KINERJA PRODUKSI IKAN SIDAT
Anguilla bicolor bicolor
BERUKURAN AWAL 3 GRAM PADA SISTEM RESIRKULASI
DENGAN SALINITAS BERBEDA
ASIH MAKARTI MUKTITAMA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul “Kinerja Produksi Ikan Sidat Anguilla bicolor bicolor Berukuran Awal 3 gram pada Sistem Resirkulasi dengan Salinitas Berbeda” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2017
RINGKASAN
ASIH MAKARTI MUKTITAMA. Kinerja Produksi Ikan Sidat Anguilla bicolor bicolor Berukuran Awal 3 gram pada Sistem Resirkulasi dengan Salinitas Berbeda. Dibimbing oleh TATAG BUDIARDI dan KUKUH NIRMALA.
Ikan sidat Anguilla bicolor bicolor merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar internasional, terutama di negara Asia, Eropa, Amerika, dan Australia mencapai 250 000 ton/tahun. Namun demikian hanya 16.8% dari permintaan pasar global yakni 130 000 ton/ tahun yang baru mampu dipenuhi. Pemenuhan permintaan ini berasal dari hasil tangkapan dan budidaya. Perairan Indonesia yang terdiri dari sungai dan laut memiliki potensi yang cukup besar bagi penyebaran ikan sidat. Kondisi ini sesuai dengan sidat yang bersifat katadromus yaitu ikan sidat dewasa akan melakukan migrasi ke laut untuk melakukan pemijahan, sedangkan larva ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar. Kesesuaian antara sifat ikan sidat dengan kondisi perairan Indonesia sangat mendukung pengembangan kegiatan budidaya ikan sidat di Indonesia.
Pada budidaya ikan sidat masih terdapat banyak kendala, antara lain berupa mortalitas yang cukup tinggi pada benih. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan adaptasi benih terhadap lingkungan budidaya. Oleh karena itu diperlukan upaya pengelolaan kualitas air agar optimum bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan sidat. Salah satu faktor kualitas air tersebut adalah salinitas yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan, laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan salinitas optimal yang dapat menghasilkan kinerja produksi terbaik pada pendederan ikan sidat A. bicolor bicolor melalui kajian fisiologis. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan budidaya ikan sidat.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan tingkat salinitas yang masing masing diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan tersebut yaitu salinitas 0 g L-1, salinitas 10 g L-1, salinitas 20 g L-1, dan salinitas 30 g L-1. Ikan uji yang digunakan adalah ikan sidat A. bicolor bicolor
dengan bobot rata rata 3±0.5 g. Pemeliharaan dilakukan pada akuarium berukuran 100×50×40 cm3 dengan padat tebar 4 g L-1. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 60 hari. Pakan yang diberikan berupa pakan komersil dengan kandungan protein 45%. Penyifonan air dilakukan setiap hari dan pergantian air dilakukan setiap 3 hari sekali dengan persentase 20% dari total volume air.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kisaran salinitas optimum yang dapat mendukung kinerja produksi ikan sidat A. bicolor bicolor berukuran awal 3 g ekor-1 adalah 0-10 g L-1. Nilai yang dihasilkan dari kedua perlakuan tersebut yaitu derajat kelangsungan hidup 97.11%, laju pertumbuhan mutlak biomassa 3.88–3.43 g hari-1, laju pertumbuhan spesifik biomassa 0.83–0.76 % hari-1, dan rasio konversi
pakan 2.58-3.26. Nilai terbaik untuk respons fisiologis menunjukkan kisaran nilai yaitu gradien osmotik 0.34–0.43 mOsm L-1, tingkat konsumsi oksigen 0.67–0.71
mgO2 g-1 jam-1, kortisol 33.13––35.95 nmol L-1, dan kadar glukosa darah 31.63–
oksigen terlarut 3.9‒6.6 mg L-1, nitrit 0.00‒0.51 mg L-1, dan amonia 0.0000‒0.0106
mg L-1. Kisaran salinitas optimum yang dapat mendukung kinerja produksi ikan sidat A. bicolor bicolor berukuran awal 3 g adalah 0‒10 g L-1.
SUMMARY
ASIH MAKARTI MUKTITAMA. Production Performance of Eel Anguilla bicolor bicolor with Initial Size 3 gram in Recirculating System at Different Salinity. Supervised by TATAG BUDIARDI and KUKUH NIRMALA.
Eels Anguilla bicolor bicolor are one of many aquaculture commodities with high economic value. Its demand, internationally, mainly in Asian, European, American and Australian market has reached up to 250 000 ton/ year. However, only 16.8% of global market demand which is 130 000 ton/ year that could be supplied from capture fisheries and aquaculture. Indonesian water which is consisted of rivers and oceans has considerably high potency for the reproduction of eel. This condition supports eel reproductive behavior which is catadromous, that matured eel will migrate to the ocean to spawn, and the offspring will swim back to the freshwater area. The compatibility of eel reproductive behavior with Indonesian water environment highly supports the development of eel farming in Indonesia.
There are still challenges to face in eel farming, including high mortality of the off spring. This was caused by its low ability to adapt farming environment. Therefore, a good water quality management was required to obtain optimum water condition for growth and survival of the eel. One of mostly defining factors of water quality management was salinity which highly affects feed consumption, growth rate, and survivability, directly or indirectly. The purpose of this research was to determine optimum salinity that could support better production performance in eel A. bicolor bicolor farming through physiological studies. The results of this research could be a reference on the development of eel farming.
This research was started from April to June 2016. Experimental design applied in this research was completely randomized design (RAL) with four replications of salinity level, each replicated three times. Treatments consisted of the following level of salinities: 0 g L-1, 10 g L-1, 20 g L-1, and 30 g L-1. Eel A. bicolor bicolor with average weight of 3±0.5 g was used as sample. Rearing was performed in 100×50×40 cm3 sized aquarium with stocking density of 4 g.L-1. Rearing was conducted for 60 days. Eels were fed using feed which contains 45% of protein. Syphoning performed daily and water exchange was performed every 3 days at 20% of total water volume.
