• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Likuiditas terhadap Mispricing pada Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pengaruh Likuiditas terhadap Mispricing pada Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH LIKUIDITAS TERHADAP MISPRICING PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2010-2013

OLEH:

F. A. MINORI CHRISTINE WARUWU NIM. 110501094

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu melimpahkan berkat

dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul

“Analisis Pengaruh Likuiditas terhadap Mispricing pada Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua

pihak yang membantu selama masa perkuliahan dan penyusunan skripsi ini baik

berupa bimbingan, saran dan atau dorongan moril, yaitu:

1. Kedua orangtua terkasih Ayahanda F. Waruwu dan Ibunda Yanny R. Tarigan juga

kepada Adik tersayang Fotaro Yoel Iskandar beserta seluruh keluarga yang telah

mendukung dan memberikan doa hingga akhir penulisan skripsi ini.

2. Bapak Alm. Drs. John Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara hingga tahun 2012.

3. Bapak Prof. Dr. Azhan Maksum, M.Ec, Ac, Ak, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, selaku Ketua Departemen dan dosen

pembimbing yang telah memberikan arahan selama masa perkuliahan dan telah

(3)

penyusunan skripsi ini dan Bapak Syahrir Hakim Nasution, M.Si, selaku

Sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas

Sumatera Utara.

5. Bapak Irsyad Lubis, SE, M. Soc.Sc, Ph.D selaku Ketua Program Studi dan Bapak

Paidi Hidayat, Se, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Syarief Fauzie, SE, AK, M.,Ak selaku dosen penguji satu dan Ibu Ilyda

Sudardjat, S.Si, M.Si, selaku dosen penguji dua yang memberikan dukungan dan

saran dalam memperbaiki skripsi ini.

7. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu

yang bermanfaat bagi penulis selama masa perkuliahan.

8. Kekasih sekaligus sahabat, Josua Sitinjak yang telah memberikan banyak

dukungan, saran dan meluangkan waktu bagi penulis selama masa penulisan dan

penyusunan skripsi ini.

9. Teman-teman terdekat Susteriani P. F. A. Sembiring, Yolita, Tinny, Syella

Dwitami Suhaedi, Siska Hakim, Desy N. Sihotang, Christine Sera, Adelisca

Meutia dan teman-teman angkatan 2011 lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan

satu per satu yang telah banyak memberikan saran dan dorongan moril untuk

(4)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak memiliki kekurangan dan

jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat

membangun untuk skripsi ini. Penulis juga mengharapkan adanya manfaat

pengetahuan yang diperoleh pembaca dan peneliti selanjutnya.

Medan, Agustus 2014 Penulis

Nim. 110501094

(5)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh likuiditas saham terhadap tingkat mispricing saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Likuiditas saham diukur dengan menggunakan tiga ukuran yaitu amihud

illiquidity, amihud risk dan share turnover. Pegujian ini dilakukan dengan

menggunakan regresi berganda dan panel data dengan sampel sebanyak 22 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2010-2013. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ukuran (size) perusahaan berpengaruh negatif dan tidak siginifikan terhadap tingkat mispricing

saham perusahaan. Book to market ratio perusahaan memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan berpengaruh pada mispricing. Likuiditas saham dengan ukuran

amihud illiquidity memiliki pengaruh positif dan signifikan berpengaruh terhadap

tingkat mispricing saham perusahaan di Indonesia. Likuiditas perusahaan dengan ukuran amihud risk memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat

mispricing saham perusahaan di Indonesia. Likuiditas perusahaan dengan ukuran

amihud share turnover memiliki pengaruh positif dan berpengaruh signifikan

terhadap tingkat mispricing saham perusahaan di Indonesia.

(6)

ABSTRACT

The objective of this research is to analyze the effect of stock liquidity on banking’s stock mispricing which listed at Indonesia Stock Exchange. Stock liquidity uses three measure: amihud illiquidity, amihud risk and share turnover. This research uses multiple regression and panel data with 22 company listed which based on criteria of research at Indonesia Stock Exchange as a sample. The result of this research shows that size and book to market ratio have negative effects and not significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud illiquidity shows that liquidity has positive and significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud risk shows that liquidity has negative and not significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud share turnover shows that liquidity has positive and significantly influence stock mispricing in Indonesia.

(7)

DAFTAR ISI

2.1.1.2Modal Harga Saham untuk Menghitung Tingkat Pengembalian Saham ... 8

2.1.2 Efficient Market Hypothesis ... 10

2.1.2.1Definisi ... 10

2.1.2.2Bentuk Pasar Efisien ... 14

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Pasar ... 16

2.1.4 Mispricing ... 19

2.1.4.1Anomali Pasar (Market Anomalies) ... 21

2.1.5 Size Firm ... 24

2.1.6 Book to Market Ratio ... 27

2.1.7 Likuiditas ... 28

2.1.7.1Risiko Likuiditas ... 30

2.1.8 Asset Pricing Model ... 31

2.1.8.1Capital Asset Pricing Model ... 31

2.1.8.2Single Index Model ... 32

2.2 Penelitian Terdahulu ... 34

2.3 Kerangka Konseptual ... 35

2.4 Hipotesis ... 36

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

(8)

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 38

3.3 Populasi dan Sampel ... 38

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 41

3.6 Skala Pengukuran Variabel ... 41

3.6.1 Mispricing ... 41

4.2.1 Panel Data dengan Ukuran Likuiditas Amihud Illiquidity ... 54

4.2.2 Panel Data dengan Ukuran Likuiditas Amihud Risk ... 56

4.2.3 Panel Data dengan Ukuran Likuiditas Amihud Share Turnover ... 58

4.3 Uji Signifikan ... 60

4.3.1 Uji f ... 60

4.3.2 Uji t ... 61

4.4 Uji Goodness of Fit (R2) ... 62

4.5 Analisis Hasil Pengujian Hipotesis ... 63

4.5.1 Pengaruh Ukuran (Size) Perusahaan terhadap Tingkat Mispricing Saham Perusahaan ... 63

4.5.2 Pengaruh Book to Market Ratio Perusahaan terhadap Tingkat Mispricing Saham Perusahaan ... 65

4.5.3 Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Tingkat Mispricing Saham Perusahaan ... 67

4.5.3.1 Pengaruh Likuiditas terhadap Tingkat Mispricing dengan Ukuran Amihud Illiquidity ... 67

4.5.3.2 Pengaruh Likuiditas terhadap Tingkat Mispricing dengan Ukuran Amihud Risk ... 69

(9)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1 Kesimpulan ... 72

5.2 Saran ... 75

REFERENSI ... 77

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Anomali Pasar ... 22

Tabel 3.1 Sampel Penelitian ... 39

Tabel 3.2 Pengukuran Variabel ... 41

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 49

Tabel 4.2 Hasil Estimasi Fixed Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Amihud Illiquidity ... 54

Tabel 4.3 Hasil Uji Redundant Fixed Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Amihud Illiquidity ... 55

Tabel 4.4 Hasil Estimasi Random Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Amihud Illiquidity ... 55

Tabel 4.5 Hasil Uji Hausman Test dengan Ukuran Likuiditas Amihud Illiquidity ... 55

Tabel 4.6 Hasil Estimasi Fixed Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Amihud Risk ... 56

Tabel 4.7 Hasil Uji Redundant Fixed Effects dengan Ukuran Likuiditas Amihud Risk ... 56

Tabel 4.8 Hasil Estimasi Random Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Amihud Risk ... 57

Tabel 4.9 Hasil Uji Hausman Test dengan Ukuran Likuiditas Amihud Risk 57

Tabel 4.10 Hasil Estimasi Fixed Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Share Turnover ... 58

Tabel 4.11 Hasil Uji Redundant Fixed Effects dengan Ukuran Likuiditas Share Turnover ... 58

Tabel 4.12 Hasil Estimasi Random Effects Model dengan Ukuran Likuiditas Share Turnover ... 59

(11)

DAFTAR GAMBAR

(12)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh likuiditas saham terhadap tingkat mispricing saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Likuiditas saham diukur dengan menggunakan tiga ukuran yaitu amihud

illiquidity, amihud risk dan share turnover. Pegujian ini dilakukan dengan

menggunakan regresi berganda dan panel data dengan sampel sebanyak 22 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2010-2013. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ukuran (size) perusahaan berpengaruh negatif dan tidak siginifikan terhadap tingkat mispricing

saham perusahaan. Book to market ratio perusahaan memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan berpengaruh pada mispricing. Likuiditas saham dengan ukuran

amihud illiquidity memiliki pengaruh positif dan signifikan berpengaruh terhadap

tingkat mispricing saham perusahaan di Indonesia. Likuiditas perusahaan dengan ukuran amihud risk memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat

mispricing saham perusahaan di Indonesia. Likuiditas perusahaan dengan ukuran

amihud share turnover memiliki pengaruh positif dan berpengaruh signifikan

terhadap tingkat mispricing saham perusahaan di Indonesia.

