PERHITUNGAN DEBIT DAN LUAS GENANGAN BANJIR
SUNGAI BABURA
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi syarat penyelesaian pendidikan sarjana teknik sipil
Disusun oleh :
BENNY STEVEN 090424075
BIDANG STUDI TEKNIK SUMBER DAYA AIR
PROGRAM PENDIDIKAN EKSTENSI
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
i ABSTRAK
DAS Babura adalah sungai yang merupakan cabang dari Sungai Deli. Sungai Babura terbentang sepanjang 36,570 km, dari daerah kawasan Sibolangit hingga Kota Medan. Luas catchment area sungai Babura hingga pertemuan Sungai Deli ialah 99 km2. Sungai Babura menyediakan potensi air yang besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat terutama Kota Medan, namun seringkali juga mendatangkan bencana, yaitu banjir yang setiap tahun terjadi. Banjir yang terjadi di Kota Medan salah satu kemungkinannya diakibatkan oleh adanya perubahan tataguna lahan di daerah hulu kawasan DAS, kesalahan dalam mengimplementasikan rencana tata ruang Kota Medan, maupun iklim ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini.
Penelitian yang dilakukan dalam menyusun tugas akhir ini adalah menghitung debit dan luas genangan banjir sungai Babura dibagian hulu Kec. Medan Johor di titik 270 dengan interval 50 m sampai kehilir di titik 1 di Kec. Medan Barat. Dengan adanya Data primer yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan/ pengukuran langsung di lapangan, dan data sekunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait atau badan-badan tertentu yaitu data curah hujan, peta tata guna lahan dan peta topografi. Maka dari data-data tersebut dapat dihitung banjir kala ulang dengan metode Gumbel dan kemudian data tersebut diolah menjadi data grand total debit banjir menurut periode kala ulang 2, 3, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun sungai Babura dengan Metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu.
Berdasarkan hasil dari perhitungan debit banjir rancangan maksimum pada bagian Penampang BB 1 diperoleh Q25 = 221,63 m3/det; Q50 = 262,15 m3/det dan
Q100 = 307,46 m3/det, pada bagian Penampang BB 135 diperoleh Q25 = 216,51
m3/det; Q50 = 256,10 m3/det dan Q100 = 300,37 m3/det, dan pada bagian
Penampang BB270 diperoleh Q25 = 201,17 m3/det; Q50 = 237,95 m3/det dan Q100
ii sekitar 1,07 m dengan luas genangan banjir sekitar 0,43 km2 dan Volume banjir = 0,00025 km3; menurut periode kala ulang 100 tahun diperoleh tinggi muka air sekitar 1,23 m dengan luas genangan banjir sekitar 0,44 km2 dan Volume banjir = 0,00037 km3
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih-Nya memberikan pengetahuan, pengalaman, kekuatan, dan kesempatan kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan laporan tugas akhir dengan topik “ Perhitungan Debit dan Luas Genangan Banjir Sungai Babura .
Laporan tugas akhir ini disusun sebagai syarat mata kuliah Tugas Akhir bagi semester Akhir Jurusan Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini penulis memperoleh bantuan baik moril maupun materil, secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini terutama kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ing Johannes Tarigan, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil;
2. Bapak Dr. Ir. A. Perwira Mulia, M.Sc, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada saya;
3. Bapak Ir. Makmur Ginting, M.Sc, selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada saya;
4. Bapak Ivan Indrawan,ST, MT , selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada saya;
5. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Teknik Sipil;
6. Orang tua dan saudara-saudari penulis;
7. Asril Zevri ST, MT terima kasih atas saran-saran serta bantuannya dalam perhitungan dan penulisan laporan ini;
iv
ekstention yang ikut membantu, baik dukungan, saran-saran serta bantuanya dalam perhitungan dan penulisan laporan ini;
9. Dan segenap pihak yang belum tersebut di sini terima kasih atas jasa-jasanya dalam mendukung dan membantu penulis dari segi apapun, sehingga Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik, semoga Tuhan membalasnya dengan kebaikan pula.
Walaupun penulis sudah berupaya semaksimal mungkin, namun penulis juga menyadari kemungkinan terdapat kekurangan dan khilaf. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran-saran dan kritikan yang dapat memperbaiki laporan ini.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Medan, April 2015
Hormat penulis:
BENNY STEVEN
iv
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR NOTASI... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 2
1.3 Manfaat Penelitian ... 3
1.4 Metodologi Penelitian... 3
1.4.1 Analisis Data ……….. 4
1.5 Pembatasan Masalah……….. 5
1.6 Sistematika Penulisan ……….. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8
2.1 Siklus dan Proses Hidrologi ... 8
2.1.1 Siklus Hidrologi ………. ... 8
2.2 Sungai ... 10
2.2.1 Pengertian Sungai ……….. 10
2.2.2 Bentuk-bentuk daerah aliran sungai ……… 11
v
2.3.1 Pengertian DAS……….. ... 14
2.4 Banjir ... 15
2.4.1 Pengertian Banjir ... 15
2.4.2 Berbagai Macam Banjir ... 16
2.4.3 Tingkat Bahaya Banjir ... 17
2.5 Analisis Curah Hujan Kawasan……… 18
2.5.1 Metode Aritmatik (Aljabar) ... 18
2.5.2 Metode Thiessen………. ... 19
2.5.3 Metode Isohyet……… ... 20
2.6 Analisis Frekuensi ... 20
2.6.1 Distribusi Gumbel ... 22
2.6.2 Distribusi Log Pearson Tipe III ... 22
2.6.3 Distribusi Normal ………. 23
2.6.4 Metode Distribusi Log Normal………. . 23
2.7 Uji kecocokan (Goodnes of fittest test)………….. ... 24
2.8 Intensitas Curah Hujan………….. ... 25
2.9 Waktu Konsentrasi ... 26
2.10 Analisis Debit Banjir ... 27
2.10.1 Debit Banjir…. ... 27
2.10.2 Metode Perhitungan Debit Banjir ……… 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34
3.1. Lokasi Penelitian ... 34
3.2 Metodologi Pengolahan Data ... 36
vi
3.2.2 Observasi Data Curah Hujan ……… .. 36
3.2.3 Uji Kecocokan (Goodness of Fittest Test) ……… 37
3.2.4 Menganalisa Debit Banjir Rancangan dengan Metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu………. .. . 37
3.3 Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Banjir dengan Menggunakan Rumus Manning dan Perhitungan Luas Genangan Banjir. ... 38
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN ... 41
4.1. Kondisi DAS Babura ... 41
4.2 Perhitungan Data Curah Hujan Kawasan ……… ... 41
4.3 Perhitungan Koefisien Pengaliran Sungai Babura…. ... 45
4.4 Perhitungan Frekuensi Curah hujan Kala Ulang…. ... 47
4.4.1 Metode Distribusi Gumbel……….. 48
4.4.2 Metode Distribusi Log Pearson Tipe III……….. .... 49
4.4.3 Metode Distribusi Normal……….. . 50
4.4.4 Metode Distribusi Log Normal……….... 51
4.5 Uji Kecocokan (Godness of Fit test) ……… ... 53
4.6 Debit Banjir Rancangan Metode Hidrograf Sintetik Nakayasu Sungai Babura……… 54
4.7 Perhitungan Kapasitas Debit Saluran dan Lebar Genangan ... 76
4.7.1 Pada bagian penampang BB 270 ...………. 76
4.7.2 Pada bagian penampang BB 108 ……...….……… 82
4.7.3 Pada bagian penampang BB 1. ……… ……… 88
vii 4.8.1. Periode Ulang Q25 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
penampang BB 135 ... 94
4.8.2. Periode Ulang Q25 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 95
4.8.3. Periode Ulang Q50 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
penampang BB 135 ... 96
4.8.4. Periode Ulang Q50 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 97
4.8.5. Periode Ulang Q100 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
penampang BB 135 ... 98
4.8.6. Periode Ulang Q100 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 99
4.9. Perhitungan Volume Banjir ... 100
4.9.1. Periode Ulang Q25 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
penampang BB 135 ... 100
4.9.2. Periode Ulang Q25 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 100
4.9.3. Periode Ulang Q50 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
penampang BB 135 ... 100
