ANALISIS PEMASARAN BELIMBING
DI DELI SERDANG
(Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)
SKRIPSI
Oleh :
FENYTHA 050304015
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
ANALISIS PEMASARAN BELIMBING
DI DELI SERDANG
(Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)
Oleh :
FENYTHA 050304015
Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara
Disetujui oleh : Komisi pembimbing
Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi pembimbing
(Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D) (Rulianda P. Wibowo, SP. MEc) NIP : 19460519.197307.1.001 NIP : 19801021.200501.1.004
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
Judul Skripsi : ANALISIS PEMASARAN BELIMBING DI DELI SERDANG (Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)
Nama : Fenytha
Nim : 050304015
Departemen : Agribisnis Program Studi : Agribisnis
Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing
Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi pembimbing
(Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D) (Rulianda P. Wibowo, SP. MEc) NIP : 19460519.197307.1.001 NIP : 19801021.200501.1.004
Mengetahui,
Ketua Departemen Agribisnis
HALAMAN PENGESAHAN
Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan Memperoleh Derajat Sarjana Pertanian
Pada Tanggal, ... 2010
Panitia Penguji Skripsi
Ketua : Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D ………...
Anggota : 1). Rulianda P. Wibowo, SP. MEc ………...
2). ... ………...
3). ... ………...
Mengesahkan, Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian USU
Ketua
ABSTRAK
FENYTHA (050304015) dengan judul skripsi “Analisis Pemasaran Belimbing di Deli Serdang (Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)”. Dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D
dan Bapak Rulianda P. Wibowo, SP. MEc.
Pemasaran adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Aspek pemasaran belimbing merupakan hal penting dalam mendukung peningkatan produksi hasil belimbing. Banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran belimbing akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai pemasaran dan besarnya biaya pemasaran. Besarnya biaya pemasaran akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani/produsen dengan konsumen. Untuk itu dilakukan penelitian Analisis Pemasaran Belimbing di Deli Serdang (Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang).
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang Kecamatan Pancur Batu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2009. Pengambian sampel produsen dilakukan secara simple random sampling sedangkan pengambilan sampel untuk pedagang dengan snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif terhadap saluran pemasaran, fungsi pemasaran dan dengan bantuan tabulasi sederhana menggunakan rumus margin pemasaran dan rumus share margin.
Hasil penelitian menunjukkan di daerah penelitian terdapat 3 saluran pemasaran. Pada saluran I, petani memperoleh semua bagian yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Pada saluran II, pemasaran belimbing di kedua daerah penelitian telah efisien. Pada saluran III, pemasaran belimbing tidak efisien dan Desa Durin Simbelang lebih efisien dibandingkan dengan desa Namoriam.
RIWAYAT HIDUP
FENYTHA lahir di Tiganderket pada tanggal 13 Februari 1987, anak pertama
dari tiga bersaudara, putri dari bapak Darma Bangun dan Ibu Asta Juliana br
Sembiring Pelawi.
Tahun 2005 lulus dari Sekolah Menengah Umum dari SMU Negeri 1
Kabanjahe, dan pada tahun 2005 melalui jalur ujian tertulis Seleksi Penerimaan
Mahasiswa Baru diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Agribisnis.
Selama masa perkuliahan penulis aktif mengikuti berbagai organisasi
kemahasiswaan, antara lain Ikatan Mahsiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP
FP USU), Ikatan Mahasiswa Karo Mbuah Page FP USU.
Tahun 2009, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di Desa Perrik
Mbue Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi, pada tanggal 15 Juni sampai 16
Juli. Dan pada tahun yang sama, penulis melaksanakan penelitian skripsi di Desa
Namoriam dan Desa Durin Simbelang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan
karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun
skripsi ini berjudul “ANALISIS PEMASARAN BELIMBING DI DELI
SERDANG (Studi kasus : Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)”.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada
Bapak Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D sebagai ketua komisi pembimbing
dan Bapak Rulianda P. Wibowo, SP. MEc sebagai anggota komisi pembimbing,
yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Di
samping itu, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua staf pengajar,
dan pegawai di Program Studi Agribisnis Departemen Agribisnis.
Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis haturkan kepada
orangtua penulis Bapak Darma Bangun dan Ibu Asta Juliana br Sembiring, yang
telah membesarkan, memelihara, dan mendidik penulis selama ini. Dan kepada
adik – adikku yang telah memberi dukungan, Agus dan Yoga. Terima kasih juga
penulis ucapkan kepada teman-teman penulis di Departemen Agribisnis stambuk
2005 khususnya Santi, Dame, Sabeth, Uli, Junteck, Evha, Mery dan semua yang
telah memberi semangat dan dukungan dalam menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Semoga
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN... i
RIWAYAT HIDUP... ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Identifikasi Masalah ... 5
Tujuan Penelitian ... 5
Kegunaan Penelitian ... 6
TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Pustaka ... 7
Landasan Teori ... 10
Kerangka Pemikiran ... 14
Hipotesis Penelitian ... 17
METODOLOGI PENELITIAN Metode Penentuan Daerah Penelitian... 18
Metode Penentuan Sampel ... 18
Petani. ... 18
Pedagang Perantara. ... 18
Metode Pengumpulan Data ... 19
Metode Analisis Data ... 19
Defenisi dan Batasan Operasional ... 22
Defenisi ... 22
Batasan Operasional... 23
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL Deskripsi Daerah Penelitian... 24
Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah ... 24
Keadaan Penduduk ... 25
Sarana dan Prasarana ... 26
Karakteristik Sampel ... 27
Petani ... 27
Pedagang Pengumpul ... 28
Pedagang Besar... 29
Pedagang Pengecer ... 30
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil ... 31
Saluran Pemasaran Belimbing ... 31
Fungsi – fungsi pemasaran yang dilakukan ... 35
Biaya pemasaran, sebaran harga dan efisiensi ... 40
Kendala – kendala Pemasaran ... 47
Pembahasan ... 45
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 50
Saran ... 50
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Luas tanam dan produksi tanaman belimbing di Kabupaten
Deli Serdang tahun 2007... 4
2. Nilai gizi dari beberapa jenis buah – buahan sumber vitamin C, setiap 100 gr bahan ... 9
3. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009 ... 25
4. Komposisi penduduk menurut pekerjaan di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009 ... 25
5. Komposisi penggunaan lahan di Desa Namoriam dan Desa
Durin Simbelang tahun 2009 ... 26
6. Sarana dan prasarana yang ada di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009 ... 27
7. Karakteristik petani sampel di daerah penelitian tahun 2009 ... 28
8. Karakteristik pedagang pengumpul di daerah penelitan
tahun 2009 ... 29
9. Karakteristik pedagang besar di daerah penelitian tahun 2009 ... 29
10.Karakteristik Pedagang pengecer di daerah penelitian tahun 2009 . 30
11.Distribusi petani dalam saluran pemasaran belimbing di daerah Penelitian tahun 2009 ... 31
12.Fungsi - fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing – masing lembaga pemasaran belimbing tahun 2009 ... 34
13.Sebaran harga dan share margin harga belimbing pada saluran I tahun 2009 ... 40
15.Sebaran harga dan share margin harga belimbing pada saluran III tahun 2009 ... 43
16.Rekapitulasi share margin dan distribusi marjin pemasaran belimbing pada saluran II tahun 2009 ... 44
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Skema kerangka pemikiran ... 16
2. Skema saluran pemasaran di daerah penenlitian ... 32
3. Skema pemasaran saluran I... 32
4. Skema pemasaran saluran II ... 33
5. Skema pemasaran saluran III ... 34
6. Penjualan belimbing pada saluran I ... 36
7. Kegiatan sortasi pada saluran III ... 38
8. Belimbing yang telah disortasi dan siap dijual ... 38
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Karakteristik petani di Desa Namoriam ... 55
2. Karakteristik petani di Desa Durin Simbelang ... 56
3. Tujuan penjualan petani di Desa Namoriam ... 57
4. Tujuan Penjualan petani di Desa Durin Simbelang ... 58
5. Biaya pemasaran petani di Desa Namoriam ... 59
6. Biaya pemasaran pettani di Desa Durin Simbelang ... 60
7. Biaya pemasaran per kg di Desa Namoriam ... 61
8. Biaya pemasaran per kg di Desa Durin Simbelang ... 62
9. Biaya produksi di Desa Namoriam ... 63
10. Biaya produksi di Desa Durin Simbelang ... 64
11. Total biaya produksi di Desa Namoriam ... 65
12. Total biaya produksi di Desa Durin Simbelang ... 66
13. Karakteristik pedagang pengumpul ... 67
14. Karakteristik pedagang besar ... 68
15. Karakteristik pedagang pengecer ... 68
16. Tujuan penjualan pedagang pengumpul ... 68
17. Tujuan penjualan pedagang besar ... 69
18. Tujuan penjualan pedagang pengecer ... 69
19. Biaya pemasaran pedagang pengumpul per penjualan ... 70
20. Biaya pemasaran pedagang besar per penjualan ... 70
22. Biaya pemasaran pedagang pengumpul per Kg... 71
23. Biaya pemasaran pedagang besar per Kg ... 71
24. Biaya pemasaran pedagang pengecer ... 71
25. Tujuan penjualan, dan volume penjualan berdasarkan saluran I ... 72
25a. Saluran I di Desa Namoriam ... 72
25b. Saluran I di Desa Durin Simbelang ... 72
26. Tujuan penjualan, dan volume penjualan berdasarkan saluran II... 73
26a. Saluran II di Desa Namoriam ... 73
26b. Saluran II di Desa Durin Simbelang ... 72
27. Tujuan penjualan, dan volume penjualan berdasarkan saluran III ... 74
27a. Saluran II di Desa Namoriam ... 74
27b. Saluran II di Desa Durin Simbelang ... 74
28. Biaya pemasaran pedagang pengecer menurut saluran ... 75
28a. Saluran II ... 75
28b. Saluran III ... 75
28. Biaya pemasaran pedagang pengecer menurut saluran ... 76
28a. Saluran II ... 76
ABSTRAK
FENYTHA (050304015) dengan judul skripsi “Analisis Pemasaran Belimbing di Deli Serdang (Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang)”. Dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Hiras M. L. Tobing, Ph.D
dan Bapak Rulianda P. Wibowo, SP. MEc.
