Laporan Pengantar Proyek Tugas Akhir
PERANCANGAN MEDIA INFORMASI
PENGENALAN WARNA PADA ANAK
DK 38315/Tugas Akhir Semester II 2010/2011
Oleh :
Adhi Surya Adhiatmaja 51907125
Program Studi
Desain Komunikasi Visual
FAKULTAS DESAIN
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat
rahmat dan karunia-Nya yang telah memberi kelancaran pada penulis dalam
mengerjakan Tugas akhir. Laporan Pengantar Proyek Tugas akhir ini
disusun untuk melengkapi dan memenuhi syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Desain pada Fakultas Desain Program Studi Desain Komunikasi
Visual Universitas Komputer Indonesia. Penulisan Tugas Akhir yang
berjudul “Perancangan Media Informasi Pengenalan Warna Pada Anak”. Dengan keterbatasan waktu, pengetahuan, pengalaman, serta kesempatan
yang ada, disadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna,
baik dari segi materi maupun sistematika penulisan dan pembahasannya.
Oleh karena itu, segala saran dan kritik demi perbaikan dan
penyempurnaannya akan diterima dengan senang hati. Semoga Laporan
Pengantar Proyek Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan
pihak-pihak yang berkepentingan.
Bandung, 1 Agustus 2011
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Warna dan bentuk dikenali oleh anak sejak masih usia dini.
Anak mengenal warna dan bentuk dari lingkungan sekitar yang
mereka lihat, pengetahuan anak tentang warna mulai berkembang
jauh sebelum mereka memulai pendidikan formal. Penerapan
terhadap warna – warna bagi anak dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenal dan mengingat. Dengan
pengenalan warna, bisa mengembangkan kecerdasan dan imajinasi
anak, Pengenalan warna pada anak erat kaitannya dengan
pengasahan kemampuan imajinatif dan artistik anak.
Salah satu faktor pembangun imajinasi dan kreativitas adalah
dengan pengenalan terhadap warna. Anak yang memperoleh
stimulasi mengenai warna melalui apa yang dilihat yang kemudian di
jelaskan oleh orang tuanya, biasanya orang tua memberi tahu warna – warna dasar, seperti merah, biru dan kuning. Pengenalan warna juga
berkaitan erat dengan pola berpikir alternatif. Setidaknya ini sebagai
pembangun kecerdasan anak dan pengantar mengenal dunia seni.
Mengajarkan warna-warna pada anak salah satu caranya dengan
menunjukkan perbedaan-perbedaan warna pada objek/benda yang
2 kaos, lampu, perabot rumah, dan warna-warna yang ada pada
objek/benda di sekitarnya. Permasalahan yang dihadapi adalah ketika
orang tua tidak bisa menjelaskan warna yang sama dengan intensitas
yang berbeda, seperti contohnya warna biru tua dan biru muda. Ketika
anak menanyakan warna merah pada apel dengan warna merah pada
tomat, kebanyakan orang tua memberi tahu bahwa warna pada kedua
buah itu sama yaitu merah, tanpa memberi tahu lebih spesifik warna
pada kedua buah tersebut. Kondisi lingkungan sekitar sangat
mendukung pada proses kreativitas anak dalam mengenal bentuk dan
warna.
Salah satu cara untuk mengenalkan warna pada anak yaitu
melalui gambar, dengan mengenalkan gambar berwarna pada anak
akan lebih mempermudah anak dalam mengenali warna – warna. Gambar juga bisa memancing anak untuk meniru objek/benda yang
terdapat pada gambar dengan cara menggambarkan objek/benda
tersebut pada media yang anak inginkan. Anak adalah peniru yang
baik, dengan kegiatan menggambar dapat memberikan kesempatan
pada anak untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam
mengajarkan menggambar sebaiknya tidak diberikan latihan-latihan
yang bersifat menyuruh atau mencontoh apa yang dibuat pengajar,
hal tersebut cenderung menjadikan penghambat dalam berekspresi,
secara tidak langsung anak dibatasi dalam mengungkapkan ekspresi
3 Berbicara mengenai gambar tidak terlepas dengan warna. Pada
saat menggambar anak biasanya mewarnai gambar dengan sangat
bebas, mewarnai sesuai dengan keinginan. Mewarnai dengan sangat
lepas dan tidak ada beban karena belum terikat oleh aturan normatif.
Secara prinsip yang diketahui adalah warna – warna dasar yang ada di sekitarnya. Pada saat mulai menginjak sekolah dasar, anak mulai
diberikan materi – materi pelajaran yang sudah terstruktur berdasarkan kurikulum. Dari hasil observasi, siswa kelas 1 SD sudah
mengetahui tentang warna – warna, tetapi belum mampu mengaplikasikan warna tersebut ke dalam gambar yang sesuai
dengan warna aslinya. Dengan memberikan anak kesempatan
menuangkan imajinasinya dan berekspresi sendiri serta
mengkomunikasikan dirinya dengan warna-warna yang ada, akan
menjadi proses dimana anak bereksperimen dengan imajinasinya.
