PENGARUH DIVIDEN KAS, ARUS KAS BERSIH, LEVERAGE
RATIO DAN EARNING PER SHARE TERHADAP HARGA
SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Oleh
SRI HARTINI
087017075/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
SE
K O L A
H
P A
S C
PENGARUH DIVIDEN KAS, ARUS KAS BERSIH, LEVERAGE
RATIO DAN EARNING PER SHARE TERHADAP HARGA
SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
Sri Hartini
087017075/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH DIVIDEN KAS, ARUS KAS BERSIH, LEVERAGE RATIO DAN EARNINGS PER SHARE TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Nama Mahasiswa : Sri Hartini Nomor Pokok : 087017075 Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE,Ak,MAFIS,CPA) (Drs. M. Lian Dalimunthe, M.Ec, Acc) Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, SE,Ak,MAFIS,MBA,CPA) (Prof. Dr.Ir.T.Chairun Nisa B, M.Sc)
Telah diuji pada
Tanggal : 3 September 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Syafruddin Ginting Sugihen,SE,Ak, MAFIS, CPA Anggota : 1. Drs. M. Lian Dalimunthe, M.Ec, Acc
2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE, Ak, MAFIS, MBA, CPA 3. Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa yang berjudul :
” PENGARUH DIVIDEN KAS, ARUS KAS BERSIH, LEVERAGE
RATIO DAN EARNING PER SHARE TERHADAP HARGA
SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA”
Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun
sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara benar dan jelas.
Medan, September 2010
SRI HARTINI
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share baik secara simultan maupun secara parsial terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen yang digunakan adalah Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share sebagai independen variabel dan harga saham yang dihitung 5 hari sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian hubungan kausal (causal effect). Penelitian ini dilakukan atas 117 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 5 tahun dari tahun 2004-2008. Dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda dan dengan melakukan pengujian asumsi klasik yaitu normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia. Secara parsial, faktor yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham adalah Net Cash Flows (X2), Debt to Equity Ratio (X3) dan
Earnings per Share (X4). Hal ini konsistensi dengan riset dan pendapat San Susanto dan Ekawati (2006). Selain itu penelitian ini tidak konsisten dengan hasil yang dicapai oleh Meythi (2006), Sularso (2003) dan Siaputra, Lani dan Atmaja (2006) dan I.G.K.A. Ulupui (2005) dimana pengumuman dividen tidak berpengaruh terhadap perubahan harga saham sebelum dan sesudah ex-devidend date.
ABSTRACT
The objective of this research is to examine the effect of Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share to the Stock Prices in Manufacturing Emiten Company in Indonesia Stock Exchange. Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share as the independent variables and stock prices as the dependent variable. The stock price is coented for five days before and after financialreport publication.
The research types are the causal effect. This research observes 117 companies which had been listed in the Indonesia Stock Exchange in three years from 2004 until 2008. Using multiple linier regression and to test the classical assumption normality, multicollenearity and autocorrelation, heteroscedastisity.
The result of this research, found that influance of Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share simultanly to the Stock Prices in Indonesia Stock Exchange. This research consistent with San Susanto and Ekawati (2006). In addition of this research are inconsistency with Meythi (2006), Sularso (2003) and Siaputra, Lani and Atmaja (2006), I.G.K.A and Ulupui (2005) where dividend announcement is not significant to price changes before and after ex-devident date.
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas, penulis menyampaikan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT dengan rahmat, hidayah, karunia dan anugrah yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang
berjudul “PENGARUH DIVIDEN KAS, ARUS KAS BERSIH,
LAVERAGE RATIO DAN EARNING PER SHARE TERHADAP
HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA 2004-2008”
. Untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapat gelar Magister Sains, pada Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.Dalam menyelesaikan tesis ini tentu saja penulis banyak menemui kesulitan, kendala, dan hambatan. Akan tetapi berkat bantuan, bimbingan, petunjuk, dan masukan dari berbagi pihak lainnya penulis dapat menyelesaikannya. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM),Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc, Selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE, Ak, MAFIS, MBA, CPA Selaku Ketua Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Komisi Dosen Pembanding.
4. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE, Ak, MAFIS, CPA dan selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya Tesis ini.
6. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak selaku anggota Komisi Dosen Pembanding.
7. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak selaku anggota Komisi Dosen Pembanding.
8. Teristimewa buat Ibunda saya yang tercinta Hj. Saniyem dan Ayahanda tersayang Alm. H.M. Salim, terimakasih atas do’a yang dipanjatkan, keridhoan dan keikhlasannya serta ketulusan hatinya sehingga saya menjadi sekarang ini dan juga dapat menyelesaikan Tesis ini.
9. Teristimewa buat suamiku tercinta Ahmad Ashfa Zurry Rokan ST dan anak-anakku tersayang Ahmad Zayyani Asyrafi Rokan, Fathiyatul Asyrifah Rokan, Ahmad Ziyadil Arifi Rokan yang telah senantiasa sabar dan begitu pengertian, juga doa-doanya.
10. Teristimewa buat Umi dan Buya, terimakasih atas doa-doanya.
11. Teristimewa buat keluargaku tercinta Mas Kus, Kak Tuti, dan Dik Hera.
12.Rekan-rekan bagian administrasi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Ary, Dory, Yusna, Dedi, Juli, dan rekan-rekan lainnya, terimakasih buat kebaikannya.
13.Rekan-rekan Mahasiswa terutama Santy Sitohang, dan Pak Gaol, terimakasih atas kebersamaannya selama ini sehingga dapat menyelesaikan Tesis ini.
Penulis menyadari dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, banyak kekurangan dan kelemahan dalam penyusunan Tesis ini. Untuk itu sangat diharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan penelitian ini.
Akhir kata penulis berharap semoga Tesis ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi rekan mahasiswa dan mahasiswi.
