ANALISIS PERANGKAT TRANSMISI UNTUK WIRELESS ENERGY TRANSFER
TUGAS AKHIR
Disusun Oleh :
Nama : Ngurah Tegar Mahardika
NIM : 10.41020.0022
Program : S1 (Strata Satu)
Jurusan : Sistem Komputer
SEKOLAH TINGGI
MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER SURABAYA
ANALISIS PERANGKAT TRANSMISI UNTUK WIRELESS ENERGY TRANSFER
TUGAS AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Sarjana Komputer
Disusun Oleh :
Nama : Ngurah Tegar Mahardika
NIM : 10.41020.0022
Program : S1 (Strata Satu)
Jurusan : Sistem Komputer
SEKOLAH TINGGI
MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER SURABAYA
Family is the most important thing in the world.
~Princess Diana.
The only person you are destined to become is the person you decide to be.
Kupersembahkan kepada
Ayah dan mama tercinta
Adik – adikku tersayang
Dosen - dosen yang selalu membimbingku
iv
ABSTRAK
Wireless technology adalah teknologi elektronika yang beroperasi tanpa
kabel. Teknologi ini telah dikenal dapat dimanfaatkan untuk komunikasi maupun
pengontrolan. Kini, teknologi nirkabel juga dapat diterapkan pada proses
perpindahan daya atau disebut juga wireless energy transfer.
Wireless energy transfer memiliki beberapa macam mekanisme, salah
satunya adalah inductive resonant coupling. Teknologi ini bekerja dengan
menggunakan efek kopling resonansi antara dua gulungan sirkuit LC. Inductive
resonant coupling mampu mentransmisikan daya melalui media magnetic field
yang dihasilkan oleh arus listrik.
Efisiensi pada inductive resonant coupling didasarkan pada jarak antara
koil pemancar dengan koil penerima, nilai daya yang ditransmisikan, dan
frekuensi transmisi. Semakin pendek jarak antara koil pemancar dengan koil
penerima, akan menghasilkan nilai efisiensi yang semakin besar pula. Hal ini
terjadi pada saat nilai tegangan yang ditransmisikan (Vin) sama dan menggunakan
frekuensi 40.58 KHz, 90.73 KHz atau 128.31 KHz. Semakin besar daya yang
ditransmisikan (Pin), akan menghasilkan nilai efisiensi yang semakin kecil. Hal ini
terjadi pada saat jarak antara koil pemancar dengan koil penerima sama dan
menggunakan frekuensi 128.31 KHz. Semakin besar nilai frekuensi transmisi
yang digunakan, maka nilai efisiensi semakin besar pula. Hal ini terjadi pada saat
jarak antara koil pemancar dengan koil penerima dan nilai tegangan yang
v
KATA PENGANTAR
Pertama-tama penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa karena berkat, rahmat, dan karuniaNyalah penulis dapat menyelesaikan
penulisan Tugas Akhir ini dengan sebaik-baiknya. Penulis mengambil judul
“Analisis Perangkat Transmisi untuk Wireless Energi Transfer” ini sebagai salah
satu syarat dalam menyelesaikan Tugas Akhir di Sekolah Tinggi Manajemen
Informatika & Teknik Komputer Surabaya.
Dalam pelaksanaan Tugas Akhir serta pembuatan laporan Tugas Akhir ini,
banyak sekali pihak yang telah membantu penulis sehingga Tugas Akhir dapat
terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Seluruh guru yang telah mendidik penulis mulai kecil hingga saat ini sehingga
penulis mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat menjadikan penulis
menjadi seperti saat ini.
2. Pimpinan STIKOM Surabaya yang telah banyak memberikan motivasi serta
teladan yang dapat membantu penulis selama menempuh pembelajaran hingga
saat ini.
3. Bapak Dr. Jusak, selaku Kepala Program Studi Sistem Komputer STIKOM
Surabaya yang telah membantu serta mendukung setiap kegiatan sehingga
vi
4. Bapak Yuwono Marta Dinata, S.T., M.Eng., dan bapak Susijanto Tri Rasmana,
S.Kom.,M.T., selaku dosen pembina pertama dan kedua sehingga penulis dapat
melaksanakan Tugas Akhir ini dengan baik.
5. Ibu Ira Puspasari, S.Si., M.T. selaku dosen wali dan para dosen lainnya yang
telah membantu penulis jika mengalami berbagai macam kesulitan sehingga
penulis dapat termotivasi untuk terus berusaha hingga Tugas Akhir ini
terlaksana sesuai dengan harapan.
6. Teman-teman penulis yang telah mendampingi, memberi tempat saat penulis
membutuhkan yang juga membantu dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini.
7. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu yang telah
membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung.
Banyak hal dalam laporan Tugas Akhir ini yang masih perlu diperbaiki lagi.
Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun
dari semua pihak agar dapat menyempurnakan penulisan ini kedepannya. Penulis
juga memohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kata-kata yang salah
serta menyinggung perasaan pembaca. Akhir kata penulis ucapkan banyak-banyak
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca, semoga tulisan ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Surabaya, Februari 2014
vii
vii
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 2
1.3 Pembatasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan ... 3
1.5 Sistematika Penulisan ... 4
BAB II LANDASAN TEORI ... 6
2.1 Medan Magnet ... 6
2.2 Arus Listrik Menghasilkan Kemagnetan ... 7
2.3 Elektromagnet dan Solenoida ... 9
2.4 Prinsip Kerja Osilator dalam Melakukan Osilasi ... 11
2.5 Induksi Elektromagnetik ... 14
2.6 Wireless Energy Transfer ... 16
2.7 Coupled Resonators ... 18
2.8 Desain Koil pada Inductive Resonant Coupling ... 20
2.9 Akuisisi Data ... 21
viii
2.11 Power Supply ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
3.1 Model Penelitian ... 25
3.2 Pengimplementasian Sistem ... 26
3.3 Perancangan Hardware... 27
3.3.1 Rangkaian Osilator ... 28
3.3.2 Rangkaian Mixer ... 30
3.3.3 Koil Pemancar dan Koil Penerima ... 31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33
4.1 Perhitungan Frekuensi ... 33
4.1.1 Rumus Perhitungan Frekuensi ... 33
4.1.2 Proses Perhitungan Frekuensi ... 34
4.2 Pengujian Perangkat Transmisi ... 34
4.2.1 Peralatan yang Digunakan ... 35
4.2.2 Perakitan Perangkat Transmisi ... 36
4.2.3 Prosedur Pengujian ... 37
4.2.4 Hasil Pengujian... 38
4.3 Perhitungan Daya dan Efisiensi Transmisi ... 42
4.3.1 Perhitungan Daya Listrik ... 43
4.3.2 Perhitungan Efisiensi Transmisi ... 47
4.4 Pembahasan Berdasarkan Hasil Perhitungan Daya dan Efisiensi Daya 52 BAB V PENUTUP ... 57
5.1 Kesimpulan ... 57
ix
DAFTAR PUSTAKA ... 59
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Perhitungan Frekuensi ... 34
Tabel 4.2 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 5.37 V ... 39
Tabel 4.3 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 7.97 V ... 39
Tabel 4.4 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 9.01 V ... 39
Tabel 4.5 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 5.88 V ... 40
Tabel 4.6 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 6.70 V ... 40
Tabel 4.7 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 8.13 V ... 41
Tabel 4.8 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 5.08 V ... 41