Dalam konteks pendidikan sudah berkaitan dengan nilai ukur,
contohnya, pada saat anak mewarnai gambar apel dengan warna
biru, maka hal tersebut dinilai salah karena tidak sesuai dengan objek
aslinya, hal yang tampak kurang sesuai disini adalah anak sudah
4 1.2. Identifikasi Masalah
Dari masalah di atas ada beberapa masalah yang dapat
disimpulkan, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Pengenalan warna pada anak masih cenderung pada warna – warna dasar.
- Lingkungan sangat mendukung dalam proses pengenalan anak
terhadap warna.
- Perbedaan persepsi warna secara nilai pada orang dewasa
dan anak. Bagi orang dewasa, warna yang benar adalah yang
sesuai dengan kenyataannya, sementara bagi anak warna
adalah imaginasi dan ekspresi. Disini kontra nilai bisa menjadi
penghambat kemampuan berekspresi pada anak
- Pengalaman orang dewasa bisa mempengaruhi pengalaman
anak dalam mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak
dalam mewarnai.
1.3. Fokus Masalah
Permasalahan ini ditetapkan pada bagaimana anak dapat
mengenali ragam warna dan mengekspresikannya melalui media
5 1.4. Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan media informasi ini adalah memberi
pengalaman untuk mengenali warna, sebagai sarana mengajak dan
membantu anak untuk dapat mengenal warna – warna dengan lebih beragam. Sekaligus member gambaran bahwa warna adalah suatu
pengalaman ekspresif, yang akan membawa imaginasi dalam
petualangan yang menyenangkan. Objek ini disusun menjadi sebuah
1 BAB II
MEDIA INFORMASI PENGENALAN WARNA PADA ANAK
2.1. Warna
Warna merupakan salah satu unsur yang tidak bisa berdiri
sendiri. Penampilan suatu warna selalu dipengaruhi dan ditentukan
oleh warna lain yang ada di sekitarnya. Warna juga merupakan
tampilan fisik pertama yang sampai ke mata, yang menjadi alat
pembeda antara suatu objek dengan objek yang lain. Baik itu benda
mati atau benda hidup. Warna bisa dilihat karena ada interaksi atau
karena ada saling pengaruh antar warna itu sendiri. Warna biru
dengan kadar pencahayaan yang sama akan terlihat berbeda
penampilannya bila diletakkan di atas latar yang berbeda atau
didekatkan dengan warna yang berbeda pula.
Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan
memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan untuk
mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri.
Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat
banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam.
Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling
dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut
dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan
mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai
2 2.1.1. Nama Warna
Dengan mengetahui nama – nama maka identifikasi warna bisa dikenal dengan mudah, karena dengan namanya
warna dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya.
Dengan mengetahui warna merah berarti dapat
membedakannya dengan warna kuning, hijau, atau biru. Tetapi,
bagaimana seseorang dapat mengenal ribuan atau puluhan
ribu warna yang ada di alam ini bila tidak ada standar
klasifikasinya? Mata manusia yang normal dapat membedakan
warna sebanyak jutaan warna dalam berbagai tingkat
kecerahannya. Dari semua itu ribuan warna telah mempunyai
nama sejak manusia dapat membedakan antara warna yang
satu dengan yang lainnya. Sebelum data Munsell
distandarisasikan, nama – nama pada masa lampau diberikan berdasarkan warna alamiah yang dimiliki sebelumnya. Berikut
ini contoh – contoh lainnya:
Hijau alpokat adalah warna hijau yang menyerupai warna
buah alpokat. Nama – nama lain dari keluarga hijau adalah: hijau lumut, hijau daun, dan hijau tembaga. Dari bahasa asing
ada juga yang disebut jade green, emerald green.
Biru langit adalah nama warna biru yang menyerupai
3 biru yang bersifat lokal ini adalah biru telur asin, biru laut, biru
tosca, prussian blue, peacock blue, cyan blue, ultramarine blue.
Merah rambutan adalah warna merah yang menyerupai
warna buah rambutan matang. Nama – nama warna merah lain misalnya merah bata, merah delima, merah cabai, merah
anggur, scarlet, vermillion, carmine, burnt sienna, purple, dan
magenta.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, dari ketiga warna
saja sudah didapatkan banyak nama, belum lagi berbicara
nama warna lainnya, seperti dari keluarga kuning, jingga, dan
ungu. Tidak ada yang mengetahui secara tepat tentang
perkembangan nama – nama atau istilah – istilah warna. Perkembangan lingkungan budaya masyarakat ternyata
mempengaruhi perkembangan „kamus warna‟.