(13)

ABSTRACT

The objective of this research is to analyze the effect of stock liquidity on banking’s stock mispricing which listed at Indonesia Stock Exchange. Stock liquidity uses three measure: amihud illiquidity, amihud risk and share turnover. This research uses multiple regression and panel data with 22 company listed which based on criteria of research at Indonesia Stock Exchange as a sample. The result of this research shows that size and book to market ratio have negative effects and not significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud illiquidity shows that liquidity has positive and significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud risk shows that liquidity has negative and not significantly influence stock mispricing in Indonesia. Stock liquidity measured by amihud share turnover shows that liquidity has positive and significantly influence stock mispricing in Indonesia.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar yang melakukan aktivitas kegiatan perdagangan sekuritas disebut

dengan pasar modal. Secara formal pasar modal bisa didefinisikan sebagai pasar

untuk berbagai instrumen atau sekuritas jangka panjang yang bisa diperjualbelikan,

baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh

pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta (Husnan dan Pudjiastuti,

1993: 1). Pasar modal memiliki peran besar dikarenakan pasar modal mempunyai

dua fungsi sekaligus yakni fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Dalam

melaksanakan fungsi ekonominya, pasar modal menyediakan fasilitas untuk

memindahkan dana dari lender (pihak kelebihan dana) ke borrower (pihak

kekurangan dana). Diharapkan dengan menginvestasikan kelebihan dana yang

dimiliki, pihak tersebut akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut.

Sedangkan dari sisi pihak yang memerlukan dana yaitu tersedia sejumlah dana dari

pihak luar sehingga memungkinkan untuk melakukan investasi tanpa harus

menunggu keuntungan dari hasil operasi perusahaan. Kemudian, fungsi keuangan

dilakukan dengan menyediakan dana yang diperlukan oleh borrowers dan lenders

yang menyediakan dana tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva rill

yang diperlukan untuk investasi tersebut (Husnan dan Pudjiastuti, 1993).

Pasar modal juga memegang peranan penting bagi perusahaan-perusahaan

(15)

yang menyediakan dana agar dapat lebih berpartisipasi di pasar modal, maka

dibutuhkan suatu pasar yang efisien dan likuid (Suha, 2004). Secara formal pasar

modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya

telah mencerminkan semua informasi yang relavan. Semakin cepat informasi baru

tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut (Husnan, 1994).

Namun, pasar yang kuat dan sempurna belumlah ada. Dalam praktiknya,

selalu ada pihak yang lebih diuntungkan daripada pihak-pihak lainnya. Akibatnya

harga saham, tidak bisa mencerminkan nilai intrinsiknya, dengan kata lain terjadi

penyimpangan harga (mispricing). Mispricing terjadi ketika terdapat perbedaan

antara harga pasar dengan harga fundamental. Harga fundamental adalah harga yang

konsisten dengan asset pricing model. Saham yang mengalami mispricing akan

cenderung kembali ke kondisi harga fundamentalnya (Brennan dan Wang, 2010).

Brennan dan Wang (2006) juga menyatakan bahwa tingkat pengembalian yang

diharapkan tidak bergantung hanya pada risiko mendasar yang ditangkap oleh model

asset pricing standar, tetapi juga pada jenis dan tingkat mispricing aset, bahkan

ketika mispricing adalah nol pada rata-rata. Secara empiris, mispricing bias dan

diinduksi kembali yang perkiraan filter atau oleh volatilitas dan rasio varians

pengembalian sisa, yang terbukti bermakna dikaitkan dengan menyadari risiko

disesuaikan kembali.

Mispricing merupakan fenomena yang dapat terjadi baik dalam lingkungan

rasional maupun irasional. Dalam lingkup rasional, asymmetric information dapat

(16)

investor yang menentapkan harga melalui perilaku perdagangan, tidak memiliki

semua informasi yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus harga yang

mencerminkan nilai sebenarnya dari saham. Di sisi lain, perilaku teori keuangan

menjelaskan mispricing dalam lingkup irasional, terjadi saat investor membuat

kesalahan sistematis dalam memperkirakan nilai saham (Alzahrani, 2006).

Dalam penelitian Ratmono dan Nur (2005), penelitian mengenai market’s

mispricing menyimpulkan bahwa saat ini komponen akrual dari profitabilitas adalah

kurang persisten dibandingkan komponen arus kas (Sloan, 1996; Collins dan Hribar,

2000; Sutopo, 2001). Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa adanya komponen

akrual yang kurang persisten dibandingkan komponen arus kas dari earnings tersebut

menyebabkan investor gagal untuk fully price implikasi yang berbeda dari komponen

akrual dan arus kas dari profitabilitas saat ini untuk profitabilitas satu tahun

berikutnya. Dalam penelitian Jegadeesh dan Titman (1995) menemukan bukti bahwa

harga saham suatu perusahaan cenderung naik karena adanya reaksi pasar yang

berlebihan terhadap adanya informasi spesifik perusahaan tersebut. Lee dan

Swaminathan (2000) menyatakan bahwa saham ddengan volume perdagangan

remdah cenderung dihargai oleh pasar. Harga saham juga akan dibawah harga pasar

(undervalued) jika pasar saham kurang likuid (Amihud, 2002). Di Indonesia sendiri,

penelitian mengenai mispricing yang dilakukan oleh Trinugroho dan Rinofah (2011)

yang membuktikan bahwa adanya pergerakan saham yang menyimpang (mispricing)

di pasar modal berpengaruh dalam pemiliham sumber pendanaan perusahaan yang

(17)

Di lain pihak, penelitian mengenai karakteristik perusahaan terhadap

mispricing masih sangat jarang dilakukan. Begitu juga di Indonesia, penelitian

mengenai pengaruh karateristik perusahaan terhadap mispricing masih sangat jarang

dilakukan. Brennan dan Wang (2010) menguji pengaruh book to market ratio

perusahaan dan ukuran perusahaan terhadap tingkat mispricing. Sedangkan Griffin

dan Lemmon (2002) melakukan studi empiris mengenai pengaruh book to market

ratio perusahaan dan distress risk perusahaan terhadap mispricing.

Salah satu industri atau perusahaan yang sahamnya cukup aktif dan menarik

banyak perhatian investor di pasar modal Indonesia adalah saham perusahaan

perbankan, hal ini didukung oleh kinerja bank yang cukup baik, yang ditandai

dengan pertumbuhan laba bersih perbankan pada periode Juni 2012 yang mencapai

Rp97,73 triliun, naik dari periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp83,56 triliun.

Sektor perbankan merupakan sektor yang paling rentan terpengaruh akan gejolak

ekonomi global. Sektor perbankan yang mengalami krisis ketika itu juga

mengakibatkan berkurangnya minat masyarakat untuk membeli saham. Isu-isu yang

berkembang ketika itu mengakibatkan masyarakat tidak mempercayai bank untuk

berinvestasi, tetapi seiring dengan waktu telah terlihat pemulihan pesat pada sektor

ini. Sektor perbankan membuktikan eksistensinya dalam kinerja dan pencapaian hasil

yang cukup baik sehingga investor kembali tertarik membeli sahamnya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai masalah mispricing yang terjadi di pasar modal melalui

(18)

likuiditas saham perusahaan yang berperngaruh terhadap fenomena mispricing pada

perusahaan perbankan di Indonesia dengan periode 2010-2013. Penelitian ini

mengambil judul dari peneliti sebelumnya yaitu “ANALISIS PENGARUH

LIKUIDITAS TERHADAP MISPRICNG PADA SAHAM YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2010-2013”.

