• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Lingkungan : Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Politik Lingkungan : Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

Politik Lingkungan :

Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation

(REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia

Disusun Oleh :

Hendrik Manullang

050906008

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

Politik Lingkungan :

Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia

Nama : Hendrik Manullang

Nim : 050906008

ABSTRAKSI

Pemanasan global telah menjadi isu yang menghangat beberapa dekade belakangan ini, hal ini tidak terlepas semakin terasanya dapak negative dari pemanasan global tersebut. Dan dampak negative ini di rasakan merata tanpa mengenal diskriminasi, baik negara maju maupun negara berkembang mengalami dampak negative pemanasan global. Oleh karena dampak negative tersebut seluruh negara di dunia sepakat untuk mengusahakan pencegahan pemanasan global tersebut. Diantara usaha yang dilakukan adalah REDD yaitu mekanisme pencegahan pemanasan global melalui penyerapan karbon hutan dengan mencegah deforestasi dan degradasi hutan. REDD yang lahir dari konfrensi yang diikuti oleh seluruh negara di dunia ini tentunya ada aktor-aktor yang merancangnya serta kepentingan dari aktor-aktor tersebut.

Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan melalui studi pustaka serta wawancara dan diskusi dengan ahli. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui siapa saja aktor-aktor serta kepentingan dari aktor-aktor tersebut dan juga ingin mengambarkan secara seobjektif mungkin terhadap mekanisme REDD.

Selain itu skripsi ini juga memaparkan analisa dampak mekanisme REDD bagi bidang sosial, politik, dan lingkungan hidup Indoneisa. Hal ini terait dengan adanya keinginan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan mekanisme REDD ini di kawasan wilayah kedaulatannya.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa Yang Maha pengasih

karena atas berkat dan anugerahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan baik.

Penelitian ini disusun melalui pengumpulan data dari berbagai sumber yaitu

sumber kepustakaan dan juga sumber yang berasal dari hasil diskusi dengan orang

yang dianggap ahli. Dalam skripsi ini digambarkan mengenai aktor-aktor serta

kepentingan-kepentingannya terhadap mekanisme REDD dan juga mengenai dampak

sosial, politik, ekonomi dan lingkungan negara Indonesia.

Dalam penyusunan skripsi ini terdapat bantuan dari berbagai pihak baik

berupa bimbingan, petunjuk dan saran, keterangan-keterangan serta data yang

diberikan secara tertulis maupun lisan oleh karenanya maka skripsi ini dapat

diselesaikan penulis.

Terima kasih yang tak terhingga kepada mama dan bapak yang selalu

mendoakan dan memberi dukungan kepada penulis. Dan juga kepada kakak-kakak

dan abangku, Hobbyna, Hansen, Herwina yang juga turut memberi semangat dan doa

serta dukungan finansial kepada penulis.

Penulis juga tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarnya

kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU medan, Prof.DR. M.

(4)

2. Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA. Selaku Ketua Departemen Ilmu Politik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU.

3. Bapak Drs. A. Taufan Damanik, MA. Selaku dosen pembimbing yang

telah berkenan meluangkan waktu untuk membimbing dalam penyusunan

skripsi ini hingga dapat terselesaikan.

4. Bapak Indra Kesuma Nasution, SIP. MSi selaku dosen pembaca yang

telah memberikan arahan selama penelitian ini berlangsung.

5. Seluruh dosen yang telah mengajar penulis selama masa perkuliahan dan

juga kepada seluruh staf Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

6. Kepada Bapak Suherry Aprianto Direktur Divisi Pendidikan LSM

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Medan atas waktunya untuk berdiskusi

serta masukan-masukannya dalam penelitian ini.

7. Kepada semua sahabat-sahabatku: Fx. Oktavianus, Ronald W.S, Rolas,

Pebrina, Bernad, Suhendra, Fadli, Anton. Terima kasih atas dukungan

serta bantuan kalian selama menjalani masa-masa perkuliahan hingga

penyelesaian penelitian ini. Dan juga bagi kawan-kawan lainnya yang

yang tak sempat di sebutkan satu persatu pada kesempatan kali ini, terima

kasih buat bantuan kalian selama ini.

8. Kepada seluruh kawan-kawan mahasiswa Departemen Ilmu Politik FISIP

USU.

9. Kepada seluruh keluarga besar Op. Hobbyna Manullang serta keluarga

(5)

10.Terkhusus kepada yang tercinta Maria Nome Crystine Saragih atas semua

kasih sayang, dukungan, dan motivasi yang tak terkira lagi selama awal

perkuliahan sampai dengan proses penelitian ini dan juga untuk semua

kenangan yang terlah diberikan selama 5 tahun ini.

Dalam Skripsi ini tentunya disadari oleh penulis terdapat kekurangan. Oleh

karena itu kiranya para pembaca dapat memaklumi kekurangan yang ditemui dalam

skripsi ini.

Akhir kata, salam penulis bagi seluruh pembaca yang tertarik dengan skripsi

ini dan semoga apa yang terdapat dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 08 April 2010

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI………i

KATA PENGANTAR……….ii

DAFTAR ISI………..….. v

BAB I: PENDAHULUAN………...….………... 1

1. LATARBELAKANG MASALAH……….…..………. 1

2. PERUMUSAN MASALAH………... 7

3. BATASAN MASALAH………...……….. 7

4. TUJUAN PENELITIAN………….………..………. 8

5. MANFAAT PENELITIAN……….…………... 8

6. KERANGKA DASAR PEMIKIRAN ………. 9

6.1.Wacana Politik Lingkungan………... 9

6.2. Definisi Deforestation……….……….. 15

6.3.Pembangunan Berkelanjutan…..………16

6.4.Teori Ketergantungan………..……….. 20

7. TEKNIK PENGUMPULAN DATA…...………..………. 26

(7)

BAB II... 28

1. TAHAP PERKEMBANGAN REDD………. 28

2. AKTOR-AKTOR DIBALIK REDD……… 34

2.1. PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA……….………. 34

2.2. BANK DUNIA……….……….. 36

2.3. NEGARA-NEGARA ANNEX 1………. 43

2.4. PEMERINTAH INDONESIA……….………. 64

2.4.a. INISIATOR REDD……… 65

2.4.b. PEMERINTAH DAERAH DAN KESEPAKATAN REDD 70 2.5. LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM)……… 71

2.5.a. LSM PENDUKUNG REDD………. 73

2.5.b. LSM PENOLAK REDD……….…… 75

BAB III………. 78

1. ANALISA REDD PADA BIDANG POLITIK………...……. 78

1.1. PERATURAAN PERUNDANG-UNDANGAN………..…….. 78

1.2. PERATURAN SUMBER PENDANAAN PROYEK REDD YANG KONTROVERSI... 81

1.3. KEKHAWATIRAN TIMBULNYA KONFLIK SOSIAL AKIBAT PROYEK REDD………...………….. 82

1.4. KETIDAK SERIUSAN PEMERINTAH DALAM MENDUKUNG REDD ………....….85

(8)

1.6. MELEMAHNYA POSISI INDONESIA DALAM PERUNDINGAN

INTERNASIONAL………...………..……… 88

2. ANALISA REDD PADA BIDANG EKONOMI……….……..…….88

2.1. PENDEKATAN SKEMA PASAR……….….……..…..… 89

2.2. MAHALNYA BIAYA AWAL REDD………90

2.3. MURAHNYA HUTAN INDONESIA………..….…….… 91

3. ANALISA REDD PADA BIDANG LINGKUNGAN HIDUP………...……… 93

3.1. REDD, PEMENUHAN BAKU DAN ILEGAL LOGGING..………….93

3.2. PENDEKATAN KARBON OFFSET………..……...……….95

3.3. SISI POSITIF PROGRAM REDD………...………96

BAB IV………..……….………...101

1. KESIMPULAN ………...………...… 101

2. SARAN………..…………...……...…. 107

(9)

Politik Lingkungan :

Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia

Nama : Hendrik Manullang

Nim : 050906008

ABSTRAKSI

Pemanasan global telah menjadi isu yang menghangat beberapa dekade belakangan ini, hal ini tidak terlepas semakin terasanya dapak negative dari pemanasan global tersebut. Dan dampak negative ini di rasakan merata tanpa mengenal diskriminasi, baik negara maju maupun negara berkembang mengalami dampak negative pemanasan global. Oleh karena dampak negative tersebut seluruh negara di dunia sepakat untuk mengusahakan pencegahan pemanasan global tersebut. Diantara usaha yang dilakukan adalah REDD yaitu mekanisme pencegahan pemanasan global melalui penyerapan karbon hutan dengan mencegah deforestasi dan degradasi hutan. REDD yang lahir dari konfrensi yang diikuti oleh seluruh negara di dunia ini tentunya ada aktor-aktor yang merancangnya serta kepentingan dari aktor-aktor tersebut.

Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan melalui studi pustaka serta wawancara dan diskusi dengan ahli. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui siapa saja aktor-aktor serta kepentingan dari aktor-aktor tersebut dan juga ingin mengambarkan secara seobjektif mungkin terhadap mekanisme REDD.