Di Indonesia sendiri ditemukan nama- nama warna yang
juga diambil dari warna bendanya atau keadaannya, misalnya
merah mengkudu, hitam lumpur, soga, biru, dan nila. Lebih
kaya lagi bila mengambil istilah dari bahasa daerah. Di Jawa
Barat, bahasa Sunda memiliki nama warna kedaerahan seperti
„hejo pucuk cau‟ yang berarti warna hijau yang menyerupai pucuk daun pisang, „hejo lukut‟ warna hijau yang menyerupai
warna lumut, „koneng buruk‟ warna kuning yang menyerupai warna kunyit. Istilah warna yang sifatnya kedaerahan ini akan
4
mengembangkan kemampuannya, karena pada dasarnya anak lahir
dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak
mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.
Jhon Locke (dalam Kartini, 2007) mengemukakan bahwa anak
merupakan pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan
– rangsangan yang berasal dari lingkungan. Augustinus (dalam
Kartini, 2007) mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang
dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari
hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan
pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak – anak lebih mudah belajar dengan contoh – contoh yang diterimanya dari aturan – aturan yang bersifat memaksa.
Sobur (1988), juga mengartikan anak sebagai orang atau
manusia yang mempunyai pikiran, sikap, persaan, dan minat berbeda
dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Definisi anak
menurut Haditono (dalam Damayanti, 1992), anak adalah mahluk
yang membutuhkan kasih sayang, pemeliharaan, dan tempat bagi
5 dan keluarga memberi kesempatan kepada anak untuk belajar tingkah
laku yang penting untuk perkembanagn yang cukup baik dalam
kehidupan bersama.
2.2.1. Periode Perkembangan Anak
Perkembangan ialah perubahan – perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi – fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan
proses belajar dalam pasage waktu tertentu, menuju kedewasaan. (Kartini, 2007, h.21).
Charlotte Buhler (dalam Kartini, 2007) menjelaskan fase
– fase perkembangan sebagai berikut:
Fase pertama, 0-1 tahun:
Masa menghayati objek - objek di luar diri sendiri, dan
saat melatih fungsi-fungsi. Terutama melatih fungsi motorik ;
yaitu fungsi yang berkaitan dengan gerakan-gerakan dari
6 Fase kedua, 2-4 tahun:
Masa pengenalan dunia objektif diluar diri sendiri,
disertai penghayatan subjektif. Mulai ada pengenalan pada
AKU sendiri, dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri.
Anak tidak mengenal dunia luar berdasarkan pengamatan
objektif, melainkan memindahkan keadaan batinnya pada
benda – benda di luar dirinya. Karena itu ia bercakap-cakap dengan bonekanya, bergurau dan berbincang-bincang dengan
kelincinya, sepertinya kedua binatang dan benda permainan itu
betul-betul memiliki sifat-sifat yang dimilikinya sendiri. Fase ini
disebut pula sebagai fase bermain, dengan subjektifitas yang
sangat menonjol.
Fase ketiga, 5-8 tahun:
Masa sosialisasi anak. Pada saat anak mulai memasuki
masyarakat luas, misalnya taman kanak – kanak, pergaulan dengan kawan – kawan sepermainan, anak mulai belajar mengenal dunia sekitar secara objektif, dan ia mulai belajar
mengenal arti prestasi pekerjaan, dan tugas-tugas kewajiban.
Fase keempat, 9-11 tahun:
Masa sekolah rendah. Pada periode ini anak mencapai
objektivitas tertinggi. Masa penyelidik, kegiatan mencoba
7 meneliti dan rasa ingin tahu yang besar. Merupakan masa
pemusatan dan penimbunan tenaga untuk berlatih, menjelajah
dan bereksplorasi. Pada akhir fase ini anak mulai menemukan
diri sendiri, yaitu secara tidak sadar mulai berfikir tentang diri
pribadi.
2.2.2. Imajinasi dan Kreativitas Anak
Imajinasi anak merupakan upaya untuk menstimulasi,
menumbuhkan dan meningkatkan potensi kecerdasan juga
kreativitasnya di masa pertumbuhannya. Imajinasi anak
berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan ia
berbicara dan berbahasa. Seperti bermain, dunia imajinasi juga
merupakan dunia yang sangat dekat dengan dunia anak.
Imajinasi anak merupakan sarana untuk mereka berselancar
dan belajar memahami realitas keberadaan dirinya juga
lingkungannya. Karena itu, orang tua dapat mengembangkan
imajinasi anak dengan menstimulasi tumbuh kembangnya
potensi dan kemampuan imajinatif anak untuk diekspresikan
dengan efektif. (Fera, 2010).
