Disusun oleh : Hyuga Manjulur
6661120267
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
Kehidupan Sesungguhnya”
Karya kecil ini kupersembahkan
Nomer 4 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Program Studi Administrasi Publik. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dosen Pembimbing I : Dr. Agus Sjafari, M.Si., Dosen Pembimbing II : Riswanda, P.hD.
Penataan dan Pemberdayaan PKL adalah Peraturan yang dibuat Pemerintah Daerah Kota Serang yang bertujuan untuk mengelola pedagang kaki lima yang berada di Kota Serabg. Lokus dalam penelitian ini adalah di Kota Serang yang memiliki jumlah pedagang kaki lima yang sangat banyak dan harus dikelola. Fokus penelitian ini adalah Impelementasi Peraturan Daerah Kota Serang pada Tahun 2018. Masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah pemberian sarana yang jauh dari pusat keramaian masyarakat, kurang sosialisai kepada masyarakat maupun kepedagang sendiri yang menjadi fokus dari Peraturan Daerah itu sendiri. Dengan rumusan masalahnya yaitu bagaimanakah Implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang Tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, instrumen penelitiannya adalah peneliti itu sendiri dengan menggunakan cara wawancara dengan informan penelitian, studi dokumentasi dan triangulasi, informan dalam penelitian sebanyak 12 orang. Peneliti menggunakan teori Merilee S. Grindle yang memakai indikatornya adalah isi kebijakan dan konteks kebijakan. Adapun hasil dari penelitian ini bedasarkan wawancara dengan menggunakan semua informan menunjukan bawah implementasi Perda ini belum berjalan dengan baik. terdapat kesalahan dalam pemberian sarana dan prasarana yang jauh dari tempat keramaian atau pusat kegiatan masyarakat, prosedur yang tidak sesuai dalam pendataan pedagang kaki lima yang baru, penjalanan peraturan daerah ini baru sebatas dalam pemberian saran relokasi tanpa memberikan pelatihan khusus untuk pedagang kaki lima serta kurang dukungan kepada peraturan daerah yang di implementasikan dalam proses pengenalan tempat relokasi yang telah di bangun maupun sarana yang telah disediakan oleh instansi terkait.
Number 4 Year 2014 on Arrangement and empowerment of street Vendors in Serang City. Public Administration Study Program. Faculty of Social Political Sciences. Sultan Ageng Tirtayasa University. First Supervisor: Dr. Agus Sjafari, M.Si., Second Supervisor : Riswanda, P.hD.
Management and empowerment of street vendors (Pedagang Kaki Lima-PKL) is a Regulation formulated by the Regional Government of Serang City. The focus in this research was in Serang City that has numerous street vendors that should be managed. The focus of this research was implementation of Regional Regulation of Serang City in 2018. The issues in this research were accommodation of facilities that is distant from downtown, lack of dissemination to the public and to the vendors themselves that became the focus of the Regional Regulation. Formulation of the issue was on how the implementation of the Regional Regulation Number 4 of 2014 on Management and Empowerment of Street Vendors in Serang City in 2018 was. The method used in the research was qualitative method and the research instruments was interview of the research with the information source, documentation syudy, and triangulation with 12 people as the information source. The researcher used policies the theory Merilee S. Grindle that used policies and policies context as the indicators. Based on the interviews with information sources, the result of this research showed that the implementation of the Regional Regulation was not carried out properly yet. There were errors in the location of facilities and infrastructures that were distant from crowded place of activity centers, unsuitable procedure in data collecting of new street vendors, limitation of the regional regulation that only provided relocation suggestion without special training to the street vendors as well as the lack of support to the implemented regional regulation in the process of had been constructed or facilities provided by relevant institutions.
Segala syukur dan puji hanya bagi Tuhan YME, oleh karena berkat dan
anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) pada
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Penulis menyadari bahwa dengan keterbatasan ilmu pengetahuan dan
kemampuan penulis dalam penyusunan Skripsi ini, dirasakan masih jauh dari
sempurna, maka untuk itu penulis menerima dengan lapang dada segala kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi perbaikan penulisan Skripsi ini.
Pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya terutama kepada yang terhormat :
1). Bapak Prof. Dr H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa.
2). Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus sebagai Dosen
Pembimbing I yang telah memberikan segala bimbingan, motivasi,
pengarahan, saran dan dukungan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik.
3). Ibu rahmahwati, S.Sos,. M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
6). Ibu Listyaningsih,S.Sos, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi
Negara Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa sekaligus sebagai ketua penguji skripsi yang telah memberikan
arahan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
7). Ibu Dr. Arenawati, M.Si selaku Sekretaris Prodi Administrasi Publik Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus
sebagai penguji ahli yang telah memberikan arahan-gambaran sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini.
8). Bapak Anis Fuad, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik Program
Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
9). Bapak Riswanda, S.Sos., M.PA, PhD., selaku Dosen pembimbing II yang
telah meberikan segala bimbingan, motivasim pengarahan, sarandan
dukungannya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
baik. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak.
10). Bapak dan Ibu Dosen dan Staf Administrasi Fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
11). Bapak Pimpinan dan seluruh staf Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi
Kota Serang yang telah bersedia membantu penulis dalam pengumpulan data-data
diperlukan
13). Bapak Pimpinan dan seluruh staf UPTD Kota Serang yang telah bersedia
membantu penulis dalam pengumpulan data-data yang diperlukan.
14). Kedua orang tuaku Bapak Hotman Hutagaol dan Ibu Saurmauli yang tidak pernah
letih uutk menyayangi dan memberikan doa kepada penulis.
15). Devi Oktavia yang telah mendukung dan membantu peneliti dalam memperoleh
data serta turut memberikan masukan dan motivasi dalam menyusun skripsi ini
hingga dapat diselesaikan.
