• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Petani Di Lokalitas Percontohan Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara (Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Sikap Petani Di Lokalitas Percontohan Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara (Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP

PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA

(Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)

SKRIPSI

OLEH DARMA YANTI 050304023/ AGRIBISNIS

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP

PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA

(Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat

Guna Memperoleh Derajat Sarjana Pertanian

OLEH DARMA YANTI 050304023/ AGRIBISNIS

Disetujui Oleh :

Komisi Pembimbing,

Ketua, Anggota,

(Ir. Thomson Sebayang, MT) (Ir. Luhut Sihombing, MP

)

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap petani di lokalitas perconcohan terhadap program agropolitan Sumatera Utara.

Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara, dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa lokalitas percontohan agropolitan. Adapun analisis yang digunakan pada penelitian adalah analisis deskriftif dengan menjelaskan yaitu dengan melihat data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian,dan untuk mengukur sikap petani di lokalitas percontohan dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal, tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja, total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program agropolitan. Adapun hasil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :

1. Realisasi program agropolitan di lokalitas percontohan desa Nagalingga Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, sudah berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya pemberian bantuan berupa pemberian pupuk, bibit, dan obat-obatan. Dan juga telah dilakukan kegiatan pembangunan seperti perbaikan jalan menuju usaha tani dan pembangunan pengembangan SDM petani yang dimaksudkan untuk mendukung dan meningkatkan pengelolaan usahatani sehingga kesejahteraan petanipun bisa meningkat.

2. Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo telah diketahui bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program agropolitan adalah sebanyak 18 orang (60 %) dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak 12 orang (40%).

(4)

RIWAYAT HIDUP

DARMA YANTI, lahir di Kuala Simpang pada tanggal 16 Desember 1987

anak dari Bapak Abdullah Syam. dan Ibu Salbiah. Penulis merupakan anak ke dua

dari tiga bersaudara.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :

1. Tahun 1993 masuk Sekolah Dasar Negeri 04 Kuala Simpang, tamat tahun 1999.

2. Tahun 1999 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 01 Kuala Simpang,

tamat tahun 2002.

3. Tahun 2002 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Negeri 01, tamat tahun 2005.

4. Tahun 2005 diterima di Departemen Agribisnis di Universitas Sumatera Utara

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul dari skripsi ini adalah “ SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA (Kasus: Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)”.

Tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

• Bapak Ir. Thomson Sebayang MT selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk mengajari banyak meluangkan waktunya untuk

mengajari, memotivasi dan membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

• Ibu Ir. Luhut Sihombing, MP. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk mengajari, dalam menyelesaikan skripsi ini.

• Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Departemen SEP, FP-USU dan Ibu Dr. Salmiah, MS selaku Sekretaris Departemen SEP, FP-USU yang telah

memberikan kemudahan dalam hal kuliah dan administrasi kegiatan organisasi

saya di kampus.

• Seluruh Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada

penulis selama ini.

• Seluruh pegawai di Fakultas Pertanian khususnya pegawai Departemen SEP Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada

Ayahanda Abdullah Syam dan ibunda Salbiah atas motivasi, kasih sayang, dan

(6)

menjalani kuliah, tak lupa kepada para kakanda Nurul Wahyuni dan atas semangat

yang diberikan.

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman penulis di

Departemen Agribisnis angkatan 2005 khususnya Iska, Vina dan Rossiana yang telah

banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi. Tak lupa pula

kepada teman-teman seperjuangan di FSMM SEP, serta sahabat-sahabat yang terus

berjuang dijalan dakwah dimanapun berada. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat

terwujud dan semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua.

Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Maret 2010

(7)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

PENDAHULUAN ...1

Latar Belakang ...1

Identifikasi Masalah ...6

Tujuan Penelitian ...6

Kegunaan Penelitian ...7

TINJAUAN PUSTAKA ...8

Tinjauan Pustaka ...8

Landasan Teori ...13

Kerangka Pemikiran ...18

Hipotesis Penelitian ...21

METODOLOGI PENELITIAN ...22

Metode Penentuan Daerah Sampel ...22

Metode Penarikan Sampel...22

Metode Pengumpulan Data...23

Metode Analisis Data ...23

Defenisi dan Batasan Operasional ...28

Defenisi ...28

(8)

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK

SAMPEL ...30

Deskripsi Daerah Penelitian...30

Luas dan Letak Geografis ...30

Keadaan Penduduk ...31

Sarana dan Prasarana ...32

Karakteristik Sampel...32

Umur ...33

Tingkat Pendidikan Formal ...33

Tingkat Kosmopolitan ...34

Luas Lahan ...34

Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga ...34

Total Pendapatan Keluarga ...34

HASIL DAN PEMBAHASAN ...35

Realisasi Program Agropolitan di Lokalitas Percontohan ...35

Sikap Petani di Lokalitas Perercontohan Terhadap Program Agropolitan ...40

Hubungan Karakteristik Antara Sosial Ekonomi Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan. ...57

KESIMPULAN DAN SARAN ...73

Kesimpulan ...73

Saran ...74

(9)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal

1. Lokalitas Percontohan Agropolitan dan komoditas unggulan yang

ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ...25

2. Interpretasi Terhadap Nilai r Hasil Analisis Korelasis...25

3. Variabel dan Parameter Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan ...26

4. Jumlah Penduduk di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009...31

5. Jenis Sarana yang terdapat di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek ...32

6. Karakteristik Sampel Petani di Daerah Penelitian…....……...………33

7. Realisasi Program Agropolitan Sumatyera Utara di Lokalitas Percontohan. .38

8. Sikap Petani di Lokalitas Percontohan Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara...40

9. Umur dan Sikap Petani Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara ...58

10. Hasil Analisis Hubungan Antara Umur dengan Sikap Petani Terhadap

Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank Spearman ...58

11. Tingkat Pendidikan Formal dan Sikap Petani Terhadap Program

AgropolitanSumatera Utara ...60

12. Hasil Analisis Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank

Spearman ...61

13. Tingkat Kosmopolitan dan Sikap Petani Terhadap Program

AgropolitanSumatera Utara ...62

14. Hasil Analisis Hubungan Antara Tingkat Kosmopolitan dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode

(10)

15. Luas lahan Petani dan Sikap Petani Terhadap Program

AgropolitanSumatera Utara ...65

16. Hasil Analisis Hubungan Antara Luas Lahan Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank

Spearman ...65

17. Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga dan Sikap Petani Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara ...67

18. Hasil Analisis Hubungan Antara Ketersediaan Tenaga Kerja dalam Keluarga dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank Spearman ...67

19. Total Pendapatan Keluarga Petani dan Sikap Petani Terhadap Program

AgropolitanSumatera Utara ...69

20. Hasil Analisis Hubungan Antara Total Pendapatan Keluarga Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal

1. Delapan Kabupaten KADTBB-SU beserta luas wilayahnya ...9

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul

1. Karakteristik Sosial Ekonomi Dan Skor Sikap Serta Skor Perilaku Petani

Terhadap Program Agropolitan

2. Pernyataan Untuk Variabel Tingkat Kosmopolitan

3. Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Tingkat Kosmopolitan

4. Skor Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Tingkat Kosmopolitan

5. Pendapatan Keluarga Petani Sampel

6. Pernyataan Positif Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan

7. Pernyataan Negatif Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.

8. Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Positif Sikap Petani Terhadap Program

Agropolitan

9. Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Negatif Sikap Petani Terhadap Program

Agropolitan

10. Total Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Sikap Petani Terhadap Program

Agropolitan

11. Nilai T Skala Sikap Jawaban Responden Terhadap Program Agropolitan

12. Frekuensi Jawaban Pernyataan Positif Mengenai Sikap Petani di Lokalitas

Percontohan Terhadap Program Agropolitan

13. Frekuensi Jawaban Pernyataan Negatif Mengenai Sikap Petani di Lokalitas

(13)

14. Hasil Analisis Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Sikap

Petani Terhadap Program Agropolitan Mode Rank Spearman

15. Nilai Korelasi Rank Spearman dan Sig. 2-tiled dengan Analisis Rank Spearman

Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi dengan Sikap Petani Terhadap Program

(14)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap petani di lokalitas perconcohan terhadap program agropolitan Sumatera Utara.

Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara, dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa lokalitas percontohan agropolitan. Adapun analisis yang digunakan pada penelitian adalah analisis deskriftif dengan menjelaskan yaitu dengan melihat data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian,dan untuk mengukur sikap petani di lokalitas percontohan dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal, tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja, total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program agropolitan. Adapun hasil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :

1. Realisasi program agropolitan di lokalitas percontohan desa Nagalingga Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, sudah berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya pemberian bantuan berupa pemberian pupuk, bibit, dan obat-obatan. Dan juga telah dilakukan kegiatan pembangunan seperti perbaikan jalan menuju usaha tani dan pembangunan pengembangan SDM petani yang dimaksudkan untuk mendukung dan meningkatkan pengelolaan usahatani sehingga kesejahteraan petanipun bisa meningkat.

2. Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo telah diketahui bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program agropolitan adalah sebanyak 18 orang (60 %) dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak 12 orang (40%).

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dinamika pembangunan di sektor pertanian, dari waktu ke waktu terus

berkembang dengan cepat dan kompleks. Program pembangunan di sektor pertanian

dititikberatkan pada agribisnis dan ketahanan pangan. Pengembangan agribisnis tidak

mengenal batas–batas administrasi wilayah, sehingga sudah waktunya strategi

pengembangan sistem dan usaha agribisnis ditingkatkan menjadi strategi yang

mensinergikan pengembangan agribisnis dengan pendekatan wilayah.

Diperlukan perhatian yang lebih serius dari semua pihak, baik pemerintah

maupun swasta untuk membangun dan mengembangkan sistem pertanian di

Indonesia. Salah satunya adalah dengan membentuk kawasan agropolitan di

lokasi-lokasi strategis yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis

pertanian (Pantjasilanto,2009).

Konsep agropolitan merupakan konsep yang dikembangkan sebagai siasat

dalam pengembangan pedesaan. Konsep ini pada dasarnya memberikan pelayanan

perkotaan di kawasan pedesaan (Firman, 2007).

Agropolitan merupakan sistem manajemen dan tatanan terhadap suatu

kawasan yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis pertanian.

Kawasan agropolitan merupakan kawasan di sekitar kota pertanian yang tumbuh dan

berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis.

Pembangunan pedesaan melalui konsep agropolitan merupakan

(16)

mempunyai pusat-pusat pelayanan setara kota. Pengembangan agropolitan

merupakan suatu pendekatan pembangunan di pedesaan melalui prinsip

pengembangan wilayah (melibatkan penataan ruang, kelembagaan, infrastruktur dan

permodalan), keterpaduan dan pemberdayaan masyarakat (Anonimous, 2003).

Kawasan agropolitan ini nantinya juga mampu melayani, mendorong, dan

menarik kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitar. Sehingga kawasan

agropolitan adalah kawasan pertanian atau kawasan di sekitar kota pertanian yang

mempunyai potensi dikembangkan usaha pertanian maupun pasca panen pertanian

untuk menyangga kebutuhan pangan kota besar dan sekaligus meningkatkan nilai

tambah produk pertanian (Pantjasilanto, 2009).

Migrasi penduduk selama ini lebih banyak disebabkan kurangnya sarana

penunjang dan infrastruktur yang ada di desa. Melalui konsep agropolitan yang

menata desa menjadi suatu pusat kegiatan ekonomi berbasis pertanian dengan

memperkuat keterkaitan sistem agribisnis yang didukung dengan pembangunan

fasilitas penunjangnya, diharapkan mampu menciptakan suatu “desa kota” yang

memberikan kontribusi terhadap peningkatan sumber pendapatan dan kesejahteraan

masyarakat pedesaan khususnya para petani. Dengan demikian petani atau

masyarakat desa tidak perlu harus pergi ke kota untuk mendapatkan pelayanan, baik

dalam pelayanan yang berhubungan dengan masalah produksi dan pemasaran

maupun yang berhubungan dengan kebutuhan sosial budaya dan ekonomi setiap hari.

(17)

pemukiman petani, sehingga ada peningkatan akses baik pelayanan mengenai teknik

budidaya pertanian, informasi pasar, serta kebutuhan penunjang agribisnis lainnya.

Sejak tahun 2002 Program Agropolitan telah dicanangkan sebagai model

Pembangunan Pertanian di 8 kabupaten di Indonesia yang cepat berkembang menjadi

61 kabupaten/kota pada tahun 2003 dan menjadi sekitar 200 kabupaten/kota pada

tahun 2006. Pengembangan kawasan agropolitan merupakan upaya untuk

menumbuhkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian dengan memperkuat keterkaitan

sektoral antara pertanian, non pertanian dan jasa penunjang serta keterkaitan spasial

antara kawasan pedesaan dan perkotaan (Simanjuntak, 2008).

Peranan agropolitan adalah antara lain untuk melayani kawasan industri

pertanian disekitarnya di mana berlangsung kegiatan agribisnis oleh para petani

setempat. Fasilitas pelayanan yang diperlukan untuk memberikan kemudahan

produksi dan pemasaran antara lain adalah berupa: input sarana produksi (benih,

pupuk, pestisida, alat–alat pertanian dsb), sarana penunjang produksi (lembaga

perbankan, koperasi, listrik, dsb) dan sarana pemasaran (pasar, terminal angkutan,

sarana transportasi, dsb). Dengan adanya peningkatan akses kepada faktor–faktor

produksi dan pemasaran tersebut maka biaya produksi dan biaya pemasaran dapat

diperkecil, sehingga hasil pertanian dapat lebih kompetitif di pasar.

Pusat Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) sudah

ditentukan dalam Master Plan Agropolitan Sumatera Utara adalah Kecamatan

Merek yang berada di Kabupaten Karo. Pusat kawasan ini ditentukan berdasarkan

(18)

KADTBB sehingga dapat di akses dari seluruh kabupaten dengan cukup mudah

(Bappeda Kabupaten Karo, 2006).

Untuk menindak lanjuti implementasi program agropolitan ini pada tingkat

kabupaten dan kota wilayah agropolitan Sumatera Utara, maka pemerintah Provinsi

Sumatera Utara telah menetapkan lokalitas percontohan di kecamatan–kecamatan

terpilih di setiap kabupaten, seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Lokalitas Percontohan Agropolitan dan komoditas unggulan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

No Kabupaten/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan Komoditi Unggu lan

1 Karo Merek Desa Nagalingga • Kopi

• Kentang

2 Dairi Sitinjo Kelurahan Panji

Dabutar •

Kopi

• Jeruk 3 Simalungun Silimakuta Kelurahan Seribu

Dolok Harangan Sidua-dua

• Kentang

• Kopi Arabika

(19)

7 Humbang Hasundutan

Dolok Sanggul

Kelurahan Sielang • Kopi Arabilka Sumber : Bappeda Propinsi Sumatera Utara

Program agropolitan di Sumatera Utara telah berjalan walaupun belum secara

keseluruhan, di mana petani merupakan salah satu subjek pelaku program

agropolitan. Oleh karena itu perlu dikaji bagaimana Sikap Petani di Lokalitas

Percontohan Terhadap Program Agropolitan tersebut. Untuk itulah penelitian ini

dilakukan di Desa Nagalingga Kecamatan Merek Kabupaten Karo, yang

menetapkan salah satu lokasi lokalitas percontohan.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan beberapa pokok

permasalahan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1) Bagaimana realisasi program agropolitan yang dilaksanakan di lokalitas

percontohan?