4.9.4. Periode Ulang Q50 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 101
4.9.5. Periode Ulang Q100 diantara Bagian Penampang BB 270 ke
viii 4.9.6. Periode Ulang Q100 diantara Bagian Penampang BB 135 ke
penampang BB 1 ... 101
4.9. Perhitungan Tinggi Muka air dengan Menggunakan Autocad ... 102
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 111
5.1. Kesimpulan ... 111
5.2 Saran ... 112
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1: Bagan alir penelitian ……… ... 6
Gambar 2.1: Proses siklus hidrologi ... 9
Gambar 2.2: DAS bentuk memanjang ... 12
Gambar 2.3: DAS bentuk radial ... 12
Gambar 2.4: DAS bentuk paralel ... 13
Gambar 2.5: DAS bentuk komplek ... 13
Gambar 2.6: Aljabar ... 19
Gambar 2.7: Polygon Thiessen ... 19
Gambar 2.8: Metode Isohyet ... 20
Gambar 2.9: Kurva Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu ... 32
Gambar 3.1: Peta Lokasi Penelitian ... 35
Gambar 3.2: Contoh Kapasitas debit saluran ... 38
Gambar 3.3: Contoh Kapasitas debit meluap ... 39
Gambar 3.4: Contoh Luas Genangan Banjir ... 40
Gambar 4.1: Polygon Thiessen DAS Babura ... 43
Gambar 4.2: Peta Rencana Tata Ruang Kota Medan... 46
Gambar 4.3: Grafik Metode Gumbel ... 48
Gambar 4.4: Grafik Metode Log Pearson Tipe III ... 49
Gambar 4.5: Grafik Metode Distribusi Normal ... 50
Gambar 4.6: Grafik Metode Distribusi Log Normal ... 51
Gambar 4.7: Grafik Resume Frekuensi Curah Hujan Kala Ulang DAS Babura ... 52
Gambar 4.8: Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu bagian Hilir ... 57
Gambar 4.9: Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Menurut Periode Ulang di bagian Hilir Sungai Babura ... 61
x Gambar 4.11: Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Menurut Periode Ulang
di bagian Tengah Sungai Babura ... 68
Gambar 4.12: Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu bagian Hulu ... 71
Gambar 4.13: Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Menurut Periode Ulang di bagian Hulu Sungai Babura ... 75
Gambar 4.14: Penampang Saluran Dibagian Tengah (BB270) ... 76
Gambar 4.15: Debit TergenangQ25 di bagian Tengah ( BB 270) ... 77
Gambar 4.16: Debit TergenangQ50 di bagian Tengah ( BB 270) ... 79
Gambar 4.17: Debit TergenangQ100 di bagian Tengah ( BB 270) ... 80
Gambar 4.18: Penampang Saluran di Bagian Tengah (BB 135) ... 82
Gambar 4.19: Debit Tergenang Q25 di bagian Tengah (BB 135) ... 83
Gambar 4.20: Debit Tergenang Q50 di bagian Tengah (BB 135) ... 85
Gambar 4.21: Debit Tergenang Q100 di Bagian Tengah (BB135) ... 86
Gambar 4.22: Penampang Saluran di Bagian Hilir (BB 1) ... 88
Gambar 4.23: Debit Tergenang Q25 di Bagian Hilir (BB1) ... 89
Gambar 4.24: Debit Tergenang Q50 di Bagian Hilir (BB1) ... 91
Gambar 4.25: Debit Tergenang Q100 di Bagian Hilir (BB1) ... 92
Gambar 4.26: Luas genangan Q25 diantara Penampang BB 270 ke BB 135 ... 94
Gambar 4.27: Luas genangan Q25 diantara Penampang BB 135 ke BB 1 ... 95
Gambar 4.28: Luas genangan Q50 diantara Penampang BB 270 ke BB 135 ... 96
Gambar 4.29: Luas genangan Q50 diantara Penampang BB 135 ke BB 1 ... 97
Gambar 4.30: Luas genangan Q100 diantara Penampang BB 270 ke BB 135 ... 98
Gambar 4.31: Luas genangan Q100 diantara Penampang BB 135 ke BB 1 ... 99
Gambar 4.32: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q25tahun di penampang BB 270 ... 102
Gambar 4.33: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q50tahun di penampang BB 270 ... 103
Gambar 4.34: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q100tahun di penampang BB 270 .... 104
xi Gambar 4.36: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q50tahun di penampang BB 135 ... 106
Gambar 4.37: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q100tahun di penampang BB 135 .... 107
Gambar 4.38: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q25tahun di penampang BB 1 ... 108
Gambar 4.39: Perhitungan Tinggi Muka air Banjir Q50tahun di penampang BB 1 ... 109
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1: Tingkat Bahaya Banjir ... 18
Tabel 2.2: Tabel Nilai ∆ Kritis Smirnov-Kolmogrov (Kamiana, 2011) ... 25
Tabel 4.1: Data Curah Hujan Bulanan dan Harian Maksimum (mm)... 42
Tabel 4.2: Luas areal pengaruh stasiun hujan Daerah Aliran Sungai Babura ... 44
Tabel 4.3: Nilai Koefisien Pengaliran Sungai Babura... 45
Tabel 4.4: Tabel Ranking Curah Hujan Regional Harian Maksimum (mm) ... 47
Tabel 4.5: Hasil Perhitungan dengan Metode Gumbel ... 48
Tabel 4.6: Hasil Pehitungan Metode Log Pearson Tipe III ... 49
Tabel 4.7: Hasil Perhitungan Metode Distribusi Normal ... 50
Tabel 4.8: Hasil Perhitungan Metode Distribusi Log Normal ... 51
Tabel 4.9: Resume Perhitungan Frekuensi Curah Hujan Kala Ulang DAS Babura ... 52
Tabel 4.10: Uji Distribusi Frekuensi Curah Hujan Kala Ulang DAS Babura ... 53
Tabel 4.11: Persamaan Lengkung Hidrograf Nakayasu ... 56
Tabel 4.12: Distribusi Curah Hujan Rencana Sungai Babura bagian Hilir ... 58
Tabel 4.13: Perhitungan Hidrograf Satuan (UH) pada bagian Hilir ... 59
Tabel 4.14: Total Debit Menurut Periode Kala Ulang pada bagian Hilir ... 60
Tabel 4.15: Distribusi Curah Hujan Rencana Sungai Babura bagian Tengah ... 65
Tabel 4.16: Perhitungan Hidrograf Satuan (UH) pada bagian Tengah ... 66
Tabel 4.17: Total Debit Menurut Periode Kala Ulang pada bagian Tengah ... 67
Tabel 4.18: Distribusi Curah Hujan Rencana Sungai Babura bagian Hulu... 72
Tabel 4.19: Perhitungan Hidrograf Satuan (UH) pada bagian Tengah ... 73
xiii
DAFTAR NOTASI
A = Luas penampang basah/daerah (m2/km2) b = Lebar penampang basah (m)
C = Tetapan (0,40)
C0 = Konsentrasi aliran sungai (mg/I)
D = Kedalaman (m)
G = Koefisien kemencengan h = Tinggi penampang basah (m) I = Kemiringan dasar sungai
IT = Intensitas curah hujan dengan periode ulang T tahun
inetto = Hujan efektif (mm)
K = Variabel standar untuk R yang besarnya tergantung dari nilai G KT = Faktor frekuensi
L = Jarak penampang/panjang saluran (m)
n = Angka kekasaran manning untuk kondisi tanah P = Keliling basah (m)
Q = Debit saluran (m3/det) Qb = Aliran dasar (m3/det)
Qi = Total debit banjir pada jam ke i akibat limpasan hujan efektif (m3/det)
Qn = Debit pada saat jam ke n (m3/det)
Qp = Debit puncak (m3/det)
q = Besar aliran larutan garam (l/det) R = Curah hujan rata-rata wilayah
Rel = Hujan rencana efektif jam ke 1 (mm/jam)
xiv
S = Standar deviasi data hujan Sf = Kemiringan garis energi
Sn = Reduced standar deviation yang tergantung pada jumlah sampel/data
So = Kemiringan dasar saluran
T = Waktu (s)
Tr = Durasi hujan (jam)
tp = Waktu puncak (jam)
t0,3 = Waktu saat debit sama dengan 0,3 kali debit puncak (jam)
UH1 = Ordinat hidrograf satuan
V = Volume (mm3)
v = Kecepatan aliran (m/s) X = Nilai rata-rata hitung sampel
XT = Perkiraan nilai yang diharapkan akan terjadi dengan periode ulang
Yn = Reduced mean yang tergantung jumlah sampel/data n
YTr = Reduced variate
1,5 t0,3 = Waktu saat debit sama dengan 0,32 kali debit puncak (jam)
πd = Kekentalan dinamik
λ = Kedalaman tangkai/ dalamnya air
n = Standar deviasi dari populasi x
a = Sudut kemiringan permukaan air
∆x = Bagian saluran sepanjang ∆x
α = Koefisien, nilainya antara 1,5-3,0
xvi DAFTAR LAMPIRAN
i ABSTRAK
DAS Babura adalah sungai yang merupakan cabang dari Sungai Deli. Sungai Babura terbentang sepanjang 36,570 km, dari daerah kawasan Sibolangit hingga Kota Medan. Luas catchment area sungai Babura hingga pertemuan Sungai Deli ialah 99 km2. Sungai Babura menyediakan potensi air yang besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat terutama Kota Medan, namun seringkali juga mendatangkan bencana, yaitu banjir yang setiap tahun terjadi. Banjir yang terjadi di Kota Medan salah satu kemungkinannya diakibatkan oleh adanya perubahan tataguna lahan di daerah hulu kawasan DAS, kesalahan dalam mengimplementasikan rencana tata ruang Kota Medan, maupun iklim ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini.
