• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis deskriptif implementasi fungsi manajemen pada majelis ta'lim Majelis Rasulullah SAW' pancoran Jakarta Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis deskriptif implementasi fungsi manajemen pada majelis ta'lim Majelis Rasulullah SAW' pancoran Jakarta Selatan"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI FUNGSI

MANAJEMEN PADA MAJLIS TA’LIM “MAJLIS RASULULLAH

SAW” PANCORAN JAKARTA SELATAN

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh :

DWI SATIA

NIM: 107053002290

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)

MAJLIS TA’LIM “MAJLIS RASULULLAH SAW” PANCORAN JAKARTA SELATAN

Dakwah merupakan wujud penyampaian pesan dari kitab suci Al-Qur’an yang menjadi penjaga, penerang dan pijakan dalam kehidupan. Oleh karena itu, penyelenggaraan dakwah harus dikelola dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman sehingga pesan dakwah bisa sampai kepada penerima dengan tepat.

Majlis ta’lim merupakan kegiatan dakwah yang sangat dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu majlis ta’lim harus memiliki manajemen yang baik sehingga masyarakat pun merasa nyaman ketika mengikuti kegiatan tersebut dan dapat menerima pesan dakwah dengan baik. Dengan demikian pelaksanaan dakwah oleh majlis ta’lim yang sangat dekat dengan masyarakat adalah Majlis Rasulullah SAW. Berdasarkan hal itu, penulis bermaksud untuk mengetahui dan meneliti bagaimana implementasi fungsi manajemen pada majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” Pancoran Jakarta Selatan dan apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kegiatan majlis ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW”.

Metode atau pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan instrument dengan cara pengumpulan data dan observasi, wawancara dengan pihak yang berwenang mengenai hal-hal yang akan diteliti serta studi dokumentasi dari buku-buku, arsip-arsip yang berkaitan dengan objek penelitian. Hasil penelitian dan pembahasan menyatakan bahwa kegaiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan oleh Majlis Rasulullah SAW tidak lepas dari fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan yang tersusun dengan baik. Dengan pelaksanaan manajemen yang baik membawa Majlis ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW” kepada perkembangan yang pesat dan diterima secara positif oleh

(5)

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang terindah selain rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi, karena alunan-alunan kasih-Nyalah yang memberi semangat bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan baginda Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Pencerahan melalui kalimat-kalimatnya telah mengantarkan kita pada proses berpikir yang jernih, untuk belajar arif dari proses hidup yang akan kita jalani dan yang telah sukses dalam menyampaikan risalahnya kepada umatnya sekalian.

Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua yaitu bapak Jainuddin dan ibu Saunih. Semoga keduanya senantiasa diberikan limpahan karunia serta taufiq dan hidayah Allah SWT. Amin

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Drs. Arief Subhan, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Ddakwah dan Ilmu Komunikasi.

3. Drs. Cecep Castrawijaya, MA, selaku Ketua Jurusan Manajemen Dakwah.

4. H. Mulkanasir, BA, S.Pd, MM, selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah.

5. Drs. M. Sungaidi, MA, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang sudah sangat sabar meluangkan waktu, bimbingan dan arahan kepada penulis.

(6)

8. Spesial untuk Ust. Arifin yang sudah sangat sabar memberikan bantuan dengan meluangkan waktunya untuk penulis. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasihsayang-Nya kepada Antum. Amin.

9. Kepada Habib Munzir Al Musawa, Ust. Syukron Makmun dan Ust. Musthafa Deden, yang sudah memberikan izin untuk meneliti Majlis Rasulullah SAW, memberikan informasi dan sudah meluangkan waktunya kepada penulis.

10.Kepada teman-teman yang sudah sangat membantu (Vivi, Itoh kecil, oman, ardi, iin, yayah, dori) trimakasih atas dukungannya.

11.Seluruh teman kelasku MD VIII b angkatan 2007, trimakasih atas informasinya.

Penulis hanya dapat memohon kepada Allah SWT, semoga berkenan menerima segala kebaikan dan ketulusan mereka serta memberikan sebaik-baik balasan atas amal baik mereka. Terakhir, semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat menambah khazanah keilmuan kita. Amin.

Jakarta, 17 Juni 2011

(7)

ABSTRAK……….i

KATA PENGANTAR……….ii

DAFTAR ISI………iv

BAB I : PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah………....1

B. Fokus dan Pembatasan Masalah……….6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………...6

D. Metodologi Penelitian……….7

E. Tinjauan Pustaka………...10

F. Sistematika penulisan………11

BAB II : LANDASAN TEORI...……….13 A. Manajemen……….13

1. Pengertian Manajemen……….………13

2. Unsur-unsur Manajemen……..………15

3. Fungsi Manajemen……...………16

B. Majlis Ta’lim………...……...………18

1. Pengertian Majlis Ta’lim……..………18

2. Fungsi Majlis Ta’lim………19

(8)

BAB III :GAMBARAN UMUM MAJLIS TA’LIM “MAJLIS

RASULULLAH SAW”………..26

Gambaran Umum Majlis Rasulullah SAW……….……..………26

1. Sejarah Berdirinya Majlis Rasulullah SAW……….…26

2. Visi………30

3. Misi………...………30

4. Struktur Organisasi…………...………31

5. Pembagian Tugas Pengurus………..…32

6. Program Majlis Rasulullah SAW……….………33

BAB IV : ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI FUNGSI MANAJEMEN PADA MAJLIS TA”LIM “MAJLIS RASULULLAH SAW” PANCORAN JAKARTA SELATAN……...………37

A. Implementasi Fungsi Manajemen Pada Majlis Rasulullah SAW...37

1. Fungsi Perencanaan (Planning)……….………37

2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)……….………43

3. Fungsi Penggerakkan (Actuating)………46

4. Fungsi Pengawasan (Controling)….………47

(9)

1. Faktor Pendukung……….………48

2. Faktor penghambat………48

BAB V : PENUTUP……….………50

A. Kesimpulan……….………50

B. Saran-saran………51

DAFTAR PUSTAKA……….…….53

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan

umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan agama kepada seluruh umat

manusia. Islam sebagai agama sebenarnya dapat menjamin kesejahteraan

dan keamanan umat manusia, bila ajaran Islam yang mencakup semua

aspek kehidupan dapat dijadikan pegangan hidup dan diaplikasikan dalam

kehidupan nyata.

Ditinjau dari segi bahasa da’wah berarti: panggilan, seruan atau

ajakan. Bentuk perkataan tersebut dalam bahasa Arab disebut mashdar.

Sedang bentuk kata kerja atau fi’ilnya adalah da’a yad’u yang berarti

memanggil, menyeru atau mengajak. Da’wah dengan arti seperti itu dapat

dijumpai dalam ayat Al-Qur’an, misalnya:

menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam)”. (QS. Yunus: 25).

Dari segi istilah, banyak pendapat tentang definisi da’wah. Diantara

pendapat itu adalah sebagai berikut: Syeikh Ali Makhfuz, dalam kitabnya

Hidayatul Mursyidin memberikan definisi da’wah sebagai berikut: “Mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan

munkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat”. Muhammad Natsir, dalam tulisannya yang berjudul Fungsi Da’wah Islam

(11)

2

“Usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh ummat konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, perikehidupan berumah tangga (usrah), perikehidupan bermasyarakat dan

perikehidupan bernegara”. Dalam bukunya Teori dan Praktek Da’wah

Islamiyah. H.S.M Nasaruddin Latif mendefinisikan da’wah sebagai: “Seiap

usaha atau aktivita dengan lisan atau tulisan dan lainnya, yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mentaati Allah s.w.t, sesuai dengan garis-garis aqidah dan syari’at serta akhlak Islamiyah. Letjen H. Sudirman, dalam tulisannya yang berjudul

Problematika Da’wah Islam di Indonesia memberikan definisi da’wah sebagai berikut: “Usaha untuk merealisasikan ajaran Islam di dalam kenyataan hidup sehari-hari baik bagi kehidupan seseorang, maupun kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan tata hidup bersama dalam rangka pembangunan bangsa dan ummat manusia untuk memperoleh

keridlaan Allah s.w.t”.1

Pada dasarnya dakwah adalah ajaran yang ditujukan sebagai rahmat

untuk semua, yang membawa nilai-nilai positif untuk menyeru umat

manusia menuju kepada jalan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan

mencegah yang munkar dalam rangka memperoleh kebahagiaan di dunia

dan kesejahteraan di akhirat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:



(12)

Hakikat dakwah dalam Islam telah berlangsung sekian lama yang

pada intinya adalah sebuah proses dan upaya tabligh dalam arti

menyampaikan kebenaran ajaran agama untuk membangun tatanan

kehidupan yang penuh kedamaian dan menatap ke depan yang lebih baik.