16). Sahabat-sahabat yang memberikan dorongan dan motivasi terbaik dalam
menyusun penelitian ini yaitu: Yudhi Prasetya Miharja, Pradytia Herlyansah,
Restu Ramadhan, Santi Nurmayanti, Galih Hidayat Ramadhan
17). Pihak – pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan disini satu persatu
Mudah-mudahan segala amal baik yang telah diberikan kepada penulis
mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan YME. serta penulis menyadari bahwa
skripsi ini masih terdapat banyak kekurangannya, walapun demikian harapan penulis
mudah-mudahan skripsi ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Banten, Juli 2018
Halaman
2.1.1.3 Pengertian Kebijakan Publik ... 15
2.1.2 Pengertian Implementasi Kebijakan Publik ... 17
2.1.3 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik ... 18
2.1.4 Konsep Pedagang Kaki Lima (PKL) ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 33
3.2. Fokus Penelitian ... 34
3.3. Lokasi Penelitian ... 34
3.4. Variabel Penelitian ... 35
3.4.1 Definisi Konsep ... 35
3.4.2 Definisi Operasional ... 36
3.5 Instrumen Penelitian ... 38
3.6 Informan Penelitian ... 39
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 40
3.8 Teknik Analisis Data ... 43
3.9 Uji Keabsahan Data ... 44
3.10 Jadwal Penelitian ... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 48
4.1.1 Profil Kota Serang ... 48
4.1.2 Profil Dinas Perindustrianm Perdagangan dan Koperasi Kota Serang ... 53
4.1.3 Profil Satpol PP Kota Serang ... 59
4.1.4 Profil Kecamatan di Kota Serang ... 62
4.2 Deskripsi Data ... 68
4.2.1 Informan Penelitian ... 69
4.3 Pembahsan dan Hasil Penelitian ... 70
4.3.1 Penataan dan Pemberdayaan ... 70
4.3.1.1 Isi Kebijakan... 75
4.3.1.1.1 Kepentingan Yang Dipengaruhi ... 75
4.3.1.1.2 Tipe Manfaat ... 80
4.3.1.1.6 Sumber Daya Yang Dilibatkan... 96
4.3.1.2 Konteks Implementasi ... 101
4.3.1.2.1 Kekuasaaan , Strategi Aktor yang Terlibat ... 101
4.3.1.2.2 Karakteristik Lembaga dan Penguasa ... 104
4.3.1.2.3 Kepatuhan Daya Tanggap ... 106
4.4 Pembahasan ... 110
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 114
5.2 Saran ... 115
Halaman
Tabel 1.1 Data Pedagang Kaki Lima di Kota Serang tahun 2015 ... 7
Tabel 3.1 Pedoman Wawancara Penelitian ... 36
Tabel 3.2 Sumber Informan Penelitian ... 39
Tabel 3.3 Jadwal Kegiatan Penelitian ... 47
Halaman
Gambar 1.1 Pemberitahuan Perubahan Tempat berdagang ... 9
Gambar 1.2 Pedagang Kaki Lima ... 10
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Penelitian ... 32
Gamabr 4.1 Mekanisme Penataan ... 71
Gamabr 4.2 Mekanisme Pemberdayaan ... 73
Gambar 4.3 Mekanisme Keputusan ... 91
Gamabr 4.3 Tenda Bantuan Diperindagkop... 97
LAMPIRAN 1 Daftar Hadir Bimbingan LAMPIRAN 2 Surat Izin Penelitian
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perekonomian pada dasarnya adalah hal yang penting bagi seluruh
negara, bagi suatu negara aspek perekonomian dapat membantu negaranya
untuk membangun berbagai infrastruktur, namun untuk mendapatkan suatu
perekonomian yang baik, suatu negara harus memiliki pendapatan yang
besar, untuk menunjang keberhasilan dalam aspek ini. Untuk semua
masyarakat perekonomian merupakan hal dasar bagi mereka untuk
memperbaiki kehidupan, bahkan negara-negara membuat kesepakatan
dalam bidang perekonomian untuk mendapatkan kemajuan yang signifikan
bagi negara-negara yang ikut serta di dalamnya.
Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar di dunia yang
terdiri dari 17.499 pulau dari sabang sampai marauke. Luas total wilayah
Indonesia adalah 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25
juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (BPHN 2015),
dengan tujuan nasional yang ditegaskan dalam pembukuan Undang-Undang
Dasar 1945 ialah melindungi sengenap bangsa dan daerah dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan bangsa, serta ikut
melakukan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
negara yang berkedaulatan rakyat dan demokrasi dengan mengutamakan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Indonesia merupakan negara dengan sistem pemerintahan otonomi
daerah yang terjadi sekarang yang bertujuan agar pembangunan yang ada di
daerah-daerah khusunya luar Pulau Jawa merata dan adil. Pada zaman
seperti sekarang semua daerah-daerah di Indonesia mulai memperbaiki
daerah mereka dengan berbagai cara agar daerahnya semakin maju serta
modern, hal ini dilakukan oleh semua daerah-daerah tersebut untuk
menciptakan daerah yang asri, indah, dan tertib untuk masyarakat agar lebih
nyaman. Dalam masa otonomi daerah yang berlaku di Indonesia seperti
sekarang, pemerintah daerah dapat membuat peraturan mereka sendiri yang
akan diberlakukan di daerahnya.
Provinsi yang ada di Indonesia dapat membuat peraturan daerah
mereka sendiri dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda), namun suatu perda
tidak dapat dibuat atau diberlakukan apabila suatu Perda tersebut
bertentangan dengan peraturan yang lebih kuat hukumnya, bedasarkan nd n - nd n omo un mengenai jenis dan hierarki, dan
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia dijelaskan
bahwa hierarki perundang-undangan dibagi menjadi 6 yaitu: UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Ketetapan MPR, UU/Perpu, Peraturan
Presiden, Peraturan Daerah Provinsi, Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
dilaksanakan oleh pemerintah dan berorientasi pada upaya pencapaian
tujuan demi kepentingan masyarakat.
Banyak fenomena atau masalah di era sekarang ini yang menjadi
landasan lahirnya suatu Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan
Daerah seperti dalam kasus pedagang yang mengeluhkan tempat usaha yang
jauh dari keramaian yang melandaskan pedagang tersebut berjualan
mendekati konsumennya. Seperti salah satunya yaitu permasalahan
ekonomi. Ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman, tentu kebutuhan manusia
bertambah dan keadaan ekonomi secara terus-menerus mengalami
pertumbuhan dan perubahan. Di tengah keadaan ekonomi yang terus
mengalami perubahan ini, masyarakat dituntut untuk dapat bertahan hidup
dengan cara mencari nafkah dengan cara memanfaatkan peluang kerja yang
ada. Namun, sempitnya peluang kerja yang ada dan tingginya persaingan
untuk memasuki lapangan pekerjaan, banyak masyarakat yang lebih
memilih untuk menggeluti sektor informal.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sektor informal dapat di tik n seb i, “ s kecil y n mel kuk n ke i t n p oduksi d n/ t u
distribusi barang dan jasa untuk menciptakan lapangan kerja dan
penghasilan bagi mereka yang terlibat dalam unit tersebut serta bekerja
dengan keterbatasan, baik modal, fisik, tenaga, maupun keahlian
Salah satu bentuk sektor informal adalah pedagang kaki lima. Kota
pedagang kaki lima ini. Kota Serang merupakan wilayah pemekaran dari
Kabupaten Serang Provinsi Banten, pada tahun 2007 dan mulai resmi
memulai pemerintahan pada tanggal 5 Desember 2008. Sebagai Ibu Kota
Provinsi, kehadirannya adalah konsekuensi logis dan keberaadaan Provinsi
Banten, Luas wilayah Kota Serang sekitar 266,72 Km2 yang terdiri dari 6
kecamatan yaitu Kecamatan Taktakan, Kecamatan Kasemen, Kecamatan
Walantaka, Kecamatan Curug, Kecamatan Serang , dan Kecamatan
Cipocok Jaya (Pemerintah Kota Serang, 2017), dari keseluruhan kecamatan
yang ada di Kota serang terdapatt 46 desa serta 20 kelurahan . Jumlah
penduduk Kota Serang pada tahun 2014 mencapai 631.101 Jiwa (BPS Kota
Serang 2014).