Pemasaran adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Aspek pemasaran belimbing merupakan hal penting dalam mendukung peningkatan produksi hasil belimbing. Banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran belimbing akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai pemasaran dan besarnya biaya pemasaran. Besarnya biaya pemasaran akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani/produsen dengan konsumen. Untuk itu dilakukan penelitian Analisis Pemasaran Belimbing di Deli Serdang (Studi kasus : di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang).
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang Kecamatan Pancur Batu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2009. Pengambian sampel produsen dilakukan secara simple random sampling sedangkan pengambilan sampel untuk pedagang dengan snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif terhadap saluran pemasaran, fungsi pemasaran dan dengan bantuan tabulasi sederhana menggunakan rumus margin pemasaran dan rumus share margin.
Hasil penelitian menunjukkan di daerah penelitian terdapat 3 saluran pemasaran. Pada saluran I, petani memperoleh semua bagian yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Pada saluran II, pemasaran belimbing di kedua daerah penelitian telah efisien. Pada saluran III, pemasaran belimbing tidak efisien dan Desa Durin Simbelang lebih efisien dibandingkan dengan desa Namoriam.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Upaya peningkatan produksi hasil pertanian sangat erat kaitannya dengan
aspek – aspek pemasaran. Hal ini karena usahatani produk pertanian pada
umumnya adalah usahatani komersial yang sebagian besar hasil produksinya
dijual ke pasar. Produksi pertanian dan pemasaran mempunyai hubungan saling
ketergantungan yang sangat erat. Hasil produksi pertanian yang meningkat tanpa
didukung oleh sistem pemasaran pertanian hasil yang baik dengan tingkat harga
yang layak tidak akan berlangsung lama. Sebaliknya pada akhirnya akan menurun
karena pertimbangan untung rugi usahatani.
Keterkaitan usaha pertanian, menurut Rustiani (1999), dijabarkan dalam
bentuk agroindustri dan agrobisnis. Konsep agribisnis adalah suatu konsep utuh,
mulai dari proses produksi, mengolah hasil, pemasaran dan aktifitas lain yang
berkaitan dengan kegiatan pertanian. Kegiatan agribisnis ini sangat menunjang
kemajuan sektor pertanian. Kegiatan agroindustri, juga sangat menunjang
kemajuan sektor pertanian. Agroindustri mencakup segala kegiatan yang
dilakukan dalam rangka mengolah hasil – hasil pertanian, yang bersifat banyak
(bulky) dan mudah busuk (perishable) sehingga memberi nilai tambah bagi
produk pertanian itu sendiri.
Dalam banyak kenyataan, kelemahan dalam sistem pertanian di negara
berkembang, termasuk Indonesia, adalah kurangnya perhatian dalam bidang
pemasaran. Fungsi – fungsi pemasaran dalam sektor pertanian sering tidak
lemah. Oleh karena itu menurut Soekartawi (2002), keterampilan untuk
melaksanakan efisiensi pemasaran dan keterampilan untuk mempraktekkan unsur
– unsur manajemen memang sangat terbatas, serta kurangnya penguasaan akan
informasi pasar, sehingga kesempatan – kesempatan ekonomi menjadi sulit
dicapai.
Sebagaimana juga sudah menjadi kebiasaan pada komoditas pertanian
umumnya, buah – buahan Indonesia diproduksi oleh petani buah yang banyak
sekali jumlahnya. Menurut Daniel (2002), luas lahan atau areal tanam dan panen
buah – buahan Indonesia secara rata – rata relatif kecil. Sifat musiman yang
terlalu besar, penanganan pasca panen yang minim dan tidak memadai dan lain –
lain. Akibatnya produksi dan produktivitas sangat kecil dan sangat beragam dari
satu tempat ke tempat lainnya.
Buah adalah bahan makanan yang kaya akan vitamin, mineral, lemak,
protein dan serat. Setiap jenis buah mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri,
seperti rasa yang lezat, aroma yang khas serta warna atau bentuk yang
mengandung nilai – nilai estetis. Buah – buahan dewasa ini makin mendapat
perhatian masyarakat, baik sebagai menu makanan maupun sebagai komoditas
ekonomi (Widodo, 1996).
Di Indonesia tanaman belimbing merupakan salah satu sumber pendapatan
petani. Belimbing sebagai tanaman penghasil buah meja yang bentuknya aneh ini
tetap merupakan salah satu buah yang disukai masyarakat. Oleh karena itu
pengembangannya terus dilaksanakan sejalan dengan pembangunan pertanian
Menurut BAPPENAS (2009), belimbing merupakan tanaman buah berupa
pohon yang berasal dari kawasan Malaysia, kemudian menyebar luas ke berbagai
negara yang beriklim tropis lainnya di dunia termasuk Indonesia. Pada umumnya
belimbing ditanam dalam bentuk kultur pekarangan (home yard gardening), yaitu
diusahakan sebagai usaha sambilan sebagai tanaman peneduh di halaman-halaman
rumah. Di kawasan Amerika, buah belimbing dikenal dengan nama / sebutan star
fruits, dan jenis belimbing yang populer dan digemari masyarakat adalah
belimbing Florida.
Dijelaskan oleh Rukmana (1999), prospek pemasaran belimbing di dalam
negeri diperkirakan makin baik. Hal ini antara lain disebabkan oleh pertumbuhan
jumlah penduduk dan semakin banyaknya konsumen menyadari pentingnya
kecukupan gizi dari buah – buahan. Pertumbuhan jumlah penduduk akan
berpengaruh juga terhadap makin meningkatnya permintaan produksi buah -
buahan.
Di Indonesia, berdasarkan penjelasan Rahardi (2004) budidaya belimbing
dalam skala komersial belum dilakukan. Yang ada masih berupa kebun – kebun
rakyat yang dikelola secara tradisional. Akhir – akhir ini keberadaan belimbing
manis di pasar swalayan serta kios buah sudah relatif kontiniu dibandingkan
dengan 5 – 10 tahun yang lalu. Ini merupakan indikator bahwa teknologi budidaya
belimbing sudah relatif dikuasai oleh masyarakat.
Namun tidak setiap daerah dapat menjadi daerah produsen belimbing. Hal
ini dikarenakan belimbing tidak dapat ditanam dengan suhu yang tidak sesuai.
