PESANTREN RIYADLUL JANNAH,
CISEENG-BOGOR
Oleh:
ZORA KRISPRIANA NIM: 103070029124
Skripsi diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Psikologi
FAKULTAS PSIKOLOGI
NIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYAlrULLAH
JAKARTA
ultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada mal
18
Maret2008.
Skri·)si ini telah diterima sebagai salah satu syarat Jk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.artc1,
18
Maret2008
Sidang Munaqasyah
iguji I
nggota,
ihayah, M.Si
73
カ。ャjセゥゥョ・NャNsオ。ゥ、ケL@ M.Si,Psi
Anggota:
Sekretaris M(1kap Anggota
Dra.
z。ィイセエセN@
M.Si NIP.150 238 7
Penguji II
セ@
\Yunita Faela Nisa1, M.Psi NIP.
150 368 784
)I
PONDOK PESANTREN RIYADLUL jエセnnah@
CISEENG-BOGOR
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Evangelin
Oleh:
ZORA KRISPRIANA NIM: 103070029124
Di Bawah Bimbingan
Pe bimbin II
セセ@
Dr. Achmad
sエ。セMMMNNL⦅⦅@
NIP : 150 267
_jNセ@
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
l>Cl ve T uv' Cl ve"1A.-< Cl VlA.CI t V1A.uliCI . yClveg teLCln "1A.evegcijClviWV1 rlevegcive peveci. i>ici telci Vi V1A.eveg oj Cl vk?,Cl ve lzepCI rl ci "1A.Ci vetASiCl ;\pci l::I Cl veg t.ic:\Cl lz rl i!zetci Vi uiveW< (>u'<-at c"fl:L c"fl:La2:J,4,5)
1SClrCl vegs icipci l::I Cl veg V1A.evew vi j Cl Lei ve Ke ClYCln iLV1A.IA pevegetcihucivc (k?,eisLCIV1A.&lvc)
M&lk?,Ci ALL&ln CliWve "1;\.eV\,\,UciClnRClve bcigivct:JCI
PClciet jcilcivi. V1A.evec01A .s1::1uvgCl. (cftadlt•)
AIZet pllziv Cl
iz,,
V1A.Cl VlA.'f>IA .. AIZet tClnw cik?,ct VlA.l1V1A.pct ..l>Ci ve "
Ar<tA pcisti bisci 111 (unknown)
PersicipCI ve Vici vc ivci V1A.evcevettAIW vc
Pevcwpeticive rli Vietvi esok?,. {Cfh.oma> j:di•on)
I Maret 2008 ) Zora Krispriana
) Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku Merokok pada Remaja Awai di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Ciseeng - Bogor.
) 79 halaman (belum termasuk lampiran)
I Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan.
Perilaku merokok adalah suatu tindakan menghisap rokok untuk mencapai kenikmatan, mulai dilakukan secara sadar dan lam bat laun secara tidak sadar sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang meningkat. (Kisyanto&Mansjoer, 1984)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian korelasional. Sampel penelitian ini berjumlah 66 orang santri SMP Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Ciseeng Bogor. lnstrumen pengumpulan data menrnJunakan skala model Likert berupa skala konsep diri yang terdiri dari 22 item dan skala perilaku merokok yang terdiri dari 30 item seteiah sebelumnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Pengolahan dan analisis data dalam skripsi ini menggunakan program SPSS 11,5. Pada uji validitas menggunakan korelasi Product Moment Pearson, sedangkan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach. Untuk uji hipotesis penelitian menggunakan Contingency coeficient.
Dari hasil analisis contingency coeficient terhadap hip6tesis yang diajukan diperoleh has ii X2hitung (14, 127) > X2tabel (23,7) Has ii terse but
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja awal.
diberikan ... "
Keluarga kedua ku ... Mam dan Pap, Dimas, Wina, mba Eni ... terima kasih sudah menerimaku menjadi bagian dari keluarga ini.
Sahabatku tersayang : si dewasa "Ajeng", si cuek "Ndien", si ndut "Lietha", si panik "Ina", si jutek "Fany", si centil "Nia" dan lbunya anak-anak "Bu Wul", kangen kaliann .... Sahabatku semester I: Ary, Fakih, Yuris, Unik, Dian, Wink, Nurul ... sahabat sejatiku anak-anak Selone, BT + Palaia : Viol, Zie, Dewi, dll. Temen-temen KKL plus minus :
lndah+Fikih, Joni, Dedy, Fatma, Meda, Titi. Juga temen-temen Chinam, terima kasih alas dukungan dan kerjasama yang baik, mudah-mudahan ini jadi awal persaudaraan kita.
). Teman-teman angkatan 2003 l<hususnya kelas C yang sudah mendukung dan membantu penulis, memberi semangat untuk
menyelesaikan skripfi ini : Herly, Aay, lryn, Ira, Lucky, lka, Ayu, lnong, lis, Wulan, Dini, Novi, lntan, Don, Deni, Angga, Acil dan semuanya ... Juga untuk Fira, Resti, Tika, Adang, Ciul, dan semua teman-teman yang selalu mendukung penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
I. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuannya.
3nulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
セ「。「@ itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk
セイ「。ゥォ。ョ@ di masa mendatang.
<hir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi banyak hak terutama untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Ciputat, ·1
s
Maret 2008!\LAMAN PENGESAHAN
OTTO... iv
3STRAKSI ... v
l\TA PENGANTAR ... vi
l\FT AR ISi . . . .. . . .. . . .. . . .. . . .. . . .. . . viii
C\FTAR TABEL ...
x
l\FTAR GAMBAR ... :... xi
l\B 1 : PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah ... 1
2. ldentifikasi Masalah ... 1 O 3. Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian ... 11
1.3.1 Pembatasan Masalah Penelitian ... 11
1.3.2 Perumusan Masalah Penelitian ... 12
4. Tujuan Penelitian ... 12
5. Manfaat Penelitian.... ... ... .. .. 12
1.4.2 Manfaat Teoritis ... 12
1.4.3.Manfaat Praktis ... 13
3. Sistematika Penulisan ... 14
!\B 2 : KAJIAN PUST AKA 1. Konsep Diri ... ... 15
2.1.1. Definisi konsep diri ... ... 15
2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri ... 17
2.1.3. Dimensi-dimensi konsep diri... 21
2.1.4. Konsep diri positif dan konsep diri negatif... 25
2.1.5. Konsep diri dalam pandangan Islam... 29
セN@ Perilaku Merokok ... 31
2.2.1. Sejarah rokok ... 31
2.2.2. Definisi merokok ... 32
2.2.3. Bahaya merokok . ... . .. ... . .. . .. . ... .. . .. . .. . ... .. . .. . .. . .. . .. 33
2.2.4. Zat-zat kimia yang terkandung dalam rokok.... ... ... 34
2.2.5. Tahapan merokok ... 36
2.2.6. Tipe-tipe perilaku merokok ... 37
2.2.7. Merokok dalam pandangan Islam ... 38
セN@ Remaja Awai... 39
2.3.1. Definisi remaja . . .. .. . . .. .. . . .. . . . .. .. . . .. . .. . .. . .. . .. . . .. .. 39
1. Jenis Penelitian ... ... ... 45
3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 45
3.1.2. Metode Penelitian ... 4 '5 .2. Definisi konseptual dan operasional variabel ... 46
3.2.1. Definisi konseptual Variabel ... 46
3.2.2. Definisi operasional variabel .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. 46
.3. Populasi dan Sampel ... 47
3.3.1. Populasi ... ... ... .... ... 4 7 3.3.2. Sampel ... 48
3.3.3. Teknik pengambilan sampel ... 48
.4. Teknik Pengumpulan Data... 49
3.4.1. Teknik uji instrumen (try out) ... 51
.5. Hasil Uji lnstrumen Penelitian ... 511 3.5.1. Uji validitas ska la ... ... ... 52
3.5.2. Uji reliabilitas skala ... 56
3.5.3. Teknik analisa data ... 58
.6. Prosedur penelitian ... 59
iAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .1. Gambaran Umum suoyek penelitian ... 61
.2. Uji Persyaratan ... ... 63
4.2.1. Uji Normalitas ... 63
.3. Uji Hipotesis ... ... 66
.4. Has ii utama penelitian ... ... 70
iAB 5 : KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN .1. Kesimpulan ... 71
.2. Diskusi .... . ... .... ... 72
.3. Saran... 74
IAFT AR PUST AKA .... ... .... ... ... 77
ibel 2
ibel 3
ibel 4
ibel
5
ibel 6
ibel 7
ibel 8
ibel 9 ibel 10
ibel 11
ibel 12
3bel 13 3bel 14
3bel 15
3bel 16
Blue Print Skala Perilaku Merokok ...
