• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran pendidikan agama Islam di keluarga dalam membentuk kepribadian remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran pendidikan agama Islam di keluarga dalam membentuk kepribadian remaja"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

MAHMUDAH NIM : 107011001030

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i

Judul Skripsi :Peran Pendidikan Agama Islam di Keluarga dalam Membentuk Kepribadian Remaja

Pendidikan agama Islam yang diberikan pada remaja menuntut peran serta keluarga karena dari institusi keluarga dapat memberikan pengaruh perkembangan kepribadian kepada remaja. Pemberian pendidikan agama Islam dalam keluarga terhadap pembentukan kepribadian remaja bertujuan untuk membimbing remaja agar terbentuknya kepribadian Islami. Yaitu bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, menjalani ibadah dengan baik serta mencerminkan dari sikap dan tingkah laku anak dalam hubungannya dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan sesama makhluk, serta lingkungannya.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pendidikan agama Islam di keluarga dalam membentuk kepribadian Islam. Sejauh mana orang tua berperan terhadap pendidikan anak-anaknya.

Sesuai dengan karakteristik masalah yang diangkat dalam skripsi ini maka dalam penulisannya, penulis menggunakan Metode Riset kualitatif, yaitu menekankan analisanya pada data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan kualitatif penulis gunakan untuk menganalisis peran pendidikan agama Islam untuk menumbuhkan kepribadian Islami remaja. Maka dengan sendirinya penganalisaan data ini lebih difokuskan pada Penelitian Kepustakaan (Library Research), yakni dengan membaca, menelaah dan mengkaji buku-buku dan sumber tulisan yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas.

(7)

ii

zat yang Maha Menggenggam segala sesuatu yang ada dan tersembunyi di balik

jagad semesta alam, zat yang Maha Meliputi segala sesuatu yang terfikir maupun

yang tidak terfikir. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi

Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan bagi seluruh Umat Islam yang

terlena maupun terjaga atas sunnahnya.

Alhamdulillahirrabbil‘aalamiin, penulis mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan pertolongan-Nya, sehingga skripsi ini

dapat diselesaikan. Karena tanpa rahmat pertolongan-Nya tidaklah mungkin

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Laporan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat mencapai gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta.

Laporan skripsi ini membahas tentang Peran Pendidikan Islam dan

Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Remaja

Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulisan skripsi ini tidak

akan terselesaikan bila tanpa bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, baik

secara moril maupun materil. Sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima

kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungannya,

sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan terima

kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Nurlena Rifa’I, MA, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah

dan Keguruan UIN Jakarta beserta staf-stafnya.

2. Bapak Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag selaku ketua Jurusan

Pendidikan Agama Islam.

3. Ibu Marhamah Shaleh Lc, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan

(8)

iii

penyusunan skripsi ini dengan baik. Terimakasih pak atas

bimbingannya.

5. Ibu Dra. Hj. Ello Al-Bugis M, Ag selaku penasehat Akademik,

terimakasih atas nasehat dan arahan buat penulis.

6. Pimpinan Perpustakaan Utama beserta staf-stafnya dan pimpinan

perpustakaan fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta beserta staf-stafnya, yang juga telah memberikan

fasilitas untuk mencari atau mengadakan studi kepustakaan.

7. Segenap Bapak/Ibu Dosen Jurusan pendidikan Agama Islam, yang

telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi diri

pribadi penulis dan para mahasiswa pada umumnya.

8. Teruntuk ayah ku tercinta Bapak Kurtubi (Alm) semoga bahagia

dikhadirat-Nya dan ibunda tersayang Ramlah, terimakasih atas kasih

sayang yang tercurah semenjak penulis kecil sampai sekarang, yang

tak henti-hentinya memberikan do’a kepada penulis, serta dorongan

dan motivasi baik moral maupun material sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

9. Teruntuk kakak-kakakku tersayang, Lukmanul Hakim. Ahmad Muadz,

Dian Utami, Ahmad Sahal dan Ahmad Baedowi, yang telah memberikan do’a, support dan motivasinya kepada penulis sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini.

10.Teruntuk para keponakan-keponakanku Zulfan, Zahira, Zaky, Fathiya,

Zayyan, Chaca, sulthan, Alif, Raju dan Azri yang telah menghibur dan

memberi semangat kepada penulis sehingga penulis tak jenuh dalam

menyelesaikan skripsi ini.

11.Teruntuk abdul Malik yang telah memberikan do’a support dan

(9)

iv

yang selalu mendukung, dan menyemangati penulis selama ini.

Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,

mudah-mudahan bantuan, bimbingan, semangat dan do’a yang telah

diberikan menjadi amal ibadah di akhirat kelak. Semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi khazanah ilmu pengetahuan

pada umumnya.

Jakarta, 25 Juli 2014

(10)

v

LEMBAR PENGESAHAN PENGGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 5

C.Pembatasan Masalah ... 5

D.Perumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian. ... 6

BAB II KAJIAN TEORETIK A. Peran Keluarga Bagi Remaja ... 7

1. Pengertian Keluarga ... 7

2. Fungsi Keluarga ... 9

3. Peranan Keluarga ... 14

4. Kedudukan Keluarga dalam Pendidikan ... 16

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian ... 17

1. Pengertian Kepribadian ... 17

2. Struktur Keperibadian Islam ... 21

3. Bentuk-bentuk Tipologi Kepribadian dalam Islam ... 25

4. Pengembangan Kepribadian Islam ... 26

(11)

vi

b. Dasar Pendidikan Agama Islam ... 37

c. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 44

d. Materi Pendidikan Agama Islam ... 46

D. Pentingnya Pendidikan Agama Islam di Keluarga ... 57

1. Konsep Remaja a. Definisi Remaja ... 57

b. Ciri-Ciri Masa Remaja ... 58

c. Kondisi-Kondisi yang Mempengaruhi Konsep diri Remaja ... 63

2. Pembahasan Hasil Kajian yang Relevan ... 64

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 66

B. Fokus Penelitian ... 67

C. Prosedur Penelitian ... 67

BAB IV HASIL PENELITIAN 1. Peran Pendidikan Agama dalam Keluarga Terhadap Pembentukan Kepribadian Remaja A. Menanamkan Nilai-nilai Aqidah pada Remaja ... 69

B. Menanamkan Nilai-nilai Ibadah pada Remaja ... 71

C. Menanamkan Nilai-nilai Akhlak pada Remaja ... 74

(12)

vii

D A F T A R P U S T A K A . . . 8 6

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik.pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Di mata anaknya ia seorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai diantara orang-orang yang dikenalnya. Cara ayah itu melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya.1

Anak yang sedang berkembang menuju remaja merupakan amanah

dari Allah SWT yang harus dijaga dan dibina, hatinya yang suci

adalah bagaikan permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan

pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan

celaka dan binasa. Sedangkan memeliharanya adalah dengan upaya

pendidikan dan mengajarinya dengan akhlak yang baik.

1

(14)

mempunyai arti yang khusus, namun begitu masa remaja mempunyai tempat

yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan seseorang. Secara

jelas masa anak dapat dibedakan dari masa dewasa dan masa tua. Seorang

anak masih belum selesai perkembangannya, orang dewasa dapat dianggap

sudah berkembang penuh, ia sudah menguasai sepenuhnya fungsi-fungsi fisik

dan psikisnya. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.

Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia tidak pula termasuk golongan

orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dewasa. Remaja

masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya.2

Manusia sebagai makhluk pedagogik, yaitu makhluk Allah yang

dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik sehingga

mampu menjadi khalifah di muka bumi,pendukung dan pengembang

kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk atau wadah

yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat

berkembang sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.

