BANDA ACEH ART DEVELOPMENT CENTER
Pusat Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Seni Masyarakat
Banda Aceh, NAD
( SIMBOLISME DALAM ARSITEKTUR )
LAPORAN PERANCANGAN
TGA 490 - STUDIO TUGAS AKHIR
SEMESTER A TAHUN AJARAN 2008/2009
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Teknik Arsitektur
Oleh :
SYARIFAH ANDAYANI
05 0406 058
DEPARTEMEN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
U N I V E R S I T A S S U M A T E R A U T A R A
BANDA ACEH ART DEVELOPMENT CENTER
Pusat Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Seni Masyarakat
Banda Aceh, NAD
( SIMBOLISME DALAM ARSITEKTUR )
Oleh :
SYARIFAH ANDAYANI
05 0406 058
Medan, Juni 2009
Disetujui Oleh :
Ketua Departemen Arsitektur
Ir. Dwi Lindarto Hadinugroho, MT
NIP. 132 206 820 Ir. Samsul Bahri, MT.
Pembimbing I
Andalucia, ST. Msc.
SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK TUGAS AKHIR
(Art Development Center)
Nama : Syarifah Andayani
NIM : 05 0406 058
Judul Proyek Tugas Akhir : Banda Aceh Art Development Center
Pusat Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Seni
Masyarakat
Banda Aceh, NAD.
Tema : Simbolisme Dalam Arsitektur
Rekapitulasi Nilai :
Dengan ini mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan :
No. Status
Waktu
Pengumpulan
Laporan
Paraf
Pembimbing
I
Paraf
Pembimbing II
Koordinator
TKA-490
1. Lulus Langsung
2. Lulus Melengkapi
3. Perbaikan Tanpa
Sidang
4. Perbaikan Dengan
Sidang
5. Tidak Lulus
Medan, Juni 2009
A B+ B C+ C D E
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang hanya oleh
karena ridho -Nya, sehingga saya di beri kasehatan dan fitrah. Serta Salawat
dan Salam saya sanjung tinggikan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga
saya dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih dan sungguh
merasa berbahagia karena kasih sayang, cinta, masukan, doa dan perhatian
serta segala dukungan dari orang tua saya, Alm. Sayed Husein dan Cut
Erlita “Terima Kasih Nyanyak - Ayah”. Tidak lupa saya bersyukur dan terima
kasih karena dukungan dan perhatian dari Kakak- kakak, Sayed Yasier,Spi.
dan Syarifah Andayana. Dan nenek yang paling setia menasehati saya Cut
Laili ( Nyaksyik) terima kasih untuk semua doa dan dukungan yang sangat
berarti yang diberikan selama proses ini sehingga saya memperoleh rasa
percaya diri untuk menjalani setiap proses.
Rasa hormat dan terima kasih yang sama juga saya tujukan kepada:
1. Bapak Ir. Samsul Bahri, MT selaku Dosen Pembimbing I atas segala
bimbingan, motivasi, apresiasi dan waktu yang telah telah diberikan
kepada saya sehingga saya semakin bersemangat untuk
mengerjakan Tugas Akhir ini.
2. Ibu Andalucia, ST.M.Sc. Untuk setiap bimbingan, arahan, masukan,
kesabaran dan waktu yang sangat berarti untuk saya dalam
mengerjakan Tugas Akhir ini.
3. Ibu Ir.Morida Siagian, M.Urp dan Bapak Aan Nasution ST.MT
Selaku Dosen Penguji saya untuk setiap masukan dan saran yang
telah sangat membantu saya dalam proses pengerjaan Tugas Akhir
ini.
4. Bapak Ir. Dwi Lindarto H., MT., Ketua Departemen Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara dan Bapak Devin
Defriza ST, MT selaku Sekretaris Departemen Arsitektur, Fakultas
Teknik, Universitas Sumatera Utara yang telah dengan sabar memberi
5. Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur, Fakultas
Teknik, Universitas Sumatera Utara.
6. Ucapan terimakasih yang sangat hangat dan spesial untuk Rifki
Firdaus yang telah dengan sabar mendukung, memotivasi, memberi
pengertian dan perhatian kepada saya terutama dalam proses tugas
akhir ini.. Kehadiran dan perhatian yang diberikan telah menjadi
semangat, inspirasi dan kekuatan untuk saya selalu tersenyum dalam
setiap proses mengerjakan Tugas Akhir ini. Thanks for everything that
you’ve done and gived to me. You’ve lighten my spirit on everyday.
7. Terimakasih yang tidak bisa diungkapkan besarnya untuk
teman-teman terdekat saya yang rela meluangkan waktu, tenaga, pemikiran,
saran dan perhatian yang besar kepada saya dalam menyelesaikan
Tugas Akhir ini, Fitri (2005), Soria (2005), Nonong(2005) dan Ratih
(2005), dan teman- teman yang lain yang tidak bisa di sebut. I could
never finished this proccess without you all.
8. Untuk sahabat- sahabat terbaikku, Trisni, Dila, Hesti, Lia, Rina,
Oline, Ika, Puput, K Nadya, Mahny, K pina, K Tya.waktu- waktu kita
bersama yang menghibur saya selama proses Tugas Akhir ini,
sehingga saya mendapatkan penyegaran setiap saya mulai lemah.
9. Semua teman - teman stambuk 2005, Departemen Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, semua hal tentang
stambuk 2005 telah membuat saya selalu termotivasi, bangga dan
terhibur.
10. Semua teman – teman Studio Tugas Akhir Angkatan XXVI Semester
A TA 2008 / 2009, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik,
Universitas Sumatera Utara, terutama kepada Juwita (2005), Yenfeni
(2005), Faisal Azhari (2005), Harry Wibowo (2005), Juli Handoko
(2005), Bang Daniel ( 2004), Fredi Randi (2005), Andrew (2005), Irfan
( 2005), Nerwin (2005), b’ Syafiz (2004) dan teman – teman yang
lain.Terima kasih atas dukungan, pendapat, waktu, dan hiburan
kepada saya selama proses pengerjaan tugas akhir ini.
11. Terimakasih juga saya ucapkan kepada Deni (2006), Surya (2006)
yang akhirnya bersedia membantu saya membuat 3D dan kepada
memberi yang terbaik untuk dapat menyelesaikan maket. Terima
kasih atas kerjasamanya.
12. Dan kepada teman- teman tercinta yang tidak dapat saya sebutkan
satu persatu, saya ucapkan terimakasih.
Dan akhirnya saya berharap semoga Tugas Akhir ini memberikan
manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di lingkungan
Departemen Arsitektur USU.
