• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uzur Jadzab Abu Abbas Zarruq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uzur Jadzab Abu Abbas Zarruq"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

UZUR JADZAB MENURUT ABU ABBAS ZARRUQ Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

FATKAN KARIM ATMAJA NIM: 1111043100008

KONSENTRASI PERBANDINGAN MADZHAB FIQIH PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana Sastra Satu (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dengan ketentuan yang berlaku di Unversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(5)

iii

ABSTRAK

Fatkan Karim Atmaja 1111043100008, (Uzur Jadzab Menurut Abu Abbas Zarruq), Jurusan Perbandingan Madzhab Dan Hukum, Konsentrasi Perbandingan Madzhab Fiqih Fakultas Syariah Dan Hukum, Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta.

Abu Abbas Zarruq menyatakan tentang jadzab kekhususan seorang jadzab (majdzûb) kehilangan hal-hal kontrol diri dalam satu keadaan maka menjadikan dia dihukumi majnûn (orang gila) dan gugurlah ungkapan-ungkapan, perbuatan-perbuatannya dalam taklif serta hilanglah ketetapan hukum baginya. Istilah jadzab ini manusia tidak mempunyai kekuatan untuk hal tersebut karena jalan tersebut dikhususkan dan dianugrahkan kepada orang yang Dia kehendaki sebagai kekasih-Nya mencapai derajat yang sangat tinggi.

khawariqul ‘adah itu satu diantara bagian sifat dari majdzûb (pelaku jadzâb) Orang yang belum mengetahui dunia tasawuf, pasti akan sangat asing dengan istilah jadzab. Terkadang, orang awam melihat fenomena ini secara langsung. Biasanya dikenal dengan istilah dan majdzub (pelaku jadzab), sering

orang awam mengatakan,” kiai koyok wong edan”, atau“wah, wong ka’e kakean ilmu (agama), trus durung wayahe ngamalke malah diamalke dadine edan”. Fenomena-fenomena itulah yang disebut dengan jadzab. Namun demikian sebagian besar sufi tersebut tetap mematuhi syariat. Mereka mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang serta melaksanakan apa yang dianjurkan.

Jenis penelitian pada penulis skripsi ini menggunakan kualitatif deskriptif analisis menggunakan riset kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan data-data diperoleh dengan merujuk ke karya-karya yang mendukung, berelevasi dengan pembahasan penulis. Sumber Penelitian Jenis-jenis data yang dipakai peneliti adalah Sumber data primer: yaitu bahan yang digunakan sebagai acuan utama dalam penulisan skripsi ini. Berupa kitab-kitab, adapun kitab yang menjadi patokan utama yaitu: Abu Abbas Zarruq, Qowaidah Shufiyyah wa Ushuliyyah Sumber data sekunder: yaitu bahan yang digunakan sebagai penjelasan atau pendukung dari bahan primer dan dapat membantu analisa serta memahami bahan buku primer.

Kata Kunci: Uzur, Jadzab, Abu Abbas Zarruq.

(6)

iv

يحرلا نمحرلا ها مسب

م

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah, yang telah memberikan nikmat dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan besar, baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya yang setia pada sunnah dan perintahnya.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis berharap dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umunya bagi semua pihak yang membacanya, serta dapat memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy) pada program studi Perbandingan Madzhab dan Hukum di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Skripsi ini penulis hadiahkan pahalanya dan kebaikan-kebaikannya untuk kedua ayah dan ibu penulis sebagai cinta dan bakti penulis kepada orang tua, dan kepada pimpinan Pondok Pesantren al-Umm, Ciputat, Drs. K.H. Syaikh Misbahul Anam Bin Turmudzi Ahmad at-Tijani, serta kepada K.H Imam Khotamin, keduanya sebagai hormat dan cinta penulis kepada guru-guru pewaris para Nabi.

(7)

v

1. Bapak Asep Saepudin Jahar, MA, P.hd Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Fahmi Muhammad Ahmadi, M.Si. Ketua Jurusan Perbandingan Madzhab Hukum dan Ibu Siti Hana Lc, MA. Sekretaris Jurusan Perbandingan Madzhab Hukum

3. Bapak Dr. H. Fuad Thohari, M.Ag dan Bapak Drs. Ahmad Yani, M.Ag. Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, saran petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Pimpinan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan fasilitas buku kepada penulis.

5. Drs. K.H. Syaikh Misbahul Anam Ahmad at-Tijani, K.H Imam Khotamin, Ustadz Ahmad Qomari, K.H Ahmad Muzakki. Lc. Para guru-guru yang memberikan dorongan semangat, doa yang membantu menyelesaikan ini sampai akhir.

6. K.H. Syaikh Ahmad al-Khairy Ahmad at-Tijani selaku pemberi arahan penyempurna isi skripsi ini.

7. Bunda Wanty Ummu Habibah yang menjadi penguat dan pelaku jadzab. 8. Ayah dan Ibu, H. Slamet Santoso bin Munawwir Abdul Ghani dan Hj.

(8)

vi

9. Adik-adik penulis, Anie Lailyta Qodri dan Balquis Mariyatul Khifti, yang selalu membahagiakan ketika penulis sedang kepayahan.

10.Keluarga Pondok Pesantren al-Umm dan teman-teman, Sofyan, Muhammad, kak Dini, Nisa, Barkah yang selalu memberikan suntikan pendapat dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi.

11.Teman-teman kelas PMF yang tidak pernah terlupakan. Kalian selalu menjadi tempat diskusi skripsi yang paling terbuka.

Akhirnya atas segala bantuan dari semua pihak, penulis berterima kasih dan berdoa semoga apa yang kalian berikan dijadikan amal kebaikan dan bermanfaat serta mendapatkan ridha-Nya serta balasan yang setimpal di akhirat kelak. Selain itu, mengingat kekurangan dan keterbatasan penulis, maka segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan penulis sebagai bahan penyempurna.

Jakarta, Maret 2016 Yang Menyatakan,

(9)

vii

TRANSLITERASI DAN SINGKATAN

Penulisan transliterasi Arab-Latin pedoman transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158 tahun 1987 dan No. 0543 b/U/1987 yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab

Nama Huruf Latin Keterangan

ا Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

Bā‟ B -

Tā‟ T -

ث Śā‟ Ś S (dengan titik di atas)

ج Jīm J -

Hā‟ H H (dengan titik di bawah)

خ Khā‟ Kh -

د Dāl D -

Żāl Ż Z (dengan titik di atas)

ر Rā‟ R -

Zai Z -

Sīn S -

Syīn Sy -

(10)

viii

ض Dād D D (dengan titik di bawah)

ط Tā‟ T T (dengan titik di bawah)

ظ Zā‟ Z Z (dengan titik di bawah)

ع „Ain „ Koma terbalik di atas

Gain G -

ف Fā‟ F -

ق Qāf Q -

Kāf K -

ل Lām L -

م Mīm M -

Nūn N -

و Wāwu W -

ﻫ Hā‟ H -

ﺀ Hamzah ‟ Apostrof

ﻱ Yā‟ Y Y

B. Vokal

Vokal bahasa Arab seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan fokal rangkap atau diftong.

1. Vokal Tunggal

(11)

ix

Tanda Nama Huruf Latin Nama Contoh Ditulis

ََ--- Fathah A a

َِ--- Kasrah I i َ ِنُم Munira

َُ--- Dammah U u

2. Vokal Rangkap

Vokal rangkap Bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf, transliterasinya sebagai berikut:

Tanda Nama Huruf Latin Nama Contoh Ditulis ﻱ ََ--- Fathah dan ya Ai a dan i َفيَك Kaifa

ََ

و --- Kasrah I I َلوَﻫ Haula

C. Maddah (vokal panjang)

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf, transliterasinya sebagai berikut:

Fathah + Alif, ditulis ā Contoh َل َ ditulis Sāla ََfathah + Alif maksūr

ditulis ā Contoh ىَ َيditulis Yas‘ā َِKasrah + Yā‟ mati

ditulis ī Contoh يِ َمditulis Majīd

Dammah + Wau mati

(12)

x

D. Ta‟ Marbūtah

1. Bila dimatikan, ditulis h:

ﻫ Ditulis hibah

ي ج Ditulis jizyah

2. Bila dihidupkan karena berangkai dengan kata lain, ditulis t:

E. Syaddah (Tasydīd)

Untuk konsonan rangkap karena syaddah ditulis rangkap:

ع Ditulis ‘iddah

F. Kata Sandang Alif + Lām

Bila diikuti huruf qamariyah atau syamsiyah ditulus al- لج لا Ditulis al-rajulu

لا Ditulis al-Syams

G. Hamzah

Hamzah yang terletak di akhir atau di tengah kalimat ditulis apostrof. Sedangkan hamzah yang terletak di awal kalimat ditulis alif. Contoh:

(13)

xi

ئيش Ditulis syai’un

خأت Ditulis ta’khużu

مأ Ditulis umirtu

H. Huruf Besar

Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan ejaan yang diperbaharui (EYD). Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut bunyi atau pengucapan atau penulisannya.