2) Bagaimana sikap petani di lokalitas percontahan terhadap program agropolitan?

3) Bagaimana hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani di lokalitas

(20)

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah penelitian yang dirumuskan maka penelitian ini

ditujukan untuk:

1) Menjelaskan bagaimana realisasi program agropolitan yang dilaksanakan di

lokalitas percontohan.

2) Menjelaskan bagaimana sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program

agropolitan.

3) Menjelaskan bagaimana hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani di

lokalitas percontohan dengan sikap petani terhadap program agropolitan.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah :

1) Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan

pemerintah Kabupaten Karo serta instansi terkait lainnya dalam meningkatkan

pembangunan agropolitan di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Karo.

(21)

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN

KERANGKA PEMIKIRAN

Tinjauan Pustaka

Pembangunan agropolitan merupakan wilayah terpadu melalui pembangunan

sektor pertanian primer dalam arti luas (pertanian, perkebunan, peternakan, dan

perikanan, kehutanan) pemasaran dan sektor jasa penunjang dalam satu kelompok

pembangunan. Pengembangan agropolitan bukanlah membangun kota-kota baru di

wilayah pertanian, melainkan menjadikan kota di wilayah pertanian pedesaan secara

keseluruhan. Pengembangan agropolitan juga bukan menggantikan budaya agraris

dengan budaya industri, melainkan memodernisasikan budaya agraris menjadi

budaya industri (Anonimous, 2007).

Dalam upaya mempercepat pembangunan pedesaan yang berbasis agribisnis

serta meningkatkan daya saing produk-produk pertanian yang dihasilkan. Pemerintah

Provinsi Sumatera Utara dengan dukungan Pemerintah Pusat, khususnya Departemen

Pertanian, dan departemen terkait lainnya sepakat untuk mempromosikan

pengembangan kawasan agropolitan di Sumatera Utara. Untuk tahap pertama,

pengembangan kawasan dimulai di Dataran Tinggi Sumatera Utara yang mencakup

Kabupaten Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Pematang Siantar, Tapanuli

Utara, Humbang Hasundutan, Samosir dan Toba Samosir

(22)

Gbr 1. Delapan Kabupaten KADTBB-SU beserta luas wilayahnya

Penetapan kawasan tersebut didasari dengan nota kesepakatan antara lima

Bupati yang dikenal dengan Kesepakatan Berastagi yang ditandatangani tanggal 28

September 2002. Setelah adanya pemekaran beberapa kabupaten yang

mengakibatkan bertambahnya tiga kabupaten di kawasan ini maka pada tanggal 11

April 2005 ditandatangani pernyataan kesepakatan bersama delapan Sekda

kabupaten yang terdapat di kawasan ini. Untuk mempercepat implementasi,

Gubernur Sumatera Utara membentuk Kelompok Kerja (POKJA) dan TIM TEKNIS

Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan

(KADTBB) Sumatera Utara melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara

No.050/1467.K, Tanggal 3 Desember 2002 dan diperbaharui dengan Peraturan

Gubernur Sumatera Utara No.050/286.K tentang Pembentukan Badan Koordinasi

dan Tim Teknis Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit

(23)

Hal-hal pokok dalam Program Agropolitan Sumatera Utara dapat dijelaskan

sebagai berikut:

1. Penentuan kawasan lokalitas dan pusat lokalitas dengan syarat-syarat yang

telah ditentukan.

2. Penentuan komoditi unggulan dalam setiap kawasan lokalitas, bahkan dalam

setiap desa.

3. Membuat pengembangan sistem agribisnis komoditi unggulan untuk jangka

waktu panjang (10 – 25 tahun) untuk wilayah kabupaten.

4. Membuat skenario atau road map pengembangan setiap komoditi unggulan

yang meliputi produktivitas, jenis bibit unggul, biaya produksi, harga jual,

dan pendapatan per ha atau per unit usahatani.

5. Dalam pengembangan sistem agribisnis komoditi unggulan, semua hal perlu

dijelaskan secara terperinci, apa yang telah ada, apa yang dibutuhkan,

bagaimana strategi, serta kebijakan pengembangannya yaitu 4 subsistem

kegiatan utama dan subsistem jasa penunjang (Simanjuntak S.B, 2008).

Komponen utama pembentuk kawasan agropolitan adalah: lokalitas

agropolitan, pusat lokalitas, distrik agropolitan, serta pusat kawasan yang mana

masing-masing memiliki karakteristiktik tersendiri (Bappeda Karo, 2006).

Lokalitas agropolitan merupakan unit terkecil dari suatu kawasan agropolitan

yang berfungsi sebagai kawasan sentra produksi, sedangkan pusat lokalitas adalah

merupakan kota ataupun desa yang dapat dijadikan pusat pelayanan, misalnya

(24)

dijadikan sebagai pusat lokalitas yang dapat dicapai dari seluruh daerah sentra

produksi pertanian (lokalitas) dengan alat transportasi yang ada dalam waktu 1-3

jam.

Syarat-syarat dari lokalitas agropolitan adalah sebagai berikut:

a. Suatu hamparan lahan pertanian (satu desa atau beberapa desa dalam bentuk

klutser) dengan luas 1000–1500 Ha, memiliki kesamaan agroekosistem dengan

jenis komoditas unggulan tertentu yang sudah berkembang atau yang akan

dikembangkan.

b. Memiliki usahatani individu, teorganisir dalam kelompok-kelompok tanaman

sehamparan.

c. Memiliki usaha kelompok/koperasi yang bergerak dalam pengadaan bibit

pupuk, dan mesin pertanian, usaha grading dan standarisasi, serta usaha

packaging dan sortasi.

d. Memiliki sistem kelembagaan dan organisasi kerjasama sehamparan dalam

sistem pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta sistem manajemen

mutu.

e. Memiliki kelembagaan dan sistem penyuluhan agribisnis.

f. Memiliki lembaga keuangan mikro, dan atau jaringan ke perbankan.

g. Memiliki sumber teknologi dan jaringan informasi pasar.

h. Memiliki jalan antar usahatani dan jalan penghubung ke daerah lain, irigasi,

teknologi pengairan dan transportasi pedesaan.

(25)

Tujuan utama pengembangan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan

Sumatera Utara adalah tercapainya target pendapatan sebesar US$ 3,000 per kapita /

tahun, pada tahun 2016 melalui skenario atau “road map” yang harus ditempuh

sebagai berikut:

1) Peningkatan produktivitas

2) Peningkatan areal luas yang diusahakan petani

3) Peningkatan usaha pengolahan (diversifikasi vertikal)

4) Penurunan biaya produksi

5) Peningkatan atau penciptaan bagian pendapatan/keuntungan yang dapat

diperoleh petani dan kegiatan off farm (pengolahan dan pemasaran) melalui

koperasi dan kemitraan.

(Anonimous, 2008).

Landasan Teori

Pada dasarnya, “Agropolitan” berasal dari dua kata yaitu (Agro = pertanian),

dan (Politan/Polis = kota), sehingga secara umum program agropolitan mengandung

pengertian pengembangan suatu kawasan tertentu yang berbasis pada pertanian, yang

dapat dilihat dari berbagai pengertian sebagai berikut:

Agropolitan (Agro = pertanian: Politan = kota) adalah kota pertanian yang

tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha

(26)

pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya, kawasan agropolitan,

terdiri dari kota pertanian dan desa-desa sentra produksi pertanian yang ada di

sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi

Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang

ada.

