• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tingkat Kepuasan Customer Terhadap Kualitas Pelayanan Berdasarkan Indeks Potential Gain Customer Value (PGCV) Di PT. Alfa Scorpii Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Tingkat Kepuasan Customer Terhadap Kualitas Pelayanan Berdasarkan Indeks Potential Gain Customer Value (PGCV) Di PT. Alfa Scorpii Medan"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN CUSTOMER TERHADAP KUALITAS PELAYANAN BERDASARKAN INDEKS POTENTIAL GAIN CUSTOMER

VALUE (PGCV) DI PT. ALFA SCORPII MEDAN

TUGAS SARJANA

Diajukan untuk Memenuhi sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh :

TIWY FANTIKA SIREGAR NIM. 080403191

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Dengan ucapan Alhamdulillahlirabbil`alamin sebagai rasa terima kasih

dan syukur penulis kepada Allah SWT., atas usaha yang sungguh-sungguh penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan waktu yang telah ditentukan.

Penulis dalam kesempatan ini mengajukan judul “Analisis Tingkat

Kepuasan Customer terhadap Kualitas Pelayanan Berdasarkan Indeks Potential Gain Customer Value (PGCV) Di PT. Alfa Scorpii Medan” guna

memenuhi sebagian dari syarat–syarat untuk memperoleh gelar sarjana teknik.

Proses penyusunan tugas akhir merupakan suatu proses panjang yang membawa penulis dapat belajar lebih jauh lagi mengenai ilmu teknik industri itu sendiri

beserta aplikasinya. Banyak makna dan pelajaran yang penulis dapatkan dari proses pengerjaan tugas akhir ini, yang mungkin tidak akan penulis dapatkan dari bangku perkuliahan.

Tentunya dalam penulisan tugas akhir ini banyak terdapat kesalahan baik dari segi kosakata maupun dari segi pengertian. Oleh karena itu saran dan kritik

yang membangun sangat diharapkan agar dimasa mendatang menjadi lebih baik.

Medan, April 2011

(5)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan selesainya Tugas Akhir ini tidak lupa saya mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya kepada :

1. Allah SWT., Sang Penciptaku atas kemudahan, kelancaran dan kemurahan-Nya dalam memberikan rahmat dan petunjuk-kemurahan-Nya untuk menyelesaikan tugas sarjana ini.

2. Keluargaku tercinta : Papa, Mama, Zelika, Nindy dan Vinia, yang senantiasa membantu dan mencurahkan seluruh tenaga, serta dorongan material maupun spiritual demi kelancaran studi saya selama ini.

3. Ibu Ir. Khawarita Siregar, MT., selaku Ketua Jurusan Departemen Teknik Industri Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembimbing I, terima kasih banyak atas segala bimbingan, saran dan kritiknya sehingga saya dapat

menyelesaikan tugas sarjana saya dengan baik..

4. Bapak Aulia Ishak, ST. MT., selaku Koordinator Tugas Akhir Departemen

Teknik Industri Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembimbing II, terima kasih banyak atas segala bimbingan, saran dan kritiknya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas sarjana saya dengan baik.

(6)

6. Bapak Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng., selaku Dosen Pembanding II, terima kasih banyak atas segala masukan, saran kritikan serta bimbingan sehingga

saya dapat menyelesaikan tugas sarjana saya dengan baik.

7. Ibu Ir. Elisabeth Ginting, M. Si., selaku Dosen Pembanding III, terima kasih banyak atas segala masukan, saran kritikan serta bimbingan sehingga saya

dapat menyelesaikan tugas sarjana saya dengan baik.

8. Mangboru Zainal dan Kak Dali dan juga Bou yang telah membantu dan

memberikan saran kepada penulis selama menyelesaikan Tugas Akhir.

9. Bapak Sutrisno dan Bapak Syaifullah selaku Staff PT. Alfa Scorpii Medan yang telah membantu penulis dengan memberikan informasi dan masukan

serta bantuan dalam menyelesaikan Tugas Akhir.

10. Reza, terima kasih atas dukungan dan perhatian spesial yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan Tugas Sarjana.

11. Sahabatku tercinta : Dwiq, Guru, Adel dan Gedon dan seluruh teman seangkatan 2005 eX D-4 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, semoga kebersamaan kita tetap terjalin dan siap menuju masa depan yang lebih baik.

12. Terima kasih banyak atas bantuan dan dukungan dari Dama, Maria, Yudha Tampan, ST. dan Kak Titin.

13. Staff pengajar Departemen Teknik Industri, Staff Tata Usaha dan Staff

perpustakaan Departemen Teknik Industri khususnya Kak Rahma. 14. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

(7)

ABSTRAK

PT. Alfa Scorpii Medan merupakan perusahaan dealer sepeda motor Yamaha dan juga menyediakan jasa servis sepeda motor Yamaha. Sebagai perusahaan berkembang, perusahaan harus selalu meningkatkan kinerja pelayanan yang dimiliki dengan memperhatikan kepuasan pelanggannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi kepuasan pelanggan yang mempengaruhi peningkatan kualitas pelayanan berdasarkan Indeks PGCV di PT. Alfa Scorpii Medan. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index), yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty.

Dari hasil penelitian ini diperoleh kriteria-kriteria yang mempunyai prioritas untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya, yaitu : keamanan dan keluasan tempat parkir, kenyamanan dan kebersihan ruang tunggu, kerapian penampilan karyawan/staf, kebersihan toilet, kerapian penataan ruang kerja perawatan/perbaikan kendaraan, kegunaan peralatan canggih dan suku cadang yang lengkap, kelancaran dan kemudahan prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit), kecapatan pelayanan yang dilakukan, ketepatan waktu penyelesaian servis kendaraan sesuai yang dijanjikan, kegiatan servis dilakukan oleh mekanik yang ahli dan berpengalaman, kesigapan pencatat data saat mendengarkan keluhan pelanggan, ketanggapan resepsionis dalam memahami keluhan pelanggan, ketepatan mekanik dalam menangani keluhan pelanggan, ketanggapan terhadap kebutuhan pelanggan, ketanggapan terhadap pertanyaan pelanggan, kesopanan karyawan, keadilan dalam pelayanan (tidak membeda-bedakan), keamanan pelanggan pada saat sepeda motor sedang diservis, kewajaran harga/biaya servis, kesediaan tanggung jawab bila terdapat ketidaksesuaian pada hasil servis, kemudahan berkomunikasi mengenai servis kendaraan, kemudahan lokasi servis yang strategis untuk dijangkau, kemudahan mendapatkan informasi, kesediaan minuman kepada customer yang sedang menunggu kendaraan selesai servis dan kemudahan customer yang ingin melihat langsung kendaraannya yang sedang diservis.

Berdasarkan hasil perhitungan pada indeks PGCV diketahui bahwa yang merupakan prioritas utama untuk dilakukan perbaikan yaitu pada dimensi empathy (kemudahan), yaitu kemudahan customer yang ingin melihat langsung kendaraannya yang sedang diservis. Oleh karena itu perlu dilakukan sedikit perluasan pada dinding kaca agar seluruh customer dapat melihat kendaraannya yang sedang diservis dengan nyaman. Dilihat dari nilai skor tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan variabel-variabelnya menunjukkan cukup memenuhi harapan pelanggannya. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan pada masing-masing variabel yang bernilai di atas 50% yaitu berkisar 67,19% hingga 86,50%. Urutan prioritas yang akan ditingkatkan kualitas pelayanannya inilah yang menjadi pedoman dalam pengembangan kepuasan dalam jasa servis sepeda motor agar sesuai dengan harapan pelanggan.

