• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Gambaran Umum Provinsi NTT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB IV Gambaran Umum Provinsi NTT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang

memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Provinsi NTT sebelumnya lazim disebut dengan “Flobamora” (Flores,

Sumba, Timor dan Alor). Sebelum kemerdekaan RI, Flobamora bersama Kepulauan Bali, Lombok dan Sumbawa disebut Kepulauan Sunda Kecil. Namun setelah proklamasi kemerdekaan beralih nama menjadi “Kepulauan Nusa

Tenggara”, sampai dengan tahun 1957 Kepulauan Nusa Tenggara merupakan daerah Swatantra Tingkat I (statusnya sama dengan Provinsi sekarang ini).

Selanjutnya tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 tahun 1958 Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara dikembangkan menjadi 3 Provinsi yaitu Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara

Timur. Dengan demikian Provinsi Nusa Tenggara Timur keberadaannya adalah sejak tahun 1958 sampai sekarang.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 2008 tanggal 31 Januari 2008, luas daerah Provinsi NTT adalah 48.718,10 kilometer persegi atau sebesar 2,55 persen dari total luas daerah wilayah Indonesia (BPS, 2009).

Provinsi NTT terletak antara 80-1200 Lintang Selatan dan 1180-1250 Bujur Timur dan memiliki 1.192 pulau (42 pulau dihuni dan 1.150 pulau tidak dihuni).

(2)

Memiliki sebanyak 40 sungai dengan panjang antara 25-118 kilometer (BPS, 2010). Sebagai bagian dari negara maritim, Provinsi NTT dikelilingi oleh perairan

maupun daratan. Provinsi NTT di sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelah barat berbatasan dengan pulau Sumbawa dan Provinsi NTB, dan di sebelah timur berbatasan

dengan negara Timor Leste.

Secara administratif, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6

Tahun 2008, Provinsi NTT terdiri dari 20 kabupaten, 1 kota, 254 kecamatan, 297 kelurahan dan 2.387 desa.

4.2 Keadaan Ekonomi dan Sosial Provinsi NTT 4.2.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam melihat kondisi perekonomian suatu daerah di Provinsi NTT. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2000 menggambarkan pertumbuhan nilai produksi

wilayah kabupaten/kota secara riil yakni tanpa dipengaruhi komponen harga atau tanpa dipengaruhi nilai inflasi yang dihitung berdasarkan harga tahun dasar yaitu

tahun 2000.

Total PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2000 menurut kabupaten/kota di Provinsi NTT menunjukkan peningkatan dari tahun 2007

(3)
[image:3.595.103.508.165.709.2]

Tabel 4.1 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2007-2010 (Miliar Rupiah)

Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 2010

1. Sumba Barat 258,72 270,85 284,83 300,69

2. Sumba Timur 613,75 655,13 682,57 715,50

3. Kupang 893,99 931,23 969,88 1.009,56

4. Timor Tengah Selatan 843,14 879,82 915,56 954,25 5. Timor Tengah Utara 416,49 446,62 471,67 498,97

6. Belu 813,19 930,31 974,40 1.022,05

7. Alor 375,48 393,00 409,23 429,13

8. Lembata 134,53 139,37 145,60 152,44

9. Flores Timur 545,45 571,07 590,41 624,82

10. Sikka 742,62 789,83 821,37 858,01

11. Ende 687,85 721,01 757,64 797,81

12. Ngada 344,02 364,56 382,95 403,88

13. Manggarai 512,29 534,94 562,82 595,47

14. Rote Ndao 289,59 315,77 330,54 347,51

15. Manggarai Barat 359,29 381,36 394,79 408,24 16. Sumba Barat Daya 336,00 351,76 369,06 385,17

17. Sumba Tengah 91,97 94,60 97,56 101,20

18. Nagekeo 266,47 280,66 293,95 307,23

19. Manggarai Timur 338,83 350,93 369,28 385,78

20. Sabu Raijua 126,17 128,89 136,32 146,97

21. Kota Kupang 1.860,99 2.000,22 2.122,33 2.296,92 NTT 10.850,85 11.531,95 12.082,77 12.741,62 Sumber: BPS, 2011

Kota Kupang merupakan pusat pemerintahan, bisnis, dan keuangan

memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB Provinsi NTT yaitu dengan PDRB sebesar 2.296,92 miliar rupiah atau dengan kontribusi sebesar 18,03 persen. Sedangkan penyumbang terkecil bagi pembentukan PDRB Provinsi

