BAB I PENGANTAR. Politik Etis membuka era baru dalam perpolitikan kolonial di. Hindia Belanda sejak tahun Pada masa ini diterapkan suatu

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang

Politik Etis membuka era baru dalam perpolitikan kolonial di Hindia Belanda sejak tahun 1900. Pada masa ini diterapkan suatu politik yang bertujuan untuk melunasi hutang “balas budi” Pemerintah Kolonial terhadap penduduk tanah jajahannya di Hindia Belanda. Penerapan politik ini menekankan pada tiga program, yaitu pengairan, pendidikan, dan perpindahan

penduduk.1 Politik Etis mengisyaratkan sejumlah sumbangan dari

Pemerintah Kolonial untuk penduduk bumiputera dalam hal pengembangan sekolah, pelayanan kesehatan, transportasi dan

pembangunan infrastruktur lainnya. 2 Program-program

pengembangan tersebut bertujuan untuk mencerdaskan rakyat,

meningkatkan kesejahteraan umum, dan meratakan

kemakmuran. Salah satu akibat diterapkannya Politik Etis ini dapat dilihat di Purworejo.

1 Ricklefs, M. C., Sejarah Indonesia Modern 1200-2008,

(Jakarta: Serambi, 2008), hlm. 327-328.

2Gouda, Frances, Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di

(2)

Dua penelitian masing-masing dilakukan oleh Musadad3

dan Didien Ngadinem4 menegaskan bahwa Purworejo yang dahulu

termasuk ke dalam Karesidenan Bagelen memang sudah dilirik oleh Pemerintah Kolonial karena daerahnya yang subur. Letak Purworejo juga sangat strategis karena berada pada jalur lalu

lintas perdagangan yang sangat menunjang kehidupan

perekonomian. Sejak berakhirnya Perang Diponegoro, Purworejo dijadikan daerah yang penting bagi kepentingan politik Pemerintah Kolonial. Dalam rangka menumbuhkan tingkat perekonomian di wilayah ini, Pemerintah Kolonial mengawali pembangunan fisik pada pembangunan sarana penunjang militer. Sarana tersebut meliputi benteng, tangsi militer, perumahan perwira, asrama tentara, dan juga fasilitas lain seperti pendidikan umum bagi

warga keturunan Eropa maupun bumiputera. 5 Setelah itu

dibangunlah infrastruktur lain untuk menunjang kehidupan aktivitas masyarakat seperti sarana transportasi, pasar, dan instansi pemerintah.

3 Musadad, “Dari Pemukiman Benteng ke Kota Administrasi

(Tata Ruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930)”. Tesis Jurusan

Sejarah FIB UGM, 2001.

4 Didien Ngadinem, “Perkembangan Daerah Karesidenan

Bagelen Pertengahan Abad XIX (Sebuah Study Sejarah

Sosial-Ekonomi)”. Skripsi Jurusan Sejarah UGM, 1993.

5 Musadad, “Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api Bagi

Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930”. Laporan

(3)

Terkait pembangunan infrastruktur pemerintah di Purworejo pada masa kolonial, gedung sekolah memang yang paling banyak jumlahnya. Dapat dikatakan bahwa Pemerintah Kolonial memberikan perhatian yang besar terhadap kemajuan pendidikan. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas kemampuan sumber daya manusia yang akan memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kursi pemerintahan. Bagi Pemerintah Kolonial akan terasa berat jika mengirimkan tenaga ahli dari Belanda untuk datang ke Indonesia karena membutuhkan biaya

besar.6 Mereka lebih memilih jalan lain dengan melatih penduduk

bumiputera di bangku sekolah karena tenaga mereka nantinya dapat dibayarkan dengan gaji yang murah. Meski demikian, bagi penduduk bumiputera untuk memperoleh posisi dalam pemerintahan merupakan sebuah prestise tersendiri karena sebelumnya hanya orang yang berasal dari keturunan bangsawan saja yang memperoleh posisi tersebut.