The results showed that optimum salinity range which could support production performance of eel A. bicolor bicolor sized 3 g individual-1 was 0–10 g
L-1. Value resulted from both treatments were 97.11% of survival rate, absolute biomass growth of 3.88–3.43 g day-1, specific biomass growth of 0.83–0.76 % day
-1, and feed conversion ratio 2.58‒3.26. The following range of values indicates the
best result for physiological responses: osmotic gradient 0.34-0.43 mOsm L-1,
oxygen consumption rate 0.67–0.71 mgO2 g-1 hour-1 , cortisol rate 33.13––35.95
nmol L-1 and blood glucose level 31.63–35.15 mg dL-1. Water quality during maintenance was considered within the optimum range of water quality for eel farming with temperature 28.6‒30.5 oC, pH 6.0‒8.0, dissolved oxygen 3.9–6.6 mg
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2017
Hak
Cipta Dilindungi Undang‒Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
KINERJA PRODUKSI IKAN SIDAT
Anguilla bicolor bicolor
BERUKURAN AWAL 3 GRAM PADA SISTEM RESIRKULASI
DENGAN SALINITAS BERBEDA
ASIH MAKARTI MUKTITAMA
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Akuakultur
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia dan berkah‒Nya sehingga serangkaian karya ilmiah yang berjudul “Kinerja Produksi Ikan Sidat Anguilla bicolor bicolor Berukuran Awal 3 grampada Sistem Resirkulasi dengan Salinitas Berbeda” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Terima kasih penulis ucapkan dengan hormat kepada Dr Ir Tatag Budiardi, M.Si serta Dr Ir Kukuh Nirmala, M.Sc selaku pembimbing selayaknya orang tua yang telah banyak memberikan arahan dan masukan baik teknis maupun non teknis kepada penulis sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Dr Sri Nuryati, S.Pi M.Si selaku dosen penguji luar komisi serta Dr Dinamella Wahjuningrum, S.Si M.Si selaku perwakilan Program Studi Ilmu Akuakultur pada ujian tesis atas segala saran yang diberikan sehingga tesis ini menjadi lebih baik.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada ayahanda Drs H. Nurdin F Joes, MM serta ibunda Hj. Azizah Aziz S.Pd beserta keluarga besar atas segala dukungan, kesabaran, pengertian, doa dan kasih sayangnya selama penulis menjalani masa studi.Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada rekan sepenelitian begitu juga kerabat dan rekan rekan yang selama masa studi dapat menjadi motivasi dan memberikan pengaruh yang positif bagi penulis; Agasthya Kuswandi S.Pi, Yuliana Asri S.Pi M.Si, Aminatul Zahra S.Pi, Shella Marlinda S.Pi M.Si, Mufti Islam Insani S.Si, serta keluarga besar Program Studi Ilmu Akuakultur lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Ranta dan Kang Abe atas segala bantuan dan kesabaran yang diberikan selama penulis menjalani masa studi
Penelitian dan penyusunan tesis ini dapat terlaksana atas bantuan dana dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Tesis‒Disertasi. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Januari 2017
DAFTAR ISI
Pemeliharaan Ikan Uji 3
Parameter Uji 4
Derajat Kelangsungan Hidup 4
Laju Pertumbuhan Mutlak Biomassa 4
Laju Pertumbuhan Spesifik Biomassa 5
Rasio Konversi Pakan 5
Tingkat Konsumsi Oksigen 5
Kortisol 5
Gradien Osmotik 6
Glukosa Darah 6
Parameter Kualitas Air 6
DAFTAR TABEL
1 Parameter kualitas air yang diamati selama pemeliharaan 6 2 Pengukuran kinerja produksi ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada media
dengan salinitas berbeda 7
3 Parameter respons stres ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada media
dengan salinitas berbeda 8
4 Pengukuran kualitas air ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada media
dengan salinitas berbeda 9
DAFTAR LAMPIRAN
1 Prosedur pengukuran kadar kortisol tubuh 19
2 Prosedur pengukuran gradien osmotik 19
3 Prosedur pengukuran tingkat konsumsi oksigen (TKO) 20
1
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan sidat Anguilla bicolor bicolor merupakan komoditas perikanan yang
memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar internasional, terutama di negara Asia, Eropa, Amerika, dan Australia mencapai 250 000 ton/tahun (Ringuet
et al. 2002) dengan harga pada pasar internasional berkisar antara Rp180000
sampai Rp300 000/kg (FAO 2014). Harga ikan sidat di pasar lokal dengan ukuran konsumsi berkisar antara Rp120 000 sampai Rp180 000/kg (KKP 2011). Permintaan yang besar terhadap ikan ini belum terpenuhi seluruhnya. Menurut KKP (2011) hanya 16.8% dari permintaan pasar global yakni 130 000 ton/ tahun yang baru mampu dipenuhi. Pemenuhan permintaan ini berasal dari hasil tangkapan dan budidaya.
Tingginya permintaan terhadap ikan sidat dikarenakan ikan ini memiliki
kandungan yang tinggi akan protein, lemak, vitamin A, B1, B2, C, D, dan E serta
beberapa mineral lain dalam dagingnya (Rovara 2007). Suitha (2008) juga menyatakan bahwa kandungan EPA ikan sidat 1337 mg/100 g mengalahkan ikan salmon yang hanya 820 mg/100 g atau tenggiri 748 mg/100 g. Kandungan DHA ikan sidat 742 mg/100 g, lebih tinggi dari ikan salmon dan tenggiri yang hanya 492 mg/100 g dan 409 mg/100 g.
Perairan Indonesia yang terdiri dari sungai dan laut memiliki potensi yang cukup besar bagi penyebaran ikan sidat. Kondisi ini sesuai dengan sidat yang bersifat katadromus yaitu ikan sidat dewasa akan melakukan migrasi ke laut untuk melakukan pemijahan, sedangkan larva ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar. Kesesuaian antara sifat ikan sidat dengan kondisi perairan Indonesia sangat mendukung pengembangan kegiatan budidaya ikan sidat di Indonesia. Pengembangan budidaya ikan sidat sudah dimulai sejak tahun 1894 hingga sekarang (Usui 1974). Namun demikian masih terdapat banyak kendala dalam budidaya ikan sidat, antara lain berupa mortalitas yang cukup tinggi pada benih. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan adaptasi benih terhadap lingkungan budidaya. Oleh karena itu diperlukan upaya pengelolaan kualitas air agar optimum bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan sidat. Salah satu faktor kualitas air tersebut adalah salinitas yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan, laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2
(isoosmotik), menggunakan energi lebih banyak untuk pertumbuhan dan lebih sedikit untuk osmoregulasi.
Pengaruh tekanan osmotik media terhadap pertumbuhan dapat terjadi melalui
pembelanjaan budget energi yang dikonsumsi untuk osmoregulasi. Jika energi
yang digunakan tinggi, maka porsi energi untuk pertumbuhan akan berkurang. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Boeuf dan Payan (2001), bahwa gradien osmotik yang semakin rendah akibat salinitas media yang ideal dapat menambah jumlah energi yang tersedia untuk pertumbuhan.
Beberapa penelitian mengenai media bersalinitas telah dilakukan. Sutrisno (2008) telah meneliti pengaruh salinitas bagi benih ikan sidat dan menunjukkan
bahwa hasil terbaik diperoleh pada salinitas 5 g L-1 dengan tingkat kelangsungan
hidup 100% dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 2.33%. Hasil penelitian
Lamson et al. (2009) mengenai sidat amerika Anguilla rosrata ukuran 1 gram
yang dipelihara di air laut menghasilkan pertumbuhan rata-rata panjang 2.2 kali dan pertumbuhan bobot 5.3 kali lebih cepat dari pada ikan sidat yang dipelihara di air tawar.
Perumusan Masalah
Tingginya pemintaan pasar terhadap ikan sidat masih belum sepenuhnya terpenuhi. Hal ini disebabkan banyaknya kendala dalam proses produksi seperti benih masih mengandalkan tangkapan alam, tingginya kematian benih pada fase
glass eel akibat kondisi lingkungan budidaya yang tidak optimal. Tingkat
keberhasilan budidaya ikan sidat ditentukan salah satunya oleh kualitas air. Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan, laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
Selain itu salinitas juga berpengaruh terhadap kerja osmotik ikan. Agar sel dapat bekerja dengan baik maka diperlukan mekanisme yang baik untuk keseimbangan antara ion di luar dan di dalam tubuh (Affandi dan Tang 2002). Perbedaan tingkat osmotik yang tidak sesuai akan berdampak pada pembelanjaan energi yang cukup besar untuk proses osmoregulasi. Pada kondisi demikian maka proses-proses fisiologi dalam tubuh tidak maksimal termasuk di dalamnya proses metabolisme. Energi yang diperoleh terlebih dahulu digunakan untuk proses osmoregulasi. Makin tinggi gradien osmotik maka energi yang dibutuhkan untuk osmoregulasi makin besar, sehingga pertumbuhan ikan akan menurun. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kisaran optimal yang mampu diterima oleh elver ikan sidat.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kisaran salinitas optimal yang
dapat menghasilkan kinerja produksi pada pendederan ikan sidat Anguilla bicolor
bicolor berukuran awal 3 gmelalui kajian fisiologis.
