPi / Pi = 1. Bila nilai marjinal suatu
masukan lebih besar dari harganya, maka keuntungan dinaikkan dengan
meninggikan penggunaan masukan. Pada umumnya, bertambahnya efisiensi
disebabkan karena (Komaruddin, 1986) :
a. Penggunaan manajemen modern
b. Penggunaan sumber-sumber yang bukan manusia atau tenaga binatang
d. Pemakaian bagian-bagian alat-alat yang distandarisasikan dan dapat
ditukarkan satu sama lain.
e. Meninggalkan proses produksi yang kompleks dan menggantinya dengan
pekerjaan dan produksi yang repetitif
f. Pengkhususan tugas-tugas dan pembagian kerja dan wewenang
2.1.2. Fungsi Produksi
Menurut Miller dan Meiners (1997), produksi diartikan sebagai
penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya yang mengubah suatu komoditi
menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda, baik dalam pengertian apa,
dan di mana atau kapan komoditi-komoditi itu dialokasikan, maupun dalam
pengertian apa yang dapat dikerjakan oleh konsumen terhadap komoditi itu. Tedy
Herlambang (2002) menyatakan bahwa produksi adalah suatu kegiatan yang
mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa
dinyatakan dalam fungsi produksi. Fungsi produksi menunjukkan jumlah
maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input dengan
menggunakan teknologi tertentu. Secara matematika fungsi produksi dapat
dituliskan sebagai berikut :
Q= f (K,L,X,E)
di mana :
Q = output
K,L,X,E = input (kapital, tenaga kerja, bahan baku, keahlian/keusahawanan)
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa output tidak hanya tergantung
Produktivitas dari perusahaan diperoleh dari pengetahuan sepanjangproduksi
(pengalaman). Sehingga fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut :
Q= f (K,L,ΣZ)
ΣZ = pengalaman
Menurut Sukirno (2005), fungsi produksi adalah hubungan diantara faktor-
faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya. Faktor-faktor produksi
dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi disebut sebagai output. Fungsi
produksi dinyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut :
Q=f (K,L,R,T)
di mana, K adalah jumlah stok modal, L adalah jumlah tenaga kerja, R adalah
kekayaan alam dan T adalah tingkat teknologi yang diciptakan. Sedangkan Q
adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor produksi
tersebut. Soekartawi (2003) menyatakan bahwa fungsi produksi adalah hubungan
fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X).
Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan varibel yang menjelaskan
biasanya berupa input, secara matematis hubungan ini dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Y = f(X1, X2, X3, ..., Xi, ..., Xn)
Dengan fungsi seperti tersebut di atas, maka hubungan antara X dan Y
dapat diketahui sekaligus hubungan Xi, ....Xndan X lainnya juga dapat diketahui.
Dalam teoriekonomi terdapat perbedaan antara faktor produksi jangka pendek
dengan faktor produksi jangka panjang. Analisa kegiatan produksi dikatakan
jumlahnya. Dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat mengalami
perubahan, ini berarti bahwa dalam jangka panjang setiap faktor produksi dapat
ditambah jumlahnya kalau memang hal tersebut diperlukan (Sukirno, 2005)
2.1.3. Fungsi Produksi dan Efisiensi
Hubungan antara penggunaan faktor produksi dengan produksi sering
disebut fungsi produksi. Penggunaan faktor produksi yang optimal bisa dilakukan
dengan menggunakan konsep diminishing marginal returns. Untuk itu diperlukan
satu konsep lagi, yaitu pendapatan marginal (marginal revenue product).
Pendapatan marginal merupakan tambahan pendapatan total dari menjual produk
sebagai akibat tambahan satu unit penggunaan faktor produksi tertentu. Secara
fungsi matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
Q = f(X1,X2,X3,X4)
Dimana :
Q = Produksi
X1s.d X4= Faktor Produksi
Fungsi produksi merupakan hubungan fisik antara output dan input.