Hormat Saya
. Medan, September 2010
RIWAYAT HIDUP
1. N a m a : Sri Hartini
2. Tempat/Tanggal lahir : Deli Serdang, 11 Februari 1972
3. Pekerjaan : Dosen Tetap Universitas Amir Hamzah Medan 4. Agama : Islam
5. Orang tua
a. Ayah : H. Muhammad Salim b. Ibu : Hj. Saniyem
6. Suami : Ahmad Ashfa Zurri Rokan, ST 7. Anak : 1. Ahmad Zayyani Asyrafi Rokan
2. Fathiyatul Asyrifah Rokan 3. Ahmad Ziyadil Arifi Rokan
8. Alamat : Jl. Sari 60 A Kedai Durian, Medan Johor-Medan 9. Pendidikan
a. SD : SD Inpres 101815 b. SLTP : SMP Negeri 1 Deli Tua c. SMU : Angkasa LANUD Medan
d. Universitas/Fakultas : Universitas Islam Indonesia Yogyakarta/ Fakultas Ekonomi Akuntansi
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
1.5. Originalitas Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 10
2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1. Pengertian Dividen Kas ... 10
2.1.2. Pengertian Arus Kas Bersih ... 17
2.1.3. Pengertian Leverage Ratio ... 24
2.1.4. Pengertian Earnings per Share... 25
2.1.5. Harga Saham dan Penilaian Saham ... 26
2.2. Review Peneliti Terdahulu (Theoretical Mapping) ... 28
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 33
3.1. Kerangka Konsep ... 33
3.2. Hipotesis Penelitian... 35
4.1. Jenis Penelitian ... 37
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 37
4.3. Populasi dan Sampel ... 37
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 39
4.5. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel... 39
4.6. Metode Analisis Data... 41
5.1.2.2. Uji multikolinearitas ... 54
5.1.2.3. Uji autokorelasi ... 55
5.1.2.4. Uji heteroskedastisitas ... 56
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Daftar Review Peneliti Terdahulu ... 31
4.1 Pengambilan Sampel ………. 39
4.2 Operasional Variabel ………...……….. 40
5.1 Deskriptif Statistik …..……….. 47
5.2 Hasil Pengujian Kolmogorov Smirnov Test (Sebelum Transformasi) ……..………... 53
5.3 Hasil Pengujian Kolmogorov Smirnov Test (Sesudah Transformasi) ……..………... 53
5.4 Uji Multikolinearitas ………. 55
5.5 Nilai Durbin-Watson ………. 55
5.6 Hasil Analisis Regresi …...………... 58
5.7 Uji F... ………... 60
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1 Daftar Perusahaan Sampel ………... 75
2 Daftar Emiten Perusahaan Sampel ... 84
3 Data Deviden Cash 2004-2008 ... 86
4 Net Cash Flows Tahun 2004-2008 ... 88
5 Debt Equity Ratio Tahun 2004-2008 ... 91
6 Earnings Per Share Tahun 2004-2008 ... 93
7 Data Harga Saham Emiten Sampel 5 Hari Sebelum dan 5 Sesudah Publikasi Laporan Keuangan per 31 Desember 2004………... 95 8 Data Harga Saham Emiten Sampel 5 Hari Sebelum Dan 5 Hari Sesudah Publikasi Laporan Keuangan Per 31 Desember 2005 …... 98 9 Data Harga Saham Emiten Sampel 5 Hari Sebelum dan 5 Sesudah Publikasi Laporan Keuangan per 31 Desember 2006 ……….. 101 10 Data Harga Saham Emiten Sampel 5 Hari Sebelum dan 5 Sesudah Publikasi Laporan Keuangan per 31 Desember 2007 ……….. 104 11 Data Harga Saham Emiten Sampel 5 Hari Sebelum dan 5 Sesudah Publikasi Laporan Keuangan per 31 Desember 2008………... 107 12 Uji Asumsi Klasik dan Hasil Uji Regresi Ganda ... 110
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share baik secara simultan maupun secara parsial terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen yang digunakan adalah Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share sebagai independen variabel dan harga saham yang dihitung 5 hari sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian hubungan kausal (causal effect). Penelitian ini dilakukan atas 117 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 5 tahun dari tahun 2004-2008. Dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda dan dengan melakukan pengujian asumsi klasik yaitu normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia. Secara parsial, faktor yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham adalah Net Cash Flows (X2), Debt to Equity Ratio (X3) dan
Earnings per Share (X4). Hal ini konsistensi dengan riset dan pendapat San Susanto dan Ekawati (2006). Selain itu penelitian ini tidak konsisten dengan hasil yang dicapai oleh Meythi (2006), Sularso (2003) dan Siaputra, Lani dan Atmaja (2006) dan I.G.K.A. Ulupui (2005) dimana pengumuman dividen tidak berpengaruh terhadap perubahan harga saham sebelum dan sesudah ex-devidend date.
ABSTRACT
The objective of this research is to examine the effect of Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share to the Stock Prices in Manufacturing Emiten Company in Indonesia Stock Exchange. Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share as the independent variables and stock prices as the dependent variable. The stock price is coented for five days before and after financialreport publication.
The research types are the causal effect. This research observes 117 companies which had been listed in the Indonesia Stock Exchange in three years from 2004 until 2008. Using multiple linier regression and to test the classical assumption normality, multicollenearity and autocorrelation, heteroscedastisity.
The result of this research, found that influance of Dividend per Share, Net Cash Flows, Leverage Ratio and Earnings per Share simultanly to the Stock Prices in Indonesia Stock Exchange. This research consistent with San Susanto and Ekawati (2006). In addition of this research are inconsistency with Meythi (2006), Sularso (2003) and Siaputra, Lani and Atmaja (2006), I.G.K.A and Ulupui (2005) where dividend announcement is not significant to price changes before and after ex-devident date.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Perkembangan investasi dewasa ini telah demikian pesatnya terutama pada
pasar keuangan di Indonesia. Hal ini ditandai dengan jumlah transaksi perusahaan go public yang terus bertambah. Pada dasarnya investasi adalah suatu aktivitas untuk menempatkan dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan.
Pada umumnya investasi keuangan dibagi atas dua bagian yaitu pasar modal (capital
market) dan pasar uang (money market). Pembagian ini didasarkan atas instrumen keuangan atau surat berharga yang diperjualbelikan.
Salah satu tujuan investor dalam berinvestasi adalah memperoleh deviden.
Tujuan lain adalah memperoleh capital gain, yaitu selisih lebih antara harga investasi saat ini dengan harga investasi di masa lalu. Perilaku investor seperti itu
mengindikasikan bahwa mereka membeli saham pada saat harga saham turun dan
menjualnya kembali pada saat harga saham meningkat. Indikasi ini menyimpulkan
bahwa seorang calon investor yang ingin membeli saham di pasar sekunder harus
senantiasa memperhatikan pergerakan harga saham tersebut.
Kekuatan analisis investor dalam menilai dan memperkirakan harga saham akan
berpengaruh terhadap capital gain yang akan diterimanya. Hal tersebut dikarenakan kekuatan analisis ini akan memberikan informasi kepada investor waktu yang tepat
Analisis terhadap saham secara umum terbagi dua yaitu: analisis teknikal dan
analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data harga saham di masa lalu,
sedangkan analisis fundamental menggunakan faktor yang diidentifikasikan sehingga
dapat mempengaruhi harga saham di masa mendatang. Dasar dari analisis
fundamental adalah faktor fundamental suatu perusahaan.
Faktor fundamental perusahaan secara umum dapat diartikan sebagai faktor
internal perusahaan yang digambarkan sebagai kinerja keuangan perusahaan yang
dituangkan dalam bentuk laporan keuangan. Pengukuran kinerja keuangan suatu
perusahaan membutuhkan suatu alat ukur,biasanya berbentuk rasio. Analisis rasio
keuangan mampu memberikan manajemen gambaran tentang perubahan-perubahan
pokok trend, jumlah dan hubungan serta alasan perubahan tersebut. Hasil analisis
laporan keuangan diharapkan dapat membantu manajemen dalam
mengintreprestasikan berbagai hubungan kunci dan kecenderungan sehingga dapat
memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan di masa
depan.
Kewajaran harga saham yang terbentuk di pasar modal dapat dinilai oleh
investor melalui pendekatan fundamental, sedangkan risiko sistematis (market risk) dapat mengurangi besarnya tingkat keuntungan yang akan diperoleh investor.
Pendekatan fundamental bermula dari pemikiran bahwa harga saham yang wajar
ditentukan oleh ekspektasi atas dividen, pertumbuhan keuntungan dan tingkat bunga
diskon di masa mendatang. Ekspektasi-ekspektasi ini dipengaruhi oleh kondisi makro
Seorang investor yang rasional melakukan analisa sebelum membuat
keputusan untuk menginvestasikan dananya di pasar modal (dengan membeli
sekuritas diperdagangan dibursa). Investor tersebut harus percaya bahwa informasi
yang diterimanya adalah informasi yang benar, sistem perdagangan dibursa dapat
dipercaya, serta tidak ada pihak lain yang memanipulasi dari perdagangan tersebut.
Ada jenis informasi yang merupakan sinyal penting bagi investor untuk menilai
prospek perusahaan yang bersangkutan yaitu laba per lembar (Earning per Share) dan dividen tunai (Cash Dividen). Informasi ini amat berguna bagi investor atau calon investor dalam melakukan penelitian perusahaan sebab pada umumnya manajemen
tidak akan mengambil resiko dengan membayar dividen yang tinggi pada suatu waktu
tertentu. Bila menurut estimasi mereka perusahaan tidak mampu mempertahankannya
di masa yang akan datang. Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi dividen bisa
menjadi proxy yang baik terhadap trend pendapatan.