1.2 Perumusan Masalah

Penelitian ini mengacu pada penelitian Aji (2012) beserta Brennan dan Wang

(2010) juga pada penelitian lainnya. Berdasarkan uraian pada latar belakang maka

perumusan masalah yang dapat diambil adalah:

1. Apakah ukuran (size) perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing saham

perusahaan?

2. Apakah book to market ratio perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing

saham perusahaan?

3. Apakah likuiditas saham perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing saham

perusahaan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Pengaruh ukuran (size) perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing saham

2. Pengaruh book to market ratio perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing

(19)

3. Pengaruh likuiditas saham perusahaan berpengaruh pada tingkat mispricing

saham

1.4 Manfaat Penelitian

Dari penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memperoleh manfaat yang

berguna diantaranya:

1. Bagi penulis

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang efisiensi pasar modal dan

mispricing saham perusahan. Dan penelitian ini juga sebagai sarana bagi penulis

untuk menambah keterampilan penelitian terutama dalam bidang keuangan.

2. Bagi akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang

mispricing saham di pasar modal Indonesia, sehingga dapat membantu untuk

penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan mispricing saham.

3. Bagi investor

Menambah pengetahuan investor akan pentingnya pengetahuan tentang

karaterisitik perusahaan apa saja yang mempengaruhi mispricing saham yang

terjadi pada Bursa Efek Indonesia. Hal ini terkait dengan pengambilan keputusan

dalam berinvestasi di pasar modal dan menentukan strategi yang tepat untuk

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Tinjauan Pustaka 2.5.1 Return Saham

2.5.1.1Definisi dan Jenis Return Saham

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan perusahaan

sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi lain yang

dilakukan perusahaan kepada pemegang sahamnya, termasuk hak klaim atas aset

perusahaan, dengan prioritas setelah hak klaim pemegang surat berharga lain

dipenuhi jika terjadi likuiditas. Menurut Husnan (2002: 303) sekuritas (saham)

merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang

memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan

organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang

memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya (Eka dan Saputra, 2012),

sedangkan menurut Tandelilin (2001: 18), saham merupakan surat bukti bahwa

kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Jadi, saham adalah

surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal yang dikeluarkan oleh sebuah

perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), dimana saham tersebut

menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari

perusahaan tersebut.

Return merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi. Return

(21)

disebut sebagai return yang sesungguhnya) dan expected return (return yang

diharapkan oleh investor). Return terdiri dari capital gain (loss) dan yield (Jogiyanto,

1998). Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi dan dihitung

berdasarkan data historis. Return realisasi dapat digunakan sebagai salah satu

pengukuran kinerja perusahaan dan dapat digunakan sebagai dasar penentu return

ekspektasi dan risiko di masa yang akan datang, sedangkan return ekspektasi

merupakan return yang diharapkan terjadi di masa mendatang dan masih bersifat

tidak pasti (Putri, 2012).

Para investor termotivasi untuk melakukan investasi salah satunya adalah

dengan membeli saham perusahaan dengan harapan untuk mendapatkan kembalian

investasi yang sesuai dengan apa yang telah diinvestasikannya. Return merupakan

hasil yang diperoleh dari investasi atau tingkat keuntungan yang dinikmati oleh

pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya (Hartono, 2000: 107). Tanpa

keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi yang dilakukannya, tentunya investor

tidak mau melakukan investasi yang tidak ada hasilnya. Setiap investasi, baik jangka

pendek maupun jangka panjang mempunyai tujuan utama yaitu memperoleh

keuntungan yang disebut return, baik secara langsung maupun tidak langsung (Eka

dan Saputra, 2012).

2.5.1.2Modal Harga Saham untuk Menghitung Tingkat Pengembalian Saham

Return saham dapat digunakan untuk menghitung efisiensi pasar modal.

(22)

menghitung return saham (Sears dan Trennepohl, 1993, hal 204-207), yaitu (Aji,

2012):

1. The Fair Game Model

Menyatakan bahwa kita tidak dapat menggunakan informasi yang tersedia pada

waktu t untuk mendapatkan return yang lebih besar dari yang seharusnya

diterima dari suatu saham pada periode t+1. Adapun rumus yang digunakan

untuk menghitung return yang terealisasi adalah:

Rit =

��+���+���−�

���−�

(2.1)

Keterangan:

Rit = return saham i pada perode t

Pit = harga saham i pada periode t

Dit = dividen saham i selama periode t

Pit-1 = harga saham i selama periode t

2. The Martingale Model

Martingale model mengkonfirmasikan fair game model yang menyatakan

ketidakmampuan dalam menghasilkan abnormal return. Model ini menyatakan

bahwa untuk membuat perkiraan ke depan, maka informasi yang paling baik

adalah informasi dari pengujian terakhir. Jika informasi yang tersedia terdiri dari

semua informasi umum, maka model ini akan mendeskripsikan pasar efisien

bentuk setengah kuat (semi strong form).

(23)

Jika return pada pasar modal yang efisien sesuai dengan martingale model,

maka harga saham juga akan sesuai dengan submartingale model. Model ini

menyatakan bahwa harga saham periode mendatang akan lebih besar dari harga

saham periode terakhir. Jika informasi yang digunakan adalah informasi masa

lalu, maka model ini digunakan untuk mendeskripsikan pasar efisien bentuk

lemah (weak form).

4. The Random Walk Model

Model ini menyatakan bahwa perubahan harga saham diasumsikan bergerak

secara random (acak). Perubahan harga saham yang dimaksud meliputi return

dari saham tersebut. Model ini juga menyatakan bahwa return saham sifatnya

adalah independent dan terdistribusi secara identik.

2.5.2 Efficient Market Hypothesis

2.5.2.1Definisi

Konsep pasar efisien pertama kali dikemukakan dan dipopulerkan oleh Fama

(1970). Dalam konteks ini yang dimaksud dengan pasar adalah pasar modal (capital

market) dan pasar uang. Suatu pasar yang efisien adalah sebuah pasar yang efisien

dalam mengelola informasi, dimana harga-harga sekuritas yang diamati pada suatu

waktu tertentu didasarkan pada evaluasi yang “benar” dari seluruh informasi yang

tersedia pada saat itu (Fama, 1970; 1976: 133). Suatu pasar dimana harga-harga

“merefleksikan sepenuhnya” informasi yang tersedia disebut efisien. Semakin efisien

(24)

mendekati nilai intrinsiknya. Efisiensi pasar modal ini juga ditunjang oleh peraturan

yang diterbitkan oleh regulator bahwa emiten harus mengungkapkan

informasi-informasi tertentu. Berdasarkan berbagai informasi-informasi yang ada, investor melakukan

mekanisme penjualan dan pembelian sehingga harga sekuritas mencerminkan

konsensus pasar. Jika investor bertransaksi dalam sebuah pasar yang efisien maka

mereka dapat mendasarkan pada harga-harga yang merefleksikan berbagai rangkaian

informasi, termasuk informasi laporan keuangan, dan mereka tidak harus memproses

semua informasi secara langsung.

Hipotesis pasar efisien merupakan konsep penting dan secara luas diterima

semenjak ketertarikan pada efisiensi pasar terjadi pada akhir 1950-an dan awal

1960-an dalam tema “Theory of Random Walks” pada literatur keuangan dan “Rational

Expectations Theory” dalam literatur ekonomi (Jensen, 1978). Para ahli teori random

walks pada umumnya berangkat dari premis bahwa perubahan sekuritas utama

merupakan contoh yang baik dari pasar “efisien” (Fama, 1965) dan aturan

perdagangan “relatif kuat” dalam model Levy tentang perilaku harga sekuritas secara

menakjubkan mendekati prediksi teori pasar efisien tentang perilaku harga sekuritas

(Jensen dan Benington, 1970).