(4)

Sumba Tengah merupakan kabupaten baru yang berasal dari pemekaran kabupaten Sumba Barat. Adapun yang memiliki kontribusi terbesar kedua adalah

kabupaten Belu (1.022,05 miliar rupiah atau 8,02 persen dari PDRB NTT) dan terbesar ketiga adalah kabupaten Kupang (1.009,56 miliar rupiah atau 7,92 persen dari PDRB NTT) pada tahun 2010.

Jika dilihat dari nilai PDRB kabupaten/kota di Provinsi NTT pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2007 sampai 2009 masih menunjukkan gambaran yang

hampir sama dengan tahun 2010.

4.2.2 PDRB per Kapita

PDRB per kapita menunjukkan kemampuan nyata dari suatu wilayah dalam menghasilkan barang/jasa dan kemakmuran yang diperoleh setiap

penduduk (per kapita). Meskipun PDRB per kapita tidak mampu mencerminkan tingkat pemerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat di suatu wilayah, namun PDRB per kapita tetap merupakan indikator yang cukup penting yang

digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan di wilayah tersebut.

(5)
[image:5.595.102.508.155.598.2]

Tabel 4.2 PDRB per Kapita menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2007-2010 (Juta Rupiah)

Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 2010

1. Sumba Barat 2,35 2,40 2,47 2,55

2. Sumba Timur 2,62 2,74 2,84 2,96

3. Kupang 2,58 2,92 3,03 3,16

4. Timor Tengah Selatan 1,93 1,98 1,96 2,02

5. Timor Tengah Utara 1,92 1,91 1,98 2,06

6. Belu 1,82 2,76 2,82 2,90

7. Alor 2,00 2,03 2,10 2,11

8. Lembata 1,22 1,19 1,21 1,24

9. Flores Timur 2,23 2,41 2,46 2,57

10. Sikka 2,59 2,55 2,62 2,70

11. Ende 2,82 2,67 2,78 2,89

12. Ngada 2,50 2,52 2,59 2,69

13. Manggarai 1,98 1,81 1,86 1,93

14. Rote Ndao 2,53 2,73 2,73 2,75

15. Manggarai Barat 1,72 1,72 1,73 1,75

16. Sumba Barat Daya 1,24 1,22 1,25 1,27

17. Sumba Tengah 1,45 1,49 1,50 1,53

18. Nagekeo 2,06 2,11 2,17 2,22

19. Manggarai Timur 1,23 1,35 1,39 1,42

20. Sabu Raijua 2,32 2,09 1,97 1,92

21. Kota Kupang 5,51 5,46 5,61 5,91

NTT 2,30 2,42 2,48 2,56

Sumber: BPS (diolah), 2011

Pada Tabel 4.2 terlihat bahwa selama periode pengamatan Kota Kupang mempunyai PDRB per kapita tertinggi yakni sebesar 5,91 juta rupiah sekaligus di

atas PDRB per kapita Provinsi NTT sebesar 2,56 juta rupiah, bahkan jauh melampaui PDRB per kapita kabupaten/kota lain di Provinsi NTT. Gambaran ini menunjukkan bahwa Kota Kupang menempati peringkat konsentrasi

(6)

Kondisi ini disebabkan karena kontribusi PDRB di sektor jasa yang cukup signifikan. Sedangkan PDRB per kapita terendah ditunjukkan oleh Kabupaten

Lembata (1,24 juta rupiah) dibandingkan dengan PDRB per kapita Provinsi NTT maupun dengan PDRB per kapita kabupaten/kota lain di Provinsi NTT pada tahun 2010.