Sehingga belimbing ditanam dengan baik pada beberapa daerah saja. Daerah
Belimbing Dewi, Demak (Jawa Tengah) dengan varietas unggul Kunir dan Kapur,
serta Blitar (Jawa Timur). Daerah produsen lainnya adalah Sumatera Utara dengan
Belimbing Sembiring (Redaksi Agromedia, 2009).
Tabel 1. Luas tanam dan produksi tanaman belimbing di Kabupaten Deli Serdang tahun 2007
No Kecamatan Luas lahan (ha) Produksi (Kuintal)
1 Lubuk Pakam - -
2 Pagar Merbabu 0.17 8.00
3 Beringin 0.50 11.80
4 Gunung meriah - -
5 Biru – Biru - -
6 Patumbak 0.05 2.20
7 STM Hulu - -
8 STM Hilir 1.67 52.00
9 Deli Tua - -
10 Pancur batu 73.33 2.640.00
11 Namorambe 3.33 88.00
12 Sibolangit 0.33 6.00
13 Kutalimbaru 0.33 14.00
14 Sunggal 1.33 40.00
15 Hamparan Perak 0.12 4.20
16 Labuhan Deli - -
17 Batang Kuis 0.25 12.00
18 Percut Sei Tuan - -
19 Pantai Labu 0.02 0.40
20 Tanjung Merawa 0.10 3.00
21 Galang 0.33 10.00
22 Bangun Purba 0.10 3.00
TOTAL 81.96 2.894.60
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang, 2009
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Kecamatan Pancur Batu adalah
daerah sentra produksi buah belimbing pada tahun 2007. Dimana jumlah produksi
pada daerah tersebut adalah 2.640 kuintal dengan luas lahan 73,33 ha.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dianalisa mengenai bagaimana
saluran pemasaran belimbing, apa saja fungsi pemasaran yang dilakukan oleh
perbedaan margin pemasaran dan share margin pada masing-masing saluran
pemasaran belimbing di daerah penelitian.
Identifikasi Masalah
Mengacu kepada latar belakang dan permasalahan yang telah dikemukakan
maka masalah-masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1) Berapa jenis saluran pemasaran belimbing di daerah penelitian ? 2) Apa saja
fungsi – fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga pemasaran dalam
proses pemasaran belimbing di daerah penelitian ? 3) Bagaimana sebaran harga
(price spread), marjin pemasaran, share marjin dan efisiensi dari masing –
masing lembaga pemasaran ? 4) Apa saja kendala – kendala dalam penyaluran
belimbing di daerah penelitian dan upaya – upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis jumlah saluran pemasaran untuk tiap – tiap saluran
tataniaga yang ada di daerah penelitian.
2. Untuk menganalisis fungsi – fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing –
masing lembaga pemasaran belimbing.
3. Untuk menghitung sebaran harga (price spread), besarnya marjin pemasaran,
share marjin dan efisiensi dari masing – masing lembaga pemasaran.
4. Untuk mengetahui kendala – kendala yang dihadapi dalam penyaluran
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai bahan masukan bagi petani belimbing dalam mengetahui persoalan –
persoalan yang dihadapi dalam pemasaran belimbing serta usaha – usaha
pemecahannya.
2. Sebagai bahan informasi bagi para pengambil keputusan untuk perkembangan
agribisnis belimbing.
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI
DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Tinjauan Pustaka
Di Indonesia, dikenal cukup banyak ragam varietas belimbing.
Diantaranya varietas Sembiring, Siwalan, Dewi, Demak kapur, Demak kunir,
Demak jingga, Pasar minggu, Wijaya, Paris, Filipina, Taiwan, Bangkok, dan
varietas Malaysia. Tahun 1987 telah dilepas dua varietas belimbing unggul
nasional yaitu: varietas Kunir dan Kapur (BAPPENAS, 2009).
Dari dua macam buah belimbing, yang rasanya manis dan berbentuk
bintanglah (Averrhoa carambola) yang dikenal secara umum sebagai belimbing.
Sedangkan jenis kedua adalah belimbing sayur atau belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi), yang rasanya asam. Dari kedua jenis buah yang termasuk suku
Oxalidaceae itu, belimbing manis memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi
sehingga lebih banyak dibudidayakan (Rukmana, 1997).
Dalam taksonomi tumbuhan, belimbing diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-divisi : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua)
Ordo : Oxalidales
Famili : Oxalidaceae
Genus : Averrhoa
Spesies : Averrhoa carambola L. (belimbing manis);
Untuk pertumbuhan dibutuhkan keadaan angin yang tidak terlalu kencang,
karena dapat menyebabkan gugurnya bunga atau buah. Curah hujan sedang, di
daerah yang curah hujannya tinggi seringkali menyebabkan gugurnya bunga dan
buah, sehingga produksinya akan rendah. Tempat tanamnya terbuka dan mendapat
sinar matahari secara memadai dengan intensitas penyinaran 45–50 %, Namun
juga toleran terhadap naungan (tempat terlindung). Suhu dan kelembaban ataupun
iklimnya termasuk tipe A (amat basah), B (agak basah), C (basah), dengan 6–12
bulan basah dan 0–6 bulan kering, namun paling baik di daerah yang mempunyai
7,5 bulan basah dan 4,5 bulan kering. Ketinggian tempat yang cocok untuk
tanaman belimbing yaitu di dataran rendah sampai ketinggian 500 mdpl
(BAPPENAS, 2009).
Hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok pula
untuk tanaman belimbing. Tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik, aerasi dan drainasenya baik. Derajat keasaman tanah untuk tanaman
belimbing yaitu memiliki pH 5,5–7,5. Kandungan air dalam tanah atau kedalaman
air tanah antara 50–200 cm dibawah permukaan tanah (BAPPENAS, 2009).
Belimbing kaya vitamin C dan juga asam oksalat. Selain itu di dalam buah
belimbing juga terkandung mineral – mineral yang berguna untuk tubuh seperti
kalium, kalsium, fosfor, dan zat besi. Buah belimbing berfungsi sebagai buah
penyegar pada salad buah – buahan dan pada masakan yang disajikan di restoran –
restoran Itali (Wijaya, 2009).
Perkiraan permintaan setiap tahun semakin meningkat, peningkatan
permintaan tersebut adalah sebesar 6,1% /tahun (1995–2000), 6,5% /tahun
Jelaslah bahwa prospek usahatani (agribisnis) belimbing amat cerah bila dikelola
secara intensif dan komersial, baik dalam bentuk kultur perkebunan, pekarangan,
maupun Tabulampot (Rahardi dkk, 2007).
Selain di Indonesia, budi daya belimbing juga dilakukan di negara-negara
kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Kini,
pohon buah belimbing sudah menyebar secara luas ke negara-negara tropis
lainnya. Bahkan Amerika dan Australia yang beriklim subtropis pun sudah
dirambah belimbing, meskipun terbatas pada daerah yang iklimnya mirip iklim
tropis seperti di Kalifornia (Amerika Serikat) atau Queensland (Australia)
(BAPPENAS, 2009).
Nilai gizi belimbing cukup baik, bila dibandingkan dengan beberapa
buah-buahan yang banyak dikonsumsi terutama sebagai cumber vitamin C, seperti
tercantum pada tabel berikut :
Tabel 2. Nilai gizi dari beberapa jenis buah – buahan sumber vitamin c, setiap 100 gr bahan
Jenis buah Air (gr) Posfor (mg)
Besi (mg)
Vit A (SI)
Vit B (mg)
Vit C (mg)
Belimbing manis 86.9 12 11 170 0.03 35
Jeruk 100.97 16 0.2 420 0 49
Jambu biji 82.86 28 1.1 25 0.02 95
Nenas 40.81 16 0.5 0 0 50
Rambutan 53.86 11 0.3 130 0.08 24
Pepaya 75.87 12 1.7 365 0.04 78
Sumber : Departemen Gizi Hortikultura, 1981.
Ada beberapa sistem pemasaran buah belimbing yang berlaku di
Indonesia. Petani produsen dapat menawarkan langsung buah belimbingnya ke
konsumen atau ke pedagang pengecer. Dengan cara ini, petani dapat menentukan
sendiri harga jualnya. Jika transportasi memungkinkan, petani dapat menjual ke
sebab harga jualnya pun lebih tinggi dibandingkan dijual langsung ke konsumen.
