SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP
PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA
(Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)
SKRIPSI
OLEH DARMA YANTI 050304023/ AGRIBISNIS
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP
PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA
(Kasus : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat
Guna Memperoleh Derajat Sarjana Pertanian
OLEH DARMA YANTI 050304023/ AGRIBISNIS
Disetujui Oleh :
Komisi Pembimbing,
Ketua, Anggota,
(Ir. Thomson Sebayang, MT) (Ir. Luhut Sihombing, MP
)
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap petani di lokalitas perconcohan terhadap program agropolitan Sumatera Utara.
Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara, dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa lokalitas percontohan agropolitan. Adapun analisis yang digunakan pada penelitian adalah analisis deskriftif dengan menjelaskan yaitu dengan melihat data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian,dan untuk mengukur sikap petani di lokalitas percontohan dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal, tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja, total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program agropolitan. Adapun hasil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :
1. Realisasi program agropolitan di lokalitas percontohan desa Nagalingga Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, sudah berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya pemberian bantuan berupa pemberian pupuk, bibit, dan obat-obatan. Dan juga telah dilakukan kegiatan pembangunan seperti perbaikan jalan menuju usaha tani dan pembangunan pengembangan SDM petani yang dimaksudkan untuk mendukung dan meningkatkan pengelolaan usahatani sehingga kesejahteraan petanipun bisa meningkat.
2. Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo telah diketahui bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program agropolitan adalah sebanyak 18 orang (60 %) dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak 12 orang (40%).
RIWAYAT HIDUP
DARMA YANTI, lahir di Kuala Simpang pada tanggal 16 Desember 1987
anak dari Bapak Abdullah Syam. dan Ibu Salbiah. Penulis merupakan anak ke dua
dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
1. Tahun 1993 masuk Sekolah Dasar Negeri 04 Kuala Simpang, tamat tahun 1999.
2. Tahun 1999 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 01 Kuala Simpang,
tamat tahun 2002.
3. Tahun 2002 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Negeri 01, tamat tahun 2005.
4. Tahun 2005 diterima di Departemen Agribisnis di Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul dari skripsi ini adalah “ SIKAP PETANI DI LOKALITAS PERCONTOHAN TERHADAP PROGRAM AGROPOLITAN SUMATERA UTARA (Kasus: Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)”.
Tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
• Bapak Ir. Thomson Sebayang MT selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk mengajari banyak meluangkan waktunya untuk
mengajari, memotivasi dan membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
• Ibu Ir. Luhut Sihombing, MP. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk mengajari, dalam menyelesaikan skripsi ini.
• Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Departemen SEP, FP-USU dan Ibu Dr. Salmiah, MS selaku Sekretaris Departemen SEP, FP-USU yang telah
memberikan kemudahan dalam hal kuliah dan administrasi kegiatan organisasi
saya di kampus.
• Seluruh Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada
penulis selama ini.
• Seluruh pegawai di Fakultas Pertanian khususnya pegawai Departemen SEP Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada
Ayahanda Abdullah Syam dan ibunda Salbiah atas motivasi, kasih sayang, dan
menjalani kuliah, tak lupa kepada para kakanda Nurul Wahyuni dan atas semangat
yang diberikan.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman penulis di
Departemen Agribisnis angkatan 2005 khususnya Iska, Vina dan Rossiana yang telah
banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi. Tak lupa pula
kepada teman-teman seperjuangan di FSMM SEP, serta sahabat-sahabat yang terus
berjuang dijalan dakwah dimanapun berada. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat
terwujud dan semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Maret 2010
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
PENDAHULUAN ...1
Latar Belakang ...1
Identifikasi Masalah ...6
Tujuan Penelitian ...6
Kegunaan Penelitian ...7
TINJAUAN PUSTAKA ...8
Tinjauan Pustaka ...8
Landasan Teori ...13
Kerangka Pemikiran ...18
Hipotesis Penelitian ...21
METODOLOGI PENELITIAN ...22
Metode Penentuan Daerah Sampel ...22
Metode Penarikan Sampel...22
Metode Pengumpulan Data...23
Metode Analisis Data ...23
Defenisi dan Batasan Operasional ...28
Defenisi ...28
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK
SAMPEL ...30
Deskripsi Daerah Penelitian...30
Luas dan Letak Geografis ...30
Keadaan Penduduk ...31
Sarana dan Prasarana ...32
Karakteristik Sampel...32
Umur ...33
Tingkat Pendidikan Formal ...33
Tingkat Kosmopolitan ...34
Luas Lahan ...34
Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga ...34
Total Pendapatan Keluarga ...34
HASIL DAN PEMBAHASAN ...35
Realisasi Program Agropolitan di Lokalitas Percontohan ...35
Sikap Petani di Lokalitas Perercontohan Terhadap Program Agropolitan ...40
Hubungan Karakteristik Antara Sosial Ekonomi Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan. ...57
KESIMPULAN DAN SARAN ...73
Kesimpulan ...73
Saran ...74
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1. Lokalitas Percontohan Agropolitan dan komoditas unggulan yang
ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ...25
2. Interpretasi Terhadap Nilai r Hasil Analisis Korelasis...25
3. Variabel dan Parameter Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan ...26
4. Jumlah Penduduk di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009...31
5. Jenis Sarana yang terdapat di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek ...32
6. Karakteristik Sampel Petani di Daerah Penelitian…....……...………33
7. Realisasi Program Agropolitan Sumatyera Utara di Lokalitas Percontohan. .38
8. Sikap Petani di Lokalitas Percontohan Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara...40
9. Umur dan Sikap Petani Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara ...58
10. Hasil Analisis Hubungan Antara Umur dengan Sikap Petani Terhadap
Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank Spearman ...58
11. Tingkat Pendidikan Formal dan Sikap Petani Terhadap Program
AgropolitanSumatera Utara ...60
12. Hasil Analisis Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank
Spearman ...61
13. Tingkat Kosmopolitan dan Sikap Petani Terhadap Program
AgropolitanSumatera Utara ...62
14. Hasil Analisis Hubungan Antara Tingkat Kosmopolitan dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode
15. Luas lahan Petani dan Sikap Petani Terhadap Program
AgropolitanSumatera Utara ...65
16. Hasil Analisis Hubungan Antara Luas Lahan Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank
Spearman ...65
17. Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga dan Sikap Petani Terhadap Program AgropolitanSumatera Utara ...67
18. Hasil Analisis Hubungan Antara Ketersediaan Tenaga Kerja dalam Keluarga dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara melalui Metode Rank Spearman ...67
19. Total Pendapatan Keluarga Petani dan Sikap Petani Terhadap Program
AgropolitanSumatera Utara ...69
20. Hasil Analisis Hubungan Antara Total Pendapatan Keluarga Petani dengan Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
1. Delapan Kabupaten KADTBB-SU beserta luas wilayahnya ...9
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul
1. Karakteristik Sosial Ekonomi Dan Skor Sikap Serta Skor Perilaku Petani
Terhadap Program Agropolitan
2. Pernyataan Untuk Variabel Tingkat Kosmopolitan
3. Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Tingkat Kosmopolitan
4. Skor Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Tingkat Kosmopolitan
5. Pendapatan Keluarga Petani Sampel
6. Pernyataan Positif Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan
7. Pernyataan Negatif Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.
8. Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Positif Sikap Petani Terhadap Program
Agropolitan
9. Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Negatif Sikap Petani Terhadap Program
Agropolitan
10. Total Skor Jawaban Terhadap Pernyataan Sikap Petani Terhadap Program
Agropolitan
11. Nilai T Skala Sikap Jawaban Responden Terhadap Program Agropolitan
12. Frekuensi Jawaban Pernyataan Positif Mengenai Sikap Petani di Lokalitas
Percontohan Terhadap Program Agropolitan
13. Frekuensi Jawaban Pernyataan Negatif Mengenai Sikap Petani di Lokalitas
14. Hasil Analisis Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Sikap
Petani Terhadap Program Agropolitan Mode Rank Spearman
15. Nilai Korelasi Rank Spearman dan Sig. 2-tiled dengan Analisis Rank Spearman
Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi dengan Sikap Petani Terhadap Program
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap petani di lokalitas perconcohan terhadap program agropolitan Sumatera Utara.
Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara, dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa lokalitas percontohan agropolitan. Adapun analisis yang digunakan pada penelitian adalah analisis deskriftif dengan menjelaskan yaitu dengan melihat data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian,dan untuk mengukur sikap petani di lokalitas percontohan dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal, tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja, total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program agropolitan. Adapun hasil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :
1. Realisasi program agropolitan di lokalitas percontohan desa Nagalingga Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, sudah berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya pemberian bantuan berupa pemberian pupuk, bibit, dan obat-obatan. Dan juga telah dilakukan kegiatan pembangunan seperti perbaikan jalan menuju usaha tani dan pembangunan pengembangan SDM petani yang dimaksudkan untuk mendukung dan meningkatkan pengelolaan usahatani sehingga kesejahteraan petanipun bisa meningkat.
2. Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo telah diketahui bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program agropolitan adalah sebanyak 18 orang (60 %) dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak 12 orang (40%).
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dinamika pembangunan di sektor pertanian, dari waktu ke waktu terus
berkembang dengan cepat dan kompleks. Program pembangunan di sektor pertanian
dititikberatkan pada agribisnis dan ketahanan pangan. Pengembangan agribisnis tidak
mengenal batas–batas administrasi wilayah, sehingga sudah waktunya strategi
pengembangan sistem dan usaha agribisnis ditingkatkan menjadi strategi yang
mensinergikan pengembangan agribisnis dengan pendekatan wilayah.
Diperlukan perhatian yang lebih serius dari semua pihak, baik pemerintah
maupun swasta untuk membangun dan mengembangkan sistem pertanian di
Indonesia. Salah satunya adalah dengan membentuk kawasan agropolitan di
lokasi-lokasi strategis yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis
pertanian (Pantjasilanto,2009).
Konsep agropolitan merupakan konsep yang dikembangkan sebagai siasat
dalam pengembangan pedesaan. Konsep ini pada dasarnya memberikan pelayanan
perkotaan di kawasan pedesaan (Firman, 2007).
Agropolitan merupakan sistem manajemen dan tatanan terhadap suatu
kawasan yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis pertanian.
Kawasan agropolitan merupakan kawasan di sekitar kota pertanian yang tumbuh dan
berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis.
Pembangunan pedesaan melalui konsep agropolitan merupakan
mempunyai pusat-pusat pelayanan setara kota. Pengembangan agropolitan
merupakan suatu pendekatan pembangunan di pedesaan melalui prinsip
pengembangan wilayah (melibatkan penataan ruang, kelembagaan, infrastruktur dan
permodalan), keterpaduan dan pemberdayaan masyarakat (Anonimous, 2003).
Kawasan agropolitan ini nantinya juga mampu melayani, mendorong, dan
menarik kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitar. Sehingga kawasan
agropolitan adalah kawasan pertanian atau kawasan di sekitar kota pertanian yang
mempunyai potensi dikembangkan usaha pertanian maupun pasca panen pertanian
untuk menyangga kebutuhan pangan kota besar dan sekaligus meningkatkan nilai
tambah produk pertanian (Pantjasilanto, 2009).
Migrasi penduduk selama ini lebih banyak disebabkan kurangnya sarana
penunjang dan infrastruktur yang ada di desa. Melalui konsep agropolitan yang
menata desa menjadi suatu pusat kegiatan ekonomi berbasis pertanian dengan
memperkuat keterkaitan sistem agribisnis yang didukung dengan pembangunan
fasilitas penunjangnya, diharapkan mampu menciptakan suatu “desa kota” yang
memberikan kontribusi terhadap peningkatan sumber pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat pedesaan khususnya para petani. Dengan demikian petani atau
masyarakat desa tidak perlu harus pergi ke kota untuk mendapatkan pelayanan, baik
dalam pelayanan yang berhubungan dengan masalah produksi dan pemasaran
maupun yang berhubungan dengan kebutuhan sosial budaya dan ekonomi setiap hari.
pemukiman petani, sehingga ada peningkatan akses baik pelayanan mengenai teknik
budidaya pertanian, informasi pasar, serta kebutuhan penunjang agribisnis lainnya.
Sejak tahun 2002 Program Agropolitan telah dicanangkan sebagai model
Pembangunan Pertanian di 8 kabupaten di Indonesia yang cepat berkembang menjadi
61 kabupaten/kota pada tahun 2003 dan menjadi sekitar 200 kabupaten/kota pada
tahun 2006. Pengembangan kawasan agropolitan merupakan upaya untuk
menumbuhkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian dengan memperkuat keterkaitan
sektoral antara pertanian, non pertanian dan jasa penunjang serta keterkaitan spasial
antara kawasan pedesaan dan perkotaan (Simanjuntak, 2008).
Peranan agropolitan adalah antara lain untuk melayani kawasan industri
pertanian disekitarnya di mana berlangsung kegiatan agribisnis oleh para petani
setempat. Fasilitas pelayanan yang diperlukan untuk memberikan kemudahan
produksi dan pemasaran antara lain adalah berupa: input sarana produksi (benih,
pupuk, pestisida, alat–alat pertanian dsb), sarana penunjang produksi (lembaga
perbankan, koperasi, listrik, dsb) dan sarana pemasaran (pasar, terminal angkutan,
sarana transportasi, dsb). Dengan adanya peningkatan akses kepada faktor–faktor
produksi dan pemasaran tersebut maka biaya produksi dan biaya pemasaran dapat
diperkecil, sehingga hasil pertanian dapat lebih kompetitif di pasar.
Pusat Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) sudah
ditentukan dalam Master Plan Agropolitan Sumatera Utara adalah Kecamatan
Merek yang berada di Kabupaten Karo. Pusat kawasan ini ditentukan berdasarkan
KADTBB sehingga dapat di akses dari seluruh kabupaten dengan cukup mudah
(Bappeda Kabupaten Karo, 2006).
Untuk menindak lanjuti implementasi program agropolitan ini pada tingkat
kabupaten dan kota wilayah agropolitan Sumatera Utara, maka pemerintah Provinsi
Sumatera Utara telah menetapkan lokalitas percontohan di kecamatan–kecamatan
terpilih di setiap kabupaten, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Lokalitas Percontohan Agropolitan dan komoditas unggulan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
No Kabupaten/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan Komoditi Unggu lan
1 Karo Merek Desa Nagalingga • Kopi
• Kentang
2 Dairi Sitinjo Kelurahan Panji
Dabutar •
Kopi
• Jeruk 3 Simalungun Silimakuta Kelurahan Seribu
Dolok Harangan Sidua-dua
• Kentang
• Kopi Arabika
7 Humbang Hasundutan
Dolok Sanggul
Kelurahan Sielang • Kopi Arabilka Sumber : Bappeda Propinsi Sumatera Utara
Program agropolitan di Sumatera Utara telah berjalan walaupun belum secara
keseluruhan, di mana petani merupakan salah satu subjek pelaku program
agropolitan. Oleh karena itu perlu dikaji bagaimana Sikap Petani di Lokalitas
Percontohan Terhadap Program Agropolitan tersebut. Untuk itulah penelitian ini
dilakukan di Desa Nagalingga Kecamatan Merek Kabupaten Karo, yang
menetapkan salah satu lokasi lokalitas percontohan.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan beberapa pokok
permasalahan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1) Bagaimana realisasi program agropolitan yang dilaksanakan di lokalitas
percontohan?