Agropolitan merupakan konsepsi kesisteman yang utuh, terintegrasi, dan

bersifat multi sektor, terdiri atas subsistem agribisnis hulu, subsistem usahatani,

subsistem agribisnis hilir, dan subsistem jasa-jasa penunjang. Karena itu

pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanian

padesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. Kota–kota yang

berkembang adalah rural-urban di mana karakteristik rural (pedesaan) dan

karakteristik urban (perkotaan) terintegrasi secara harmonis (Anugrah, 2003).

Sikap adalah respon evaluatif terhadap suatu situasi dan kondisi yang dapat

bersifat positif ataupun negatif, perasaan suka ataupun perasaan tidak suka terhadap

suatu objek (Azwar, 2005).

Sikap adalah reaksi perasaan individu terhadap objek, pariwisata, orang, atau

ide-ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan dan kecenderungan perilaku

yang relatif mantap (Anonimous, 2008).

Sikap juga didefinisikan sebagai perasaan, pikiran dan kecenderungan

seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam

lingkungannya.

Menurut banyak ahli psikologi, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi

(27)

memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak pada objek

tersebut. Dengan kata lain dikatakan bahwa sikap adalah sebagai derajat efek positif

atau efek negatif terhadap suatu objek psikologis (Azwar, 2005).

Jadi, pengertian sikap ini bisa dibedakan menjadi dua bentuk yaitu, sikap

dalam bentuk fisik dan sikap dalam bentuk nonfisik. Sikap dalam bentuk fisik adalah

tingkah laku yang terlahir dalam bentuk gerakan dan perbuatan fisik. Sikap dalam

bentuk non fisik, yang juga sering disebut mentalis, merupakan gambaran keadaan

kepribadian seseorang yang tersimpan dan mengendalikan setiap tindakannya; tidak

dapat dilihat dan sulit dibaca (Suit dan Almasdi, 2006).

Mengukur sikap atau perilaku seseorang adalah mencoba untuk

menempatkan posisinya, pada suatu kotinum afektif. Kontinum afektif dapat berkisar

antara “sangat positif” hingga ke “sangat negatif” terhadap suatu objek sikap tertentu

(Mueller, 1996).

Jika individu bersikap positif terhadap objek tertentu, maka indivitu tersebut

akan cenderung membantu atau memuji atau mendukung objek tersebut, jika

indinidu bersikap negatif, maka individu tersebut akan cenderung untuk

mengganggu, atau menghukum atau merusak objek tersebut (Krech dkk,1996).

Pengamatan terhadap indikator sikap sewaktu individu berkesempatan untuk

mengungkap sikapnya. Dalam berbagai bentuk skala sikap yang umumnya harus

dijawab dengan ”yakin” atau “tidak yakin” (Azwar,1995).

Keragaman sikap diantara angota-anggota kelompok suatu kelompok budaya

(28)

mempunyai keyakinan yang sama mengenai objek, orang, peristiwa, ataupun

masalah (Krech dkk,1996).

Melalui sikap kita memahami proses kesadaran yang menentukan tindakan

nyata dan tindakan yang tidak nyata yang mungkin akan dilakukan seorang individu

dalam kesehariannya (Rahmadani, 2008).

Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu

komponen kognitif yang berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan, ide,

konsep persepsi, opini yang dimiliki individu mengenai sesuatu, komponen afektif

yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang menyangkut perasaan

individu terhadap objek, sikap dan menyangkut masalah emosi, dan komponen

perilaku (konatif) merupakan kecenderungan berperilaku atau bertingkah laku.

(Rahayuningsih, 2008).

Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap manusia adalah

masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap, dan

secara ilmiah sikap dapat diukur, di mana sikap terhadap objek diterjemahkan dalam

sistem angka (Azwar, 2005).

Para petani dalam kemampuannya menerima pemberitahuan atau hal – hal

yang baru sifatnya tidak sama atau akan sangat tergantung kepada keadaan status

sosial, ekonomi, psikologis serta tingkat pengetahuan dan pendidikannya. Petani

yang berusia lanjut berumur sekitar lebih dari 50 tahun biasanya fanatik terhadap

tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian–pengertian yang dapat mengubah cara

berfikir; cara bekerja dan cara hidupnya. Petani yang berusia lanjut akan bersikap

(29)

Berbeda dengan petani yang berusia muda bahwa petani yang berusia tua (di

atas 50 tahun) cenderung lebih konservatif dalam menyikapi perubahan

(Soetrisno, 1999).

Tingkat pendidikan petani sering disebut sebagai faktor rendahnya tingkat

produktivitas usahatani. Tingkat pendidikan yang rendah maka petani akan lambat

mengadopsi inovasi baru dan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama.

Sedangkan seseorang yang berfikiran tinggi tergolong lebih cepat dalam mengadopsi

inovasi baru (Soekartawi, 2002).

Salah satu faktor sosial yang mempengaruhi sikap petani adalah tingkat

kosmopolitan. Menurut Roegers dan Soemakers (1989), pandangan petani akan

semakin kosmopolitan didukung jika sering berhubungan dengan orang luas, tingkat

kosmopolitan didukung oleh fasilitas tranportasi dan komunikasi dengan

masyarakat yang lebih luas sehingga proses masuknya ide–ide baru lebih mudah.

Derajat kosmopolitan tinggi yaitu melakukan mobilitas dengan cepat pergi ke

sana ke mari untuk memperoleh informasi (Soekartawi, 1999)

Menurut Rogers (1983), banyak dilakukan penelitian tentang hubungan

antara indeks adopsi dan ciri–ciri sosial individu. Adapun indeks adopsi individu

beberapa diantaranya adalah: pendidikan, baca tulis, status sosial yang lebih tinggi,

sikap yang lebih berkenaan terhadap perubahan, sikap yang lebih berkenaan terhadap

pendidikan, intelegensi, partisipasi sosial, kosmopolitanisme, keterbukaan dengan

(30)

Variabel ini telah diteliti di berbagai wilayah pertanian yang berbeda, baik negara

industri maupun negara sedang berkembang yaitu pada pendidikan, kesehatan dan

perilaku konsumen. Hasil penelitian yang mencolok hampir di semua bidang.

Luas lahan pertanian akan dipengaruhi oleh skala usaha dan skala usaha ini

pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya suatu peningkatan usaha

pertanian (Kartasapoetra, 1991).

Hubungan antara nilai–nilai individu dan sikap individu itu tidaklah

sederhana. Dalam satu hal, sejauh mana berbagai sistem nilai individu membentuk

perkembangan dan pengaturan sikap tampaknya merupakan fungsi dari keterpusatan

nilai. Jika bagi seorang ini merupakan nilai sentral (pusat) maka sikap kelompok

minoritas dapat bersifat sama nilainya dengan kelompok mayoritas. Sikap–sikap

yang selaras dengan sikap–sikap lain dalam suatu kumpulan seyogyanya relatif lebih

mudah bergerak ke arah yang selaras dibandingkan dengan sikap–sikap yang tidak

selaras dengan sikap–sikap lain. Teori keseimbangan memperkirakan bahwa suatu

sikap yang dalam keadaan yang tidak seimbang dengan sikap lain dalam suatu

kumpulan akan bergerak cenderung menurut arah yang akan menyeimbangkan

sistem tersebut (Krech dkk, 1996).

