• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KOTA BANDAR LAMPUNG"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMELIHARAAN

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

DI BANDAR LAMPUNG

Oleh:

DUCHAN WELAS TETUKA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

Sarjana Hukum

Pada

Bagian Hukum Administrasi Negara

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

Judul Skripsi

:

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM

PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT

BERAGAMA DI BANDAR LAMPUNG

Nama Mahasiswa

:

DUCHAN WELAS TETUKA

No. Pokok Mahasiswa

:

0742011117

Bagian

:

Hukum Administrasi Negara

Fakultas

:

Hukum

MENYETUJUI

I. Komisi Pembimbing

Elman Eddy Patra

Sri Sulastuti, S.H., M.H.

NIP. 196007141986031002

NIP. 196207271987032004

II. Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara

(3)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua

:

Elman Eddy Patra, S.H.,M.H

...

Sekretaris/ Anggota :

Sri Sulastuti, S.H.,M.H.

...

Penguji Utama

:

Upik Hammidah, S.H.,M.H.

...

2. Dekan Fakultas Hukum

Dr.Heryandi, S.H.,M.S.

NIP. 19621109 198703 1 003

(4)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 9 Juni 1988, dari pasangan

Abu Bakar dan Eliyana sebagai anak pertama dari dua bersaudara.

Penulis Menempuh Pendidikan Sekolah Dasar Negri 1 Kupang Teba diselesaikan

pada tahun 2000. Pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Bandar

Lampung lulus pada tahun 2003. Dan Sekolah Menengah Atas Negri 4 Bandar

lampung lulus pada tahun 2006.

(5)

MOTTO

Mengucapkan kata-kata negatif seperti halnya seseorang

Menancapkan paku-paku disebatang pohon

Walaupun paku sudah tercabut, tetap saja meninggalkan bekas

Untuk itulah fikirkan apa yang akan anda katakan

(Anonim)

Barang siapa diuji lalu bersabar,

Diberi lalu bersyukur, didzalimi lalu memaafkan

Dan menzalimi lalu beristigfar maka bagi mereka keselamatan

Dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah.

(HR. AL-BAIHAQI)

Jalani hidup apa adanya jadilah diri sendiri

Yang mempunyai satu tujuan pasti

Dan bertekad untuk mencapai tujuan itu

(6)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kehadiran Allah SWT, saya persembahkan skripsi ini kepada

orang-orang yang kusayangi kemanapun langkahku pergi dan dimanapun aku berada

Ayah dan Ibu Ku tercinta

Terima kasih yang tak terhingga untuk setiap tetes keringat dan air mata, kasih sayang dan

ketabahannya,Berkat Didikan,Bimbingan,doa-doa,keikhlasan,kesabaran yang tak pernah

Habis Dalam Membersarkanku Sehingga AKU Bisa Menjadi Orang Yang Berhasil.

Dosen yang telah membimbing skripsi ini untuk mendekati sempurna Ibu Sri Sulastuti S.H

M.H dan Pak Elman Eddy Patra S.H M.H Terima kasih untuk kalian yang telah sukarela

membantu dan tak henti memberikan masukan dan saran

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kepada ALLAH SWT atas rahmat, hidayah dan

kenikmatan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul

Peran

Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama di Bandar

Lampung

” dimana

pun maksud penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat yang

harus dipenuhi untuk mencapai gelar kesarjanaan di Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

Segala kemampuan telah penulis curahkan guna menyelesaikan skripsi ini, namun

penulis menyadarai masih terdapat kekurangan baik dari segi substansi maupun

penulisannya. Oleh karena itu, berbagai saran, koreksi dan kritik yang membangun dari

berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini.

Penulis juga menyadari ini bukanlah hasil jerih payah sendiri akan tetapi juga berkat

bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materil sehingga

penulisan skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu didalam kesempatan ini penulis

menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang tulus kepada :

(8)

2.

Ibu Sri Sulastuti, S.H.,M.H., selaku Pembimbing II, Terima kasih saya ucapkan

untuk Ibu yang telah sukarela membantu dan tak henti memberikan masukan dan

saran dalam penulisan skripsi ini.

3.

Ibu Upik Hamidah S.H, M.H selaku Sekretaris sekaligus Pembahas I yang telah

memberikan komentar atas ketersediaannya untuk membantu, mengarahkan dan

memberi masukan agar terselesaikannya skripsi ini.

4.

Bapak Agus Triyono, S.H.,M.H., selaku Pembahas II yang telah memberikan waktu,

masukan, dan kritik dalam penulisan skripsi ini

5.

Bapak Dr. Heryandi, S.H.,M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

6.

Ibu Nurmayanti, S.H.,M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara

Fakultas Hukum Universitas Lampung.

7.

Ibu Melly Aida S.H, M.H selaku Pembiming Akademis , atas segala saran dan

bimbingan selama penulis menjadi mahasiswa pada fakultas hukum unila.

8.

Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan

ilmu dan pembelajaran berharga bagi penulis selama menempuh studi.

9.

Seluruh staf dan karyawan Fakultas Hukum Universitas Lampung: Kiyai Apri, Mas

Mishyo, Mas Marlan, Mbak Yani, Mbak Hera yang telah memberikan bantuan

kepada penulis selama menempuh studi.

(9)

11. Mami dan Papi yang telah memberikan dukungan moril, materiil, dan serta solusi

kepada penulis selama menyelesaikan pendidikan.

12. Seseorang yang sangat berarti yang telah memberi semangat luar biasa yang

membuat skripsi ini berjalan, terimakasih kepada Mery Sopyani, S.I.P

13. Keponakan ku tersayang Egi, Sulung, Ganda, Jio dan yang lain yang selalu

mengingatkan agar Om nya cepat wisuda.

14. Seluruh Teman - teman Fakultas Hukum Universitas Lampung : Mad, Retno, Dika,

Bang Aryo, Bang Indra, Imam, Adit dll terima kasih atas kebersamaan kalian,

bantuan dan dukungan kalian selama ini.

15. Kantin emak yang selalu mengizinkan tempatnya untuk kompromi bersama

kawan-kawan perjuangan dalam mengerjakan tugas dan skripsi ini.

16. Dan teman-teman seluruh angkatan 2007 terima kasih untuk selama ini, dan untuk

pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

17. Universitas Lampung, khususnya Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Semoga Allah SWT menerima dan membalas semua kebaikan yang kita perbuat. mudah

-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi yang membacanya.. Amin....