3
Jika salinitas media pemeliharaan optimal dapat mengurangi pemanfaatan energi untuk kegiatan osmoregulasi, maka energi untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan dapat ditingkatkan sehingga kinerja produksi dapat meningkat.
2 METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2016 bertempat di Laboratorium Teknik Produksi dan Manajemen Akuakultur Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Analisis osmolaritas media dan cairan tubuh dilakukan di Laboratorium Embriologi, Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Analisis kortisol dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok. Analisis kualitas air dilakukan di Laboratorium Lingkungan Akuakultur Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan tingkat salinitas yang masing masing diulang sebanyak tiga kali.
Perlakuan pertama sebagai kontrol yaitu salinitas 0 g L-1 (A), salinitas 10 g L-1 (B),
salinitas 20 g L-1 (C), dan salinitas 30 g L-1 (D).
Prosedur Penelitian
Persiapan Media
Wadah yang digunakan untuk penelitian berupa 12 akuarium bersekat dengan sistem resirkulasi internal. Sekat ini berfungsi untuk memisahkan bagian filter dan bagian untuk pemeliharaan. Dimensi akuarium yang digunakan adalah
100×50×40 cm3, dengan bagian filter berukuran 10×50×30 cm3 dan bagian
pemeliharaan adalah 90×50×40 cm3. Volume air yang digunakan untuk
pemeliharaan sejumlah 90 L. Untuk mendapatkan salinitas media yang diinginkan
dilakukan penambahan NaCl berupa garam krosok.
Media budidaya kemudian diberi aerasi untuk membantu kelarutan garam dan oksigen dalam media budidaya. Sistem resirkulasi yang telah selesai disusun kemudian dijalankan. Tandon disiapkan untuk persiapan sirkulasi air selama masa pemeliharaan. Pada sistem resirkulasi, air dari akuarium pemeliharaan masuk ke dalam filter melalui pipa serapan dan dialirkan secara gravitasi. Air yang keluar langsung memasuki media filter secara berurutan, yaitu kapas, karbon aktif, zeolit,
4
sekat penampungan air. Selanjutnya air tersebut dipompa ke dalam akuarium pemeliharaan melalui pipa pemasukan.
Pemeliharaan Ikan Uji
Benih sidat yang digunakan dalam penelitian ini memiliki ukuran bobot
3±0.5 g ekor-1 yang berasal dari pengepul sidat di daerah Cilacap, Jawa Tengah.
Benih yang baru datang diaklimatisasi terlebih dahulu pada bak tandon. Ikan dipuasakan pada hari pertama, kemudian mulai diberi pakan pada hari berikutnya. Penebaran dilakukan setelah 7 hari stabilisasi sistem resirkulasi. Bobot setiap benih sidat diukur sehingga diperoleh bobot rata-rata untuk menentukan biomassa dalam setiap perlakuan. Ikan uji dimasukkan ke dalam akuarium dengan padat
tebar 4 g L-1 per akuarium sesuai dengan Diansyah (2014) kemudian dipelihara
selama 60 hari.
Pakan komersil dengan kadar protein sebesar 45% diberikan secara at
satiation (sekenyangnya). Pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi tiga kali
sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Untuk mempertahankan kualitas air dalam media pemeliharaan dilakukan penyifonan setiap harinya dan pergantian air setiap 3 hari sekali sebanyak 20% dari total volume air. Air pergantian berasal dari masing masing tandon sesuai dengan salinitas perlakuan. Pengukuran parameter penelitian dilakukan setiap 15 hari sekali untuk parameter kinerja produksi, glukosa darah, dan kualitas air. Pengukuran tingkat kinerja osmotik, kortisol, dan tingkat konsumsi oksigen dilakukan pada awal, tengah, dan akhir penelitian.
Parameter Uji
Parameter yang diuji pada penelitian ini mencakup tiga kelompok yaitu kinerja produksi, respons stres, dan kualitas air. Kinerja produksi meliputi derajat kelangsungan hidup (DKH), laju pertumbuhan mutlak biomassa (LPMB), laju pertumbuhan spesifik biomassa (LPSB), jumlah konsumsi pakan (JKP), dan rasio konversi pakan (RKP). Respons stres meliputi gradien osmotik (GO), tingkat konsumsi oksigen (TKO), glukosa darah (GD), dan kortisol. Kualitas air meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas,alkalinitas, amonia, dan nitrit.
Derajat Kelangsungan hidup (DKH)
Derajat kelangsungan hidup yaitu tingkat perbandingan antara jumlah ikan yang hidup pada akhir dan awal pemeliharaan, dihitung dengan menggunakan rumus Goddard (1996):
Keterangan: DKH = Derajat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah ikan akhir (ekor)
N0 = Jumlah ikan awal (ekor)
5
Laju pertumbuhan mutlak biomassa dihitung berdasarkan Goddard (1996):
100
Keterangan: LPMB = Laju pertumbuhan mutlak biomassa (g hari-1)
Wt = Biomassa ikan sidat akhir (g)
Wo = Biomassa ikan sidat awal (g)
t = Waktu pemeliharaan (hari)
Laju Pertumbuhan Spesifik Biomassa (LPSB)
Laju pertumbuhan spesifik biomassa dihitung dengan cara menentukan selisih bobot rata-rata akhir dengan bobot rata-rata awal, selanjutnya dibandingkan dengan waktu pemeliharaan. Perhitungan laju pertumbuhan spesifik menggunakan rumus Huisman (1987):
LPSB=
[
√
t ŵtŵo−1
]
x100Keterangan: LPSB = Laju pertumbuhan spesifik biomassa (% hari-1)
ŵt = Biomassa ikan sidat akhir (g)
ŵo =Biomassa ikan sidat awal (g)
t = Waktu pemeliharaan (hari)
Rasio Konversi Pakan (RKP)
Rasio konversi pakan merupakan satuan yang menyatakan banyaknya pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan. Pengukuran nilai konversi pakan menggunakan rumus Goddard (1996):
Keterangan: Pa = Jumlah pakan yang diberikan
Bi = Biomassa ikan pada hari ke-i
Bo = Biomassa ikan pada hari ke-0
Bm = Biomassa ikan yang mati
6
Keterangan : TKO = tingkat konsumsi oksigen (mgO2 g-1 jam-1)
V = volume air dalam wadah (L)
OTo = konsentrasi oksigen terlarut pada awal pengamatan (mg L-1)
OTt = konsentrasi oksigen terlarut pada waktu t (mg L-1)
w = bobot ikan uji (g)
t = periode pengamatan (jam)
Kortisol
Pengukuran kortisol dilakukan dengan melakukan ekstraksi sampel yang
kemudian dilakukan pembacaan opyical density dengan menggunakan alat baca
ELISA yang diatur dengan filter berpanjang gelombang 450 nm. Prosedur lengkap tersedia pada Lampiran 1.
Y = -a Ln (x) + b
Gradien Osmotik (GO)
Untuk menghitung gradien osmotik digunakan rumus Anggoro (1992). Prosedur lengkap tersedia pada Lampiran 2.
