• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Naratif Kitab Bula Malino Dan Pesan Dakwah Dalam Baris 332-383

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komunikasi Naratif Kitab Bula Malino Dan Pesan Dakwah Dalam Baris 332-383"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

DAN PESAN DAKWAH DALAM BARIS 332-383

Skirpsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom.I)

Oleh

La Ode Chusnul Huluk NIM: 109051000058

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PERNYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 (S1) di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Semua sumber yang digunakan dalam penulisan ini telah dicantumkan sesuai

ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika kemudian terbukti bahwa karya ini bukan karya asli peneliti atau

merupakan hasil jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia menerima

konsekuensi sesuai yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 28 September 2014

(5)

Komunikasi Naratif Kitab Bula Malino dan Pesan Dakwah dalam Baris 332-383 Kitab Kabanti Bula Malino adalah syair yang ditulis oleh Muhammad Idrus Kaimuddin pada tahun 1824 M, sebagai bentuk upaya melestarikan kebudayaan Islam di masa itu. Dalam perkembangan kajiannya, kitab ini megandung ajaran-ajaran dakwah serta ajaran religionitas. Salah satu syair agama Sultan Buton ke-29 tersebut memuat tentang cerita manusia yang pasti akan mati sehingga menasehati dirinya agar cenderung pada kebajikan dan jauh dari kemungkaran untuk sebuah tujuan menjadi manusia yang husnul khatimah.

Dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan penelitian, bagaimana narasi dakwah dalam cerita pengarang dalam kitab tersebut? Bagaimana rangkaian atau relasi petanda perstiwa dalam narasi kitab tersebut dilihat dari karakteristik narasi? Apa pesan dakwah dalam baris 332-383 dalam kitab yang berbentuk tulisan aksara arab-wolio tersebut. Adapaun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana aktan Greimas dalam narasi kitab dan mengetahui pesan dakwah apa yang terkandung dalam baris 332-383.

Teori yang digunakan dalam pembahasan ini adalah Model Atan Algridas Julian Greimas yang akan melihat enam petanda dan bagaimana keterkaitan tanda tersebut dalam narasi yang koheren serta bersifat logis dalam kitab yang dikaji. Komunikasi naratif tersebut akan memunculkan peran-peran apa saja dalam syair agama tersebut. Sedangkan metodologi yang digunakan dalam pembahasan skripsi ini adalah kualitatif, yaitu melakukan wawancara langsung kepada para praktisi syair juga pemegang naskah syair tersebut. Kemudian mengumpulkan, menyusun, menerjemahkan kembali dan menganalisis naskah kitab tersebut.

Upaya Idrus, sebagai narator, menulis rangkaian nasehat untuk dirinya yang relevan dengan perintah QS Ali Imran [3]: 104 mengenai amar ma’ruf dan nahi munkar. Kita Bula Malino memuat rangkaian narasi yang mempunyai koherensi dengan logika kehidupan nyata yang mana alur narasinya tidak acak (random). Secara terstruktur dan teratur penulis kitab menarasikan perjalanan manusia agar mencapai tujuan husnul khatimah. Sehingga, pembaca akan terkonstruk masuk ke dalam isi kitab yang narasinya memukau tersebut.

Kabanti Bula Malino merepresentasikan dakwah melalui narasi dalam tulisan kitab kepada masyarakat buton. Media dakwah dalam bentuk kitab ini sudah merambah ke masyarakat baik berbentuk buku transliterasi maupun dalam bentuk kaset VCD. Bukti kefamiliaran syair tersebut diperkuat dengan adanya kajian dalam bentuk buku. Namun, seyogyanya kitab tersebut dapat diformulasikan dengan gerakan dakwah masa kini hingga bisa dikembangkan dalam bentuk Ebook bahkan menjadi sebuah aplikasi telepon genggam “Andrioid”.

(6)

Bismillahhirahmanirrahim

Alhamdulillah serta rasa syukur yang besar peneliti panjatkan kepada

Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan limpahan nikmat yang begitu

banyak. Sehingga dengan segala ridho Allah SWT peneliti dapat merampungkan

skripsi ini. Tanpa semua nikmat yang diberikan oleh-Nya, penelitian dan

penyusunan penelitian ini mungkin takkan selesai.

Shalawat teriring taslim senatiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad

SAW dan seluruh keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya, yang telah

mengalirkan syiar dakwah hingga terasa sampai saat ini. Proses perkembangan

gerakan dakwah pada zamannya menjadi inspirasi sejumlah ulama untuk menulis

dan membukukannya pada konteks dakwah masa khilafah hingga saat ini.

Kabanti Bula Malino merupakan Karya Agung Sultan Muhammad Idrus

Kaimuddin di Buton pada tahun 1824 M. Pesan dakwah yang berkaitan dengan

amar ma’ruf dan nahi munkar dalam syair tersebut menjadi encoding peneliti

terhadap formulasi gerakan dakwah masa kini.

Masyarakat Buton beserta peneliti merasa penting untuk mengkaji kitab

Bula Malino. Sebab, budaya kabanti ini sangat diyakini sebagai ajaran

religionitas paripurna pada masa kesultanan Buton. Kitab tersebut akan sangat

bermanfaat bagi masyarakat Buton khususnya jika telah bertranformasi menjadi

Ebook atau bahkan bisa dibuat dalam aplikasi Android seperti Al-Qur’an dan

(7)

Dengan segala keberkahan dari Allah SWT sehingga do’a yang terus mengalir,

dukungan yang tak pernah padam baik moral maupun materil, serta kasih sayang

dari keduanya yang begitu besar menjadi motor penggerak untuk lebih optimis.

Teruntuk Ibu Syahadah Saudara kandung, (Kak Wa Ode Alfiati Kalsum,

Kak Zahid Alqaf, Kak Wahyu Hidayat, Kak Iman Wahyuddin, Kak Muh.

Tsauban, Kak Wahiduddin Ridha, Kak Wa Ode Istqomah, dan Adik Ahmad

Maqbulah), yang lebih dari sekedar membantu, bahkan mendukung peneliti

seperti mentari pagi yang membawa aura spirit tiap hari, sehingga skripsi ini bisa

terselesaikan.

Atas usainya pendidikan S-1, penelitian, dan penulisan skripsi ini, saya

berhutang budi dan ingin menyampaikan juga ucapan terima kasih yang

sebebsar-besarnya kepada beberpa individu yaitu:

1. Keluarga Besar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif

Hidyataullah Jakarta yang telah memberikan khazanah keilmuan dalam

pendidikan, keorganisasian, dan wawasan kemahasiswaan penulis selama

ini, yaitu: Dr. H. Arief Subhan, M.A (Dekan FIDKOM), Dr. Suparto, S

M.Ed, Ph.D (Wadek I), Drs. Jumroni, M. Si (Wadek II), Drs. Sunandar

Ibnu Noor, M.A (Wadek III), Rahmat Baikhaky, M.A (Kajur KPI), Fita

Faturokhmah, M. Si (Sekjur KPI), serta para Dosen lainnya yang tidak

(8)

ini selesai dengan baik.

3. Segenap Staf Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Fakultas

Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan pelayanan

yang memuaskan sehingga membantu peneliti menyelesaikan skripsi ini.

4. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Baubau dan Kabupaten Buton,

serta Bapak Syaifuddin, Bapak Lambalangi dan Ibu Hj. Siti Suhura,

terutama Bapak Almujazi yang telah meluangkan waktunya untuk

mempermudah peneliti mendapatkan data dan informasi yang relevan

dengan penelitian ini.

5. Buat sahabat sekaligus sebagai keluarga Peneliti (di Jakarta) yaitu, Kak

Falah Sabirin, Kak Rasid Ante Amiruddin, Kak Sabir Laluhu, Kak Hamid

Munier, Kak Samnur Abdullah, Kak Kasman, Kak La Ode Syahril,

Harsin Hamid, Muh. Awaluddin, Mujahidin Nur, Yudi Asfar, serta

rekan-rekan Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Buton (HIPPMIB)

Bersatu-Jakarta lainnya, dan juga buat Abdul Hanafi yang lebih dari

pekerjaan Tukang Ojek telah membuat peneliti lebih dari sekedar terbantu

hingga skripsi ini selesai.

6. Tak terlupakan dalam benak serta sanubari peneliti, yaitu luapan terima

kasih kepada Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid Baubau (Buton)

sebagai lembaga pendidikan pertama yang mengajarkan banyak tentang

filsafat keislaman, hingga saat ini. Juga terimakasih kepada (alm) KH.

(9)

Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid Baubau. Dari lingkungan dan

pendidikan lembaga inilah cakrawala wawasan dan intelektual awal

tentang keislaman dan keindonesiaan peneliti peroleh.