Dalam bahasa fiqh dakwah, membawa manusia dari jahiliyah

menuju ilmiah, dari keadaan terpuruk menjadi kemaslahatan, dan keadaan

yang tidak mengindahkan aturan menuju keadaan yang memahami serta

mentaati peraturan dan begitu seterusnya. Allah SWT berfirman:



Artinya: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Maidah:67)

Ayat tersebut menegaskan bahwa tugas seorang muslim

menyampaikan totalitas ajaran Islam. Dengan kata lain dakwah adalah

suatu kewajiban bagi setiap muslim.

Saat ini masyarakat dunia berada dalam era modern yang ditandai

dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang paling

menonjol di bidang teknologi adalah dengan lahirnya teknologi dan

informasi yang canggih. Karena itu era ini biasa disebut dengan abad

(13)

4

kompleks, problema tersebut menyangkut politik, sosial, ekonomi, budaya

dan kenegaraan. Untuk mengatasi problema tersebut diperlukan ilmu

manajemen.2

Mengingat pengertian dan lapangan dakwah sangat luas dan tentu

tidak dapat dilaksanakan secara sendiri-sendiri, maka aktivitas dakwah

harus dikelola secara baik dalam sebuah organisasi dakwah agar dapat

berjalan efektif dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Majlis ta’lim merupakan sebuah organisasi dakwah yang memiliki

tujuan untuk menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan Al-qur’an dan

Hadits. Dengan demikian majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” pun

memiliki tujuan seperti itu.

Majlis Rasulullah SAW, merupakan majlis terbesar di Indonesia.

Setiap minggunya, jumlah jamaah yang hadir dalam pengajian di masjid

Al-Munawar Pancoran berkisar antara 30.000 jamaah bahkan lebih.3

Dengan banyaknya jumlah jamaah, maka Majlis Rasulullah harus memiliki

manajemen yang handal untuk menangani hal tersebut. Mengatur jumlah

jamaah yang begitu banyak bukanlah hal yang mudah. Organisasi dakwah

yang ada di dalam Majlis Rasulullah SAW harus mampu dan memiliki

keahlian dalam manajemen. Sehingga dari setiap masing-masing pengurus

memiliki peran yang sangat penting dalam mengefektifkan kinerja majlis

ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”.

2

M. Munir, Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), cet ke-2, h. 64

3

(14)

Pemimpin merupakan faktor penentu dalam meraih sukses bagi

sebuah organisasi. Sebab pemimpin yang sukses akan mampu mengelola

organisasi, dapat mempengaruhi orang lain secara konstruktif, dan mampu

menunjukkan jalan serta tindakan benar yang harus dilakukan secara

bersama-sama.4

Untuk itu seorang pemimpin harus memiliki keterampilan yang

menjadi unsur bersama di antara tingkatan-tingkatan manajemen yang

berbeda, dimulai dari tingkatan yang paling rendah, tingkatan menengah,

dan sampai pada tingkatan tertinggi.

Maka dari itu, majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” memiliki

cara dalam menghubungkan manajemen dengan dakwah. Sehingga Majlis

Rasulullah SAW menjadi majlis ta’lim terbesar di Indonesia dengan jumlah

jamaah yang mencapai berkisar 30.000 bahkan lebih5 apabila ada

event-event tertentu.

Alasan penulis Majlis Rasulullah sebagai obyek penelitian adalah

karena majlis ta’lim ini merupakan majlis ta’lim terbesar di Indonesia.

Selain itu, untuk mengetahui sejauh mana implementasi fungsi manajemen

yang diterapkan oleh Majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” dalam

mengatur kegiatan dakwah pada Majlis ta’lim tersebut.

Diharapkan dengan penerapan ilmu manajemen dalam dakwah ini,

Majlis Rasulullah SAW ini mencapai tujuan dengan efektif dan efisien

sesuai dengan harapan, yaitu menjadikan Majlis Rasulullah SAW sebuah

4

Ibid, h.211

5

(15)

6

majlis ta’lim yang terorganisir dengan baik dalam kegiatan dakwah dan

dapat menjadikan masyarakat yang nabawiy sehingga Majlis Rasulullah

menjadi majlis ta’lim yang ideal.

Berdasarkan uraian penulis pada latar belakang masalah di atas,

maka penulis mencoba merumuskannya dalam tema skripsi yang berjudul

Analisis Deskriptif Implementasi Fungsi Manajemen Pada Majlis

Ta’lim “Majlis Rasulullah SAW Pancoran Jakarta Selatan”.

B. Fokus dan Pembatasan Masalah

1. Fokus Masalah

Agar pembahasan ini lebih terarah dan fokus, dalam penulisan

skripisi ini maka penulis membatasi permasalahan ini pada, Penerapan

fungsi manajemen pada kegiatan majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”

Pancoran Jakarta Selatan.

2. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas masalah yang dibahas, maka penulis

merumuskan pada:

1. Bagaimana fungsi manajemen diimplementasikan pada majlis ta’lim

“Majlis Rasulullah SAW”

2. Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat pelaksanaan

manajemen pada majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

(16)

a. Mengetahui secara langsung bagaimana implementasi fungsi

manajemen pada majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”.

b. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

manajemen pada majlis ta’lim Majlis Rasulullah SAW”.

2. Manfaat dari penelitian ini adalah

a. Secara akademis diharapkan dapat menambah khazanah peneliti

ilmu pengetahuan khususnya Jurusan Manajemen Dakwah dan

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada umumnya.

b. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan

panduan bagi praktisi dakwah (Pengurus Majlis Rasulullah SAW).

c. Penelitian ini dapat memberikan rekomendasi pada Majlis

Rasulullah SAW dalam meningkatkan kinerja, khususnya dalam

ilmu manajemen dan implementasinya.

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian.

Metode penelitian yaitu prosedur pencarian data, meliputi

penentuan populasi, sampling, penjelasan konsep dan pengukurannya,

cara-cara pengumpulan data dan teknik analisisnya.6 Penulis melakukan

metode penelitian dengan pencarian data, meliputi penentuan populasi,

cara-cara pengumpulan data dan teknik analisis yang penulis gunakan.

Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah

metode deskriptif atau pendekatan yang penulis gunakan adalah metode

6

(17)

8

kualitatif yaitu dengan menghimpun data aktual dengan melakukan

observasi secara langsung atau pengamatan evidensi-evidensi, sambil

mengumpulkan data dan melakukan analisis, yang kemudian menarik

kesimpulan dari analisis tersebut.

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini bertempat di Jl. Cikoko Barat V No. 66

Rt.03/05 Pancoran Jakarta Selatan 12770. Waktu Penelitian pada 10

Februari sampai 20 April 2011.

3. Teknik Pengumpulan Data

Penulis menggunakan teknik pengumulan data sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

dengan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki.7 Penulis

melakukan pengamatan dan catatan dari setiap fenomena-fenomena

yang penulis selidiki pada Majlis Rasulullah SAW. Penulis

menghadiri kegiatan majlis Rasulullah SAW di Masjid AlMunawar

dengan mencatat semua data yang penulis perlukan untuk keperluan

penelitian. Dengan catatan sebagai berikut:

a) Senin, 7 Maret 2011

Penulis menggunakan alat tekhnologi berupa kamera untuk

mencatat dari fenomena yang terjadi yaitu antusiasnya

masyarakat yang menghadiri kegiatan Majlis Rasulullah

SAW.

