• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pertumbuhan Tiga Jenis Semai pada Tanah Padat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon Pertumbuhan Tiga Jenis Semai pada Tanah Padat"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

DENI RIZKI ANANDA NASUTION

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2014

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Respon Pertumbuhan Tiga Jenis Semai pada Tanah Padat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Desember 2014

(4)

ABSTRAK

DENI RIZKI ANANDA NASUTION. Respon Pertumbuhan Tiga Jenis Semai pada Tanah Padat. Dibimbing oleh JUANG RATA MATANGARAN.

Penelitian ini bertujuan menguji respon pertumbuhan semai meranti bapa (Shorea selanica), trembesi (Samanea saman), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) terhadap beberapa tingkat kepadatan tanah yaitu (0.9, 1.0, 1.1, 1.2 dan 1.3 g/cm3) dengan masing-masing 5 ulangan. Tanah padat dibuat dengan simulasi proctor test, kemudian tiga jenis semai yang telah dikecambahkan ditanam pada media padat untuk diamati respon pertumbuhannya. Setelah bertumbuh 6 bulan respon pertumbuhan tiga jenis semai tersebut diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi, diameter, penetrasi akar dan nisbah pucuk akar berkurang dengan meningkatnya kepadatan tanah. Kedalaman penetrasi akar semai trembesi (Samanea saman) pada kepadatan 1.1 g/cm3 tidak dapat menembus lebih dalam, sedangkan pada semai meranti bapa (Shorea selanica) dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) kepadatan tanah 1.2 g/cm3. Akar semakin pendek dengan semakin padatnya tanah, sehingga akar memerlukan rongga untuk bertumbuh dengan baik. Tingkat kepadatan tanah 1.1 dan 1.2 g/cm3 merupakan kepadatan tanah yang sangat berpengaruh mengurangi respon pertumbuhan akar. Disimpulkan bahwa kepadatan 1.1 g/cm3 adalah batas kritis bagi pertumbuhan semai trembesi (Samanea saman) dan 1.2 g/cm3 merupakan batas kritis bagi pertumbuhan semai meranti bapa (Shorea selanica) dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum).

(5)

ABSTRACT

DENI RIZKI ANANDA NASUTION. Three types of seedling growth response on soil solid. Supervised by JUANG RATA MATANGARAN.

The research was conducted to examine the seedling of meranti bapa (Shorea selanica), trembesi (Samanea saman) and sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) the growth response at the different level of bulk density (0.9, 1.0, 1.1, 1.2, 1.3 g/cm3) with 5 replications. Soil was compacted with a proctor test, then 3 types seedling have germinated grown on solid media was observed for the growth reponse. After 6 month growth three types seedling growth reponse was measured. The result showed that the height, diameter, root penetration and root shoot ratio linearly decrease with the increase of bulk density. The root penetration of seedling of trembesi (Samanea saman) could not penetrate deeply at the hardest soil (1.1 g/cm3), while meranti bapa (Shorea selanica) and sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) at the hardest soil (1.3 g/cm3). Roots are getting shorter with the increase of bulk density, so that the roots needs space to grow. The bulk density 1.1 and 1.2 g/cm3 was highly influential reduces root growth response. So it can be concluded that the bulk density 1.1 g/cm3 was the critical limit for seedling growth trembesi and the bulk density 1.2 g/cm3 was the critical limit for seedling growth meranti bapa (Shorea selanica) and sengon buto (Enterolobium cyclocarpum).