Dalam perekonomian masyarakat Kota Serang, berdagang masih
menjadi bahan alternatif bagi beberapa masyarakat untuk mencari nafkah,
hal ini bisa dilihat dari banyaknya tempat umum yang dijadikan tempat
usaha seperti di Stadion Maulana Yusuf, Alun-alun Kota Serang, Pasar
Royal, Pasar Lama, dan lainnya. Dalam sektor usaha bisa dikategorikan
dalam beberapa golongan seperti usaha dagang modern dan
tradisional/sektor informal. Dalam sektor perdagangan yang ada di kota
serang terdapat perdagangan yang terbagi menjadi 2 golongan yaitu
perdagangan tradisional/sektor informal dan juga perdagangan modern,
dimana perdagangan modern terdiri dari pasar swalayan dengan skala besar.
Sedangkan perdagangan tradisional umumnya mayarakat melihat sebagai
pasar, dimana pasar- pasar ini tersebar banyak di Kota Serang. Pada
diamana sebagian besar perdagangan tradisional berbentuk PKL (Pedagang
Kaki Lima).
Dalam sektor perdagangan tradisional yang berbentuk pasar ini
banyak di antaranya merupakan warga asli Kota Serang namun juga terdapat
warga yang bukan asli Kota Serang, karena lebih besar perdagangan
tradisional di bandingkan perdagangan modern mengakibatkan hampir
sering dijumpai PKL di sepanjang jalan utama kota ini, dimana semakin
banyak PKL yang kita jumpai membuat keresahan bagi masyarakat karena
mereka berjualan di area trotoar dan fasilitas umum untuk kepentingan
mereka sendiri, terutama di area alun-alun yang merupakan daerah hijau.
Dengan adanya peraturan perundang-undangan mengenai
pemeliharaan Pedagang Kaki Lima, maka pemerintah Kota Serang
mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Peraturan ini bertujuan
untuk memberikan kepastian hukum dalam berusaha bagi pedagang kaki
lima dan terpeliharanya sarana prasarana, estetika, kebersihan dan
kenyamanan ruang milik publik. Adapun dinas terkait yang bertanggung
jawab terhadap pengelolaan PKL yang tertuang dalam Perda Kota Serang
Nomor 4 tahun 2014 Bab V Pasal 20 yaitu Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Serang, Satpol PP Kota
Serang dan Kecamatan Serang.
Pedagang Kaki Lima yang selanjutnya disingkat PKL, adalah pelaku
usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota,
fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah,
pemerintah daerah provinsi, pemerintah kota dan/atau swasta baik yang
sementara/tidak menetap (Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 Bab 1
Pasal 1). Keberadaan pedagang kaki lima sering dianggap menimbulkan
berbagai persoalan terutama terkait dengan masalah ketertiban, keamanan,
serta kebersihan. Dalam melakukan aktivitasnya, pedagang kaki lima
banyak memanfaatkan trotoar, taman kota, dan ruang publik lainnya yang
mudah untuk dijangkau masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ruang
terbuka publik yang semestinya dimanfaatkan untuk aktivitas sosial telah
berubah menjadi kawasan komersil. Rata-rata pedagang kaki lima
menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dibongkar pasang atau
dipindahkan.
Sebagaimana dijelaskan pada Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014
Bab V Pasal 20, Pemerintah Daerah yang mempunyai kewenangan dalam
mengimplementasikan Perda ini adalah SKPD yang membidangi
perdagangan dalam hal ini yaitu Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan
Koperasi (Disperindagkop) dan dibantu oleh Kecamatan Serang serta Satuan
Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mengimplementasikan Peraturan Daerah
dilakukan oleh Disperindagkop. Di satu sisi, Satpol PP membantu dalam
menegakkan aturan-aturan yang ada di dalam Perda tersebut. Kecamatan
Serang pula mendapatkan tugas dalam mencatat PKL yang ada di Kota
kebijakan dan bertujuan untuk menjadi landasan hukum yang harus
ditegakkan.
Tabel 1.1
Data Pedagang Kaki Lima di Kota Serang tahun 2017
No Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan
1 Kasemen 176 175 351
2 Serang 417 159 576
3 Cipocok Jaya 454 79 533
4 Taktakan 170 84 254
5 Walantaka 190 80 270
6 Curug 130 80 210
Jumlah 2194
Sumber : (Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota
Serang : 2017)
Berdasarkan tabel 1.1 diatas jumlah PKL di Kota Serang cukup
banyak dan beragam. Kebanyakan dari para pedagang tersebut
menggunakan trotoar atau pinggir jalan sebagai tempat mereka berjualan,
padahal seharusnya trotoar tersebut merupakan ruang publik yang
diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Tapi tidak ada jalan lain bagi para
PKL selain tetap bertahan berjualan di pinggir jalan karena belum adanya
tempat relokasi yang memadai untuk menampung para PKL di Kota Serang.
Hal ini menjadi tugas penting para Stakeholder untuk mengimplementasikan
Perda Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 terutama dari segi Penataan dan
(2) Penataan PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
cara :
a. Pendataan PKL
b. Pendaftaran PKL
c. Penempatan dan pemindahan PKL
d. Penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL ; dan
e. Peremajaan lokasi PKL
(3) Pemberdayaan PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Peningkatan kemampuan berusaha
b. Fasilitasi akses permodalan
c. Fasilitasi bantuan sarana dagang
d. Penguatan kelembagaan
e. Fasilitasi peningkatan produksi
f. Pengolahan, pengembangan jaringan dan promosi ; dan
g. Pembinaan dan bimbingan teknis
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti terkait
permasalahan penataan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang, peneliti
menemukan beberapa masalah yang berkaitan dengan belum tercapainya
sasaran seperti Pasal 4 ayat (1) dan (2) setelah melakukan observasi
Pertama, dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum
menjalankan prosedur pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus
menjamur.
