• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA BERBUSANA BANGSAWAN KESULTANAN SERDANG DI ERA KOLONIAL BELANDA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GAYA BERBUSANA BANGSAWAN KESULTANAN SERDANG DI ERA KOLONIAL BELANDA."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

GAYA BERBUSANA BANGSAWAN KESULTANAN SERDANG

DI ERA KOLONIAL BELANDA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh :

IKI FADILLA NIM 3113121031

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Iki Fadilla

Nim : 3113121031

Jurusan : Pendidikan Sejarah Fakultas : Ilmu Sosial

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar

merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang

lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktiksn sendiri ini hasil jiplakan,

maka saya bersedia sanksi atas perbuatan tersebut.

Medan, Juni 2015

Saya Yang Membuat Pernyataan

Iki Fadilla

(5)

ABSTRAK

Iki Fadilla. NIM: 3113121031. Gaya Berbusana Bangsawan Kesultanan Serdang di Era Kolonial Belanda. Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah program studi S1, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Kesultanan Serdang didirikan pada abad ke-18 sebagai pecahan dari kesultanan Deli. Pada akhir abad ke-19, terjadi pembukaan lahan perkebunan tembakau yang dipelopori oleh pengusaha asal Belanda Jacob Nienhuys. Hal ini tentu saja berdampak kepada kesultanan Serdang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya busana para bangsawan Serdang di era kolonial dan pengaruh perubahan gaya busana terhadap identitas dan status para bangsawan. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode studi pustaka.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sendi-sendi kehidupan kesultanan Serdang mengalami perubahan.Terjadi perubahan terhadap gaya hidup para bangsawan. Berkat kekayaan yang dimiliki oleh Sultan dan bangsawan, mereka telah mampu mengadopsi cara-cara kehidupan Barat. Terjadi proses pembaratan di Serdang. Kesenian, hiburan dan gaya busana mendapat pengaruh yang cukup besar. Penggunaan pakaian modern (setelan Kemeja, Jas, Pentalon/celana panjang beresleting, Dasi dan Sepatu) digunakan pada saat acara publik, dan pakaian adat dikenakan saat acara-acara tertentu seperti upacara adat dan acara perkawinan. Pakaian yang mencerminkan kehormatan bagi pemakainya ini untuk dekade masuknya pemerintah kolonial, kemudian terjadi pergeseran makna yang begitu mencolok. Arti pakaian pada dekade ini bukan hanya untuk menutupi aurat maupun kehormatan, melainkan lebih mencerminkan kepada status dan identitas pemakainya kepada lingkungan sosial. Gaya busana mereka juga menjadi media efektif untuk menunjukkan status, kedudukan, kekuasaan, gaya hidup, dan jenis kelamin. Selain itu, telah terjadi stratifikasi sosial oleh penguasa kerajaan. Stratifikasi yang sudah ada sebelum kedatangan pejabat Kolonial Hindia Belanda. Orang Eropa hanya mempertegas suatu gerak yang telah dimulai melalui jalan-jalan lain. Mereka datang dengan membawa kebudayaan Barat mereka. Penguasa pribumi telah menciptakan jurangnya sendiri.

(6)