(8)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Perumusan Masalah ... I-2

1.3. Tujuan dan Manfaat ... I-2 1.4. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-3

1.5. Sistematika Penulisan Laporan ... I-4 II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN... II-1

2.1. Sejarah Singkat Perusahaan ... II-1

2.2. Ruang Lingkup Perusahaan ... II-3 2.3. Struktur Organisasi dan Manajemen... II-3

(9)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

III TINJAUAN PUSTAKA ... III-1 3.1. Kepuasan Pelanggan (Customer) ... III-1 3.2. Kualitas Pelayanan/Jasa ... III-5 3.3. Servqual dalam Hubungannya dengan Ke-5 Gap ... III-10

3.4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... III-10 3.5. Teknik Pengambilan Sampling ... III-14

3.6. Perancangan Sampel ... III-17 3.7. Penentuan Jumlah Sampel... III-18 3.8. Uji Validitas ... III-19

3.9. Uji Reliabilitas ... III-20 3.10.Methods Successive Internal (MSI) ... III-22

3.11.Index Potential Gain Customer Value (PGCV) ... III-24 IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1

4.2. Rancangan Penelitian ... IV-1 4.3. Objek Penelitian ... IV-2

4.4. Variabel Penelitian ... IV-2 4.5. Instrumen Penelitian ... IV-3 4.6. Pelaksanaan Penelitian ... IV-6

(10)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

4.8. Analisis Pemecahan Masalah ... IV-11

4.9. Kesimpulan dan Saran ... IV-11 V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Survei Pendahuluan ... V-1

5.1.1. Pengolahan Data Harapan Pelanggan ... V-1 5.1.1.1. Uji Validitas Data Harapan Pelanggan ... V-3

5.1.1.2. Uji Reliabilitas Data Harapan Pelanggan ... V-5 5.1.2. Pengolahan Data Kinerja (Pelayanan) ... V-8 5.1.2.1. Uji Validitas Data Kualitas Pelayanan (Kinerja) ... V-8

5.1.2.2. Uji Reliabilitas Data Kualitas Pelayanan (Kinerja) .... V-12 5.2. Data Penelitian ... V-14

5.3. Hasil Rekapitulasi Kuesioner Penelitian ... V-15 5.4. Pengolahan Data Penelitian... V-22 5.4.1. Perhitungan Skala Interval Data Harapan Pelanggan ... V-22

5.4.2. Perhitungan Skala Interval Data Kualitas Pelayanan ... V-26 5.5. Perhitungan Tingkat Kepuasan Responden ... V-31

5.6. Perhitungan Indeks Potential Gain Customer Value (PGCV) ... V-35 VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH ... VI-1 6.1. Harapan Pelanggan dan Kinerja Perusahaan... VI-1

(11)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

6.1.2. Kinerja Pelayanan ... VI-2 6.1.3. Perbandingan antara Harapan Pelanggan dan Kinerja

Pelayanan ... VI-4 6.2. Analisis Tingkat Kepuasan Pelanggan dan Indeks PGCV ... VI-5

6.2.1. Analisis Tingkat Kepuasan Pelanggan ... VI-5 6.2.2. Analisis Indeks Potential Gain Customer Value (PGCV) ... VI-6

6.3. Pemecahan Masalah ... VI-6 VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1

7.2. Saran ... VII-2 DAFTAR PUSTAKA... xii

(12)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

3.1. Dimensi Kualitas Jasa ... III-6 4.1. Variabel dan Sub Variabel Penelitian ... IV-2

5.1. Nilai Hasil Pengisian Kuesioner Harapan Pelanggan ... V-2 5.2. Uji Validitas Data Harapan Pelanggan ... V-4

5.3. Uji Reliabilitas Data Harapan Pelanggan ... V-6 5.4. Nilai Hasil Pengisian Kuesioner Kualitas Pelayanan (Kinerja) ... V-9 5.5. Uji Validitas Data Kualitas Pelayanan (Kinerja) ... V-11

5.6. Uji Reliabilitas Data Kualitas Pelayanan (Kinerja) ... V-13 5.7. Nilai Hasil Pengisian Kuesioner Harapan Pelanggan ... V-16

5.8. Nilai Hasil Pengisian Kuesioner Kualitas Pelayanan (Kinerja) ... V-19 5.9. Proses Transformasi Data Ordinal menjadi Data Interval untuk Data

Harapan Pelanggan ... V-23

5.10.Proses Transformasi Data Ordinal menjadi Data Interval untuk Data

Kualitas Pelayanan... V-27

5.11.Total Skor Penelitian Customer terhadap Kinerja Pelayanan ... V-32 5.12. Total Skor Penelitian Customer terhadap Harapan Pelanggan ... V-33 5.13.Tingkat Kepuasan Pelanggan Berdasarkan Variabel ... V-34

5.14.Nilai Indeks PGCV untuk setiap Variabel ... V-36 6.1. Nilai Harapan Pelanggan... VI-1

(13)

DAFTAR TABEL (LANJUTAN)

TABEL HALAMAN

(14)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Struktur Organisasi PT. Alfa Scorpii ... II-5 3.1. Model Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan ... III-4

4.1. Block Diagram Penelitian ... IV-7 4.2. Flow Chart Langkah-langkah Pengolahan Data ... IV-10

6.1. Diagram Harapan Pelanggan ... VI-1 6.2. Diagram Kinerja Pelayanan ... VI-2 6.3. Diagram Perbandingan antara Harapan Pelanggan dan Kinerja

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

1. Contoh Kuesioner

2. Tabel Nilai-nilai r Product Moment

3. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Validitas Nilai Harapan pada Survei Pendahuluan

4. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Reliabilitas Nilai Harapan pada Survei Pendahuluan

5. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Validitas Nilai Kinerja pada Survei Pendahuluan

6. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Reliabilitas Nilai Kinerja pada Survei

Pendahuluan

7. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Validitas Nilai Harapan pada Penelitian

8. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Reliabilitas Nilai Harapan pada Penelitian 9. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Validitas Nilai Kinerja pada Penelitian 10. Hasil Perhitungan SPSS untuk Uji Reliabilitas Nilai Kinerja pada Penelitian

(16)
(17)

ABSTRAK

PT. Alfa Scorpii Medan merupakan perusahaan dealer sepeda motor Yamaha dan juga menyediakan jasa servis sepeda motor Yamaha. Sebagai perusahaan berkembang, perusahaan harus selalu meningkatkan kinerja pelayanan yang dimiliki dengan memperhatikan kepuasan pelanggannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi kepuasan pelanggan yang mempengaruhi peningkatan kualitas pelayanan berdasarkan Indeks PGCV di PT. Alfa Scorpii Medan. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index), yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty.

Dari hasil penelitian ini diperoleh kriteria-kriteria yang mempunyai prioritas untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya, yaitu : keamanan dan keluasan tempat parkir, kenyamanan dan kebersihan ruang tunggu, kerapian penampilan karyawan/staf, kebersihan toilet, kerapian penataan ruang kerja perawatan/perbaikan kendaraan, kegunaan peralatan canggih dan suku cadang yang lengkap, kelancaran dan kemudahan prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit), kecapatan pelayanan yang dilakukan, ketepatan waktu penyelesaian servis kendaraan sesuai yang dijanjikan, kegiatan servis dilakukan oleh mekanik yang ahli dan berpengalaman, kesigapan pencatat data saat mendengarkan keluhan pelanggan, ketanggapan resepsionis dalam memahami keluhan pelanggan, ketepatan mekanik dalam menangani keluhan pelanggan, ketanggapan terhadap kebutuhan pelanggan, ketanggapan terhadap pertanyaan pelanggan, kesopanan karyawan, keadilan dalam pelayanan (tidak membeda-bedakan), keamanan pelanggan pada saat sepeda motor sedang diservis, kewajaran harga/biaya servis, kesediaan tanggung jawab bila terdapat ketidaksesuaian pada hasil servis, kemudahan berkomunikasi mengenai servis kendaraan, kemudahan lokasi servis yang strategis untuk dijangkau, kemudahan mendapatkan informasi, kesediaan minuman kepada customer yang sedang menunggu kendaraan selesai servis dan kemudahan customer yang ingin melihat langsung kendaraannya yang sedang diservis.

Berdasarkan hasil perhitungan pada indeks PGCV diketahui bahwa yang merupakan prioritas utama untuk dilakukan perbaikan yaitu pada dimensi empathy (kemudahan), yaitu kemudahan customer yang ingin melihat langsung kendaraannya yang sedang diservis. Oleh karena itu perlu dilakukan sedikit perluasan pada dinding kaca agar seluruh customer dapat melihat kendaraannya yang sedang diservis dengan nyaman. Dilihat dari nilai skor tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan variabel-variabelnya menunjukkan cukup memenuhi harapan pelanggannya. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan pada masing-masing variabel yang bernilai di atas 50% yaitu berkisar 67,19% hingga 86,50%. Urutan prioritas yang akan ditingkatkan kualitas pelayanannya inilah yang menjadi pedoman dalam pengembangan kepuasan dalam jasa servis sepeda motor agar sesuai dengan harapan pelanggan.