Hasil pengujian empiris efisiensi pasar menunjukkan bahwa terdapat tiga

kategori berdasarkan sifat informasi yaitu strong form test, semi strong form test, dan

weak form (Fama, 1970). Pengujian bentuk-kuat (strong-form) berkaitan dengan

apakah investor individual atau kelompok memiliki akses monopolistik terhadap

(25)

bereaksi terhadap informasi itu, atau dengan kata lain apakah para investor yang

memiliki informasi privat yang tidak sepenuhnya merefleksikan informasi pasar.

Grossman dan Stiglitz (1980) menyatakan prasyarat hipotesis versi kuat adalah

bahwa informasi dan biaya perdagangan, biaya dari harga yang merefleksikan

informasi, selalu bernilai 0.

Pada bentuk semi-kuat menguji informasi termasuk informasi yang tersedia

bagi publik, seberapa cepat harga-harga sekuritas merefleksikan pengumuman

informasi publik. Pada bentuk lemah menguji informasi hanya pada harga historis

atau return berikutnya, dengan kata lain bagaimana return di masa lalu mampu

dengan baik memprediksikan return di masa datang. Jensen (1978) mengungkapkan

bahwa versi efisiensi pasar yang lebih lemah dan ekonomis terjadi jika harga

merefleksikan informasi pada titik dimana manfaat marjinal informasi (laba yang

dihasilkan) tidak melebihi biaya marjinalnya.

Fama (1976: 137-166) mengungkapkan bahwa terdapat empat model

ekuilibrium pasar yang dapat dipergunakan untuk menguji efisiensi pasar. Model

pertama adalah return ekspektasian positif yang menyatakan bahwa jika pasar efisien

dan jika model ekuilibrium pasar benar maka investor atau analis pasar yang tidak

setuju dengan pasar dan memposisikan pada return ekspektasian negatif pada suatu

sekuritas akan menjadi salah. Hal ini mengimplikasikan adanya risiko kerugian yang

akan ditanggung oleh investor yang salah dalam mengambil dan mengekspektasikan

return pasar tersebut. Pada model ekuilibrium kedua, Fama mengajukan return

(26)

pengujian asumsi ekuilibrium pasar secara simultan dan selama didasarkan pada

autokorelasi hasil terbukti konsisten dengan hipotesis bahwa pasar efisien. Pengujian

ini juga dapat diinterpretasikan sebagai bukti yang konsisten dengan asumsi bahwa

return ekspektasian ekuilibrium bersifat konstan sepanjang waktu.

Model ketiga dari ekuilibrium pasar adalah return menyesuaikan pada model

pasar. Pengujian ini terutama berhubungan dengan penyesuaian harga atas informasi

spesifik perusahaan, seperti pengumuman laba, penerbitan sekuritas baru,

stock-splits, dan sebagainya. Return menyesuaikan pada hubungan risiko return merupakan

model keempat dari ekuilibrium pasar. Model ini menunjukkan bahwa pengujian

teknisi efisiensi pasar dimana pasar menentukan harga pada t-1 sehingga terdapat

hubungan positif antara return ekspetasian suatu sekuritas dari t-1 dengan risiko

sekuritas tersebut.

Pasar yang tidak efisien, suatu saham memiliki kemungkinan untuk

menghasilkan abnormal return, yang berarti bahwa return saham akan melebihi

tingkat risiko yang dimiliki saham tersebut. Pasar dapat dikatakan efisien jika

memenuhi kondisi-kondisi berikut (Gumanti dan Utami, 2002):

1. Banyak terdapat investor rasional dan berorientasi pada maksimisasi keuntungan

yang secara aktif berpartisipasi di pasar dengan menganalisis, menilai, dan

berdagang saham. Investor-investor ini adalah price taker, artinya pelaku itu

sendiri tidak akan dapat mempengaruhi harga suatu sekuritas.

2. Tidak diperlukan biaya untuk mendapatkan informasi dan informasi tersedia

(27)

3. Informasi diperoleh dalam bentuk acak, dalam arti setiap pengumuman yang ada

di pasar adalah bebas atau tidak terpengaruh dari pengumuman yang lain.

4. Investor bereaksi dengan cepat dan sepenuhnya terhadap informasi baru yang

masuk di pasar, yang menyebabkan harga saham segera melakukan penyesuaian.

Sebagaimana diuraikan Utama (1992), terdapat beberapa faktor yang diduga

turut mendukung ketidakefisienan pasar, seperti tingkat likuiditas yang masih rendah

dan belum terbukanya emiten dalam mengungkapkan informasi sebenarnya.

Selanjutnya, Sukamulja (2011) mengemukakan beberapa kondisi investor di pasar

modal Indonesia yang dapat berkontribusi terhadap lemahnya efisiensi pasar, di

antaranya (Bapepam, 2011):

1. Investor memiliki informasi yang tidak simetris;

2. Investor cenderung irasional dalam mengambil keputusan, diantaranya karena

pengetahuan yang kurang memadai;

3. Investor sering kali bereaksi berlebihan terhadap suatu perkembangan terbaru;

4. Investor cenderung kurang mengikuti konsep investasi pasar modal (misalnya,

mempertimbangkan risiko dan imbal hasil serta berinvestasi untuk jangka

panjang).

2.5.2.2Bentuk Pasar Efisien

Menurut Fama (1970) bentuk efisiensi pasar dapat dikelompokkan menjadi

tiga (Gumanti dan Utama, 2002), yaitu:

(28)

Dalam hipotesis ini, pasar dikatakan efisiensi bentuk lemah jika informasi

mengenai harga saham pada masa lalu sepenuhnya tercermin dalam harga saat

ini. Akibatnya pelaku pasar tidak dapat menggunakan data-data harga saham

historis dan perdagangannya untuk memprediksi harga saham ke depan,

sehingga penggunaan perubahan harga saham di masa lalu untuk memprediksi

perubahan harga masa depan tidak akan bermanfaat.

2. Efisiensi Pasar Bentuk Setengah Kuat (Semi-Strong Form)

Menurut hipotesis pasar efisien bentuk semi-kuat, disamping merupakan

cerminan harga saham historis, tetapi juga mencerminkan semua informasi

publik yang relavan. Investor tidak akan mampu untuk memperoleh abnormal

returns dengan menggunakan strategi yang dibangun berdasarkan informasi

yang tersedia di publik. Dengan kata lain, analisis terhadap laporan keuangan

tidak memberikan manfaat apa-apa. Ide dari pandangan ini adalah bahwa sekali

informasi tersebut menjadi informasi publik (umum), artinya tersebar di pasar,

maka semua investor akan bereaksi dengan cepat dan mendorong harga naik

untuk mencerminkan semua informasi publik yang ada.

3. Efisiensi Pasar Bentuk Kuat (Strong Form)

Pasar efisien bentuk kuat menyatakan bahwa harga yang terjadi mencerminkan

semua informasi yang ada, baik informasi publik (public information) maupun

informasi pribadi (private information). Bentuk pasar efisien kuat merupakan

bentuk pasar efisien paling ketat. Hal ini terkait dengan pengertiannya bahwa

(29)

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka dalam konteks pasar efisien bentuk

kuat tidak ada seorang pun baik individu maupun institusi dapat memperoleh

abnormal return, untuk suatu periode tertentu, dengan menggunakan informasi

yang tersedia di publik dalam konteks kelebihan informasi, termasuk di

dalamnya informasi yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu.

Bentuk pasar efisien mempunyai beragam interpretasi, selain Fama beberapa

ahli juga memberikan teori tentang bentuk pasar efisien antara lain Richard West

yang membagi pasar efisien menjadi dua bentuk (Aji, 2012: 10), yaitu:

1. Pasar efisien secara operasional atau internal

Dikatakan sebagai pasar efisien secara operasional bila investor dikenai jasa

transaksi semurah mungkin yang berkaitan dengan biaya-biaya atas terjadinya

suatu transaksi. Contoh biaya transaksi di pasar modal: biaya komisi broker,

biaya eksekusi, dan biaya peluang.

2. Pasar efisien secara eksternal

Pasar efisien secara eksternal merupakan kondisi pasar dimana harga saham

setiap saat benar-benar mencerminkan informasi yang tersedia. Informasi

tersebut merupakan informasi yang relavan untuk dipergunakan dalam penilaian

saham.