Penelitian yang dilakukan dalam menyusun tugas akhir ini adalah menghitung debit dan luas genangan banjir sungai Babura dibagian hulu Kec. Medan Johor di titik 270 dengan interval 50 m sampai kehilir di titik 1 di Kec. Medan Barat. Dengan adanya Data primer yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan/ pengukuran langsung di lapangan, dan data sekunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait atau badan-badan tertentu yaitu data curah hujan, peta tata guna lahan dan peta topografi. Maka dari data-data tersebut dapat dihitung banjir kala ulang dengan metode Gumbel dan kemudian data tersebut diolah menjadi data grand total debit banjir menurut periode kala ulang 2, 3, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun sungai Babura dengan Metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu.
Berdasarkan hasil dari perhitungan debit banjir rancangan maksimum pada bagian Penampang BB 1 diperoleh Q25 = 221,63 m3/det; Q50 = 262,15 m3/det dan
Q100 = 307,46 m3/det, pada bagian Penampang BB 135 diperoleh Q25 = 216,51
m3/det; Q50 = 256,10 m3/det dan Q100 = 300,37 m3/det, dan pada bagian
Penampang BB270 diperoleh Q25 = 201,17 m3/det; Q50 = 237,95 m3/det dan Q100
ii sekitar 1,07 m dengan luas genangan banjir sekitar 0,43 km2 dan Volume banjir = 0,00025 km3; menurut periode kala ulang 100 tahun diperoleh tinggi muka air sekitar 1,23 m dengan luas genangan banjir sekitar 0,44 km2 dan Volume banjir = 0,00037 km3
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kota Medan yang merupakan bagian dari sub DAS Babura adalah ibukota
Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai berbagai macam potensi baik ditinjau
dari potensi fisik maupun sosial- ekonomi. Ditinjau dari segi potensi fisik,
Sebagian Kota Medan mempunyai potensi sumber daya air yang cukup besar
berupa air permukaan, dan air tanah. Kondisi hidrologi sebagian Kota Medan
sangat dipengaruhi oleh sub Daerah Aliran Sungai Babura dimana sebagian
wilayah Kota Medan termasuk dalam sistem DAS tersebut. Sebagian dari kota
Medan termasuk bagian hilir dari sub DAS Babura yang umumnya digunakan
sebagai daerah pemanfaatan (discharge area) sehingga potensi sumber daya
airnya sangat tergantung pada daerah hulu (Kecamatan Sibolangit, Kabupaten
Deli Serdang). Daerah hulu tersebutlah yang berfungsi utama sebagai daerah
tangkapan air (recharge area) sehingga kondisi fisik daerah hulu sangat
berpengaruh terhadap limpahan air yang akan diterima di daerah hilir, yaitu Kota
Medan. SubDAS Babura yang merupakan bagian dari DAS Deli di bagian hulu
mempunyai topografi berupa perbukitan dan semakin ke hilir bertopografi
dataran. Sungai utama yang mengalir di sub DAS Babura adalah Sungai Babura
yang merupakan cabang dari Sungai Deli. Sungai Babura menyediakan potensi air
yang besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat terutama Kota Medan,
2 terjadi. Banjir yang terjadi di Kota Medan salah satu kemungkinannya diakibatkan
oleh adanya perubahan tataguna lahan di daerah hulu kawasan DAS, kesalahan
dalam mengimplementasikan rencana tata ruang Kota Medan, maupun iklim
ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini. Banjir yang terjadi menyebabkan
kerugian-kerugian baik berupa harta benda yang tidak sedikit maupun kerugian-kerugian jiwa. Selain
itu, beberapa rumah dan berbagai macam infrastruktur pengairan, jalan dan
fasilitas umum menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan pembangunan di
daerah ini. Berbagai macam aktifitas terhenti sehingga mempengaruhi
kelangsungan pembangunan yang ada di daerah yang terkena banjir. Analisis
kerentanan banjir menjadi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui
daerah-daerah yang rawan terjadi banjir sehingga dapat menentukan strategi pengelolaan
yang tepat untuk pencegahan dan penanggulangan banjir.
1.2Tujuan Penelitian
Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengolahan data debit banjir rancangan sungai babura dengan
menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
2. Menganalisa debit banjir dan luas genangan disungai Babura di kota
medan dengan analisa debit banjir periode ulang 5, 10, 25, 50 dan 100
tahun.
3. Mengestimasi luas genangan banjir sungai Babura menurut periode kala
3 1.3Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk:
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perhitungan debit dan luas
genangan banjir disungai Babura.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang daerah rawan banjir
dan kerentanannya.
3. Sebagai masukan untuk pengembangan kajian ilmiah maupun studi
lanjutan tentang banjir pada suatu sungai dan upaya pengelolaan DAS
1.4 METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian, data merupakan hal yang memiliki peranan penting
sebagai alat penelitian hipotesis pembuktian untuk mencapai tujuan
penelitian. Data yang dibutuhkan pada dasarnya dibagi dalam dua kelompok
yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data primer ini diperoleh dengan cara melakukan pengamatan/
pengukuran langsung di lapangan, meliputi:
• melakukan pengukuran situasi, yang memperlihatkan batas daerah,
pemukiman dan bangunan melintang sungai;
• melakukan pengukuran profil memanjang dan melintang sungai babura
sepanjang 12 km;
• pengukuran melintang sampai batas 15 m dari tepi sungai;
• pengukuran dilakukan dengan alat Theodolith atau yang sejenis;
4 b. Data sekunder diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sampali, Dinas
Kehutanan Kota Medan, dan Dinas Pengembangan Sumber Daya Air,
yang meliputi:
Data curah hujan dan peta stasiun penakar curah hujan
Peta topografi dan tata guna lahan
Peta Das Babura
1.4.1 Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dalam suatu
perhitungan untuk memperoleh hasil penelitian yang selanjutnya akan
diambil kesimpulan dari tujuan penulisan ini. Adapun cara analisis
penelitian ini adalah:
1. Menganalisa curah hujan yaitu dengan mengambil data curah hujan
harian maksimum dari 3 stasiun pengamatan curah hujan setiap DAS yaitu
stasiun Patumbak, Polonia dan stasiun Tuntungan untuk DAS Babura.
2. Menganalisa frekuensi dan probabilitas curah hujan dengan
menggunakan empat jenis distribusi yang digunakan dalam bidang
hidrologi yaitu Distribusi Normal, Distribusi Log Normal, Distribusi Log
Person III, dan Distribusi Gumbel.
3. Menguji hasil distribusi sampel data yang dipilih dengan uji kecocokan
Smirnov-Kolmogorov dengan tujuan persamaan distribusi frekuensi
sampel data yang dipilih dapat diterima atau tidak.