GO (mOsm L-1 H
2O) =│ODI –OM│
Keterangan : ODI = Osmolaritas darah ikan (mOsm L-1)
OM = Osmolaritas media (mOsm L-1)
Glukosa Darah (GD)
Glukosa darah dihitung dengan metode enzimatik menggunakan tool kit
blood glucose test meter (Gluco Dr. Auto AGM 4000).‒
Parameter Kualitas Air
Tabel 1 Parameter kualitas air yang diamati selama pemeliharaan
Parameter Satuan Alat Ukur/ Metode
Salinitas g L-1 Salinorefraktometer
Suhu ˚C Termometer
pH - pH-meter
Oksigen terlarut mg L-1 DO-meter
Alkalinitas mg L-1 Titrimetri
Amonia mg L-1 Spektrofotometer
Nitrit mg L-1 Spektrofotometer
7
Analisis Data
Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2010 dan SPSS versi 21.1, yang meliputi:
1) Analisis ragam (ANOVA) dengan uji F pada selang kepercayaan 95%. Analisis ini digunakan untuk menentukan apakah perlakuan berpengaruh nyata terhadap parameter derajat kelangsungan hidup (DKH), dan laju pertumbuhan spesifik biomassa (LPSB), laju pertumbuhan mutlak biomassa (LPMB), jumlah konsumsi pakan (JKP), rasio konversi pakan (RKP), gradien osmotik (GO), tingkat konsumsi oksigen (TKO), kortisol, dan glukosa darah (GD) dan apabila berpengaruh nyata, maka dilakukan uji lanjut Tukey untuk menentukan perbedaan antar perlakuan.
2) Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menjelaskan kualitas air media selama pemeliharaan ikan sidat.
3 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 2 menunjukkan hasil kinerja produksi ikan sidat selama pemeliharaan. Hasil analisis ragam menunjukkan, bahwa perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter kinerja produksi, yaitu derajat kelangsungan hidup (DKH), laju pertumbuhan mutlak biomassa (LPMB), laju pertumbuhan spesifik biomassa (LPSB), jumlah konsumsi pakan (JKP) dan rasio
konversi pakan (RKP). Nilai DKH tertinggi pada perlakuan salinitas 0 g L-1 yang
sama dengan 10 g L-1 yaitu 97.11 %, sedangkan terendah pada perlakuan salinitas
30 g L-1. Nilai LPMB tertinggi terjadi pada perlakuan salinitas 0 g L-1 yaitu 3.88 g
hari-1 dan terendah pada perlakuan salinitas 30 g L-1yaitu 0.06 g hari-1. Nilai LPSB
tertinggi terjadi pada perlakuan salinitas 0 g L-1 yaitu 0.83 % hari-1 dan terendah
pada perlakuan salinitas 30 g L-1 yaitu 0.02 % hari-1. Nilai JKP tetinggi ada pada
perlakuan 20 g L-1 yaitu 706.95 g dan terendah pada perlakuan 30 g L-1 yaitu
365.05 g. Nilai RKP terendah terjadi pada perlakuan salinitas0 g L-1 yaitu 2.58 dan
tertinggi pada perlakuan salinitas 30 g L-1 yaitu 5.19. Secara umum terlihat bahwa
terjadi kecenderungan penurunan nilai parameter kinerja produksi dengan meningkatnya salinitas media pemeliharaan.
Tabel 2 Parameter kinerja produksi ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada
media dengan salinitas berbeda
Parameter Perlakuan salintas media (g.L-1)
0 10 20 30
Derajat
kelangsungan hidup
(%) 97.11±1.33
a 97.11±1.81a 89.11±1.36b 79.71±2.82c
8
Biomassa awal (g) 360.00±0.01a 359.00 ± 0.02a 359.33±0.01a 359.67±0.01a Biomassa akhir (g) 592.76±5.05a 565.08
±15.72b 414.78±4.65c 363.27±3.02d Bobot individu akhir
(g) 5.29±0.05a 5.03± 0.03b 4.00± 0.05c 3.91±0.12c Laju Pertumbuhan
Mutlak Biomaasa
(g hari-1) 3.88±0.07
a 3.43±0.26b 0.92±0.15c 0.06±0.04d
Laju pertumbuhan spesifik biomassa
(% hari-1) 0.83±0.01
a 0.76±0.05b 0.24±0.04c 0.02±0.01d
Jumlah konsumsi
pakan (g) 631.56±4.56b 706.95±6.99a 438.96±17.66c 365.05±34.20d Rasio konversi
pakan 2.5±0.03a 3.26±0.10b 4.63±0.28c 5.19±0.10d Angka-angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf superscript yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Tukey).
Pola pertumbuhan biomassa ikan sidat pada Gambar 1 menunjukkan, bahwa pada hari pemeliharaan ke-0 sampai hari ke-15 pada semua perlakuan menunjukkan pertambahan biomassa yang relatif kecil, yaitu hanya dua hingga delapan gram. Setelah hari pemeliharaan ke-15, biomassa ikan sidat mulai
meningkat dengan cepat pada perlakuan salinitas 0 g L-1 (A) dan 10 g L-1 (B),
sedangkan pada perlakuan salinitas 20 g L-1 (C) dan 30 g L-1 (D) relatif lambat.
0 15 30 45 60
Gambar 1 Biomassa ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada perlakuan pada
media dengan salinitas berbeda; A (0 g L-1), B (10 g L-1), C (20 g L-1),
dan D (30 g L-1)
Tabel 3 menunjukkan parameter respons stres yang diukur selama pemeliharan. Nilai tingkat konsumsi oksigen (TKO) yang didapatkan menunjukkan nilai yang berbeda nyata antar perlakuan. Nilai TKO perlakuan D
memiliki nilai tertinggi yaitu 0.78 mgO2 g-1 jam-1 dan terendah pada perlakuan A
yaitu 0.67 mgO2 g-1 jam-1. Nilai gradien osmotik (GO) menghasilkan nilai yang
9
L-1. Begitu pula dengan nilai kortisol yang tidak berbeda antar tiap perlakuan.
Nilai kortisol tiap perlakuan berkisar antara 33.13-40.62 nmol L-1. Nilai glukosa
darah menunjukkan nilai yang berbeda nyata antar perlakuan. Nilai glukosa darah
tertinggi pada perlakuan D yaitu 43.55 mg dL-1 dan terendah pada perlakuan A
yaitu 31.63 mg dL-1.
Tabel 3 Parameter respons stres ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada media
dengan salinitas berbeda
Parameter Perlakuan salintas media (g L-1)
0 10 20 30 Angka-angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf superscript yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Tukey).
Tabel 4 menunjukkan nilai kualitas air selama pemeliharaan ikan sidat selama 60 hari pada media dengan penambahan salinitas berbeda. Nilai paramter suhu, pH, oksigen terlarut, alkalinitas, amonia, dan nitrit masih dalam kisaran optimal bagi ikan sidat.