50
Skar Kategori Jawaban ... 51
Hasil Uji lnstrumen Valid Skala Konsep Diri ... 53
Blue Print Skala Konsep Diri pasca Uji lnstrumen ... 54
Hasil uji lnstrumen valid skala perilaku merokok ...
55
Blue print skala perilaku merokok pasca uji instrumen ...
56
Kaidah reliabilitas Guilford ... 58
Gambaran umum responden berdasarkan usia ... _... 61
Gambaran umum responden berdasarkan perilaku merokok.. 62
Gambaran umum responden berdasarkan banyaknya rokok yang dikonsumsi perhari ... 62
Klasifikasi Responden Berdasarkan Tipe Perilaku Merokok...
65
Skar Konsep Diri ... 67
Ta be I
fo...
68Ta be I fh... 69
1.1. Latar Belakang Masalah
Di tengah berkembangnya konsumerisme dan gaya hidup mewah, salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus adalah remaja. Mereka
banyak mengikuti gaya hidup masyarakat di sekitamya. C?aya hidup tersebut menuntut para remaja untuk meniru apa yang mereka lihat melalui berbagai media, seperti televisi, majalah, dan internet. Media-media tersebut banyak memberikan pengaruh-pengaruh pada diri remaja dan menguat pada remaja awal usia 12-15 tahun, orang menyebutnya sebagai masa puber. Masa remaja adalah masa yang labil karena merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa sehingga remaja mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupur. psikis (i\gustiani, 2006:28).
dengan kegiatan yang sebelumnya amat digemari. Akibatnya prestasinya di berbagai bidang menurun. Pertumbuhan pesat dan tidak :seimbang
mempengaruhi keadaan dirinya sehingga remaja merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Pada masa tersebut, remaja seringkali tidal<. mau bekerja sama, sering membantah dan menentang. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis merupakan ciri awal masa puber.
Selciin itu, perubahan pada fisik membuat remaja menjadi kurang percaya diri dan peka terhadap kritik baik dari orangtua maupun teman-teman.
Perubahan inilah yang menyebabkan remaja menjadi sangat hati-hati dalam segala penampilannya karena takut orang lain memperhatikan perubahan yang di alami dan memberi komentar yang buruk. Remaja juga dituntut untuk mampu menampilkan perilaku sosial yang pantas dan se:suai dengan dunia orang dewasa yang akan di masuki, yaitu penyesuaian diri dengan
melakukan hal yang henar dan mau menghabiskan waktu bersama keluarga (Santrock, 2003: 191 ). Namun sebaliknya yang terjadi tidak seperti itu,
mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman daripada bersama dengan keluarga, bergaya dewasa tapi kekanakan.
Erik Erikson (dalam Kristanda, 1995:5) menerangkan bahwa salah satu proses perkembangan psikososial yang penting pada masa remaja adalah proses pencarian identitas diri (the search of identity), pencarian identitas diri ini di mulai dengan menunjukkan kemampuan dirinya, cenderung
Merokok adalah perilaku orang dewasa yang paling mudah untuk ditiru dan merupakan perilaku yang paling nyata untuk menunjukkan keciewasaan. Perilaku tersebut di tampilkan untuk membuktiki'ln bahwa remaja ingin diakui keberadaannya oleh lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, mereka tidak ingin dianggap anak kecil lagi. Karena pada masa ini remaja sedang dalam proses pencarian identitas diri, sehingga rasa ingin tahu mereka sangat besar untuk mencoba hal-hal yang baru seperti merokok. Mereka meniru bukan hanya dari orang-orang sekitar tetapi juga mereka tiru dari model atau iklan-iklan yang ada di berbagai media. Remaja mulai mencoba-coba untuk merokok dan dikuatkan dengan komentar dari ッイ。ョァMッイ。ョセQ@ bahwa dengan merokok mereka terlihat gagah, lalu mereka jadi terbiasa clan mulai
kecanduan untuk merokok.
Perilaku merokok bisa menjadi gerbang awal (first step) te1·hadap perilaku lain, seperti minum alkohol dan penggunaan napza. Remaja mulai merokok pada masa remaja awal atau tingkat SMP. Hal ini di dukung oleh penelit!an-penelitian sebagai berikut, yaitu menurut Escobedo,dkk. Jumlah remaja yang mulai merokok meningkat tajam setelah usia 10 tahun dan mencapai
pada tahun 1998 di 14 propinsi di Indonesia menyatakan bahwa sebanyak
59,04% laki-laki usia 10 tahun keatas dan 4,83 penduduk perempuan usia 10
tahun keatas adalah perokok (Fawrita, 1998:14 ). Menu rut Nerry A. Sani, ketua
Yayasan Jantung Indonesia. Usia merokok kini sudah di rnulai pada usia 10 tahun sebanyak 33%. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil Global Youth Tobacco Survey WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) (Galra,2006:70).
Survey kebiasaan merokok oleh Yayasan Jantung Indonesia dari Depkes RI
menyatakan bahwa di kalangan pelajar SMP (12-·J 6 tahun) di Jakarta, di
temukan 49% pelajar pria dan 8,8% pelajar wanita yang merokok.
Sedangkan di kalangan pelajar SD (6-12 tahun) menunjukkan 41 % pria dan
10% wanita (Kristanda, 1995: 14 ).
Hal-hal yang mempengaruhi perilaku merokok remaja disebabkan oleh
karakter remaja yang masih dipengaruhi oleh lingkungan clan kelompoknya, agar mereka bisa diterima dalam kelompoknya tersebut. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu yang lebih lama dengan teman-ternan, lebih suka
nongkrong di warung, di halte, atau di mall, dan rnereka nyaman dengan
perilaku tersebut. Sesuai dengan Philiph Rice (dalam Gadis, 2001 :36) kebutuhan untuk berada dalam suatu kelompok paling besar terjadi pada
kelompok tertentu sehingga mau tidak mau remaja N、ゥセオョエオエ@ untuk punya pandangan yang sama dengan anggota kelompok yang lain mengenai berbagai hal. Hal ini menyebabkan remaja cenderung untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh kelompoknya tersebut. Misalnya saat sebagian besar remaja mengetahui bahwa bila mereka memakai model pakaian yang sama dengan anggota kelompok yang populer. maka kesempatan bagi mereka
untuk diterima oleh kelompoknya lebih besar (Littrell,dkk dalam
Hurlock, 1980:213). Karena pada masa ini pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan. minat. penampilan, dan perilaku lebih besar dari pengaruh keluarga (Hurlock, 1980:213).