7

(18)

b) Senin, 4 April 2011

Penulis menggunakan alat tulis untuk mencatat dari

fenomena yang terjadi yaitu kerjasama yang baik dari para

pengurus majlis untuk mempersiapkan kegiatan Majlis

Rasulullah SAW dengan penataan sound system, tersedianya

proyektor, tersedianya pengaturan parkir kendaraan dan

pengurus yang selalu aktif memberikan lembaran jadwal

kepada para jamaah.

b. Interview

Interview yaitu merupakan teknik pengumpulan data dengan

cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan

berdasarkan pada tujuan penelitian.8 Penulis melakukan interview

dengan sekretaris umum yaitu Ust. H. M. Syukron Makmun dan

staff divisi dakwah yaitu Ust. Mustafa Deden. Penulis melakukan

interview dengan alat komunikasi berupa HP untuk merekam dan

alat-alat tulis.

c. Studi dokumentasi

Menurut Winarno Surachmad, pengertian dokumentasi

adalah laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri dari

atas penjelasan dari pemikiran terhadap peristiwa tersebut.9

Dokumentasi yang penulis dapat berupa blog majlis ta’lim tersebut

yaitu www.majelisrasulullah.org dan buku yang diterbitkan dengan

8

Ibid, h. 193

9

(19)

10

judul Kenalilah Akidahmu karangan Pimpinan Majlis Raslullah

SAW. Dari kedua dokumentasi itu penulis melakukan studi

dokumentasi yaitu menganalisis informasi yang penulis dapatkan.

4. Teknik Analisis Data

Setelah data-data yang diperlukan telah dikumpulkan, penulis

melakukan klarifikasi dari hasil temuan yang didapat. Kemudian

melakukan analisis dari hasil temuan tersebut dengan menyesuaikan

antara temuan dan teori yang seharusnya, sehingga penulis dapat

menyimpulkan penelitian ini berdasarkan hasil analisis temuan yang

telah dilakukan dan berdasarkan analisa deskriptif. Teknik penulisan

skripsi ini berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis,

Disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007.

E. Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan skripsi ini, penulis belum menemukan skripsi yang

berjudul Analisis Deskriptif Implementasi Fungsi Manajemen Pada Majlis

Rasulullah SAW, penulis hanya menemukan skripsi dari mahasiswa/i

sebelumnya yang membahas tentang manajemen dakwah namun

permasalahannya sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, untuk menghindari

hal-hal yang tidak diinginkan seperti “menjiplak” hasil karya orang lain,

maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul

masalah yang sedang dibahas yaitu sebagai berikut:

1. Rahmawati, “Manajemen Dakwah Pada Kelompok Usia Dini, Analisis

(20)

oleh mahasiswi Fakultas Ilmu Dakwah dan llmu Komunikasi, Jurusan

Manajemen Dakwah, NIM: 0053019895, Tahun 2008. Masalah: Apa

saja kegiatan dakwah yang dilakukan TKA Nurul Iman pada kelompok

usia dini dan bagaimana aplikasi manajemen dakwah TKA Nurul Iman

dalam menyampaikan nilai-nilai Islam sejak usia dini.

2. Robby Auliya, “Retorika Dakwah Habib Munzir Al Musawa Pada

Majlis Rasulullah SAW Di Masjid Al-Munawar Jakarta Selatan”,

skripsi ini disusun oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, NIM:

106051001874, Tahun 2010. Masalah: Aplikasi retorika dakwah Habib

Munzir Musawa pada Majlis Rasulullah SAW di masjid

Al-Munawar Jakarta Selatan.

Berbeda dengan karya-karya tulis di atas, bahwa penelitian yang

penulis lakukan dengan judul Analisis Deskriptif Implementasi Fungsi

Manajemen Pada Majlis ta’lim “Majlis rasulullah SAW” Pancoran

Jakarta Selatan adalah bertujuan memberikan penilaian secara kritis

tentang pelaksanaan atau manajemen dan sekaligus memaparkan antara

teori dengan realitas yang terjadi di lapangan. Dalam penelitian penulis ini

isinya lebih menitikberatkan terhadap implemetasi fungsi manajemen pada

Majlis Rasulullah SAW.

F. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari 5 (lima) Bab yang masing-masing memiliki

(21)

12

BAB I : PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan

Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi

Penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS TENTANG MANAJEMEN,

DAN MAJLIS TA’LIM

Pengertian Manajemen, Unsur-unsur Manajemen, Fungsi

Manajemen, Pengertian Majlis Ta’lim, Fungsi Majlis Ta’lim.

Pengertian Manajemen Majlis Ta’lim. Fungsi Manajemen

Majlis Ta’lim.

BAB III : GAMBARAN UMUM MAJLIS TA”LIM “MAJLIS

RASULULLAH SAW”.

Gambaran Umum Majlis Ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”,

Sejarah Berdirinya Majlis Rasulullah SAW, Visi, Misi,

Struktur Organisasi, Pembagian Tugas Pengurus, Program

Majlis Rasulullah SAW.

BAB IV : ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI FUNGSI

MANAJEMEN PADA MAJLIS TA’LIM “MAJLIS

RASULULLAH SAW” PANCORAN JAKARTA

(22)

Analisis Implementasi Fungsi Manajemen Pada Majlis

Ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” Pancoran Jakarta Selatan.

BAB V : PENUTUP

(23)

13 BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Manajemen

1. Pengertian manajemen

Aktivitas manusia yang dilakukan sehari-hari tidaklah begitu saja dilalui,

tentu saja memiliki tujuan yang jelas, hal ini dapat terjadi pada perusahaan,

universitas, lembaga, yayasan, dan kegiatan lainnya, kesemuanya tidak terlepas

dari tujuan yang telah direncanakan baik secara bersama atau secara individu.

Untuk pencapaian tersebut, maka diperlukan sebuah manajemen.

Dari segi etimologi, kata manajemen berasal dari bahasa inggris yang

diambil dari kata to manage yang sinonimnya antara lain to hand berarti

mengurus, to control berarti memeriksa, to guide berarti memimpin atau

membimbing. Jadi apabila dilihat dari asal katanya, manajemen berarti

mengurus, mengendalikan, memimpin atau membimbing.1

Menurut T. Hani Handoko, manajemen adalah proses perencanaan,

pengorganisasian , pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota

1

(24)

organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar

mencapai tujuan organisasi yang telah di tetapkan.2

Secara terminologi menurut J. Panglaykin dan Hasil Tanzil dalam bukunya

manajemen suatu pengantar mengatakan bahwa: manajemen adalah seni

kemahiran untuk mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan usaha yang

sekecil-kecilnya untuk memperoleh kemakmuran dan kebahagiaan yang

setinggi-tingginya serta member serius pelayanan yang baik kepada khalayak

ramai.3

Dari penjelasan tentang pengetian manajemen di atas, maka penulis dapat

menyimpulkan sebagai berikut:

a. Manajemen adalah sebagai ilmu Perencanaan, Pengorganisasian,

Penggerakkan, Pelaksanaan dan Pengawasan untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu organisasi.

b. Dengan menggunakan manajemen maka hasil yang di capai menjadi

efisien dan efektif.

c. Harus adanya kerjasama dalam menjalankan manajemen, karena

manajemen adalah upaya dalam sekelompok untuk mencapai tujuan

bersama.

2

T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta,1984), edisi ke-2, h. 8

3

(25)

15

2. Unsur-unsur Manajemen

Agar manajemen dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka

dibutuhkanlah unsur-unsur manajemen. Unsur-unsur manajemen lebih di kenal

dengan 5 M.

Menurut Harrington Emerson dalam Phiffner John F. dan Presthus Robert

V. (1960) manajemen mempunyai lima unsur (5M), yaitu:

(1) Man

(2) Money

(3) Materials

(4) Machines, and

(5) Methods4

a. Man (manusia). Manusialah yang menentukan tujuan dan dia pulalah

yang menjadi pelaku dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan

yang ditetapkannya itu. Tak akan adanya manajemen tanpa adanya

manusia. Manusia yang merencanakan, melakukan, menggunakan,

melaksanakan dan merasakan hasil daripada manajemen itu.

b. Money (Keuangan/pembiayaan. Dalam dunia modern, uang sebagai alat

tukar dan alat pengukur nilai, amat diperlukan untuk mencapai sesuatu

tujuan.