2) Bagaimana sikap petani di lokalitas percontahan terhadap program agropolitan?
3) Bagaimana hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani di lokalitas
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah penelitian yang dirumuskan maka penelitian ini
ditujukan untuk:
1) Menjelaskan bagaimana realisasi program agropolitan yang dilaksanakan di
lokalitas percontohan.
2) Menjelaskan bagaimana sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program
agropolitan.
3) Menjelaskan bagaimana hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani di
lokalitas percontohan dengan sikap petani terhadap program agropolitan.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1) Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan
pemerintah Kabupaten Karo serta instansi terkait lainnya dalam meningkatkan
pembangunan agropolitan di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Karo.
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN
KERANGKA PEMIKIRAN
Tinjauan Pustaka
Pembangunan agropolitan merupakan wilayah terpadu melalui pembangunan
sektor pertanian primer dalam arti luas (pertanian, perkebunan, peternakan, dan
perikanan, kehutanan) pemasaran dan sektor jasa penunjang dalam satu kelompok
pembangunan. Pengembangan agropolitan bukanlah membangun kota-kota baru di
wilayah pertanian, melainkan menjadikan kota di wilayah pertanian pedesaan secara
keseluruhan. Pengembangan agropolitan juga bukan menggantikan budaya agraris
dengan budaya industri, melainkan memodernisasikan budaya agraris menjadi
budaya industri (Anonimous, 2007).
Dalam upaya mempercepat pembangunan pedesaan yang berbasis agribisnis
serta meningkatkan daya saing produk-produk pertanian yang dihasilkan. Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara dengan dukungan Pemerintah Pusat, khususnya Departemen
Pertanian, dan departemen terkait lainnya sepakat untuk mempromosikan
pengembangan kawasan agropolitan di Sumatera Utara. Untuk tahap pertama,
pengembangan kawasan dimulai di Dataran Tinggi Sumatera Utara yang mencakup
Kabupaten Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Pematang Siantar, Tapanuli
Utara, Humbang Hasundutan, Samosir dan Toba Samosir
Gbr 1. Delapan Kabupaten KADTBB-SU beserta luas wilayahnya
Penetapan kawasan tersebut didasari dengan nota kesepakatan antara lima
Bupati yang dikenal dengan Kesepakatan Berastagi yang ditandatangani tanggal 28
September 2002. Setelah adanya pemekaran beberapa kabupaten yang
mengakibatkan bertambahnya tiga kabupaten di kawasan ini maka pada tanggal 11
April 2005 ditandatangani pernyataan kesepakatan bersama delapan Sekda
kabupaten yang terdapat di kawasan ini. Untuk mempercepat implementasi,
Gubernur Sumatera Utara membentuk Kelompok Kerja (POKJA) dan TIM TEKNIS
Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
(KADTBB) Sumatera Utara melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara
No.050/1467.K, Tanggal 3 Desember 2002 dan diperbaharui dengan Peraturan
Gubernur Sumatera Utara No.050/286.K tentang Pembentukan Badan Koordinasi
dan Tim Teknis Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit
Hal-hal pokok dalam Program Agropolitan Sumatera Utara dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Penentuan kawasan lokalitas dan pusat lokalitas dengan syarat-syarat yang
telah ditentukan.
2. Penentuan komoditi unggulan dalam setiap kawasan lokalitas, bahkan dalam
setiap desa.
3. Membuat pengembangan sistem agribisnis komoditi unggulan untuk jangka
waktu panjang (10 – 25 tahun) untuk wilayah kabupaten.
4. Membuat skenario atau road map pengembangan setiap komoditi unggulan
yang meliputi produktivitas, jenis bibit unggul, biaya produksi, harga jual,
dan pendapatan per ha atau per unit usahatani.
5. Dalam pengembangan sistem agribisnis komoditi unggulan, semua hal perlu
dijelaskan secara terperinci, apa yang telah ada, apa yang dibutuhkan,
bagaimana strategi, serta kebijakan pengembangannya yaitu 4 subsistem
kegiatan utama dan subsistem jasa penunjang (Simanjuntak S.B, 2008).
Komponen utama pembentuk kawasan agropolitan adalah: lokalitas
agropolitan, pusat lokalitas, distrik agropolitan, serta pusat kawasan yang mana
masing-masing memiliki karakteristiktik tersendiri (Bappeda Karo, 2006).
Lokalitas agropolitan merupakan unit terkecil dari suatu kawasan agropolitan
yang berfungsi sebagai kawasan sentra produksi, sedangkan pusat lokalitas adalah
merupakan kota ataupun desa yang dapat dijadikan pusat pelayanan, misalnya
dijadikan sebagai pusat lokalitas yang dapat dicapai dari seluruh daerah sentra
produksi pertanian (lokalitas) dengan alat transportasi yang ada dalam waktu 1-3
jam.
Syarat-syarat dari lokalitas agropolitan adalah sebagai berikut:
a. Suatu hamparan lahan pertanian (satu desa atau beberapa desa dalam bentuk
klutser) dengan luas 1000–1500 Ha, memiliki kesamaan agroekosistem dengan
jenis komoditas unggulan tertentu yang sudah berkembang atau yang akan
dikembangkan.
b. Memiliki usahatani individu, teorganisir dalam kelompok-kelompok tanaman
sehamparan.
c. Memiliki usaha kelompok/koperasi yang bergerak dalam pengadaan bibit
pupuk, dan mesin pertanian, usaha grading dan standarisasi, serta usaha
packaging dan sortasi.
d. Memiliki sistem kelembagaan dan organisasi kerjasama sehamparan dalam
sistem pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta sistem manajemen
mutu.
e. Memiliki kelembagaan dan sistem penyuluhan agribisnis.
f. Memiliki lembaga keuangan mikro, dan atau jaringan ke perbankan.
g. Memiliki sumber teknologi dan jaringan informasi pasar.
h. Memiliki jalan antar usahatani dan jalan penghubung ke daerah lain, irigasi,
teknologi pengairan dan transportasi pedesaan.
Tujuan utama pengembangan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
Sumatera Utara adalah tercapainya target pendapatan sebesar US$ 3,000 per kapita /
tahun, pada tahun 2016 melalui skenario atau “road map” yang harus ditempuh
sebagai berikut:
1) Peningkatan produktivitas
2) Peningkatan areal luas yang diusahakan petani
3) Peningkatan usaha pengolahan (diversifikasi vertikal)
4) Penurunan biaya produksi
5) Peningkatan atau penciptaan bagian pendapatan/keuntungan yang dapat
diperoleh petani dan kegiatan off farm (pengolahan dan pemasaran) melalui
koperasi dan kemitraan.
(Anonimous, 2008).
Landasan Teori
Pada dasarnya, “Agropolitan” berasal dari dua kata yaitu (Agro = pertanian),
dan (Politan/Polis = kota), sehingga secara umum program agropolitan mengandung
pengertian pengembangan suatu kawasan tertentu yang berbasis pada pertanian, yang
dapat dilihat dari berbagai pengertian sebagai berikut:
Agropolitan (Agro = pertanian: Politan = kota) adalah kota pertanian yang
tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha
pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya, kawasan agropolitan,
terdiri dari kota pertanian dan desa-desa sentra produksi pertanian yang ada di
sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi
Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang
ada.