Efisien dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan
masukan (input), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang
dipergunakan. Efisiensi dapat diperkirakan dengan menggunakan teknik DEA
(Data Envelopment Analysis) yang memiliki karakter berbeda dengan konsep
efisiensi pada umumnya. Beberapa alasan mengapa alat analisis DEA dapat
1. Efisiensi yang diukur adalah efisiensi teknis, bukan ekonomis
2. Nilai efisiensi yang dihasilkan bersifat relatif atau hanya berlaku dalam
lingkup sekumpulan UKE (Unit Kegiatan Ekonomi) yang diperbandingkan
(Nugroho 2004 dalam Suhadi, 2005)
DEA merupakan suatu pendekatan non parametrik yang pada dasarnya
merupakan teknik berbasis pemrograman linier. DEA bekerja dengan langkah
mengidentifikasi unit-unit yang akan dievaluasi, input serta output unit tersebut.
Kemudian selanjutnya, dihitung nilai produktivitas dan mengidentifikasi unit
mana yang tidak menggunakan input secara efisien atau tidak menghasilkan
output secara efektif. Produktivitas yang diukur bersifat komparatif atau relatif,
karena hanya membandingkan antar unit pengukuran dari 1 set data yang sama.
Dalam hal pengukuran efisiensi terhadap Tempat Pelelangan Ikan, difokuskan
pada penambahan output yang diperlukan dengan mempertahankan input yang
telah ada (Suhadi, 2005). Efisiensi untuk mengukur kinerja proses produksi dalam
arti yang luas dengan mengoperasionalkan variabel-variabel yang mempunyai
satuan yang berbeda-beda, yang kebanyakan seperti dalam pengukuran
barang-barang publik atau barang-barang yang tidak mempunyai pasar tertentu (non-traded
goods), maka alat analisis DEA merupakan pilihan yang paling sesuai (Mumu dan
Susilowati, 2004).
2.1.4. Hubungan Fungsi Produksi dengan Efisiensi
Hubungan fisik antara output dan input sering disebut dengan fungsi
produksi. Efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran
input yang digunakan. Efisiensi dapat diestimasi dengan teknik analisis Data
Envelopment Analysis(DEA) yang memiliki karakter berbeda dengan konsep
efisiensi pada umumnya (yang didekati dengan pendekatan parametrik, seperti
regresi). Ada beberapa alasan mengapa alat analisis DEA dapat dipakai untuk
mengukur efisiensi suatu proses produksi, yaitu
1. Efisiensi yang diukur adalah bersifat teknis, bukan ekonomi. Ini dimaksudkan
bahwa, analisis DEA hanya memperhitungkan nilai absolut dari suatu
variabel. Satuan dasar pengukuran yang mencerminkan nilaiekonomis dari
tiap-tiap variabel seperti harga, berat, panjang, isi dan lainnya tidak
dipertimbangkan. Oleh karenanya dimungkinkan suatu pola perhitungan
kombinasi berbagai variabel dengan satuan yang berbeda-beda.
2. Nilai efisiensi yang dihasilkan bersifat relatif atau hanya berlaku dalam
sekumpulan Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) yang dibandingkan
(Nugroho,1995)efisiensi untuk mengukur kinerja proses produksi dalam arti
luas dengan mengoperasionalkan variabel-variabel yang mempunyai satuan
yang berbeda-beda, yang kebanyakan seperti dalam pengukuran
barang-barang publik atau barang-barang yang tidak mempunyai pasar tertentu, maka analisis
DEA merupakan pilihan yang sesuai ( Mumu dan Susilowati, 2004)Data
Envelopment Analysis (DEA) merupakan suatu pendekatan non parametrik
yang pada dasarnya merupakan teknik berbasis linear programming.
DEA bekerja dengan langkah mengidentifikasi unit-unit yang akan
dievaluasi input serta output unit tersebut Kemudian menghitung nilai
secara efisien atau tidak menghasilkan output secara efektif. Produktivitas yang
diukur bersifat komparatif atau relatif karena hanya membandingkan antar unit
pengukuran dari 1 set data yang sama.
2.2 Budidaya Hasil Laut
Budidaya laut merupakan bagian dari budidaya perairan (akuakultur) yang
melibatkan budidaya organism – organism laut, dengan tujuan untuk
memproduksi baik berupa bahan pangan maupun produk lainnya yang dilakukan
di laut terbuka, laut tertutup, di dalam tanki, kolam atau saluran air yang diisi
dengan air laut. Budidaya laut atau budidaya hasil laut meliputi budidaya ikan
laut, kerang, tiram dan rumput laut yang dilakukan di kolam air asin. Produk non
– pangan yang dihasilkan dari budidaya laut meliputi :tepung ikan, agar nutrient,
perhiasan (contoh : budidaya mutiara), dan kosmetik.