Selain itu skripsi ini juga memaparkan analisa dampak mekanisme REDD bagi bidang sosial, politik, dan lingkungan hidup Indoneisa. Hal ini terait dengan adanya keinginan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan mekanisme REDD ini di kawasan wilayah kedaulatannya.

(10)

BAB I

Politik Lingkungan :

Analisa Reducing Emission From Deforestation Degradation

(REDD) Sebagai Program Penyelamatan Hutan Indonesia

A. Latarbelakang

Substansi lingkungan hidup sebagai objek kajian keilmuan sangat luas

cakupannya. Kerusakan dan kebakaran hutan, keanekaragaman hayati, polusi udara,

akibat emisi karbon dari industri dan asap kendaraan bermotor, pencemaran sungai

dan laut, kerusakan pantai, pembuangan limbah nuklir, merupakan cakupan isu

lingkungan hidup yang mempengaruhi keberlangsungan hidup umat manusia sebagai

individu atupun kelompok. Akhir-akhir ini isu lingkungan hidup menjadi isu yang

hangat diperdebatkan dalam berbagai forum internasional karena adanya pemanasan

global.

Masalah lokal tentang degradasi lingkungan hidup semakin memiliki

implikasi internasional. Polusi udara yang terjadi tidak berhenti diperbatasan; hujan

asam dari Perancis, misalnya, mengancam masyarakat, persediaan air tanah, ikan di

danau dan hutan-hutan tidak hanya di Perancis tetapi juga dinegara-negara tetangga di

Eropa. Atau kebakaran hutan di Indonesia yang asapnya terbang hingga melintas

batas negara sehingga mengganggu negara-negara tetangganya seperti Singapura,

Malaysia, dan Brunei. Dan yang lebih parah lagi saat ini telah terjadi pengunaan

(11)

pendingin, penyejuk ruangan, bahan kimia dan produk industri lainnya. Hal ini

merupakan ancaman besar bagi lapisan ozon, selimut gas yang melindungi bumi dari

sinar ultra violet matahari. CFC berinteraksi secara kimiawi dengan lapisan ozon

sehigga menipiskan karbondioksida dan kandungan kimia lainnya terkunci dalam

panas dekat dengan permukaan bumi dan oleh karena itu menghasilkan pemanasan

global. Pemanasan global berarti polusi udara yang sangat dan meningkatkan

permukaaan air laut, suatu ancaman bagi sebagian penduduk yang hidup di wilayah

pantai.1

Sejak awal konfrensi ini telah terjadi banyak perdebatan tentang faktor-faktor

penyebab timbulnya pemanasan global, karena banyak negara yang mengetahui

bahwa negaranyalah yang ikut andil dalam percepatan pemanasan global mencoba Menangapi permasalahan pemanasan global ini negara-negara di dunia yang

tadinya melakukan program penanganan secara sediri-sendiri menyadari bahwa

tindakan mereka tidaklah cukup , negara-negara tersebut sadar bahwa permasalahan

global harus ditangulangi dengan sebuah gerakan bersama. Maka disepakatilah

diadakannya konfrensi yang tujuannya adalah menyamakan presepsi tentang

pemanasan global dan penanganannya.

Adalah United Nations Framework Convention on Climate

Change-Conference of parties (UNFCCC-CoP) sebuah pertemuan yang diprakarsai oleh PBB

untuk mengatasi permasalahan pemanasan global. Melalui konfrensi para pihak ini

(CoP) dibahas permasalahan dari dampak serta cara mengatasi pemanasan global.

1

(12)

menghindar dari tanggung jawabnya. Karena konsekuensi dari pengakuan tersebut

akan memberikan implikasi yang besar bagi negaranya. Konfrensi ini berubah

menjadi ruang saling menyerang antar negara bahwa merekalah penyebab pemanasan

global serta harus bertanggung jawab.

Pada UNFCCC CoP ke 3 tahun 1997 baru mulai mengalami kemajuan yang

riil. Pada CoP ke3 yang diselengarakan di Kyoto jepang ini terjadi perubahan besar

serta komitmen untuk mengatasi pemanasan global semakin serius. Hal ini dorong

oleh semakin nyata dampak-dampak bahaya pemanasan global. Pada Cop ini

menghasilkan sebuah kesepakatan bersama yang diberi nama Protokol Kyoto yang

pada intinya adalah komitmen pembatasan dan target pengurangan emisi.

Ketika mulai diberlakukannya Protokol Kyoto ini setiap tahunnya tetap

dilaksanakan konfrensi-konfrensi untuk mengevaluasi pencapaian dari protocol ini.

Pada tahun 2007 diadakannya kembali CoP ke 13 di Bali Indonesia, CoP kali ini

menjadi sangat istimewa karena pada CoP ini dilakukannya persiapan untuk

melanjutkan protokol Kyoto yang masa berlakunya akan berakhir pada tahun 2012.

Maka disaat semakin dekatnya berakhirnya protokol Kyoto dunia seakan tidak ingin

terlambat mengambil keputusan untuk menyelamatkan dirinya.

Dalam CoP ini juga menghasilkan suatu kesepakatan penrting untuk mengatsi

pemanasan global. Hasil dari CoP 13 ini di beri nama Bali Roadmap, yang salah satu

hasilnya adalah Program Reducing Emission From Deforestation and Degradation

(REDD). Yaitu sebuah program penurunan emisi gas penyebab pemanasan global

(13)

Indonesia yang berlaku sebagai tuan rumah dalam konfrensi ini memainkan

peran yang lebih. Menyadari posisinya saat itu dan juga pertimbangan lainnya,

Indonesia menyampaikan program yang disusunnya untuk ditawarkan pada para

negara peserta, REDD merupakan usulan dari Indonesia yang dalam penyampaiannya

ini mengungkapkan argumen bahwa untuk mencegah pemanasan global haruslah

menyelamatkan hutan dari eksloitasi, namun untuk menjaga lestarinya hutannya

maka negara pemilik hutan yang asri harus mendapat konpensasi. Pada dasarnya

REDD merupakan mekanisme internasional untuk memberikan insentif positif bagi

negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi

hutan. Jadi negara-negara maju yang menyumbang emisi lebih besar dari kemampuan

negaranya menyerap emisi di haruskan menutupi kelebihan emisinya dengan cara

memberikan kompensasi kepada negara-negara berkembang yang hutannya menyerap

emisi karbon.

Tidak dapat disangkal pembangunan ekonomi merupakan prioritas utama bagi

semua negara berkembang. Penyedian lapangan pekerjaan dan pengentasan

kemiskinan merupakan tujuan pembangunan ekonomi yang bersifat mendesak.

Sementara pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja terus meningkat. Pertumbuhan

ekonomi yang dicapai antara lain melalui eksploitasi sumber daya alam merupakan

pilihan yang tersedia bagi pemerintah untuk menunjukan kepedulian terhadap

kesejahteraan rakyatnya. Biasanya pemerintah negara berkembang pemilik hutan

memberikan kesempatan kepada investor asing atau perusahaan dalam negeri yang

mengelolah kekayaan alam secara komersial. Karena prioritas yang tinggi diberikan

(14)

sumber daya alam seperti hutan tidak dikelolah secara keberlanjutan dan lingkungan

hidup pun menjadi rusak.2

Dan ketika alam yang di eksploitasi besar-besaran ini mengalami kerusakan

yang parah, alam menunjukan responnya. Respon alam ini banyak berupa bencana

seperti banjir dan tanah longsor. Namun ternyata respon alam ini tidak hanya

memberdampak lokal saja. Ketika terjadi perusakan hutan di negara-negara Emisi gas rumah kaca global yang berasal dari bahan bakar fosil dan

deforstasi hutan tropis harus mulai diturunkan apabila ingin mencegah kenaikan suhu

global tetap pada kisaran dibawah 2 derajat celcius pada akhir tahun 2050.

Hutan memang dapat menjadi sumber (source) atau rosot (sink) gas rumah

kaca terutama karbondioksida, hutan menjadi sumber karbondioksida ketika hutan

dikonversi, hutan menjadi rosot karbondioksida ketika hutan itu lestari, sebab hutan

dalam pertumbuhannya menyedot karbondioksida yang ada diatmosfer. Jadi

sebenarnya fungsi alami hutan adalah mencegah berlebihannya gas rumah kaca yang

ada di atmosfer sehingga tidak terjadi pemanasan global.

Seperti diungkapkan diatas bahwa demi pembangunan ekonomi terkadang

pemerintah negara berkembang menyampingkan kelestarian lingkungannya, bahkan

pemerintah mengeksloitasi sumberdaya alamnya secara besar-besaran demi

pertumbuhan ekonomi sesaat. Hal ini yang terjadi dengan hutan di Indonesia.

Indonesia yang tidak memliki sumber uang yang mencukupi untuk membiayai

pembangunannya terpaksa mengeksploitasikan hutannya.

2

(15)

berkembang bukan hanya negara-negara berkembang tersebut saja yang terkena

dampak negativenya, negara-negara maju pun ikut terkena dampaknya.