Dengan membeli saham sebuah perusahaan, investor secara otomatis ikut
serta dalam perusahaan tersebut dan ia mempunyai hak untuk mendapat bagian
keuntungan yang dikenal sebagai dividen. Dengan demikian bagi pemodal (investor) dalam mengambil keputusan membeli atau menjual saham, tentu saja kemungkinan
perolehan pendapat harus dipertimbangkan pula dengan besarnya beban resiko yang
harus dipikul. Sebab sebagaimana diketahui, investasi saham merupakan alternatif
investasi yang memiliki risiko tertinggi. Dalam keadaan seperti ini laporan keuangan
yang dipublikasikan merupakan sumber informasi sangat penting yang dibutuhkan
dengan emiten-emiten untuk mendukung pengambilan keputusan. Laba dan informasi
aliran kas sebuah perusahaan merupakan pintu yang utama dari investor dan kreditur
untuk menilai kinerja perusahaan yang sedang melakukan penawaran umum sehingga
dapat memberikan keyakinan bagi pihak lain atas keuangan yang diterbitkan emiten
tersebut. Menurut Meythi (2006) dalam penelitian Bowen et.el (1986) menyebutkan
bahwa laporan arus kas mempunyai manfaat dalam beberapa konteks keputusan,
seperti : (1) memprediksi kesulitan keuangan, (2) menilai risiko, ukuran, dan waktu
keputusan pinjaman, (3) memprediksi peringkat (rating) kredit, (4) menilai perusahaan, dan (5) memberikan informasi tambahan pada pasar modal.
Pembagian dividen perusahaan terhadap pemegang saham mempengaruhi
harga saham di bursa efek. Hal ini disebabkan pembagian deviden perusahaan kepada
pemegang saham menyebabkan posisi keuangan kas suatu perusahaan semakin
berkurang. Dengan demikian akan mengakibatkan levarage (rasio antara hutang
terhadap ekuitas) akan semakin besar. Dampak yang ditimbulkan adalah data pelaku
pasar akan berfikir secara negatif terhadap perusahaan seperti yang dinyatakan oleh
Susanto (2006) harga saham perusahaan pada tahap start-up dipengaruhi oleh aliran kas investasi dan aliran kas pendanaan, hal ini sesuai dengan penelitian Bowen
(1986) dan kemudian Nina (2006) yang menemukan bahwa aliran kas pendanaan
berhubungan positif dengan nilai expected return perusahaan.
Semakin besar dividen yang diberikan oleh perusahaan atau emiten, maka
saham perusahaan tersebut sangat diminati para investor atau calon investor. Hal ini
akan melambungkan harga saham perusahaan. Emiten adalah perusahaan yang telah
menjual sahamnya kepada masyarakat umum melalui pasar modal. Jika perusahaan
emiten mampu menghasilkan keuntungan yang tinggi dan mampu menyisihkan
sebagian dari keuntungannya itu sebagai dividen dengan jumlah yang tinggi maka
akan menarik investor (masyarakat) untuk membeli saham perusahaan tersebut.
Akibatnya, permintaan atas saham dimaksud akan meningkat dan akan menaikkan
harga saham perusahaan tersebut di Bursa sehingga memungkinkan bagi pemegang
saham perusahaan tersebut untuk memperoleh capital gain. Capital gain juga akan mendorong naiknya harga saham di Bursa Efek. Dengan demikian keuntungan
perusahaan merupakan faktor penting bagi sebuah perusahaan.
Berbagai variasi yang muncul memberikan petunjuk eksplisit bahwa
pembagian dividen akan berdampak terhadap pendanaan perusahaan, karena
perusahaan mengeluarkan dana kas besar untuk para pemegang saham. Apabila
pembayaran dividen ini semakin besar secara keseluruhan posisi modal akan
menurun. Hal ini akan memperhatikan munculnya hubungan yang berbanding
terbalik antara dividen dengan modal sendiri.
Semakin besar dividen yang akan dibayarkan akan mengurangi besarnya laba
ditahan, sehingga posisi modal perusahaan akan mengalami penurunan. Dampak lain
yang ditimbulkan oleh kebijakan dividen ini adalah leverage keuangan. Leverage
keuangan dalam penelitian ini diproksikan dengan “debt to equity ratio”.
Rasio ini didapatkan dengan membandingkan hutang terhadap ekuitas.
keuangan perusahaan. Artinya, leverage keuangan perusahaan akan meningkat sesuai
dengan proporsi dividen yang akan di bagikan. Meningkatnya nilai leverage maka penilaian terhadap perusahaan menjadi buruk dan secara otomatis mempengaruhi
harga saham di pasar. Replikasi penelitian ini dilakukan untuk mengkonfirmasi ulang
beberapa penelitian-penelitai terdahulu yang pernah ada.
Penelitian Meythi (2006) membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh arus
kas operasi terhadap harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel
intervening. Dari hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tidak adanya
pengaruh arus kas operasi terhadap harga saham. Sementara pada penelitian ini
mengambil arus kas bersih dan menambah beberapa variabel independennya agar
hasil yang diperoleh lebih akurat dan cakupannya lebih luas serta untuk mengetahui
konsistensi hasil penelitian dengan hasil sebelumnya.
Adapun alasan memilih seluruh perusahaan go publik sebagai objek penelitian
agar dapat menggeneralisasi dan dapat menyimpulkan kondisi tersebut pada Bursa
Efek Indonesia. Bertitik tolak dari apa yang diuraikan dalam latar belakang masalah
ini, penulis ingin mencari tahu berapa besar Pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih,
Leverage Ratio dan Earning per Share terhadap Harga Saham Perusahaan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah pokok yang diajukan dalam
Bersih, Leverage Rasio, dan Earnings Per Share berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia baik secara simultan maupun
secara parsial?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai melalui penelitihan ini adalah : untuk
mengetahui pengaruh dan menganalisis Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage
Ratio dan Earning per Share terhadap Harga Saham Perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia baik secara simultan maupun secara parsial.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi penulis, investor,
dan peneliti lanjutan dalam hal :
1. Bagi Peneliti
Memberi kesempatan bagi penulis untuk menerapkan teori yang telah
didapatkan pada perkuliahan dan menambah wawasan dan pengetahuan bagi
penulis mengenai pengaruh pembagian dividen dan arus kas bersih terhadap
harga saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Bagi Investor
Sebagai bahan masukan bagi para pelaku pasar modal (investor) dalam
melakukan analisis, khususnya berkaitan dengan pengaruh Dividen Kas, Arus
3. Manajemen Perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan
di masa yang akan datang.
4. Peneliti selanjutnya.
Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya di dalam melakukan
penelitian yang sama di masa yang mendatang.
1.5. Originalitas Penelitian
Penelitan ini merupakan penelitian replikasi dari penelitian yang dilakukan
oleh Meythi (2006), dengan judul penelitian ”Pengaruh arus kas operasi terhadap
harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening”. Adapun variabel independennya adalah arus kas operasi dan persistensi laba, sedangkan variabel
dependennya adalah harga saham. Replikasi penelitian ini dilakukan untuk
mengkonfirmasi ulang beberapa penelitian-penelitai terdahulu yang pernah ada.