Definisi kreativitas anak yang dikemukakan para ahli
berbeda-beda. Untuk memperjelas pengertian kreativitas, dan
sekaligus sebagai bahan perbandingan maka akan diuraikan
8 Kreativitas merupakan proses yang dilakukan oleh
seorang individu ditengah-tengah pengalamannya dan yang
menyebabkannya untuk memperbaiki dan mengembangkan
dirinya. Pada dasarnya kreativitas anak bersifat ekspresionis.
Ini karena pengungkapan (ekspresi) yang merupakah sifat yang
dilahirkan dan dapat berkembang melalui latihan-latihan.
Kreativitas merupakan segala pemikiran baru, cara,
pemahaman/model baru yang dapat disampaikan, kemudian
digunakan dalam kehidupan (Ulfah dalam Retno, 2008).
Kreativitas adalah suatu proses adanya sesuatu yang baru,
apakah itu gagasan atau benda dalam bentuk atau rangkaian
yang baru dihasilkan (Meitasari dalam Retno, 2000). Kreativitas
adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru
dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang
unik (Santrock dalam Retno, 2007).
2.3. Mengenal Warna pada Anak
Kemampuan mengenali warna dan bentuk tentu tidak didapat
secara instan. Sebuah proses yang tidak sebentar bagi anak untuk
mengenali berbagai macam warna dan bentuk yang ada.
Mengenalkan anak pada bentuk dan warna bisa mengembangkan
kecerdasan, bukan hanya mengasah kemampuan mengingat, tapi
9 serta pola berpikir kreatif. Di usia batita, anak memang harus
dikenalkan pada bentuk dan warna yang menekankan pada auditory,
visual dan memory, pengenalan ketiga hal tersebut sangat
berpengaruh pada perkembangan intelektual anak.
Pengenalan warna erat kaitannya dengan pengasahan
kemampuan imajinatif dan artistik anak. Dalam bahasa lain, lebih
mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni. Dan salah satu
faktor pembangun imajinasi dan kreativitas adalah aspek warna. Anak
yang memperoleh stimulasi mengenai tata warna, tentu akan dengan
cepat memadukan warna yang serasi antara benda yang satu dengan
benda lainnya hingga betul-betul enak dilihat. Selain mengasah bakat
dan kemampuan di bidang seni, pengenalan warna juga berkaitan erat
dengan pola berpikir alternatif.
2.4. Media Informasi
Media informasi sangat penting sekali di zaman modern
sekarang ini, karena melalui media informasi manusia dapat
mengetahui informasi yang sedang berkembang, selain itu manusia
juga bisa saling berinteraksi satu sama lain. Melalui media informasi
juga sebuah pesan dapat tersampaikan dengan baik jika media yang
dibuat tepat kepada sasaran dan informasi yang disampaikan
10 2006) media informasi adalah “alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual”. Dengan katalain media adalah suatu alat untuk
memberi informasi kepada orang lain agar orang mengerti arah dan
tujuan yang akan disampaikan.
2.4.1. Definisi Media
Media adalah alat yang fungsinya sebagai tempat
menyampaikan informasi atau pesan untuk disampaikan
kepada khalayak yang menerimanya. Dari pesan yang
disampaikan melalui media memberikan dua dampak terhadap
masyarakat, yang menerima dengan respon yang positif dan
ada juga yang menerima dengan respon yang negatif
tergantung isi informasi atau pesan yang disampaikan.
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan
bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti
perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan minat serta perhatian yang sedemikian rupa
11 2.4.2. Definisi Informasi
Banyak yang memiliki beberapa tanggapan tentang
definisi informasi yang berbeda-beda akan tetapi semuanya
memiliki satu tujuan yang sama. Informasi adalah data yang
sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna dan
memiliki nilai yaitu pengetahuan atau keterangan yang
ditujukan bagi khalayak sebagai penerima informasi.
Informasi adalah hasil dari proses intelektual seseorang.
Proses intelektual adalah mengolah atau memproses apa yang
didapat, yang masuk kedalam diri individu melalu panca indra,
kemudian diteruskan ke otak/pusat syaraf untuk diolah/diproses
dengan pengetahuan, pengalaman, selera, dan iman yang
dimiliki seseorang. Setelah mengalami pemrosesan, stimulus
itu dapat dimengerti sebagai informasi. Informasi ini bisa diingat
di otak, bila dikomunikasikan kepada individu atau khalayak,
maka akan berubah menjadi pesan. (Wiryanto dalam Rhama,
2004).
