• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Hambur Balik Akustik Dasar Laut di Sekitar Kepulauan Seribu Menggunakan Split Beam Echosounder.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengukuran Hambur Balik Akustik Dasar Laut di Sekitar Kepulauan Seribu Menggunakan Split Beam Echosounder."

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

KORSUES LUMBAN GAOL

SKRIPSI

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(2)

KORSUES LUMBAN GAOL.Measuring Acoustic Backscattering Strength of Seabed Around Seribu Islands Using Split Beam Echosounder.Supervised by HENRY M. MANIK.

The purpose of this research is to compute the backscattering strength of the seabed by measuring volume backscattering strength (SV), bottom surface backscattering strength (SS), and the echo level (EL) from seabed using split beam echosounder. The research was conducted from 29th January to 3rd February 2011, around the Seribu Islands: Pramuka island, Panggang island, Karya island and Semak Daun island, North Jakarta.

Acquisition of acoustic data was conducted using the SIMRAD EY 60 instrument. Acoustic data obtained from 9 stations simultaneously with sediment sampling. Acoustic processing data was conducted by Rick Towler program with Matlab based. The SV and SS were analyzed Manik et al, model by using.

Sediment sampling station consisted of 9 stations: Pramuka island there are 1 station (Station 1), Karya island there are 2 stations (Station 2, and Station 3), Panggang island there are 3 stations (Station 4, Station 7, Station 9), and Semak Daun island there are 3 stations (Station 5, Station 6, Station 8). Sediment classified based on the sediment texture. Seabed surface sediments were

separated into 3 types, they are: sand, mud, and clay. This analysis showed that the location of the 9 stations observation is dominated by sand fraction with the percentage of 80.85%. Mud and clay fractions had the average percentage value of 18.32% and 0.83%, respectively. The backscattering value (SV) of sand substrate ranged -10.62 to -18.51 dB with the average of -13.91 dB, and the muddy sand substrate ranged from -16.58 to -25.42 dB with the average -20.57 dB.

The value of SS for the sand substrate ranged from -20.70 to -28.58 dB with the average value of -23.98 dB. Muddy sand substrate has a value of SS in the range of -26.64 to -35.49 dB with the average SS of -30.64 dB, from this research, the classification of seabed type using hydroacoustic technology was possible.

(3)

iii

Laut di Sekitar Kepulauan Seribu Menggunakan Split Beam Echosounder. Dibimbing oleh HENRY M. MANIK.

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung nilai backscattering strength

dari dasar perairan meliputi volume backscattering strength dasar laut (SV),

bottom surface backscattering strength (SS), dan echo level (EL) dasar perairan menggunakan split beam echosounder. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 29 Januari - 3 Februari 2011 di sekitar perairan Kepulauan Seribu, meliputi: perairan Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Karya dan Pulau Semak Daun, Jakarta Utara.

Akuisisi data akustik menggunakan instrumen SIMRAD EY 60. Data akustik didapat dari 9 stasiun dengan masing-masing sampling data substratnya. Pengolahan data akustik menggunakan perangkat lunak Matlab dengan listing

program Rick Towler. Nilai SVdan SSmenggunakan analisis model Manik et al.

Pengambilan sampel sedimen yang terdapat pada 9 stasiun , yaitu : P. Pramuka terdiri dari 1 stasiun (Stasiun 1), P. Karya terdiri dari 2 stasiun (Stasiun 2, dan 3), P. Panggang terdiri dari 3 stasiun (Stasiun 4, 7, dan 9), dan P. Semak Daun terdiri dari 3 stasiun (Stasiun 5, 6, dan 8).

Sampling sedimen kemudian diklasifikasikan berdasarkan hasil analisis tekstur sedimen. Sedimen permukaan dasar laut di lokasi penelitian dapat dipisahkan menjadi 3 tipe sedimen yaitu: pasir, lanau, dan liat. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 9 stasiun lokasi pengamatan secara keseluruhan didominasi oleh fraksi pasir yang memiliki persentase rata-rata sebesar 80,85%. Fraksi lanau dan liat secara berturut-turut memiliki nilai persentase rata-rata sebesar 18,32% dan 0,83. Hasil pengukuran nilai backscattering (SV) tipe substrat pasir berkisar -10,62 sampai -18,51 dB dengan rata-rata -13,91 dB, sedangkan substrat pasir berlumpur berkisar -16,58 sampai -25,42 dB dengan rata-rata -20,57 dB. Nilai SS untuk substrat pasir berkisar antara -20,70 sampai -28,58 dB dengan nilai rata-rata sebesar -23,98 dB. Substrat pasir berlumpur memiliki nilai SS yang berkisar pada -26,64 sampai -35,49 dB dengan rata-rata nilai SS sebesar -30,64 dB, dan dalam penelitian ini, klasifikasi sedimen dasar laut dengan

(4)

ii

Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

PENGUKURAN HAMBUR BALIK AKUSTIK DASAR LAUT DI SEKITAR KEPULAUAN SERIBU MENGGUNAKAN

SPLIT BEAM ECHOSOUNDER

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir Skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

(5)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(6)

DI SEKITAR KEPULAUAN SERIBU MENGGUNAKAN

SPLIT BEAM ECHOSOUNDER

KORSUES LUMBAN GAOL

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(7)

vi

Judul Skripsi : PENGUKURAN HAMBUR BALIK AKUSTIK DASAR LAUT DI SEKITAR KEPULAUAN SERIBU

MENGGUNAKAN SPLIT BEAM ECHOSOUNDER

Nama Mahasiswa : Korsues Lumban Gaol

Nomor Pokok : C54070067

Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Henry M. Manik, M.T NIP. 19701229 199703 1 00 8

Mengetahui, Ketua Departemen

Tanggal lulus: 28 Desember 2011

(8)

67

Penulis dilahirkan di Lubuk Pakam pada tanggal 30 Januari

1989, dari pasangan Bapak M. Lumban Gaol dan Ibu

T. Sagala. Penulis merupakan anak keenam dari enam

bersaudara. Lulus dari SMA Negeri 7 Siak Sri Inderapura,

Kab. Siak, Riau tahun 2007, penulis langsung melanjutkan

studi di Institut Pertanian Bogor melalui jalur seleksi Beasiswa Utusan Daerah

(BUD). Tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu dan

Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama menjalani

kuliah di IPB, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi

Kelautan (HIMITEKA) periode 2009/2010. Selain itu, penulis juga aktif menjadi

Asisten Praktikum pada mata kuliah Dasar-dasar Instrumentasi Kelautan

2009/2010, dan berbagai kepanitiaan kegiatan Keluarga Mahasiswa Katolik IPB

(KEMAKI IPB). Dalam menyelesaikan studi dan untuk memperoleh gelar Sarjana

Ilmu Kelautan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis menyusun skripsi

(9)

vii

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus karena kasih

dan hikmat yang Dia berikan selalu sehingga skripsi ini dapat selesai. Skripsi

yang berjudul Pengukuran Hambur Balik Akustik Dasar Laut di Sekitar Kepulauan Seribu Menggunakan Split Beam Echosounder diajukan sebagai salah satu untuk mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orangtua, M. Lumban Gaol dan T. Sagala

2. Dr. Ir. Henry M. Manik, M.T selaku dosen pembimbing, dan pembimbing

akademik

3. Dr. Ir. Totok Hestirianoto, M.Sc selaku dosen penguji dan Dr. Ir. Jonson

Lumban Gaol, M.Sc selaku dosen penguji komisi pendidikan ITK

4. ITK 44. Terima kasih atas kebersamaannya selama 4 tahun.

Proud to be part of all of you. God Bless Us, as always.

5. Mega Pratiwi Saragi yang telah memberikan semangatku dan doa.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena

itu, saran dan kritik sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata,

penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tuhan Memberkati.