Bandar Lampung,

Penulis

(10)

ABSTRACT

ROLE OF LOCAL GOVERNMENT IN CONSERVANCY OF PEOPLE

RECONCILIATION BELIEVE IN PORT OF

BANDAR LAMPUNG TOWN

BY

DUCHAN WELAS TETUKA

Section 29 sentence ( 2) UUD 1945 expressing that state guarantee the independence of every

resident to embracing its religion each and to practice worship according to that belief and

religion. The statement meaningful that variety of religion follower of exist in Indonesia is given

free rein to to execute the religion teaching as according to its confidence each. But that way the

freedom must be done with [do] not bother and harm the people believe in other;dissimilar,

because annoying of relation usher the follower of various religion will bring the effect of which

can be groggy of association and union nation.

This research aim to to know the Local Government role. supplementary factor and resistor

factor of Local Government in conservancy of people reconciliation believe in Port of Bandar

lampung town. This research use the empirical approach normative with procedure of data

collecting in the form of study of biography and field study. Analyse the data conducted

descriptively qualitative. namely by elaborating data [of] result of research in detail in sentence

of pursuant to going into effect.

(11)

is

lack of knowledge of urban community of Bandar Lampung town about Regulation With

Minister of Religious affairs and Ministry of Home Affairs Number 9 and Number 8 year 2006

specially Chapter II Section 2 sounding : Conservancy of people Reconciliation believe in to

become responsibility with people believe in the, Local Government and Governmental.

(12)

ABSTRAK

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT

BERAGAMA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

OLEH :

DUCHAN WELAS TETUKA

Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap

penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan

kepercayaan itu. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa keanekaragaman pemeluk agama

yang ada di Indonesia diberi kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama sesuai dengan

keyakinannya masing-masing. Namun demikian kebebasan tersebut harus dilakukan dengan

tidak mengganggu dan merugikan umat beragama lain, karena terganggunya hubungan antar

pemeluk berbagai agama akan membawa akibat yang dapat menggoyahkan persatuan dan

kesatuan bangsa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Pemerintah Daerah, faktor pendukung dan

pengahambat Pemerintah Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama di kota Bandar

Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan normative empiris dengan prosedur

pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan studi lapangan. Analisis data dilakukan secara

deskriptif kualitatif yakni dengan menguraikan data hasil penelitian secara rinsci dalam kalimat

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(13)

penghambat bagi pemerintah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama di kota Bandar

Lampung adalah kurangnya pengetahuan masyarakat kota Bandar Lampung tentang Peraturan

Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 tahun 2006

khususnya Bab II Pasal 2 yang berbunyi : Pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi

tanggung jawab bersama umat beragama, Pemerintah Daerah dan Pemerintah.

(14)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kerukunan umat beragama merupakan dambaan setiap umat, manusia. Sebagian besar umat beragama di dunia, ingin hidup rukun, damai dan tenteram dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bemegara serta dalam menjalankan ibadahnya. Kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Umat beragama dan pemerintah harus melakukan upaya bersama dalam memelihara kerukunan umat beragama, di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan. Sebagai contoh yaitu dalam mendirikan rumah ibadah harus memperhatikan pertimbangan Ormas keagamaan yang berbadan hukum dan telah terdaftar di pemerintah daerah.

(15)

2

berbagai agama akan membawa akibat yang dapat menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kerukunan umat beragama sangat diperlukan, agar bisa menjalani kehidupan beragama dan bermasyarakat di bumi Indonesia ini dengan damai, sejahtera, dan jauh dari kecurigaan kepada kelompok-kelompok lain. Dengan begitu, agenda-agenda kemanusiaan yang seharusnya dilakukan dengan kerja sama antaragama, seperti memberantas kemiskinan, memerangi kebodohan, mencegah korupsi, membentuk pemerintahan yang bersih, serta memajukan bangsa, dapat segera dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Agenda-agenda tersebut, jelas tidak dapat dilaksanakan dengan optimal, jika masalah kerukunan umat beragama belum terselesaikan. Fakta menjelaskan meskipun setiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan keselarasan hidup, realitas menunjukkan pluralisme agama bisa memicu pemeluknya saling berbenturan dan bahkan terjadi konflik. Konflik jenis ini dapat mempunyai dampak yang amat mendalam dan cenderung meluas. Bahkan implikasinya bisa sangat besar sehingga berisiko sosial, politik maupun ekonomi yang besar.

Melihat dari Peran Pemerintah Daerah di Kota Bandar Lampung ini, maka peneliti tertarik untuk mengetahui secara mendalam, suda sejauh mana Peran Pemerintah Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Khususnya di Kota Bandar Lampung ini.

(16)

3

umat dalam satu agama atau konflik intra agama. Munculnya berbagai kasus terkait dengan persoalan keagamaan, yang dipicu oleh beberapa hal antara lain :

1. Pelecehan/penodaan agama melalui penggunaan simbol-simbol, maupun istilah-istilah keagamaan dari suatu agama oleh pihak lain secara tidak bertanggung jawab.

2. Fanatisme agama yang sempit. Fanatisme yang dimaksud adalah suatu sikap yang mau menang sendiri serta mengabaikan kehadiran umat beragama lainnya yang memiliki cara/ritual ibadah dan paham agama yang berbeda. 3. Adanya diskomunikasi dan miskomunikasi antar umat beragama. Konflik

dapat terjadi karena adanya miskomunikasi (salah paham) dan dikomunikasi (Pembodohan Yang Disengaja), (Litbang Pelita, Riza Sihbudi Dan Moch. Nurhasim).

Berbagai kebijakan dan program dalam rangka mendukung pelaksanaan prioritas pembangunan Ketahanan Nasional yang kokoh, yaitu melalui kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan ketahanan budaya. Agama mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dan strategis, utamanya sebagai landasan spiritual, moral dan etika dalam pembangunan Ketahanan Nasional yang kokoh. Agama sebagai sistem nilai seharusnya dipahami dan diamalkan oleh setiap individu, keluarga, masyarakat serta menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara.

(17)

4

dan bernegara. Sebagai bangsa yang mempunyai multi agama, keaneragaman perilaku dan adat istiadat membuat masyarakat Indonesia mempunyai watak yang dipengaruhi oleh agama yang mereka anut. Sikap toleransi terus tumbuh dan berkembang dalam jiwa dan perilaku sehari-hari. Adanya kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran masing-masing, adalah bukti dan kenyataan yang ada dalam masyarakat.