Kerangka Pemikiran

Pogram pembangunan kawasan agropolitan adalah salah satu bentuk rencana

pembangunan yang berorientasi pada pembangunan wilayah melalui pusat pelayanan

(31)

dicanangkan sejak tahun 2002 lalu, dengan tujuan utama Agropolitan Dataran Tinggi

Bukit Barisan Sumatera Utara pada Tahun 2016 mencapai target sebesar US$ 3,000

per kapita per tahun dengan cara membuat skenario atau “road map” yang harus

ditempuh antara lain melalui: peningkatan produktivitas, peningkatan areal luas yang

diusahakan petani, peningkatan usaha pengolahan (diversifikasi vertikal), penurunan

biaya produksi, dan peningkatan atau penciptaan bagian pendapatan/keuntungan

yang dapat diperoleh petani dan kegiatan off farm (pengolahan dan pemasaran)

melalui koperasi dan kemitraan.

Dalam implementasi program agropolitan tersebut memunculkan sikap petani

yang bervariasi sesuai apa yang dialami masing-masing petani di lokalitas

percontohan terhadap program agropolitan tersebut yang dipangaruhi oleh

dorongan-dorongan dari dalam diri petani, baik faktor sosial seperti umur, tingkat

pendidikan, tingkat cosmopolitan, dan faktor ekonomi seperti luas lahan pertanian

yang dimiliki, ketersediaan tenaga kerja keluarga, dan total pendapatan keluarga, di

mana sikap petani terhadap program agropolitan merupakan bentuk dari aksi dan

reaksi ataupun respon terhadap stimulus, yakni memunculkan dalam bentuk sikap

(32)

Secara skematis, kerangka pemikiran digambarkan sebagai berikut:

Gbr 2. Skema Kerangka Berfikir

Keterangan : : Menyatakan Hubungan

: Menyatakan Proses

Program Agropolitan

Petani

Faktor sosial:

• Umur

• Tingkat pendidikan formal

• Tingkat kosmopolitan Faktor Ekonomi:

• Luas Lahan

• Ketersediaan Tenaga Kerja Keluarga

• Total Pendapatan

Sikap Petani

(33)

Hipotesis Penelitian.

Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran dapat diidentifikasikan beberapa hipotesis

yang berhubungan dengan penelitian sebagai berikut:

1) Sikap petani terhadap program agropolitan adalah positif

2) Ada hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal,

tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja,

total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program

(34)

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel

berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan

penelitian (Singarimbun, M, 1995). Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga,

Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang

berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara,

dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa

lokalitas percontohan agropolitan.

Metode Penarikan Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang bermukim dan melakukan

kegiatan usahataninya di Desa Nagalingga. Penduduk Desa Nagalingga berjumlah

137 KK, terdiri dari 122 KK adalah petani, dan 15 KK bukan petani. Jumlah sampel

ditentukan sebanyak 30 orang petani (25% dari populasi) dengan pertimbangan

populasi bersifat homogen atau rata-rata memiliki karakter yang sama. Pengambilan

sampel dilakukan dengan metode Simple Random Sampling (Sampling Acak

Sederhana) yakni sampel diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian

dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel

(35)

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk

memperoleh data yang diperlukan. Adapun data yang dikumpulkan pada penelitian

ini terdiri dari data primer dan data sekuder. Data primer diperoleh dari keluarga dan

anak petani di lokalitas percontohan melalui wawancara langsung dengan

menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi terkait yaitu Kantor Kepala Desa

Nagalingga, Kantor Kecamatan Merek, dan instansi-instansi terkait lainnya serta

literatur yang berhubungan dengan penelitian ini (Pabundu, M, 2006).

Metode Analisis Data

1. Untuk tujuan 1 dianalisis dengan metode deskriptif yaitu dengan melihat

data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian.

2. Untuk tujuan 2 dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan

pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk pernyataan positif: Sangat Yakin

(SY) diberi skor 5, Yakin (Y) diberi skor 4, Ragu-ragu (R) diberi skor 3, Tidak

Yakin (TY) diberi skor 2, Sangat Tidak Yakin (STY) diberi skor 1. Untuk pernyataan

negatif: Sangat Yakin (SY) diberi skor 1, Yakin (S) diberi skor 2, Ragu-ragu (R)

diberi skor 3, Tidak Yakin (TY) diberi skor 4, Sangat Tidak Yakin (STY) diberi skor

5.

(36)

Pengukuran sikap petani sampel terhadap program agropolitan adalah dapat

digunakan dengan menggunakan rumus Likert yaitu:

T = 50 + 10

[

]

s = Deviasi standart skor kelompok

Kriteria Pengujian :

T ≥ 50 = Sikap petani sampel adalah positif T < 50 = Sikap petani sampel negatif

(Azwar, 2005).

3. Untuk tujuan 3 dianalisis dengan Rank Spearman, dengan rumus:

Berdasarkan perhitungan nilai rs yang nantinya didapat melalui analisis di atas,

maka akan diperkirakan kekuatan korelasinya. Berikut adalah tabel interpretasi

terhadap nilai r hasil analisis korelasi:

Tabel 2. Interpretasi Terhadap Nilai r Hasil Analisis Korelasi

Interval Nilai r* Interpretasi

0,001 – 0,200 Korelasi Sangat lemah

0,201 – 0,400 Korelasi Lemah

0,401 – 0,600 Korelasi Cukup Kuat

0,601 – 0,800 Korelasi Kuat

0,801 – 1,000 Korelasi Sangat Kuat

*)Interpretasi berlaku untuk nilai positif maupun negatif

(Triton, 2006).

(37)

Pada uji dua arah (sig. 2-tailed), dengan alat bantu SPSS (Statistic Product and

Service Solution):

Dengan kriteria uji sebagai berikut:

Sig < (0.05)………..H0 ditolak, H1 diterima

Sig > (0.05)………..H0 diterima, H1 ditolak

(Sugiyono, 2008).

Dimana :

H1 : Ada hubungan antara karakteristik faktor sosial dan faktor ekonomi dengan

sikap petani terhadap program agropolitan.

H0 : Tidak ada hubungan antara karakteristik faktor sosial dan faktor ekonomi

(38)

Tabel 3. Variabel dan Parameter Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.

NO Variabel Parameter

1. Sub Sistem Agribisnis Hulu

2. Jaminan mutu pupuk

3. Jaminan harga pupuk

1. Ketersediaan bibit

1. Ketersediaan alsintan

2. Jaminan kualitas alsintan

1. Peningkatan mutu dan keterampilan tenaga kerja pertanian

2. Sub Sistem Produksi a. Lahan

b. Budidaya

1. Meningkatnya perluasan areal tanam

1. Meningkatnya penerapan teknologi budidaya yang baru

2. Meningkatnya produktivitas

3. Menurunnya biaya produksi dan lebih efisien

3 Sub Sistem Pengolahan

Hasil

1. Ada produk olahan dari bahan baku

segar

2. Meningkatnya pengetahuan dan

(39)

pengolahan hasil

3. Munculnya usaha-usaha baru di

bidang industri pengolahan hasil

4. Bertambahnya pendapatan usaha

keluarga petani

4 Sub Sistem Pemasaran 1. Meningkatnya jumlah produk yang

dipasarkan diluar sentra produksi

(ekspor)

2. Adanya jaminan pasar dan

kontinuitas jumlah produk yang

dipasarkan

3. Adanya jaminan dan stabilitas

harga produk yang dipasarkan

4. Meningkatnya standarisasi kualitas

dari produk yang dipasarkan

5. Semakin kuatnya posisi tawar

petani

6. Semakin terbukanya informasi

tentang pemasaran hasil

5 Subsistem Penunjang 1. Semakin mudahnya transportasi

mengangkut hasil produksi dan

sarana produksi

2. Semakin meningkatnya kegiatan

(40)

3. Semakin meningkatnya akses

bantuan permodalan

Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan hasil penelitian ini,

maka dibuat beberapa definisi dan batasan operasional sebagai berikut :

Definisi

1. Program adalah suatu kumpulan tindakan yang akan dilaksanakan, yang

didalamnya terdapat tahap-tahap kegiatan yang dibutuhkan dalam bentuk

perencanaan tindakan.