Bogor, Februari 2012

(10)

viii

2.2 Metode Akustik untuk Klasifikasi Dasar Perairan ... 5

2.3 Split Beam Echosounder Simrad EY 60 ... 8

3.2.2 Instrumen Simrad EY 60 Scientific Echosounder System ... 18

3.2.3 Alat Pengambil Contoh Sedimen ... 19

3.3 Pengambilan Data ... 19

3.3.1 Pengambilan Data Akustik ... 19

3.3.2 Pengambilan Sampel Sedimen ... 21

3.4 Analisis Data ... 22

3.4.1 Analisis Data Echogram ... 22

3.4.2 Analisis Komponen Utama Sedimen ... 26

3.4.3 Analisis Sampel Sedimen ... 28

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

4.1 Sedimen Dasar Perairan ... 30

4.2 Komputasi Acoustic Backscattering Dasar Perairan ... 34

4.2.1 Volume Backscattering Strength (SV) Dasar Perairan... 35

(11)

ix

(12)

x

Halaman

1. Ukuran Besar Butir untuk Sedimen Menurut Skala Wentworth ... 4

2. Alat dan Bahan yang digunakan dalam Penelitian ... 18

3. Parameter dan Kalibrasi dari Instrumen Echosounder... 18

4. Komposisi Fraksi Sedimen pada setiap Stasiun ... 34

5. Nilai SV, SS, EL (dB)Dasar Perairan ... 35

6. Beberapa Penelitian AcousticBackscattering Strength Dasar Perairan ... 40

(13)

xi

Halaman

1. Diagram Segitiga Shepard ... 5

2. Pantulan Sinyal Akustik terhadap Dasar Perairan yang Heterogen ... 6

3. Pantulan Dasar Perairan First Echo (E1) dan Second Echo (E2) ... 7

4. Hubungan Sudut Datang dan Pantulan Dasar Tipe Dasar Perairan ... 8

5. Skema Transducer Split Beam ... 9

6. Tampilan Layar Echogram ... 11

7. Contoh Jejak Dasar Perairan Kasar dan Lunak pada Perekaman ... 12

8. Bentuk Kurva Dasar Perairan Sedimen Keras dan Lunak ... 13

9. Echo yang menunjukkan Jejak Pulsa dari Dasar Laut ... 14

10. Peta Pengambilan Data Sedimen ... 16

11. Ilustrasi Posisi Paralon terhadap Echogram ... 19

12. Simplikasi Diagram Alir Instrumen Echosounder ... 20

13. Diagram Pengolahan Data pada Echoview 4.0 ... 23

14. Tampilan Contoh Echogram ... 25

15. Diagram Pengolahan Data pada Matlab ... 26

16. Skematik Bagan Alir Penelitian ... 27

17. Peta Stasiun Sebaran Sedimen ... 31

18. Persentase Sedimen di Lokasi Penelitian ... 32

19. Echogram Tipe Substrat Pasir Berlumpur ... 36

20. Echogram Tipe Substrat Pasir ... 37

21. Pola SS dan SV Tipe Substrat Pasir Berlumpur ... 39

22. Pola SS dan SV Tipe Substrat Pasir ... 39

23. Perbandingan Nilai Backscattering Strength berbagai Tipe Substrat ... 41

24. Echo Envelope di 9 Stasiun Lokasi Penelitian ... 42

25. Echo Envelope yang mengindikasikan Substrat Pasir Berlumpur ... 44

26. Echo Envelope yang mengindikasikan Substrat Pasir ... 45

27. PCAuntuk Parameter Fisik Sedimen dan Nilai Hidroakustik ... 47

(14)

xii

Halaman

1. Alat dan Bahan yang digunakan di Lapangan... 56

2. Foto Tipe Substrat Dasar Perairan di Lokasi Penelitian ... 57

3. Alat Pengukur Parameter Fisik Sedimen ... 57

4. Listing ProgramMatlab Rick Towler untuk menampilkan SV dan SS ... 58

5. Listing Program Matlab untuk menampilkan Echo Envelope ... 61

6. Gambar Grafik Echogram ... 63

7. Gambar Grafik Pola SV dan SS ... 64

8. Gambar Grafik Intensitas Energi Acoustic Backscattering ... 65

(15)

1

1.1.Latar Belakang

Hidroakustik merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan

menggunakan gelombang suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian.

Teknologi hidroakustik memiliki beberapa kelebihan diantaranya, yaitu: informasi

pada areal yang dideteksi dapat diperoleh secara cepat (real time), dan secara

langsung di wilayah deteksi (in situ), serta tidak berbahaya atau merusak objek

yang diteliti pada frekuensi tertentu, karena pendeteksian dilakukan dari jarak jauh

dengan menggunakan suara (underwater sound). Metode ini merupakan

solusi yang cepat dan efektif untuk menduga objek yang ada di bawah air

(Jackson et al. 1986).

Dasar laut memiliki karakteristik memantulkan dan menghamburkan

kembali gelombang suara seperti halnya permukaan perairan laut (Urick, 1983).

Parameter seperti ukuran butiran sedimen, relief dasar perairan, serta sejumlah

variasi lainnya pada dasar perairan mempengaruhi proses hamburan sinyal

akustik (Thorne et al. 1988; Moustier and Matsumoto 1993; Chakraborty et al.

2007).

Pendugaan dasar perairan dengan metode akustik telah dilakukan dan dikenal

sebagai teknik pengklasifikasian sedimen. Penelitian lebih lanjut telah dilakukan

terhadap beberapa parameter sedimen yang berpengaruh seperti, ukuran sedimen

(grain size), densitas, porositas, kompresional dan absorbsi serta kekasaran

permukaan sedimen.

Beberapa penelitian terdahulu mengenai klasifikasi dasar perairan dengan

(16)

berdasarkan nilai surface backscattering strength dengan teknik integrasi echo

dasar dan pengembangan model numerik ring surface scattering menggunakan

quantitative echo sounder di perairan selatan Jawa (Manik et al., 2006).

Selanjutnya informasi pengklasifikasian dasar perairan di Perairan Sumur, Banten

dengan menggunakan nilai kekasaran dan kekerasan juga telah dilakukan oleh

Allo (2008). Penelitian terbaru oleh Manik (2011), yaitu pengukuran dasar laut

menggunakan multi-frekuensi akustik 38, 70, and 120 kHz dalam mengestimasi

respon dari target (sea bottom) berdasarkan backscattering strength (SS) dan

kuantifikasi ikan di pulau selatan Jakarta, Indonesia.

Tipe substrat dasar perairan dipengaruhi oleh adanya pengendapan partikel

sedimen yang disebabkan oleh adanya kecepatan arus dan ukuran butiran partikel

sedimen. Partikel dengan ukuran yang lebih besar akan mengendap terlebih

dahulu seperti kerikil, sedangkan partikel dengan ukuran yang lebih kecil seperti

pasir akan lebih mudah terbawa oleh air dan baru mengendap kemudian.

Dilanjutkan dengan pengendapan sedimen dengan ukuran parikel lebih halus

seperti lanau dan lempung. Proses ini menyebabkan timbulnya tipe-tipe substrat

yang berbeda dan khas di perairan.

Metode akustik dianggap mampu memberikan solusi dalam pendugaan

karakteristik dasar perairan yang mengakibatkan sejumlah penelitian lanjutan

mengenai dasar perairan dilakukan. Tingginya variasi yang terjadi pada dasar

perairan membuat banyak hal yang masih belum jelas dalam pendugaan

karakteristik dasar perairan dengan menggunakan metode akustik.

Penambahan persyaratan untuk perekaman data pantulan pertama (first echo)

(17)

karakteristik dari dasar perairan. Berbeda halnya dengan echosounder multibeam,

yang menyediakan area cakupan spasial yang luas, split beam echosounder

memberikan informasi tentang dasar perairan tepat di bawah daerah lokasi

tracking (normal incidence) yang ditimbulkan oleh pulsa akustik.

Penelitian ini mencoba menghitung nilai volume backscattering strength

dasar laut, bottom surface backscattering strength, dan menentukan echo level

dasar perairan tersebut, sehingga memudahkan kita mengestimasi dan

mengklasifikasikan tipe substrat dengan menggunakan program pengolahan yang

berbeda dari penelitian sebelumnya.

1.2.Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung nilai backscattering strength

dari dasar perairan meliputi volumebackscattering strength dasar laut(SV),

bottom surfacebackscattering strength (SS), dan Echo level (EL) dasar perairan

untuk kuantifikasi dan karakterisasi dasar perairan. Penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat mengenai gambaran karakteristik dasar perairan berdasarkan

nilai backscattering strength yang dihasilkan oleh berbagai macam tipe substrat

(18)

4

2.1. Sedimen Dasar Laut

Sedimen adalah kerak bumi (regolith) yang ditransportasikan melalui proses

hidrologi dari suatu tempat ke tempat yang lain, baik secara vertikal maupun

secara horizontal. Seluruh permukaan dasar lautan ditutupi oleh partikel-partikel

sedimen yang diendapkan secara perlahan dalam jangka waktu berjuta-juta tahun

(Garrison, 2005). Ukuran-ukuran partikel sedimen merupakan salah satu cara

yang mudah untuk menetukan klasifikasi sedimen seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Ukuran Besar Butir untuk Sedimen Menurut Skala Wentworth

Sumber : Wibisono (2005)

Klasifikasi berdasarkan komposisi sedimen juga dapat dilakukan dengan

menggunakan diagram segitiga seperti pada Gambar 1 diagram tersebut

(19)

liat (clay) sehingga memudahkan dalam proses klasifikasi. Parameter seperti

ukuran butiran sedimen, relief dasar perairan, serta sejumlah variasi lainnya pada

dasar perairan mempengaruhi proses hamburan sinyal akustik (Thorne et al.

1988; Richardson & Briggs 1993; Chakraborty et al. 2007).

Gambar 1. Diagram Segitiga Shepard (1954)

2.2. Metode Akustik untuk Klasifikasi Dasar Perairan

Hidroakustik merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan

perambatannya dalam suatu medium, dalam hal ini medium yang digunakan

adalah air. Data hidroakustik merupakan data hasil estimasi echocounting dan

echo integration melalui proses pendeteksian bawah air (Manik, 2009).

