• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA SERANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA SERANG"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun oleh : Hyuga Manjulur

6661120267

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

(2)
(3)
(4)
(5)

Kehidupan Sesungguhnya”

Karya kecil ini kupersembahkan

(6)

Nomer 4 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Program Studi Administrasi Publik. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dosen Pembimbing I : Dr. Agus Sjafari, M.Si., Dosen Pembimbing II : Riswanda, P.hD.

Penataan dan Pemberdayaan PKL adalah Peraturan yang dibuat Pemerintah Daerah Kota Serang yang bertujuan untuk mengelola pedagang kaki lima yang berada di Kota Serabg. Lokus dalam penelitian ini adalah di Kota Serang yang memiliki jumlah pedagang kaki lima yang sangat banyak dan harus dikelola. Fokus penelitian ini adalah Impelementasi Peraturan Daerah Kota Serang pada Tahun 2018. Masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah pemberian sarana yang jauh dari pusat keramaian masyarakat, kurang sosialisai kepada masyarakat maupun kepedagang sendiri yang menjadi fokus dari Peraturan Daerah itu sendiri. Dengan rumusan masalahnya yaitu bagaimanakah Implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang Tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, instrumen penelitiannya adalah peneliti itu sendiri dengan menggunakan cara wawancara dengan informan penelitian, studi dokumentasi dan triangulasi, informan dalam penelitian sebanyak 12 orang. Peneliti menggunakan teori Merilee S. Grindle yang memakai indikatornya adalah isi kebijakan dan konteks kebijakan. Adapun hasil dari penelitian ini bedasarkan wawancara dengan menggunakan semua informan menunjukan bawah implementasi Perda ini belum berjalan dengan baik. terdapat kesalahan dalam pemberian sarana dan prasarana yang jauh dari tempat keramaian atau pusat kegiatan masyarakat, prosedur yang tidak sesuai dalam pendataan pedagang kaki lima yang baru, penjalanan peraturan daerah ini baru sebatas dalam pemberian saran relokasi tanpa memberikan pelatihan khusus untuk pedagang kaki lima serta kurang dukungan kepada peraturan daerah yang di implementasikan dalam proses pengenalan tempat relokasi yang telah di bangun maupun sarana yang telah disediakan oleh instansi terkait.

(7)

Number 4 Year 2014 on Arrangement and empowerment of street Vendors in Serang City. Public Administration Study Program. Faculty of Social Political Sciences. Sultan Ageng Tirtayasa University. First Supervisor: Dr. Agus Sjafari, M.Si., Second Supervisor : Riswanda, P.hD.

Management and empowerment of street vendors (Pedagang Kaki Lima-PKL) is a Regulation formulated by the Regional Government of Serang City. The focus in this research was in Serang City that has numerous street vendors that should be managed. The focus of this research was implementation of Regional Regulation of Serang City in 2018. The issues in this research were accommodation of facilities that is distant from downtown, lack of dissemination to the public and to the vendors themselves that became the focus of the Regional Regulation. Formulation of the issue was on how the implementation of the Regional Regulation Number 4 of 2014 on Management and Empowerment of Street Vendors in Serang City in 2018 was. The method used in the research was qualitative method and the research instruments was interview of the research with the information source, documentation syudy, and triangulation with 12 people as the information source. The researcher used policies the theory Merilee S. Grindle that used policies and policies context as the indicators. Based on the interviews with information sources, the result of this research showed that the implementation of the Regional Regulation was not carried out properly yet. There were errors in the location of facilities and infrastructures that were distant from crowded place of activity centers, unsuitable procedure in data collecting of new street vendors, limitation of the regional regulation that only provided relocation suggestion without special training to the street vendors as well as the lack of support to the implemented regional regulation in the process of had been constructed or facilities provided by relevant institutions.

(8)

Segala syukur dan puji hanya bagi Tuhan YME, oleh karena berkat dan

anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) pada

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Penulis menyadari bahwa dengan keterbatasan ilmu pengetahuan dan

kemampuan penulis dalam penyusunan Skripsi ini, dirasakan masih jauh dari

sempurna, maka untuk itu penulis menerima dengan lapang dada segala kritik dan

saran yang sifatnya membangun demi perbaikan penulisan Skripsi ini.

Pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya terutama kepada yang terhormat :

1). Bapak Prof. Dr H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan

Ageng Tirtayasa.

2). Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas ilmu sosial dan ilmu

politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus sebagai Dosen

Pembimbing I yang telah memberikan segala bimbingan, motivasi,

pengarahan, saran dan dukungan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik.

3). Ibu rahmahwati, S.Sos,. M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

(9)

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

6). Ibu Listyaningsih,S.Sos, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi

Negara Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa sekaligus sebagai ketua penguji skripsi yang telah memberikan

arahan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

7). Ibu Dr. Arenawati, M.Si selaku Sekretaris Prodi Administrasi Publik Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus

sebagai penguji ahli yang telah memberikan arahan-gambaran sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini.

8). Bapak Anis Fuad, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik Program

Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

9). Bapak Riswanda, S.Sos., M.PA, PhD., selaku Dosen pembimbing II yang

telah meberikan segala bimbingan, motivasim pengarahan, sarandan

dukungannya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

baik. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak.

10). Bapak dan Ibu Dosen dan Staf Administrasi Fakultas ilmu sosial dan ilmu

politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

11). Bapak Pimpinan dan seluruh staf Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi

Kota Serang yang telah bersedia membantu penulis dalam pengumpulan data-data

(10)

diperlukan

13). Bapak Pimpinan dan seluruh staf UPTD Kota Serang yang telah bersedia

membantu penulis dalam pengumpulan data-data yang diperlukan.

14). Kedua orang tuaku Bapak Hotman Hutagaol dan Ibu Saurmauli yang tidak pernah

letih uutk menyayangi dan memberikan doa kepada penulis.

15). Devi Oktavia yang telah mendukung dan membantu peneliti dalam memperoleh

data serta turut memberikan masukan dan motivasi dalam menyusun skripsi ini

hingga dapat diselesaikan.