Medan, Juni 2009
Hormat saya,
Syarifah Andayani
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud & Tujuan 3
1.3 Perumusan Masalah 4
1.4 Metoda Pendekatan 5
1.5 Lingkup dan Batasan Proyek 5
1.6 Kerangka Berpikir 6
1.7 Sistematika Penulisan Laporan 7
BAB 2 DESKRIPSI PROYEK 8
2.1 Terminologi Judul
2.1.1 Jenis dan Bentuk Kesenian 9
2.1.1.1 Kesenian Berdasarkan Bentuk 9
2.1.2 Tinjauan Terhadao Visual Arts 10
2.1.2.1 Sejarah Visual Arts 10
2.1.2.2 Ruang Lingkup Visual Arts 11
2.1.3 Tinjauan Terhadap Performing Arts
2.1.4 Tinjauan Terhadap Edukasi Seni 12
2.2 Tinjauan Umum Proyek 13
2.2.1 Tinjauan Terhadap Kesenian 13
2.3 Tinjauan Khusus Proyek 14
2.3.1 Lokasi 15
2.3.2 Tinjauan Peraturan Pemerintah 16
2.4 Analisis Pemilihan Proyek 21
2.4.1 Pemilihan Lokasi Proyek 21
2.4.2 Kriteria Pemilihan Lokasi 22
2.4.4 Perjanjian Internasional terkaitUsaha Pemberdayaan Perempuan 23
2.4.5 Analisa Pemilihan Lokasi 28
2.4.6 Deskripsi Lokasi Sebagai Tapak Rancangan 33
2.5 Tinjauan Fungsi Art Development Center 34
2.5.1 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan 36
2.5.2 Deskripsi Kebutuhan Ruang 37
2.5.3 Deskripsi Persyaratan Ruang dan Kriteria Ruang 42
2.5.4 Kajian Fokus Seni 52
2.6 Studi Banding Proyek Sejenis 63
BAB 3 ELABORASI TEMA 77
3.1 Pengertian Tema 77
3.2 Latar Belakang Pemilhan Tema 78
3.3 Interpretasi Tema 80
3.4 Studi Banding Arsitektur dengan Tema Sejenis 88
BAB 4 ANALISA 103
4.1 Analisa Non- Fisik/ Fungsional 103
4.1.1 Program Ruang 110
4.1.2 Skema Program Ruang Utama 117
4.1.3 Skema Pengguna Ruang Utama 118
4.2 Analisa Tapak 119
4.3 Analisa Lingkungan 120
4.4 Analisa Fisik/ Tapak dan Lingkungan 123
4.4.1 Analisa Matahari 123
4.4.2 Analisa Citra Kota 123
4.4.3 Analisa Orientasi Site 124
4.4.5 Analisa Vegetasi 125
4.4.6 Analisa Sirkulasi 125
4.4.7 Analisa Pedestrian 126
4.4.8 Analisa Sosial - Budaya 127
4.4.9 Analisa Kawasan Cagar Budaya 127
4.4.10 Analisa Kepadatan Ruang 128
4.4.12 Analisa Kebisingan 130
4.4.13 Analisa Material Bangunan 131
4.4.13 Analisa Ketinggian Bangunan 131
4.4.13 Analisa View 132
4.4.16 Analisa Pencapaian 133
4.4.17 Tata Guna lahan 135
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN... 136
5.1 Konsep Disain ( Simbolisme)
5.2 136
BAB 6 KONSEP PERANCANGAN
6.1 Ground Plan 149
6.2 Site Plan 150
6.3 Denah Basement 151
6.4 Denah Lantai 2 152
6.5 Denah Lantai 3 153
6.6 Denah Lantai 4 154
6.7 Denah Lantai 5 155
6.8 Potongan 156
6.9 Tampak Utara 157
6.10 Tampak Timur 158
6.10 Tampak Barat 159
6.11 Tampak Selatan 160
6.12 Rencana Pembalokan Lantai 1 162
6.13 Rencana Pembalokan Lantai 2 163
6.13 Rencana Pembalokan Lantai 3 164
6.14 Rencana Pembalokan Lantai 4&5 165
6.15 Rencana Pembalokan 166
6.16 Rencana Elektrikal Basement 167
6.17 Rencana Elektrikal Lantai 1 168
6.18 Rencana Elektrikal Lantai 2 169
6.18 Rencana Elektrikal Lantai 4 171
6.19 Rencana Atap 172
6.20 Rencana Atap 173
6.21 Detail 174
6.22 Rencana Fire Alarm Sistem & Ac 175
6.23 Rencana Sanitasi 176
6.24 Detail 177
6.25 Perspektif Interior 178
6.26 Perspektif Interior 179
6.27 Perspektif Eksterior 180
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Kerangka Berpikir 6
Tabel 2.1 Tabel 2.2
Identifikasi Hirarki Kota Banda Aceh Kebijakan Penepatan Struktur Ruang
17 17 Tabel 2.3 Analisis Kebijakan Penetapan Bandara Banda Aceh 18 Tabel 2.4 Struktur Ekonomi menurut Lapangan Usaha 19
Tabel 2.5 Jumlah dan Kepadatan Penduduk 20
Tabel 2.6 Pengembangan Pariwisata BandaAceh 21
Tabel 2.7 Kriteria Pemilihan Site 22
Tabel 2.8 Merupakan Kawasan Lindung 25
Tabel 2.9 Tabel 2.10 Tabel 2.11 Tabel 2.12 Tabel 2.13 Tabel 2.14 Tabel 2.15 Tabel 2.16 Tabel 2.17 Tabel 2.18 Tabel 2.19 Tabel 2.22 Tabel 2.23 Tabel 2.24 Tabel 2.25 Tabel 2.26 Tabel 2.27 Tabel 2.28 Tabel 2.30
Kriteria dan Prinsip Pengelolaan Kawasan Lindung Perbandingan Site
Perbandingan Site( positif – Negatif) Presentase Jumlah Pecinta Seni di Aceh
Pengeluaran Kota Banda Aceh untuk Kegiatan seni Deskripsi Kebutuhan Ruang
Pembagian Anggota Gerak Tubuh Perpustakan
TBSU
Pentas TBSU
Gedung Utama TBSU Mie Center For The Arts Entrance Mie Center Art Tower Mito Tower Denah Galeri Museum Shop Entrance Hall ACM Theater 28 31 32 35 36 42 59 61 63 63 63 64 65 66 67 67 67 67 67
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Tari Saman 12
Gambar 2.2 Peta Banda Aceh 28
Gambar 2.3 Peta Deskripsi Site 33
Gambar 2.4 Jarak Lukisan 43
Gambar 2.5 Kemampuan Gerak Anatomi Manusia 43
Gambar 2.12 Theater 47
Gambar 2.13 Garis Pandang Penonton 47
Gambar 2.14 Gambar 2.15 Gambar 2.16 Gambar 2.17 Posisi Kursi Jarak Kursi
Peta Seni Konteks Budaya Peta Konsep Tradisional
49 49 52 55 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 3.9 Tabel 3.10 Tabel 3.11 Tabel 3.12 Tabel 3.13 Tabel 3.14 Tabel 3.15 Tabel 3.16 Tabel 3.17 Tabel 3.18 Tabel 3.19 Tabel 3.20 Tabel 3.21 Tabel 3.22 Tabel 3.24 Tabel 3.25 Tabel 3.27 Tabel 3.28 Tabel 3.29 Tabel 3.30
Segitiga Semiotik Charles Jenck Simbol Yang tersamar
T.W.A Kennedy Air Port Site Mall di Washington DC Obelisk dan Eiffel
Pentagon
Piramida Louver
Eksterior Sydney Opera House Atap Opera
Sidney Opera
The Clyde Auditorium Sketsa Bentuk Auditorium Perspektif Bentuk Auditorium Perspektif Bentuk Nothre Dame Interior Notre Dame du Haut Site Plan Notre Dame du Haut Denah Notre Dame du Haut Perspektif Eslanade
Interior Esplanade Perspektif Cybertecture Eksterior Esplanade Eksterior City of Art Eksterior Bangunan
Museum Purna Bhakti Pertiwi Museum Purna Bhakti Pertiwi Museum Tsunami
Interior Museum Tsunami
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberadaan Art Development Center di Banda Aceh sudah menjadi hal yang
penting untuk dibahas. Terutama saat Tsunami membumihanguskan berbagai
fasilitas yang ada, namun image kebudayaan dan kesenian tidak lekang terbawa
olehnya. Bahkan kesenian menjadi warisan budaya yang terus berkembang dan maju.
Di Kota Banda Aceh sendiri terdapat banyak sekali ragam kesenian yang terkenal
hingga kenegeri sebrang. Namun sedikit sekali adanya penyediaan fasilitas untuk
mengembangkan potensi kesenian tersebut menjadi lebih aktif di kancah
Internasional.
Masyarakat sangat butuh adanya fasilitas yang mendukung mereka untuk
memperkenalkan keanekaragaman kesenian daerah tradisional maupun modern.
Maka pembangunan juga harus mendukung semangat masyarakat. Adanya peristiwa
tsunami membuat jiwa masyarakat Banda Aceh menjadi patah semangat. Segala
yang masyarakat miliki berupa meterial habis lenyap. Kini mereka hanya memiliki
jiwa yang harus di tempa dan didik menjadi generasi – generasi muda yang berbakat
dan berpotensi untuk budaya. Maka dari itu Art Development center ini harus di
rencanakan.
Seni sangat beragam dalam kehidupan manusia bahkan saat berbicara,
berbahasa, bergerak manusia harus menggunakan seni. Setiap manusia memiliki
minat dan bakat tersendiri dalam hidupnya. Ada di antara mereka yang menyenangi
lukisan, yang pintar bernyanyi namun tidak tahu dimana akan menyalurkan
Aceh begitu banyak generasi penerus bangsa yang memiliki bakat tidak hanya anak
kecil namun muda – mudi remaja juga sangat berekspresif didalamnya.
Memperkenalkan kesenian pada masyarakat merupakan hal yang sangat di
butuhkan. Kesenian adalah merupakan bahasa sosial yang harus di kembangkan.
Kesenian merupakan senjata dalam berbahasa dengan kesenian kita mampu
mengembangkan budaya terhadap budaya lain. Dan persaingan budaya adalah
merupakan persaingan sehat yang harus di kembangkan. Masyarakat dewasa ini lebih
memilih kesenian sebagai pendidikan non – formal di luar pendidikan formal.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadikan kesenian sebagai pendidikan yang
lebih utama untuk masa depan. Seperti sekolah musik, sekolah tari, akademi teater,
dan sekolah tinggi kesenian lainnya.