Pikiran, perasaan dan kemampuannya berbuat merupakan komponen dari

fitrah itu. Itulah fitrah Allah yang melengkapi fitrah manusia. Firman Allah

SWT :



                       



                

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah

Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Rum 30)

2

(15)

fitrahnya. Tetapi fitrah Allah untuk manusia yang disini diterjemahkan

dengan potensi dapat dididik dan mendidik, memiliki kemungkinan

berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya dapat melampaui jauh

dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang.

Pendidikan agama berarti pembentukan pribadi muslim. Isi pribadi

Muslim itu adalah pengamalan sepenuhnya ajaran Allah dan Rosul-Nya.

Tetapi pribadi Muslim tidak akan tercapai atau terbina kecuali dengan

pengajaran dan pendidikan. Membina pribadi Muslim adalah wajib dan

karena pribadi Muslim tidak mungkin terwujud kecuali dengan pendidikan,

maka pendidikan itupun menjadi wajib dalam pandangan Islam.

Setiap usaha, kegiatan dan pendidikan yang disengaja untuk mencapai

suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat.

Oleh karena itu pendidikan agama sebagai suatu usaha membentuk manusia,

harus mempunyai landasan kemana semua kegiatan dan semua tujuan

pendidikan Islam itu dihubungkan.

Sebagai landasan pandangan seorang muslim disebutkan dalam ayat

Al-Qur’an :











“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali-Imron : 19)

Oleh karena itu, bila manusia yang berpredikat Muslim benar-benar

menjadi penganut agama yang baik ia harus mentaati ajaran Islam dan

menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada dirinya. Ia harus mampu

memahami, menghayati dan mengamalkan ajarannya. Untuk tujuan itulah

manusia harus dididik melalui proses pendidikan Islam.

Pendidikan agama Islam dalam kehidupan manusia sangatlah penting,

hal ini sangat berpengaruh pada pola tingkah laku seseorang. Tapi pada

(16)

pendidikan agama Islam yang diajarkan dalam keluarga. Kenakalan remaja

yang terjadi pada saat sekarang ini diakibatkan oleh kurangnya pendidikan

Agama Islam yang diterapkan dalam keluarga dan mengakibat prilaku dan

tingkah laku remaja yang menjadi tidak baik atau melakukan

penyimpangan-penyimpangan seperti, mabuk-mabukan, tawuran, narkoba, seks bebas dan

lain-lain. Maka di sinilah peran penting dari pendidikan. Pendidikan agama

Islam harus lah diajarkan kepada anak-anak remaja, maka di sinilah peran

orang tua dalam mengajarkan pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan

dalam hal membentuk kepribadian remaja tersebut. Perhatian dan bimbingan

yang selalu tearah pada remaja akan memegang peranan yang penting dalam

menerapkan pendidikan agama islam.

Berdasarkan pandangan diatas, maka pendidikan agama adalah sistem

pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin

kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah

menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Dengan istilah lain, manusia

Muslim yang telah mendapatkan pendidikan Islam itu harus mampu hidup di

dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagai yang diharapkan oleh cita-cita

Islam.3

Beranjak dari apa yang penulis paparkan di atas dapat dipahami bahwa

pembentukan kepribadian remaja perlu mendapat perhatian yang serius

dari para orang tua dalam keluarga, yang berdasarkan konsep Islami, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Berdasarkan hal tersebut mendorong penulis untuk

membahasnya dengan judul yaitu “PERAN PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM DI KELUARGA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN

REMAJA”.

3

(17)

Dari uraian yang telah penulis kemukakan di atas, maka teridentifikasi

masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Kurangnya pembinaan pendidikan agama di lingkungan keluarga terhadap

proses pembentukan kepribadian remaja.

2. Masih banyaknya kenakalan dikalangan remaja, akibat kurangnya remaja

memiliki kepribadian yang baik.

3. Kurang teladan orang tua terhadap remaja dalam membentuk kepribadian

remaja.

4. Kurangnya perhatian/penghargaan orang tua terhadap remaja sehingga

berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian remaja.

C. Pembatasan Masalah

Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang dari pokok masalah

tersebut, maka penulis membatasi permasalahan peran pendidikan agama di

keluarga dalam membentuk kepribadian remaja dibidang pendidikan

keimanan, pendidikan akhlak, pendidikan ibadah, pendidikan sosial serta

pendidikan ilmu pengetahuan.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka yang menjadi pokok

masalah dalam skripsi ini adalah : Bagaimana peran pendidikan agama di

keluarga dalam membentuk kepribadian remaja ?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran

pendidikan agama di keluarga terhadap pembentukan kepribadian remaja.

Khususnya dalam mengembangkan kepribadian remaja dibidang pendidikan

keimanan, pendidikan akhlak, pendidikan ibadah, pendidikan sosial serta

(18)

Manfaat penelitian ini diharapakan agar :

a. Untuk mengetahui apa saja peran pendidikan agama dalam keluarga

terhadap pembentukan kepribadian remaja Khususnya dalam

mengembangkan kepribadian remaja dibidang pendidikan keimanan,

pendidikan akhlak, pendidikan ibadah, pendidikan sosial serta pendidikan

ilmu pengetahuan.

b. Sebagai pedoman bagi orang tua dalam membentuk kepribadian remaja

lewat pendidikan agama dalam keluarga.

c. Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dibidang pendidikan agama

(19)

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Peran Keluarga Bagi Remaja 1. Pengertian Keluarga

Menurut kamus besar bahasa Indonesia keluarga adalah terdiri dari

ibu bapak dengan seisi rumah, orang yang seisi rumah yang menjadi

tanggungan dalam masyarakat, kesatuan kerabat, yang sangat mendasar

dalam masyarakat.1

Sedang pengertian keluarga menurut rohiman Notowidegdo adalah:

“ suatu institusi sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari sepasang

suami istri dan anak-anak yang terkait oleh hubungan biologis, sosial,

ekonomi, dan psikologi.2

Adapun dalam pengertian bahasa inggeris istilah orang tua dikenal

dengan sebutan “Parent” yang artinya “orang tua laki-laki atau ayah, orang tua perempuan atau ibu.3

Dari pengertian di atas, melihat pengertian keluarga secara sempit,

yang dapat diartikan bahwa keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan

1

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Bina Pustaka, 1980, cet. Ke-1, h. 326.

22

Rohiman Noto Widegdo, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Pustaka Anta, 1992,), cet. Ke-4, h.22.

3

(20)

anak-anak. Sedangkan pengertian keluarga secara luas adalah: “suatu

keluarga inti dengan adanya tambahan dari sejumlah orang lain baik yang

sekerabat yang secara bersama-sama hidup dalam satu rumah tangga

dengan keluarga inti.

Dengan melihat pengertian keluarga secara sempit dan luas, maka

dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu komunitas masyarakat

terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang di dalamnya juga

terdapat kerabat dari pihak suami dan istri serta orang lain yang dapat

hidup bersama dalam suatu rumah tangga.

Salah satu tujuan Syariat Islam adalah memelihara kelangsungan

keturunan melalui perkawinan yang sah menurut agama. Diakui oleh

undang-undang dan diterima sebagai dari budaya masyarakat. Keyakinan

ini sangat bermakna untuk membangun subuah keluarga yang dilandasi

nilai-nilai moral agama. Pada intinya lembaga keluarga terbentuk melalui

pertemuan suami dan istri yang permanen dalam masa yang cukup lama,

sehingga berlangsung proses reproduksi. Dalam bentuknya yang paling

umum dan sederhana, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak.4

Firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21.













“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(QS. ar-Rum: 21)5

4

Fuaduddin TM, Pengasuh Anak Dalam Keluarga Islam, (Jakarta: Lembaga Kajian Agama Dan Jender, 1999), h. 4-5.