16). Sahabat-sahabat yang memberikan dorongan dan motivasi terbaik dalam

menyusun penelitian ini yaitu: Yudhi Prasetya Miharja, Pradytia Herlyansah,

Restu Ramadhan, Santi Nurmayanti, Galih Hidayat Ramadhan

17). Pihak – pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan disini satu persatu

Mudah-mudahan segala amal baik yang telah diberikan kepada penulis

mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan YME. serta penulis menyadari bahwa

skripsi ini masih terdapat banyak kekurangannya, walapun demikian harapan penulis

mudah-mudahan skripsi ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Banten, Juli 2018

(11)

Halaman

2.1.1.3 Pengertian Kebijakan Publik ... 15

2.1.2 Pengertian Implementasi Kebijakan Publik ... 17

2.1.3 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik ... 18

2.1.4 Konsep Pedagang Kaki Lima (PKL) ... 27

(12)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 33

3.2. Fokus Penelitian ... 34

3.3. Lokasi Penelitian ... 34

3.4. Variabel Penelitian ... 35

3.4.1 Definisi Konsep ... 35

3.4.2 Definisi Operasional ... 36

3.5 Instrumen Penelitian ... 38

3.6 Informan Penelitian ... 39

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.8 Teknik Analisis Data ... 43

3.9 Uji Keabsahan Data ... 44

3.10 Jadwal Penelitian ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 48

4.1.1 Profil Kota Serang ... 48

4.1.2 Profil Dinas Perindustrianm Perdagangan dan Koperasi Kota Serang ... 53

4.1.3 Profil Satpol PP Kota Serang ... 59

4.1.4 Profil Kecamatan di Kota Serang ... 62

4.2 Deskripsi Data ... 68

4.2.1 Informan Penelitian ... 69

4.3 Pembahsan dan Hasil Penelitian ... 70

4.3.1 Penataan dan Pemberdayaan ... 70

4.3.1.1 Isi Kebijakan... 75

4.3.1.1.1 Kepentingan Yang Dipengaruhi ... 75

4.3.1.1.2 Tipe Manfaat ... 80

(13)

4.3.1.1.6 Sumber Daya Yang Dilibatkan... 96

4.3.1.2 Konteks Implementasi ... 101

4.3.1.2.1 Kekuasaaan , Strategi Aktor yang Terlibat ... 101

4.3.1.2.2 Karakteristik Lembaga dan Penguasa ... 104

4.3.1.2.3 Kepatuhan Daya Tanggap ... 106

4.4 Pembahasan ... 110

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 114

5.2 Saran ... 115

(14)

Halaman

Tabel 1.1 Data Pedagang Kaki Lima di Kota Serang tahun 2015 ... 7

Tabel 3.1 Pedoman Wawancara Penelitian ... 36

Tabel 3.2 Sumber Informan Penelitian ... 39

Tabel 3.3 Jadwal Kegiatan Penelitian ... 47

(15)

Halaman

Gambar 1.1 Pemberitahuan Perubahan Tempat berdagang ... 9

Gambar 1.2 Pedagang Kaki Lima ... 10

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Penelitian ... 32

Gamabr 4.1 Mekanisme Penataan ... 71

Gamabr 4.2 Mekanisme Pemberdayaan ... 73

Gambar 4.3 Mekanisme Keputusan ... 91

Gamabr 4.3 Tenda Bantuan Diperindagkop... 97

(16)

LAMPIRAN 1 Daftar Hadir Bimbingan LAMPIRAN 2 Surat Izin Penelitian

(17)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perekonomian pada dasarnya adalah hal yang penting bagi seluruh

negara, bagi suatu negara aspek perekonomian dapat membantu negaranya

untuk membangun berbagai infrastruktur, namun untuk mendapatkan suatu

perekonomian yang baik, suatu negara harus memiliki pendapatan yang

besar, untuk menunjang keberhasilan dalam aspek ini. Untuk semua

masyarakat perekonomian merupakan hal dasar bagi mereka untuk

memperbaiki kehidupan, bahkan negara-negara membuat kesepakatan

dalam bidang perekonomian untuk mendapatkan kemajuan yang signifikan

bagi negara-negara yang ikut serta di dalamnya.

Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar di dunia yang

terdiri dari 17.499 pulau dari sabang sampai marauke. Luas total wilayah

Indonesia adalah 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25

juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (BPHN 2015),

dengan tujuan nasional yang ditegaskan dalam pembukuan Undang-Undang

Dasar 1945 ialah melindungi sengenap bangsa dan daerah dan seluruh

tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan bangsa, serta ikut

melakukan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi

(18)

negara yang berkedaulatan rakyat dan demokrasi dengan mengutamakan

persatuan dan kesatuan bangsa.

Indonesia merupakan negara dengan sistem pemerintahan otonomi

daerah yang terjadi sekarang yang bertujuan agar pembangunan yang ada di

daerah-daerah khusunya luar Pulau Jawa merata dan adil. Pada zaman

seperti sekarang semua daerah-daerah di Indonesia mulai memperbaiki

daerah mereka dengan berbagai cara agar daerahnya semakin maju serta

modern, hal ini dilakukan oleh semua daerah-daerah tersebut untuk

menciptakan daerah yang asri, indah, dan tertib untuk masyarakat agar lebih

nyaman. Dalam masa otonomi daerah yang berlaku di Indonesia seperti

sekarang, pemerintah daerah dapat membuat peraturan mereka sendiri yang

akan diberlakukan di daerahnya.

Provinsi yang ada di Indonesia dapat membuat peraturan daerah

mereka sendiri dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda), namun suatu perda

tidak dapat dibuat atau diberlakukan apabila suatu Perda tersebut

bertentangan dengan peraturan yang lebih kuat hukumnya, bedasarkan nd n - nd n omo un mengenai jenis dan hierarki, dan

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia dijelaskan

bahwa hierarki perundang-undangan dibagi menjadi 6 yaitu: UUD Negara

Republik Indonesia Tahun 1945, Ketetapan MPR, UU/Perpu, Peraturan

Presiden, Peraturan Daerah Provinsi, Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

(19)

dilaksanakan oleh pemerintah dan berorientasi pada upaya pencapaian

tujuan demi kepentingan masyarakat.

Banyak fenomena atau masalah di era sekarang ini yang menjadi

landasan lahirnya suatu Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan

Daerah seperti dalam kasus pedagang yang mengeluhkan tempat usaha yang

jauh dari keramaian yang melandaskan pedagang tersebut berjualan

mendekati konsumennya. Seperti salah satunya yaitu permasalahan

ekonomi. Ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari

kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman, tentu kebutuhan manusia

bertambah dan keadaan ekonomi secara terus-menerus mengalami

pertumbuhan dan perubahan. Di tengah keadaan ekonomi yang terus

mengalami perubahan ini, masyarakat dituntut untuk dapat bertahan hidup

dengan cara mencari nafkah dengan cara memanfaatkan peluang kerja yang

ada. Namun, sempitnya peluang kerja yang ada dan tingginya persaingan

untuk memasuki lapangan pekerjaan, banyak masyarakat yang lebih

memilih untuk menggeluti sektor informal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sektor informal dapat di tik n seb i, “ s kecil y n mel kuk n ke i t n p oduksi d n/ t u

distribusi barang dan jasa untuk menciptakan lapangan kerja dan

penghasilan bagi mereka yang terlibat dalam unit tersebut serta bekerja

dengan keterbatasan, baik modal, fisik, tenaga, maupun keahlian

Salah satu bentuk sektor informal adalah pedagang kaki lima. Kota

(20)

pedagang kaki lima ini. Kota Serang merupakan wilayah pemekaran dari

Kabupaten Serang Provinsi Banten, pada tahun 2007 dan mulai resmi

memulai pemerintahan pada tanggal 5 Desember 2008. Sebagai Ibu Kota

Provinsi, kehadirannya adalah konsekuensi logis dan keberaadaan Provinsi

Banten, Luas wilayah Kota Serang sekitar 266,72 Km2 yang terdiri dari 6

kecamatan yaitu Kecamatan Taktakan, Kecamatan Kasemen, Kecamatan

Walantaka, Kecamatan Curug, Kecamatan Serang , dan Kecamatan

Cipocok Jaya (Pemerintah Kota Serang, 2017), dari keseluruhan kecamatan

yang ada di Kota serang terdapatt 46 desa serta 20 kelurahan . Jumlah

penduduk Kota Serang pada tahun 2014 mencapai 631.101 Jiwa (BPS Kota

Serang 2014).