2.4.3. Jenis – jenis Media
Media informasi dapat dibagi menjadi menjadi beberapa
12 a. Media Lini Atas
Merupakan media yang tidak langsung bersentuhan dengan
khalayak sasaran dan jumlahnya terbatas, seperti billboard,
iklan televis, iklan radio, dan lain-lain.
b. Media Lini Bawah
Suatu media iklan yang tidak disampaikan atau disiarkan
melalui media massa, seperti brosur, poster, flyer.
c. Media Cetak
Media cetak dapat berupa brosur, koran, majalah, poster,
pamflet, spanduk, dan lain-lain
c. Media Elektronik
Media ini dapat disampaikan melalui radio, kaset, kamera,
1 BAB III
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
3.1 Strategi Perancangan
3.1.1 Pendekatan Komunikasi
Komunikasi banyak dilakukan melalui media gambar.
Karena anak-anak lebih tertarik terhadap gambar dan membuat
anak berimajinasi lebih tinggi untuk menerima pesan yang ingin
disampaikan dari gambar tersebut. Agar komunikasi lebih jelas
dan lancar, maka diberikan sedikit teks atau tulisan dengan
gaya bahasa yang tepat bagi anak-anak, yaitu yang mudah
diterima oleh mereka. Gaya bahasa yang dimaksud adalah gaya
bahasa yang akrab di pikiran mereka, tidak menggunakan
kata-kata yang formal dan kata-kata-kata-kata yang asing untuk anak.
Contohnya adalah bahasa yang digunakan ibu atau guru TK
saat mengajar. Sehingga komunikasi yang diharapkan lebih
efektif dan pesan yang ingin disampaikan dapat dengan jelas
diterima oleh anak-anak.
3.1.2 Tujuan Komunikasi
- Informasi atau pesan yang disampaikan dapat dengan mudah
dimengerti dan dipahami oleh anak.
- Merangsang daya tangkap anak untuk lebih peka terhadap
2 - Mengenalkan warna – warna selain warna dasar sebelum anak
menginjak sekolah dasar.
3.1.3 Pesan Utama
Pesan utama adalah inti pengkomunikasian materi
pesan dalam perancangan media. Dengan pesan utama yang
telah ditentukan perancangan media dapat mengkomunikasikan
pesan dengan lebih efektif dan fokus. Pesan utama yang akan
disampaikan dalam media informasi ini yaitu, “Pengenalan Warna untuk anak”.
3.1.4 Materi Pesan
Agar dapat lebih dipahami oleh segmentasi media
informasi ini, materi pesan yang disampaikan berupa informasi
yang dapat memberi pengetahuan kepada anak tentang warna
dengan bentuk ilustrasi dan disertai dengan teks yang
disesuaikan dengan segmentasi. Sehingga mendukung serta
memudahkan dalam penyampaian pesan media informasi
kepada segmentasi.
3.1.5 Khalayak Sasaran
Pada strategi komunikasi ditunjukan kepada 2 khalayak,
yaitu khalayak primer dan khalayak sekunder.
3.1.2.1 Khalayak Sasaran Primer
Target audience primer merupakan target utama
dalam pemasaran buku cerita bergambar ini nantinya.
3 disesuaikan dengan karakteristik target audience primer
ini, yang terbagi menjadi Demografis, Geografis,
Psikografis, Behavioristis yaitu:
Demografis
Secara demografis target audience sebagai
pengguna buku meliputi kedua jenis kelamin yaitu
laki-laki dan perempuan, dengan katagori usia mulai 5 - 8
tahun. Sedangkan target market sebagai pembeli buku
meliputi kedua jenis kelamin yaitu laki – laki dan perempuan, dengan kategori usia 25 – 40 tahun, dengan kelas sosial masyarakat golongan menengah dan
menengah ke atas. Buku ini juga diharapkan dapat
mencakup segala macam ras dan religi.
Geografis
Secara geografis target audience dari buku ini
adalah semua orang dengan batasan yang telah
dijelaskan pada bagian demografis tersebut di atas,
yang bertempat tinggal di kota besar, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Medan,
Makassar, dan Palembang. Karena mereka yang tinggal
di daerah perkotaan yang jalur distribusinya dalam
4 Psikografis
Para pembaca dari buku ini adalah anak-anak
yang memiliki kecenderungan berimajinasi dan
ketertarikan kepada satu tokoh atau figur idola tertentu.
Buku ini juga dibuat untuk menumbuhkan ketetarikan
mereka pada pengetahuan tentang pengenalan warna.
karena anak pada usia ini sudah termotivasi untuk
belajar.
Behavioristis
Target audience adalah anak-anak yang sedang dalam
tahap belajar membaca, anak-anak dibuat agar dapat
menyakai buku cerita bergambar dan mengidolakan
tokoh di dalam buku cerita tersebut. Anak-anak juga
dibuat tertarik dengan adanya media pendukung dan
petualangan dalam ceritanya, setting cerita, karakter
penokohan dan sebagainya. Dan rancangan buku ini
memberikan nuansa baru yang berbeda dari pada
kebanyakan buku cerita bergambar pada umumnya.