4

(26)

c. Materials (Bahan-bahan/perlengkapan). Faktor material ini sangat

penting, karena manusia tidak dapat berbuat tanpa bahan dan

perlengkapan.

d. Machines (Mesin-mesin). Peranan mesin dalam zaman modern ini tidak

diragukan lagi. Mesin membawa kemudahan dalam pekerjaan,

menyingkat waktu bekerja untuk menghasilkan sesuatu sehingga

keuntungan lebih banyak.

e. Methods (Metode/cara-cara kerja). Yaitu cara melaksanakan sesuatu

pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Cara

kerja yang amat menentukan kelancaran jalannya roda manajemen.5

3. Fungsi Manajemen

Pada tahun 1916, Henry Fayol industriawan Perancis sebagai pelopor

pendekatan fungsional mengemukakan lima fungsi manajemen sekaligus

menandai urutan proses pelaksanaan manajemen yaitu Planning

(perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Command (perintah),

Coordination (koordinasi), dan Control (pengawasan).6

Menurut teori George R. Terry, biasa disingkat dengan POAC, yaitu

Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating

5

Hasanuddin, Manajemn Dakwah, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), cet ke-1, h.33-34

6

(27)

17

(Penggerakkan), Controlling (Pengawasan). Dengan penjelasan sebagai

berikut:7

1. Planning (Perencanaan)

Perencanaan adalah menentukan program apa saja yang akan

dilakukan, bagaimana cara melaksanakannya dan kapan program itu

harus di selesaikan.

2. Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian adalah membagikan tugas kepada para pengelola

sehingga tugas-tugas itu dapat cepat terselesaikan, dan tugas harus di

berikan kepada pengelola yang berwenang dengan harapan hasilnyapun

akan memuaskan, karena telah memberikan tugas kepada yang ahli

dibidangnya.

3. Actuating (Penggerakkan)

Penggerakkan adalah upaya pengelola memberikan motivasi kepada

orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan harapan pekerjaan itu

dilakukan dengan sukarela sehingga menghasilkan pekerjaan yang

efektif dan efisien.

4. Controlling (Pengawasan)

Pengawasan dilakukan agar tugas-tugas yang telah direncanakan

hasilnya akan sesuai dengan harapan. Apabila terjadi penyimpangan

7

(28)

maka dengan adanya pengawasan maka penyimpangan-penyimpangan

itu harus diperbaiki.

B. Majlis Ta’lim

1. Pengertian Majlis ta’lim

Pengertian majlis ta’lim berasal dari bahasa Arab, yaitu majlis dan ta’lim.

Majlis yang artinya tempat duduk, dan ta’lim artinya pengajar atau pengajian.

Jadi majlis ta’lim secara bahasa (lughawi) berarti tempat untuk melaksanakan

pengajaran atau pengajian.

Dalam prakteknya, majlis ta’lim merupakan tempat pengajaran atau

pendidikan agama Islam yang paling fleksibel dan tidak terikat oleh waktu.

Majlis ta’lim bersifat terbuka terhadap segala usia, lapisan atau strata sosial

dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi,

siang, sore atau malam. Tempat pengajarannya pun bisa dilakukan di rumah,

masjid, mushola, gedung, aula dan halaman. Selain itu majlis ta’lim memiliki

dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga non formal.

Fleksibelitas majlis ta’lim inilah yang menjadi kekuatan sehingga mampu

bertahan dan merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling dekat dengan

masyarakat. Majlis ta’lim juga wahana interaksi dan komunikasi yang kuat

antara masyarakat awam dengan para mu’alim dan antara sesama jamaah

(29)

19

Dari definisi di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut:

1. Majlis ta’lim adalah lembaga pendidikan non formal Islam

2. Mempunyai aturan sendiri dari tiap-tiap majlis ta’lim

3. Penyelenggaraan kegiatannya tidak sepanjang hari, tapi rutin dan

teratur setiap minggunya, tidak seperti sekolah yang tiap harinya

masuk.

4. Jamaah terdiri dari lapisan masyarakat, baik dilihat dari segi

pendidikan, umur, sosial, ekonomi dan sebagainya.

2. Fungsi Majlis Ta’lim

Adapun fungsi majlis ta’lim adalah sebagaimana yang telah dirumuskan

ketika membahas pengertian majlis ta’lim adalah sebagai berikut:

a. Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk

masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT.

b. Tempat berlangsungnya silaturahmi yang dapat menghidupkan dakwah

dan ukhuwah Islamiyah.

c. Sebagai sarana dialog yang berkesinambungan antara para ulama

dengan umat.

d. Berfungsi sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi

pembangunan umat khususnya dan bangsa umumnya.

(30)

f. Membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

C. Manajemen Majlis Ta’lim

1. Pengertian Manajemen Majlis Ta’lim

Manajemen majlis ta’lim dapat diberi pengertian sebagai ilmu dan seni

mengelola kegiatan dakwah dengan cara memberdayakan para pelaksana untuk

mencapai tujuan organisasi dakwah dengan memperhatikan lingkungan yang

terus menerus berubah dalam menggunakan sumber daya yang terbatas secara

efektif dan efisien.

Abd. Rosyad Saleh, dengan memperhatikan definisi manajemen yang

dikemukakan George R. Terry, mengartikan manajemen dakwah sebagai

proses merencanakan tugas, mengelompokkan tugas, menghimpun dan

menempatkan tenaga-tenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas itu

dan kemudian menggerakkannya kearah pencapaian tujuan dakwah.8

2. Fungsi Manajemen Majlis Ta’lim

Fungsi manajemen majlis ta’lim pada dasarnya sama dengan manajemen

pada umumnya, meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan

pengawasan, hanya saja dalam fungsi manajemen majlis ta’lim ini

8

(31)

21

berlandaskan pada syari’at Islam. Agar lebih jelas dapat dilihat dalam

pengertian sebagai berikut:

1. Perencanaan Dakwah

a. Perkiraan dan perhitungan masa depan

Dalam hal ini adalah dengan mengadakan suatu tindakan

memperkirakan dan memperhitungkan segala kemungkinan dan

kejadian yang akan timbul dan dihadapi di masa depan berdasarkan

hasil analisa terhadap data dan keterangan yang konkret.

b. Penentuan dan perumusan sasaran dalam rangka pencapaian tujuan

dakwah yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam penyelenggaraan kegiatan dakwah perlu adannya penentuan

sasaran dakwah utnuk menentukan langkah-langkah dan

tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan.

c. Penetapan tindakan-tindakan dakwah dan prioritas pelaksanaanya.

Penetapan tindakan dakwah adalah merupakan penjabaran dari sasaran

dakwah yang ditentukan. Tindakan dakwah ini bersifat pemecahan

terhadap masalah-masalah pokok atau penting dalam rangka

pencapaian sasaran.

(32)

Metode dakwah menyangkut masalah bagaimana caranya dakwah

tersebut dilaksanakan.

e. Penetapan dan penjadwalan waktu.

Penetapan waktu menyangkut urutan pelaksanaan dari masing-masing

tindakan atau kegiatan dakwah yang telah ditentukan serta waktu yang

dipergunakan untuk menyelenggarakan masing-masing tindakan atau

kegiatan.

f. Penetapan lokasi.

Lokasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan dakwah harus ditentukan,

lokasi pun harus disesuaikan dengan keadaan yang ada.

g. Penetapan biaya, fasilitas dan faktor lain yang diperlukan.

Dalam hal ini setiap kegiatan akan berjalan dengan lancar jika adanya

penetapan biaya, fasilitas dan alat-alat perlengkapan yang dapat

disesuaikan dengan keperluan kegiatan-kegiatan yang ada.

2. Pengorganisasian Dakwah

Pengorganisasian dakwah yaitu mengelompokkan tindakan-tindakan

dakwah dalam kesatuan-kesatuan tersebut serta memberikan wewenang

(33)

23

3. Penggerakan Dakwah

Penggerakkan dakwah yaitu menggerakkan para pelaksana dakwah

untuk segera melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditentukan.