Cara pemasaran lain yang dilakukan adalah petani berhubungan dengan tengkulak
atau penebas. Cara ini merugikan petani sebab buah belimbingnya dihargai relatif
lebih murah (Tim Penulis, 1999).
Berdasarkan penelitian terdahulu tentang analisis pemasaran belimbing
yang dilakukan di Kelurahan Karangsari Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, dengan
tujuan penelitian adalah sebagai berikut : (1) untuk mengetahui saluran pemasaran
belimbing Karangsari, (2) untuk mengetahui besarnya marjin pemasaran, share
harga, share biaya dan keuntungan antar lembaga yang terkait dengan pemasaran
belimbing Karangsari. Diperoleh bahwa : (1) Berdasarkan analisis struktur pasar
pemasaran belimbing di Kelurahan Karangsari tidak efisien, (2) Berdasarkan
analisis perilaku pasar pemasaran belimbing Karangsari tidak efisien
(Niendin, 2008).
Landasan Teori
Sistem usaha tani mengandung pengertian para pelaksana usaha tani
masyarakat yang berkaitan dengan tujuannya. Secara umum, tujuan utama
pertanian adalah usaha tani yang diterapkan sebagian besar petani kita adalah
untuk memenuhi pola kebutuhan keluarga (pola subsistence). Tetapi ada juga
yang bertujuan untuk dijual ke pasar (market oriented) (Daniel, 2002).
Peranan agribisnis dalam suatu negara agraris seperti Indonesia adalah
besar sekali. Hal ini disebabkan oleh karena cakupan aspek agribisnis adalah
meliputi kaitan mulai dari proses produksi, pengolahan sampai pemasaran
Pasar pada awalnya mengacu pada suatu geografis tempat transaksi
berlangsung. Pada perkembangan selanjutnya mungkin definisi ini sudah tidak
sesuai lagi, terutama dengan berkembangnya teknologi informasi yang
memungkinkan transaksi dapat dilakukan tanpa melalui kontak langsung antara
penjual dengan pembeli. Dengan demikian pasar dapat didefinisikan sebagai
tempat ataupun terjadinya pemenuhan kebutuhan dan keinginan dengan
menggunakan alat pemuas yang berupa barang ataupun jasa dimana terjadi
pemindahan hak milik antara penjual dan pembeli (Sudiyono, 2004).
Pemasaran produk agraris, termasuk hortikultura, cenderung merupakan
proses yang kompleks, sehingga saluran distribusi lebih panjang dan mencakup
lebih banyak perantara. Ada beberapa ciri produksi pertanian yang mempengaruhi
hasil – hasil pertanian : pertama, produksi dilakukan secara kecil – kecilan.
Kedua, produksi terpencar. Ketiga, produksi musiman, menyebabkan kesulitan
dalam tataniaganya, dimana harus ada fasilitas – fasilitas penyimpanan yang
sudah pasti menyebabkan bertambahnya biaya tataniaga (Soekartawi, 2002).
Pemasaran sebagai kegiatan produksi mampu meningkatkan guna tempat,
guna bentuk dan guna waktu. Dalam menciptakan guna tempat, guna bentuk dan
guna waktu ini diperlukan biaya pemasaran. Biaya pemasaran ini diperlukan
untuk melakukan fungsi – fungsi pemasaran oleh lembaga – lembaga pemasaran
yang terlibat dalam proses pemasaran dari produsen kepada konsumen akhir.
Pengukuran kinerja pemasaran ini memerlukan ukuran efisiensi pemasaran.
Sistem pemasaran yang kurang efisien ini akan mengakibatkan biaya
pemasaran relatif besar. Dengan demikian akan mengakibatkan harga jual produk
kepada produsen dengan menekan tingkat harga dan menaikkan harga di
konsumen, sehingga produsen dan konsumen akan dirugikan (Ginting, 2006).
Lembaga pemasaran adalah badan atau usaha atau individu yang
menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen
kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau
individu lainnya. Lemabaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan
kensumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan
bentuk keinginan konsumen. Tugas lembaga pemasaran ini adalah menjalankan
fungsi – fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal
mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran ini
berupa margin pemasaran (Sudiyono, 2004).
Proses tataniaga mengandung beberapa fungsi yang harus ditampung oleh
pihak produsen dan lembaga – lembaga atau mata rantai penyaluran produk –
produknya. Seringkali fungsi – fungsi tersebut menimbulkan masalah – masalah
yang harus dipecahkan baik oleh pihak produsen yang bersangkutan maupun oleh
lembaga – lembaga yang merupakan mata rantai saluran produk – produknya itu
(Kartasapoetra, 1992).
Ada tiga tipe fungsi pemasaran, yaitu :
A.Fungsi Pertukaran (Exchange Functions)
1. Pembelian (Buying)
2. Penjualan (Selling)
B.Fungsi Fisis (Physical Functions)
3. Penyimpanan (Storage)
5. Pemrosesan (Processing)
C.Fungsi Pelancar/ Penyedia Sarana (Facilitating Functions)
6. Standarisasi (Standardization)
7. Pembiayaan (Financing)
8. Penanggung Resiko (Risk – bearing)
9. Informasi Pasar (Market intelligence)
(Kohls and Joseph, 1980)
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran
(pedagang) dalam menyalurkan hasil pertanian dari produsen ke konsumen.
Lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses bisa lebih dari satu. Bila si
produsen tersebut bertindak sebagai penjual produknya, maka biaya pemasaran
bisa dieliminasi. Besarnya biaya pemasaran berbeda satu sama lainnya, tergantung
pada hal berikut :
a. Macam komoditas yang dipasarkan
b. Lokasi / daerah produsen
c. Macam dan peranan lembaga tataniaga.
Margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayarkan oleh konsumen
dengan harga yang diterima oleh produsen. Margin ini akan diterima oleh
lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran tersebut. Makin
panjang pemasaran (semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat) maka
makin besar marjin pemasaran (Daniel, 2002).
. Margin pemasaran adalah perbedaan antara harga yang dibayarkan
konsumen dengan harga yang diterima petani. Margin pemasaran terdiri dari
lembaga-lembaga pemasaran. Setiap lembaga-lembaga pemasaran biasanya melaksanakan
fungsi-fungsi pemasaran yang berbeda sehingga share margin yang diperoleh pada
masing–masing lembaga pemasaran yang terlibat akan berbeda pula
(Sudiyono, 2004).
Efisiensi pemasaran diukur dengan menggunakan biaya pemasaran dibagi
dengan nilai produk yang dipasarkan. Pasar yang tidak efisien akan terjadi jika
biaya pemasaran semakin besar dengan nilai produk yang dipasarkan jumlahnya
tidak terlalu besar. Sedangkan efisiensi pemasaran terjadi jika :
a. Apabila harga pemasaran dapat ditekan sehingga keuntungan pemasaran
dapat lebih tinggi
b. Persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen
tidak terlalu tinggi
c. Adanya kompetisi pasar yang sehat
(Soekartawi, 2002).
Kerangka Pemikiran
Pemasaran produk pertanian merupakan kegiatan menyampaikan suatu
produk pertanian dari petani ke konsumen akhir. Produk pertanian akan melalui
suatu jalur yang disebut pemasaran. Saluran pemasaran buah belimbing dapat
berbeda – beda panjang pendeknya. Panjang pendeknya saluran pemasaran ini
dilihat dari banyaknya jumlah pedagang (middlemen) yang terlibat dalam saluran
tersebut.
Setiap saluran pemasaran yang dilalui oleh buah belimbing melakukan
fungsi pembiayaan, fungsi sortasi, fungsi pengepakan, fungsi penanggungan
resiko dan fungsi informasi pasar.
Setiap pedagang (middlemen) melakukan fungsi – fungsi pemasaran yang
berbeda. Dalam melakukan fungsi pemasaran pedagang mengeluarkan korbanan
yang disebut dengan biaya pemasaran. Disamping itu pedagang juga memperoleh
balas jasa yang disebut dengan keuntungan.
Dalam saluran pemasaran yang melibatkan pedagang, terdapat perbedaan
harga antara petani dan konsumen akhir. Selisih harga ini disebut marjin
pemasaran. Marjin pemasaran didistribusikan pada dua komponen yaitu biaya
pemasaran dan keuntungan pedagang. Tinggi rendahnya marjin pemasaran ini
akan mempengaruhi efisiensi pemasaran. Semakin tinggi ongkos pemasaran maka
akan semakin rendah efisiensinya.
