BAB IV PEBAHASAN DAN ANALISIS SYAIR
C. Kitab Bula Malino dalam Gerakan Dakwah Masa Kini
2. Faktor Penghambat
Jika upaya-upaya tersebut di atas tidak dikembangkan atau dalam katalain “terhenti”, maka untuk memaknai kitab syair Bula Malino dan syair lainnya yang harus dengan keahlian bahasa Wolio serta ruang waktu dan membutuhkan waktu yang lama, di mana pada era globalisasi ini gaya
38
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Sinar Grafika Offset, Jakarta:Amzah,
seperti itu sudah tidak memungkinkan lagi. Sebab, Tokoh kabanti seperti Lambalangi, Almujazi, Syafiuddin serta Tokoh lainnya yang tidak disebutkan, pasti akan memerlukan generasi.
Peneliti sebagai pengguna bahasa Wolio menemukan pendapat yang berbeda di buku La Niampe dengan tulisan Ayah dari Almujazi dalam Bula Malino. Belum lagi ditambah dengan fenomena bahasa wolio yang tidak lagi menjadi high culture. Fenomena tersebut tidak bisa disalahkan, justru itulah yang menjadi alasan mengapa para Tokoh Budaya memerlukan generasi untuk meneruskan dakwah ini.
Berkenaan dengan dakwah di era digital saat ini, karya syair-syair agama tersebut akan musnah begitu saja jika para pemegang naskahnya tidak memahami dakwah dalam Islam secara universal. Seluruh naskah yang belum dikaji akan digerogoti hewan jika terus berdiam di dalam peti sampai akhirnya tidak satupun lagi yang bertahan. Kajian Islam yang dilakukan para ulama pendahulu (Sultan) akan menjadi rumor bahkan dongeng belaka jika apa yang dilakukan Nabi yaitu menyampaikan wahyu (naskah Al-Qur’an) tidak dipahami oleh masyarakat. Maksudnya, arus perkembangan metode dakwah akan terus bertransformasi dan akan sulit masyarakat bendung bahkan justru harus terbuka secara ilmiah. Sehingga, pemerintah harus mengerti bahwa beberapa Tokoh Adat dan Budaya di buton seharusnya juga didukung atas kesadaran ilmiah mereka memelihara naskah tersebut.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti menilai bahwa yang akan menghambat syair-syair tersebut bisa diformulasikan dengan gerakan
dakwah saat ini adalah jika masyarakat tidak mengembangkannya secara ilimiah. Bisa meniru seperti pada buku Membara di Api Tuhan yang telah berbentuk Ebook. Keterbukaan Almujazi sangat perlu didukung dari pemerintah agar naskah yang tersimpan dapat terjaga dan bisa bertahan lama. Sebab, jika tidak, itu akan menjadi penghambat besar kitab dakwah ini beradaptasi dengan zaman modern. Bukan perkara mereka tidak memberikan naskah tersebut, namun, tempat penyimpanan yang tidak layak akan saling kejar dengan upaya sejumlah peneliti atau mitra dakwah dalam menyetarakannya dengan gerakan dakwah masa kini.
3. Posisi Bula Malino dengan Manuskrip Lain
Semua syair yang dibuat oleh orang tua dahulu masing-masing mempunyai tujuan khusus yaitu ajaran tentang agama. Misalkan pada acara nikah, kabanti yang berjudul Momondona Rua Miaana (Terjalinnya dua sejoli) nampaknya dikarang untuk hubungan rumah tangga. Ungkapan Suhura tersebut terlihat saat peneliti melakukan wawancara dengan Pak Lambalangi. Penulis transliterasi kabanti tersebut menunjukkan sejumlah tulisannya dengan bermacam-macam tema. Selain Bula Malino (Purna yang Cerah), syair yang tebal adalah Ajonga Indaa Malusa (Pakaian yang Tak Pernah Kusut). Namun, peneliti menemukan setiap buku mengenai sejarah buton dan mengandung tema keislaman, selalu terdapat bahasan Kabanti Bula Malino.
Posisi Kitab Bula Malino memang cukup populer di kalangan masyarakat dan bisa dibilang sangat berlaku ucapan “siapa yang tidak tahu Kabanti Bula Malino?”. Tidak jarang ditemukan beberapa individu yang
familiar dengan nama Bula Malino namun tidak mengerti isi kitabnya bahkan belum pernah melihat bagaimana bentuk tulisannya. Memang sejumlah masyarakat telah menggenggam kaset VCD Bula Malino tapi nampaknya upaya nyanyian tersebut kurang produktif sebagai sarana dakwah jika pendengarnya (masyarakat) tidak memiliki kecakapan bahasa Wolio.