Terdapat langkah-langkah dalam penggerakkan dakwah yaitu:

a. Pemberian motivasi

Pemberian motivasi ini adalah bagaimana para pelaku atau pelaksana

dakwah dengan secara tulus ikhlas dan senang hati bersedia

melaksanakan segala tugas dakwah.

b. Pembimbing

Dalam pengerakkan ini perlu adanya pembimbing dan dijuruskan

kearah pencapaian sasaran dakwah yang telah ditentukan.

c. Perjalinan hubungan

Adanya perjalinan hubungan guna mencegah terjadinya kekecewaan,

kekembaran, kekosongan dan sebagainya diantara satu bagian dengan

bagian lainnya.

d. Penyelenggaraan komunikasi

Komunikasi timbal balik antara pelaksanaan dakwah dengan pimpinan

(34)

e. Pengembangan/peningkatan pelaksana

Dalam pengembangan/peningkatan pelaksana ini adalah dengan adanya

kesadaran, kemampuan, keahlian dan keterampilan para pelaku dakwah

selalu ditingkatkan hingga dakwah dapat berjalan secara efektif dan

efisien.

f. Pengawasan Dakwah

Pengawasan dakwah yaitu mengusahakan agar tindakan yang dilakukan

dan hasilnya senantiasa sesuai dengan rencana, instruksi, petunjuk,

pedoman dan ketentuan-ketentuan lain yang telah diberikan

sebelumnya. Terdapat langkah-langkah dalam pengendalian dakwah ini

yaitu:

a. Menetapkan standar (Alat Ukur)

Dengan alat ukur ini barulah dapat dikatakan apakah tugas dakwah

yang telah ditentukan dapat berjalan dengan baik, atau dapat

berjalan tetapi kurang berhasil atau sama sekali mengalami

kegagalan total.

b. Mengadakan pemeriksaan dan penelitian terhadap pelaksanaan

(35)

25

Dalam pemeriksaan dan penelitian ini untuk menilai bagaimana dan

sampai sejauh mana rencana telah ditetapkan itu berhasil dapat

dilaksanakan.

c. Membandingkan antara pelaksanaan tugas dengan standard.

Dalam membandingkan antara pelaksanaan tugas dengan standard

ini dapat menilai apakah hasil yang ada dengan hasil yang

seharusnya dicapai dalam proses dakwah berjalan dengan baik atau

sebaliknya telah terjadi penyimpangan-penyimpangan.

d. Mengadakan tindakan-tindakan perbaikan dan pembentulan.

e. Dari langkah-langkah sebelumnya akan terlihat hasil penilaian yang

ada, pada tahap terakhir ini akan terlihat apakah perlu dilakukannya

(36)

26

1. Sejarah Berdirinya Majlis Rasulullah SAW

Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk berdakwah menyebarkan

agama Islam dan menyampaikan kebenaran untuk mewujudkan

kesungguhan/keyakinan akan satu-satunya agama yang benar dan diridhoi

Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam”.

(QS.Ali Imran:19).

Ketika kita menghadapkan wajah untuk melihat realita perkembangan

Islam di Indonesian dewasa ini telah menunjukkan peningkatan kemajuan yang

cukup menggembirakan. Banyak dari umat Islam ini memberi andil dalam

kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya atau mengambil peran dalam

kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, sepanjang sejarah umat Islam,

setiap perkembangan yang dicapai selalu dicurigai akan membawa dampak

bagi umat lain, meskipun tanpa bukti yang kuat maupun bagi umat Islam itu

sendiri yang kurang memahami konsep kehidupan beragama menurut ajaran

Islam yang benar. Hal ini ditandai oleh sikap sementara umat Islam yang

(37)

27

dan jihad. Sikap seperti ini yang mengakibatkan munculnya opini yang salah di

luar Islam, sehingga mencemarkan Islam itu sendiri.

Adalah benar bahwa Islam merupakan agama yang harus

disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia, namun dalam upaya tersebut Islam

memiliki konsep yang arif dan bijaksana serta harus dimengerti dan dipatuhi.

pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An -Nahl:125)

Hikmah dan pelajaran yang baik tersebut tidaklah dapat terwujud tanpa

mengagungkan syiar-syiar Allah SWT dan syiar-syiar tersebut ada di dalam

setiap perintah-perintah Allah SWT.

Artinya: “Demikianlah (perintah-perintah Allah SWT) dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah SWT, maka sesungguhnya hal itu merupakan ketakwaan dalam hati”. (QS. Al-Hajj:32).

Dakwah adalah salah satu dari perintah-perintah Allah SWT, sementara

dakwah tersebut haruslah memiliki wadah untuk menyebarluaskan hikmah dan

pelajaran yang baik dari ajaran-ajaran dalam agama Islam sehingga latar

belakang atau landasan tersebut maka Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

(38)

Nama “Majlis Rasulullah SAW” dalam aktifitas dakwah ini berawal

ketika Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa lulus dari studynya di Darul

Mustafa pimpinan Al Allamah Al Hafidh Al-Musnid Al Habib Umar bin

Hafidh, Tharim Hadramaut, Yaman. (Al hafidh adalah gelar bagi ulama hadits

yang telah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Al musnid

adalah pakar hadits yang banyak menyimpan sanad hadits). Ia kembali ke

Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang

bertaubat dan mencintai Nabi Muhammad SAW yang dengan kecintaan itu

ummat akan mencintai sunnahnya dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai

idola.

Habib Munzir bin Fuad Al Musawa mulai berdakwah siang dan malam

dari rumah ke rumah. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Habib

Munzir Al Musawa mulai membuka majlis setiap Senin malam sebagaimana

gurunya Al Habib Umar bin Hafidh yang membuka majlis mingguan setiap

Senin malam dan ia pun sempat memimpin Ma’had Assa’adah, yang

diwakafkan oleh Habib Umar bin Hud Al Attas di Cipayung Bogor, namun

setelah setahun, Habib Munzir Al Musawa tidak lagi meneruskan memimpin

Ma’had tersebut dan melanjutkan dakwahnya dengan menggalang

majlis-majlis di seputar Jakarta.

Pada awalnya dakwah Habib Munzir membuka majlis Senin malam

dari rumah ke rumah mengajarkan fiqh dasar, namun tampaknya jamaah saat

(39)

29

sehingga Habib Munzir terus mencari sebab agar jamaah ini asyik kepada

kedamaian, meninggalkan kemungkaran dan mencintai sunnah Nabi SAW,

maka Habib Munzir mencoba berubah metode penyampaiannya, mewarnai

bimbingannya dengan nasehat-nasehat mulia dari hadits-hadits Rasulullah

SAW dan ayat-ayat Al-qur’an dengan amr ma’ruf nahi munkar serta ia

memperlengkap penyampaiannya dengan bahasa sastra yang dipadu dengan

kelembutan Illahi dan tafakkur penciptaan alam semesta yang semuanya di

arahkan agar masyarakat menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola, panutan

dan sandaran. Maka jamaah pun semakin padat yang mayoritas para pemuda

muslimin dan pemudi muslimah.

Dalam keadaan seperti itu Habib Munzir Al Musawa memindahkan

majlis dari mushola ke mushola, ternyata mushola tidak lagi mampu

menampung jamaah maka Habib Munzir Al Musawa memindahkan majlisnya

dari masjid ke masjid secara bergantian. Waktu demi waktu majlis ini terus

berjalan dan mulailah timbul permintaan agar majlis ini diberi nama dan secara

spontan Habib Munzir Al Musawa dengan polos menjawab “Majlis Rasulullah

SAW”, dengan alasan pembahasan yang disampaikan tidak lain adalah ajaran

Rasulullah SAW dan membimbing mereka para jamaah untuk mencintai Allah

dan Rasul-Nya. Itulah hakekat dari setiap/seluruh majlis ta’lim termasuk

Majlis Rasulullah SAW.

Habib Munzir Al Musawa terus memperluas syiar dakwah Rasulullah

(40)

seluruh wilayah pulau Jawa. Majlis Rasulullah SAW tersebar disepanjang

pantai utara pulau Jawa dan pantai selatan, Bali, Mataram, Singapura,

Malaysia dan saat ini telah merambah ke Australia. Dan dakwah yang

dilakukan oleh beliau diperlengkap dengan mengisi acara-acara yang bersifat

religi stasiun-stasiun televisi swasta, VCD, majalah bulanan dan lain-lain. Kini

anugerah Illahi telah merestui majlis Rasulullah SAW untuk memperluas

jaringan melalui internet dengan website www.majelisrasulullah.org

2. VISI

Visi Majlis Rasulullah SAW adalah menjadikan masyarakat dapat

mengenal secara menyeluruh sosok kemuliaan dan keagungan Rasulullah

SAW, dengan mengenalnya akan bangkitlah kecintaan kepada

sunnah-sunnahnya dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola dan sandaran.

Sehingga terciptalah masyarakat yang nabawiy.