(21)

Keluarga dalam dimensi hubungan sosial ini mencakup keluarga

psikologis dan keluarga pendagogis, keluarga psikologis merupakan

sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan

masing-masing anggota memiliki pertautan batin sehingga terjadi saling

mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri.

Sedangkan keluarga pendagogis adalah suatu persekutuan hidup yang

dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang

dikukuhkan dengan pernikahan, dengan maksud untuk saling

menyempurnakan diri. Menurut Ali Turkamani keluarga adalah “unit dasar

dan unsur fundamental masyarakat, yang dengan itu kekuatan-kekuatan

yang tertip dalam komunitas sosial dirancang dalam masyarakat”.

Dalam keluarga orang tua yaitu ibu dan bapak sebagai pendidik

dan anak sebagai terdidik yang mempunyai hubungan darah, maka

kewenangan pendidikannya pun bersifat kodrati. Pendidikan dalam

keluarga merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak. Dan

pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi

perkembangan berikutnya. 6

2. Fungsi Keluarga

Dalam kehidupan manusia, keperluan dan hak kewajiban, perasaan

dan keinginan keluarga sangat mendukung pertumbuhan dan

perkembangan diri sesorang dan akan binasalah pergaulan seseorang bila

orang tua tidak menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Secara sosiologi keluarga dituntut berperan dan berfungsi untuk

menciptakan suatu masyarakat yang aman, tentram, bahagia, dan sejahtera,

yang kesemuanya itu harus dijalankan oleh keluarga sebagai lembaga

sosial yang terkecil. Dalam buku keluarga muslim dalam masayarakat

modern dijelaskan bahwa: “berdasarkan pendekatan budaya keluarga

6

(22)

sekurang-kurangnya mempunyai tujuh fungsi, yaitu fungsi biologis,

edukatif, religius, protektif, sosialisasi, rekreatif, dan ekonomi.7

Keluarga khususnya orang tua mempunyi peran yang sangat

penting dalam menerapkan pendidikan agama Islam pada remaja. Karena

orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya serta

merupakan cerminan dari segala tingkah laku anaknya.

a. Fungsi Religius

Fungsi berkaitan dengan kewajiban keluarga untuk

memperkenalkan dan mengajak anak serta anggota keluarga lainnya

dalam kehidupan beragama dengan melakukan semua kegiatan yang

sesuia dengan ajaran-ajaran dan ketentuan agaama dengan menuju

keridhoannya.

Pendidikan agama yang pertama-tama diajarkan pada anak

dengan hal-hal yang mudah dipahami, misalnya mengucapkan asmaul

husna, membaca doa ketika akan melakukan sesuatu, mengajarkan

sholat, membaca Al-qur’an dan juga melatih untuk bisa belajar

berpuasa. Itulah sebagian dari pendidikan agama yang dasar yang

diajarkan kepada anak sehingga ketika ia sudah memasuki masa

remaja maka akan sudah terbiasa untuk menjalankan kehidupan yang

beragama.

b. Fungsi Biologis

Fungsi biologis keluarga berhubungan denagn

pemahama-pemahanan kebutuhan biologis anggota keluarga”.8

Di antara

kebutuhan biologis ini kebutuhan akan keterlindungan fisik guna

melangsungkan kehidupannya, keterlindungan kesehatan,

keterlindungan dari rasa lapar, haus, kedinginan, kelelahan, kesegaran

fisik. Termasuk juga kebutuhan biologis ialah kebutuhan

7

Jalaludin Rahmat dan Mukhtar Ganda Atmaja, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), cet. Ke-2, h. 20-21.

8

(23)

mendapatkan keturunan dengan melahirkan anak-anak sebagai

generasi penerus dan dengan kata lain kelanjutan identitas keluarga.

c. Fungsi Edukatif

Yang dimaksud fungsi edukatif ialah, “fungsi keluarga yang

berkaitan dengan pendidikan anak khususnya, serta pembinaan

pendidikan anggota keluarga pada umumnya.9 Fungsi ini

mengharuskan setiap orang tua mengkondisikan kehidupan keluarga

menjadi situasi pendidikan yang dapat mendorong anak-anak untuk

melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tujuan

pendidikan.

Dalam melaksanakan fungsi edukatif ini keluarga sebagai

salahsatu tri pusat pendidikan, dalam hal ini orang tua memegang

peranan utama dalam proses pembelajaran anaknya terutama dikala

mereka belum dewasa. Kegiatan pembelajaran orang tua anatara lain

melalui asuhan, pembiasaan, dan contoh teladan.

d. Fungsi Biologis

Fungsi biologis keluarga berhubungan denagn

pemahama-pemahanan kebutuhan biologis anggota keluarga”.10

Di antara

kebutuhan biologis ini kebutuhan akan keterlindungan fisik guna

melangsungkan kehidupannya, keterlindungan kesehatan,

keterlindungan dari rasa lapar, haus, kedinginan, kelelahan, kesegaran

fisik. Termasuk juga kebutuhan biologis ialah kebutuhan

mendapatkan keturunan dengan melahirkan anak-anak sebagai

generasi penerus dan dengan kata lain kelanjutan identitas keluarga

9

M.I Soelaeman, Pendidikan dalam Keluarga,...h. 685. 10

(24)

e. Fungsi Protektif

Fungsi protektif (perlindungan ) dalam keluarga ini berfungsi

“memelihara, merawat dan melindungi si anak, baik fisik maupun sosialnya”.

Fungsi ini menangkal pengaruh kehidupan pada saat sekarang

dan masa yang akan datang.

f. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak

menjadi anggota masyarakat yang baik, dalam melaksanakan fungsi

ini “ keluarga membentuk kepribadian anak melalui interaksi sosial, mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan

nilai-nilai dalam masyarakat yang kesemuanya itu dilakukan dalam

rangka perkembangankepribadiannya.”

g. Fungsi Ekonomis

Fungsi ekonomis keluarga meliputi “pencarian nafkah”, perencanaan serta pembelajaran dan manfaatnya.” Pada dasarnya yang

mengemban kesejahteraan keluarga, termasuk pencarian nafkah

keluarga. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa istri tidak diperkenankan

mencari nafkah, namun dalam keadaan demikian tanggung jawab

yang diemban oleh seorang suami tidaklah diserahkan istri

sepenuhnya karena hal ini dilakukannya untuk masa depan anak-anak

dan keluarganya.

h. Fungsi Rekreatif

Fungsi ini tidak harus dengan kemewahan serba ada,

melainkan melalui penciptaan suasana kehidupan yang tenang dan

damai. Fungsi rekreatif ini juga dapat membawa anggota keluarga

dalam merealisasikan dirinya dalam suasana yang bebas dan nyaman

sebagai selingan dari kesibukan sehari-hari. Hal ini dapat juga di dapat

(25)

Dengan melihat fungsi keluarga di atas, hendaknya dalam

pelaksanaan fungsi haruslah seiring sejalan antara yang satu dengan

fungsi yang lain, ketujuh fungsi tersebut tidak dapat dipisahkan.

Sebuah keluarga tanpa fungsi biologis, maka keluarga akan punah,

tidak ada generasi penerus yang akan melanjutkan identitas keluarga.

Tanpa fungsi edukatif generasi yang dilahirkan akan berantakan, tanpa

fungsi religius generasi akan tersesat, tanpa funsi protektif tidak ada

ketentraman dan kedamaian dalam keluarga, tanpa fungsi sosialisasi

akan muncul generasi-generasi yang memiliki sifat individual yang

tinggi, tanpa fungsi rekretif rumah tangga terasa membosankan dan

meliputi kejenuhan dan tanpa fungsi ekonomis kesejahteraan rumah

tangga akan goyah.