Agropolitan merupakan konsepsi kesisteman yang utuh, terintegrasi, dan
bersifat multi sektor, terdiri atas subsistem agribisnis hulu, subsistem usahatani,
subsistem agribisnis hilir, dan subsistem jasa-jasa penunjang. Karena itu
pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanian
padesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. Kota–kota yang
berkembang adalah rural-urban di mana karakteristik rural (pedesaan) dan
karakteristik urban (perkotaan) terintegrasi secara harmonis (Anugrah, 2003).
Sikap adalah respon evaluatif terhadap suatu situasi dan kondisi yang dapat
bersifat positif ataupun negatif, perasaan suka ataupun perasaan tidak suka terhadap
suatu objek (Azwar, 2005).
Sikap adalah reaksi perasaan individu terhadap objek, pariwisata, orang, atau
ide-ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan dan kecenderungan perilaku
yang relatif mantap (Anonimous, 2008).
Sikap juga didefinisikan sebagai perasaan, pikiran dan kecenderungan
seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam
lingkungannya.
Menurut banyak ahli psikologi, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi
memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak pada objek
tersebut. Dengan kata lain dikatakan bahwa sikap adalah sebagai derajat efek positif
atau efek negatif terhadap suatu objek psikologis (Azwar, 2005).
Jadi, pengertian sikap ini bisa dibedakan menjadi dua bentuk yaitu, sikap
dalam bentuk fisik dan sikap dalam bentuk nonfisik. Sikap dalam bentuk fisik adalah
tingkah laku yang terlahir dalam bentuk gerakan dan perbuatan fisik. Sikap dalam
bentuk non fisik, yang juga sering disebut mentalis, merupakan gambaran keadaan
kepribadian seseorang yang tersimpan dan mengendalikan setiap tindakannya; tidak
dapat dilihat dan sulit dibaca (Suit dan Almasdi, 2006).
Mengukur sikap atau perilaku seseorang adalah mencoba untuk
menempatkan posisinya, pada suatu kotinum afektif. Kontinum afektif dapat berkisar
antara “sangat positif” hingga ke “sangat negatif” terhadap suatu objek sikap tertentu
(Mueller, 1996).
Jika individu bersikap positif terhadap objek tertentu, maka indivitu tersebut
akan cenderung membantu atau memuji atau mendukung objek tersebut, jika
indinidu bersikap negatif, maka individu tersebut akan cenderung untuk
mengganggu, atau menghukum atau merusak objek tersebut (Krech dkk,1996).
Pengamatan terhadap indikator sikap sewaktu individu berkesempatan untuk
mengungkap sikapnya. Dalam berbagai bentuk skala sikap yang umumnya harus
dijawab dengan ”yakin” atau “tidak yakin” (Azwar,1995).
Keragaman sikap diantara angota-anggota kelompok suatu kelompok budaya
mempunyai keyakinan yang sama mengenai objek, orang, peristiwa, ataupun
masalah (Krech dkk,1996).
Melalui sikap kita memahami proses kesadaran yang menentukan tindakan
nyata dan tindakan yang tidak nyata yang mungkin akan dilakukan seorang individu
dalam kesehariannya (Rahmadani, 2008).
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu
komponen kognitif yang berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan, ide,
konsep persepsi, opini yang dimiliki individu mengenai sesuatu, komponen afektif
yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang menyangkut perasaan
individu terhadap objek, sikap dan menyangkut masalah emosi, dan komponen
perilaku (konatif) merupakan kecenderungan berperilaku atau bertingkah laku.
(Rahayuningsih, 2008).
Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap manusia adalah
masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap, dan
secara ilmiah sikap dapat diukur, di mana sikap terhadap objek diterjemahkan dalam
sistem angka (Azwar, 2005).
Para petani dalam kemampuannya menerima pemberitahuan atau hal – hal
yang baru sifatnya tidak sama atau akan sangat tergantung kepada keadaan status
sosial, ekonomi, psikologis serta tingkat pengetahuan dan pendidikannya. Petani
yang berusia lanjut berumur sekitar lebih dari 50 tahun biasanya fanatik terhadap
tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian–pengertian yang dapat mengubah cara
berfikir; cara bekerja dan cara hidupnya. Petani yang berusia lanjut akan bersikap
Berbeda dengan petani yang berusia muda bahwa petani yang berusia tua (di
atas 50 tahun) cenderung lebih konservatif dalam menyikapi perubahan
(Soetrisno, 1999).
Tingkat pendidikan petani sering disebut sebagai faktor rendahnya tingkat
produktivitas usahatani. Tingkat pendidikan yang rendah maka petani akan lambat
mengadopsi inovasi baru dan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama.
Sedangkan seseorang yang berfikiran tinggi tergolong lebih cepat dalam mengadopsi
inovasi baru (Soekartawi, 2002).
Salah satu faktor sosial yang mempengaruhi sikap petani adalah tingkat
kosmopolitan. Menurut Roegers dan Soemakers (1989), pandangan petani akan
semakin kosmopolitan didukung jika sering berhubungan dengan orang luas, tingkat
kosmopolitan didukung oleh fasilitas tranportasi dan komunikasi dengan
masyarakat yang lebih luas sehingga proses masuknya ide–ide baru lebih mudah.
Derajat kosmopolitan tinggi yaitu melakukan mobilitas dengan cepat pergi ke
sana ke mari untuk memperoleh informasi (Soekartawi, 1999)
Menurut Rogers (1983), banyak dilakukan penelitian tentang hubungan
antara indeks adopsi dan ciri–ciri sosial individu. Adapun indeks adopsi individu
beberapa diantaranya adalah: pendidikan, baca tulis, status sosial yang lebih tinggi,
sikap yang lebih berkenaan terhadap perubahan, sikap yang lebih berkenaan terhadap
pendidikan, intelegensi, partisipasi sosial, kosmopolitanisme, keterbukaan dengan
Variabel ini telah diteliti di berbagai wilayah pertanian yang berbeda, baik negara
industri maupun negara sedang berkembang yaitu pada pendidikan, kesehatan dan
perilaku konsumen. Hasil penelitian yang mencolok hampir di semua bidang.
Luas lahan pertanian akan dipengaruhi oleh skala usaha dan skala usaha ini
pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya suatu peningkatan usaha
pertanian (Kartasapoetra, 1991).
Hubungan antara nilai–nilai individu dan sikap individu itu tidaklah
sederhana. Dalam satu hal, sejauh mana berbagai sistem nilai individu membentuk
perkembangan dan pengaturan sikap tampaknya merupakan fungsi dari keterpusatan
nilai. Jika bagi seorang ini merupakan nilai sentral (pusat) maka sikap kelompok
minoritas dapat bersifat sama nilainya dengan kelompok mayoritas. Sikap–sikap
yang selaras dengan sikap–sikap lain dalam suatu kumpulan seyogyanya relatif lebih
mudah bergerak ke arah yang selaras dibandingkan dengan sikap–sikap yang tidak
selaras dengan sikap–sikap lain. Teori keseimbangan memperkirakan bahwa suatu
sikap yang dalam keadaan yang tidak seimbang dengan sikap lain dalam suatu
kumpulan akan bergerak cenderung menurut arah yang akan menyeimbangkan
sistem tersebut (Krech dkk, 1996).