Tabel 4 Pengukuran kualitas air ikan sidat Anguilla bicolor bicolor pada media
dengan salinitas berbeda; A (0 g L-1), B (10 g L-1), C (20 g L-1), dan D
(30 g L-1)
Parameter Perlakuan salintas media (g L-1) Kisaran Optimal A (0) B (10) C (20) D (30)
Salinitas (g L-1) 0.01‒
0.92 8.92‒10.70 19.67‒20.10 29.4‒30.70 ‒ Suhu (˚C) 28.8‒
(mg L-1) 45.80‒114.50 41.22‒183.20 45.80‒187.79 50.38‒155.72 30-500 (Bhatnagar & Devi 2013) Amonia
(mg L-1) 0.0000‒0.0051 0.0000‒0.0106 0.0000‒0.0048 0.0000‒0.0050 <0.1 (Yamagata & Niwa 1982) Nitrit (mg L-1) 0.01‒
0.31 0.01‒0.45 0.26‒0.47 0.00‒0.51
<0.5 (Knosche 1994)
10
Derajat kelangsungan hidup (DKH) merupakan parameter kinerja produksi yang menggambarkan jumlah biota akuakultur yang mampu hidup dari awal hingga akhir dalam satu siklus produksi. Parameter DKH menunjukkan keberhasilan proses produksi, yaitu semakin tinggi nilai DKH, maka semakin tinggi pula nilai suatu produksi. Berdasarkan Tabel 2 yang telah dilakukan uji analisis ragam (P<0.05) dapat dilihat bahwa, tingkat salinitas yang berbeda pada media memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap nilai derajat kelangsungan hidup (DKH). Nilai DKH tertinggi ditunjukkan perlakuan A yaitu 97.11 % dan nilai terendah pada perlakuan D yaitu 79.71 %. Kematian ikan pada perlakuan D disebabkan elver ikan sidat sulit beradaptasi dengan salinitas yang terlalu tinggi. Efek yang ditimbulkan dari salinitas yang terlalu tinggi adalah banyaknya energi terbuang untuk aktivitas osmoregulasi hingga pada akhirnya ikan akan mengalami kematian akibat tidak mampu beradaptasi. Hal tersebut sesuai dengan pernyatan Affandi dan Tang (2002) bahwa dalam aktivitas meyesuaikan diri dengan lingkungan, ikan memiliki nilai toleransi dan resistensi terhadap perubahan lingkungan pada kisaran tertentu.
Selain derajat kelangsungan hidup diukur pula nilai pertumbuhan biomassa. Pertumbuhan biomassa merupakan selisih antara biomassa akhir dengan biomassa awal selama waktu pemeliharaan (Goddard 1996). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa nilai LPMB dan LPSB berbedaan nyata (P<0.05). Pertumbuhan mutlak biomassa ikan paling tinggi dihasilkan oleh
perlakuan A yaitu 3.88 g hari-1 dan nilai paling rendah pada perlakuan D yaitu
0.06 g hari-1. Hal yang sama juga terjadi pada nilai LPSB yaitu nilai tertinggi
dihasilkan oleh perlakuan A yaitu 0.83 % hari-1 dan nilai terendah pada perlakuan
D yaitu 0.02 % hari-1. Pertumbuhan ikan sidat paling optimal terjadi pada
perlakuan dengan salinitas media 0 g L-1dan maksimal pada salinitas 10 g L-1.
Penambahan salinitas media yang terlalu tinggi dapat menyebabkan ikan stres sehingga laju pertumbuhannya akan menurun. Usui (1974) menyatakan bahwa ikan sidat pada fase pertumbuhan akan beralih dari lingkungan perairan laut menuju ke perairan tawar. Dengan demikian pada perairan tawar, ikan sidat diduga lebih merasa nyaman untuk dapat tumbuh optimal.
11
jumlah pakan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan menjadi lebih sedikit dibanding perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutrisno (2008) bahwa rendahnya nilai konversi pakan mengindikasikan penggunaan energi oleh ikan untuk aktivitas hidup dan yang hilang melalui jalur ekskresi relatif kecil sehingga ikan memiliki kelebihan energi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan.
Untuk mengetahui sejauh mana kondisi nyaman ikan terhadap media budidayanya dilakukan pula uji respons stres ikan. Parameter yang diujikan meliputi gradien osmotik, tingkat konsumi oksigen, kadar kortisol, dan kadar glukosa darah. Kadar kortisol tubuh merupakan parameter yang menunjukkan tingkat stres ikan.Tingkat stres ikan merupakan indikasi ketidaknyamanan ikan terhadap media budidaya. Hal ini juga dikemukan oleh Pickering (1981), bahwa stres pada ikan dapat disebabkan oleh terjadinya perubahan pada lingkungannya.
Gradien osmotik (GO) merupakan parameter yang menggambarkan perbandingan antara tekanan osmotik di dalam tubuh ikan dengan media. Adanya perbedaan tekanan osmotik dalam tubuh dengan media menyebabkan ikan akan melakukan proses penyeimbangan kerja osmotik yang disebut osmoregulasi (Fujaya 2004). Nilai tingkat kinerja osmotik ikan selama pemeliharaan terlihat pada Tabel 3. Hasil menunjukkan bahwa nilai GO tiap perlakuan tidak perpengaruh nyata (P>0.05). Nilai GO tiap perlakuan kisar antara 0.34–0.45
mOsm L-1.
Pada kondisi stres ikan juga akan mengembangkan suatu kondisi homeostasi yaitu dengan meningkatkan aktivitas metabolismenya. Akibat dari peningkatan aktivitas metabolisme maka tingkat konsumsi oksigen juga akan semakin
meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gracia et al. (2006) bahwa tingkat
konsumsi oksigen (TKO) dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui laju metabolisme organisme air. Semakin rendah nilai TKO maka semakin sedikit energi yang digunakan untuk metabolisme sehingga semakin banyak energi yang tersedia untuk pertumbuhan. Berdasarkan Tabel 3 diketahui, bahwa nilai TKO perlakuan A adalah yang terendah dibandingkan perlakuan lainnya yaitu 0.67
mgO2 g-1 jam-1. Terkait dengan budget energi untuk metabolisme dan pertumbuhan,
rendahnya TKO pada perlakuan A memiliki pola yang cenderung sama dengan tingginya nilai LPMB. Hal ini mengindikasikan bahwa pada perlakuan A aktivitas metabolisme dan stres yang dialami lebih rendah dibanding perlakuan lain. Hal
yang sama juga dikemukan Gracia et al. (2006) dan Li et al. (2007), bahwa
semakin rendah aktivitas metabolisme serta respons stres ikan, maka akan semakin rendah pula konsumsi oksigennya.
Porchase et al. (2009) menyatakan bahwa pada saat ikan mengalami sress,
respons fisiologis pertama yang dilakukan adalah dengan mengatur mekanisme fungsi hormonal. Rangsangan atau faktor penyebab stres akan diterima oleh ikan melalui kelenjar hipothalamus kemudian kelenjar hipotalamus akan memerintahkan untuk melakukan pelepasan hormon kortisol pada jaringan
interrenal. Peningkatan kadar kortisol tubuh dapat berdampak negatif terhadap
kondisi fisiologis ikan. Barton et al. (1987) menyatakan bahwa pelepasan hormon
12
ini diketahui bahwa hasil pengukuran kortisol menunjukkan bahwa tiap perlakuan menunjukkan nilai yang homogen.
Selain pengukuran kadar kortisol dilakukan pula pengukuran kadar glukosa darah yang merupakan parameter sekunder respons stres yaitu respons fisiologis yang terjadi pada saat biota tersebut mempertahankan kondisi homeostasisnya
secara aktif terhadap perubahan (Wedemeyer 1996). Menurut Porchase et al.
(2009) kondisi stres dapat menyebabkan sel kromaffin akan melepaskan hormon katekolamin yang merupakan hormon stres yang berhubungan dengan mobilisasi kortisol dan peningkatan kadar glukosa darah.