2. Program yang diteliti adalah program agropolitan, yaitu program pembangunan

kota dan kawasan pertanian, di mana kota berfungsi melayani daerah sekitarnya

(hinterland) dan daerah sekitarnya adalah merupakan wilayah pertanian atau

kawasan daerah sentra produksi pertanian

3. Sikap petani adalah pencerminan dorongan-dorongan yang datang dari dalam

diri petani dan reaksi terhadap stimulus yang menghasilkan pengaruh atau

penolakan, penilaian suka atau tidak suka, kepositifan dan kenegatifan terhadap

suatu obyek yaitu program agropolitan.

4. Sikap positif adalah sikap yang cenderung menyukai, mendekati bahkan

(41)

5. Sikap negatif adalah sikap yang cenderung membenci, menjauhi keberadaan

objek tertentu.

6. Lokalitas agropolitan merupakan unit terkecil dari suatu kawasan agropolitan

yang berfungsi sebagai kawasan sentra produksi.

7. Tingkat kosmopolitan merupakan tingkat keterbukaan petani terhadap dunia luar

yang diukur berdasarkan banyaknya melakukan kunjungan keluar serta

penggunaan sarana informasi melalui media cetak dan media elektronik.

8. Tingkat pendidikan adalah jumlah tahun pendidikan formal yang pernah

ditempuh petani yang dinyatakan dalam tahun.

9. Tenaga kerja adalah tenaga yang dihitung dari banyaknya anggota keluarga yang

masuk dalam usia produktif 15 tahun – 64 tahun.

10. Total pendapatan adalah hasil yang diperoleh seluruh anggota keluarga petani

dari usahatani dan di luar usahatani dalam satu tahun yang dijawab responden

dalam kuisioner.

Batasan Operasional

1. Daerah penelitian berada di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten

Karo.

2. Tahun penelitian adalah tahun 2010.

3. Responden penelitian adalah petani yang bermukim dan melakukan kegiatan

(42)

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN

KARAKTERISTIK SAMPEL

Deskripsi Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten

Karo, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini merupakan kawasan sentra produksi

pertanian, yang pada tahun 2006 kawasan ini ditetapkan sebagai pusat kawasan

agropolitan Sumatera Utara mengingat strategisnya lokasi, yaitu berada di

pertengahan dari seluruh Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan

sehingga dapat di akses dari seluruh kabupaten dengan cukup mudah.

a. Luas dan Letak Geografis

Desa Nagalingga terletak di jalan raya Medan – Sidikalang yang memilki luas

wilayah adalah ± 550 Ha, dan mempunyai jarak dari Kota Merek ± 5 Km. Desa

Nagalingga berjarak ± 25 Km dari Kota Kaban Jahe. Desa Nagalingga terletak pada

wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 1.400 – 1.500 m di atas permukaan

laut, dengan kontur tanah beragam, yaitu: datar, miring, dan berbukit, dan dengan

agroekosistem yaitu lahan kering. Desa Nagalingga mempunyai tipe iklim yaitu B

(Schmid – Ferguson) dengan suhu berkisar antara 15°C – 25C°, dan rata–rata curah

hujan Desa Nagalingga yaitu 1613 mm/tahun.

Secara administratif, Desa Nagalingga memiliki batas-batas wilayah sebagai

(43)

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pancurbatu

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pangambatan

- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pangambatan

- Sebelah Barat berbatasan dengan hutan lindung

b. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Nagalingga menurut data yang diperoleh dari kantor

Kepala desa adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Jumlah Penduduk di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009

Jumlah Jiwa

Laki-laki

(jiwa)

Perempuan

(jiwa)

Jumlah Total

(jiwa)

Banyaknya KK

(Kepala Keluarga)

304 282 586 137

Sumber : Kantor Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009

Menurut pengakuan Kepala Desa, ada 122 kepala keluarga adalah bermata

pencaharian sebagai petani, dan 15 kepala keluarga bermata pencaharian bukan

petani petani, sebagian ada yang bermata pencaharian pedangang, pegawai Negeri

(44)

c. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang ada di Desa Nagalingga adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Jenis Sarana yang terdapat di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek

Jenis Sarana Jumlah (Unit)

Gereja 2

Poliklinik desa 1

Jembatan 1

Jambur 1

Industri aspal 1

Rumah kasa (tomat) 1

Kantor Kepala Desa 1

Jumlah keseluruhan (unit) 8

Sumber : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek 2010

Tabel di atas menunjukkan jenis dan banyaknya jumlah sarana yang ada di

daerah penelitian. Dimana kondisi fisik sarana dan prasarana tersebut tidak terlalu

baik dan bagus.

Jalan yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lainnya adalah

merupakan jalan aspal kurang lebih sepanjang 1,5 km. Jalan menuju lokasi usahatani

masih jalan bebatuan tapi telah ada perbaikan. Bisa dipastikan sebagian besar

kampung ini, baik rumah serta bangunan-bangunan lain, masih terbuat dari papan

dan kayu, tentu pemandangan yang sangat memprihatinkan dan tidak layak huni.

Selain itu, kondisi lingkungan juga kurang terpelihara.

Karakteristik Sampel

Karakteristik sampel yang dimaksud adalah karakteristik petani yang

(45)

tingkat pendidikan, luas lahan, jumlah tenaga kerja, dan pendapatan keluarga. Secara

lebih jelas karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6. Karakteristik Sampel Petani di Daerah Penelitian

NO. Karakteristik Sampel

Petani Satuan Rentang Rataan

1. Umur Tahun 25 – 57 37,2

2. Luas Lahan Ha 0,25 – 5 1,2

3. Tingkat Pendidikan Tahun 0 – 17 8,53

4. Tingkat Kosmopolitan Skor 12 – 27 19,3

5. Jumlah Tenaga Kerja HKP/Hari 1- 6,6 2

6. Pendapatan Rupiah/Tahun 10.200.000 –

64.800.000 24.660.000

Sumber : Analisis Data Primer dari Lampiran 1.

Umur

Umur petani sampel berpengaruh pada pengelolaan usahataninya. Pada tabel

6 diketahui bahwa umur petani sampel berkisar antara 27 – 57 tahun dengan rataan

sebesar 37,2 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata–rata umur petani sampel masih

tergolong usia produktif yang masih memiliki tenaga kerja yang potensial untuk

mengusahakan usahataninya.

Tingkat Pendidikan Formal

Pendidikan formal merupakan salah satu faktor penting dalam mengelola

(46)

dalam hal menerima dan menyerap teknologi dan informasi untuk mengoptimalkan

usahataninya. Rata-rata tingkat pendidikan formal petani adalah 8,533 tahun dengan

rentang 0 – 17 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata–rata petani sampel tergolong

tamatan Sekolah Dasar.

Tingkat Kosmopolitan

Tingkat kosmopolitan sebagai ukuran keterbukaan petani terhadap dunia luar.

Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa skor rata-rata tingkat kosmopolitan petani

sampel sebesar 19,3 dengan rentang skor 12–27. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat

kosmopolitan petani sampel adalah sedang.

Luas Lahan

Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa luas lahan petani sampel adalah berkisar

antara 0,25 – 5 Ha, dengan rataan 1,2 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata

petani sampel tidak mempunyai lahan yang luas dalam pengelolaan usahatani.

Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga

Ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga yang dihitung adalah anggota

keluarga yang dalam usia produktif. Tabel 6 menunjukkan tenaga kerja keluarga

yang tersedia pada petani sampel berkisar antara 1–6,6 HKP per hari dengan rataan 2

(47)

Total Pendapatan Keluarga

Total pendapatan keluarga yang diperoleh petani sampel dapat mempengaruhi

petani dalam mengelola usahataninya. Total pendapatan keluarga petani sampel

berkisar antara Rp. 10.200.000; sampai Rp. 64.800.000; dengan rata- rata Rp.