Budidaya laut telah berkembang dengan cepat selama dua puluh tahun
terakhir akibat dari berkembangnya teknologi baru, pengembangan produk pakan
buatan, pemahaman yang lebih luas terhadap biologis dari spesies budidaya,
peningkatan kualitas air dalam sistem budidaya tertutup, permintaan produk
dengan hasil laut yang terus meningkat, perluasan area dan perhatian pemerintah.
Akan tetapi dengan perkembangan ini, budidaya laut telah menjadi suatu
kontroversi yang berkaitan dengan dampak – dampak sosial dan lingkungan.
Beberapa dampak lingkungan dari budidaya laut secara umum adalah : Limbah
yang dihasilkan dari budidaya keramba (jarring apung). Beberapa spesies yang
penyebaran penyakit dan parasit. Perubahan ekosistem yang disebabkan
modifikasi mabitat.
Beberapa jenis hasil laut seperti kepiting dan rajungan, kerang – kerangan,
rumput laut dan jenis lainnya, bila diambil secara terus – menerus dari alam tanpa
adanya usaha pengelolaan yang berkelanjutan (sustainable), akan menyebabkan
sumberdaya perikanan laut menjaditerus berkurang, bahkan bisa habis. Salah satu
usaha untuk mencegah habisnya sumberdaya hasil laut dari penangkapan adalah
dengan cara budidaya. Terdapat 2 (dua) cara budidaya hasil laut yang dilakukan,
yaitu :
1. Budidaya laut yang dilaukan secara penuh. Pada budidaya ini benih
atau bibit yang digunakan untuk budidaya didapatkan dengan cara
pemijahan buatan atau pembibitan sendiri dan kemudian diteruskan
dengan pemeliharaan atau pembesaran.
2. Budidaya laut yang dilakukan secara tidak penuh. Pada budidaya ini benih atau bibit diperoleh dengan cara menangkap atau mengambil
dari laut, kemudian dipelihara atau dibesarkan di kolam – kolam yang
telah disediakan.
2.3 Teori – Teori Kinerja
Menurut Pause 1999 dalam Triwidyawati (2008), pengukuran kinerja
merupakan salah satu upaya agar dapat memobilisasi sumberdaya secara
efektifdan dapat memberikan arah pada keputusan strategis yang
bersifatmultidimensional, oleh sebab itu harus ditentukan atas dasar berbagai
profilukuran yaitu ekonomi, efektivitas dan efisiensi. Salah satu aspek yang
popular digunakan untuk menentukan kinerja suatu unit kegiatan ekonomi
adalahpengukuran efisiensi. Kinerja merupakan suatu hasil yang dicapai oleh
pekerjaatau organisasi dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku
untuk suatu pekerjaan dimaksud. Kinerja perusahaan merupakan konstruk
yangumumnya digunakan untuk mengukur dampak dari sebuah strategi
padaperusahaan (Ferdinand 2000 dalam Wahyono, 2002). Sementara Meier 1987
dalam As’ad (1989) memberikan batasan kinerja (performance)
merupakankesuksesan dari seseorang (organisasi) dalam hal melaksanakan suatu
pekerjaanatau tugas. Kinerja dapat digambarkan sebagai konstruk multidimensi
yangmengikuti konsep kerja. Konstruk tersebut antara lain adalah kinerja
keuangan,operasional dan organisasi.
2.4 Data Envelopment Analysis (DEA)
DEA bertujuan untuk mengukur keragaan relatif (relative performance)dari
unit analisis pada kondisi keberadaan multiple inputs dan outputs
(Dyson,Thanassoulis dan Boussofiane, 1990, dalam Fauzi dan Anna, 2005).