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Manajemen Hutan

RESPON PERTUMBUHAN TIGA JENIS SEMAI PADA

TANAH PADAT

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Respon Pertumbuhan Tiga Jenis Semai pada Tanah Padat Nama : Deni Rizki Ananda Nasution

NIM : E14100074

Disetujui oleh

Prof Dr Ir Juang Rata Matangaran, MS Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Ahmad Budiaman, MScFTrop Ketua Departemen

(10)

PRAKATA

Doa dan puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah berupa skripsi ini berisi hasil penelitian tentang respon pertumbuhan tiga jenis semai pada tanah padat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan September 2014.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof Dr Ir Juang Rata Matangaran, selaku pembimbing, yang telah banyak memberi saran dan masukan. Di samping itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Hasanudin dan Tatang selaku laboran yang telah membantu selama penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga dan kerabat, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Desember 2014

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Manfaat Penelitian 1

METODE 1

Lokasi dan Waktu Penelitian 1

Bahan dan Alat 2

Prosedur Penelitian 2

Analisis Data 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

Pemadatan Tanah 5

Pertumbuhan Semai 6

Tinggi Semai 6

Diameter Semai 7

Penetrasi Akar 9

Nisbah Pucuk Akar 10

SIMPULAN DAN SARAN 12

Simpulan 12

Saran 12

DAFTAR PUSTAKA 12

(12)

DAFTAR TABEL

1 Hasil analisis tanah uji podsolik merah kuning Haurbentes 3 2 Hasil uji duncan penetrasi akar semai sengon buto 9

3 Hasil nilai rata-rata parameter NPA 10

DAFTAR GAMBAR

1 Pertumbuhan tinggi semai meranti bapa 6

2 Pertumbuhan tinggi semai trembesi 7

3 Pertumbuhan tinggi semai sengon buto 7

4 Pertambahan diameter semai meranti bapa 8

5 Pertambahan diameter semai trembesi 8

6 Pertambahan diameter semai sengon buto 9

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil uji proctor test dengan perlakuan kepadatan 14 2 Nilai rata-rata parameter tinggi semai (cm) 14 3 Nilai rata-rata parameter diameter semai (cm) 15 4 Nilai rata-rata parameter penetrasi akar (cm) 15

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemanenan hutan merupakan kegiatan mengeluarkan hasil hutan berupa kayu dan non kayu dari dalam hutan menuju industri agar bermanfaat bagi kehidupan serta memajukan ekonomi masyarakat. Tahapan pemanenan hutan terdiri dari kegiatan penebangan, penyaradan, muat bongkar dan pengangkutan. Sistem pemanenan dibagi menjadi tiga macam yaitu sistem manual (tenaga manusia), sistem semi mekanis (tenaga manusia dengan bantuan mesin) dan sistem mekanis (mesin). Sistem mekanis biasanya diterapkan IUPHHK-HA untuk pekerjaan dalam skala besar untuk mengeluarkan kayu dalam hutan.

Mesin-mesin seperti bulldozer dan forwarder pada operasi pemanenan hutan digunakan untuk penyaradan kayu dari tunggak sampai ke Tempat Pengumpulan Kayu (Tpn). Setiap lintasan alat berat cenderung menyebabkan terjadinya pemadatan tanah pada bekas lintasan ban tersebut dan akan semakin bertambah padat pada lintasan berikutnya (Matangaran dan Kobayashi 1999).

Pemadatan tanah menyebabkan produksi kayu dalam kegiatan pemanenan menurun. Kurniawan (2003) menyatakan bahwa tanah dalam proses produksi hutan memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan tingkat kepadatan tanah yang paling efektif yaitu trembesi (Samanea saman), sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) dan meranti bapa (Shorea selanica), agar data mengenai pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman dapat terkumpul.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji respon pertumbuhan semai meranti bapa (Shorea selanica), trembesi (Samanea saman), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) terhadap beberapa tingkat kepadatan tanah.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memilih jenis semai yang memberikan respon pertumbuhan terbaik pada tanah padat.

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

(14)

2

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah ultisol sebagai media tanam yang diperoleh dari Kebun Percobaan Haur Bentes Jasinga, biji trembesi (Samanea saman), biji sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) dan bibit meranti bapa (Shorea selanica), pasir, arang sekam dan pasir halus (sudah diayak) yang merupakan obyek kajian dalam penelitian ini.