Melihat perkembangan seni daerah lain yang sudah jauh di depan, membuat
seni daerah Aceh menjadi bangkit untuk mengepakkan sayap ke persaingan kesenian
di luar kota bahkan di luar Negeri. Pelestarian dan pengembangan kesenian sangatlah
di perhatikan pada zaman sekarang karena semakin dewasanya zaman maka akan
menghasilkan muda – mudi yang kreatif dan berpotensi tidak hanya menguasai
bidang kesenian daerah namun mampu mengenal hasil tangan kesenian luar.
Banyaknya tingkat pengangguran di kota Banda Aceh, dan jumlah
masyarakat miskin, memacu meningkatnya permasalahan social yang akan dihadapi.
Sebagai contohnya adalah tingkat kenakalan remaja pada saat ini sudah cukup tinggi,
dan mungkin bila kita meramalkan ke sepuluh tahun ke depan akan semakin
memprihatinkan. Karena fenomena yang terjadi pada kota-kota besar di Indonesia
termasuk di Medan adalah terjadinya human source degradation terutama pada
kalangan pemuda karena mereka menyalurkan hasrat dan semangat yang
kriminalitas ,dsb. Ini dipicu karena kurangnya wadah bagi generasi muda untuk
mengaktualisasikan dirinya. Bila tidak sekarang dimulai untuk menanggulanginya
maka akan lebih sulit di masa yang akan datang mencari solusinya. Demi
mewujudkan kota Medan menjadi kota metropolitan, maka masalah social seperti ini
sudah seharusnya bisa diatasi. Kehadiran pusat pengembangan kesenian seperti ini
diharapkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah itu, dengan berfungsi
sebagai sarana pendidikan non-formal jelas akan mampu ikut serta mencerdaskan
generasi bangsa.
Seni bukan sekedar sesuatu yang dapat membuat hati senang, memberi
kebahagiaan namun secara mendalam mampu mengubah cara berpikir seseorang
yang mengerti tentang seni. Karena dengan melihat karya seni dapat memberikan
suatu naungan baru terhadap pemikiran seseorang, suatu yang simpatis,
menenangkan, inspirasional, dan bahkan juga sesuatu yang dapat memberikan
kegembiraan di dalam menapaki kehidupan. Secara luas juga dapat memperdalam
pengetahuan kultural dan praktek artistik, mengembangkan dan mengasah
keterampilan meneliti, mengungkapkan pengertian sejarah yang lebih mendalam
yang tidak dapat dilakukan oleh dokumen manapun, dan mendorong kreatifitas,
analitis, dan otonomi berfikir.
Harapannya Pusat Pengembangan Budaya Di Banda Aceh menjadi wadah
untu melahirkan generasi – generasi dan masayarakat yang berbudaya, berpotensi
dan kreatif dalam kesenian dan selalu berlari menuju arah persaingan budaya dan
kesenian yang sehat dan menghasilkan produk – produk luar biasa di mata Nasional
1.2 Maksud dan Tujuan Perancangan Tujuan perancangan adalah :
o Mengembangkan budaya yang bersifat edukatif dan rekreatif
sehingga menjadi daya tarik utama masyarakat dalam
mendekatkan diri pada makna dari kesenian budaya
tradisional dan modern.
o Menjadikan kekreatifitasan merupakan pendukung utama bagi
kemajuan pendidikan. Meskipun aspek pendidikan yang
terdapat di dalam perencanaan hanyalah berupa fasilitas non
formal.Berkat adanya kreativitas maka timbullah persaingan
pendidikan yang menjadi tonggak utama adanya hubungan
timbal balik antara kemajuan pendidikan di Indonesia
khususnya di BandaAceh.
o Agar masyarakat mendapatkan wadah untuk pengembangan
ilmu pengetahuan tentang Budaya dan menambahkan
kekreatifitasan masyarakat dalam memahami kesenian
Budaya. Kegiatan ini dapat di artikan sebagai kegiatan belajar
sambil bermain dan bersifat Non- formal.
o Merupakan fasilitas yang sangat di butuhkan oleh masyarakat
Banda Aceh.merangsang kreativitas seni dan meningkatkan
wawasan tentang kesenian di kalangan masyarakat ,
o Melaksanakan upaya pembinaan kesenian dan menciptakan
suatu iklim kehidupan kesenian yang sehat di antara
masyarakat dan para seniman.
o Memberikan informasi, penyuluhan dan pembinaan kepada
masyarakat untuk menciptakan iklim yang mencerminkan
fungsi kesenian dan kehidupan kesenian bagi setiap anggota
masyarakat.
o Mengaktifkan kegiatan – kegiatan yang menunjang
peningkatan mutu seni dan apresiasi seni terhadap masyarakat
perlu di perbanyak jumlahnya , kegiatan – kegiatan yang
dimaksud adalah:
a. pekan seni dan lomba seni dari tingkat lokal sampai
b. Pergelaran dan pementasan seni di setiap acara resmi
maupun tidak resmi.
c. Pameran hasil karya seni , duta wisata dan duta seni antar
daerah.
d. Sarasehan dan lokakarya seni.
e. Pemberian penghargaan serta penambahan bantuan
fasilitas seni.
1.3 Perumusan Masalah
Bagaimana mendapatkan konsep bangunan yang menarik serta mampu
menggambarkan fungsi bangunan.
Bagaimana menyatukan fasilitas galeri, teater dan edukasi informal dalam
suatu wadah yang membuat para penggunanya merasa tertarik dan nyaman.
Masalah komunikasi dengan bangunan sehingga mudah dimengerti dan
familiar oleh masyarakat awam serta mendukung penghayatannya pada
aktifitas dalam bangunan.
Bagaimana pemecahan struktur masa bangunan yang merupakan tuntutan
dari fungsi bagunan dengan segala beban dan fasilitas tersebut.
Solusi untuk menghasilkan bangunan yang mampu memberikan citra
kesenian Budaya yang tradisional namun lebih modern dalam fasadenya dan
aplikasi terhadap pandangan masyarakat awam.
Mampu memberikan fasilitas yang terbaik bagi masyarakat dan para
budayawan demi kenyamanan dan apresiasi seni di Banda Aceh khususnya.
1.4 Metoda Pendekatan
Pendekatan berdasarkan standar-standar ukuran ruangan yang
mengakomodasi setiap jenis kegiatan di dalam ruangan maupun di luar
bangunan.
Pendekatan berdasarkan fungsi bangunan.
Pendekatan berdasarkan tema bangunan.
1.5 Lingkup dan Batasan Proyek
Lingkup dan batasan yang akan digunakan adalah:
Seluruh aspek fisik yang berhubungan dengan pembahasan dan perancangan
mengenai bangunan Art Development Center yang mengabungkan fungsi
pendidikan, rekreasi (entertainment) dan komersil yang menyangkut
lingkungan tapak, masa bangunan dan besaran ruang.
Perpaduan perancangan fungsi rekreasi, pendidikan, komersil dan fasilitas
pendukung lainnya serta pengolahan ruang dalam dan ruang luar sebagai satu
kesatuan.
Penerapan tema simbolisme ke dalam bentuk bangunan dan elemen-elemen
arsitekturnya.
Art Developmen center ini merupakan suatu wadah yang dibentuk guna
memamerkan karya-karya seni kebudayaan daerah tradisional maupun
modern dan menampilkan pertunjukan seni. Untuk seni pertunjukan
menampilkan seni teater, seni musik dan seni tari. Serta memamerkan adanya
hal – hal yang baru mengenai seni yang dapat mengembangakan imaji
masyarakat terhadap budaya yang tidak akan pernah berhenti dan terus
berkembang. Dapat berupa asimilasi kebudayaan dan percampuran budaya
1.6 Kerangka Berpikir
Tujuan dan Manfaat
1. Agar masyarakat mendapatkan wadah untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang Kesenian Budaya Tradisional dan Modern. 2. Mengembangkan budaya yang bersifat
edukatif dan rekreatif diri masyarakat. 2.
Latar Belakang
1. Apresiasi masyarakat terhadap seni kebudayaan daerah ( tradisional maupun Modern)
2. Kebutuhan masyarakat untuk menyalurkan potensi dan bakat yang di milikinya sebagai peluang baik untuk masyarakat daerah.
Judul :
Art Development Center di Banda Aceh Tema Perancangan :
Arsitektur Simbolisme
Perumusan Masalah
Bagaimana mendapatkan konsep bangunan yang menarik serta mampu menggambarkan fungsi bangunan.
Bagaimana menyatukan fasilitas galeri, teater dan edukasi informal dalam suatu wadah yang membuat para penggunanya merasa betah dan tertarik.