Pemasaran buah belimbing dalam hal ini akan mendapat masalah. Masalah
yang paling banyak dihadapi dalam hal ini terutama terjadi pada saat panen raya.
Permasalahan ini tentu memerlukan penyelesaian. Penyelesaian masalah –
masalah ini diharapkan akan mempermudah pemasaran buah belimbing tersebut.
= menyatakan hubungan
[image:31.595.111.512.83.667.2]= menyatakan saluran pemasaran
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Harga di
Tingkat Petani
Harga di Tingkat Konsumen
Marjin Pemasaran
Biaya Pemasaran
Keuntungan Pedagang
Efisiensi Pemasaran
Share margin
Petani Belimbing”
Pedagang Pengumpul
Konsumen Pedagang
Besar
Pedagang Pengecer
Fungsi-fungsi Pemasaran
Masalah pemasaran
Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan landasan teori yang telah dibuat, maka diperoleh hipotesis
yang akan diteliti bahwa :
1. Efisiensi pemasaran belimbing pada saluran II adalah efisien
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penentuan Daerah Sampel
Penelitian ini dilakukan di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang,
Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penentuan
daerah penelitian dilakukan secara purposive atau secara sengaja dipilih dengan
tujuan tertentu. Alasan pemilihan daerah ini berdasarkan informasi dari PPL di
Kecamatan Pancur Batu, kecamatan ini merupakan daerah sentra penghasil buah
belimbing terbesar di Kabupaten Deli Serdang.
Metode Penentuan Sampel
1. Petani produsen
Populasi dalam penelitian ini adalah petani belimbing di Desa Namoriam
dan Desa Durin Simbelang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang,
Sumatera Utara, yang berjumlah 304 KK. Dengan besarnya sampel sebanyak 15
sampel dari masing masing desa. Penentuan besarnya sampel ini dianggap sudah
mencukupi karena sampel petani homogen. Metode pengambilan sampel yang
digunakan adalah metode accidental yaitu petani sampel adalah petani yang
secara kebetulan bertemu dengan peneliti dan dianggap cocok sebagai sumber
data.
2. Pedagang perantara
Adapun pedagang perantara yang akan diwawancara ditentukan dengan
sampel pedagang perantara ditentukan dengan mengikuti arus pergerakan
komoditi tersebut mulai dari produsen hingga sampai ke konsumen.
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara langsung dengan petani dan
pedagang sampel yang berpedoman pada daftar kuisioner yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Data sekunder diperoleh dari lembaga, instansi pemerintah seperti
Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara dan literatur yang
mendukung penelitian.
Metode Analisis Data
Untuk identifikasi masalah (1), (2) dan (4) dianalisis dengan metode
analisis deskriptif berdasarkan survei di daerah penelitian dengan melihat dan
menganalisis :
a. Jenis – jenis saluran pemasaran serta volume pemasaran pada masing –
masing saluran pemasaran yang terdapat di daerah penelitian.
b. Fungsi – fungsi pemasaran yang digunakan oleh pedagang.
c. Kendala – kendala yang dihadapi oleh petani dan pedagang dalam
pemasaran di daerah penelitian.
d. Upaya – upaya yang telah dilakukan petani dalam menyelesaikan
Untuk identifikasi masalah (3) digunakan metode analisis :
a. Untuk menganalisis biaya pemasaran, margin pemasaran, price spread dan
share margin yang diterima oleh produsen dan pedagang pada setiap
saluran digunakan rumus :
- Untuk analisis biaya pemasaran dihitung dengan perhitungan sederhana
dengan menghitung besarnya biaya pemasaran pada setiap saluran
pemasaran
- Untuk analisis marjin pemasaran digunakan rumus :
Keterangan :
M = Marjin pemasaran
Cij = Biaya pemasaran untuk melaksanakan fungsi pemasaran ke-i oleh
lembaga pemasaran ke j.
= Keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran ke-j
m = Jumlah jenis biaya pemasaran
- Untuk menghitung share margin digunakan rumus :
Keterangan :
Sm = Share marjin dihitung dalam %
Pp = Harga yang diterima petani, pedagang ke-i dan harga pada setiap
komponen biaya tataniaga
Pk = Harga yang dibayar oleh konsumen akhir
- Price spread diperoleh dengan mengelompokkan biaya – biaya tataniaga
menurut komponen biaya yang sama.
b. Untuk menghitung tingkat efisiensi pemasaran yang diperoleh oleh masing
– masing saluran pemasaran dengan menggunakan rumus efisiensi
pemasaran :
Berdasarkan keterangan yang dibuat oleh Gultom (1996), pada umumnya suatu
sistem tataniaga untuk (sebagian) produk hasil pertanian dapat dikatakan sudah
Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran, maka dibuatlah
beberapa defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :
Defenisi
1. Petani belimbing adalah petani yang mengusahakan tanaman belimbing
baik secara komersial maupun sebagai sampingan.
2. Pemasaran belimbing adalah segala kegiatan dan usaha yang
berhubungan dengan perpindahan produksi fisik komoditi belimbing dari
produsen / petani kepada konsumen akhir.
3. Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang
menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari
produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan
badan usaha atau individu lainnya.
4. Biaya pemasaran adalah segala biaya yang dikeluarkan oleh setiap
lembaga pemasaran (dalam hal ini pedagang) dalam menyalurkan
belimbing dari petani ke konsumen akhir.
5. Price spread adalah sebaran harga yang dikelompokkan berdasar atas
komponen biaya yang sama.
6. Margin pemasaran adalah selisih antara harga beli konsumen dengan
harga jual pedagang.
7. Share margin adalah bagian harga yang diterima oleh setiap lembaga
8. Fungsi – fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh setiap lembaga
pemasaran belimbing akan menimbulkan biaya – biaya pemasaran.
9. Masalah adalah faktor-faktor yang dapat menghalangi/mengurangi
kelancaran sistem pemasaran belimbing.
10. Upaya adalah suatu usaha yang dilakukan dan akan dilakukan guna
mengatasi permasalahan yang ada dalam pemasaran belimbing.
Batasan Operasional
1. Sampel adalah petani belimbing dan pedagang yang berperan
menyampaikan hasil produksi kepada konsumen akhir.
2. Buah belimbing yang diteliti merupakan buah belimbing manis.
3.
Waktu penelitian adalah bulan Oktober dan November tahun 2009.4.
Lokasi penelitian adalah di Desa Desa Namoriam dan Desa DurinDESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
DAN KARAKTERISTIK SAMPEL
Gambaran Umum Daerah penelitian
a. Luas dan letak geografis daerah penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang,
dilakukan di dua desa yaitu Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang. Desa
Namoriam berada pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut dengan
temperatur 230 C – 270 C. Luas wilayah 660 ha dan keadaan topografi datar, jarak desa dengan pusat kecamatan 3,5 km dan dari ibukota kecamatan 23,5 km.
Adapun batas-batas wilayah Desa Namoriam adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tiang Layar
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Durin Simbelang
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tiang layar dan Desa Durin
Simbelang
-
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Durin TonggalDesa Durin Simbelang merupakan salah satu desa swakarya, yang berada
pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. Desa ini memiliki temperatur
230C – 270C. Luas wilayah 389,42 ha. Adapun batas-batas wilayah Desa Durin Simbelang adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pertampilen dan Desa Namoriam
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tiang Layar
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Durin Tonggal dan Desa Sugau
b. Keadaan penduduk
Jumlah penduduk Desa Namoriam sebanyak 1.542 jiwa. Di desa ini
jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dibanding jumlah penduduk perempuan
dengan total kepala keluarga 409 KK. Di Desa Durin Simbelang terdapat
2.820 jiwa, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 627 RT. Komposisi penduduk
[image:40.595.110.513.307.404.2]berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009
No. Jenis Kelamin
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Jumlah
(orang) Persentase (%)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1 Laki - laki 745 48.31 1,408 49.93
2 Perempuan 797 51.69 1,412 50.07
Total 1,542 100.00 2,820 100.00
Sumber : kantor kepala desa setempat.