Alat-alat yang digunakan meliputi tally sheet, oven, desikator, pengaduk, kertas label, ring sampel, timbangan, proctor , cawan, ember, pengayak tanah 4760 μm, bak tanam, plastik, pipa paralon, pengikat, hand sprayer, gunting, gergaji, pisau, golok, plastik, spidol, caliper, penggaris, pisau, kamera, pita ukur, kalkulator, dan alat tulis.

Prosedur Penelitian

1. Penyiapan media tumbuh

Biji trembesi dan sengon buto terlebih dahulu direbus dalam air panas yang telah mendidih selama enam menit. Setelah itu direndam dalam air biasa selama 12 jam dan dibiarkan dingin. Selanjutnya membuat lubangan pada bak tanam dengan solder.

Dilakukan pencampuran pasir dan arang sekam pada tiap bak tanam. Kemudian menaruh media tanam pada tiap bak tanam dengan setengah dari ukuran bak dan meletakkan biji secara berurutan. Selanjutnya bak tanam ditutupi dengan pasir dan arang sekam yang telah dilakukan penyaringan.

Dilakukan penyiraman pada bak tanam hingga media dalam bak tanam terbasahi oleh air. Pemeliharaan dilakukan dengan penyiraman air halus menggunakan hand sprayer pada masing-masing bak tanam. Penyiraman dilakukan pada waktu pagi dan sore hari.

2. Pembuatan tanah padat dengan alat proctor test

(15)

3 Tabel 1 Hasil Analisis Tanah Uji Podsolik Merah Kuning Haurbentes Jasinga

No Keterangan Nilai

5 Kapasitas tukar kation (me/100 g) 18.17

6 Tekstur tanah (%) :

Pasir 4.25

Debu 33.82

Liat 61.93

Sumber : Arisakti (2004).

Klasifikasi berdasarkan diagram segitiga tekstur menurut USDA dalam Hakim (1986) menjelaskan bahwa tanah podsolik dengan persen pasir, debu dan liat (Tabel 1) termasuk dalam tanah bertekstur liat.

Tanah kering dihancurkan terlebih dahulu agar halus dan bersih dari kotoran serasah serta kerikil dengan proses pengayakan (penyaringan). Bila tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan basah, tanah tersebut dikeringkan dengan kering udara atau dengan alat pengering selama tiga hari.

Pengayakan dilakukan terlebih dahulu sebanyak 5 kg tanah. Kemudian tanah diambil secara acak, agar sampel yang diambil merata. Selanjutnya dicampurkan air sebesar 500 ml. Kemudian tanah dan air diaduk secara merata hingga semua tanah menjadi basah. Selanjutnya melakukan penimbangan pada berat cawan kosong dan cawan yang telah berisi campuran tanah dan air.

Pengovenan pada tahap pertama selama 24 jam dengan suhu sebesar 1100C. Selanjutnya dimasukkan dalam desikator untuk proses pendiginan. Kemudian melakukan penimbangan terhadap berat dan menghitung nilai kadar air pada cawan yang berisi tanah. Selanjutnya melakukan pengovenan pada tahap kedua dan ketiga selama 5 jam. Kemudian dimasukkan dalam desikator untuk proses pendiginan. Setelah dimasukkan dalam desikator, menghitung nilai kadar air tanah sehingga hasil yang didapatkan bernilai konstan. Hasil menunjukkan bahwa tanah dapat dipadatkan maksimum pada kadar air 21.30 % setelah

(16)

4 memenuhi pada silinder mold pertama. Kemudian untuk lapisan terakhir, masukkan tanah hingga memenuhi tabung silinder pada mold kedua tersebut. Pukulan yang dilakukan pada perlakuan kepadatan tanah harus konstan untuk tiap tingkat kepadatan tanah supaya tanah yang dihasilkan padat dan perlakuan kepadatan tanah berbeda antara satu perlakuan dengan perlakuan lain tergantung jumlah pukulan yang dihasilkan. Berikut rumus untuk menentukan tingkat kepadatan tanah sebagai berikut (Matangaran 1998):