Gambar 1.1
Pemberitahuan Perubahan
Sumber : Peneliti 2017
Gambar di atas diambil di Stadion Maulana Yusuf Kota Serang pada
25 September 2017 Pukul 15.11 WIB, pada saat itu sedang ada
pemberitahuan dari pihak Satpol PP kepada para PKL agar memindahkan
dagangan mereka di area lain stadion yang sudah dianjurkan.
Kedua, dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang
berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang belum
Gambar 1.2 Pedagang Kaki Lima
Sumber : Peneliti 201
Foto ini diambil di Jl. Kitapa tanggal 7 April 2018 Pukul 14.20 WIB
terlihat bahwa trotoar yang seharusnya dipakai pejalan kaki untuk berjalan
tepi digunakan untuk berjualan hal ini disebabkan sebagian jalan ini di pakai
untuk berjualan pisang.
Ketiga, dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL,
Kurangnya kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang
disediakan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Serang
pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait dalam
menerapkan sanksi kepada para PKL yang melanggar larangan yang telah
ditetapkan dalam Perda Kota Serang No. 4 tahun 2014.
Keempat dari segi pemberdayaan, kurangnya upaya pemberdayaan
dari pemerintah seperti yang tertuang dalam Perda Kota Serang No 4 Tahun
2014 terutama dalam hal peningkatan kemampuan berusaha serta
pengolahan, pengembangan dan promosi.
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah mengidentifikasi dikaitkan dengan topik,
tema, judul dan fenomena yang diteliti. Berdasarkan latar belakang yang
peneliti uraikan di atas maka identifikasi dari permasalahan yang peneliti n k t tent n “Implement si Pe tu n D e Kot Se n omo 4
tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kot Se n ” dik itk n den n Pen t n d n Pembe d y n di P s l 4 y t
(2) dan (3) adalah sebagai berikut :
1. Dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum menjalankan
prosedur pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus
menjamur.
2. Dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang
berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang
belum mendaftarkan diri, dan belum mendapat tempat usaha atau
3. Dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL, kurangnya
kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang
disediakan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota
Serang tepatnya di daerah Kepandean itu kurang strategis sehingga
mengurangi pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait
dalam menerapkan sanksi kepada para PKL yang melanggar larangan
yang telah ditetapkan dalam Perda Kota Serang No. 4 tahun 2014.
4. Dari segi pemberdayaan, kurangnya upaya pemberdayaan dari
pemerintah seperti yang tertuang dalam Perda Kota Serang No 4
Tahun 2014 terutama dalam hal peningkatan kemampuan berusaha
serta pengolahan, pengembangan dan promosi
1.3 Batasan Masalah
Untuk mempermudah penelitian, peneliti membatasi ruang lingkup
permasalahan. Hal ini dikarenakan adanya fokus penelitian, maka akan
memberikan batasan studi yang akan dilakukan, agar tidak terjebak dengan
banyaknya data yang terdapat di lapangan. Maka fokus penelitian ini adalah
Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang No 4 tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. 1.4 Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas dan dengan
memperhatikan focus penelitian yang telah disebutkan dalam batasan
Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang.
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang.
1.6 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Secara Teoritis
a. Dari segi keilmuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat dan memberikan kontribusi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan, khususnya Administrasi Negara.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan pemahaman untuk penelitian
selanjutnya.
2. Manfaat secara praktik Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan
masukan bagi pemerintah di lingkungan Dinas Perindustrian,
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik 2.1.1.1 Pengertian Kebijakan
Kebijakan merupakan suatu arahan tindakan yang diusulkan
oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu
lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan
peluang-peluang terhadap kebijakan yang diusulkan untuk
menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan
atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu
(Winarno, 2012 : 20).
Adapun makna kebijakan dalam bahasa inggris modern seperti yang dikutip oleh Wicaksono (2006 : 53) adalah “a course of action or plan, a set of political purposes as opposed to
administration” (seperangkat aksi atau rencana yang mengandung
tujuan politik yang berbeda dengan administrasi).
Pendapat lainnya menurut Federick dalam Agustino (2008 :
7), mendefinisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan atau
kegiatan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah
dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat
terhadap pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka
mencapai tujuan tertentu. Pendapat ini juga menunjukkan bahwa
ide kebijakan melibatkan perilaku yang memiliki maksud dan
tujuan yang merupakan bagian penting dari definisi kebijakan,
karena bagaimanapun kebijakan harus menunjukkan apa yang
sesungguhnya dikerjakan daripada apa yang diusulkan dalam
beberapa kegiatan pada suatu masalah.
Dari beberapa pengertian kebijakan menurut para ahli, dapat
diambil kesimpulan bahwa kebijakan adalah suatu arahan
tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau
pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu untuk mencapai
tujuan tertentu dengan mengetahui hambatan-hambatannya dalam
rangka merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu.
2.1.1.2 Pengertian Publik
Menurut Syafiie (2006 : 17), Publik merupakan serapan kata dari bahasa inggris, “public” yang bisa berarti umum, masyarakat, atau negara. Publik adalah sejumlah manusia yang
memiliki kesamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan
tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang
mereka miliki (Syafiie, 2006 : 18).
2.1.1.3 Pengertian Kebijakan Publik
Sebelum menjelaskan tentang implementasi kebijakan publik,
terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan
mengimplementasikannya. Menurut Dye dalam Nugroho (2012 : 120), “Whatever government choose to do or not to do. Public policy is what government do, why they do it, and what difference
it makes” (kebijakan publik adalah segala sesuatu yang
dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil
yang membuat sebuah kehidupan bersama tampil berbeda).
Pengertian lain menurut Eyestone dalam Wachab (2012 : 13), kebijakan publik adalah, “The relationship of governmental unit to its environment”, (Hubungan yang berlangsung di antara
unit/satuan pemerintah dengan lingkungannya).
Adapun menurut Anderson dalam Tangkilisan (2003 : 2),
kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh
badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah dimana implikasinya
dari kebijakan itu adalah: kebijakan publik memiliki tujuan
tertentu, berisi tindakan-tindakan pemerintah, merupakan hal-hal
yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah bukan apa yang
masih dimaksudkan untuk dilakukan, bisa bersifat positif
(tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu)
dan bersifat negatif (keputusan pemerintah untuk tidak melakukan
sesuatu). Kebijakan publik yang bersifat positif setidak-tidaknya
disarankan pada peraturan perundang-undangan yang bersifat
mengikat dan memaksa. Ini artinya, Peraturan Daerah Kota
Serang No. 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan
dari kebijakan public yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota
Serang dalam rangka memecahkan permasalahan Pedagang Kaki
Lima (PKL).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan
yang dibangun oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah
yang berisi tindakan-tindakan yang memiliki tujuan tertentu.