Kerangka Pemikiran
Pogram pembangunan kawasan agropolitan adalah salah satu bentuk rencana
pembangunan yang berorientasi pada pembangunan wilayah melalui pusat pelayanan
dicanangkan sejak tahun 2002 lalu, dengan tujuan utama Agropolitan Dataran Tinggi
Bukit Barisan Sumatera Utara pada Tahun 2016 mencapai target sebesar US$ 3,000
per kapita per tahun dengan cara membuat skenario atau “road map” yang harus
ditempuh antara lain melalui: peningkatan produktivitas, peningkatan areal luas yang
diusahakan petani, peningkatan usaha pengolahan (diversifikasi vertikal), penurunan
biaya produksi, dan peningkatan atau penciptaan bagian pendapatan/keuntungan
yang dapat diperoleh petani dan kegiatan off farm (pengolahan dan pemasaran)
melalui koperasi dan kemitraan.
Dalam implementasi program agropolitan tersebut memunculkan sikap petani
yang bervariasi sesuai apa yang dialami masing-masing petani di lokalitas
percontohan terhadap program agropolitan tersebut yang dipangaruhi oleh
dorongan-dorongan dari dalam diri petani, baik faktor sosial seperti umur, tingkat
pendidikan, tingkat cosmopolitan, dan faktor ekonomi seperti luas lahan pertanian
yang dimiliki, ketersediaan tenaga kerja keluarga, dan total pendapatan keluarga, di
mana sikap petani terhadap program agropolitan merupakan bentuk dari aksi dan
reaksi ataupun respon terhadap stimulus, yakni memunculkan dalam bentuk sikap
Secara skematis, kerangka pemikiran digambarkan sebagai berikut:
Gbr 2. Skema Kerangka Berfikir
Keterangan : : Menyatakan Hubungan
: Menyatakan Proses
Program Agropolitan
Petani
Faktor sosial:
• Umur
• Tingkat pendidikan formal
• Tingkat kosmopolitan Faktor Ekonomi:
• Luas Lahan
• Ketersediaan Tenaga Kerja Keluarga
• Total Pendapatan
Sikap Petani
Hipotesis Penelitian.
Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran dapat diidentifikasikan beberapa hipotesis
yang berhubungan dengan penelitian sebagai berikut:
1) Sikap petani terhadap program agropolitan adalah positif
2) Ada hubungan antara karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan formal,
tingkat kosmopolitan) dan ekonomi (luas lahan, katersediaan tenaga kerja,
total pendapatan keluarga) petani di lokalitas percontohan dengan program
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu penentuan sampel
berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan
penelitian (Singarimbun, M, 1995). Lokasi penelitian terpilih di Desa Nagalingga,
Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan pertimbangan Kecamatan Merek yang
berada di Kabupaten Karo merupakan pusat kawasan agropolitan Sumatera Utara,
dan Desa Nagalingga yang berada di Kecamatan Merek merupakan salah satu desa
lokalitas percontohan agropolitan.
Metode Penarikan Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang bermukim dan melakukan
kegiatan usahataninya di Desa Nagalingga. Penduduk Desa Nagalingga berjumlah
137 KK, terdiri dari 122 KK adalah petani, dan 15 KK bukan petani. Jumlah sampel
ditentukan sebanyak 30 orang petani (25% dari populasi) dengan pertimbangan
populasi bersifat homogen atau rata-rata memiliki karakter yang sama. Pengambilan
sampel dilakukan dengan metode Simple Random Sampling (Sampling Acak
Sederhana) yakni sampel diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian
dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Adapun data yang dikumpulkan pada penelitian
ini terdiri dari data primer dan data sekuder. Data primer diperoleh dari keluarga dan
anak petani di lokalitas percontohan melalui wawancara langsung dengan
menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi terkait yaitu Kantor Kepala Desa
Nagalingga, Kantor Kecamatan Merek, dan instansi-instansi terkait lainnya serta
literatur yang berhubungan dengan penelitian ini (Pabundu, M, 2006).
Metode Analisis Data
1. Untuk tujuan 1 dianalisis dengan metode deskriptif yaitu dengan melihat
data perkembangan realisasi program agropolitan di daerah penelitian.
2. Untuk tujuan 2 dianalisis dengan teknik penskalaan likert yaitu dengan
pemberian skor pada setiap pilihan jawaban. Untuk pernyataan positif: Sangat Yakin
(SY) diberi skor 5, Yakin (Y) diberi skor 4, Ragu-ragu (R) diberi skor 3, Tidak
Yakin (TY) diberi skor 2, Sangat Tidak Yakin (STY) diberi skor 1. Untuk pernyataan
negatif: Sangat Yakin (SY) diberi skor 1, Yakin (S) diberi skor 2, Ragu-ragu (R)
diberi skor 3, Tidak Yakin (TY) diberi skor 4, Sangat Tidak Yakin (STY) diberi skor
5.
Pengukuran sikap petani sampel terhadap program agropolitan adalah dapat
digunakan dengan menggunakan rumus Likert yaitu:
T = 50 + 10
[
]
s = Deviasi standart skor kelompokKriteria Pengujian :
T ≥ 50 = Sikap petani sampel adalah positif T < 50 = Sikap petani sampel negatif
(Azwar, 2005).
3. Untuk tujuan 3 dianalisis dengan Rank Spearman, dengan rumus:
Berdasarkan perhitungan nilai rs yang nantinya didapat melalui analisis di atas,
maka akan diperkirakan kekuatan korelasinya. Berikut adalah tabel interpretasi
terhadap nilai r hasil analisis korelasi:
Tabel 2. Interpretasi Terhadap Nilai r Hasil Analisis Korelasi
Interval Nilai r* Interpretasi
0,001 – 0,200 Korelasi Sangat lemah
0,201 – 0,400 Korelasi Lemah
0,401 – 0,600 Korelasi Cukup Kuat
0,601 – 0,800 Korelasi Kuat
0,801 – 1,000 Korelasi Sangat Kuat
*)Interpretasi berlaku untuk nilai positif maupun negatif
(Triton, 2006).
Pada uji dua arah (sig. 2-tailed), dengan alat bantu SPSS (Statistic Product and
Service Solution):
Dengan kriteria uji sebagai berikut:
Sig < (0.05)………..H0 ditolak, H1 diterima
Sig > (0.05)………..H0 diterima, H1 ditolak
(Sugiyono, 2008).
Dimana :
H1 : Ada hubungan antara karakteristik faktor sosial dan faktor ekonomi dengan
sikap petani terhadap program agropolitan.
H0 : Tidak ada hubungan antara karakteristik faktor sosial dan faktor ekonomi
Tabel 3. Variabel dan Parameter Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.
NO Variabel Parameter
1. Sub Sistem Agribisnis Hulu
2. Jaminan mutu pupuk
3. Jaminan harga pupuk
1. Ketersediaan bibit
1. Ketersediaan alsintan
2. Jaminan kualitas alsintan
1. Peningkatan mutu dan keterampilan tenaga kerja pertanian
2. Sub Sistem Produksi a. Lahan
b. Budidaya
1. Meningkatnya perluasan areal tanam
1. Meningkatnya penerapan teknologi budidaya yang baru
2. Meningkatnya produktivitas
3. Menurunnya biaya produksi dan lebih efisien
3 Sub Sistem Pengolahan
Hasil
1. Ada produk olahan dari bahan baku
segar
2. Meningkatnya pengetahuan dan
pengolahan hasil
3. Munculnya usaha-usaha baru di
bidang industri pengolahan hasil
4. Bertambahnya pendapatan usaha
keluarga petani
4 Sub Sistem Pemasaran 1. Meningkatnya jumlah produk yang
dipasarkan diluar sentra produksi
(ekspor)
2. Adanya jaminan pasar dan
kontinuitas jumlah produk yang
dipasarkan
3. Adanya jaminan dan stabilitas
harga produk yang dipasarkan
4. Meningkatnya standarisasi kualitas
dari produk yang dipasarkan
5. Semakin kuatnya posisi tawar
petani
6. Semakin terbukanya informasi
tentang pemasaran hasil
5 Subsistem Penunjang 1. Semakin mudahnya transportasi
mengangkut hasil produksi dan
sarana produksi
2. Semakin meningkatnya kegiatan
3. Semakin meningkatnya akses
bantuan permodalan
Definisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan hasil penelitian ini,
maka dibuat beberapa definisi dan batasan operasional sebagai berikut :
Definisi
1. Program adalah suatu kumpulan tindakan yang akan dilaksanakan, yang
didalamnya terdapat tahap-tahap kegiatan yang dibutuhkan dalam bentuk
perencanaan tindakan.