Teknik echosounder single beam akustik untuk klasifikasi dasar perairan

telah banyak dilakukan, baik menggunakan pengukuran yang berhubungan

dengan tipe substrat khususnya (Siwabessy, 2005). Teknik akustik digunakan

sebagai pelengkap dari sistem berbasis satelit udara, karena ketika didalam

(20)

membatasi ruang lingkup penginderaan optik. Banyak penelitian yang

menggunakan sonar untuk memetakan dasar laut dan menentukan sifat fisik dari

sedimen itu sendiri, selain itu sonar dengan frekuensi tinggi mampu mengukur

dan mengetahui relief dasar laut. Side Scan Sonar (SSS) juga digunakan untuk

menggambarkan dasar laut, selain itu dapat pula digunakan mengukur batimetri

dengan menggunakan teknik interferometrik (Jackson and Richardson, 2001).

Metode akustik untuk klasifikasi dasar perairan menggunakan sinyal hambur

balik (acoustic backscatter) untuk memperkirakan kekerasan (hardness atauE2)

dari dasar laut, dan pengukuruan terhadap waktu lamanya echo kembali untuk

memperkirakan kekasaran (roughness atauE1) dasar laut. Jenis echosounder yang

digunakan memiliki beamwidth 12-750 agar mendapatkan informasi mengenai

kekerasan dan kekasaran (Siwabessy, 2005).

Kekasaran permukaan dasar laut merupakan variabel penting dalam

kaitannya dengan intensitas backscatter akustik dengan frekuensi tinggi. Pengaruh

dari kekasaran pada intensitas backscatter bervariasi tergantung tipe, magnitudo,

dan orientasi dari kekasaran dasar perairan (Flood and Ferrini, 2005). Pantulan

sinyal akustik di permukaan dasar laut terhadap dasar perairan yang heterogen

dapat dilihat pada Gambar 2.

(21)

Bentuk echo yang dipantulkan akan sangat bergantung dengan kekerasan dan

kekasaran dasar laut. Permukaan sedimen yang kasar akan memantulkan energi

hambur balik yang lebih dibandingkan pada permukaan sedimen yang halus,

sehingga permukaan yang lebih kasar akan menghasilkan puncak yang rendah dan

ekor yang lebih panjang dibandingkan dengan permukaan sedimen yang halus

dengan komposisi yang sama (Siwabessy, 2005).

Hubungan lain yang dapat dijelaskan antara kekasaran (roughness atauE1)

dan kekerasan (hardness atauE2) dapat memperlihatkan jenis atau tipe sedimen

yang terdapat di suatu perairan dimana semakin besar kedua nilai tersebut maka

jenis sedimen pada suatu perairan sebagian besar berupa substrat keras. Hubungan

kekasaran dan kekerasan pantulan dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Pantulan Dasar Perairan First Echo (E1)dan Second Echo (E2) (Hamilton (2001) dalam Siwabessy, 2005)

Adapun hubungan pantulan dasar perairan terhadap tipe dasar perairan yang

(22)

Gambar 4. Hubungan Sudut Datang dan Pantulan Dasar berbagai Tipe Dasar Perairan

2.3. Split Beam Echosounder Simrad EY 60

Echosounder bim terbagi (split beam) memiliki transduser yang dibagi

menjadi empat kuadran, yaitu : FP (Fore Port), FS (Fore Starboard), AP (Aft

Port) dan AS (Aft Starboard). Transmisi pulsa pada echosounder ini diterapkan

untuk seluruh transduser tetapi sinyal yang diterima oleh masing-masing kuadran

diproses secara terpisah. Target strength dari objek diestimasikan dari sensitivitas

transduserdalam arah yang relevan.

Sinyal yang terpantul dari target diterima secara terpisah oleh masing-masing

kuadran. Selama penerimaan berlangsung, keempat bagian transduser menerima

echo dari target, dimana target yang terdeteksi oleh transduser terletak pada pusat

(23)

pada waktu bersamaan. Jika target yang terdeteksi tidak terletak tepat pada sumbu

pusat dari bim suara, maka echo akan diterima lebih dulu oleh bagian transduser

yang paling dekat dari target atau dengan mengisolasi target dengan menggunakan

output dari full beam (MacLennan and Simmonds, 2005).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simrad EY 60 yang

merupakan echosounder tipesurat terbagi (split beam). Sistem surat terbagi

menggunakan transduser penerima yang memiliki empat kuadran, yakni : fore,

aft,port, dan starboard. Menurut buku manual Simrad (1993), pada prinsipnya

tranducersplit beam terdiri dari empat kuadran, yaitu : Fore (bagian depan), Aft

(bagian belakang), Port (sisi kiri kapal) dan Starboard (sisi kanan kapal)

(Gambar 5).

Gambar 5. Skema Transducer Split Beam (Simrad, 1993)

Split beam merupakan metode baru yang dikembangkan untuk memperbaiki

kelemahan dari metode sebelumnya seperti single beam dan dual beam.

Perbedaan split beam dengan metode sebelumnya terdapat pada konstruksi

transduser yang digunakan, dimana pada echosounder ini transduser dibagi dalam

empat kuadran. Pemancaran gelombang suara dilakukan dengan full beam yang

merupakan penggabungan dari keempat kuadran dalam pemancaran secara

(24)

masing-masing kuadran secara terpisah, output dari masing-masing kuadran

kemudian digabungkan lagi untuk membentuk suatu full beam dengan dua set

split beam. Target tunggal diisolasi dengan menggunakan output dari full beam

sedangkan posisi sudut target dihitung dari kedua set split beam.

Selama transmisi, transmitter mengirim daya akustik ke semua bagian

transduser pada waktu yang bersamaan. Sinyal yang terpantul dari target

diterima secara terpisah oleh masing-masing kuadran. Selama penerima

berlangsung keempat bagian transduser menerima gema dan target, dimana target

yang terdeteksi oleh transduser terletak pada pusat dari surat suara dan gema dari

target akan dikembalikan dan diterima oleh keempat bagian pada waktu yang

bersamaan. Target yang terdeteksi tidak terletak tepat pada sumbu pusat surat

suara, maka gema yang kembali akan diterima lebih dulu oleh bagian transduser

yang paling dekat dari target atau dengan mengisolasi target dengan menggunakan

output dari surat penuh (full beam) (Simrad, 1993).

Split beam Simrad EY 60scientific echo soundrer system merupakan

instrumen hidroakustik yang paling baru dan merupakan instrument yang bersifat

portable sehingga memudahkan untuk dibawa. Simrad EY 60 memiliki

seperangkat alat yang terdiri dari transducers, general purpose transceiver (GPT),

laptop dan global positioning system (GPS) yang terhubung dan semuanya

disambungkan dengan sumber energi yang berasal dari baterai.

Pantulan sidelobes dari permukaan maupun dari dasar perairan merupakan

masalah utama yang ditemukan pada perairan dangkal saat dilakukan horizontal

bim. Sistem tranducers baru pada Simrad EY 60 memiliki keuntungan dengan

(25)

Simrad EY 60 disebut sebagai scientific echosounder karena konsep baru yang

digunakan pada receiver memungkinkan alat ini mencapai rentang dinamis

sampai dengan 160 dB. Sounder dapat beroperasi pada tiga frekuensi sebesar 12,

38 dan 120 kHz. Keunikan lain dari alat ini adalah kemampuannya untuk

mengamati posisi horizontal dari ikan yang berada pada bim, hal ini

memungkinkan peneliti untuk mempelajari tingkah laku ikan. Selain itu memiliki

beberapa keistimewaan diantaranya memiliki tampilan echogram yang baik

dengan sistem multi frekuensi. Alat ini mampu menganalisis dengan lapisan

(layer) yang tidak terbatas sehingga memudahkan untuk analisis biomassa dan

target strength ikan (www.simrad.com).

Gambar 6. Tampilan Layar Echogram

2.4. Sinyal Echo Dasar Perairan

Informasi tentang jenis lapisan dasar perairan dan vegetasi bawah air

disandikan dalam sinyal echo. Sinyal tersebut dapat disimpan dan diperoleh

secara bersamaan dengan data GPS. Sinyal yang disandikan dan informasi tentang

(26)

Proses verifikasi hasil sampling fisik dasar perairan harus ada dan

pengamatan dilakukan oleh penyelam atau kamera bawah air dan data yang

diperoleh harus dicatat sebagai data akustik. Setelah diverifikasi, hasil disimpan

sehingga jenis dasar perairan dapat diketahui dan dapat dibandingkan dengan data

dari sinyal echo (Burczynski, 2002).

Parameter sinyal echo selain tergantung pada jenis dasar perairan khususnya

kekasaran (roughness) dan kekerasan (hardness) juga dipengaruhi oleh parameter

dari alat, yaitu frekuensi seperti beamwidthtransducer dan lain-lain. Oleh karena

itu, hasil verifikasi akan sah hanya untuk sistem akustik yang digunakan untuk

verifikasi (Burczynski, 2002).

Perkiraan bahwa bagian dasar perairan keras akan menghasilkan echo yang

tajam dengan amplitudo yang tinggi sementara bagian dasar perairan lunak akan

menghasilkan echo yang panjang dengan amplitudo yang lebih rendah. Fenomena

ini dapat diamati pada osiloskop yang ada pada echogram di echosounder selama

survei (Gambar 7).