3. MISI

1. Menghasilkan masyarakat yang menjadikan Rasulullah sebagai idola.

2. Mengerakkan kelembagaan Islam secara efektif.

3. Membina umat Islam dalam menanamkan dan memupuk akidah Islamiyah.

4. Menjalankan syari’at demi terciptanya khairu ummah (umat terbaik).1

1

(41)

31

4. Struktur Organisasi Majlis Rasulullah SAW2

(42)

5. Pembagian Tugas Pengurus

a. Pimpinan/Pembina

1) Memimpin langsung Majlis Rasulullah SAW di bawah kewenangannya

dan memegang kebijaksanaan luar dan dalam.

2) Sebagai motivator serta tanggung jawab terhadap pelaksanaan Majlis

Rasulullah SAW

b. Wakil

1) Memimpin para anggotaa organisasi di bawah koordinasinya dalam

pelaksanaan kegiatan majlis ta’lim agar menjadi efektif dan efisien.

2) Memiliki kewenangan dalam memegang kebijaksanaan dari pimpinan.

c. Bendahara (keuangan)

1) Mengupayakan pemasukan keuangan agar lancar dan teratur.

2) Menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang atas persetujuan

pimpinan.

3) Membuat laporan pertanggungjawaban kepada Majlis Rasulullah SAW.

d. Sekretaris

1) Memimpin dan mengendalikan fungsi sekretariat secara keseluruhan.

2) Mengatur dan menyimpan dokumen-dokumen Majlis Rasulullah SAW.

e. Ketua Divisi Dakwah

1) Memimpin kegiatan dakwah Majlis Rasulullah SAW dalam setiap

(43)

33

2) Memiliki kewenangan dalam melayani kemasyarakatan mengenai Majlis

Rasulullah SAW.

f. Ketua Divisi Tijariyah (perdagangan)

1) Memimpin kegiatan perdagangan, agar tidak menganggu pelaksanaan

kegiatan Majlis Rasulullah SAW.

2) Mengawasi barang-barang yang di jual, sehingga sesuai dengan prosedur

dan kebutuhan jamaah Majlis Rasulullah SAW.

g. Ketua Divisi Nasyidah Dakwah

1) Memimpin kegiatan nasyid

2) Membawakan lagu nasyid yang berbeda-beda dalam setiap acara majlis,

sehingga jamaah bisa mengetahui beberapa syair dakwah lainnya.

h. Ketua Divisi Tekhnologi

1) Memimpin siaran dakwah melalui alat tekhnologi, seperti website, radio

dan televisi.

2) Mengatur program-program dakwah Majlis Rasululullah SAW melalui

alat-alat tekhnologi.3

6. Program Majlis Rasulullah SAW

Adapun mengenai program-program yang dirancang oleh majlis ta’lim

“Majlis Rasulullah SAW” dan telah dilaksakana di majlis ta’lim yaitu:

3

(44)

1. Program pengajian mingguan

Dalam program ini dilaksanakan sebuah pengajian untuk kaum

ibu/remaja putri ini dilaksanakan setiap hari Sabtu, pukul 15.30-17.00. untuk

pengajian umum dilaksanakan setiap Senin dan Kamis malam, pukul

20.30-22.30. Untuk hari lain pengajian Majlis Rasulullah ditentukan sesuai

undangan.

Pengajian ini dibimbing oleh Habib Munzir Al-Musawa dengan metode

ceramah dan tanya jawab seputar keagamaan yang belum dimengerti oleh

jamaah. Pengajian ini terlebih dahulu diawali dengan membaca maulid

Addhiya’ullami yang dituliskan oleh imam guru besar Alhabib Umar bin

Hafidh dan shalawat-shalawat Nabi dilanjutkan dengan kajian kitab fiqh dan

hadits.

2. Penentuan program Majlis Rasulullah SAW

Dalam penetapan program majlis ta’lim ini dilaksanakan setahun

beberapa kali dalam rapat kepengurusan. Program-program yang dihasilkan

tentunya tidak jauh dari pelaksanaan pendalaman ajaran agama Islam untuk

menambah kekuatan imam dan pengaktualisasian nilai-nilai dan ajaran-ajaran

(45)

35

3. Program anak asuh dari Papua

Program ini berjalan karena kepedulian Habib Munzir Al Musawa yang

pada saat itu berdakwah ke pulau Papua, saat itu masyarakat Papua sangat jauh

dari pemahaman agama Islam, sehingga Habib Munzir Al Musawa

memutuskan untuk mendidik mereka dengan mengenalkan sosok Rasulullah

SAW sebagai panutan dalam hidup.

4. Perjalanan wisata agama

Kegiatan ini dilaksanakan dalam seminggu sekali. Perjalanan wisata

agama yaitu ziarah ke berbagai makam para Habaib dan Ulama di seputar

Jakarta seperti Luar Batang, Kwitang, Priok dan Kalibata. Perjalanan wisata

agama ini juga diharapkan dapat menambah khazanah keislaman tentang Islam

dan diharapkan juga menambah kecintaan kepada para guru besar alim ulama.

5. Peringatan hari-hari besar Islam

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian untuk memeriahkan dan

mengenang hari-hari yang bersejarah dalam Islam yang kemudian

mereflesikan nila-nilai itu dalam kehidupan sekarang. Seperti peringatan

(46)

momentum itu dijadikan sebagai penyandaran akan kehadiran Nabi

Muhammad diutus oleh Allah yaitu memperbaiki akhlak manusia.4

4

(47)

37 BAB IV

ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI FUNGSI MANAJEMEN

PADA MAJLIS TA’LIM “MAJLIS RASULULLAH SAW”

PANCORAN JAKARTA SELATAN

A. Analisis Implementasi Fungsi Manajemen Pada Majlis Ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW”

Majlis ta’lim yang ideal adalah apa yang diharapkan pada sebuah majlis

ta’lim itu tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tentunya ada

penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diterapkan dalam sebuah majlis

ta’lim. Fungsi-fungsi itu di antara lain: perencanaan, pengorganisasian,

penggerakkan dan pengawasan. Fungsi-fungsi harus dilaksanakan dengan

baik. Hal ini juga dilaksanakan dengan baik oleh majlis ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW”.

Setelah penulis mengadakan penelitian pada majlis ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW” sudah banyak fungsi manajemen terlaksana dengan baik

walaupun masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Berikut penulis

uraikan hasil penelitian di majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” tentang

implementasi fungsi-fungsi manajemen.

a. Fungsi perencanaan (Planning)

Setiap usaha apapun tujuannya hanya dapat berjalan secara efektif dan

efisien bilamana sebelumnya sudah dipersiapkan dan direncanakan terlebih

(48)

segi-segi yang luas itu pun hanya dapat berlangsung dengan efektif dan

efisien bilamana sebelumnya sudah dilakukan tindakan-tindakan persiapan

dan perencanaan secara matang.1

Majlis Rasulullah SAW memutuskan sebuah perencanaan dengan

memperkirakan kejadian-kejadian di masa yang akan datang yang kemudian

dijadikan kegiatan-kegiatan program untuk dilakukan ke depan, bagaimana

prosedur terbaik untuk melaksanakan program agar tujuan dapat tercapai dan

juga menetapkan jadwal kapan sebuh program harus dilakukan serta

menetapkan anggaran yang harus dikeluarkan dalam setiap kegiatan.

Berikut aktifitas-aktifitas (kegiatan) dalam perencanaan majlis ta’lim

“Majlis Rasulullah SAW”:

1) Penentuan Peramalan (Forecasting)

Sebagai sesuatu yang mendasar dalam sebuah manajemen maka

dalam pelaksanaan perencanaan, hal-hal yang berkaitan dengan

perencanaan harus diperhatikan dengan seksama, salah satunya adalah

menentukan peramalan dan perkiraan. Peramalan adalah suatu prediksi

tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang

akan datang, seperti halnya kondisi situasi keamanan bangsa dan

sesuatu yang tidak diketahui di masa yang akan datang lainnya.

Dalam penentuan peramalan penulis menganalisis bahwa Majlis

Rasulullah SAW sudah melakukan hal tersebut dalam penyusunan

1

(49)

39

perencanaan kegiatan Majlis Rasulullah SAW dengan memperkirakan

bagaimana keadaan bangsa kedepannya dan apa yang harus dilakukan

Majlis Rasulullah SAW untuk meningkatkan kegiatan dakwah sehingga

menjadi lebih baik untuk kedepannya.