4. Menghitung debit rancangan kala ulang 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun
5 5. Mengestimasi luas genangan banjir sungai Babura dengan terlebih
dahulu mencari tinggi muka air banjir dengan menggunakan rumus
manning yaitu dengan menghitung :
a. Kapasitas maksimum saluran
b. Debit meluap
6. Memberikan kesimpulan dan saran.
1.5Pembatasan Masalah
Laporan Penelitian yang akan diajukan oleh penulis ini hanya membahas masalah pada sungai Babura dengan lingkup kajian sebagai berikut:
1. Menghitung curah hujan dengan data bulanan 10 tahun terakhir dari tahun 2003-2012 dengan 3 (tiga) stasiun penakar curah hujan baik itu di Das Babura yang terdiri dari Stasiun Polonia, Tuntungan dan Patumbak. 2. Menganalisis frekuensi distribusi curah hujan kala ulang dengan
menggunakan Metode Gumbel, Normal, Log Normal dan Log Pearson Tipe III dengan kala ulang 2, 3, 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun. Kemudian menggunakan salah satunya untuk perhitungan debit banjir rancangan. 3. Mengukur data geometrik (Cross Section dan Long Section) dan kecepatan
Sungai Babura di sekitar pusat kota Medan dengan bantuan GPS Geodetic, Current meter dan jalon atau alat pengukur lainnya.
4. Menganalisis Debit banjir rancangan dengan metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
6 Gambar 1.1 menjelaskan kerangka pikir dalam penelitian tugas akhir dengan judul
”Perhitungan Debit dan Luas Genangan Banjir Sungai Babura”.
Gambar 1.1 Bagan Alir Penelitian Data Primer
1. Cross Section 2. Elevasi 3. Kemiringan
Data Sekunder 1. Curah Hujan 2. Peta Stasiun
3. Peta DAS, Peta Infrastruktur 4. Peta Kontur
5. Peta Kota Medan
Analisis Curah Hujan kawasan dengan Metode Polygon Thiessen
Analisis Curah Hujan Periodik dengan distibusi Log pearson, Gumbel, Normal dan Log Normal.
Uji Kecocokan (Smirnov-kolmogorof)
Analisa Debit Banjir Rancangan
Menghitung kapasitas debit saluran dengan rumus manning
Menghitung debit meluap dan luas genangan banjir
Kesimpulan dan Saran
7 1.6 Sistematika Penulisan
Bab I meliputi: Pendahuluan, memberikan gambaran umum dan latar belakang tentang keadaan Sungai babura, tujuan, manfaat dan rumusan masalah yang akan dibahas
Bab II meliputi: Tinjauan Pustaka, menjelaskan konsep Daerah Aliran Sungai (DAS) dan dasar-dasar teori dan analisa yang digunakan
Bab III meliputi: Metodologi penelitian, menjelaskan tentang keadaan di lapangan (lokasi studi), metode yang digunakan di lapangan, bahan dan alat yang digunakan serta penjelasan untuk mengolah data tersebut
Bab IV meliputi: Analisa dan pembahasan, menganalisa hasil rancanagan debit banjir rancangan dengan metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu dan mengestimasi luas genangan banjir sungai Babura dengan menggunakan rumus Manning.
Bab V meliputi: Kesimpulan dan saran, berisi point-point kesimpulan yang dapat dirangkum dari simulasi dan analisa yang dilakukan dalam penelitian.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 SIKLUS DAN PROSES HIDROLOGI
Kajian Siklus Hidrologi sangat bermanfaat dalam memahami konsep
keseimbangan air dalam skala global hingga daerah aliran sungai (DAS) atau
bahkan dalam skala lahan. Dalam sub bagian ini akan dijelaskan definisi dan
ilustrasi dari siklus hidrologi, kemudian akan dilanjutkan hingga pembahasan
proses yang terjadi selama siklus tersebut berlangsung. Tujuan dari kajian ini
adalah memberikan pemahaman kualitatif dari proses hidrologi fisis yang terjadi
pada sistem global hingga terutama DAS. Metode kuantitatif dan teknik
matematik yang terkait dengan pengumpulan, penggunaan data yang benar dan
interpretasi data klimatologi dan hidrologi akan dijelaskan lebih jauh pada sub
bagian selanjutnya.
2.1.1 SIKLUS HIDROLOGI
Siklus Hidrologi adalah konsep dasar dalam kajian hidrologi dan merupakan
konsep keseimbangan atau neraca air. Konsep ini mengenal empat fase perubahan
zat cair, yaitu penguapan, pencairan, pembekuan, dan penyubliman atau dalam
istilah hidrologi mencakup evaporasi dan transpirasi, presipitasi, salju, dan
lelehan salju atau kristal es. Tenaga yang digunakan untuk berubah dari fase cair
ke gas (evaporasi) dan menggerakkannya ke atmosfer adalah energi radiasi surya.
Proses berikutnya adalah pendinginan, kondensasi dan presipitasi; selanjutnya
9 atau badan air yang lain. Proses sirkulasi dan perubahan fase zat cair tersebut
dikenal sebagai Siklus Hidrologi.
Selama siklus atau sub siklus hidrologi (Gambar 2.1) maka air akan mempengaruhi kondisi lingkungan baik secara fisik, kimia ataupun biologi. Efek
fisik akan terlihat selama proses gerakan air sehingga menimbulkan erosi pada
bagian hulu dan sedimentasi pada bagian hilir. Efek kimia terlihat setelah proses
kimiawi antara air yang mengandung bahan larutan tertentu dengan kimia batuan
sehingga batuan tersebut terlapukkan, sedangkan efek biologi terutama sebagai
media transport bagi perpindahan binatang karang serta media bagi pertumbuhan
tanaman.
10
2.2 Sungai
2.2.1. Pengertian Sungai.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011, sungai adalah alur
atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di
dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi garis sempadan di sisi
kiri dan kanannya. Sungai dapat didefinisikan sebagai saluran di permukaan bumi
yang terbentuk secara alamiah yang melalui saluran air dari darat mengalir ke
laut. Di dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”.
Sedangkan di dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata
“stream” dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedangkan “river” untuk
menyebutkan sungai besar. Permukaan bumi secara alami mengalami erosi
begitu muncul ke permukaan. Salah satu faktor penting penyebab erosi yang
bekerja secara terus menerus untuk mengikis permukaan bumi, hingga sama
dengan permukaan laut adalah air. Air adalah benda cair yang senantiasa
bergerak ke arah tempat yang lebih rendah yang dipengaruhi oleh gradien sungai
dan gaya gravitasi bumi. Menurut Sandy (1985), dalam pergerakannya air selain
melarutkan sesuatu juga mengikis bumi sehingga akhirnya terbentuklah cekungan
dimana air tertampung melalui saluran kecil atau besar yang disebut dengan
istilah alur sungai.
Sebagian besar air hujan yang turun ke permukaan tanah mengalir ke
tempat tempat yang lebih rendah. Setelah mengalami bermacam macam
perlawanan akibat gaya berat, air hujan akhirnya melimpah ke danau atau ke laut.
Suatu alur yang panjang di atas permukaan bumi tempat mengalirnya air yang
11 aliran air didalamnya disebut sungai. Suatu kesatuan wilayah tata air yang
terbentuk secara alamiah, dimana air akan mengalir melalui sungai dan anak
sungai disebut daerah aliran sungai (DAS). Dalam istilah bahasa inggris disebut
Catchment Area, Watershed, atau River Basin.
Fungsi pokok sungai adalah untuk mengalirkan kelebihan air dari permukaan
tanah, sedangkan fungsi lainnya adalah dapat digunakan untuk kesejahteraan
manusia, seperti sumber air minum, PLTA, pengairan, transportasi air, untuk
meninggikan tanah yang rendah dan mengatur suhu tanah. Menurut peraturan
perundangan yang ada, fungsi sungai adalah:
a. Sungai sebagai sumber air yang merupakan salah satu sumber daya alam
yang mempunyai fungsi serba guna bagi kehidupan manusia.
b. Sungai harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan
pemanfaatannya, dan dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan.
2.2.2 Bentuk bentuk Daerah Aliran Sungai
Bentuk bentuk DAS dapat dibagi dalam empat, antara lain:
A. Bentuk memanjang/ bulu burung
B. Bentuk radial
C. Bentuk paralel
D. Bentuk komplek
A. Bentuk memanjang/ bulu burung
Biasanya induk sungainya akan memanjang dengan anak anak sungai
langsung mengalir ke induk sungai. Kadang kadang berbentuk seperti bulu
12 kecil karena perjalanan banjir dari anak sungai itu berbeda beda, dan banjir
[image:31.595.230.384.148.303.2]berlangsung agak lama. Bentuk dari DAS ini ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 DAS bentuk memanjang
B. Bentuk radial
Bentuk DAS ini seolah olah memusat pada satu titik sehingga
menggambarkan adanya bentuk radial, kadang kadang gambaran tersebut
memberi bentuk kipas atau lingkaran. Sebagai akibat dari bentuk tersebut maka
waktu yang diperlukan aliran yang datang dari segala penjuru anak sungai
memerlukan waktu yang hampir bersamaan. Sebagai contoh DAS Bengawan
Solo seperti pada gambar 2.3.