Tabel 4.9 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 6.39 V ... 42
Tabel 4.10 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 7.24 V ... 42
Tabel 4.11 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
xi
Tabel 4.12 Nilai – Nilai dari Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 7.97 V ... 44
Tabel 4.13 Nilai – Nilai dari Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 9.01 V ... 44
Tabel 4.14 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 5.88 V ... 44
Tabel 4.15 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 6.70 V ... 45
Tabel 4.16 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 8.13 V ... 45
Tabel 4.17 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 5.08 V ... 46
Tabel 4.18 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 6.39 V ... 46
Tabel 4.19 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 7.24 V ... 47
Tabel 4.20 Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 5.37 V ... 48
Tabel 4.21 Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 7.97 V ... 48
Tabel 4.22 Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 9.01 V ... 49
Tabel 4.23 Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
xii
Tabel 4.24 Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
Vin = 6.70 V ... 49
Tabel 4.25 Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
Vin = 8.13 V ... 50
Tabel 4.26 Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 5.08 V ... 50
Tabel 4.27 Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 6.39 V ... 51
Tabel 4.28 Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 7.24 V ... 51
Tabel 4.29 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter
Uji pada Frekuensi 40.58 KHz ... 52
Tabel 4.30 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter
Uji pada Frekuensi 90.73 KHz ... 53
Tabel 4.31 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Penggambaran Garis Medan Magnet Sebuah Magnet Batang ... 6
Gambar 2.2 Garis – Garis Medan Magnet di Luar Magnet Batang ... 7
Gambar 2.3 Penyimpangan Jarum Kompas di Dekat Kawat ... 8
Gambar 2.4 Garis – Garis Medan Magnet di Sekitar Kawat Lurus... 8
Gambar 2.5 Kaidah Tangan Kanan dalam Menentukan Arah Medan Magnet ... 9
Gambar 2.6 Medan Magnet pada Solenoida ... 10
Gambar 2.7 Kondisi Awal Rangkaian Osilator ... 11
Gambar 2.8 Perioda Osilasi ... 13
Gambar 2.9 Percobaan Faradays Mengenai Induksi Elektromagnetik ... 15
Gambar 2.10Inductive Coupling System ... 18
Gambar 2.11Rangkaian Ekuivalen untuk Coupling Resonator... 19
Gambar 2.12Koil pada Inductive Resonant Coupling ... 20
Gambar 2.13Rangkaian Power Supply Sederhana ... 23
Gambar 3.1 Sistem Blok Diagram Penelitian ... 25
Gambar 3.2 Blok Diagram Sistem Inductive Resonant Coupling ... 26
Gambar 3.3 Rangkaian Dasar Osilator Colpitts ... 28
Gambar 3.4 Rangkaian Osilator yang Digunakan ... 29
Gambar 3.5 Rangkaian Mixer ... 30
Gambar 3.6 Koil Pemancardan Koil Penerima ... 31
Gambar 4.1 Power Supply ... 35
Gambar 4.2 Osiloskop ... 35
xiv
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Wireless technology atau teknologi nirkabel, atau lebih sering disingkat
wireless adalah teknologi elektronika yang beroperasi tanpa kabel. Wireless
technology telah dikenal dapat dimanfaatkan untuk komunikasi maupun
pengontrolan. Untuk komunikasi, wireless communication merupakan transfer
informasi berupa apapun, secara jarak jauh tanpa penggunakan kabel. Misalnya
telepon seluler, jaringan komputer nirkabel dan satelit. Pengontrolan secara jarak
jauh tanpa kabel merupakan salah satu contoh teknologi nirkabel. Misalnya
penggunaan remote TV, mobil kontrol, dan remote untuk membuka pintu garasi
mobil (Proboyekti, 2007). Berkat perkembangan teknologi yang semakin maju,
teknologi nirkabel saat ini dapat diterapkan pada proses perpindahan daya atau
disebut juga wireless energy transfer.
Wireless energy transfer akan sangat berguna untuk banyak peralatan.
Nantinya diharapkan semua peralatan elektronik menggunakan sistem wireless
saat melakukan pengisian daya. Apalagi telah diketahui seluruh perangkat
elektronik memerlukan daya listrik agar dapat bekerja.
Beberapa waktu yang lalu para peneliti telah mencoba untuk mentransfer
energi secara wireless dengan beberapa macam mekanisme. Salah satu
mekanisme tersebut adalah inductive resonant coupling (Herrera, Torres, Leal, &
2
Herrera menyebutkan teknologi inductive resonant coupling merupakan
suatu teknologi untuk mentransfer energi secara wireless dengan menggunakan
sebuah koil sebagai pemancar dan koil lainnya sebagai penerima. Teknologi ini
bekerja dengan prinsip ketika dua koil (resonator) memiliki frekuensi resonansi
yang sama, mereka dapat dihubungkan dengan cara resonansi kemudian satu koil
dapat memancarkan energi ke yang lain. Frekuensi resonansi adalah frekuensi
dimana periode getaran sama dengan frekuensi di mana obyek mencapai tingkat
penyerapan energi tertinggi.
Teknologi inductive resonant coupling merupakan teknologi baru dan
perlu diketahui efisiensi daya yang berhasil dikirimkan dari proses transmisi daya.
Untuk mengetahui efisiensi tersebut, diperlukan adanya akuisisi data berdasarkan
parameter jarak antara koil pemancar dengan koil penerima, frekuensi transmisi
dan juga berdasarkan parameter daya yang diberikan pada sumber. Dengan
diketahuinya efisiensi dari daya yang berhasil dikirimkan, proses pengembangan
pada teknologi ini dapat dilakukan dengan mudah dan teknologi ini bisa
diterapkan pada perangkat elektronik yang memiliki karakteristik kebutuhan daya
masing – masing.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh jarak antara koil pemancar dengan koil
2. Bagaimana pengaruh daya yang diberikan pada koil pemancar
terhadap efisiensi transmisi daya.
3. Bagaimana pengaruh frekuensi yang dipakai pada transmisi daya
terhadap efisiensi.
1.3 Pembatasan Masalah
Penelitian yang dibahas memiliki beberapa batasan masalah, yaitu :
1. Penelitian ini difokuskan hanya menggunakan teknologi inductive
resonant coupling pada proses transmisi daya.
2. Koil pemancardan koil penerimayang digunakan berbentuk multiple
circle.
3. Sumber listrik yang digunakan menggunakan arus searah (DC).
1.4 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh jarak antara koil pemancar dengan koil
penerima terhadap efisiensi transmisi daya.
2. Mengetahui pengaruh daya yang diberikan pada koil pemancar
terhadap efisiensi transmisi daya.
3. Mengetahui pengaruh frekuensi yang dipakai pada transmisi daya
4
1.5 Sistematika Penulisan
Pada penulisan penelitian ini ditulis dengan sistematika penulisan
sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini akan mengemukakan mengenai hal – hal yang menjadi latar
belakang penulisan penelitian, perumusan masalah, batasan masalah,
tujuan yang ingin dicapai, serta sistematika penulisan laporan tugas
akhir ini.