2) Penentuan Maksud dan Tujuan (Objectives)

Segala program yang telah ditentukan tentunya harus memiliki

tujuan masing-masing. Tanpa adanya tujuan yang hendak dicapai maka

apalah artinya sebuah program itu dilakukan. Penentuan tujuan ini tentu

bersamaan dengan penentuan program yang akan dilakukan.

Tujuan majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW” adalah :

a) Menghasilkan masyarakat yang menjadikan Rasulullah sebagai

idola.

b) Menciptakan masyarakat yang nabawiy.

c) Mengerakkan kelembagaan Islam secara efektif.

d) Membina umat Islam dalam menanamkan dan memupuk akidah

Islamiyah.

e) Menjalankan syari’at demi terciptanya khairu ummah (umat

terbaik).

Dalam penentuan maksud dan tujuan penulis menganalisis bahwa

tujuan yang tersusun dalam program Majlis Rasulullah SAW sudah

tercapai tetapi belum maksimal. Karena masyarakat pada umumnya

(50)

tetapi jika dibandingkan beberapa majlis ta’lim yang lain, Majlis

Rasulullah sudah melakukan yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

3) Penyusunan Program Kerja (Programming)

Program adalah rancangan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan

oleh sebuah organisasi. Dalam penyusunan program ini, majlis ta’lim

Majlis Rasulullah SAW menentukanya dalam jangka waktu harian,

mingguan dan bulanan.

a) Jadwal kegiatan harian Majlis Rasulullah SAW

Dilaksanakan setiap Selasa malam sampai Minggu malam,

pukul 20.30-22.30, kegiatan ini dilaksanakan sesuai undangan.

b) Jadwal kegiatan mingguan Majlis Rasulullah SAW

Dilaksanakan setiap Senin malam, Kamis malam, pukul

20.30.-22.30 dan sabtu malam pukul 22.00-23.00 khusus untuk ziarah.

c) Jadwal kegiatan bulanan Majlis Rasulullah SAW

Dilaksanakan setiap sebulan sekali sesuai dengan permintaan

undangan, dan untuk program ini dikhususkan perwalikota di

Jakarta.

Dalam penyusunan program kerja Penulis menganalisis

bahwa Majlis Rasulullah SAW merupakan majlis ta’lim yang

terstruktur dengan baik. Dengan penyusunan yang baik ini maka

jamaah pun merasa nyaman ketika mengikuti kegiatan majlis ta’lim

(51)

41

4) Penentuan Jadwal Pelaksanaan Program Kegiatan

Dalam penyusunan jadwal kegiatan atau tata waktu disesuaikan

dengan program yang dilakukan dan sesuai dengan situasi kondisi

masyarakat. Jadwal adalah penetapan waktu untuk melaksanakan

program-program yang sudah ditentukan dan waktu sebuah program

harus dijalankan. Berikut jadwal kegiatan majlis ta’lim “Majlis

Rasulullah SAW”, sesuai dengan lampiran.

Dalam penyusunan jadwal pelaksanaan program kegiatan penulis

menganalisis bahwa penyusunan jadwal kegiatan yang disusun oleh

Organisasi Majlis Rasulullah SAW sudah tersusun dengan baik dan

program yang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat.

5) Penentuan Prosedur untuk Pelaksanaan Kegiatan

Prosedur adalah metode atau cara yang digunakan dalam

melaksanakan suatu pekerjaan. Tanpa adanya prosedur maka dapat

dikhawatirkan pelaksanaan jalannya lembaga akan kacau. Setiap semua

kegiatan jika ingin tecapai maka memerlukan sebuah metode atau cara

yang efektif dan efisien.

Pada umumnya seluruh kegiatan yang dilakukan majlis ta’lim

“Majlis Rasulullah SAW” disesuaikan dengan sasaran yaitu menjadikan

masyarakat yang nabawiy, yaitu dengan menjadikan Rasulullah SAW

sebagai idola dengan menggunakan metode ceramah dan mengkaji

(52)

Dalam penentuan prosedur pelaksanaan kegiatan Penulis

menganalisis bahwa metode yang dilakukan oleh Majlis Rasulullah

SAW dengan menggunakan metode ceramah. Dengan metode ini

adalah metode yang tepat. Dengan jumlah jamaah yang begitu banyak

maka metode ceramahlah yang bisa diterima oleh para jamaah.

6) Penentuan Anggaran Kegiatan

Setelah dirumuskan program kegiatan, jadwal kegiatan dan tujuan

kegiatan maka langkah selanjutnya adalah menentukan anggaran untuk

kegiatan. Anggaran adalah merupakan ongkos biaya yang dikeluarkan

dalam proses pelaksanaan organisasi. Anggaran juga adalah hal yang

sangat penting untuk keberhasilan sebuah organisasi dalam

melakasanakan kegiatannya maka dalam penyusunan anggaran harus

benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang harus dikeluarkan oleh

sebuah organisasi dan jika tidak memperdulikan anggaran yang

proporsional maka kemungkinan dalam pelaksanaan akan mengalami

kegagalan. Contoh anggaran majlis ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”,

yaitu:

Pemasukan anggaran dari sumbangan jamaah berkisar

Rp.5.000.000. setiap 2 pertemuan, yaitu senin malam dan kamis malam.

Anggaran yang dikeluarkan berkisar Rp.5.000.000.

(53)

43

Keamanan Rp 1.000.000

Konsumsi Rp 500.000

Jumlah Rp 5.000.000

Dengan adanya penentuan anggaran kegiatan ini Penulis

menganalisis bahwa majlis Rasulullah SAW merupakan majlis yang

sungguh bertujuan menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola bagi

masyarakat tanpa mengharapkan keuntungan dari masyarakat itu

sendiri. Data yang penulis dapatkan bahwa anggaran yang Majlis

Rasulullah SAW dapatkan dari jamaah itu diberikan lagi kepada jamaah

yaitu berupa terlaksananya kegiatan majlis ta’lim.

b. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)

Setelah rencana tersusun dengan rapi maka langkah selanjutnya adalah

mendelegasikan kegiatan-kegiatan itu atau penugasan tanggung jawab.

Pembagian kewenangan-kewenangan dan tanggung jawab dalam suatu

organisasi tercermin pada pembentukan bagan berupa unit-unit kerja yang

terdapat dalam organisasi.

Pada tahap penerapan fungsi organisasi ini, Majlis Rasulullah SAW

menentukan tempat beserta para pelaksanaanya yang diatur dalam kerangka

struktur sekaligus pembagian tugas dan wewenang serta tanggung jawabnya

(54)

sebagai pelaksana dakwah pada Majlis Rasulullah SAW. Pelaksana adalah

semua personal (crew) yang telibat langsung akan terselenggaranya

pelaksanaan proses kegiatan majlis ta’lim. Tugas dan wewenang tersebut

adalah sebagai berikut.

a. Pimpinan/Pembina

1) Memimpin langsung Majlis Rasulullah SAW di bawah

kewenangannya dan memegang kebijaksanaan luar dan dalam.

2) Sebagai motivator serta tanggung jawab terhadap pelaksanaan Majlis

Rasulullah SAW

b. Wakil

1) Memimpin para anggotaa organisasi di bawah koordinasinya dalam

pelaksanaan kegiatan majlis ta’lim agar menjadi efektif dan efisien.

2) Memiliki kewenangan dalam memegang kebijaksanaan dari

pimpinan.

c. Bendahara (keuangan)

1) Mengupayakan pemasukan keuangan agar lancar dan teratur.

2) Menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang atas persetujuan

pimpinan.

3) Membuat laporan pertanggungjawaban kepada Majlis Rasulullah

SAW.

d. Sekretaris

(55)

45

2) Mengatur dan menyimpan dokumen-dokumen Majlis Rasulullah

SAW.

e. Ketua Divisi Dakwah

1) Memimpin kegiatan dakwah Majlis Rasulullah SAW dalam setiap

pelaksanaan.

2) Memiliki kewenangan dalam melayani kemasyarakatan mengenai

Majlis Rasulullah SAW.

f. Ketua Divisi Tijariyah (perdagangan)

1) Memimpin kegiatan perdagangan, agar tidak menganggu pelaksanaan

kegiatan Majlis Rasulullah SAW.