7. Terimaksih juga untuk Siti Musfiroh, (alm) Ahmad Riyadh Firdaus, dan

Muhammad Rifki serta teman Jurusan KPI B 2009 dan KKS DIMENSI

2012 di Desa Tolandona Matanaeo Buton Sulawesi Tenggara dengan

segala upaya silaturrahmi teman-teman sehingga peneliti makin optimis

menyelesaikan skripsi ini.

8. Terimakasih buat HMI, sebagai awal perjalanan peneliti dalam

memahami pergerakan sebagai insan yang produktif. LPM Institute UIN

Jakarta, sebagai ibu yang mengajarkan cara menulis dengan baik. LAPMI

Ciputat, adalah rumah singgah peneliti untuk mengenal jurnalistik secara

praktis. KONTRAS Music FIDKOM, telah mendukung dan mendo’akan

peneliti, juga sebagai ruang ekspresi kegamangan untuk mencurahkan

hasrat musik.

Penelti

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penlitian ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 6

1. Pendekatan Kualitatif ... 6

2. Paradigma Penelitian ... 6

3. Metode Penelitian... 7

4. Subjek dan Objek Penelitian ... 7

5. Teknik Pengumpulan Data ... 7

6. Teknis Analisis Data ... 9

7. Waktu dan Tempat Penelitian ... 9

F. Tinjauan Pustaka ... 9

G. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Syair Di Nusantara ... 12

1. Sejarah Perkembangan Syair ... 12

B. Syair-syair yang Muncul di Buton ... 21

1. 1. Mengenal Aksara ... 24

C. Syair Sebagai Media Dakwah ... 25

1. Dakwah dan Objek Kajiannya ... 25

2. Metode Dakwah ... 28

(11)

4. Materi Dakwah ... 36

D. Semiotik dalam Syair ... 40

1. Semiotika ... 40

2. Semiotika dalam Studi Sastra Narasi ... 42

E. Komunikasi Naratif dan Sastra ... 47

1. Karakteristik Narasi ... 47

F. Aktan Algridas Greimas dalam Narasi ... 50

1. Enam Aktan Greimas ... 52

BAB III KITAB KABANTI BULA MALINO A. Mengenal Syair Bula Malino ... 56

B. Penulis Kabanti Bula Malino ... 58

C. Bentuk Pengamalan Kabanti ... 59

1. Masa Kesultanan ... 59

2. Masa Pasca Kesultanan (Modern) ... 60

D. Naskah-naskah Kabanti yang Sudah Diperoleh ... 61

BAB IV PEBAHASAN DAN ANALISIS SYAIR A. Analisis Narasi Model Aktan Greimas ... 64

1. Aktan Subjek ... 64

2. Aktan Objek ... 68

3. Aktan Destiator (Pengirim) ... 70

4. Aktan Receiver (Penerima) ... 71

5. Aktan Adjuvant (Pendukung) ... 74

6. Aktan Traitor (Penghambat) ... 85

B. Pesan Dakwah dalam Syair Bula Malino pada Baris 332-383 94 1. Pesan Dakwah pada Baris 332-343 ... 94

2. Pesan Dakwah pada Baris 344-359 ... 95

3. Pesan Dakwah pada Baris 360-379 ... 101

4. Pesan Dakwah pada Baris 380-383 ... 103

C. Kitab Bula Malino dalam Gerakan Dakwah Masa Kini ... 104

1. Faktor Pendukung ... 106

(12)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 214

B. Saran ... 217

DAFTARPUSTAKA

(13)

Tabel 2.1 Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Sugestif

Tabel 4.1 Aktan Subjek

Table 4.2 Aktan Objek

Tabel 4.3 Aktan Destonator (Pengirim)

Tabel 4.4 Aktan Receiver (Penerima)

Tabel 4.5 Aktan Adjuvant (Pendukung)

Tabel 4.6 Aktan Traitor (Penghambat)

(14)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manuskrip Kabanti di Buton bisa dibilang dalam status jaga, kepedulian

secara ilmiah tentang kabanti sudah menipis bahkan belum berkembang pesat.

Bukan hanya itu, pemahaman bahwa semua kabanti yang ditulis oleh Ulama

dahulu di Buton merupakan upaya penyampaian dakwah tidak lagi urgent dibahas.

Entah karena kurangnya keterpanggilan hati atau efek dari globalisasi informasi,

yang jelas, jika naskah-naskah agama ini tidak diselamatkan maka akan menjadi

dongeng dan rumor belaka. Maksud diselamatkan adalah perlunya dikembangkan

serta dikaji dengan pendekatan-pendekatan tertentu hingga menjadi warisan

budaya keagamaan yang bisa digunakan dalam gerakan dakwah kontemporer

(masyarakat perkotaan).

Syair atau nyanyian tradisional merupakan hasil budaya Islam yang

memiliki pengaruh tertentu terhadap masyarakat dan umat beragama. Di seluruh

nusantara, masing-masing daerah memiliki tradisi yang berbeda. Hampir seluruh

daerah di Indonesia mengandung tradisi nyanyian atau syair daerah. Tari saman

dengan nyanyian bahasa Aceh adalah salah satu contoh. Ulama-ulama di

nusantara juga melanjutkan syiar dengan caranya masing-masing. Seperti halnya

Kabanti (syair) Buton yang ditulis oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin.

Kabanti merupakan nyanyian atau syair tertulis yang tersimpan dan terjaga

(15)

menjadi tradisi nyanyian daerah di kalangan masyarakat.1 Dalam kamus wolio

(wolio dictionary) oleh J.C. Anceaux, kabanti bermakna puisi syair, nyanyian,

sajak.2 Sehingga, Kabanti ini berbentuk syair yang dinyanyikan.

Pada masa keemasan Islam di Kesultanan Buton, dimana saat Idrus

Kaimuddin menjabat sebagai Sultan, Seni Budaya Islam berbentuk kabanti mulai

diperkenalkan kepada masyarakat. Seni Budaya Islam di Buton pada masa itu

dimaksudkan sebagai sarana dakwah Islam. Tiga bentuk seni budaya yang

dikembangkan pada masa itu adalah. Pertama, Kabanti Wolio atau Syair Buton,

Muhammad Idrus Kaimuddin membuat syair tidak kurang dari 30 judul. Antara

lain yang terkenal adalah Bula Malino (purnama yang cerah). Beberapa penyair

ternama juga membuat kabanti di masa itu, termasuk Hatibi Bula dengan judul

Anjonga Yinda Malusa (pakaian yang tidak bakal rusak).3

Kabanti merupakan bagian dari sastra Buton yang mana tulisannya

berbentuk buri wolio (tulisan wolio) dengan model aksara Arab (bahasa Wolio).

Dalam hal ini, kabanti termasuk dalam karya yang bersifat sufistik. Sebagaimana

dikutip dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Sulawesi Tenggara (Dr.

Supriyanto, MA; 2009), terdapat dua jenis tradisi sastra Buton yaitu sastra tulisan

dan lisan. Namun, di era modern ini, kabanti sungguh hampir tidak punya nilai

1

Sebenarnya nama Buton hanya lazim digunakan orang luar untuk sebutan Kesultanan Buton. Penduduk setempat terbiasa menggunakan sebutan Wolio. Yunus, Menafsir Ulang Sejarah dan Budaya Buton, (2011: 379).

2

J. C. ANCEAUX, Wolio Dictionary-wolio-english-indonesia, (Foris Publication Holland: 1987), Hal. 51.

3

(16)

lagi. Sebab, sudah mulai digeser oleh budaya-budaya modern seperti yang kita

lihat saat ini.

Pada masa Kerajaan Islam Buton, keberdaan sastra lisan tidak begitu

berkembang dalam lingkungan keraton. Umunya, sastra jenis ini dari segi sisinya

hanya memuat tradisi lokal. Sastra tulisan buton identik dengan sastra islam.

Sastra ini ditulis dalam aksara arab. Sastra tulisan ini ada yang berbentuk puisi

dan ada yang berbentuk prosa. Sastra yang berbentuk puisi atau syair, masyarakat

lokal lebih mengenalnya tiga istilah kabanti nazamu atau nazami.4

Muhammad Idrus Kaimuddin telah meninggalkan beberapa karya puisi

dan nyanyian inspiratif bagi umat Islam khususnya di Buton. Contoh penggalan

bait dari Syair Bula Malino;

Bismillahi kaasi karo-ku siy

Dengan nama Allah sayangnya diriku ini Alhamdu padaa-ka kumatemo

Segala puji tak lama lagi aku akan mati Ka-janjinamo Oputa mo-makaa-na Sudah janji Allah swt Yang Maha Kuasa A pekamate bari-baria batua

Akan mematikan kepada semua hamba.5

Namun, para praktisi kabanti seperti Ibu Suhurah mengakui bahwa kabanti

wolio sudah ditelan masa. Beberapa faktor penyebab antara lain adalah:

1. Tidak ada moment tertentu sebagai sarana pelestarian Kabanti

2. Hilangnya rasa kepedulian dan kepahaman tentang Kabanti Wolio.

Walaupun pada tahun 2012 oleh Wali Kota Bau-Bau pernah menggelar

lomba Kabanti antar Instansi Departemen Pendidikan. Namun, setelah itu belum

4

Supriyanto, Sejarah Kebduayaan Islam, Icv. SHADRA: 2009), Hal. 86. 5

(17)

terdengar lagi lantunan syair Buton tersebut dalam bentuk lomba maupun dalam

aktifitas keseharian. Sementara itu, menurut Al-Muajzi, kandungan kabanti adalah

ajaran dan ilmu spiritual yang cukup dahsyat. Pada bulan Mei 2013, Ibu Surah

diminta Amirul Tamim, mantan Walikota Baubau, untuk melantunkan kabanti

Momondona Taruamia (sebuah kebersamaan yang sah) di acara akad nikah

putrinya.