Kondisi demikian bukan hanya terjad1 di kalangan remaja siswa sekolah umum, tetapi terjadi juga pada santri-santri yang tinggal di pondok pesantren. Remaja yang memiliki latar belakang agama juga mempunyai
harapan-harapan yang sama dengan siswa di sekolah umum, yaitu mereka mau melakukan apa saja untuk di terima oleh kelompoknya. Pada remaja di sekolah umum. mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk
melakukan perilaku merokok, karena mereka hanya diawasi oleh guru saat di sekolah dan diawasi orangtua saat di rumah. Pada saat mereka di luar
kesempatan yang k.ecil untuk melakukan perilaku merokok, karena setiap saat mereka selalu diawasi oleh pengurus pondok pesantren.
Dari hasil wawancara pencarian kebutuhan dengan seorang santri di salah satu pondok pesantren mengatakan bahwa ia merokok untuk memenuhi rasa ingin tahunya dan hanya sekedar coba-coba karena di ajak oleh teman. Setiap ia akan merokok, ia dan teman-temannya mencari tempat yang sepi untuk bisa merokol< agar tidak terlihat oleh pengurus pesantren. Tapi
akhirnya ia memutuskan untuk berhenti merokok karena ia menyadari bahwa merol<ol< itu sangat merugikan dirinya sendiri dan tidal< ada manfaatnya. Menurut para pengajar di beberapa pesantren, bila ada anak yang merokok, ada yang langsung dikeluarkan, ada yang dinasihati saja, tetapi ada juga pesantren yang membebaskan santrinya untuk merokok, semua tergantung pada peraturan yang ada di pesantren tersebut.
Dari hasil wawancara tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua remaja terpengaruh oleh kelompoknya. Ada hal-hal yang membuat remaja bertahan untuk tidak mengikuti kelompoknya, remaja sebenarnya sudah dapat membedakan mana yang benar dan salah, mereka mempunyai
dan bersedia mempertahankan walaupun harus menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Hal ini terdapat pada konsep diri mereka.
Konsep diri adalah pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Pengaruh yang paling kuat adalah bila orangtua sendiri yang menjadi figur contoh sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya (Ardiningtyas,2006:6).
Hal ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh Zakiah (1975:119) yaitu apabila remaja dibesarkan dalam keluarga yang selalu menjalankan ajaran agama dengan baik dan segala aspek kehidupannya tidak
menyimpang dari ketentuan agama, maka pendidikan agama dalam l<eluarga akan terjadi dengan baik dan kepribadian remaja akan kaya dengan unsur agama. Dengan pembiasaan inilah konsep diri yang terbentuk menjadi positif.
seseorang merokok adalah karena konsep diri yang ne9atif. Feldman (dalam Marselino,2003:72) ju9a menyebutkan bahwa perilaku rnerokok berkaitan dengan konsep diri remaja. Remaja perokok memiliki konsep diri yan9 mengandung beberapa unsur yang berbeda dengan remaja bukan perokok. Sedangkan menurut penelitian Layyinah (2001 :75) yang berjudul konsep diri pengguna narkoba, mengatakan bahwa konsep diri remaja pengguna
narkoba mempunyai tingkat yang lebih rendah dibandingkan deng<m remaja bukan pengguna narkoba. Hal ini dapat dilihat dari satu faktor yang
membentuk konsep diri remaja, yaitu karena adanya interaksi individu dengan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan menu1·ut penelitian Zakiah (2007:83) yang berjudul Pengaruh pendidikan Agama dalam ke/uarga terhadap konsep diri pada remaja, mengatakar. bahwa semakin tinggi pendidikan agama seseorang yang didapat dalam keluarga, maka semakin positif konsep diri seseorang dan sebaliknya semakin rendah pendidikan agama seseorang yang didapat dalam keluarga, maka semakin negatif konsep dirinya.
menguntungkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik dan lebih berpeluang untuk menampilkan tingkah laku yang lebih produktif. Sedangkan remaja dengan konsep diri negatif biasanya takut untuk mencoba, sehingga dapat menghambat proses pengembangan dirinya. Konsep diri yang negatif tersebut dapat memberi dampak pada remaja untuk melakukan perilaku merokok.
Berdasarkan uraian di atas, hal ini yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai "Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku Merokok Pada Remaja awn\ di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah."
1.2. ldentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masa\ah yang telah dikemukakan di atas, maka beberapa masalah yang dapat diidentifikasi adalah :
1. Apakah terdapat hubungan antara konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja?
2. Apa saja hal-hal yang mempengaruhi konsep di1·i negatif dengan perilal<u merokok pada remaja?
1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.3.1. Pembatasan Masalah
Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini akan dibatasi pada : 1. Konsep diri. Yang dimaksud dengan konsep diri adalah gambaran
yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan
lingkungan. Dasar dari konsep diri individu ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya dikemudian hari (Agustiani,2006:138).
2. Perilaku merokok. Yang dimaksud dengan perilaku merokok adalah suatu tindakan menghisap rokok untuk mencapai kenikmatan, mulai dilakukan secara sadar dan lambat laun secara tidak sadar sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang meningkat
(Kisyanto&Mansjoer, 1984:8).
1.3.2. Perumw;;an Masalah
Perumusan masalah pada skripsi ini adalah apakah ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku merokok rernaja awal di pondok pesantren Riyadlul Jannah?
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubun[Jan konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja awal di pondok pesantren Riyadlul Jannah.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Manfaat Teoritis
•
•
Memberikan sumbangan literatur mengenai teori konsep diri dan perkembangan remaja.
1.5.2. Manfaat Praktis
Bagi para guru/pendidik serta orang tua :
• Oapat membentuk, membina dan mengarahkan konsep diri remaja untuk tidak melakukan perilaku merokok.
• Agar dapat memahami gambaran hidup remaja saat ini.
• Dapat melakukan program pencegahan agar remaja tidak melakukan perilaku merokok.
Bagi remaja :
• Menambah pengetahuan dan informasi tambahan tentang akibat yang ditimbulkan bila seorang remaja merokok.
• Dapat dijadikan referensi bagi remaja untuk dapat mengenal dirinya, bagaimana lingkungannya sehingga remaja dapat bergaul s0cara sehat.
1.5. Sistimatika Penulisan
Bab 1 Pendahuluan
Pada bab ini meliputi latar belakang masalah, masalah penelitian yang terdiri dari identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan sistimatika penulisan.
Bab 2 Kajian Pustaka
Pada bab ini merupakan kerangka berpikir yang berisi teori-teori dari penelitian ini diantaranya teori tentang konsep diri, perilaku merokok, serta teori tentang remaja awal.
Bab 3 Metode Penelitian
Meliputi Pendekatan dan Metode Penelitian, Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel, Teknik Pengumpulan Data dan Metode Pengolahan Data.
Bab 4 Presentasi dan analisis data
Meliputi gambaran umum responden, uji instrumen penelitian, hasil uji validitas skala konsep diri dan skala perilaku merokok, serta hasil uji reliabilitas konsep diri dan perilaku merokok.' Uji persyaratan yang terdiri dari uji normalitas dan uji hipotesis serta hasil utama penelitian.