2.1.2 Pengertian Implementasi Kebijakan Publik
Lester dan Stewart dalam Winarno (2007 : 101-102),
menjelaskan bahwa implementasi kebijakan dipandang dalam
pengertian luas merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai
aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama
untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang
diinginkan.
Mazmanian dan Sabatier (Agustino, 2006 : 139), implementasi
kebijakan ialah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya
dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk
perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau
keputusan badan peradilan. Keputusan tersebut mengidentifikasikan
masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau
sasaran yang ingin dicapai dan berbagai cara untuk menstrukturkan
atau mengatur proses implementasinya.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa,
dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula
berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang
penting untuk mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi guna
meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.
2.1.3 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik
Dalam literatur ilmu kebijakan, terdapat beberapa model
implementasi kebijakan publik yang lazim dipergunakan. Beberapa
model implementasi kebijakan menurut para ahli antara
lainImplementasi Kebijakan Model Merille S. Grindle, Implementasi
Kebijakan Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn,
Implementasi Kebijakan George C. Edward III, dan Implementasi
Kebijakan Model Mazmanian dan Sabatier.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori model
implementasi kebijakan publik yang dikembangkan oleh Merille S.
Grindle, karena dianggap relevan dengan materi pembahasan dari
objek yang diteliti.Hal ini bukan berarti bahwa peneliti menjustifikasi
teori-teori lain tidak relevan dengan perkembangan teori implementasi
kebijakan publik, melainkan lebih kepada mengarahkan peneliti agar
lebih focus terhadap variabel-variabel yang dikaji melalui penelitian
ini.Identifikasi masalah yang ditemukan sesuai jika dikaji dengan
menggunakan pendekatan Model Merille S. Grindle.
1. Implementasi Kebijakan Model Merille S. Grindle
Menurut Grindle dalam Ali dkk (2012 : 96), Implementasi
implementasinya. Kedua hal tersebut harus didukung oleh
program aksi dan proyek individu yang didesain dan dibiayai
bedasarkan tujuan kebijakan, sehingga dalam pelaksaan kegiatan
akan meberikan hasil berupa dampak pada masyarakat individu
maupun kelompok serta perubahan dan penerima oleh masyarakat
terhadap kebijakan yang dilaksanakan. Indikator isi kebijakan
menurut Grindle :
1. Kepentingan yang dipengaruhi
Yaitu berkaitan dengan berbagai kepentingan yang
mempengaruhi suatu implementasi kebijakan. Dalam
indikator ini berargumen bahwa Implementasi Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima melibatkan banyak
kepentingan dan sejauhmana kepentingan-kepentingan
tersebut membawa pengaruh implementasi.
2. Tipe manfaat
Yaitu untuk menjelaskan dan menunjukan bahwa
dalam suatu kebijakan terdapat beberapa jenis manfaat yang
menunjuk dampak positif yang dihasilkan oleh
pengimplementasian suatu kebijakan. Dalam hal ini artinya
Implementasi Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki
Lima diharapkan dapat memberikan manfaat secara
langsung bagi para pedagang yang terkena dampak
3. Derajat perubahan yang diharapkan
Yaitu setiap kebijakan mempunyai target yang hendak
dan ingin dicapai dan seberapa besar perubahan yang ingin
dicapai ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam indikator ini peneliti ingin
mengetahui seberapa jauh targer Implementasi Penataan
dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang,
terkait dengan relokasi serta cara pemberdayaan yang
diberikan kepada pedagang kaki lima apakah mampu
meningkatkan kesejahteraan mereka.
4. Letak pengambilan keputusan
Yaitu pengambilan keputusan dalam suatu kebijakan
memegang peranan penting dalam pelaksanaan suatu
kebijakan. Dalam hal ini, ditinjau lebih jauh mengenai letak
pengambilan keputusan dalam menentukan pengambilan
keputusan dalam jumlah kuota pedagang kaki lima yang
akan di relokasi serta pemberdayaan apasaja yang sesuai
dengan kebutuhan pedagang untuk mencai keuntung bagi
mereka.
5. Pelaksana program
Yaitu dalam menjalankan suatu kebijakan atau
program harus didukung dngan adanya alas an pelaksana
suatu kebijakan. Dalam hal ini diharapkan seluruh jajaran
pelaksana program mampu menjalankan tugas yang optimal
6. Sumber daya yang dilibatkan
Yaitu pelaksana suatu kebijakan yang harus didukung
dengan adanya sumberdaya-sumberdaya yang mendukung
suatu kebijakan, terutama sumberdaya manusia yang
berperan penting terhadap kinerja dari suatu implementasi
kebijakan. Dalam ini berkaitan dengan poin 4 yang
dijelaskan di atas, serta adanya dukungan sumberdaya
lainnya.
Sementara itu dari isi yang mencakup hal-hal yang diatas
terdapat konteks implementasinya adalah sebagai berikut :
1. Kekuasaan, Strategi aktor yang terlibat
Yaitu dalam suatu kebijkan perlu diperhitungkan pula
kekuatan atau kekuasaan kepentingan serta strategi yang
digunakan oleh para aktor yang terlibat guna mempelancar
jalannya pelaksanaan suatu implementasi kebijakan.
Diharapkan dalam Implementasi Penataan dan Pemberdayaan
Pedagang Kaki Lima di Kota Serang, seluruh pelaksana
mampu memberikan solusi yang digunakan untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan yang ditentukan di lapangan.
2. Karakteristik lembaga dan penguasa
keberhasilannya. Makan pada bagian ini akan dijelaskan
karakteristik Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan
Kota Serang sebagai suatu lembaga yang turut mempengaruhi
suatu kebijakan.
3. Kepatutan daya tanggap
Yaitu sejauhmana kepatuhan dan respon dari pelaksana
dalam menanggapi suatu kebijakan, hal ini berkaitan erat
dengan tercapainya kinerja pelaksana yang optimal.
Berkaitan pemindahan dan pemberian bekal kepada pedagang
kaki lima tersebut, diharapkan tidak terjadinya penyimpangan
oleh petugas.
2. Implementasi Kebijakan Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn
Model pendekatan top-down yang dirumuskan oleh
Donald Van Metter dan Carl Van Horn disebut juga dengan A
Model of The Policy Implementation. Menurut Agustino (2008 :
141), proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau
performansi suatu implementasi kebijakan yang pada dasarnya
sengaja bertujuan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan
publik yang tinggi yang dalam hubungan berbagai variabel.
