• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Limbah Cair Rumah Potong Hewan di Kabupaten Dati II Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengelolaan Limbah Cair Rumah Potong Hewan di Kabupaten Dati II Bogor"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Media Veteriner 1996. Vol. III (2) Artikel Asli

PENGELOLAAN LIMBAH C A I R RUMAH POTONG HEWAN DI KABUPATEN DATI I1 BOGOR

THE MANAGEMENT OF WATER TREATMENT AT THE SLAUGHTERHOUSE DEPOK-BOGOR

SANJAYA, A.W., SUDARWANTO,

M.,

PRIBADI, E.s.'

ABSTRAK

RPH Depok yang terletak ditengah pemukiman padat mempunyai aktifitas penyembelihan ternak besar, sapi dan kerbau sebanyak 15-20 ekorlhari. RPH ini sudah dilengkapi dengan unit pengolah limbah sederhana.Untuk limbah padat ditumpuk terbuka

dan limbah cair diendapkan dalam 5 buah bak khusus dan satu bak kontrol. Kondisi

bangunan bak sebagian telah rusak.

Hasil analisis laboratorium limbah cair yang dikeluarkan ke perairan menunjukkan belum ada penurunan kandungan BOD, COD maupun padatan tersuspensi, sedangkan pH limbah cair yang di analisa pada saat jumlah penyembelihan belum banyak, ada penurunan. Hal ini membuktikan bahwa bak pengolah berperan sangat nyata dalam pengolahan limbah cair di RPH tersebut.

ABSTRACT

The slaughterhouse located within a crowded area Depok-Bogor has a daily capacity

of approsimately 15 to 20 cows and buffaloes slaughtered. Its water treatment is very simple,

the solid waste are accumulated outdoor (dumping) while the waste water are well sedimented into five special made ponds and one pond as control.

The analysis for waste water resulted in high concentration of BOD and COD as well as of suspended solid waste. A low pH of waste water were already occured in the early period of slaughtering. The study showed that the pond played a significant roll for management of waste treatment in those slaughterhouse.

~ ~

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

Media Veteriner 1996. Vol. III (2) Artikel Asli

PENGELOLAAN LIMBAH C A I R RUMAH POTONG HEWAN DI KABUPATEN DATI I1 BOGOR

THE MANAGEMENT OF WATER TREATMENT AT THE SLAUGHTERHOUSE DEPOK-BOGOR

SANJAYA, A.W., SUDARWANTO,

M.,

PRIBADI, E.s.'

ABSTRAK

RPH Depok yang terletak ditengah pemukiman padat mempunyai aktifitas penyembelihan ternak besar, sapi dan kerbau sebanyak 15-20 ekorlhari. RPH ini sudah dilengkapi dengan unit pengolah limbah sederhana.Untuk limbah padat ditumpuk terbuka

dan limbah cair diendapkan dalam 5 buah bak khusus dan satu bak kontrol. Kondisi

bangunan bak sebagian telah rusak.

Hasil analisis laboratorium limbah cair yang dikeluarkan ke perairan menunjukkan belum ada penurunan kandungan BOD, COD maupun padatan tersuspensi, sedangkan pH limbah cair yang di analisa pada saat jumlah penyembelihan belum banyak, ada penurunan. Hal ini membuktikan bahwa bak pengolah berperan sangat nyata dalam pengolahan limbah cair di RPH tersebut.

ABSTRACT

The slaughterhouse located within a crowded area Depok-Bogor has a daily capacity

of approsimately 15 to 20 cows and buffaloes slaughtered. Its water treatment is very simple,

the solid waste are accumulated outdoor (dumping) while the waste water are well sedimented into five special made ponds and one pond as control.

The analysis for waste water resulted in high concentration of BOD and COD as well as of suspended solid waste. A low pH of waste water were already occured in the early period of slaughtering. The study showed that the pond played a significant roll for management of waste treatment in those slaughterhouse.

~ ~

(11)

PENDAHULUAN

Kebutuhan ~nasyarakat terhadap produk industri peternakan semakin meningkat (termasuk produk industri hasil pertanian dalam ha1 ini khususnya peternakan). Daging adalah salah satu produk industri peternakan yang dihasilkan dari usaha pernotongan hewan. Menurut ketentuan pemerintah yang tertuang dalam peraturan pemerintah No 22 tahun 1983, tentang kesehatan masyarakat veteriner, maka pemotongan hewan hams dilaksanakan di Rumah Potong Hewan (WH) atau ternpat pemotongan hewan lainnya yang ditunjuk oleh

I pejabat yang berwenang. kecuali dalam keadaan tertentu seperti untuk keperluan upacara

adat. agama dan pernotongan darurat.