BAB II : LANDASAN TEORI
Bab ini akan membahas mengenai teori yang berhubungan dengan
wireless energy transfer , coupled resonator, desain koil pada
inductive resonant coupling, induksi elektromagnetik, elektromagnet
dan solenoida, medan magnet, arus listrik menghasilkan kemagnetan,
akuisisi data, daya listrik, power supply.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini akan membahas mengenai :
Model penelitian yang digunakan dan pengimplementasian
sistem dari inductive resonant coupling. Untuk menjelaskan
setiap pembahasan tersebut akan dijelaskan menggunakan blok
diagram beserta penjelasan dari setiap bagian dari blok
Rangkaian – rangkaian yang diperlukan untuk membangun
perangkat transmisi wireless energy transfer dengan
menggunakan teknologi inductive resonant coupling.
Rangkaian – rangkaian tersebut adalah rangkaian osilator,
rangkaian mixer, koil pemancar, dan koil penerima.
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan memaparkan mengenai proses perhitungan efisiensi dan
frekuensi transmisi listrik berdasarkan hasil dari pengujian –
pengujian yang telah dilakukan. Kemudian berdasarkan hasil
perhitungan tersebut akan dilakukan pembahasan mengenai pengaruh
jarak antara koilpemancardengan koil penerima, daya yang diberikan
pada koil pemancar, dan frekuensi transmisi terhadap besarnya nilai
efisiensi yang dihasilkan.
BAB V : PENUTUP
Bab ini akan membahas mengenai kesimpulan dari hasil pengujian
dan analisis terkait dengan tujuan dan permasalahan yang ada, serta
6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Medan Magnet
Sumber : (Giancoli, 2001)
Gambar 2.1 Penggambaran Garis Medan Magnet Sebuah Magnet Batang
Arah medan magnet pada suatu titik bisa didefinisikan sebagai arah yang
ditunjuk kutub utara sebuah jarum kompas ketika diletakkan di titik tersebut.
Gambar 2.1 menunjukan bagaimana suatu garis medan magnet ditemukan sekitar
magnet batang dengan menggunakan jarum kompas. Medan magnet yang
ditentukan dengan cara ini untuk medan di luar magnet batang digambarkan pada
Gambar 2.2. Berdasarkan Gambar 2.1 dan Gambar 2.2 dapat dilihat garis – garis
Sumber : (Giancoli, 2001)
Gambar 2.2 Garis – Garis Medan Magnet di Luar Magnet Batang
Medan magnet dapat didefinisikan di sembarang titik sebagai vektor,
yang dinyatakan dengan symbol B, yang arahnya ditentukan seperti telah dibahas
sebelumnya dengan menggunakan jarum kompas. Besar B dapat didefinisikan
dalam momen yang diberikan pada jarum kompas ketika membentuk sudut
tertentu terhadap medan magnet. Sehingga, makin besar momen, makin besar pula
kuat medan magnet (Giancoli, 2001).
2.2 Arus Listrik Menghasilkan Kemagnetan
Arus listrik juga dapat menghasilkan sifat kemagnetan. Dengan kata lain
saat arus melewati suatu benda yang bersifat konduktor, maka akan terbentuk
suatu medan magnet. Konsep inilah yang terjadi pada saat jarum kompas
8
Sumber : (Giancoli, 2001)
Gambar 2.3 Penyimpangan Jarum Kompas di Dekat Kawat
Jarum kompas yang diletakkan di dekat bagian yang lurus dari kawat
pembawa arus mengatur dirinya sendiri sehingga membentuk tangen terhadap
lingkaran yang mengelilingi kawat seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.3.
Dengan demikian, garis – garis medan magnet yang dihasilkan oleh arus di kawat
lurus membentuk lingkaran dengan kawat pada pusatnya seperti yang ditunjukan
pada Gambar 2.4.
Sumber : (Giancoli, 2001)
Ada cara sederhana untuk mengingat arah garis – garis medan magnet
pada kasus ini. Cara ini disebut kaidah tangan kanan. Kaidah tangan kanan dapat
dilakukan dengan cara menggenggam kawat dengan tangan kanan sehingga ibu
jari menunjuk arus (positif) konvensional, kemudian jari – jari lain akan
melingkari kawat dan jari – jari tersebut menunjukan arah medan magnet seperti
yang ditunjukan pada Gambar 2.5 (Giancoli, 2001).
Sumber : (Giancoli, 2001)
Gambar 2.5 Kaidah Tangan Kanan dalam Menentukan Arah Medan Magnet
2.3 Elektromagnet dan Solenoida
Solenoida merupakan sebuah kumparan kawat yang terdiri dari beberapa
lilitan (loop) seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.6. Saat arus listrik mengaliri
solenoida, solenoida tersebut akan memiliki sifat medan magnet. Posisi dari kutub
– kutub medan magnet pada solenoida dipengaruhi oleh arah arus di tiap lilitan
tersebut. Karena garis – garis medan magnet akan meninggalkan kutub utara
10
Sumber : (Giancoli, 2001)
Gambar 2.6 Medan Magnet pada Solenoida
Setiap kumparan menghasilkan medan magnet dan medan total di dalam
solenoida akan merupakan jumlah medan – medan yang disebabkan oleh setiap
lilitan arus. Jika kumparan – kumparan solenoida berjarak sangat dekat, medan di
dalam pada dasarnya akan parallel dengan sumbu kecuali di bagian ujung –
ujungnya.
Untuk mengetahui besar medan magnet di dalam solenoida dapat
menggunakan hukum Ampere yang ditunjukkan pada rumus (2.1) (Giancoli,
2001).
nI B
0………..……….…………..(2.1)
dengan :
B = besar medan magnet (T)
n = jumlah lilitan per satuan panjang (m-1)
I = arus listrik (A)
Pada rumus tersebut, dapat diketahui bahwa B hanya bergantung pada
jumlah lilitan per satuan panjang, n, dan arus I. Medan tidak bergantung pada
posisi di dalam solenoida, sehingga nilai B seragam. Hal ini hanya berlaku pada
solenoida takhingga, tetapi merupakan pendekatan yang baik untuk titik – titik
yang sebenarnya yang tidak dekat dengan ujung solenoida.
2.4 Prinsip Kerja Osilator dalam Melakukan Osilasi
Telah diketahui sebelumnya, bahwa arus listrik mampu menghasilkan
sifat kemagnetan pada suatu konduktor. Hal ini juga yang menyebabkan osilator
mampu melakukan osilasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan rangkaian yang
ditunjukan pada Gambar 2.7.
Sumber : (Green, 1982)
Gambar 2.7 Kondisi Awal Rangkaian Osilator
Pada suatu kapasitor berukuran C Farad yang dimuati oleh sumber DC
12
yang telah bermuatan ini dihubungkan dengan induktor, seperti yang ditunjukan
pada Gambar 2.7, maka akan terbentuk rangkaian lengkap, dan muatan kapasitor
terlepas menuju induktor sehingga arus akan mengalir. Arus mengalir sesaat
setelah kapasitor dihubungkan dengan induktor, dan menarik cepat sampai ke
harga maksimum ketika kapasitor sudah kosong, atau tegangan antara kedua
lempengannya sama dengan nol. Aliran arus di konduktor menghasilkan medan
magnet yang besarnya sebanding dengan arus. Energi tersimpan pada medan
magnet adalah ½ LI2 joule. (L = induktansi induktor dengan satuan henry dan I =
arus maksimum dengan satuan Ampere). Semua energi yang tersimpan di
kapasitor sekarang telah diubah menjadi energi magnetik dan sebagian hilang
sebagai disipasi daya pada resistansi rangkaian (r).