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam perusahaan jasa, berbagai jenis jasa dan partisipasi pelanggan

dalam proses jasa sangat diperlukan. Partisipasi pelanggan mengacu pada tingkat usaha dan keterlibatan pelanggan, baik mental maupun fisik, yang dibutuhkan

dalam rangka memproduksi dan menyampaikan suatu jasa. Apabila pelayanan yang diterima sesuai atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan ideal. Kepuasan pelanggan tercapai bila

kebutuhan, keinginan dan harapannya terpenuhi.

PT. Alfa Scorpii merupakan perusahaan dealer sepeda motor Yamaha juga

menyediakan jasa servis sepeda motor Yamaha. Sebagai perusahaan berkembang, perusahaan harus selalu meningkatkan kinerja pelayanan yang dimiliki dengan memperhatikan kepuasan pelanggannya. Penelitian ini akan membahas kinerja

pelayanan yang belum menjadi kepuasan pelanggan dan apa yang menjadi harapan dari pelanggan. Pada kenyataannya terdapat pelayanan yang kurang

sesuai dengan harapan pelanggan, seperti terdapat keluhan dari sekitar 60% customer yang menilai bahwa tempat parkir yang sudah ada belum mampu untuk

menampung seluruh customer dalam satu hari sehingga pelanggan menjadi

(19)

dahulu dan hingga 75% customer yang menyatakan harapan bahwa perlu dilakukannya perluasan tempat parkir.

Oleh karena itu dilakukan perbaikan-perbaikan pada kualitas dari pelayanan yang diberikan perusahaan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan

yaitu dengan memperhatikan hal-hal yang menjadi prioritas utama bagi pelanggan, selain itu perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan memenuhi semua harapan pelanggan, serta menjaga pelanggan agar tidak beralih

ke perusahaan lainnya. Dengan begitu perusahaan dapat mengetahui kinerja perusahaannya serta bagaimana harapan konsumen terhadap pelayanan

perusahaan sehingga perusahaan dapat menentukan strateginya dalam rangka mencapai kepuasan pelanggan.

1.2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang dibahas yaitu kualitas pelayanan yang masih kurang

memuaskan pelanggan dan mengetahui pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan.

1.3. Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan

(20)

Manfaat yang akan diperoleh yaitu : 1. Bagi Peneliti

Mampu menggunakan serta mengaplikasikan metode Indeks PGCV. 2. Bagi Perusahaan

Sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan perusahaan.

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi

Dalam menyelesaikan masalah tersebut perlu diadakan pembatasan masalah yang berguna untuk menghindari penyimpangan dari maksud yang

sebernarnya.

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Informasi tingkat kepuasan customer perusahaan yang menjadi objek

penelitian sekarang ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap pelanggan.

2. Dimensi kualitas pelayanan yang diukur yaitu : reliability, responsiveness, assurance, empathy dan tangibles.

3. Penelitian dilakukan kepada customer yang menjadi pelanggan servis sepeda

motor automatic selama 3 tahun terakhir di PT. ALFA SCORPII.

4. Dalam Penelitian ini tidak dilakukan analisis biaya terhadap proses perbaikan

kualitas pelayanan dan hasil penelitian ini tidak berlaku untuk umum. 5. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan metode indeks PGCV.

Dalam penelitian ini asumsi yang dapat digunakan adalah :

(21)

2. Data yang diperoleh telah dipertimbangkan kelayakannya dari perusahaan. 3. Responden mengisi kuesioner sesuai dengan petunjuk yang ada pada

kuesioner.

4. Pernyataan pada kuesioner dianggap valid setelah dilakukan pengujian

validitas dan dilakukan perbaikan pada pernyataan yang tidak valid.

5. Proses produksi (service) tidak mengalami perubahan dan berjalan dengan

normal.

1.5. Sistematika Penulisan Laporan

Untuk memudahkan penelitian, pembahasan dan penelitian tugas akhir ini, maka dalam pembuatannya akan dibagi menjadi beberapa bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut.

BAB I - PENDAHULUAN

Menguraikan mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah yang

terjadi, tujuan dan manfaat dilakukannya penelitian, batasan masalah dan asumsi serta sistematika laporan.

BAB II – GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Memaparkan mengenai sejarah singkat perusahaan tempat dilakukannya penelitian, ruang lingkup perusahaan, struktur organisasi, tugas dan wewenang,

dan produk servis.

BAB III – TINJAUAN PUSTAKA

Menguraikan teori-teori yang relevan dengan pemecahan masalah atau pencapaian

(22)

BAB IV – METODOLOGI PENELITIAN

Memaparkan tentang pelaksanaan penelitian yang meliputi tempat dan waktu

dilakukan penelitian, rancangan penelitian, objek penelitian yang digunakan, variabel penelitian, instrumen penelitian, pelaksanaan penelitian, pengolahan data

serta analisis data.

BAB V – PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Memuat data-data hasil penelitian yang diperoleh dari perusahaan sebagai bahan

untuk melakukan pengolahan data yang digunakan sebagai dasar pada pemecahan masalah.

BAB VI – ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

Memuat pembahasan hasil dari pengolahan data dan pemecahan masalah serta usulan perbaikan.

BAB VII – KESIMPULAN DAN SARAN

Memuat hasil identifikasi permasalahan dan saran-saran perbaikan yang

(23)
(24)

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II

2.1. Sejarah Singkat Perusahaan

PT Alfa Scorpii atau disebut Alfa Scorpii dalam standard guideline ini

telah berkecimpung di dunia bisnis otomotif selama lebih dari 20 tahun sebagai main dealer sepeda motor brand YAMAHA. Jangkauan servisnya berpusat di

daerah Sumatera bagian utara (untuk saat ini telah memasuki 4 propinsi, yakni: Sumatera Utara, NAD, Riau Daratan dan Riau Kepulauan). Kesuksesan tentunya tidak datang begitu saja. Dengan pasukan inti tidak lebih dari 10 orang pada tahun

pertama, Alfa Scorpii kemudian pun mengolah intuisi dan visi dengan perjuangan dan aksi.

Tepatnya pada tanggal 25 Agustus 1987, Alfa Scorpii mengukuhkan tekad untuk mengharumkan nama besar YAMAHA yang sempat absen 10 (sepuluh) tahun dari dunia otomatif Indonesia. 5 (lima) tahun bukan jangka waktu yang

pendek untuk mendirikan fondasi perusahaan ini. Bagaikan filosopi tumbuhan bambu, Alfa Scorpii membangun akar-akar kuat dengan membangun sistem

manajemen yang kokoh. Fleksibel namun kuat seperti batang-batang bambu yang elastis namun tidak mudah patah. Kepiawaiannya membangkitkan kembali brand YAMAHA yang sempat lumpuh di era 80-an menyumbang andil besar dalam

market share penjualan sepeda motor asal Jepang tersebut di skala nasional.

Akhirnya setelah perjuangan panjang, pada awal 2007, YAMAHA berhasil

(25)

Seiring dengan prestasi tersebut, Alfa Scorpii mengukuhkan kebesaran namanya dengan merancang identitas perusahaan baru yang dirangkumkan dalam

standard guideline ini. Fungsi elemen grafis yang menerapkan filosopi

perusahaan ini akan menjadi formula penggunaan segala corporate design dan

branding Alfa Scorpii di masa mendatang. Identitas perusahaan adalah

seperangkat atribut, aspek, ide, metode, teknik dan nilai sebuah perusahaan berdasarkan karakter (personaliti), kultur dan visi dari perusahaan tersebut.

Perangkat ini sangat penting dalam dunia bisnis karena identitas perusahaan dimanifestasikan dalam sistem branding dan trademark yang akan

membedakan perusahaan tersebut dari kompetitornya. Identitas yang kuat akan menegaskan brand sehingga lebih dikenal oleh target marketnya. Biasanya identitas perusahaan ini diterapkan dalam format komunikasi seperti: logo,

letterhead, business card, folder, envelope, kartu-kartu, presentation template,

typography, warna, seragam dan lain-lain.

Bisa dikatakan identitas perusahaan tidak hanya merupakan identitas, tapi melambangkan jiwa dari perusahaan tersebut. Adalah sebuah cara yang strategis untuk menyampaikan pesan perusahaan melalui visual image dari seperangkat

identitas perusahaan. Untuk itu diperlukan kombinasi formula, kriteria, struktur, dan aturan yang tepat dalam sebuah sistem yang disebut identitas perusahaan

standard guideline. Adapun karakter atau personaliti Alfa Scorpii yaitu Fast,

Smart, Modern, Professional, Friendly, Daring dan Flexible.