Syair Bula Malino terdiri dari 382 suku kata. Lamrah, salah satu yang

menerjemahkan syair tersebut, mengakui banyak kekurangan.6 Sebab,

menurutnya, pembendaharaan bahasa Wolio yang sangat tidak menunjang atas

dasar kosa kata dalam hukum intonasi. Sehingga, penulis ingin menerjemahkan

kembali dan meneliti dengan model analisi naratif.

Alasan mengapa syair bisa relevan dengan analisis narasi adalah

sebagaimana dikutib dalam buku Eriyanto, Aanalisis Naratif (2013: 9). Analisis

naratif adalah analisis mengenai narasi, baik narasi fiksi (novel, puisi, cerita

rakyat, dongeng, film, komik, musik, dan sebagainya) ataupun fakta-seperti berita.

Menggunakan analisis naratif menempatkan teks sebagai sebuah cerita (narasi)

sesuai dengan karakterisitiknya. Artinya, dalam syair ada sebuah narasi yang

bercerita secara berurutan hingga menjelaskan makna utama dari syair.

Peneliti hanya akan mengkaji pesan dakwah pada baris 332-383. Tema

tersbut telah menjadi kajian yang menarik seperti yang dipublikasikan melalui

jurnal-jurnal online. Meskipun demikian, masih perlu adanya kritikan dan

terjemahan mendalam tentang kitab ini. Peneliti akan membatasi pembahasan

skripsi mengenai kitab ini hanya pada baris 332-383. Selain baris ini populer, juga

6

(18)

disebabkan adanya faktor lain berupa kekurangan bagi peneliti sendiri dalam hal

waktu dan sebagainya untuk menyelesaikan skripsi ini.7

Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis akan melakukan penelitian

skripsi dengan judul Komunikasi Naratif Kitab Bula Malino dan Pesan Dakwah dalam Baris 332-383

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Untuk bahan analisis dalam penyusunan skripsi ini, peneliti membatasi

permasalahan pada Syair Karya Muhammad Idrus Kaimuddin dengan judul Bula

Malino (Purnama yang Cerah) Tema Terakhir mengenai Analogi Kematian

dengan Tradisi Berlayar. Adapu rumusan masalah pada penelitian skripsi ini

adalah:

1. Bagaimana narasi pada keseluruhan Syair Bula Malino menurut Aktan

Algridas Julian Greimas pada baris 332-383?

2. Pesan-pesan dakwah apakah yang terkandung dalam baris 332-383

pada Syair Bula Malino tersebut?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian bertujuan untuk mencapai

beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengetahui tanda-tanda apa yang terkandung dalam baris 332-383

pada narasi Syair Bula Malino dilihat dari model aktan Greimas.

7

(19)

2. Mengetahui pesan-pesan dakwah apa saja yang terkandung dalam baris

332-383 pada Syair Bula Malino.

D. Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi ilmiah dan dapat

berguna bagi pengetahuan tentang dakwah bagi khazanah keilmuan

Islam serta dapat menjadi referensi penelitian di masa yang akan

datang.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan motivasi juga sebagai

kontribusi serta membawa wawasan bagi kalangan praktisi dakwah

dan aktivis dakwah khususnya pada masyarakat Buton agar konsisten

dalam memsperjuangkan nilai-nilai dakwah terutama pada kaum

awam.

E. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan Kualitatif

Pendekatan kualitatif yang penulis lakukan terfokus pada analisis

wacana yang mengacu pada model Aktan Algirdas Greimas. Metode

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara,

observasi, dokumentasi, dan instrument. Analisis naratif berfokus pada

(20)

2. Paradigm Penelitian

Penelitian ini menggunakan paradigm kritis. Kritis adalah, representasi

yang berperan dalam bentuk subjek tertentu, tema-tema dalam narasi,

maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu, analisis naratif akan

melahirkan interpretasi yang baik serta menemukan apa saja yang menjadi

tanda aktan Greimas dalam narasi tersebut.

3. Metode Penelitian

Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian analisis

naratif, model Aktan Algirdas Greimas. Analisis linguistik adalah sebuah

upaya (penguraian) untuk memberi penjelasan dari teks yang dikaji oleh

seseorang atau kelompok untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya,

dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kekeliruan tulisan dan

bahkan kesalahan interpretasi dari peneliti lainnya. Oleh karena itu,

analisis yang terbentuk disadari telah dipengaruhi oleh si penulis dari

berbagai faktor.

4. Subjek dan Objek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah Kabanti Bula Malino (Syair Purnama

yang Cerah). Sedangkan objek penelitiannya adalah bentuk dakwah dalam

sarana (media) tertulis dalam syair Idrus Kaimuddin tersebut.

5. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang diperlukan, sesuai dengan metode

(21)

a. Observasi: yaitu penulis mengumpulkan sejumlah tulisan Kabanti

Bula Malino baik sudah berbentuk buku maupun tulisan tangan

dari beberapa Tokoh Adat Buton serta menganalisis isi teks yang

terdapat pada syair tersebut. Peneliti melakukan pengamatan

mengenai tulisan sebanyak dua kali, langsung ke pulau buton.

b. Wawancara: penulis melakukan wawancara dengan: Al-Mujazi:

Pemegang naskah, sekaligus mewarisi tulisan dan koleksi naskah

Abdul Mulku Zahari (alm) Ayahnya “Kabanti Bula Malino”.

Syafiuddin: selain mengajar di Universitas Dayanu Ihsanuddin,

beliau juga seorang pemerhati Kabanti serta hal-hal yang

menyangkut adat wolio. Lambalangi: ia merupakan Tokoh yang

telah mengumpulkan dan mentrasliterasi sejumlah judul Kabanti

termasuk Bula Malino. Beliau juga sebagai manta Kepala Kantor

Departemen Agama Kecamatan Wolio Sulawesi Tenggara. Siti

Suhura: ia salah satu pelantun syair kabanti yang profesional.

c. Dokumentasi: dalam hal ini, penulis mengumpulkan dokumentasi

yang berbentuk gambar (foto) maupun naskah kabanti yang telah

ditulis ulang oleh sejumlah Tokoh yang berkaitan dengan syair

yang diteliti tersebut.

6. Teknik Analisis Data

Berkenaan penelitiaan ini adalah analisis naratif kualitatif yang di

mana hasil temuan dan fakta yang diperoleh dari proses wawancara,

(22)

dokumentasi akan dipetakan. Selanjutnya, penulis menghimpun untuk

meninjau kembali agar analisis dilakukan dengan cara sistematis.

7. Waktu dan Tempat Penelitian

Penulis melakukan penelitian pada bulan Februari dan Maret 2014 dan

merampungkan tulisan hingga setahun lamanya. Penelitian ini langsung

dilakukan dengan cara interview secara langsung di pulau buton.

F. Tinjauan Pustaka

Buku berjudul Nasihat Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin yang

diterbitkan oleh FKIP Unhalu (UHO), Kendari: 2009 karya La Niampe. Pada

bukunya, ia menerjemahkan dan menafsirkan kitab Bula Malino tersebut, yang

disertakan dengan pedoman Transliterasi dari buri (tulisan) wolio (buton) ke huruf

latin. Bedanya dengan skripsi yang dibuat dengan peneliti pada penggunaan teori

analisis. Kemudian, dalam menerjamahkan dan menerjemahkan menafsirkan tiap

baris dari kitab tersebut perkata secara keseluruhan (tidak hanya menafsirkan

secara umum saja seperti dalam buku di tersebut).

Membara di Api Tuhan, judul buku terbitan Proyek Penerbitan Buku

Sastra Indonesia dan Daerah tahun 1983 (cetakan 1961) karya La Ode Malim.