Oleh karena beda potensial antara kedua terminal kapasitor sama
dengan nol, maka arus mulai menurun dan medan magnet disekitar induktor mulai
mengecil. Bersamaan dengan mengecilnya medan magnet, GGL (Gaya Gerak
Listrik) diimbaskan ke kumparan induktor, dengan polaritas yang sesuai hukum
Lenz, berlawanan dengan gaya yang menimbulkannya. Akibatnya GGL induksi
total akan menjaga mengalirnya arus. Karena muatan kapasitor telah terbuang
seluruhnya, maka aliran arus pada arah tersebut akan memuati kapasitor lagi, kini
dengan polaritas yang berlawanan.
Ketika medan magnet telah menghilang seluruhnya, arus menjadi nol
dan kapasitor telah termuati sampai tegangan yang sedikit lebih kecil dari
sebelumnya. Katakanlah (V – δV), dimana δV merupakan penambahan tegangan
Hampir seluruh energi magnetik kini berubah menjadi energi listrik yang
tersimpan pada dielektrik kapasitor. Sebagian energi akan hilang berupa disipasi
daya i2r akibat adanya resistansi rangkaian. Kapasitor sekarang mulai lagi
kehilangan muatannya menuju induktor, tetapi arah aliran arus berubah lagi
(aliran arus kembali sama dengan aliran arus mula – mula). Medan magnet mulai
lagi timbul disekitar induktor. Ketika kapasitor telah bermuatan, arus mulai
mengecil dan medan magnet menghilang setelah menginduksikan GGL ke
kumparan induktor, yang akhirnya akan menimbulkan arus dengan arah
sebaliknya. Kapasitor akan termuati lagi oleh arus sesuai polaritas awalnya dan
pada saat telah termuati penuh (dengan sedikit selisih tegangan dibandingkan
sebelumnya), maka lengkaplah satu perioda arus osilator seperti yang ditunjukan
pada Gambar 2.8.
Sumber : (Green, 1982)
Gambar 2.8 Perioda Osilasi
Pemindahan energi antara kapasitor dan induktor berlangsung terus
14
sampai osilasi selesai. Jenis osilasi ini dikenal sebagai osilator teredam. Laju
teredamnya osilasi bergantung pada resistansi rangkaian.
Jika energi diberikan pada rangkaian osilator untuk menggantikan rugi –
rugi disipasi i2r, akan diperoleh osilasi tak teredam. Osilasi ini akan menghasilkan
amplitudo yang terus konstan dan tak akan berhenti. Energi yang diberikan pada
rangkaian osilator haruslah cukup besar, sebanding dengan disipasi resistansi
rangkaian, serta sefasa dengan osilasi.
Energi yang harus diberikan pada rangkaian osilator untuk menjaga
berlangsungnya osilasi, ditangani oleh bagian penguat dari osilator. Ketika
osilator mulai dicatu, arus surja (current surge) pada rangkaian penentu frekuensi
akan menghasilkan tegangan sesuai dengan frekuensi operasi. Sebagian tegangan
ini diumpanbalikkan ke terminal masukan dan diperkuat dengan fasa yang sama
dengan tegangan semula. Hasilnya kemudian diumpankan kembali kemasukan,
diperkuat lagi dan seterusnya.
Dengan demikian amplitudo tegangan sinyal akan mencapai batas
tertentu. Setelah menghasilkan amplitudo yang diinginkan maka penguatan
rangkaian diperkecil menjadi satu. Penguatan ini dapat diperkecil dengan tabung
atau transistor yang dibuat jenuh (Green, 1982).
2.5 Induksi Elektromagnetik
Proses induksi elektromagnetik sangat berhubungan dengan konsep
terjadinya induksi elektromagnetik, akan dijelaskan melalui percobaan yang telah
dilakukan oleh Faradays..
Sumber : (Soedojo, 2004)
Gambar 2.9 Percobaan Faradays Mengenai Induksi Elektromagnetik
Bilamana kuat arus di kumparan primer pada Gambar 2.9 diubah, maka
di kumparan sekunder ternyata mengalir arus listrik, sedangkan kumparan
sekunder itu tak bersambungan sama sekali dengan kumparan primer. Satu –
satunya hubungan ialah adanya fluks garis gaya medan magnet dari kumparan
primer yang dialiri arus listrik, yang dicakup oleh kumparan sekunder. Jadi
tentunya mengalirnya arus listrik di kumparan sekunder itu bukan disebabkan
langsung oleh perubahan kuat arus listrik di kumparan primer, melainkan oleh
adanya perubahan banyaknya fluks garis gaya medan magnet yang dicakup
kumparan sekunder tersebut. Hal ini oleh Faraday sendiri diyakinkan dengan
menggantikan kumparan primer yang dialiri arus listrik itu dengan batang magnet
yang digerak – gerakkan mendekati lalu menjauhi kumparan sekunder sehingga
banyaknya fluks garis gaya medan magnet yang dicakup kumparan sekunderpun
16
penambahan fluks, misalnya dengan batang magnet yang lebih didekatkan, akan
berlawanan dengan seandainya sebaliknya, yakni yang berkaitan dengan
pengurangan fluks yang dicakup kumparan sekunder. Ternyata arah mengalirnya
arus listrik di kumparan sekunder itu sedemikian hingga fluks garis gaya medan
magnet yang ditimbulkan oleh kumparan sekunder itu mengkompensasi
perubahan fluks yang dicakupnya. Jadi seolah – olah mengalirnya arus listrik di
kumparan sekunder itu merupakan reaksi perubahan fluks garis gaya yang
dicakupnya, sejalan dengan hukum Newton III dalam mekanika (Soedojo, 2004).
2.6 Wireless Energy Transfer
Pengiriman daya dengan teknologi nirkabel merupakan perkembangan
dari konsep elektromagnetik yang telah dibahas pada subbab sebelum –
sebelumnya. Konsep ini telah mendasari proses transmisi daya yang pernah
dilakukan oleh ilmuwan Nikola Tesla dan teknologi transmisi listrik microwave.
Kedua macam teknologi itu merupakan bentuk transfer daya menggunakan
radiasi.
Radiative transfer digunakan dalam komunikasi nirkabel, namun
teknologi itu tidak terlalu cocok untuk transmisi listrik karena efisiensi yang
rendah dan kerugian radiasi karena sifat omnidirectionalnya. Sebuah teknologi
alternatif diperlukan dengan ketentuan jarak interaksi antara sumber dengan
perangkat berdekatan, sehingga menghasilkan transfer daya yang efisien (Sibakoti
Dalam beberapa waktu yang lalu para peneliti telah mencoba untuk
mentransfer energi secara wireless dengan beberapa macam mekanisme (Herrera,
Torres, Leal, & Angel, 2010), seperti :
Laser beam. Laser beam adalah sinar laser koheren yang mampu
untuk membawa energi yang sangat tinggi. Teknologi ini diciptakan
oleh NASA pada tahun 2003.
Gelombang radio dan microwaves. Dengan menggunakan teknologi
microwaves ini, energi listrik yang sangat tinggi dapat dikirimkan
melalui jarak jauh.
Inductive resonant coupling. Teknologi ini bekerja dengan
menggunakan efek kopling resonansi antara dua gulungan sirkuit
LC.
“Strong” electromagnetic resonance. Teknologi ini merupakan
perkembangan dari inductive resonant coupling. Teknologi ini
mampu mengirim energi listrik lebih jauh hingga beberapa puluh
sentimeter.