Gambar 7. Contoh Jejak Dasar Perairan Kasar dan Lunak pada Perekaman Hitam dan Putih (Burczynski, 2002)

Gambar 8 memperlihatkan contoh echo dari dasar perairan yang keras dan

(27)

kemudian kurva kumulatif dari echo dasar perairan. Perbedaan yang nyata akan

terlihat dari bentuk yang berbeda antara energi kumulatif dari sinyal dasar

perairan yang keras dan lunak. Dasar perairan yang keras akan menghasilkan

kurva dengan peningkatan yang tajam sementara bagian dasar perairan yang lunak

akan menghasilkan kurva yang meningkat dengan kemiringan yang relatif rendah.

Echo yang berasal dari dasar perairan yang ditampilkan dalam bentuk energi

kumulatif dapat disimpan dalam database. Kemudian untuk jenis yang tidak

diketahui dapat diimplementasikan sebagai curve fitness algorithm dan mengenali

jenis dasar perairan sesuai dengan bentuk kurva energi kumulatif.

Gambar 8. Bentuk Kurva Dasar Perairan dari Dasar Perairan Keras dan Lunak; (a) Amplitudo Sinyal Echo (b) Kurva Energi Kumulatif (Burczynski, 2002)

Amplitudo dan bentuk sinyal akustik yang dipantulkan dari dasar laut

ditentukan oleh: kekasaran dasar laut, perbedaan densitas antara air dan dasar laut,

dan reverberasi di dalam substrat. Klasifikasi dasar laut memerlukan sistem

akuisisi data akustik dan suatu algoritma yang menganalisis data, menentukan

jenis dasar laut dan menghubungkannya dengan hasil klasifikasi akustik terhadap

(28)

Penggunaan sistem klasifikasi dasar laut telah terintegrasi dengan kombinasi

perangkat keras dan perangkat lunak. Pengolahan data biasanya tergantung pada

ekstraksi fitur karakteristik dari echo dasar laut (Gambar 10). Klasifikasi

memasukkan semacam teknik penyaringan untuk kelompok echo dengan fitur

yang serupa.

Gambar 9. Echo yang menunjukkan Jejak dari Pulsa yang dikirim dan dipantulkan dari Dasar Laut (Collins dan McConnaughey, 1998)

Durasi echo mempengaruhi berbagai macam fitur yang selain tergantung pada

bentuk echo, juga tergantung pada jenis sedimen dan kedalaman. Nilai amplitudo

backscatter tergantung pada jenis sedimen, grazing angle dan jarak.

Ketergantungan pada grazing angle dan jarak harus dikurangi untuk klasifikasi

(29)

15

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Pengambilan data akustik dilakukan pada tanggal 29 Januari sampai 3

Februari 2011 di perairan Kepulauan Seribu. Wilayah penelitian mencakup di

sekitar perairan Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Karya dan Pulau Semak

Daun, Jakarta Utara. Wilayah penelitian berada pada koordinat 5 43’729” LU

– 106 36'185" BT. Pengambilan data dilakukan secara stationer di 9 stasiun.

Pengambilan data difokuskan pada beberapa macam tipe substrat yang menjadi

fokus kajian pada penelitian ini, dimana penulis terlibat langsung dalam proses

pengambilan data di lapangan. Lokasi ditentukan berdasarkan informasi dari

nelayan dan masyarakat di sekitar lokasi penelitian serta survei awal yang

(30)
(31)

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama penelitian untuk pengolahan data adalah meliputi

perangkat keras dan lunak. Perangkat keras (Hardware), meliputi : Simrad EY 60,

Laptop, serta Dongle dari Echoview 4.0 dan Perangkat lunak (Software), yaitu :

Microsoft Office Excell 2000, Software Echoview 4.0, Matlab R2008b, serta

Statistica 6.0.

3.2.1. Kapal

Survei pengambilan data akustik dilakukan dengan menggunakan kapal

nelayan setempat. Penempatan komponen Simrad EY 60(Laptop dan GPT) harus

berada pada tempat yang aman dan mudah dioperasikan. Penempatan posisi

transduser harus masuk ke dalam air, sehingga transduser diletakkan di sisi luar

kapal tepatnya pada bagian kiri kapal dengan kedalaman transduser 0,5 m.

Transduser diletakkan di sebelah kiri karena perputaran baling-baling kapal

berlawanan dengan arah jarum jam. Hal ini dilakukan karena sinyal-sinyal

pengganggu (noise) yang ditimbulkan oleh baling-baling lebih besar pada satu sisi

kapal dari pada sisi yang lain. Dalam hal ini, sisi kanan kapal memiliki noise yang

besar karena baling-baling kapal berputar ke arah kiri.

Namun pada saat pengambilan data akustik, lokasi pengambilan data hanya

difokuskan pada posisi yang stasioner sehingga mesin kapal dimatikan untuk

mengurangi noise yang mungkin saja ditimbulkan oleh baling-baling kapal. Alat

dan bahan yang digunakan dalam penelitian akustik dasar perairan dapat dilihat

(32)

Tabel 2. Alat dan Bahan yang digunakan dalam Penelitian

Alat dan bahan Jenis/keterangan Fungsi

Split beam

echosounder Simrad EY 60 Pengambilan data akustik

GPS Garmin Pengambilan data posisi stasiun

Laptop Hp Compac Pemrosesan dan penyimpanan

data akustik

Kapal Kapal nelayan (panjang dan lebar 6, dan 1,8 m)

Pipa paralon Berdiameter 7,6 cm dan

panjang 10 cm Alat untuk mengambil sampel

Underwater camera Sony DCS-W170 10 MP Dokumentasi objek di bawah air

3.2.2. Instrumen Simrad EY 60 Scientific Echosounder System

Pengambilan data akustik menggunakan perangkat Simrad EY 60scientific

echosounder system. Transducer split beam dioperasikan dengan menggunakan

frekuensi 120 kHz, transmitted power 50 watt, nilai pembatas -130 dB, kecepatan

suara 1546,35 m/dtk dan dengan nilai transmitted pulse length 0,128 mdtk.

Perekaman akustik dilakukan secara stasioner pada titik transek (± 30 menit tiap -

tiap stasiun), selain itu digunakan laptop untuk merekam data secara real time dan

juga GPS untuk mengetahui posisi lintang (latitude) dan bujur (longitude).

Spesifikasi parameter dan kalibrasi Simrad EY 60 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Parameter dan Kalibrasi dari Instrumen Echosounder

Parameter Nilai

Tipe transduser ES120-7C

Frekuensi (Operating frequency) (f) 120 (kHz) Kecepatan suara (Sound speed) (c) 1546.3 (m/s) Daya pancar (Transmission power) (P) 50 (watt) Lama pulsa (Pulse duration) 0.1280 ms

Maximum ping rate 20 pings/sec

Equivalent beam angle (ψ) -21o

Kedalaman transduser 0,5 - 1 (m)

(33)

3.2.3. Alat Pengambil Contoh Sedimen

Pengambilan contoh sedimen dilakukan pada tiap stasiun pengamatan yang

memiliki data akustik. Proses pengambilan sedimen dilakukan melalui

penyelaman dengan SCUBA dan menggunakan pipa paralon berdiameter 7,6 cm

(3 inch) dengan panjang 10 cm yang ditancapkan ke dalam dasar perairan.

Sedimen yang didapatkan dibiarkan berada dalam pipa paralon dalam keadaan

tertutup sehingga tidak mengubah struktur sedimen yang terdapat dalam sedimen.

Ilustrasi pengambilan contoh sedimen seperti pada Gambar 11.

Gambar 11. Ilustrasi Posisi Paralon terhadap Echogram

pada saat Pengambilan Contoh Sedimen

3.3. Pengambilan Data

3.3.1. Pengambilan Data Akustik

Pengambilan data akustik dilakukan di wilayah perairan Kepulauan Seribu

mencakup Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Karya dan Pulau Semak Daun.

Pengambilan atau perekaman data akustik dilakukan secara stasioner di setiap

stasiun pada 9 stasiun yang berbeda. Data akustik diambil dengan menggunakan

instrumen echosounder split beam Simrad EY 60. Alat ini dioperasikan secara

(34)

Pusat Riset Perikanan Tangkap (PRPT). Pengambilan data akustik dilakukan

menggunakan seperangkat echosounder split beamSimrad EY 60, dimana

transduser diletakkan di dalam air sedangkan seperangkat GPT dioperasikan di

atas kapal.

Secara umum akuisisi data diambil dengan menggunakan instrumen

echosounder untuk mengukur bottom acoustic backscattering strength. Diagram

alir akuisisi data ditunjukan pada Gambar 12.

Gambar 12. Simplikasi Diagram Alir Instrumen Echosounder (Manik, 2011)

Pada saat transdusermemancarkan gelombang suara mengenai suatu target di

dasar perairan, maka gelombang suara akan dihamburkan kembali pada

transduser. Sinyal gelombang suara yang dihasilkan oleh transdusermasih lemah,

untuk itu perlu diperkuat sebelum diteruskan ke recorder atau display. Penguatan

gelombang suara ini dilakukan oleh receiver amplifier. Receiver amplifier

bersama time varied gain (TVG) amplifier berfungsi untuk menguatkan sinyal

(35)

diperoleh bottom echo computation yang dapat memberikan informasi mengenai

nilai SV, dari nilai SVakan diperoleh nilai SS(Manik, 2011).