2. Program yang diteliti adalah program agropolitan, yaitu program pembangunan
kota dan kawasan pertanian, di mana kota berfungsi melayani daerah sekitarnya
(hinterland) dan daerah sekitarnya adalah merupakan wilayah pertanian atau
kawasan daerah sentra produksi pertanian
3. Sikap petani adalah pencerminan dorongan-dorongan yang datang dari dalam
diri petani dan reaksi terhadap stimulus yang menghasilkan pengaruh atau
penolakan, penilaian suka atau tidak suka, kepositifan dan kenegatifan terhadap
suatu obyek yaitu program agropolitan.
4. Sikap positif adalah sikap yang cenderung menyukai, mendekati bahkan
5. Sikap negatif adalah sikap yang cenderung membenci, menjauhi keberadaan
objek tertentu.
6. Lokalitas agropolitan merupakan unit terkecil dari suatu kawasan agropolitan
yang berfungsi sebagai kawasan sentra produksi.
7. Tingkat kosmopolitan merupakan tingkat keterbukaan petani terhadap dunia luar
yang diukur berdasarkan banyaknya melakukan kunjungan keluar serta
penggunaan sarana informasi melalui media cetak dan media elektronik.
8. Tingkat pendidikan adalah jumlah tahun pendidikan formal yang pernah
ditempuh petani yang dinyatakan dalam tahun.
9. Tenaga kerja adalah tenaga yang dihitung dari banyaknya anggota keluarga yang
masuk dalam usia produktif 15 tahun – 64 tahun.
10. Total pendapatan adalah hasil yang diperoleh seluruh anggota keluarga petani
dari usahatani dan di luar usahatani dalam satu tahun yang dijawab responden
dalam kuisioner.
Batasan Operasional
1. Daerah penelitian berada di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten
Karo.
2. Tahun penelitian adalah tahun 2010.
3. Responden penelitian adalah petani yang bermukim dan melakukan kegiatan
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN
KARAKTERISTIK SAMPEL
Deskripsi Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten
Karo, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini merupakan kawasan sentra produksi
pertanian, yang pada tahun 2006 kawasan ini ditetapkan sebagai pusat kawasan
agropolitan Sumatera Utara mengingat strategisnya lokasi, yaitu berada di
pertengahan dari seluruh Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
sehingga dapat di akses dari seluruh kabupaten dengan cukup mudah.
a. Luas dan Letak Geografis
Desa Nagalingga terletak di jalan raya Medan – Sidikalang yang memilki luas
wilayah adalah ± 550 Ha, dan mempunyai jarak dari Kota Merek ± 5 Km. Desa
Nagalingga berjarak ± 25 Km dari Kota Kaban Jahe. Desa Nagalingga terletak pada
wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 1.400 – 1.500 m di atas permukaan
laut, dengan kontur tanah beragam, yaitu: datar, miring, dan berbukit, dan dengan
agroekosistem yaitu lahan kering. Desa Nagalingga mempunyai tipe iklim yaitu B
(Schmid – Ferguson) dengan suhu berkisar antara 15°C – 25C°, dan rata–rata curah
hujan Desa Nagalingga yaitu 1613 mm/tahun.
Secara administratif, Desa Nagalingga memiliki batas-batas wilayah sebagai
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pancurbatu
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pangambatan
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pangambatan
- Sebelah Barat berbatasan dengan hutan lindung
b. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Desa Nagalingga menurut data yang diperoleh dari kantor
Kepala desa adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Jumlah Penduduk di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009
Jumlah Jiwa
Laki-laki
(jiwa)
Perempuan
(jiwa)
Jumlah Total
(jiwa)
Banyaknya KK
(Kepala Keluarga)
304 282 586 137
Sumber : Kantor Desa Nagalingga, Kecamatan Merek Tahun 2009
Menurut pengakuan Kepala Desa, ada 122 kepala keluarga adalah bermata
pencaharian sebagai petani, dan 15 kepala keluarga bermata pencaharian bukan
petani petani, sebagian ada yang bermata pencaharian pedangang, pegawai Negeri
c. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang ada di Desa Nagalingga adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Jenis Sarana yang terdapat di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek
Jenis Sarana Jumlah (Unit)
Gereja 2
Poliklinik desa 1
Jembatan 1
Jambur 1
Industri aspal 1
Rumah kasa (tomat) 1
Kantor Kepala Desa 1
Jumlah keseluruhan (unit) 8
Sumber : Desa Nagalingga, Kecamatan Merek 2010
Tabel di atas menunjukkan jenis dan banyaknya jumlah sarana yang ada di
daerah penelitian. Dimana kondisi fisik sarana dan prasarana tersebut tidak terlalu
baik dan bagus.
Jalan yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lainnya adalah
merupakan jalan aspal kurang lebih sepanjang 1,5 km. Jalan menuju lokasi usahatani
masih jalan bebatuan tapi telah ada perbaikan. Bisa dipastikan sebagian besar
kampung ini, baik rumah serta bangunan-bangunan lain, masih terbuat dari papan
dan kayu, tentu pemandangan yang sangat memprihatinkan dan tidak layak huni.
Selain itu, kondisi lingkungan juga kurang terpelihara.
Karakteristik Sampel
Karakteristik sampel yang dimaksud adalah karakteristik petani yang
tingkat pendidikan, luas lahan, jumlah tenaga kerja, dan pendapatan keluarga. Secara
lebih jelas karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Karakteristik Sampel Petani di Daerah Penelitian
NO. Karakteristik Sampel
Petani Satuan Rentang Rataan
1. Umur Tahun 25 – 57 37,2
2. Luas Lahan Ha 0,25 – 5 1,2
3. Tingkat Pendidikan Tahun 0 – 17 8,53
4. Tingkat Kosmopolitan Skor 12 – 27 19,3
5. Jumlah Tenaga Kerja HKP/Hari 1- 6,6 2
6. Pendapatan Rupiah/Tahun 10.200.000 –
64.800.000 24.660.000
Sumber : Analisis Data Primer dari Lampiran 1.
Umur
Umur petani sampel berpengaruh pada pengelolaan usahataninya. Pada tabel
6 diketahui bahwa umur petani sampel berkisar antara 27 – 57 tahun dengan rataan
sebesar 37,2 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata–rata umur petani sampel masih
tergolong usia produktif yang masih memiliki tenaga kerja yang potensial untuk
mengusahakan usahataninya.
Tingkat Pendidikan Formal
Pendidikan formal merupakan salah satu faktor penting dalam mengelola
dalam hal menerima dan menyerap teknologi dan informasi untuk mengoptimalkan
usahataninya. Rata-rata tingkat pendidikan formal petani adalah 8,533 tahun dengan
rentang 0 – 17 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata–rata petani sampel tergolong
tamatan Sekolah Dasar.