ABSTRACT

Iki Fadilla. NIM: 3113121031. Gaya Berbusana Bangsawan Kesultanan Serdang di Era Kolonial Belanda. Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah program studi S1, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Serdang Sultanate was founded in the 18th century as a fraction of the Sultanate of Deli. At the end of the 19th century, there was a tobacco plantation land clearing which is spearheaded by a Dutch entrepreneur Jacob Nienhuys. This things actually have impacted on the empire Serdang. This study aims to determine the fashion style of the Serdang’s nobles in the colonial era and the effects of changes in fashion style against the identity and status of the nobles. To obtain the required data, the authors collected data using literature. The results obtained from this study are the joints of the empire Serdang life has changing. Changes to the lifestyle of the nobility has occured. Cause of the wealth owned by the Sultan and nobility, they have been able to adopt Western ways of life. There are process of Westernization in Serdang. Arts, entertainment and fashion gets considerable influence. The use of modern clothing (suits Shirts, Jackets, Pentalon/pants zipper, tie and shoes) used during public events, and custom clothing worn during special occasions such as ceremonies and weddings. Clothes that reflect the wearer's honor for the inclusion of the colonial government for decades, then there was a shift of meaning that is so striking. Meaning of clothing in this decade not only to cover the nakedness and honor, but rather reflect the status and identity of the wearer to the social environment. Their fashion style also be an effective medium to show the status, position, power, lifestyle, and gender. In addition, there has been a social stratification by a monarch. Stratification that existed before the arrival of the Dutch East Indies colonial officials. Europeans only reinforce a movement that has begun through other paths. They came to bring their Western culture. Native rulers had created a ravine itself .

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia yang

diberikanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Tak lupa

shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW ysng sangat

kita harapkan safa’atnyadi hari kemudian.

Penelitian ini berjudul “Gaya Berbusana Bangsawan Kesultanan Serdang

di Era Kolonial Belanda”. Penelitian ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sejarah di Universitas

Negeri Medan.

Penulis menyadari di dalam penulisan skripsi ini masih banyak

kekurangan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengalaman

yang dimiliki penulis. Oleh karena itu untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini

penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan

penelitian berikutnya. Semoga penelitian ini bermanfaat khususnya bagi penulis

dan bagi pembaca pada umumnya.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis telah banyak menerima

bantuan, bimbingan, arahan, doa serta dorongan semangat dari berbagai pihak,

maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan

penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung

tersusunnya skripsi ini, yaitu:

1. Terkhusus kepada kedua orangtua penulis, Ayahanda tersayang (Alm.)

Sukimin yang tidak bisa mendampingi penulis sampai akhir dan Ibunda

(8)

dan mendukung secara moril dan materil yang tidak terhingga kepada

penulis. Ayahanda dan Ibunda adalah semangat yang tak tergantikan bagi

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di jurusan

Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan.

2. Saudari penulis, Sunly dan Henny yang selalu memberikan dukungan, dan

selalu mengingatkan penulis untuk selalu berperilaku baik selama

perkuliahan dan selalu memberikan motivasi untuk segera menyeselaikan

pendidikan di Universitas Negeri Medan ini.

3. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri Medan

4. Dr. Restu, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

Medan

5. Dra. Flores Tanjung, MA selaku Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah

Universitas Negeri Medan.

6. Drs. Yushar Tanjung, M.Si selaku sekretaris Jurusan Program Studi

Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan dan juga sebagai dosen

Pembimbing Akademik penulis yang telah memberikan saran dan

masukan dalam penulisan skripsi ini. Serta gaya mengajar dan

penampilannya yang eksentrik sangat menggugah semangat belajar

mahasiswanya.

7. Drs. Ponirin selaku Dosen Pembimbing yang di tengah-tengah

kesibukannya telah memberikan bimbingan, arahan, dukungan serta

dorongan dengan penuh kesabaran kepada penulis dalam menyusun skripsi

(9)

8. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Sejarah yang telah

membagikan ilmu dan pengalamannya yang sangat berharga bagi

pengembangan wawasan keilmuan dan kemajuan berpikir untuk kemajuan

dunia pendidikan, serta memberikan bimbingan kepada penulis selama

mengikuti pendidikan di Universitas Negeri Medan.

9. Untuk barisan kesayanganku Dwi Oktafiyani sang kakak beruang, Nuri

Yunita Hasan Nasution sang diktator, kakak tertua Fitria Kartika, Adiyati

Utari, Muhammad Taufiq dan Deni Hartanto. Terima kasih untuk empat

tahun ini, mengajarkanku bahwa hidup itu seperti permen nano-nano

dengan berbagai rasa bukan hanya manis belaka.