Buku tersebut merupakan terjemahan dan penghayatan La Ode Malim atas Syair

Bula Malino yang kemudian terangkai dalam sebuah buku. Peneliti sangat

termotivasi dengan adanya buku yang mula-mula hanya bisa didapatkan di Alden

Library Ohio University tersebut untuk meneliti dengan pendekatan metode

penelitian berbeda serta kajian teori dakwah yang kiranya bisa diformulasikan

(23)

G. Sistematika Penulisan

Agar penelitian lebih produktif, maka peneliti membuat sistematika

penelitian ke dalam lima bagian, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini, peneliti membagi lagi ke beberapa bagian, yaitu: Latar

Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian,

Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka, dan Sistematika

Penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

Bagian ini merupakan kerangka berpikir dari peneliti yang meliputi

tentang Sejarah Perkembangan Syair, Syair-syair yang Muncul di Buton, Syair

sebagai Media Dakwah, Semiotik dalam Syair, Komunikasi Naratif dan Sastra,

dan Analisis Naratif Model Aktan Algirdas Greimas.

BAB III KITAB KABANTI BULA MALINO

Pada bab ini peneliti menjelaskan objek penelitian, berupaya mengenali

Syair Bula Malino, Penulis Syair Bula Malino, Bentuk Pengamalan Syair

(Kabanti), dan Naskah-naskah Kabanti yang sudah diperoleh.

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS SYAIR

Bagian ini menyangkup pembahasan Analisis Narasi Model Aktan

Greimas pada Baris 332-383 dan Pesan Dakwah dalam syair Bula Malino pada

(24)

BAB V PENUTUP

Pada bab terakhir ini, peneliti membaginya kepada kesimpulan dari

penelitian dan hasil penelitian serta saran untuk berbagai pihak yang terkait

(25)

TINJAUAN TEORITIS

A. Syair di Nusantara

Syair adalah jenis puisi lama. Syair terdiri dari empat baris, setiap baris

mengandung empat kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari sembilan sampai

dua belas suku kata. Syair juga tidak mempunyai unsr-unsur sindiran di dalamnya.

Aturan sanjak akhir ialah aaaa dan sanjak dalam (internal rhyme) (A. Teeuw,

1966b: 431-432) hampir-hampir tidak ada.1

1. SejarahPerkembanganSyair

R. O. Winsted berpendapat bahwa syair pertama kali muncul dalam sastra

Melayu pada abad ke-15 dalam Syair Ken Tambuhan. Bukti-bukti yang

dikemukakannya ialah pemakaian kata Kawi seperti lalangan (kebun),

kata-kata Jawa seperti ngambara dan ngulurkan, perbendaharaan kata-kata yang kaya, mitos

Hindu dan satu gaya yang klasik (R. O. Winsted, 1958: 152).

A. Teeuw tidak setuju dengan pendapat ini. Ditunjukkannya bahwa Syair

Ken Tambuhan baru ditulis pada abad ke-17 atau ke-18; unsur-usnur Jawa yang

terdapat dalam Syair Ken Tambuhan belum tentu langsung berasal dari bahasa

Jawa oleh penulisnya. Ia mungkin berasal dari cerita Panji dan wayang yang

tersebar luas di alam Melayu sejak zaman dahulu kala; tambahan pula, kita juga

tidak boleh menafsirkan adanya hubungan langsung dengan Jawa sesudah zaman

Malaka, yaitu abad ke-15.

1

(26)

Menurut Teeuw, kemunculan syair dalam sastra melayu tidak mungkin

lebih awal daripada abad ke-16. Sekitar tahun 1600, syair masih berarti puisi

secara umum dan bukan sesuatu jenis puisi tertentu.. dalam Tajus Salatin yang

tertulis pada tahun 1602/1603 tidak terdapat sekuntum pun puisi yang mirip

dengan struktur syair sekarang. Syair sebagai jenis puisi yang berbaris empat dan

bersanjak aaaa baru tersebar sesudah Hamzah Fansuri menamai puisi yang

ditulisnya ruba’i (puisi yang berbaris empat). Tetapi ruba’i Hamzah Fansuri berbeda dengan ruba’i sejenis puisi Arab/Parsi. Ruba’i Hamzah Fansuri merupakan bagian dari sebuah puisi yang lebih panjang, sedangkan ruba’i sebagai puisi Arab/Parsi adalah sebuah puisi yang berdiri dengan sendirinya.2

Mula-mula puisi Hamzah itu terdiri atas beberapa kesatuan yang disebut

ruba’i, kadang-kadang bait dan sekali-sekali syi’r atau sya’ir. Bila puisi-puisi

jenis ini tersebar luas dan digemari orang, ia mendapat nama baru, yaitu syair.

Penyair-penyair lain juga menulis puisi jenis ini (syair), tetapi tidak membatasi

diri pada puisi tasawuf lagi. Semua perkara disyairkan dalam bentuk ini.

Pengaruhnya juga kian meluas. Dalam sastra Jawa muncul sejenis puisi yang

berasal dari syair, yaitu sangir. Pada tahun 1670, seorang Melayu di Makassar

menggunakan bentuk ini untuk menulis sebuah sysair sejarah, yaitu Syair Perang

Mengkasar. Lambat-laun, penulis-penulis di berbagai daerah menggunakan puisi

jenis ini untuk menulis puisi romantik seperti Syair Ken Tambuhan.

Demikianlah kita melihat pada abad ke-17, syair-syair sudah bermunculan

di Johor, Palembang, Riau, Banjarmasin, Batavia, (Jakarta), dan Ambon, bahkan

di seluruh Nusantara. (A. Teeuw, 1966:446).

2

(27)

Jauh sebelum A. Teeuw mengemukakan kemungkinan Hamzah Fansuri

sebagai pencipta syair Melayu yang pertama, P. Voorhoeve sudah membuat

kesimpulan yang sama. Dalam sebuah ceramahnya kepada pelajar-pelajar bahasa

Melayu di Paris, tahun 1952, P. Voorhoeve sudah mengatakan bahwa syair

Melayu yang mula-mula mungkin ditulis oleh Hamzah Fansuri. Alasan yang

dikemukakan hampir serupa dengan alasan yang dikemukakan oleh A. Teeuw,

a. Tiada syair sebelum Hamzah Fansuri

b. Tiada bentuk syair dalam bahasa-bahasa Nusantara kecuali sangir

dalam bahasa jawa yang berasal dari syair melayu; dan

c. Pada paruh pertama abad ke-17, puisi Hamzah Fansuri tidak dikenal

sebagai syair melainkan ruba’i dan Valentijin dalam bukunya (1726) menyebutkan tentang Hamzah Fansuri yang terkenal dengan syairnya.

Bukan itu saja. Ar-Raniri yang dalam hal agama, adalah saingan

Hamzah Fansuri, juga pernah dipengaruhi oleh Hamzah dan menulis

beberapa ruba’i dalam Bustanus Salatin (P. Voorhoeve, 1968: 277-278).

Syed Naguib Al-Attas menyatakan pendapatnya dengan tegas. Dalam dua

risalah (Syed Naguib Al-Attas, 1968, 1971), menyerang A. Teeuw karena ketidak

tegasannya dalam mengemukakakn bahwa Hamzah Fansuri sebgai pencipta syair

Melayu yang pertama. Kesimpulannya ialah Hamzah Fansuri mendapat pengaruh

(28)

yang dikarang Ibnul Arabi dan Iraqi yang banyak dikutipnya (Syed Naguib

Al-Attas, 1968: 58).3

Amin Sweeney, seorang sarjana yang pernah mengajar di Universitas

Kebangsaan Malaysia, tidak setuju dengan pendapat ini. Menurutnya, syair

Hamzah Fansuri mendapat pengaruh yang kuat dari nyanyian rakyat (pantun)

seperti yang terdapat dalam Sejarah Melayu. Ia sampai kepada kesimpulan ini

sesudah menyelidiki ciri-ciri syair, yaitu irama (metre), sanjak akhir (rhyme),

pembagian kesatuan (units) dan pengelompokkan kesatuan.

Irama syair adalah sama seperti irama pantun. Bukan saja pantun

kadang-kadang muncul dalam syair, baris-baris syair juga kadang-kadang-kadang-kadang terdapat dalam

panting. Doorenbos, seorang sarjana Belanda telah menunjukkan dalam

disertasinya bahwa beberapa baris syair Hamzah Fansuri adalah sama seperti yang

dipakai dalam pantun. Dalam sebaris pantun atau syair selalu ada semacam

perhentian (caesura) ditengah-tengahnya, yaitu sesudah perkataan yang kedua

dalam sebaris pantun atau syair yang mengundang empat perkataan itu. Sanjak

akhir yang dipakai dalam syair Hamzah Fansuri adalah aaaa. Ini adalah pola

sanjak yang terdapat dalam nyanyian-nyanyian dalam Sejarah Melayu.