ن لا لﻫأ Ditulis ahlussunnah atau ahl al-sunnah

I. Pengecualian

Sistem transliterasi ini tidak penulis berlakukan pada:

a. Kata Arab yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia, seperti: al-Qur‟an

b. Judul dan nama pengarang yang sudah dilatinkan, seperti Yusuf Qardawi

c. Nama pengarang Indonesia yang menggunakan bahasa Arab, seperti Munir

(14)

xii

DAFTAR ISI

PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

TRANSLITERASI DAN SINGKATAN ... vii

DAFTAR ISI ... xii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat ... 5

D. Metode Penelitian ... 6

E. Tinjauan Pustaka ... 7

F. Teknik Penulisan ... 8

G. Sistematika Penulisan ... 9

BAB II ... 11

TINJAUAN TENTANG UDZUR ... 11

A. Mahkum Fih ... 11

B. Mahkum „Alaih ... 12

C. Ahliyyah Wujub ... 13

D. Ahliyyah al-Adâ` ... 14

E. „Awaridhu Ahliyyah (Udzur) ... 14

BAB III ... 20

TENTANG WALI DAN JADZAB ... 20

A. Biografi Abu Abbas Zarruq ... 20

B. Pengertian Wali ... 28

C. Syarat-Syarat Wali ... 32

D. Macam-Macam Wali... ... 34

E. Pengertian Jadzab ... 36

(15)

xiii

G. Macam-Macam Jadzab... 38

H. Pandangan Ulama Fiqih Tentang Jadzab ... 49

BAB IV ... 52

ANALISA TERHADAP PENDAPAT ABU ABBAS ZARRUQ TENTANG UZUR JADZAB ... 52

A. Pendapat Abu Abbas Zarruq Tentang Uzur Jadzab ... 52

B. Istimbat Hukum Jadzab Abu Abbas Zarruq ... 54

C. Analisa Pendapat Abu Abbas Zarruq Tentang Jadzab ... 56

D. Pengaruh Pendapat Abu Abbas Zarruq Terhadap Hukum Islam ... 68

E. Respon Tokoh Terhadap Pendapat Abu Abbas Zarruq... 69

BAB V ... 73

PENUTUP ... 73

A. Simpulan ... 73

B. Saran-Saran ... 74

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Hukum Islam terdapat kandungan kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun akhirat. Hukum Islam mengatur segala ketentuan hukum tindak perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf (orang yang dibebani kewajiban), sebagai hasil pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari al-Quran dan as-Sunnah.

Tindak kriminal yang dimaksud disini adalah tindakan-tindakan kejahatan yang menggangu ketentraman umum serta tindakan melawan peraturan perundang-undangan hadd (batasan) yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Sunnah. Agama Islam telah Allah sempurnakan untuk semua manusia. Tujuan hukum Islam adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan Pencipta Makhluk sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman semua makhluk.1

Jenis-jenis hukuman yang terdapat dalam syariat Islam, yaitu rajam, dera, potong tangan, penjara/kurungan seumur hidup, eksekusi bunuh, pengasingan/deportasi, dan salib. Adapun jarimah (delik pidana) yang pelakunya diancam sanksi hadd, yaitu zina, qodzaf (menuduh zina), pencurian,

1

(17)

2

penodongan, perampokan, teroris, khamar, bughat (pemberontakan), dan riddah/murtad.2

Syariat dan hakikat mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Syariat mendifinisikan arti kehidupan agamis yang benar. Syariah menjelaskan tentang iman, Islam, ihsan, dan menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut. keduanya berkaitan dengan perilaku lahir dan juga keadan batin. dengan iman dan kebajikan, motif dan niat, perasaan dan emosi, keduanya adalah satu kesatuan yang utuh. Itulah kedua bentuk (shurrah) dan kenyataan (haqiqoh)3

Namun demikian sebagian besar sufi tersebut tetap mematuhi syariat. Mereka mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang serta melaksanakan apa yang dianjurkan. Adapun di dalam istilah tasawuf

karamat Al-Awliya’ (karamah para wali Allah) adalah karunia Allah yang diberikan kepada para wali atas prestasi ibadah dan pengabdian mereka kepada Allah Ta‟ala sehingga mereka mendapatkan penghargan tertentu dari Allah berupa fenomena khawariqul ‘adah (sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan) sebagai rahmat Allah kepada mereka. Karamat Al-awliya’ merupakan rahmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya

2 Abduh Malik, Muhammad Amin Suma,

Pidana Islam Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), h. 87.

3 Muhammad Abdul Haq Ansari,

(18)

3

secara khusus. Menurut Al-Nabhani4 karamat bagi para wali berada pada peringkat kedua setelah mu’jizat bagi para Nabi.5

Khawariqul ‘adah itu satu diantara bagian sifat dari majdzûb (pelaku jadzâb) Orang yang belum mengetahui dunia tasawuf, pasti akan sangat asing dengan istilah jadzab. Terkadang, orang awam melihat fenomena ini secara langsung. Biasanya dikenal dengan istilah dan majdzub (pelaku jadzab)6, sering orang awam mengatakan,” kiai koyok wong edan”7, atau “wah, wong ka’e kakean ilmu (agama), trus durung wayahe ngamalke malah diamalke dadine edan”8. Fenomena-fenomena itulah yang disebut dengan jadzab.

Istilah jadzab ini manusia tidak mempunyai kekuatan untuk hal tersebut karena jalan tersebut dikhususkan dan dianugrahkan kepada orang yang Dia kehendaki sebagai kekasih-Nya mencapai derajat yang sangat tinggi. Sehingga penulis menentukan latar belakang ini ingin menjelaskan jadzab dalam perspektif hukum Islam, menurut pendapat Abu Abbas Zarruq sebagai salah satu ulama Malikiyyah, berthariqoh Syadziliyyah dan pendiri

4 Imam Yusuf bin Isma‟il al-Nabhani adalah tokoh besar Mutaakkhirin tasawuf

bermazhab Syafi‟i. lahir pada 1265 H (1849 M) dan dibesarkan di Ijzim (salah satu suku Arab Badui yang tinggal di Desa Ijzim, sebuah desa di bagian utara Palestina, daerah hukum kota Haifa yang termasuk wilayah Akka, Beirut). Beliau meninggal dunia menghadap Allah SWT pada awal bulan Ramadhan tahun 1350 H (1932 M), rahimahullah. Beliau dimakamkan di pemakaman Basyura, di dekat distrik Bastha di Beirut, Libanon.

5 Asep Usman Ismail,

Apakah Wali Itu Ada?, (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), h. 79 6

Jadzab adalah kekuatan daya tarikan rahmat Allah yang terjadi secara spontan kepada ruh hamba pilihan sehingga terjadi goncangan hebat dalam diri hamba yang berakibat kehilangan akal, hanya terjadi pada golongan wali Allah.

7 bahasa Jawa yang artinya kiai seperti orang gila.

8 bahasa Jawa yang artinya wah, orang itu terlalu banyak ilmu (agama), belum

(19)

4

Zarruqiyyah Dalam Kitab Qowaidu At-Tasawuf karangan Abu Abbas Zarruq menjelaskan:

ِراَبِتْعِإ ِطْوُقُسِب .ِهِلاَح ِِ ِنْوُ نْجا ُمْكُح ُهَلَو .اَهْ يِف ُهُسْفَ ن ُكِلََْ ََ ِةَلَاَِِ ُدِحاَولا ُرَذْعُ ي

ِهْيَلَع ِماَكْح ََا ِيَرَج ُمَدَعَو .ِهِلاَعْ فَا

ُهْنِم ِةَلاَحا ُدْوُجُو َقّقَََ ْنِإ

.

“diuzurkan seseorang dengan keadaan orang yang tidak mampu menguasai dirinya dalam satu keadaan. Dan baginya dihukumi “Majnun” (gila) dalam satu keadaan tersebut, gugurnya ungkapan perbuatannya dan hilangnya hukum-hukum atas orang tersebut jika dia sudah ada beban hak (taklif).” 9

Jumhur ulama telah sepakat bahwa majnûn mendapatkan uzur syar‟i tidak terbebani hukum Islam, namun permasalahan majdzûb inilah para ulama berselisih pendapat dengan masing-masing argumen dan dasar hukum yang dipegang oleh masing-masing ulama. Sehingga masalah ini adalah masalah ikhtilâf dalam hukum fiqih,

Menurut Abu Abbas Zarruq menyatakan tentang jadzab kekhususan seorang jadzab (majdzûb) kehilangan hal-hal kontrol diri dalam satu keadaan maka menjadikan dia dihukumi majnûn (orang gila) dan gugurlah ungkapan-ungkapan, perbuatan-perbuatannya dalam taklif serta hilanglah ketetapan hukum baginya.10 Ada sisi-sisi yang menarik dalam skripsi ini untuk dijelaskan, penulis mengangkat judul ini yaitu tentang UZUR JADZAB MENURUT ABU ABBAS ZARRUQ.

9 Abu Abbas Zarruq,

Qowaidu at-Tasawuf ‘Ala Wajhin Yajma’u Bayna asy-Syariati

Wa al-Haqiqati Wa Yashilu al-Ushula Wa al-Fiqha Bi at-Thariqati, cet. I. (Suria: Dar

Al-Bairut, 2004), h. 188.