Jika dilihat dari prespektif dakwah, tidak ada klasifikasi mana yang bagus dan mana yang tidak di antara semua kitab kabanti yang ada di Buton. Secara universal, ulama dahulu memang telah mencurahkan segenap pemikiran hingga menghasilkan karya tulis sastra agama. Itu terlihat dari struktur narasi penulisan kitab-kitab tersebut. Seperti ucapan Suhura, peneliti menilai bahwa, perlu adanya kajian berikutnya pada syair (kitab) lain selain Bula Malino. Dari seluruh Manuskrip yang ada di Buton, dalam hal ini berkaitan yang dengan syair agama, kitab yang dikaji oleh peneliti ini merupakan satu-satunya syair yang lebih dominan ditulis dan dikaji secara ilmiah. Namun demikian, sangat perlu bagi peneliti serta masyarakat untuk menjamahi manuskrip lain dan mengkajinya secara ilmiah pula.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model Aktan Greimas dalam narasi Kitab Bula Malino khususnya pada baris 332-383 menunjukkan adanya rangkaian hubungan antar satu kalimat (bait) dengan kalimat lainnya. Dalam hal ini, Idrus sebagai destinator (pengirim) menulis sebuah kitab syair. Dalam baris tersebut mengandung pesan peringatan kematian. Topik kematina dikirim oleh Idrus dalam syair sebagai subjek agar manusia lebih bersiap menjalani kehidupan. Sehingga, sebagai receiver (penerima) adalah bisa seorang narator namun bisa juga manusia. Sebab, kitab ini akan dibaca oleh khalayak, secara tidak langsung, pesan yang dinaraskan dalam kitab tersebut ditujukan kepada manusia selain pengarang.
Kemudian, yang diharapkan Idrus (narator) atau yang menjadi objek dalam kajian baris tersebut adalah harapan agar menjadi manusia yang husnul khatimah sehingga dapat melihat secara langsung Zat Tuhannya. Untuk mencapai objek tersebut maka wajib bagi hamba untuk membekali perjalanan hidupnya dengan keimanan dan tasdiq yang tetap. Kualitas amal saleh yang serta Qur’an dan Hadits yang dijadikan pedoman oleh hamba selama di dunia akan membentenginya dari godaan setan yang menerpa. Itulah yang dinamakan Adjuvant (pendukung) menurut Greimas.
Dalam perjalanan hidup ini, sudah tentu ada yang namanya ujian dan cobaan. Dalam hal ini, cobaan dan ujian yang dimaksud adalah suatu yang menghambat manusia dalam konsistensinya mencapai objek tersebut. Dikatakan
bahwa, akan ada godaan setan bagai angin topan yang kencang datang menerpa hamba. Jika godaan tersebut mampu menggoyahkan konsistensi iman dan mampu meruntuhkan semangat ibadah, maka hamba tersebut akan tergolong orang-orang yang su’ul khatimah. Hal tersebut dinamakan traitor (penghambat) yang menghalai seorang hamba untuk mencapai tujuannya (objek) yaitu bertemu dengan Tuhan sebagai hamba yang husnul khatimah.
Ada tiga rangkain cerita dalam kitab tersebut. Pertama, bagian awal yaitu dibuka dengan tema peringatan kematian. Kedua, bagian tengah yaitu menarasikan tentang keimanan dan konsistensi amal saleh. Ketiga, bagian akhir, narasi tentang kematian yang dalam perjalanannya akan menuju husnul khatimah dan bisa saja menuju pada su’ul khatimah. 332-383 (Tabel 4.17).
Dalam gerakan dakwah masa kini, materi dakwah yang dinarasikan oleh Idrus merupakan topik-topik urgent bagi setiap kalangan. Sudah lazim bagi media dakwah, manuskrip tersebut dapat diformulasikan dengan gerakan dakwah masa kini. Dakwah secara tulisan (al-mau’idza al-hasanah) ilmiah tersebut tidak hanya didapati pada kitab Bula Malino. Masih banyak media dakwah berbentuk tulisan syair yang serupa dengan kitab Idrus tersebut. Tidak hanya pada masyarakat buton, secara umum, karya ilmiah ini dapat dibaca semua kalangan.
Beberapa dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits berkaitan dengan item-item pesan dakwah tersebut seperti yang di tulis di bab sebelumnya. Pada batasan kajian dakwah yang ditentukan peneliti tersebut merupakan rangkuman dari rangkaian 16 tema lainnya. Artinya, perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai kitab Bula Malino ini.