Selanjutnya didapatkan hasil pengujian jumlah tumbukan yang dilakukan dalam membuat tingkat kepadatan tanah sebagai berikut:

1. Kepadatan 0.9 g/cm3 dengan jumlah pukulan sebanyak 1 kali. 2. Kepadatan 1.0 g/cm3 dengan jumlah pukulan sebanyak 3 kali 3. Kepadatan 1.1 g/cm3 dengan jumlah pukulan sebanyak 15 kali. 4. Kepadatan 1.2 g/cm3 dengan jumlah pukulan sebanyak 50 kali. 5. Kepadatan 1.3 g/cm3 dengan jumlah pukulan sebanyak 75 kali. 3. Penanaman

(17)

5 Selanjutnya dilakukan kegiatan pengamatan terhadap petumbuhan tanaman. Setelah dilakukan pengamatan selama enam bulan, maka dilakukan pengukuran terhadap respon pertumbuhan tanaman dengan parameter yaitu tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering tanur (BKT akar, batang dan daun), kedalaman penetrasi akar dan nisbah pucuk akar (NPA).

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penyiraman dan pencegahan hama atau penyakit. Penyiraman terhadap tanaman dilakukan setiap hari pada waktu pagi

dan dilakukan secara hati-hati agar tidak mempengaruhi kepadatan tanah. 5. Penyulaman

Kegiatan penyulaman dilakukan bila tanaman yang ditemukan dalam keadaan mati dan terserang hama dan penyakit.

Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam pengukururan respon pertumbuhan 3 jenis semai pada beberapa tingkat kepadatan tanah menggunakan analisis ragam. Jenis semai ada 3 yaitu meranti bapa, trembesi dan sengon buto. Sedangkan kepadatan terdiri dari 5 tingkat yaitu 0.9 g/cm3, 1.0 g/cm3, 1.1 g/cm3, 1.2 g/cm3 dan 1.3 g/cm3. Kombinasi perlakuan jenis semai dan kepadatan dilakukan ulangan sebanyak 5 kali. Respon pertumbuhan yang diukur adalah tinggi, diameter, kedalaman penetrasi akar dan Nisbah Pucuk Akar (NPA).

Setelah dilakukan analisis ragam dan hasil menunjukkan bahwa kepadatan tanah mempengaruhi respon pertumbuhan, maka dilakukan analisis lebih lanjut dengan uji Duncan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemadatan Tanah

Pemadatan tanah pada pemanenan kayu di hutan umumnya terjadi karena bekerjanya alat berat berupa traktor penyarad kayu (bulldozer) (Matangaran et al 2010). Bergeraknya alat berat tersebut di atas permukaan tanah hutan menyebabkan kerusakan berupa hilangnya lapisan permukaan tanah (topsoil) berupa erosi (erosion) dan limpasan permukaan (run off) yang besar serta bergeraknya partikel tanah menjadi bertambah padat dengan berkurangnya porositas tanah (Matangaran dan Kobayashi 1999).

(18)

6

Pemadatan tanah adalah suatu proses mekanis yang menyebabkan butir-butir tanah menjadi lebih rapat sesamanya sehingga udara keluar dari celah-celah butir tanah tersebut. Tingkat kepadatan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti besarnya daya pemadatan, kadar air yang dipadatkan, tebal lapisan yang harus dipadatkan dan jumlah lintasan alat pemadat (Tinambunan 1978).