Pada umumnya, penduduk di kedua desa merupakan petani, yaitu lebih
dari 90 % dari jumlah total penduduk yang ada. Komposisi penduduk berdasarkan
pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Komposisi penduduk menurut pekerjaan di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009
No. Pekerjaan
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Petani 1,501 97.34 2,753 97.62
2 Pegawai Negeri 14 0.91 18 0.64
3 ABRI 6 0.39 4 0.14
4 Wiraswasta 21 1.36 45 1.60
Total 1,542 100.00 2,820 100.00
[image:40.595.114.512.541.671.2]c. Penggunaan lahan
Sebagian besar lahan Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang
digunakan untuk areal perladangan/tanah kering. Sebagian kecil digunakan untuk
pekarangan rumah dan kebutuhan lainnya. Pola penggunaan lahan untuk kedua
[image:41.595.111.512.277.444.2]desa ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Komposisi penggunaan lahan di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009
No Jenis Penggunaan Lahan
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Luas (ha) Persentase (%) Luas (ha) Persentase (%)
1 Bangunan 9.5 1.44 5.99 1.54
2 Lahan Pertanian
Sawah 120 18.18 130 33.38
Ladang 325 49.24 133 34.15
Tegalan 195 29.55 110 28.25
Kolam 1 0.15 1.5 0.39
3 Lain-lainnya 9.5 1.44 8.93 2.29
Total 660 100.00 389.42 100.00
Sumber : kantor kepala desa setempat
Pada Desa Naoriam penggunaan lahan pertanian untuk perladangan lebih
banyak digunakan yaitu sebesar 325 ha. Sedangkan pada Desa Durin Simbelang
sebesar 133 ha.
d. Sarana dan prasarana
Sarana dan Prasarana sangat menunjang pembangunan masyarakat desa.
Bila sarana dan prasarana baik, maka pembangunan desa dan masyarakat akan
semakin baik pula. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis fasilitas umum yang telah
tersedia baik fasilitas perumahan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, maupun
karena letaknya yang berada di pinggir jalan besar. Secara umum sarana dan
[image:42.595.112.510.169.352.2]prasarana Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Sarana dan prasarana yang ada di Desa Namoriam dan Desa Durin Simbelang tahun 2009
No. Sarana Desa Namoriam Desa Durin Simbelang
1 Sarana Ibadah
Mesjid (unit) 1 1
Gereja (unit) 4 1
2 Sarana Kesehatan
Rumah Sakit (unit) 0 1
Posyandu (unit) 1 1
3 Sarana Pendidikan
SD (unit) 0 1
SMP (unit) 0 0
SMA (unit) 0 0
Sumber : kantor kepala desa setempat
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sarana ibadah telah dapat
dikatakan baik pada kedua desa ini, dimana pada setiap desa setidaknya telah
tersedia mesjid dan gereja. Sarana pendidikan dan kesehatan yang ada di kedua
desa tersebut kurang untuk mendukung kesejahteraan penduduk. Terutama sarana
pendidikan untuk anak – anak yang ada di desa tersebut.
Karakteristik sampel a. Petani
Petani sampel merupakan petani yang mengusahakan belimbing di lahan
pertaniannya. Petani sampel yang diteliti di daerah penelitan diperoleh sebanyak
30 orang. Adapun karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi umur,
pengalaman, pendidikan dan jumlah tanggungan. Karakteristik petani sampel
Tabel 7. Karakteristik petani sampel di daerah penelitian tahun 2009
No. Uraian Satuan Desa Namoriam
Desa Durin Simbelang
Range Rataan Range Rataan
1 Umur Tahun 27-64 42.53 28-60 43.07
2 Pengalaman Tahun 1-30 14.00 3-30 14.87
3 Pendidikan Tahun 6-15 10.40 6-15 8.80
4 Jumlah tanggungan Jiwa 0-5 2.61 0-7 3.20
5 Luas lahan ha 0.3-1 0.63 0.4-1 0.54
Sumber : analisis data primer (lampiran 1)
Rataan petani sampel Desa Namoriam berumur 42,53 tahun, sedangkan di
Desa Durin Simbelang 43,07 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa petani sampel
pada kedua desa rata – rata berusia produktif untuk melakukan usaha tani. Rata –
rata pengalaman sebesar 14,00 tahun di Desa Namoriam dan 14,87 tahun di Desa
Durin Simbelang.
Tingkat pendidikan petani Desa Namoriam senilai 10,40 namun di Desa
Durin Simbelang 8,80. Hal ini menunjukkan bahwa petani sampel di Desa
Namoriam telah menempuh pendidikan rata – rata hingga selesai SMP. Petani
Desa Durin Simbelang rata – rata mencapai pendidikan selesai SD. Tingkat
pendidikan ini mempengaruhi cara berpikir dan berusaha tani. Dengan rataan
jumlah tanggungan sebanyak 2 orang di Desa Namoriam dan 3 orang di Desa
Durin Simbelang.
b. Pedagang pengumpul
Pedagang pengumpul merupakan pedagang yang membeli langsung
belimbing ke petani dan menjualnya kepada pedagang besar. Pedagang sampel
yang diteliti diperoleh dengan bertanya pada petani kemana belimbing tersebut
umur, pengalaman, dan pendidikan. Karakteristik sampel pedagang pengumpul
[image:44.595.113.512.156.224.2]dapat dilihat pada tabel di bawah :
Tabel 8. Sampel pedagang pengumpul di daerah penelitian tahun 2009
No. Uraian Satuan Range Rataan
1. Umur Tahun 35-46 42,8
2. Pengalaman Tahun 12-20 16
3. Pendidikan Tahun 6-12 9,6
Sumber : analisis data primer (lampiran 2)
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa rataan umur pedagang pengumpul adalah
42,8 tahun, yang berarti pedagang berada di usia produktif. Dan pengalaman
berdagang selama rataan 16 tahun, dengan rataan pendidikan 9,6 yang
menunjukkan pedagang pengumpul telah menempuh pendidikan SMP.
c. Pedagang besar
Pedagang besar merupakan pedagang yang membeli belimbing dari
pedagang pengumpul dalam jumlah yang relatif lebih banyak, dan menjualnya
kepada pedagang pengecer. Adapun karakteristik pedagang besar dalam penelitian
ini meliputi umur, pengalaman, dan pendidikan. Karakteristik sampel pedagang
besar dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 9. Karakteristik pedagang besar di daerah penelitian tahun 2009
No. Uraian Satuan Range Rataan
1. Umur Tahun 47-55 51
2. Pengalaman Tahun 20-22 21
3. Pendidikan Tahun 6-12 10,5
Sumber : analisis data primer (lampiran 3)
Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa rataan umur pedagang besar adalah
51 tahun, yang berarti pedagang berada di usia produktif. Dan pengalaman
berdagang selama rataan 21 tahun, dengan rataan pendidikan 10,5 yang
[image:44.595.112.513.567.636.2]d. Pedagang pengecer
Pedagang pengecer merupakan pedagang yang membeli belimbing dari
pedagang besar dalam jumlah yang relatif sedikit, dan menjualnya kepada
konsumen. Adapun karakteristik pedagang pengecer dalam penelitian ini meliputi
umur, pengalaman, dan pendidikan. Karakteristik sampel pedagang besar dapat
[image:45.595.113.511.265.332.2]dilihat pada tabel 10 dibawah ini.
Tabel 10. Karakteristik pedagang pengecer di daerah penelitian tahun 2009
No. Uraian Satuan Range Rataan
1. Umur Tahun 37-60 46,85
2. Pengalaman Tahun 5-30 15,65
3. Pendidikan Tahun 6-12 9,36
Sumber : analisis data primer (lampiran 4)
Dari tabel dapat dilihat bahwa rata – rata pedagang pengecer berusia
46,85 tahun, yang berarti pedagang berada di usia produktif. Dan pengalaman
berdagang selama rataan 15,65 tahun, dengan rataan pendidikan 9,36 yang
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Saluran Pemasaran Belimbing Di Daerah Penelitian
Petani belimbing di daerah penelitian dalam memasarkan belimbing yang
dihasilkan melewati beberapa saluran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
pada 30 orang petani sampel, 5 orang pedagang pengumpul, 2 orang pedagang
besar dan 4 orang pedagang pengecer, diperoleh tiga tipe saluran pemasaran yang
ada di Kabupaten Deli Serdang. Distribusi petani berdasarkan saluran pemasaran
[image:46.595.112.512.428.555.2]dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Distribusi petani dalam saluran pemasaran belimbing di daerah penelitian tahun 2009
No. Jenis Saluran
Desa Namoriam
Desa Durin
Simbelang Total
Jlh
Petani %
Jlh
Petani %
Jlh
Petani %
1 Saluran I 1 6.67 3 20.00 4 13.33
2 Saluran II 5 33.33 1 6.67 6 20.00
3 Saluran III 9 60.00 11 73.33 20 66.67
4 Total 15 100 15 100 30 100
Sumber : analisis data primer (lampiran 1, 2, 3, 4)
Pada saluran I, setelah panen petani langsung menjual hasil panennya
kepada konsumen. Petani pada saluran ini melakukan penjualan karena
menganggap saluran ini lebih menguntungkan. Pada saluran II, petani menjual
belimbing ke padagang pengecer. Biasanya pedagang pengecer yang membeli
kepada petani adalah pedagang yang berasal dari desa tersebut.