Secara tidak langsung dampak negative dari alam membuat khawatir juga

negara-negara maju, sebab gaya hidup mereka terganggu oleh fenomena alam

tersebut. Tentu saja mereka kembali menekan negara-negara berkembang tersebut

untuk memperbaiki alamnya. Negara-negara maju dengan mudahnya

mempersalahkan negara-negara berkembang karena terlalu mengeksploitasi

alamnya.Padahal dari eksploitasi alam oleh negara-negara berkembang tersebut

semuanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi negera-negara maju tersebut.

Hal yang tidak adil kembali terjadi ketika negara-negara maju memaksakan

agar negara-negara berkembang mengunakan teknologi canggih yang lebih ramah

lingkungan dalam proses produksinya. Tentu hal ini menyebabkan masalah baru bagi

negara-negara berkembang yang menyebabkan mereka semakin ketergantungan pada

negara maju, sebab yang memiliki teknologi canggih hanya negara-negara industri

maju saja, karena adanya keterbatasan sumber daya manusia negara berkembang

dalam membuat teknologi canggih tersebut. Teknologi yang canggih ini pun bukan

sesuatu yang murah.

Ketidakadilan inilah yang mendorong Indonesia mengajukan penawaran

Program REDD pada CoP ke 13. Keyakinan bahwa dengan adanya hutan lestari

pemanasan globaldapat dicegah maka hal ini mendorong banyak negara menyetujui

REDD ini sehingga program ini masuk kedalam salah satu butir kesepakatan dari Bali

Roadmap. Tentunya dimasukannya REDD bukan tanpa perdebatan sehingga dapat

(16)

Pembahasaan REDD inilah yang hendak diungkapkan lebih lanjut dalam

penelitian ini, sebab REDD sebagai program usulan dari pemerintah Indonesia masih

banyak masyarakat belum jelas mengerti tentang apa itu program Reducing Emissions

from Deforestation and Degradation sehingga mendorong penulis untuk memberikan

informasi yang utuh mengenai REDD tersebut.

B. Perumusan Masalah

Berangkat dari latarbelakang masalah, peneliti mencoba untuk merumuskan

masalah yang hendak di teliti yaitu:

1. Siapa aktor-aktor di balik usul Reducing Emission From Deforestation

Degradation (REDD) pada Conference of Parties ke 13 United Nations

Framework Convention on Climate Change ( CoP ke 13 UNFCCC ) Di Bali

tahun 2007 dan apa saja kepentingan yang hendak dicapainya?

2. Apa dampak dari program Reducing Emission From Deforestation Degradation

bila diterapkan di Indonesia?

C. Batasan Masalah

Untuk memperjelas dan mempertegas serta membatasi ruang lingkup

penelitian dengan tujuan menghasilkan uraian yang sistematis maka diperlukan

adanya batasan masalah. Penenelitian ini membatasi masalah yang dibahas hanya

pada hal berikut :

1. Penelitian ini akan melihat bagaimana para aktor berperan dalam Program

(17)

2. Penelitian ini juga akan melihat pandangan-pandangan para ahli tentang

Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) serta analisis

para ahli tentang dampak REDD bila di terapkan di Indonesia.

D. Tujuan Penelitian

Ada pun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui siapa saja aktor dibalik program Reducing Emission From

Deforestation Degradation (REDD).

2. Untuk mengetahui dampak bagi Indonesia jika menerapkan program Reducing

Emission From Deforestation Degradation (REDD) ini, baik dampak sosial,

ekonomi serta dampak politiknya.

E. Manfaat Penelitian

Layaknya penelitian ilmiah tentunya penelitian ini juga diharapkan

memberikan manfaat baik bagi penulis maupun orang lain yang membaca laporan

penelitian ini. Berikut adalah manfaat yang ingin dicapai dalam penlitian ini :

1. Secara akademis, penelitian ini untuk memperkaya penelitan ilmiah dibidang

politik lingkungan terutama yang berhubungan dengan isu Pemanasan global

yang disebabkan oleh kerusakan hutan.

2. Bagi penulis sendiri penelitian ini untuk mengembangkan kemampuan dalam

(18)

F. Kerangka Dasar Pemikiran

1. Wacana Politik Lingkungan

Masalah mendesak mengenai Perubahan Iklim atau pemanasan global yang

terjadi saat ini adalah berhubungan dengan pengelolahan yang salah atas eksploitasi

atas sumber daya alam yang menunjukkan korelasi indikator sebagai berikut:

Pertama, kelengahan atas pengelolahan sumberdaya alam diantara aktor yang

langsung (seperti negara). Mereka seringkali lengah mengimplementasikan konsep

dan sistem pembangunan ekonomi yang berbasis lingkungan.

Kedua, para aktor ini tidak memperhatikan pentingnya tabiat manusia dengan

lingkungan, dan mereka gagal untuk mengintegrasikan sistem hubungan manusia

dengan alam. Hal ini penting untuk diakui perbedaan antara sistem manusia dan alam.

Dinamika lingkungan adalah sebagai produk saling penguatan dari banyak susunan

yang saling berinteraksi dan proses dari pada suatu desain. Dengan demikian,

perbedaan yang fundamental antara tabiat manusia dan lingkungan bermakna bahwa

pemahaman peran suatu masyarakat di dalam sistem lingkungan bermakna bahwa

pemahaman bagaimana masyarakat telah terbuat di masa lampau, tetapi juga apa

yang mereka rencanakan untuk masa depan.

Sekarang perlu dijelaskan tentang apa arti dari Political Ecology (politik

lingkungan). Tercatat ada beberapa ilmuan yang yang memberikan defenisi yang

berbeda mengenai politik lingkungan. Diantaranya adalah Gary Paterson, Bryant,

Vayda, Blaike dan Brookfield, Rocheleau dan Abe ken-ichi.3

3

(19)

Menurut Paterson, bahwa politik lingkungan adalah pendekatan yang

menggabungkan masalah lingkungan dengan politik ekonomi untuk mewakili suatu

pergantian tensi yang dinamik antara lingkungan dan manusia, dan antara kelompok

yang bermacam-macam didalam masyarakat dalam skala individu lokal pada

transnasional secara keseluruhan.

Blaike dan Brookfield, politik lingkungan adalah suatu bingkai untuk

memahami kompleksitas saling berhubungan antara masyarakat lokal, nasional,

politik ekonomi global dan ekosistem.

Bryant mendefinisikan politik lingkungan sebagai usaha untuk memahami

sumber-sumber politik, kondisi dan menjadi jaringan dari pergantian lingkungan.

Rocheleau mendefinisikan politik lingkungan sebagai kecenderungan untuk

melihat mendalam dinamika lingkungan dan memfokuskan atas suatu sistem

manusia.

Abe ken-ichi mendefinisikan politik lingkungan sebagai suatu kolektif nama

untuk semua usaha intelektual untuk secara kritis menganalisis masalah ketepatan

sumber daya alam dan asal usul kerusakan sumber daya secara politik ekonomi,

dengan maksud itu diperoleh studi akademik atau aplikasi yang bersifat praktis.

Sedangkan Vayda menjelaskan politik lingkungan adalah suatu metode

terapan oleh ahli-ahli lingkungan yang menganalisis kebijakan mengenai masalah

lingkungan yang relevan, ini yang dikenal sebagai ‘progressive contextualization’

(kontekstualisasi yang maju). Pendekatan ini memulai dengan aktor (pelaku), dalam

(20)

suatu konteks apa mereka berbuat atau tidak berbuat dalam cara khusus terhadap

suatu sumber daya alam.

Mengamati skala sosial dan lingkungan yang berbeda, politik lingkungan

menjelaskan sekurangnya dua peneltian area yang berbeda. Pertama, penelitian ke

dalam sumber yang kontekstual perubahan lingkungan yang menguji pengaruh

lingkungan secara umum pada suatu negara, hubungan antar negara, dan kapitalisme

global. Kedua, area penelitian mencari tahu suatu lokasi dari aspek-aspek khusus

mengenai perubahan lingkungan, yaitu dengan studi suatu konflik atas akses

sumber-sumber lingkungan.

Jon Schubart menyatakan bahwa ekologi politik mencoba untuk menelusuri

empat hal, yakni (a) bagaimana struktur sosial dan alam saling menentukan, dan

bagaimana keduanya membentuk akses terhadap sumber daya alam, (b) bagaimana

konsep alam dan masyarakat yang telah dikonstruksi menentukan interaksi manusia

dengan lingkungan, (c) koneksi antara akses terhadap dan kontrol atas sumber daya

dan perubahan lingkungan, (d) hasil sosial dari perubahan lingkungan.

Politik lingkungan dalam banyak negara di dunia mempunyai peran penting

tidak hanya pada tingkatan yang berbeda, tetapi juga dalam bingkai kerja struktural

yang berbeda. Banyak lembaga antar pemerintahan mempunyai peranan penting

dalam aktivits serupa, membuat aturan lingkungan, membuat kebijakan , penelitian,

monitor, training, proyek pembiayaan dan supervisi. 4

Meskipun politik lingkungan muncul pada tahun 1980-an sebagai agenda riset

di negara-negara berkembang, sejak tahun 1990-an disiplin ilmu ini telah berkembang

4

(21)

secara luas melalui wacana publik dibanyak negara. Ada banyak pendekatan untuk

politik lingkungan.