Sedangkan H.Ali Akbar mengemukakan tentang fungsi

keluarga sebagai berikut:

1. Tempat istirahat sesudah kerja fisik mencari nafkah.

2. Menumbuhkan rasa cinta kasih dan melestarikannya.

3. Mendidik anak ( kedua orang tua ialah guru pertama dan utama

dalam bidang ini).

4. Mendidik diri sendiri dalam bidang agama seperti sholat

berjama’ah dan membaca Al-Qur’an.

5. Mendidik anak dalam beribadah, ketabahan, ketekunan belajar,

kesabaran akhlak, bertutur kata, berpakaian dan lain

sebagainya.

6. Mendidik anak dalam bidang kasih sayang, baik di antara

mereka maupun terhadap family dan orang lain di tengah

masyarakat.

(26)

8. Mendidik anak dalam menyelsaikan pertiakaian dengan

musyawarah.11

Melihat beragamnya fungsi keluarga tersebut, dapat disimpulkan

bahwa keluarga adalah institusi sentral penerus nilai-nilai budaya dan

agama. Artinya keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi

seorang anak mulai belajar mengenal nlai-nilai yang berlaku di

lingkungannya, dari hal-hal yang sepele seperti menerima sesuatu dengan

tangan kanan sampai dengan hal-hal yang rumit seperti intepretasi yang

kompleks tentang ajaran agama atau tentang berbagai interaksi manusia.

3. Peranan Keluarga

Setiap keluarga terdiri atas beberapa anggota keluarga yang

masing-masing anggota keluarga memiliki peranannya sendiri-sendiri

sesuai dengan kedudukannya dalam keluarga yang bersangkutan, sehingga

menambah keharmonisan kehidupan keluarga.

Dalam keluarga sosok seorang ibu sangat diperlukan sebagai

pendidik dasar bagi anak-anaknya, maka dari itu seorang ibu hendaklah

seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Sesuai dengan

fungsi serta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga.

Bukan saja peran seorang ibu yang sangat dibutuhkan dalam

keluarga. Tetapi peran seorang ayah juga lebih sangat dibutuhkan dalam

membentuk perkembangan keluarga. 12

Hubungan orang tua yang efektif penuh kemesraan dan tanggung

jawab yang didasari oleh kasih sayang yang tulus menyebabkan

anak-anaknya akan mampu mengembangkan aspek-aspek kegiatan manusia

yang pada umumnya adalah kegiatan yang bersifat individual, kegiatan

sosial dan keagamaan.13

11

Ali Akbar, Merawat Cinta Kasih untuk Mewujudkan Keluarga Sejahtera, Membina Keluarga Bahagia, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), h. 54.

12

M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), cet. Ke-8, h. 82.

13

(27)

Suasana keluarga yang baik sekurang-kurangnya harus ditunjang

oleh 3 faktor anatara lain:

1. Keluarga dapat memberikan suasana emosional yang baik bagi

anak-anak, misalnya perasaan senang, aman, disayangi, dan dilindungi.

Suasana ini dapat tercipta apabila kehidupan rumah tangga diliputi

suasana yang sama.

2. Mengetahui dasar-dasar kependidikan terutama yang berkaitan dengan

kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan

mental anak. lebih lanjut orang tua juga bertanggung jawab pada tujuan

dan isi pendidikan yang diberikan kepada anaknya.

3. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan dimana orang tua

memberikan amanatnya dalam mendidik anaknya. Bentuk kerja sama

ini anatara lain menyangkut anak belajar dan mengerjakan pekerjaan

rumah (PR) dari lembaga pendidikan tersbut.14

Sedang menurut utami Munandar bahwa secara umum keluarga

(orang tua) mempunyai tiga peranan terhadap anak, yaitu:

1. Perawatan fisik anak, agar anak belajar tumbuh berkembang dengan

sehat.

2. Proses sosialisasi anak, agar anak menyesuaikan diri terhadap

lingkungannya.

3. Kesejahteraan psikologis dan emosional anak.

Segala sesuatu yang telah dilakukan oleh orang tua kepada anak

merupakan pembinaan kebiasaan yang akan tumbuh menjadi tindakan

moral di kemudian hari. Dengan kata lain, setiap pengalaman, anak baik

yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan perlakuan pada waktu

kecil akan menjadi kebiasaan yang akan tumbuh di kemudian hari. Karena

itulah orang tua sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap pndidikan

anak.

14

(28)

Dengan demikian, keluarga memiliki peranan yang sangat strategis

dalam pembentukan kepribadian anak yang tangguh.15

4. Kedudukan Keluarga dalam Pendidikan

Sejak seorang anak manusia dilahirkan ke dunia, secara kodrati ia

masuk ke dalam lingkungan sebuah keluarga. Keluarga tersebut secara

kodrati juga mengambankan tugas mendidik dan memelihara anak,

dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani anak

tersebut. Orang tua secara direncanakan maupun tidak direncanakan akan

menanamkan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan anak terutama dalam sikap atau perilaku

serta keperibadiannya. Selanjutnya dengan disadari maupun tidak

disadari, anak membawa nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan keluarga itu

dalam berintraksi sosial di lingkungan luar.

Begitu pentingnya peranan yang harus dimainkan orang tua dalam

mendidik, sehingga banyak pakar pendidikan, seperti yang dikatakan oleh

Ki Hajar Dewantara bahwa “ alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah

alam pendidikan yang permulaan.”16

Dalam konsepsi Islam, keluarga "adalah penanggung jawab utama

terpeliharanya fitrah anak. Dengan demikian

penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak lebih disebabkan oleh

ketidak waspadaan orangtua atau pendidik terhadap perkembangan

anak".17

Keluarga dianggap sebagai tempat berkembangnya individu,

dimana keluarga ini merupakan sumber utama dari sekian sumber-sumber

pendidikan nalar seorang anak. Keluarga ini juga dinilai sebagai lapangan

15

Utami Munandar,Membina Keluarga Bahagia, (Jakarta: Pustaka Anatra, 1992), cet. Ke-2, h. 174.

16

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos wacana Ilmu, 1997), cet. Ke-1, h. 115.

17

Abdurahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat,

(29)

pertama, dimana di dalamnya seorang anak akan menemukan

pengaruh-pengaruh dan unsur-unsur kebudayaan yang berlaku di masyarakatnya.18

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian

Kepribadian (personality) berasal dari bahasa Yunani yang

berarti topeng, tetapi juga berasal dari kata personare yang berarti

pemain sandiwara, yaitu pemain yang memakai topeng.19 Yaitu

topeng yang dipakai oleh aktor drama atau sandiwara yang dipakai

oleh aktor Yunani kuno. Tujuan pemakaian topeng ini selain untuk

menyembunyikan identitasnya, juga untuk keleluasannya dalam

memerankan sosok pribadinya.20

Istilah kepribadian dalam literature memiliki ragam makna dan

pendekatan. Sebagian psikolog ada yang menyebutnya dengan

1.Perseonality (kepribadian sendiri), sedang ilmu yang

membahasnya disebut dengan The psychology of personality atau

theory of personality, 2. Character (watak atau perangai), sedang

ilmu yang membicarakannya disebut dengan the psychology of

character atau characterology; 3. Type (Tipe), sedang ilmu yang

membahasnya disebut dengan sedang ilmu yang membahasnya

disebut dengan typology. 21

Kepribadian merupakan suatu konsep yang sudah lama

dibicarakan oleh para ahli. Allport (1960) berhasil mengumpulkan

beberapa konsep tentang kepribadian dari beberapa bidang dan

memformulasikan suatu definisi kepribadian. Menurut Allport,

kepribadian adalah organisasi yang dinamis dalam individu yang

mencakup system psikofisis yang menentukan penyesuaian diri yang

18

Asy-Syaih Fuhaim Musthafa, Manhaj Pendidikan Anak Muslim, Terj. Abdillah Obid, (Jakarta: Mustaqim, 2004), h. 42.