Dalam perekonomian masyarakat Kota Serang, berdagang masih

menjadi bahan alternatif bagi beberapa masyarakat untuk mencari nafkah,

hal ini bisa dilihat dari banyaknya tempat umum yang dijadikan tempat

usaha seperti di Stadion Maulana Yusuf, Alun-alun Kota Serang, Pasar

Royal, Pasar Lama, dan lainnya. Dalam sektor usaha bisa dikategorikan

dalam beberapa golongan seperti usaha dagang modern dan

tradisional/sektor informal. Dalam sektor perdagangan yang ada di kota

serang terdapat perdagangan yang terbagi menjadi 2 golongan yaitu

perdagangan tradisional/sektor informal dan juga perdagangan modern,

dimana perdagangan modern terdiri dari pasar swalayan dengan skala besar.

Sedangkan perdagangan tradisional umumnya mayarakat melihat sebagai

pasar, dimana pasar- pasar ini tersebar banyak di Kota Serang. Pada

(21)

diamana sebagian besar perdagangan tradisional berbentuk PKL (Pedagang

Kaki Lima).

Dalam sektor perdagangan tradisional yang berbentuk pasar ini

banyak di antaranya merupakan warga asli Kota Serang namun juga terdapat

warga yang bukan asli Kota Serang, karena lebih besar perdagangan

tradisional di bandingkan perdagangan modern mengakibatkan hampir

sering dijumpai PKL di sepanjang jalan utama kota ini, dimana semakin

banyak PKL yang kita jumpai membuat keresahan bagi masyarakat karena

mereka berjualan di area trotoar dan fasilitas umum untuk kepentingan

mereka sendiri, terutama di area alun-alun yang merupakan daerah hijau.

Dengan adanya peraturan perundang-undangan mengenai

pemeliharaan Pedagang Kaki Lima, maka pemerintah Kota Serang

mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Peraturan ini bertujuan

untuk memberikan kepastian hukum dalam berusaha bagi pedagang kaki

lima dan terpeliharanya sarana prasarana, estetika, kebersihan dan

kenyamanan ruang milik publik. Adapun dinas terkait yang bertanggung

jawab terhadap pengelolaan PKL yang tertuang dalam Perda Kota Serang

Nomor 4 tahun 2014 Bab V Pasal 20 yaitu Dinas Perindustrian,

Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Serang, Satpol PP Kota

Serang dan Kecamatan Serang.

Pedagang Kaki Lima yang selanjutnya disingkat PKL, adalah pelaku

(22)

usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota,

fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah,

pemerintah daerah provinsi, pemerintah kota dan/atau swasta baik yang

sementara/tidak menetap (Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 Bab 1

Pasal 1). Keberadaan pedagang kaki lima sering dianggap menimbulkan

berbagai persoalan terutama terkait dengan masalah ketertiban, keamanan,

serta kebersihan. Dalam melakukan aktivitasnya, pedagang kaki lima

banyak memanfaatkan trotoar, taman kota, dan ruang publik lainnya yang

mudah untuk dijangkau masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ruang

terbuka publik yang semestinya dimanfaatkan untuk aktivitas sosial telah

berubah menjadi kawasan komersil. Rata-rata pedagang kaki lima

menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dibongkar pasang atau

dipindahkan.

Sebagaimana dijelaskan pada Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014

Bab V Pasal 20, Pemerintah Daerah yang mempunyai kewenangan dalam

mengimplementasikan Perda ini adalah SKPD yang membidangi

perdagangan dalam hal ini yaitu Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan

Koperasi (Disperindagkop) dan dibantu oleh Kecamatan Serang serta Satuan

Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mengimplementasikan Peraturan Daerah

dilakukan oleh Disperindagkop. Di satu sisi, Satpol PP membantu dalam

menegakkan aturan-aturan yang ada di dalam Perda tersebut. Kecamatan

Serang pula mendapatkan tugas dalam mencatat PKL yang ada di Kota

(23)

kebijakan dan bertujuan untuk menjadi landasan hukum yang harus

ditegakkan.

Tabel 1.1

Data Pedagang Kaki Lima di Kota Serang tahun 2017

No Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan

1 Kasemen 176 175 351

2 Serang 417 159 576

3 Cipocok Jaya 454 79 533

4 Taktakan 170 84 254

5 Walantaka 190 80 270

6 Curug 130 80 210

Jumlah 2194

Sumber : (Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota

Serang : 2017)

Berdasarkan tabel 1.1 diatas jumlah PKL di Kota Serang cukup

banyak dan beragam. Kebanyakan dari para pedagang tersebut

menggunakan trotoar atau pinggir jalan sebagai tempat mereka berjualan,

padahal seharusnya trotoar tersebut merupakan ruang publik yang

diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Tapi tidak ada jalan lain bagi para

PKL selain tetap bertahan berjualan di pinggir jalan karena belum adanya

tempat relokasi yang memadai untuk menampung para PKL di Kota Serang.

Hal ini menjadi tugas penting para Stakeholder untuk mengimplementasikan

Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 terutama dari segi Penataan dan

(24)

(2) Penataan PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan

cara :

a. Pendataan PKL

b. Pendaftaran PKL

c. Penempatan dan pemindahan PKL

d. Penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL ; dan

e. Peremajaan lokasi PKL

(3) Pemberdayaan PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a. Peningkatan kemampuan berusaha

b. Fasilitasi akses permodalan

c. Fasilitasi bantuan sarana dagang

d. Penguatan kelembagaan

e. Fasilitasi peningkatan produksi

f. Pengolahan, pengembangan jaringan dan promosi ; dan

g. Pembinaan dan bimbingan teknis

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti terkait

permasalahan penataan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang, peneliti

menemukan beberapa masalah yang berkaitan dengan belum tercapainya

sasaran seperti Pasal 4 ayat (1) dan (2) setelah melakukan observasi

(25)

Pertama, dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum

menjalankan prosedur pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus

menjamur.

Gambar 1.1

Pemberitahuan Perubahan

Sumber : Peneliti 2017

Gambar di atas diambil di Stadion Maulana Yusuf Kota Serang pada

25 September 2017 Pukul 15.11 WIB, pada saat itu sedang ada

pemberitahuan dari pihak Satpol PP kepada para PKL agar memindahkan

dagangan mereka di area lain stadion yang sudah dianjurkan.