Nilai kadar glukosa darah terendah didapatkan pada perlakuan A yaitu 31.63
mg dL-1. Hal ini menunjukkan, bahwa ikan pada perlakuan A mengalami kondisi
stres paling rendah dibanding perlakuan lain. Ikan sidat pada perlakuan D diduga megalami stres yang paling tinggi yang ditunjukkan dari tingginya kadar glukosa
darah yang dihasilkan yaitu 43.55 mg dL-1. Hal ini sesuai dengan peryataan
Affandi dan Tang (2002) bahwa pada kondisi stres, ikan akan mengalami penurunan volume darah, penurunan jumlah leukosit, penurunan glikogen hati dan peningkatan kadar glukosa darah. Kondisi stres tersebut dapat terjadi karena adanya perubahan lingkungan akibat perubahan salinitas. Hal tersebut juga sesuai
dengan pernyataan Hastuti et al. (2003) bahwa stres menyebabkan peningkatan
kadar glukosa darah melalui beberapa mekanisme yaitu glikogenolisis, glukoneogenesis, dan inaktifasi insulin. Menurut Brown (1993) pada level stres yang sangat tinggi, yaitu kadar glukosa darah yang berlebih dalam jangka panjang dapat berdampak terhadap kematian.
Diketahui bahwa semua respons stres ini saling berkaitan satu sama lain, sehingga berdampak pada laju pertumbuhan. Berdasarkan hasil respons stres menunjukkan bahwa perlakuan A mengalami kondisi paling nyaman dibanding perlakuan lainnya. Hal ini menyebabkan ikan pada perlakuan A mengalami pertumbuhan paling optimal. Pola yang sama juga ditunjukkan pada perlakuan D, hasil uji respons stres menunjukkan bahwa ikan pada perlakuan D menunjukkan kondisi stres paling tinggi yang menyebabkan energi pertumbuhan tersita untuk kelola stres.
Parameter kualitas air selama pemeliharaan juga masih dalam kisaran optimal. Hal ini dapat terlihat dari Tabel 4. Kualitas air yang baik akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. Kualitas air yang masih dalam kisaran optimal disebabkan oleh metode pengelolaan kualitas air yang tepat. Pada masing-masing akuarium dilengkapi dengan sistem resirkulasi internal, dan dilakukan penyifonan setiap harinya serta pergantian air sebanyak 20% dari total volume pemeliharaan setiap 3 hari sekali.
Sistem resirkulasi merupakan sebuah sistem yang mengalirkan air yang kotor pada wadah pemeliharaan menuju wadah filtrasi untuk disaring. Air yang telah tersaring tersebut kemudian dialirkan kembali menuju wadah pemeliharaan ikan. Sistem filtrasi air tersebut melibatkan beberapa komponen seperti filter fisik berupa kapas sintetis dan karang jahe. Filter kimia berupa zeolit dan karbon aktif,
serta filter biologis berupa bioball. Kapas sintetis berperan dalam menyaring
13
amonia dan nitrit (Supriyono et al. 2007). Bioball berperan sebagai media tempat
pelekatan mikroba (bakteri nitrifikasi) yang berperan dalam mendegradasi nitrogen ke dalam bentuk nitrat yang tidak beracun bagi ikan (Dewi dan Masithoh
2013). Hal tersebut dikuatkan oleh hasil penelitian Nurhidayat et al. (2012) bahwa
kombinasi sistem resirkulasi antara zeolit, karbon aktif dan bioball dapat
menghasilkan kualitas air yang baik melalui oksidasi amonia dan penumbuhan koloni bakteri nitrifikasi nonpatogen.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa suhu media pemeliharaan ikan sidat selama penelitian berkisar antara 28.6-30.5 ºC. Kondisi tersebut masih dalam kisaran optimal seperti yang dinyatakan Usui (1974), bahwa suhu optimal pada
media pemeliharaan ikan sidat adalah 23 31 ºC. Hal tersebut ‒ dikarenakan pada
setiap wadah pemeliharaan ikan dilengkapi dengan instalasi pemanas (heater)
yang berfungsi menjaga suhu agar tetap stabil. Suhu merupakan parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap laju metabolisme ikan. Nelson dan Knight (1977) menyatakan, bahwa suhu yang optimal dapat menunjang metabolisme dengan baik.
Oksigen terlarut selama pemeliharaan berkisar antara 3.9‒6.6 mg L-1. Nilai
tersebut masih berada dalam kisaran oprimal berdasarkan Herianti (2005) yang
menyatakan bahwa kebutuhan oksigen terlarut ikan sidat adalah diatas 3 mg L-1.
Ikan sidat tidak hanya mampu memanfaatkan oksigen terlarut dalam air saja tetapi juga mampu memanfaatkan oksigen diudara melalui kulitnya. Hal ini akan membantu ikan sidat apabila kadar oksigen terlarut dalam air menurun. Pernafasan ikan sidat sebagian besar dilakukan melalui kulit sebesar 60% dan 40% melalui insang (Usui 1974). Oksigen di perairan dibutuhkan untuk proses fisiologis tubuh dan juga membantu proses nitrifikasi aktivitas bakteri nitrifikasi. Kurangnya kadar oksigen terlarut dalam media akan berdampak terhadap hilangnya nafsu makan pada ikan. Hal tersebut kemudian mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan nutrien pada tubuh ikan sehingga pertumbuhannya menjadi lambat.
Derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan ekspresi dari konsentrasi
ion H+ yaitu keseimbangan antara asam dan basa (Saeni 1989). Nilai pH selama
pemeliharaan berkisar antara 6.0‒8.0. Nilai tersebut masih dalam kisaran optimal
sesuai dengan penyataan Ritongga (2014), yaitu pH optimal bagi ikan sidat adalah
6.0‒8.0. Nilai pH yang rendah pada perairan akan berdampak pada menurunnya
laju konsumsi oksigen, sebaliknya jika nilai pH tinggi maka akan berdampak pada
peningkatan kadar NH3 yang tidak terionisasi sehingga dapat bersifat toksik bagi
kehidupan ikan. Hal lain juga dikemukan Boyd (2000) bahwa nilai pH yang kurang dari 4 dan lebih dari 11 akan menyebabkan kematian pada ikan. Menurut
Affandi dan Tang (2002) pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim enzim yang‒
bekerja pada organ insang misalnya ATP ase, karbonie anhidrase dan Na‒ +/K+
ATP ase. Aktivitas enzim pada insang tersebut berkaitan dengan laju respirasi,‒
osmoregulasi dan ekskresi.
Alkalinitas merupakan gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam dan
basa yaitu sebagai penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH.
Berdasarakan hasil pengamatan selama penelitian, nilai alkalinitas pada media
14
Bhatnagar & Devi (2013) nilai alkalinitas selama pemeliharaan masih dalam kisaran optimal.
Nitrit (NO2-) merupakan zat terlarut dan senyawa intermediet antara NH
3
dan NO3 yang pembentukannya dipengaruhi oleh keberadaan oksigen terlarut di
perairan. Nitrit sebagai hasil oksidasi NH3 merupakan senyawa nitrogen anorganik
yang dapat membahayakan kehidupan biota bila terdapat dalam jumlah tinggi (Yamagata dan Niwa 1982). Nitrit merupakan racun dengan nilai toleransi yang
lebih besar dibandingkan dengan amonia, yaitu mencapai 0.5 mg L-1 (Knosche
1994). Selama pemiliharaan nilai nitrit berkisar antara 0.00‒0.51 mg L-1. Nilai
yang didapatkan menunjukkan bahwa selama pemeliharan nilai nitrit masih dalam kisaran optimal.