Rumah Potong Hewan sebagai tempat usaha pemotongan hewan dalam penyediaan daging sehat seharusnya memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan sanitasi baik dalam lingkungan W H maupun lingkungan disekitarnya. Dalam mencegah kemungkinan te rjadi dampak terhadap kesehatan masyarakat terutama penduduk disekitar lokasi RPH maka dengan S.K. Menteri Pertanian No 555KptsITN 2401911986 dijelaskan tentang syarat-syarat Rumah Potong Hewan dan Usaha Pemotongan Hewan.

W H Depok berada di dalam wilayah DT I1 Bogor dan mengelola penyediaan

daging sehat dan aman bagi kebutuhan penduduk sekitarnya (Citayam, Bojonggede, Cibinong) serta DKI Jakarta. Syarat dan tata cara pemotongan hewan potong tercantum dalam SK Menteri Pertanian No. 4 13KptsITN. 3 101711992.

(12)

Beberapa sifat limbah cair yang perlu diketahui antara lain volume aliran. konsentrasi organik, sifat-sifat karakteristik dan toksisitas (Jenie dan Rahayu. 1993). Pengukuran BOD dan COD adalah salah satu parameter pengukuran terhadap kadar organik

dari limbah. Apabila limbah cair mempunyai COD tinggi dan BOD rendah maka studi

toksisitas mungkin diperlukan (Jenie dan Rahayu, 1993). Untuk menangani limbah yang

dihasilkan oleh kegiatan RPH, maka ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan yaitu identifikasi limbah, karakterisasi dan pengolahan limbah (Ross et al., 1992). Hal ini hams dilakukan agar dapat ditentukan suatu bentuk penanganan limbah RPH yang efektif.

Penelitian ini bertujuan melakukan pengamatan terhadap jenis limbah yang dapat mengganggu lingkungan serta mengetahui jumlah kandungan limbah hasil aktifitas RPH tersebut.

METODE PENELITIAN

1. Tempat pengambilan sampel air

Sampel air RPH-1 diambil dari limbah yang langsung dikeluarkan RPH yaitu dari bak pengumpul (K-1 dan K-2). Sampel air RPH-2 diambil limbah dari K-3 yakni bak resapan I. Selanjutnya sampel air RPH-3 diambil dari ujung saluran yang akan memasuki perairan

umum. Sampel air RPH-4 diambil dari selokanlperairan ulnum berjarak 50 m dari K-4

yang menuju ke tambak ikan (gambar 1). Pengambilan sampel dilakukan enam kali

(pengulwYn).

2. Waktu pengambilan

Pengarnbilan sampel air dan analisis air dilakukan pada bulan September 1995 selama dua minggu dengan interval 2 hari sekali. Pengambilan dilakukan pada tengah malam antara pk 23.00-05.00, saat dilakukan penyembelihan hewan.

3. Analisa Laboratorium

(13)

Analisa Fisik air meliputi Padatan Tersuspensi Total dan pH Analisis Ki~nia air meliputi

Kebutuhan Oksigen Bioki~niawi dan Kebutulian Oksigen Kimiawi (BOD-dan COD).

HASIL DAN PEMBAHASAN

RPH Kabupaten Daerah Tingkat I1 Bogor berada di kotif Depok Kecamatan

Pancoran Mas. RPH ini didirikan pada tahun 1994 dan digunakan untuk memenuhi

kebutuhan konsumsi daging bagi wilayali DKI dan khususnya kota Depok. Pada awalnya letak RPH ini jauh dari pemukiman, disekitar lokasi telah ada kolam ikan milik rakyat.

Dengan be rjalannya waktu ~naka perumahan sederhana mulai bermunculan, disertai usaha

pemancingan yang mulai diminati masyarakat sekitarnya. Saat penelitian dilakukan letak

RPH Depok telah dikelilingi oleh beberapa rumah sederhana dan radius 50 nl dari lokasi ke

sebelah Utara ditemukan area pemancingan yang disewakan/dikomersialkan.

Penyembelihan dilakukan pada malam hari mulai aktif pk 23.30

-

05.00. Jumlah

penyembelihan meningkat khusus untuk konsumsi hari Jumat dan Sabtu, dengan jumlah penyembelihan sekitar 15-20 ekor. Jumlah penyembelihan terbanyak yang masih dapat dikelola ole11 RPH adalah 100 ekorlhari. pada saat Idul Qurban.

RPH Depok juga menyedialcan lahan kandang istirahat ternak dan pemasok ternak umumnya menggunakan fasilitas ini. Pedagang daging akan datang dan langsung melakukan transaksi jual beli sapi dan segera malam itu disembelih oleh pegawainya sendiri. Petugas Dinas Peternakan DT I1 Kabupaten Bogor berfungsi sebagai pengawas kesehatan daging.