Kedua, dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang

berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang belum

(26)

Gambar 1.2 Pedagang Kaki Lima

Sumber : Peneliti 201

Foto ini diambil di Jl. Kitapa tanggal 7 April 2018 Pukul 14.20 WIB

terlihat bahwa trotoar yang seharusnya dipakai pejalan kaki untuk berjalan

tepi digunakan untuk berjualan hal ini disebabkan sebagian jalan ini di pakai

untuk berjualan pisang.

Ketiga, dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL,

Kurangnya kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang

disediakan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Serang

(27)

pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait dalam

menerapkan sanksi kepada para PKL yang melanggar larangan yang telah

ditetapkan dalam Perda Kota Serang No. 4 tahun 2014.

Keempat dari segi pemberdayaan, kurangnya upaya pemberdayaan

dari pemerintah seperti yang tertuang dalam Perda Kota Serang No 4 Tahun

2014 terutama dalam hal peningkatan kemampuan berusaha serta

pengolahan, pengembangan dan promosi.

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah mengidentifikasi dikaitkan dengan topik,

tema, judul dan fenomena yang diteliti. Berdasarkan latar belakang yang

peneliti uraikan di atas maka identifikasi dari permasalahan yang peneliti n k t tent n “Implement si Pe tu n D e Kot Se n omo 4

tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kot Se n ” dik itk n den n Pen t n d n Pembe d y n di P s l 4 y t

(2) dan (3) adalah sebagai berikut :

1. Dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum menjalankan

prosedur pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus

menjamur.

2. Dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang

berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang

belum mendaftarkan diri, dan belum mendapat tempat usaha atau

(28)

3. Dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL, kurangnya

kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang

disediakan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota

Serang tepatnya di daerah Kepandean itu kurang strategis sehingga

mengurangi pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait

dalam menerapkan sanksi kepada para PKL yang melanggar larangan

yang telah ditetapkan dalam Perda Kota Serang No. 4 tahun 2014.

4. Dari segi pemberdayaan, kurangnya upaya pemberdayaan dari

pemerintah seperti yang tertuang dalam Perda Kota Serang No 4

Tahun 2014 terutama dalam hal peningkatan kemampuan berusaha

serta pengolahan, pengembangan dan promosi

1.3 Batasan Masalah

Untuk mempermudah penelitian, peneliti membatasi ruang lingkup

permasalahan. Hal ini dikarenakan adanya fokus penelitian, maka akan

memberikan batasan studi yang akan dilakukan, agar tidak terjebak dengan

banyaknya data yang terdapat di lapangan. Maka fokus penelitian ini adalah

Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang No 4 tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. 1.4 Rumusan Masalah

Bedasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas dan dengan

memperhatikan focus penelitian yang telah disebutkan dalam batasan

(29)

Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang.

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang.

1.6 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Secara Teoritis

a. Dari segi keilmuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat

bermanfaat dan memberikan kontribusi untuk mengembangkan

ilmu pengetahuan, khususnya Administrasi Negara.

b. Dapat dijadikan sebagai bahan pemahaman untuk penelitian

selanjutnya.

2. Manfaat secara praktik Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan

masukan bagi pemerintah di lingkungan Dinas Perindustrian,

(30)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik 2.1.1.1 Pengertian Kebijakan

Kebijakan merupakan suatu arahan tindakan yang diusulkan

oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu

lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan

peluang-peluang terhadap kebijakan yang diusulkan untuk

menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan

atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu

(Winarno, 2012 : 20).

Adapun makna kebijakan dalam bahasa inggris modern seperti yang dikutip oleh Wicaksono (2006 : 53) adalah “a course of action or plan, a set of political purposes as opposed to

administration” (seperangkat aksi atau rencana yang mengandung

tujuan politik yang berbeda dengan administrasi).

Pendapat lainnya menurut Federick dalam Agustino (2008 :

7), mendefinisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan atau

kegiatan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah

dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat

(31)

terhadap pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka

mencapai tujuan tertentu. Pendapat ini juga menunjukkan bahwa

ide kebijakan melibatkan perilaku yang memiliki maksud dan

tujuan yang merupakan bagian penting dari definisi kebijakan,

karena bagaimanapun kebijakan harus menunjukkan apa yang

sesungguhnya dikerjakan daripada apa yang diusulkan dalam

beberapa kegiatan pada suatu masalah.

Dari beberapa pengertian kebijakan menurut para ahli, dapat

diambil kesimpulan bahwa kebijakan adalah suatu arahan

tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau

pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu untuk mencapai

tujuan tertentu dengan mengetahui hambatan-hambatannya dalam

rangka merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu.

2.1.1.2 Pengertian Publik

Menurut Syafiie (2006 : 17), Publik merupakan serapan kata dari bahasa inggris, “public” yang bisa berarti umum, masyarakat, atau negara. Publik adalah sejumlah manusia yang

memiliki kesamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan

tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang

mereka miliki (Syafiie, 2006 : 18).

2.1.1.3 Pengertian Kebijakan Publik

Sebelum menjelaskan tentang implementasi kebijakan publik,

terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan

(32)

mengimplementasikannya. Menurut Dye dalam Nugroho (2012 : 120), “Whatever government choose to do or not to do. Public policy is what government do, why they do it, and what difference

it makes” (kebijakan publik adalah segala sesuatu yang

dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil

yang membuat sebuah kehidupan bersama tampil berbeda).

Pengertian lain menurut Eyestone dalam Wachab (2012 : 13), kebijakan publik adalah, “The relationship of governmental unit to its environment”, (Hubungan yang berlangsung di antara

unit/satuan pemerintah dengan lingkungannya).

Adapun menurut Anderson dalam Tangkilisan (2003 : 2),

kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh

badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah dimana implikasinya

dari kebijakan itu adalah: kebijakan publik memiliki tujuan

tertentu, berisi tindakan-tindakan pemerintah, merupakan hal-hal

yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah bukan apa yang

masih dimaksudkan untuk dilakukan, bisa bersifat positif

(tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu)

dan bersifat negatif (keputusan pemerintah untuk tidak melakukan

sesuatu). Kebijakan publik yang bersifat positif setidak-tidaknya

disarankan pada peraturan perundang-undangan yang bersifat

mengikat dan memaksa. Ini artinya, Peraturan Daerah Kota

Serang No. 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan

(33)

dari kebijakan public yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota

Serang dalam rangka memecahkan permasalahan Pedagang Kaki

Lima (PKL).

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat ditarik

kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan

yang dibangun oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah

yang berisi tindakan-tindakan yang memiliki tujuan tertentu.