Pertama, untuk menjelaskan penelitian atas politik lingkungan dunia ketiga

mengenai masalah-masalah lingkungan yang khusus atau menunjukan masalah,

misalnya kerusakan hutan tropis, banjir, erosi tanah dan rusaknya mutu tanah.5

Kedua, memfokuskan pada suatu konsep yang mengandung hubungan penting

terhadap pertahanan politik lingkungan. Pendekatan ini untuk memahami

karakteristik dari banyak aktor yang berbeda dan membatasi promosi dari minat aktor

yang khusus.

Ketiga, untuk menguji saling hubungan antara masalah-masalah politik dan

lingkungan dalam hubungan kondisi geografis yang khusus. Hal ini dihubungkan

dengan sering munculnya masalah alam yang bervariasi dari suatu negara ke negara

lain, tetapi tujuannya ialah untuk mengevaluasi masalah tersebut dalam suatu konteks

negara.

Keempat, untuk mengali masalah politik lingkungan dalam hubungan

karakteristik sosial-ekonomi seperti golongan, etnisitas atau gender.

Kelima, menekankan perlunya memfokuskan minat, karakteristik dan aksi

dari tipe pelaku yang berbeda didalam memahami konflik-konflik politik lingkungan.

Pendekatan berbasis aktor ini dihubungkan dengan pemahaman para pelaku terhadap

proses lingkungan dan politik.

5

(22)

Politik Lingkungan Global

Pendefinisian masalah lingkungan hidup dalam tataran hubungan

internasional memiliki definisi tersendiri. Menurut Porter dan Brown, untuk masuk

dalam kategori “global environmental politics”, kualitas persoalan lingkungan yang

dimaksud harus mengandung ancaman terhadap daya dukung alam sebagai sebuah

ekosistem (the global commons) yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan umat

manusia, yang tidak hanya terbatas dalam wilayah jurisdiksi negara tertentu. dengan

kata lain minimal harus ada transedensi isu dalam cakupan:

1. Dampak atau akibat (impacts) dari kerusakan lingkungan itu bersifat

transboundary. Lintas jurisdiksi nasional ini baik yang berkenaan dengan

aspek social (seperti human health)maupun aspek ekonomi termasuk aspek

politik dan keamanan. adanya kenyataan bahwa sekup dari kerusakan

lingkungan tertentu seperti deforestation, loss of biodiversity dan global

warming, demikian luasnya. Dan karena biaya yang dikeluarkan untuk

mengatasi persoalan demikian besarnya, telah melampaui batas kapasitas

individual Negara-negara tertentu yang karenanya menuntut kerjasama

internasional yang luas dan solid. Dengan kata lain global problems need

global solutions. Akan tetapi pada gilirannya realitas obyektif ini harus

bersinggungan dengan karakter dari politik internasional yang memberikan

tingkat kesulitan tersendiri dalam upaya pencapaian solusi yang diharapkan.

2. Para pelaku yang terlibat lebih beragam. Intensitas isu lingkungan global tidak

saja melibatkan peran (banyak) negara sebagai actor utama, tetapi juga

(23)

termasuk pula perusahaan-perusahaan multinasional. Perkembangan isu

lingkungan dewasa ini menunjukkan semakin pentingnya peran non-state

actors yang bagi kaum hyperglobalist dianggap telah mengikis kedaulatan

dan peran Negara sebagai aktor dominan dalam mengupayakan berbagai

penyelesaian internasional untuk mengatasi masalah lingkungan global.

Namun demikian, tesis ini masih dapat diperdebatkan. Yang pasti

masing-masing actor memiliki peran dan powernya masing-masing-masing-masing yang memberi

karakteristik tersendiri bagi lingkungan global misalnya :

a. Negara : Dalam politik internasional yang masih menganut sistem

negara bangsa, maka peran negara sangat dominan dalam proses

pembentukan rejim bagi perlindungan lingkungan global. Ini sangat

memungkinkan karena negara dapat menggunakan kekuatan vetonya.

Dalam setiap perundingan internasional selalu terjadi proses

pengelompokkan untuk menggalang kekuatan veto (Veto Coalitions).

Yang kedua kekuatan ekonomi sebuah Negara, dan bukan militer,

merupakan laverage yang sangat menentukan posisi tawar

menawarnya di dalam setiap perundingan multilateral.

b. Non Governmental Organizations (NGOs) : Memainkan peran yang

semakin besar dalam era globalisasi ini sebagai berkah kemajuan

teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. NGOs berperan

dalam pembentukan opini public secara luas, membangun jaringan

kerja yang efektif serta memberikan tekanan yang kuat kepada

(24)

c. International Institution : Berperan sebagai fasilitator yang aktif dalam

pembentukan berbagai rejim internasional bagi pengawasan,

perlindungan dan pemeliharaan alam dan segala sumber-sumbernya.

Setidaknya peran mereka adalah menghasilkan kesepakatan

multilateral (soft law).

2. Definisi Deforestation

Deforestation telah didefinisikan oleh FAO (Food and Agricultural

Organization) sebagai konversi lahan hutan untuk penggunaan lahan lain atau

pengurangan yang tajam dari tutupan hutan dibawah 10%. Disamping itu,

deforestation (kerusakan hutan) menekankan kehilangan permanen tutupan hutan

dalam jangka panjang. Kehilangan itu hanya dapat disebabkan melalui pengaruh

manusia yang berlanjut atau gangguan alam. 6

WRI (World Resources Institute) juga mendefinisikan deforestation sebagai

konversi lahan hutan untuk penggunaan lahan pertanian. Deforestation mencakup

lahan hutan yang dipakai untuk infrastruktur seperti pembangunan, pertambangan,

permukiman, ladang berpindah, dan sebagainya.

Definisi dasar oleh FAO mengenai deforestation telah dikembangkan dan

pada umumnya diterima oleh negara-negara yang berpartisipasi dan dikenal oleh para

ahli penemuan dan penilaian hutan. Istilah internasional dan definisi adalah tidak

tetap, tetapi mengikuti perkembangan umum dari proses internasional.

7

6

Food and Agricultural organization(FAO), Global Forest Resources Assessment 2000: Main Report. 7

(25)

Norman Myers mendefinisikan deforestation sebagai penghancuran tutupan

hutan secara sempurna melalui pembersihan lahan (land clearing) untuk sektor

pertanian. Misalnya, pengembalaan sapi, pertanian dalam skala besar dan kecil. Ini

berarti tidak ada pohon yang tersisa, dan lahannya diberikan untuk tujuan bukan

hutan.8

Penggunaan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

diperkenalkan pertama kali pada masa 1970-an dan menjadi istilah utama pada saat

dan setelah terbentuknya World Commission on Environment and Development

(WCED) pada 1987 atau lebih dikenal dengan Brundtland Commission. Komisi

tersebut mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang

dapat memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan

generasi masa depan.

Definisi FAO dan WRI mengenai deforestation lebih cocok dalam

menjelaskan skala deforestation dalam skala besar dan menengah yang terjadi di

Indonesia.

3. Pembangunan Berkelanjutan

9

8

Herman Hidayat, op.cit, hal.91 9

Pan Mohamad Faiz, paper position pada Forum Diskusi Kelompok Kerja Pakar Hukum mengenai

“Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) di Hotel Grand Mahakam, Jakarta pada tanggal 27 April 2009. Perubahan Iklim dan Perlindungan

Terhadap lingkungan : Suatu Kajian Berperspektif Hukum Konstitusi. http://www.wordPress.com.

Dikutip dari World Commission on Environment and Development (WCED), Our Common Future, Oxford University Press, Oxford, 1987, hlm. 43. (diakses tanggal 16 Mei 2009)

Secara sekilas, definisi seperti ini terlihat begitu sederhana,

akan tetap isu yang berkembang cepat serta mendalam nyatanya membuat ruang

(26)

Dalam World Summit Report 2005, pembangunan berkelanjutan haruslah

didirikan di atas tiga pilar pokok, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketiganya

dibentuk untuk saling menopang antara satu dengan lainnya. Dengan demikian

dapatlah dirumuskan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak saja memfokuskan diri

pada aspek-aspek pembangunan ekonomi dan sosial semata, namun juga harus

berlandaskan pada perlindungan terhadap lingkungan. Pengembangan konsep

pembangunan berkelanjutan juga masuk dalam hal terpenuhinya kebutuhan dasar

(basic needs) dan tersalurkannya kesempatan untuk memberikan aspirasi kehidupan

yang lebih baik.10

Lebih lanjut, apabila ditarik melalui persepektif kerangka hukum

internasional, Dominic McGoldrick merumuskan pembangunan berkelanjutan yang

ditopang oleh tiga pilar menyerupai bangunan rumah. Pilar-pilar tesebut dibangun di

atas tiga ranah hukum internasional, yaitu hukum lingkungan internasional, hukum

ekonomi internasional, dan hukum hak asasi manusia internasional.11

10

Pan Mohamad Faiz, Ibid, dikutip dari Dinah M. Payne dan Cecily A. Rainborn, Sustainable

Development: The Ethics Support the Economics, dalam Thomas A. Easton, ed., Taking Sides: Clashing Views on Controversial Environmental Issues, McGraw Hill, 2008, hlm. 28-33.