4.2.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi

Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan yang dihitung berdasarkan persamaan 3.1 mengalami fluktuasi (Tabel 4.3). Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi NTT relatif

meningkat dari tahun 2007-2010. Hanya saja pada tahun 2009, rata-rata laju pertumbuhan melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Lambatnya laju

pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 dipengaruhi adanya krisis moneter (keuangan) global pada tahun 2008.

Selama periode 2007-2010 rata-rata laju pertumbuhan ekonomi tertinggi

didominasi oleh kota Kupang sebesar 8,19 persen. Sedangkan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi terendah ditempati oleh Kabupaten Kupang sebesar 0,71

(7)

Tabel 4.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2007-2010

Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 2010 Rataan

1. Sumba Barat 7,87 4,69 5,16 5,57 5,82

2. Sumba Timur 4,74 6,74 4,19 4,83 5,12

3. Kupang -9,56 4,16 4,15 4,09 0,71

4. Timor Tengah Selatan 3,86 4,35 4,06 4,23 4,13 5. Timor Tengah Utara 3,02 7,23 5,61 5,79 5,41

6. Belu 5,77 14,40 4,74 4,89 7,45

7. Alor 4,93 4,67 4,13 4,86 4,65

8. Lembata 5,76 3,60 4,47 4,70 4,63

9. Flores Timur 3,49 4,70 3,39 5,83 4,35

10. Sikka 1,91 6,36 3,99 4,46 4,18

11. Ende 2,93 4,82 5,08 5,30 4,53

12. Ngada 5,19 5,97 5,05 5,46 5,42

13. Manggarai 6,91 4,42 5,21 5,80 5,59

14. Rote Ndao 2,00 9,04 4,68 5,14 5,21

15. Manggarai Barat 4,29 6,14 3,52 3,41 4,34

16. Sumba Barat Daya 6,00 4,69 4,92 4,37 4,99

17. Sumba Tengah 6,00 2,86 3,13 3,73 3,93

18. Nagekeo 4,59 5,32 4,74 4,52 4,79

19. Manggarai Timur 1,43 3,57 5,23 4,47 3,67

20. Sabu Raijua 0,01 2,16 5,76 7,82 3,93

21. Kota Kupang 10,96 7,48 6,10 8,23 8,19

Rataan 3,91 5,59 4,63 5,12 4,81

Sumber: BPS (diolah), 2011

Tabel 4.3 juga menunjukkan secara umum bahwa rata-rata laju pertumbuhan ekonomi pada masing-masing kabupaten/kota di Provinsi NTT

(8)

4.2.4 Struktur Ekonomi

Struktur ekonomi dapat dilihat dari peran atau kontribusi dari masing-masing sektor ekonomi. Distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menurut sektor menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam

suatu wilayah domestik. Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian sehingga sangat berpengaruh terhadap

perekonomian suatu daerah. Namun, sektor yang mempunyai kontribusi kecil tidak bisa diabaikan, sebab bisa jadi di masa mendatang sektor tersebut berkembang dan menjadi sektor unggulan di daerah tersebut, seperti yang

disajikan pada persamaan 3.2. Adapun Tabel 4.4 di bawah ini menunjukkan struktur ekonomi yang terdiri dari sembilan sektor, dan untuk penyederhanaan

(9)
[image:9.595.103.498.157.534.2]

Tabel 4.4 Struktur Ekonomi Provinsi NTT Tahun 2007-2010 (persen)