Nilai acoustic backscattering volume (Sv) diperoleh dengan menggunakan

software Echoview. Selanjutnya dengan menggunakan persamaan yang

menghubungkan bottom volume backscattering coefficient (Sv) dan surface

backscattering coefficient (Ss) (Manik, 2011) diperoleh nilai SS.

..….. (1)

dimana:

Φ = Instantaneous equivalent beam angle for surface scattering

Ψ = Equivalent beam angle for volume scattering c = Kecepatan suara (m/s)

τ = Pulse length

Peak bottom echo, nilai integrasi ΨΦ sehingga persamaan (1) menjadi:

..….. (2)

SS [dB] = 10*log Ss ..….. (3)

Nilai echo level (EL) diperoleh dengan persamaan:

EL = SL – 30 log H –2αH + 10 log(πcτ) + BSs(0) ..….. (4)

BSs(0) = Backscattering surface strengthat normal incidence (dB) simbol BSs(0)(Lurton, 2002) ≈ SS(0) (Manik et al. 2006) H = Ketinggian dari sumber suara ke target (m)

α = Koefisien absorpsi (dB/m)

3.3.2. Pengambilan Sampel Sedimen

Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada 9 stasiun. Pengambilan sampel

dilakukan dengan penyelaman secara langsung ke dasar perairan. Pengamat

(36)

diambil menggunakan sekop, dan dimasukkan ke dalam pipa paralon dengan

ukuran 50 cm.

Sampel sedimen yang diambil diperkirakan memenuhi setengah atau lebih

dari volum pipa paralon, kemudian pipa paralon ditutup rapat dengan

menggunakan plastik dan karet gelang. Setelah itu sampel dibawa untuk

kemudian dianalisis teksturnya di analisis tekstur sedimen di Balai Penelitian

Tanah Laboratorium Fisika Tanah Bogor.

3.4. Analisis Data

3.4.1. Analisis Data Echogram

Data yang diperoleh dari instrumen Simrad EY 60split beam echosounder

systems dalam bentuk raw data (echogram) selanjutnya diolah menggunakan

software Echoview 4.0, dan dianalisis menggunakan Ms. Excel. Sedangkan untuk

visualisasi echogram menggunakan software Matlab dan Statistica. Proses

integrasi dasar perairan dilakukan pada kedua pantulan akustik dari dasar perairan,

yaitu nilai E1 (energy of the 1st bottom echo), dannilai E2 (energy of the 2nd

bottom echo) pada second bottom. Respon akustik dari dasar perairan dilihat

dengan mengintegrasikan dasar laut dengan ketebalan integrasi 10 cm.

Elementary Distance Sampling Unit (EDSU) yang digunakan pada proses

integrasi adalah berdasarkan dengan ping number sebesar 10 ping.

Nilai E1 threshold yang digunakan untuk energy of the 1st bottom echo (E1)

minimum sebesar -50 dB dan maksimum 0 dB, sedangkan threshold minimum

untuk energy of the 2nd bottom echo (E2) sebesar -70 dB dan maksimum pada 0

(37)

Gambar 13. Diagram Pengolahan Data pada Echoview 4.0

Langkah awal dalam pengolahan data echogram pada softwareEchoview 4.0

adalahpengkalibrasian data terlebih dahulu. Kalibrasi dilakukan secara manual

pada variable properties dengan memasukkan nilai parameter insitu seperti suhu

dan salinitas, selanjutnya akan diperoleh nilai koefisien absorpsi dan nilai

kecepatan suara. Pengolahan data echogram untuk dasar perairan dibagi menjadi

dua langkah, yaitu pengolahan untuk E1 (first bottom) dan pengolahan data untuk

E2 (second bottom). Pengolahan E1 dimulai dengan mengatur tampilan echogram

dengan nilai minimum -50 dan range yang digunakan adalah 50. Setelah itu

dibuat dua buah garis untuk membatasi wilayah integrasi dasar perairan. Garis

(38)

sedangkan garis kedua (line 2) dibuat dengan kedalaman 0.1 meter. Kemudian

untuk analisa lebih lanjut dibuat dua buah garis untuk kedalaman yang berbeda

yaitu 0.2 m dari permukaan dasar.

Analisis dilakukan terhadap nilai scattering volume (SV) dasar perairan.

Pengambilan data dilakukan per 10 ping. Setelah garis pertama dan garis kedua

terbentuk, pada echogramvariable properties (F8) pilih analysis, pada exclude

above line masukkan nilai line 1 dan exclude below line masukkan nilai line 2.

Pengekstrakan data dilakukan dengan menggunakan dongle yang kemudian akan

diperoleh nilai integrasi masing-masing ping dalam bentuk Ms. Excel.

Pengolahan selanjutnya adalah untuk E2 (second bottom). Analisis second

bottom hampir sama dengan pengolahan sebelumnya, pembuatan line 1 dilakukan

secara manual mengikuti kontur dasar perairan second bottom, sedangkan garis

kedua secara otomatis akan mengikuti bentuk garis pertama dengan jarak 0,10 m.

Setelah itu data diekstrak dengan menggunakan dongle yang kemudian

ditampilkan dalam bentuk Ms. Excel. Pengolahan data pada echogram pada

Echoview dapat dilihat pada Gambar 13.

Visualisasidata echogram (dalam bentuk raw data) menggunakan perangkat

lunak Matlab R2008b. Program listing yang digunakan adalah program Rick

Towler (Purnawan, 2009). Echogram merupakan hasil rekaman jejak-jejak dari

target yang terdeteksi yang dapat dihasilkan dari sistem akustik dimana sumbu x

merupakan jumlah ping dan sumbu y merupakan range/kedalaman (m). Skala

Gray menunjukkan bahwa nilai raw data dari echogram SV antara -12 sampai

-70 dB. Pengembalian yang tinggi secara akustik menunjukkan pemantulan dari

(39)

lemah menunjukkan pembelokan sinyal akustik yang kembali dan dihubungkan

untuk tipe dasar yang halus. Echogram digunakan sebagai fungsi quality control

dan analisa data. Intensitas dari tiap variabel dinotasikan sebagai warna pada tiap

pixel. Visualisasi contoh echogram dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Tampilan Contoh Echogram

Nilai acoustic backscattering volume (SV)diperoleh dengan menggunakan

software Echoview. Selanjutnya dengan menggunakan persamaan yang

menghubungkan bottom volume backscattering coefficient (Sv) dan surface

backscattering coefficient (Ss) (Manik et al. 2006) diperoleh nilai SS. Setelah

diperoleh nilai tersebut, pengolahan data pada echogram pada Matlab untuk

visualisasi echogram (SV, dan SS),sertaintensitas echo dasar perairan (EL) dapat

(40)

Gambar 15. Diagram Pengolahan Data pada Matlab

3.4.2. Analisis Komponen Utama Sedimen (Principal Component Analysis)

Matriks korelasi menjelaskan hubungan antar parameter yang ada. Suatu

korelasi dinyatakan berhubungan positif atau berbanding lurus jika nilainya

0,50 – 1,00. Parameter yang dinyatakan berhubungan negatif atau berbanding

terbalik jika nilainya berada pada kisaran -0,50 sampai dengan -1,00 dan jika

nilainya berada diantara -0,50 hingga 0,50 dianggap tidak mempunyai pengaruh

(41)

Hubungan antara parameter fisika sedimen dengan nilai akustik dianalisis

dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), untuk melihat

seberapa besar keterkaitan antara satu parameter dengan parameter yang lain,

yaitu parameter fisik sedimen yang digunakan dalam analisis ini meliputi

(komposisi sedimen), dan parameter akustik.

Adapun secara skematik bagan alir pencapaian tujuan dalam penelitian

dideskripsikan pada Gambar 16.

Gambar 16. Skematik Bagan Alir Penelitian

Survei akustik dan observasi bawah air dalam pengkarakteristikan dasar

(42)

perekaman data yang menggunakan scientific echosounder systemSimrad EY 60

dengan sampling sedimen dasar perairannya.

Sampling sedimen dasar perairan diolah di Balai Penelitian Tanah

Laboratorium Fisika Tanah IPB Bogor untuk mendapatkan analisis sedimen

(grain size). Pengolahan hasil data (raw data) menggunakan Echoview dan Ms.

Excel, visualisasi menggunakan Matlab yang menampilkan nilai SV,SS, dan

intensitas energi backscattering strength atau echo envelope. Hasil analisis

sedimen dan pengolahan data kemudian dihubungkan dan dianalisis parameter

komponennya untuk mendapatkan beberapa kesimpulan mengenai karakteristikan

dasar perairan di perairan Kepulauan Seribu. Analisis parameter komponen utama

menggunakan PCA, yaitu parameter fisika sedimen dengan nilai akustik.