Corporate Signature Alfa Scorpii terdiri dari dua elemen yaitu

(26)

Secara general, kedua elemen di atas digunakan sebagai satu unit. Kecuali dalam beberapa agenda dan ketentuan khusus di mana logo dan logotype tidak

digunakan bersamaan atau digunakan bersamaan namun dengan komposisi berbeda.

2.2. Ruang Lingkup Perusahaan

Kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan PT. Alfa Scorpii yaitu :

1. Penjualan produk kendaraan sepeda motor Yamaha dengan beberapa tipe motor seperti Yamaha V-ixion, Jupiter Z, New Vega R, Mio Sporty, New RX-King, Jupiter MX, Scorpio Z dan sebagainya.

2. Penjualan jasa servis sepeda motor. Penjualan jasa servis merupakan salah satu aktivitas pada perusahaan untuk memberikan pelayanan jasa kepada

pelanggannya.

3. Penjualan suku cadang atau sparepart merk Yamaha. Selain penjualan sepeda motor dan pelayanan servis, juga tersedia penjualan suku cadang

(sparepart) resmi dari Yamaha, sehingga keaslian dari suku cadang yang ada dijamin oleh Yamaha.

2.3. Struktur Oraganisasi dan Manajemen 2.3.1. Struktur Organisasi

Pihak-pihak yang mengelola perusahaan diatur sedemikian rupa dalam suatu struktur organisasi. Struktur organisasi merupakan suatu kerangka dasar

(27)

yang berada di dalam organisasi tersebut. Melalui struktur organisasi maka tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap pejabat dapat diketahui dengan jelas

dan tegas, sehingga diharapkan setiap satuan organisasi dapat bekerja sama secara harmonis. Dengan adanya struktur organisasi yang baik, akan menentukan

sukses tidaknya perusahaan dalam pencapaian tujuan perusahaan, sehingga usaha-usaha yang dilakukan dapat berjalan secara efisien dan efektif.

PT. Alfa Scorpii Medan ini dipimpin oleh seorang kepala cabang

(Branch Manager). Kepala cabang tersebut bertanggung jawab kepada pimpinan di kantor pusat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar

(28)

Kepala Penjualan

Kasir

Kepala Administrasi

Salesman

Counter Sales

Sales Supervisor

Service Advisor

Foreman

Instruktur

Kepala Bengkel

CRC

Kepala Cabang

Sales Supervisor

Supervisor Administrasi

Koordinator Administrasi

Adm. Unit, STNK &

BPKB

Adm. Unit

Adm. Bahan

Adm. Part

Adm. Kasir Bengkel

Mekanik

Kepala SparePart

Sales

Part

Partman

Anggota

Security

Operator

Kepala Security

(29)

Berdasarkan struktur tersebut, maka struktur organisasi yang dibentuk adalah struktur lini fungsional. Struktur organisasi bentuk lini dapat dilihat

dengan adanya pelimpahan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang bergerak vertikal ke bawah dari pimpinan tertinggi (atasan) kepada unit-unit organisasi

yang berada di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu secara langsung.

Sedangkan struktur fungsional dapat dilihat dengan adanya pembagian tugas yang dilakukan menurut fungsi-fungsinya sehingga terlihat dengan jelas

tanggung jawab tiap bagian yang akan memudahkan tiap bagian untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.

2.3.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Organisasi yang baik adalah organisasi yang jelas dan teratur sehingga

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setiap pemangku jabatan memiliki gambaran serta batasan tugas dan tanggung jawab. Berikut ini merupakan

pembagian tugas dan tanggung jawab beberapa departemen yang diuraikan sebagai berikut :

1. Kepala Cabang (Branch Manager)

Kepala cabang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melakukan kegiatan pengelolaan cabang dalam bidang penjualan, bengkel dan

administrasi serta mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam usaha pencapaian target, meningkatkan produktivitas/performance cabang serta kepuasan pelanggan dan membuat perencanaan strategis,

(30)

2. Departemen Penjualan

Departemen penjualan dipimpin oleh seorang Kepala Penjualan yang dalam

melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala Cabang. Tugas Kepala Penjualan adalah :

a. Meningkatkan jumlah unit kendaraan yang dijual.

b. Membina hubungan baik dengan perusahaan pengangkutan (ekspedisi). c. Menganalisis pasar.

d. Membuat ramalan penjualan.

e. Merencanakan kegiatan promosi produk perusahaan melaui media

cetak.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Penjualan dibantu oleh Supervisor Penjualan dan para Wiraniaga (Salesman dan Counter Sales).

Tugas dari Supervisor penjualan adalah : a. Menganalisis pasar.

b. Memberikan arahan dan motivasi para wiraniaga.

Tugas dari Wiraniaga (Salesman dan Counter Sales) adalah : a. Membina hubungan baik dengan pelanggan.

b. Menjual kendaraan kepada pelanggan di luar lingkungan kantor PT. Alfa Scorpii Medan sesuai dengan terget yang telah ditetapkan oleh

Kepala Cabang. 3. Departemen administrasi

Departemen administrasi dipimpin oleh seorang Kepala Administrasi yang

(31)

Tugas dari Kepala Administrasi adalah :

a. Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kegiatan administrasi.

b. Mengatur administrasi stok barang dan gudang.

c. Mengatur masalah keuangan dan pembayaran gaji para karyawan.

d. Merencanakan dana promosi. e. Mengadakan peralatan kantor.

f. Mengadakan pemeliharaan gedung dan aktiva lainnya.

g. Menilai prestasi kerja karyawan.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Administrasi dibantu oleh

Supervisor Administrasi, Administrasi Unit/penjualan.

4. Departemen Bengkel

Bengkel PT. Alfa Scorpii Medan didirikan untuk mendukung penjualan

kendaraan merek Yamaha, dengan memberikan pelayanan perbaikan kendaraan pelanggan dan juga menyediakan suku cadang yang diperlukan

oleh pelanggan. Departemen bengkel dipimpin oleh seorang Kepala Bengkel, yang dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala cabang.

Tugas dan tanggung jawab dari Kepala Bengkel adalah : a. Mengatur kebijaksanaan perusahaan di bidang service.

b. Meningkatkan mutu servis.

(32)

Dalam menjalankan tugasnya, kepala bengkel dibantu oleh Supervisor Bengkel, Instruktur, Foreman (Mandor), Mekanik, Service Advisor

(Laporan).

Tugas dari Instruktur adalah mengembangkan technical skill dari mekanik,

foreman dan service advisor melalui pelaksanaan training di bengkel sesuai

dengan perencanaan dan kebutuhan yang ada untuk meningkatkan mutu pelayanan bengkel.

Tugas dari Foreman adalah mengkoordinir dan mengoptimalkan jalannya kerja mekanik dalam menangani Perintah Kerja Bengkel (PKB)/Work

Order (WO) dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Mekanik bertugas melakukan service kendaraan meliputi perawatan dan perbaikan sesuai Perintah Kerja Bengkel (PKB)/Work Order (WO).

Service advisor bertanggung jawab melayani kebutuhan pelanggan yang

datang dan keluar bengkel dengan mendengarkan, menganalisa, dan

menjelaskan tentang kerusakan kendaraan.

5. CRC (Customer Relationship Center) yaitu pusat hubungan pelanggan.

2.4. Proses Service (Production)

Bahan yang digunakan oleh PT. Alfa Scorpii Medan berupa oli, bensin, minyak rem, air baterai dan busi. Seluruh bahan tersebut merupakan bahan habis,

karena langsung dipergunakan kepada sepede motor yang akan diservis.

(33)

2. Servis Ringan, dengan lama waktu pengerjaan yaitu ± 30 – 45 menit.

3. Servis Ulang/Ganti Oli, dengan lama waktu pengerjaan yaitu ± 10 – 20

menit.

4. Servis Besar/Berat, dengan lama waktu pengerjaan yaitu ± 3 – 5 jam.

PT. Alfa Scorpii Medan yang memiliki pelayanan jasa berupa pelayanan service kendaraan merk Yamaha. Adapun uraian proses yang dilakukan yaitu :

1. Pemberian nomor antrian

Setelah sepeda motor diparkirkan, kemudian petugas memberikan nomor antrian.