Inductive resonant coupling adalah sebuah sistem yang dapat
mengirimkan daya nirkabel. Hal ini dicapai dengan menghubungkan sumber daya
ke inductive coupling system dan menggunakan medan magnet untuk mentransfer
energi melalui udara. Coupling system menggunakan komponen koil pemancar
(L1) yang mengirimkan energi ke komponen koil penerima. Hal ini dilakukan
18
koil L2 menciptakan sinyal energi menggunakan medan magnet B tersebut.
Gambar 2.10 menunjukkan cara kerja dari inductive resonant coupling
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sasur.
Sumber : (Sasur, 2011)
Gambar 2.10 Inductive Coupling System
Efisiensi sistem didasarkan pada ukuran rasio D2/D1 dari dua koil dan
jarak antara dua koil (z). Saat rasio D2/D1 berkurang, efisiensi juga akan
berkurang. Jika jarak antara dua koil bertambah, efisiensi akan berkurang. Sumber
daya tersambung ke koil pemancar, kemudian secara nirkabel akan mentransfer
daya ke koil penerima. Energi ini kemudian akan masuk ke pengisian baterai
perangkat (Sasur, 2011).
2.7 Coupled Resonators
Coupled resonators adalah koil pemancar dan koil penerima yang telah
dibicarakan pada pembahasan – pembahasan sebelumnya. Kedua resonator
tersebut mampu melakukan proses transmisi daya ketika posisinya saling
penghubung diantara dua resonator tersebut yang digunakan sebagai media
transmisi daya.
Kemampuan transmisi daya tergantung pada karakteristik masing –
masing parameter untuk setiap resonator dan tingkat energi dari coupling.
Dinamika dua sistem resonator dapat digambarkan dengan analisis rangkaian
ekuivalen dari sistem coupling resonator. Berikut adalah rangkaian ekuivalen
untuk coupling resonator yang ditunjukkan pada Gambar 2.11.
Sumber : (Kesler, 2013)
Gambar 2.11 Rangkaian Ekuivalen untuk Coupling Resonator
Sebuah Generator dengan sumber tegangan sinusoidal yang memiliki
amplitudo Vg , frekuensi dengan hambatan Rg. Sumber dan perangkat resonator
kumparan diwakili oleh induktor Ls dan Ld, yang digabungkan melalui induktansi
bersama M, di mana M = k LsLd dengan k merupakan koefisien gandengan
antar fluks. Setiap kumparan memiliki kapasitor seri untuk membentuk resonator.
Hambatan Rs dan Rd adalah hambatan parasit dari kumparan dan kapasitor
resonant untuk resonator yang bersangkutan. Beban diwakili oleh hambatan RL
20
2.8 Desain Koil pada Inductive Resonant Coupling
Coupled resonators atau koil pemancar dan koil penerima, secara fisik
berbentuk multiple circle seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.12 (Lee,
Waters, Shi, Park, & Smith, 2013). Desain lilitan koil, jumlah lilitan (n), ukuran
rata – rata dari jari – jari lilitan koil (r) dan lebar koil (d) sangat mempengaruhi
terhadap nilai dari induktansi (L).
Sumber : (Lee, Waters, Shi, Park, & Smith, 2013)
Gambar 2.12 Koil pada Inductive Resonant Coupling
Perhitungan dari nilai induktansi untuk desain koil seperti ini
d = lebar keseluruhan lilitan koil (cm)
Rumus tersebut dapat menghitung nilai dari induktansi dengan anggapan
jarak antar lilitan dan diameter dari koil yang digunakan diabaikan (Li, Yang, &
Gao, 2013).
2.9 Akuisisi Data
Pengukuran memegang peranan yang sangat penting dalam dunia teknik.
Pada tahap penelitian atau perancangan, pengukuran diperlukan untuk analisis
teknik eksperimental. Pada tingkat aplikasi, misalnya pada industri proses,
pengukuran diperlukan dalam pemantauan dan pengendalian suatu proses. Dengan
pesatnya perkembangan teknologi komputer, saat ini hampir semua kegiatan
dalam bidang teknik telah memanfaatkan komputer. Untuk dapat memanfaatkan
komputer, suatu sistem pengukuran memerlukan sistem akuisisi data untuk
mendapatkan data yang siap diolah secara digital (Murod, 2005).
2.10 Daya Listrik
Daya listrik mempresentasikan laju perubahan energi yang dihasilkan
oleh sebuah perangkat listrik, dari satu bentuk energi ke bentuk lainnya. Sebagai
contoh, sebuah pemanas ruangan mengubah energi listrik menjadi energi panas.
Laju perubahan ini dinyatakan dalam satuan watt. Simbol untuk besaran watt
adalah W (Bishop, 2004).
Dapat diperlihatkan bahwa daya yang dibangkitkan sebuah perangkat
listrik sebanding dengan besarnya arus yang mengalir melewatinya. Daya juga
sebanding dengan tegangan yang menggerakkan arus tersebut. Semakin besar arus
22
dihasilkan. Apabila dituliskan dalam rumus, menjadi seperti yang ditunjukan pada
rumus (2.3)
P = I x V ………. (2.3)
dengan :
P = Daya (W)
I = Arus (A)
V = Tegangan (V)
2.11 Power Supply
Power supply adalah alat atau sistem yang berfungsi untuk menyalurkan
energi listrik atau bentuk energi jenis apapun yang sering digunakan untuk
menyalurkan energi listrik. Secara prinsip rangkaian power supply adalah
menurunkan tegangan AC, menyearahkan tegangan AC sehingga menjadi DC
,menstabilkan tegangan DC, yang terdiri atas transformator, dioda dan kapasitor.
Tranformator biasanya berbentuk kotak dan terdapat lilitan – lilitan kawat email
didalamnya. Tugas dari komponen ini adalah untuk menaikkan atau menurunkan
tegangan AC sesuai kebutuhan.
Power supply diharapkan dapat melakukan fungsi berikut ini :
Voltage Transformation : Memberikan keluaran tegangan DC yang sesuai
dengan yang dibutuhkan.
Filtering : Menghasilkan arus listrik DC yang lebih "bersih", bebas dari ripple
ataupun noise listrik yang lain.
Regulation : Mengendalikan tegangan keluaran agar tetap terjaga, tergantung
pada tingkatan yang diinginkan, beban daya, dan perubahan kenaikan
temperatur kerja juga toleransi perubahan tegangan daya input.
Isolation : Memisahkan secara elektrik output yang dihasilkan dari sumber
input
Protection : Mencegah lonjakan tegangan listrik (jika terjadi), sehingga tidak
terjadi pada output, biasanya dengan tersedianya sekering untuk auto
shutdown jika hal terjadi.
Sumber : (Gunawan, 2011)
Gambar 2.13 Rangkaian Power Supply Sederhana
Rangkaian power supply yang ditunjukan pada Gambar 2.13 merupakan
24
sering ditemui dalam dunia elektronika. Hanya dengan menggunakan beberapa
kompenen inti dari power supply yakni satu buah dioda bridge atau 4 buah dioda
biasa dan satu buah kapasitor. Dioda bridge / 4 buah dioda biasa digunakan
sebagai penyearah gelombang bolak balik yang dihasilkan oleh trafo step down
atau trafo penurun tegangan dan kapasitor digunakan sebagai penghilang riak
25
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Model Penelitian
Penelitian yang dilakukan dapat dijelaskan dengan lebih baik melalui
blok diagram seperti yang terlihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Sistem Blok Diagram Penelitian
Blok diagram diatas merupakan proses penelitian yang dilakukan setelah
sistem inductive resonant coupling diimplementasikan. Berikut adalah keterangan
dari setiap blok dari sistem blok diagram pada Gambar 3.1.