19

Ramayulis, Psikologi Agama., (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 106. 20

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam., (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), h. 17.

(30)

unik terhadap lingkungannya. Agar definisi itu dapat dipahami secara

benar. Allport kemudian menjelaskan setiap bagian yang terkandung

dalam definisi yang dibuatnya.

a. Dynamic Organization

Menurut Alport kepribadian merupakan suatu organisasi

sentral yang terdiri dari komponen-komponen dan

menghubungkan komponen-komponen tersebut satu sama lain.

Organisasi pada kepribadian ini dinamis karena secara tetap

berkembang dan berubah. Sehingga kepribadian beserta

elemen-elemen yang ada di dalamnya itu aktif, selalu berkembang dan

berubah, memotivasi dan mengatur diri secara dinamis.

b. Psychophysical System

Istilah ini mengimplikasikan bahwa kepribadian bukan

hanya sekedar konstruk hipotesis yang dibuat oleh pengamat tapi

merupakan suatu fenomena nyata yang terdiri dari elemen mental

serta neural. Kedua elemen tersebut bersama-sama ada dan

melebur menjadi kesatuan kepribadian.

c. Determine

Istilah ini mengandung arti bahwa kepribadian mempunyai

peran aktif dalam menetapkan tingkah laku spesifik individu. Hal

ini menyebabkan individu akan melakukan penyesuaian diri dan

mengekspresikan tingkah laku ketika mendapatkan stimulus yang

sesuai. Allford juga mengatakan bahwa kepribadian adalah sesuatu

dan melakukkan sesuatu. Jadi jelas bahwa kepribadian memang

berada dalam diri individu dan dasar dari tingkah laku individu.

d. Unique

Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian pada diri individu

adalah unik, sehingga sesuatu yang ada dalam diri individu serta

(31)

e. Adjustment to his environment

Ini mengandung arti bahwa kepribadian berfungsi untuk

mempertahankan diri, yaitu melalui penyesuain diri terhadap

lingkungan.22

Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut

beberapa para ahli mengemukakan definisi sebagai berikut:23

1) Allport Keperibadian adalah “susunan yang dinamis di dalam

sistem psiko-fisik (jasmani rohani) seseorang (individu) yang

menentukan dan pikirannya yang berciri khusus”

2) Mark A. May “ Apa yang memungkinkan seseorang berbuat

efektif atau memungkinkan seseorang mempunyai pengeruh

terhadap orang lain. Dengan kata lain kepribadian adalah nilai

perangang social seseorang”.

3) Morrison “ Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang

individu dengan jalan menamilkan hasil-hasil cultural dari

evolusi sosial”.

4) C.H. Judd, Kepribadian adalah “Hasil lengkap serta

merupakan suatu keseluruhan dari proses perkembangan yang

telah dilalui individu”.

5) William Stern, menurut W. Stren kepribadian adalah: “ Suatu

kesatuan (Unita Multi Compleks) yang diarahkan kepada

tujuan-tujuan tertentu dan mengandung sifat-sifat khusus

individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri” berdasarkan

pendapat ini W. Stren menganggap bahwa Tuhan yang

termasuk pribadi, karena Tuhan menurutnya mempunyai

tujuan dalam diri-Nya dan tak ada tujuan lain diatasnya.

Pengertian yang diberikan oleh para ahli psikologi Barat

pada hakekatnya belum menyentuh permasalahan perilaku hidup

22

Nuraida, Rihlah Nuraulia, Character Building untuk Guru, (Jakarta, Aulia Publishing House, 2007), h.59.

(32)

manusia secara keseluruhan, termasuk sikap dan perilaku

keagamaan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. 24

Teori kepribadian Muslim dari para cendikiawan Muslim

harus dapat mengungkapkan apa pengertian “kepribadian Muslim”

dan tidak perlu menjiplak sarjana psikologi Barat. Untuk

mengantisipasi teori psikolgi Barat tersebut menurut cendikiawan

Muslim Fadhil Al-Djamaly, yang dikutip oleh Ramayulis dalam

buku Ilmu Pendidikan Islam, mengambarkan kepribadian Muslim

sebagai Muslim yang berbudaya, yang hidup bersama Allah dalam

tingkah laku hidupnya dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia hidup

dalam lingkungan yang luas tanpa batas ke dalamnya, dan tanpa

akhir ketinggiannya. 25

Menurut D. Marimba keperibadian Muslim ialah

keperibadian yaaang selurh aspek-aspeknya yakni baik tingkah

laku luarnya kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan

kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan

penyerahan diri kepada-Nya.26

Sedangkan menurut Ramayulis kepribadian Islam atau

Syakhshiyah al-Muslim adalah “Identitas yang dimiliki seseorang

dari keseluruhan tingkah lakunya sebagai seorang muslim baik

yang ditampilkan dalam tingkah laku lahiriah maupun dalam

bentuk sikap batin”.27

Kepribadian Islam memiliki arti serangkaian perilaku

normatif manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk

sosial, yang normanya diturunkan dari ajaran Islam, yang

bersumber dari Al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari kedua sumber

tersebut, para pakar berusaha berijtihad untuk mengungkap

bentuk-bentuk itu diterapkan oleh pemeluknya. Rumusan kepribadian

24

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, 292. 25

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,..h. 292. 26

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,..h. 68. 27

(33)

Islam di sini bersifat deduktif-normatif yang menajdi acuan bagi

umat Islam untuk berperilaku.28

Kepribadian Muslim seperti digambarkan di atas

mempunyai hubungan yang erat dalam suatu lingkaran hubungan

yang meliputi hubungan dengan Allah, Alam dan Manusia. Maka,

dapat ditarik kesimpulan bahwa kepribadian Muslim atau

kepribadian Islam adalah ciri khas dan tingkah laku yang dimiliki

seseorang yang selalu menampilkan tingkah laku kesopanan dan

norma-norma agama yang meliputi aspek pisik dan psikis. Dan

mampu mengembankan tugasnya sebagai khlalifah di muka bumi,

serta selalu melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah.

Kepribadian yang seperti itu tidak ditemui dalam teori

psikologi Barat, karena psikologi barat banyak dipengaruhi oleh

falsafat materialistis yang menjadikan kekayaan benda menjadi

tujuan hidup. Kalupun ada mereka menyebut Tuhan, agama dan

keyakinan akan tetapi semuanya itu terpisah dari pergaulan dan

tata laksana kegiatan duniawi. Fungsi agama hanya bersifat

seremoni semata.29

2. Struktur Kepribadian Islam

Kepribadian dalam arti luas meliputi keseluruhan diri

seseorang. Dan akan kelihatan dalam caranya berbuat,

cara-caranya berfikir, mengeluarkan pendapat, sikapnya, minatnya, dan

filsafat hidupnya serta kepercayaannya.

Struktur kepribadian yang dimaksudkan disini adalah

aspek-aspek atau elemen yang terdapat pada diri manusia yang

karenanya kepribadian terbentuk. Menurut al-Zarkayi yang di kutip

oleh H. Abdul Mujib, bahwa studi tentang diri manusia dapat

dilihat melalui tiga sudut, yaitu:

28

(34)

1) Jasad (fisik); apa dan bagaimana organisme dan sifat-sifat

uniknya

2) Jiwa (psikis); apa dan bagaimana hakikat dan sifat uniknya.