Penelitian Meythi (2006) membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh arus kas
operasi terhadap harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening,
sehingga hipotesis penelitan tidak mendapat dukungan empiris. Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian Meythi (2006) adalah terdapat pada objek penelitian dan jumlah
variabel independen. Objek penelitian sebelumnya pada perusahaan manufaktur di
Bursa Efek Jakarta periode tahun 1999 sampai dengan 2002 sedangkan penelitian kali
ini dilakukan pada seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2004 –
yaitu pembagian dividen, faktor leverage dan rasio earnings per share. Adapun dasar penelitian ini menambah tiga variabel independent tersebut untuk mengetahui
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Pengertian Dividen Kas
Ada beberapa teori yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan
kebijakan dividen untuk perusahaan. Sehingga dapat dijadikan pemahaman mengapa
suatu perusahaan mengambil kebijakan dividen tertentu. Teori –teori tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Dividend irrelevance theory
Teori yang dianjurkan oleh Madigliani-Miller (MM) ini menyatakan bahwa
kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh, baik terhadap harga saham maupun
biaya modalnya atau dapat dikatakan bahwa kebijakan dividen sebenarya tidak
relevan.
b. Bird-in-the-hand theory
Teori ini dikemukakan oleh Limtner (1956) yang menyatakan bahwa biaya
modal sendiri akan naik jika Dividend Payout Ratio (DPR) rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima dividen daripada capital gain.
c. Tax preference theory
Adalah suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap
keuntungan dividen dan capital gains maka para investor lebih menyukai capital gain
Tujuan utama sebuah perusahaan adalah memaksimumkan harga saham dari
perusahaan tersebut. Salah satu faktor yang menentukan harga saham adalah
kemampuan perusahaan dalam meningkatkan aliran kas kini dan pada masa yang
akan datang. Dengan demikian perusahaan selaku emiten mampu mengelola
usahanya secara produktif guna memberikan keyakinan kepada para pemegang saham
untuk memperoleh pendapatan (dividen atau capital gain) di masa yang akan datang.
Berdasarkan bentuk pembayarannya, dividen dapat dibedakan menjadi dua
bentuk yaitu cash dividend (dividen tunai) dan stock dividend (dividen saham). Cash dividend merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk kas, sebagaimana menurut Ismaya (2005) bahwa kas dividen didefinisikan sebagai dividen yang
dibayar dengan uang tunai atau kas, sedangkan stock dividend merupakan saham yang diberikan kepada para pemegang saham sebagai pengganti dividen dengan
maksud perluasan modal saham menjadi lebih besar.
Menurut Wild et.al (2005) dividen tunai atau kas dividen merupakan dividen
per lembar saham kepada pemegang saham. Dividen ini merupakan jenis dividen
yang paling umum dan pada saat diumumkan akan menjadi kewajiban bagi
perusahaan. Pembayaran dalam bentuk tunai lebih banyak diinginkan investor
daripada bentuk lain, karena pembayaran dividen tunai membantu mengurangi
ketidakpastian dalam melaksanakan aktivitas investasinya pada suatu perusahaan.
Berkaitan dengan pembayaran dividen, banyak terkait dengan struktur
kepemilikan perusahaan (Arifin, 2004). Struktur kepemilikan mempengaruhi besar
terkonsentrasi (hanya ada beberapa pemilik), asyimmetric information antara orang dalam dan orang luar perusahaan relatif kecil sehingga manajer tidak perlu
menggunakan dividen untuk menyampaikan informasi. Perusahan privat yang
dimiliki hanya beberapa orang yang saling mengenal satu dengan yang lain jelas
memiliki asymmetric information yang sangat kecil. Oleh karena itulah perusahaan privat cenderung jarang membayarkan dividen dan jika membayar dividen jumlahnya
relatif kecil, kedua : tingkat pemisahan antara kepemilikan dan kontrol yang rendah
pada perusahaan privat dan perusahaan yang kepemilikannya terkonsentrasi
sedangkan pada perusahaan publik, terutama di Amerika Serikat, tingkat pemisahaan
antara kepemilikan dan kontrol sangatlah tinggi. Pemisahan antara kepemilikan dan
kontrol memunculkan masalah agensi. Masalah agensi akan semakin besar ketika
kepemilikan perusahaan terlalu menyebar karena pada pola seperti itu intensif
pemilik untuk mengontrol manajer akan rendah. Masalah agensi akan semakin
membesar jika pada saat yang sama perusahaan memiliki banyak free cash flows. Salah satu cara untuk mengurangi masalah agensi karena menyebarnya kepemilikan
perusahaan dan besarnya free cash flows adalah dengan melakukan pembayaran deviden.
Ketika memutuskan berapa banyak kas yang harus didistribusikan kepada
para pemegang saham, ada dua hal yang harus di ingat, yaitu: pertama; tujuan yang
mendasari adalah memaksimalkan nilai para pemegang saham dan kedua; arus kas
bersih perusahaan benar-benar menjadi milik para pemegang saham, sehingga
menginvestasikannya kembali untuk menghasilkan pengembalian yang lebih besar
dari pada yang dapat dihasilkan oleh para pemegang saham itu dengan
menginvestasikan kas tersebut ke dalam investasi dengan tingkat resiko yang sama
Menurut William dalam Rahmawati (2005) penelitian memperkenalkan suatu
teori untuk menentukan nilai intrinsik suatu saham didasarkan atas pendapatan
perusahaan yang dibayarkan dalam bentuk dividen income. Ia juga memperkenalkan konsep discounting pada dasarnya merupakan proses menilai aliran pendapatan
dimasa yang akan datang pada saat sekarang, bukan semata-mata menghitung jumlah
absolut pendapatan yang akan diterima di masa yang akan datang. Sehingga dalam
konteks ini nilai intrinsik yang dimaksud adalah sama dengan nilai sekarang (present value) dari seluruh aliran penerimaan dividen yang akan diterima dalam priode-priode yang akan datang. Ini berarti pemilik saham mendiskontokan nilai uang yang
akan diterima, kemudian dengan discount factor tertentu yang mencerminkan tingkat return alternatif investasi yang diinginkan setelah memperhatikan unsur resiko dan
waktu.
Besarnya deviden tergantung dari besarnya keuangan dan jumlah saham yang
beredar dalam masyarakat. Ada tiga pendapat yang muncul mengenai kebijaksanaan
dividen, pertama: Deviden tidak Mempengaruhi Harga Saham. Teori ini berdasarkan
pandangan bahwa kebijaksanaan dividen tidak akan mempengaruhi terhadap aliran
kas dimasa yang akan datang. Berdasarkan pandangan ini, efisiensi pasar modal
menjadi kritis, dan cukai diabaikan. Argumen yang menyokong suatu hipotesis yaitu
mengubah kebijakan dividennya. Dalam hal ini kebijaksanaan dividen tidak berarti.
Kedua: Dividen Akan Menurunkan Harga Saham. Jika tarif cukai investor atas
dividen lebih besar dari untung laba modal, maka investor akan berusaha untuk
menginvestasikan kembali pendapatan mereka untuk memaksimumkan Return
setelah cukai mereka. Sudah tentu berdasarkan alasan ini, jika tarif pajak atas capital gain melebihi tarif dividen maka akan terjadi kebalikannya. Ketiga : Dividen Akan Menaikkan Harga Saham (Erlina, 2008). Pendapatan dari dividen merupakan hal
yang sangat diharapkan oleh investor. Dengan asumsi seperti ini, keputusan
manajemen untuk menaikkan dividen merupakan suatu tanda bahwa perusahaan
tersebut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang,
hal ini akhirnya akan mendorong harga saham menjadi lebih tinggi. Sebaliknya
dividen yang rendah merupakan suatu tanda yang kurang baik dan akhirnya akan
menurunkan harga saham.
Menurut Wild et.al. (2005) Deviden saham (stock dividend) adalah distribusi saham perusahaan itu sendiri kepada pemegang saham secara proposional. Deviden
ini mencerminkan kapitasi laba secara permanen. Pemegang saham menerima
tambahan sebagai pengalihan laba ditahan ke akun modal. Akuntansi bagi dividen
kecil (small stock dividend) atau dividen sederhana (ordinari stock dividend),
umumnya lebih kecil dari 20 % sampai dengan 25 % saham beredar, menyaratkan
penilaian dividen saham pada nilai pasar pada tanggal pengumuman. Persyaratan ini
stock dividend atau split up dalam bentuk dividen), biasanya lebih besar dari 25 % saham beredar, dinilai pada nilai nominal saham yang diterbitkan.