BAB2
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini, akan di uraikan secara rinci mengenai kajian konsep diri, perilaku merokok dan remaja awal.
2.1. Konsep Diri
2.1.1. Definisi Konsep Diri
Menurut Chaplin (2002:451 ), self concept atau konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri ; penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan.
Konsep diri yang sesungguhnya adalah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu.
Rogers (dalam Santrock,2005:491) mendefinisikan self concept sebagai:
''An individuals' overall perceptions and assessments of their abilities,
behavior, and personalities ".
(konsep diri adalah keseluruhan persepsi dan penilaian terhadap kemampuan, tingkah laku dan kepribadian mereka).
Sedangkan Brooks (dalam Rakhmat,2005:99) menambal1kan definisi konsep diri sebagai :
" Those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others".
Jadi konsep diri adalah pandangan fisik, sosial dan persepsi dari diri kita yang tercipta dari pengalaman dan hasil interaksi kita dengan orang Jain.
William H. Fitts (dalam Agustiani,2006: 139) menjelaskan konsep diri secara fenomenologis, dan mengatakan bahwa ketika individu mempersepsikan dirinya, bereaksi terhadap dirinya, memberikan artLc:l<:m2.enilaian serta
- -, MBセセ@ ... セセ@ ... セL@
MMセᄋセMLLN@
i セNL⦅NLML@ - BGMᄋMᄋMセB@ .. ...,._,
kesadaran diri (self awereness) dan kemampuan untuk keluar dari dirinya sendiri untuk melihat dirinya seperti yang ia lakukan terhadap dunia di luar dirinya. Diri secara keseluruhan (total self) seperti yang cli alami incliviclu disebut juga diri fenomenal. Diri fenomenal ini adalah diri yang diamati, di alami, dan cli nilai oleh individu sendiri, yaitu diri yang ia sadari.
Berdasarkan uraian di alas dapat diambil kesimpulan bahwa definisi konsep diri adalah totalitas pikiran dan perasaan individu berdasarkan keyakinan persepsi atau pandangan seseorang mengenai dirinya sendiri dan penilaian orang lain, secara keseluruhan baik secara psikologis, sosial dan fisik
meliputi kecerdasan dan kepribadian dan nilai-nilai yang menyertai persepsi itu yang merupakan refleksi tingkah laku individu terhaclap dirinya.
2.1.2 Faktor-fak:tor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Dalam perkembangannya, konsep diri selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Di antaranya seperti yang di kemukakan oleh Fitts (dalam Agustiani, 2006:139), yaitu :
b. Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.
c. Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya.
Rakhmat (2005:1 OIJ) juga menjelasl<an bahwa konsep diri manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Orang lain
Rakhmat (2005:100) mengutip pernyataan Gabriel Marcel mengenai peranan orang lain dalam memahami diri kita, "Kita mengenal diri kita dongan mengenal orang lain /ebih dahu/u ". Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya.
Harry Stack Sullivan menjelaskan bahwa jika kita di terima orang lain, di hormati, dan di senangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersil<ap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak akan menyenangi diri kita (dalam Rakhmat,2005:101 ).
b. Kelompok rujukan
Rini (2000:2) turut mengemukakan faktor-faktor yang ikut mempengaruhi konsep diri, yaitu :
a. Pola asuh orang tua
Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran ynng positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya 1.idak cukup berharga untuk di kasihi, untuk di sayangi dan di hargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidal< sayang.
b. Kegagalan
Kegagalan yang terus menerus di alami seringkali menimbulkan
pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa 3emua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.
c. Depresi
d. Kritik internal
Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita di terima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.
Selain itu, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan konsep diri seperti yang di kemukakan oleh Hurlock (1980:235) adalah :
1 . Usia kematangan
1. Penampilan diri
2. Kepatutan seks
3. Nama julukan
4. Hubungan keluarga
5. Teman-teman sebaya
6. Kreativitas
7. Cita-cita.
2.1.3. Dimensi-dimensi Konsep Diri
Konsep diri memiliki bagian-bagian atau dimensi-dimensi yang saling
berinteraksi dan membentuk suatu kesatuan yang utuh, sehingga kita dapat mengatakannya sebagai konsep diri.
Fitts (1971) mengemukakan bahwa aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (Frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Fitts mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri (dalam Agustiani, 2006:138).
Fitts (dalam Agustiani,2006:139) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu sebagai berikut :
1. Dimensi Internal
yang di lakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasa1·kan dunia di dalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk :
a. Diri identitas (identity self)
Bagian diri ini mengacu pada pertanyaan, "Siapakah saya?" dalam pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang di berikan pada diri (self) oleh individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya, misalnya "Saya Ila".
b. Diri pelaku (beliavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingl<ah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai "Apa yang dilakukan oleh diri".
c. Diri penerimaan/penilai (judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan
evaluator. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri identitas dan diri pelaku. Diri penilai menentukan kepuasan
seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya.
2. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan
aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Fitts membedakannya dalam lima bentuk, yaitu :
a. Diri fisik (physical self)
Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, kurus).
b. Diri etik-moral (moral-ethical self)
Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya di lihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut
persepsi seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-nilai moral yang di pegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.
c. Diri pribadi (personal self)
individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.
d. Diri keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasa adekuat terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang di jalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.
e. Diri sosial (social self)
Bagian ini merupakan penilaian individunya terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa dimensi-dimensi yang membentuk konsep diri secara garis besar dibagi menjadi dimensi internal dan eksternal. Dimensi internal meliputi aspek-aspek diri pribadi, sedan£1kan dimensi
2.1.4. Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif
Konsep diri seseorang akan selalu menjadi acuan dalam bertingkah laku. Kualitas konsep diri terbagi menjadi konsep diri positif dan konsep diri negatif. Perbedaan kualitas konsep diri ini akan menjadi penentu dalam keberhasilan seseorang bertingkah laku. Rogers (dalam Santrock,200!i:491) mengatakan bahwa:
Self concept plays an important role in personality because it influences
our behaviors, feelings, and thoughts. For example, if you have a positive
self-concept, you will tend to act, communicate, feel and think
optimistically and constructively; if you have a negative self concept, you
wi!I tend to act, feel, and think pessimistically and destructively.
(Konsep diri memiliki peran yang penting dalam kepribadian karena dapat mempengaruhi tingkah laku, perasaan dan pikiran kita. Misalnya, apabila anda memiliki konsep diri yang positif, anda akan berperilaku, berkomunikasi dan berpikir secara optimis dan membangun. Apabila anda memiliki konsep diri yang negatif, anda akan berperilaku, merasakan dan berpikir secara pesimis dan merusak).
1. la peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang di
terimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi seringkali di persepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. 2. Orang yang memiliki konsep diri negatif, responsif sekali terhadap
pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. 3. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, mereka pun
bersikap hiperkritis terhadap orang lain. ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apa pun dan siapa pun.
4. Orang yang konsep dirinya negatif, cenderung merasa tidak di senangi orang lain. ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidal< dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan.
5. Orang yang konsep dirinya negatif, bersikap pesirnis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.
Sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri positif ditanclai dengan lima hal :
1. la yakin akan kemampuannya mengatasi masalah;
3. la menerima pujian tanpa rasa malu;
4. la menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya di setujui masyarakat;
5. la mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak di senanginya dan berusaha mengubahnya.