3.1.2.2 Khalayak Sasaran Sekunder
Khalayak sasaran sekunder merupakan target
tambahan di luar khalayak sasaran utama atau primer,
5 membaca buku cerita bergambar. Para khalayak sasaran
skunder ini meliputi orang tua anak-anak yang dapat
mendampingi anak-anak dalam membaca buku cerita
bergambar dan memberikan penjelasan-penjelasan yang
dibutuhkan sang anak saat membaca buku tersebut.
3.2. Strategi Kreatif
Pendekatan dengan memberikan informasi pengenalan warna
dalam bentuk cerita dan ilustrasi. Dimana anak pada umur 5-8 tahun
mengalami tahap pengembangan inisiatif / ide, sampai pada hal-hal
yang bersifat fantasi sebagai gambaran imajinasi anak sehingga anak
terangsang untuk bertanya dan selanjutnya meniru kegiatan
pengenalan warna. Oleh karena itu, dalam penyampaian informasi
kepada anak dilakukan dengan cara bercerita melalui ilustrasi agar
anak lebih cepat dalam mengenal warna.
Adapun gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
yang tidak baku dengan kalimat-kalimat yang singkat. Hal ini
6 3.2.1. Sinopsis
Buku ini berisi tentang belajar mengenal warna agar lebih
peka terhadap warna dan mengetahui tentang percampuran
warna dari warna primer ke warna sekunder. Buku ini
menjelaskan tentang warna – warna dasar dan penjelasan terbentuknya warna sekunder. Cerita ini disampaikan melalui
petualangan tokoh seorang anak bernama Davin. Nama ini
mengacu pada nama Leonardo Da Vinci, seorang penemu abad
kelimabelas. Tokoh ini dikenal sangat kreatif dan berpikiran
melebihi zamannya. Mengacu pada tokoh ini, pemilihan nama
adalah penyederhanaan dari Da Vinci, menjadi Davin.
Penggambaran tokoh Davin adalah anak yang memiliki imaginasi
tinggi dan rasa ingin tahu yang besar. Suatu hari ia membuat
gambar seekor kucing. Karena kelelahan ia tertidur,
danmendapati dirinya berada pada suatu tempat yang asing. Ia
juga bertemu dengan kucing yang digambarnya. Kucing itu pun
menjadi temannya bertualang di tempat asing tersebut.
Di tempat itu ia melihat warna dan mendapat informasi
mengenai warna dasar sampai pada warna campuran. Dan,
ternyata warna terkait dengan benda-benda yang ada dalam
kehidupan sehari-harinya.
3.2.2. Studi Karakter
Tokoh yang berperan pada cerita ini adalah Davin dan
7 anak bernama River Amadeo Salomon, yang berusia 5 tahun,
dia adalah anak yang lincah, serba ingin tahu, suka berimajinasi
dengan dunianya sendiri, naka dipilihlah River sebagai acuan
anak yang akan di pakai sebagai tokoh karakter Davin.
Gambar 3.1 : Photo dan Karakter Sumber (Dokumen Pribadi)
3.2.3. Studi Lokasi
Lokasi yang digunakan pada cerita ini ada pada tempat, yaitu:
kamar Davin dan taman.
Gambar 3.2 : Taman bermain
8 3.2.4. Studi Properti
Properti pada cerita ini merupakan benda-benda yang dkenal
oleh anak, seperti rumah, hidrant, perosotan, jungkat – jungkit, balon, bunga, dan binatang seperti kepik, ulat, burung, bebek,
kura – kura.
Gambar 3.3 : Studi properti
9 3.3 Konsep Visual
3.3.1 Format Desain
Format desain buku adalah A5 dengan ukuran 21 cm x 14,8
cm. pemilihan format A5 ini untuk memudahkan anak untuk mencerna
isi buku dan ukuran ini tidak terlalu besar dan memudahkan unutk
dibawa kemana –mana. Buku Petualangan Warna, menggunakan teknis papertole pada bagian cover agar anak tertarik dengan cover dan ingin mengetahui tentang isi buku. Pada isi atau halaman buku
dibuat terpisah antara narasi dan visual cerita agar memudahkan anak
saat membaca, agar tidak terlalu kosong pada bagian narasi di isi
dengan bingkai dengan ilustrasi benda – benda yang ada pada keseluruhan buku.
3.3.2 Ilustrasi
Ilustrasi yang digunakan dalam pembuatan buku tentang
pengenalan warna ini menggunakan media cat air dan kemudian di
beri garis penjelas menggunakan drawing pen agar bisa lebih terlihat bentuk pada benda – benda yang ada di dalam isi visual. Dengan penggayaan gambar yang datar dengan sudut pandang prespektif
yang dibuat sedikit distorsi. Dalam pewaranaan disesuaikan dengan
isi cerita, pada saat isi cerita menjelaskan warna merah maka teknik
10 bagian akhir cerita. Penokohan Davin dibuat lebih realis agar bisa
diterima anak. Dari semua ilustrasi yang dibuat, sudah melewati tahap
studi yang disesuaikan dengan acuan yang akan dibuat seperti studi
karakter, studi properti dan studi lokasi, dari hasil studi kemudian
dilakuakan proses penyederhanaan bentuk dari gambar/foto yang
kemudian menjadi ilustrasi yang siap untuk di simpan dalam isi buku.
3.4. Strategi Media
Tetapi belum menemukan buku bergambar mengenai
pengenalan warna, dalam pengenalannya menjelaskan tentang
warna dan turunannya. Buku - buku yang ada sekarang
memang kurang bisa merebut perhatian anak terutama dari
segi visual. Sebagai penarik perhatian, penulis juga
menambahkan pada buku bergambarnya dengan gaya
papertole pada bagian cover agar dapat lebih menarik
11 Ukuran Buku
Buku ini berukuran A5 yaitu 21 cm x 14,8 cm. Dengan
ukuran standar untuk buku anak ini diharapkan anak akan lebih
efektif untuk membuka dan membaca buku ini.
Gambar 3.5 : Ukuran buku Petualangan Warna Sumber (Dokumen Pribadi)
Isi buku
Pada bagian isi buku akan dijelaskan tentang
pengenalan warna dan percampurannya. Buku ini dibagi
menjadi dua bagian, sisi sebelah kiri adalah bagian narasi yang
akan dibaca anak ataupun oleh orang tuanya, kemudian bagian
kanan adalah gambar ilustrasi yang menjelaskan narasi
tersebut. Ilustrasi dibuat sederhana, agar memberikan
gambaran imaginatif pada anak. Setiap halaman berisi
informasi warna tertentu, agar anak dapat mengkaitkan warna
12 3.4.2 Media Pendukung
Media pendukung yang digunakan merupakan media
tambahan untuk mendampingi media utama agar penyampaian
dari media utama dapat diaplikasikan dengan media
pendukung. Media pendukung yang digunakan sebagai berikut:
a. Poster
Poster ini berukuran A2, ditempel di toko-toko buku
dimana telah tersedia tempat khusus untuk penempelan
poster. Poster ini ditempel di toko-toko buku dengan
maksud agar pengunjung mengetahui bahwa buku
Petualangan Warna Tentang pengenalan warna ini telah
terbit dan dijual dipasaran.
13 b. Pembatas buku
Pembatas buku dapat digunakan untuk membatasi
halaman buku, pembatas buku di buat tiga variasi agar
pengguna buku tidak bosan.
Gambar 3.7 : Pembatas buku Petualangan Warna Sumber (Dokumen Pribadi)
c. Lampu duduk
Lampu duduk dibuat sebagai merchandise yang dapat disimpan di kamar anak laki – laki ataupun perempuan, pada lampu tersebut terdapat visual yang terdapat dalam
buku agar anak dapat mengingat visual yang ada pada
14 Gambar 3.8 : Lampu duduk Petualangan Warna
Sumber (Dokumen Pribadi)
d. Sandal
Sandal dibuat sebagai merchandise yang dapat digunakan
anak laki – laki ataupun perempuan yang bisa dipakai di dalam rumah ataupun di dalam rumah, bentuk sandal
debuat sesuai dengan wajah karakter yang ada di buku
petualangan warna, agar terlihat menarik dan anak mau
untuk memakainya.
15 e. Tas
Tas buku ini dibuat sebagai merchandise yang dapat
digunakan oleh anak laki – laki maupun perempuan. Konsep merchandise ini dibuat sebagai media pendukung
yang berfungsi sebagai tas untuk pelindung buku. Tujuan
dari merchandise ini ialah agar anak dapat mengingat visual
yang terdapat di media utama.
Gambar 3.10: Tas buku Petualangan Warna Sumber (Dokumen Pribadi)
f. Gantungan kunci
Gantungan kunci dibuat sebagai merchandise yang dapat
dipasang pada kunci atau sebagai gantungan yang di
pasang pada tas. Gantungan dibuat dua variasi yaitu
berbahan kain dan clay, gantungan dibuat berbentuk
16 Gambar 3.11: Gantungan kunci Petualangan Warna
Sumber (Dokumen Pribadi)
g. Kaos
Kaos dibuat sebagai merchandise yang dapat digunakan
anak laki- laki maupun perempuan, agar bisa dipakai
sehari – hari, dengan visual karakter Davin yang ada pada buku petualangan warna.