Menurut Bodie et.al (2006) Tingkat imbal hasil dividen atas saham mirip
dengan tingkat imbal hasil sekarang dari obligasi. Keduanya seperti pendapatan
sekarang atas persentase dari harga dan mengabaikan pengaruh keuntungan atas
penjualan saham (capital gain, yaitu kenaikan harga) atau kerugian atas penjualan sehingga tidak mencerminkan total imbal hasil. Dividen yang rendah diasumsikan
menawarkan prospek yang besar atas keuntungan modal, atau investor tidak akan
memasangnya dalam portfolio mereka.
Menurut Lubis (2008) adalah tidak benar pendapat yang menyatakan bahwa
kondisi yang tidak pasti yang menambah pembayaran dividen sebuah perusahaan
diharapkan akan menaikkan harga saham. Kesimpulan itu diperoleh dengan asumsi
(1) pemegang saham adalah risk aversion,(2)ketidakpastian dividen perusahaan akan bertambah dengan bertambah panjangnya waktu pembayaran dimasa depan. Nilai
dari saham adalah present value dari deviden yang akan diterimanya ditambah harga saham pada saat dividen itu dibayar. Ada dua situasi dasar yang mendorong dua
kebijaksanaan dividen yang berbeda dengan mengabaikan taxes yaitu :
1. Perusahaan yang akan menghasilkan kesempatan yang inferior dari kesempatan
yang tersedia di luar bagi para pemegang saham,
Investor lebih suka melakukan discounted kepada future dividen dengan
interest rate yang tinggi dari pada menerima dividen dimuka. Bila dihadapkan harus memilih dividen sekarang, yang pasti dengan kemungkinan akan menerima dividen
yang tinggi dan tidak pasti di masa yang akan datang, maka investor akan memilih
yang pertama. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijaksanaan
dividen akan berpengaruh sesuai dengan jumlah pembayaran, waktu pembayaran dan
pajak yang harus dibayar. Menurunnya dividen sekarang cenderung akan
menurunkan besarnya pembayaran tax.
Suatu pendapat bahwa terdapat hubungan antara nilai perusahaan dan
pembayaran dividen adalah bahwa dividen menunjukkan hal yang pasti berkaitan
dengan apresiasi harga saham karena dividen diduga risikonya lebih kecil
dibandingkan dengan capital gain, maka perusahaan seharusnya menetapkan ratio pembayaran dividen yang tinggi dan menawarkan dividen yield yang tinggi untuk memaksimumkan harga saham. Pernyataan Miller dan Modigliani (1961) dalam
Apriani (2005) dalam berpendapat tidak setuju dengan hal tersebut dan menyebut
teori tersebut sebagai the bird in the hand fallacy. Demikian pula penelitian Bhattacharya (1979) dalam Apriani (2005) berpendapat alasan yang mendasari
penjelasan the bird in the hand fallacy mengenai relevansi adalah salah. Resiko dari arus kas bersih suatu proyek menentukan resiko perusahaan. Kenaikan dalam
pembayaran dividen saat ini akan berakibat penurunan dalam harga ex-divident suatu saham. Jadi peningkatan dividen saat ini tidak akan meningkatkan nilai perusahaan
2.1.2. Pengertian Arus Kas Bersih
Pasar modal atau bursa efek adalah pasar tempat bertemunya penjual dan
pembeli surat-surat berharga yang akan memperdagangkan surat-surat berharga
sebagai fasilitator. Bursa efek dapat diibaratkan sebagai mandor pasar yang mengurus
segala keperluan para pedagang di pasarnya.
Dewasa ini instrumen yang sudah ada di pasar modal terdiri dari saham,
obligasi dan sertifikat, seperti pernyataan Putra (2003) menjelaskan bahwa dengan
menginvestasikan dananya di pasar modal, investor/masyarakat akan mendapatkan
keuntungan yang belum tentu bisa diperoleh jika mereka menginvestasikannya dalam
bentuk lain: pertama; Keuntungan yang diperoleh dari selisih pergerakan harga saham
pada saat membeli dan saat menjual (capital gain) dan kedua; Keuntungan yang diperoleh dari deviden yang dibagikan pada pemegang saham.
Apriani (2005) penelitian yang dilakukan oleh Aharony, Falk dan Swary
(1988) berpendapat bahwa pasar bereaksi kuat terhadap pengumuman kenaikan/
penurunan dividen oleh utilitas public.
Untuk perusahaan dalam industri tidak diregulasi reaksi pasar tidak begitu kuat, hal
ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan harga saham sebelum dan sesudah
pengumuman kenaikan/penurunan dividen oleh perusahaan-perusahaan tertentu di
tahun-tahun tertentu.
Menurut Sitompul (2003) Perusahaan yang akan melaksanakan penawaran
umum efeknya di Bursa Efek Indonesia diharuskan tunduk pada peraturan tentang
Bila suatu perusahaan ingin mencatatkan sahamnya di bursa tersebut,
diwajibkan memenuhi persyaratan pencatatan saham sebagai berikut (Sitompul,
2003); (1) untuk dapat mencatatkan saham, maka penrnyataan pendaftaran dalam
rangka penawaran umum ataupun sebagai perusahaan public harus telah dinyatakan
efektif oleh Bapepam; (2) laporan keuangan perusahaan tersebut untuk tahun buku
terakhir telah diaudit dan mendapat opini wajar tanpa syarat dari akuntan publik yang
terdaftar di Bapepam; (3) jumlah pemegang sahamnya, baik perorangan maupun
lembaga kurangnya 200 (dua ratus) dan masing-masing memiliki
sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan perdagangan (1 (satu) lot; (4) saham yang dicatatkan
sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) lembar saham, (5) telah berdiri atau
beroperasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun; (6) wajib mencatatkan seluruh saham
yang telah disetor penuh dengan memperhatika ketentuan tentang persentase
pemilikan bagi pihak asing, (7) telah memperoleh laba operasional dalam 2 (dua)
tahun buku terakhir, (8) memiliki total asset minimal Rp. 20.000.000.000,00 (dua
puluh miliar rupiah) terdiri dari equity Rp. 7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta rupiah) dan modal disetor Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan para
direktur dan komisaris mempunyai reputasi yang baik.
Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang lain, laporan
arus kas bersih dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai
untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangari
(termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah
peluang. Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan
model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan
(future cash flow) dari berbagai perusahaan. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat
meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap
transaksi dan peristiwa yang sama.
Menurut Riahi et.al (2006) kebanyakan pendukung dari akuntansi arus kas
merasa bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan evaluasi aktiva dan penentuan
laba sangat berat sehingga mereka membenarkan adanya derivasi sistem akuntansi
terpisah dan mengusulkan dimasukkannya laporan arus kas yang komprehensif dalam
laporan perusahaan.
Informasi tentang arus kas suatu. perusahaan berguna bagi para pemakai
laporan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas
dan setara kas dan menilai kebutuhan, perusahaan untuk menggunakan arus kas
tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu
melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan
setara kas serta kepastian perolehannya.
Menurut Niswonger et.al. (2009) laporan arus kas adalah biasa untuk
melaporkan arus kas (penerimaan dan pengeluaran arus kas) dalam tiga bagian yaitu :
kegiatan keuangan melaporkan transaksi kas yang mengaitkan investasi kas oleh
pemilik, dan peminjaman serta penarikan oleh pemilik.
Arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna
untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal
perusahaan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan
(Niswonger 2009) adalah (1) penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal
lainnya, (2) pembayaran kas kepada pemegang saham untuk menarik atau menebus
saham perusahaan, (3) peneriman kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik,
dan pinjaman lainnya, (4) pelunasan pinjaman, dan (5) pembayaran kas oleh penyewa
guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).
Menurut Meythi (2006) menguji apakah data arus kas mempunyai kandungan
informasi dalam hubungannya dengan harga saham. Data share price bulanan diambil dari London Share Price Database. Data akuntansi diperoleh dari Cambridge/DTI data. Sampel terdiri dari 39 perusahaan manufaktur untuk periode 1961-1977. Hasil
dari penelitian mereka menunjukkan tidak berhasil menolak hipotesis nol, yang
berarti bahwa data arus kas tidak mempunyai kandungan informasi dalam
hubungannya dengan harga saham.