Masalah komunikasi dengan bangunan sehingga mudah dimengerti dan familiar oleh masyarakat awam serta mendukung penghayatannya pada aktifitas dalam bangunan.
Bagaimana pemecahan struktur masa bangunan yang merupakan tuntutan dari fungsi bagunan dengan segala beban dan fasilitas tersebut.
Data Perencanaan Data Tapak Studi Literatur Studi Banding Survei Lapangan Wawancara
Analisa Tapak (Analisa Fisik) View, sirkulasi, orientasi, dll.
Analisa Fungsional (Analisa Nonfisik)
Pengguna, alur kegiatan, dll Programming
Program ruang dalam dan ruang luar
Konsep Perancangan Konsep ruang luar, ruang dalam, massa, tema, struktur, dan utilitas.
1.7 Sistematika Penulisan Laporan
Secara garis besar, urutan pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai
berikut:
Bab 1 Pendahuluan, berisi kajian tentang latar belakang pembangunan pabrik daur
ulang kertas, maksud dan tujuan, masalah perancangan, lingkup dan batasan, dan
metode pendekatan.
Bab 2 Deskripsi Proyek, berisi tentang pembahasan mengenai terminologi judul,
pemilihan lokasi, deskripsi kondisi eksisting, luas lahan, peraturan dan keistimewaan
lahan, tinjauan fungsi dan studi banding arsitektur dengan fungsi sejenis.
Bab 3 Elaborasi Tema, menjelaskan tentang pengertian tema yang diambil,
interpretasi tema, keterkaitan tema dengan judul dan studi banding arsitektur dengan
tema sejenis.
Bab 4 Analisa Perancangan, menjelaskan tentang analisa kondisi tapak dan
lingkungan, analisa fungsional, analisa teknologi, analisa dan penerapan tema, serta
kesimpulan.
Bab 5 Konsep Perancangan, menjelaskan konsep penerapan hasil analisis
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
2.1. TERMINOLOGI JUDUL
Judul dari proyek ini adalah Art Development Center. Berikut merupakan penjelasan
terhadap judul kasus proyek tersebut:
Pengertian Art:
Memproduksi pengaturan bunyi, warna, bentuk, atau unsur-unsur lainnya
yang serasi dipengaruhi oleh segi keindahan atau estetika.1 Perihal seni, hasil karya, cabang seni.
Seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set
peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang
menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium
itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau
perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun
demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu.
Pengertian Centre:
Pusat, sentral, bagian yang paling penting dari sebuah kegiatan atau
organisasi
Tempat aktivitas utama, dari kepentingan khusus yang dikonsentrasikan
Suatu tempat dimana sesuatu yang menarik aktifitas atau fungsi
terkumpul atau terkonsentrasi.
Menempatkan untuk fasilitas tertentu.
mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti
bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud
cinta).2
Pengertian Development : Perkembangan
Perkembangan adalah proses dimana berubahnya atau peningkatan dari hal
yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Atau dari hal yang lebih kecil
menjadi lebih bermakna luas sesuai perkembangan zaman. 3
1
The American Heritage College Dictionary
2
www.wikipedia.com
3
Berdasarkan pengertian diatas, maka ART DEVELOPMENT CENTER
adalah Pusat pengembangan dan pembinaan apresiasi seni baik budaya tradisional
maupun Internasional untuk menampung masyarakat yang memiliki potensi dan
berbakat dalam persaingan seni yang sehat dan mampu bersaing di era globalisasi.
Mampu menyaring mana budaya yang patut di terima dan meninggalkan budaya
negatif yang dapat merusak budaya atau seni yang sudah ada sebagai warisan nenek
moyang.
2.1.1 Jenis dan Bentuk Kesenian
Berdasarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, jenis dan bentuk
kesenian dibagi menjadi:
1. Kesenian Tradisional
Yaitu suatu bentuk seni yang bersumber dan berakar, serta telah dirasakan
sebagai milik oleh masyarakat di lingkungannya. Pengolahan didasarkan atas
cita rasa masyarakat pendukung dan diterima sebagai tradisi.
2. Kesenian Modern
Yaitu merupakan seni yang penggarapannya didasarkan atas cita rasa
masyarakat pendukungnya. Cita rasa baru umumnya merupakan
pembaharuan atau penemuan sebagai akibat dari pengaruh luar4 2.1.1.1 Berdasarkan Bentuk:
1. Seni Pertunjukan (Performance Arts)
Yaitu karya seni yang menggunakan perantara atau media ekspresi bunyi,
gerak, dan irama. Karya seni yang dipertunjukan bergerak dan hidup. Adapun
seni pertunjukan terdiri dari seni tari, seni musik, dan seni drama. Karya seni
pertunjukan dapat juga disebut sebagai hasil seni yang bergerak (dinamis),
hal ini karena digerakkan atau dilakonkan oleh manusia, jadi yang diciptakan
adalah patokan-patokan, irama, komposisi dari gerak ataupun suara.
2. Seni Rupa (Visual Art)
Yaitu karya seni yang dapat dinikmati dengan indera mata melalui media
ekspresi garis, warna, bahan dan wujud. Karya seni yang diperlihatkan tidak
bergerak, contohnya seperti seni lukis, seni patung, seni kriya. Visual art bisa
disebut juga sebagai karya seni diam (statis), penciptaan atau pengolahan
4
benda mati oleh manusia, jadi yang tersaji tetap benda mati, walaupun
wujudnya dapat berupa makhluk hidup.5 2.1.2. Tinjauan Terhadap Visual Arts
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa visual arts adalah seni atau
pengaturan bentuk, warna dan elemen-elemen lain yang dilakukan secara sadar
dimana mempengaruhi rasa keindahan dan hanya dapat dinikmati melalui pemakaian
indera pengelihatan atau visual manusia.
2.1.2.1 Sejarah Visual Arts
Perkembangan visual arts pada dasarnya mulai terjadi awal abad ke-20. Istilah
visual arts berasal dari karya-karya seniman Amerika, dimana dapat berupa lukisan,
patung, grafis, dan sebagainya, yang menarik perhatian si pengamat seni melalui
penggunaan indera pengelihatan (visual). Kemudian setelah melalui pergantian
waktu, segala sesuatu yang ada di lingkungan dan kehidupan manusia sehari-hari
dijadikan media dalam penciptaan karya para seniman, seperti misalnya
menggunakan tubuh sebagai alat untuk menghasilkan karya seni yang merupakan
hasrat si seniman. Hal tersebut sedikit berbeda dengan perkembangnya di Eropa.
Hasil karya visual arts di Eropa merupakan kelanjutan dari fine arts dimana lebih
bersifat klasik dan perkembangan tersebut menandai lahirnya suatu era seni modern
atau modern art.
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang
bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan
mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan
dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni, kriya, dan desain.
Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan
eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan
kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun
sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik
5
kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan
desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.
2.1.2.2 Ruang Lingkup Visual Arts
Berdasarkan National Art Education Association:
Fine Arts (seni murni), misalnya menggambar, melukis, print media, seni
patung dan lain-lain.
Communication and Design Arts (Desain Komunikasi Visual), misalnya
perfilman, pertelevisian, grafis, desain produk dan lain-lain.
Architecture and Enviromental Arts (Arsitektur dan Arsitektur lansekap),
misalnya desain perkotaan, desain interior, desain lansekap, dan lain-lain.
Folks Arts (Seni Tradisional)
Karya-karya seni seperti keramik, fiber, jewellery, dan lain-lain.
Karya-karya seni yang menggunakan bahan dasar kayu, kertas dan
bahan-bahan lainnya.
2.1.3 Tinjauan Terhadap Performing Arts
Dapat disimpulkan bahwa performing arts adalah seni atau pengaturan
bentuk, warna, suara dan elemen-elemen lain yang diperagakan dan dipertunjukan
secara dramatis di hadapan sebuah penonton dimana mempengaruhi rasa keindahan.
Seni pertunjukan (Bahasa Inggris: performance art) adalah karya seni yang
melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni
pertunjukan biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan
hubungan seniman dengan penonton.
Meskipun seni performance bisa juga dikatakan termasuk di dalamnya
kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkus, tapi biasanya
kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan istilah 'seni
pertunjukan' (performing arts). Seni performance adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang tumbuh dari seni rupa dan kini
mulai beralih ke arah seni kontemporer.