Seandainya Hamzah mencontoh puisi Arab, setiap bait Fansuri pasti hanya

terdiri dari dua baris saja dan bukan empat baris. Bait yang berbaris empat tidak

dikenal dalam puisi arab. Nyatalah yang menjadi contoh syair Hamzah bukan

puisi arab melainkan nyanyian (pantun) empat baris yang terdapat dalam Sejarah

Melayu (R. Roolvink, 1966: 455-457). Tentang pengelompokkan kesatuan pula,

3

(29)

kesatuan-kesatuan ini tidak berdiri sendiri melainkan bersambung untuk

mengembangkan suatu tema atau cerita. Dalam puisi Arab, satu kesatuan (bait)

yang dua baris itu merupakan satu keseluruhan (Amin Sweeney, 1971: 58-66).

Sebagai kesimpulan boleh dikatakan bahwa sungguhpun Hamza Fansuri

menggunakan Istilah puisi Arab, bait, syair, ruba’i, syair Hamzah Fansuri bukanlah tiruan dari puisi Arab. Pengaruh nyanyian (pantun) pada syair Hamzah

Fansuri jauh lebih besar dari puisi Arab. Syair Melayu, biarpun memakai istilah

bahasa Arab adalah puisi Melayu asli juga (C. Hooykas, 1947: 72).4

Menurut isinya, syair dapat dibagi menjadi lima golongan berikut.

a. Sayir Panji

Syair panji sebagian besar adalah olahan dari bentuk prosanya, misalnya

Syair Panji Semirang adalah olahan dari Hikayat Panji Semirang, Syair Angreni

adalah saduran dari Panji Angreni. Sering hanya isinya saja yang diambil dan

bukan judulnya. Satu lagi antara perbedaan hikayat Panji dan syair Panji ialah

bahwa hikayat panji berbelit-belit plotnya, sedang syair Panji lebih sederhana

plotnya. Biasanya satu syair hanya menceritakan satu cerita utama saja. Misalnya

Syair Ken Tambuhan, hanya menceritakan percintaan dan perwakinan Raden

Menteri dan Ken Tambuhan; Syair Undakan Agung Udaya hanya menceritakan

kisah Panji tinggal di Daha dan memakai nama Undakan Agung Udaya. Contoh

syair Panji adalah; Syair Ken Tambuhan, Syair Angreni, Syair Damar Wulan,

Syair Undakan Agung Udaya, dan Cerita Wayang Kinudang.5

4

Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, (YOI: 2011), h. 565.

5

(30)

b. Syair Romantis

Syair romantis adalah jenis syair yang paling digemari. Harun Mat Piah

pernah mengkaji 150 buah syair untuk disertasinya di Universitas Kebangsaan

Malaysia (1989) dan mendapati bahwa 70 buah (47 persen) adalah syair romantis.

Ini tidak mengherankan karena sebagian besar syair romantik menguraikan tema

yang biasa terdapat di dalam cerita rakyat, penglipur lara dan hikayat. Contoh dari

syair romantis adalah; Syair Bidasari, Syair Yatim Nestapa, Syair Abdul Muluk,

Syair Sri Banian, Syair Sinyor Kosta, Syair Cinta Berahi, Syair Raja Mambang

Jauhari, Syair Tajul Muluk, Syair Sultan Yahya, dan Syair Putri Akal.

c. Syair Kiasan

Syair kiasan atau simbolik adalah syair yang mengisahkan percintaan

antara ikan, burung, bunga, atau buah-buahan. Hans Overbeck menemani syair

jenis ini sebagai syair binatang dan bunga-bungaan (Malay animals and fllower

shers, 1934). Menurut Overbeck lagi, syair jenis ini biasanya mengandung kiasan

atau sindiran terhadap peristiwa tertentu. Misalnya Syair Ikan Terubuk adalah

syair yang menyindir peristiwa anak raja Malaka meminang putri Siak. Syair

Burung Pungguk menyindir seorang pemuda yang ingin mempersunting seorang

gadis yang lebih tinggi kedudukannya. Ada juga syair yang menyindir

petualangan cinta saudagar pengembara atau memberi nasehat pada

pendengarnya. Contoh judul syair kiasan adalah; Syair Burung Pungguk, Syair

Kumbang dan Melati, Syair Nuri, Syair Bunga Air Mawar, Syair Nyamuk dan

(31)

d. Syair Sejarah

Syair sejarah adalah syair yang berdasarkan peristiwa sejarah. Di antara

peristiwa sejarah yang paling penting ialah peperangan, dan karena itu, syair

perang juga merupakan syair sejarah yang paling banyak dihasilkan. Peristiwa

sejarah itu mungkin juga merupakan kisah raja yang memerintah atau residen

Belanda. Syair Sultan Mahmud di Lingga, misalnya, menceritakan masa

kehidupan Sultan Mahmud Syah beserta keluarganya, Syair Residen De Brau pula

mengisahkan peranan yang dimainkan residen de Brau dalam pembuangan

Perdana Menteri dari Palembang ke tanah Jawa. Contoh judul syair kiasan adalah;

Syair Perang Mengkasar, Syair Kompeni Welanda Berperang dengan Cina, Syair

Perang di Banjarmasin, Syair Raja Siak, Syair Sultan Ahmad Tajuddin, dan Syair

Siti Zubaidah Perang Melawan Cina.

e. Syair Agama

Syair agama adalah golongan syair yang paling penting. Telah dijelaskan

bahwa Hamzah Fansurilah orang pertama menulis puisi dalam bentuk syair yang

kemudian diikuti oleh penyair-penyair lainnya di Aceh seperti Abdul Jamal,

Hasan Fansuri dan beberapa orang penyair-penyair yang tidak bernama. Abdul

Rauf sendiri juga pernah menulis sebuah syair yang berjudul Syair Makrifat (Van

Ophuijsen, 78). Perkara yang disyairkan di dalam syair-syair semuanya bersifat

keagamaan. Hanyalah kemudian dan dengan perlahan-lahan syair dipakai untuk

(32)

Berdasarkan isinya, syair agama dapat dibagi pula kepada beberapa jenis.

1) Jenis pertama ialah syair sufi yang dikarang oleh Hamzah Fansuri

dan penyair-penyair sezaman.

2) Jenis kedua adalah syair yang menerangkan ajaran Islam seperti

Syair Ibadat, Syair Sifat Dua Puluh, Syair Rukun Haji, Syair

Kiamat, Syair Cerita di dalam Kubur dan sebagainya.

3) Jenis ketiga ialah Syair Anbia, yaitu syair yang mengisahkan

riwayat hidup para nabi, misalnya Syair Nabi Allah Ayub, Syair

Nabi Allah dengan Firaun, Syair Yusuf, Syair Isa, dan lain-lain.

4) Jenis keempat ialah syair nasihat, yaitu syair yang bermaksud

memberi pengajaran dan nasihat kepada pendengar atau

pembacanya, misalnya Syair Nasihat, Syair Naihat Bapak Kepada

Anaknya, Syair Nasihat Laki-laki dan Perempuan dan sebagainya.

Syair Takbir Mimpi dan Syair Raksi mungkin juga dapat

digolongkan ke dalam jenis ini.

Contoh judul syair agama adalah; Syair Hamzah Fansuri, Syair Perahu,

Syair Dagang, Bahr An-Nisa’, Syair Kiamat, Syair Takbir Mimpi, dan Syair Raksi.6

Ricklefs mengutip bahwa bahwa Hamzah Fansuri dan Syamsuddin

menulis karya-karya mengenai ilmu tasawuf Islam. Kemudian, pada masa

kekuasaan Ratu Taj ul-Alam (1641-75), Abdurrauf merupakan pengarang yang

terpenting di istana, menulis karya-karya ilmu hukum Syafi’i dan juga ilmu

6

(33)

tasawuf. Tetapi, masih bertahannya cerita-cerita Hindu seperti Hikayat Seri Rama

menggambarkan bahwa kesastraan Melayu tidak seluruhnya didominasi oleh

karya-karya yang berilhamkan Islam.

Sajak macapat menggunakan bahasa Jawa yang sangat baik. Kesastraan

yang berbahasa Jawa Kuno mencerminkan peranan penting yang dimainkan Bali

dalam memelihara warisan kesastraan pra-Islam Jawa setelah Jawa menjadi Islam.

beruhungan dengan kesastraan Bali terbaibagi menjadi tiga kelompok atas dasar

bahasanya: Jawa Kuno, Jawa Pertengahan (Jawa-Bali/Bali-Jawa), dan Bali.

Buku-buku yang berbahasa Jawa Kuno masih dapat ditemukan di Jawa, namun sebagian

besar hanya dikenal dalam bentuk salinan-salinan dari Bali atau Pulau Lombok

yang letaknya berseblahan. Ini berhubungan dengan penolakan Bali terhadap

Islam dan tetap mempertahankan warisan kesastraan dan agama yang di Jawa

telah berubah (namun tidak pernah terhapus sama sekali) sebagai akibat

islamisasi.