Usaha memaksimumkan nilai perusahaan sebagai tujuan normatif perusahaan
merupakan salah satu elemen yang turut menentukan perubahan harga saham yang
diperdagangkan di Bursa Efek. Makna yang terkandung dalam tujuan normatif ini
secara produktif guna memberikan keyakinan kepada para pemegang saham untuk
memperoleh pendapatan (dividen atau capital gain) di masa yang akan datang. Dalam konteks seperti ini, tentu semua kebijaksanaan akan memberikan dampak
langsung terhadap perubahan harga saham.
Menurut Mulyadi (1993) ada empat metode yang umum digunakan sebagai
criteria penilaian usulan investasi yakni : pay-back method, rate of return investement, present value method, dan discount cash flows method. Dari keempat method tersebut, dua method yang disebut terakhir memperhitungkan seluruh aliran
kas selama umur proyek dan telah memperhitungkan nilai waktu uang. Arus kas dari
bunga dan deviden yang diterima dan dibayarkan masing-masing harus diungkapkan
tersendiri. Masing-masing harus diklasifikasikan secara konsisten antar periode
sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.
Bunga yang dibayar dan bunga serta dividen yang diterima oleh lembaga
keuangan biasanya diklasifikasikan sebagai arus kas operasi. Namun demikian, bagi
perusahaan lain belum ada kesepakatan mengenai klasifikasi arus kas Ini. Bunga yang
dibayarkan dan bunga serta dividen yang diterima dapat diklasifikasi sebagai arus kas
operasi karena mempengaruhi laba, atau rugi bersih sebagai alternatif bunga. yang
dibayar dan bunga serta dividen yang diterima dapat diklasiflkasi masing-masing
sebagai arus kas pendanaan dan arus kas investasi karena rnerupakan biaya perolehan
sumber daya keuangan atau sebagai hasil investasi (return on investment).
Menurut Jansen dalam Erlina (2008) Semakin besar kesempatan tumbuh
struktur modal cenderung akan meningkatkan nilai perusahaan. Pendapat ini
didukung oleh teori aliran kas bebas dari Jansen (1986) yang menemukan adanya
peranan dari kesempatan tumbuh perusahaan dalam kaitannya dengan perubahan
harga saham karena perubahan kebijakan struktur modal. Pada perusahaan yang
mempunyai kesempatan tumbuh yang menguntungkan mereka, harga saham akan
berubah secara positif. Jika perusahaan mengumumkan untuk meningkatkan
tambahan dana, maka pasar akan meramal kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dari dana yang ditanamkan.
Dividen yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai arus kas pendanaan karena
merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan. Sebagai alternatif dividen yang
dibayar dapat diklasifikasi sebagai komponen arus kas dari aktivitas operasi dengan
maksud untuk membantu para pengguna laporan arus kas dalam menilai kemampuan
perusahaan membayar dividen dari arus kas operasi.
Laporan arus kas banyak digunakan sebagai alat-alat untuk menentukan
kesehatan finansial suatu organisasi. Secara umum sumber pemasukan kas meliputi
laba bersih, penurunan aktiva, peningkatan utang, dan peningkatan modal saham.
Penggunaan kas meliputi peningkatan aktiva, penurunan utang, penurunan akun
modal pemegang sahan dan deviden Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak
memerlukan penggunaan kas setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas.
Transaksi semacam itu harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan
keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai
Terdapat aktivitas investasi dan pendanaan yang tidak mempunyai pengaruh
langsung terhadap arus kas periode berjalan meskipun mempengaruhi struktur aktiva
serta modal perusahaan. Tidak dimasukkannya transaksi bukan kas dalam laporan
arus kas ini konsisten dengan tujuan laporan arus kas sebab transakasi tersebut tidak
mempengaruhi arus kas dalam periode berjalan. Beberapa contoh transaksi non kas
adalah :
a. Perolehan aktiva secara kredit atau melalui sewa guna usaha pembiayaan (finance lease),
b. Akuisisi perusahaan melalui emisi saham,
c. Konversi hutang menjadi modal.
Menurut Brigham et.al (2001) Langkah yang paling penting dan paling sulit
dalam penganggaran modal adalah mengestimasi arus kas proyek, pengeluaran
investasi dan arus kas masuk bersih tahunan sebelum proyek dijalankan. Transaksi
investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas
harus disajikan dalam kelompok “Aktivitas yang Tidak Mempengarihi Arus Kas”
dalam laporan arus kas.
Transaksi tersebut harus diungkapan sedemikian rupa pada catatan atas laporan
keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai
aktivitas investasi dan pendanaan tersebut. Transaksi tersebut dapat berbentuk :
1. Perolehan aktiva secara kredit atau melalui sewa guna usaha finance lease,
2. Akuisisi perusahaan melalui penerbitan saham,
4. Kapitalisasi biaya pinjaman.
2.1.3. Pengertian Leverage Ratio
Debt to equity ratio melihat struktur keuangan perusahaan dengan meningkatkan jumlah kewajiban dengan jumlah ekuitas pemilik. Rumus untuk
menghitung debt to equity ratio ini mengindikasikan sejauh mana perusahaan dapat menanggung kerugian tanpa harus membahayakan kepentingan kreditornya. Dalam
hal terjadi likuidasi, kreditor mempunyai prioritas klaim dibandingkan pemegang
saham, kreditor memiliki hak pertama atas asset perusahaan. Dari sudut pandang
kreditor, jumlah ekuitas dalam struktur permodalan perusahaan dapat dianggap
sebagai katalisator, membantu memastikan bahwa terdapat aset yang memadai untuk
menutup klaim pihak lain.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko yang akan dihadapi oleh
perusahaan. Resiko yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang
rendah untuk membiayai aktiva dan berdampak terhadap harga saham. Dalam Fraser,
(1988) dikatakan bahwa rasio total hutang terhadap ekuitas mengukur tingkat resiko
struktur modal perusahaan punya hubungan antara pihak yang memiliki dana dan
pihak yang membutuhkan dana. Tinggi rendahnya komposisi hutang yang ada
menunjukkan besarnya juga resiko karena kreditur harus mengantisipasi jika
kemungkinan perusahaan itu dikemudian hari mengalami kebangkrutan.
Rasio yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa klaim pihak lain relatif lebih
klaim kreditor kemungkinan tidak akan tertutup secara penuh bilamana terjadi
likuidasi. Semakin rendah rasionya, maka semakin sedikit kewajiban perusahaan
dimasa yang akan datang. Hal tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung
berdampak terhadap harga saham. Adapun persamaan debt to equity ratio adalah :
Debt to equity ratio
2.1.4. Pengertian Earnings per Share
Rasio Earning per Share (EPS) mengukur seberapa besar pendapatan bersih yang dihasilkan perusahaan untuk tiap lembar saham. Bagi investor rasio ini
diperlukan untuk mengetahui kemampulabaan perusahaan dalam menghasilkan laba
(earning) tiap lembar sahamnya. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa nilai suatu perusahaan pada dasarnya tergantung pada kemampulabaan perusahaan yang
merupakan sumber dana untuk membayar deviden.
Menurut Brigham (2006:196) Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan bagian laba untuk setiap saham. EPS menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar pada setiap lembar saham. Semakin tinggi nilai EPS
akan menyebabkan semakin besar laba dan kemungkinan peningkatan jumlah
deviden yang diterima pemegang saham. EPS dihitung dengan rumus berikut:
EPS adalah angka yang paling sering digunakan karena adanya anggapan bahwa EPS
mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai besarnya
deviden per saham di kemudian hari dan tingkat harga saham di kemudian hari.