Menurut Van Metter dan Van Horn dalam Agustino (2008
: 142), ada enam variabel yang mempengaruhi kinerja kebijakan
1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan
Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat
keberhasilannya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan
memang realistis dengan sosio-kultur yang ada di level
pelaksana kebijakan.
2. Sumberdaya
Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat
tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumberdaya,
dan manusia adalah sumberdaya terpenting. Tahap-tahap
tertentu dari keseluruhan proses implementasi menuntut
adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai
dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang
telah ditetapkan secara politik.
3. Karakteristik Agen Pelaksana
Agen pelaksana meliputi organisasi formal dan
organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian
kebijakan publik. Hal ini sangat penting karena kinerja
implementasi kebijakan publik akan sangat banyak
dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan
para agen pelaksananya.
4. Sikap/Kecenderungan (Disposition) para Pelaksana
Sikap penerimaan atau penolakan dari (agen)
pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan
5. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana
Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh,
karena semakin baik koordinasi komunikasi diaantara
pihak-pihak yang terlibat suatu proses implementasi, maka
asumsinya kesalahan akan sangat kecil terjadi.
6. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik
Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak
kondusif dapat menjadi bang keladi dari kegagalan kinerja
implementasi kebijakan.
Karenanya upaya mengimplementasikan kebijakan
harus pula memperhatikan kekondusifan kondisi
lingkungan eksternal.
3. Implementasi Kebijakan Model George C. Edward III
Model implementasi kebijakan yang berperspektif
top-down dirumuskan oleh George C. Edward III dalam Agustino
(2008 : 149) yang dinamakan dengan Direct and Indirect Impact
Implementation. Dalam pendekatannya, implementasi ini
menggunakan empat variabel yang dianggap menentukan
keberhasilan implementasi suatu kebijakan, yaitu :
1. Komunikasi
Variabel pertama yang mempengaruhi keberhasilan
implementasi suatu kebijakan menurut George C. Edward
sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan publik.
2. Sumberdaya
Sumberdaya merupakan hal penting lainnya, menurut
George C. Edward III dalam mengimplementasikan
kebijakan. Indikator sumberdaya terdiri dari beberapa
elemen, yaitu (a) staff, (b) informasi, (c) wewenang, (d)
fasilitas.
3. Disposisi
Disposisi atau sikap para pelaksana akan
menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap
implementasi kebijakan bila personil yang ada tidak
melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh
pejabat-pejabat tinggi.
4. Struktur Birokrasi
Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya
kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak
kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan
menyebagiankan sumberdaya-sumberdaya menjadi tidak
efektif dan menghambat jalannya kebaikan.
4. Implementasi Kebijakan Model Mazmanian dan Sabatier Dalam Nugroho (2011 : 629), dijelaskan bahwa model ini
dikembangkan oleh Daniel Mazmanian dan Paul A. Sabatier
melaksanakan keputusan kebijakan. Model Mazmanian dan
Sabatier disebut sebagai model Kerangka Analisis Implementasi
(A Framework From Implementation Analysis).Mazmanian dan
Sabatier mengklasifikasikan implementasi kebijakan ke dalam
tiga variabel.
Pertama, variabel independen, mudah tidaknya masalah
dikendalikan yang berkenaan dengan indikator masalah teori dan
teknis pelaksana, keragaman objek, dan seperti apa yang
dikehendaki.
Kedua, variabel Intervening, yaitu variabel kemampuan
kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi dengan
indikator kejelasan dan konsistensi tujuan, dipergunakannya teori
kasual, ketepatan alokasi sumber dana, keterpaduan hirarki
diantara lembaga pelaksana, aturan pelaksana dari lembaga
pelaksana, dan perekrutan pejabat pelaksana dan keterbukaan
kepada pihak luar, dan variabel di luar kebijakan yang
mempengaruhi proses implementasi yang berkenaan dengan
indikator kondisi sosio-ekonomi dan teknologi, dukungan publik,
sikap dan risorsis konsituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi,
dan komitmen dan kualitas kepemimpinan dari para pejabat
pelaksana.
Ketiga, variabel independen, yaitu tahapan dalam proses
implementasi dengan lima tahapan pemahaman dari
pelaksana, kepatuhan objek, hasil nyata, penerimaan atas hasil
nyata tersebut, dan pada akhirnya mengarah pada revisi atau
kebijakan yang dibuat atau dilaksanakan tersebut ataupun
keseluruhan kebijakan yang bersifat mendasar.
2.1.4 Konsep Pedagang Kaki Lima (PKL)
Ada beberapa asal-usul penyebutan istilah PKL, salah satunya
dari trotoar buatan Belanda yang luasnya 1,5 meter (lima kaki).
Menurut seorang tokoh Indonesianis bernama Williamm Liddle,
aturan trotoar lima kaki justru berasal dari bahasa inggris, five foot
(lima kaki). Sementara menurut sumber lain, istilah PKL adalah untuk
menyebut pedagang yang menggunakan gerobak beroda. Jika roda
gerobak ditambahkan dengan kaki pedagang, maka berjumlah lima,
maka disebutlah pedagang kaki lima atau PKL (Permadi, 2007 : 3-4).
Sementara dalam Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014
dijelaskan bahwa pedagang kaki lima (PKL) adalah pelaku usaha yang
melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha
bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota,
fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah,
pemerintah daerah provinsi, pemerintah kota dan/atau swasta baik
yang sementara/tidak menetap.
2.1.4.1 Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima
Menurut Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 Pasal
1, Penataan Pedagang Kaki Lima adalah upaya yang
binaan untuk melakukan penetapan, pemindahan, penertiban
dan penghapusan Lokasi PKL dengan memperhatikan
kepentingan umum, sosial, estetika, kesehatan, ekonomi,
keamanan, ketertiban, kebersihan lingkungan dan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima adalah upaya yang
dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha
dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan
iklim usaha dan pengembangan usaha terhadap PKL sehingga
mampu tumbuh dan berkembang baik kualitas maupun
kuantitas usahanya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, maka berikut ini peneliti
akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu
yang kurang lebih membahas topik yang relevan dengan peneliti yaitu
tentang Kebijakan yang mengatur mengenai Pedagang Kaki Lima (PKL).