Pertumbuhan Semai

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran. Pertambahan bukan hanya dalam volume namun juga dalam bobot, jumlah sel (Arisakti 2004). Pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman dapat dilihat dari pertambahan ukuran yaitu tinggi, diameter, kedalaman penetrasi akar dan nisbah pucuk akar (NPA) yang diukur setelah semai berumur 5 bulan.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kepadatan tanah tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi, diameter, dan NPA. Kepadatan tanah hanya berpengaruh nyata terhadap kedalaman penetrasi akar, sehingga dilakukan analisis lebih lanjut dengan uji duncan.

Tinggi Semai

Pengamatan respon pertumbuhan tinggi ketiga semai terhadap kepadatan tanah selama 5 bulan menunjukkan perubahan. Hal ini dapat terlihat pada gambar (1;2;3) menunjukkan pertumbuhan tinggi pada tiap minggu.

(19)

7

Gambar 2 Pertumbuhan tinggi semai trembesi. ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒ 1.0 g/cm3, ‒ʌ‒ 1.1 g/cm3, ‒x‒ 1.2 g/cm3, ‒ӿ‒ 1.3 g/cm3. Jenis trembesi memiliki pertambahan tinggi terbaik (Gambar 2) terdapat pada kepadatan 0.9 g/cm3 sebesar 34.58 cm, sedangkan pertambahan tinggi terburuk terdapat pada kepadatan 1.3 g/cm3 sebesar 29.7 cm.

Gambar 3 Pertumbuhan tinggi semai sengon buto. ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒ 1.0 g/cm3, ‒ʌ‒ 1.1 g/cm3, ‒x‒ 1.2 g/cm3, ‒ӿ‒ 1.3 g/cm3. Jenis sengon buto (Gambar 3) memiliki pertambahan tinggi terbaik terdapat pada kepadatan 1.0 g/cm3 sebesar 54.68 cm, sedangkan pertambahan tinggi terburuk pada kepadatan 1.3 g/cm3 sebesar 51.86 cm.

Semai meranti bapa dan sengon buto terjadi penurunan tinggi pada kepadatan 1.1 g/cm3 yang merupakan kepadatan tinggi dibanding kontrol, sedangkan semai trembesi mulai mengalami penurunan tinggi pada kepadatan 1.2 g/cm3.

Diameter Semai

(20)

8

Gambar 4 Pertambahan diameter semai meranti bapa. ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒ 1.0 g/cm3, ‒ʌ‒ 1.1 g/cm3, ‒x‒ 1.2 g/cm3, ‒ӿ‒ 1.3 g/cm3. Pertambahan diameter terbaik semai trembesi (Gambar 5) terdapat pada kepadatan 0.9 g/cm 3 sebesar 0.32 cm, sedangkan pertambahan diameter terburuk terdapat pada kepadatan 1.2 g/cm3 dan 1.3 g/cm3 sebesar 0.28 cm.

(21)

9

Gambar 6 Pertambahan diameter semai trembesi. ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒ 1.0 g/cm3, ‒ʌ‒ 1.1 g/cm3, ‒x‒ 1.2 g/cm3, ‒ӿ‒ 1.3 g/cm3. Ketiga jenis semai mengalami penurunan dengan bertambahnya tingkat kepadatan. Kepadatan 0.9 g/cm3 mempunyai rata-rata respon pertambahan diameter terbaik sedangkan kepadatan 1.3 g/cm3 mempunyai rata-rata respon pertambahan diameter terburuk.

Penetrasi Akar

Parameter penetrasi akar menunjukkan kemampuan akar menerobos kedalam tanah. Besarnya pori tanah berkorelasi positif dengan kerapatan massa tanah. Semakin tinggi kepadatan tanah maka kerapatan massa tanah semakin tinggi dan sebaliknya, jumlah pori tanah semakin kecil (Hakim 1986).