LAPANGAN USAHA 2007 2008 2009 2010

Sektor Primer 41,64 41,73 40,82 39,77

1. Pertanian 40,27 40,39 39,51 38,45

2. Pertambangan dan Penggalian

1,37 1,34 1,31 1,32

Sektor Sekunder 9,20 8,88 8,90 8,93

3. Industri Pengolahan 1,70 1,59 1,55 1,54

4. Listrik, Gas dan Air Bersih

0,44 0,41 0,42 0,42

5. Konstruksi 7,06 6,88 6,93 6,97

Sektor Tersier 49,16 49,39 50,28 51,30

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

15,99 15,70 16,09 16,76

7. Pengangkutan dan Komunikasi

6,22 6,17 6,08 5,78

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

3,90 3,91 3,99 4,07

9. Jasa-Jasa 23,05 23,61 24,12 24,69

TOTAL 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: BPS (diolah), 2011

Pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa selama periode penelitian peranan

sektor primer dan sekunder terhadap PDRB Provinsi NTT cenderung menurun dan peran ini berpindah ke sektor tersier. Tingginya peranan sektor primer khususnya pertanian pada tahap-tahap awal pembangunan, disebabkan karena

usaha-usaha di sektor primer sebagian besar dikerjakan dengan skala-skala kecil atau usaha rakyat dan teknologinya belum berkembang seperti sekarang. Pada saat

(10)

yang tepat karena umumnya sektor pertanian dalam pengelolaannya dapat dengan teknologi yang sederhana dan modal yang relatif kecil.

Berdasarkan komposisi nilai PDRB, dapat diketahui bahwa sektor yang memberikan kontribusi tertinggi dalam pembentukan PDRB Provinsi NTT adalah sektor pertanian (38,45 persen). Kontribusi sektor pertanian mengalami fluktuatif

dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, begitu pula secara absolut PDRB sektor pertanian terus mengalami fluktuatif. Tingginya peran sektor pertanian ini,

didukung oleh beberapa subsektor tanaman bahan makanan yang menjadi unggulan dari masing-masing daerah dalam meningkatkan nilai tambah.

Sektor kedua yang memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan

PDRB Provinsi NTT adalah sektor jasa-jasa (24,69 persen). Sektor ini cenderung meningkat selama kurun waktu 2007-2010. Semakin meningkatnya kontribusi di

sektor ini sebagai akibat dari semakin tingginya aktivitas perekonomian di subsektor pemerintahan umum.

Adapun sektor ketiga yang memberikan kontribusi terbesar bagi

pembentukan PDRB Provinsi NTT adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran (16,76 persen). Sektor ini cenderung meningkat selama kurun waktu 2008-2010.

Semakin meningkatnya kontribusi di sektor ini sebagai akibat dari semakin tingginya aktivitas perekonomian di subsektor perdagangan besar dan eceran.

4.2.5 Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Provinsi NTT dari tahun 2007 sampai dengan 2010

(11)

total penduduk Indonesia) dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki

jumlah penduduk terbanyak (9,42 persen dari total penduduk Provinsi NTT) sedangkan Kabupaten Sumba Tengah adalah kabupaten yang paling sedikit jumlah penduduknya (1,33 persen dari total penduduk Provinsi NTT).

Menurut tingkat kepadatan penduduknya, Kota Kupang tetap menjadi kota terpadat (12.843 jiwa per kilometer persegi) dibandingkan kabupaten/kota lainnya

di Provinsi NTT. Sebaliknya, Kabupaten Sumba Timur merupakan kabupaten dengan kepadatan penduduk paling rendah yaitu sebesar 33 jiwa per kilometer persegi pada tahun 2010.

4.2.6 Keadaan Sosial

Kemiskinan dan kesenjangan merupakan dua masalah dalam konteks pembangunan setiap bangsa. Pengentasan kemiskinan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan tidak dengan sendirinya mengatasi kesenjangan.