Amonia merupakan racun yang sangat berbahaya bagi ikan. Amonia yang tinggi pada perairan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan insang dan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen. Tingginya nilai amonia dalam perairan mengakibatkan penurunanan eksresi amonia dalam tubuh yang mengakibatkan akumulasi di darah dan ingsang. Hal ini menyebabkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menjadi berkurang. (Boyd 1982). Dengan demikian nilai amonia dalam media harus terkontrol guna meminimalkan racun yang mungkin ada dalam perairan. Selama pemeliharaan nilai amonia dalam
media berkisar antara 0.00‒0.10 mg L-1. Menurut Yamagata dan Niwa (1982)
kisaran normal amonia untuk pemeliharaan ikan sidat yaitu lebih kecil dari 0.1 mg L-1.
Berdasarkan hasil penelitian ini dengan berbagai parameter pengamatan dapat diketahui bahwa penambahan salinitas kedalam media yang optimum untuk
mendukung kinerja produksi pendederan ikan sidat adalah 0‒10 g L-1.
4
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Kisaran salinitas optimum yang dapat mendukung kinerja produksi ikan
15
Saran
Ikan sidat berukuran awal 3 g sebaiknya dipelihara pada media bersalinitas
0 g L-1. Pemeliharaan ikan sidat maksimum pada media bersalinitas 10 g L-1.
Diperlukan suatu kajian yang lebih spesifik mengenai kinerja produksi ikan sidat
pada media bersalinitas dengan interval yang lebih kecil, yaitu 0 g L-1, 2 g L-1, 4 g
L-1, 6 g L-1, dan 8 g L-1.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi R, Tang M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Jakarta (ID): Unri Press.
Anggoro S. 1992. Efek osmotik berbagai tingkat salinitas media terhadap daya
tetas telur dan vitalitas larva udang windu Penaeus monodon Fabricius
[disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Barton BA, Schreck CB, Barton LD. 1987. Effects of chronic cortisol administration and daily acute stres on growth, physiological conditions,
and stres responses in juvenile rainbow trout. Diseases of Aquatic
Organisms. 2:173 185.‒
Bhatnagar A, Devi P. 2013. Water quality guidelines for the management of pond
fish culture. Internasional Journal of Environtmental Sciences. 3:
1980-2009
Boeuf G, Payan P. 2001. How should salinity influence fish growth?. J Comp
Biochem and Physiology. 130: 411-423.
Boyd CE, 1982. Water Quality Management in Pond Fish Culture. New York
(US): Elsevier Scientific Publishing Company.
Boyd CE, Zimmermann S. 2000. Grow out system water quality and soil
management of feshwater prawn culture: the farming of Macrobranchium
rosenbergii. Blackwell Publishing Ltd. 12: 221-238.
Brown JA. 1993. Endocrine Responses to Environmental Pollutions. London
(UK): Chapman & Hall.
Dewi YS, Masithoh M. 2013. Efektivitas teknik biofiltrasi dengan media bio‒ball
terhadap penurunan kadar nitrogen total. Jurnal Limit’s. 9: 45 – 53.
Diansyah S, Budiardi T, Sudrajat AO. 2014. Kinerja pertumbuhan Anguilla
bicolor bicolor bobot awal 3 g dengan kepadatan berbeda. Jurnal Akuakultur Indonesia. 13 (1): 46-53.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2014. Globefish research programme,
eel Anguilla spp.: production and trade. Rome (IT): FAO Fishstat Plus.
Fujaya Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Jakarta
(ID): Rineka Cipta.
Goddard S. 1996. Feed Management in Intensive Aquaculture. New York (US):
Chapman and Hall.
Gracia LA, Rosas VC, Brito PR. 2006. Effects of salinity on physiological
conditions in juvenile common snook Centropomus undecimalis. Elsevier
Comparative Biochemistry and Physiology.145: 340 345.‒
Hastuti S, Supriyono E, Mokoginta I, Subandiyono. 2003. Respons glukosa darah
ikan gurami Osphronemus gouramy LAC terhadap stres akibat perubahan
16
Herianti I. 2005. Rekayasa lingkungan untuk memacu perkembangan ovarium
ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Oseanologi dan Limnologi Indonesia.
37: 25-41.
Huisman EA. 1987. The Principles of Fish Culture Production. Netherland:
Departemen of Aquaculture. Wegeningen University.
Kadarini T. 2009. Pengaruh salinitas dan kalsium terhadap sintasan dan
pertumbuhan benih ikan balashark Balanthiocheilus malanopterus. [tesis].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2011. Panduan budidaya ikan sidat
Anguilla spp. Jakarta (ID): KKP RI.
Knosche R. 1994. An effective biofilter type for eel culture in resirculation
system. Aquaculture Engineering. 13: 71 82.‒
LamsonHM, Cairns DK, Shiao JC, Iizuka Y, Tseng WN. 2009. American eel
Angguilla rostrata growth in fresh and salt water implications for
conservation and aquaculture. Fisheries Management and Ecdology. 19:
306-314.
Li E, Chen L, Zeng C, Chen X, Yu N, Lai Q, Qin JG. 2007. Growth, body composition, respiration and ambient ammonia nitrogen tolerance of the
juvenile white shrimp Litopenaeus vannamei at different salinities.
Aquaculture Engineering. 265: 385 390.‒
Nelson SG, Knight AW. 1977. Ecological Energetics and Its Application to the Evaluation of Diet For Aquatic Species, with Regard to the Giant Prawn
Macrobrachium rosenbergii Proc. World Mariculture Society. 8:779 785.‒
Nurhidayat, Nirmala K, Djokosetyanto D. 2012. Efektivitas kinerja media biofilter dalam sistem resirkulasi terhadap kualitas air untuk pertumbuhan
dan sintasan ikan red rainbow Glossolepis incisus Weber. Jurnal Riset
Akuakultur. 7: 89 96.‒
[NRC] National Research Council. 1977. Nutrient Requirements of Warmwater
Fishes. Washington: National Academy Science
Pickering AD.1981. Stres in Fish. New York (US): Academic Press.
Porchase MM, Cordova LRM, Enriquez RR. 2009. Cortisol and glucose reliable
indicator of fish. Pan‒American Journal of Aquatic Sc. 4 (2): 157 178.‒
Ringuet S, Muto F, Raymaker C. 2002. Eel. Their Harvest and Trade in Europe
and Asia Traffic Bulletin. 19(2). 73pp.
Ritonga T. 2014. Respons benih ikan sidat Anguilla bicolor bicolor terhadap
derajat keasaman (pH). [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Rovara O. 2007. Karakteristik reproduksi, upaya maskulinisasi dan pematangan
gonad ikan sidat betina Anguilla bicolor bicolor melalui penyuntikan
ekstrak hipofisis. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Saeni MS. 1989. Kimia Lingkungan. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Stickney RR. 1979. Principle of Warm water Aquaculture. New York (US): John
Willey and Son Incorporated.
17
Supriyono E, Supendi A, Nirmala K. 2007. Pemanfaatan zeolit dan karbon aktif
pada sistem pengepakan ikan corydoras Corydoras aenus. Jurnal
Akuakultur Indonesia. 6: 135–145.
Sutrisno. 2008. Penentuan salinitas air dan jenis pakan alami yang tepat dalam
pemeliharaan benih ikan sidat Anguilla bicolor. Jurnal Akuakultur
Indonesia, 7(1) : 71-77.