Kedalaman penetrasi akar terdalam semai meranti bapa terdapat pada kepadatan 0.9 g/cm3 sebesar 13.02 cm, sedangkan terdangkal terdapat pada kepadatan 1.3 g/cm3 sebesar 12.06 cm. Kedalaman penetrasi akar terdalam semai trembesi terdapat pada kepadatan 0.9 g/cm3 sebesar 14.5 cm, sedangkan terdangkal terdapat pada kepadatan 1.3 g/cm3 sebesar 9.12 cm.

Semai sengon buto memiliki kedalaman penetrasi akar terdalam pada kepadatan 0.9 g/cm3 sebesar 14.5 cm, sedangkan terdangkal terdapat pada kepadatan 1.3 g/cm3 sebesar 13.5 cm. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap penetrasi akar (lampiran 5) yaitu pada semai sengon buto, maka dilakukan analisis lanjut dengan uji duncan. Berikut Tabel 2 hasil uji duncan semai sengon buto:

Tabel 2. Hasil uji duncan penetrasi akar semai sengon buto

Jenis Kepadatan (g/cm

3 )

0.9 1 1.1 1.2 1.3

(22)

10

Hasil nilai rata-rata penetrasi akar menunjukkan bahwa penetrasi akar semai meranti bapa mulai terganggu pada tingkat kepadatan 1.2 g/cm3, sedangkan semai trembesi dan sengon buto mulai terganggu dengan semakin padatnya tanah dibanding control. Hal ini didukung dengan Haridjaja et al. (2010) bahwa dalamnya penetrasi akar berkorelasi kuat dengan tingkat kepadatan tanah. Makin tinggi tingkat kepadatan tanah makin sulit tingkat penetrasi akar baik secara vertikal maupun horizontal. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai kepadatan tanah yang semakin tinggi menyebabkan penetrasi akar pada semai semakin kecil.

Nisbah Pucuk Akar

Nisbah pucuk akar atau NPA merupakan perbandingan antara berat kering bagian pucuk dan berat kering bagian akar. NPA merupakan pencerminan antara proses transpirasi yang dilakukan bagian pucuk dan proses penyerapan hara dan air oleh bagian akar semai (Arisakti 2004). Hasil nilai rata-rata parameter NPA disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil nilai rata-rata parameter NPA

Jenis Kepadatan (g/cm3) sebesar 1.9, sedangkan NPA terkecil terdapat pada kepadatan 1.0 g/cm3 sebesar 1.3. NPA terbesar pada semai trembesi terdapat pada kepadatan 0.9 sebesar 1.16, sedangkan NPA terkecil terdapat pada kepadatan 1.0 g/cm3 sebesar 0.74. Sedangkan semai sengon buto memiliki NPA terbesar terdapat pada kepadatan 1.2 g/cm3 sebesar 1.49, sedangkan NPA terkecil terdapat pada kepadatan 0.9 g/cm3 sebesar 0.9.

Hasil nilai rata-rata NPA untuk tiap tingkat kepadatan tanah menunjukkan bahwa semai sengon buto memiliki nilai rata-rata NPA yang baik, sedangkan NPA terkecil terdapat pada semai trembesi. Menurut Baker (1950) bahwa secara umum nilai NPA terdapat dalam selang 1-4, nilai ini termasuk dalam kategori baik. Nilai ini berhubungan dengan kekokohan tanaman tersebut untuk tumbuh.

(23)

11 pertumbuhan yang kurang baik, disamping itu nilai NPA yang kecil mengakibatkan laju transpirasi bagian pucuk menjadi lebih kecil dan tidak seimbang dengan laju penyerapan air dan mineral oleh akar. Kondisi ini membuat semai trembesi memiliki kemampuan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan semai meranti bapa dan sengon buto yang memiliki nilai NPA yang besar. Kemampuan akar untuk menembus tanah berkurang dan mengakibatkan kemampuan akar untuk menyediakan hara, mineral dan udara untuk pertumbuhan bagian pucuk tanaman menjadi berkurang

Hasil yang terjadi pada nilai rata-rata menunjukkan pertumbuhan semai semakin menurun pada kepadatan yang semakin tinggi. Kepadatan 1.3 g/cm3 yang merupakan kepadatan paling tinggi cenderung mempunyai angka pertumbuhan lebih rendah dibanding empat kepadatan yang lain. Hal ini didukung dengan penelitian Arisakti (2004) bahwa kepadatan 1.3 g/cm3 merupakan kepadatan kritis bagi pertumbuhan semai.