24.660.000; per tahun atau Rp. 2.055.000; per bulan. Dari rataan tersebut diketahui

bahwa petani sampel telah dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari karena

pendapatan tersebut telah melebihi Upah Minimum Kota Medan (Rp.850.000; per

(48)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Realisasi Program Agropolitan di Lokalitas Percontohan

Pelaksanaan kegiatan pembangunan untuk pengembangan program

agropolitan di lokalitas percontohan dalam hal ini adalah Desa Nagalingga dilakukan

berupa pemberian bantuan sarana produksi, dan pembangunan prasarana. Realisasi

program agropolitan di Desa Nagalingga Kecamatan Merek Kabupaten Karo dilihat

berikut ini:

A. Bantuan: Sarana Produksi:

Tahun 2007: 1. Bibit jeruk: 6600 batang

2. Bibit jagung: 245 kg

3. Insektisida: 20 liter

4. NPK: 4000 kg

5. Pupuk kandang: 15 ton

Tahun 2008: 1. Bibit kentang: 5 ha

2. Bibit ketela rambat: 10 ha

(Sumber : Dinas Pertanian Prov.Sumatera Utara)

B. Berupa Pembangunan: Prasarana

1. Perbaikan jalan menuju lahan usaha tani

(49)

Berdasarkan uraian di atas diketahui bagaimana realisasi program agropolitan

di daerah penelitian. Jika dilihat dari 5 (lima) sub sistem agribisnis (sub sistem

agribisnis hulu, sub sistem produksi, sub sistem pengolahan hasil, sub sistem

pemasaran dan sub sistem penunjang), baru ada dua sub sistem yang telah

direalisasikan melalui program agropolitan saat ini, yaitu sub sistem agribisnis hulu

dan sub sistem penunjang.

Dengan kata lain untuk sub sistem agribisnis hulu telah dilakukan pemberian

bantuan berupa bibit, pupuk, dan obat- obatan, sedangkan pada sub sistem penunjang

telah dilakukan pembangunan berupa perbaikan jalan dan pembangunan SDM yaitu:

dengan pemberian pelatihan-pelatihan, penyuluhan mengenai pengelolaan usaha tani

dan informasi-informasi mengenai pemasaran. Pada dasarnya sumber daya manusia

yang berperan dalam agribisnis adalah merupakan faktor penting dalam menentukan

keberhasilan agribisnis. Untuk itu pengembangan mutu sumber daya manusia terkait

dengan program agropolitan harus ditingkatkan.

Bantuan ini diberikan kepada masing–masing kelompok tani, tetapi tidak

semua petani atau kelompok tani mendapatkan bantuan, hanya beberapa kelompok

tani saja yaitu: kelompok tani Prima Muda dan kelompok tani Prima Jaya. Hal ini

desebabkan karena jumlah bantuan yang tersedia belum mencukupi kebutuhan

seluruh petani atau seluruh kelompok tani yang ada di Desa Nagalingga.

Petani mengatakan bahwa, bantuan yang diberikan sangatlah bermanfaat,

terutama dalam usaha taninya. Dengan adanya bantuan yang diberikan tersebut

(50)

sangat berharap bantuan yang diberikan dapat terus berlagsung dan diberikan secara

merata.

Berikut ini diperlihatkan perkembangan luas tanam dan produktivitas

tanaman hortikultura dan perkebunan di lokalitas percontohan:

Tabel 7. Perkembangan luas tanam dan produktivitas tanaman hortikultura dan perkebunan di lokalitas percontohan.

No Jenis

Komoditi

Luas Tanam (Ha) Produktivitas (Kg/Ha/Th)

2007 2008 2009 2007 2008 2009

1 Kentang 228 235 266 13.923 12.746 13.854

2 Kopi 1.112 1.159 1.218 4.922,33 1.945,84 1.925,8

Sumber: Pemerintah Kabupaten Karo.

Dari tabel 7 diketahui perkembangan luas tanam kentang dan kopi mangalami

peningkatan dari tahun 2007 sampai 2009 yaitu pada tahun 2007 luas tanam

tanaman kentang adalah seluas 228 Ha dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 266

Ha (bertambah 38 Ha). Demikian pula pada tanaman kopi yaitu pada tahun 2007

luas tamannya 1.112 Ha dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 1.218 Ha

(bertambah 106 Ha). Keadaan ini berbeda dengan perkembangan produktivitas

tanaman kentang dan kopi yang cenderung menurun. Pada tahun 2007 produktivitas

tanaman kentang adalah 13.923 Kg/Ha/Th sedangkan di tahun 2009 menurun

menjadi 13.854 Kg/Ha/Th (menurun 69 Kg/Ha/Th), dan untuk tanaman kopi pada

tahun 2007 produktivitasnya adalah 4.922,33 Kg/Ha/Th menjadi 1.925,8 Kg/Ha/Th

di tahun 2009 (menurun 2.997,25 Kg/Ha/Th). Menurut petani penurunan

produktivitas ini salah satunya disebabkan karena kualitas bibit yang relatif rendah.

(51)

Program agropolitan juga memberikan bantuan berupa perbaikan infrastruktur

daerah penelitan antara lain seperti adanya perbaikan jalan untuk menuju ke

usahatani. Perbaikan jalan ini dirasakan sangat bermanfaat bagi petani, karena

dengan adanya perbaikan jalan ini petani dapat dengan mudah mengangkut sarana

produksi ke usaha tani, mengangkut hasil produksi ke luar lahan usaha tani.

Salah satu dukungan untuk program agropolitan ini, di Merek Kabupaten

Karo telah dibangun Sub Terminal Agribisnis (STA) di Kota Merek, berdekatan

dengan Desa Nagalingga dengan anggaran dari pusat yang fungsinya sebagai suatu

infrastruktur pasar, tidak saja merupakan tempat transaksi jual beli, namun juga

merupakan wadah yang dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan pelaku

agribisnis, seperti sarana dan prasarana pengemasan, sortasi, penyimpanan,

transportasi dan pelatihan, selain itu STA sekaligus merupakan tempat

berkomunikasi dan saling tukar informasi bagi para pelaku agribisnis. Namun STA

ini belum berfungsi sebagaimana mestinya.

Walaupun realisasi program agropolitan belum terlaksana secara menyeluruh,

namun sikap petani terhadap program agropolitan diukur dengan melihat ukuran

(52)

Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.

Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan dapat

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8. Sikap petani di lokalitas percontohan program agropolitan desa Nagalingga No Katagori Jumlah (Orang) Persentase (% )

1 Positif 18 60

2 Negatif 12 40

JUMLAH TOTAL 30 100

Sumber : Data diolah dari lampiran 11.

Berdasarkan pada Tabel 8 diperoleh bahwa dari 30 sampel petani di lokalitas

percontohan pogram agropolitan 18 orang (60%) diantaranya yang menunjukkan

sikap positif terhadap program agropolitan dan 12 orang (40%) dan yang

menunjukkan sikap negatif artinya dominan petani yakin bahwa program agropolitan

bermanfaat.

Hal ini seperti teori dari Krech, dkk (1996) bahwa keragaman sikap diantara

anggota-anggota kelompok suatu kelompok budaya sebagian besar disebabkan oleh

kenyataan bahwa anggota kelompok tersebut ternyata mempunyai keyakinan yang

sama mengenai objek, orang, peristiwa, masalah.

Seperti yang dikatakan Krech, dkk (1996) juga menyatakan bahwa jika

individu bersifat positif terhadap objek tertentu, maka individu yang bersifat positif

akan cenderung membantu atau memuji, atau mendukung objek tersebut.