[image:31.595.217.407.534.701.2]13 C. Bentuk paralel
DAS ini dibentuk oleh dua jalur DAS yang bersatu dibagian hilir. Apabila
terjadi banjir di daerah hilir biasanya terjadi setelah dibawah titik pertemuan.
Sebagai contoh adalah banjir di Batang Hari dibawah pertemuan Batang
Tembesi seperti pada ganbar 2.4.
Gambar 2.4 DAS bentuk parallel
D. Bentuk komplek
DAS Bentuk komplek merupakan bentuk kejadian gabungan dari
[image:32.595.235.399.234.412.2]beberapa bentuk DAS yang dijelaskan diatas, sebagai contoh pada Gambar 2.5
14
2.3 Daerah Aliran Sungai (DAS)
2.3.1 Pengertian DAS
Daerah aliran sungai (DAS) adalah daerah tangkapan air yang dihulu
dibatasi oleh punggung–punggung gunung atau bukit, dimana air hujan yang
jatuh di daerah tersebut dan air tanahnya akan mengalir menuju sungai utama
pada suatu titik/stasiun yang ditinjau (Triatmodjo,2008). Undang-undang No.7
tahun 2004 pasal 1 menyatakan bahwa DAS adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi
menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke
danau atau ke laut secara alami yang batas di darat merupakan pemisah topografis
dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas
daratan.
DAS biasanya dibagi menjadi tiga bagian yaitu daerah hulu, tengah, dan
hilir. Fungsi suatu DAS merupakan suatu respon gabungan yang dilakukan oleh
seluruh faktor alamiah dan buatan manusia dan yang ada pada DAS tersebut.
Sebuah DAS yang besar dapat dibagi menjadi SubDAS-SubDAS yang lebih
kecil. Unit spasial yang lebih kecil dapat dibentuk pada SubDAS untuk
melakukan analisa spasial yang lebih akurat berdasarkan jenis tanah dan
penggunaan lahannya.
Faktor utama kerusakan DAS ditandai dengan menurunnya kemampuan
penyimpanan yang menyebabkan tingginya laju erosi dan debit banjir sungai.
Faktor utama penyebab adalah:
15 2) penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan
3) penerapan teknologi pengelolaan lahan/pengelolaan DAS yang tidak tepat
(Sinukaban, 2007).
2.4 Banjir
2.4.1 Pengertian Banjir
Dalam ilmu geografi istilah “banjir”tidak dapat di definisikan dengan
memuaskan. Ada suatu pengertian tentang banjir yang berarti peristiwa
meluapnya air sungai melampaui tanggulnya sehingga menggenangi daratan
disampingnya. Pengertian ini tidak mempersalahkan apakah banjir adalah suatu
bencana atau bukan. Pengertian ini memandang “banjir” sebagai suatau istilah
yang bermakna sosial-budaya, karena suatu tempat dikatakan dilanda banjir jika
tempat itu adalah daerah budi daya manusia yang tidak semestinya dilanda banjir,
jika tempat itu adalah suatu hutan atau suatu permukiman yang terdiri atas
rumah-rumah panggung yang dibuat untuk menghindari naiknya permukaan setiap
musim, maka itu tidak dikatakan banjir oleh mereka. Berdasarkan uraian tersebut
dapat dipahami bahwa istilah banjir itu tidak dipakai secara konsisten. Terkadang
disamakan dengan “genangan”. Padahal tidak semua genangan disebabkan oleh
meluapnya sungai, misalnya genangan di ruas jalan yang cekung. Namun yang
jelas kata “banjir” akan memunculkan kesan”genangan” dipikiran kita.
Banjir adalah setiap aliran yang relatif tinggi yang melampaui tanggul sungai sehingga aliran air menyebar ke dataran sungai dan menimbulkan masalah
pada manusia (Chow, 1970). Definisi di atas menjelaskan bahwa banjir terjadi
16 banjir, bahkan lebih jauh yang mengakibatkan terjadinya genangan. Genangan air
tidak dikatakan banjir apabila tidak menimbulkan masalah bagi manusia yang
tinggal pada daerah genangan tersebut. Menurut Hasibuan (2004), banjir adalah jumlah debit air yang melebihi kapasitas pengaliran air tertentu, ataupun
meluapnya aliran air pada palung sungai atau saluran sehingga air melimpah dari
kiri kanan tanggul sungai atau saluran.
Dalam kepentingan yang lebih teknis, banjir dapat di sebut sebagai
genangan air yang terjadi di suatu lokasi yang diakibatkan oleh : (1) Perubahan
tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS); (2) Pembuangan sampah; (3)
Erosi dan sedimentasi; (4) Kawasan kumuh sepanjang jalur drainase; (5)
Perencanaan sistem pengendalian banjir yang tidak tepat; (6) Curah hujan yang
tinggi; (7) Pengaruh fisiografi/geofisik sungai; (8) Kapasitas sungai dan drainase
yang tidak memadai; (9) Pengaruh air pasang; (10) Penurunan tanah dan rob
(genangan akibat pasang surut air laut); (11) Drainase lahan; (12) Bendung dan
bangunan air; dan (13) Kerusakan bangunan pengendali banjir. (Kodoatie, 2002),
Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan
yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat
didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi
permukaan bumi kawasan tersebut.
2.4.2 Daerah Rawan Banjir
Untuk mereduksi kerugian akibat banjir, maka lebih dulu harus diketahui
secara pasti daerah rawan banjir. Daerah rawan banjir dapat dikenali berdasarkan
karakter wilayah banjir yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
17 2) wilayah cekungan,
3) banjir akibat pasang surut
Menurut Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993 tentang garis sempadan
sungai, daerah manfaat sungai, daerah penguasaan sungai dan bekas sungai,
daerah penguasaan sungai adalah dataran banjir, daerah retensi, bantaran atau
daerah sempadan. Elevasi dan debit banjir daerah rawan banjir
sekurang-kurangnya ditentukan berdasarkan analisis perioda ulang 50 tahunan.
Tingkat resiko di daerah rawan banjir bervariasi tergantung ketinggian
permukaan tanah setempat. Dengan menggunakan peta kontur ketinggian
permukaan tanah serta melalui analisis hidrologi dan hidrolika dapat ditentukan
pembagian dataran banjir menurut tingkat resiko terhadap banjir. Pembagian
daerah rawan banjir digunakan sebagai bahan acuan penataan ruang wilayah
perkotaan sehingga diketahui resiko banjir yang akan terjadi. Dengan mengikuti
pemetaan daerah rawan banjir yang telah diperbaiki maka resiko terjadi
bencana/kerusakan/kerugian akibat genangan banjir yang diderita oleh
masyarakat menjadi minimal.
2.4.3 Tingkat Bahaya Banjir
Banjir terjadi disepanjang sungai dan anak-anak sungainya mampu
membanjiri wilayah luas dan mendorong peluapan air di dataran banjirnya (Flood
plain). Dataran banjir merupakan daerah rawan banjir yang dapat diklarifikasi
berdasarkan kala ulang banjirnya. Dataran banjir disekitar bantaran sungai yang
masuk dalam daerah genangan pada debit banjir tahunan Q1 merupakan daerah
rawan banjir sangat tinggi. Tabel 2.1 menjelaskan klasifikasi ini yang akan
18
Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU dalam Direktorat Pengairan dan Irigasi Bappenas 2006
Tabel 2.1 Tingkat Bahaya Banjir
Kelas Kala Ulang
Debit Banjir
Daerah Rawan Banjir
1 Q50 – Q100 Rendah
2 Q30 – Q50 Sedang
3 Q10 – Q30 Tinggi
4 Q1 – Q10 Sangat Tinggi
2.5 Analisis Curah Hujan Kawasan 2.5.1 Metode Aritmatik (Aljabar)
Metode ini merupakan perhitungan curah hujan wilayah dengan rata-rata
aljabar curah hujan di dalam dan sekitar wilayah yang bersangkutan
(2.1)
dimana, R: Curah hujan rata-rata wilayah atau daerah, Ri: Curah hujan di stasiun
pengamatan ke-i dan n: Jumlah stasiun pengamatan. Hasil perhitungan yang diperoleh dengan cara aritmatik ini hampir sama dengan cara lain apabila jumlah
stasiun pengamatan cukup banyak dan tersebar merata di seluruh wilayah seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.6. Keuntungan perhitungan dengan cara ini adalah
19 Gambar 2.6 Aljabar
2.5.2
Metode
Thiessen
Jika titik-titik di daerah pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar
merata, seperti contoh pada Gambar 2.7 maka cara perhitungan curah hujan
dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan.