2) Mengawasi barang-barang yang dijual, sehingga sesuai dengan

prosedur dan kebutuhan jamaah Majlis Rasulullah SAW.

g. Ketua Divisi Nasyidah Dakwah

1) Memimpin kegiatan nasyid

2) Membawakan lagu nasyid yang berbeda-beda dalam setiap acara

majlis, sehingga jamaah bisa mengetahui beberapa syair dakwah

lainnya.

h. Ketua Divisi Tekhnologi

1) Memimpin siaran dakwah melalui alat tekhnologi, seperti website,

radio dan televisi.

2) Mengatur program-program dakwah Majlis Rasululullah SAW

(56)

Dalam fungsi pengorganisasian Penulis menganalisis bahwa Majlis

Rasulullah SAW sudah menjadi organisasi yang baik. Majlis

Rasulullah SAW menempatkan para pengurus kegiatan majlis ta’lim

yaitu pada keahlian/bidangnya masing-masing. Bahwasanya suatu

pekerjaan jika dikerjakan oleh ahlinya maka pekerjaan itu memiliki

hasil yang baik.

c. Fungsi Penggerakkan/Pelaksanaan

Setelah perencanaan dakwah telah ditetapkan, begitu pula pembagian

tugas dan wewenang telah dilaksanakan maka tindakan berikutnya adalah

menggerakkan seluruh pelaksana untuk menjalankan tugas yang telah

didelegasikan, yaitu merupakan suatu kegiatan untuk menggabungkan

usaha-usaha dari suatu kelompok, sehingga melalui tugas-tugas mereka dapat

terpenuhi tujuan-tujuan pribadi dan kelompok.

Penulis menganalisis bahwa penggerakkan Majlis Rasulullah SAW ini

adalah pelaksanaan program kegiatan majlis ta’lim yang disesuaikan dengan

ketetapan dari pimpinan. Dalam menjalankan program ini pimpinan Majlis

Rasulullah SAW selalu memberikan motivasi kepada seluruh staf dan

anggota organisasi. Tidak hanya itu pimpinan juga membimbing dan

menjalin pengertian di antara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan

(57)

47

Dalam rangka memberikan motivasi, membimbing dan menjalin

pengertian serta meningkatkan kemampuan para staf dan anggota organisasi

maka pimpinan Majlis Rasulullah SAW melakukan pertemuan rutin setiap

bulannya yang pada dasarnya berintikan:

1) Arahan, bimbingan, motivasi dan pembinaan terhadap pelaksana

administrasi kegiatan Majlis Rasulullah SAW.

2) Pembuatan program bulanan.

3) Forum tukar pendapat dan diskusi.

d. Fungsi Pengawasan dan Evaluasi

Pimpinan Majlis Rasulullah SAW melakukan pengendalian sekaligus

evaluasi agar dapat mengambil tindakan-tindakan pencegahan terhadap

kemungkinan terjadinya penyimpangan. Begitu pula dengan menghentikan

kekeliruan dan penyimpangan yang sedang berlangsung. Dengan tindakan

preventif dan refresif itu dapatlah dihindarkan terjadinya hal-hal yang tidak

diinginkan dan proses dakwah dapat diarahkan pada sasaran yang telah

ditetapkan.

Penggerakkan dan pengendalian dalam rangka penilaian ini selain untuk

pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya penyimpangan,

juga sebagai peningkatan dan penyempurnaan terhadap proses dakwah untuk

(58)

Dalam pengawasan dan evaluasi Penulis menganalisis bahwa fungsi

manajemen ini sudah diterapkan oleh Majlis Rasulullah SAW. pimpinan

Majlis Rasulullah SAW selalu mengawasi kinerja para pengurus majlis ta’lim

tersebut dengan cara mendiskusikan kepada para ketua divisi masing-masing.

Jika terdapat pengurus yang membutuhkan motivasi maka secara khusus

Pimpinan Majlis Rasulullah SAW memberikannya dengan harapan para

pengurus menjadi lebih semangat dalam melaksanakan program kegiatan

dakwah.

B. Faktor pendukung dan penghambat

1. Faktor Pendukung

Faktor pendukung majlis ta’lim Majlis Rasulullah SAW adalah sebagai

berikut:

a. Respon yang baik dari jamaah terhadap aktivitas Majlis Rasulullah

SAW.

b. Adanya kerjasama dengan media cetak dan elektronik, sehingga

dakwah dapat berjalan dengan baik.

c. Didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten dibidangnya,

sehingga pelaksanaan dakwah berjalan dengan efisien.

d. Bekerjasama dengan aparat pemerintah setempat dalam

menyelenggarakan aktivitas dakwah.

2. Faktor Penghambat

Merupakan hal yang wajar dan lumrah apabila dalam pelaksanaan

(59)

49

bagian yang senantiasa bergulir di tengah-tengah proses berlangsungnya

sebuah kegiatan. Demikian juga halnya dengan dakwah yang dilakukan

Majlis Rasulullah SAW ada saja hambatan-hambatan yang menghadang

untuk menuju kesuksesan. Walaupun ada hambatan pihak majlis ta’lim

tersebut berusaha menghadapi dengan kepala dingin.

Faktor Dana, faktor ini membuat majlis ta’lim tidak hanya sulit

mengembangkan kegiatan, untuk pelaksanaan acara dibutuhkan sarana

yang nyaman bagi para jamaah dalam melakukan kegiatan majlis ta’lim.

Dari hambatan di atas maka para pengurus dapat meminimalisir

kejadian-kejadian yang tidak diharapkan di masa depan. Hambatan yang

muncul sebaiknya diatasi sesegera mungkin. Namun, kesemuanya itu

terpulang kembali kepada faktor manusianya, yakni para pengurus Majlis

Rasulullah SAW dan jamaahnya, mampukah mereka mengatasi

kesemuanya itu dengan baik atau tidak. Dalam hal ini penulis

memberikan solusinya dalam mengatasi problematika majlis ta’lim yaitu

dengan kerjasama. Hubungan kerjasama pimpinan dengan pengurus

dalam mengelola majlis ta’lim, jamaah sangat diperlukan rasa solidaritas

guna mengatasi berbagai problematika majlis ta’lim. Tanpa kerja sama,

masalah tetap tinggal masalah. Kerja sama juga dapat meringankan

(60)

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan implementasi fungsi manajemen di atas maka penulis

dapat menyimpulkan bahwa:

1. Implementasi fungsi manajemen pada Majlis Rasulullah SAW sudah

berjalan dengan baik dalam upaya pengembangan dakwah yang terdiri dari

fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan

sebagai proses yang berkelanjutan dapat dikatakan sudah cukup maksimal,

seperti:

a. Memiliki perencanaan yang matang sebelum melakukan kegiatan.

Seperti bagaimana menentukan program, tujuan dan metode dengan

baik.

b. Dalam pengorganisasian Majlis Rasulullah SAW sudah meningkatkan

kinerja yang baik.

c. Pimpinan Majlis Rasulullah SAW sudah menjadi penggerak yang baik

akan kegiatan dakwah ini terlihat dari proses pelaksanaan fungsi

manajemen yang sesuai dengan prinsip manajemen.

d. Evaluasi dalam organisasi sangatlah penting guna untuk menjadikan

Gambar

Gambaran Umum Majlis Ta’lim “Majlis Rasulullah SAW”,
GAMBARAN UMUM MAJLIS RASULULLAH SAW

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa penggunaan TDT sebagai sumber protein hewani memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan

Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan Sistem Penamaan Domain atau domain name system, yang kini kita kenal dengan

Sikap, sifat, dan etika kepribadian yang harus dimiliki oleh hakim seperti telah diuraikan di atas selanjutnya diimplementasikan di persidangan pada saat hakim menjalankan

Dalam kenyataan kita melihat orang cenderung ber-spesialisasi; ada yang menjadi pengusaha sepatu, menjadi petani, menjadi pialang, penjual roti, dosen, dokter gigi, ahli

Kemerdekaan dan kebebasan kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan lainnya antara lain adalah terhadap kekuasaan pemerintahan (eksekutif). Sebelum reformasi, politik

Meskipun media ini tidak memberikan pengalaman langsung kepada siswa karena tidak menggunakan alat-alat yang konkrit, namun penggunaan media virtual seperti PhET lebih

Dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat tembusan faktur penjualan kedalam kartu piutang atau dalam metode pencatatan tertentu mengarsipkan dokumen tembusan

Cara lain untuk menentukan jenis turbin yang akan digunakan adalah dengan cara mengetahui tinggi terjun air berdasarkan tabel dibawah ini :.