10. Abu Abbas Zarruq,

Qowaidu at-Tasawuf ‘Ala Wajhin Yajma’u Bayna asy-Syariati

(20)

5

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Berhubung karena judul skripsi ini amat luas dan agar terarah pembahsannya, maka pembahasannya dibatasi hanya seputar pemdapat Abu Abbas Zarruq tentang uzur jadzab, dasar hukum dan metode istimbath hukum yang digunakannya untuk menguzurkan jadzab dan respon ulama terhadap pendapat Abu Abbas Zarruq

2. Rumusan Masalah

Maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana Pendapat Abu Abbas Zarruq tentang hukum uzur jadzab? 2. Apa metode istimbat hukum yang digunakan Abu Abbas Zarruq? 3. Bagaimana respon ulama terhadap pendapat Abu Abbas Zarruq?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini, antara lain adalah:

a. Untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan antara majnûn (orang gila) dengan majdzûb (wali gila).

(21)

6

c. Mengetahui sebagian kasus-kasus atau permasalahan lebih dalam tentang perilaku jadzab.

2. Manfaat Penelitian

a. Bermanfaat untuk semua kalangan yang akan mengambil ijtihad hukum jadzab.

b. Bermanfaat sebagai referensi bagi semua kalangan untuk pengetahuan tambahan hukum fiqih

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian pada penulis skripsi ini menggunakan kualitatif deskriptif analisis menggunakan riset kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan data-data diperoleh dengan merujuk ke karya-karya yang mendukung, berelevasi dengan pembahasan penulis sehingga tidak menekankan pada angka11. Kemudian setelah itu penulis menganalisa data yang telah diperoleh. Setelah data telah terkumpul lalu diklasifikasikan sesuai dengan tema-tema yang akan dibahas, serta data-data dipaparkan secara sistematis dan dilengkapi dengan analisis, kritik, kesimpulan dan saran.

2. Sumber Penelitian

11 Sugiyono,

(22)

7

Jenis-jenis data yang dipakai peneliti adalah sebagai berikut:

a. Sumber data primer: yaitu bahan yang digunakan sebagai acuan utama dalam penulisan skripsi ini. Berupa kitab-kitab, adapun kitab yang menjadi patokan utama yaitu: Abu Abbas Zarruq, Qowaidu at-Tasawuf ‘Ala Wajhin Yajma’u Bayna asy-Syariati Wa al-Haqiqati Wa Yashilu al-Ushula Wa al-Fiqha Bi at-Thariqati b. Sumber data sekunder: yaitu bahan yang digunakan sebagai

penjelasan atau pendukung dari bahan primer dan dapat membantu analisa serta memahami bahan buku primer.

3. Metode Analisis Data

a. Metode content analisis, adalah menganalisis makna yang terkandung dalam pemikiran Abu Abbas Zarruq. Analisis yang digunakan penulis adalah analisis kualitatif dan deskriptif dengan menguraikan masalah yang sedang dibahas secara teratur mengenai konsep pemikiran tokoh yang bersangkutan. Digunakan sebagai pendekatan untuk menggambarkan pemikiran tokoh.

E. Teknik Penulisan

(23)

8

F. Tinjauan Pustaka

Dalam mengkaji permasalahan tentang Wali Allah sudah menjadi tema umum yang mudah ditemukan, namun untuk tema yang berkenaan dengan uzur jadzab penulis belum temukan akan tetapi untuk bahan rujukan penulis, ada beberapa skripsi yang membahas tentang Wali Allah. Wali Allah dalam tafsir Al-Azhar (studi penafsiran QS. Yūnus [10]: 62-64). Oleh: Zulkarnain Ali, Sarjana Tafsir Hadis, Tahun 2014. Dari judul skripsi di atas dapat disimpulkan bahwa Wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah, orang yang senantiasa beriman dan bertakwa. Di tengah masyarakat, istilah wali Allah sangat populer khususnya di Indonesia. Wali Allah telah disebutkan di al-Qur‟an dalam banyak ayat dan untuk memahaminya perlu mengetahui tafsirannya. Salah satu tokoh tafsir Indonesia yang masyhur adalah Hamka.

Penafsiran Hamka sedikit berbeda dengan mufassir lain. Letak perbedaannya adalah kritik-kritik beliau terhadap cerita-cerita wali Allah yang banyak diyakini oleh masyarakat. Kritik tersebut diulas ketika menafsirkan QS. Yūnus [10]: 62-64. Inilah fokus penelitian ini. Penelitian ini berjenis kualitatif, karena tidak mementingkan jumlah dan lebih menekankan terhadap isi materi atau kandungan tafsir. Sedangkan metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis, yaitu dengan menggambarkan, menganalisa dan kemudian menyimpulkan materi-materi penafsiran Hamka.

(24)

9

masyarakat pada saat menyusun tafsirnya. Selain itu, Hamka lewat kritiknya, berkeinginan untuk meluruskan cerita-cerita yang menurutnya terdapat kekeliruan.

Sejauh ini penulis hanya mendapatkan satu studi review terdahulu, disebabkan tidak ditemukannya skripsi yang pendekatan pembahasan sama dengan penelitian yang diangkat oleh penulis hingga saat ini. Adapun penelitian uzur jadzab ini adalah kasus yang belum pernah dibahas hingga saat ini di Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

G. Sistematika Penulisan

Terdiri dari lima bab pembagian, yang terbagi dalam beberapa sub bab, adapun sistematika penulisan skrisi ini adalah sebagai berikut:

Bab I: Bab ini meguraikan tentang, latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. metode penelitian, tinjauan (review) kajian terdahulu, dan sistematika penulisan.

Bab II: Pada bab ini penulis akan membahas tentang penjelasan umum tentang kecakapan hukum (Ahliyyah), penghalang untuk kecakapan hukum dan uzu-uzur bagi kecakapan hukum

(25)

10

Pengertian Jadzab, Syarat-Syarat Jadzab, Macam-Macam Jadzab, Pandangan Ulama Madzhab Fiqih Tentang Jadzab.

Bab 1V: Pada bab ini penulis akan membahas mengenai, Pendapat Abu Abbas Zarruq Tentang Jadzab, Istimbat Hukum Abu Abbas, Analisa Terhadap Pendapat dan Dalil-Dalil Yang Digunakan Oleh Abu Abbas Zarruq Tentang Uzur Jadzab, Implikasi Pendapat Abu Abbas Zarruq Terhadap Hukum Islam. Respon Ulama Terhadap Pendapat Abu Abbas Zarruq.

(26)

11

BAB II

TINJAUAN TENTANG UDZUR

A. Mahkum Fih

Mahkum fih dalam kajian ilmu ushul fiqih adalah orang-orang mukallaf yang dibebani hukum. Dalam artian mahkum fih menjelaskan tentang obyek hukum, yaitu perbuatan seseorang, dimana hal itu dia yang sudah terkena beban berlakunya hukum islam atas dirinya terkait dengan pertintah syar‟i baik bersifat tuntutan, pilihan, maupun wadh’i. Karena, para ulama ushul sepakat bahwa perintah syar‟i itu adalah objek hukum bagi perbuatan mukallaf.1

Adapun syarat-syarat sah menjadi mahkum fih pada ketentuan hukum syara‟ sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul Wahbah Khallaf sebagai berikut:

1. Orang tersebut sudah mengetahui atau memiliki ilmu hukum

seutuhnya atas perbuatannya sehingga orang tersebut mampu melaksanakannya seperti yang dituntut.

2. Dapat mengetahui secara jelas bahwa hukum itu datang dari orang yang memiliki wewenang untuk memerintah atau orang yang wajib diikuti hukum-hukumnya oleh si mukallaf

3. Perbuatan yang diperintah memungkinkan untuk dilakukan atau ditinggalkan oleh mukallaf sesuai dengan kadar kemampuannya

1 Muliadi Kurdi,

(27)

12

B. Mahkum ‘Alaih

Mahkum „alaih adalah orang-orang mukallaf yang dibebani hukum, maksudnya orang yang dibebenai hukum, dalam istilah ushul fiqih disebut dengan subyek hukum (pelaku hukum). Hal ini berdasarkan dalil dari hadis

نع

ةشئاع

نع

ِنلا

ىلص

ها

هيلع

و

ملس

لاق

عفر

ملقلا

نع

،ةثَث

نع

ِصلا

ىح

غلبي

نعو

مئانلا

ىح

ظقيتسي

و

نع

نونجا

ىح

قيفي

2

Artinya: “Nabi Muhammad SAW bersabda: diangkatnya pena atas

tiga perkara yaitu bayi sampai dia baligh, orang yang tidur sampai dia bangun dan orang gila sampai waras.”.

Adapun dari hadis diatas syarat-syarat mengenai sah tidaknya membebani hukum terhadapnya, disyaratkan dengan syarat:

1. Mukallaf dapat memahami dalil-dalil taklif. Maksudnya,

dimana mereka mampu memahami nash-nash ata aturan-aturan yang dibebankan kepadanya baik dari al-Qur`an maupun as-Sunnah, baik secara langsung maupun secara perantara. Karena orang yan tidak mampu memahami taklif, dia tidak dapat mengikuti hukum yang dibebankannya. Sedangkan kemampuan memahami dalil itu hanya nyata dalam akal.