10. Untuk teman-teman seperjuangan kelas A Reguler 2011 yang tidak boleh

disebutkan satu persatu namanya, saya ucapkan terima kasih untuk segala

kekonyolan intelektual yang telah menghiasi ruang kelas dimanapun kita

belajar. Aku tanpa kalian hanyalah senggok daging kawan.

11. Kepada Kepala Perpustakaan Luckman Sinar beserta stafnya, saya

ucapkan terima kasih telah bersedia memberikan ijinnya dan membantu

penulis dalam mengumpulkan data guna melengkapi potongan kata dalam

(10)

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang

telah membantu dan jika ada yang pihak yang terlewatkan, penulis meminta maaf

atas kesalahan dan kehilafan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan

bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Amin.

Medan, Juni 2015 Penulis,

Iki Fadilla

(11)
(12)

ii

BAB IV PEMBAHASAN ...22

A. Sejarah dan Kondisi Awal Kesultanan Serdang ...22

B. Bangsawan Kesultanan Serdang pra-kolonial ...30

1. Bangsawan Serdang...30

1.1. Penggunaan Gelar Bangsawan ...31

2. Kesenian dan Hiburan...33

3. Gaya Berbusana Bangsawan Serdang pra-Kolonial ...34

3.1. Jenis Busana Melayu dan Penggunaannya di Serdang ...34

C. Bangsawan Serdang dan Gaya Berbusananya di Era Kolonial...38

1. Bangsawan Serdang...38

2. Kesenian dan Hiburan...39

3. Gaya Berbusana Bangsawan Serdang Era Kolonial ...43

D. Perubahan Gaya Busana Bangsawan Serta Status dan Identitas Sosial Di Serdang 65 BAB V KESIMPULAN ...76

(13)

DAFTAR TABEL

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar.1 Sultan Serdang ke-4 1850-1880... 36

Gambar.2 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah ... 46

Gambar.3 Sultan Serdang dan Bangsawan ... 48

Gambar.4 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah ... 50

Gambar.5 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah ... 52

Gambar.6 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dan Datuk Berlapan ... 53

Gambar.7 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dan Sultan Deli ... 55

Gambar.8 Bendahara Serdang dan Pejabat Lainnya... 57

Gambar.9 Hulubalang dan Panglima Serdang ... 58

Gambar.10 Hulubalang dan Panglima Serdang ... 59

Gambar.11 Sibayak dan Perbapaan Senembah... 60

Gambar.12 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah ... 61

Gambar.13 Para Sultan di Kesultanan Sumatera Timur ... 63

Gambar.14 Istana di Rantau Panjang... 67

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kesultanan Serdang

didirikan pada abad ke-18 sebagai pecahan dari kesultanan Deli.

Keberadaan Kesultanan ini tentunya juga mempengaruhi keberadaan keluarga

maupun kerabatnya. Kehidupan para Sultan pada saat itu masih sangat sederhana,

begitu juga dengan rakyatnya. Pengaruh dari pemerintah kolonial Belanda masih

belum begitu terasa. Sultan yang dibantu oleh pembesar menjalankan

pemerintahan dengan memberlakukan hukum Islam dan juga hukum adat melayu.

Tata cara tradisional dan Islam mengenai menyapa dan menunjukkan rasa hormat

kepada orang tua atau atasan tetap bertahan. Selain itu, cara-cara dan penggunaan

pakaian tradisional masih tetap terpelihara pada acara pernikahan dan peringatan

penting lainnya.

Pada akhir abad ke-19, terjadi pembukaan lahan perkebunan tembakau

yang dipelopori oleh pengusaha asal Belanda Jacob Nienhuys. Hal ini tentu saja

berdampak kepada kesultanan serdang. Para sultan dan keluarga kemudian

mampu mempertahankan ataupun memulai gaya hidup mewah, berkat uang yang

diperoleh dari sewa-sewa tanah perkebunan yang menjadi hak sultan. Dengan ini

juga sultan mampu membangun istana yang lebih besar, memiliki prajurit,

melakukan perjalanan (rekreasi), dan yang paling mendasar adalah gaya

(16)

2 menghadapi berbagai guncangan dari kekuatan eksternal istana. Modernisasi yang

dilancarkan pemerintah kolonial mengakibatkan transformasi struktural.