Kerukunan dalam kehidupan akan dapat melahirkan karya-karya besar yang bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sebaliknya konflik pertikaian dapat menimbulkan kerusakan di bumi. Manusia sebagai mahkluk sosial membutuhkan keberadaan orang lain dan hal ini akan dapat terpenuhi jika nilai-nilai kerukunan tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat. Kerukunan dapat diklasifikan menjadi dua yaitu kerukunan antar umat islam dan kerukunan antar umat baragama atau antar umat manusia pada umumnya.

(18)

5

Telah diketahui, bahwa dalam rangka membina dan memlihara kerukunan antar umat beragama di Indonesia, pemerintah telah mencarikan jalan keluar melalui pelbagai cara dan upaya, antara lain dengan menyelenggarakan dialog antartokoh agama; memfungsikan pranata-pranata agama sebagai media penyalur gagasan dan ide. Salah satu pranata agama yang selama ini diandalkan dalam menyalurkan program pemerintah tersebut adalah tokoh-tokoh agama. Tokoh-tokoh agama ini mempunyai kedudukan dan pengaruh besar di tengah-tengah masyarakatnya, karena mereka mempunyai beberapa kelebihan yang dimiliki, baik dalam ilmu pengetahuan, jabatan, keturunan dan lain sebagainya. Tokoh agama juga merupakan pemimpin informal dalam masyarakatnya, dan secara umum mereka tidak diangkat oleh pemerintah tetapi ditunjuk atas kehendak dan persetujuan dari masyarakat setempat.

Selain Tokoh Agama Pemerintah Daerah juga sangat berpengaruh dengan kerukunan antar umat beragama.. Umat beragama dan pemerintah harus melakukan upaya bersama dalam memelihara kerukunan umat beragama, di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan. Kebijakan pemerintah dalam pembangunan nasional di bidang agama antara lain adalah meningkatkan kualitas pelayanan dan pemahaman agama, kehidupan beragama, serta peningkatan kerukunan intern dan antarumat beragama. Karena itu kerukunan umat beragama merupakan bagian terpenting dari kerukunan nasional dan merupakan syarat mutlak bagi utuhnya persatuan dan kesatuan bangsa.

(19)

6

kerukunan umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan Pemerintah dibidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan umat beragama. Peraturan Bersama Menteri (PBM) ini merupakan pedoman kepala daerah serta masyarakat dalam memperkuat kerukunan antar dan intern umat beragama. Khususnya diera otonomi ini, karena, pertama Peraturan Bersama Menteri merupakan hasil sinergi antara masyarakat yang tergabung dalam majelis-majelis agama dan pemerintah. Satu contoh konkrit upaya jaminan dan perlindungan hukum dan hak asasi manusia untuk kebebasan beragama dan beribadah menurut agama dan kepercayaan, khususnya dalam era otonomi daerah ini.

Pemeliharaan kerukunan umat beragama baik di tingkat Daerah, Provinsi, maupun Negara pusat merupakan kewajiban seluruh warga Negara beserta instansi pemerinth lainnya. Lingkup ketentraman dan ketertiban termasuk memfalisitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, mengkoordinasi kegiatan instansi vertikal, menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, saling percaya diantara umat beragama, bahkan menerbitkan rumah ibadah. Sesuai dengan tingkatannya Forum Kerukunan Umat Beragama dibentuk di Provinsi dan Kabupaten. Dengan hubungan yang bersifat konsultatif dengan tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, menampung aspirasi Ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan.

(20)

7

nasional, kemajemukan atau pluralitas bangsa adalah kenyataan hidup yang sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak saling mengganggu keimanan masing-masing pemeluk agama.

Dalam presfektif konflik sosial yang kerap muncul ditengah masyarakat dikarenakan lemahnya membangun sendi-sendi komunikasi antar tokoh masyarakat antar kerukunan umat beragama, dimana dengan melakukan penciptaaan kepedulian serta menyatukan persepsi penegakan konflik akan dapat berjalan sesuai dengan rasa keadilan. Hal ini sangat penting peran Pe,eri\ntah Daerah dalam mendorong keragaman sebagai potensi kebhinekaan untuk di kedepankan sebagai alat pemersatu. Dengan membangun manusia yang berwawasan kebangsaan.

Untuk mengetahui hal tersebut maka perlu di adakan penelitian dengan Judul “ Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama di Bandar Lampung “

1.2 Permasalahan

1. Bagaimanakah Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Antar Umat Beragama Di Bandar Lampung?

2. Apakah faktor Pendukung Dan Penghambat Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Antar Umat Beragama Di Bandar Lampung? 1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

(21)

8

2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat Pemerintah Daerah dalam pemeliharaan kerukunan antar umat beragama di Bandar Lampung.

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan Penelitian ini adalah : Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan Khususnya Ilmu Hukum Administrasi Negara mengenai Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama.

Kegunaan Praktis

(22)

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Peran

Menurut Margono slamet (1997:28) mengemukakan bahwa peran adalah suatu

tindakan atau suatu prilaku yang perlu dilaksanakan oleh seseorang yang menempati

suatu posisi tertentu dalam masyarakat. Peran tersebut meliputi peran yang telah

ditetapkan sebelumnya secara normatif serta peranan yang diharapkan oleh

seseorang pemegang peran.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, peran diartikan sebagai seperangkat

tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.

Kedudukan dalam hal ini diartikan sebagai posisi tertentu di dalam masyarakat yang

mungkin berkedudukan tinggi, menengah, atau rendah. Kedudukan tersebut

sebenarnya adalah wadah yang memiliki hak dan kewajiban tertentu, sedangkan hak

dan kewajiban tersebut dapat dikatakan sebagai pemegang peran. Suatu hak

sebenarnya merupakan wewenang untuk berbuat, sedangkan kewajiban adalah beban

dan tugas.

Peran mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:

1. peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat

seseorang dalam masyarakat, peran dalam hal ini merupakan rangkaian

peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan

(23)

10

2. peran adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu

dalam masyarakat sebagai organisasi.

3. peran juga dapat dikatakan sebagai prilaku individu yang penting bagi

struktur sosial masyarakat.

Jadi yang dimaksud dengan peran adalah aspek dinamis yang berupa tindakan

ataupun prilaku yang dilaksanakan oleh orang atau lembaga yang menempati atau

menduduki posisi dalam suatu sistem sosial.