2.1.2 Pengertian Implementasi Kebijakan Publik

Lester dan Stewart dalam Winarno (2007 : 101-102),

menjelaskan bahwa implementasi kebijakan dipandang dalam

pengertian luas merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai

aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama

untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang

diinginkan.

Mazmanian dan Sabatier (Agustino, 2006 : 139), implementasi

kebijakan ialah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya

dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk

perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau

keputusan badan peradilan. Keputusan tersebut mengidentifikasikan

masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau

sasaran yang ingin dicapai dan berbagai cara untuk menstrukturkan

atau mengatur proses implementasinya.

Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa,

(34)

dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula

berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang

penting untuk mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi guna

meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.

2.1.3 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik

Dalam literatur ilmu kebijakan, terdapat beberapa model

implementasi kebijakan publik yang lazim dipergunakan. Beberapa

model implementasi kebijakan menurut para ahli antara

lainImplementasi Kebijakan Model Merille S. Grindle, Implementasi

Kebijakan Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn,

Implementasi Kebijakan George C. Edward III, dan Implementasi

Kebijakan Model Mazmanian dan Sabatier.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori model

implementasi kebijakan publik yang dikembangkan oleh Merille S.

Grindle, karena dianggap relevan dengan materi pembahasan dari

objek yang diteliti.Hal ini bukan berarti bahwa peneliti menjustifikasi

teori-teori lain tidak relevan dengan perkembangan teori implementasi

kebijakan publik, melainkan lebih kepada mengarahkan peneliti agar

lebih focus terhadap variabel-variabel yang dikaji melalui penelitian

ini.Identifikasi masalah yang ditemukan sesuai jika dikaji dengan

menggunakan pendekatan Model Merille S. Grindle.

1. Implementasi Kebijakan Model Merille S. Grindle

Menurut Grindle dalam Ali dkk (2012 : 96), Implementasi

(35)

implementasinya. Kedua hal tersebut harus didukung oleh

program aksi dan proyek individu yang didesain dan dibiayai

bedasarkan tujuan kebijakan, sehingga dalam pelaksaan kegiatan

akan meberikan hasil berupa dampak pada masyarakat individu

maupun kelompok serta perubahan dan penerima oleh masyarakat

terhadap kebijakan yang dilaksanakan. Indikator isi kebijakan

menurut Grindle :

1. Kepentingan yang dipengaruhi

Yaitu berkaitan dengan berbagai kepentingan yang

mempengaruhi suatu implementasi kebijakan. Dalam

indikator ini berargumen bahwa Implementasi Penataan dan

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima melibatkan banyak

kepentingan dan sejauhmana kepentingan-kepentingan

tersebut membawa pengaruh implementasi.

2. Tipe manfaat

Yaitu untuk menjelaskan dan menunjukan bahwa

dalam suatu kebijakan terdapat beberapa jenis manfaat yang

menunjuk dampak positif yang dihasilkan oleh

pengimplementasian suatu kebijakan. Dalam hal ini artinya

Implementasi Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki

Lima diharapkan dapat memberikan manfaat secara

langsung bagi para pedagang yang terkena dampak

(36)

3. Derajat perubahan yang diharapkan

Yaitu setiap kebijakan mempunyai target yang hendak

dan ingin dicapai dan seberapa besar perubahan yang ingin

dicapai ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan yang

telah ditetapkan. Dalam indikator ini peneliti ingin

mengetahui seberapa jauh targer Implementasi Penataan

dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang,

terkait dengan relokasi serta cara pemberdayaan yang

diberikan kepada pedagang kaki lima apakah mampu

meningkatkan kesejahteraan mereka.

4. Letak pengambilan keputusan

Yaitu pengambilan keputusan dalam suatu kebijakan

memegang peranan penting dalam pelaksanaan suatu

kebijakan. Dalam hal ini, ditinjau lebih jauh mengenai letak

pengambilan keputusan dalam menentukan pengambilan

keputusan dalam jumlah kuota pedagang kaki lima yang

akan di relokasi serta pemberdayaan apasaja yang sesuai

dengan kebutuhan pedagang untuk mencai keuntung bagi

mereka.

5. Pelaksana program

Yaitu dalam menjalankan suatu kebijakan atau

program harus didukung dngan adanya alas an pelaksana

(37)

suatu kebijakan. Dalam hal ini diharapkan seluruh jajaran

pelaksana program mampu menjalankan tugas yang optimal

6. Sumber daya yang dilibatkan

Yaitu pelaksana suatu kebijakan yang harus didukung

dengan adanya sumberdaya-sumberdaya yang mendukung

suatu kebijakan, terutama sumberdaya manusia yang

berperan penting terhadap kinerja dari suatu implementasi

kebijakan. Dalam ini berkaitan dengan poin 4 yang

dijelaskan di atas, serta adanya dukungan sumberdaya

lainnya.

Sementara itu dari isi yang mencakup hal-hal yang diatas

terdapat konteks implementasinya adalah sebagai berikut :

1. Kekuasaan, Strategi aktor yang terlibat

Yaitu dalam suatu kebijkan perlu diperhitungkan pula

kekuatan atau kekuasaan kepentingan serta strategi yang

digunakan oleh para aktor yang terlibat guna mempelancar

jalannya pelaksanaan suatu implementasi kebijakan.

Diharapkan dalam Implementasi Penataan dan Pemberdayaan

Pedagang Kaki Lima di Kota Serang, seluruh pelaksana

mampu memberikan solusi yang digunakan untuk mengatasi

permasalahan-permasalahan yang ditentukan di lapangan.

2. Karakteristik lembaga dan penguasa

(38)

keberhasilannya. Makan pada bagian ini akan dijelaskan

karakteristik Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan

Kota Serang sebagai suatu lembaga yang turut mempengaruhi

suatu kebijakan.

3. Kepatutan daya tanggap

Yaitu sejauhmana kepatuhan dan respon dari pelaksana

dalam menanggapi suatu kebijakan, hal ini berkaitan erat

dengan tercapainya kinerja pelaksana yang optimal.

Berkaitan pemindahan dan pemberian bekal kepada pedagang

kaki lima tersebut, diharapkan tidak terjadinya penyimpangan

oleh petugas.

2. Implementasi Kebijakan Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn

Model pendekatan top-down yang dirumuskan oleh

Donald Van Metter dan Carl Van Horn disebut juga dengan A

Model of The Policy Implementation. Menurut Agustino (2008 :

141), proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau

performansi suatu implementasi kebijakan yang pada dasarnya

sengaja bertujuan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan

publik yang tinggi yang dalam hubungan berbagai variabel.

Menurut Van Metter dan Van Horn dalam Agustino (2008

: 142), ada enam variabel yang mempengaruhi kinerja kebijakan

(39)

1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan

Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat

keberhasilannya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan

memang realistis dengan sosio-kultur yang ada di level

pelaksana kebijakan.