Begitu pula sebaliknya, kemerataan kesejahteraan tidak senantiasa serta merta mengentaskan semua orang dari kemiskinan. Masalah kemiskinan muncul karena

(12)
[image:12.595.102.505.123.537.2]

Tabel 4.5 Persentase Penduduk Miskin di Provinsi NTT Tahun 2010

Kabupaten/Kota Persentase Penduduk Miskin Peringkat

1. Sabu Raijua 41,16 1

2. Sumba Tengah 34,05 2

3. Rote Ndao 32,81 3

4. Sumba Timur 32,42 4

5. Sumba Barat 31,73 5

6. Sumba Barat Daya 29,88 6

7. Timor Tengah Selatan 28,71 7

8. Lembata 26,76 8

9. Manggarai Timur 25,94 9

10. Manggarai 22,91 10

11. Timor Tengah Utara 22,73 11

12. Ende 21,65 12

13. Alor 21,17 13

14. Kupang 20,79 14

15. Manggarai Barat 20,40 15

16. Belu 15,48 16

17. Sikka 13,38 17

18. Nagekeo 12,70 18

19. Ngada 12,05 19

20. Kota Kupang 10,57 20

21. Flores Timur 9,61 21

Sumber: BPS (diolah), 2011

Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten penyumbang terbesar penduduk miskin di Provinsi NTT yang menduduki peringkat pertama

dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi NTT, yakni sebesar 41,16 persen penduduknya dikategorikan penduduk miskin. Kondisi ini dimungkinkan karena

(13)

Timur, yakni sebesar 9,61 persen penduduknya dikategorikan penduduk miskin.

[image:13.595.94.516.96.803.2]

Hal ini mengindikasikan adanya pemerataan pembangunan yang dapat dinikmati segenap lapisan masyarakat Kabupaten Flores Timur.

Tabel 4.5 juga menyajikan adanya tingkat kemiskinan yang cukup

signifikan di antara kabupaten/kota di Provinsi NTT dengan rata-rata persentase penduduk miskin sekitar 23 persen. Hal ini mengindikasikan adanya trickle down

effect berjalan lambat atau tingkat pertumbuhan ekonomi tidak sepenuhnya

dirasakan oleh masyarakat lapisan bawah. Oleh karena itu program pengentasan kemiskinan sangat penting, di samping program pemerintah lainnya guna

Gambar

Tabel 4.1 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Kabupaten/Kota
Tabel 4.2 PDRB per Kapita menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT
Tabel 4.4 Struktur Ekonomi Provinsi NTT Tahun 2007-2010 (persen)
Tabel 4.5 Persentase Penduduk Miskin di Provinsi NTT Tahun 2010
+2

Referensi

Dokumen terkait

3. Transportasi udara saat ini sedang menjadi salah satu prioritas pembangunan di provinsi NTT. Sampai saat ini di provinsi NTT terdapat 14 buah bandar udara yang

Dilihat dari tingkat partisipasi sekolah pada tahun 2010, tampak bahwa hampir semua provinsi berhasil dalam menjalankan program pemerintah untuk memberikan pendidikan dasar

2) Penyerapan DOK di Provinsi NTT terjadi kenaikan sebesar 9,89 % jika dibandingkan dengan Bulan Januari 2009. Pada Bulan Januari 2009, penyerapan BLM NTT hanya mencapai Rp.

Selama periode tahun 2003 sampai dengan tahun 2009 rata- rata penduduk miskin di Kabupaten Banjarnegara sebesar 26,06 persen, sedangkan di Kabupaten Purbalingga mencapai

Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat adalah sebesar 7,33%, lebih cepat bila dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai 6,95%. Selama kurun waktu 8

Sektor-sektor ekonomi yang memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan PDRB di Kota Dumai dengan migas tahun 2007-2010 secara berturut-turut antara lain sektor

Rata-rata jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor konstruksi pada tahun 2010 sampai 2014 adalah sebesar 34,92 % dari total angkatan kerja di Provinsi Jawa Timur. Besar

Untuk Kabupaten Bengkulu Utara dari Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009, jenjang pendidikan dasar sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.40 sebagai berikut.