2.2 Pengertian Pemerintah Daerah

Menurut Undang-undang nomor 32 tahun 2004 Pasal 1 ayat 2 yangdimaksud

pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah

daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuandengan prinsip

otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara KesatuanRepublik

Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar NegaraRepublik

Negara tahun 1945.

Melihat definisi Pemerintahan Daerah seperti yang telah dikemukakan diatas, maka

yang dimaksud pemerinntahan daerah adalah penyelenggaraan daerah otonom oleh

pemerintah daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi dan unsur penyelenggara

pemerintah daerah adalah Gubernur, upati atau Walikota dan perangkat daera

Sedangkan menurut S. Pamudji dalam bukunya Kerja Sama Antar Daerah dalam

Rangka Membina Wilayah menyebutkan bahwa yang dimaksud pemerintahan

daerah adalah daerah otonom diselenggarakan secara bersama-sama oleh seorang

(24)

11

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan diatas, maka pengertian dari

pemerintah daerah pada dasarnya sama yaitu suatu proses kegiatan antara pihak yang

berwenang memberikan perintah dalam hal ini pemerintah dengan yang menerima

dan melaksanakan perintah tersebut dalam hal ini masyarakat.

Pemerintah daerah memperoleh pelimpahan wewenang pemerintahan umum dari

pusat, yang meliputi wewenang mengambil setiap tindakan untuk kepentingan rakyat

berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Urusan pemerintahan umum yang

dimaksud sebagian berangsur-angsur diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai

urusan rumah tangganya, kecuali yang bersifat nasional untuk menyangkut

kepentingan umum yang lebih luas.

2.3 Tugas Pemerintah Daerah

2.3.1 Tugas Pokok Dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik

Menurut Pasal 14 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Tahun 2008 Tentang

Organisasi Dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Dan Satuan Polisi Pamong Praja

Daerah Kota Bandar Lampung Tugas Pokok Dan Fungsi :

1.1Badan Kesatuan Bangsa dan Politik merupakan unsur pendukung tugas

Walikota, mempunyai tugas Pokok melaksanakan penyusunan dan

pelaksanaan kebijakan daerah dibidang Kesatuan Bangsa dan Politik.

2.1Untuk menyelengarakan tugas Pokok sebagaimana dimaksud pada Ayat

(1) Pasal ini, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik menyelenggarakan

fungsi:

(25)

12

2. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

dibidang Kesatuan Bangsa dan Politik.

3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang Kesatuan Bangsa dan Politik.

4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota dibidang Kesatuan

Bangsa dan Politik.

5. Pelayanan administratif.

Susunan Organisasi Kesatuan Bangsa Dan Politik Kota Bandar Lampung Menurut

Pasal 15 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Tahun 2008 Tentang Organisasi

Dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Dan Satuan Polisi Pamong Praja Daerah

Kota Bandar Lampung :

Kepala Badan

Sekretariat, membawahi :

Sub Bagian Penyusunan Program, Monitoring dan Evaluasi.

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.

Sub Bagian Keuangan.

Bidang Budaya dan Partisipasi Politik

Sub Bidang Budaya dan Etika Politik.

Sub Bidang Perundang-undangan dan Partisipasi Politik.

Bidang Penanganan Masalah Strategis Daerah, membawahi :

Sub Bidang Analisa Potensi Kerawanan Konflik Sosial.

Sub Bidang Rehabilitasi, Rekonsiliasi dan kontruksi komplik Sosial;

Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Ormas, membawahi :

Sub Bidang Profesi dan LSM.

(26)

13

Bidang Pengembangan Nilai – Nilai Kebangsaan, membawahi :

Sub Bidang Wawasan Kebangsaan, Idiologi dan Kewaspadaan Nasional.

Sub Bidang Pembauran Kewarganegaraan, Pranata Sosial dan Budaya

Bangsa.

Unit Pelaksana Teknis.

Kelompok jabatan fungsional;

Bagan struktur organisasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bandar

Lampung sebagaimana tercantum pada Lampiran V, yang merupakan bagian

takterpisahkan dari Peraturan daerah ini.

Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mempunyai fungsi:

Pengkoordinasian dan penyusunan perencanaan pembangunan dibidang

pemerintahan, sumber daya manusia dan kesejahteraan rakyat.

Penetapan petunjuk pelaksanaan perencanaan dan pengendalian

pembangunan dibidang pemerintahan, sumber daya manusia dan

kesejahteraan rakyat.

Pelaksanaan kerjasama pembangunan antar daerah kabupaten/kota dan

antar pemerintah kota dengan swasta dibidang pemerintahan, sumber

daya manusia dan kesejahteraan rakyat.

Bimbingan supervisi dan konsultasi penyusunan rencana pembangunan

dibidang pemerintahan, sumber daya manusia dan kesejahteraan rakyat.

Pengendalian pembangunan dibidang pemerintahan, sumber daya

manusia dan kesejahteraan rakyat.

Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mempunyai 2 (dua) Sub Bidang

(27)

14

a. Sub Bidang Pemerintahan dan Sumber Daya Manusia mempunyai tugas

pokok melaksanakan sebagian tugas bidang sosial budaya dan sumber

daya pemerintahan lingkup sumber daya pemerintahan dan aparatur :

Untuk menjalankan tugas pokoknya, Sub Bidang Pemerintahan dan

Sumber Daya Manusia mempunyai tugas :

Mengkoordinasikan dan menyusun rencana pembangunan dibidang

Kesatuan Bangsa,Politik Dalam Negeri, Perlindungan Masyarakat,

Pendidikan, Pemerintahan Umum dan Kepegawaian.

Menetapkan petunjuk pelaksanaan perencanaan dan pengendalian

pembangunan di Kesatuan Bangsa, Politik Dalam Negeri,

Perlindungan Masyarakat, Pendidikan, Pemerintahan Umum dan

Kepegawaian.

Melaksanakan kerja sama pembangunan antar daerah kabupaten/kota

dan antar pemerintah kota dengan swasta dibidang Kesatuan Bangsa,

Politik Dalam Negeri, Perlindungan Masyarakat, Pendidikan,

Pemerintahan Umum dan Kepegawaian.