2. Pencatatan keluhan servis

oleh pencatat data

Pelanggan yang telah diberi nomor antrian oleh service advisor (SA),

kemudian akan dilayani oleh SA dengan mencatat kondisi sepeda motor dan ditanyakan mengenai keluhan lainnya.

3. Test drive

Sebelum dilakukan servis, sepeda motor akan dites oleh mekanik terlebih dahulu untuk melihat dan lebih merasakan sendiri apa yang menjadi keluhan.

4. Proses service

Selanjutnya sepeda motor akan memasuki lokasi bengkel untuk diservis berdasarkan petunjuk service resmi yang ditetapkan oleh Yamaha. Disaat pelanggan yang menunggu kendaraan selesai diservis dipersilahkan menunggu

(34)

5. Test drive

Setelah selesai servis, sepeda motor akan dites kembali oleh mekanik untuk melihat hasil dari service yang dilakukan serta memastikan bahwa keluhan pelanggan telah diatasi.

6. Penyerahan kendaraan

Setelah sepeda motor dinyatakan selesai dan bersih, lalu sepeda motor akan

diparkirkan ke area selesai servis.

7. Pembayaran

Setelah selesai servis, pelanggan dapat membayar biaya servis dan mengambil

(35)
(36)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Kepuasan Pelanggan (Customer)

Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan

kebutuhan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan

tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien.

Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik. Tingkat kepuasan

pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistem penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan

dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.

Pada kondisi persaingan sempurna, dimana pelanggan mampu untuk

memilih di antara beberapa alternatif pelayanan dan memiliki informasi yang memadai, kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan dan fungsi operasionalisasi pemasok1

1

Tri Atmojo, Yunianto. 2006. Mengukur Kepuasan Pelanggan. Articles of Interest.

(37)

Menurut Vincent Gasperz2

1. Pelanggan internal, yaitu orang yang berada dalam perusahaan dan memiliki pengaruh pada performansi pekerjaan.

, konsumen jasa adalah semua orang yang menuntut kita untuk memenuhi standar kualitas tertentu, oleh karena itu akan

memberikan pengaruh pada performansi kita. Pelanggan jasa dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :

2. Pelanggan antara, yaitu mereka yang bertindak atau berperan sebagai

perantara, bukan sebagai pemakai akhir.

3. Pelanggan eksternal, yaitu pembeli atau pemakai akhir produk yang sering

disebut dengan pelanggan jasa.

Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Produk dan

layanan yang berkualitas berperan penting dalam membentuk kepuasan pelanggan, dan juga erat kaitannya dalam menciptakan keuntungan bagi jasa

servis sepeda motor.

Untuk mengukur kepuasan pelanggan3 a. Sistem Keluhan dan Saran

dapat dilakukan dengan cara :

Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat

berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informasi

2 Gasperz, Vincent. 1997. Manajemen Kualitas dalam Industri Jasa. Gramedia Pustaka Umum.

Jakarta.

3

(38)

ini memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan masalah.

b. Survei Kepuasan Pelanggan

Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan

pelanggan. Industri yang responsif mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelepon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan

mereka terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu juga ditanyakan tentang kinerja industri saingannya.

c. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan)

Pelanggan bayangan adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan titik-titik kuat maupun titik-titik lemah yang

dialami waktu membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu pelanggan bayangan melaporkan, apakah wiraniaga

yang menangani produk dari industri. d. Analisis Pelanggan yang Beralih

Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau

berganti pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya)

sehingga dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan.

Semakin berkualitas produk dan layanan yang diberikan servis sepeda motor kepada pelanggannya maka kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan akan

(39)

pembelian ulang serta terciptanya loyalitas pelanggan dan membentuk rekomendasi dari mulut ke mulut yang akan menguntungkan perusahaan.

Model kepuasan dan loyalitas pelanggan4

Harapan

Kinerja yang Dirasakan

Kepuasan Pelanggan

Rintangan Pengalihan

Keluhan Pelanggan

Loyalitas Pelanggan

[image:39.595.127.493.198.388.2]

, dapat dilihat pada gambar :

Gambar 3.1. Model Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan

Ada beberapa unsur dalam nilai yang menjadi pedoman atau tolok ukur konsumen, antara lain :

1. Nilai produk (Product value) memberi pengertian bahwa produk bisa diterima masyarakat atau tidak.

2. Nilai pelayanan (Service value) memberi pengertian bahwa produk mampu memberi kepuasan dan jaminan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. 3. Nilai individual suatu produk (Personal value) memberi pengertian bahwa

produk tersebut memiliki keandalan tersendiri sehingga dapat menjadi pembeda bagi pesaingnya.

4 Tjiptono, Fandy. 2005. Prinsip-prinsip Total Quality Service. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.

(40)

4. Nilai citra (Image value) memberi pengertian bahwa produk tersebut mampu diingat, memiliki citra tersendiri dan tidak terlupakan.

Tingkat kepuasan pelanggan sangat bergantung pada mutu suatu produk. Jadi, suatu produk dinilai bermutu bagi seseorang kalau produk tersebut dapat

memenuhi kebutuhannya. Mutu produk terbagi menjadi dua yaitu mutu desain dan mutu kecocokan (quality of design and quality of comformance). Mutu desain mencerminkan apakah suatu produk/jasa memiliki suatu penampilan yang

dimaksud (possesses an intended feature).

Pengukuran aspek mutu bermanfaat bagi pimpinan bisnis, yaitu5

1. Mengetahui dengan baik bagaimana jalannya atau bekerjanya proses bisnis. :

2. Mengetahui di mana harus melakukan perubahan dalam upaya melakukan perbaikan secara terus-menerus untuk memuaskan pelanggan, terutama untuk

hal-hal yang dianggap penting oleh para pelanggan.

3. Menentukan apakah perubahan yang dilakukan mengarah ke perbaikan

(improvement).

3.2. Kualitas Pelayanan/Jasa

Kualitas jasa adalah suatu perbandingan antara harapan dan persepsi pelanggan atas pelayanan yang mereka terima. Apabila pelayanan yang diterima

sesuai atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah

5 Supranto, Prof. J. MA. 1997. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta: RINEKA

(41)

daripada yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk. Terdapat jenis-jenis dimensi kualitas jasa berdasarkan beberapa peneliti, yaitu :

Tabel 3.1. Dimensi Kualitas Jasa

Peneliti Dimensi Kualitas

Albrecht dan Zemke (1985)

Perhatian dan kepedulian, kapabilitas pemecahan masalah, spontanitas dan fleksibilitas, recovery

Brady dan Cronin (2001)

Kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, kualitas hasil

Caruana dan Pitt (1977)

Reliabilitas jasa dan manajemen ekspektasi

Dabholkar, et al. (2000)

Reliabilitas, perhatian pribadi, kenyamanan fitur

Edvardssson, Gustavsson dan

Riddle (1989)

Kualitas teknis, kualitas integratif, kualitas fungsional, kualitas hasil

Garvin (1987)

Reliabilitas, kinerja, fitur, konfirmasi, daya tahan, serviceability, estetika, perceived quality

Gronroos (1979, 1982)

Kualitas teknis, kualitas fungsional, citra

Gronroos (1990, 2000)

Profesionalisme dan keterampilan, sikap dan perilaku, aksesibilitas dan trustworthiness, recovery, reputasi dan kredibilitas, serviscape

Gummeson (1987)

Kualitas desain, kualitas produksi, kualitas penyampaian, kualitas relasional

Hedvall dan Paltschik (1989)

Kesediaan dan kemampuan untuk melayani, akses fisik dan psikologis

Johnson dan Silvestro (1990)

Faktor higienis, faktor peningkat kualitas dan thresfold factors

Leblanc dan Nguyen (1988)

Citra korporat, organisasi internal, dukungan fisik terhadap sistem penghasil jasa, interaksi antara staf dan pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan

Lehtinen dan Lehtinen (1982)

Kualitas fisik, kualitas interaktif, kualitas korporat

Lehtinen dan Lehtinen (1991)

Kualitas proses, kualitas hasil

Ovretveit (1999)

Kualitas pelanggan, kualitas professional, kualitas manajemen

Parasuraman, Zeithaml dan Berry

(1985)

(42)

Tabel 3.1. Dimensi Kualitas Jasa (lanjutan)

Peneliti Dimensi Kualitas

Parasuraman, Zeithaml dan Berry

(1990)6

Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy

Rust dan Oliver Kualitas fungsional, kualitas teknis, kualitas lingkungan Sumber : Hasil Analisis

Dari riset selanjutnya, Pasuraman, Zeithaml dan Berry menemukan adanya

overlapping di antara beberapa dimensi di atas. Oleh sebab itu, mereka

menyederhanakan 10 dimensi tersebut menjadi 5 dimensi pokok. Dengan demikian, terdapat 5 dimensi utama yang disusun sesuai urutan tingkat

kepentingan relatifnya sebagai berikut :7 a. Reliability

Suatu kemampuan untuk memberi jasa yang dijanjikan dengan akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua konsumen tanpa

kesalahan. b. Responsiveness

Suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang tepat kepada konsumen. Membiarkan pelanggan menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas

pelayanan.