Dalam bahasa Indonesia, Performing Arts adalah seni pertunjukan. Menurut
A.Karim Achmat, Seni Pertunjukan dibagi menjadi 3, yaitu:6
Seni Tari
Tari adalah gerak ritmis sebagian atau seluruh tubuh yang terdiri dari pola individual
atau berkelompok yang disertai ekspresi id tertentu. Media utama terletak pada gerak
yang ditimbulkan oleh tubuh manusia yang diserasikan dengan ruang dan gerak
dalam waktu. Jadi tari adalah seni sesaat dari ekspresi yang dipertunjukan dengan
bentuk serta gaya tertentu lewat tubuh manusia yang bergerak dalam ruang.
Seni Musik
Musik adalah suatu bentuk seni yang merupakan cetusan ekspresi pikiran atau
perasaan yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi.
Seni Peran / Drama
Adalah suatu bentuk seni dimana pengungkapanya berupa laku atau dialog. Sedikit
berbeda dengan teater, dimana teater pengungkapannya selain dapat berupa laku atau
dialog juga menggunakan tari, musik, dan segala sesuatu yang mendukung adanya
suatu pertunjukan.
2.1.4. Tinjauan Terhadap Edukasi Seni Sistem Edukasi Seni di Indonesia
a. Edukasi Informal
1. Cara Tradisional
Masih dilakukan di desa-desa yang berpotensi adatnya menonjol, edukasi ini
dimulai dari usia kanak-kanak. Latihan dilakukan di pendopo atau
6
Achmad, A Karim, Pendidikan Seni Teater, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990, hal 3
pusat pelatihan baik pagi ataupun sore hari. Pada edukasi cara tradisional ini
cenderung tidak terjadi perubahan teknik dari tahun ke tahun.
2. Kursus-kursus Seni
Umumnya terdapat di kota-kota, dimana murid-murid atau pesertanya
beragam, mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Jenis-jenis latihannya
pun bermacam-macam mulai dari menggunakan teknik daerah (tradisional)
hingga ke teknik yang modern.
b. Edukasi Formal
1. Pendidikan Menengah (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK Jurusan Seni)
Edukasi meliputi 60% kelas praktek dan teori 40%, dengan dua jalur studi:
Studi Vocational, yaitu menghasilkan seniman untuk masyarakat.
Studi Akademis, menghasilkan calon mahasiswa pendidikan tinggi seni.
2. Pendidikan Tinggi
Indonesia memiliki pendidikan tinggi seni, contohnya: Institut Kesenian
Jakarta, Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta, Institut Teknologi
Bandung jurusan seni dan sebagainya. Tahap edukasi adalah untuk mencapai
sarjana muda atau sarjana penuh, dengan lingkup pendidikan 60% praktek
dan 40% kelas teori.
Sistem Edukasi Seni di Luar Negeri
Sistem edukasi seni di luar negeri pada dasarnya sama dengan di Indonesia.
Namun yang membedakannya adalah jenis-jenis budaya serta majunya
kesadaran akan apresiasi seni sehingga memungkinkan kesenian di luar
negeri lebih tergali. Edukasi seni informal di luar negeri dapat diperoleh dari
art center dan kursus-kursus seni yang ada sedangkan edukasi formal dapat
diperoleh dari tingkat college sampai universitas.
2.2 TINJAUAN UMUM PROYEK
Tinjauan umum membahas tentang pusat kesenian secara keseluruhan dan secara
umum.
Kesenian adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang yang
diungkapkan secara sadar dan diwujudkan dalam bentuk nada, kata dan warna
medium (media/alat) sehingga dapat menggugah rasa seseorang untuk melihat
ataupun mendengar.
Kesenian adalah segala sesuatu mengenai seni yang merupakan ekspresi
hasrat manusia akan rasa keindahan dan dilahirkan melalui perantara alat-alat
komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pengelihatan atau
dilahirkan melalui perantara gerak.7
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu
merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi
dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai,
bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang
menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan
produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu,
dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan
ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi,
atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian,
banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa
garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme
dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang
bermaksud cinta).
2.3. TINJAUAN KHUSUS PROYEK 2.3.1 Lokasi
A. Kriteria Pemilihan Site
Tinjauan Pemilihan Kota Banda Aceh
Pemilihan lokasi kota Medan untuk Art Development Center:
Banda Aceh merupakan kota yang sedang berkembang, pasca tsunami
menenggelamkan tidak sedikitnya bangunan – bangunan sosial. Maka dari itu
perlu adanya perancangan pembangunan sosial seperti Art Development
Center di Banda Aceh.
7
Menghidupkan kembali matinya kehidupan kawasan Cagar Budaya akibat
peristiwa tsunami, pengaruh aspek sosial dan ekonomi.
Adanya daya tarik para sukarelawan asing yang tinggal sementara di Banda
Aceh sebagai batu loncatan terhadap ketertarikan mereka akan budaya dan
kesenian Aceh yang dapat menghasilkan devisa daerah dan negara.
Adanya transportasi darat yang baik menuju kota Banda Aceh.
Tingkat ekonomi dan sosial budaya yang cukup tinggi.
Merupakan lokasi Cagar Budaya.
Beberapa kriteria dalam pemilihan site:
RTRW
Kajian utama dalam penilaian site yaitu kesesuaian dengan RTRW
Banda Aceh, di mana bangunan dengan fungsi pelayanan jasa berupa pusat
kebudayaan berada di kawasan Cagar Budaya yaitu pada kecamatan
Baiturrahman kota Madya Banda Aceh.
Lingkungan
Lingkungan yang diharapkan untuk mendukung perencanaan proyek
ini adalah lokasi yang strategis dalam pelestarian budaya yang
mendatangkan manfaat bagi masyarakat , daerah dan negara. Tidak hanya
dalam mencari keuntungan dan jasa kepada masyaratt, tetapi juga
diharapkan mampu memperkuat citra kawasan budaya Aceh dan
pengembangan kesenian yang ada di Kota Banda Aceh khususnya.
Fungsi Sekitar
Fungsi bangunan sekitar tapak akan mempengaruhi citra kawasan.
Penempatan bangunan dengan fungsi seragam di suatu kawasan tentu
akan memperkuat citra fungsi tersebut, dalam hal ini bangunan jasa budaya.
Fungsi Lahan Sekarang
Fungsi lahan eksisting mempengaruhi kemudahan pembangunan
suatu bangunan, di mana bila lahan eksisting berupa lahan kosong, maka
tidak diperlukan proses pembebasan lahan, ganti rugi, penghancuran
bangunan, sampai pada proses pengangkutan sampah konstruksi.
Pencapaian
Pencapaian ke site dapat dari jalur yang strategis, karena terletak di
tengah pusat kota dima kendaraan umum maupun pribadi pasti akan melalui
jalan ini dan kawasan ini dalam menuju pulang pergi kota Banda Aceh.
Lahan yang menjadi tempat gedung yang direncanakan diharapkan
memiliki kapasitas untuk dapat menampung program fungsional dan
pengembangannya di kemudian hari. Dalam proyek ini lahan yang
diperkirakan kurang lebih 2.3 ha.
Potensi Fasilitas Lingkungan
Fasilitas umum yang terdapat pada sutu kawasan perkantoran juga
memiliki pengaruh dalam perancangan, yang memungkinkan pemanfaatan
fasilitas lebih maksimal.
View
View salah satu hal yang diperhatikan dalam proyek ini. View yang
diharapkan mampu mendukung fungsi bangunan dan latar belakang
pendirian bangunan.
Pelayanan dan Service
Dalam kasus ini diharapkan pelayanan dan service mudah masuk
dan keluar site.
Entrance
Suatu bangunan kantor yang menampung banyak pekerja akan
memiliki nilai tambah bila memiliki pintu masuk/keluar alternatif ke tapak.
Dengan demikian, pencapaian dari berbagai arah jalan dapat disebar
sehingga tidak menimbulkan kemacetan pada saat jam-jam masuk/pulang
kerja.
Aktivitas bangunan dengan lingkungan
Adanya kedudukan site di dalam areal cagar Budaya menjadikan
bangunan Art Development Center menjadi satu kesatuan yang berbeda
namun bermanfaat antara satu bangunan dengan bangunan
lainnya.Bangunan Art Development Center menjadi pintu gerbang untuk
masyarakat yang berkunjung ke kawasan Cagar Budaya sehingga
menghidupkan kembali suasana Cagar Budaya.
2.3.2 Tinjauan Peraturan Pemerintah
Berdasarkan Undang – Undang, No : 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan
daerah dan peraturan Menteri Dalam Negeri No.8 Tahun 1998 tentang
penyelenggaraan penataan ruang di daerah, khususnya untuk kawasan Kota Madya
Banda Aceh.
Kepadatan bangunan kota ditentukan berdasarkan angka Koefisien Dasar Bangunan
(KDB).