2

(28)

13

Karena akal merupakan alat untuk memahami dan menjangkaunya3

2. Mukallaf adalah orang yang ahli dalam sesuatu yang dibebankan kepadanya. Pengertian ahli menurut bahasa adalahkelayakan atau layak. Artinya dia adalah orang yang pantas dan layak dibebani hukum seperti tidak gila dan sudah baligh.4

3. Akal adalah poros utama, karena taklif hukum tidak akan bisa terlaksana kecuali bagi orang yang mempunyai akal5

C. Ahliyyah Wujub

Maksudnya adalah kecakapan seseorang untuk melaksanakan berbagai kewajiban dan menerima berbagai hak. Oleh karena itu, menurut syara‟ , sesuai dengan kenyataannya, kecakapan manusia tidak semua orang dikatakan mukallaf, seseorang disebut mukallaf apabila kepadanya dapat dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya baik atas kepatuhannya menjalankan perintah-perintah maupun menjauhi larangan-larangan syara‟6

Kecakapan seseorang menjalankan kewajiban maka akan mendapatkan hak, namun ada yang melaksanakan kewajiban tidak sempurna sebagaimana janin dan bayi, bahkan mereka tidak bisa menjalankan kewajiban tetapi menerima hak dan mayit dipandang tida cakap untuk

3

Muliadi Kurdi, Ushul Fiqh, (Aceh, Lembaga Naskah Aceh: 2015), cet. 2, h. 322. 4

Muliadi Kurdi, Ushul Fiqh, (Aceh, Lembaga Naskah Aceh: 2015), cet. 2, h. 323 5

Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Kairo, Darul Fikr: 1985), h. 260. 6

(29)

14

menerima hak karena kewafatannya tetapi malah dikenakan kewajiban pembayaran hutang semasa hidupnya terutama hak Allah yang wajib dituntaaskan kemudian hak manusia.

D. Ahliyyah al-Adâ`

Maksudnya adalah kecakapan bertindak secara hukum, ini ditinjau dari atas segala tindakannya/perbuatannya yang pantas dimintai pertanggungjawabannya secara hukum. Baik aktif maupun pasif, gerak maupun diam, dalam ibadah maupun muamalah, sehingga segala perbuatannya menimbulkan akibat hukum, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan.

Namun tidak semua orang memiliki tindak kecakapan atau bahkan bertindak secara tidak sempurna seperti usia nol sampai tujuh tahun dan tujh tahun sampai sebelum baligh.7

E. ‘Awaridh Ahliyyah

Maksud dari ‘awarid ahliyyah adalah faktor faktor penghalang kelayakan (udzur) bertindak hukum. Setiap muslim menerima kewajiban dan hak. dan sejak dewasa dari segi usia dan akalnya. ‘awarid ahliyyah terbagi menjadi dua faktor, yaitu:

7

(30)

15

1. „Awaridh as-Samawiyymah

Yang dimaksud dalam penjelasan kali ini adalah tentang hal-hal penghal-halang hukum secara alami yang sedang berjalan atas dirinya. Terdapat beberpa macam, yaitu:

a) Gila.

Seorang yang gila itu telah gugur segala macam beban hukum pada dirinya, tubuhnya, seperti tidak ada kewajiban sholat, haji, puasa dan hukum kafarat, akan tetapi masih berlaku kewajiban zakat dan ditanggung oleh anggota keluarganya.8

نع

ةشئاع

نع

ِنلا

ىلص

ها

هيلع

و

ملس

لاق

عفر

ملقلا

نع

،ةثَث

نع

ِصلا

ىح

غلبي

نعو

مئانلا

ىح

ظقيتسي

و

نع

نونجا

ىح

قيفي

9

Artinya: “Nabi Muhammad SAW bersabda: diangkatnya

pena atas tiga perkara yaitu bayi sampai dia baligh, orang yang tidur sampai dia bangun dan orang gila sampai waras.”.

Sedangkan gila yang berlangsung sementara dan tidak berkelanjutan, hal ini tidak mengahalangi beban taklif atas dirinya.10

8

Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Kairo, Darul Fikr: 1985), h. 266.

9

Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Kairo, Darul Fikr: 1985), h. 260.

10

(31)

16

b) Lupa

Keadaan lupa yang dialami seseorang membuat dia tidak ingat akan hukum taklif yang mengikat pada dirinya sehingga membuat kewajiban sebagai hamba tidak terlaksana. Seperti orang yang sedang berpuasa disiang hari namun lupa sehingga dia menegukkan air disiang hari. Sedangkan bagi orang yang lupa pada hukuman tindak pidana dia tidak mendapatkan udzur sepenuhnya.

Keadaan lupa tidak menghilangkan kecakapan bertindak secara hukum, sehingga keadaan lupa tidak menjadi alasan untuk melepaskan diri dari kewajiban yang menyangkut orang lain setelah ingatannya pulih. Sedangkan yang berkaitan tentang hak Allah, kewajibannya tidak gugur karena lupa, tetapi dia tidak dikenakan dosa.

c) Lemah Akal

(32)

17

yang tingkatannya berada dibawah mumayyiz. Dalam hal ini status hukumnya sama dengan anak yang belum mumayyiz. d) Sakit.

Keadaan sakit pada hakikatnya tidak menghalangkan kecakapan bertindak secara hukum. Tidakan hukum mereka tetap bisa diadili secara hukum, hanya saja keadaan sakit melahirkan sebuah keringanan hukum melaksanakan dan menjalankan hukum islam, mereka tidak mampu melaksanakan perintah agama dengan penuh. Misalnya, sakit parahboleh tidak berpuasa dibulan Ramadhan, dengan cara menggantinya setelah sembuh dari sakitnya. Demikian juga boleh melaksanakan shalatfardhu dengan duduk atau berbaring bahkan bisa juga dengan isyarat.

e) Haidh dan Nifas.

(33)

18

2. „Awiridh al-Muktasabah

Maksudnya adalah halangan kecakapan bertindak hukum yang disebabkan karena perilaku dirinya. Halangan dalam bentuk ini terdapat beberapa macam, yaitu:

a) Mabuk

Keadaan hilang atau tertutupnya akal seseorang karena mengkonsumsi minuman keras atau sejenisnya yang mengandung zat memabukan sehingga ucapannya dan tindakannya tidak terkendali. Jika mabuknya terpaksa didalam keadaan darurat atau dipaksa maka gugur segala beban hukumnya namun harus mengganti kerugian harta pada orang lain jika mengganggunya. Namun jika karena sengaja, segala kecakapan hukum seperti berdagang dan sejenisnya itu tidak sah, bahkan dia terkena sanksi hukuman had cambuk dan wajib mengganti kerugian harta orang lain akibat perbuatannya jika mengganggunya.

b) Ketidaktahuan

(34)

19

Namun, ada hal yang tidak layak mendapatkan uzur. Misalkan, seseorang tinggal di wilayah islam tidak melaksanakan puasa Ramadhan karena sebab tidak tahu jika puasa itu adalah kewajiban. Maka, jika hal itu terjadi sebagai alasan tidak terkenanya hukum dengan dalil ketidaktahuan ini dapat diterima sebagai alasan untuk melanggar hukum.

c) Tersalah (khatha`)

Maksudnya adalah suatu perbuatan yang disengaja melakukannya, tetapi menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya. Misalnya seorang pemburu ingin menembak ke arah burung di pohon namun meleset arahnya mengenai orang. Perbuatan ini ini dianggap tersalah karena tidak adanya kehati-hatian.

Perbuatan ini terkena sanksi had namun tidak penuh, jika dalah

jinayah (pidana) hal ini berbeda dengan pembunuhan sengaja. Tersalah mendapatkan hukuman agak ringan

d) Berpergian

(35)

20 BAB III

TINJAUAN UMUM TENTANG WALI ALLAH DAN JADZAB

A. Biografi Abu Abbas Zarruq

Namanya lengkap beliau adalah Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Syihab al-Baranisy al-Maghribi al-Fasi al-Maliki. Yang dikenal dengan sebutan Zarruq, dan Zarruq adalah laqâb (gelar) dari kakeknya yang matanya berwarna biru. Abu Abbas senang dengan julukan “Zarruq”. Ia bernasab dengan kabilah Barnisy, ada yang mengatakan dengan sebutan kabilah al-Barlasi, dinisbatkan dari bangsa Barbar antara kota Fes dan kota Taza.1

Beliau dilahirkan di kota Fes pada 22 Muharam 846 H/7 Juni 1442 M. Beliau seorang Yatim, ayah beliau wafat belum genap seminggu setelah kelahirannya. Kemudian nenek beliau membawanya dan mendidiknya. Nenek beliau adalah perempuan taat dan suci.

Di akhir hayatnya, ia menetap di kota Misurata, Libia. Misurata adalah kota ketiga terbesar yang disebut saat ini Libia. Itu adalah kota pelabuhan yang menghubungkan Italia dan Eropa ke Afrika Utara. Itu juga sebuah kota yang berada di jalur dari Afrika Barat ke Mekah dan Madinah, Beliau wafat pada 18 dari Safar tahun 899 h/1493 M, pada usia 54 tahun, di Misurata wilayah Tharablus ibukota Libia, dan makamnya sangat terkenal.