3.4.3. Analisis Sampel Sedimen

Analisis sampel sedimen dilakukan di Balai Penelitian Tanah Laboratorium

Fisika Tanah IPB Bogor. Analisis sampel sedimen dilakukan untuk menentukan

ukuran tekstur dari masing-masing butiran partikel sedimen. Klasifikasi metode

analisis besar butir dilakukan dengan menggunakan metode ayakan bertingkat

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Contoh substrat dari lapangan kemudian timbang dengan timbangan analitik

untuk mendapatkan berat

2. Substrat tersebut dikeringkan dalam oven dengan suhu 1000C sampai

benar-benar kering

3. Contoh diayak dengan Shieve shaker berukuran 2 mm

4. Selanjutnya ditambahkan H2O2 30% sebanyak 100 ml dan didiamkan

(43)

sampai semua bahan organik habis dengan tidak ada buih lagi. Hal ini

dilakukan untuk menghilangkan bahan organik pada sampel substrat

5. Pisahkan fraksi pasir dari debu dan liat dengan menggunakan ayakan

50 µm. Fraksi debu dan liat kemudian ditampung dalam gelas ukur.

6. Pindahkan fraksi pasir kedalam cawan porselin kemudian keringkan di atas

pemanas. Timbang berat pasir, kemudian diayak dengan menggunakan 5

ukuran saringan berbeda yaitu 50-100 µm, 100-200 µm, 200-500 µm,

500-1000 µm, 500-1000-2000 µm. Sehingga menghasilkan 5 ukuran besar butir

sedimen yang nantinya akan digolongkan ke dalam substrat pasir

7. Fraksi lanau dan liat yang dipisahkan kemudian ditambahkan larutan

Na2P2O7.10H2O (Na-hexametafosfat) untuk selanjutnya dianalisis untuk

dengan cara pemipetan dengan ukuran pipet 20 cc

8. Untuk menentukan fraksi lanau, larutan didiamkan selama 1-15 menit.

Selanjutnya untuk fraksi liat dimana ukurannya sangat kecil, maka larutan

tersebut didiamkan selama ± 24 jam untuk selanjutnya ditentukan

(44)

30

4.1. Sedimen Dasar Perairan

Berdasarkan pengamatan langsung terhadap sampling sedimen dasar perairan

di tiap-tiap stasiun pengamatan tipe substrat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

substrat pasir berlumpur dan pasir. Sampling sedimen tersebut berdasarkan

analisis tekstur dapat dipisahkan menjadi 3 tipe sedimen yaitu: pasir, lanau dan

liat. Pengambilan sampel sedimen yang terdapat pada 9 stasiun, yaitu : P.

Pramuka terdiri dari 1 stasiun (Stasiun 1), P. Karya terdiri dari 2 stasiun (Stasiun

2, dan 3), P. Panggang terdiri dari 3 stasiun (Stasiun 4, 7, dan 9), dan P. Semak

Daun terdiri dari 3 stasiun (Stasiun 5, 6, dan 8). Pada lokasi pengambilan

sedimen, stasiun 1 sampai 6 adalah stasiun pasir berlumpur, sedangkan stasiun 1

sampai 9 adalah stasiun pasir. Lokasi pengambilan sedimen dapat dilihat pada

(45)
(46)

Berdasarkan hasil analisis tekstur sedimen, sedimen permukaan dasar laut di

lokasi penelitian dapat dipisahkan menjadi 3 tipe sedimen yaitu: pasir, lanau, dan

liat. Fraksi pasir terdapat 5 ukuran mata ayakan 1.000 – 2.000 μm, 500 – 1.000

μm, 200 – 500 μm, 100 – 200 μm, dan 50 – 100 μm), lanau (3 fraksi, ukuran 20 –

50 μm, 10 – 20 μm, dan 2 –10 μm) dan liat (1 fraksi, ukuran 0 – 2 μm). Hasil

analisis menunjukkan bahwa dari 9 stasiun lokasi pengamatan secara keseluruhan

didominasi oleh fraksi pasir yang memiliki persentase rata-rata sebesar 80,85%.

Fraksi lanau dan liat secara berturut-turut memiliki nilai persentase rata-rata

sebesar 18,32% dan 0,83% (Gambar 18).

Rendahnya tingkat persentase lanau dan liat di lokasi penelitian ini salah

satunya disebabkan karena tidak adanya daratan utama yang menjadi sumber

masukan fraksi lanau dan liat yang dapat disebabkan oleh proses sedimentasi yang

terjadi di daratan yang terbawa oleh aliran sungai yang bermuara di lautan.

Gambar 18. Persentase Sedimen di Lokasi Penelitian

Fraksi pasir (sand) yang memiliki kenampakan makroskopis akan lebih cepat

mengendap dibandingkan dengan fraksi lanau atau lumpur (silt) dan liat (clay)

(47)

dan liat berukuran sangat kecil (mikroskopis) sehingga masih dapat dibawa oleh

arus ke tempat lain. Sedimen fraksi lanau umumnya mudah terbawa oleh arus dan

mudah teraduk bila terjadi proses turbulensi atau upwelling.

Pengendapan fraksi lanau sangat lambat, sehingga posisi lumpur selalu di atas

dari lapisan permukaan dasar laut. Sedimen fraksi liat merupakan sedimen yang

ukurannya paling kecil sehingga butuh waktu yang lebih lama dari pada lanau

untuk mengalami proses pengendapan di dasar perairan. Istilah lumpur (silt)

biasanya dalam konteks laut diganti dengan istilah yang lebih umum, yakni lanau

agar tidak membingungkan dengan pengertian mud. Menurut Wibisono (2005)

jenis-jenis partikel tersebut sangat menentukan jenis hewan benthos yang

mendiami sedimen tersebut sebagai habitatnya, seperti untuk jenis sedimen

pebbles dan granules setidaknya akan ditemui hewan-hewan Gastropoda,

sedangkan untuk jenis sedimen pasir mungkin kita akan mendapati hewan

kerang-kerangan (Bivalva) dan untuk jenis sedimen lanau biasanya dapat ditemukan

hewan cacing.

Persentase komposisi fraksi pasir terbesar terdapat pada Stasiun 8 sebesar

90,26% yang berada pada posisi 5°43,833’ LS dan 106°34,363’ BT pada

kedalaman 5,01 meter dan terendah pada Stasiun 2 sebesar 72,37% pada posisi

5°44,275’ LS dan 106°36,538 BT yang berada pada kedalaman 4,07 meter.

Persentase komposisi fraksi lanau terbesar terdapat pada Stasiun 2 sebesar 26,81%

dan terendah pada Stasiun 8 sebesar 9,01%, sedangkan untuk fraksi liat tertinggi

terdapat pada Stasiun 6 dengan persentase sebesar 1,28%, dimana stasiun ini

terletak pada posisi 5°43,703’ LS dan 106°34,379’ BT dengan kedalaman 5,60

(48)

Tabel 4. Komposisi Fraksi Sedimen pada setiap Stasiun

St. Posisi koordinat Persentasi fraksi (%) Tipe substrat Lintang Bujur Pasir Lanau Liat

4.2. Komputasi Acoustic Backscattering Dasar Perairan

Hasil ekstrak data menggunakan program Echoview 4,0 dongle version dan

readEYRawMatlab menghasilkan tampilan echogram yang merupakan hasil

penjabaran dari setiap ping dari nilai volume backscattering strength (SV), dengan

unit decibel (dB). Komputasi nilai backscattering (SV dan SS) dari beberapa tipe

substrat dasar perairan diperoleh melalui komputasi echo dasar perairan yang

terekam dalam echogram (Manik, 2011). Echogram adalah hasil perekaman

sinyal atau gambar hasil deteksi dengan menggunakan alat akustik. Echogram

juga dapat memberikan informasi kedalaman perairan, profil dasar perairan dan

mengenai individu ataupun kelompok ikan.

Semakin besar nilai backscattering yang diberikan oleh dasar perairan maka

diduga semakin kasar dan keras pula jenis dasar perairan tersebut. Hal ini

disebabkan karena perbedaan material dasar laut. Adapun nilai komputasi SV, SS,

(49)

Tabel 5. Nilai SV, SS, dan EL (dB) Dasar Perairan

St. Tipe Substrat Depth (m)

4.2.1. Volume Backscattering Strength (SV) Dasar Perairan

Hasil kuantifikasi SV echo dasar perairan menunjukkan bahwa dari 2 tipe

substrat yang ditemukan di lokasi penelitian, substrat pasir memiliki nilai SV

(roughness) yang berkisar antara -10,62 sampai -18,51 dB dan substrat pasir

berlumpur memiliki nilai SVyang berkisar antara -16,58 sampai -25,42 dB. Nilai

SVrata-rata untuk substrat pasir adalah sebesar -13,91 dB dan substrat pasir

berlumpur sebesar -20,57 dB. Nilai SV tertinggi untuk substrat pasir terdapat pada

Stasiun 7 sebesar -10,62 dB dan terendah pada Stasiun 8 sebesar -18,51 dB,

sedangkan nilai SV tertinggi untuk substrat pasir berlumpur terdapat pada Stasiun

6 sebesar -16,58 dB dan terendah pada Stasiun 3 sebesar -25,42 dB (Tabel 5).