Limbah cair dari RPH dikelola secara sederhana yaitu dengan cara diendapkan

melalui bak-bak penampungan. Semua bak saling berhubungan dibagian ctasarnya. Kondisi bak tampak rawan. sebagian dinding telah runtuh. Setelah masuk selokan. maka air langsung mengairi tambaklkolam yang ada disekitar RPH. Denah kolanl limbali pengolahan RPH Depok Bogor dapat dilihat pada gambar 1.

Hasil pemeriksaan fisik dan kimia air limbali Rumah Potong Hewan Depok dapat

(14)

1

6.

1

16/9/1995

1

12 ekor sapi

1

1380.00

1

2660.00

1

1540.00

1

800.00

1

Tabel 2. pH air dari Beberapa Titik Pengamatan

No

(

Tanggal

1

Jumlah

I

RPH-1

I

RPH-2

I

RPH-3

[

RPH-4

1

.

1

sampling

I

Pemotongan

I

1.

1

04/9/1995

1

16 ekor sapi

I

8.00

5.

1

14/9/1995

1

16 ekor sapi

I

8.40

1

8.00 8.00 5.80

11

3.

1

09/9/1995

1

18 ekor sapi

4.

1

12/9/1995

1

9 ekor sapi

2.

1

07/9/1995

1

18 ekor sapi

I

8.00

1

8.00

1

6.00

1

5.00 8.00 6.00

I

5 50

8.00

1

8.00

1

6.00

1

5.50

6.

1

16/9/1995

1

12 ekor sapi

I

8.00

[

8.40

1

8.60 8.00

1

8.00

5.00

1

Tabel 3. Kebutuhan Oksigen Biolumiawi (BOD) dari Beberapa Titik Pengamatan (mg/l)

1

6 .

1

16/9/1995

1

12 ekor sapi

1

2716.18

1

2635.10

1

188511

/

121.62

11

8.00

1

5.50

No . 1. 2. 3. 4 5 .

3. 09/9/1995 18 ekor sapi 401920 4109.92 3215.36 200.96 4. 12/9/1995 9 ekor sapi 2800.00 3 100.00 2000.00 200.00 5. 11/9/1995 16 ekor sapi 3000.00 3500.00 2500.00 170.00 6. 16/9/1995 12 ekor sapi 3050.00 4000.00 2950.00 225.00

Tanggal Sampling 04/9/1995 07/9/1995 09/9/1995 12/9/1995 14/9/1995

Tabel 4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi /COD dari Beberapa Titik Pengarliatan (mg/l)

Rataan hasil pengamatan limbah

RPH

yang dilakukan dibandingkan dengan Ketentuan Baku

No

1.

Mutu Air Limbah Golongan IV dapat dilihat pada tabel 5.

18 ekor sapi

18 ekor sapi

9 ekor sapi

16 ekor sapi

Jumlah Pemotongan

16 ekor sapi

2. 07/9/1995 18 ekor sapi I 3014.40 3215.36 2311.04 180.86

Tanggal Sampling

04/9/1995

RPH- 1 1420.00 1406.41 1406.41 1660.00 2229.70 RPH-4 32.82 RPH-2 1406.41 Jumlah Pemotongan

16 ekor sapi

RPH-3 1406-11 1500.17 1125.13 1540.52 1520.25

RPH- 1

(15)

Tabel 5. Rataan Analisistimbah RPH Depok dari Berbagai Titik Pengamatan di Bandingkan terhadap Baku Mutu Air Gol. IV

Jumlah penyembelihan terbanyak selama pengamatan adalah 18 ekor. sedangkan yang terkecil adalah 9 ekor,. Hasil analisa laboratorium tentang BOD, COD maupun total padatan tersuspensi tidak menunjukan perbedaan. sehingga dapat dikatakan bahwa beban pencemaran air limbah RPH tidak dipengaruhi oleh jumlah ternak yang dipotong. Adanya fluktuasi beban pencemaran yang tidak teratur diduga akibat beberapa kerusakan konstruksi diantara kolam pengolahan yangada di RPH tersebut.

Jenis Analisa Hasil Percobaan Standar Baku

Parameter Mutu Air

Satuan

RPH- 1 RPH-2 RPH-3 RPH-4 Golongan IV

500.00 mgll 5-9 300.00 mg/l Padatan Tersuspensi pH BOD5 CODBOD 1516.67 8.06 1364.51 2.19 1040.00 8.06 1434.83

- - 2.15

(16)

Gambar 1 Denah Kolam Limbah Pengolahan RPH Depok Bogor

selokan sumber mata air b tambak ikan

I

Bak

limbah

padat (jeroan)

I

Keterangan:

K1

dan K2 : Bak Penampungan masing masing dari Rc dan Rp; K3 = Bak Pengendapan:

K4 = Bak Kontrol: Rc = Ruang Pencucian Jeroan; Rp = Ruang Pemotongan Hewan

Apabila kita tinjau hasil pengamatan RPH-3, rata-rata sama dengan RPH-I dan

RPH-2, tidak terdapat perubahan beban pencemar. Ditinjau dari segi ini maka belum ada manfaat penggunaan bak penampung.