Pesan dakwah yang takandung dalam baris 332 sampai baris 383 sangat terlihat dan meliputi beberapa hal yaitu:
1. Mengenai kematian yang tak mungkin hamba bisa kembali lagi ke dunia. Kematian dinantikan oleh orang alim dan diharapkan oleh orang saleh.
2. Kelengkapan berlayar yang lekat dengan religionitas. Tiang kapal yaitu khauf dan layarnya adalah rajaa. Layar paling depan adalah tawaduh’ dan para pendayung laksana para Mujahid. Tali-temalinya adalah riyadhat dan pengikatnya adalah konaa’ah. Kemudi kapal harus berhati bersih dan tulus serta. Kompas kapal menggunakan Qur’an dan Hadits serta. Bendera kapal harus bernafaskan zuhud serta bendera umbul-umbulnya yaitu zikir dan tasbih. Jurubatu mempunyai ilmu zahir dan Jurumudinya harus memiliki ilmu batin. Petugas yang mengeluarkan air dalam kapal harus berjiwa seorang murid yang taat pada gurunya dan Nahkoda kapal harus seperti sebuah hidayah dari Allah SWT.
3. Perintah bertawakkal kepada Allah SWT saat siap melakukan sesuatu. meluruskan niat. Mulai melupakan kepentingan dunia serta diawali dengan keputusan yang baik dengan landasan Laa Ilaaha Illallaah yaitu semata-mata niatnya hanya mengharap ridha Allah SWT.
4. Menghadapi beragam godaan cobaan dengan tetap teguh pada pendirian. Tidak mengubah atau menggoyah keimanan atas niat yang telah dibentuk. Sebab, jika tidak bertahan, maka seorang hamba akan merugi di kemduian hari. Kerugian ini dinamakan su’ul khatimah.
Sehingga, seorang hamba harus menguatkan imannya agar menjadi hamba yang husnul khatimah dan melihat Zat Tuhannya.
B. Saran
Kitab atau buku adalah salah satu media dakwah dalam bentuk tulisan yang ditulis oleh seorang yang telah wafat ratusan tahun silam. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kandungan kitab tersebut ditulis berkenaan dengan corak kehidupan pada masa si pengarang. Sehingga, sebagai media dakwah, seharusnya kitab tersebut harus dikaji lebih tajam dengan pendekatan ilmiah yang berkembang agar mitra dakwah atau masyarakat buton khususnya menyadari bahwa gerakan dakwah Islam bukan baru lahir saat ini.
Kabanti Bula Malino adalah kitab yang bukan satu-satunya membahas tentang ajaran agama. Kitab lain seperti Ajonga Inda Malusa, Momondona Ruamiana, dan kitab lainnya masih dalam bentuk transliterasi dan belum dikembangkan seperti Bula Malino dalam buku Membara di Api Tuhan serta yang diteliti oleh penulis lainnya. Sebagai upaya menambah khazanah kelimuan, perlu juga bagi kitab yang lain untuk dikaji dengan penelitian ilmiah. Tentunya itu akan mudah dilakukan jika didukung oleh sumber yang open minded (terbuka). Maksudnya, diharapakan kepada pemegang manuskrip atau naskah kitab tersebut agar mendukung penelliti secara profesional.
Harapan yang sama kepada sejumlah peneliti agar menjaga profesionalisme karya ilmiah dengan menyatakan dari mana sumber (referensi) didapat. Dalam buku misalnya, atau karya ilmiah lainnya, penulis harus menghindari sifat egois atau lupa menulis bagaimana sumber (kitab) bisa didapat
atau dari manakah manuskrip tersebut ditemukan. Demikian itu telah menjadi sebab mengapa para pemegang naskah (manuskrip) buton enggan membuka (memberi) kepada tiap peneliti.
Oleh Karen itu, perlu adanya dukungan dari masyarakat terutama pemerintah agar karya dakwah ini menjadi sumber yang dapat diakses semua orang dalam bentuk Ebook dan sebagainya. Sebab gerekan dakwah di era digital ini patut membutuhkan keselrasan perkembangan teknologi. Misalnya, kitab tersebut dapat diformulasikan menjadi aplikasi dalam telepon genggam (Android).
Alifuddin, M. Islam Buton: Interaksi Islam dengan Budaya Lokal, Badan Litbang dan Dilat Departemen Agama, 2007.
Al-Bakri, Ahmad Abdurraziq. Ringkasan Ihya’ulumuddin:Imam Al-Ghazali, Jakarta: PT. Sahara Intisais 2012.