1 Abu Abbas Zarruq,

Qowaidu at-Tasawuf ‘Ala Wajhin Yajma’u Bayna asy-Syariati

(36)

21 1. Latar Belakang Pendidikan

Beliau pernah membaca dengan pembahasan mendalam mengenai kitab fiqih Ulama Malikiyyah karangan Syaikh Abdullah Fakhar dan al-Sibtî dan beliau menyukainya. Dan beliau juga menyukai ilmu tasawuf sampai beliau mendisiplinkan ilmu dengan berguru kepada Syaikh Abdullah al-Makkî dan Syaikh Muhammad bin al-Qosim al-Qurî, dsb, tentang berakhlak suluk.

Kemudian beliau pindah ke negara Mesir. Beliau berguru kepada Syaikh Abu Abbas al-Khudhrî. Ada cerita menarik ketika beliau berguru kepada Syaikh Abu Abbas al-Khudhrî. Salah satu yang menakjubkan, yang diceritakan beliau, Syaikh Abu Abbas al-Khudhrî menulis surat Alamnasyroh di telapak tanganku. Pada saat itulah beliau menjadi anak yang paling bagus hafalannya.

Pada tahun 873 H ia berangkat haji. Seiring perjalanan ia mengunjungi Kairo dan kota-kota lainnya yang terkenal di kawasan ini. Setelah tinggal selama 2-3 tahun di Madinah, ia meninggalkan Madinah untuk melanjutkan studinya di Kairo. Ia belajar pada para Muhaddis (Doktor dalam bidang hadis), Shâfi'i Faqih (ahli hukum), Mufassir (Ekseget dari Al-Qur'an) Imam Muhammad al-Sakhaawi (831-902 H), yang merupakan murid dari pemimpin orang terpercaya dalam ilmu hadis, Ibnu Hajar al-Asqalanî.

(37)

22

Shahihul Bukhari, al-Ahkâm al-Sughrâ, Bulughul Marâm, al-Madkhal Ibn Al-Hajj, al-Ihyâ al-Ghazali, ar-Risâlah al-Qusyairî dan banyak dari karya-karya Ibnu 'Athâ'illah al-Iskandarî. Dalam buku ad-Dawul lâmi', Imam as-Sakhawî menyatakan, "Dia berangkat pergi ke Mesir, sambil berhaji, menjadi Mujâwir di Madinah. Ia menetap di Kairo selama sekitar satu tahun. Di sinilah ia belajar bahasa Arab dan al-Ushul dibawah Jawjari dan lain-lain. Dia membaca bulughul marâm di bawah pengawasan saya dan diteliti di Al-Istila`ah (ilmu hadits) dengan saya. Dia menemani saya dalam hal-hal tertentu dan saya manfaat dari sekelompok orang-orang sebangsanya.”

Adapun guru-guru beliau selama masa hidupnya yaitu:

1. Syaikh Abdullah al-Fakhar dan al-Sibtî

2. Syaikh Abdullah al-Makki

3. Syaikh Muhammad bin al-Qosim al-Qurî

4. Syaikh Abu Abbas al-Khudhrî

5. Imam Muhammad as-Sakhâwi

6. Nuruddin as-Sanhuri,

7. Abdurrahman al-Qabbâni,

8. Syamsuddin al-Jawjarî,

9. Nuruddin al-Tanasî,

10.Abdurrahman bin Hajar,

(38)

23 2. Karya-Karya

Adapun selama hidupnya beliau berkarya. Ada beberapa kitab yang sudah banyak tersebar ke berbagai penjuru belahan dunia, diantaranya: Ia juga menulis buku-buku 50 pada ilmu tasawwuf. Beliau menulis kitab Qawâ'idu Tasawwuf, al-Jami', an-Nasâ'ih, an-Nasîhah al-Kâfiyah, Risâlah, Risâlah fi Radd' alâ Ahlul Bid'ah, Syarhul Haqâ'iq Wa Daqâ`iq, Syarh Muqatta'ât Ash-Shushtari, I'ânatul Mutawajjih sangat terkenal daerah al-Miskeen. Sayyid Hamza Yusuf mengutip garis besar manfaat dari kitab I'ânah,2

Beliau meninggalkan banyak karya. Dalam fiqh, beliau menulis sebuah komentar dari Risâlah al-Qayrawâni, Manâsikul Hajj, Syarhul Ghâfiqiyah, syarah at-Tirmidzi, Syarah Irshâd, Syarah Qawâ'id 'Iyâd, Syarah al-Qurtubiyyah dan karya-karya lainnya. Dia menulis banyak surat yang masih tersimpan di berbagai perpustakaan sampai hari ini, Rasâ'il lis-Sâlikîn, Wasiyah, Risalah ilâ Abdullah al-Maghrawi dan surat-surat lainnya. Dia menulis hampir sepuluh, bekerja pada kitab doa-doa. Yaitu, al-Wathîfah, Syarhul Asmâ'ullah al-Husnâ, al-Hafîtha, fathul Maqâm al-Asmâ', Syarah Dalâ'ilul Khairât dan lain-lain. Dalam akidah, beliau menulis syarah dari 'Aqîdatul Ghazâli dan Syarhul Murshida. Dalam hadis, beliau menulis Hâshiyah Shahih Muslim, Juz Fî 'Ilmil Hadîts, Syarah Arba'in al-Hadîts, dan Ta'liq 'alâl Bukhari. Dia menulis tentang perjalanannya dalam dua karya besar, al-Kunnâsh dan al-Rihlah

2

(39)

24 1. Syarah Hizib Bahrnya Al-Syâdzilî

2. Syarah Aqâ‟idu Al-Ghazâlî

3. Risâlah (sebuah surat panjang yang ditujukan kepada para pengikut Tharîqoh Zarrûqiyyah Syâdzîliyyah).

4. Syarhu Qasîdah Nûniyyah

5. Syarhu Hizbul Kabîr

6. Kitabul Shina'ah

7. Risâlah Fi Tasawwuf

8. Ushûlul Tharîqoh

9. Nadzmu Fushulis Sâmî

10.Nadzmu 'Uyûbin Nafs

11.Qawâ`idu Tasawwuf wa Ushûlihi

12.I'ânatul Mutawajih Miskin „Ala Tharîqah Al-Fath Wa at-Tamkîn

13.Qashîdah Tsaniyah fi Al-Hats „Alâ Al-'Uzlah

14.Al-dzarruy Syariah fi Ushûli Thariqah

15.Tanbîh Dzâwi Al-Himam 'Ala Ma'âni Alfâdzi Al-Hikam

16.Al-Silsilah az-Zarruqiyah

(40)

25

18.Al-Mawâhibul Saniyah Fî Khowâsi Nadhzri Asmâil Husna (Al-Dimyâthiyyah), syarah ringkasan Al-Dimyathî.

19. Al-Maqsadu Al-Asmâ bi dzikri Himmatî mâ Yata‟allaqu bijumlatil

Asma

20. Mukhtashar „Ala Al-Muqaddimah Alwaghlisiyah

21.Khanah Ibnu Yusuf

22.Syarh Mukaddimah al-Quthubiyah

23. Tharîqoh az-Zarruqiyah

24.Syarhul Nashihah Al-Kafiyah liman Khassâu Bil 'Afiyah

25.Risâlah Fîl Wa'dzi

26.Khawâsu Asmâi`l-Husnâ

27.Al-Durratul Bahiyyah

28.Syarah „Ala Matni Al-Risalah

29.Ta'sîs Qawaidul wal Ushul

30.Risâlah Fî Ahwalil Zaman

31.Fathu Maqâmil Asmâ` Fî Ba'dh Mâ Yata‟allaqu Bil Asma

32.Syahul Hikam al-„Athâiyyah

33.Al-Burdah As-Syarîfah Fîl Kalâm 'Ala Ushuli Tharîqoh

(41)

26 35.Ahkâmul Hajj

36.Risâlah Shûfiyyah

Cukup banyak karya-karya beliau yang masih belum tertulis. Penulis menuliskan ini dengan tujuan sekilas memperkenalkan secara sekilas karya-karyanya untuk mempersingkat penulisan.

3. Kiprah

Beliau menyibukkan diri di Mesir dengan memperdalam kitab al-‘Arabiyyah wal Usûliyyah kepada Syaikh al-Jaujarî. Dan beliau memperdalam kitab bulughul maram kepada Syaikh al-Hafidz al-Sakhawî dengan rutin. Dan mengajar di universitas al-Azhar al-Syarîf yang diikuti oleh sekitar enam ribu orang. Ia menjadi ulama Malikiyyah, dan menjadi guru bagi murid-muridnya. Mereka membuatkan untuk beliau sebuah kursi khusus untuk ia mengajar yang digunakan untuk membacakan pelajaran dengan baik pada sebuah tempat yang tinggi. Dibuat secara khusus untuknya Kursi ini dan sekarang peninggalan itu masih ada.3

Beliau hijrah menuju kota Thoroblus barat. Beliau hidup dan tinggal disana, mendirikan pesantren Zawiyyah Zarruqiyyah dan menjadi seorang pengajar serta diikuti oleh ribuan murid. Beliau menjadi ulama yang sangat „alim dan seorang yang ahli mempraktekkan ilmu, zuhud dan wara’. Sebagaimana ungkapan Abdurrouf al-Manawî, ia berkata dengan menyifati

3 Isra Nexus, “Shaykh Ahmad Zarruq‟s Grave Has Been desecrated In Libya by

(42)

27

Abu Abbas Zarruq: “beliau adalah seorang hamba yang berasal dari lautan gaib lalu dia menciduk airnya. Beliau orang yang berilmu dengan kewaliannya lalu dia bertasawuf, keadaan beliau selalu penuh dengan qona’ah dan rendah hati, beliau mahir dalam mengetahui fiqih, tasawuf, ilmu usul dan ikhtilaf. “4

Beliau mempunyai kekuatan dan pengaruh yang besar bagi pangeran Mesir dan selalu disambut oleh mereka. Beliau mengambil thariqoh tasawuf dari ulama Ahmad bin 'Uqbah al-Hadrami, adalah seorang mursyîd di thariqoh Syadziliyyah dan Qodiriyyah.