Echogram merupakan rekaman dari rangkaian gema. Visualisasi echogram

pada Gambar 19 memperlihatkan tampilan echogram tipe substrat pasir

berlumpur yang mewakili stasiun pengamatan di lokasi penelitian. Substrat pasir

berlumpur cenderung memiliki kandungan fraksi lanau yang lebih banyak jika

dibandingkan dengan lanau yang terdapat pada substrat pasir. Visualisasi

(50)

Substrat pasir berlumpur pada stasiun 3 dan 4 terdapat tumbuhan lamun, dan

adanya turbulensi, sedangkan untuk substrat pasir pada stasiun 8 dan 9 terdapat

lapisan sedimen yang berwarna merah dan ikan. Visualisasi echogram pada

stasiun 1 dan 7 terdapat lapisan sedimen yang berwarna merah di 2 kedalaman

yang relatif berdeda. Adanya fenomena pada saat perekaman data tersebut

merupakan hal yang mungkin dapat mempengaruhi komputasi nilai

backscattering (SV dan SS) yang dapat dilihat pada visualisasi echogram tiap-tiap

stasiun (Lampiran hal 61).

(a) (b) Gambar 19. Echogram Tipe Substrat Pasir Berlumpur (a) Stasiun 3, (b) Stasiun 4

Gambar 20 memperlihatkan tampilan echogram tipe substrat pasir yang

mewakili stasiun pengamatan di lokasi penelitian. Substrat pasir yang cenderung

memiliki kenampakan makroskopis memiliki kelebihan untuk memantulkan

kembali sinyal akustik yang ditembakkan ke dasar perairan. Hal ini yang

mengakibatkan second echo yang dihasilkan dari substrat pasir tentunya akan

(51)

(a) (b) Gambar 20. Echogram Tipe Substrat Pasir (a) Stasiun 8, (b) Stasiun 9

Adanya perbedaan nilai SV pada tiap jenis dasar perairan salah satunya

disebabkan karakteristik fisik sedimen tersebut, dimana sedimen yg memiliki

kenampakan makroskopis tentunya akan memberikan nilai backscattering yang

lebih besar. Selain itu, adanya pori-pori atau ruang yang terdapat antar sedimen

dapat menjadi faktor lainnya yang mempengaruhi jenis sedimen tersebut dalam

memberikan respon terhadap nilai akustik.

4.2.2. Surface Backscattering Strength (SS) dan Echo Level (EL) Dasar Perairan

Hasil yang diperoleh dari hasil komputasi nilai SV untuk memperoleh nilai

SS didapatkan bahwa nilai SS untuk substrat pasir berkisar antara -20,70 sampai

-28,58 dB dengan nilai rata-rata sebesar -23,98 dB. Substrat pasir berlumpur

memiliki nilai SS yang berkisar pada -26,64 sampai -35,49 dB dengan rata-rata

nilai SS sebesar -30,64 dB. Nilai SS pasir tertinggi terletak pada Stasiun 7 sebesar

-20,70 dB dan terendah pada Stasiun 8 sebesar -28,58 dB. Substrat pasir

berlumpur, nilai SS tertinggi terdapat pada Stasiun 6 sebesar -26,64 dB dan

(52)

Nilai SS diperoleh dari puncak nilai Sv echo permukaan. Hasil pengolahan

SS dengan menggunakan Matlab terlihat bahwa nilai maksimum dan minimum

SS bervariasi untuk beberapa tipe substrat (pasir dan pasir berlumpur). Hal ini

diduga bahwa nilai SS dipengaruhi oleh impedansi akustik dan kekasaran

(roughness) dari permukaan lapisan dasar perairan. Berdasarkan hasil yang

diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa hal ini sesuai dengan hasil Siwabessy

(2001) yang menjelaskan bahwa nilai backscattering dari dasar yang keras (hard)

akan lebih besar dibandingkan nilai backsacttering dari dasar perairan yang lunak

(soft).

Pola perambatan pulsa akustik (SV dan SS) dasar perairan pada Gambar 21

dan Gambar 22 menunjukkan contoh stasiun yang menunjukkan pola perambatan

pulsa akustik yang diukur dalam SV dan SS dari dasar perairan pada kedua tipe

substrat yang di plot berdasarkan hubungan antara kedalaman dan nilai intensitas

acoustic backscattering strength. Pada pola perambatan pulsa akustik yang

diukur, puncak nilai SV atau SS dapat diduga sebagai echo dasar (dasar perairan).

Puncak yang tertinggi merupakan echo pertama dari dasar perairan sedangkan

peak yang selanjutnya (puncak yang lebih rendah) merupakan echo kedua dari

dasar perairan dan seterusnya (Lampiran hal 62).

Nilai terbesar SS tidak jauh berbeda dengan nilai SV dasar perairan yang

didominasi oleh tipe substrat pasir dan pasir berlumpur. Hal ini sejalan dengan

pernyataan Manik et al. (2006) yang menjelaskan bahwa dengan menggunakan

nilai SS, nilai backscattering strength substrat pasir lebih besar dari pada nilai SS

pada tipe substrat pasir berlumpur. Nilai terkecil SS didominasi oleh tipe substrat

(53)

bertambahnya kenaikan diameter partikel dasar laut dan menurun dengan

kenaikan frekuensi akustik yang digunakan yang bermanfaat untuk klasifikasi tipe

dasar laut.

(a) (b)

Gambar 21. Pola SS dan SV Tipe Substrat Pasir Berlumpur (a) Stasiun 3, (b) Stasiun 4

(a) (b) Gambar 22. Pola SS dan SV Tipe Substrat Pasir (a) Stasiun 8, (b) Stasiun 9

Penelitian terdahulu mengenai nilai backscattering strength dasar perairan

pada beberapa perairan di Indonesia telah dilakukan. Beberapa diantaranya telah

dilakukan oleh Purnawan (2009), Allo (2008), Pujiyati (2008) dan Manik et al.

(2006) dengan menggunakan instrumen scientific echosounder split beam dengan

(54)

Tabel 6. Beberapa Penelitian tentang Nilai AcousticBackscattering Strength

Sounder/Matlab Samudera Hindia

Pasir: -18,30

Berdasarkan Gambar 23 dapat melihat bahwa penelitian ini memiliki

nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya

namun nilai tersebut merupakan nilai SV tertinggi. Jika dimasukkan nilai

rata-rata, substrat pasir memiliki nilai SVyang berkisar antara -10,62 dB sampai

-18,51 dB dan substrat pasir berlumpur memiliki nilai SV yang berkisar antara

-16,58 dB sampai -25,42 dB. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini berada

(55)

Gambar 23. Perbandingan Nilai VolumeBackscattering Strength

berbagai Tipe Substrat Pasir, Pasir Berlumpur, Lumpur Berpasir dan Lumpur. Penelitian ini Purnawan Allo Pujiyati Manik et al.

Kondisi perairan yang berbeda akan mempengaruhi intensitas nilai

backscattering karena secara tidak langsung berhubungan dengan kecepatan

rambat gelombang suara di perairan yang berkaitan erat dengan kondisi suhu,

salinitas, tekanan dan kedalaman. Selain cepat rambat gelombang suara, panjang

pulsa juga mempengaruhi intensitas nilai backscattering dan ini berkaitan erat

dengan spesifikasi instrumen akustik yang digunakan dalam penelitian.

4.2.3. Normalisasi Energi Echo Dasar Perairan

Visualisasi Gambar 24 menunjukkan hasil normalisasi echo dasar perairan

yang diperoleh dari data echogram untuk melihat tingkat intensitas energi substrat

dasar perairan (pasir dan pasir berlumpur) di 9 stasiun lokasi penelitian.

Lumpur Lumpur

Berpasir

Pasir Berlumpur

(56)

Hasil perhitungan nilai echo level, maka pada penelitian ini didapatkan bahwa

nilai echo level untuk substrat pasir memiliki nilai rata-rata sebesar 177,23 ± 8,99

dB dan untuk pasir berlumpur memiliki nilai rata-rata echo level sebesar 168,08 ±

6,78 dB dengan nilai source level (SL) sebesar 214 dB, dengan nilai µ ± s

berkisar antara 177.23 ± 8.99 dB.

Gambar 24. EchoEnvelope di 9 Stasiun Lokasi Penelitian

Kurva energi substrat pasir berlumpur diwakili oleh stasiun 1 – 6 memiliki

nilai rata-rata echo level sebesar 168,08 ± 6,78 dB, dengan nilai µ ± s berkisar

antara 153.95 – 173.26 ± 2.57 – 4.30 dB. Sedangkan kurva energi substrat pasir

diwakili oleh stasiun 7 – 9 memiliki nilai rata-rata echo level sebesar 177,23 ±

8,99 dB, dengan nilai µ ± s berkisar antara 161.85 – 179.42 ± 2.76 – 3.61 dB

(Lampiran hal 63).