Kesastraan yang berbahasa Jawa Pertengahan merupakan suatu subyek

yang problematis. Sebagian besar dari naskah-naskah itu dinamakan kidung

(nyanyian). Naskah-naskah tersebut terutama berisi legenda-legenda romantis

mengenai zaman Majapahit di Jawa (Harsawijaya, Rangga Lawe, Sorandaka,

Sunda). Orang-orang Bali juga menulis dalam bahasa mereka sendiri, terutama

mengenai sejarah kerajaan-kerajaan mereka yang didapati dalam bentuk sajak.

Begitupun Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, keduanya mempunyai

kesastraan yang berkaitan erat, baik prosa maupun sajaknya. Kesastraan mereka

menggunakan tulisan asli yang nyata-nyata berbeda dari tulisan Arab maupun

(34)

Sumatera yang pada dasarnya berasal dari India. Selain itu, masih ada

tradisi-tradisi kesastraan Indonesia lain di samping tradisi-tradisi-tradisi-tradisi kesastraan tersebut di

atas.7

Nampaknya, relevan dengan Alifuddin yang mengatakan bahwa Yunus

menyebut Buton terkena pengaruh ajaran-ajaran tasawuf Hamzah Fanshuri dan

Syamsuddin Sumatrani sebagaimana yang berkembang di Aceh pada akhir abad

ke-16 dan awal abad ke-17. Lebih lanjut Yunus mengemukakan, bahwa ajaran

yang tampak di Buton pada pertengahan abad ke-17 adalah ajaran Martabat Tujuh

atau konsep manusia sempurna.8 Senada dengan Ricklefs, khususnya

Syamsuddin, Abdurrauf, dan ar-Raniri semuanya menerapkan doktrin tasawuf

tentang tujuh tahapan asal-usul (martabat), yang didalamnya Tuhan mewujudkan

diri-Nya di dunia yang fana ini, yang mencapai puncaknya pada manusia

sempurna/insan kamil (lihat Rifleks, 2011:78).

B. Syair-syair yang Muncul di Buton

Terdapat dua jenis tradisi sastra Buton yaitu sastra tulisan dan sastra lisan.

Pada masa kerajaan Islam Buton, tampaknya keberdaan sastra lisan tidak begitu

berkembang dalam lingkungan Keraton. Umumnya sastra jenis ini dari segi isinya

hanya memuat tradisi lokal; pada masa kesultanan dibersihkan dari kehidupan

dunia keraton. Sastra tulisan di Buton identik dengan sastra Islam. Selain isinya

memperlihatkan pengaruh atau alam pemikiran islam, sastra ini juga ditulis dalam

aksara Arab yang oleh masyarakat pendukungnya menyebutnya buri wolio. Sastra

7

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Gajah Mada University Press,

Cetakan kesepuluh: Yogyakarta, 2011), hal. 77-87. 8

M. Alifuddin, Islam Buton: Interaksi Islam dengan Budaya Lokal, (Badan

(35)

tulisan ini ada yang berbentuk, prosa, dan syair. Sastra dalam bentuk puisi atau

syair masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan istilah kabanti atau nazamu.

Sastra tulisan di Buton secara garis besar dapat dibagi menjadi dua

golongan. Pertama, ialah karya-karya yang bersifat sufistik seperti karya-karya

Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, Syeikh Haji Abdul Ganiu (kenepulu bula),

Abdul Hadi, Haji Abdul Rakhim, dan La Kobu. Mereka adalah para ulama lokal

yang mendalam pengetahuannya tentang Islam dan mempunyai kecenderungan

terhadap sufisme. Salah satu Kabanti (syair) yang cukup populer pada masanya

adalah syair bula malino karya Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin.9

Sedangkan golongan yang kedua adalah karya-karya yang memperlihatkan

sastra Islam dalam bahasa melayu atau karya-karya ciptaan baru yang

memperlihatkan pengaruh agama atau peradaban islam terhadap penulisnya.

Karya-karya yang memperlihatkan pengaruh sastra Islam secara langsung ialah

karya-karya saduran (sastra terjemahan) seperti tula-tulana Nuru Muhammad,

terjemahan dari hikayat Nur Muhammad, tula-tulana koburu terjemahan dari syair

kubur, kitabi masaalah sarewu, terjemahan dari kitab seribu masalah.10

Kabanti merupakan nyanyian atau syair yang tersimpan dan terjaga oleh

masyarakat Buton. Kabantai Wolio atau syair wolio/buton telah menjadi tradisi

nyanyian daerah di kalangan masyarakat.11 Dalam kamus wolio (wolio dictionary)

9

La Ode Muh. Syukur, Sejarah Kebudayaan Islam Sulawesi Tenggara, (CV.

Shadra: 2009), Hal. 86. 10

Ibid, h. 90. 11

(36)

oleh J.C. Anceaux, kabanti bermakna puisi syair, nyanyian, sajak.12 Pada

pertengahan abad ke-19, Haji Abdul Gani menulis naskah syair (kabanti). Di

antaranya yang diterjemahkan oleh Abdul Mulku Zahari adalah Ajonga Yinda

Malusa (Pakaian yang Tidak Kusut).13 Termaksud syair Kanturuna Mohelana

(Lampu Orang yang Berlayar) anonym (Ikram, 2002: 2).14

Lambalangi, adalah seorang yang menulis ulang dan mengumpulkan beberapa

kabanti wolio mengatakan bahwa pada 1824 di masa Diponegoro, karena

pergaulan di Buton sudah jauh dari norma-norma agama. Sehingga, Muhammad

Idrus Kaimuddin membuat kabanti pada saat itu. Kata para orang tua dulu ada 100

lebih judul kabanti yang tertulis. Namun, hingga saat ini sudah 21 tahun yang

ditemukan baru 35 judul kabanti.15

Disamping menumbuhkan kesusastraan dalam bahasa asli, beberapa

daerah telah pula menciptakan sastra dalam bahasa Melayu seperti Aceh,

Minangkabau Sulawesi Selatan dan Tenggara, Bima, dan Maluku. Bahasa itu

khususnya digunakan untuk menulis teks-teks yang mempunyai kepentingan

kenegaraan, seperti Hikayat Aceh (Aceh), Bo’ Sangaji Kai (Bima), Hikayat Tanah Hitu (Ambon), Istiadat Tanah Negeri Butun (Buton). Di lingkungan bahasa Sunda

12

J. C. ANCEAUX, Wolio Dictionary-wolio-english-indonesia, (Foris

Publication Holland: 1987), h. 51. 13

Achadiati Ikram, Katalok Naskah Buton: Koleksi Abdul Mulku Zahari,

(Jakarta, Yayasan Obor Indonesia: 2002), Hal. 5. 14

Lihat juga Ikram (2002:2) Kanturuna Mohelana menjadi syair yang dianggap sebuah sejarah yang mengungkap latar belakang nama Buton.

15

(37)

dan Jawa tetap dihasilkan sastra agama Islam dalam bahasa daerah dengan tata

aksara Arab yang disesuaikan, yaitu pegon.16

C. Mengenal Aksara

Berkenaan dengan aksara arab pada tulisan kabanti, sebenarnya secara

keseluruhan, aksara yang ditemukan dalam naskah tulisan tangan mempunyai dua

sumber, yaitu India dan Arab, meliputi kurun waktu abad ke-9 sampai abad ke-20.

Kedua sumber tersebut tersebar ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, Madura, Bali,

Sulawesi, dan Maluku. Hadirnya teknologi percetakan yang disebarluaskan

dengan cara pendidikan formal bersama kedatangan bangsa Eropa dan terutama

kekuasaan pemerintah kolonial memberi pukulan telak kepada kehidupan seni

tulis tangan.17

Tradisi manuskrip lambat laun, tetapi pasti, ditinggalkan untuk suatu

teknologi yang lebih mudah. Bukan hanya itu, aksara daerah akan terdesak oleh

jenis tulisan yang sudah lazim dipakai di dunia para penguasa dari Eropa.

Pertarungan yang tidak seimbang akhirnya menggeser aksara kea lam sejarah.

Begitupun bahasa daerah untuk tulisan, kini dalam proses kepunahan. Walau

masih ada juga masyarakat yang tetap memilih menggunakan dan memelihara

16

Achadiati Ikram dkk, Mukhlis PaEni:Editor Umum, Sejarah Kebudayaan

Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara, (Rajawali Pers, Jakarta: 2009), h. 78-79. 17

Lihat Ikram, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra dan Aksara,

(38)

aksara daerah dan tulisan tangan untuk tujuan-tujuan tertentu (lihat Ikram, 2009:

279-280).