Untuk sarana Pariwisata, Rekreasi, dan budaya maksimum sebesar 40 %, jarak dinding dengan batas tanah minimum 2,00 m.
BAB VI Pasal 27 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa :
1. Ketinggian bangunan di tentukan berdasarkan nilai Koefisiensi Lantai Bangunan (KLB).
2. Ketinggian maksimum bangunan yang di tetapkan di pusat kota adalah sekitar 12 meter, atau tidak boleh melewati kaki kubah Mesjid Raya
Baiturrahman, pada kawasan pusat kota yang berdekatan langsung dengan
Mesjid Raya Baiturrahman, seperti pada jalan Muh.Jam, Jln Cut Ali, Jln
Tgk Chik Pante Kulu, Jln Diponegoro dan Jln Sultan Alaidin
Mahmudsyah8.
Maka berdasarkan peraturan dari RTRW kota Banda Aceh di peroleh data sebagai
berikut :
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40 %.
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 1,2 – 2,8.
Garis sepadan bangunan (GSB) : Minimal 12 m.
Pada bab III tentang RTRW kota Banda Aceh juga di atur tentang peraturan yang
berkaitan dengan peruntukan lahan yang berkenaan tentang budaya dan sejarah, hal
ini disebutkan pada pasal 14 yang berbunyi :
Peruntukan lahan budaya dan bersejarah tetap di pertahankan keberadaan
kawasan dengan ciri khas bangunan seperti Mesjid Raya Baiturrahman
Museum Aceh, Kerkhoff, Makam-Makam Sejarah serta bangunan budaya
dan bersejarah lainnya
Identifikasi Hirarki Kota-Kota Di Provinsi NAD
Berdasarkan Jumlah Penduduk, Prasarana Transportasi dan Sarana Non Transportasi
8
Kebijakan Penetapan Struktur Ruang
FUNGSI KOTA
KABUPATEN/KOTA IBUKOTA/SIMPUL RTRWN
(Revisi 2004) Keppres RTRW Pulau Sumatera (2004) RTRW Provinsi NAD (Revisi 2003)
Kota Banda Aceh Banda Aceh PKN PKN PKW
Sumber : Review RTRWN 2003, Keppres RTRW Pulau Sumatera (2004) dan RTRW Provinsi
NADRevisi 2003.
Tabel 2.2 Kebijakan Penetapan struktur Ruang
Analisis Kebijakan Penetapan Bandara
PENETAPAN FUNGSI MENURUT BERBAGAI KEBIJAKAN/STUDI TERKAIT
NO BANDARA LOKASI
RTRWN RTRW PULAU SUMATERA KEPMENHUB NO 44 TAHUN 2002 SISTRANAS TAHUN 1997 REVIEW SISTRANAS TAHUN 2001 STUDI PENYUSUNAN RTRW JALINTIM ANALISIS DAN REKOMENDASI 1 Sultan Iskandar Muda Banda Aceh Bandara udara Regional Bandara udara Regional Bandara
Udara bukan
pusat penyebaran Bandara Pusat Penyebaran Sekunder - Bandara
Udara Pusat
Penyebaran
Sekunder
Karena berfungsi
sebagai PKN maka
perlu dit ingkat kan
st at us bandara
menj adi berst at us
int ernasional dimana
bandara Sult an
Iskandar Muda
berfungsi sebagai
simpul ut ama j aringan
t ransport asi nasional
dan lintas negara.
Sumber: Hasil Analisis, 2006
Tabel 2.3 Analisis Kebijakan Penetapan Bandara
Transportasi Non transportasi Penduduk Jumlah
No. Ibukota
Kab/kota Indeks Orde Indeks Orde Indeks Orde Indeks gab Orde
1 Kot a Banda
Aceh 0.3476190 I 0.4629447 I 0.1866244 I 0.9971882 I
Sumber : Hasil Analisis Tim RTRW Provinsi NAD, 2006
A. Analisis Struktur Ekonomi
Struktur perekonomian Provinsi NAD didominasi oleh sektor pertambangan dan
penggalian, dengan kontribusi sektor ini terhadap PDRB Provinsi NAD mencapai
rata-rata 29,35% selama periode 2000-2004. Dilihat dari PRDB tiap kabupaten/kota
di Povinsi NAD berdasarkan harga konstan tahun 2003, Kabupaten Aceh Utara
memiliki kontribusi terbesar di sektor pertambangan dan penggalian berupa migas.
Besarnya pendapatan dari sektor migas di Kabupaten Aceh Utara mencapai 86,57%
[image:32.595.95.517.275.642.2]dari besar PDRB kabupaten tersebut.
Tabel II. 1
Struktur Ekonomi Provinsi NAD Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Periode 2000-2004 (Dalam Persen)
No Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004
Rata-rata
1 Pertanian 20.8 23.8 21.9 22.0 23.9 22.47
2 Pertambangan dan Penggalian 34.1 24.1 30.1 31.3 27.2 29.35
3 Industri Pengolahan 18.1 21.8 20.1 18.9 18.3 19.46
4 Listrik dan Air Minum 0.1 0.1 0.2 0.2 0.3 0.18
5 Bangunan/Konstruksi 4.9 4.2 4.2 4.0 4.4 4.32
6 Perdagangan, Hotel, clan Restoran 12.0 14.3 12.3 11.5 11.8 12.38
7 Pengangkutan dan Komunikasi 3.7 4.3 4.2 4.2 4.6 4.19
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan 0.6 0.8 0.9 1.0 1.1 0.90
9 Jasa Jasa 5.7 6.5 6.2 6.8 8.5 6.73
PDRB 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.00
Sumber : BPS Provinsi NAD 2005
Proyeksi Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2012 - 2022
No. Kabupaten/Kota
Luas Wilayah
(Km2)
Jumlah Penduduk Tahun 2012 (Jiwa) Kepadatan Penduduk Tahun 2012 (Jiwa/Km2)
Jumlah Penduduk Tahun 2017 (Jiwa) Kepadatan Penduduk Tahun 2017 (Jiwa/Km2)
Jumlah Penduduk Tahun 2022 (Jiwa) Kepadatan Penduduk Tahun 2022 (Jiwa/Km2)
1 Simeulue 2.052 100.047 49 116.799 57 136.355 66
2 Aceh Singkil 3.577 188.249 53 219.769 61 256.566 72
3 Aceh Selatan 3.646 249.368 68 291.122 80 339.867 93
4 Aceh Tenggara 4.231 225.982 53 263.820 62 307.994 73
5 Aceh Timur 6.041 415.995 69 485.648 80 566.964 94
6 Aceh Tengah 4.319 202.198 47 236.053 55 275.578 64
7 Aceh Barat 2.426 189.715 78 221.481 91 258.565 107
8 Aceh Besar 2.686 348.633 130 407.007 152 475.155 177
9 Banda Aceh 61 246.596 4043 287.886 4719 336.088 5510
10 Sabang 119 39.060 328 45.600 383 53.236 447
11 Pidie 4.161 627.331 151 732.370 176 854.996 205
12 Bireuen 1.901 443.314 233 517.542 272 604.198 318
13 Aceh Utara 3.297 612.638 186 715.217 217 834.971 253
14 Aceh Barat Daya 1.685 141.810 84 165.554 98 193.274 115
15 Gayo Lues 5.720 83.231 146 97.167 170 113.437 198
16 Aceh Tamiang 1.940 292.389 1507 341.346 1760 398.500 2054
17 Nagan Raya 3.903 148.019 38 172.802 44 201.736 52
18 Aceh Jaya 3.703 78.071 21 91.143 25 106.403 29
19 Langsa 262 162.530 620 189.744 724 221.514 845
20 Lhokseumawe 181 209.604 1158 244.699 1352 285.671 1578
21 Bener Meriah 1.454 137.137 94 160.099 110 186.906 129
Jumlah 57.365 5.141.917 90 90 105 105 122
Sumber: Hasil Analisis, 2006. Keterangan:
[image:33.595.26.591.120.694.2]Kabupaten/Kota Yang Berada di Wilayah Timur Provinsi NAD
2.1.1.1 Potensi Pariwisata
Berdasarkan nilai PDRB, pariwisata mempunyai kontribusi terhadap PDRB sebesar
11% setiap tahunnya, kontribusi paling besar terjadi pada tahun 2003 sebesar
23,5%. Jenis pariwisata di Provinsi NAD mempunyai beberapa bentuk wisata yaitu
termasuk kedalam bentuk wisata alam, wisata bahari, wisata budaya, wisata ekologi,
wisata kota, dan wisata minat khusus.