Hubungan variabel respon pertumbuhan dengan kepadatan tanah yang cenderung menurun untuk ketiga jenis semai menunjukkan bahwa pada tingkat kepadatan tanah 1.3 g/cm3 merupakan kondisi kepadatan tanah yang terjadi akibat penyaradan 2 rit bulldozer menyebabkan respon pertumbuhan yang buruk. Hal ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya (Matangaran 1992) yang menyatakan bahwa sebaiknya hanya dilakukan penyaradan paling banyak 2 rit melalui jalan sarad yang sama sebab respon pertumbuhan tanaman pada kepadatan 1.3 g/cm3 yang merupakan kepadatan tanah akibat penyaradan traktor berban ulat 2 rit menyebabkan respon pertumbuhan tanaman yang buruk. Serasah merupakan cara efektif dalam mengurangi tingkat kerusakan pada tanah hutan akibat kegiatan penyaradan. Penggunaan serasah dapat mengurangi tingkat kepadatan tanah sebesar 50% dan memiliki tingkat kepadatan yang rendah dibanding tanpa adanya serasah yang lebih besar mengakibatkan kepadatan tanah (Matangaran 2012).

Tanah yang terpadatkan akan menganggu penetrasi akar tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat. Tanah yang terlalu padat mengakibatkan pertukaran udara menjadi lambat dan kandungan oksigen dalam tanah cukup rendah (Arisakti 2004). Sehingga air akan tergenang dan menghambat pertumbuhan tanaman, akibatnya tanaman menjadi kecil dan kurus yang selanjutnya akan mengakibatkan kematian karena tanaman tidak dapat mengambil unsur hara dan air secara maksimal.

Permudaan hutan dengan penanaman, kemampuan semai untuk memproduksi akar merupakan salah satu indikator keberhasilan semai disamping faktor lain seperti misalnya faktor suhu tanah dan ketersediaan air pada kedalaman penanaman (Baker 1950 dalam Arisakti 2004).

(24)

12

Sedangkan semai trembesi memiliki pertumbuhan yang kecil, karena akar yang dimiliki trembesi lebih kecil dibanding ketiga jenis semai. Sehingga kemampuan akar menerobos kedalam tanah lebih kecil.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Respon pertumbuhan tiga jenis semai pada tanah padat menunjukkan bahwa jenis sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) memiliki pertumbuhan yang baik dibandingkan dengan pertumbuhan meranti bapa (Shorea selanica) dan trembesi (Samanea saman).

Saran

Perlunya penelitian lebih lanjut tentang tanaman fast growing species serta jenis dipterocarpaceae yang lainnya terhadap kepadatan tanah. Sehingga dapat mengetahui jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan terbaik dan cocok untuk ditanam pada tanah padat.

DAFTAR PUSTAKA

Alrasjid H, Ardikusumah RI. 1974. Beberapa Catatan Tentang Enterolobium cyclocarpum Griseb. Bogor (ID): Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Kehutanan, Lembaga Penelitian Hutan.

Arisakti TK. 2004. Pertumbuhan semai empat jenis tanaman HTI pada tanah padat [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Hakim N. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung (ID): Universitas Lampung Press.

Haridjaja O, Yayat H, Lina SM. 2010. Pengaruh bobot isi tanah terhadap sifat fisik tanah dan perkecambahan benih kacang tanah dan kedelai. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 15 (3): 147‒152.