6

Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan. Penerbit Pustaka Pelajar. Hal. 175.

7

(43)

c. Assurance

Pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan tugas

secara spontan yang dapat menjamin kinerja yang baik sehingga menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan.

d. Empathy

Memberikan perhatian yang bersifat individual kepada kepada pelanggan dan berupaya untuk memahami keinginan pelanggan.

e. Tangible

Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik harus dapat

diandalkan, keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelaytanan yang diberikan oleh pemberi jasa.

Kepuasan konsumen akan terpenuhi apabila proses penyampaian jasa dari

si pemberi jasa kepada konsumen sesuai dengan apa yang dipersepsikan konsumen. Terdapat 5 gap (kesenjangan) yang menyebabkan kegagalan

penyampaian jasa8

a. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen , yaitu:

Yaitu muncul karena ketidaktahuan manajemen tentang kualitas jasa macam

apa yang sebenarnya diharapkan oleh konsumen. Ketidaktahuan membawa dampak tidak layaknya desain dan standard jasa. Gap harapan konsumen

merupakan sumber dari munculnya gap-gap yang lain.

b. Gap antara persepsi manajemen tentang harapan konsumen dan spesifikasi kualitas jasa (manajemen tidak mengetahui harapan konsumen)

(44)

Yaitu muncul karena manajer menetapkan spesifikasi kualitas jasa berdasarkan apa yang mereka percayai sebagai apa yang diinginkan

konsumen. Akibatnya banyak organisasi jasa telah memfokuskan tekanan kualitas teknis, sementara yang diinginkan konsumen adalah kualitas yang

berkaitan dengan penyajian jasa.

c. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (gagal dalam memilih desain dan standard jasa yang benar)

Yaitu muncul pada jasa yang sistem penyampaiannya sangat bergantung pada karyawan. Pengetahuan yang akurat tentang harapan konsumen merupakan

hal yang penting tetapi belumlah cukup untuk menjamin kualitas penyajian jasa yang terbaik.

d. Gap antara penyampaian jasa aktual dengan komunikasi eksternal kepada

konsumen (tidak menyampaikan jasa dengan standard yang berorientasi kepada konsumen)

Yaitu terdapat janji-janji yang disampaikan oleh perusahaan melalui media komunikasi, akan meningkatkan harapan konsumen. Hal ini dijadikan sebagai suatu standard kualitas jasa yang harus diterima. Kegagalan dalam

menyediakan jasa yang dijanjikan akan memperlebar gap ini. e. Gap antara jasa yang diharapkan dengan apa yang dirasakan

(45)

3.3. Servqual dalam Hubungannya dengan Ke-5 Gap

Di antara berbagai model pengukuran kualitas pelayanan, servqual

merupakan metode yang paling banyak digunakan. Servqual dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar apa yang ada pada suatu perusahaan dan faktor

apa saja yang menyebabkan terjadinya gap tersebut sehingga dapat dicarikan jalan keluarnya.

Servqual ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada konsumen

perusahaan yang bersangkutan, kemudian hasil dari kuesioner ini diolah untuk menetukan kualitas layanan yang harus diperbaiki. Nilai servqual dapat dihitung

sebagai berikut :

Nilai servqual = Nilai persepsi – Nilai Harapan9

1. Pengumpulan data dengan observasi langsung. 3.4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :

2. Pengumpulan data dengan wawancara. 3. Pengumpulan data dengan kuesioner.

Pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang merupakan hal yang pokok untuk pengumpulan data. Kuesioner merupakan instrumen teknik

komunikasi tidak langsung. Kuesioner digunakan juga mengingat adanya perbedaan penilaian seseorang terhadap suatu bahasa penilaian.

9 Gregorius, Chandra, Fandy Tjiptono. 2005. Service, Quality and Satisfaction. Penerbit Andi,

(46)

Tujuan pokok pembuatan kuesiner yaitu10

1. Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan survei. :

2. Untuk memperoleh informasi dengan reabilitas dan validitas yang setinggi mungkin.

Pembentukan daftar pertanyaan kepuasan pelanggan ditempuh dalam 4 (empat) tahap yaitu:

1. Menentukan pertanyaan (butir) yang akan dipergunakan dalam daftar

pertanyaan.

2. Memilih bentuk jawaban (response format).

3. Menulis introduksi/pengenalan pada daftar pertanyaan.

4. Menentukan isi akhir (final) daftar pertanyaan (memilih beberapa butir yang pokok di antara sekian banyak butir kepuasan yang akan dijadikan ukuran

tingkat kepuasan).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam memilih butir-butir

yang baik11

1. Butir-butir harus relevan atau terkait dengan apa yang diukur, memperkirakan kebutuhan para pelanggan yang telah ditentukan dalam proses. Butir-butir

pertanyaan yang tidak terlihat mengukur sesuatu yang relevan pada jasa atau barang (product) akan membingungkan responden, khususnya kalau instruksi

.

10 Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1987. Metode Penelitian Survey. Penerbit : PT. Pustaka

LP3ES Indonesia. Hal. 175.

11

(47)

menunjukkan bahwa daftar pertanyaan dirancang untuk memprkirakan mutu barang dan jasa.

2. Butir-butir harus ringkas (consise), butir-butir yang terlalu panjang menyebabkan daftar pertanyaan menjadi panjang dan sukar dibaca. Hilangkan

kata-kata yang berlebihan.

3. Butir tidak boleh membingungkan (unambiguous), responden harus mengerti secara tepat apa yang ditanyakan oleh suatu butir tertentu. Setiap hal yang

membingungkan dalam butir akan mengarah kepada jawaban yang samar-samar, harus menghindari butir yang tidak jelas (vague and imprecise).

4. Butir yang bagus hanya memuat satu pemikiran (one thought), setiap butir pertanyaan hanya menanyakan satu pertanyaan. Apabila suatu butir pertanyaan menanyakan lebih dari satu pertanyaan, responden mungkin

bingung kalau dia akan menjawab bagian yang satu secara positif sedangkan bagian lainnya secara negatif.

5. Butir yang baik tidak memuat dua hal yang negatif (double negative).

Butir-butir kepuasan dengan ciri-ciri di atas akan memudahkan responden memberikan jawaban yang tepat dan menghasilkan daftar pertanyaan yang

mudah dibaca dan lengkap. Selain butir-butir pertanyaan harus diperhatikan, format jawaban dari butir-butir pertanyaan tersebut juga dapat mempengaruhi

mutu jawaban yang diperoleh.

(48)

Ada beberapa format jawaban yang dapat digunakan seperti check list dan format tipe likert.

1. Format Check List

Bentuk format jawaban dengan mengunakan format check list yaitu untuk

setiap format jawaban, pelanggan diberikan jawaban pilihan “ya” atau “tidak” untuk tiap butir pertanyaan.

2. Format Likert12

Skala Likert merupakan skala pengukuran sikap yang dikembangkan oleh Rensis Likert tahun 1932 untuk mengukur intensitas sikap, pendapat dan

persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu objek tertentu. Dalam skala Likert, untuk mengukur variabel terlebih dahulu dikembangkan indikator-indikator variabel. Indikator-indikator tersebut, kemudian dijadikan

dasar menyusun item-item instrumen dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.

Format tipe likert dirancang untuk memungkinkan pelanggan menjawab dalam berbagai tingkatan pada setiap butir yang menguraikan jasa/produk. Untuk memungkinkan para pelanggan menjawab dalam berbagai tingkatan

bagi setiap butir kepuasan, format tipe likert dikembangkan prosedur pelaksanaannya di mana skala mewakili suatu kontinuum bipolar. Contoh

format jawaban tipr likert adalah sebagai berikut Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral (N), Setuju (S), Sangat Setuju (SS).