2. Sumberdaya

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat

tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumberdaya,

dan manusia adalah sumberdaya terpenting. Tahap-tahap

tertentu dari keseluruhan proses implementasi menuntut

adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai

dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang

telah ditetapkan secara politik.

3. Karakteristik Agen Pelaksana

Agen pelaksana meliputi organisasi formal dan

organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian

kebijakan publik. Hal ini sangat penting karena kinerja

implementasi kebijakan publik akan sangat banyak

dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan

para agen pelaksananya.

4. Sikap/Kecenderungan (Disposition) para Pelaksana

Sikap penerimaan atau penolakan dari (agen)

pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan

(40)

5. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana

Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh,

karena semakin baik koordinasi komunikasi diaantara

pihak-pihak yang terlibat suatu proses implementasi, maka

asumsinya kesalahan akan sangat kecil terjadi.

6. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik

Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak

kondusif dapat menjadi bang keladi dari kegagalan kinerja

implementasi kebijakan.

Karenanya upaya mengimplementasikan kebijakan

harus pula memperhatikan kekondusifan kondisi

lingkungan eksternal.

3. Implementasi Kebijakan Model George C. Edward III

Model implementasi kebijakan yang berperspektif

top-down dirumuskan oleh George C. Edward III dalam Agustino

(2008 : 149) yang dinamakan dengan Direct and Indirect Impact

Implementation. Dalam pendekatannya, implementasi ini

menggunakan empat variabel yang dianggap menentukan

keberhasilan implementasi suatu kebijakan, yaitu :

1. Komunikasi

Variabel pertama yang mempengaruhi keberhasilan

implementasi suatu kebijakan menurut George C. Edward

(41)

sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari

implementasi kebijakan publik.

2. Sumberdaya

Sumberdaya merupakan hal penting lainnya, menurut

George C. Edward III dalam mengimplementasikan

kebijakan. Indikator sumberdaya terdiri dari beberapa

elemen, yaitu (a) staff, (b) informasi, (c) wewenang, (d)

fasilitas.

3. Disposisi

Disposisi atau sikap para pelaksana akan

menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap

implementasi kebijakan bila personil yang ada tidak

melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh

pejabat-pejabat tinggi.

4. Struktur Birokrasi

Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya

kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak

kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan

menyebagiankan sumberdaya-sumberdaya menjadi tidak

efektif dan menghambat jalannya kebaikan.

4. Implementasi Kebijakan Model Mazmanian dan Sabatier Dalam Nugroho (2011 : 629), dijelaskan bahwa model ini

dikembangkan oleh Daniel Mazmanian dan Paul A. Sabatier

(42)

melaksanakan keputusan kebijakan. Model Mazmanian dan

Sabatier disebut sebagai model Kerangka Analisis Implementasi

(A Framework From Implementation Analysis).Mazmanian dan

Sabatier mengklasifikasikan implementasi kebijakan ke dalam

tiga variabel.

Pertama, variabel independen, mudah tidaknya masalah

dikendalikan yang berkenaan dengan indikator masalah teori dan

teknis pelaksana, keragaman objek, dan seperti apa yang

dikehendaki.

Kedua, variabel Intervening, yaitu variabel kemampuan

kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi dengan

indikator kejelasan dan konsistensi tujuan, dipergunakannya teori

kasual, ketepatan alokasi sumber dana, keterpaduan hirarki

diantara lembaga pelaksana, aturan pelaksana dari lembaga

pelaksana, dan perekrutan pejabat pelaksana dan keterbukaan

kepada pihak luar, dan variabel di luar kebijakan yang

mempengaruhi proses implementasi yang berkenaan dengan

indikator kondisi sosio-ekonomi dan teknologi, dukungan publik,

sikap dan risorsis konsituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi,

dan komitmen dan kualitas kepemimpinan dari para pejabat

pelaksana.

Ketiga, variabel independen, yaitu tahapan dalam proses

implementasi dengan lima tahapan pemahaman dari

(43)

pelaksana, kepatuhan objek, hasil nyata, penerimaan atas hasil

nyata tersebut, dan pada akhirnya mengarah pada revisi atau

kebijakan yang dibuat atau dilaksanakan tersebut ataupun

keseluruhan kebijakan yang bersifat mendasar.

2.1.4 Konsep Pedagang Kaki Lima (PKL)

Ada beberapa asal-usul penyebutan istilah PKL, salah satunya

dari trotoar buatan Belanda yang luasnya 1,5 meter (lima kaki).

Menurut seorang tokoh Indonesianis bernama Williamm Liddle,

aturan trotoar lima kaki justru berasal dari bahasa inggris, five foot

(lima kaki). Sementara menurut sumber lain, istilah PKL adalah untuk

menyebut pedagang yang menggunakan gerobak beroda. Jika roda

gerobak ditambahkan dengan kaki pedagang, maka berjumlah lima,

maka disebutlah pedagang kaki lima atau PKL (Permadi, 2007 : 3-4).

Sementara dalam Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014

dijelaskan bahwa pedagang kaki lima (PKL) adalah pelaku usaha yang

melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha

bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota,

fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah,

pemerintah daerah provinsi, pemerintah kota dan/atau swasta baik

yang sementara/tidak menetap.

2.1.4.1 Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima

Menurut Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 Pasal

1, Penataan Pedagang Kaki Lima adalah upaya yang

(44)

binaan untuk melakukan penetapan, pemindahan, penertiban

dan penghapusan Lokasi PKL dengan memperhatikan

kepentingan umum, sosial, estetika, kesehatan, ekonomi,

keamanan, ketertiban, kebersihan lingkungan dan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan.

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima adalah upaya yang

dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha

dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan

iklim usaha dan pengembangan usaha terhadap PKL sehingga

mampu tumbuh dan berkembang baik kualitas maupun

kuantitas usahanya.

2.2 Penelitian Terdahulu

Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, maka berikut ini peneliti

akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu

yang kurang lebih membahas topik yang relevan dengan peneliti yaitu

tentang Kebijakan yang mengatur mengenai Pedagang Kaki Lima (PKL).

Adapun hasil penelitian terdahulu tersebut yaitu :

Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Ira Fitri tahun 2015 yang berjudul “Implementasi Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus Pada Pasar Pagi Kota Samarinda)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis Implementasi Peraturan Daerah Kota

Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan

(45)

menganalisis faktor penghambat Implementasi Peraturan Daerah Kota

Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan

Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Samarinda. Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif serta menggunakan

teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Adapun hasil penelitian ini adalah Implementasi Peraturan Daerah

Kota Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan

Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Samarinda masih belum optimal karena

belum adanya penyediaan sarana dan prasarana oleh pemerintah Kota

Samarinda khususnya Dinas Pasar Kota Samarinda serta masih belum

optimalnya penerapan sidak pasar yang dilakukan pemerintah Kota

Samarinda melalui Satpol PP karena saat sidak pasar berlangsung banyak

PKL yang sudah tau dan menghindari sidak dengan tidak berjualan pada

hari itu.