Adapun hasil penelitian terdahulu tersebut yaitu :
Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Ira Fitri tahun 2015 yang berjudul “Implementasi Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus Pada Pasar Pagi Kota Samarinda)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis Implementasi Peraturan Daerah Kota
Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan
menganalisis faktor penghambat Implementasi Peraturan Daerah Kota
Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan
Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Samarinda. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif serta menggunakan
teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Adapun hasil penelitian ini adalah Implementasi Peraturan Daerah
Kota Samarinda Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Pengaturan dan Pembinaan
Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Samarinda masih belum optimal karena
belum adanya penyediaan sarana dan prasarana oleh pemerintah Kota
Samarinda khususnya Dinas Pasar Kota Samarinda serta masih belum
optimalnya penerapan sidak pasar yang dilakukan pemerintah Kota
Samarinda melalui Satpol PP karena saat sidak pasar berlangsung banyak
PKL yang sudah tau dan menghindari sidak dengan tidak berjualan pada
hari itu.
Adapun relevansi penelitian di atas dengan penelitian peneliti yang
berjudul Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014
tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang
adalah terletak pada persamaan objek yang diteliti yaitu Peraturan Daerah
mengenai Pedangang Kaki Lima,serta terdapat persamaan lain yaitu pada
penggunaan metode penelitian yaitu kualitatif. Adapun perbedaanya adalah
penelitian di atas hanya mengambil studi kasus di satu tempat saja yaitu
Pedagang Kaki Lima di Pasar Pagi Kota Samarinda, sedangkan peneliti
2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian
Kerangka berfikir merupakan alur pemikiran dalam penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui sudut pandang peneliti dalam menjelaskan
permasalahan penenlitian. Penelitian mengenai Implementasi tentang
Penataan dan Pemberdayaan ini dirasa masih banyak menemukan
permasalahan yaitu; (1) Kurangnya Kesadaran PKL dalam relokasi yang
diberikan (2) Kurang tegasnya lembaga terkait dalam menerapkan sanksi
kepada para PKL yang melanggar larangan yang telah ditetapkan dalam
Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 (3) Kurangnya sosialisasi
menyeluruh kepada berbagai elemen masyarakat mengenai Perda Kota
Serang Nomor 4 tahun 2014 (4) Kurangnya kordinasi antara dinas terkait,
Selanjutnya permasalah-permasalahan tersebut peneliti jadikan
sebagai input dalam proses penelitian. Kemudian dalam proses analisis
permasalahan tersebut penelitian menggunakan Grindle dalam Ali dkk
(2012 : 96) yang membagai implementasi kebijakan menjadi 2 bagian,
yaitu:
1. Isi Kebijakan
a. Kepentingan yang dipengaruhi
b. Tipe manfaat
c. Derajat perubahan yang diharapkan
d. Letak pengambilan keputusan.
e. Pelaksana program.
2. Sementara itu dari isi yang mencakup hal-hal yang di atas terdapat
konteks implementasinya adalah sebagai berikut :
a. Kekuasaan, strategi aktor yang terlibat
b. Karakteristik lembaga dan penguasa.
Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan
Pedagang Kaki Lima di Kota Serang
Masalah-masalah yang diidentifikasi berdasarkan observasi awal : 1. Dari segi pendaftaran, masih banyak PKL yang belum menjalankan prosedur
pendaftaran PKL, sehingga PKL di Kota Serang terus menjamur.
2. Dari segi penempatan dan pemindahan PKL, banyak PKL yang berjualan di tempat yang tidak semestinya, karena banyak PKL yang belum mendaftarkan diri, dan belum mendapat tempat usaha atau TDU yang jelas.
3. Dari segi penetapan lokasi dan penghapusan lokasi PKL, kurangnya kesadaran para PKL yang menilai bahwa tempat relokasi yang disediakan Disperindagkop Kota Serang tepatnya di daerah Kepandean itu kurang strategis sehingga mengurangi pendapatan mereka, dan kurang tegasnya lembaga terkait dalam menerapkan sanksi kepada para PKL.
4. Dari segi peningkatan kemampuan berusaha, dari segi ini belum adanya bimbingan dan pelatihan khusus dari pemerintah kepada para PKL untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha.
Model implementasi Merille S. Grindel dalam Ali dkk (2012:96),
Isi Kebijakan : Konteks implementasi
1. Kepentingan yang dipengaruhi 1. Kekuasaan, strategi aktor terlibat 2. Tipe manfaat 2. Karakteristik lembaga penguasa 3. Derajat perubahan 3. Kepatuhan daya tanggap
4. Letak pengambilan keputusan 5. Pelaksana program
6. Sumber daya yang dilibatkan
Output Penelitian : Memahami persoalan dalam
Implementasi Perda Kota Serang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang
Adapun kerangka berfikir dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian
Menurut Sugiyono (2012 : 6), metode penelitian pendidikan dapat
diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan
tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan
tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,
memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
Adapun pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality
atau hal yang terpenting dan sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari
suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna
dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu
pengembangan konsep teori. Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti
ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan
yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu
resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam,
karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara
suatu budaya, model fisik suatu artifak dan lain sebagainya (Satori dan
Pendapat lain menurut Moleong (2013 : 6), metode penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskriptif
dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
3.2 Fokus Penelitian
Agar penelitian lebih terstruktur dan sistematis, maka ruang lingkup
penelitian difokuskan pada Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang
Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki
Lima di Kota Serang.
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian dilakukan. Dengan
ditetapkannya lokasi penelitian maka peneliti akan lebih mudah melakukan
penelitian karena objek dan tujuan sudah ditetapkan.
Adapun lokasi penelitian yang dipilih peneliti adalah Kota Serang.
Alasan kenapa memilih Kota Serang adalah karena Kota Serang merupakan
salah satu Kota yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di
Propinsi Banten, sehingga di Kota Serang banyak terdapat Pedagang Kaki
Lima (PKL). Dan ironisnya, banyak PKL di Kota Serang yang dalam
kegiatannya banyak melanggar ketentuan sehingga hal inilah yang
3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Definisi Konsep
Definisi konseptual digunakan untuk menegaskan
konsep-konsep yang digunakan supaya tidak menjadi perbedaan penafsiran
antara penulis dan pembaca. Konsep yang digunakan adalah
menggunakan teori model Implementasi Kebijakan Publik yang
dikemukakan oleh Merille S. Grindle dalam Ali dkk (2012 : 96)
yang membagi implementasi kebijakan menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Isi Kebijakan
a. Kepentingan yang dipengaruhi
b. Tipe manfaat
c. Derajat perubahan yang diharapkan
d. Letak pengambilan keputusan.
e. Pelaksana program.
f. Sumber daya yang dilibatkan
2. konteks implementasinya.