Diperkenalkannya sekolah bercorak Barat dari tingkat menengah ke atas memungkinkan adanya keunggulan berbagai macam ilmu, sehingga proses pelebaran diferensiasi kerja juga

6 S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Bandung:

(4)

menjadi lebih cepat. 7 Semakin berkembanganya pendidikan

kolonial ini merupakan akar perubahan sosial yang

mempengaruhi elite bumiputera. Kebutuhan akan tenaga birokrasi bumiputera yang berpendidikan Barat bertambah besar seiring

meluasnya kekuasaan Belanda. Sebelumnya

kedudukan-kedudukan tinggi dalam hierarki kepegawaian bumiputera biasa

diberikan atas dasar asal keturunan (ascribed status). Namun

sejak politik kolonial mulai memperhatikan pendidikan di wilayah Hindia Belanda, persaingan untuk menduduki suatu jabatan

tertentu mulai terbuka.8

Sementara penelitian-penelitian yang sudah ada, misalnya oleh Musadad dan Didien Ngadinem yang telah disebutkan, mengulas tumbuh dan berkembangnya Purworejo sebagai kota kolonial yang penting bagi pemerintah Hindia Belanda, dampak dari transisi Purworejo menjadi wilayah urban belum banyak dikaji. Hal ini khususnya menyangkut dinamika sosial penduduk yang terkait dengan baik perpindahan penduduk maupun perubahan struktur sosial ekonomi mereka. Dua aspek dinamika ini (perpindahan penduduk dan perubahan struktur sosial

7 Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto,

Sejarah Nasional Indonesia V, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hlm.

124.

8 Niel, Robert van, Munculnya Elite Modern Indonesia,

(5)

ekonomi) dipahami sebagai mobilitas sosial penduduk. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengulas tentang dinamika penduduk dan perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat secara langsung maupun tidak langsung dari perkembangan pendidikan kolonial.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, pokok permasalahan yang akan dikaji adalah dinamika kehidupan sosial penduduk di Kabupaten Purworejo sebagai akibat dari perkembangan

pendidikan. Permasalahan pokok tersebut kemudian

memunculkan pertanyaan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mencari jawaban atas permasalahan tersebut, yaitu:

1. Bagaimana perkembangan pendidikan di Purworejo

pada periode 1900-1942?

2. Bagaimana perkembangan pendidikan tersebut

mempengaruhi dinamika sosial penduduk?

Ruang lingkup penelitian ini menggunakan spasial

regentschap Purworejo yang pada tahun 1831 merupakan ibukota

karesidenan Bagelen. Purworejo menjadi pusat kekuatan militer Belanda sejak berlangsungnya Perang Diponegoro karena

(6)

pemerintahan Belanda. Daerah ini semakin berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan milik pemerintah Belanda seperti benteng, asrama militer, rumah sakit, dan sekolah-sekolah Eropa. Batasan waktu kajian skripsi ini adalah tahun 1900 yaitu sejak diberlakukannya Politik Etis hingga tahun 1942 yaitu ketika pemerintahan kolonial di Hindia Belanda berakhir.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat fenomena perubahan sosial di Purworejo pada tahun 1900-1942 sebagai dampak perkembangan pendidikan yang merupakan salah satu program pelaksanaan Politik Etis. Penafsiran sumber-sumber yang tersedia akan membantu menjelaskan penyebab terjadinya perubahan sosial tersebut. Hasil yang diharapkan dari tulisan ini adalah karya sejarah yang berbentuk analisis deskriptif untuk mendokumentasikan peristiwa sejarah di Purworejo sehingga bisa menambah khazanah bagi ilmu sejarah.

D. Kerangka Konseptual

Pendidikan yang berkembang pada masa kolonial meliputi pendidikan formal dan non formal yang didirikan oleh pemerintah maupun swasta. Pada masa berlangsungnya Politik Etis,

(7)

pendidikan mempunyai beberapa ciri khas politik kolonial seperti gradualisme, dualisme, kontrol sentral yang kuat, keterbatasan tujuan, prinsip konkordansi, dan belum adanya perencanaan

pendidikan yang sistematis.9

Berdasarkan penelitian Pitirim A. Sorokin, lembaga

pendidikan dapat dikatakan sebagai social elevator karena menjadi

saluran konkrit gerak sosial vertikal dari kedudukan paling rendah

ke kedudukan paling tinggi dalam masyarakat. 10 Diantara

banyaknya pendidikan formal dan non formal yang muncul pada masa kolonial, pendidikan Barat menjadi idaman banyak orang karena memunculkan penghargaan bagi seseorang tanpa

memandang asal-usul keturunannya. 11 Pendidikan Barat

melahirkan golongan intelektual dan tenaga terdidik yang mumpuni sebagai pengisi jabatan dalam pemerintahan maupun swasta. Para intelektual yang tidak hanya berasal dari kalangan bangsawan tersebut kemudian menjadi elite baru karena mengalami kenaikan status sosial. Dalam hal ini, pendidikan

9 S. Nasution, op.cit., hlm. 20.

10 Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar. (Jakarta:

CV Rajawali, 1982), hlm. 247.