(2.2)
dimana, R: Curah hujan daerah, Rn: Curah hujan di setiap stasiun pengamatan dan
An: Luas daerah yang mewakili tiap stasiun pengamatan.
[image:38.595.210.424.519.720.2]20
2.5.3
Metode
Isohyet
Peta isohyet digambar pada peta topografi dengan perbedaan 10 mm – 20
mm berdasarkan data curah hujan pada stasiun pengamatan di dalam dan di luar
daerah yang dimaksud. Luas bagian antara dua garis isohyet yang berdekatan
diukur dengan Planimeter seperti pada Gambar 2.8. Curah hujan daerah itu dapat
dihitung menurut persamaan:
(2.3)
Ini adalah cara yang paling teliti untuk mendapatkan hujan areal rata-rata, tetapi
memerlukan jaringan pos penakar yang relatif lebih padat yang memungkinkan
[image:39.595.244.438.454.608.2]untuk membuat isohyet.
Gambar 2.8 Metode Isohyet
2.6 Analisis Frekuensi
Analisis frekuensi adalah prosedur memperkirakan frekuensi suatu kejadian
21 menentukan hujan rancangan dalam berbagai kala ulang berdasarkan distribusi
yang paling sesuai antara distribusi hujan secara teoritik dengan distribusi hujan
secara empirik. Hujan rancangan ini digunakan untuk menentukan intensitas
hujan yang diperlukan dalam perhitungan debit banjir menggunakan metode
rasional. Dalam penelitian ini dihitung hujan harian rancangan dengan kala ulang
2, 3, 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam
distribusi frekuensi metode yang dipakai dalam analisis frekuensi data curah
hujan harian maksimum adalah sebagai berikut:
1. Distribusi Gumbel 3. Distribusi Normal
2. Distribusi Log Pearson Tipe III 4. Dostribusi Log Normal
Pemilihan metode perhitungan hujan rancangan ditetapkan berdasarkan parameter
dasar statistiknya. Berikut merupakan rumus-rumus yang dipakai dalam perhitungan
parameter dasar statistik tersebut :
Nilai Rata – rata
n X = X n 1 = i i
dimana :X = nilai rata-rata Xi = nilai varian ke i n = banyaknya data Standar Deviasi
1 -n X -X = Sd n l = i 2 i
dimana :22 Xi = nilai varian ke i
n = banyaknya data
2.6.1 Distribusi Gumbel
Menurut Gumbel curah hujan untuk periode ulang tertentu (PUH) tertentu
(Tr) dihitung berdasarkan persamaan berikut:
X Tr = + S (2.4)
Y Tr = -Ln
(2.5)
Sn =
∑ ( )
(2.6)
dimana, YTr: Reduced variate, S: Standar deviasi data hujan, Sn: Reduced standar
deviation yang juga tergantung pada jumlah sampel/data, Tr: Fungsi waktu balik
(tahun) dan Yn: Reduced mean yang tergantung jumlah sampel/data n.
2.6.2 Distribusi Log Pearson Tipe III
Metode ini telah mengembangkan serangkaian fungsi probabilitas yang
dapat dipakai untuk hampir semua distribusi probabilitas empiris. Tiga
parameter penting dalam Metode Log Pearson Tipe III, yaitu :
1. Harga rata-rata (R)
2. Simpangan baku (S)
3. Koefisien kemencengan (G)
= Log R (2.7)
23
S =
∑ ( )
(2.9)
G = ∑ ( )
( ) ( )( ) (2.10)
Log T = Log + KS (2.11)
dimana, R: Curah hujan rencana (mm), G: Koefisien kemencengan, S: Simpangan
baku dan K: Variabel standar untuk R yang besarnya tergantung dari nilai G.
2.6.3 Distribusi Normal
Distribusi normal disebut juga distribusi Gauss. Dalam pemakaian
praktis umumnya digunakan persamaan sebagai berikut:
T = + KT S (2.12)
KT = (2.13)
dimana, T: Perkiraan nilai yang diharapkan akan terjadi dengan periode ulang T
– tahunan,
: Nilai rata-rata hitung sampel, dan KT: Faktor frekuensi, merupakan fungsi
dari peluang atau yang digunakan periode ulang dan tipe model matematik
distribusi peluang yang digunakan untuk analisis peluang.
2.6.4 Metode Distribusi Log Normal
Logn xTxk n (2.14)
dimana, T: Intensitas curah hujan dengan periode ulang T tahun,:x = Harga rata
24 2.7 Uji kecocokan (Goodnes of fittest test)
Diperlukan penguji parameter untuk menguji kecocokan (the goodness of fittest test) distribusi frekuensi sampel data terhadap fungsi distribusi peluang
yang diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi
tersebut. Di dalam penelitian ini digunakan Metode Smirnov-Kolmogorof (secara
analitis). Pengujian distribusi probablitas dengan Metode Smirnov-Kolmograf
dilakukan dengan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut:
1. Urutkan data (Xi) dari besar ke kecil atau sebaliknya
2. Tentukan peluang empiris masing-masing data yang sudah diurut tersebut (Xi)
dengan rumus tertentu, rumus Weibull misalnya,
( ) = (2.15)
dimana, n: Jumlah data dan i: Nomor urut data setelah diurut dari besar ke kecil
atau sebaliknya.
3. Tentukan peluang teoritis masing-masing data yang sudah di urut tersebut
P’(Xi) berdasarkan persamaan distribusi probablitas yang dipilih (Gumbel,
Normal, dan sebagainya).
4. Hitung selisih (∆Pi) antara peluang empiris dan teoritis untuk setiap data yang
sudah diurut:
∆ = ( ) − ’( ) (2.16)
5. Tentukan apakah ∆Pi < ∆P kritis, jika “tidak” artinya Distribusi Probablitas
yang dipilih tidak dapat dierima, demikian sebaliknya.
25 Tabel 2.2 Tabel Nilai ∆ Kritis Smirnov-Kolmogrov (Kamiana, 2011)
N
(derajat kepercayaan)
0,20 0,10 0,05 0,01
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0,45 0,32 0,27 0,23 0,21 0,19 0,18 0,17 0,16 0,15 0,51 0,37 0,30 0,26 0,24 0,22 0,20 0,19 0,18 0,17 0,56 0,41 0,34 0,29 0,27 0,24 0,23 0,21 0,20 0,19 0,67 0,49 0,40 0,36 0,32 0,29 0,27 0,25 0,24 0,23
N > 50 107
. 1,22 . 1,36 . 1,63 .
2.8 Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada
suatu kurun waktu dimana air tersebut terkonsentrasi, Loebis (1992). Dalam
penelitian ini intensitas hujan diturunkan dari data curah hujan harian. Menurut
Loebis (1992) intensitas hujan (mm/jam) dapat diturunkan dari data curah hujan
harian (mm) empirik menggunakan metode mononobe sebagai berikut:
26 dimana, I: Intensitas curah hujan (mm/jam, t: Lamanya curah hujan (jam) dan
R24 : Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm).
2.9 Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ketempat keluar DAS
(Titik Kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi.
Salah satu rumus untuk memperkirakan waktu konsentrasi (tc) adalah rumus yang
dikembangkan oleh Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut.
tc= 0,87 x L 21000 x S x 0,385 (2.18)
dimana, L: Panjang saluran utama dari hulu sampai penguras dalam km dan
S:Kemiringan rata-rata saluran utama dalam m/m.
Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakan menjadi dua
komponen, yaitu:
1. Inlet time (t0) yakni waktu yang diperlukan air untuk mengalir di
permukaan lahan sampai saluran terdekat.