Sependapat dengan Brooks dan Emmert, Rini (2002:2) rnengatakan bahwa seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa clirinya lemah, ticlak berclaya, ticlak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gaga!, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya.
D.E Hamachek (Rakhmat,2005:106) menyebutkan 11 karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif :
1. la sangat menyakini nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu yang di anut serta bersedia mempertahankannya walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila ー・ョセゥ。ャ。ュ。ョ@ dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
2. la mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa menyesali tindakannya jika ada orang lain tidak setuju.
3. la tidak menghabiskc:n waktu hanya untuk mencemaskan apa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang dan masa depan.
4. la yakin pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, atau saat mengalami kegagalan.
5. la merasa sama dengan orang lain, tidak tinggi atau rendah meskipun terdapat banyak perbedaan.
6. la tahu dan yakin bahwa dirinya bermanfaat bagi orang lain.
7. la menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, karena tahu bahwa ia telah memberikan yang terbaik.
9. la dapat mengakui segala yang sedang ia rasakan baik susah maupun senang kepada oran9 !ain.
10. la mampu menikmati dirinya secara utuh dalam melakukan kegiatannya.
11. la peka pada kebutuhan orang lain dan tidak akan bersenang-senang di atas penderitaan mereka.
Sedangkan orang yang memiliki konsep diri negatif adalah kebalikan dari ciri-ciri konsep diri positif diatas.
2.1.5. Konsep Diri dalam pandangan Islam
Allah SWT berfirman :
"Bertakwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu." (QS. At-Taghabun:16)
Nabi Muhammad juga SAW bersabda :
"Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan
dirinya."
Dengan mengetahui kadar kemampuan diri sendiri, kita bisa memposisikan diri secara tepat dalarn berbagai situasi kehidupan. Kesalahan orang dalam bergaul adalah karena ketidakmampuan dalam memposisikan dirinya dalam kehidupan sosial.
Artinya konsep diri akan membantu kita dalam memposisikan diri dalam kehidupan sosial. Konsep diri juga membantu kita untuk bersifat tawadhu. Tawadhu berarti kemampuan memposisikan diri sewajarnya. Konsep diri juga merupakan salah satu langkah untuk menyerap Islam ke clalam diri.
Ada 3 langkah dalam memahami diri menurut Islam, yaitu : a. Memiliki konsep diri yang jelas.
b. Memahami Islam sebagai pengisi wadah tersebut.
c. Melakukan pengadaptasian antara konsep diri dengan konsep Islam.
mengetahui tujuan hidup; mengetahui diri sendiri berarti mengantar bagaimana sampai ke tujuan (Fahruroji, 2005:2).
2.2. Perilaku Merokok
2.2.1. Sejarah Rokok
Danusantoso (1990:3) mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat yang diketahui sebagai yang pertama kali menghisap tembakau yang dibakar (melalui pipa) adaiah bangsa Indian dari Amerika S.erikat. Menurut mereka merokok memberikan semangat dan kekuatan yang tidak di ketahui
sumbernya. Merokok kemudian di gunakan dalam pergaulan sehari-hari sampai akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang menyebar keberbagai pelosok dunia.
Mengingat bahwa menghisap pipa itu tidak begitu praktis, maka dicarilah hal yang lebih praktis untuk menghisap tembakau yaitu dengan cara
2.2.2. Definisi Merokok
Merokok adalah suatu tindakan menghisap rokok untuk mencapai
kenikmatan, mula-mula di lakukan secara sadar dan lambat laun secara tidak sadar sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang meningkat. (Kisyanto & Mansjoer, 1984:8)
Dalam kamus The World Book Encyclopedia (dalam Marselino,2003:22) definisi smoking (merokok) adalah :
"the drawing of tobacco smoke from a cigarette, a cigar, or a pipe into the
mouth-and often into the lungs-and puffing it out".
Dari definisi tersebut terlihat ada proses menghisap tembakau dari rokok atau pipa yang di masukkan ke dalam mulut hingga masuk ke dalam tubuh dan membuangnya keluar.
Sitepoe (dalam Marselino 2003:22) juga berpendapat sama, merokok adalah membakar tembakau yang kemudian di hisap asapnya, baik menggunakan rokok matipun pipa.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa merokol< adalah proses memasukkan asap l<edalam tubuh dan membahayal<an bagi jiwa manusia.
2.2.3. Bahaya Merokok
Akibat perilaku merokok banyak faktor-faktor yang merugikan baik dari segi kesehatan, ekonomi, dan sosial.
1. Dari segi kesehatan : Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia yang berbahaya dan setidal<nya 200 di antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Asap rokok terdiri dari 3 komponen utama, yaitu nikotin, gas karbon monoksida (CO), dan tar.
a. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan
peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu yang rnematikan.
b. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.
c. Karban monoksida adalah zat yang mengikat haemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
2. Dipandang dari segi ekonomis, perilaku merokok merupakan
pemborosan. Sedangkan dari segi sosial, menurut Kardinah (dalam Kristanda, 1995:26) asap rokok dapat mencemari udara di sekitar perokok. Asap rokok yang di hembuskan oleh perokok, mengandung komponen kimia lebih tinggi daripada asap yang di hisap oleh
perokoknya sendiri. perilaku merokok dapat mengganggu dan merugikan orang lain sedang asapnya dapat membahayakan kesehatan orang yang berada di sekitarnya.
2.2.4. Zat-Zat Kimia yang Terkandung dalam Rokok
Danusantoso (1991 :9) menjelaskan tentang kandungan bahan kimia pada rokok, antara lain :
1. Aero/in, merupakan zat cair yang tidak berwarna seperti aldehyde. 2. Karban Monoksida, sejenis gas yang tidak berbau yang dihasilkan
oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang/karbon.
3. Nikotin, cairan yang berminyak dan tidal< berwarna. Nikotin menghalangi kontraksi rasa lapar, itu sebabnya S<3seorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok.
5. Formic Acid, cairan yang tidak berwarna, baunya sangat menusuk. 6. Hydrogen Cyanide, seje11is gas tidak berbau dan tidak mempunyai
rasa.
7. Nitrous Oxide, sejenis gas tidak berwarna, bila dihisap dapat mengakibatkan rasa sakit.
8. Formaldehyde, gas berwarna dengan bau yang sangat tajam.
9. Phenol, campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organik, seperti kayu dan arang.
10.Acetol, di hasilkan dari pemanasan aldehyde, mudah menguap dengan alkohol.
11. Pyridine, cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam, terdapat pada tembakau.
12. Hydrogen Sulfide, gas beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras yang menghalangi oksidasi enzim.
13. Methyl Chloride, campuran dari zat-zat bervalensa satu, mudah terbakar, merupakan campuran organis yang beracun.
14. Methanol, cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar, di peroleh dari penyulingan bahan kayu.
2.2.5. Tahapan Merokok
Tahapan seseorang menjadi perokok tetap menurut Lave11thal
&
Cleary (dalam Ardiningtyas,2006:1):1. Persiapan : sebelum seseorang mencoba rokok, melibatkan
perkembangan perilaku dan intensi tentang merokok dan bayangan tentang seperti apa rokok itu.
2. lnisiasi (initiation) : reaksi tubuh saat seseorang mencoba rokok pertama kali berupa batui<, berkeringat.
3. Menjadi perokok: melibatkan suatu proses 'concept formation', seseorang belajar kapan dan bagaimana merokok dan memasukkan aturan-aturan perokok ke dalam konsep dirinya.