Dalam kitab Bustânul Muhadditsîn karangan Syaikh Abdul Aziz Dehlwi kagum, kemudian memuji Syaikh Ahmad Zarruq dengan melukiskannya yakni “Ini adalah Saint besar di antara Sab'a Abdâl dan merupakan otoritas di antara para Sufi. Diantara siswa terkenalnya adalah seperti Imam Syamsuddin al-Lagânî dan Imam Syahabuddin al-Qastalânî. Saint adalah master dalam hukum Islam, spiritualitas, dan semua aspek mistis. Beberapa bukunya dapat dijadikan bahan rujukan untuk mendapatkan apresiasi yang lebih baik dari kualitas besar sekali.”5

4 Isra Nexus, “Shaykh Ahmad Zarruq‟s Grave Has Been desecrated In Libya by

Fanatic Salafis”, artikel diakses pada 26 Agustus 2012 dari http://www.israinternational.com/world-nexus/543-shaykh-ahmad-zarruqs-grave-hal-been-desecrated.html.

5 Isra Nexus, “Shaykh Ahmad Zarruq‟s Grave Has Been desecrated In Libya by

(43)

28 B. Pengertian Wali Allah

Penjelasan pertama membahas tentang wali Allah. Bahwa kata wali

(

يِلَولا

) terdapat dua pengertian. Pertama, dari isim fa’îl mubâlaghah (

ليعف

ةغلابم

) dari wazan fâ’il (

لعاف

) maka maknanya orang yang ketaatannya kepada

Allah berlangsung secara terus menerus tanpa diselingi oleh kemaksiatan.

Kedua, dari isim fa’îl (

ليعف

) bermakna wazan maf’ul (

لوعفم

) seorang yang

dipelihara dan dijaga oleh Allah secara terus-menerus dari berbagai perbuatan

maksiat serta mendapat taufik dan hidayah, yakni persetujuan dan bimbingan

Allah buntu tetap dalam ketaatan kepada-Nya.6

Dalam bahasa, al-Hujwirî berpendapat arti pertama disebut al-murid (orang yang menginginkan), karena ia sangat bersungguh-sungguh

mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan arti kedua disebut dengan al-murad (orang yang dikehendaki Allah) sehingga dari sini ada hubungan timbal balik

antara Tuhan dan manusia. Ada ri’âyah ilâhiyyah, Disana tuhan selalu

menjaga dan membimbing hamba-Nya ke jalan-Nya. Ada ri’âyah min al’abd.

Seorang hamba yang benar-benar menjalankan segala kewajibannya.

Al-Hakîm al-Tirmidzî membandingkan al-walâyah dengan

al-nubuwwah. Esensi kenabian terletak pada kalâm Allah, berupa wahyu yang

6 Yûsuf Ibn Ismâ‟il al-Nabhânî, Jamî’

(44)

29

disampaikan oleh malaikat Jibril kepada para nabi. Wahyu kenabian itu

ditetapkan permulaannya dan ditetapkan pula penutupannya. Malaikat Jibril

yang memulai wahyu kepada para nabi, dan malaikat Jibril pula yang menutup

penyampaian wahyu kepada mereka. Oleh sebab itu pada umumnya para nabi

menerima wahyu melalui malaikat Jibril.

Kenabian inilah yang wajib dibenarkan. Siapa orangnya yang

menolaknya maka ia telah kufur; adapun kewalian diberikan kepada orang

yang telah mendapat bimbingan Allah. Bimbingan itu terlaksana setelah

terlebih dahulu Allah menghubungkan orang tersebut dengan diri-Nya.

Sehingga ia mendapat kesempatan menyimak pembicaraan Allah.

Pembicaraan itu dari Allah berupa ungkapan yang benar yan disertai dengan

kedamaian. Kedaiaman itu disampaikan kedalam kalbu seorang wali, maka ia

menerimanaya dan merasakan kedamaian itu.7

Secara bahasa kata (

يِلَولا

) al-walî berasal dari kata dasar (

ُةَي َََولا

)

walaayah yang artinya cinta, kekasih dan kedekatan. Lawan kata dari kata

al-walaayah adalah (

ُةَواَدَعلا

) al-„adaawah yang artinya permusuhan. Orang yang

taat kepada Allah disebut wali Allah, karena kedekatannya dengan Allah

7 Al-Hakîm al-Tirmidzî,

(45)

30

melalui ibadah yang dia lakukan dan ketundukannya untuk berusaha

mengikuti semua aturan Sang Pencipta.8

Imam Ibnu Hajar al-Asqolanî dalam kitab Fath al-Bârî menulis bahwa

wali Allah adalah orang yang mengetahui (adanya) Allah, terus menerus

melakukan taat dan ikhlas dalam beribadah Allah telah menjelaskan batasan,

siapakah wali Allah yang sesungguhnya. Dalam al-Qur`an surat Yunus ayat

62-63, Allah telah menjelaskan definisi wali Allah,9

َع ٌفْوَخ ََ ِهَللا َءاَيِلْوَأ َنِإ َََأ

َنوُنَزََْ ْمُ َََو ْمِهْيَل

َنوُقَ تَ ي اوُناَكَو اوُنَمَآ َنيِذَلا .

سنوي(

/

01

:

26

-26

)

Artinya: “Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati – jaminan masuk surga (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Q.S. Yunus/10: 62-63)

Menurut al-Razi perkataan al-walayah dari segi bahasa, terbentuk dari

akar huruf wawu, lam, ya` (يلو) yang mengandung arti dekat, sedangkan ( يِلَو)

waliyy berarti seorang yang dekat, namun kedekatan Allah dari segi tempat dan arah merupakan sesuatu yang mustahil. Kedekatan dengan Allah hanya

dapat dilakukan dengan qalbu yang disinari oleh cahaya ma’rifah

kepada-Nya.10

8 HIS Riza,

Karamat Para Wali, (Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1995), cet. 1, h. 96

9 HIS Riza,

Karamat Para Wali, (Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1995), cet. 1, h. 96

10 Asep Usman Ismail,

Apakah Wali Itu Ada?, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005), h.

(46)

31

Berdasarkan kriteria yang disebutkan dalam ayat di atas, Imam Abu

Ja‟far Al-Thahawi memberikan sebuah kaidah “Setiap mukmin adalah wali

Allah. Dan wali yang paling mulia di sisi Allah adalah wali yang paling taat

dan paling mengikuti Al Qur‟an.11 ketika menafsirkan ayat ini, Menurut Ibn

Katsir “Allah mengabarkan bahwa wali-wali-Nya adalah setiap orang yang

beriman dan bertaqwa. Sebagaimana yang Allah jelaskan. Sehingga setiap

orang yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah.)”

Berdasarkan definisi yang disebutkan pada ayat di atas serta beberapa

keterangan ulama, dapat disimpulkan bahwa wali Allah adalah setiap hamba

Allah yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan konsekuensi imannya

dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Kedekatannya dengan Allah

sebanding dengan keadaan iman yang ada pada dirinya.

Ketika seorang wali sangat bersungguh-sungguh mendekatkan diri

pada Allah dia akan melewati jenjang-jenjang spiritual tertentu (maqâmât),

sesuai dengan perjuangan spiritual yang dilakukannya (mujâhadah), namun

jika Allah yang lebih aktif berperan dalam perjalanan spiritualnya, maka wali

tersebut akan mengalami yang disebut dengan jadzab (ditarik).

Sesuai yang dikatakan ulama, menurut al-Kalâbâdzî, al-murad adalah orang yang ditarik oleh Allah dengan kekuasaan-Nya dan diperlihat

kepadanya tentang keadaan spiritual sehingga adanya kekuatan itu yang

11 Ammi Nur Baits, “Siapakah Wali Allah Itu?”, artikel diakses pada 4 September

(47)

32

disebut dengan mujâhadah, mengadap kepada-Nya dan melakukan segala kewajiban dari-Nya.12

C. Syarat-Syarat Wali Allah

Kita dapat mengetahuinya dengan melihat ciri-ciri/tanda-tanda kewalian-Nya. Yaitu:

1. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa selalu

bertakwa, sesuai dalam firman Allah Q.S. Yunus: 62-63

َنوُقَ تَ ي اوُناَكَو اوُنَمَآ َنيِذَلا .َنوُنَزََْ ْمُ َََو ْمِهْيَلَع ٌفْوَخ ََ ِهَللا َءاَيِلْوَأ َنِإ َََأ

سنوي(

/

01

:

26

-26

)

Artinya: “Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati – jaminan masuk surga (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Q.S. Yunus/10: 62-63)

2. Mereka adalah orang-orang yang sangat kuat mendekat kepada Allah

dengan sesuatu yang lebih Allah cintai (istiqomah) daripada hal-hal yang

Dia wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya (istiqomah)

mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku

mencintainya.13

12In‟amuzzahidin Masyhudi,

Wali-Sufi Gila, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Press, 2003), cet. 1, h. 26.