DataEnvelopment Analysis (DEA) dapat mengatasi keterbatasan yang dimiliki
analisisrasio parsial dan regresi berganda untuk pengukuran efisiensi suatu
organisasiatau unit kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak input dan banyak
output(multi-input-multi-output). Efisiensi relatif suatu unit kegiatan ekonomi
adalahefisiensi suatu unit kegiatan ekonomi dibanding dengan kegiatan ekonomi
Pendekatan yang berorientasi pada input dan output ini dikembangkanpertama
kali oleh Charnes, Cooper dan Rhodes pada tahun 1978 atau dikenalsebagai CCR,
untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Färe, et.al (1989,1994) dan
disarankan untuk perikanan oleh Kirkley dan Squires (1998) (Fauzi danAnna,
2005). Menurut Charner et. al. (1994), Banker, et.al (1984) dalam EttyPuji Lestari
(2001), DEA adalah sebuah metode optimasi program matematikayang mengukur
efisiensi teknis suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) danmembandingkan secara
relatif terhadap UKE yang lain. Mula-mula DEAdikembangkan oleh Farrel (1957)
yang mengukur efisiensi teknis satu input dansatu output, menjadi multi input dan
multi output, menggunakan kerangka nilaiefisiensi relatif sebagai rasio input
(single virtual input) dengan output (virtual output). Menurut Korhumen et. al.
dalam Fauzi dan Anna (2005), DEAmerupakan pengukuran efisiensi yang bersifat
bebas nilai (value free) karenadidasarkan pada data yang tersedia tanpa harus
mempertimbangkan penilaian(judgement) dari pengambil keputusan.
DEA merupakan prosedur yang dirancang untuk mengukur efisiensi suatu
Unit Kegiatan Ekonomi (UKE). DEA merupakan formulasi dari program linier.
Ada 3manfaat yang diperoleh dari pengukuran efisiensi dengan DEA :
1. Sebagai tolok ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk
mempermudah perbandingan antara unit ekonomi yang sama.
2. Mengukur berbagai informasi efisiensi antar unit kegiatan ekonomi
untukmengidentifikasikan faktor-faktor penyebabnya.
3. Menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat meningkatkan
Tetapi, keterbatasan DEA adalah :
1. Mensyaratkan semua input dan output harus spesifik dan dapatdiukur.
2. DEA berasumsi bahwa setiap unit input atau output identik denganunit
lain dalam tipe yang sama.
3. Dalam bentuk dasarnya DEA berasumsi adanya CRS (constantreturn to
scale).
4. Bobot input dan output yang dihasilkan DEA sulit untukditafsirkan dalam
2.5 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1. Review Penelitian
No Nama/tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Ahmad Taufiq
Az-
Zarnuji (2011)
Analisis Efisiensi Budidaya Ikan Lele di Kabupaten Boyolali (Studi Kasus di Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali)
Diketahui bahwa Return to Scale (RTS) adalah sebesar 1,01. Hal ini menunjukkan bahwa usaha budidaya ikan lele yang dijalankan di daerah penelitian berada pada kondisi Increasing Return to Scale (IRS) sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi ini layak di kembangkan atau diteruskan
2 Teguh
Risdiansyah(2011)
Analisis Kelayakan Ekonomi
Budidaya Rumput Laut di Pesisir Kabupaten Jepara
Tingkat pendidikan anggota kelompok rendah mayoritas lulus SDsebesar 76,8% dan mayoritas
pekerjaanpokoknelayansebesar 87,5%. Teknologi tanam metode long line,bibit dari Karimun Jawa, produktivitas kurang lebih 2 ton/Ha,analisis kelayakan ekonomi terdapat 5 elompok yang tidak Rumput Laut Di Propinsi Maluku Utara
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat telah terbukti.
4 Cakra Iswahyudi (2015)
Analisis Tingkat Pendapatan Petani
Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel modal
berpengaruh positif siginifikan terhadapa tingkat pendapatan petani budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng.
5 Nguyen Thi Hoai An (2012)
Profitability and technical efficiency of black tiger
Shrimp (Penaeus monodon) Culture and
white leg shrimp (Penaeus vannamei) culture in song cau district, phu yen Province, Vietnam.
6 Samuel Mburu (2014)
Analysis of Economic Efficiency and Farm Size: A Case Study of Wheat Farmers in Nakuru District, Kenya
The number of years of school a farmer has had in formal education, distance to
extension advice, and the size of the farm have strong influence on the efficiency levels. The relatively high levels of technical efficiency among the small scale farmers defy the notion that wheat can only be efficiently produced by the large scale farmers.