11

Pan Mohamad Faiz, Ibid, dikutip dari Dominic McGoldrick,Sustainable Development and Human Rights: An Integrated Conception, dalam The International and Comparative Law Quarterly, Vol. 45,

No. 4, Oktober, 1996, hlm. 2-7.

Dengan

demikian, antara pembangunan berkelanjutan dengan hak asasi manusia dapat

dikatakan juga memiliki hubungan yang begitu erat. Oleh karenanya, hak-hak asasi

manusia yang secara tegas tercantum dalam Pasal 28 hingga Pasal 28J UUD 1945

juga menjadi persyaratan penting untuk dipenuhi apabila pembangunan berkelanjutan

ingin dikatakan berjalan sesuai dengan amanat konstitusi. Sebab, ketentuan dan

(27)

yang selaras dengan ketentuan perlindungan HAM yang bersifat universal

sebagaimana tercantum dalam berbagai Konvensi Internasional, seperti UDHR,

ICCPR, ECOSOC, dan lain sebagainya.

Terkait dengan issu perubahan iklim, maka perlu juga diperhatikan hasil KTT

Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada

tahun 2002. Asas-asas pembangunan berkelanjutan yang tercantum dalam UNCED

tersebut, terdiri dari:

1. keadilan antargenerasi (intergenerational equity);

2. keadilan dalam satu generasi (intra-generational equity);

3. prinsip pencegahan dini (precautionary principle);

4. Perlindungan keanekaragaman hayati (conversation of biological

diversity); dan

5. Internalisasi biaya lingkungan (internalisation of environment cost and

incentive mechanism).

Kemudian, salah satu hasil yang disepakati untuk menunjang pembangunan

berkelanjutan yaitu dilakukannya suatu pendekatan yang terpadu, memperhatikan

berbagai aspek bahaya (multihazard) dan inklusi untuk menangani kerentanan,

penilaian resiko, dan penanggulangan bencana, termasuk pencegahan, mitigasi,

kesiapan, tanggapan dan pemulihan yang merupakan unsur penting bagi dunia yang

lebih aman di abad ke-21.12

12

(28)

Berwawasan Lingkungan

Menurut Surna T. Djajadiningrat, proses pembangunan berkelanjutan

bertumpu pada tiga faktor utama, yaitu: (1) kondisi sumber daya alam; (2) kualitas

lingkungan, dan (3) faktor kependudukan. Dengan demikian, pembangunan

berkelanjutan tidak akan bermakna banyak apabila tidak turut memperhatikan

aspek-aspek yang berwawasan lingkungan.

Oleh karena itu, pembangunan haruslah mampu untuk menjaga keutuhan

fungsi dan tatanan lingkungan, sehingga sumber daya alam yang ada dapat senantiasa

tersedia guna mendukung kegiatan pembangunan baik untuk masa sekarang maupun

masa yang akan datang. Untuk menciptakan konsep pembangunan berkelanjutan

yang berwawasan lingkungan (CBESD), maka diperlukanlah pokok-pokok

kebijaksanaan yang di antaranya berpedoman pada hal-hal sebagai berikut:13

a. Pengelolaan sumber daya alam perlu direncanakan sesuai dengan daya

dukung lingkungannya;

b. Proyek pembangunan yang berdampak negatif terhadap lingkungan

dikendalikan melalui penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

(AMDAL) sebagai bagian dari studi kelayakan dalam proses perencanaan

proyek;

c. Adanya pengutamaan penanggulangan pencemaran air, udara, dan tanah;

d. Pengembangan keanekaragaman hayati sebagai persyaratan bagi stabilitas

tatanan lingkungan;

13

Pan Mohamad Faiz, Ibid, dikutip dari Surna T. Djajadiningrat, Jurnal Hukum Lingkungan, Tahun I

(29)

e. Pengendalian kerusakan lingkungan melalui pengelolaan daerah aliran

sungai, rehabilitasi dan reklamasi bekas pembangunan, serta pengelolaan

wilayah pesisir dan lautan;

f. Pengembangan kebijakan ekonomi yang memuat pertimbangan

lingkungan;

g. Pengembanan peran serta masyarakat, kelembagaan, dan ketenagaan

dalam pengelolaan lingkungan hidup;

h. Pengembangan hukum lingkungan yang mendorong badan peradilan

untuk menyelesaikan sengketa melalui penerapan hukum lingkungan;

i. Pengembangan kerja sama luar negeri.

4. Teori Ketergantungan

Ketergantungan (dependency) adalah sebuah konsep yang digunakan secara

populer dalam analisis negara-negara dunia ketiga di Asia, Afrika dan Amerika Latin

selama tahun 1960-an dan kemudian sering dipakai dalam beberapa tulisan tentang

Asia dan Afrika. Sedikitnya ada enam ilmuan yang tercatat menulis tentang teori

ketergantungan yaitu Philip J. O’brien, Fernando Henrique Cardoso, Claire Savir

Bacha dan Ronald H Chilcote, Andre Gunder Frank dan Theotonio Dos Santos.14

Mereka yang menerapkan ketergantungan dalam analisis pembangunan dan

keterbelakangan seringkali berfokus pada masalah penetrasi asing ke dalam ekonomi

politik dunia ketiga. Frank menyatakan bahwa pemahaman terhadap sejarah ekonomi,

sosial dan politik menjadi suatu hal yang penting dalam menentukan kebijakan

14

(30)

pembangunan pada suatu negara. Karakteristik suatu negara yang khas dapat dikaji

dari perspektif historis. Pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh negara

terbelakang saat ini sebenarnya merupakan hasil pengalaman sejarah negara maju

yang kapitalis seperti negara-negara Eropa dan Amerika Utara.

Terdapat perbedaan sejarah yang sangat mendasar antara negara maju dan

negara bekas koloni atau daerah jajahan sehingga menyebabkan struktur sosial

masyarakatnya berbeda. Frank juga menganggap adanya kegagalan penelitian sejarah

dalam menganalisis hubungan ekonomi yang terjadi antara negara penjajah dan

negara jajahannya selama masa perdagangan dan imperialisme. Pembangunan

ekonomi merupakan sebuah perjalanan menuju sistem ekonomi kapitalisme yang

terdiri dari beberapa tahap. Saat ini negara terbelakang masih berada pada awal

tahapan tersebut.

Frank menyajikan lima tesis tentang dependensi, yaitu :

1. Terdapat kesenjangan pembangunan antara negara pusat dan satelitnya,

pembangunan pada negara satelit dibatasi oleh status negara satelit tersebut.

2. Kemampuan negara satelit dalam pembangunan ekonomi terutama

pembangunan industri kapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara

pusat sedang melemah. Pendapat ini merupakan antitesis dari modernisasi

yang menyatakan bahwa kemajuan negara dunia ketiga hanya dapat dilakukan

dengan hubungan dan difusi dengan negara maju. Tesis ini dapat dijelaskan

dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu “isolasi temporer” yang

disebabkan oleh krisis perang atau melemahnya ekonomi dan politik negara

(31)

pada saat Spanyol mengalami kemunduran ekonomi pada abad 17, perang

Napoleon, perang dunia pertama, kemunduran ekonomi pada tahun 1930 dan

perang dunia kedua telah menyebabkan pembangunan industri yang pesat di

Argentina, Meksiko, Brasil dan Chili. Pengertian isolasi yang kedua adalah

isolasi secara geografis dan ekonomi yang menyebabkan ikatan antara

“pusat-satelit” menjadi melemah dan kurang dapat menyatukan diri pada sistem

perdagangan dan ekonomi kapitalis.

3. Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang

memiliki kedekatan ikatan dengan negara pusat pada masa lalu. Frank

menjelaskan bahwa pada negara satelit yang memiliki hubungan sangat erat

telah menjadi “sapi perah” bagi negara pusat. Negara satelit tersebut hanya

sebatas sebagai penghasil produk primer yang sangat dibutuhkan sebagai

modal dalam sebuah industri kapitalis di negara pusat.

4. Kemunculan perkebunan besar di negara satelit sebagai usaha pemenuhan

kebutuhan dan peningkatan keuntungan ekonomi negara pusat. Perkebunan

yang dirintis oleh negara pusat ini menjadi cikal bakal munculnya industri

kapitalis yang sangat besar yang berdampak pada eksploitasi lahan,

sumberdaya alam dan tenaga kerja negara satelit.

5. Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan menurunnya

kemampuan berproduksi pertanian di negara satelit. Ciri pertanian subsisten

pada negara terbelakang menjadi hilang dan diganti menjadi pertanian yang

(32)

Dalam tulisan Dos Santos membenarkan bahwa dengan ketergantungan kita

mengartikan sebuah situasi dimana ekonomi negara-negara tertentu terkondisikan

oleh perkembangan dan ekspansi ekonomi lain yang menjadi tempat tergantung

negara-negara tadi. Hubungan saling ketergantungan antara dua atau lebih ekonomi,

dan antara ekonomi-ekonomi ini dengan perdagangan dunia, mengambil bentuk

ketergantungan sementara beberapa negara (yang dominan) dapat melakukannya

hanya sebagai pencerminan ekspansi, yang bisa memiliki pengaruh positif ataupun

negatif bagi perkembangan langsung mereka.15

Lebih lanjut lagi Dos Santos dengan teori ketergantungan baru menunjukan

bahwa hubungan negara-negara dependen dengan negara dominan tidak dapat diubah

tanpa adanya perubahan dalam struktur internal dan hubungan-hubungan

eksternalnya. Selanjutnya, struktur ketergantungan bertambah dalam, membawa Dan di pertegas lagi oleh ekonom Chili, Osvaldo Sunkel bahwa faktor-faktor

asing tidak hanya dilihat sebagai hal-hal eksternal melainkan interistik pada sistem,

dengan bermacam-macam akibat politik, keuangan, ekonomi, teknis dan budaya,

yang terkadang tersembunyi dan terselubung di dalam negara terbelakang. Dengan

konsep ketergantungan secara internasional menghubungkan evolusi kapitalisme

paska perang dengan sifat-sifat diskriminatif proses pembangunan lokal, sebagaimana

kita ketahui. Akses terhadap proses-proses dan keuntungan-keuntungan

pembangunan bersifat selektif; bukan menyebarkannya, proses ini cenderung

memastikan adanya akumulasi keistimewaan dan penguatan diri bagi

kelompok-kelompok khusus maupun lanjutan kebereadaan suatu kelas marjinal.

15

(33)

negara-negara dependen pada keterbelakangan, memperburuk permasalahan

masyarakat ketika negara-negara tersebut mengikuti struktur internal dan

internasional yang dipengaruhi secara kuat oleh peran perusahaan-perusahaan

multinasional maupun pasar-pasar komoditas dan modal internasional.

Santos mengamsusikan bahwa bentuk dasar ekonomi dunia memiliki

aturan-aturan perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi yang dominan di negara

pusat adalah kapitalisme sehingga menyebabkan timbulnya saham melakukan

ekspansi keluar dan tipe hubungan ekonomi pada negara periferi merupakan bentuk

ketergantungan yang dihasilkan oleh ekspansi kapitalisme oleh negara pusat. Santos

menjelaskan bagaimana timbulnya kapitalisme yang dapat menguasai sistem ekonomi

dunia. Keterbatasan sumber daya pada negara maju mendorong mereka untuk

melakukan ekspansi besar-besaran pada negara miskin. Pola yang dilakukan

memberikan dampak negatif berupa adanya ketergantungan yang dialami oleh negara

miskin. Negara miskin akan selalu menjadi negara yang terbelakang dalam

pembangunan karena tidak dapat mandiri serta selalu tergantung dengan negara maju.

Negara maju identik menjadi negara pusat, sedangkan negara miskin menjadi

satelitnya. Konsep ini lebih dikenal dengan istilah “pusat - periferi”.

Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni :

a. Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat

bersifat eksploitatif.

b. Ketergantungan Finansial- Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan

(34)

c. Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri

dilakukan melalui monopoli teknologi industri.16

Intinya Ketergantungan adalah :

1. Yang menjadi hambatan pembangunan bukan karena tidak ada modal melainkan

pembagian verja internasional yang terjadi.

2. Pembagian verja Internasional itu diuraikan menjadi hubungan antar kawasan

yakni pusat dan pinggiran, terjadilah surplus dari negara pinggirian ke negara

pusat

3. Akibat pengalihan surplus ini negara pinggiran kehilangan sumber yang

dibutuhkan karena di hisap negara pusat. Pembangunan dan keterbelakangan

adalah dua aspek dari proses global yang sama. Proses global tersebut adalah

kapitalisme dunia.

4. Teori Ketergantungan menganjurkan untuk memutuskan hubungan dengan

kapitalisme dunia.

5. Dalam pandangan ketergantungan negara pusat dan kapitalisme mengandung inti

Dominasi, Hegemoni dan Eksploitasi.

Dan ketika berbicara tentang penyelamatan lingkungan tidak terlepas dari

ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara berkembang.

Dalam hal ini negara-negara berkembang yang biasanya dalam pembangunan

ekonominya selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tetapi kurang

16

Slamet Widodo, Ketergantungan dan Keterbelakangan,

(35)

memperdulikan dampak negative dari pembangunan tersebut bagi lingkungan hidup.

Ketika hasil dari pembangunan ekonomi tersebut memberi dampak buruk bagi

kehidupan bersama, beramai-ramai negara-negara maju melakukan aksi kritik

terhadap pembangunan di negara-negara berkembang.

Negara-negara berkembang ditekan agar dalam pembangunan ekonominya

mengunakan teknologi yang canggih dan bersih sehingga tidak memberikan efek

negative terhadap kondisi lingkungan. Dibuatlah standarisasi pengelolahan produk

sesuai dengan keinginan negara-negara maju. Sehingga menyebabkan produk yang

dihasilkan oleh negara satelit sulit masuk kedalam pasar negara pusat. Dan untuk itu

terpaksa negara satelit membeli teknologi baru dari negara pusat yang lebih maju, hal

ini yang menyebabkan semakin kaburnya kesepakatan internasional tentang

penyelamatan lingkungan atau hanya sebagai bentuk baru lagi dari evolusi system

penghisapan baru negara pusat terhadap negara satelit.

G. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Deskriptif, yaitu analisis

masalah dengan pengumpulan data melalui Studi Pustaka (Library Research) dengan

teknik Pengumpulan bahan kepustakaan buku-buku, artikel, media massa cetak dan

media massa elektronik serta data-data tertulis yang berkaitan dengan masalah

(36)

H. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang terperinci, dan untuk mempermudah isi

dari skripsi ini, maka penulis membagi dalam empat (4) bab. Untuk itu disusun

sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas tentang latarbelakang, Perumusan

masalah, Batasan Masalah, Tujauan Penelitian, Kerangka

Dasar pemikiran, Ruang lingkup Penelitian, Teknik

Pengumpulan Data, Hipotesa, serta Sistematika Penulisan.

BAB II : DESKRIPSI PERKEMBANGAN DAN AKTOR-AKTOR

REDD

Bab ini berisikan sekilas tentang perkembangan wacana

Progaram REDD dari awal hingga dimasukannya sebagai salah

satu butir kesepakatan dalam Bali Roadmap, serta bagaimana

actor-aktor dibalik REDD ini berperan.

BAB III : ANALISA PENERAPAN REDUCING EMISSION FROM

DEFORESTATION AND DEGRADATION

Bab ini membahas tentang analisa dampak serta resiko

penerapan REDD di Indonesia.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini berisikan Kesimpulan dan saran, yaitu kesimpulan dari

keseluruhan penelitian yang telah tercantum dalam bab-bab

(37)

BAB II

DESKRIPSI PERKEMBANGAN DAN AKTOR-AKTOR

REDD

A. Tahap Perkembangan REDD

Deforestation dan emisi menjadi perdebatan politik dan ilmiah telah

berlangsung sejak awal UNFCCC namun keseriusan untuk menjadikan isu ini sebagai

salah satu isu penting adalah pada kesepakatan Protokol Kyoto pada tahun 1997.

Namun dalam protokol ini hanya disepakati tentang perlunya melindungi dan

mengkonservasi tempat penyimpanan karbon termasuk hutan. Protokol ini juga

berisikan tentang target penurunan wajib emisi dari negara-negara industri maju dan

juga memuat Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development

Mechanism/CDM, yang memungkinkan negara-negara tersebut mendapatkan kredit

karbon di negara-negara berkembang jika mereka gagal dalam penurunan emisi.

Namun dalam Protokol ini belum ada kesepakatan mengenai pemberian kompensasi

terhadap negar-negara berkembang yang mampu menekan deforestation di

negaranya, walaupun demikian Protokol ini menjadi pijakan awal dari kesepakatan

tentang perlunya penyelamatan hutan.

Usul memberikan insentif positif bagi negara-negara pemilik hutan yang

mampu mengurangi dampak deforestation baru muncul ketika Koalisi Pemilik Hutan

Tropis (Coalition for Rain Forest Nations/CfRFN) yang dipelopori oleh Papua

(38)

deforestation yang kemudian masuk dalam agenda CoP ke 11di Montreal dengan

nama Reducing Emission From Deforestation in Developing Countries dengan

mengunakan pendekatan emisi nasional, hampir sama dengan Papua Nuginea dan

Costarica, Brasil pun memberikan usul agar adanya kompensasi bagi negara yang

mampu mencegah deforestasi.