1. Input
Pada blok input terdiri dari tiga parameter yaitu frekuensi, daya (power
supply), dan jarak. Frekuensi merupakan besarnya nilai frekuensi
gelombang yang digunakan pada koil pemancar. Daya (power supply)
merupakan besarnya nilai daya listrik yang diberikan menggunakan
power supply. Jarak merupakan jarak antara koil pemancar dan koil
penerima. Tiga parameter ini nantinya akan diubah – ubah untuk
mengetahui apakah nilai dari tiap parameter tersebut berpengaruh
26
2. Proses
Proses yang dilakukan adalah pengukuran pada koil pemancar dan koil
penerima untuk mendapatkan nilai daya listrik pada dua koil tersebut.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan nilai dari parameter –
parameter pada blok input yang berbeda – beda. Pengukuran dilakukan
menggunakan osiloskop untuk mendapatkan nilai tegangan efektif
(Vrms) dan multimeter untuk mendapatkan arus efektif (Irms).
3. Output
Berdasarkan proses pengukuran yang telah dilakukan, akan di
dapatkan daya pada koil pemancar dan daya pada koil penerima. Dari
dua nilai parameter daya tersebut nantinya akan digunakan untuk
mendapatkan besarnya nilai efisiensi pada tiap pengukuran yang telah
dilakukan.
3.2 Pengimplementasian Sistem
Pengimplementasian dari sistem inductive resonant coupling diperlukan
untuk melakukan proses penelitian. Hal ini diperlukan agar mendapatkan hasil
dari proses penelitian yang ilmiah. Sistem tersebut akan diimplementasikan sesuai
dengan blok diagram yang terlihat pada Gambar 3.2.
Sumber listrik (power source) yang digunakan pada penelitian ini
berasal dari power supply. Power supply ini mampu menghasilkan daya yang
fleksibel, sehingga daya bisa diatur sesuai kebutuhan penelitian. Untuk ukuran –
ukuran jumlah daya yang digunakan pada penelitian ini akan dibahas pada bab
selanjutnya.
Daya listrik yang dihasilkan oleh power supply akan masuk ke rangkaian
mixer. Rangkaian mixer ini merupakan sebuah transistor yang dijadikan titik temu
pencampuran daya antara daya listrik yang dihasilkan oleh power supply dengan
daya yang dihasilkan oleh rangkaian osilator. Rangkaian osilator ini dapat bekerja
karena mendapatkan daya yang berasal dari daya feedback koil pemancar.Dalam
penelitian ini rangkaian osilator berfungsi sebagai rangkaian yang mengolah daya
listrik agar fluks yang terdapat pada koil pemancartetap stabil.
Koil pemancar sendiri mendapatkan daya yang merupakan hasil dari
rangkaian mixer. Daya yang melewati koil ini akan membangkitkan fluks di
sekitar koil tersebut. Perputaran dari fluks ini akan menyebabkan bangkitnya daya
listrik pada koil penerima. Daya listrik pada koil penerima akan memasuki load
(beban). Daya tersebut selanjutnya dapat diukur menggunakan osiloskop maupun
multimeter yang diletakkan pada load. Penjelasan lebih jauh mengenai rangkaian
– rangkaian yang digunakan pada penelitian ini akan dibahas pada subbab
berikutnya.
3.3 Perancangan Hardware
Perangkat transmisi daya ini terdiri dari beberapa rangkaian, yaitu rangkaian
28
rangkaian tersebut memegang peranan masing – masing dalam mengolah daya
listrik yang diberikan. Penjelaskan dari tiap – tiap rangkaian tersebut akan
dijelaskan pada subbab – subbab berikutnya.
3.3.1 Rangkaian Osilator
Rangkaian osilator merupakan rangkaian yang berfungsi mengolah daya
listrik agar membangkitkan fluks pada koil pemancar. Konsep dasar dari
rangkaian ini yaitu sebuah rangkaian penguat dengan sistem feedback, sehingga
sebagian daya yang dikeluarkan dari koil pemancar akan dikembalikan lagi ke
masukan. Hal ini yang menyebabkan terjadinya perputaran fluks disekitar koil
pemancar yang terus menerus. Gambar 3.3 menunjukkan salah satu rangkaian
dasar osilator.
Sumber : (Herrera, Torres, Leal, & Angel, 2010)
Jenis osilator yang digunakan adalah osilator colpitts. Osilator ini
merupakan salah satu tipe osilator LC. Osilator LC merupakan osilator yang
menggunakan kombinasi antara induktor dengan kapasitor. Karena osilator ini
digunakan untuk membangkitkan fluks pada koil pemancar, maka ada perubahan
yang dilakukan pada rangkaian dasar osilator colpitts. Gambar 3.4 menunjukkan
rangkaian osilator yang digunakan dalam penelitian.
Gambar 3.4 Rangkaian Osilator yang Digunakan
Isolator yang digunakan dalam rangkaian dasar osilator di ganti dengan
koil pemancar. Hal ini dilakukan agar daya listrik dapat membangkitkan fluks
pada koil pemancar.
Selain itu, letak dari pembagi tegangan kapasitif juga menyesuaikan
letak koil pemancar yang digunakan. Pembagi tegangan kapasitif dibentuk oleh
kapasitor yang terpasang seri (C1 dan C2). Pembagi tegangan kapasitif berfungsi
30
3.3.2 Rangkaian Mixer
Rangkaian mixer merupakan rangkaian yang terdiri dari sebuah
transistor yang berfungsi sebagai titik pencampuran daya yang dihasilkan oleh
power supply dengan daya yang dihasilkan oleh rangkaian osilator. Daya yang
dihasilkan oleh power supply akan masuk pada bagian basis pada transistor.
Sebelum memasuki transistor, daya tersebut akan distabilkan oleh komponen IC
LM7805.
Daya yang dihasilkan oleh rangkaian osilator akan memasuki bagian
kolektor pada transistor. Transistor yang digunakan pada rangkaian ini adalah
transistor jenis TIP41C. Transistor ini digunakan karena selain digunakan sebagai
pencampuran daya, komponen ini juga digunakan sebagai penguat arus. Dengan
pencampuran daya tersebut nantinya diharapkan mampu menghasilkan arus yang
lebih besar. Arus pada bagian pemancar perlu dikuatkan karena semakin kuat arus
yang melewati koil pemancar maka semakin jauh pula medan fluks yang
dihasilkan. Dengan demikian letak darikoil penerima dapat diletakkan lebih jauh
lagi, sehingga proses transmisi listrik semakin jauh. Gambar 3.5 menunjukkan
Gambar 3.5 Rangkaian Mixer
3.3.3 Koil Pemancar dan Koil Penerima
Koil pemancar dan koil penerima yang digunakan terbuat dari kabel NYA
dengan ukuran diameter kabel 4 mm yang dibentuk multiple circle. Kedua koil ini
mampu menerima tegangan maksimal hingga 750 V. Koil pemancar terdiri dari 9
lilitan dan koil penerima terdiri dari 10 lilitan. Jari – jari terluar dari kedua koil
yang digunakan adalah 9 cm. Sedangkan jari – jari terdalam dari kedua koil yang
digunakan adalah 0.3 cm.Gambar 3.6 menunjukkan koil yang digunakan.