2.6 Kerangka Konseptual
Berdasarkan tinjauan landasan teori dan penelitian terdahulu, maka dapat
disusun kerangka konseptual seperti yang tersaji dalam gambar sebagai berikut:
Gambar 2.1
PRODUKSI
EFISIENSI Variabel Input
(X1): - Luas area keramba
2.7 Hipotesis
Hipotesis (Ho) yaitu tidak adanya hubungan antara input dan output.
Variabel input yang digunakan meliputi luas area keramba, jumlah benih ikan,
jumlah pakan, jumlah obat, dan jumlah tenaga kerja manusia. Variabel output
yang digunakan meliputi, jumlah hasil budidaya ikan, pendapatan penjualan hasil
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Akuakultur atau lebih dikenal perikanan budidaya kini telah menjadi
tulang punggung dunia dalam memasok pangan dunia terutama dari sektor
perikanan. Produksi akuakultur yang dapat ditingkat dengan lebih cepat,
menyebabkan akuakultur diharapkan dunia dan Indonesia. Akuakultur menjadi
subsektor yang dapat memenuhi pangan yang sehat untuk masyarakat dunia
sebagai konsumsinya sehari-hari. Seiring dengan sudah optimalnya peningkatan
produksi perikanan tangkap. Kini berdasarkan data tahun 2013 yang dirilis FAO
tahun 2015 ini, produksi perikanan budidaya dunia sudah lebih besar
dibandingkan dengan perikanan tangkap dunia.
Produksi perikanan budidaya dunia ke depan akan terus melaju dan tentu
menjadi produsen ikan dunia dibandingkan perikanan tangkap dunia yang
peningkatan produksinya secara umum telah optimal. Hal ini tentu menjadi
peluang yang cukup besar bagi Indonesia sebagai negara dengan potensi
akuakulturnya yang sangat besar untuk berkontribusi lebih besar dalam akuakultur
dunia sebagai produsen ikan dunia.
Produksi perikanan budidaya dunia pada tahun 2013 mencapai 97,2 juta
ton. Naik sekitar 7 juta ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan
rata-rata produksi setiap tahunnya mencapai 6,63 persen. Peningkatan produksi
perikanan budidaya dunia lebih banyak disumbangkan oleh China sebesar 58,76
Tahun 2011 kontribusinya sebesar 59,92 persen, lalu tahun 2012 turun sebesar
59,75 persen.
Negara Indonesia lebih dikenal sebagai negara kepulauan yang
memilikiwilayah perairan yang cukup luas. Terdapat 17.508 pulau di
Indonesia,menunjukkan besarnya potensi perikanan, termasuk Jawa Tengah.
Berdasarkankomisi nasional pengkaji sumberdaya perikanan laut (Budiharsono
2007, dalamDeasy 2009) melaporkan bahwa potensi sumber daya perikanan laut
Indonesiaadalah 6,4 juta per tahun dengan porsi terbesar dari jenis ikan pelagis
kecil yaitusebesar 3,2 juta ton (52,24%), jenis ikan demersal 1,8 juta ton (28,96%)
dan ikanpelagis besar 0,97 juta ton (15,81%). Saat ini pemanfaatan sumber daya
perikananbaru mencapai 4,4 juta ton. Potensi produksi sumberdaya perikanan
Indonesiayang dapat dihasilkan dari usaha perikanan budidaya laut diperkirakan
mencapai45 juta ton / tahun, dan dari budidaya pesisir sekitar 5 juta ton pertahun.
Sementara itu, total produksi perikanan budidaya, termasuk dari
perairantawar/darat, baru mencapai 1,6 juta ton (0,3%). Saat ini, Indonesia
merupakanprodusen ikan terbesar kelima di dunia dengan volume produksi 6,3
juta tonpertahun.Masih banyak produk perikanan lain yang memiliki nilai ekspor
yangtinggi karena diminati pasar dunia antara lain ikan tuna, kerpau, kakap,
baronang,rajungan, kepiting, teripang, kerang, kerang mutiara, dan rumput laut.
Potensisumberdaya perikanan yang besar tersebut sesungguhnya dapat
dimanfaatkanuntuk meningkatkan kesejahteraan nelayan masyarakat tetapi
potensi tersebutbelum dipotimalkan (Effendi 2001 dalam Deasy 2009).Potensi
hanya berasal dari hasil tangkapan ikan, namun juga berasaldari sumber daya
mineral ataupun kekayaan lain didalam laut.