Untuk memudahkan dalam identifikasi distribusi objek-objek wisata yang ada, maka
dibuat cluster yang berdasarkan pada 4 faktor yang dianggap penting, faktor itu
adalah (i) faktor letak geografis yaitu kedekatan satu wilayah dengan wilayah yang
lainnya, (ii) faktor jarak yaitu jarak dari satu wilayah dengan wilayah yang lainnya,
(iii) faktor aksesibilitas yaitu tingkat kemudahan pencapaian baik jalur transportasi
maupun angkutan, dan (iv) faktor pelayanan kota yaitu pelayan suatu kota terhadap
kebutuhan dari pada penduduknya.
Tabel II. 2
Potensi Pengembangan Pariwisata Di Provinsi NAD
CLUSTER OBJEK WISATA
UNGGULAN
ARAHAN PENGEMBANGAN Cluster Banda Aceh
-Sabang
Mesjid Raya Baiturrahman, bekas-bekas tsunami, Kherkhof, Pantai Gapang, Taman Laut Pulau Rubiah, dan Pantai Iboih
Diarahkan menjadi ODTW Alam dan Budaya
Cluster Aceh Besar - Pidie
Pantai Pelabuhan Malahayati, Pantai Ujung Batee, dan Pantai Mantak Tari.
Diarahkan menjadi ODTW Alam
Cluster Bireuen – Aceh Utara – Lhokseumawe
Museum Maslikussaleh, dan Makam Malikussaleh
Diarahkan menjadi ODTW Budaya dan Minat Khusus
Cluster Aceh Timur – Langsa – Aceh Tamiang
Monumen Islam Pertama Asia Tenggara (Monisa), dan Pantai Kuala Langsa
Diarahkan menjadi ODTW Alam dan Budaya
Cluster Aceh Tengah - Bener Meriah – Gayo Lues – Aceh Tenggara
Taman Nasional Gunung Leuser Diarahkan menjadi ODTW Alam
Cluster Aceh Jaya – Aceh Barat – Nagan Raya – Aceh Barat Daya
Pantai Putih Cemara Indah, Pantai Lhok Geulumpang, dan Pantai Lagana.
CLUSTER OBJEK WISATA
UNGGULAN
ARAHAN PENGEMBANGAN Cluster Aceh Singkil –
Aceh Selatan
Pantai Pulau Sarok, Desa Wisata Kuala Baru, dan Taman Laut Pulau Pelambak Besar
Diarahkan menjadi ODTW Alam, Budaya dan Minat Khusus.
Cluster Simeulue – Kepulauan Banyak
Pantai Lasikin Diarahkan menjadi ODTW Alam
[image:35.595.98.514.535.753.2]Sumber: Hasil Analisis, 2006
Tabel 2.6 Pengembangan Pariwisata di Prov NAD
2.4 Analisis Pemilihan Lokasi 2.4.1 Pemilihan lokasi proyek.
Lokasi merupakan faktor yang sangat menentukan untuk merencanakan sebuah
gedung Art Development Center. Pemilihan lokasi yang tepat dapat menunjang
dalam proses kegiatan yang berlangsung sehingga sasaran dari keberadaan Art
Development Center dapat tercapai.
Berdasarkan peraturan pemerintah tentang tata ruang kota Banda Aceh, bahwa
kegiatan yang bersifat sejarah dan budaya tetap dipertahankan keberadaan kawasan.
Maka dari acuan peraturan pemerintah di atas dapat di pilih beberapa lokasi yang
keberadaannya dalam kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat
konservatif, seperti Art Development Center.
Dalam pemilihan lokasi ada beberapa kriteria yang di tinjau lebih dahulu, sebagai
upaya adanya integritas antara Art Development Center dengan sasaran yang hendak
dicapai, uraian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Kriteria Bobot Alasan
KDB rendah (40% - 60%) 3
Dengan KDB rendah memungkinkan
ruang terbuka. Sehingga dapat
memaksimalkan pencahayaan dan
penghawaan alami.
Tingkat polusi rendah (udara
dan kebisingan ) 2
Ketenangan merupakan faktor utama
bagi pengunjung Art Development
Center dalam menikmati pameran.
pencapaian ke lokasi.
Peruntukan lahan 3 Untuk memperoleh intergritas antara bangunan dengan kawasan disekitarnya.
Kemudahan dalam
pencapaian terhadap fasilitas
pendukung
2
Kemudahan dalam pencapaian terhadap
fasilitas- fasilitas pendukung seperti
bangunan budaya yang lainnya.
Karakter sosial masyarakat 3
Sebagai faktor utama yang merupakan
sasaran keberadaan Art Development
Center.
Ket Nilai : - 3. Sangat Baik Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan site - 2. Baik Sumber : (Analisis)
- 1. Kurang Baik
Tabel 2.7 analisis pemilihan lokasi
2.4.2 Kriteria Pemilihan Lokasi
Sebagai sebuah bangunan publik, entertainment – edukatif untuk semua
lapisan masyarakat, hal pertama yang harus dilakukan ialah memilih lokasi yang
mendukung keberadaan Art Development Center beserta fasilitas pendukungnya
tersebut, yaitu :
Lokasi merupakan daerah wilayah pengembangan.
Berada di kawasan Cagar Budaya.
Berada di pusat kota.
Dapat dicapai dengan mudah dari berbagai tempat diseputaran kota Banda
Aceh, dan transportasi menuju ke lokasi lancar.
Lokasi dekat dengan fasilitas pendukung seperti , taman Sari, Pekuburan
Belanda, taman Putroe Phang, Gunongan, Museum Rumoh Aceh, Taman
Budaya, Museum Budaya, sebagai bangunan dan tempat bersejarah lainnya.
Dekat dengan kawasan urban dan kawasan wisata kota sebagai acuan untuk
sasaran pengunjung yang diperkirakan akan menjadi pengunjung utama untuk
Tidak berada pada kawasan perindustrian
1) Tinjauan Terhadap Peraturan Pengembangan Kota Madya Banda Aceh Dalam pemilihan lokasi untuk Art Development Center perlu pula
diperhatikan RTRW
( Rencana Tata Ruang Wilayah):
Penentuan lokasi harus sesuai dengan kebijakan pemerintah terhadap Peraturan
Pengembanngan Kota Madya Banda Aceh sesuai Dengan RTRW, wilayah
Kotamadya Banda Aceh meliputi:
Undang-undang Pemerintahan Aceh No.11 Tahun 2006, No. 1 – 4 :
1. Perencanaan pembangunan Aceh/kabupaten/kota disusun secara komprehensif
sebagai bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. nilai-nilai Islam;
b. sosial budaya;
c. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;
d. keadilan dan pemerataan; dan
e. kebutuhan.
2. Perlunya peran serta masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan, serta
pengawasan tata ruang serta pengelolaan lingkungan hidup.
3. Pelaksanaan pembangunan di Aceh dan kabupaten/kota dilakukan dengan
mengacu pada rencana pembangunan dan tata ruang nasional yang berpedoman
pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, pelestarian fungsi lingkungan
hidup, kemanfaatan, dan keadilan.
4. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban melakukan
pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu dengan memperhatikan tata ruang,
melindungi sumber daya alam hayati, sumber daya alam nonhayati, sumber daya
buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya,
dan keanekaragaman hayati dengan memperhatikan hak-hak masyarakat adat dan
2.4.3 Kebijakan Penataan Ruang
- Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) Revisi 2004.
A. Pola Pemanfaatan Ruang
Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional menggambarkan secara indikatif sebaran
kegiatan pelestarian alam dan cagar budaya, kegiatan produksi, serta persebaran
kegiatan strategis nasional. Pola ini secara spasial memperlihatkan pola persebaran
kawasan lindung, pola pengembangan kawasan budi daya, dan pola pengembangan
kawasan fungsional. Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional meliputi:
- Pola Pengelolaan Kawasan Lindung
Pola pengelolaan kawasan lindung menggambarkan kawasan berfungsi lindung
secara indikatif dalam ruang wilayah nasional, baik di darat, laut dan udara. Pola ini
memperlihatkan keterkaitan kawasan-kawasan lindung dengan indikasi lokasi
pengembangan kawasan budidaya dan sektor produksi didalamnya serta keterkaitan
dengan indikasi lokasi kawasan fungsional. Kawasan-kawasan lindung lainnya
seperti Kawasan Lahan Gambut, Kawasan Cagar Budaya, Kawasan Rawan Bencana
(banjir, tsunami, longsor, gunung berapi dan lain-lain) belum tersedia secara
menyeluruh. Misalnya di wilayah Indonesia terdapat banyak gambut seperti di Pulau
Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Irian Jaya, akan tetapi data gambut yang
lebih dalam atau sama dengan 3 meter belum tersedia secara menyeluruh, maka
dalam pola kawasan lindung tidak diindikasikan kawasan bergambut. Demikian juga
dengan kawasan cagar budaya dan kawasan rawan bencana. Kawasan lindung
berskala nasional diperlihatkan pada Tabel II.1. Adapun kriteria dan prinsip
pengelolaan kawasan lindung menurut RTRW Nasional dapat dilihat pada Tabell
II.1.