13 Yahya Bin Syarifuddin Al-Nawawi, Syarhul Arba’in na

-Nawawi, (Surabaya,

(48)

33

Hadis shahih. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri, no. 6502; Abu

Nu‟aim dalam Hilyatul Auliyâ' , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam al-Sunanul

Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248.14

َق ، ُهْنَع ُهَللا َيِضَر َةَرْ يَرُ ْي ِبَأ ْنَع

: َمَلَسَو ِهْيَلَع ُهَللا ىَلَص ِه ّللا ُلْوُسَر َلاَق : َلا

«

ْيِدْبَع َبَرَقَ ت اَمَو ، ِبْرَح ْلاِب ُهُتْ نَذآ ْدَقَ ف اًيِلَو ْي ِل ىَداَع ْنَم : َلاَق ى َلاَعَ ت َها َنِإ

َع ُلاَزَ ي اَمَو ، ِهْيَلَع ُهُتْضَرَ تْ فا ا َِِ َي َلِإ َبَحَأ ٍءْيَشِب

َىَح ِلِفاَوَ نلاِب َي َلِإ ُبَرَقَ تَ ي ْيِدْب

ُتْنُك ُهُتْبَبْحَأ اَذِإَف ،ُهَبِحُأ

ِهِب ُعَمْسَي ْيِذَلا ُهَعََْ

َو ،ِهِب ُرِصْبُ ي ْيِذَلا َُرَصَبَو ،

َِِْلا َُدَي

اَِِ ُشِطْبَ ي

َلا ُهَلْجِرَو ،

اَِِ ْيِشََْ ِِْ

َو ،

َِِْلَأَس ْنِإ

ُهَنَ يِطْعَُأ

ُهَنَذْيِعَُأ ْي ِنَذاَعَ تْسا ِنِئَلَو ،

Dari Abu Hurairah ra, berkata “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh ‘Azza wa Jalla berfirman, siapa

orangnya yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai (istiqomah) daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya (istiqomah) mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti

melindunginya.’”(HR. Bukhari).

3. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai karâmâh. Baik hal itu bisa

dilihat orang banyak maupun tidak tanpa meninggalkan dua syarat

sebelumnya. Sebagaimana mu’jizat para nabi-nabi Allah.

ّلول ةمارك نوكي نا زوج ِنل ةزجعم ناك نا و

“dan jika nabi mempunyai mu’jizat maka walipun mempunyai

karâmâh”15

14

(49)

34 D. Macam-Macam Wali Allah

Al-Hakîm al-Tirmidzî membagi kewalian menjadi dua bagian. Yaitu,

kewalian umum dan kewalian khusus. Kewalian umum mencangkup semua

orang yang beriman, beramal saleh dan membenarkan para Rasul. Mereka

Adapun kewalian khusus mencakup para kekasih Allah dan manusia pilihan,

yaitu manusia yang dipilih Allah untuk-Nya dan Allah membimbing mereka

dengan karunia-Nya agar mereka lebih dekat dengan Allah.16

Ada dua cara untuk memperoleh kewalian khusus. Cara pertama

disebut dengan tarîq al-sidq (jalan perjuangan yang benar), sedangkan cara

kedua disebut dengan tarîq al-minnah (jalan anugrah). Mulai cara pertama

seorang hamba meraih derajat kewalian berkat keikhlasan, kesungguhan, dan

al-sidq (kejujuran) dalam beribadah kepada Allah; sedangkan melalui cara

yang kedua seseorang meraih derajat kewalian semata-mata karena al-minnah

al-ilâhiyyah (anugrah Tuhan)17

Pada hakikatnya keberhasilan seseorang meraih derajat kewalian

bertumpu pada al-minnah al-ilâhiyyah. Hanya saja ada orang Yang

mendapatkan al-minnah al-ilâhiyyah sejak dari awal hingga perjalanannya

menuju Allah menjadi singkat. Orang yang meraih derajat kewalian melalui

15 Yusuf bin Ismail al-Nabhanî, Jâmi’u Karamatil Auliyâ, (Beirut, Dar Al-Kotob,

2014), cet. 5, h. 13.

16 Al-Hakîm al-Tirmidzî,

Kitâb Khatam al-awliy⸠ditahqiq oleh: „Utsman Ismâ‟il Yahyâ, (Beirut, Al-Mathba‟ah al-Katsulikiyyah), h. 112.

17 Asep Usman Ismail,

Apakah Wali Itu Ada?, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005), h.

(50)

35

cara ini disebut ahlu minnah (kelompok penerima anugrah); sedangkan yang

meraih derajat kewalian melalu cara pertama disebut ashâb al-sidq

(kelompok yang sungguh-sungguh dalam beribadah). Kelompok ini disebut

juga kelompok yang benar-benar mencurahkan kesungguhan atau kelompok

nan sungguh-sungguh dalam mewujudkan kebenaran dalam beribadah.

Adapun kewalian yang diperoleh melalui tarîq al-minnah al-ilâhiyyah

(jalan Anugrah ketuhanan). Diberikan kepada dua kelompok wali. Pertama,

kepada ahl al-inâbah wa al-hidâyah (mereka yang kembali dan mendapat

bimbingan). Kedua, al-muqarrabûn wa al-majdzûbûn (mereka yang

didekatkan dan ditarik).

Kelompok pertama adalah mereka yang kembali dengan sepenuh

jiwanya kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya, mengabdi dengan

sungguh-sungguh, maka Allah memberikan rahmat dan bimbingan kepada

mereka sehingga mereka wusûl (sampai) kepada Allah. Dengan proses

mujâhadah (kesungguhan) ini mereka yang kembali kepada-Nya dan

mendapatkan bimbingan.

Kelompok kedua al-muqarrabûn wa al-majdzûbûn adalah mereka

yang dilukiskan oleh al-Hakîm al-Tirmidzî keadaan mereka yang jadzab

(ditarik). Allah menarik mereka ke dalam dirinya dengan cara-Nya sendiri.

Allah memilih dan mendidik mereka, bahkan menyucikan jiwa mereka yang

berlumpur dengan cahaya-Nya, sebagaimana esensi tembaga disucikan dengan

(51)

36

Proses-proses penyucian jiwa itu terus berlangsung hingga mencapai

puncak kesuciannya. Ketika itu Allah menghubungkan mereka ke dalam

kedudukan tertinggi. Lalu tersingkaplah tabir bagi mereka. Allah

menghadiahkan kepada mereka berbagai hal yang mengagumkan dari firman

dan ilmu-Nya.”18

E. Pengertian Jadzab

Jadzab adalah kata dari bahasa Arab yang bermakna menarik, menghela, atau memikat. Menurut kitab lisânul ‘arabî arti jadzab adalah perluasan, pemanjangan, pendesakan, Terkadang bermakna lebih luas.

Menurut Imam Sîbawaih19 kata

بذج

dialih bentuk

هبذتجا

bermakna

هبلتسا

(merampas, merenggut). Terkadang bermakna

ىوهلل

وعدت

ءاو أا

(kecintaan

yang memanggil jiwa) dan

ةعزانما

(menarik, mencabut, memindahkan)20

Menurut istilah, Jadzab adalah Allah menarik ruh hamba-Nya dengan kuat dan terjadi secara spontan kepada ruh hamba pilihan sehingga terjadi goncangan hebat dalam diri hamba yang berakibat kehilangan akal, hanya

18 Al-Hakîm al-Tirmidzî,

Kitâb Khatam al-awliy⸠ditahqiq oleh: „Utsman Ismâ‟il Yahyâ, (Beirut, Al-Mathba‟ah al-Katsulikiyyah), h. 409.

19

Nama lengkap Imam Sîbawaihadalah Amr Ibn Ustman Qanbar Abu Bisyr, ulama terkemuka dalam bidang ilmu nahwu, lahir pada tahun, 148 H. / 765 M. Daerah Baidha (sebuah desa di negeri Persia berdekatan dengan Syairaz).

20

(52)

37

terjadi pada golongan wali Allah. Istilah jadzab ini maksudnya, manusia tidak mempunyai kekuatan untuk hal tersebut karena jalan tersebut dikhususkan dan dianugrahkan kepada orang yang Dia kehendaki sebagai kekasih-Nya mencapai derajat yang sangat tinggi.

Jadzab adalah hal yang dialami oleh hati manusia yang saling berhubungan antara aspek kebatinan dan ketuhanan dengan. Hijab diangkatkan dan mata hati mereka menyaksikan perkara ghaib dan kenyataan tentang Tuhan. Di dalam dirinya, pada umumnya masih memiliki ilmu dan tidak hilang seluruhnya. Hanya saja akalnya tidak berfungsi sebagaimana manusia pada umumnya sehingga tidak mampu berpikir dengan baik.