Tingkat Kosmopolitan
Tingkat kosmopolitan sebagai ukuran keterbukaan petani terhadap dunia luar.
Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa skor rata-rata tingkat kosmopolitan petani
sampel sebesar 19,3 dengan rentang skor 12–27. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
kosmopolitan petani sampel adalah sedang.
Luas Lahan
Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa luas lahan petani sampel adalah berkisar
antara 0,25 – 5 Ha, dengan rataan 1,2 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata
petani sampel tidak mempunyai lahan yang luas dalam pengelolaan usahatani.
Ketersediaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga
Ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga yang dihitung adalah anggota
keluarga yang dalam usia produktif. Tabel 6 menunjukkan tenaga kerja keluarga
yang tersedia pada petani sampel berkisar antara 1–6,6 HKP per hari dengan rataan 2
Total Pendapatan Keluarga
Total pendapatan keluarga yang diperoleh petani sampel dapat mempengaruhi
petani dalam mengelola usahataninya. Total pendapatan keluarga petani sampel
berkisar antara Rp. 10.200.000; sampai Rp. 64.800.000; dengan rata- rata Rp.
24.660.000; per tahun atau Rp. 2.055.000; per bulan. Dari rataan tersebut diketahui
bahwa petani sampel telah dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari karena
pendapatan tersebut telah melebihi Upah Minimum Kota Medan (Rp.850.000; per
HASIL DAN PEMBAHASAN
Realisasi Program Agropolitan di Lokalitas Percontohan
Pelaksanaan kegiatan pembangunan untuk pengembangan program
agropolitan di lokalitas percontohan dalam hal ini adalah Desa Nagalingga dilakukan
berupa pemberian bantuan sarana produksi, dan pembangunan prasarana. Realisasi
program agropolitan di Desa Nagalingga Kecamatan Merek Kabupaten Karo dilihat
berikut ini:
A. Bantuan: Sarana Produksi:
Tahun 2007: 1. Bibit jeruk: 6600 batang
2. Bibit jagung: 245 kg
3. Insektisida: 20 liter
4. NPK: 4000 kg
5. Pupuk kandang: 15 ton
Tahun 2008: 1. Bibit kentang: 5 ha
2. Bibit ketela rambat: 10 ha
(Sumber : Dinas Pertanian Prov.Sumatera Utara)
B. Berupa Pembangunan: Prasarana
1. Perbaikan jalan menuju lahan usaha tani
Berdasarkan uraian di atas diketahui bagaimana realisasi program agropolitan
di daerah penelitian. Jika dilihat dari 5 (lima) sub sistem agribisnis (sub sistem
agribisnis hulu, sub sistem produksi, sub sistem pengolahan hasil, sub sistem
pemasaran dan sub sistem penunjang), baru ada dua sub sistem yang telah
direalisasikan melalui program agropolitan saat ini, yaitu sub sistem agribisnis hulu
dan sub sistem penunjang.
Dengan kata lain untuk sub sistem agribisnis hulu telah dilakukan pemberian
bantuan berupa bibit, pupuk, dan obat- obatan, sedangkan pada sub sistem penunjang
telah dilakukan pembangunan berupa perbaikan jalan dan pembangunan SDM yaitu:
dengan pemberian pelatihan-pelatihan, penyuluhan mengenai pengelolaan usaha tani
dan informasi-informasi mengenai pemasaran. Pada dasarnya sumber daya manusia
yang berperan dalam agribisnis adalah merupakan faktor penting dalam menentukan
keberhasilan agribisnis. Untuk itu pengembangan mutu sumber daya manusia terkait
dengan program agropolitan harus ditingkatkan.
Bantuan ini diberikan kepada masing–masing kelompok tani, tetapi tidak
semua petani atau kelompok tani mendapatkan bantuan, hanya beberapa kelompok
tani saja yaitu: kelompok tani Prima Muda dan kelompok tani Prima Jaya. Hal ini
desebabkan karena jumlah bantuan yang tersedia belum mencukupi kebutuhan
seluruh petani atau seluruh kelompok tani yang ada di Desa Nagalingga.
Petani mengatakan bahwa, bantuan yang diberikan sangatlah bermanfaat,
terutama dalam usaha taninya. Dengan adanya bantuan yang diberikan tersebut
sangat berharap bantuan yang diberikan dapat terus berlagsung dan diberikan secara
merata.
Berikut ini diperlihatkan perkembangan luas tanam dan produktivitas
tanaman hortikultura dan perkebunan di lokalitas percontohan:
Tabel 7. Perkembangan luas tanam dan produktivitas tanaman hortikultura dan perkebunan di lokalitas percontohan.
No Jenis
Komoditi
Luas Tanam (Ha) Produktivitas (Kg/Ha/Th)
2007 2008 2009 2007 2008 2009
1 Kentang 228 235 266 13.923 12.746 13.854
2 Kopi 1.112 1.159 1.218 4.922,33 1.945,84 1.925,8
Sumber: Pemerintah Kabupaten Karo.
Dari tabel 7 diketahui perkembangan luas tanam kentang dan kopi mangalami
peningkatan dari tahun 2007 sampai 2009 yaitu pada tahun 2007 luas tanam
tanaman kentang adalah seluas 228 Ha dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 266
Ha (bertambah 38 Ha). Demikian pula pada tanaman kopi yaitu pada tahun 2007
luas tamannya 1.112 Ha dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 1.218 Ha
(bertambah 106 Ha). Keadaan ini berbeda dengan perkembangan produktivitas
tanaman kentang dan kopi yang cenderung menurun. Pada tahun 2007 produktivitas
tanaman kentang adalah 13.923 Kg/Ha/Th sedangkan di tahun 2009 menurun
menjadi 13.854 Kg/Ha/Th (menurun 69 Kg/Ha/Th), dan untuk tanaman kopi pada
tahun 2007 produktivitasnya adalah 4.922,33 Kg/Ha/Th menjadi 1.925,8 Kg/Ha/Th
di tahun 2009 (menurun 2.997,25 Kg/Ha/Th). Menurut petani penurunan
produktivitas ini salah satunya disebabkan karena kualitas bibit yang relatif rendah.
Program agropolitan juga memberikan bantuan berupa perbaikan infrastruktur
daerah penelitan antara lain seperti adanya perbaikan jalan untuk menuju ke
usahatani. Perbaikan jalan ini dirasakan sangat bermanfaat bagi petani, karena
dengan adanya perbaikan jalan ini petani dapat dengan mudah mengangkut sarana
produksi ke usaha tani, mengangkut hasil produksi ke luar lahan usaha tani.
Salah satu dukungan untuk program agropolitan ini, di Merek Kabupaten
Karo telah dibangun Sub Terminal Agribisnis (STA) di Kota Merek, berdekatan
dengan Desa Nagalingga dengan anggaran dari pusat yang fungsinya sebagai suatu
infrastruktur pasar, tidak saja merupakan tempat transaksi jual beli, namun juga
merupakan wadah yang dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan pelaku
agribisnis, seperti sarana dan prasarana pengemasan, sortasi, penyimpanan,
transportasi dan pelatihan, selain itu STA sekaligus merupakan tempat
berkomunikasi dan saling tukar informasi bagi para pelaku agribisnis. Namun STA
ini belum berfungsi sebagaimana mestinya.
Walaupun realisasi program agropolitan belum terlaksana secara menyeluruh,
namun sikap petani terhadap program agropolitan diukur dengan melihat ukuran
Sikap Petani Terhadap Program Agropolitan.