D. Syair Sebagai Media Dakwah

1. Dakwah dan Objek Kajiannya

Secara etimologi, kata Da’wah berasal dari bahasa Arab yang berarti: panggilan, seruan, atau ajakan. Bentuk perkataan tersebut dalam bahasa Arab

disebut mashdar. Sedangkan bentuk kata kerja (fi’il)nya adalah memanggil, menyeru atau (Da’aa, Yad’uu, Da’watan).18

Secara terminologi, beberapa ahli mengemukakan pengertiannya sebagai

berikut:

a. Pof. Thoha Yahya Umar, dakwah Islam adalah mengajak manusia

dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah

Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan

akhirat.19

b. Menurut M. Quraish Shihab, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada

keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik

dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.20

c. Menurut M. Arifin, dakwah adalah suatu kegiatan ajakan dalam bentuk

lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara

sadar dan terencana dalam usaha mempengaruhi orang lain secara

18

Drs. Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), Hal. 1.

19

Prof. H. M. Thoha Yahya Umar. MA, Imu Dakwah, (Jakarta: CV. Al-Hidayah, 2002), Hal. 7.

20

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam

(39)

individu maupun kelompok supaya timbul dalam dirinya suatu

pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan, serta pengamalan terhadap

ajaran agama, message yang disampaikan kepadanya tanpa ada unsur

pemaksaan.21

Dakwah menurut Sayyid Qutub memberi batasan dengan ”mengajak” atau

“menyeru” kepada orang lain masuk ke dalam sabil (jalan) Allah SWT bukan

untuk mengikuti da’i atau sekolompok orang. Ahmad Ghusuli menjelaskan bahwa

dakwah merupakan pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia supaya

mengikuti Islam. Abdul al Badi Shadar membagi dakwah membagi dua tataran

yaitu dakwah fardiyah dan dakwah ummah. Sementara itu, Abu Zahroh

menyatakan bahwa dakwah itu dapat dibagi menjadi dua hal; pelaksana dakwah,

perseorangan, dan organisasi. Sedangkan Ismail al-Faruqi, mengungkapkan

bahwa hakikat dakwah adalah kebebasan, universal, dan rasional. Kebebsan akan

menunjukkan dakwah itu bersifat universal (berlaku untuk semua umat dan

sepanjang masa).22

Pada intinya, menurut Ilaihi, pemahaman lebih luas dari pengertian

dakwah yang telah didefinisikan oleh para ahli tersebut adalah: pertama, ajakan

ke jalan Allah SWT. Kedua, dilaksanakan secara berorganisasi. Ketiga, kegiatan

untuk mempengaruhi manusia agar masuk jalan Allah SWT. Keempat, sasaran

bisa secara fardiyah atau jama’ah. Dalam konteks dakwah istilah amar ma’ruf nahi munkar secara lengkap dan populer dipakai adalah yang terekam dalam

Al-Qur’an, Surah Ali-Imran, ayat 104:

21

M. Arifin, Paikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara,

2000) Cet. Ke-5, Hal. 6. 22

(40)



“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ciri khas materi dakwah menurut Anwar Arifin adalah al-khair, al-ma’ruf, dan al-munkar, sebagaimana ayat tersebut di atas. Meskipun demikian, dalam

kenyataannya terdapat perbedaan penafsiran. Kemudian, materi dakwah yang lain

secara umum adalah keyakinan dan pandangan hidup Islam yang bersifat

universal dan sesuai dengan fitrah dan kehanifaan manusia. Semua pandangan itu

termaktub dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul.23

Objek kajian dakwah ialah hubungan interaksional antara subjek dakwah

dan subjek sasaran dakwah dengan menggunakan metode, media, dan materi

dakwah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Kutipan Ilaihi tersebut juga

akhirnya dinyatakan secara proposional dalam ilmu proposisi yaitu:

a. Subjek dakwah tertenut berhubungan dengan religionitas subjek

sasaran dakwah.

b. Media dakwah tertentu berhubungan dengan religionitas subjek

sasaran dakwah.

c. Materi dakwah tertnetu berhubungan dengan religionitas subjek

sasaran dakwah.

d. Situasi objektif subjek sasaran dakwah berhubungan dengan

religionitas sendiri.

23

(41)

Hampir seirama dengan pernyataan di atas, objek kajian ilmu dakwah

menurut Cik Hasan Bisri adalah unsur substansial ilmu dakwah yang terdiri dari

enam komponen yaitu: dai’i, mad’u, metode, materi, media, dan tujuan dakwah.

Sedangkan objek forma ilmu dakwah adalah sudut pandang tertentu yang dikaji

dalam disiplin utama ilmu dakwah yaitu disiplin Tbaligh, Pengembangan

Masyarakat Islam, dan Manajemen Dakwah. Sedangkan objek materi ilmu

dakawah adalah proses penyampaian umat manusia.24

2. MetodeDakwah

a. Pengertian Metode dakwah

Dari segi bahasa, metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui)

dan “hodos” (jalan. Cara) (Arifm, 1991:61). Dengan demikian, dapat

diartikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk

mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode

berasal dari bahasa Jerman methodeicay artinya ajaran tentang metode.

Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methods artinya jalan

thariq” (bahasa Arab) (Hasanuddin, 1996:35). Metode berarti cara yang

telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.

Sehingga, metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan

oleh seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu

tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang (Tasmara, 1997:43). Hal ini

mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpuh pada suatu

pandangan human oriented menempatkan penghargaan yang mulia untuk

manusia.

24

(42)

b. Macam-macam Metode Dakwah

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-Nahl [16]: 125).

Dari ayat berikut dapat dipahami bahwa metode dakwah itu

meliputi tiga cakupan, yaitu:

1) Bil-Hikmah

Kata “hikmah” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 20 kali baik

dalam bentuk nakiroh maupun ma’rifat. Bentuk mashdarnya adalah

hukuman” yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah.

Jika dikaitkan dengan hokum berarti mencegah dari kezaliman, dan

jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang

kurang relevan dalam melaksanakan tugas dakwah.

Ibnu Qoyim berpendapat bahwa pengertian hikmah yang paling

tepat adalah seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik yang

mendefinisikan bahwa hikmah adalah pengetahuan tentang kebenaran

dan pengamalannya, ketepatan dalam perkataan dan pengamalannya.

Hal ini akan tercapai dengan memahami Al-Qur’an dan mendalami

Syariat Islam (Qoyyim: 226).

Sementara itu, menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud

An-Nasafi, arti dakwah bil-hikmah adalah dakwah dengan menggunakan

perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil yang menjelaskan

(43)

2) Al-Mau’idza Al-Hasanah

Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi adalah

perkataan-perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau

memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau

dengan Al-Qur’an (Hasanuddin, 1996:37). Sementara menurut Abdul

Hamid al-Bilali, merupakan salah satu manhaj (metode) dalam

dakwah untuk mengajak ke dalam dakwah untuk mengajak ke jalan

Allah dengan memberikan nasihat atau bimbingan yang lemah lembut

agar mereka mau berbuat baik (Al-Bilali, 1989).

Wahidin Saputra mengutip dan menklasifikasikan mau’idzah hasanah dalam beberapa bentuk yaitu, nasihat atau petuah, bimbingan

(pengajaran dan pendidikan), kisah-kisah, kabar gembira dan

peringatan, dan wasiat (pesan-pesan positif).

Jubaedi mengatakan bahwa metode tersebut salah satunya

merupakan nasihat agar umat Islam melaksanakan ajarannya

sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, seperti

melaksanakan shalat limat waktu, anjuran agar umat Islam bersatu,

tolong menolong antar sesama dan anjuran untuk berbuat baik.25

Sementara metode kisah dijadikan cara untuk menyampaikan

pesan-pesan Islam oleh para Mubaligh, terutama ketika memperingati

acara Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan pengajian-pengajian yang

memerlukan ilustrai penjelasan dengan kisah (lihat Aripuddin, 2011:

100).

25

(44)

3) Al-Mujadalah

Menurut Al-Jarisyah, dalam kitabnya Adab al-Hiwar

wa-almunadzarah, mengartikan bahwa “al-Jidal” secara bahasa dapat

bermakna “datang untuk memilih kebenaran” dan apabila berbentuk

ism “al-jadlu” maka berarti “pertentangan atau perseteruan yang

tajam” (Al-Jarisyah, 1989:19).

Sementara menurut an-Nasafi, kata ini bermakna “berbantahan

dengan baik yaitu dengan jalan yang sebaik-baiknya dalam

bermujadalah, antara lain dengan perkataan yang lunak, lemah

lembut, tidak dengan ucapan yang kasar atau dengan mempergunakan

suatu perkataan yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa,

dan menerangi akal pikiran, ini merupakan penolakan bagi orang

yang enggan melakukan perdebatan dalam agama.