(17)

pada 3 kali pengamatan awal menunjukan penurunan pH (pH 6.00), selanjutnya pH tetap tinggi (pH 8.00). Hal ini kemungkinan disebabkan pengambilan 1.2 dan 3 dilakukan pada

saat aktivitas penyembelihan hampir selesai dilaksanakan. dimana K-1 dan K-2 telah penuh,

sehingga kemungkinan besar te jadi pembauran diantara kedua bak. Pengamatan pH di RPH-

2 dan RPH-3 memperlihatkan pH yang sama besar dengan kondisi saat limbah darah dan

cucian isi perut.

Berdasarkan ketentuan dari Baku Mutu Air Limbah (Suratmo, 1992) hasil aliran

keluar yang dilepas

RPH

ke perairan badan air baku untuk padatan tersuspensi (500 mg/l)

ditinjau dari segi pH (pH 5-9), BOD(300 mg/l) dan COD (600 mgtl) ternyata limbah RPH

belum memenuhi persyaratan.

Secara keseluruhan dilihat dari hasil akhir limbah (RPH-4) menunjukan hasil yang menurunkan beban cemaran. Hal ini disebabkan telah terjadi pembauran dengan aliran sungai dari sumber mata air, sehingga limbah mengalami pengenceran. Padatan tersuspensi

RPH-4

lebih besar dari nilai baku. Kemungkinan ha1 ini disebabkan oleh lumpur yang

terbawa dalam aliran selokan yang tidak disemen ini.

Teknik pengolahan limbah yang dilakukan oleh RPH Depok belum berfungsi

optimal. Metode aerob (biologik) yang digunakan telah sesuai, karena ratio CODBOD berada di bawah angka 5, namun masih diperlukan optimalisasi dari teknik ini.

Kesimpulan

Hasil pengamatan menunjukan bahwa unit pengolahan limbah air yang telah ada di

RPH Depok secara kuantitatif tidak berfungsi dengan baik karena tidak mampu menurunkan

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Bewick. M.W.M. 1980. Handbook of Organic Waste Convertion Litton Educational Publishing, Inc. New York.

Jenie. B.S.L. dan W.P. Rahayu, 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, IPB.

Kusnoputranto, H. 1995. Limbah Industri danB-3 Dampaknya terhadap Kualitas Lingkungan clan Upaya Pengelolaannya. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Univ. Mulawarman.

Ross, A.D.; R.A.Lawrie; J.P. Keneally dan M.S. Whatmuff. 1992. Risk Characterisation Management of Sewage Sludge on Agricultural Land-Implications for the Environmental and Foodchain.Aust. Vet. Journal 69(8): 177- 18 1.

Gambar

Tabel 3. Kebutuhan Oksigen Biolumiawi (BOD) dari Beberapa Titik Pengamatan  (mg/l)
Tabel 5. Rataan Analisistimbah RPH  Depok dari Berbagai Titik Pengamatan di Bandingkan  terhadap Baku Mutu  Air Gol
Gambar 1 Denah Kolam Limbah Pengolahan RPH Depok Bogor

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian terhadap pengolahan limbah cair sawit ini telah didapatkan hasil bahwa kandungan BOD dan COD yang terdapat pada limbah cair dapat berkurang

Telah dilakukan penelitian pengaruh waktu ozonisasi terhadap penurunan kadar BOD, COD, TSS dan fosfat pada limbah cair rumah sakit.. Tujuan penelitian adalah

Pada penelitian ini akan dipelajari pengaruh voltase dan kecepatan pengadukan terhadap kandungan pH, COD, BOD, dan TSS yang terdapat pada limbah cair tahu.. Kata kunci

Berdasarkan nilai pH dan kandungan COD hasil penelitian dibandingkan dengan nilai pH dan kandungan COD yang diperkenankan untuk LA maka limbah cair keluaran dari

Limbah cair industri pengolahan ikan memiliki karakteristik jumlah bahan organik terlarut dan tersuspensi yang tinggi jika dilihat dari nilai BOD dan COD.. Lemak dan minyak

Berdasarkan nilai pH dan kandungan COD hasil penelitian dibandingkan dengan nilai pH dan kandungan COD yang diperkenankan untuk LA maka limbah cair keluaran dari

Dari hasil uji yang dilakukan terhadap limbah cair dengan parameter suhu, pH dan COD diperoleh suhu, pH dan COD pada sampel limbah cair rumah sakit sesudah diolah masih

Pengolahan limbah cair dilakukan untuk mengurangi zat pencemar, seperti zat organik, senyawa mengandung netrogen, padatan tersuspensi/terendapkan, senyawa garam dan