Setelah masuknya pengaruh Belanda, sendi-sendi kehidupan kesultanan

mengalami perubahan drastis, salah satunya gaya berbusana. Penggunaan setelan

kemeja, celana beresleting, jas, topi, sepatu, ataupun aksesoris tambahan bagi

perempuan mulai digunakan oleh para bangsawan lokal. Sama halnya dengan

yang terjadi di Jawa, bangsawan lelaki mengalami pembaratan yang signifikan.

Mereka paling banyak mengadopsi gaya-gaya barat. Begitu juga dengan wanita

Jawa, para wanita Melayu masih setia menggunakan kebaya dan selendangnya.

Wanita masih sedikit mendapat pengaruh pembaratan pada dekade awal abad 19.

Pakaian yang mencerminkan kehormatan bagi pemakainya ini untuk

dekade masuknya pemerintah kolonial, kemudian terjadi pergeseran makna yang

begitu mencolok. Arti pakaian pada dekade ini bukan hanya untuk menutupi aurat

maupun kehormatan, melainkan lebih mencerminkan kepada status dan identitas

pemakainya kepada lingkungan sosial. Gaya berbusana mereka juga menjadi

media efektif untuk menunjukkan status, kedudukan, kekuasaan, gaya hidup,

bahkan jenis kelamin.

Busana sebagai bagian luar yang tampak akan dengan mudah

diidentifikasi oleh siapapun yang melihatnya. Busana yang juga mencerminkan

status dan identitas ini telah membuat masyarakat lebih mudah untuk menentukan

sikap. Hal seperti itu juga digambarkan oleh Pramoedya, yang dari pada itu

Mingke sebagai tokoh utama menggunakan pakaian serba putih persis pakaian

(17)

3 pribumi menjadi ciut. Pribumi itu bahkan tidak berani memandangnya secara

langsung, dia hanya menunduk dan bahkan melihat sepatunya pun tak berani.

Pribumi menganggap hal itu sebagai momok1yang merampas hak mereka. Hal itu

kemudian menunjukkan betapa besar pengaruh gaya berbusana seseorang

terhadap kehormatan, status dan identitasnya.

Berdasarkan uraian di atas, dengan mengambil contoh kasustersebut,

penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gaya berbusana para

bangsawan Kesultanan Serdang dengan judul: “Gaya Berbusana Bangsawan Kesultanan Serdang pada Era Kolonial Belanda”. Penulis mengadakan penelitian tersebut karena mengganggap kehidupan para bangsawan yang semula

masih sederhana, dengan kedatangan perusahaan onderneming tersebut menjadi

lebih mewah, yang tampak dari dibangunnya istana Sultan, dan gaya berberbusana

yang mungkin saja mengadopsi mode Eropa. Dengan perubahan ini maka

muncullah gejala-gejala sosial yang mencerminkan status dan identitas bangsawan

kesultanan melayu.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dapat

di identifikasi yaitu:

1. Sejarah Kesultanan Serdang

1Momok dalam bahasa Jawa artinya hantu atau sejenis sosok menakutkan. Pramoedya

(18)

4 2. Gaya berbusana para bangsawan Kesultanan Serdang, serta

penggunaan/kedudukannya

3. Pengaruh perubahan gaya berbusana terhadap identitas dan status para

bangsawan

C. Pembatasan Masalah

Karena luasnya masalah yang harus dibahas, maka penulis membatasi

permasalahan dalam penelitian ini agar lebih terarah dan terfokus. Oleh karena itu,

penelitian dibatasi berdasarkan identifikasi masalah, yaitu gaya berbusana

bangsawan Kesultanan Serdang pada masa kolonial. Pembatasan penelitian ini

saat pemerintah kolonial Belanda berkuasa di Indonesia. Terutama dengan adanya

pembukaan lahan perkebunan di luar Jawa dalam hal ini adalah Sumatera Timur,

yang kemudian mengakibatkan banyaknya terjadi perubahan di segala aspek

kehidupan masyarakat, khususnya kehidupan bangsawan Kesultanan Serdang.

D. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana kondisi awal gaya berbusanabangsawan Kesultanan Serdang

sebelummasuknya kolonial Belanda?

2. Bagaimana gaya berbusana para bangsawan Kesultanan Serdang, serta

penggunaan/kedudukannya pada masa kolonial?

3. Bagaimana pengaruh perubahan gaya berbusana terhadap identitas dan

(19)

5 E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini :

1. Untuk mengetahui kondisi awal gaya berbusana bangsawan Kesultanan

Serdang sebelum masuknya era kolonial.

2. Untuk mengetahuigaya berbusana para bangsawan Kesultanan Serdang,

serta penggunaan/kedudukannya.

3. Untuk mengetahui pengaruh perubahan gaya berbusana terhadap identitas

dan status para bangsawan.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian sering di identifikasi dengan tujuan penelitian, oleh

sebab itu perlu dijelaskan manfaat penelitian dari penulisan ini adalah:

1. Memberi informasi bagi pembaca tentang kehidupan para bangsawan

kesultanan Serdang sebelum kolonial.

2. Memberi informasi bagi pembaca tentang kondisi awal gaya

berbusanabangsawan Kesultanan Serdang sebelum masuknya era kolonial.

3. Memberi informasi bagi pembaca tentang kondisi awal gaya

berbusanabangsawan Kesultanan Serdang era kolonial.

4. Memberi informasi bagi pembaca tentang pengaruh perubahan gaya

berbusana terhadap identitas dan status para bangsawan.

5. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk referensi bahan

perbandingan terhadap hasil penelitian yang telah ada maupun digunakan

(20)

6 6. Sebagai bahan masukan bagi Lembaga Pendidikan umumnya dan

(21)

76

BAB V KESIMPULAN

Dari penelitian tentang Gaya Berbusana Bangsawan Kesultanan Serdang

di Era Kolonial Belanda yang telah dilaksanakan, dapat ditarik beberapa

kesimpulan, diantaranya yaitu:

1. Adat Melayu telah mengatur penggunaan berbusana setiap orang Melayu.

Mulai dari warna, motif, jenis baju, lipatan tanjak/destar serta penggunaan

sampin dan pending (ikat pinggang). Baju berwarna kuning adalah

terlarang bagi masyarakat awam dan juga bangsawan. Hanya Sultan dan

Putera Mahkota yang boleh mengenakan baju dengan Royal Colour-nya.

Tidak ada yang boleh menyamai kebesaran Sultan.

2. Pakaian bukan hanya berfungsi sebagai penutup aurat, pada zaman modern

itu pakaian telah menjadi penanda status sosial yang paling mencolok.

Terjadi stratifikasi sosial oleh penguasa kerajaan. Stratifikasi yang sudah

ada sebelum kedatangan pejabat Kolonial Hindia Belanda. Orang Eropa

hanya mempertegas suatu gerak yang telah dimulai melalui jalan-jalan

lain. Mereka datang dengan membawa kebudayaan Barat mereka.

Penguasa pribumi telah menciptakan jurangnya sendiri.

3. Terjadi perubahan terhadap gaya hidup para bangsawan. Berkat kekayaan

yang dimiliki olehpara bangsawan dan Sultan, mereka telah mampu

mengadopsi cara-cara kehidupan Barat. Terjadi proses pembaratan di

(22)

77

cukup besar. Bersenang-senang, plesiran menjadi bagian dalam keseharian

para bangsawan. Sementara itu, penggunaan pakaian modern (setelan

Kemeja, Jas, Pentalon, Dasi dan Sepatu) digunakan pada saat acara publik,

dan pakaian adat dikenakan saat acara-acara tertentu maupun upacara adat.