3) Jasad dan jiwa (psikofisik); berupa akhlak, perbuatan,

gerakan, dan sebagainya.30

Ketiga kondisi tersebut dalam terminologi islam lebih dikenal

dengan term al-Jasad, al-Ruh, dan al-Nafs. Jasad merupakan aspek

biologis atau fisik manusia, Ruh merupakan aspek psikologis atau psikis

manusia, sedangkan Nafs merupakan aspek psikologis manusia yang

merupakan sinergi antara jasad dan ruh.31

1) Struktur Jisim

Jasad “jisim” adalah substansi manusia yang terdiri dari atas struktur organisme fisik. Organisme fisik manusia lebih

sempurna dibandingkan dengan organisme fisik makhluk-makhluk

lain. 32

Sedangkan menurut Rafy Sapuri, jasmani adalah struktur

terluar manusia, berupa badan atau tubuh fisik biologis.

Keberadaannya dapat dilihat oleh mata kepala, bentuk rupanya

langsung dapat dinilai. 33

Jasad memiliki natur tersendiri. Diantaranya sebagai

berikut:

a) Dari alam ciptaan, yang memiliki bentuk, rupa, berkualitas,

berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad yang terdiri dari

beberapa organ.

b) Sifatnya material yang dapat menangkap satu bentuk yang

kongkrit, dan tidak dapat menangkap bentuk yang abstrak.

c) Naturnya indrawi, emperis dan dapat disifati.34

30 Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,…h. 56. 31

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,...h. 56. 32

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), cet. Ke- 2, h. 40.

33

(35)

2) Sturktur Ruh

Ruh adalah bangunan kepribadian manusia, ruh merupakan

substansi psikologis manusia yang menjadi esensi

keberadaannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Ruh adalah substansi yang memiliki nature tersendiri. Menurut

pada ahli Islam yang dikutip oleh Abdul Mujib, ruh memiliki

natur:

a) Kesempurnaan awal jisim manusia yang tinggi dan memiliki

kehidupan dengan daya, dan Berasal dari alam perintah yang

mempunyai sifat berbeda dengan jasad. (Ibn Sina)

b) Ruh ini merupakan lathifah (sesuatu yang halus) yang

bersifat ruhani. Ia dapat berfikir, mengingat, mengetahui dan

sebagainya. Ia juga sebagai penggerak bagi keberadaan jasad

manusia. Sifatnya gaib (al-Ghazali).

c) Ruh sebagai citra kesempurnaan awal bagi jasad alami yang

organik. Kesempurnaan awal ini karena ruh adapat dibedakan

dengan kesempurnaan yang lain yang merupakan pelengkap

dirinya, seperti yang terdapat pada berbagai perbuatan.

Sedangkan disebut organik karena ruh menunjukkan jasad

yang terdiri dari organ-organ (Ibn Rusyd).35

3). Sturktur Nafs

Dalam konteks ini, nafs memiliki arti psikofisik manusia,

yang mana komponen jasad dan ruh telah bersinergi. Nafs

memiliki nature gabungan antara nature jasad dan ruh. Apabila ia

berorientasi pada nature jasad maka tingkah lakunya menjadi buruk

dan celaka, tetapi apabila mengaju pada nature ruh maka

kehidupannya menjadi baik dan selamat.36

Struktur nafsani merupakan dimensi psikopisik manusia. Ia

memliki tiga daya pokok, yaitu kalbu (struktur supra kesadaran),

(36)

akal, (struktur kesadaran), dan nafsu (struktur bawah sadar).

Masing-masing daya memiliki dua natur, yaitu natur jasmani dan

natur kerohanian.37

Abdul Mujib juga membagikan struktur nafsani ke dalam tiga hal,

yaitu:

a) Kalbu merupakan salah satu daya nafsani. Menurut Al-Ghazali yang

dikutip oleh Abdul Mujib, secara tegas melihat kalbu daru dua aspek,

yaitu kalbu jasmnai adalah daging sanubari yang berbentuk seperti

jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Sedangkan

kalbu ruhani adalah sesuatu yang bersifat halus (lathif), rabbani dan

ruhani yang berhubungan dengan kalbu jasmani. Bagian yang kedua ini

merupakan esensi manusia.

b) Akal, secara etimologi memiliki arti al-imsak (menahan) berdasarkan

makna bahasa ini, maka yang disebut orang yang berakal adalah orang

yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsu. Jika hawa nafsunya

terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi. Akal

merupakan bagaian dari daya nafsani yang memiliki makna; akal

jasmnai adalah salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini

lazimnya disebut dengan otak. Akal ruhani adalah cahaya (al-nur)

ruhani dan daya nafsani yang dipersiapkan untuk memperoleh

pengetahuan.

c) Nafsu yaitu bagian dari daya nafsani yang berarti hawa nafsu yang

memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al-ghadhabiyyah dan

al-syahwaniyyah. 38

Dalam uraian di atas, dapatlah penulis memberi ulasan tentang

Struktur kepribadian, yaitu struktur kepribadian yang menunjukkan kepada

tingkah laku, kegiatan-kegiatan jiwa dan filsafat hidup serta kepercayaan.

Jika pola dan tingkah lakunya sehat. Maka, terbentuklah kepribadian

37 Ramayulis, Psikologi Agama,…h. 124.

(37)

Muslim yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya menunjukkan

pengabdian kepada Tuhan.

3. Bentuk-Bentuk Tipologi Kepribadian dalam Islam

Tipologi kepribadian dalam Islam yang dimaksud di sini adalah

satu pola karakteristik berupa sekumpulan sifat-sifat yang sama, yang

berperan sebagai penentu ciri khas seseorang muslim. Perbedaan pola

kararteristik itu baik antara sesame muslim atau antara sesorang muslim

dengan non-Muslim.

Bentuk-bentuk tipologi kepribadian dalam Islam adalah:

1) Kepribadian Ammarah (Nafs al-Ammarah)

Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat

jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan.39 Kepribadian

ammarah juga cenderung melakukan perbuatan-perbuatan rendah sesuai

dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber

kejelekan dan perbuatan tercela. 40

Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 53, yaitu:

                      

“Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku

Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (QS. Yusuf 12: 53)41

Kepribadian ammarah dapat beranjak kepada kepribadian yang

lebih baik apabila ia telah diberi rahmat oleh Allah Awt. Yaitu dengan cara

menahan hawa nafsu dan melatih diri untuk berbuat baik, seperti dengan

berpuasa, shalat, sedakah, tolong menolong dan sebagainya.

2) Kepribadian Lawwamah (Nafs al-Lawwamah)

Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang mencela perbuatan

buruknya setelah memperoleh cahaya kalbu. Ia bangkit untuk

39

Netty Hartati. Dkk, Islam dan Psikologi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004) cet. Ke-1, h. 166.

40

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam.., h. 176. 41

(38)

memperbaiki kebimbangannya dan kadang-kadang tumbuh perbuatan yang

buruk yang disebabkan oleh watak gelapnya. Tetapi kemudian ia

diingatkan lagi oleh nur Ilahi, sehingga ia bertaubat dan memohon

ampunan.42

3) Kepribadian Muthmainnah (Nafs al-Muthmainnah)

Kepribadian muthmainnah adalah kepribadian yang tenang setelah diberi

kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela

dan tumbuh sifat-sifat yang baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke

komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan

kotoran. 43

Firman Allah Swt:

                

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang

puas lagi diridhai-Nya. (QS. Al-Fajr 89:27-28).44

4. Pengembangan Kepribadian dalam Islam

Dalam pengembangan kepribadian Islam, hal yang paling utama

untuk diperhatikan adalah pengembangan qalb (hati). Hati yaitu tempat

bermuara segala kebaikan Ilahiyah kerana ruh ada di dalamnya. Secara

psikologis, hati adalah cerminan baik buruk seseorang.45

Pengembangan kepribadian Islam dapat ditempuh dengan dua cara

pendekatan, yaitu:

1) Pendekatan Konten

Pendekatan Konten, yaitu serangkaian metode dan materi dalam

pengembangan kepribadian yang secara hierarkis dilakukan oleh individu,

dari jenjang yang terendah menuju jenjang yang paling tinggi, untuk

penyembuhan dan peningkatan kepribadiannya.46

42

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, h. 176. 43 Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,… h. 177. 44

(39)

Kiat-kiat pengembangan kepribadian Islam menurut pendekatan konten

dapat ditempuh melalui tiga tahap, yaitu:

Pertama, Tahapan permulaan (al-bidayah). Pada tahapan ini

manusia merasa rindu kepada Khaliknya. Ia sadar bahwa keinginan untuk

berjumpa itu terdapat tabir (al-hijab) yang menghalangi interaksi dan

komunitasnya, sehingga ia berusaha menghilangkan tabir tersebut.