2.1.5. Harga Saham dan Penilaian Saham
Analisis terhadap saham secara umum terbagi dua yaitu analisis teknikal dan
analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data harga saham di masa lalu ,
sedangkan analisis fundamental menggunakan faktor yang diidentifikasikan sehingga
dapat mempengaruhi harga saham di masa mendatang. Dasar dari analisis
fundamental adalah faktor fundamental suatu perusahaan. Faktor fundamental
perusahaan secara umum dapat diartikan sebagai faktor internal perusahaan yang
digambarkan sebagai kinerja keuangan perusahaan yang dituangkan dalam bentuk
laporan keuangan (Halim:2003.5).
Pengukuran kinerja keuangan suatu perusahaan membutuhkan suatu alat ukur,
biasanya berbentuk rasio. Analisis rasio keungan mampu memberikan manajemen
gambaran tentang perubahan-perubahan pokok trend, jumlah dan hubungan serta
alasan perubahan tersebut. Hasil analisis laporan keuangan diharapkan dapat
membantu manajemen dalam menginterpretasikan berbagai hubungan dan
kecendrungan sehingga dapat memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi
keberhasilan perusahaan di masa depan.
Harga saham adalah harga pasar yang tercatat setiap hari pada waktu
mencerminkan nilai dari suatu saham. Dalam penelitian ini harga saham yang
dimaksud adalah rata-rata harga saham selama lima hari sebelum dan setelah
publikasi laporan keuangan pada periode pengamatan. Harga saham yang terjadi di
pasar modal selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu. Fluktuasi harga dari suatu
saham akan ditentukan antara kekuatan penawaran dan permintaan. Apabila
permintaan harga dari suatu saham meningkat maka harga saham akan cenderung
naik, sebaliknya apabila terjadi kelebihan penawaran maka harga saham cenderung
turun. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan harga saham di
pasar modal, diantaranya adalah kinerja perusahaan, resiko, dividen, tigkat suku
bunga, penawaran permintaan, laju inflasi, kebijakan pemerintah, dan kondisi
perekonomian.
Menurut (Gart, 1988 dalam Sularso 2003) hal-hal penting yang merupakan
faktor makro atau pasar yang dapat menyebabkan fluktuasi harga saham adalah :
1. Tingkat inflasi dan suku bunga
2. Kebijakan keungan dan fiskal
3. Situasi perekonomian
4. Situasi bisnis internasional
Sedangkan faktor mikro perusahaan yang dapat menyebablkan fluktuasi harga
saham adalah :
1. Pendapatan perusahaan
2. Dividen yang dibagikan
4. Perubahan mendasar dalam industri atau perusahaan
5. Perubahan dalm perilaku investasi
2.2. Review Peneliti Terdahulu (Theoretical Mapping)
Berikut tini akan diuraikan beberapa tinjauan dari peneliti terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian ini :
1. Andi Sularso (2003) dengan judul “Pengaruh Pengumuman Dividen Terhadap
Perubahan Harga Saham (Return). sebelum dan sesudah Ex-Dividen Date di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”. Variabel independennya adalah Pengumuman Dividen
dan variabel dependennya adalah Harga Saham. Hasil penelitian menunjukkan
terdapat pengaruh pengumuman dividen terhadap perubahan harga saham
sebelum dan sesudah Ex-dividen date di Bursa Efek Jakarta.
2. Rahmawati (2005) dengan judul “Over Reaksi Pasar Terhadap Harga Saham
Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta”, dengan variabel independennya
Reaksi Pasar dan variabel dependennya Harga Saham. Hasil penelitiannya
menyimpulkan terdapat indikasi reaksi berlebihan (over reaction) yang ditandai dengan portfolio loser mengungguli portfolio winner. Efek reaksi berlebihan terjadi tidak dalam kurun waktu yang konstan lama, tetapi terjadi terpisah-pisah
atau separatis. Fenomena reaksi pasar berlebihan oleh para pelaku investor
menyimpulkan bahwa pasar adalah tidak efisien, karena dalam pasar yang efisien,
harga saham yang ada pada saat itu bisa mencerminkan pengetahuan dan harapan
investasi yang menguntungkan dan tidak menguntungkan berdasarkan pada harga
pasar pada saat ini.
3. I.G.K.A. Ulupui (2005) dengan judul ” Analisis Pengaruh Ratio Likuiditas,
Leverage, Aktivitas, dan Profitabilitaas Terhadap Return Saham”, dengan variabel
independennya adalah ratio likuiditas, leverage ratio, aktivitas, dan profitabilitas dan variabel dependennya adalah return saham. Hasil penelitian mennunjukkan bahwa current ratio, return on asset, total asset, turn over, berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan debt to equity ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap return saham.
4. Meythi (2006) dengan judul “Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Harga Saham
Dengan Persistensi Laba Sebagai Variabel Intervening”. Variabel independennya
adalah Arus Kas Operasi, Persistensi Laba sebagai variabel intervening dan
Harga Saham sebagai variabel dependennya. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa hasil path analysis menunjukkan tidak adanya pengaruh arus kas operasi terhadap harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening, sehingga hipotesis penelitian tidak mendapat dukungan empiris. Hubungan
langsung dari arus kas operasi ke harga saham ini tidak didukung oleh bukti
empiris karena tidak signifikan. Menurut penelitian Meythi (2006) hasil penelitian
ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hartono (2000),
yang menyatakan bahwa dengan model level, total arus kas tidak mempunyai
hubungan yang signifikan dengan harga saham, tetapi pemisahan arus kedalam
menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan harga saham. Hubungan
tidak langsung antara arus kas ke operasi terhadap harga saham melalui
persistensi laba tidak didukung oleh bukti empiris.
5. San Susanto dan Ekawati (2006) tentang “Relevansi Nilai Informasi Laba Dan
Aliran Kas Terhadap Harga Saham Dalam Kaitannya Dengan Siklus Hidup
Perusahaan”.Adapun variabel independennya adalah nilai informasi laba dan
aliran kas sedangkan variabel dependennya adalah harga saham. Hasil
penelitiannya menyatakan bahwa siklus hidup perusahaan memiliki relevansi laba
dan aliran kas. Aliran kas investasi dan aliran kas pendanaan mempunyai value relevancy pada tahan start up. Sedangkan tahap laba, aliran kas operasi, aliran kas pendanaan mempunya value relevance pada tahap growth (pertumbuhan). Pada tahap mature laba dan komponen aliran kas mempunyai value relevance
sedangkan pada tahap decline aliran kas operasi dan aliran kas pendanaan yang mempunyai value relevance, seperti yang dinyatakan oleh Susanto (2006) hasil penelitian ini tidak menunjukkan konsistensi dengan penelitian Black (1988)
maupun Atmini (2002) tetapi diharapkan saling melengkapi satu dengan yang
lain.
6. Siaputra, Lani, dan A.Surja Atmaja (2006) mengenai pengaruh poengumuman
deviden terhadap perubahan harga saham sebelum dan sesudah Ex-deviden date
di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Variabel independennya adalah Ex-deviden dan
terdapat pengaruh pengumuman deviden terhadap perubahan harga saham
sebelum dan sesudah Ex-deviden date di Bursa Efek Jakarta.
7. Nurhidayati (2006) mengenai “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengauhi
Dividen Kas di Bursa Efek Jakarta”. Adapun variabel independennya current ratio, EPS, ROI, cash ratio, DTA, dan size. Sedangkan variabel dependennya adalah hasil kas. Adapun hasil penelitiannya adalah bahwa current ratio, EPS, signifikan berpengaruh positif terhadap Dividen Kas. ROI, cash ratio, DTA, size
tidak signifikan berpengaruh terhadap Dividen Kas. Secara simultan signifikan
terhadap Dividen Kas. Adapun reviu penelitian terdahulu terdapat pada Tabel 2.1.
berikut :
Tabel 2.1. Daftar Review Peneliti Terdahulu
Nama Judul
Hasil menunjukkan terdapat Pengaruh Pengumuman Dividen Terhadap Perubahan Harga Saham Sebelum dan Sesudah Ex-Dividend Date di Bursa Efek Jakarta.