1. Kekuasaan, strategi aktor yang terlibat
2. Karakteristik lembaga dan penguasa.
3.4.2 Definisi Operasional
Pada penelitian Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang
Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang
Kaki Lima di Kota Serang, teori yang digunakan adalah teori
Implementasi menurut Merille S. Grindle karena paling tepat untuk
menjawab pertanyaan rumusan masalah. Berikut rincian dari dimensi
dan indikator yang digunakan, yaitu :
Tabel 3.1
Pedoman Wawancara Penelitian
Indikator Sub Indikator Pertanyaan Kode
Informan Isi Kebijakan Kepentingan yang
Karakteristik
menjadi instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti
kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan.
Peneliti kualitatif sebagai Human Instrument,berfungsi menetapkan fokus
data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat
kesimpulan atas temuannya.
Dalam penelitian ini, yang memjadi data primer adalah data yang
berupa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati dari hasil
wawancara dan observasi. Sedangkan data-data sekunder yang didapatkan
berupa dokumen tertulis. Adapun alat-alat tambahan yang digunakan dalam
pengumpulan data antara lain: paduan wawancara, alat perekam, dan buku
catatan.
3.6 Informan Penelitian
Informan penelitian merupakan sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini. Adapun teknik pengambilan data dari informan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive, yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, dan teknik ini cocok
digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak
melakukan generalisasi (Sugiyono, 2012 : 124).
Untuk mengetahui informan dalam penelitian ini, maka berikut ini
akan diuraikan daftar informan yang berkaitan dalam penelitian ini yaitu
Tabel 3.2
Daftar Informan Penelitian
No Informan Keterangan
Instansi Pemerintah
1. Kasi Pengelolaan dan Pengembangan Pasar Disperindagkop Kota Serang (Sebagai stakeholder)
2. Kepala UPTD Pasar Disperindagkop Kota
Serang. (Sebagai stakeholder)
3. Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kota Serang (Sebagai stakeholder)
4. Kasi Trantib Kec. Serang (Sebagai stakeholder)
5. Kasi Trantib Kec. Cipocok Jaya. (Sebagai stakeholder)
6. Kasi Trantib Kec. Curug (Sebagai stakeholder) 7. Sekretaris Camat Kec. Taktakan. (Sebagai
stakeholder)
8. Kasi Ekonomi Pembangunan Kec. Kasemen. (Sebagai stakeholder)
9. Kasi Trantib Kec. Walantaka. (Sebagai stakeholder)
Masyarakat
1. Pedagang Kaki Lima (yang berdampak langsung)
2. Pengguna Jalan Raya (sebagai penakai trotoar )
3. Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Kota Serang
Secondary
Informan
(Sumber : Peneliti, 2017)
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Fase terpenting dari penelitian adalah pengumpulan data.
Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah adalah prosedur yang sistematis
untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitan kualitatif teknik
pengumpulan data dapat dilakukan melalui setting dari berbagai sumber,
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam
penelitian ini antara lain :
1. Observasi
Observasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti
pengamatan atau peninjauan secara cermat. Observasi adalah
pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus
dikumpulkan dalam penelitian (Satori dan Komariah, 2009 : 104-105).
Dalam penelitian ini, observasi yang digunakan peneliti adalah
observasi non partisipatif, yaitu observasi yang dilakukan dimana si
peneliti mengamati perilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan
subjek yang sedang diteliti (Satori dan Komariah, 2009 : 119). Jadi
dapat dikatakan bahwa peneliti melakukan pengamatan tanpa harus
menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati.
2. Wawancara
Menurut Esterberg (2002) dalam Sugiyono (2012 : 317)
wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar
informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat
dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Adapun
wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
wawancara bertahap, yaitu wawancara yang mana peneliti
melakukannya dengan sengaja datang berdasarkan jadwal yang
ditetapkan sendiri untuk melakukan wawancara dengan informan dan
mendalam dengan merujuk pada pokok-pokok wawancara (Satori dan
Komariah, 2009 : 131). Dalam hal ini peneliti menentukan orang atau
badan yang akan di wawancara adalah orang yang terkait langsung
serta bersentuhan langsung dengan perda, seperti pedagang kaki lima
serta pemilik rumah yang halaman atau depan rumah mereka di
tempati oleh pedagang atau masyarakat lainnya yang terkena dampak
dari penataan yang anjurkan dinas terkait dan juga berapa lama
penjual tersebut membuka usaha tersebut.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang. (Sugiyono, 2012 : 329).
Dengan teknik dokumentasi, peneliti dapat memperoleh
informasi bukan dari orang sebagai narasumber, tetapi mereka
memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari
dokumen yang ada pada informan dalam bentuk peninggalan budaya,
karya seni, dan karya pikir. Studi dokumen dalam penelitian kualitatif
merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan
wawancara. Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan
data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah
secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah keperayaan
dan pembuktian suatu kejadian (Satori dan Komariah, 2009 :
dilapangan yang terkait dengan perda serta menampilkan isi dari
peraturan daerah
3.8 Teknik Analisis Data
Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2013 : 248) analisis data
kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, menistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat
diceritakan kepada orang lain.
Adapun teknik analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian
ini adalah teknik analisis data Model Miles and Huberman (Sugiyono, 2012
: 337) sebagai berikut :
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan
membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah
direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data (Data Display)
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan
kualitatif adalah dengan teks yang berbentuk naratif”. Dengan
mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa
yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang
telah difahami tersebut.
3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)
Langkah akhir dalam analisis data kualitatif menurut Miles and
Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan
awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah
bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Tapi apabila kesimpulan yang
dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid
dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data,
maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang
kredibel.
3.9 Uji Keabsahan Data
Suatu penelitian harus mengandung nilai terpercaya dan peneliti harus
mampu mempertanggungjawabkan penelitiannya, untuk itu digunakan uji
keabsahan data. Menurut Sugiyono (2012 : 366) terdapat 4 macam uji
keabsahan data dalam penelitian kualitatif yaitu meliputi uji credibility
(validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability
(reliabilitas), dan confirmability (obyektifitas). Adapun dalam penelitian ini,
peneliti hanya menggunakan uji credibility yang dilakukan melalui dua
teknik pemeriksaan, yaitu triangulasi dan member check.
Dalam pengujian kredibilitas triangulasi ini diartikan sebagai
pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan
berbagai waktu.
1) Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa
sumber.
2) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan
teknik yang berbeda.
3) Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu untuk menguji kredibilitas data dilakukan
melalui pengecekan data dengan waktu dan situasi yang berbeda
dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan
kepastian datanya.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan triangulasi
sumber dan triangulasi teknik.
2. Mengadakan Member Check
Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh
peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk
mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang
oleh para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin
kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan
berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka
peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila
perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan
harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
3.10 Jadwal Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti bagaimana Implementasi
Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 4 tahun 2014 tentang Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Serang. Adapun waktu