Mengendalikan pelaksanaan pembangunan dibidang Kesatuan

Bangsa, Politik Dalam Negeri, Perlindungan Masyarakat, Pendidikan,

Pemerintahan Umum dan Kepegawaian;

Melaksanakan bimbingan, supervisi dan konsultasi penyusunan

rencana pembangunan di bidang Kesatuan Bangsa, Politik Dalam

Negeri, Perlindungan Masyarakat, Pendidikan, Pemerintahan Umum

dan Kepegawaian.

(28)

15

b. Sub Bidang Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas:

1. Mengkoordinasikan dan menyusun rencana pembangunan di bidang

kesehatan, social keluarga berencana, pemberdayaan perempuan,

pemberdayaan masyarakat, kependudukan dan tenaga kerja.

2. Menetapkan petunjuk pelaksanaan perencanaan dan pengendalian

pembangunan di bidang kesehatan, social, keluarga berencana,

pemberdayaan perempuan, pemberdayaan masyarakat, kependudukan

dan tenaga kerja.

3. Melaksanakan kerjasama pembangunan antardaerah kabupaten/kota

dan antarpemerintah kota dengan swasta di bidang kesehatan, sosial,

keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, pemberdayaan

masyarakat, kependudukan dan tenaga kerja.

4. Mengendalikan pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan,

social, keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, pemberdayaan

masyarakat, kependudukan dan tenaga kerja.

5. Melaksanakan bimbingan, supervisi dan konsultasi penyusunan

rencana pembangunan di bidang kesehatan, social, keluarga

berencana, pemberdayaan perempuan, pemberdayaan masyarakat,

kependudukan dan tenaga kerja.

6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

2.3.2 Tugas Dan Kewajiban Pemerintah Daerah

Menurut Pasal 6 ayat 1 Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam

Negeri Tentang Pedoman dan Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah Dalam

(29)

16

Beragama Dan Pendirian Rumah Ibadat, Tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah

meliputi :

a) Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi

terwujudnya kewrukunan umat beragama.

b) Mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal dalam kerukunan umat

beragama

c) Menumbuhkan keharmonisan,saling pengertian, menghormati dan percaya

diantara umat beragama.

d) Membina dan mengkoordinasi Camat, Lurah, atau Kepala Desa dalam

penyelenggaraan Pemerintah Daerah di bidang ketentraman dan ketertiban

masyarakat dalam kehidupan beragama

e) Menertibkan Izin Mendirikan Bangunan rumah ibadat.

Tugas pemerintah daerah harus memberikan bimbingan dan pelayanan agar setiap

penduduk dalam melaksanakan ajaran agamanya dapat berlangsung dengan rukun,

lancar dan tertib, baik intern maupun antar umat beragama. Pemerintah Daerah

dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya mempunyai kewajiban memelihara

ketentraman dan ketertiban masyarakat. Dalam menyikapi kemajemukan agama,

Pemerintah berkewajiban untuk memberikan jaminan kebebasan beragama dan

memelihara kerukunan umat beragama dengan mengacu pada empat pilar kehidupan

berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka

Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam melaksanakan tugasnya Pemerintah berpedoman pada landasan yuridis

(30)

17

Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 28E, 28I, 28J, dan 29 yang

pada intinya bahwa setiap warga bebas dan berhak untuk memeluk agama dan

beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, negara menjamin

kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan

untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, namun dalam

menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk pada pembatasan

yang ditetapkan dengan Undang-Undang.

Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia khususnya

Pasal 70 dan Pasal 73 yang mewajibkan setiap orang untuk tunduk kepada

pembatasan yang ditetapkan dalam Undang-Undang, dan bahwa hak dan kebebasan

setiap orang dapat dibatasi dengan Undang-Undang.

Undang-Undang No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan

Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik, dimana pada pasal 18 kovenan

mengatur tentang kebebasan beragama, dan bahwa kebebasan tersebut dibatasi

dengan Undang-Undang.

Undang-Undang No. 1/PNPS tahun 1965 tentang Pencegahan

Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang isinya setiap orang dilarang dengan

sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan

umum untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia

atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan

keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari

(31)

18

Undang-Undang No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang

mengatur tentang pembentukan, hak dan kewajiban, kewenangan Pemerintah untuk

melakukan pembinaan, dan pembekuan, serta pembubaran organisasi

kemasyarakatan.

Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1986 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang mengatur

persyaratan pembentukan, fungsi, hak dan kewajiban, keanggotaan dan pengurus,

pembinaan dan tata cara pembentukan serta pembubaran organisasi kemasyarakatan.

Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1

Tahun 1979 tentang Tata Cara Pelaksanaan PenyiaraYi' Agama dan Bantuan Luar

Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, yang mengatur kegiatan

penyiaran agama, objek penyiaran, bentuk dan mekanisme bantuan luar negeri dan

kewenangan Kepala Daerah dalam pengawasan penyiaran agama dan bantuan

keagamaan.

Peraturan Bersama Menteri Agama dan ivienteri Dalam Negeri No. 9 dan 8

tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala

Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum

Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat yang mengatur, antara

lain, tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, forum

kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah.

Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam

(32)

19

tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota

Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

2.4 Kerukunan Antar Umat Beragama

Kerukunan dalam kehidupan akan dapat melahirkan karya – karya besar yang

bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sebaliknya konflik pertikaian dapat

menimbulkan kerusakan di bumi. Manusia sebagai mahkluk social membutuhkan

keberadaan orang lain dan hal ini akan dapat terpenuhi jika nilai-nilai kerukunan

tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat. Kerukunan dapat diklasifikan

menjadi dua yaitu kerukunan antar umat islam dan kerukunan antar umat baragama

atau antar umat manusia pada umumnya.

Kerukunan umat beragama merupakan dambaan setiap umat, manusia. Sebagian

besar umat beragama di dunia, ingin hidup rukun, damai dan tenteram dalam

menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bemegara serta dalam menjalankan

ibadahnya. Bangsa Indonesia diciptakan oleh Tuhan dalam suasana kemajemukan,

baik dari suku, ras agama maupun budaya. Indonesia sebagai negara kepulauan

terbesar didunia dengan berbagai segi kemajemukan sosial-budaya akan tetap

menjadi gejala yang harus selalu diperhitungkan dalam mewujudkan keutuhan dan

persatuan nasional, kemajemukan atau pluralitas bangsa adalah kenyataan hidup

yang sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak saling

mengganggu keimanan masing-masing pemeluk agama.

Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 manyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan

tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat

(33)

20

keanekaragaman pemeluk agama yang ada di Indonesia diberi kebebasan untuk

melaksanakan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Namun

demikian kebebasan tersebut harus dilakukan dengan tidak mengganggu dan

merugikan umat beragama lain, karena terganggunya hubungan antar pemeluk

berbagai agama akan membawa akibat yang dapat menggoyahkan persatuan dan

kesatuan bangsa.

Berbagai kebijakan dan program dalam rangka mendukung pelaksanaan prioritas

pembangunan Ketahanan Nasional yang kokoh, yaitu melalui kesejahteraan rakyat,

meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan ketahanan budaya. Agama

mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dan strategis, utamanya

sebagai landasan spiritual, moral dan etika dalam pembangunan Ketahanan Nasional

yang kokoh. Agama sebagai sistem nilai seharusnya dipahami dan diamalkan oleh

setiap individu, keluarga, masyarakat serta menjiwai kehidupan berbangsa dan

bernegara.

Sementara itu dalam dinamika kehidupan beragama di Indonesia seringkali dijumpai

kelompok, gerakan atau aliran keagamaan yang dianggap menyimpang dari kaidah,

ibadah atau pendirian yang dianut oleh mayoritas umat. Karena itu, keberadaan

mereka seringkali eksklusif, radikal atau ekstrim serta memiliki fanatisme buta,

kelompok semacam ini kerap disebut dengan istilah sempalan atau sekte yang

menyimpang. Disini pula letak kekurangan kalangan yang sering menyuarakan

sikap-sikap tolensi agama.

Kerukunan umat beragama sangat kita perlukan, agar kita semua bisa menjalani

(34)

21

sejahtera, dan jauh dari kecurigaan kepada kelompok-kelompok lain. Dengan begitu,

agenda-agenda kemanusiaan yang seharusnya dilakukan dengan kerja sama

antaragama, seperti memberantas kemiskinan, memerangi kebodohan, mencegah

korupsi, membentuk pemerintahan yang bersih, serta memajukan bangsa, dapat

segera dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Agenda-agenda tersebut, jelas tidak dapat dilaksanakan dengan optimal, jika

masalah kerukunan umat beragama belum terselesaikan. Fakta menjelaskan

meskipun setiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan keselarasan hidup,

realitas menunjukkan pluralisme agama bisa memicu pemeluknya saling berbenturan

dan bahkan terjadi konflik. Konflik jenis ini dapat mempunyai dampak yang amat

mendalam dan cenderung meluas. Bahkan implikasinya bisa sangat besar sehingga

berisiko sosial, politik maupun ekonomi yang besar pula.

Kerukunan antar umat manusia pada umumnya baik seagama maupun luar agama

dapat diwujudkan apabila satu sama lain dapat saling menghormati dan menghargai.

Dalam ajaran islam seorang muslim tidak dibolehkan mencacimaki orang tuanya

sendiri. Artinya jika seseorang mencacimaki orang tua saudaranya, maka orang

tuanya pun akan dibalas oleh saudaranya untuk dicaci maki. Demikian pula mencaci

maki tuhan atau peribadatan agama lain, maka akibatnya pemeluk agama lain pun

akan mecaci maki tuhan kita. Sejalan dengan agama ini agar pemeluk agama lain

pun menghargai dan menghormati agama islam.

Dialog intern umat beragama juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari

kerukunan kehidupan umat beragama, yang pada dasarnya merupakan upaya

(35)

22

umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya dalam kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Secara kasatmata pemimpin agama berperan penting

merancang dan melaksanakan dialog intern umat beragama, antarumat beragama,

dan antara umat beragama dan pemerintah. Baik dari kalangan pemuka agama Islam;

ulama, cendekiawan Muslim, mubaligh, dai, dan kiai maupun pemimpin kelompok

keagamaan dari kalangan penganut dan pemimpin agama Kristen/Katolik, Hindu,

maupun Buddha.

2.5 Pengertian Kerukunan Umat Beragama

Kerukunan umat bragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi

dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam

kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan

masyarakat dan bernegara. Umat beragama dan pemerintah harus melakukan upaya

bersama dalam memelihara kerukunan umat beragama, di bidang pelayanan,

pengaturan dan pemberdayaan. Sebagai contoh yaitu dalam mendirikan rumah

ibadah harus memperhatikan pertimbangan Ormas keagamaan yang berbadan hokum

dan telah terdaftar di pemerintah daerah.

Pemeliharaan kerukunan umat beragama baik di tingkat Daerah, Provinsi, maupun

Negara pusat merupakan kewajiban seluruh warga Negara beserta instansi pemerinth

lainnya. Lingkup ketentraman dan ketertiban termasuk memfalisitasi terwujudnya

kerukunan umat beragama, mengkoordinasi kegiatan instnsi vertical, menumbuh

kembangkan keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, saling percaya

(36)

23

Kerukunan antar umat islam didasarkan pada akidah islamnya dan pemenuhan

kebutuhan social yang digambar kan bagaikan satu bangunan, dimana umat islam

satu sama lain saling menguatkan dan juga digambarkan seperti satu tubuh;jika ada

bagian tubuh yang sakit maka seluruh anggota tuybuh merasakan sakit. Hal ini

berbeda dengan kerukunan antar umat beragama atau umat manusia pada umumnya.

Kerukunan antar umat beragama didasarkan pada kebutuhan social dimana satu

sama lain saling membutuhkan agar kebutuhan-kebutuhan hidup dapat terpenuhi.

Sesuai dengan tingkatannya Forum Krukunan Umat Beragama dibentuk di Provinsi

dan Kabupaten. Dengan hubungan yang bersifat konsultatif gengan tugas melakukan

dialog dengan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, menampung aspirasi

Ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk

rekomendasi sebagai bahan kebijakan.

Kerukunan antar umat beragama dapat diwujudkan dengan :

Saling tenggang rasa, saling menghargai, toleransi antar umat beragama.

Tidak memaksakan seseorang untuk memeluk agama tertentu.

Melaksanakan ibadah sesuai agamanya.

Mematuhi peraturan keagamaan baik dalam Agamanya maupun peraturan

Negara atau Pemerintah.

Dengan demikian akan dapat tercipta keamanan dan ketertiban antar umat beragama,

ketentraman dan kenyamanan di lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara.