Amahzun, Muhammad. Manhaj Dakwah Rasulullah, Qisthi Press, Jakarta: 2004. Arifin, Anwar. Dakwah Kontemporer: Sebuah Studi Komunikasi, Graha Ilmu,
Yogyakarta: 2011.
Arifin, M. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Amin, Samsul Munir. Ilmu Dakwah, Penertib, Sinar Grafika Offset, Jakarta: Amzah, 2009.
Yunus, Menafsir Ulang Sejarah dan Budaya Buton, 2011.
Al-Wa’iy, Taufik. “Da’wah Ilallah” Dakwah ke Jalan Allah: Muatan, Saran, dan Tujuan, Jakarta: Robbani Press, 2010.
Aripuddin, Acep. Dakwah Antarbudaya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung: 2012. ANCEAUX, J. C. Wolio Dictionary-wolio-english-indonesia, Foris Publication
Holland: 1987.
Eriyanto, Analisis Naratif: Dasar-dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media, Kencana Pernada Media Group, Jakarta, 2013.
Fang, Liaw Yock. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Jakarta Yayaysan Obor Indonesia, 2011.
Hefni, Harjani. Pengantar Sejarah Dakwah, Kencana Prenada Meida Group: Jakarta, 2007.
Ikram, Achadiati. Katalok Naskah Buto: Koleksi Abdul Mulku Zahari, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2002.
Ikram, Achadiati. Katalok Naskah Buto: Koleksi Abdul Mulku Zahari, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2002.
Ikram, Achadiati, dkk:Mukhlis PaEni:Editor Umum, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara, Rajawali Pers, Jakarta: 2009.
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi Jakarta: PT. Gramedia, 1986.
Lamra, Tarafu. Alih Aksara dan Bahasa, Buton
La Niampe, Nasihat Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al-Buthuni, Kendari, FKIP Unhalu, 2009.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern, Gajah Mada University Press, Cetakan kesepuluh: Yogyakarta, 2011.
Saputra, Wahidin. Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: Rajawali Pers, 2011. Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1992.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2009. Sobur, Alex. Komunikasi Naratif: Paradigma, Analisis, dan Aplikasi PT. Remaja
Rosdakarya Bandung, 2014.
Sobur, Alex. Komunikasi Naratif: Paradigma, Analisis, dan Aplikasi, PT. Remaja Rosdakarya Bandung, 2014.
Syukur, La Ode Muh, dkk. Sejarah Kebudayaan Islam Sulawesi Tenggara, CV. Shadra, 2009.
Syukur, Asmuni. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya, Al-Ikhlas,
Tamam, Nurul Badru. Dakwah Kolaboratif Tarmizi Taher, Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2005.
http://ssarifin.blogspot.com/2012/02/menghormati-orang-dan-guru.html (diakses 24 September 2014).
Rulli Nasrullah, Semiotika Naratif Graimas dalam Iklan Busana Muslim,
www.kangarul.com.
http://myrepositori.pnm.gov.my/bitstream/123456789/1627/1/PAMM2014_Paper09. pdf (diakses 25 September 2014).
Narasumber : Al Mujazi
Institusi : Museum Kebudayaan Wolio
Jabatan : Pemegang Naskah sekaligus (bisa dibilang) Pemilik Naskah Hari, Tanggal : Kamis, 13 Maret 2014
Waktu : 16.00-17.00 WITA
Alamat : Jalan Labuke, Buton Sulawesi Tenggara (tepatnya di benteng keraton buton)
(T) Kabanti merupakan sarana dakwah, apakah perlu dibudayakan?
(J) “Seharusnya apa yang telah kita awali dari kabanti tetap kita lanjutkan, jangan diputuskan.”
(J) Apa sajakah isi kandungan kabanti wolio?
Kabanti semua mengandung ajaran. Baik buruknya tingkah laku kita dan mengetahui jati diri kita. Termasuk sejarah dan keadaan benteng Buton ini tersimpan dalam kabanti. Seperti kabanti-kabanti lainnya juga merupakan ajaran untuk menuju pada kesalehan dan beradab bagi manusia itu sendiri.
(T) Bagaimana fungsi kabanti sebenarnya?
(J) “Bagi orang tua ketika ingin membacakan kabanti, mereka mengumpulkan keluarganya dan beberapa sanak saudaranya dalam satu forum informal. Kemudian, pembaca kabanti akan menjelaskan makna dari kandungan kabanti tertentu sesuai judul yang akan dikaji. Semua akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sejauh mana dia memahami.”
(J) “Pernah ada seorang peneliti yang datang ke Buton, kemudian sebagian yang memegang sumber naskah memberikannya untuk keperluan akademis. Namun, ternyata seorang peneliti tersebut hanya mementingkan kebutuhan tertentunya.”