Dasar perairan cenderung memiliki karakteristik memantulkan dan

(57)

permukaan perairan laut. Efek yang dihasilkan lebih kompleks karena sifat dasar

laut yang tersusun atas beragam unsur mulai dari bebatuan yang keras hingga

lempung yang halus serta lapisan-lapisan yang memiliki komposisi yang berbeda

(Urick, 1983). Menurut Manik (2011), selain dipengaruhi oleh ukuran partikel,

diduga ada faktor lain yang mempengaruhi nilai backscattering seperti porositas,

kandungan zat organik dan biota yang berada dalam substrat.

Tingkat energi dasar perairan dapat digambarkan berdasarkan hubungan

antara intensitas echo dasar perairan terhadap kedalaman dalam memberikan

respon terhadap sinyal akustik yang mengenai dasar perairan. Hal ini ditandai

dengan adanya anggapan bahwa dasar perairan yang keras akan menghasilkan

intensitas echo yang tajam berupa nilai amplitudo yang tinggi, sementara bagian

dasar perairan yang lunak akan menghasilkan echo yang lemah yang ditandai

dengan rendahnya nilai respon amplitudo yang dihasilkan. Echo envelope dari

intensitas energi ini merupakan interpretasi dari dasar perairan dalam meresponi

sinyal akustik yang memperlihatkan sinyal echo yang berasal dari first bottom

atau E1 dan second bottom atau E2.

Echo dasar perairan ini merupakan nilai backscattering volume (SV) yang

merupakan nilai yang menggambarkan nilai SV tertinggi untuk masing-masing

peakecho, dimana peak pertama diindikasikan sebagai echo yang berasal dari

noise permukaan yang disebabkan proses transmisi sinyal akustik dan gangguan

lainnya seperti angin ataupun gelembung. Peak kedua merupakan gema yang

berasal dari dasar perairan yang langsung diterima transduser, sedangkan peak

(58)

tidak langsung kembali ke transduser tetapi dipantulkan oleh permukaan perairan

atau kapal dan kembali ke dasar perairan dan kemudian kembali ke transduser.

Visualisasi Gambar 25 dan Gambar 26 menunjukkan hasil normalisasi echo

dasar perairan yang diperoleh dari data echogram untuk melihat tingkat intensitas

energi dari beberapa tipe substrat dasar perairan (pasir dan pasir berlumpur) di

lokasi penelitian. Intensitas energi yang mengindikasikan dari tipe substrat pasir

berlumpur diwakili stasiun 3 dan 4 dengan nilai µ ± s sebesar 158.10 ± 2.57 dB,

dan 159.44 ± 2.80 dB. Sedangkan untuk tipe substrat pasir diwakili stasiun 8 dan

9 dengan nilai µ ± s sebesar 161.85 ± 3.49 dB, dan 175.59 ± 3.61dB.

(a) (b)

(59)

(a) (b)

Gambar 26. EchoEnvelope yang mengindikasikan Tingkat Intensitas Energi Tipe Substrat Pasir (a) Stasiun 8, (b) Stasiun 9

Kurva energi substrat pasir cenderung memberikan respon backscattering

yang lebih kuat dibandingkan dengan substrat pasir berlumpur yang ditandai

dengan nilai amplitudo yang tinggi yang terdapat pada substrat pasir. Rendahnya

intensitas energi echo pada substrat pasir berlumpur dikarenakan substrat yang

memiliki kandungan lanau cenderung untuk menyerap gelombang suara yang

ditransmisikan ke dasar perairan sehingga echo yang kembali dari dasar akan

mengalami pelemahan. Hal ini berbeda dengan pasir, karena pasir akan

memantulkan gelombang suara lebih kuat. Hal ini menjelaskan bahwa nilai

hambur balik dipengaruhi oleh ukuran partikel. Selain ukuran partikel, nilai

hambur balik dasar atau substrat kemungkinan juga dipengaruhi oleh faktor lain

seperti porositas ataupun kandungan zat organik dan biota yang berada di dalam

substrat. Namun dalam penelitian ini porositas, zat organik dan biota yang ada di

(60)

4.3. Principal Component Analysis (PCA)

Hubungan antara parameter fisika sedimen dengan nilai akustik dianalisis

dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), untuk melihat

seberapa besar keterkaitan antara satu parameter dengan parameter yang lain.

Parameter fisik sedimen yang digunakan dalam analisis ini meliputi komposisi

sedimen (pasir, lanau, dan liat), sedangkan untuk parameter akustik meliputi nilai

SV (E1 dan E2), SS dan EL (Echo Level).

Analisis komponen utamayang dilakukan terhadap data pengamatan di

perairan Kepulauan Seribu dapat menjelaskan keragaman data sampai 82,12%

sehingga interpretasi analisis komponen dianggap mewakili keadaan yang terjadi

tanpa mengurangi informasi yang banyak dari data (Gambar 27).

Sumbu faktor 1 (F1) dan faktor 2 (F2) dipilih untuk menggambarkan

peubah-peubah baru yang akan menjelaskan komponen utama karena kontribusi hasil

penjumlahan antara keduanya lebih besar bila dibandingkan dengan penjumlahan

antara F1 dan F3 atau F2 dan F3. Perlu diketahui bahwa besarnya sudut yang

terbentuk dari dua variabel dalam satu sumbu faktor mengindikasikan besarnya

perbedaan antara kedua variabel tersebut.

Hasil analisis komponen utama (parameter fisik sedimen dan nilai

hidroakustik) terhadap komposisi substrat dan nilai hambur balik dasar perairan

memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap sumbu utama (F1, F2) sebesar

86,70%. Sebagian besar informasi terpusat pada sumbu 1 (F1) yang menjelaskan

64,63% dari ragam total. Sumbu 2 (F2) menjelaskan 22,07% dari ragam total.

Komponen yang memberikan kontribusi pada sumbu 1 negatif meliputi:

(61)

sedangkan sumbu 1 positif meliputi partikel lanau, dan liat. Komponen yang

memberikan kontribusi pada sumbu 2 negatif partikel liat, lanau, hambur balik

pertama (E1), hambur balik ke dua (E2), SS dan EL, sedangkan sumbu 2 positif

meliputi partikel pasir.

Analisis komponen utama tipe substrat yang meliputi, PCAuntuk keterkaitan

parameter (fisik sedimen dan nilai hidroakustik) dan penyebaran stasiun

pengamatan pada sumbu F1 dan F2 dapat dilihat pada Gambar 27 dan 28.

(62)

Projection of the cases on the factor-plane ( 1 x 2)

Gambar 28. Penyebaran Stasiun Pengamatan pada Sumbu F1 dan F2

Berdasarkan hasil yang diperoleh seperti yang terlihat pada Gambar 28 maka

(63)

Tabel 7. Hubungan antara Parameter Fisika Sedimen dan Nilai Akustik dianalisis dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA)

Klasifikasi Penyebaran Stasiun

pada Sumbu F1 dan F2 Keterangan

Kelompok 1 Stasiun 1, 2, dan 6

Stasiun substrat pasir berlumpur dengan komposisi fraksi pasir yang lebih besar dari kelompok 2, ditandai dengan nilai SV, SS tertinggi, dan memiliki nilai echo level yang besar dari kelompok 2

Kelompok 2 Stasiun 3, 4 dan 5

Stasiun substrat pasir berlumpur dengan komposisi fraksi pasir yang lebih besar dari kelompok 1, ditandai dengan nilai SV, SS yang lebih

rendah dari kelompok 1, dan memiliki nilai echo level tinggi

Kelompok 3 Stasiun 7

Stasiun substrat pasir dengan komposisi fraksi pasir yang lebih besar dari kelompok 4 dan liat terkecil ditandai dengan nilai SV, SS dan echo level tertinggi diantara stasiun lainnya

Kelompok 4 Stasiun 8 dan 9

Stasiun substrat pasir dengan komposisi fraksi pasir terbesar diantara stasiun lainnya, ditandai dengan nilai SV, SS,dan echo level

Gambar

Gambar 10. Peta Pengambilan Data Sedimen
Gambar 13.  Diagram Pengolahan Data pada Echoview 4.0
Gambar 14. Tampilan Contoh Echogram
Gambar 15. Diagram Pengolahan Data pada Matlab
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana pendekatan penelitian tentang Islamic microfinance dikaitkan dengan penggunaan metode penelitian baik kuantitatif, kualitatif maupun metodologi campuran ( mixed

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh dua dosen dari dua prodi Universitas Amikom Yogyakarta yang berbeda yang bermitra dengan Pokdarwis, Bumdes, masyarakat sekitar

Berkaitan dengan prinsip dasar dari tujuan komunikasi maka keberdayaan yang diukur dalam penelitian ini adalah : Kemampuan kelompok tani dalam mengelola informasi pertanian

Faktor keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh pihak-pihak yang memiliki hubungan darah secara langsung serta kerabat dekat terhadap status anak

Asas ini mengatakan , bahwa tidak ada satupun percobaan yang dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga memberikan ketidakpastian di bawah batas-batas yang

• Untuk menampilkan klas-klas obyek tersebut, lakukan pengeditan kelas, dengan mengklik Edit pada menu bar lalu pilih Edit Class/Region Color and Name sehingga

Terdapat penagihan klaim Rawat Jalan rdapat penagihan klaim Rawat Jalan yang dilanjutkan yang dilanjutkan dengan Rawat nap sebanyak !.