Proposal ini banyak disambut baik oleh negara-negara para pihak, teruatama

karena adanya fokus baru, yang memecahkan berbagai permasalah dari diskusi

mengenai isu “penghindaran deforestation” yang ada sebelumnyayang lebih

berfokus pada tingkatan proyek atau pendekatan sub-nasional. CoP merujuk isu

tersebut kepada Badan Tambahan untuk Masukan Ilmiah dan Teknis (Subsidiary

Body for Scientificand Technica Advice/SBSTA), yang telah banyak menerima usulan

dan mengadakan dua lokakarya (FCCC/SBSTA/2006/10 dan FCCC/SBSTA/2007/3),

namun sampai pada Cop ke 12 di Nairobi, Kenya, negara-negara yang telah

meratifikasi Protokol Kyoto gagal mendesak negara-negara maju untuk mengurangi

emisinya sesuai dengan target yang ditentukan. Pada CoP ke 12 ini dapat dikatakan

tidak ada sebuah kemajuan. Namun kesimpulan yang diperoleh SBSTA menjadi

sesuatu yang penting bagi perkembangan pencegahan deforestation. Temuan tersebut

disampaikan oleh ketua SBSTA pada CoP ke 13 di bali.

Pada UNFCCC CoP ke 13 yang berlangsung pada Desember 2007 di Bali,

Indonesia selaku tuan rumah penyelenggaraan dan didorong oleh kesadaran sebagai

negara pemilik hutan terbesar ke 3 di dunia dan juga nomor 2 sebagai negara

penghasil emisi karbon dari proses deforestasi mengusulkan sebuah mekanisme baru

(39)

Berbeda dengan apa yang diusulkan oleh Papua Nuginea dan Costarica pada

CoP ke 11 di Monteral. Dalam usulannya Indonesia menambahkan lagi poin tentang

pencegahan degradation maka program yang diusulkan oleh Indonesia disebut

dengan Reducing Emission from Deforestation and Degradation. REDD ini berhasil

menjadi salah satu program yang disepakati dalam CoP ke 13 yang kesepakatan

tersebut tertuang dalam Bali Road Map.

Sebelum CoP ke-13 Indonesia memang telah mempersiapkan Progaram ini,

departemen kehutanan melalui kordinasi Indonesia Forest Climate Alliance (IFCA)

telah menetapkan Road Map Reducing Emission from Deforestation and Degradation

in Indonesia (REDDI). Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi merupakan

initatif internasional kedalam konteks nasional. Oleh karenannya REDDI tidak

dirancang ekslusif terhadap kebijakan kehutanan, tetapi untuk mendukung

tercapainya tujuan kebijakan dan upaya-upaya yang dilakukan dalam menuju

pembangunan hutan yang berkelanjutan.

Berikut adalah tahapan program REDD yang telah disusun oleh Departemen

Kehutanan melalui kordinasinya dalam Indonesia Forest Climate Alliance ( IFCA):

1. Fase Persiapan (Pre-CoP 13)

Pada fase ini kegiatan difokuskan pada persiapan basis negosiasi di CoP-13 dan

penyiapan desain serta kriteria pemilihan lokasi sebagai pilot sites. Studi

komprehensif yang mencakup metodologi dan strategi serta kajian strategi serta

kajian aspek pasar dan insentif, dilakukan selama bulan Juli-November 2007. Studi

dilakukan oleh tenaga ahli internasional dan nasional, dengan narasumber dari

(40)

oleh World Bank, Inggris, Jerman dan Australia. Hasil dipresentasikan pada site

events CoP ke-13.

2. Fase Transisi (2008-2012)

Pada tahap transisi, pelaksanaan Pilot activities, dimaksudkan sebagai sarana

learning by doing process, termasuk didalamnya testing metodologi dan strategi yang

dihasilkan dari studi bulan Juli-November 2007,termasuk mekanisme insentif. pilot

activities dapat berupa pengurangan emisi dari deforestasi, pengurangan emisi dari

degradasi dan konservasi

3. Fase Implementasi (mulai 20012 atau lebih awal tergantung pada

perkembangan dalam negoisasi CoP)

Fase ini merupakan implementasi mekanisme REDD dengan modalities, rules,

dan prosedur sesuai keputusan CoP

Reducing Emission from Deforestation and Degradation dalam Bali

RoadMap

Dalam UNFCCC CoP ke 13 di Bali memang sudah disepakati tentang

program REDD namun REDD yang tertuang dalam Bali RoadMap masih sekedar

butir kesepakatan yang belum dapat dilaksanakan dan perlu pengkajian lebih lanjut

mengenai bagaimana mekanisme penerapan program ini. Berikut ini adalah bentuk

REDD dalam Bali Roadmap :

• REDD merupakan mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk

member insentif yang positif bagi negara berkembang yang berhasil mengurangi

(41)

• REDD merupakan mekanisme internasional yang bersifat sukarela

(voluntary) dan tetap menghormati kedaulatan negara (sovereignty)

Negara maju sepakat memberikan dukungan untuk capacity

building,transfer teknologi dibidang metodologi dan institusional, pilot/demonstration activities,

Untuk melaksanakan pilot/demostration activities dan

implementasikan REDD, diperlukan penguasaan aspek metodologi sesuai standar

internasional. Oleh karenanya CoP 13 menyepakati indicative guidance untuk

pilot/demonstration activities, dimana terdapat tanggung jawab internasional,

nasional (pemerintah), dan sub-nasional (pelaksana daerah).

Indicative guidance untuk pilot/demonstration activities yang disepakati

dalam CoP Ke-13 adalah sebagai berikut :

Demonstration activities harus mendapat persetujuan host party dalam

hal ini pemerintah.

 Penghitungan pengurangan/peningkatan emisi harus sesuai

hasilterukur,transparan, dapat diverivikasidan konsisten sepanjang waktu.

Pelaporan pengunaan reporting guidelines (Good Practice Guidance

for Land, land-use Change and Forestry) sebagai dasar penghitungan dan monitoring

emisi.

Pengurangan emisi dari national demonstration activities dievaluasi

(42)

Subnational demonstration activities dievaluasi dalam batas kegiatan

tersebut, termasuk evaluasi terhadap pengalihan emisi sebagai dampak dari kegiatan

yang dimaksud (leakage).

Pengurangan/peningkatan emisi dari demonstration activity

didasarkan pada emisi masa lalu, dengan memperhatikan kondisi masing-masing

negara.

 Pemakaian pendekatan sub-nasional harus merupakan suatu langkah

menuju pendekatan national reference levels/baseline dan estimasi pengurangan

emisi,

 Demonstration activities harus konsisten dengan provisi di bawah

UNFF, CDD, dan CBD.

Pengalaman dari implementasi demonstration activities dilaporkan dan

tersedia memalui web platform.

Termasuk dalam pelaporan demonstration activities adalah deskripsi

kegiatan, efektifitas, dan informasi lain yang relevan.

Dianjurkan mengunakan Indipendent expert review.

Sampai saat ini REDD masih dalam pembahasan, negoisasi akan dilakukan

Adhoc Working on Long Term Cooperatif Action (AWG-LCA) atau Kelompok

Kerja untuk Aksi Kerjasama Jangka Panjang. Keputusan akhir mengenai REDD akan

(43)

B. Aktor-aktor dibalik Reducing Emission From Deforestation and

Degaradation pada UNFCCC ke 13 di Bali

Pada kenyataanya bahwa dalam REDD ini terdapat banyak aktor yang

berperan dalam pengusulan serta sampai pada tahap di setujuinya REDD dan menjadi

salah satu butir kesepakatan yang tercantum dalam Bali Action Plan. Namun bukan

dalam maksud untuk mengurangi peran dari aktor-aktor yang lain tetapi dalam

laporan penelitian ini menekankan pada aktor-aktor yang dianggap mempunyai porsi

besar dalam pengusulan ide REDD ini dikarenakan besarnya kepentingan mereka

terhadap REDD tersebut. Berikut adalah aktor-aktor dalam Pengusulan REDD:

1. Perserikatan Bangsa-bangsa ( United Nations)

Program REDD seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa REDD ini

dilahirkan pada UNFCCC CoP ke 13 di Bali hal ini secara langsung menjelaskan

bagaimana peran dari Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai organisasi yang menaungi

penyelenggaraan konfrensi perubahan iklim. Namun tentu saja peran Perserikatan

Bangsa-bangsa ini tak sederhana itu saja tetapi perannya juga sangat penting dalam

penentuan kesepakatan yang lahir dari konfrensi perubahan iklim tersebut.

Pada juli 2008, PBB melahirkan UN-REDD (United Nations Collaborative

Programe on Reducing Emission from Deforestation and Degradation in developing countries). Program tersebut dipimpin oleh UNDP, FAO, dan UNEP untuk

mengarahakan kegiatan persiapan (Rediness activities) untuk REDD.

Maksud dari UN-REDD ini adalah membantu negara-negara berkembang

yang memiliki hutan dan komunitas internasional untuk memperoleh pengalaman

(44)

menghasilkan arus transfer sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengurangi emisi

global dari deforestasi dan degradasi hutan secara signifikan. Namun tujuan utamanya

adalah menyalurkan dana dari negra maju untuk diberikan kepada

negara-negara pemilik hutan.