32
Gambar 3.6 Koil Pemancardan Koil Penerima
Koil pemancar merupakan bagian dari perangkat transmisi listrik yang
berperan utama dalam menginduksikan listrik. Oleh karena itu perlu diketahui
besarnya nilai induktansi dari koil pemancar yang digunakan.
Untuk menghitung besarnya nilai induktansi pada koil pemancar dapat
menggunakan rumus (2.2). Tabel 3.1 menampilkan nilai dari parameter –
parameter penyusun rumus dan perhitungan dari nilai induktansi pada koil
pemancar.
Tabel 3.1 Perhitungan Nilai Induktansi pada Koil Pemancar
Parameter Koil Pemancar r = jari – jari terluar
koil
9 cm
33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan Frekuensi
Untuk mengetahui apakah besarnya nilai frekuensi berpengaruh terhadap
efisiensi transmisi daya, maka diperlukan pengukuran daya dengan menggunakan
nilai frekuensi yang berbeda – beda. Oleh karena itu perlu ditetapkan terlebih
dahulu berapa saja besarnya nilai frekuensi yang akan digunakan untuk
pengukuran daya. Untuk rumus yang digunakan dan bagaimana proses
perhitungan frekuensi akan dijelaskan pada subbab berikutnya.
4.1.1Rumus Perhitungan Frekuensi
Rumus untuk perhitungan frekuensi yang digunakan, merupakan rumus
umum yang biasanya digunakan untuk menghitung besarnya nilai frekuensi pada
rangkaian osilator. Rumus untuk perhitungan frekuensi ditunjukan pada rumus
4.1.2Proses Perhitungan Frekuensi
Pada Tabel 4.1 akan menampilkan nilai – nilai dari parameter yang
digunakan pada rumus dan proses perhitungan frekuensi.
Tabel 4.1 Perhitungan Frekuensi
Frekuensi 1 Frekuensi 2 Frekuensi 3
L = 0.00154 H L = 0.00154 H L = 0.00154 H
Pengujian perangkat transmisi dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar daya yang ditransmisikan (Pin) dan seberapa besar daya yang telah berhasil
ditransmisikan (Pout). Dengan mengetahui besarnya nilai – nilai dari daya tersebut,
proses perhitungan efisiensi dari perangkat transmisi daya untuk wireless energy
transfer dapat dilakukan. Untuk pembahasan dari bagaimana proses pengujiannya,
35
4.2.1 Peralatan yang Digunakan
Dalam pengujian ini diperlukan beberapa peralatan untuk membantu
pengujian perangkat transmisi daya seperti yang di tunjukan pada Gambar 4.1,
Gambar 4.2, dan Gambar 4.3.
Gambar 4.2 Osiloskop
Gambar 4.3 Multimeter
4.2.2 Perakitan Perangkat Transmisi
Sesuai dengan blok diagram yang ditunjukkan pada Gambar 3.2, maka
proses perakitan perangkat transmisi dilakukan menjadi dua bagian, yaitu bagian
pemancar dan bagian penerima. Untuk bagian pemancar terdiri dari rangkaian
osilator, mixer, dan koil pemancar. Sedangkan untuk bagian penerima hanya
terdiri dari koil penerima. Gambar 4.4 menunjukkan seluruh rangkaian perangkat
transmisi.
37
Gambar 4.4 Rangkaian Perangkat Transmisi
4.2.3 Prosedur Pengujian
1. Siapkan perangkat transmisi dan seluruh peralatan tambahan yang
digunakan.
2. Sambungkan power supply pada bagian input dari rangkaian mixer,
kemudian sambungkan osiloskoppada koil penerima.
3. Posisi koil pemancar dan koil penerima seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4.4. Atur jarak antara koil pemancar dengan koil penerima3 cm, 6
cm, 9 cm, 12 cm, 15 cm, 18 cm, 21 cm, 24 cm, 27 cm, dan 30 cm secara
berganti – gantian.
4. Atur power supply agar mengeluarkan tegangan 10 V, 12.5 V, 14.5 V secara
berganti – gantian. Saat diberikan tegangan 10 V, atur jarak antara koil
pemancar dengan koil penerima seperti yang disebutkan pada langkah ke 3.
Begitu juga saat diberikan tegangan 12.5 V, 14.5 V dan 16.5 V.
5. Tiap satu kali pengujian yang dilakukan dengan menggunakan tegangan
power supply dan jarak antara koil pemancar dengan koil penerima yang
sama, akan digunakan 3 frekuensi yang berbeda – beda. Agar nilai frekuensi
dapat berbeda – beda maka kapasitor pada rangkaian osilator perlu diganti –
ganti. Untuk ukuran kapasitor dan frekuensi yang digunakan sesuai dengan
6. Untuk mengukur berapa besar tegangan yang ditransmisikan (Vin) maka
letakkan osiloskop pada bagian keluaran dari koil pemancar. Kemudian atur
osiloskop agar dapat mengukur Vrms. Vrms merupakan tegangan efektif yang
mengalir pada titik pengukuran. Nilai dari Vrms bisa dijadikan Vin. Untuk
mengukur berapa besar tegangan yang berhasil ditransmisikan (Vout) maka
letakkan osiloskop pada bagian keluaran dari koil penerima. Kemudian atur
osiloskop agar dapat mengukur Vrms seperti pada saat mengukur Vin.
7. Untuk mengukur berapa besar arus yang ditransmisikan (Iin) maka letakkan
multimeter pada bagian keluaran dari koil pemancar. Kemudian atur
multimeter agar dapat mengukur Irms. Irms merupakan tegangan efektif yang
mengalir pada titik pengukuran. Nilai dari Irms bisa dijadikan Iin. Untuk
mengukur berapa besar arus yang berhasil ditransmisikan (Iout) maka
letakkan multimeter pada bagian keluaran dari koil penerima. Kemudian atur
multimeter agar dapat mengukur Irms seperti pada saat mengukur Iin.
4.2.4 Hasil Pengujian
Setelah melakukan seluruh langkah – langkah dalam subbab prosedur
pengujian, akan didapatkan nilai dari tegangan yang ditransmisikan (Vin),
tegangan yang berhasil ditransmisikan (Vout), arus yang ditransmisikan (Iin), dan
arus yang berhasil ditransmisikan (Iout). Nilai ini didasarkan pada perubahan yang
diberikan pada nilai tegangan pada power supply, frekuensi yang digunakan dan
jarak antara koil pemancar dan koil penerima. Tabel 4.2, Tabel 4.3, Tabel 4.4,
Tabel 4.5, Tabel 4.6, Tabel 4.7, Tabel 4.8, Tabel 4.9, dan Tabel 4.10 menampilkan
Tabel 4.2 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 5.37 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.3 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 7.97 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.4 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 9.01 V
Jarak (cm)
41
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.5 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 5.88 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.6 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 6.70 V
Jarak (cm)
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
21 0.02 6.70 0.0000004 0.49
24 0.02 6.70 0.0000001 0.39
27 0.02 6.70 0.0000001 0.35
30 0.02 6.70 0.0000001 0.33
Tabel 4.7 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 8.13 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.8 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 5.08 V
Jarak (cm)
43
Tabel 4.9 Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 6.39 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
Tabel 4.10Nilai – Nilai Tegangan dan Arus dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 7.24 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima Iin (A) Vin (V) Iout (A) Vout (V)
4.3 Perhitungan Daya dan Efisiensi Transmisi
Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini, berdasarkan pengujian yang
ditransmisikan (Pin) pada koil pemancar dan daya yang berhasil ditransmisikan
(Pout) pada koil penerima. Kemudian berdasarkan nilai dari Pin dan Pout, dilakukan
perhitungan efisiensi transmisi daya. Untuk proses perhitungan daya akan di bahas
pada subbab 4.31, sedangkan proses perhitungan efisiensi dibahas pada subbab
4.32.