Menurut Imam al-Junaidi adanya sifat mereka adalah sifat kehendak/perilaku yang tampak dan jelas (terlihat dzâhir), mereka tidak menginginkan sifat itu, mereka tidak meminta hal tersebut dan Allah yang menguasainya kemudian muncul fanâ`, yaitu sifat tidak melakukan apa yang telah dipikulnya dan melakukan apa yang telah diketahuinya.21

F. Syarat-Syarat Jadzab

Syarat syariat jadzab adalah seorang muslim, telah menjadi alim dalam keilmuannya yang teguh mengamalkan syariat, tasawuf dan hakikat. Sedangkan secara hakikat adalah tidak lain hanyalah Allah yang mengetahui, dan hanyalah Allah yang mampu membuat seorang hamba itu menjadi

21 Imam Abû Qâsim al-Junaid,

(53)

38

majdzûb. Pastinya, hukum Islam melihat kepada pelaku keadaan lahir bukan melihat kepada batin.

Seusai jadzab, majdzûb akan mengalami kesadarannya kembali dan meluruskan kembali perilakunya kepada al-Qur‟an dan al--Sunnah dari

pelanggaran perkataan atau perbuatannya jika selama jadzab dia melakukan pelanggaran hukum baik perkataan maupun perbuatan, dia mendapatkan darurat uzur.

G. Macam-Macam Jadzab

Suasana Jadzab itu saling berbeda antara seorang dengan seorang yang lain. Secara umumnya orang yang mengalami Jadzab atau ahli jadzab (majdzub) dibagikan kepada empat jenis.22 Majdzub pertama, adalah orang yang dibawa oleh Tuhan kepada beberapa pengalaman kerohanian yang berkait dengan ketuhanan dan mencapai beberapa makam yang tinggi dalam tempuh yang singkat serta mereka mendapat keasyikan terhadap Allah SWT tanpa berguru dengan siapapun dalam hidup mereka.

Jadzab merombak keperibadian mereka secara menyeluruh. Mereka menjadi orang yang sangat berlainan dari keadaan mereka sebelum datang Jadzab. Mereka tidak suka bergaul dengan orang umum. Mereka lebih merasakan kedamaian dan kebahagiaan jika mereka bersendirian dalam keasyikan dengan Allah SWT. Apa yang berlaku di sekeliling mereka, baik atau buruk, tidak menarik minat mereka. Kegoncangan yang berlaku dalam masyarakat dan keluarga tidak mampu menarik mereka keluar dari keasyikan

22 Mohamad Nasir Bin Majid,

(54)

39

mereka. Mereka hanya tergila-gila kepada Allah SWT. Jika mereka dikuasai oleh Jadzab hilanglah kesadaran, pikiran, penglihatan, pendengaran dan pergerakan mereka.

Majdzûb tidak sadarkan diri mereka dan sekeliling. Dalam keadaan demikian mereka mengalami berbagai hal atau pengalaman kerohanian. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat. Orang majdzûb seperti ini dikasihi oleh Allah SWT dan Dia melindungi mereka dari orang yang jahat. Mereka kehilangan kesadaran dan sifat kemanusiaan, maka hilang juga usaha mereka untuk membedakan yang baik daripada yang buruk. Majdzûb yang seperti ini tidak boleh dijadikan pembimbing masyarakat karena adab sopan dan peraturan masyarakat tidak ada dalam kesadaran mereka.

Majdzûb jenis pertama hidup terus menerus sebagai orang majdzub, tidak kembali lagi kepada kehidupan manusia biasa. Ma’rifah (pengetahuan hakikat) mereka berdasarkan pengalaman kerohanian mereka. Pengalaman mereka hanya untuk diri mereka saja, bukan untuk orang lain. Tanpa tajallî ilmu (terbuka pengetahuan tentang pengalaman yang dilalui) mereka tidak diperbolehkan menjadi pembimbing orang umum.

(55)

40

mereka sampai kepada penetapan dan kesadaran sepenuhnya. Ketika menaik kesadaran mereka terhadap yang selain Allah SWT hilang dengan cepat dan dalam keadaan demikian mereka „menemui‟-Nya. Ketika penurunan kesadaran terhadap diri sendiri dan makhluk lainnya tidak kembali dengan cepat. 23

Mereka mengambil masa yang agak lama sebelum rasa jadzab hilang sepenuhnya dari kesadaran mereka. Ada sebagian dari mereka yang rasa jadzab tidak hilang sampai ke akhir hayat mereka. Bagi majdzûb, jadzab berperanan sebagai „kuasa pemaksa‟ yang menarik mereka keluar dari alam kelalaian dan memasukkan mereka ke jalan yang memperadabkan mereka dengan Tuhan. rahmat Tuhan yang menarik mereka kembali kepada jalan yang lurus. Perubahan yang berlaku kepada mereka terjadi dengan pantas.

Masa kurang daripada dua bulan mereka sudah melalui semua tahap kerohanian dan mengalami hal ketuhanan yang mencukupi untuk mereka mengenal Tuhan secara hakiki. Setelah kembali kepada sifat kemanusiaan semula mereka meneruskan kehidupan menurut jalan kenabian, menurut Sunah Rasulullah SAW dan menjadikan kehidupan nabi-nabi dan wali-wali sebagai contoh. Proses penurunan majdzûb jenis kedua ini merupakan pembalikan kepada proses menaik orang sâlik24.

23 Mohamad Nasir Bin Majid,

Kebenaran Hakiki: Tarekat Orang Majzub, h. 1-6

24 Salik adalah seseorang yang sedang menempuh jalan menuju keridhoan Allah

(56)

41

Majdzûb jenis ke dua melalui tahap-tahap kerohanian dan mencapai berbagai-bagai makam dalam tempuh yang singkat. Kumpulan ini biasanya memasuki jadzab tanpa persediaan dari segi ilmu dan juga mereka tidak mempunyai guru. Setelah mengalami jadzab mereka kembali kepada kesadaran biasa. Akal pikiran dan sifat kemanusiaan mereka dikembalikan. Mereka mendapati kesukaran untuk menjelaskan pengalaman kerohanian yang telah mereka lalui. Ketika di dalam zauk (perasaan), pengetahuan tidaklah penting, tetapi bila kembali sadar akal pikiran memerlukan kepahaman.

Dari sini orang majdzûb yang kembali sadar itu digerakkan untuk menyelidiki, mengambil iktibar dan bertanya kepada orang-orang yang „ârif. Keadaan mereka umpama orang yang bermimpi pada malam hari dan termenung pada siangnya untuk mengingati apa yang dimimpikan dan apa pula maksud mimpi tersebut. Proses memahami dan menyusun perjalanan kerohanian jauh lebih lambat dari pada proses pengalaman kerohanian itu sendiri.

(57)

42

Apabila mereka bebas sepenuhnya daripada kesan jadzab, mereka akan temui Kebenaran Hakiki yang sesuai dengan al-Qur`an dan al-Sunnah. Walaupun mereka mengalami hakikat tetapi tanpa kematangan ilmu mengenai pengalaman tersebut, mereka tidak layak dipanggil ‘ârif25. Ilmu mereka benar-benar matang setelah mereka kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah.

Majdzûb jenis ke tiga, tidak hilang akal pikiran dan kesadaran mereka. Perubahan kerohanian berlaku dalam sadar dan jaga. Tidak ada perpisahan dengan sifat kemanusiaan, tidak ada fana dan bersatu dengan Tuhan. Mereka menetap dalam kehambaan, tidak terbalik pandangan, tidak mengalami mabuk dan tidak mengeluarkan ucapan latah yang menyalahi syariat. 26

Orang yang didatangkan jadzab kepada mereka adalah sebagai bukti karunia Tuhan untuk memperkenalkan mereka kepada Yang Hakiki karena ilmu dan sampai kapanpun amal mereka tidak akan mampu menyampaikan mereka kepada yang jadzab. Kaum sufi umumnya berpendapat majdzûb yang menetap dalam kesadaran dan kehambaan lebih baik daripada majdzûb yang mengalami kefanaan dan mabuk. Majdzûb yang di dalam kesadaran mampu menjauhkan diri mereka daripada perkara-perkara yang mendatangkan fitnah.

Majdzûb jenis ke tiga biasanya dari mereka yang mempunyai bekal ilmu yang mencukupi. Kumpulan ini memasuki jalan kerohanian secara berhati-hati dan diselubungi oleh keraguan. Mereka memerlukan masa untuk

25„Ârif adalah orang yang telah melewati berbagai rintangan kesulitan melawan hawa

nafsu sampai lulus mencapai pada derajat ma‟rifat kepada Allah.

26 Mohamad Nasir Bin Majid,

(58)

43

mengharmonikan pengalaman yang dilalui dengan pengetahuan yang ada. Apa yang diketahui sebelum mendapat jadzab berbeda dari apa yang diketahui sesudah mendapat jadzab.

Setelah kejadian jadzab, mereka akan kembali kepada pengetahuan Al-Qur`an dan al-sunnah yang tampak berselisih dengan apa yang dirasakan dan dapat dipastikan ba

Referensi

Dokumen terkait