Sikap petani di lokalitas percontohan terhadap program agropolitan dapat
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8. Sikap petani di lokalitas percontohan program agropolitan desa Nagalingga No Katagori Jumlah (Orang) Persentase (% )
1 Positif 18 60
2 Negatif 12 40
JUMLAH TOTAL 30 100
Sumber : Data diolah dari lampiran 11.
Berdasarkan pada Tabel 8 diperoleh bahwa dari 30 sampel petani di lokalitas
percontohan pogram agropolitan 18 orang (60%) diantaranya yang menunjukkan
sikap positif terhadap program agropolitan dan 12 orang (40%) dan yang
menunjukkan sikap negatif artinya dominan petani yakin bahwa program agropolitan
bermanfaat.
Hal ini seperti teori dari Krech, dkk (1996) bahwa keragaman sikap diantara
anggota-anggota kelompok suatu kelompok budaya sebagian besar disebabkan oleh
kenyataan bahwa anggota kelompok tersebut ternyata mempunyai keyakinan yang
sama mengenai objek, orang, peristiwa, masalah.
Seperti yang dikatakan Krech, dkk (1996) juga menyatakan bahwa jika
individu bersifat positif terhadap objek tertentu, maka individu yang bersifat positif
akan cenderung membantu atau memuji, atau mendukung objek tersebut.
Hasil penelitian diketahui bahwa sikap petani di lokalitas percontohan
menyatakan bahwa sikap petani terhadap program agropolitan di lokalitas
percontohan adalah positif dapat diterima.
Sikap petani terhadap program agropolitan tersebut diketahui dengan melihat
frekuensi jawaban–jawaban petani terhadap kuisioner–kuisioner yang berisi
pernyataan–pernyataan yang diberikan. Pernyataan ini dibagi kedalam 15
pernyataan positif dan 15 pernyataan negatif (lampiran 12 dan 13).
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan mutu pupuk, diketahui sebagai berikut: 8 kali menjawab sangat
yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 3 kali menjawab
ragu-ragu (R), 4 kali menjawab tidak yakin (TY), serta tidak ada petani yang menjawab
sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban terbanyak yaitu 15 kali, artinya petani di lokalitas percontohan
yakin bahwa dengan adanya program agropolitan mutu pupuk dapat meningkat. Hal
ini disebabkan petani di lokalitas optimis sangat berharap akan program agropolitan
yang bisa meningkatkan kualitas pupuk.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat mengembangkan industri pembibitan, diketahui sebagai berikut: 9 kali
menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 1 kali
menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 2 kali menjawab
sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
yakin bahwa dengan adanya program agropolitan industri pembibitan dapat
dikembangkan. Hal ini disebabkan petani di lokalitas sangat berharap petani bisa
memperoleh bibit dengan mudah tanpa harus ke luar daerah.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat menyediakan bibit dalam jumlah yang tepat, diketahui sebagai berikut: 7 kali
menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 7 kali
menjawab ragu - ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali menjawab
sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan bibit dapat tersedia dalam jumlah yang tepat. Hal ini
dikarenakan petani di lokalitas optimis akan program agropolitan bisa mendapatkan
bibit dengan mudah dan dalam jumlah yang tepat.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan penggunaan alsintan, diketahui sebagai berikut : 2 kali menjawab
sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 19 kali, dengan 7 kali menjawab
ragu-ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab sangat tidak
yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 19, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan penggunaan alsintan dapat meningkat. Hal ini
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian tenaga kerja, diketahui sebagai
berikut: 10 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 13 kali,
dengan 5 kali menjawab ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta tidak
sekalipun menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 13, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan keterampilan dan keahlian tenaga kerja dapat
meningkat. Hal ini disebabkan petani optimis akan program agropolitan yang
membuat kegiatan pelatihan mengenai usahatani yang dapat menambah pengetahuan
dan keterampilan tenaga kerja atau petani di lokalitas percontohan.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan produktivitas, diketahui sebagai berikut: 13 kali menjawab
sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 11 kali, dengan 3 kali menjawab
ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab Sangat
Tidak Yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah sangat yakin
dengan 13 kali frekuensi jawaban, artinya petani di lokalitas percontohan sangat
yakin bahwa dengan adanya program agropolitan produktivitas dapat meningkat. Hal
ini disebabkan petani di lokalitas optimis mampu meningkatkan hasil produksi usaha
taninya.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 15 kali, dengan 3 kali
menjawab ragu-ragu (R), 4 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab
sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan sangat yakin bahwa
dengan adanya program agropolitan biaya produksi bisa menurun dan lebih efisien.
Hal ini disebabkan mudahnya para petani optimis bisa memperoleh bantuan input
produksi dengan mudah.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan produk olahan dari bahan baku segar, diketahui sebagai berikut:
5 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 9 kali, dengan 9
kali menjawab tidak yakin (R), 7 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali
menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 9 namun masih terdapat keraguan, artinya petani di lokalitas
percontohan yakin bahwa dengan adanya program agropolitan dapat meningkatkan
produk olahan dari bahan baku segar, namun masih ada keraguan akan keadaan ini.
Hal ini disebabkan petani di lokalitas masih tidak mengolah hasil produksi mereka
(masih dalam bentuk bahan baku segar).
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat memunculkan usaha–usaha baru di bidang industri pengolahan hasil, diketahui
17 kali, dengan 7 kali menjawab ragu-ragu (R), 1 kali menjawab tidak yakin (TY),
serta tidak penah menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 17, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan usaha–usaha baru di bidang industri pengolahan dapat
diciptakan. Hal ini disebabkan adanya peluang untuk mengembangkan usaha baru
tersebut.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat menambah pendapatan usaha keluarga petani, diketahui sebagai berikut: 15
kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 12 kali, dengan 1
kali menjawab ragu-ragu (R), 2 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 0 kali
menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah sangat yakin
dengan frekuensi jawaban 15, artinya petani di lokalitas percontohan sangat yakin
bahwa dengan adanya program agropolitan pendapatan usaha keluarga petani dapat
bertambah. Hal ini disebabkan petani di lokalitas percontohan optimis biaya produksi
dalam usahatani mereka bisa berkurang dan lebih efisien.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan kesejahteraan petani, diketahui sebagai berikut: 11 kali
menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 14 kali, dengan 1 kali
menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 1 kali menjawab
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 14, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan kesejahteraan petani dapat meningkat. Hal ini
disebabkan petani di lokalitas optimis akan program agropolitan yang bisa memenuhi
kebutuhan petani terutama kebutuhan dalam berusahatani, sehingga pendapatan
mereka bisa meningkat dan kesejahteraanpun tercapai.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meperkuat posisi tawar petani dalam mamasarkan produknya, diketahui
sebagai berikut: 5 kali menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada
16 kali, dengan 3 kali menjawab ragu-ragu (R), 6 kali menjawab tidak yakin (TY),
serta 0 kali menjawab sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan
frekuensi jawaban 16, artinya petani di lokalitas percontohan yakin bahwa dengan
adanya program agropolitan posisi tawar petani semakin kuat. Hal ini disebabkan
petani di lokalitas optimis akan program agropolitan yang bisa menguatkan posisi
tawar mereka.
Untuk frekuensi jawaban atas pernyataan positif yaitu program agropolitan
dapat meningkatkan akses bantuan permodalan diketahui sebagai berikut: 7 kali
menjawab sangat yakin (SY), dan yang menjawab yakin ada 12 kali, dengan 6 kali
menjawab ragu-ragu (R), 3 kali menjawab tidak yakin (TY), serta 2 kali menjawab
sangat tidak yakin (STY) dengan total frekuensi 30.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa sikap petani adalah yakin dengan