4. Tergantung pada zaman, berpakaian seperti seorang Eropa dapat

merefleksikan beragam motif. Ia dapat menjadi tanda menerima

kebudayaan Eropa atau suatu keinginan untuk menjadi bagian dari dua

mode yang pintar. Mengikuti gaya Eropa dapat mengindikasikan

penerimaan terhadap pemerintahan Belanda. Dengan kata lain, para

(23)

78 Daftar Pustaka

Anderson, Benedict. 2008. Imagined Communities. INSIST PRESS. Yogyakarta

Azhari, Ichwan. 2009. Jejak Sejarah dan Kebudayaan Melayu di Sumatera Timur. Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara. Medan

Geertz, Clifford. 1981. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, cetakan 1, Pustaka Jaya, Jakarta.

Kartodidjo, Sartono. 1981. Elite Dalam Perspektif Sejarah, LP3ES. Jakarta

Latiff, Abdul. 2004. Busana Melayu Serumpun. Institut Seni Malaysia Melaka (ISMMA). Kuala Lumpur

Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa: Silang Budaya; Batas-Batas Pembaratan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Nizami, O.K. 2005. Pakaian Tradisional Melayu. LPNU Press. Riau

Notosussanto, Nugroho.2008. Mengerti Sejarah. UI-Press. Jakarta

Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas : Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. KPG. Jakarta

Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Schulte, Henk. 1997. Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan. LKiS. Yogyakarta

Sinar, Tengku Luckman, 2006. Bangun dan Runtuhnya kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Yayasan Luckman Sinar. Medan

. 2007. Kronik Mahkota Serdang. Yandira Agung. Medan

. 1986. Sari Sedjarah Serdang: 2. Depdikbud. Jakarta

(24)

79 . 2007. Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda. FORKALA. Medan

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Ombak. Yogyakarta

Soekanto, Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo. Jakarta

Suwardi. 2007. Kebudayaan Melayu. Sekolah Tinggi Pariwisata Riau. Pekanbaru

Takari, Muhammad. 2012. Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya. USU Press. Medan

Toer, Pramoedya Ananta. 1981. Anak Semua Bangsa. Hasta Mitra. Jakarta

Van Niel, Robert. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia. Pustaka Jaya. Jakarta

Tesis:

Gambar

Tabel.1 Penggolongan Penggunaan Warna Pakaian...............................................

Referensi

Dokumen terkait

14 Chen (2000) melalui penelitiannya menyatakan bahwa jika loop diaktivasi berarti gaya horizontal akan semakin besar, hal ini tentu saja berdampak pada gaya resultan

Pada saat sekarang ini dari 7 (tujuh) bangunan benteng peninggalan Kolonial Belanda serta 1 (satu) benteng/istana Kesultanan Banten yang keseluruhannya berada di Pulau Jawa –

Dalam hubungannya dengan era disrupsi (sedang terjadinya perubahan yang fundamental atau mendasar), hal ini tentu harus ada upaya untuk melakukan penataan kembali (right

Pada saat sekarang ini dari 7 (tujuh) bangunan benteng peninggalan Kolonial Belanda serta 1 (satu) benteng/istana Kesultanan Banten yang keseluruhannya berada di Pulau Jawa –

ini membahas sejarah pendidikan kolonial dan dinamika penduduk bumiputera yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi pendidikan di wilayah Hindia Belanda,

Proses eksperimentasi ini dimulai dari pembagian dua babak gaya visual yang pernah ada di kota Bandng yaitu era kolonial dan subkultur yang memiliki masa kejayaan nya masing

Rekonstruksi perkembangan gaya visual iklan rokok yang dimuat pada media majalah sejak masa kolonial Hindia Belanda sampai Pasca Orde Baru (1925-2000), serta

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar menganggap trend gaya busana di era modern yang ada saat ini memang