11 Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis dari Zaman Kompeni

(8)

menjadi titik balik perubahan struktur masyarakat karena menyebabkan terjadinya mobilitas sosial dalam masyarakat.

Perkembangan pendidikan menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan sosial karena berdampak pada perubahan struktur dalam masyarakat. Selo Soemardjan mengatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya seperti nilai-nilai, sikap, dan perilaku diantara

anggota-anggota masyarakat tersebut. 12 Pendidikan yang

berkembang pada masa kolonial adalah salah satu bentuk modernisasi sehingga masyarakat yang bersifat tradisional kemudian mengalami transisi ke arah modern. Tingkat literasi dan pengetahuan masyarakat meningkat, serta muncul sektor pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan. Output dari pendidikan dapat menempati sektor pekerjaan baru tersebut sehingga mereka mengalami perubahan status sosial. Organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat modern mulai bermunculan seiring diperkenalkannnya ide kemajuan oleh intelektual-intelektual baru yang telah mengubah cara pandang masyarakat sekitarnya untuk terlepas dari belenggu penjajahan kolonial.

12 Isjoni Ishaq, Masyarakat dan Perubahan Sosial.

(9)

Pendidikan pada masa kolonial yang dikaji dalam penelitian ini merupakan salah satu faktor pendorong terjadinya dinamika sosial. Pendidikan menjadi prestise dan suatu keharusan untuk sebuah status sosial dalam masyarakat disamping garis keturunan dan jumlah kekayaan. Dalam prakteknya, pendidikan sebagai salah satu program dari Politik Etis yang mempunyai tujuan awal untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk tanah jajahan justru bersifat diskriminatif baik secara rasial maupun

gender.13

Pendidikan pada awalnya hanya terbuka untuk anak keturunan Eropa dan anak bangsawan bumiputera saja karena secara finansial mereka mampu untuk membayar biaya sekolah yang tinggi. Selain itu, pengetahuan tentang bahasa Belanda juga menjadi syarat utama karena merupakan bahasa pengantar yang digunakan pada sekolah bercorat Barat. Bahkan, sekolah juga terbatas bagi anak-anak perempuan karena peran mereka hanya melakukan pekerjaan rumah saja sehingga tidak perlu

mendapatkan pendidikan.14

13 Taufik Abdullah dan A. B. Lapian (ed.), Indonesia dalam

Arus Sejarah 5: Masa Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: PT Ichtiar

Baru van Hoeve, 2012), hlm. 237.

14 Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto,

(10)

Pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling berkaitan. Pendidikan kolonial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terdidik telah mengakibatkan terjadinya dinamika penduduk dan perkembangan intelektualitas. Penduduk terdorong semakin maju dan mengalami mobilitas vertikal untuk mendapatkan status sosial dan gaji yang tinggi sesuai dengan pendidikan yang mereka tempuh.

E. Tinjauan Pustaka

Sejauh ini penulis membaca literatur yang berkaitan dengan tema pendidikan pada masa kolonial, mulai dari tulisan peneliti Indonesia hingga peneliti asing. Namun demikian kajian tentang dampak pendidikan terhadap perubahan sosial di Kabupaten Purworejo belum banyak yang menyinggungnya secara detail. Sumber pustaka yang penulis gunakan untuk melakukan penelitian ini berupa sumber sekunder, yaitu buku, jurnal dan beberapa laporan penelitian yang secara tematis, temporal dan spasial hampir sama dengan penelitian ini. Maka dari itu penulis menggunakan beberapa buku, jurnal dan laporan penelitian yang relevan untuk tema penelitian sejarah ini.

(11)

Tulisan yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini adalah tesis karya Musadad yang berjudul “Dari Pemukiman Benteng ke Kota Administrasi (Tata Ruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930)”. Tesis ini digunakan untuk melihat tata ruang kota Purworejo pada masa pemerintahan Belanda, termasuk bangunan sekolah-sekolah kolonial yang berdiri. Terdapat perkembangan fasilitas dan jaringan jalan di kota Purworejo pada masa pemerintahan kolonial. Hal tersebut menjadi salah satu akibat diterapkannya Politik Etis. Aktivitas kota Purworejo membutuhkan perubahan ruang yang semula berupa tanah kosong menjadi ruang kultural dengan didirikannya infrastruktur pemerintah. Munculnya institusi pendidikan mendukung terjadinya perubahan ruang-ruang kota yang berawal dari lahan kosong menjadi sekolah-sekolah beserta asramanya. Selanjutnya pengaruh Politik Etis sangat mewarnai kehidupan penduduk Purworejo yang tampak dari banyaknya jumlah gedung sekolah yang mendominasi tata ruang kota Purworejo hingga tahun 1930.