Mengetahui,
Narasumber : Syafiuddin
Institusi : Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau Sulawesi Tenggara
Jabatan : Dosen aktif Unidayan Hari, Tanggal : Minggu, 23 Maret 2014
Alamat : Kelurahan Bataraguru, Baubau Sulawesi Tenggara
(T) Bagaimana metode pengajaran atau pengamalan kabanti di zaman dulu?
(J) “Narasi dari Kabanti Bula Malino adalah sistim pemahaman di dalam pelaksanaan tasawuf. Salah satu tarekat yang digemari oleh orang tua dahulu. Pemahaman narasi kabanti oleh guru, dalam arti mengajarkan langsung kepada murid atau memberikan petunjuk makna dari naskah oleh guru kepada murid. Begitulah sistim tata cara pelaksanaan pemahaman daripada narasi kabanti itu. Kabanti adalah sistim pengamalan tarekat. Kabanti Bula Malino ini adalah tarekat.
(T) Selain pemahaman tasawuf, apa lagi yang direpsentasikan kabanti?
(J) “Bula Malino adalah etika Islam, yang mana ajarannya ini adalah ajaran tasawuf. Kabanti dipakai setiap kali oleh mereka di samping pengkajian, mereka langsung mengamalkan isi dari pada kabanti. Karena cerita dalam kabanti mengenai bagaimana Pengarang berupaya tidak berpisah dengan Penciptanya.”
pendidikan informal yang tertuju kepada ketinggian tauhid seseorang.”
Mengetahui,
Narasumber : Lambalangi
Pekerjaan : Tokoh dan Praktisi Kabanti (menyalin dan menulis kabanti) Jabatan : Mantan Kepala Kantor Departemen Agama Kecamatan Wolio Hari, Tanggal : Selasa, 25 Maret 2014
Waktu : 19.45- 20.30 WITA
Alamat : Kelurahan Tarafu, Kecamatan Betomabari, Kota Babau Sulwesi Tenggara
(T) Bgaimana gerakan kabanti yang dilakukan oleh masyarakat saat ini dan apa yang telah Anda lakukan?
(J) “Salah satu penyebab mengapa kabanti sudah tidak dilestarikan lagi adalah berkurangnya orang Wolio asli. “Orang Wolio sudah berkurang tapi Orang di Wolio sudah semakin banyak”. Karena memang masyarakat Buton sekarang sudah kurang mengerti berbahasa Wolio. Oleh karena itu, setelah beberapa lama pensiun, pada tahun 1992 saya berpikir apa yang harus saya kerjakan? Pada saat yang sama saya dibayang-bayangi akan makin punahnya bahasa wolio. Sehingga, saya menyalin dan menyetak beberapa kabanti. Semua kabanti yang saya cetak ini ada tujuh buku, ada yang bertuliskan Wolio dan ada juga yang latin.”
(T) Ada berapa jumlah “judul” kabanti?
(T) “Kata para orang tua dulu ada 100 lebih judul kabanti yang tertulis. Namun, hingga saat ini sudah 21 tahun yang ditemukan baru 35 judul kabanti.
(T) Bagaimana fungsi kabanti pada masa kesultanan?
(J) “Pada 1824 di masa Diponegoro, karena pergaulan di Buton sudah jauh dari norma-norma agama sehingga Muhammad Idrus Kaimuddin membuat kabanti pada saat itu. Kabanti yang dibuat kadang dinyanyikan pada waktu masyarakat lagi meminum khamar dan berjudi serta aktivitas yang menyimpang lainnya. Aktivis kabanti saat itu tidak menegur secara langsung orang-orang yang telah menyimpang dari norma-norma agama. Akan tetapi justru mereka menyanyikan kabanti agama di saat aktivitas mereka.”
(T) Bagaimana masyarakat menggunakan kabanti saat ini?
(J) “Saat ini sudah longgar akidah, jadi cukup berhati-hati. Akhirnya kabanti akan menjadi hal yang tidak penting lagi. Masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan peninggalan budaya Islam ini. Seperti halnya, banyak manusia yang ingin belajar ilmu renang tapi melupakan Ilmu menyelam. Saati ini sudah banyak lagu dangdut dan itu sangat diminati daripada senandung kabanti.”
Mengetahui,
Ayahnya, Abdul Mulku Zahari (lihat Bab III, h. 60).
Museum Kebudayaan Wolio, Baadhia, Baubau Sulawesi Tenggara.
Bersama Al-Mujazi, usai wawancara (di kediamannya)
Kelurahan Tarafu, Baubau Sulawesi Tenggara.