Adapun relevansi penelitian di atas dengan penelitian peneliti yang

berjudul Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014

tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang

adalah terletak pada persamaan objek yang diteliti yaitu Peraturan Daerah

mengenai Pedangang Kaki Lima,serta terdapat persamaan lain yaitu pada

penggunaan metode penelitian yaitu kualitatif. Adapun perbedaanya adalah

penelitian di atas hanya mengambil studi kasus di satu tempat saja yaitu

Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Kota Samarinda, sedangkan peneliti

(46)

2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian

Kerangka berfikir merupakan alur pemikiran dalam penelitian yang

bertujuan untuk mengetahui sudut pandang peneliti dalam menjelaskan

permasalahan penenlitian. Penelitian mengenai Implementasi tentang

Penataan dan Pemberdayaan ini dirasa masih banyak menemukan

permasalahan yaitu; (1) Kurangnya Kesadaran PKL dalam relokasi yang

diberikan (2) Kurang tegasnya lembaga terkait dalam menerapkan sanksi

kepada para PKL yang melanggar larangan yang telah ditetapkan dalam

Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 (3) Kurangnya sosialisasi

menyeluruh kepada berbagai elemen masyarakat mengenai Perda Kota

Serang Nomor 4 tahun 2014 (4) Kurangnya kordinasi antara dinas terkait,

Selanjutnya permasalah-permasalahan tersebut peneliti jadikan

sebagai input dalam proses penelitian. Kemudian dalam proses analisis

permasalahan tersebut penelitian menggunakan Grindle dalam Ali dkk

(2012 : 96) yang membagai implementasi kebijakan menjadi 2 bagian,

yaitu:

1. Isi Kebijakan

a. Kepentingan yang dipengaruhi

b. Tipe manfaat

c. Derajat perubahan yang diharapkan

d. Letak pengambilan keputusan.

e. Pelaksana program.

(47)

2. Sementara itu dari isi yang mencakup hal-hal yang di atas terdapat

konteks implementasinya adalah sebagai berikut :

a. Kekuasaan, strategi aktor yang terlibat

b. Karakteristik lembaga dan penguasa.

(48)

Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan

Pedagang Kaki Lima di Kota Serang

Masalah-masalah yang diidentifikasi berdasarkan observasi awal : 1. Dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum menjalankan prosedur

pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus menjamur.

2. Dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang belum mendaftarkan diri, dan belum mendapat tempat usaha atau TDU yang jelas.

3. Dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL, kurangnya kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang disediakan Disperindagkop Kota Serang tepatnya di daerah Kepandean itu kurang strategis sehingga mengurangi pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait dalam menerapkan sanksi kepada para PKL.

4. Dari segi peningkatan kemampuan berusaha, dari segi ini belum adanya bimbingan dan pelatihan khusus dari pemerintah kepada para PKL untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha.

Model implementasi Merille S. Grindel dalam Ali dkk (2012:96),

Isi Kebijakan : Konteks implementasi

1. Kepentingan yang dipengaruhi 1. Kekuasaan, strategi aktor terlibat 2. Tipe manfaat 2. Karakteristik lembaga penguasa 3. Derajat perubahan 3. Kepatuhan daya tanggap

4. Letak pengambilan keputusan 5. Pelaksana program

6. Sumber daya yang dilibatkan

Output Penelitian : Memahami persoalan dalam

Implementasi Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang

Adapun kerangka berfikir dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1

(49)

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2012 : 6), metode penelitian pendidikan dapat

diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan

tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan

tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,

memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.

Adapun pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality

atau hal yang terpenting dan sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari

suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna

dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu

pengembangan konsep teori. Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti

ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan

yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu

resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam,

karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara

suatu budaya, model fisik suatu artifak dan lain sebagainya (Satori dan

(50)

Pendapat lain menurut Moleong (2013 : 6), metode penelitian

kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena

tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi,

motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskriptif

dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang

alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

3.2 Fokus Penelitian

Agar penelitian lebih terstruktur dan sistematis, maka ruang lingkup

penelitian difokuskan pada Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang

Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki

Lima di Kota Serang.

3.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian dilakukan. Dengan

ditetapkannya lokasi penelitian maka peneliti akan lebih mudah melakukan

penelitian karena objek dan tujuan sudah ditetapkan.

Adapun lokasi penelitian yang dipilih peneliti adalah Kota Serang.

Alasan kenapa memilih Kota Serang adalah karena Kota Serang merupakan

salah satu Kota yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di

Propinsi Banten, sehingga di Kota Serang banyak terdapat Pedagang Kaki

Lima (PKL). Dan ironisnya, banyak PKL di Kota Serang yang dalam

kegiatannya banyak melanggar ketentuan sehingga hal inilah yang

(51)

3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Definisi Konsep

Definisi konseptual digunakan untuk menegaskan

konsep-konsep yang digunakan supaya tidak menjadi perbedaan penafsiran

antara penulis dan pembaca. Konsep yang digunakan adalah

menggunakan teori model Implementasi Kebijakan Publik yang

dikemukakan oleh Merille S. Grindle dalam Ali dkk (2012 : 96)

yang membagi implementasi kebijakan menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Isi Kebijakan

a. Kepentingan yang dipengaruhi

b. Tipe manfaat

c. Derajat perubahan yang diharapkan

d. Letak pengambilan keputusan.

e. Pelaksana program.

f. Sumber daya yang dilibatkan

2. konteks implementasinya.

1. Kekuasaan, strategi aktor yang terlibat

2. Karakteristik lembaga dan penguasa.

(52)

3.4.2 Definisi Operasional

Pada penelitian Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang

Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang

Kaki Lima di Kota Serang, teori yang digunakan adalah teori

Implementasi menurut Merille S. Grindle karena paling tepat untuk

menjawab pertanyaan rumusan masalah. Berikut rincian dari dimensi

dan indikator yang digunakan, yaitu :

Tabel 3.1

Pedoman Wawancara Penelitian

Indikator Sub Indikator Pertanyaan Kode

Informan Isi Kebijakan Kepentingan yang

(53)
(54)

Karakteristik

menjadi instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti

kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan.

Peneliti kualitatif sebagai Human Instrument,berfungsi menetapkan fokus

(55)

data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat

kesimpulan atas temuannya.

Dalam penelitian ini, yang memjadi data primer adalah data yang

berupa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati dari hasil

wawancara dan observasi. Sedangkan data-data sekunder yang didapatkan

berupa dokumen tertulis. Adapun alat-alat tambahan yang digunakan dalam

pengumpulan data antara lain: paduan wawancara, alat perekam, dan buku

catatan.

3.6 Informan Penelitian

Informan penelitian merupakan sumber data yang digunakan dalam

penelitian ini. Adapun teknik pengambilan data dari informan yang

digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive, yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, dan teknik ini cocok

digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak

melakukan generalisasi (Sugiyono, 2012 : 124).