(37)

24

Kerukunan umat beragama dalam islam yakni Ukhuwah Islamiah. Ukhuah islamiah

berasl dari kata dasar “Akhu” yang berarti saudara, teman, sahabat, Kata “Ukhuwah”

sebagai kata jadian dan mempunyai pengertian atau menjadi kata benda abstrak

persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan Islaiyah

berasal dari kata Islam yang dalam hal ini menjadi atau memberi sifat Ukhuwah,

sehingga jika dipadukan antara kata Ukhuwah dan Islamiyah akan berarti

persaudaraan islam atau pergaulan menurut islam.

Pengertian Ukhuah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara

orang-orang islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain

seakan akan berada dalam satu ikatan. Ada hadits yang mengatakan bahwa

hubungan persahabatan antara sesame islam dalam menjamin Ukhuwah Islamuah

yang berarti bahwa antara umat islam itu laksana satu tubuh, apabila sakit salah satu

anggota badan itu, maka seluruh badan akan merasakan sakitnya. Dikatakan juga

bahwa umat muslim itu bagaikan sutu bangunan yang saling menunjang satu sama

lain.

Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah menjadi actual, bila dihubungkan dengan masalah

solidaritas social. Bagi umat Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu yang masyru’

artinya diperintahkan oleh agama. Kata persatuan, kesatuan, dan solidaritas akan

terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apabila bila kata

Ukhuwah dirangkaikan dengan kata Islamiyah, maka ia akan menggambarkan satu

bentuk dasar yakni Persaudaraan Islam merupakan potensi yang obyektif.

Ibadah seperti zakat, sedekah, dan lain-lain mempunyai hubungan konseptual

(38)

25

Ukhuwah Islamiyah adalah kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan

bangs, juga untuk kemajuan agama, Negara, dan kemanusiaan. “Janganlah

bermusuh- musuhan, maka Allah menjinakan antara hatimu, lalu menjadilah kamu

karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran: 103) Artinya:

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai dan berselisih sesudah

dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang

(39)

26

III METODE PENELITIAN

Pendekatan Masalah

Untuk memperoleh data yang relevan guna memperoleh jawaban atas permasalahan

yang akan diteliti, maka pendekatan masalah yang dipergunakan adalah pendekatan

normativ dan pendekatan empiris. Pendekatan normative adalah pendekatan yang

dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum berupa undang-undang,

peraturan-peraturan yang berkaitan dengan masalah yang akan di teliti. Sedangkan

pendektan empiris adalah dengan cara mengumpulkan dan mempelajari informasi

secara langsung dilapangan.

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer

akan diperoleh atau bersumber dari kegiatan penelitian di lapangan yakni berupa

hasil pengamatan dan wawancara terbuka dengan responden yang berkompeten

terhadap masalah dalam penelitian. Data sekunder diperoleh melaui studi

kepustakaan dan setudi dokumentasi terhadap hukum dan undang-undang yang

berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Data sekunder dalam penelitian normatif terdiri dari :

(40)

27

Data sekunder bahan hukum sekunder, berupa surat-surat keputusan yang

penjelasan terhadap dat sekunder bahan hukum primer dan sekunder memeberikan

penjelasan terhadap bahan hukum primerd

Data sekunder, bahan hukum tersier, berupa data yang memeberikan

penjelasan terhadap data sekunder bahan hukum primer dan data sekunder bahan

hukum sekunder.

Prosedur Pengumpulan Data

Mengingat penelitian ini bersumber pada pengelolaan data normatif dan pendekatan

empiris, maka dalam pengumpulan datanya dilakukan langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Studi Kepustakaan

Merupakan pengumpulan literatur-literatur serta menelaah studi yang ada

diperpustakaan guna menyusun pokok bahasan. Data yang diperoleh melalui

studi kepustakaan dapat disebut dengan skunder(soerjono soekamto,

1988:22). Studi Lapangan

2. Studi lapangan

Merupakan suatu usaha pengumpulan data dengan cara melakukan kegiatan

penelitian lapangan secara langsung. Teknik yang digunakan yaitu dengan

teknik wawancara terbuka terhadap narasumber maupun pihak-pihak yang

(41)

28

Prosedur Pengolahan Data

Apabila data yang diperoleh dari studi pustaka dan studi lapangan telah cukup, maka

selanjutnya adalah melakukan pengolahan data yakni dengan cara sebagai berikut :

Pemeriksaan data, yaitu berupa penentuan data sesuai dengan pokok bahasan

apabila ada kemungkinan kurang atau keliru.

Klasifikasi data, yaitu menentukan data yang sesuai dengan pokok

bahasannya masing-masing.

Penyusunan data, yaitu menetapkan data pada tiap kerangka bahasan pada

permasalahan yang akan diteliti.

Analisis Data

Dalam penelitian ini analisa data dilakukan secara kualitatif, yaitu dengan

memberikan arti terhadap data dan disajikan dalam bentuk kalimat untuk selanjutnya

ditarik kesimpulan guna menjawab permasalahan dalam penelitian terhadap peran

(42)

50

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penulis di kota Bandar lampung maka dapat

disimpulkan bahwa peran pemerintah dalam pemeliharaan kerukunan umat

beragama di Bandar lampung adalah dengan memfasilitasi kegiatan yang

berhubungan dengan kerukunan keagamaan, dan membangun organisasi keagamaan

yang mengurus konflik antar umat beragama yaitu Forum Kerukunan Umat

Beragama, serta melakukan sosialisasi terhadap Peraturan bersama menteri agama

dan menteri dalam negeri nomor 9 dan nomor 8 tahun 2006 tentang pedoman

pelaksanaan tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah dalam pemeliharaan

kerukunan umat beragama, pemberdayan forum kerukunan umat beragama, dan

pendirian rumah ibadat.

Faktor pendukung peranan pemerintah dalam pemeliharaan kerukunan umat

beragama di Bandar lampung menurut sekretaris kesatuan bangsa dan politik kota

Bandar lampung HM. Sueb Nurdin, S.H dan Kepala bidang pemerkaji masalah

strategis daerah kesatuan bangsa dan politik kota Bandar lampung adalah :

1.

Adanya dorongan dari instansi terkait untuk dapat berperan serta dalam

pemeliharaan kerukunan umat beragama di Bandar lampung yaitu kepolisian

(43)

51

2.

Mulai tumbuhnya tingkat kesadaran masyarakat untuk menciptakan suatu

keadaan yang aman dan tertib dilingkungan kota Bandar lampung.