Dalam tesis ini disebutkan bahwa pada tahun 1930 jumlah gedung untuk institusi pendidikan menempati urutan pertama karena ada harapan dari masyarakat ketika menggunakan fasilitas gedung tersebut akan mendapatkan penghidupan yang lebih baik

(12)

di masa mendatang. Tesis ini sangat bermanfaat untuk melihat perkembangan pendidikan di Purworejo secara fisik bangunannya, serta dinamika penduduk yang terjadi setelah banyak penduduk yang mengakses pendidikan di sekolah-sekolah kolonial.

Selanjutnya skripsi karya Didien Ngadinem yang berjudul “Perkembangan Daerah Karesidenen Bagelen Pertengahan Abad

XIX (Sebuah Study Sejarah Sosial-Ekonomi)”. Skripsi ini

memberikan gambaran tentang keadaan sosial-ekonomi penduduk karesidenan Bagelen pada masa sesudah Perang Diponegoro. Berakhirnya Perang Diponegoro membuat Pemerintah Kolonial mengubah politik pemerintahannya dengan menerapkan sistem tanam paksa. Daerah karesidenan Bagelen ini menjadi daerah yang subur dan strategis bagi kepentingan politik Pemerintah Kolonial Belanda. Di daerah ini banyak didirikan benteng, asrama militer, serta fasilitas lain yang berhubungan dengan kemiliteran seperti pendidikan umum baik untuk warga keturunan Eropa maupun bumiputera. Pendidikan ini sangatlah penting untuk meningkatkan kapasitas kemampuan sumber daya manusia di kemudian hari. Hal ini menjadi catatan penting bagi penulis untuk melihat lebih jauh awal perkembangan pendidikan sekaligus dinamika sosial ekonomi di Purworejo yang pada abad XIX adalah bagian dari karesidenan Bagelen.

(13)

Disertasi karya Agus Suwignyo yang berjudul “The Breach in the Dike: Regime Change and The Standardization of Public Primaryschool Teacher Training In Indonesia, 1893-1969” membahas mengenai transformasi pendidikan guru Sekolah Dasar yang berubah dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan kurikulum pengajaran. Meskipun fokus pada pendidikan guru, disertasi ini tetap memberikan penjelasan tentang perkembangan pendidikan pada masa kolonial secara luas, berikut transformasi yang terjadi pada sekolah-sekolah tersebut sebagai akibat dari konkordansi (kesetaraan). Bahkan kehidupan sosial masyarakat pada setting kolonial tidak luput dari pemaparan.

Laporan Penelitian Andry Nurtjahjo L. yang berjudul “Pendidikan Kolonial dan Mobilitas Sosial Penduduk Bumiputra

(1870-1925)” dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian ini

karena membahas pendidikan kolonial secara umum di wilayah Hindia Belanda pada masa diterapkannya Politik Etis. Penelitian

tersebut melihat pengaruh pendidikan kolonial dalam

memunculkan dinamika sosial di kalangan penduduk bumiputera. Pada masa kolonial, mobilitas sosial yang terjadi di kalangan masyarakat bersifat tertutup karena didasari oleh faktor keturunan. Akan tetapi seiring dengan berkembangnya pendidikan pada periode Politik Etis, terbuka kesempatan bagi masyarakat kelas sosial menengah kebawah yang telah memperoleh

(14)

pendidikan untuk ikut berkompetisi dalam mendapatkan pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan kolonial menjadi salah satu sarana terjadinya mobilitas sosial di kalangan masyarakat bumiputera. Mereka yang mendapatkan pekerjaan dengan berbekal pendidikan mengalami kenaikan status sosial di masyarakat karena menduduki posisi yang juga tersedia bagi kalangan elite.

Terdapat kemiripan antara tulisan ini dengan penelitian yang akan dilakukan, namun yang membedakan adalah spasialnya. Penelitian yang dilakukan oleh Andry Nurtjahjo L. ini membahas sejarah pendidikan kolonial dan dinamika penduduk bumiputera yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi pendidikan di wilayah Hindia Belanda, sedangkan yang akan ditulis oleh penulis adalah mengenai pendidikan secara luas (formal dan non formal) pada masa kolonial serta perubahan sosial yang terjadi pada spasial yang lebih kecil yaitu di Kabupaten Purworejo.