Hasil penelitian diketahui bahwa sikap petani di lokalitas percontohan

(53)

menyatakan bahwa sikap petani terhadap program agropolitan di lokalitas

percontohan adalah positif dapat diterima.

Sikap petani terhadap program agropolitan tersebut diketahui dengan melihat

frekuensi jawaban–jawaban petani terhadap kuisioner–kuisioner yang berisi

pernyataan–pernyataan yang diberikan. Pernyataan ini dibagi kedalam 15

pernyataan positif dan 15 pernyataan negatif (lampiran 12 dan 13).

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan mutu pupuk, diketahui sebagai berikut: 8 kali menjawab sangat

yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 3 kali menjawab

ragu-ragu (R), 4 kali menjawab tidak yakin (TY), serta tidak ada petani yang menjawab

sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban terbanyak yaitu 15 kali, artinya petani di lokalitas percontohan

yakin bahwa dengan adanya program agropolitan mutu pupuk dapat meningkat. Hal

ini disebabkan petani di lokalitas optimis sangat berharap akan program agropolitan

yang bisa meningkatkan kualitas pupuk.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat mengembangkan industri pembibitan, diketahui sebagai berikut: 9 kali

menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 1 kali

menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 2 kali menjawab

sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

(54)

yakin bahwa dengan adanya program agropolitan industri pembibitan dapat

dikembangkan. Hal ini disebabkan petani di lokalitas sangat berharap petani bisa

memperoleh bibit dengan mudah tanpa harus ke luar daerah.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat menyediakan bibit dalam jumlah yang tepat, diketahui sebagai berikut: 7 kali

menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 7 kali

menjawab ragu - ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali menjawab

sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan bibit dapat tersedia dalam jumlah yang tepat. Hal ini

dikarenakan petani di lokalitas optimis akan program agropolitan bisa mendapatkan

bibit dengan mudah dan dalam jumlah yang tepat.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan penggunaan alsintan, diketahui sebagai berikut : 2 kali menjawab

sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 19 kali, dengan 7 kali menjawab

ragu-ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab sangat tidak

yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 19, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan penggunaan alsintan dapat meningkat. Hal ini

(55)

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian tenaga kerja, diketahui sebagai

berikut: 10 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 13 kali,

dengan 5 kali menjawab ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta tidak

sekalipun menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 13, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan keterampilan dan keahlian tenaga kerja dapat

meningkat. Hal ini disebabkan petani optimis akan program agropolitan yang

membuat kegiatan pelatihan mengenai usahatani yang dapat menambah pengetahuan

dan keterampilan tenaga kerja atau petani di lokalitas percontohan.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan produktivitas, diketahui sebagai berikut: 13 kali menjawab

sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 11 kali, dengan 3 kali menjawab

ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab Sangat

Tidak Yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah sangat yakin

dengan 13 kali frekuensi jawaban, artinya petani di lokalitas percontohan sangat

yakin bahwa dengan adanya program agropolitan produktivitas dapat meningkat. Hal

ini disebabkan petani di lokalitas optimis mampu meningkatkan hasil produksi usaha

taninya.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

(56)

menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 3 kali

menjawab ragu-ragu (R), 4 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab

sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan sangat yakin bahwa

dengan adanya program agropolitan biaya produksi bisa menurun dan lebih efisien.

Hal ini disebabkan mudahnya para petani optimis bisa memperoleh bantuan input

produksi dengan mudah.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan produk olahan dari bahan baku segar, diketahui sebagai berikut:

5 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 9 kali, dengan 9

kali menjawab tidak yakin (R), 7 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali

menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 9 namun masih terdapat keraguan, artinya petani di lokalitas

percontohan yakin bahwa dengan adanya program agropolitan dapat meningkatkan

produk olahan dari bahan baku segar, namun masih ada keraguan akan keadaan ini.

Hal ini disebabkan petani di lokalitas masih tidak mengolah hasil produksi mereka

(masih dalam bentuk bahan baku segar).

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat memunculkan usaha–usaha baru di bidang industri pengolahan hasil, diketahui

(57)

17 kali, dengan 7 kali menjawab ragu-ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY),

serta tidak penah menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 17, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan usaha–usaha baru di bidang industri pengolahan dapat

diciptakan. Hal ini disebabkan adanya peluang untuk mengembangkan usaha baru

tersebut.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat menambah pendapatan usaha keluarga petani, diketahui sebagai berikut: 15

kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 12 kali, dengan 1

kali menjawab ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali

menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah sangat yakin

dengan frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan sangat yakin

bahwa dengan adanya program agropolitan pendapatan usaha keluarga petani dapat

bertambah. Hal ini disebabkan petani di lokalitas percontohan optimis biaya produksi

dalam usahatani mereka bisa berkurang dan lebih efisien.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan kesejahteraan petani, diketahui sebagai berikut: 11 kali

menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 14 kali, dengan 1 kali

menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab

(58)

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 14, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan kesejahteraan petani dapat meningkat. Hal ini

disebabkan petani di lokalitas optimis akan program agropolitan yang bisa memenuhi

kebutuhan petani terutama kebutuhan dalam berusahatani, sehingga pendapatan

mereka bisa meningkat dan kesejahteraanpun tercapai.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meperkuat posisi tawar petani dalam mamasarkan produknya, diketahui

sebagai berikut: 5 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada

16 kali, dengan 3 kali menjawab ragu-ragu (R), 6 kali menjawab tidak yakin (TY),

serta 0 kali menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

frekuensi jawaban 16, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan

adanya program agropolitan posisi tawar petani semakin kuat. Hal ini disebabkan

petani di lokalitas optimis akan program agropolitan yang bisa menguatkan posisi

tawar mereka.

Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan

dapat meningkatkan akses bantuan permodalan diketahui sebagai berikut: 7 kali

menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 12 kali, dengan 6 kali

menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 2 kali menjawab

sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan

Gambar

Tabel 1. Lokalitas Percontohan Agropolitan dan komoditas unggulan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Tabel 2. Interpretasi Terhadap Nilai r Hasil Analisis Korelasi Interval Nilai r* Interpretasi
Tabel 3. Variabel dan Parameter Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.
Tabel 4. Jumlah Penduduk di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

Mencermati hasil perhitungan di atas dan mengevaluasi pengusahaan sutera alam yang dilakukan PT Ira Widya Utama selama ini pada kenyataannya tidak pernah memberikan keuntungan,

Untuk memberikan kepastian hukum dalam berusaha bagi pedagang kaki lima dan terpeliharanya sarana prasarana, estetika, kebersihan dan kenyamanan ruang milik

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perluasan basis penerimaan belum ada pengembangan, tidak ada peningkatan, tidak ada penambahan objek retribusi baru dan

Kesesuaian dan keunggulan capaian pembelajaran lulusan program studi, kesesuaian kurikulum dengan bidang ilmu program studi dan capaian pembelajaran lulusan beserta

(2013), pengaruh metode pembelajaran bermain peran berbantuan asesmen kinerja terhadap hasil belajar IPS dan motivasi berprestasi kelas V.. Penelitian senada juga dilakukan

Kondisi yang sama juga terjadi pada saat pasang menuju surut (gambar 7), yaitu arus bergerak menjauhi pantai menuju mulut teluk, hanya saja yang membedakan adalah nilai

Pelapukan atau transformasi kimiawi umunya merupakan proses yang menyertai proses pelapukan fisik dan menyebabkan terjadinya perubahan dalam komposisi kimiawi maupun

Sedangkan menurut hasibuan (2008) motivasi kerja merupakan suatu modal dalam menggerakkan dan mengarahkan para karyawan atau pekerja agar dapat melaksanakan