Tahapan ini disebut juga dengan tahapan Takhalli, yaitu mengosongkan

diri dari segala sifat-sifat yang kotor, maksiat, dan tercela.

Kedua, Tahapan sesungguhan dalam menempuh kebaikan

(al-mujahadah). Pada tahapan ini kepribadian seseorang telah bersih dari

sifat-sifat tercela dan maksiat. Untuk kemudia ia berusaha secara

sungguh-sungguh denga cara mengisi diri dengan perilaku yang mulia.

Tahapan kedua ini harus ditopang oleh tujuh pendidikan dan oleh batin

(riyadhat al-nafs), yaitu sebagai berikut:

a) Musyarathah, yaitu menetapkan syarat-syarat atau kontrak pada

jiwa agar ia dapat melaksanakan tugas dengan baik dan menjauhi

segala larangan.

b) Muraqabah, yaitu mawas diri dan penuh waspada dengan seganap

kekuatan jiwa dan pikiran dari perilaku maksiat, agar ia selalu

dekat kepada Allah.

c) Muhasabah, yaitu intripeksi, membuat perhitingan atau melihat

kembali tingkah laku yang diperbuat, apakah sesuai dengan apa

yang disyaratkan sebelumnya atau tidak.

d) Mu’aqabah, yaitu menghukum diri karena dalam perniagaan

rabbani selalu mengalami kerugian. Dalam aktivitasnya, prilaku

buruk individu lebih dominant dari pada yang baik.

e) Mujahadah, yaitu berusaha menjadi baik dengan sungguh-sungguh,

sehinga tidak ada waktu, tempat dan keadaan untuk main-main,

apalagi melakukan perilaku yang buruk. Segala tindakan yang

diaktualkan harus sesuai dengan apa yang ada di dalam jiwa

(40)

f) Mu’atabah, yaitu menyesali dan mencela diri atas perbuatan

dosanya dengan cara berjanji untuk tidak melakukan perbuatan itu

lagi serta melakukan perbuatan yang positif untuk menutup

perbuatan yang negatif.

g) Mukasyafah, yaitu membuka penghalang atau tabir agar tersingkap

ayat-ayat dan rahasia-rahasia Allah. Mukasyafah juga diartikan

jalinan dua jiwa yang jatuh cinta dan penuh kasih saying, sehingga

masing-masing rahasia diketahui satu dengan yang lainnya.

Ketiga, tahapan merasakan (al-mudziqat). Pada tahapan ini seorang

hamba tidak sekedar menjalankan perintah Khalik-Nya dann menjahui

larangan-Nya, tetapai ia merasakan kelezatan, kedekatan, kerinduan

bahkan bersamaan dengan-Nya. Tahapan ini disebut dengan tahapan

tajalli. Tajalli adalah menampakkan sifat-sifat Allah Swt pada diri

manusia setelah sifat-sifat buruknya dihilangkan dan tabir yang

menghalangi menjadi sirna.47

Apabila seseorang yang mampu membuka tabir dan menjadi dekat

kepada Allah Swt. dalam kepribadian islam lebih dikenal dengan insan

al-kamil (manusia sempurna). Ia tidak bersatu dengan apa yang disekitarnya,

tetapi hanya bersatu dengan sifat-sifat Tuhan.

2) Rentang Kehidupan

Pendekatan rentang kehidupan, yaitu serangkaian perilaku yang

dikaitkan dengan tugas-tugas perkembangan menurut rentang usia.48

Di dalam Al-Quran terdapat tiga fase besar, yaitu fase sebelum

kehidupan dunia, fase dunia, dan fase kehidupan setalah mati.

Upaya-upaya pengembangan kepribadian hanya dipilih fase kehidupan didunia

yang memiliki delapan fase, yaitu:

Petama, Fase pra-konsepsi, yaitu fase perkembangan manusia

sebelum masa pembuahan seperma dan ovum. Di dalam Islam seseorang

dianjurkan bahkan diwajibkan menikah untuk melestarikan keturunan.

47

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,…h. 389-394.

(41)

Upaya-upaya pengembangan fase ini adalah:

a) Mencari pasangan hidup yang baik, segera menikah secara sah

setelah cukup umur.

b) Membangun keluarga yang sakinah.

c) Senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang baik.

Kedua, Fase pra-natal, yaitu fase perkembangan manusia yang

dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran.

Upaya-upaya pengembangan kepribadian pada fase ini adalah

sebagai berikut:

a) Memelihara lingkungan psikologis yang ssakinah, rahmah dan

mawaddah, agar secara psikologis janin dapat berkembang secara

normal. Bayi yang lahir dari keluarga broken home akan mewarisi

sifat-sifat atau karakter orang tua yang buruk.

b) Senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat,

terutama bagi ibu, agar janinnya mendapat nur hidayah dari Allah

Swt.

Ketiga, Fase neo-natus, dimulai kelahiran sampai kira-kira minggu

keempat. Upaya-upaya pengembangan kepribadian pada fase ini yang

dilakukan orang tua adalah:

a) Membaca azan di telinga kanan dan membaca iqamah di telinga

kiri ketika anak baru lahir.

b) Memotong akikah yaitu menunjukkan rasa syukur kepada Allah

juga sebagai lambing atau symbol pengorbanan dan kepedulian

sang orang tua terhadap kelahiran bayinya

c) Memberi nama yang baik, yaitu nama secara psikologis mengingat

atau berkolerasi dengan perilaku yang baik,

d) Memberi ASI sampai usia dua tahun, selain itu ASI memiliki

komposisi gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi.

Keempat, Fase kanak-kanak, fase kanak-kanak, yaitu fase yang

dimulai usia sebulan sampai usia sekitar tujuh tahun. Upaya-upaya

(42)

a) Menumbuhkan potensi-potensi indera dan psikologis, seperti

pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Tugas orang tua adalah

bagaimana cara merangsang pertumbuhan berbagai potensi tersebut

agar anak mampu berkembang secara maksimal.

b) Mempersiapkan diri dengan cara membiasakan dan melatih hidup

yang baik, seperti dalam berbicara, makan, bergaul dan berprilaku.

Ketiga, pengenalan aspek-aspek doctrinal agama, terutama yang

berkaitan dengan keimanan, melalui metode cerita dan uswah

hasanah.

Kelima, Fase tamyiz, yaitu fase di mana anak mulai mampu

membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, fase

ini dimulai usia sekitar tujuh tahun sampai 12 atau 13 tahun. Upaya-upaya

pengembangan kepribadian adalah sebagai berikut:

a) Mengubah persepsi konkret menuju pada persepsi yang abstrak,

misalnya persepsi mengenai ide-ide ketuhanan, alam akhirat dan

sebagainya.

b) Pengembangan ajaran-ajaran normatif agama melalui institusi

sekolah, baik yang berkenaan dengan aspek kognitif, efektif

maupun psikomotorik.