Usui A. 1974. Eel Culture. London (UK): Fishing news.
Wedemeyer GA. 1996. Physiology of Fish in Intensive Culture System. New York
(US): Chapman & Hall.
Yamagata Y, Niwa M. 1982. Acute and chronic toxicity of ammonia to eel
18
19
Lampiran 1 Prosedur pengukuran kadar kortisol tubuh
Sebelum sampel diuji, reagen penguji dibuat terlebih dahulu. Serum
kontrol lyophilised ditambah dengan 500 μl akuades lalu dihomogenkan dengan
pelan-pelan. Setelah air dan serum tercampur merata, larutan dikalibrasi pada suhu ruangan minimal 20 menit. Metode pengujian sampel adalah sebagai berikut:
1. Sampel yang akan diuji dikalibrasi di suhu ruang selama satu
2. Coated tube diberi label standar (S1 S6), kontrol (C), sampel (Sx),‒
tabungyang belum dilapisi untuk jumlah total (T)
3. Semua reagen dan sampel dihomogenisasi dengan dikocok secara pelan pelan‒
untuk menghindari terbentuknya buih
4. Selanjutnya setiap standar, kontrol, dan sampel dimasukkan sebanyak 10 μl ke dalam tabung sesuai dengan labelnya
5. Tracer dimasukkan pada semua tabung masing masing sebanyak 500 μl‒
6. Antiserum dimasukkan pada semua tabung kecuali tabung T (500 μl)
7. Semua standar dan sampel dibuat menjadi dua tabung. Rak tabung tabung‒
yang akan diuji kemudian difiksasi pada shaker plate. Semua tabung ditutup
dengan menggunakan plastik. Kemudian dihomogenkan
8. Setelah selesai, tabung-tabung diinkubasi selama 2 jam pada suhu ruang 9. Supernatan dari setiap tabung diaspirasi atau dituang dengan cara membalik
rak lalu dialasi kertas saring dan didiamkan selama 2 menit. Selanjutnya setiap
endapan pada tabung dihitung dengan gamma counter selama 60 detik.
Lampiran 2 Prosedur pengukuran gradien osmotik (GO)
1. Menyalakan main power (terletak dibelakang dekat kabel utama main power).
Posisi handle sampel adalah di bagian atas.
2. Pemanasan alat selama 15 20 menit dengan indikasi lampu ‒ spontcryst result
dan no cryst menyala secara bergantian, kemudian menunngusampai hanya
20
a. Menyiapkan akuades dan memasukkan ± 50 μm ke dalam tabung sampel, masukkan ke sensor.
b. Menekan tombol zero sampai keluar angka 0.000
c. Menurunkan handle sampel sampai display 0.000 dan lampu result
menyala
d. Mengangkat handle
e. Membilas sensor dengan akuades dan membersihkan dengan tissu 4. Kalibrasi:
a. Menyiapkan cairan standar kalibrasi dan memasukkan ± 50 μm dalam tabung sampel dan masukkan ke sensor.
b. Menekan tombol Cal sampai keluar angka 0.300
c. Menurunkan handle sampel sampai muncul display 0.300 dan lampu result
menyala
d. Mengangkat handle
e. Membilas sensor dengan menggunakan akuades dan membersihkan dengan tissu
5. Sampel:
a. Menyiapkan cairan sampel dan masukkan ± 50 μm dalam tabung sampel lalu masukkan ke sensor
b. Menekan tombol sampel
c. Menunngu handle sampel sampai pengukuran selesai dan lampu resultnya
menyala
d. Mengangkat handle.
e. Memdibilas sensor dengan menggunakan akuades dan membersihkan dengan tissu.
6. Setelah selesai melakukan pengukuran:
a. Membersihkan sensor menggunakan tissue yang dibasahi akuades.
b. Pada saat tidak digunakan sensor harus ditutup dengan tabung kosong (handle dalam posisi turun).
c. Mematikan main power: OFF
d. Mencabut aliran listrik dari pusat listrik.
Lampiran 3 Prosedur pengukuran tingkat konsumsi oksigen (TKO)
1. Menyiapkan toples volume 3 L lalu memberi penutup dari stirofom yang berfungsi menghindari masuknya udara dari luar. Pada penutup tersebut dibuat
lubang sebagai tempat masuknya probe DO meter‒
2. Memasukkan air media pemeliharaan sebagai perlakuan ke dalam masing-masing toples.
3. Memberikan aerasi kuat selama 24 jam agar kadar oksigen terlarut pada toples menjadi maksimal.
4. Mengukur kadar oksigen terlarut awal, kemudian memasukkan ikan sidat
sesuai dengan padat tebar yakni 4 g L-1 kedalam masing masing toples.
21
P>0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Analisis ragam
Sumber keragaman Jumlah
kuadrat db Kuadrattengah F P
Perlakuan 616.443 3 205.481 55.236 0.000
Sisa 29.761 8 3.720
Total 646.204 11
P<0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Tukey HSDa
P>0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Analisis ragam
Sumber keragaman Jumlah
kuadrat db Kuadrattengah F P
Perlakuan 31.496 3 10.499 531.805 0.000
Sisa 0.158 8 0.020
Total 31.654 11
P<0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Tukey HSDa
Perlakuan N α= 0.05
22
P>0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Analisis ragam
Sumber keragaman Jumlah
kuadrat Db Kuadrattengah F P
Perlakuan 1.418 3 0.473 736.879 0.000
Sisa 0.005 8 0.001
Total 1.424 11
P<0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Tukey HSDa
P>0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Analisis ragam
Sumber keragaman Jumlah
kuadrat Db Kuadrattengah F P
Perlakuan 176099.143 3 58699.714 1322.146 0.000
Sisa 266.384 6 44.397
Total 176365.526 9
P<0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
23
Perlakuan N α= 0.05
1 2 3 4
30 g L-1 2 384.3050
20 g L-1 2 428.8700
0 g L-1 3 631.5567
10 g L-1 3 706.9533
Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000
e. Analisis RKP
Uji homogenitas
Statistik level db1 db2 P
1.506 3 8 0.285
P>0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Analisis ragam
Sumber keragaman Jumlah
kuadrat Db Kuadrattengah F P
Perlakuan 0.865 3 0.288 232.057 0.000
Sisa 0.010 8 0.001
Total 0.874 11
P<0,05 artinya perlakuan berpengaruh terhadap parameter
Tukey HSDa
Perlakuan N α= 0.05
1 2 3 4
0 g L-1 3 1.6020
10 g L-1 3 1.8165
20 g L-1 3 2.1520
30 g L-1 3 2.2803
24
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banda Aceh tanggal 24 Juni 1992, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Drs. H. Nurdin F.Joes, MM dan Hj. Azizah Aziz, SP.d. Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah TK Pertiwi Banda Aceh (1997-1998), Min Teladan Banda Aceh (1998-2004), MTsN Model Banda Aceh (2004-2007), dan SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh (2007-2010). Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Teknologi dan Manajemen Budidaya Perairan, Intitut Pertanian Bogor, Bogor dan lulus pada tahun 2014.
Pada tahun 2014 penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi pada program Magister Sains (S2) Mayor Ilmu Akuakultur Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor melalui jalur reguler dengan bantuan Beasiswa Fresh Graduated (FG) dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
(DIKTI) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek‒
Dikti) Republik Indonesia. Tugas akhir dalam pendidikan sarjana disusun oleh
penulis dengan judul “Kinerja Produksi Ikan Sidat Anguilla bicolor bicolor