UN-REDD akan meliputi peningkatan kapasitas (capacity building),

pengembangan strategi, menguji sistem keuangan dan pengaturan institusi untuk

pengawasan dan verifikasi. Program UN-REDD mendukung ketersangkutan REDD

dengan pasar karbon dan akan memadukan inisiatif internasional lain seperti FCPF,

FIP dan GEF. Program UN-REDD berkomitmen melakukan pendekatan berdasarkan

hak asasi manusia (rights based) dan dalam dokumentasinya menyebutkan Free,Prior

and Informed Consent17.

Selanjutnya peran Perserikatan Bangsa-bangsa dalam persoalan REDD ini

hanya lebih memfokuskan pada program UN-REDD saja sehingga dirasakan kurang

memiliki peran yang besar dalam pengembangan konsep REDD, kalah dibandingkan

aktor-aktor lainnya. Mungkin ini disebabkan PBB harus sanggat berhati-hati dalam

mengeluarkan kebijakan karena PBB harus mampu memberikan kebijakan yang

mampu mengakomodir semua kepentingan negara-negara di dunia.

17

(45)

2. Bank Dunia.

Keterlibatan Bank Dunia terhadap REDD diawali saat mendanai Indonesian

Forest Climate Alliance (IFCA). Aliansi ini merupakan suatu forum komunikasi,

koordinasi, dan konsultasi bagi sekelompok ahli yang bergerak di bidang kehutanan

dan perubahan iklim di Indonesia, terutama untuk menganalisa praktek skema REDD

di Indonesia. IFCA beranggotakan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil,

lembaga-lembaga saintifik dan mitra internasional yang dikoordinatori oleh

Departemen Kehutanan. Keterlibatan Bank Dunia pada IFCA ini adalah untuk dana

bantuan yang diberikan oleh pemerintah Australia, Jerman dan Inggris.

IFCA inilah yang merumuskan program apa yang nantinya akan di tawarkan

oleh pemerintah Indonesia pada CoP ke 13 di Bali. IFCA merumuskan kebijakan

yang terkait dengan (i) penentuan tingkat emisi (ii) strategi penggunaan lahan (iii)

pemantauan (iv) mekanisme keuangan (V) pembagian keuntungan dan tanggung

jawab dalam pencegahan pemanasan global. Hasil dari penelitian IFCA yang

disampaikan Pemerintah Indonesia pada CoP ke 13 ini salah satunya ada usulan

tentang Progaram REDD. Dengan kata lain pemerintah Indonesia merupakan negara

pengusul REDD.

Keterlibatan Bank Dunia sebenarnya banyak mendapat kritik dari

negara-negara berkembang G77 terutama mengenai pendanaan dan pembiayaan multilateral

skema REDD, negara-negara G77 menghendaki bahwa pembiayaan REDD harus

dibawah kekuasaan UNFCCC. The Global Environmental Facility (GEF) diusulkan

oleh G77 sebagai badan pembiayaan resmi yang diakui UNFCCC. Namun GEF

(46)

besar, padahal Bank Dunia hanya salah satu aparat pelaksana GEF (yang lain adalah

UNDP dan UNEP), ia mempunyai pengaruh yang besar mengenai pembagian dana

GEF. Dan yang menjadi kritik lagi juga mengenai Prosedur GEF dalam pemilihan

sangat menguntungkan negara donor besar diatas yang lain. GEF sendiri juga di duga

ingin memajukan proyek konservasi besar yang ekslusif di Asia dan Afrika.

Ditengah kontroversi tersebut selain keterkaitannya dengan pendanaan IFCA,

Bank Dunia juga memperkuat lagi posisinya dalam CoP ke 13 dengan

mengumumkan Progaram fasilitas kemitraan karbon hutan baru yaitu The Forest

Carbon Partnership Facility (FCPF)18

FCPF terdiri dari dua skema - Mekanisme Kesiapan (Readiness Mechanism),

untuk membantu negara berkembang untuk siap berpartisipasi dalam program

insentif REDD, dan Mekanisme Pendanaaan Karbon (Carbon Finance Mechanism),

yang menjadi percontohan pembayaran karbon bagi sekitar lima peserta Mekanisme

Kesiapan yang berhasil. Setiap mekanisme memiliki dana perwalian (trust fund)

sendiri, dengan Bank bertindak sebagai pengawas bagi keduanya. Intinya FCPF ini

mendorong agar pendanaan REDD ini mengunakan pendekatan pasar. Dibuktikan . FCPF ini merupakan sistem insentif skala

besar untuk penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dengan

menyediakan sumber-sumber dana segar untuk pemanfaatan yang lestari atas

sumberdaya hutan dan konservasi keanekaragaman hayati, bagi lebih dari 1,2milyar

penduduk yang hidupnya sedikit banyak tergantung terhadap hutan.

18

(47)

dengan banyaknya concept notes tidak memperhatikan hak milik tanah dan hak

adat19

19

WALHI, Tim Mann, Muhamad Teguh Surya, REDD Wrong Path : Pathetic Ecobusiness, Jakarta : Walhi, 2009.

.

Selanjutnya pada pasca CoP 13 bulan Mei 2008 Bank Dunia kembali

meluncurkan lagi sebuah rogram baru yang merupakan program pendamping dari

FCPF yang dinamai Forest Investment Program (FIP). Jika FCPF adalah program

Bank dunia untuk mendukung kegiatan persiapan (Readliness Activities) serta

mekanisme pembayaran pilot program sedangkan FIP sendiri diluncurkan oleh Bank

Dunia untuk memberikan dana pinjaman untuk pelaksanaan reformasi dan

perencanaan yang dibutuhkan dilapangan.

Melalui FIP inilah Bank Dunia mendorong agar para Pemerintah yang hendak

mengkuti REDD menyiapkan segala bentuk perundangan-undangan serta membentuk

tim yang nantinya mengurusi pelaksanaan REDD. Melalui kedua program inilah

Bank Dunia mencoba mengambil perannnya dalam perdagangan Karbon dunia

melalui program REDD.

Dalam kaitannya dengan kerjasama Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia

sendiri, Bank Dunia saat ini lebih banyak melalui pendekatannya dengan Program

FCPF. Pendekatan ini berfokus pada reformasi generasi baru yang dibutuhkan untuk

meningkatkan daya saing Indonesia serta integarasinya ke perekonomian dunia

sambil memenuhi pertumbuhan kebutuhan atas kepemerintahan yang baik. Dalam

konteks ini Bank Dunia membantu Indonesia dalam upaya mitigasi dan adaptasi

(48)

Lebih spesifiknya Bank Dunia Di Indonesia dalam kaitannya dengan REDD

melakukan tindakan-tindakan seperti :

a. Membantu Departeman Kehutanan dalam mempersiapkan Prakarsa

REDD dengan Aliansi Iklim Kehutanan Indonesia (LSM dan

universitas) dengan pembiayaan bersama dari DFID, AUSAID dan

GTZ.

b. Mendukung prakarsa Indonesia dalam dialog global mengenai

perdagangan dan perubahan iklim membangun kapasitas Departeman

Perdagangan mengenai aspek hukum perdagangan dan perubahan

iklim, serta melakukan studi mengenai bagaimana Indonesia bisa

mendapat manfaat dari liberalisasi perdagangan dalam produk ramah

lingkungan.

c. Mendukung pengembangan proyek uji coba potensial melalui prakarsa

konservasi hutan termasuk Aceh Forest Enviroment Project (dengan

dukungan MDF) dan Birdlife Rehabilatation Project dengan

kemungkinan mendapatkan manfaat perdagangan karbon

d. Mempermudah pertimbangan Indonesia mengenai peluang

Pembiayaan Iklim yang diwakili oleh Climate Investment Fund dan

berbagai Carbon Patnership Funds termasuk juga FCPF melalui

keterlibatan dalam proses konsultasi.20

20

Makalah Seminar Infid, Indonesia, Bank Dunia dan Perubahan Iklim,

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas ( Classroom Action Research ) yang dilaksanakan di SMP Negeri 5 Baraka dengan rumusan masalah apakah hasil belajar

Untuk 100% tandan kosong jedah waktu untuk mendapatkan flame berikutnya lebih lama hal ini diakibatkan oleh fluktuasi temperatur pada daerah pembakaran dan reduksi sangat tinggi

DAFTAR CALON MAHASISWA MAGISTER PROGRAM PASCASARJANA UNILA YANG DITERIMA PADA SEMESTER GENAP. TAHUN

Begitu juga hasil dari penelitian yang dilakukan Ramdhani (2017) menyatakan bahwa kinerja karyawan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas

(2) Tunjangan yang dimaksud dalam pasal 1 peraturan ini diberikan kepada Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia yang menjadi tidak cakap bekerja karena cacat fisik atau

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen yang membentuk brand equity (ekuitas merek), menganalisis elemen-elemen ekuitas merek yang terdiri dari

1) Pengeluaran biaya OP&M terbesar berturut-turut adalah untuk kegiatan pemeliharaan saluran dan bangunan yaitu 40,5% dan untuk kegiatan operasi 25,06%, sehingga

Kesimpulan dari penelitian ini adalah Group Investigation dengan strategi NHT dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VIII F SMP Muhammadiyah