Pemerimtah kota Bandar lampung sendiri menyatakan bahwa ada faktor yang

mendukung dan yang menjadi penghambat dalam pemeliharaan kerukunan umat

beragam di Bandar lampung ini, setelah dilakukan wawancara oleh penulis berikut

Faktor pengahambat peranan pemerintah daerah kota Bandar lampung dalam

pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah :

1.

Kurangnya pengetahuan masyarakat kota Bandar lampung tentang Peraturan

Bersama Mentri Agama dan Mentri Dalam Negri No. 9 dan No. 8 Tahun

2006, khususnya pada Bab II Pasal 2, hal ini disebabkan karena pemerintah

daerah belum mensosialisasikan dengan baik Peraturan Bersama Mentri

Agama dan Mentri Dalam Negri No. 9 dan No. 8 Tahun 2006 ini.

2.

Pemerintah juga mengalami kesulitan dalam mengumpulkan para pemuka

agama di kota Bandar lampung ini karena para pemuka agama tersebut

mempunyai kepentingan masing-masing dan hanya mengutus bawahannya

sehingga sosialisasi kurang begitu efektif.

3.

Anggaran yang terbatas membuat pemerintah daerah kota Bandar lampung

jarang untuk melakukan kegiatan sosialisasi.

4.

Masyarakat terkadang merasa malu untuk melaporkan atau menyelesaikan

perselisihan yang terjadi padanya dan menganggap bahwa bila ia melaporkan

atau menyelesaikan melalui tingkat pemerintah daerah kota Bandar lampung

(44)

52

5.2 Saran

1.

Agar pemerintah daerah untuk lebih mensosialisasikan Peraturan Bersama

Mentri Agama dan Mentri Dalam Negri No. 9 dan No. 8 Tahun 2006 dan

peraturan perundangan yang berlaku dengan cara melakukan

penyuluhan-penyuluhan sehingga tercipta suatu kehidupan masyarakat yang harmonis.

2.

Himbauan kepada masyarakat kota Bandar lampung apabila terjadi perselisihan

antar umat beragama hendaknya melaporkan kepada forum kerukunan umat

(45)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

………..………

.

…….1

1.2 Permasalahan………

..

………

.

…………7

1.3 Tujuan Penelitian………

.

………7

1.4 Kegunaan Penelitian……….…

.

…………..8

1.) Kegunaan Teoritis

……….…………8

2.) Kegunaan Praktis……….……….………8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Peran……….………

.

..

….9

2.2 Pengertian Pemerintah Daerah………

..

……10

2.3 Tugas Pokok Dan Fungsi Pemerintah Daera

h………… ………

...

…………

..

……11

2.3.1

Tugas Pokok Dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik…………

.

……….11

2.3.2

Tugas Dan Kewajiban Pemerintah Daerah………

.

………..16

2.4 Kerukunan Antar Umat Beragama………

.

..……..19

2.5 Pengertian Ker

ukunan Antar Umat Beragama………..………

.

…..…..22

2.6 Pengertian Kerukunan Antar Umat Beragama Menurut Islam………..………...……….24

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan

Masalah………

.

……….26

3.2 Sumber Data………

....

……..

26

3.3 Prosedur Pengumpulan Data……….………27

3.4 Prosedur Pengolahan Data……….………28

(46)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Pen

elitian…………..………..29

4.1.1 Sejarah Berdirinya Kota Ba

ndar Lampung………..………..31

4.1.2 Struktur Pemerint

ahan………..………..32

4.2 Peranan Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama di Kota

Bandar Lampung

………...………33

4.2.1 Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama

………

..34

4.2.2 Koordinasi Kegiatan Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama

.

……

....36

4.2.3

Menumbuhkan Keharmonisan Diantara Umat Beragama

…..………

.

.37

4.2.4.

Membina Dan Mengkoordinasi Camat, Lurah atau Kepala Desa Dalam

Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama

………...37

4.2.4 Tugas Pokok Dan Fungsi Kecamatan

………...………38

4.2.6 Menertibkan Izin Mendirikan Bangunan ru

mah ibadat………...………….40

4.3 Pembentukan FK

UB………..41

4.3.1 Tugas FKUB

………...

..42

4.3.2 Keanggotaan FKUB

……….

42

4.3.3 Keanggotaan Dewan Penasihat FKUB

……….

44

4.4

Faktor Pendukung Dan Penghambat Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemeliharaan

Kerukunan Umat Beragama Di Kota Bandar Lampung

4.4.1 Faktor Pendukung……….……….…..48

4.4.2 Faktor Penghambat………..

.49

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

………50

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Soerjono Soekanto,

Pengantar Penelitian Hukum

, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1985

D. Hendrapuspito, O.C, 1984,

Sosiologi Agama

, Kanisius, Yogyakarta

Robert John Ackerman, 1991,

Agama Sebagai Kritik

, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta.

H. Siswanto Sunarno, 2006,

Hukum Pemerintahan Daerah Di Indonesia

, Sinar Grafika,

Jakarta.

H. Zainudin Ali, 2006,

Sosiologi Hukum

, Sinar Grafika, Jakarta

Undang-Undang Dasar 1945

Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Peran Sosial Pemuda Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama di Kelurahan Lestari Indah Kabupaten Simalungun Kota Pematangsiantar FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN.. Masalah

Pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan Pemerintah di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan umat beragama, maka kerukunan

Karya Ilmiah ini di buat untuk mengetahui Peran pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung dalam pelaksanaan penataan ruang dalam hal perencanaan tata ruang Kota Bandar Lampung adalah

Karya Ilmiah ini di buat untuk mengetahui Peran pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung dalam pelaksanaan penataan ruang dalam hal perencanaan tata ruang Kota Bandar Lampung adalah

Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa peran yang dilakukan FKUB dalam menjaga kerukunan umat beragama di Kabupaten Sidoarjo dengan cara (1) memelihara agama sebagai

Kebijakan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Abdya dalam membina kerukunan umat beragama seperti kegiatan dan program untuk umat muslim di Aceh Barat Daya dalam

Analisis Peran Tokoh Agama Sebagai Perekat Kerukunan Umat Beragama Dari pemaparan narasumber megenai peran tokoh agama sebagai perekat kerukunan antar umat beragama

Skripsi yang berjudul Peran Tokoh Agama Dalam Membina Kerukunan Antar Umat Beragama di Kawasan Pecinan Kota Semarang, disusun untuk memenuhi salah satu syarat