17 h. Sticker
Sticker dibuat sebagai merchandise yang bisa di tempel
sesuai keinginan anak. Visaul pada sticker adalah karakter
Davin dan kucing, agar anak selalu ingat dengan karakter
Davin dan kucing.
Gambar 3.13: SrickerPetualangan Warna Sumber (Dokumen Pribadi)
i. Daftar Pelajaran
Daftar pelajaran dibuat media yang dapat digunakan anak
untuk menulis jadwal pelajaran dari hari Senin sampai
Sabtu.
1 BAB IV
MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI
4.1 Proses Perancangan Buku Petualangan Warna
Proses pembuatan buku Aku Senang Belajar ini dimulai dari
pengembangan membuat cerita imajinasi menjadi storyline dimana penulis mengambil tema petualangan. Storyline dikembangkan lagi
menjadi sketsa-sketsa gambar setiap halaman.
Sketsa-sketsa di beri warna secara manual menggunakan cat air
dan outlinenya menggunakan drawing pen. Hasil sketsa melalui proses
scanning dengan menggunakan media scanner.
Hasil gambar yang sudah dipindai, diedit dan diberi penambahan
warna untuk bagian backgroundnya menggunakan software Adobe Photosop CS 3.
Setelah proses editing selesai, maka file yang telah jadi siap dicetak sebagai dummy. Hasil dummy tersebut menjadi acuan hasil akhir cetakan buku. Dummy dicetak laser dengan kertas Concorde 210
gram untuk isi bukunya dan cover buku menggunakan hardcover laminasi glossy.
2 4.2. Media Utama
4.2.1 Cover Buku
Pada cover buku terdapat judul dan ilustrasi.Ilustrasi dengan 2 tokoh utama yaitu Davin dan seekor kucing dengan tujuan manarik
perhatian anak-anak untuk belajar mengenal warna. Judul buku
Petualangan Warna.
Pada cover depan ini juga di buat dengan teknis papertole
dengan menempelkan potongan gambar – gambar hingga menjadi ilustrasi cover. Pada cover belakang terdapat judul dan deskripsi buku.
Logo Mizan dicantumkan sebagai penerbit buku.
3 4.2.1 Isi buku
Isi buku pada setiap halaman berisi 25 halaman. Setiap halaman
berisi narasi dan illustrasi visual.
4 4.3 Media Pendukung
a. Poster
Gambar 4.3 : Tampilan Poster Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
1. Ukuran : 29,7 cm – 21 cm 2. Bahan : Art paper
5 a. Lampu Duduk
Gambar 4.4 : Lampu duduk Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
1. Ukuran : Digital printing
2. Bahan : Art paper + laminasi
6 b. Sandal
Gambar 4.5 : sandal Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
1. Ukuran : 21 = 13,5 - 14 cm
2. Bahan : Spon
7 c. Tas
Gambar 4.6 : Tas Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
4. Ukuran : 25 x 21 cm
5. Bahan : kain Velboa, dakron, belt
8 d. Gantungan kunci
Gambar 4.7 : Gantungan kunci Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
7. Ukuran : 6 x 4 cm
8. Bahan : kain flanel, clay
9 e. Kaos
Gambar 4.8 : Kaos Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
10. Ukuran : S
11. Bahan : kain kombet
10 f. Sticker
Gambar 4.9 : Sticker Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
13. Ukuran : 4 X 4 cm
14. Bahan : sticker vynil
11 g. Daftar Pelajaran
Gambar 4.10 : Sticker Sumber (Dokumen Pribadi)
Ukuran dan teknis produksi:
1. Ukuran : A3 = 42 x 29,7 cm
2. Bahan : Art paper
46
- Kartono, Kartini. (2007). Psikologi Anak; Psikologi Perkembangan. Bandung: Mandar Maju.
Internet
- Andriani, Fera. 2010 (9 Februari). Mengembangkan imjinasi anak.
Tersedia di :
http://fabrianschool.com/berita-130-mengembangkan-imajinasi-anak.html [ 5 April 2011]
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama / Name : Adhi Surya Adhiatmaja
Alamat / Address : KP. Paratag Kulon, RT. 04 RW. 07,
Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Kode Post / Postal Code : 40552
Nomor Telepon / Phone : 085723451518
Email : [email protected]
Jenis Kelamin / Gender : Pria
Tanggal Kelahiran / Date of Birth : 06 – 04 - 1988
Warga Negara / Nationality : Indonesia
Agama / Religion : Islam
- AUTIS Ruang Desain, layout design booklet SMA Pasundan 2
- AUTIS Ruang Desain, Branding Logo Singkong Kukus Magadir
- AUTIS Ruang Desain, Design Web Alasaena Clothing
- AUTIS Ruang Desain, Branding Eden Cafe
- Process Creative, Design t-shirt Ilustrasi Tipograpi
Demikian CV ini saya buat dengan sebenarnya.