12 Junaidi. 2008. Transformasi Data Ordinal ke Interval dengan Excel. FE-UNJA.

(49)

3.5. Teknik Pengambilan Sampling

Pemilihan teknik pengambilan sampel merupakan upaya untuk mendapat

sampel yang representatif (mewakili), yang dapat menggambarkan populasinya. Teknik pengambilan sampel dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu13

a. Sampling Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

:

1. Probability Sampling (Sampling random), yaitu pengambilan contoh secara acak (random) yang dilakukan dengan cara undian, ordinal atau tabel bilangan random atau dengan komputer.

Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung

deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau

ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama perbedaan gender, status

kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat

mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi

sampel. Prosedurnya :

1. Susun “sampling frame”

2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil

(50)

3. Tentukan alat pemilihan sampel

4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi

b. Teknik Sampling Bertingkat (Stratified Sampling)14

Populasi dibagi ke dalam sub populasi (strata), dengan tujuan membentuk

sub populasi yang didalamnya membentuk satuan-satuan sampling yang memiliki nilai variabel yang tidak terlalu bervariasi (relatif homogen). Selanjutnya dari setiap stratum dipilih sampel melalui proses simple

random sampling. Misalnya dalam penelitian yang sama seperti di atas,

semua sekolah baik SD maupun SMP di Jawa Barat diklasifikasikan atau

distratifikasi terlebih dahulu ke dalam sekolah yang berbiaya mahal, sedang, dan murah. Kemudian dari masing-masing strata dipilih sekolah dengan teknik simple random sampling.

c. Teknik Sampling Kluster (Cluster Sampling)

Teknik Sampling ini disebut juga sebagai teknik Sampling daerah,

conditional Sampling (restricted Sampling). Teknik ini digunakan apabila

populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan dan seterusnya.

d. Teknik Sampling Sistematis (Systematical Sampling)

Teknik ini sebenarnya adalah teknik random Sampling sederhana yang

dilakukan secara ordinal. Artinya anggota sampel dipilih berdasarkan urutan tertentu.

(51)

e. Teknik Sampling Proporsional (Propotional Sampling)

Teknik Sampling proporsional yaitu sampel yang dihitung berdasarkan

perbandingan. Misalnya populasi untuk A = 20, B = 50, C = 30. Jadi, jumlah anggota i = 100. Sedangkan besar anggota sampel = 80.

2. Non Probability Sampling (Sampling non random) atau disebut juga sebagai incidental Sampling, yaitu pengambilan contoh tidak secara acak.

a. Convenience Sampling (Insidental/kebetulan)

Teknik pengambilan sampel berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dijadikan sampel. Misalnya untuk meneliti produk sabun yang diminati konsumen

pada supermarket X, maka diambil sampel pelanggan yang datang dan ditemui peneliti di hari tersebut.

b. Quota Sampling

Untuk teknik sampling ini biasanya digunakan data dari populasi yang berkaitan dengan demografi (kependudukan) seperti : lokasi

geografis, usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, dan lain-lain. Perbedaan antara judgement sampling dan quota sampling terletak pada adanya suatu batasan pada quota sampling bahwa sampel yang diambil

harus sejumlah tertentu yang dijatah (quotum) dari setiap subgroup yang telah ditentukan dari suatu populasi.

c. Snowball Sampling

(52)

berantai, mulai dari ukuran sampel yang kecil, makin lama menjadi semakin besar seperti halnya bola salju yang menggelinding menuruni

lereng gunung/bukit. Dalam pelaksanaannya, pertama-tama dilakukan interview terhadap suatu kelompok/seseorang responden yang relevan, dan

untuk selanjutnya yang bersangkutan diminta untuk menunjukkan calon

responden yang berikutnya yang memiliki spesifikasi/spesialisasi yang sama.

3.6. Perancangan Sampel Populasi15

Sampel merupakan bagian dari populasi. Elemen anggota sampel,

merupakan anggota populasi dimana sampel diambil. Jika N banyaknya elemen populasi dan n banyaknya elemen sampel, maka n < N.

adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan

obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Tujuan ditetapkannya populasi untuk dapat menentukan besarnya anggota sampel

yang diambil dari anggota populasi dan membatasi berlakunya daerah generalisasi. Ditinjau dari banyaknya anggota populasi, maka populasi terdiri atas

populasi terbatas (terhingga) dan populasi tak terbatas (tak terhingga). Namun dalam kenyataannya populasi terhingga selalu menjadi populasi yang tak terhingga. Ditinjau dari sudut sifatnya, maka populasi dapat bersifat homogen atau

heterogen.

15

(53)

Pengambilan anggota sampel yang merupakan sebagian dari anggota populasi tadi harus dilakukan dengan teknik tertentu yang disebut teknik

Sampling. Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan

yang penting ketika jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang

menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan adalah banyaknya informasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika banyak

diperoleh informasi, maka sampelnya lebih bermanfaat.

3.7. Penentuan Jumlah Sampel

Penetuan besar anggota sampel dengan menggunakan proporsi dapat ditentukan dengan beberapa rumus. Adapun rumus-rumus penentuan jumlah

sampel dengan menggunakan teknik proporsi dapat dilihat sebagai berikut. 1. Rumus Krejcie dan Morgan

s = ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( 2 2 2 2     − −

− −p p

N d p Np χ χ

Di mana : s = banyaknya anggota sampel N = Banyak anggota populasi

p = proporsi dalam populasi d = derajat ketelitian = 1,96

χ2

(54)

Jika rumus tersebut digunakan untuk populasi tertentu yang sudah

diketahui jumlah anggotanya dengan α = 0,05, besarnya sampel dapat

dilihat pada tabel Krejcie dan Morgan. 2. Rumus Taro Yamane atau Slovin

n =

1

2+

Nd N

Keterangan : n = jumlah sampel

N = Jumlah populasi

d = presisi/Persentase kelonggaran

ketidaktelitian kesalahan pengambilan

sampel yang masih dapat ditolerir

3.8. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar mengukur apa yang harus diukur.

Menurut Riduwan validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kelebihan suatu alat ukur16

16

. Alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Untuk menguji validitas alat ukur, terlebih dahulu

dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkorelasikan setiap butir alat ukur sengan skor total yang

merupakan jumlah tiap skor butir.

(55)

Menggunakan korelasi Spearman-Brown untuk mengukur sampel yang relatif besar. Untuk menghitung validitas alat ukur digunakan rumus Pearson

Product Moment sebagai berikut.

rhitung =

(

) (

)

( )

(

)

[

]

[

( )

]

− 2 2 2 2 .

. i i i i

i i i i Y Y n X X n Y X Y X n

Keterangan : rhitung = Koefisien korelasi

∑Xi = Jumlah skor item

∑Yi = Jumlah skor total (seluruh item)

n = Jumlah responden

Jika r-hitung lebih besar dari r-tabel pada taraf kepercayaan tertentu, berarti instrumen tersebut memenuhi kriteria validitas. Jika instrumen itu valid, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks korelasinya (r), sebagai berikut.

− Antara 0,800 – 1,000; sangat tinggi

− Antara 0,600 – 0,799; tinggi

− Antara 0,400 – 0,599; cukup tinggi

− Antara 0,200 – 0,399; rendah

− Antara 0,000 – 0,199; sangat rendah

3.9. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan (keterandalan) alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan. Hasil

(56)

aspek yang diukur tidak berubah. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach.

Reliabilitas instrumen adalah hasil pengukuran yang dapat dipercaya. Reliabilitas instrumen diperlukan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan

pengukuran. Untuk mencapai hal tersebut, dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan metode alpha cronbach diukur berdasarkan skala alpha cronbach dari 0 sampai 1. Dengan rumus varians variabel untuk menentukan nilai varians

tiap variabel, yaitu :

        −       −

2

2 1 1 t b k k σ σ α

( )

1 2 2 2 − − ≡

K K X X b σ

( )

1 2 2 2 − − ≡

K K Y Y t σ

Dimana : α = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pernyataan

K = Jumlah kuesioner yang dapat diolah

2

b

σ = Varians variabel

2

t

σ = Varians total

Jika skala itu itu dikelompok ke dalam lima kelas dengan rank yang sama, maka ukuran kemantapan alpha dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

(57)

2. Nilai alpha Cronbach 0,21 s.d. 0,40, berarti agak reliabel. 3. Nilai alpha Cronbach 0,42 s.d. 0,60, berarti cukup reliabel.