Rahma
Indikasi reaksi berlebihan (overreaction) yang ditandai dengan portfolio loser mengungguli portfolio winner. Efek reaksi berlebihan terjadi tidak dalam kurun waktu yang konstan lama, tetapi terjadi terpisah-pisah atau separatis.
Aktivitas, dan
Hasil path analysis menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh arus kas operasi terhadap harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening, sehingga hipotesis penelitian tidak mendapat dukungan empiris.
San
Menyatakan bahwa siklus hidup perusahaan memiliki relevansi laba dan aliran kas. Aliran kas investasi dan aliran kas pendanaan mempunyai value relevancy pada tahan start up. Sedangkan tahap laba, aliran kas operasi, aliran kas pendanaan mempunya value relevance pada tahap growth (pertumbuhan). Pada tahap mature laba dan komponen aliran kas mempunyai value relevance sedangkan pada tahap decline aliran kas operasi dan aliran kas pendanaan yang mempunyai value relevance.
Hasil menunjukkan terdapat Pengaruh Pengumuman Dividen Terhadap Perubahan Harga Saham Sebelum dan Sesudah Ex-Dividend Date di Bursa Efek Jakarta.
Nurhida
Current ratio, EPS signifikan berpengaruh positif terhadap Dividen Per Lembar Saham. ROI, cash ratio, DTA, size tidak signifikan berpengaruh terhadap Dividen Per Lembar Saham. Secara simultan signifikan berpengaruh positif terhadap Dividen Per Lembar Saham
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Berdasarakan latar belakang dan landsan teori yang telah dikemukakan pada
bab sebelumnya , maka kerangka konseptual dari penelitian ini adalah :
Variabel Independen
Variabel Dependen
Gambar 3.1. Diagram Kerangka Konseptual
Deviden dan arus kas pada perusahaan merupakan analisa rasio yang penting
dan relevan diperhitungkan sebagai informasi riil yang sangat di butuhkan para
investor dalam melakukan analisa sebelum membuat keputusan untuk berinvestasi di
Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian dana yang tersedia bagi investor untuk di
investasikan dapat di arahkan pada perusahaan yang lebih sehat agar dana lebih aman
dan dapat memberikan return yang tinggi sehingga hasilnya maksimal. Semakin besar
dividen yang dibayarkan terhadap jumlah lembar saham pemegang saham maka Deviden Kas
(X1)
Leverage Ratio (X3)
Earning per Share (X4) Arus Kas bersih
(X2)
semakin tinggi tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Uraian dasar pemikiran di
atas, mendesain kerangka konseptual untuk menguji pengaruh pembagian dividen dan
arus kas bersih terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia seperti ditunjukkan
gambar 3.1.
Terdapat hubungan antara nilai perusahaan dengan pembayaran dividen, arus
kas bersih, leverage dan earnings per share yang diharapkan setiap tahun oleh perusahaan bahwa dividen menunjukkan hal yang pasti berkaitan dengan apresiasi
harga saham. Semakin tinggi nilai kesehatan suatu perusahaan akan memberikan
keyakinan kepada pemegang saham untuk memperoleh pendapatan (dividen atau
capital gain) di masa yang akan datang.
Arus kas mempunyai kandungan informasi tingkat kesehatan suatu
perusahaan dalam hubungannya dengan perubahan harga saham setiap akhir tahun.
Hal ini disebabkan oleh kenaikan atau penurunan kas bersih perusahaan memiliki
kaitan dengan investasi dan kebijakan dividen. Laporan keuangan mengenai laba dan
informasi aliran kas sebuah perusahaan merupakan pintu yang utama dari investor
dan kreditur untuk menila kinerja perusahaan yang sedang melakukan penawaraan
umum sehingga dapat memberikan keyakinan bagi pihak lain atas keuangan yang
diterbitkan emiten. Dengan kata lain modal dasar saham memperlihatkan jika
perusahaan menjalankan kebijakan membagikan tambahan dividen tunai, hal ini akan
meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin dalam peningkatan harga saham.
untuk melakukan investasi kembali, sehingga tahap pertumbuhan yang diharapkan
untuk masa depan akan rendah, dan hal ini akan menekan harga saham.
Debt to equity ratio melihat struktur keuangan perusahaan dengan meningkatkan jumlah kewajiban dengan ekuitas pemilik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perusahaan dapat menanggung kerugian tanpa harus membahayakan
krediturnya. Semakin tinggi rasio ini maka semkain besar resiko yang akan dihadapi
oleh perusahaan. Resiko yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang
rendah untuk membiayai aktiva dan berdampak terhadap harga saham. Semakin
rendah rasionya maka semakin sedikit kewajiban perusahaan di masa yang akan
datang. Hal tersebut berdampak terhadap harga saham.
Earning Per Share (EPS) mengukur seberapa besar pendapatan bersih yang dihasilkan perusahaan untuk tiap lembar saham. Bagi investor hasil rasio ini
diperlukan untuk mengetahui kemampulabaan dalam menghasilkan laba (earning)
tiap lembar sahamnya. EPS mengandung informasi yang penting untuk melakukan
prediksi mengenai besarnya dividen per saham di kemudian hari dan tingkat harga
saham di kemudian hari. Semakin tinggi nilai EPS akan menyebabkan semakin besar
laba dan kemungkinan peningkatan jumlah dividen yang diterima pemegang saham
sehingga akan berdampak terhadap harga saham.
3.2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tinjauan teoritis, tinjauan penelitian terdahulu dan kerangka konsep
Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share berpengaruh terhadap Harga
Saham Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia baik secara simultan
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitan hubungan kausal (causal effect) yaitu penelitian untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya
dan bagaimana satu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Widayat dan
Amirullah, 2002 : 61). Jenis penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh Dividen
Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio dan Earning per Share terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia serta mencari berbagai keterangan secara faktual. Penelitian
ini menjelaskan fenomena dalam bantuk hubungan antara variabel atau disebut juga
sebagai explanatory research.
4.2. Lokasi dan Waktu penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia yang berlokasi di
Jakarta pada periode Januari 2004 sampai dengan Desember 2008. Waktu penelitian
ini direncanakan mulai Oktober 2009 sampai dengan Agustus 2010. Adapun jadwal
penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 12.
4.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode tahun 2004-2008 sebanyak 396 perusahaan. Menurut
sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu, seperti yang dinyatakan oleh Kuncoro (2008) menyebutkan istilah judgement sampling sebagai salah satu jenis purposive sampling dimana peneliti melakukan pemilihan sampel
berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik anggota sampel yang
disesuaikan dengan maksud penelitian. Teknik penelitian ini menggunakan purposive sampling, perusahaan yang akan dijadikan penelitian ini dipilih menggunakan pertimbangan dengan memasukkan unsur-unsur yang dianggap memiliki kriteria
sebagai berikut:
1) Seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun
2004 sampai 2008.
2) Perusahaan yang menyampaikan datanya secara lengkap sesuai dengan informasi
yang diperlukan, yaitu laporan keuangan per 31 Desember, dengan alasan laporan
tersebut telah diaudit sehingga informasi yang dilaporkan lebih dapat dipercaya.
3) Perusahaan yang membayar dividen selama lima tahun terakhir di Bursa Efek
Indonesia.
Sesuai dengan kriteria di atas, maka jumlah sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebanyak 117 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
mulai tahun 2004-2008. Tahun amatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5
tahun berturut-turut yaitu tahun 2004 – 2008 sehingga jumlah sampel observasi dalam
penelitian ini sebanyak 5 tahun observasi x 117 sampel = 585 sampel observasi.