Untuk mengetahui informan dalam penelitian ini, maka berikut ini

akan diuraikan daftar informan yang berkaitan dalam penelitian ini yaitu

Tabel 3.2

Daftar Informan Penelitian

No Informan Keterangan

Instansi Pemerintah

1. Kasi Pengelolaan dan Pengembangan Pasar Disperindagkop Kota Serang (Sebagai stakeholder)

2. Kepala UPTD Pasar Disperindagkop Kota

(56)

Serang. (Sebagai stakeholder)

3. Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kota Serang (Sebagai stakeholder)

4. Kasi Trantib Kec. Serang (Sebagai stakeholder)

5. Kasi Trantib Kec. Cipocok Jaya. (Sebagai stakeholder)

6. Kasi Trantib Kec. Curug (Sebagai stakeholder) 7. Sekretaris Camat Kec. Taktakan. (Sebagai

stakeholder)

8. Kasi Ekonomi Pembangunan Kec. Kasemen. (Sebagai stakeholder)

9. Kasi Trantib Kec. Walantaka. (Sebagai stakeholder)

Masyarakat

1. Pedagang Kaki Lima (yang berdampak langsung)

2. Pengguna Jalan Raya (sebagai penakai trotoar )

3. Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Kota Serang

Secondary

Informan

(Sumber : Peneliti, 2017)

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Fase terpenting dari penelitian adalah pengumpulan data.

Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah adalah prosedur yang sistematis

untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitan kualitatif teknik

pengumpulan data dapat dilakukan melalui setting dari berbagai sumber,

(57)

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam

penelitian ini antara lain :

1. Observasi

Observasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti

pengamatan atau peninjauan secara cermat. Observasi adalah

pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung

maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus

dikumpulkan dalam penelitian (Satori dan Komariah, 2009 : 104-105).

Dalam penelitian ini, observasi yang digunakan peneliti adalah

observasi non partisipatif, yaitu observasi yang dilakukan dimana si

peneliti mengamati perilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan

subjek yang sedang diteliti (Satori dan Komariah, 2009 : 119). Jadi

dapat dikatakan bahwa peneliti melakukan pengamatan tanpa harus

menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati.

2. Wawancara

Menurut Esterberg (2002) dalam Sugiyono (2012 : 317)

wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat

dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Adapun

wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah

wawancara bertahap, yaitu wawancara yang mana peneliti

melakukannya dengan sengaja datang berdasarkan jadwal yang

ditetapkan sendiri untuk melakukan wawancara dengan informan dan

(58)

mendalam dengan merujuk pada pokok-pokok wawancara (Satori dan

Komariah, 2009 : 131). Dalam hal ini peneliti menentukan orang atau

badan yang akan di wawancara adalah orang yang terkait langsung

serta bersentuhan langsung dengan perda, seperti pedagang kaki lima

serta pemilik rumah yang halaman atau depan rumah mereka di

tempati oleh pedagang atau masyarakat lainnya yang terkena dampak

dari penataan yang anjurkan dinas terkait dan juga berapa lama

penjual tersebut membuka usaha tersebut.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya

monumental dari seseorang. (Sugiyono, 2012 : 329).

Dengan teknik dokumentasi, peneliti dapat memperoleh

informasi bukan dari orang sebagai narasumber, tetapi mereka

memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari

dokumen yang ada pada informan dalam bentuk peninggalan budaya,

karya seni, dan karya pikir. Studi dokumen dalam penelitian kualitatif

merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan

wawancara. Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan

data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah

secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah keperayaan

dan pembuktian suatu kejadian (Satori dan Komariah, 2009 :

(59)

dilapangan yang terkait dengan perda serta menampilkan isi dari

peraturan daerah

3.8 Teknik Analisis Data

Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2013 : 248) analisis data

kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat

dikelola, menistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa

yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat

diceritakan kepada orang lain.

Adapun teknik analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian

ini adalah teknik analisis data Model Miles and Huberman (Sugiyono, 2012

: 337) sebagai berikut :

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan

membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah

direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam

bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan

(60)

kualitatif adalah dengan teks yang berbentuk naratif”. Dengan

mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa

yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang

telah difahami tersebut.

3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)

Langkah akhir dalam analisis data kualitatif menurut Miles and

Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan

awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah

bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya. Tapi apabila kesimpulan yang

dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid

dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data,

maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang

kredibel.

3.9 Uji Keabsahan Data

Suatu penelitian harus mengandung nilai terpercaya dan peneliti harus

mampu mempertanggungjawabkan penelitiannya, untuk itu digunakan uji

keabsahan data. Menurut Sugiyono (2012 : 366) terdapat 4 macam uji

keabsahan data dalam penelitian kualitatif yaitu meliputi uji credibility

(validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability

(reliabilitas), dan confirmability (obyektifitas). Adapun dalam penelitian ini,

peneliti hanya menggunakan uji credibility yang dilakukan melalui dua

teknik pemeriksaan, yaitu triangulasi dan member check.

(61)

Dalam pengujian kredibilitas triangulasi ini diartikan sebagai

pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan

berbagai waktu.

1) Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan

dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa

sumber.

2) Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan

dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan

teknik yang berbeda.

3) Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu untuk menguji kredibilitas data dilakukan

melalui pengecekan data dengan waktu dan situasi yang berbeda

dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan

kepastian datanya.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan triangulasi

sumber dan triangulasi teknik.

2. Mengadakan Member Check

Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk

mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang

(62)

oleh para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin

kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan

berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka

peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila

perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan

harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

3.10 Jadwal Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti bagaimana Implementasi

Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Adapun waktu

Gambar

Tabel 1.1
Gambar 1.1 Pemberitahuan Perubahan
Gambar 1.2 Pedagang Kaki Lima
Gambar 2.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

pengelolaan pedagang kaki lima menjelaskan bahwa: “Pedagang Kaki Lima(PKL) adalah pedagang yang menjalankan kegiatan usaha dagang dan jasa non formal dalam jangka

Keempat, belum terbitnya Surat Keputusan yang disusun oleh Disperindagkop tentang penataan dan pemberdayaan PKL di Kota Serang ini juga menjadi hambatan dalam pelaksanaannya,

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi peraturan daerah terhadap Pedagang Kaki Lima di pasar (studi kasus pada Pedagang Kaki Lima Pasar Projo Ambarawa,

Pendapat informan setelah penulis menanyakan apakah sudah pernah dilakukan sosialisasi tentang adanya Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Penataan Pedagang Kaki

Walaupun telah ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Tentang Penataan Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima, akan tetapi peraturan daerah tersebut belum

PARTISIPASI PUBLIK DAN HARMONI SOSIAL Studi Kasus Perumusan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Salatiga.. ©Frans Wilson Kuat

Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 10 Tahun 2008 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima, dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kebumen, yang tergabung dalam satu kesatuan Polisi

Implementasi Kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima Di Jalan