4. Perokok tetap : terjadi saat faktor psikologi dan mekanisme biologis bergabung yang semakin mendorong perilaku merokok.
karena jika seseorang telah mengalami kecanduan akan jauh lebih sulit untuk menghentikan kebiasaan perilaku merokok.
2.2.6. Tipe-tipe perilaku merokok
Menurut Tomkins (dalam Ardiningtyas,2006:4) mengatakan bahwa ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theo1y, di antaranya adalah:
1. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif (Positive affect smokers) adalah orang yang merokok untuk memperoleh perasaan positif dimana dengan merokok seseorang merasakan adanya penambahan perasaan yang bersifat positif misalnya untuk mendapatkan rasa nyaman dan untuk membentuk image-image yang di inginkan. 1\da 3 sub tipe ini : a. Pleasure Relaxation, yaitu perilaku merokok hanya untuk menambah
atau meningkatkan kenikmatan yang sudah di dapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
b. Stimulation to pick them up, yaitu perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
c. Pleasure of handling cigarette, yaitu kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Perokok lebih senang berlama-lama untuk
2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif (Negative affect smokers), yaitu orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi
perasaan yang kurang menyenangkan. Misalnya kead<rnn cemas/marah. 3. Perilaku merokok yang adiktif (Addictive smokers), yaitu seseorang yang
sudah tergantung pada rokok akan cenderung terus menambah dosis rokok yang akan digunakan setiap saat setelah efek rokok yang telah di hisapnya hilang.
4. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan (Pure habits smokers),
yaitu dalam hal ini perilaku merokok sudah menjadi l<ebiasaan dalam individu, merokok sudah menjacli kebiasaan/perilaku yang bersifat otomatis cli lakukan tanpa kesadaran.
2.2.7. Merokok Dalam Pandangan Islam
Para ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang perilaku merokok. Penggunaan tembakau dalarn bentuk rokok boleh dijaclikan salah satu contoh perkara samar dimana tidak clitemui nash yan9 khas menetapkan hukumnya. Hadits Rasulullah SAW :
"halal itu jelas, haram itu pun jelas, dan antara keduanya ada beberapa
perkara yang syubhat (samar) yang banyak dari manusia tidak
mengetahuinya. Maka barangsiapa memelihara dirinya dari segala
Dan barangsiapa jatuh kedalam perkara kesamaran jatuhlah ia kedalam
haram."(H.R. Muslim)
Menurut Rizki (2006:7), ulama-ulama yang mengharamkan rokok beralasan bahwa merokok itu dapat membuat ketagihan (iskar) dan terdapat racun didalamnya. Al Quran menyatakan :
"dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik dan diharamkan alas mereka
apa-apa yang buruk (kotoran)."
Rasulullah juga melarang setiap yang memabukkan dan melemahkan, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud dari Ummu Salamah ra, berkata :
"Rasu/ul/ah SAW melarang setiap yang memabukkan dan melemahkan."
Jadi dapat di simpulkan bahwa dalam Islam, merokok itu hukumnya haram karena rokok termasuk perkara yang samar dan di dalam rokok banyak terdapat racun yang dapat merusak tubuh manusia.
2.3. Remaja Awai
2.3.1. Definisi Remaja
,
merasa di bawah tingl<at orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama.
Menurut Agustiani (2006:28) remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu
mengalami banyak perubahan, baik fisik maupun psikis.
WHO dalam Sarlito (2005:9) memberikan definisi tentang remaja
berdasarkan 3 kriteria, yaitu biologis, psikologis dan sosial ekonomi. Remaja adalah suatu masa ketika :
1. lndividu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai sacit ia mencapai kematangan seksual. 2. lndividu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan
2.3.2. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Santrock (2003:15), ada/ah:
1. Mampu menerima keadaan fisiknya, karena pada masa ini terjadi perubahan tubuh dan seksua/ yang cepat.
2. Memperlihatkan minat yang semakin besar pada citra tubuhnya.
3. Mampu membina hubungan bail< dengan an9gota kelompok yan9 berlainan jenis.
4. Mencapai kemandirian emosional.
5. Mengemba119ka11 peri/aku tang9un9 jawab sosial yang di perlukan untuk memasuki usia dewasa.
2.3.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi remajn merokok
Menurut Sarafino (dalam Marselino,2003:29), ada faktor-faktor psikososial sebagai penguat yan9 menyebabkan remaja merokok, yaitu :
1 . Modelling
mungkin ditiru oleh remaja. Keputusan untuk mencoba sendiri sangat disokong oleh perilaku mrn::el yang mudah diimitasi oleh remaja.
2. Peer pressure
Peer pressure adalah tekanan-tekanan yang datang dari teman-teman sebaya. Biasanya bagi remaja diterima dalam kelompok merupakan penghargaan. Untuk masuk menjadi anggota kelompok kadang-kadang harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan kelompok. Di kalangan remaja, rokok di jadikan sebagai instrumen pergaulan, jika ajakan teman yang memberikan rokok ditolak dan diartikan sebagai bentuk penolakan, karena itu mereka di juluki "katro, kuper, banci,dsb.
3. Smokers image
Diasosiasikan dapat memberi daya tarik/ketertarikan antara lawan jenis, terlihat matang, glamour, dewasa, gagah dan menggairahkan. Kesan -kesan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi remaja sehingga mereka ingin mencoba sekalipun pada awalnya menderita batuk-batuk den bisa mencapai tahap regular smoking.
4. Personal characteristics
2.4. Kerangka Berpikir
Masalah remaja me ·upakan periode yang paling penting dan rawan dalam masa perkembangan manusia. Gejolak remaja yang bergelora selalu membangkitkan rasa keingintahuannya terhadap sesuatu hal tentang dirinya dan lingkungannya.
Salah satunya adalah perilaku merokok, perilaku merokok di kalangan remaja meningkat drastis dari waktu ke waktu, perbedaan terjadi apabila banyak remaja yang melakukan perilaku merokok dan sebaliknya, ada juga remaja yang tidak berperilaku merokok. Apakah yang membedakan hal tersebut? Bisa jadi karena adanya konsep diri yang berbeda clari masing-masing incliviclu.
Gambar 2.1
Diagram Kerangka Berpikir
Positif Rend ah
Konsep Diri Perilaku Merokok
Dimensi internal : 1. Dipengaruhi perasaan
1. Identity self positif
2. Behavioral self a. Pleasure relaxation
lEMAJA 3. Judging self b. Stimulation to pick
AWAL
Dimensi eksternal : them up
1. Physical self c. Pleasure of
2. Mnral-etl1ical self handling cigarette
3. Personal self 2. Dipengaruhi perasaan
4. Family self negatif
5. Social self 3. Adiktif
4. l<et>iasaan
Negatif
2.5. Hipotesis
Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini :
Hipotesis alternatif (Ha)
=
ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku merokok remaja.BAB 3
METODE PENELITIAN
Dalam bab ini, akan dijelaskan tentang pendekatan, metode, populasi, teknik sampling, instrumen, dan tahapan-tahapan yang akan digunakan dalam penelitian ini.
3.1. Jenis
Penelit1an
3.1.1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang informasinya atau data-datanya dikelola dengan statistik. Pada umumnya penelitian kuantitatif banyak dituntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data,
penafsiran, serta dari hasil penelitiannya (Arikunto, 2002:10).
3.1.2. Metode Penelititan
penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Pengukuran dengan metode korelasi ini digunakan untuk menentukan besarnya arah hubungan antara satu variabel dengan variabel lain.