4.3.1 Perhitungan Daya Listrik
Proses perhitungan daya (Pin dan Pout) dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus (2.3) yang berada pada Bab II. Sesuai dengan rumus
tersebut, maka diperlukan nilai tegangan dan arus pada titik yang ingin diketahui
dayanya. Oleh karena itu, proses perhitungan daya ini menggunakan nilai dari
tegangan dan arus yang telah didapat pada tahap pengujian perangkat transmisi.
Tabel 4.11, Tabel 4.12, Tabel 4.13, Tabel 4.14, Tabel 4.15, Tabel 4.16, Tabel
4.17, Tabel 4.18, dan Tabel 4.19 menampilkan nilai perhitungan daya (Pin dan
Pout).
Tabel 4.11 Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 5.37 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
45
Tabel 4.12 Nilai – Nilai dari Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 7.97 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
Tabel 4.13Nilai – Nilai dari Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 90.73 KHz dan Vin = 9.01 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
Tabel 4.14Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 5.88 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
Tabel 4.15Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 6.70 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
Tabel 4.16Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 128.31 KHz dan Vin = 8.13 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
47
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
21 0.03 8.13 0.2439 0.0000005 0.52 0.00000026
24 0.03 8.13 0.2439 0.0000003 0.42 0.000000126
27 0.03 8.13 0.2439 0.0000001 0.36 0.000000036
30 0.03 8.13 0.2439 0.0000001 0.34 0.000000034
Tabel 4.17Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 1 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 5.08 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
Tabel 4.18Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 2 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 6.39 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Tabel 4.19Nilai – Nilai Perhitungan Daya dari Hasil Pengujian 3 dengan
Frekuensi 40.58 KHz dan Vin = 7.24 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
ditransmisikan (Pout) pada koil penerima. Berdasarkan pernyataan tersebut maka
rumus untuk perhitungan efisiensi ditunjukkan pada rumus (4.2).
efisiensi = efisiensi transmisi daya
PInp = daya yang ditransmisikan pada koil pemancar (W)
49
Tabel 4.20, Tabel 4.21, Tabel 4.22, Tabel 4.23, Tabel 4.24, Tabel 4.25,
Tabel 4.26, Tabel 4.27, dan Tabel 4.28 menunjukkan tingkat efisiensi pada tiap
hasil pengujian perangkat transmisi.
Tabel 4.20Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 5.37 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.21Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 7.97 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Tabel 4.22Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 90.73 KHz dan
Vin = 9.01 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.23Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
Vin = 5.88 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.24Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
Vin = 6.70 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
3 0.02 6.70 0.134 0.0076 9.88 0.075088 56.04%
6 0.02 6.70 0.134 0.0017 5.35 0.009095 6.79%
51
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.25Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 128.31 KHz dan
Vin = 8.13 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.26Efisiensi dari Hasil Pengujian 1 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 5.08 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi Iin (A) Vin (V) Pin (W) Iout (A) Vout (V) Pout(W)
24 0.015 5.08 0.0762 0.0000007 0.29 0.000000203 0.00%
27 0.015 5.08 0.0762 0.0000007 0.27 0.000000189 0.00%
30 0.015 5.08 0.0762 0.0000005 0.26 0.00000013 0.00%
Tabel 4.27Efisiensi dari Hasil Pengujian 2 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 6.39 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
efisiensi
Tabel 4.28Efisiensi dari Hasil Pengujian 3 dengan Frekuensi 40.58 KHz dan
Vin = 7.24 V
Jarak (cm)
Pada Koil Pemancar Pada Koil Penerima
53
4.4 Pembahasan Berdasarkan Hasil Perhitungan Daya dan Efisiensi Daya
Pembahasan mengenai hasil perhitungan daya dan efisiensi diperlukan
untuk mencapai tujuan dari penelitian ini. Oleh karena itu, sesuai dengan tujuan
dari penelitian ini, maka diperlukan rekapitulasi berdasarkan kesamaan parameter
– parameter uji yaitu jarak antara koil pemancar dengan koil penerima, nilai daya
yang ditransmisikan (Pin), dan frekuensi transmisi. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan dalam menganalisa bagaimana pengaruh parameter uji tersebut
terhadap besarnya nilai efisiensi. Tabel 4.29, Tabel 4.30, dan Tabel 4.31
menampilkan rekapitulasi hasil perhitungan berdasarkan kesamaan parameter uji
pada beberapa frekuensi.
Tabel 4.29 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter Uji
Jarak
Tabel 4.30 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter Uji
55
Tabel 4.31 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berdasarkan Kesamaan Parameter Uji
Jarak
antara koil pemancar dengan koil penerima, nilai daya yang ditransmisikan (Pin),
dan frekuensi transmisi mempengaruhi besarnya nilai efisiensi. Saat parameter –
parameter pengukuran tersebut diberikan nilai yang berbeda, akan menghasilkan
nilai efisiensi yang berbeda pula. Berikut ini penjelasan lebih rinci mengenai
pengaruh parameter – parameter pengukuran yang digunakan terhadap efisiensi
berdasarkan Tabel 4.29, Tabel 4.30, dan Tabel 4.31 :
Pengaruh jarak antara koil pemancar dengan koil penerima terhadap efisiensi.
Semakin pendek jarak antara koil pemancar dengan koil penerima, akan
menghasilkan nilai efisiensi yang semakin besar pula. Hal ini terjadi pada saat
nilai tegangan yang ditransmisikan (Vin) sama dan menggunakan frekuensi
40.58 KHz, 90.73 KHz atau 128.31 KHz.
Pengaruh nilai daya yang ditransmisikan (Pin) terhadap efisiensi.
Semakin besar daya yang ditransmisikan (Pin), akan menghasilkan nilai
57
pemancar dengan koil penerima sama dan menggunakan frekuensi 128.31
KHz.
Namun pernyataan tersebut tidak berlaku pada saat jarak antara koil
pemancar dengan koil penerima sama dan menggunakan frekuensi 40.58 KHz
atau 90.73 KHz. Hal ini terjadi dikarenakan oleh nilai arus yang
ditransmisikan (Iin) yang berbeda pada saat menggunakan frekuensi 90.73
KHz, 128.31 KHz dan 40.58 KHz.
Nilai Iin dipengaruhi oleh transistor yang digunakan pada bagian
pemancar. Prinsip kerja transistor seperti switch atau keran air. Jadi saat
perbandingan arus antara bagian collector dengan basis menyebabkan jalur
output terbuka lebar, maka arus yang dihasilkan pada bagian emitter akan
besar. Begitu juga sebaliknya saat perbandingan arus antara bagian collector
dengan basis menyebabkan jalur output sempit, maka arus yang dihasilkan
pada bagian emitter akan kecil.
Pengaruh frekuensi transmisi terhadap efisiensi.
Semakin besar nilai frekuensi transmisi yang digunakan, maka nilai
efisiensi semakin besar pula. Hal ini terjadi pada saat jarak antara koil
pemancar dengan koil penerima dan nilai tegangan yang ditransmisikan (Vin)