• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN PENERAPAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 65/PPU-VIII/2010 TENTANG PERLUASAN DEFINISI SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA DI PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDAHULUAN PENERAPAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 65/PPU-VIII/2010 TENTANG PERLUASAN DEFINISI SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA DI PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu prinsip pemeriksaan terdakwa dalam peradilan pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengharuskan penuntut umum “menghadirkan” terdakwa di

Melakukan revisi terhadap ketentuan Pasal 244 KUHAP, maksudnya, yakni: bahwa di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang akan datang perlu dirumuskan secara

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013 tentang uji materiel Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana terhadap Undang-Undang

Pengaturan penghinaan terhadap pengadilan yang terdapat beberapa pasal-pasal didalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

constitutif. Sehingga semenjak dibacakannya putusan Mahkamah Konstitusi yang telah memiliki kekuatan hukum mengikat tersebut, maka Pasal 1 angka.. 26 dan Pasal 1 angka 27

Satu-satunya saksi yang memenuhi kriteria seseorang disebut sebagai saksi dalam pasal 1 angka 26 kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP), adalah “orang yang

Perumusan saksi dalam Pasal 1 angka 26 dan angka 27 KUHAP tidak meliputi pengertian saksi alibi, dan secara umum mengingkari pula keberadaan jenis saksi dimana

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang akan datang, pembentuk KUHAP hendaknya mereformulasikan secara jelas esensi Pasal 244 KUHAP tersebut, yakni dengan