• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semiotika dalam Studi Sastra Narasi

BAB II TINJAUAN TEORITIS

D. Semiotik dalam Syair

2. Semiotika dalam Studi Sastra Narasi

Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Narasi

35

berusaha menjawab pertanyaan “Apa yang telah terjadi?” Ada narasi yang hanya bertujuan untuk memberi informasi kepada para pembaca, agar pengetahuannya bertambah luas, yaitu narasi ekspositoris. Di samping itu, ada juga narasi yang disusun dan disajikan sekian macam, sehingga mampu menimbulkan daya khayal para pembaca. Ia berusaha menyampaikan sebuah makna kepada para pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya. Narasi semacam ini adalah narasi sugestif. Di antara kedua ekstrim ini terjalinlah bermacam-macam narasi dengan tingkat informasi yang semakin berkurang menuju tingkat daya khayal yang semakin bertambah.

d. Narasi Ekspositoris

Narasi ekspositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi mengenai berlangsungnya suatu peristiwa. Narasi ekspositoris dapat bersifat khas atau khusus dan dapat pula bersifat generalisasi.

Narasi ekspositoris yang bersifat generalisasi adalah narasi yang menyampaikan suatu proses yang umum, yang dapat dilakukan siapa saja, dan dapat pula dilakukan secara berulang-ulang. Sementara narasi yang bersifat khusus adalah narasi yang berusaha menceritakan suatu peristiwa yang khas, yang hanya terjadi satu kali. Peristiwa yang khas adalah peristiwa yang tidak dapat diulang kembali, karena ia merupakan pengalaman atau kejadian pada suatu waktu tertentu saja.

e. Narasi sugestif

Seperti halnya dengan narasi ekspositoris, narasi sugestif juga pertama-tama bertalian dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaikan dalam suatu kejadian atau peristiwa. Seluruh rangkaian kejadian itu berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Tetapi tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, tetapi berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, maka narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal (imajinasi).

Narasi sugestif merupakan suatu rangkaian peristiwa yang disajikan sekian macam sehingga merangsang daya khayal para pembaca. Pembaca menarik suatu makna baru di luar apa yang diungkapkan secara eksplisit. Narasi tidak bercerita atau memberikan komentar mengenai sebuah cerita, tetapi ia justru mengisahkan suatu cerita atau kisah. Seluruh kejadian yang disajikan menyiapkan pembaca kepada suatu perasaan tertentu untuk menghadapi peristiwa yang berada di depan matanya. Kesiapan mental itulah yang melibatkan para pembaca bersama perasaannya, bahkan melibatkan simpati atau antipati mereka kepada kejadian itu sendiri.

Supaya memudahkan dan lebih jelas perbedaannya, maka di table berikut akan dikemukakan secara singkat perbedaan Narasi Ekspositoris dan Narasi Sugestif.36

36

Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi (Jakarta: PT. Gramedia, 1986), h. 135-138.

Table 2.1

Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Sugestif

Narasi Ekspositoris Narasi Sugestif

1. Memperluas pengetahuan. 2. Menyampaikan informasi

mengenai suatu kejadian. 3. Didasarkan pada penalaran

untuk mencapai kesepakatan rasional.

4. Bahasanya lebih condong ke bahasa informative dengan titik berat pada penggunaan kata-kata denotatif.

1. Menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat.

2. Menimbulkan daya khayal

3. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar.

4. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitik-beratkan penggunaan kata-kata konotatif.

Dalam papernya, Nasrullah mengutip bahwa, semiotika naratif bisa diartikan sebagai upaya penghitungan (recounting) atau pembacaan kembali terhadap dua atau lebih situasi yang secara logikal terhubung, baik dari segi waktu maupun tempat, dan terkait dengan konsistensi sebuah subjek dari keseluruhan teks atau pesan untuk melihat narasi atau perubahan cerita dari tanda; termasuk untuk mengungkap makna tersembunyi dari tanda (lihat Stam, Burgoyne, & Flitterman-Lewis, 1992:70; Prince, 1987). Bagi Greimas (1965) semiotika naratif adalah “the orientation towards a goal, and therefore a sense of closure and wholeness, as a crucial determinant of naarative”.37

Sobur juga menulis, bahwa dalam lapangan sastra, karya sastra dengan keutuhannya secara semiotik dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Sebagai suatu bentuk, karya sastra secara tulis akan memiliki sifat kerungan (Santosa, 1993:36). Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda-menanda yang menyiratkan makna semiotika. Dari dua tataran (level)

37

Rulli Nasrullah, Jurnal Semiotika Naratif Graimas dalam Iklan Busana

antara mimetik dan semiotik (atau tataran kebahasaan dan mitis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk dipahami dan dihayati.

Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi (Aminuddin, 1997:77).

1) Karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berkaitan dengan (i) pengarang, (ii) wujud sastra sebagai sistem tanda, dan (iii) pembaca. 2) Karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda

(system of sign) yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu. 3) Karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca

sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam literasi semiotics, karya sastra disikapi dengan literary discourse. Sasaran kajian sastra secara ilmiah bukan pada maujud konkret wacananya, melainkan pada metadiscourse atau bentuk dari ciri kewacanaan yang tidak teramati secara konkret.

Maka, menyikapi karya sastra sebagai literary discourse, berarti juga menyikapi karya sastra sebagai wacana ataupun sebagai gejala komunikasi. Namun, berbeda dengan gejala komunikasi pada umumnya, komunikasi dalam wacana sastra ditujukan untuk membuahkan efek keindahan tertentu. Efek keindahan tersebut bukan merujuk pada dunia di luar wacana sastranya, melainkan unsur-unsur yang secara potensial teremban dalam karya sastra itu sendiri secara internal. Karena itulah komunikasi dalam wacana sastra juga dapat disebut sebagai bentuk komunikasi dalam wacana sastra juga dapat disebut sebagai bentuk komunikasi puitik (Aminuddin, 1997:71). Dalam bukunya

Language in Literature, Jakobson (1987:71) menggambarkan keberdaan karya sastra sebagai gejala komunikasi puitik melalui bagan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Gejala Komunikasi Puitik

Pada dasarnya, penyusunan spesifikasi di atas didasarkan pada sistem komunikasi verbal yang mengandung komponen: (i) pembicara (addreser), (ii) konteks perututran, (iii) pesan, (iv) kontak, (v) kode sebagai wahana encoding, dan (vi) pendengar (addressee). Dalam komunikasi tersebut, pembicara dan pendengar berada dalam hubungan langsung. Dikaitkan dengan komponen-komponen komunikasi tersebut, bahasa sebagai wahana memiliki fungsi yang berbeda-beda. Setelah dihubungkan dengan karakteristik komunikasi sastra, fungsi bahasa ditentukan meliputi fungsi (Jakobson, 1987:71-76): (i) emotif, (ii) referensial, (iii) puitik, (iv) fatis, (v) metalingual atau metabahasa, dan (vi) konatif.38

E. Komunikasi Naratif dan Sastra

Dokumen terkait