Wahidin Saputra berpendapat bahwa Al-Mujadalah merupakan

tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang

tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima

pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti

yang kuat. Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan

menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran,

mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman

kebenaran tersebut.26

26

(45)

3. MediaDakwah

Berbicara soal media, kata “media” merupakan jamak dari bahasa Latin

yaitu medion, yang berarti alat perantara. Sedangkan secara istilah media berarti

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan

demikian, dapat dirumuskan bahwa media dakwah berarti segala sesuatu yang

dapat digunakan untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan (lihat

Syukir, 1993:163). Seorang Da’i dalam menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia tidak akan lepas dari sarana atau media (wasilah) dakwah. Kepandaian

untuk memilih media dakwah yang tepat merupakan salah satu unsur keberhasilan

dakwah.

Bagi Tarmizi Taher, internet juga merupakan media dakwah Islam. Pada

masa kini dakwah telah menggunakan medium bit, binary dan digital. Dakwah

dalam bentuk tulisan di buku mendapatkan komplementernya berupa text dan

hypertext di Internet. Meskipun jumlahnya masih sangat sedikit, kalangan umat

Islam di Indonesia yang menggunakan Internet sebagai media dakwah jumlahnya

kian hari kian bertambah. Fenomena dakwah digital tersebut berkembang seiring

dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) di dunia.27

Bagi Asmuni Syukur, media dakwah adalah segalah sesuatu yang

dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan.

27

Nurul Badru Tamam, Dakwah Kolaboratif Tarmizi Taher, (Jakarta: Grafindo

(46)

Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat, kondisi tertentu

dan sebagainya.28

Dr. Taufik al-Wa’iy menyebut beragama-macam sarana bertabligh atau

berdakwah. Apalagi pada era teknologi, telah bermacam-macam dan beraneka

ragam media atau sarana dakwah. Semuanya dapat dikelompokkan sebagaimana

berikut ini:

a. Sarana sam’iyah (audio), seperti radio, seminar, khotbah, diskusi, pelajaran, dan lain-lain.

b. Sarana maqru’ah (bacaan), seperti Koran, majalah, buku, selebaran, dan lain-lain.

c. Sarana bashriyah (video), seperti televise, drama, bisokop, dan

lain-lain.

d. Sarana syakhsiyah (profil), seperti pertemuan, dakwah fardiyah,

percakapan, basa-basi, dan lain-lain.29

Beberapa media dakwah yang dikutip oleh Asmuni Syukur (Syukur:

168-180) adalah sebagai berikut:

a. Lembaga Pendidikan Formal

Lembaga pendidikan formal yang memiliki kurikulum, siswa

sejajar kemampuannya, pertemuan rutin, dan sebagainya. Seperti

Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan lain sebagainya.

Dalam kurikulum yang dianutnya terdapat bidang studi agama apalagi

28

Asmuni Syukur, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya, Al-Ikhlas), h. 163.

29

Taufik al-Wa’iy, “Da’wah Ilallah” Dakwah ke Jalan Allah: Muatan, Saran,

(47)

lembaga pendidikan yang di bawah lingkungan Kementrian Agama.

Dengan pendidikan agama tersebutlah menunnjukkan bahwa lembaga

formal merupakan media dakwah. Sebab, pendidikan agama pada

dasarnya menanamkan ajaran Islam kepada anak yang bertujuan

melaksanakan perintah Allah (dakwah).

b. Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan

anak atau kesatuan sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang

masih ada hubungan darah. Keluarga memiliki kepala keluarga yang

berkuasa atas segalanya di dalam keluarga dan juga sebagai sosok

yang disegani.

Pada umumnya, di dalam keluarga terdapat kesamaan agama, tapi

ada juga bermacam-macam agama yang dianutnya. Bagi kepala

keluarga beragama Islam, kesempatan yang baik keluarganya dapat

dijadikan media dakwah, seperti membiasakan anaknya shalat, puasa,

dan sebagainya sebagaimana disabdakan Rasulullah saw:

Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat bila mana sudah berusia tujuh tahun, dan apabila telah berusia sepuluh tahun pukullah ia (bila tidak mau menjalankan shalat tersebut) dan pisahkan tempat tidurnya(Al-Hadits).

c. Organisasi-organisasi Islam

Oraganisasi Islam sudah tentu berasaskan ajaran Islam. Begitupun

(48)

islamiah, dan sebagainya. Maka, organisasi Islam seperti ini dapat

dikatakan sebagai media dakwah.

d. Hari-hari Besar Islam

Sebagai tradisi Umat Islam Inonesia, setiap peringatan hari besar

secara seksama mengadakan upacara-upacara. Upacara peringatan hari

besar Islam dilaksanakan di berbagai tempat, di istana Negara,

kantor-kantor, sampai di daerha pelosok pedesaan. Di sinilah da’i memiliki kesempatan yang baik dalam menyampaikan misi dakwahnya. Baik

bersifat pengajian umum maupun selamatan di surau-surau atau tempat

lainnya. Kebaikan hari-hari besar memang biasa dijadikan sebagai

media dakwah.

e. Media Massa

Media yang berupa radio, televisi, surat kabar/majalah, juga

dipergunakan sebagai media dakwah. Baik melalui rubrik/acara khusus

agama ataupun acara/rubrik yang berbentuk sandiwara, puisi,

lagu-lagu, dan sebagainya.

f. Seni Budaya

Beberapa group kesenian dan juga kebudayaan menunjukkan

perannya dalam usaha penyeruan dakwah Islam (amar ma’ruf nahi mungkar). Seperti group qosidah, dangdut, musik band, sandiwara,

(49)

4. Materi Dawkah

Materi dakwah adalah isi pesan yang disampaikan da’i kepada mad’u.

Pada dasarnya, pesan dakwah itu adalah ajaran Islam itu sendiri. Secara umum

dapat dibagi beberapa kelompok yaitu:

a. Pesan Akidah, meliputi Iman kepada Allah Swt, Iman kepada

Malaikat-Nya, Iman kepada kitab-kitab-Nya, Iman kepada

Rasul-rasul-Nya, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada Qadha-Qadar.

b. Pesan Syair’ah, meliputi ibadah thaharah, shalat, zakat, puasa, haji,

serta mu’amalah.

 Hukum perdata meliputi: hukum niaga, hukum nikah, dan hukum

waris,

 Hukum public meliputi: hukum pidana, hukum negara, hukum

perang, dan damai.

c. Pesan Akhlak, meliputi akhlat terhadap Allah Swt, akhlak terhadap

makhluk yaitu manusia, diri sendiri, tetangga, masyarakat, serta akhlak

terhadap bukan manusia yaitu flora, fauna, dan sebagainya.30

Sampai dengan abad ke-8 H/14 M, belum ada pengislaman penduduk

pribumi Nusantara secara besar-besaran. Dalam pola perkembangan dakwah di

Indonesia sebelum masa penjajahan, baru pada abad ke-9 H/14 M, penduduk

pribumi memeluk islam secara massal. Menurut para pakar sejarah, bahwa masuk

islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan

saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu,

30

(50)

ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam, seperti Kerjaan

Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Buton, Cirebon, Ternate, dan lain-lainnya.

Dalam literatur yang beredar dan menjadi arus besar sejarah, masuknya

Islam ke Indonesia selalu diidentikkan dengan penyebaran agama oleh orang

Arab, Persia, ataupun Gujarat. Walaupun ada penemuan Slamet Mulyana bahwa

Islam di Nusantara tidak hanya berasal dari wilayah India dan Timur Tengah,

akan tetapi juga dari Cina, tepatnya Yunan. Setelah armada Tiongkok Dnasti

Ming yang pertama kali masuk Nusantara melalui Palembang tahun 1407 M,

kemudian Laksamana Ceng Ho membentuk Kerjaan Islam di Palembang yang

dalam perkembangannya Kerjaan Islam Demaklah yang lebih dikenal.31

Sunan Bonang atau Maulana Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan

Ampel dan Nyai Ageng Malina. Pemilik julukan Prabu Nyokrokusumo itu adalah

termasuk penyokong dari Kerjaan Demak dan ikut pula membantu pendirian

Masjid Agung di kota Bintaro Demak. Selain mendirikan pendidikan dan dakwah

Islam, salah satu program dakwah yang dikembangkannya adalah berinteraksi

dengan masyarakat dan menciptakan gending-gending atau tembang-tembang

jawa yang sarat dengan misi pendidikan dakwah Islam (Hefni, 2007: 177). Seperti

halnya Idrus Kaimuddin membuat syair (kabanti) buton, tembang ciptaan Sunan

Bonang juga membuat seperti Simon, Dandang Gulo, Pangkur, dan lain-lain.

Berkaitan dengan yang dilakukan Idrus, Sunan Bonang juga melakukan

kodifikasi atau pembukuan dakwah yang diandili oleh murid-muridnya. Kitab itu

ada yang berbentuk puisi maupun prosa yang sampai saat ini dikenal sebagai

31

Gambar

Tabel 2.1 Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Sugestif
Table 2.1 Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Sugestif
Gambar 2.1 Gejala Komunikasi Puitik
Gambar 2.2 Relasi-relasi dalam Model Aktan
+7

Referensi

Dokumen terkait