2.5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Pasar

Menurut Arifin (2001: 115-116) yang dikutip dari Artatik (2007) pergerakan

(30)

1. Kondisi fundamental emiten

Faktor fundamental merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi

perusahaan yaitu kondisi manajemen organisasi sumber daya manusia, kondisi

keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Nilai

fundamental merupakan nilai intrinsik dari suatu saham yang dianalisis dengan

menggunakan analisis yang menggunakan data-data finansial yaitu data-data

yang berasal dari laporan keuangan perusahaan, contohnya laba, dividend yang

dibagi, penjualan dan sebagainya (Jogiyanto, 1998: 70). Faktor fundamental

merupakan faktor yang berkaitan dengan kinerja emiten yang tercermin dalam

kinerja keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan. Semakin

baik kinerja emiten maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga

saham. Demikian sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin

besar kemungkinan merosotnya harga saham yang diterbitkan dan

diperdagangkan. Selain itu keadaan emiten akan menjadi tolak ukur seberapa

besar risiko yang akan ditanggung oleh investor. Saham-saham yang bagus atau

saham blue chip tentu memiliki risiko yang lebih kecil jika dibanding dengan

jenis saham lainnya. Ini karena faktor fundamental perusahaan penerbitnya

bagus. Baik kondisi keuangannya, strategi bisnisnya, produknya, maupun

manajemennya.

2. Tingkat suku bunga

Dengan adanya perubahan suku bunga, tingkat pengembalian hasil berbagai

(31)

pula yang cenderung turun. Bunga yang tinggi ini tentunya akan berdampak

pada alokasi dana investasi para investor. Investor produk bank seperti deposito

atau tabungan jelas lebih kecil risikonya jika dibanding dengan investasi dalam

bentuk saham. Karena investor akan menjual saham dan dananya akan

ditempatkan di bank. Penjualan saham secara serentak ini akan berdampak pada

penurunan harga saham secara signifikan.

3. Dana asing di Bursa

Mengamati jumlah dana investasi asing merupakan hal yang penting, karena

dengan semakin besarnya dana yang ditanamkan, hal ini menandakan bahwa

kondisi investasi di Indonesia telah kondusif yang berarti pertumbuhan ekonomi

tidak lagi negatif, yang tentu saja akan merangsang kemampuan emiten untuk

mencetak laba. Sebaliknya, jika investasi asing berkurang, ada perkiraan bahwa

mereka sedang ragu atas negeri ini, baik atas keadaan sosial politik maupun

keamananya. Jadi besar kecilnya investasi dana asing di bursa akan berpengaruh

pada kenaikan atau penurunan harga saham.

4. Hukum permintaan dan penawaran

Faktor hukum permintaan dan penawaran digunakan investor untuk mengetahui

kondisi fundamental perusahaan dalam melakukan transaksi jual-beli. Transaksi

inilah yang akan mempengaruhi fluktuasi harga saham. Perlu diwaspadai juga

bahwa kenaikan harga saham karena permintaan yang banyak atau penawaran

yang sedikit tidak akan berlangsung terus sebab pada suatu titik harga akan

(32)

5. Valuta Asing

US Dollar merupakan mata uang kuat yang mempengaruhi nilai dari mata uang

negara-negara lain. Apabila dollar naik maka investor asing akan menjual

sahamnya dan menempatkan di bank dalam bentuk dollar sehingga

menyebabkan harga saham naik.

6. News and rumors

Berita yang beredar di masyarakat yang menyangkut berbagai hal baik itu

masalah ekonomi, sosial, politik, keamanan, hingga berita seputar reshuffle

kabinet. Dengan adanya berita tersebut, para investor bisa memprediksiseberapa

kondusif keadaan negeri ini sehingga kegiatan investasi bisa dilaksanakan. Ini

akan berdampak pada pergerakan harga saham di bursa.

7. Indeks harga saham

Kenaikan indeks harga saham gabungan sepanjang waktu tertentu, tentunya

menandakan kondisi investasi dan perekonomian negara dalam keadaan baik.

Sebaliknya jika turun berarti iklim investasi sedang buruk. Kondisi demikian

akan mempengaruhi naik turunnya harga saham di pasar bursa.

2.5.4 Mispricing

Mispricing merupakan fenomena yang dapat terjadi baik dalam lingkungan

rasional maupun irasional. Dalam lingkup rasional, asymmetric information dapat

membawa harga saham menyimpang atau terdeviasi dari nilai yang sebenarnya

(33)

tidak memiliki semua informasi yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus harga

yang mencerminkan nilai sebenarnya dari saham. Disisi lain, perilaku teori keuangan

menjelaskan mispricing dalam lingkup irasional, terjadi saat investor membuat

kesalahan sistematis dalam memperkirakan nilai saham (Alzahrani, 2006).

Sadka dan Scherbina (2007) mengemukakan bahwa mispricing juga

disebabkan oleh adanya ketidaksetujuan antara para analis yang berkaitan dengan

transaction cost atau likuiditas dari saham. Hubungan antara harga saham dan

investasi perusahaan menarik perhatian sejak ditemukannya kedua variabel ini yang

didasarkan oleh penjelasan teori yaitu pertama, bahwa harga saham merefleksikan

informasi mengenai faktor fundamental yang mempengaruhi keputusan berinvestasi.

Kedua, kemungkinan perusahaan dalam menghadapi pembiayaan yang kemudian

akan menghambat perusahaan dalam mencapai sasaran investasi yang optimal,

sehingga dengan adanya peningkatan harga saham diharapkan dapat menjadi sumber

pembiayaan dana investasi target perusahaan (Chen, Lung & Wang, 2006) dalam

Rosminar (2012).

Friedman (1953) mengemukakan bahwa harga saham harus menggambarkan

nilai fundamentalnya walaupun investor yang irasional salah memperkirakan nilai

sebuah sekuritas, investor rasional sebagai pencari untung akan bertransaksi

melawan mispricing, sehingga hal ini akan mendorong harga saham kembali ke nilai

fundalmentalnya (Sadka & Scherbina, 2006). Hal inilah yang menunjukkan bahwa

(34)

menyimpang akan kembali ke nilai fundamentalnya dalam jangka waktu yang

berbeda-beda, bisa dalam satu hari maupun satu tahun (Hillebrand, 2003).

2.5.4.1Anomali Pasar (Market Anomalies)

Dalam membahas pengujian pasar efisien, perlu juga dibahas adanya

ketidakteraturan (anomali) yang ada yang terkait dengan hipotesis pasar efisien.

Anomali disini adalah salah satu bentuk dari fenomena yang ada di pasar. Pada

anomali ditemukan hal-hal yang seharusnya tidak ada bilamana dianggap bahwa

pasar efisien benar-benar ada artinya, suatu peristiwa (event) dapat dimanfaatkan

untuk memperoleh abnormal return. Dengan kata lain seorang investor

dimungkinkan untuk memperoleh abnormal return dengan mengandalkan suatu

perisitiwa tertentu. Anomali yang ada, tidak hanya ditemukan pada satu jenis bentuk

pasar efisien saja, tetapi ditemukan pada bentuk pasar efisien yang lain. Artinya,

bukti empiris adanya anomali di pasar modal muncul pada semua bentuk pasar

efisien, walaupun kebanyakan ditemukan pada bentuk efisien semi-kuat (semi

strong).

Dalam teori keuangan, dikenal sedikitnya empat macam anomali pasar.

Keempat anomali tersebut adalah anomali perusahaan (firm anomalies), anomali

musiman (seasonal anomalies), anomali peristiwa atau kejadian (event anomalies),

(35)

Tabel 2.1 Anomali Pasar

No. Kelompok Jenis Khusus Keterangan

1. Anomali semakin tinggi peluang harga akan turun.

2. Insider Trading Semakin banyak saham yang

dibeli oleh insiders, semakin tinggi kemungkinan harga akan naik.

3. Listings Harga sekuritas cenderung

naik setelah perusahaan

Harga sekuritas akan naik

setelah value line

menempatkan rating perusahaan pada urutan tertinggi.