3.2. Definisi konseptual dan operasional variabel
3.2.1. Definisi konseptual variabel
Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi obyek penelitian (Arikunto,2002:104 ). Variabel dibagi alas dua macam, yaitu : independent variable (variabel be bas) dan dependent variable (variabel terikat). Variabel bebas adalah variabel yang dipandang sebagai sebab kemunculan,
sedangkan variabel terikat adalah konsekuensi atau yang dipandang sebagai akibatnya. Dalam penelitian ini :
Variabel bebas (independent variable)= konsep diri Variabel terikat (dependent variable)= perilaku merokok
3.2.2. Definisi Operasional Variabel
1. Konsep Diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya,yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang di peroleh dari interaksi dengan lingkungan. Mengacu pada teori Fitts (1971) yang membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu : dimensi internal yang terdiri dari tiga bentuk, yaitu identity self, behavioral self, judging self. Sedangkan dimensi eksternal yang terdiri alas lima bentuk, yaitu physical self, moral-ethical self,
personal self, family self, social self.
2. Perilaku Merokok adalah suatu tindakan menghisap rokok untuk mencapai kenikmatan, mulai di lakukan secara sadar dan lambat laun secara tidak sadar sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang meningkat. Mengacu pada Tomkins (1992) yang membagi 4 tipe perilaku merokok, yaitu Positive affect smokers:, Negative affect smokers, Addictive smokers, Pure habits srnokers.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
3.3.2. Sampel
Ferguson (dalam Sevilla, 1993:160), menyatakan bahwa sampel adalah beberapa bagian kecil atau cuplikan yang di tarik dari populasi atau porsi dari suatu populasi.
Subyek yang menjadi responden penelitian ini adalah mereka yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Santri di pondok pesantren Riyadlul Jannah. 2. Jenis kelamin laki-laki.
3. Remaja awal, usia 12-15 tahun.
3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penel.itian ini
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode skala, yaitu metode pengumpulan data yang
berisi pernyataan atau pertanyaan yang disusun dan disebarkan secara tertulis kepada subyek berupa angket, dengan tujuan untuk mengarahkan jawaban responden kepada pembahasan masalah dan mempermudah
analisis hasil penelitian. Angket pengumpulan data menggunakan skala Likert yang merupal<an metode pensl<alaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan skalanya. Skala ini dibuat oleh peneliti sendiri dimana penulisan dan penyusunan item dengan
menggunakan 2 instrumen sebagai alat pengumpulan data, yaitu : 1. Skala konsep diri, didasarkan pada dimensi-dimensi konsep diri
[image:59.595.30.460.127.713.2](Fitts, 1971) sebagai berikut:
Tabel 3.1
Blue Print Skala Konsep Diri
Di men si konsep diri Item Jurnlah
Favorable unfavorable
Dimensi inter nal Identity self 1, 3, 5, 7 2,4,6,8,9 9
Behavioral self 10, 12, 14, 11, '.13, 15, 14 16, 18, 20, 17, '19, 21,
22 23
-
-Judging self 24, 26, 28, 25, 27, 29, 8
2. Dimensi eksternal Physical self 32, 34, 36, 32., 35, 37' 9
38 39,40
- ·
.
Moral-ethical self 41, 43, 45, 42, 44, 46, 13 47,50,52 48, 49, 51,
52,
Personal self 54, 56,58 55, 57, 59 6
-Family self 60, 62, 64, 61, 63, 65, 10 66, 68 67,69
-Social self 70, 72, 74, 71, 73, 75, 8
76 77
jumlah 37 40 77
2. Skala perilaku merokok (Tomkins,1992) sebagai berikut:
[image:60.595.19.473.94.667.2]Tabel 3.2
Blue Print Skala Perilaxu Merol<ol<
·
-No. Tipe perilal<u merol<ol< item Jumlah
Favorable unfavorable
1. Positive affer;t Pleasure 1, 3, 4, 6 2,5 6
smokers relaxation
Stimulation to 7, 9, 10, 8, 13, 15 9
pick them up 11,12,14
Pleasure of 16, 18, 19 17,20 5
handling the ciqarette
2. Negative affect 21, 23, 25, 22,24 6
smokers 26
3. Addictive 27,29, 31 28,30,32 6
smokers
4. Pure habits 33, 35, 37, 34, 36, 38, 8
smokers 39 40
Jumlah 24 16 40
-Kedua skala ini menggunakan bentuk skala model Likert dengan variasi jawaban sebanyak 4 kategori jawaban dan masing-masing kategori memiliki nilai tertentu, baik untuk pernyataan favorable maupun unfavorable. Setiap orang dapat mempunyai jawaban yang berbeda dan tidak ada jawaban yang di anggap salah. Adapun pilihan jawaban yang tersedia yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Empat alternatif jawaban tersebut dipilih karena peneliti hendak menghilangkan angka netral atau mengurangi pengaruh "kecanderungan sentral" dan
mendorong responden untuk memutuskan sendiri apakah positif atau negatif. (Sevilla, 1993:226)
Adapun cara penilaian untuk pernyataan yang favorable dan unfavor:tble adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3
Skor kategori jawaban
Respon SS
s
TS
s
Favorable 4
3
2Unfavorable 1 2
3
3.4.1. Teknik uji instrumen (try out)
[image:61.595.38.456.170.529.2]Pesantren Riyadlul Jannah dalam usia dan tugas perkembangannya. Tujuan dari pelaksanaan inslrumen ini adalah :
1. Mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan responden dalam menyelesaikan pengisian instrumen.
2. Mengetahui pemahaman responden terhadap pernyataan atau item-item yang diberikan.
3. Mengetahui validitas instrumen.
4. Menghindari atau menghilangkan pernyataan yang kurang jelas maknanya.
5. Mengetahui tingkat reliabilitas instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat reliabilitas skala tersebut.
3.5. Teknik Uji lnstrumen Penelitian
3.5.1 Uji Validitas Skala
Validitas sebuah tes menyangkut apa yang di ukur tes dan seberapa baik tes itu dapat mengukur (Anastasi dan Urbina,2003:105). Perhitungan ini
dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor setiap item skor total dengan menggunakan rumus Korelasi Product Moment dari Pearson, yaitu :
).
-rxy = Koefisien korelasi variabel X dengan variabel Y 2:xy
=
Jumlah hasil perkalian skor X dan skor Y2:x = Jumlah nilai tiap butir
LY
= Jumlah nilai skor totalN
=
Jumlah subyek penelitianBerdasarkan uji instrumen validitas dengan teknik korelasi Product Moment
pada skala Konsep diri terhadap 30 orang santri Pondok Pesantren Al Matiin, dari 77 item yang diujicobakan terdapat 55 item yang gugur atau tidak valid. Banyaknya item yang gugur ini dikarenakan pernyataan yang kurang jelas atau kurang dipahami oleh responden. Sedangkan item yang valid atau yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya sebanyak 22 item.