Kawasan Lindung Nasional Provinsi Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD)
NO NAMA KAWASAN
LINDUNG LOKASI/PROVINSI LUAS (HA)
1. TWL. Pulau Weh Nanggroe Aceh
Darussalam 3.900
Darussalam
3. TN. Gunung Leuser Nanggroe Aceh
Darussalam 623,987
4. THR. Cut Nyak Dien Nanggroe Aceh
Darussalam 6.220
5. CA. Hutan Pinus Jhantoi Nanggroe Aceh
Darussalam 8.000
6. SM. Rawa Singkil Nanggroe Aceh
Darussalam 102.500
Keterangan:
TN : Taman Nasional TWL : Taman Wisata Laut
THR : Taman Hutan Raya CA : Cagar Alam
SM : Suaka Margasatwa Sumber : RTRWN Revisi 2004
Tabel 2.8 merupakan kawasan lindung NAD
Kriteria dan Prinsip Pengelolaan Kawasan Lindung
JENIS KAWASAN
LINDUNG
KRITERIA
PENETAPAN
PRINSIP
PENGELOLAAN
III. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan
JENIS KAWASAN LINDUNG KRITERIA PENETAPAN PRINSIP PENGELOLAAN
1. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu
Pengetahuan
Tempat serta
ruang di sekitar
bangunan
bernilai budaya
tinggi, situs
purbakala dan
kawasan dengan
bentukan geologi
tertentu yang
mempunyai
manfaat tinggi
untuk
pengembangan
ilmu
pengetahuan.
Kewenangan Pengelolaan:
Pemerintah menetapkan persyaratan pemintakatan/zoning, pencarian, pemanfaatan, pemindahan, penggandaan, sistem pengamanan dan kepemilikan benda cagar budaya serta persyaratan penelitian arkeologi.
Pemerintah menetapkan pedoman konservasi arsitektur bangunan dan pelestarian kawasan bangunan bersejarah.
Provinsi menyelenggarakan museum provinsi dan suaka peninggalan sejarah, kepurbakalaan Penetapan Kawasan:
Penetapan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dilakukan oleh Kabupaten/Kota dengan memperhatikan persyaratan dan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Penetapan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang dilindungi termasuk kawasan cagar budaya terbangun dituangkan dalam Perda Kabupaten/Kota.
Pelestarian dan Pengendalian Pemanfaatan Kawasan:
Kabupaten/Kota menyelenggarakan pengendalian pemanfaatan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan melarang aktivitas yang dapat merusak atau terganggunya kondisi dan karakteristik kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan (termasuk kawasan cagar budaya terbangun), dan mengatur pengelolaannya.
Kabupaten/Kota mengumumkan kepada seluruh pelaku pembangunan lokasi dan luas kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Tabel 2.9 Kriteria dan prinsip pengelolaan kawasan Lindung
2.4.4 Pencapaian
Untuk sebuah gedung Art Development Center diharapkan akan ramai dikunjungi
orang, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Mudah diakses dari tempat-tempat penting diluar site ( bahkan akan lebih
pelabuhan, bank, dan sarana public lainnya. Karena mengingat bangunan
memiliki skala pelayanan nasional sehingga harus diupayakan berada di jalur
transportasi utama.
Transportasi menuju dan keluar site mudah didapat.
Tidak di kawasan macet, karena dapat semakin menambah kekacauan pada
lalu lintas.
i. Area Pelayanan Jasa
Gedung ini didirikan untuk mengakomodasi masyarakat yang membutuhkan
pengenalan terhadap Budaya dan perkembangannya serta memperoleh
edukasi informal lainnya seperti seni tari, menyanyi, bermusik dan melukis,
khususnya bagi masyarakat Banda Aceh sendiri.
Menjadi bangunan yang melayani masyarakat dalam menggali potensi
tentang seni dan potensi untuk dapat melestarikan budaya Aceh di kawasan
Banda Aceh khususnya.
lingkungan sekitar merupakan lingkungan cagar budaya yang saling
berpengaruh terhadap pelestarian Budaya aceh itu sendiri. fungsi-fungsinya
dapat saling mendukung dengan bangunan yang direncanakan seperti fungsi
pelayanan kesenian dan pelestarian budaya sendiri.
Mitigasi Bencana
Pengert ian mit igasi adalah mengurangi at au menghilangkan dampak bencana.
Dimana t indakan yang perlu dilakukan adalah memant au bencana, melokalisir
daerah bencana (pet a rawan bencana), pendidikan, pelat ihan, penyuluhan dan
penyebaran informasi daerah bencanadan upaya penanggulangannya.
1. Mitigasi Bencana Tsunami
Tsunami adalah gelombang laut yang besar dan t erj adi secara t iba-t iba, sepert i
yang t erj adi baru-baru ini di daerah kaj ian, hampir seluruh wilayah Provinsi NAD
t erkena dampak Tsunami dengan skala kecil – sedang. Fakt or penyebabnya karena
adanya gempa di laut at au longsoran besar di dasar laut . Gelombang besar
Gempa pada t anggal 26 Desember 2004 t ersebut adalah gempa t erbesar dengan
skala 9.0, dengan pusat gempa berada pada 225 Km di selat an Kot a Banda Aceh
pada kedalaman 9-10 km, yang pernah t erj adi di daerah ini. Gempa bumi ini
diikut i gelombang t sunami yang menghant am hampir seluruh pesisir Provinsi NAD,
dengan kerusakan terparah melanda Banda Aceh hingga pantai barat Provinsi NAD.
2. Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
Perist iwa bencana gerakan t anah (t anah longsor) di Provinsi NAD j uga harus
diwaspadai karena didukung oleh berbagai f akt or sepert i bent uk t opograf i yang
relatif curam, kondisi geologi yang bervariasi dengan st rukt ur geologi yang
berkembang cukup int ensif dan dikont rol oleh sesar mendat ar ut ama (Semangko
Fault) dan curah huj an yang t inggi. Penyebabnya selain f akt or-f akt or alamiah
j uga disebabkan ulah manusia sepert i penebang pohon secara liar, pemot ongan
lereng dan penggalian bahan tambang tanpa memperhatikan kestabilan lereng.
Dalam perencanaan penggunaan lahan perlu memperhat ikan daerah-daerah yang
rawan longsor agar t idak menimbulkan bencana t erhadap manusia at au lingkungan
hidup. Pada dasarnya t uj uan penanggulangan gerakan t anah adalah melindungi
dan menyelamat kan penduduk t ermasuk hart a besert a sarana prasarana dari
ancaman bencana gerakan tanaH.
2.4.5 Analisa Pemilihan Lokasi
Mesjid Raya Baiturrahman
“Land Mark”
Site Taman Sari dan Cagar
Budaya Aceh
Berdasarkan faktor-faktor pertimbangan kriteria pemilihan lokasi di atas, ada tiga
alternatif yang terpilih. Dalam menentukan lokasi mana yang sesuai untuk bangunan
ini, dapat dilakukan dengan penilaian terhadap ketiga alternatif tapak tersebut
sebagai berikut.
A. Alternatif 1
Lokasi : Jl. Iskandar Muda Luas Lahan : ± 2.3 Ha
Batasan :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Taman Sari
Sebelah Timur : Berbatasan dengan jln Teuku Umar.
Sebelah Barat : Berbatasan sekolah Adi Dharma.
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan perkuburan kerkhoff.
Peraturan pemerintah setempat :
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40%.
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 1,2 – 2,8.
Garis Sempadan Bangunan : 12 m.
Tinggi Bangunan : Maksimum 12 m.
Dimensi Jalan : 8 m.
B. Alternatif 2
Lokasi : Jl. Muhammad Jam
Luas Lahan : ± 1 Ha
Batasan :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Mesjid Baiturrahman
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Genta Plaza.
Sebelah Barat : Berbatasan dengan pertokoan.
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Taman Sari.
Peraturan pemerintah setempat :
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40%
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 1,2 – 2,8
Garis Sempadan Bangunan : 2 m
Tinggi Bangunan : Maksimum 12 m
Dimensi Jalan : 8 m
C.. Alternatif 3
Lokasi : Jln. Teuku Umar. Luas Lahan : ± 1,5. Ha
Batasan :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Gunongan
Sebelah Timur : Berbatasan d