2. Anomali Musiman

1. January Harga sekuritas cenderung

naik di bulan Januari, khususnya di hari-hari pertama.

2. Weekend Harga sekuritas cenderung

naik pada hari Juma’at dan turun pada hari Senin.

3. Time of Day Harga sekuritas cenderung

naik di 45 menit pertama dan 15 menit teakhir perdagangan.

4. End of Month Harga sekuritas cenderung

naik dihari-hari akhir tiap bulan.

(36)

Tabel 2.1 Anomali Pasar (sambungan)

No. Kelompok Jenis Khusus Keterangan

3. Anomali Perusahaan

1. Size Return pada perusahaan kecil

cenderung lebih besar walaupun sudah disesuaikan dengan risiko.

2. Closed-end

Mutual Funds

Return pada close-end funds

yang dijual dengan potongan yang cenderung lebih tinggi.

3. Neglect Perushaan yang tidak diikuti

oleh banyak analis cenderung menghasilakan return lebih tinggi.

4. Institutional

Holdings

Perusahaan yang dimiliki oleh sedikit instirusi cenderung cenderung memiliki return yang lebih tinggi.

2. Earnings

Surprise

Saham dengan capaian earnings

lebih tinggi dari yang diperkirakan cenderung mengalami peningkatan harga.

3. Price/Sales Jika rasionya rendah cenderung

berkinerja lebih baik.

4. Price/Book Jika rasionya rendah cenderung

berkinerja lebih baik.

5. Dividend Yield Jika yield-nya tinggi cenderung

berkinerja lebih baik.

6. Earnings

Momentum

Saham perusahaan yang tingkat pertumbuhan earnings-nya meningkat cenderung berkinerja lebih baik.

(37)

2.5.5 Size Firm

Firm size (ukuran perusahaan) adalah ukuran dari suatu perusahaan yang

dilihat dari market capitalization. Market capitalization adalah nilai total dari semua

outstanding shares yang ada, perhitungannya dapat dilakukan dengan cara

mengalikan banyaknya saham yang beredar dengan harga pasar saat ini. Market

capitalization/Firm size dapat dihitung dengan rumus (Darusman, 2012):

Firm Size = Harga Saham x Jumlah Saham Beredar (2.2)

Return saham perusahaan kecil lebih besar dibanding perusahaan besar.

Perusahaan kecil lebih tahan terhadap kondisi ekonomi karena dalam mengontrol

perusahaannya, mereka mencoba untuk meningkatkan pertumbuhan laba.

Perkembangan perusahaan kecil dilakukan dengan menahan laba sehingga dapat

mengurangi hutang, menambah kapasitas produksi, atau membuka cabang baru

perusahaannya. Adanya penambahan produksi dinilai investor perusahaan memiliki

prospek yang baik dimasa depan sehingga mereka akan menanamkan modalnya.

Penanaman modal yang dilakukan berdasarkan pada sedikitnya risiko bisnis yang

akan dialami perusahaan dibandingkan keuntungan yang didapat nantinya.

Ukuran perusahaan adalah tolak ukur besar – kecilnya perusahaan dengan

melihat besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai total aset yang dimiliki

perusahaan (Riyanto, 1995). Chen dan Jiang (2001) menyatakan bahwa perusahaan

besar cenderung melakukan diversifikasi usaha lebih banyak daripada perusahaan

kecil. Oleh karena itu, kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha atau

(38)

Perusahaaan besar yang sudah memiliki track record yang baik mungkin

akan lebih menarik dimata investor. Track record yang baik ini memungkinkan

perusahaan untuk bisa meminjam modal lebih banyak. Peminjaman modal yang

banyak ini berdampak pada pemenuhan harapan investor atas keuntungan

perusahaan. Jika laba yang diperoleh perusahaan kecil perusahaan tetap harus

membayar hutangnya maka dari itu perusahaan mengurangi pembagian laba bahkan

tidak sama sekali karena untuk menutupi hutang. Semakin banyak investor yang

menanamkan modalnya, semakin berkurang porsi keuntungan yang digunakan untuk

mengembangkan perusahaan. Risiko yang ditimbulkan dari hutang perusahaan yang

besar akan mengurangi kemampuan perusahaan dalam memenuhi harapan. Namun,

hal ini belum menjamin bahwa keuntungan yang akan didapat lebih tinggi

(Darusman, 2012).

Menurut Titman dan Wessel, 1988 (Sisworo, 2011), perusahaan besar lebih

memilih hutang jangka panjang, sedangkan perusahaan kecil lebih memilih hutang

jangka pendek. Namun demikan, firm size mungkin juga menjadi alternatif untuk

informasi yang dimiliki pihak luar. Perusahaan yang besar sering diversifikasikan

lebih luas dan memiliki arus kas yang lebih stabil sehingga kemungkinan pailit lebih

kecil dibanding perusahaan kecil. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa,

perusahaan yang besar akan lebih aman dalam memperoleh hutang karena

perusahaan mampu dalam pemenuhan kewajibanya dengan adanya diversifikasi yang

lebih luas dan memiliki arus kas yang stabil, dan hal ini berarti struktur modalnya

(39)

Schmalensee (1989) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan besar lebih

profitable dibandingkan dengan perusahaan kecil dalam industri yang sama. Seperti

peneliti lain, Schmalensee menggunakan total aktiva (asset) sebagai proksi ukuran

(size) perusahaan, dan pengukur tingkat keuntungan akuntansi diwakili oleh profit

margin dan return on asset. Akan tetapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Schmalensee (1987) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan (firm size) dan

profitabilitas tidak berhubungan secara signifikan bila perusahaan-perusahaan dalam

suatu industri dikelompokkan ke dalam sub industri. Dengan demikian peneliti yang

sama menghasilkan temuan yang berbeda. Menurut Kaen dan Baumann (2003), teori

perusahaan yang ada sekarang ini belum kuat untuk bisa menjelaskan apakah

perusahaan-perusahaan besar lebih profitabilitas dari perusahaan kecil. Bahkan

Dhawan (2001) yang menguji hubungan antara ukuran perusahaan dengan

produktifitas perusahaan di Amerika Serikat tahun 1970 dan 1989 menemukan hasil

yang berlawanan. Dhawan menunjukkan bahwa profitibilitas yang diukur dengan

return on asset berhubungan negatif dengan ukuran perusahaan. Berbeda dengan

Dhawan, Kaen dan Baumann (2003) menguji hubungan ukuran perusahaan dengan

tingkat profitibilitas pada industri manufaktur di Amerika. Hasil penelitian mereka

menunjukan hampir separoh perusahaan yang tergabung dalam industri manufaktur

tersebut menunjukkan profitibilitas meningkat dengan tingkatan yang semakin

menurun (a decreasing rate), dan akhirnya profitibilitas tersebut menurun ketika

(40)

2.5.6 Book to Mareket Ratio

Book to Market Ratio merupakan perbandingan antara nilai buku saham suatu

perusahaan dengan nilai pasarnya di pasar modal. Nilai pasar adalah nilai ekuitas

yang dipandang oleh investor.

Rumus book to market ratio adalah (Darusman, 2012):

Book to Market Ratio = �����������������

������������������� (2.3)

Atau

Book to Market Ratio = ��������������������������

������������������� (2.4)

Menurut Gitman (2009) market to book ratio (MtB) merupakan rasio

perbandingan antara harga pasar per lembar saham dibandingkan dengan nilai buku

perusahaan. Menurut Pontiff dan Schal (1998), dalam penelitiannya market to book

ratio mampu memperkirakan pengaruh antara nilai buku dengan stock return, serta

menentukan apakah investor akan mendapatkan capital gain (keuntungan) atau

capital loss (kerugian) atas investasi saham yang dipilihnya. Selain itu, market to

book ratio juga digunakan dalam perusahaan untuk menghitung stock return secara

cross sectional, serta menampilkan bahwa pendapatan dividen dan laba sebagai

variabel yang independen (Fama dan French, 1995).