Tabel 3.4
Hasil uji insffumen item yang valid (*) dari 'skala Konsep Diri
Dimensi konsep diri item Jumlah
Favorable unfavorable
セᄋ@ Dimensi internal Identity self 1, 3, 5, 7 2,4,6,8,9 9
Behavioral self 10*, 12*, 11*, 13, 15, 14
14, 16*, 17*, 19, 21*,
18,20,22* 23*
f-·
Judging self 24, 26, 28, 25, 27, 29*, 8
[image:63.595.33.449.101.587.2]Dimensi eksternal Physical self 32, 34, 36, 33, 2.5, 37*, 9
38 39*, 40
セᄋ@
Moral-ethical self 41,43,45, 42, 44*, 46, 13
47*, 50, 52 48*, 49, 51,
53
Personal self 54*, 56*, 55*, 57, 59 6 58
Family self 60, 62, 64, 61, 63, 65*, 10 66,68 67*, 69
- ·
Social self 70, 72*, 7·1, 73, 75, 8
74, 76 77*
jumlah 37 40 77
Tabel 3.5
Blue Print Skala Konsep Diri pasca Uji lnstrumen
-0. Dimensi konsep diri Item Jumlah
Favorable unfavorable
-I. Dimensi internal ldentitv self
-
-
0-Behavioral self 10, 12, 16, 11,17,21,
8
22 23
Judqinq self
-
29, :31 2セN@ Dimensi eksternal Physical self
-
37,39 2Moral-ethical self 47 44, 48 3
Personal self 54, 56 55 3
Family self
-
'65, 67 2Social self 72 77 2
[image:64.595.22.463.99.674.2]Sedangkan untuk uji instrumen validitas dengan teknik korelasi Product Moment pada skala Perilaku Merokok terhadap 30 orang santri Pondok Pesantren Al Matiin, dari 40 item yang diujicobakan terdapat 10 item yang gugur atau tidak valid. Banyaknya item yang gugur ini dikarenakan
pernyataan yang kurang jelas atau kurang dipahami oleh responden. Sedangkan item yang valid atau yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya sebanyak 30 item.
Tabel 3.6
Hasil uji instrumen item yang valid (*) dari skala Perilaku Merokok
·
-). Tipe perilaku merokok Item Jumlah
Favorable unfavorable
-
-Positive affect Pleasure 1*,3*,4*, 2*, 5 6
smokers relaxation 6*
Stimulation to 7*, 9*, 10*, 8, 13, 15 9 pick them up 11*, 12*,
14
Pleasure of 16*, 18*, 17, 20* 5
handling the 19*
ciqarette
Negative affect 21*, 23*, 22,2:4*
6
smokers 25*, 26*
---Addictive 27*, 29*, 28, 3:0*, 32 6
smokers 31*
- - -
--Pure habits 33*, 35*, 34*, 36*, 38, 8
smokers 37*, 39* 40*
[image:65.595.23.463.187.608.2]Tabel 3.7
Blue Print Skala Perilaku Merokok pasca Uji lnstrumen
0. Tipe perilaku merokok Item Jumlah
Favorable Unfavorable
I. Positive affect Pleasure 1, 3, 4, 6 2 5
smokers relaxation
Stimulation to 7, 9, 10,
-
5pick them up 11, 12
Pleasure of 16, 18, 19 20 4
handling the ___<dQarette
2.
Negative affect 21, 23, 25, 24 5smokers 26
3.
Addictive 27,29, 31 30 4smokers
t Pure habits 33, 35, 37, 34,36,40 7
smokers 39
Jumlah 23 7 30
3.S.2. Uji Reliabilitas Skala
[image:66.595.21.466.137.487.2]Dalam penelitian ini untuk menguji reliabililas rumus yang digunakan adalah
Alpha Cronbach dengan leknik komputer program SPSS versi 11,5 for windows. Data ini diperoleh dari satu kali pengujian. Dengan cara ini permasalahan yang muncul pada pendekatan tes ulang dapat dihindari (Azwar,2003), dengan rumus sebagai berikut:
u =
[-k ]
[i -
2:Sj,']
k -1 Sx
-Keterangan :
a
=
Reliabililas instrumen k=
Jumlah belahan tesSj 2
=
Jumlah varians dari skor item Sx 2=
Jumlah varians dari skor lesTabel 3.8
Kaidah Reliabilitas Guilford
Koefisien Kriteria
< 0,2 Tidak Reliabel 0,2- 0,4 Kurang Reliabel 0,4-0,7 Cukup Reliabel
0,7 -0,9 Reliabel
> 0,9 Sanaat Reliabel
3.5.2 Teknik Analisis Data
Dalam penelilian ini teknik korelasi yang digunakan adalah Contingency coefficient C (koefisien kontingensi). lni digunakan karena variabel yang dikorelasikan berbenluk kategori (gejala ordinal) (Suharsimi. 2002:73). C atau
Contingency sangat erat hubungannya dengan Chi-kuadrat dan dihitung dengan label kontingensi.
Hasil penelitian dihitung dengan menggunakan sistem kompulerisasi SPSS versi 11,5. Hasil penelilian akan di inlerpretasikan dengan menunjuk pada label Chi-Square, dan mengacu pada kelompok signifikan sebesar 5%. Jika chi-square hilung > dari chi-square label, maka korelasi dianggap lidak signifikan alau Ho dilolak dan Ha diterima. Namun, jika Chi-square hitung <
[image:68.595.26.441.119.467.2]3.6.
Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba merencanakan langkah-langkah yang diharapkan dapat menunjang kelancaran penelitian, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dimulai dengan perumusan masalah, menentukan variabel penelitian, melakukan studi kepustakaan untuk
mendapatkan gambaran dan landasan teoritis yang tepat.
Menentukan, menyusun, dan menyiapkan alat ukur yang akan di gunakan dalam penelitian ini yaitu skala konsep diri dan skala perilaku merokok. Menentukan lokasi dan menyelesaikan administrasi perizinan.
2. Pengujian alat ukur (try out)
Pengujian alat ukur ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana item-item pernyataan yang telah dibuat dapat meng9ali dan mewakili data-data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Try out di
responden usia 12-15 tahun. Kemudian data 、ゥィゥエオョセQ@ untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari instrumen tersebut. 3. Pelaksanaan penelitian
Setelah melakukan proses persiapan penelitian, dan kedua alat ukur memenuhi standar validitas, maka skala tersebut disebarkan sesuai dengan responden penelitian. Yaitu santri Pondok Pesantren SMP Riyadlul Jannah, Ciseeng Bogor usia 12-15 tahun.
4. Pengolahan data dan penulisan laporan
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan SPSS versi 11,5 for windows. Peneliti melakukan skoring untuk setiap skala yang didapat, kemudian di lakukan uji asum$i statistik yaitu dengan menggunakan uji normalitas. Lalu di buatlah hipotesis atau
BAB4
PRESENTASI DAN ANALISIS DATA
4.1. Gambaran Umum Responden
Gambaran umum responden dalam penelitian ini akan diuraikan secara rinci di bawah ini berdasarkan usia, perilaku merokok, serta banyaknya rof:ok yang di konsumsi perhari. Subyek dalam penelitian ini adalah 66 santri SMP Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Ciseeng-Bogor.
[image:71.595.34.453.119.591.2]Tabel 4.1
Gambaran umum responden berdasarkan usia
usia Frekuensi Presentase (%)
12 tahun 12 orana 18, 19%
13 tahun 29 orang 43,93%
-14 tahun 21 orana 31,82%
15 tahun 4 orana 6,06%
Total 66 orana 100%
berusia 14 tahun, 18, 19% responden berusia 12 tahun dan 6,06% responden berusia 15 tahun.
Tabel 4.2
Gambaran umum responden berdasarkan perilaku merokok
Data Frekuensi Presentase (%)
Merokok 18 oranq 27,27%
Tidak merokok 48 oraf'!.9_ 72,73%
·-.
Total . 66 oranq 100%
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini berdasarkan perilaku merokok, diperoleh 72,73% re