Adapun sasaranoutput yang dikehendaki oleh Dinas Perikanan dan
Kelautan dalam jangka waktu2010-2014 dalam meningkatkan daya saing sektor
kelautan dan perikanan untukkesejahteraan nelayan yaitu
1. Meningkatkan produksi perikanan menjadi 12,73 juta ton denganproduksi
hasil olahan 4,0 juta ton.
2. Meningkatkan hasil ekspor perikanan menjadi US$ 2,8 miliar
3. Meningkatnya kualitas SDM kelautan dan perikanan sebanyak4500 orang dan
meningkatnya fungsi penyuluh anak untuk 3000orang.
4. Meningkatnya utilitas unit pengolah ikan (UPI) menjadi 70%.
5. Tersedianya data statistik dan informasi kelautan dan perikananyang akurat
dan tepat waktu, dan
6. Meningkatnya sumberdaya riset kelautan dan perikanan sertapemaanfaatan
iptek berbasis masyarakat (Dinas Kelautan danPerikanan RI, 2009).
Sementara Indonesia selama tiga tahun terakhir ini kontribusinya terus
naik. Tahun 2011 kontribusi Indonesia terhadap produksi dunia sebesar 9,5 persen
lalu naik pada tahun 2012 sebesar 10,63 persen dan pada tahun 2013 kontribusi
Tabel 1
Produksi Perikanan Budidaya Dunia, 2009 - 2013 Satuan : Ton Sumber : FishstatJ FAO, Maret 2015
Sejak tahun 2009 Indonesia telah menjadi produsen akuakultur terbesar
kedua di dunia, di bawah negara China. Peningkatan rata-rata produksi perikanan
budidaya Indonesia setiap tahunnya sebesar 27,84 persen. Dibandingkan dengan
10 (sepuluh) besar negara penghasil perikanan budidaya dunia, maka prosentase
kenaikan rata-rata produksi Indonesia tertinggi dibandingkan dengan negara
lainnya. Bahkan dengan produsen perikanan budidaya terbesar di dunia yakni
negara China, juga jauh lebih besar kenaikannya. China sebagai produsen ikan
dunia terbesar, kenaikan rata-rata produksinya hanya sebesar 5,29 persen. Angka
ini juga di bawah kenaikan rata-rata produksi perikanan budidaya dunia.
Indonesia sendiri memiliki beberapa komoditas yang menjadi andalan
dalam subsektor perikanan budidaya yang dikembangkan dan menjadi fokus
dalam peningkatan produksi perikanan budidaya diantaranya udang, rumput laut,
perikanan budidaya Indonesia berada di posisi kedua sebagai produsen ikan dari
hasil budidaya.
Bagi Indonesia, dampak perubahan iklim terhadap perikanan belum
sepenuhnya dipahami. Namun dari hasil penelitian tentang perubahan iklim dan
keterkaitannya dengan sektor perikanan secara global, menunjukkan bahwa hasil
tangkapann ikan di Indonesia akan menurun sekitar 15 hingga 30 persen. Variasi
iklim dan perubahan tampaknya mempengaruhi produktivitas perikanan, dan ini
kemungkinan akan membawa berbagai peluang dan tantangan pada sektor
perikanan di Indonesia. Secara umum, pemanasan global menyebabkan penurunan
produksi ikan di Indonesia. Namun, di daerah-daerah yang mengalami kenaikan
permukaan laut, pemanasan global tampaknya meningkatkan produksi ikan akibat
adanya kenaikan permukaan laut yang intensif.
Provinsi Sumatera Utara memiliki keunikan tersendiri dalam kerangka
perekonomian nasional. Provinsi ini adalah daerah agraris yang menjadi pusat
pengembangan perkebunan dan hortikultura di satu sisi, sekaligus merupakan
salah satu pusat perkembangan industri dan pintu gerbang pariwisata di Indonesia
di sisi lain. Ini terjadi karena potensi sumber daya alam dan karakteristik
ekosistem yang memang sangat kondusif bagi pembangunan ekonomi daerah dan
nasional.
Meski potensi perikanan laut di pantai timur atau Selat Malaka hanya 239
ribu ton per tahun, Sumatera Utara memiliki potensi perikanan yang sangat besar
di Pantai Barat atau Samudera Hindia yang mencapai 917.000 ton per tahun.