Pengaruh market to book ratio terhadap saham dengan hasil rasio yang cukup

tinggi antara nilai pasar dan nilai buku memiliki kemampuan dalam menghitung

(41)

menghasilkan suatu variabel yang berhubungan dengan stock return, dimana strategi

dasar dalam melakukan trading digunakan 2 kombinasi yaitu pendapatan dan nilai

buku (Bae dan Kim 1998). Selain itu, MtB ratio juga memberikan profitabilitas hasil

pendapatan saham dimasa akan datang dengan menggunakan kombinasi antara MtB

ratio dan dividend yield, dimana kombinasi tersebut dapat menunjukkan

performance atas stock return dimasa yang akan datang (Jiang dan Lee, 2007) dalam

Margaretha dan Damayanti (2008).

2.5.7 Likuiditas

Likuiditas yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban

keuangan (finansial) jangka pendek atau yang segera dipenuhi (Martono dan Harjito,

2001: 17). Analisis likuiditas dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur

neraca yang ada pada aktiva lancar dan utang lancar. Semakin besar nilai

likuiditasnya menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan memenuhi

kewajiban jangka pendeknya. Karena dana internal perusahaan yang tersedia dalam

jumlah yang besar sehingga, perusahaan akan terlebih dahulu menggunakan dana

sendiri dalam memenuhi kebutuhan operasional perusahaan kemudian menggunakan

pinjaman jika memang diperlukan (Marpaung, 2013).

Likuiditas diukur dari kemampuan investor untuk mengkonversikan sebuah

investasi dalam bentuk uang kas pada waktu yang relatif singkat pada nilai pasar

(42)

likuiditas berarti yang ditanggung pemodal kalau inigin menjual sekuritasnya

“tergesa-gesa” (Husnan, 1994: 199).

Aktiva keuangan diperdagangkan di pasar, ukuran utama likuiditas adalah

besarnya selisih hasil antara harga penawaran (harga yang diinginkan) dengan harga

uang diminta (harga yang disetujui pembeli) atau yang disebut dengan bid-ask

spread. Semakin besar bid-ask spread suatu saham berarti semakin likuid saham

tersebut dan semakin besar spread semakin rendah pula likuiditasnya. Bagi pemodal,

saham yang lebih likuid akan dinilai lebih baik menarik daripada saham yang tidak

atau kurang likuid (Pratama, 2009).

Menurut Brown (Saputra, 2002: 18), faktor penentu dari likuiditas pasar

sehubungan dengan surat berharga saat tercermin dalam data perdagangan pasar dan

faktor yang terpenting dari likuiditas ini adalah jumlah uang dari lembar saham uang

diperdagangkan. Hal ini menunujukkan bahwa likuiditas surat berharga, dalam hal

ini saham, dilihat dari volume perdagangan dan frekuensi perdagangan yang terjadi

dimana likuiditas ini dipengaruhi oleh bid price dan ask price yang berlangsung di

pasar. Saham yang memiliki spread yang lebih besar akan memberikan return yang

lebih tinggi.Bid-ask spread merupakan selisih antara bid price dengan ask price. Bid

menunjukkan harga yang diajukan oleh pihak yang akan melakukan transaksi

pembelian saham tersebut, dan sebaliknya offer atau sering disebut juga ask

menunjukkan harga yang ditawarkan oleh pihak yang akan menjual saham tersebut

(Darmadji & Fakhruddin, 2006). Bid merupakan permintaan terbaik (tertinggi) untuk

(43)

bid-ask spread yang semakin kecil dari suatu saham menandakan bahwa saham

tersebut semakin likuid dan berlaku sebaliknya.

Rumus untuk menghitung bid-ask spread (Elly dan Leng, 2002) adalah

sebagai berikut (Zuriah, 2013):

Bid-ask spread = ��������−��������

�������� x 100 (2.5)

2.5.7.1 Risiko Likuiditas

Investasi dalam surat berharga tentu tidak akan terlepas dari suatu risiko baik

ketika investor menjual sekuritas yang dimilikinya di bawah harga beli maupun

ketika sekuritas yang dimilikinya tidak mampu terjual dengan cepat atau disebut

dengan risiko likuiditas. Risiko likuiditas merupakan salah satu dari berbagai macam

jenis risiko dalam investasi yang menjadi perhatian khusus bagi para investor.Risiko

likuiditas (illikuiditas) merupakan risiko yang disebabkan oleh tersendaknya aliran

arus kas akibat sekuritas yang dimiliki tidak cepat terjual. Amihud dan Mendelson

(1980) serta Glosten dan Milgrom (1985) dalam Amihud (2002) menjelaskan bahwa

Illiquidity reflects the impact of order flow on pricethe discount that a seller

concedes or the premium that a buyer pays when executing a market order-that

results fromad verse selection costs and inventorycosts.” (Zuriah, 2013).

Di dalam penelitian Amihud (2002) illikuiditas atau disebut ILLIQ diukur

berdasarkan rasio rata-rata harian dari absolut pengembalian saham dengan volume

(44)

dari harga harian dengan satu dollar volume perdagangan. Amihud (2002) juga

menerangkan beberapa pengukuran illikuiditas lainnya seperti menggunakan bid-ask

spread (quoted or effective), transaction-by transaction market impact dan the

probability of information based trading. Pengukuran dari risiko likuiditas

membantu investor dalam mengantisipasi dari kerugian yang dapat ditimbulkan.

Namun, ada kalanya risiko likuiditas tidak dapat dihindari sehingga perusahaan

dinyatakan bangkrut, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini, hak bagi

pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban

perusahaan dilunasi. Apabila masih terdapat sisa, akan dibagi secara proporsional

kepada seluruh investor. Apabila tidak terdapat sisa maka investor tidak

mendapatkan hasil dari likuiditas tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang

terberat dari pemegang saham. Oleh sebab itu, setiap investor perlu berhati-hati

terhadap risiko likuiditas.

2.5.8 Asset Pricing Model

2.5.8.1Capital Asset Pricing Model

Pada dasarnya jika seseorang mengambil suatu risiko, maka dia

mengharapkan return yang sesuai dengan risiko yang diambilnya tersebut. Dalam

pasar modal, investor mengharapkan additional return (disebut risk premium) jika

mereka harus menanggung additional risk. Capital Asset Pricing Model (CAPM)

adalah sebuah model hubungan antara risiko dan expected return suatu sekuritas atau

(45)

(Zubir, 2011: 197). CAPM ini sudah mulai dikenal sejak tahun 1960-an yang

dikembangkan oleh Willian Sharpe. CAPM ini mendasari pemikiran teori portofolio

yang menyatakan bahwa investor akan memilih suatu portofolio saham yang dapat

memaksimumkan expected return untuk tingkat risiko tertentu, atau meminimumkan

risiko untuk memperoleh expected return tertentu. Hubungan antara dua parameter

(risk dan expected return) dalam CAPM dirumuskan sebagai berikut (Amyulianthy,

2013):

E(Rit) = Rf(1-βi) + βiE(Rmt) (2.6)

Keterangan:

E(Rit) = expected return dari saham i pada perode t

Rf = return dari risk-free investment

Rm = return dari pasar secara keseluruhan

βi = beta dari perusahaan i

2.5.8.2 Single Index Model

Pada tahun 1963, William Sharpe mengembangkan model analisis portofolio

yang disebut Single Index Model (Model Indeks Tunggal). Model ini merupakan

penyederhanaan perhitungan dari model Markowitz dengan menyediakan

parameter-parameter input yang diperlukan dalam perhitungan model Markowitz (Dahlan,

2013). Menurut Zubir (2011), Single index model atau model indeks tunggal adalah

sebuah teknik untuk mengukur return dan risiko sebuah saham atau portofolio.

(46)

dengan pergerakan pasar. Jika pasar bergerak naik, dalam arti permintaan terhadap

pemintaan terhadap saham meningkat, maka harga saham di pasar akan naik pula.

Sebaliknya, jika pasar bergerak turun, maka harga saham akan turun pula. Jadinya,

return saham berkorelasi dengan return pasar. Setiap perusahaan tidak sama dalam

merespon perubahan pasar. Ada perusahaan yang sensitif terhadap perubahan pasar,

ada pula yang kurang sensitif.