2. Conduit time (td) yakni waktu perjalanan dari pertama masuk sampai titik
keluaran.
tc = t0 + td (2.19)
dimana, t0 = 23 x 3,28 x L x nS (menit) dan td = Ls 60 V (menit), n: Angka
27 2.10 Analisis Debit Banjir
2.10.1 Debit Banjir
Daerah dataran banjir diprediksi berdasarkan debit banjir dengan kala
ulang tertentu. Debit banjir dengan kala ulang 100 tahun Q100 bermakna banjir
yang memiliki probabilitas kejadian 0.01 dalam setahun yang akan menggenangi
daerah dataran banjir. Daerah dataran banjir Q100 tentu jauh lebih besar dari
daerah dataran banjir Q10. Mengingat banyak sungai di Indonesia yang tidak
dilengkapi dengan alat pengukur debit, maka debit banjir biasanya dihitung
berdasarkan curah hujan dengan menggunakan metode Gumbel, metode Log
Pearson III, ataupun metode Haspers, untuk pemodelan steady flow. Dan dengan
metode hidrograf sintetis (Nakayasu, Snyder, dll) untuk pemodelan unsteady
flow.
2.10.2 Metode Perhitungan Debit Banjir
Metode Rasional
Besarnya debit rencana dihitung dengan memakai metode Rasional kalau
daerah alirannya kurang dari 80 Ha. Untuk daerah yang alirannya lebih luas
sampai dengan 5000 Ha, dapat digunakan metode rasional yang diubah. Untuk
luas daerah yang lebih dari 5000 Ha, digunakan hidrograf satuan atau metode
rasional yang diubah. Rumus metode rasional:
Q = f x C x I x A (2.20)
dimana, C: Koefisien pengaliran, I: Intensitas hujan selama waktu konsentrasi
(mm/jam),
28 Metode Hidrograf Banjir
Kebanyakan daerah aliran sungai sebagian besar curah hujan akan
menjadi limpasan langsung. Aliran semacam ini dapat menghasilkan puncak
banjir yang tinggi. Air yang membentuk aliran sungai dapat mencapai saluran
pengaliran melalui berbagai cara, di mulai dari titik dimana air jatuh ke bumi
sebagai hujan. Sebagian air tersebut mengalir diatas permukaan tanah, dan
mencapai sungai tak lama setelah kejadiannya sebagai hujan. Sebagian lain
meresap melalui permukaan tanah dan mengalir dibawah permukaan tanah
menuju sungai. Dalam penelitian hidologi yang melibatkan besarnya laju aliran
pada sungai, perlu dibedakan antara komponen-komponen ini dengan aliran
totalnya Dari sudut limpasan langsung semua hujan yang tidak memberikan
sumbangan terhadap terjadinya banjir dipandang sebagai kehilangan. Kehilangan
tersebut terdiri atas:
1. Air hujan yang tersangkut didahan pohon dan tumbuhan (interception)
2. Tampungan di cekungan (depression storage)
3. Pengisian lengas tanah (replenisment of soil moisture)
4. Pengisian air tanah (recharge) dan
5. Evapotranspirasi
Jadi hidrograf tersebut didefinisikan sebagai hubungan antara salah satu
unsur aliran terhadap waktu. Berdasarkan definisi tersebut dikenal ada 2 macam
hidrograf, yaitu hidrograf muka air dan hidrograf debit. Hidrograf muka air tidak
lain adalah data atau garafik hasil rekaman AWLR (Automatic Water Level
Recorder). Sedangkan hidrograf debit, yang dalam pengertian sehari hari disebut
29 tersusun atas dua komponen, yaitu aliran permukaan, yang berasal dari aliran
langsung air hujan, dan aliran dasar (base flow). Aliran dasar berasal dari air
tanah yang pada umumnya tidak memberikan respon yang cepat terhadap hujan.
A. Hidrograf Satuan
Hidrograf satuan adalah hidrograf limpasan langsung yang terjadi merata
diseluruh DAS dan dengan intensitas tetap selama satu satuan waktu yang
ditetapkan, yang disebut hujan satuan. Hujan satuan adalah curah hujan yang
lamanya sedimikian rupa sehingga lamanya limpasan permukaan tidak menjadi
pendek, meskipun curah hujan itu menjadi pendek. Jadi hujan satuan yang dipilih
adalah yang lamanya sama atau lebih pendek dari periode naik hidrograf (waktu
dari titik permulaan aliran permukaan sampai puncak). Periode limpasan dari
hujan satuan semuanya adalah kira kira sama dan tidak ada sangkut pautnya
dengan intensitas hujan.
B. Hidrograf satuan sintetik
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa untuk menurunkan hidrograf
satuan diperlukan rekaman data limpasan dan data hujan, padahal sering kita
jumpai ada beberapa DAS tidak memiliki sama sekali catatan limpasan. Dalam
kasus ini, hidrograf satuan diturunkan berdasarkan data-data dari sungai pada
DAS yang sama atau DAS terdekat yang mempunyai karakteristik yang sama.
Karakteristik atau parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu perlu
dicari waktu, lebar dasar, luas, kemiringan, panjang, koefisien limpasan dan lain
sebagainya. Hasil dari penurunan hidrograf satuan ini dinamakan hidrograf satuan
sintetik (HSS). Ada tiga jenis hidrograf satuan sintetis, yaitu:
30 2. Hidrograf Satuan Sintetik Snyder
3. Hidrograf Satuan Sintetik Gama I
4. Hidrograf Satuan Sintetik SCS
Dalam Penelitian ini hanya akan dibahas mengenai Hidrograf Satuan
Sintetik Nakayasu. Hidrograf tersebut penulis rasa cocok dengan kedaan lokasi
studi yaitu DAS Deli dan DAS Belawan khususnya untuk sungai-sungai utama
pada kedua DAS tersebut yaitu Sungai Deli dan Sungai Belawan
C. Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
Stasiun pengukur debit dan tinggi muka air sungai (stasiun hidrometri)
pada umumnya hanya dipasang di tempat tempat tertentu yang dipandang oleh
pengelolanya mempunyai arti yang cukup penting. Hal tersebut disebabkan
karena tidak mungkin memasang stasiun hidrometri disembarang tempat dan
biaya pemasangannya juga tidak murah. Namun masalah yang banyak timbul
adalah ketidak-cocokan antara rencana pengembangan jaringan stasiun
hidrometri. Pengembangan suatu daerah sering tidak dapat diketahui sebelumnya,
atau kalau rencana itu diketahui tidak selekasnya diikuti dengan keiatan
pengumpulan data. Hingga pada saat dibutuhkan untuk analisis data tidak
tersedia, atau tersedia dalam jangka waktu yang sangat pendek.
Untuk mengatasi hal ini sebenarnya di Indonesia telah dikenal dan banyak
digunakan cara cara untuk memperkirakan banjir rancangan yang didasarkan atas
persamaan rasional. Cara ini mengandalkan data curah hujan sebagai dasar
hitungan. Namun dari penelitian terbukti bahwa cara cara seperti Melchior, Der
Weduwen dan Haspers mempunyai penyimpangan yang berkisar antara 2% -
31 Selain itu tercatat pula bahwa 77% dari kasus yang ditinjau emnunjukkan
perkiraan lebih (overestimated). Cara- cara rasional untuk memperkirakan banjir
yang mendapatkan kritikan tajam, karena pemakaian koefisien limpasan (runoff
coefficient) mengundang subjektivitas yang sangat besar dan merupakan salah
satu faktor penyebab penyimpangannya. Penyebab lainnya adalah koefisien
reduksi (reduction coefficient). Persamaan rasional hanya dianjurkan untuk DAS
kecil kurang dari 80 hektar atau untuk DAS yang memiliki unsur unsur penyusun
yang seragam.
Dalam perancangan diharapkan perkiraan banjir rancangan yang
menyimpang sekecil mungkin. Sudah barang tentu perkiraan yang tepat tidak
akan dapat diharapkan, karena proses pengalihragaman hujan menjadi banjir
merupakan proses alam yang sangat kompleks yang tidak dapat diungkapkan
dengan persamaan matematik secara tuntas. Cara cara lain yang lebih baik hampir
seluruhnya menuntut ketersediaan data pengukuran sungai yang memadai.
Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu ini merupakan salah satu upaya untuk
mengatasi kesulitan kesulitan tersebut. Cara ini dapat digunakan disembarang
lokasi yang dikehendaki dalam suatu DAS tanpa tergantung ada atau tidaknya
data pengukuran sungai. Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwa kegiatan
hidrometrik masih tetap merupakan pilihan utama, sehingga walaupun telah
ditemukan cara pendekatan yang akan banyak mengatasi masalah kelangkaan
data, namun prioritas pengukuran sungai ditempat mutlak masih diperlukan.