4. Nilai alpha Cronbach 0,61 s.d. 0,80, berarti reliabel, 5. Nilai alpha Cronbach 0,81 s.d. 1,00, berarti sangat reliabel.

Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan metode alpha Cronbach untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak.

3.10. Methods Successive Interval (MSI)

Menurut tingkatannya, data secara berurut dari skala terendah ke tertinggi

adalah data nominal, ordinal, interval dan ratio. Dalam penggunaan alat analisis, umumnya ditentukan skala minimal dari data yang dibutuhkan. Namun seringkali data yang kita miliki tidak memenuhi persyaratan tersebut. Misalnya, kita punya

data dengan skala ordinal17

17 Suharyadi, Purwanto S. K. 2007. Statistik untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Buku 1. Edisi

2. Jakarta : Salemba Empat. Hal 17.

yang hanya memberikan nilai urutan atau ranking dan tidak menggambarkan nilai absolut, sementara persyaratan alat analisis

membutuhkan data dengan skala minimal adalah data interval. Dalam kondisi tersebut, kita perlu mentransformasikan data dari skala ordinal ke interval. Analisis statistik parametrik (statistik yang bergantung pada distribusi tertentu dan

yang menetapkan adanya syarat-syarat tertentu tentang parameter populasi seperti pengujian hipotesis dan penaksiran parameter), memerlukan terpenuhinya

(58)

dalam kasus-kasus penelitian sosial), sehingga agar analisis tersebut dapat dilanjutkan maka skala pengukuran ordinal harus dinaikkan (ditransformasikan)

ke dalam skala interval dengan menggunakan Methods Successive Interval (MSI). Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pengolahan data dengan

menggunakan metode successive interval adalah sebagai berikut :

1. Melakukan rekapitulasi pada setiap butir jawaban yang diperoleh dari responden.

2. Menghitung frekuensi jawaban yang bernilai 1, 2, 3, 4 dan 5.

3. Menghitung nilai Proporsi (P) dengan cara membagi frekuensi tiap jawaban

dengan frekuensi total seluruh jawaban.

4. Menentukan Proporsi Kumulatif (PK) dengan cara menjumlahkan nilai Proporsi (P) secara berurutan.

5. Menghitung nilai Z dari setiap nilai PK yang didapat dengan cara melihat dari distribusi normal.

6. Menentukan nilai densitas (ordinat kurva normal) dari setiap nilai Z yang didapat dengan melihat dari tabel densitas.

7. Menentukan Nilai Skala (NS) dengan menggunakan rumus :

owerLimit AreaBelowL

pperLimit AreaBelowU

pperLimit DensityAtU

owerLimit DensityAtL

NS

− − =

(59)

3.11. Index Potential Gain Customer Value (PGCV)

Analisis pelanggan melalui angka indeks merupakan konsep dan peralatan

yang mudah untuk menganalisis pelanggan. Kemudahan tersebut memberikan jalan bagi diagram Importance-Performance untuk dapat dibandingkan dalam

bentuk kualitatif yang lebih terperinci.

Sejauh ini model SERVQUAL sudah diterapkan di beraneka ragam konteks, baik untuk sektor komersial, industrial maupun nirlaba. SERVQUAL

merupakan salah satu metode untuk mengukur tingkat kepuasan pelayanan serta mengevaluasi dan menilai tingkat kualitas pelayanan yang dirasakan oleh

pelanggan18

a. Bagian Harapan, yang berisi pernyataan untuk mengetahui harapan umum dari

pengguna jasa yang berhubungan dengan pelayanan (jasa). .

Servqual terdiri dari 2 bagian, yaitu :

b. Bagian Persepsi, yang berisi pernyataan yang sesuai dengan bagian harapan,

untuk mengukur penilaian pengguna jasa terhadap perusahaan yang ingin diteliti dalam kategori pelayanan (jasa).

Indeks PGCV adalah suatu angka yang menjelaskan urutan prioritas dari

suatu dimensi pelayanan untuk diperbaiki yang melibatkan tingkat performansi (performance) dan kepentingan (importance). Alat pengukuran kepuasan

pelanggan secara kuantitatif sangat dibutuhkan dalam rangka survei kepuasan

18

(60)

pelanggan atau Customer Satisfaction Survey (CSS). Alat ini serbaguna dan mudah dalam pengaplikasiannya secara statistik.

Jadi pihak manajemen juga dapat membangun suatu survei yang dapat mengukur dua hal yang penting dari servqual, yaitu :

1. Persepsi konsumen dari tingkat kepentingan/harapan suatu pelayanan. 2. Persepsi konsumen dari tingkat performansi/kepuasan suatu pelayanan.

Indeks PGCV19

a. ACV (Achieved Customer Value)

diperoleh dengan mengurangkan nilai UDCV (Ultimate

Desired Customer Value) yang diperoleh dari perkalian nilai importance yang

dipilih oleh customer dengan nilai performance maksimal dalam skala likert pada

kuisioner yang disebarkan dengan nilai ACV (Achieved Customer Value) yang diperoleh dari perkalian antara variabel importance dengan variabel performace yang dipilih oleh konsumen. Nilai indeks PGCV terbesar akan mendapat

perioritas utama perbaikan kinerja dan seterusnya.

Indeks PGCV dari setiap variabel atau dimensi pelayanan tergantung pada

dua faktor yaitu :

Yaitu suatu nilai yang dapat diperoleh dengan mengalikan nilai tingkat

kepentingan dengan nilai tingkat performansi yang diperoleh dari suatu survei.

ACV = I x P

Keterangan : ACV = Nilai Pencapaian Konsumen

I = Importance (Y)

P = Performance (X )

(61)

b. UDCV (Ultimate Desired Customer Value)

Yaitu suatu nilai yang diperoleh dengan mengalikan nilai tingkat kepentingan

yang diperoleh dengan nilai tingkat performansi yang tertinggi yang paling mungkin dari skala penelitian yang dibuat.

UDCV = I x Ps Keterangan :

UDCV = Nilai Akhir Keinginan Konsumen

I = Nilai Rata-rata untuk Harapan

Ps = Nilai Kerja Maksimum dalam Skala Likert yang Dipilih

Maka nilai PGCV diperoleh dengan mengurangi nilai UDCV dengan ACV.

PGCV = ACV - UDCV

Kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar, maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki

(62)
(63)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapan-tahapan yang jelas dan disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Tiap

tahapan merupakan bagian yang menentukan tahapan selanjutnya sehingga harus dilalui dengan cermat. Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian

sebagai berikut :

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di PT. ALFA SCORPII yang terletak di Jl

Gambar

Gambar 3.1. Model Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan
Tabel 4.1. Variabel dan Sub Variabel Penelitian (lanjutan)
Gambar 4.1. Block Diagram Penelitian
Gambar 4.2. Flow Chart Langkah-langkah Pengolahan Data
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai acuan untuk menerapkan teori-teori yang didapat dibangku perkuliahan dan mengetahui pengaplikasian metode Service Quality (ServQual) serta Potential Gain in

Hasil menggunakan indeks Potential Gain in Customer Value (PGCV) menunjukkan bahwa atribut pelayanan harus diprioritaskan untuk meningkatkan tingkat kepuasan

Hasil menggunakan indeks Potential Gain in Customer Value (PGCV) menunjukkan bahwa atribut pelayanan yang harus diprioritaskan untuk meningkatkan tingkat

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan serta menentukan

Tugas Akhir ini disusun dengan maksud untuk memenuhi salah satu syarat sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik jurusan Teknik Industri Universitas

Dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa terdapat enam urutan prioritas perbaikan kualitas yang harus dilakukan oleh RSUD Tengku Rafi’an Kabupaten Siak

Dari hasil pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat, didapat SAMSAT Cilegon dalam kategori Baik, dan prioritas perbaikan yang utama adalah variabel nomor 9 yaitu Kesopanan dan

Urutan atribut mulai dari yang tertinggi dan menjadi priorotas perbaikan layanan kesehatan instalasi rawat inap RSD Mardi Waluyo Blitar dari hasil analisis PGCV