Secara umum petani menjual belimbing kepada pedagang pengumpul
berinteraksi dengan pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul membeli
belimbing langsung dari lahan petani, tetapi ada juga pedagang pengumpul yang
melakukan transaksi di rumah petani. Saluran pemasaran yang berbeda ini dapat
digambarkan dengan skema dibawah.
[image:47.595.112.513.194.458.2]`
Gambar 2. Skema saluran pemasaran di dearah penelitian
Secara rinci skema di atas dijelaskan sebagai berikut :
a. Saluran I
Gambar 3. Skema pemasaran saluran I 66,67
% 13,3 %
20 %
Petani
Pedagang pengumpul
Pedagang besar
Pedagang pengecer
Konsumen Pedagang
pengecer
Petani desa Namoriam
Petani desa Durin Simbelang
[image:47.595.121.398.541.672.2]Pada saluran pertama ini, petani langsung menjual buah belimbing kepada
konsumen. Penjualan belimbing dilakukan di tepi jalan besar. Pada saluran
pemasaran ini petani bertindak sebagai pedagang. Sebanyak 13,3 % petani
belimbing dari 30 orang petani sampel yang terlibat dalam saluran ini. Di Desa
Namoriam ada 1 orang (6,67%) dan di Desa Durin Simbelang ada 3 orang (20%).
[image:48.595.125.493.262.383.2]b. Saluran II
Gambar 4. Skema pemasaran saluran II
Pada saluran ini diantara petani dengan konsumen sudah terdapat
pedagang pengecer. Pedagang pengecer membeli langsung kepada petani dan
menjualnya kepada konsumen. Pada saluran ini pedagang pengecer membeli
belimbing dari petani dan menjual ke pasar terdekat yaitu Pajak Pancur Batu.
Pada penelitian, secara keseluruhan terdapat 20 % atau 6 orang petani
melakukan penjualan kepada pedagang pengecer dari 30 orang petani sampel.
Pada Desa Namoriam terdapat 5 orang petani (33,33%) yang melakukan fungsi ini
dan 1 orang (6,67%) di Desa Durin Simbelang.
c. Saluran III
Pada saluran III terdapat 66,67 % sampel dari seluruh petani yang diteliti
melakukannya. Petani di Desa Namoriam yang melakukan pemasaran belimbing Petani desa
Namoriam
Petani desa Durin Simbelang
Pedagang pengecer
melalui saluran ini ada 9 orang (60%) dan di Desa Durin Simbelang sebanyak
11 orang (73,33%).
Saluran pemasaran pada saluran ini dimulai dari petani menjual belimbing
kepada pedagang pengumpul dan kemudian didistribusikan ke pedagang besar.
Pedagang besar akan menyalurkan belimbing ke pedagang pengecer. Kemudian
dari pedagang pengecer, belimbing tersebut sampai ke tangan konsumen. Saluran
[image:49.595.171.442.268.571.2]ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 5. Skema pemasaran saluran III
Perbedaan saluran dan panjang pendeknya saluran pemasaran ini akan
mempengaruhi tingkat harga, keuntungan, biaya serta marjin pemasaran yang
diterima oleh tiap – tiap lembaga pemasaran. Berdasarkan penjelasan diatas
maka identifikasi masalah 1 telah terjawab.
Petani desa Namoriam
Petani desa Durin Simbelang
Pedagang pengumpul
Pedagang besar
Pedagang pengecer
2. Fungsi - Fungsi Pemasaran yang Dilakukan oleh Lembaga Pemasaran
Pemasaran produk pertanian disertai dengan fungsi – fungsi pemasaran.
Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing – masing lembaga
pemasaran berfungsi untuk memperlancar proses penyampaian hasil produksi
belimbing hingga pada akhirnya sampai kepada konsumen akhir. Pada lembaga
pemasaran tidak semua fungsi pemasaran dilakukan.
Fungsi – fungsi pemasaran yang dilakukan oleh petani dan pedagang
berbeda – beda. Fungsi pemasaran yang dilakukan pada lembaga pemasaran yang
[image:50.595.116.512.389.547.2]diteliti dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Fungsi – fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing – masing lembaga pemasaran belimbing tahun 2009
Fungsi Pemasaran Petani Pedagang
pengumpul
Pedagang besar
Pedagang pengecer
Penjualan √ √ √ √
Pembelian X √ √ √
Penyimpanan X 0 √ √
Pengangkutan X 0 √ √
Pemrosesan X X X X
Standarisasi X X √ X
Pembiayaan X √ √ √
Resiko X X √ √
Informasi pasar √ √ √ √
Sumber : analisis data primer (lampiran 16, 17, 18, 19, 20, 21)
Keterangan :
√ = melaksanakan fungsi tersebut
X = tidak melaksanakan fungsi tersebut
0 = kadang – kadang melaksanakan
Ada dua fungsi pemasaran yang dilakukan oleh petani sampel. Yaitu
fungsi penjualan dan informasi pasar. Fungsi penjualan pada saluran I, dilakukan
melewati jalan tersebut. Petani memajang belimbing di tempat penjualan yang
dibuat menyerupai kios. Belimbing yang dijual ada yang digantung dan ada juga
yang disusun. Pada saluran II dan saluran III, petani menjual belimbing ke
pedagang pengecer dan pedagang pengumpul. Penjualan ini dapat berlangsung di
ladang petani maupun di rumah petani, apabila belimbing tersebut sudah dibawa
[image:51.595.121.508.250.397.2]pulang ke rumah oleh petani.
Gambar 6. Penjualan belimbing pada saluran I
Informasi pasar yaitu berupa harga belimbing diperoleh petani dari sesama
petani juga. Pada setiap saluran petani bertanya kepada petani lain yang telah
terlebih dahulu menjual belimbing kepada pedagang pengecer maupun ke
pedagang pengumpul. Informasi harga ini menjadi dasar bagi petani pada saluran
I untuk menjual belimbingnya kepada konsumen. Pada saluran II dan III, petani
memperoleh informasi pasar dari pedagang.
Pedagang pengumpul melakukan fungsi penjualan, pembelian,
pembiayaan dan informasi pasar. Sebagian pedagang pengumpul melakukan
fungsi penyimpanan dan fungsi pengangkutan. Pedagang pengumpul membeli
dengan sistem tunai, yaitu pedagang langsung membayar belimbing yang dibeli
kepada petani.
Apabila pedagang pengumpul membeli belimbing di ladang petani,
pedagang tersebut akan membawa belimbing tersebut untuk dikumpulkan dengan
yang belimbing lain yang telah dibeli. Namun apabila pedagang pengumpul
membeli belimbing di rumah petani maka belimbing akan diangkut sewaktu
pedagang besar datang ke desa tersebut.
Penyimpanan dilakukan oleh pedagang pengumpul apabila belimbing
yang dibeli tidak dijual pada hari tersebut. Pedagang pengumpul menyimpan
belimbing yang dibelinya di rumah maupun di tempat pengumpulannya.
Pembiayaan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul berasal dari biaya sendiri.
Apabila meminjam pun, pedagang pengumpul meminjam kepada saudara saja.
Informasi harga belimbing diperoleh dari pedagang besar yang membeli
belimbing tersebut.