Kurniawan AD. 2003. Pengaruh penyaradan kayu oleh forwarder terhadap kepadatan tanah di PT. Inhutani II Kalimantan Selatan unit Stagen sub unit HTI Semaras [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Lumintang TM. 1984. Aspek fisik dan mekanik tanah dalam modifikasi lingkungan perakaran melalui pengolahan tanah secara mekanis pada lahan alang-alang [tesis]. Bogor (ID): Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

(25)

13 Matangaran JR. 1998. Tingkat Kepadatan Tanah pada Tapak Traktor, Jejak Log,

Kiri Kanan Traktor Berbagai Intensitas Penyaradan. Bogor (ID): IPB Press.

Matangaran JR, Kobayashi H. 1999. The effect of tractor logging on forest soil compaction and growth of Shorea selanica seedling in Indonesia. Journal of Forest Research 4 (1): 13‒115.

Matangaran JR, Wibowo C, Suwarna U. 2010. Pertumbuhan semai sengon dan mangium pada tanah padat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 15 (3):

153‒157.

Matangaran JR. 2012. Soil compaction by valmet forwarder operation at soil surface with and without slash. Jurnal Manajemen Hutan Tropis 18 (1):

52‒59.

Matangaran JR, Suwarna U. 2012. Kepadatan tanah oleh dua jenis forwarder dalam pemanenan hutan. Jurnal Ilmu-ilmu Bionatura 14 (2): 115‒124. Pertiwi D. 2001. Pemanfaatan kulit kayu Acacia mangium sebagai media

tumbuh semai Acacia mangium dan Eucalyptus urophylla [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Rahmawati I. 2002. Pengaruh intensitas penyaradan kayu oleh traktor terhadap kepadatan tanah dan pertumbuhan Acacia mangium dan Paraserianthes falcataria. [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Risdanarti Y. 1999. Pengaruh kepadatan tanah, media tumbuh dan cendawan Blake [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Tinambunan D. 1978. Pemadatan Tanah Untuk Badan Jalan Hutan. Publikasi

(26)

14

(27)

15

Lampiran 3 Nilai rata-rata parameter diameter semai (cm) Jenis

(28)

16

Lampiran 5 Hasil analisis ragam seluruh parameter

RIWAYAT HIDUP

(29)

Gambar

Tabel 1 Hasil Analisis Tanah Uji Podsolik Merah Kuning Haurbentes Jasinga
gambar (1;2;3) menunjukkan pertumbuhan tinggi pada tiap minggu.
Gambar 2 Pertumbuhan tinggi semai trembesi. ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒
Gambar 4 Pertambahan diameter semai meranti bapa.  ‒◊‒ 0.9 g/cm3, ‒□‒
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada tindakan I siklus I yang telah dilaksanakan dengan menerapkan model CTL , dapat ditemukan hasil: dari 17 kegiatan guru dan siswa yang diamati cenderung

3) Visi menjernihkan maksud dan arah. Visi bersifat persuasif yang dapat dipercaya dalam menentukan apa yang diinginkan organisasi dan merupakan aspirasi

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan pengusaan muftadāt dan aktivitas peserta didik melalui pemanfaatan

5.3-3 Pada pola data aktual yang disajikan memuat unsur trend, hasil analisis yang disajikan menunjukan bahwa Metode Pemulusan Eksponensial Ganda, Dua-Parameter dari Holt,

Pertama-tama saya mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih dan Penyayang karena atas karunia dan rahmat-Nya kita bisa

Hasil dari penelitian ini adalah software sensor pendeteksi isyarat telapak tangan berhasil dibuat dengan menghasilkan jarak efektif pendeteksian objek adalah 80 cm

Terdapat ide yang muncul dari masalah yang ada yaitu “Sub Modul Sumber Daya Alam Pertanian z Kehutanan Perikanan Untuk Mendukung Pembuatan Smart Village ”.. Ide z yang

Buku Panduan Program D3 Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya.. Pengantar