Keenam, fase baligh, yaitu fase di mana usia anak telah sampai

dewasa. Usia ini anak telah memiliki kesadaran penuh akan dirinya,

sehingga ia diberi beban tanggung jawab (taklif). Upaya-upaya

pengembangan kepribadian pada fase ini adalah:

a) Memahami segala titah (al-khithab) AllahSwt, dengan

memperdalam ilmu pengetahuan.

b) Menginternalisasikan keimanan dan pengetahuan dalam tingkah

laku nyata, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga,

komunitas sosial, alam semesta, maupun pada Tuhan.

c) Memiliki kesedian untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah

(43)

d) Membentengi diri dari segala perbuatan maksiat dan mengisi

dengan perbuatan baik.

e) Menikah, jika telah memiliki kemampuan, baik kemampuan fisi

maupun psikis.

f) Membina kelaurga yang sakinah, yaitu keluarga dalam menempuh

bahtera kehidupan selalu dalam keadaan cinta dan kasih saying

dengan landasan keimanan dan ketakwaan.

g) Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang bermanfaat bagi

diri sendiri, keluarga, sosial dan agama.

Ketujuh, fase azm al-umr atau syuyukh, yaitu fase kearifan dan

kebijakan di mana seseorang telah memiliki tingkat kecerdasan dan

kecerdasan emosional, moral, spiritual, dan agama secara mendalam. Fase

ini di mulai usia 40 tahun sampai meninggal dunia. Upaya-upaya

pengembangan kepribadian pada fase ini adalah:

a) Transinternalisasi sifat-sifat rasul yang agung, sebab nabi

Muhammad Saw, diangkat menjadi rasul berusia 40 tahun.

Sifat-sifat yang dimaksudkan seperti jujur, dapat dipercaya bila diberi

tanggung jawab, menyampaikan kebenaran, dan memiliki

kecerdasan spiritual.

b) Meningkatkan kesadaran akan peran sosial dengan niatan amal

shaleh.

c) Meningkatkan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah Swt, melalui

perluasan diri dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, seperti

shalat malam, puasa sunnah dan lain sebagainya.

d) Mempersiapkan diri sebaik mungkin, sebab usia-usia seperti ini

mendekati masa-masa kematian.

Kedelapan, fase menjelang kematian, yaitu fase di mana nyawa

akan hilang dari jasad manusia. Hilangnya nyawa menunjukkan pisahnya

ruh dan jasad manusia. Upaya-upaya perkembangan kepribadian pada fase

(44)

a) Memberikan wasiat kepada keluarga jika tedapat masalah yang

perlu diselesaikan, seperti wasiat tentang pengembalian hutang,

mewakafkan sebagian harta dijalan agama.

b) Tidak mengingat apapun kecuali berzikir kepada Allah Swt.

c) Mendengarkan secara seksama talqin, yang dibaca oleh keluarga

kemudian menirukannya, yaitu mengucapkan la ilaha ila Allah

(tiada Tuhan selain Allah) yang diucapkan untuk mengingatkan

pada orang yang akan meninggal, agar matinya dalam keadaan

husn al-khatimah (baik akhir hidupnya).49

Dari uraian-uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa apabila

pengembangan kepribadian islam melalui pendekatan konten dan rentang

kehidupan dapat dijalankan dengan baik bagi individu, maka akan

terbentuklah kepribadian Islam yang sempurna (insan kamil).

5. Faktor-faktor Pembentukan Kepribadian Islam

Dasar kepribadian seseorang terbentuk dari masa kanak-kanak.

Proses perkembangan kepribadian yang terjadi pada diri seseorang tidak

hanya berasal dari faktor hereditas, melainkan juga berasal dari lingkungan

tempat anak hidup dan berkembang menjadi manusia dewasa.

Pembentukan kepribadian dimulai dari penanaman sistem nilai

pada anak didik. Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan

perlu dimulai dari penanaman sistem nilai yang bersumber dari ajaran

agama. Sistem nilai sebagai realitas yang abstak yang dirasakan dalam diri

sebagai pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup.

Dalam realitasnya, nilai terlihat dalam pola bertingkah laku, pola pikir dan

sikap-sikap seseorang pribadi atau kelompok.50

Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan pada anak

harus dimulai dari pembentukkan nilai yang bersumber dari nilai-nilai

ajaran agama dalam diri anak.

49 Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,…h.396-408. 50

(45)

Studi tentang faktor-faktor yang menentukan kepribadian menurut

Dra. Netty Hartati dkk, faktor pembentukkan kepribadaian ada tiga aliran,

yaitu: aliran Empirisme, Nativisme, dan Konvengasi.

1) Aliran Empirisme; aliran ini disebut juga aliran

Environmentalisme, yaitu suatu aliran yang menitik beratkan

pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penyebab

timbulnya satu tingkah laku. Lingkungan yang mempengaruhi

kepribadian terdiri atas lima aspek, yaitu geografis, histories,

sosiologis, cultural, dan fsikologis.

2) Aliran nativisme; suatu aliran yang menitikberatkan pandangannya

pada peranan sifat bawaan, keturunan sebagai penentu tingkah laku

seseorang. Aliran nativisme memandang hereditas sebagai penentu

kepribadian. Hereditas adalah totolitas sifat-sifat karakteristik yang

dibawa atau dipindahkan dari orang tua kepada anak keturunannya.

3) Aliran convergensi; aliran yang menggabungkan dua aliran diatas.

Konvergensi adalah intraksi antara factor hereditas dan factor

lingkungan dalam proses pembentukan tingkah laku. Menurut

aliran ini, hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila

tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan, dan sebaliknya.51

Lebih lanjut D. Marimba menjelaskan proses-proses pembentukan

kepribadian terdiri atas tiga taraf, yaitu:

1) Pembiasaan; pembiasaan-pembiasaan ini bertujuan membentuk

aspek kejasmanian dan kepribadian. Caranya dengan mengontrol

dan mempergunakan tenaga-tenaga kejasmanian dan kejiwaan.

Misalnya, dengan jalan mengontol gerakan-gerakan anak-anak

dalam gerakan shalat, dengan membiasakan ucapan do’a dalam

shalat.

2) Pembentukan pengertian, sikap, dan minat; pada taraf kedua ini

diberikan pengetahuna dan pengertian. Daram taraf ini perlu

ditanamkan dasar-dasar kesusilaan yang rapat hubungannya dengan

(46)

kepercayaan, meliputi, mencintai Allah, Rasul, Ikhlas, takut akan

Allah, menepati janji, menjahui dengki, dan sebagainya.

3) Pembentukan kerohanian yang luhur; pembentukan ini

menanamkan kepercayaan yang terdiri atas:

a) Iman akan Allah

b) Iman akan Malaikat-malaikatNya.

c) Iman akan Kitab-kitabNya.

d) Iman akan Rasul-rasulNya.

e) Iman akan Qadha dan Qadhar.

f) Iman akan hari akhir.52

Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur,

bukanlah hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh

karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari

perkembangan itu apabi

Referensi

Dokumen terkait

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu studi yang memfokuskan pembahasan pada literatur-literatur baik berupa buku, jurnal,

Jenis peneltian yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah penelitian kepustakaan ( library research) yang dilakukan dengan cara mengkaji dan menelaah berbagai dokumen

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan(library research) dengan menggunakan metode kualitatif dengan cara menelusuridan menelaah

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah data yang berasal dari sumber-sumber kepustakaan

a. Library Research : yaitu kajian kepustakaan dengan menelaah dan mempelajari buku – buku yang dipandang dapat melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. Field Research:

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah data yang berasal dari sumber-sumber kepustakaan,

Penulisan ini dilaksanakan dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif atau kepustakaan (library research) dengan judul Kepemimpinan Orangtua dalam

Penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research) yaitu studi kepustakaan yang mengadakan penelitian dengan cara mempelajari dan membaca literatur-literatur yang