Pada umumnya saham yang diamati kebanyakan saham mengalami kenaikan

saham jika indeks harga saham naik, begitu juga sebaliknya jika harga saham turun,

kebanyakan saham mengalami penurunan harga. Hal ini menggambarkan bahwa

return dari sekuritas mungkin berkorelasi karena adanya reaksi umum (common

response) terhadap perubahan nilai pasar. Secara statistik, hubungan return saham

dan return pasar dinyatakan dengan persamaan garis lurus berikut:

Ri = αi + βi Rm (2.7)

Sumber: Zubir (2011: 97)

Keterangan:

Ri = return saham ke-i

αi = komponen dalam return saham i yang independen terhadap return pasar

βi = konstanta yang mengukur expected perubahan Ri terhadap perubahan Rm

(47)

2.6 Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian terdahulu dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Brennan dan Wang (2006) yang berjudul

menunjukkan harga pasar yang berbeda dengan harga dasar dikarenakan

kesalahan harga saham, bisa dalam pengambilan rata-rata dikarenakan adanya

ketidaksetaraan.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Amihud, Mandelson, dan Pedersen (2006)

membuktikan bahwa likuiditas dapat berperan dalam menyelesaikan sejumlah

teka-teki asset pricing seperti-perusahaan kecil. Akibatnya, terjadi teka-teki

terhadap premium ekuitas dan tingkat bebas risiko.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Qiang Kang (2009) menyatakan bahwa adanya

mispricing dalam model asset pricing linear memperingatkan bahwa

penggunaan model tersebut dalam menjelaskan kembali cross sectional.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Brennan dan Wang (2010) menyatakan bahwa

saham yang mengalami mispricing akan cenderung kembali ke kondisi harga

fundamentalnya.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Trinugroho dan Rinofah (2011) yang berjudul

menyatakan bahwa pergerakan harga saham yang menyimpang (mispricing) di

pasar modal mempunyai pengaruh dalam pemilihan sumber pendanaan

(48)

2.7 Kerangka Konseptual

Pada kerangka konseptual didasarkan pada definisi-definisi, landasan teori,

dan penelitian terdahulu yang membuktikan hubungan berpengaruhnya size, book to

market ratio, dan likuiditas terhadap mispricing. Mispricing merupakan salah satu

isu yang sering terjadi dalam perdagangan saham. Mispricing merupakan kondisi

dimana terjadi perbedaan antara harga pasar dengan harga fundamental. Harga

fundamental sendiri merupakan harga yang konsisten dengan asset pricing model

klasik. Saham yang mengalami mispricing akan cenderung kembali pada kondisi

harga fundamentalnya (Brennan dan Wang, 2010) dalam Aji, 2012. Sehingga ketika

kita mengetahui saham yang mengalami mispricing, maka hal tersebut dapat

digunakan dalam strategi berinvestasi.

Di Indonesia, penelitian tentang mispricing seperti yang dilakukan oleh

Rinofah (2009), Trinugroho dan Rinofah (2011) telah membuktikan bahwa

pergerakan harga saham yang menyimpang (mispricing) di pasar modal mempunyai

pengaruh dalam pemilihan sumber pembiayaan perusahaan yang tercermin dalam

rasio debt to equity (D/E). Di lain pihak, Brennan dan Wang (2010) menguji

pengaruh book to market ratio perusahaan dan ukuran (size) perusahaan pada tingkat

mispricing.

Kerangka konseptual yang dapat digambarkan dari penelitian ini adalah

(49)

Likuiditas Saham Perusahaan

(Silber, 1991)

Variabel Kontrol

Book to Market Ratio Perusahaan

(Brennan & Wang, 2010)

Ukuran Perusahaan (Firm Size)

(Chan & Chen, 1991)

Mispricing Saham Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

Sumber: Aji, 2012

2.8 Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karateristik-karateristik

perusahaan dapat mempengaruhi mispricing return. Adapun hipotesis dar penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Ukuran (size) perusahaan berpengaruh signifikan terhadap mispricing.

2. Book to market ratio perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap

mispricing.

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup dan Model Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaruh ukuran (size) perusahaan, book to market ratio, dan

likuiditas saham terhadap fenomena mispricing di Indonesia. Penelitian ini

menggunakan Eviews 7.1. Penelitian ini menggunakan data-data kuantitatif, yaitu

data numerik (angka) yang menjelaskan nilai pada setiap variabel. Penelitian ini

menggunakan media internet dalam memperoleh data dengan mengunduh dari Yahoo

Finance, Bank Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan

jangka waktu selama 4 tahun, yaitu periode tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013.

Jenis penelitian ini menggunakan model data panel untuk menguji hipotesis

yang dikemukakan sebelumnya, yaitu menguji pengaruh karateristik perusahaan

seperti ukuran (size), book to market ratio, dan likuiditas terhadap mispricing saham

perusahaan. Dalam penelitian ini, likuiditas diukur dengan tiga ukuran yaitu Amihud

Iiliquidity, Amihud Risk dan Share Turnover. Tujuannya adalah untuk mengetahui

konsistensi ketiga ukuran tersebut. Model penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

σ = β0 + β1 BMi,t + β2Ln(size)i,t + β3Amihud Illiquidityi,t + εi,t (3.1)

σ = β0 + β1 BMi,t + β2Ln(size)i,t + β3Amihud Riski,t + εi,t (3.2)

(51)

keterangan:

σ = parameter mispricing

BMi,t = book to market ratio perusahaan i pada akhir bulan t

Size = market value of common equity perusahaan i akhir bulan t

Amihud Illiquidityi,t = Amihud Illiquidity perusahaan i pada akhir bulan t

Amihud Riski,t = Amihud Risk perusahaan i pada akhir bulan t

Share Turnoveri,t = Share Turnover perusahaan i pada akhir bulan t

3.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dengan

jenis data time series selama 4 (empat) tahun. Pengujian empiris dalam penelitian ini

menggunakan statistik deskriptif, analisis panel data (pool data), uji signifikan dan

uji goodness of fit. Penelitian ini menggunakan data perusahaan-perusahaan di sektor

perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2010-2013.

Data penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber seperti Yahoo Finance

(finance.yahoo.com), Bank Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Populasi yang

digunakan dalam peneltian ini adalah perusahaan-perusahan perbankan yang

(52)

Dalam penelitian ini, yang menjadi sampel yang akan diteliti adalah hanya

perusahaan-perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan

periode dari Januari 2010 sampai dengan Desember 2013. Penelitian ini

menggunakan data-data sebagai berikut:

1. Data harga saham bulanan

2. Data Indeks Harga Saham Gabungan bulanan

3. Data nilai kapitalisasi pasar atau market value of equity

4. Data volume transaksi saham bulanan

5. Data outstanding share bulanan

6. Data book value of equity bulanan

7. Data yield government bond atau obligasi pemerintahIndonesia

Sampel yang digunakan menggunakan beberapa kriteria, yaitu:

1. Terdaftar sebagai perusahaan perbankan terbuka pada periode 2010-2013.

2. Data harga saham, data nilai ekuitas dan data jumlah saham beredar yang

tersedia pada periode penelitian.

Tabel 3.1 Sampel Penelitian No Nama Perusahaan

1. PT. Bank Artha Graha Internasional, Tbk 2. PT. Bank Bukopin, Tbk

Gambar

Tabel 2.1 Anomali Pasar
Tabel 2.1 Anomali Pasar (sambungan)
Gambar 2.1
Tabel 3.1 Sampel Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh antara likuiditas dan leverage terhadap agresivitas pajak perusahaan perdagangan dan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Pengaruh Likuiditas Dan Profotabilitas Terhadap Harga Saham Perusahaan Pada Sektor Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada / tidaknya perbedaan likuiditas saham sebelum dan sesudah pengumuman reverse stock split pada perusahaan yang terdaftar di Bursa

Laporan Akhir ini berjudul “ Pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Farmasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun

Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap tingkat pengembalian saham pada perusahaan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Net Profit Margin , Likuiditas, dan Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga SBI dan tingkat likuiditas terhadap risiko investasi saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa

PENGARUH TINGKAT LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA BEI Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur sub