Hidrograf satuan ini secara sederhana dapat disajikan sebagai berikut ini (Gambar
32 Gambar 2.9 Kurva Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
Nakayasu (1950) telah menyelidiki hidrograf satuan di Jepang dan
memberikan seperangkat persamaan untuk membentuk suatu hidrograf satuan
sebagai berikut:
1. Waktu kelambatan (tg), rumusnya:
untukL > 15 : = 0,4 + 0, 058 (2.21)
untukL < 15 : = 0,21 , (2.22)
2. Waktu pucak dan debit puncak hidrograf satuan sintetis dirumuskan
sebagai berikut:
= + 0,8 (2.23)
3. Waktu saat debit sama dengan 0,3 kali debit puncak:
, = (2.24)
4. Waktu puncak
tp = + 0,8 (2.25)
33 5. Debit puncak hidrograf satuan sintetis dirumuskan sebagai berikut:
=
, ( , , )
(2.26)
6. Bagian lengkung naik (0 < t < tp)
=
,
(2.27)
7. Bagian lengkung turun Jika < < ,
= 0,3
, (2.28)
Jika > > ,
= 0,3
, ,
, , (2.29)
Jika > 1,5 ,
= 0,3
, ,
, (2.30)
34
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Sungai Babura Kota Medan dan Kabupaten
Deli Serdang yang alirannya dari Selatan/hulu melalui beberapa wilayah antara
lain wilayah Namorambe, Medan Johor, Medan Polonia /Medan Baru dan
bermuara di Sungai Deli wilayah Kec. Medan Barat. Lokasi penelitian terletak
pada koordinat antara 3° 29‘ 25” - 3° 35’ 30” Lintang Utara dan 98° 37‘ 30” -
98° 40‘ 20” Bujur Timur. Lokasi penelitian ini berada pada wilayah Daerah
Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Deli tepatnya pada sungai-sungai yang melewati
Kota Medan yaitu Sungai Babura pada DAS Deli. Sungai Babura merupakan
salah satu anak sungai dari Sungai Deli (DAS Deli) yang terbentang dari kawasan
Sibolangit hingga Kota Medan. Daerah pengaliran sungai di Kabupaten Karo
terdapat di Kecamatan Simpang Empat Desa Semangat Gunung dan Desa Doulu
sedangkan di Kabupaten Deli Serdang meliputi lima kecamatan yaitu (1)
Kecamatan Pancur Batu, (2) Sibolangit, (3) Namorambe, (4) Deli Tua, (5) Sibiru
–biru. Sedangkan di Kota Medan meliputi empat belas kecamatan yaitu (1)
Kecamatan Medan Tuntungan, (2) Medan Johor, (3) Medan Selayang, (4) Medan
Polonia, (5) Medan Maimun, (6) Medan Kota, (7) Medan Baru, (8) Medan
Sunggal, (9) Medan Petisah, (10) Medan Barat, (11) Medan Deli, (12) Medan
Labuhan (13) Medan Marelan dan (14) Medan Belawan. Pada beberapa
kecamatan sungai ini menjadi bagian batas administrasi.. Panjang Sungai tersebut
35
[image:54.595.97.528.84.689.2]Sungai Babura
36 3.2 Metodologi Pengolahan Data
3.2.1 Data Profil Sungai
Data profil sungai terdiri dari bagian profil melintang sungai (Cross
Section) dan profil memanjang sungai (Long Section) yang menunjukkan variasi
tingkat elevasi maupun kedalaman tiap-tiap penampang sungai. Kemiringan dan
koefisien kekasaran dasar sungai juga berpengaruh nantinya terhadap perhitungan
debit banjir dan daerah dataran banjir, oleh karena itu diperlukan data tersebut
dalam perhitungannya. Kemudian data profil sungai ini di input ke dalam
HEC-RAS yang nantinya dapat memberikan hasil daripada kondisi banjir baik itu
tinggi banjir dan luas dataran banjir menurut periode kala ulangnya.
3.2.2 Observasi Data Curah Hujan
Observasi data adalah pengumpulan data data yang diperlukan untuk
menunjang studi kasus ini. Data curah hujan yang digunakan ialah data curah
hujan harian maksimum dari 3 stasiun pengamatan curah hujan setiap DAS yaitu
stasiun Patumbak, Polonia dan stasiun Tuntungan untuk DAS Babura.
Analisa curah hujan kawasan/areal yang digunakan dalam perhitungan
pada tugas akhir ini hanya menggunakan Metode Polygon Thiessen, mengingat
posisi stasiun penakar curah hujan yang membentuk sebuah polygon dan akan
memberikan hasil yang lebih teliti dari pada cara aljabar (aritmatik) dan metode
isohyet. Data yang digunakan ialah data curah hujan dan peta DAS Deli.
Dengan menghitung luas DAS masing masing areal yang dipengaruhi
oleh 3 stasiun penakar curah hujan pada suatu DAS makadidapat curah hujan rata
37 Untuk menganalisa frekuensi curah hujan periodik digunakan metode
Distribusi Log Pearson III, Gumbel, Normal dan Log Normal.
Dalam penelitian ini dihitung hujan rancangan dengan kala ulang 2, 3, 5,
10, 25, 50, dan 100 tahun.
Dalam perhitungan ini digunakan software Smada untuk mempercepat
pengerjaannya. Kemudian data tersebut akan digunakan untuk data banjir
rancangan kala ulang dengan metode Nakayasu.
3.2.3 Uji Kecocokaan
Pengujian parameter yang dipakai pada tugas akhir ini adalah dengan
menggunakan Metode Smirnov-Kolmogorof. Pada dasarnya uji ini merupakan
pengecekan terhadap penyimpangan rerata data yang dianalisis berdasarkan
distribusi terpilih, dari beberapa metode curah hujan periodik kemudian diuji
dengan Metode Smirnov-Kolmogorof, hingga mendapatkan hasil yang bisa
digunakan untuk metode banjir kala ulang.
3.2.4 Menganalisa Debit Banjir Rancangan dengan Metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
Analisa debit banjir rancangan kala ulang diambil dari data curah hujan
kala ulang dan mengolah data tersebut dengan menggunakan Metode Satuan
Sintetik Nakayasu. Metode ini penulis rasa cocok dengan lokasi penelitian.
Metode hidrograf satuan Nakayasu adalah metode yang berdasarkan teori
hidrograf satuan yang menggunakan hujan efektif (bagian dari hujan total yang
38
Qsaluran
3.3 Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Banjir dengan Menggunakan Rumus Manning dan Perhitungan Luas Genangan Banjir.
Menghitung tinggi muka air banjir dengan menggunakan rumus Manning agar
tinggi muka air banjir tersebut diperoleh terlebih dahulu menghitung kapasitas
debit saluran penampang seperti pada Gambar 3.2 agar debit meluap diketahui
sehingga tinggi dan lebar muka air banjir dapat diperoleh. Debit meluap seperti
pada Gambar 3.3 dihasilkan dari selisih antara hasil analisis debit banjir
rancangan kala ulang rencana dengan menggunakan metode hidrograf satuan
sintetik nakayasu dengan kapasitas debit saluran. Setelah memperoleh lebar
genangan banjir pada tiap penampang, maka luas genangan banjir seperti pada
Gambar 3.4 dapat diperoleh dengan mengalikan panjang wilayah yang berpotensi
banjir dengan lebar genangan muka air banjir. Dibawah ini tencantum rumus
perhitungan tinggi muka air dan debit banjir dengan menggunakan rumus
manning dan sekaligus rumus perhitungan luas genangan banjir.
[image:57.595.239.411.506.603.2]
Gambar 3.2. Contoh Kapasitas debit saluran
Luas Penampang
A = × h
Kelilingbasah (P) :
P = b + 2h √1 +
B
b
39
Qsaluran
Jari-jarihidrolis (R) :
R =
Kecepatan aliran (V) :
= 1
Kapasitas debit saluran (Q) :
Q = A x V
Perhitungan debit meluap (Qmeluap)
Diketahui debit banjir rancangan hasil perhitungan hidrograf satuan
sintetik nakayasu :
Q25 tahun = m3/detik
Q50 tahun = m3/detik
Q100 tahun = m3/detik
Maka, Qmeluap = debit banjir rancangan – kapasitas debit saluran
Bmeluap
hmeluap
Gambar 3.3. Contoh Kapasitas debit meluap
Luas Penampang Meluap
A = × h
Qmeluap = m3/detik
40
Qsaluran
Qsaluran
Kelilingbasah (