Pedagang besar melakukan hampir semua fungsi – fungsi pemasaran,
kecuali fungsi pemrosesan karena belimbing yang dijual tidak diproses lagi untuk
mendapatkan nilai tambah. Pedagang besar membeli belimbing yang berasal dari
pedagang pengumpul. Pedagang besar mengambil belimbing dari rumah pedagang
pengumpul maupun dari tempat yang telah disepakati. Belimbing yang dibeli
dibawa ke tempat lain untuk disortasi oleh pedagang besar. Sortasi ini dilakukan
Gambar 7. Kegiatan sortasi pada saluran III
Pedagang besar akan mengangkut belimbing yang sudah disortasi ke pasar
Central yang berada di jalan Bintang. Pedagang besar menjual belimbing tersebut
kepada konsumen maupun ke pedagang pengecer. Pembayaran belimbing
dilakukan dengan tunai. Artinya pembeli langsung membayar harga belimbing
yang dibeli.
Gambar 8. Belimbing yang telah disortasi dan siap dibawa untuk dijual
Apabila belimbing tersebut tidak habis dijual, maka disimpan di gudang
yang juga berada di pasar tersebut. Penyimpanan ini dikenakan biaya tersendiri
berdasarkan jumlah keranjang dan lama penyimpanan. Terkadang belimbing
tersebut juga ada yang rusak karena benturan maupun busuk sehingga pedagang
melakukan fungsi penanggungan resiko. Modal untuk melakukan pembelian
belimbing berasal dari modal sendiri. Pedagang besar tidak meminjam baik
[image:53.595.136.490.388.521.2]g
Gambar 9. Bongkar muat di jalan Bintang
Pedagang pengecer melakukan fungsi penjualan, pembelian,
pengangkutan, penyimpanan, pembiayaan, penanggungan resiko dan informasi
pasar. Pada saluran II, pedagang pengecer yang membeli langsung belimbing ke
petani akan membawa belimbing tersebut ke pasar Pancur Batu. Pedagang
pengecer membawa belimbing tersebut dengan mobil angkutan umum maupun
menggunakan becak barang. Apabila belimbing tidak habis terjual, maka akan
dibawa pulang maupun dititipkan di gudang yang ada di pasar tersebut. Modal
pembelian belimbing berasal dari modal sendiri. Dan harga penjualan belimbing
berdasarkan informasi pasar.
Pada saluran III, pedagang pengecer membeli belimbing di pasar Central.
Belimbing yang dibeli dibawa ke tempat penjualan masing – masing dengan
angkutan becak. Pedagang pengecer menjual belimbing di tempat masing masing.
Apabila belimbing tidak habis maka pedagang menyimpan belimbing tersebut.
Biaya untuk modal penjualan merupakan modal sendiri. Informasi pasar mengenai
harga diperoleh dari sesama pedagang.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa
setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi – fungsi pemasaran yang berbeda.
3. Biaya Pemasaran, Price Spread, share margin dan efisiensi pada setiap saluran pemasaran
Análisis pemasaran dapat digunakan untuk melihat distribusi marjin
pemasaran yang terdiri dari biaya dan keuntungan. Untuk menganalisa biaya
pemasaran, price spread dan marjin pemasaran maka perlu dihitung biaya
pemasaran yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Hal
tersebut dapat diperoleh dengan memperhatikan setiap saluran pemasaran
belimbing yang ada di daerah penelitian.
a. Saluran I
Petani bertindak langsung sebagai pedagang. Biasanya yang menjadi
pedagang adalah istri petani. Volume penjualan belimbing pada saluran ini tidak
tetap. Dalam sehari, berdasarkan keterangan petani sampel, belimbing yang terjual
[image:55.595.116.512.473.631.2]sekitar 3 kg. Sebaran harga belimbing untuk saluran I dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Sebaran harga dan share margin harga belimbing pada saluran I, tahun 2009
No. Komponen Biaya
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Price
Spread(Rp.)
Share margin(%)
Price Spread(Rp.)
Share margin (%)
1 Harga jual petani 4,000.00 4,166.67
Biaya produksi 771.20 19.28 325.66 7.82
Biaya Plastik 50.00 1.25 33.33 0.80
Keamanan 0.00 0.00 22.22 0.53
Total Biaya 821.20 20.53 381.21 9.15
2 Harga beli Konsumen 4,000.00 100.00 4,166.67 100.00
Marjin Pemasaran 3,178.80 79.47 3,785.46 90.85
Sumber : analisis data primer (lampiran 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 25a, 25b)
Dari tabel 12, biaya produksi di Desa Namoriam terlihat lebih banyak
daripada di Desa Durin Simbelang. Besarnya biaya produksi ini berasal dari biaya
perawatan, seperti pupuk dan obat – obatan, biaya sewa tanah, dan biaya tenaga
besarnya biaya produksi karena jumlah petani sampel untuk saluran ini tidak sama
banyak.
b. Saluran II
Pola saluran pemasaran ini memasarkan buah belimbing dari produsen ke
pedagang pengecer kemudian diteruskan ke konsumen. Saluran ini relatif pendek
karena lembaga pemasaran yang ikut dalam pemasaran belimbing cuma satu,
yaitu pedagang pengecer. Panjang pendeknya saluran pemasaran ini akan
mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan. Marjin pemasaran untuk saluran
[image:56.595.122.511.350.669.2]ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 13. Sebaran harga dan share margin belimbing pada saluran II, tahun 2009
No. Komponen Biaya
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Price Spread(Rp.) Share margin(%) Price Spread(Rp.) Share margin(%)
1 Harga jual petani 2,500.00 58.82 2,500.00 58.82
Biaya produksi 434.53 10.22 348.80 8.21
Keranjang 100.00 2.35 0.00 0.00
Koran 70.00 1.65 0.00 0.00
Tali plastik 20.00 0.47 0.00 0.00
Total biaya 624.53 14.69 348.80 8.21
Marjin pemasaran 1,875.47 44.13 2,151.20 50.62
2 Harga beli pengecer 2,500.00 58.82 2,500.00 58.82
Pengangkutan 76.67 1.80 76.67 1.80
Pengemasan 36.00 0.85 36.00 0.85
Biaya timbang 40.00 0.94 40.00 0.94
Keamanan 9.00 0.21 9.00 0.21
Marketing loss 48.00 1.13 48.00 1.13
Total biaya 209.67 4.93 209.67 4.93
Marjin pemasaran 1,750.00 41.18 1,750.00 41.18
Profit pengecer 1,540.33 36.24 1,540.33 36.24
3 Harga beli konsumen 4,250.00 100.00 4,250.00 100.00 Total marjin pemasaran 1,750.00 41.18 1,750.00 41.18 Sumber : analisis data primer (lampiran 3, 4, 11, 12, 24, 26a, 26b, 28a, 29a)
Dari penelitian yang dilakukan, pedagang pengecer di Desa Namoriam dan
Desa Durin Simbelang adalah orang yang sama. Biaya yang paling besar adalah
berbeda hanya pada biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani untuk
memproduksi belimbing. Di Desa Namoriam lebih banyak mengeluarkan biaya
produksi daripada Desa Durin Simbelang. Perbedaan biaya produksi ini karena
luas lahan di Desa Namoriam lebih luas daripada di Desa Durin Simbelang.
Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer yang paling besar adalah
biaya pengangkutan. Pedagang pengecer biasa menggunakan angkutan umum
maupun becak barang untuk membawa belimbing ke pasar.
c. Saluran III
Pola pemasaran ini merupakan pola pemasaran yang paling banyak terjadi
di daerah penelitian. Adapun analisis marjin pemasaran dan share margin yang
dikeluarkan oleh masing – masing lembaga pemasaran untuk pola pemasaran
saluran ini dapat dilihat pada tabel 14.
Pada saluran III ini, terlihat perbedaan harga jual petani pada kedua desa.
Hal ini memberi perbedaan pada total marjinnya, walaupun tidak terlalu besar.
Sedangkan besarnya biaya untuk yang dikeluarkan oleh pedagang adalah sama
besar karena pedagang adalah orang yang sama.
Komponen biaya paling besar yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul
adalah biaya petik dan pengangkutan. Biaya petik ini berasal dari biaya yang
dikeluarkan oleh pedagang pengumpul untuk memetik belimbing di lahan petani.
Pedagang besar dan pedagang pengecer banyak mengeluarkan biaya
pengangkutan. Besarnya biaya ini karena jarak yang ditempuh oleh pedagang
Tabel 14. Marjin pemasaran dan share margin belimbing saluran III, tahun 2009
No. Komponen Biaya
Desa Namoriam Desa Durin Simbelang Price Spread(Rp.) Share margin(%) Price Spread(Rp.) Share margin(%)
1 Harga ju