Buku karya S. Nasution yang berjudul Sejarah Pendidikan

Indonesia mengandung fakta-fakta menarik tentang

perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Buku ini fokus pada sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, khususnya sekolah-sekolah milik pemerintah pada tahun 1892-1920. Pada masa ini terbentuk

(15)

suatu sistem pendidikan yang lengkap bagi penduduk bumiputera untuk memperoleh pendidikan dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi meskipun harus menghadapi berbagai problematika ekonomi maupun tekanan politik dari Pemerintah Kolonial.

Buku berjudul Pendidikan di Indonesia 1900-1940 karya S.

L. van der Wal menyajikan fakta-fakta mengenai perkembangan pendidikan di wilayah Hindia Belanda pada masa pemerintahan kolonial. Buku ini berisi tentang surat-surat keputusan dan laporan-laporan mengenai perkembangan pendidikan di wilayah Hindia Belanda. Pendidikan yang dijelaskan di sini mencakup pendidikan secara luas yaitu mengenai sekolah pemerintah, sekolah swasta, dan pendidikan non formal seperti kursus-kursus Bahasa Belanda. Perkembangan bahan bacaan rakyat oleh

Volkslectuur untuk mendukung perluasan pengetahuan penduduk

Hindia Belanda juga disinggung dalam buku ini. Informasi mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dalam bidang pendidikan sangat bermanfaat untuk menyusun penelitian mengenai pendidikan dengan spasial yang lebih kecil ini.

F. Metode dan Sumber Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terbagi dalam lima tahap, yaitu (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan

(16)

sumber baik dokumen maupun sumber lisan yang relevan dengan tema ini, (3) verifikasi atau kritik sumber yang meliputi kritik intern dan kritik ekstern untuk menguji keabsahan dan keakuratan sumber, (4) interpretasi yang meliputi penafsiran dan penyusunan fakta yang masih berserakan secara kronologis, dan

(5) penulisan sejarah.15 Hal ini dimaksudkan agar hasil dari

tulisan ini nantinya mampu menjadi suatu karya sejarah yang ilmiah.

Pemilihan topik dilakukan berdasarkan minat dan kedekatan penulis dengan obyek penelitian serta nantinya

workable. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami

peristiwa di masa lampau sehingga langkah utama yang diambil adalah pengumpulan sumber. Sumber tertulis yang digunakan berupa arsip, buku, skripsi, tesis, disertasi, surat kabar dan dokumen-dokumen yang tidak diterbitkan. Sumber ini diperoleh dari perpustakaan Jurusan Sejarah FIB UGM, perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Perpustakaan Pusat UGM, Perpustakaan Pusat Studi Asia Tenggara, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Purworejo, Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Badan Arsip dan

15 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta:

(17)

Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah serta dokumen koleksi pribadi. Penulis juga mencari sumber data dengan menggunakan akses internet untuk mengunduh beberapa dokumen lama dalam format digital. Selanjutnya sumber ini disaring kembali untuk mendapatkan data yang relevan dan tidak relevan.

Verifikasi sumber dilakukan untuk mendapatkan sumber-sumber yang benar-benar kredibel, dimulai dari pengecekan kertas yang digunakan untuk menulis sumber, bentuk tulisan dan juga bahasa yang digunakan. Proses analisis juga dilakukan dengan cara yang sesuai dalam penelitian sejarah yaitu berupa kritik sumber. Tahap selanjutnya adalah interpretasi dari sumber yang ditemukan, kemudian menuliskan hasil penelitian secara analisis deskriptif.

G. Sistematika Penulisan

Penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I adalah pengantar yang terdiri dari latar belakang, permasalahan dan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, kerangka konseptual, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bagian pengantar ini berisi tentang deskripsi yang mengantarkan pada pembahasan mengenai fokus penelitian.

(18)

Bab II membahas perkembangan administrasi dan kehidupan sosial ekonomi penduduk Purworejo dalam skema kebijakan kolonial pada awal abad XX. Bagian ini akan menjelaskan mengenai perkembangan administrasi pemerintahan dan tata ruang, demografi, infrastruktur, serta kehidupan sosial ekonomi penduduk Purworejo pada masa pemerintahan kolonial.

Bab III membahas perkembangan pendidikan di Purworejo pada tahun 1900-an. Pendidikan tersebut meliputi pendidikan formal dan non formal yang didirikan oleh pemerintah maupun swasta. Pendidikan formal meliputi sekolah berbahasa Belanda dan sekolah vernakular, sedangkan pendidikan non formal meliputi pondok pesantren dan lembaga kursus.

Bab IV membahas perubahan sosial penduduk Purworejo sebagai akibat perkembangan pendidikan. Perubahan sosial ini dapat dilihat dari tingkat literasi, diferensiasi pekerjaan, serta munculnya organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :