• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan dan Pengawasan Tayangan Iklan Rokok ditinjau Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaturan dan Pengawasan Tayangan Iklan Rokok ditinjau Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia."

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

PENG

ROKO

Diajukan

GATURA

OK DITI

PERLIN

n Untuk Me

DEP

PROGRA

UN

N DAN P

INJAU BE

NDUNGA

PARIW

elengkapi T Mempero ELSA N PARTEME AM KEKH

FAK

NIVERSIT

PENGAW

ERDASA

AN KONS

WARA IN

SKRIP

Tugas-Tugas oleh Gelar S

OLEH

AMARIA T

NIM : 070

EN HUKUM HUSUSAN

KULTAS

TAS SUM

MEDA

2011

WASAN T

ARKAN U

SUMEN D

NDONES

PSI

(2)

PENGATURAN DAN PENGAWASAN TAYANGAN IKLAN

ROKOK DITINJAU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG

PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN ETIKA

PARIWARA INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH :

ELSAMARIA TAMBUNAN

NIM : 070200113

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Dr. Hasim Purba, SH, M.Hum NIP. 196603031985081001

Pembimbing I Pembimbing II

Sinta Uli, SH, M.Hum Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum

Nip.195506261986012001 Nip. 196908201995121001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Allah Bapa yang Mahakuasa sehingga saya

dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini sebagai salah satu

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara.

Saya telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan skripsi ini

untuk memberikan hasil yang terbaik. Skripsi ini berjudul “Pengaturan dan

Pengawasan Tayangan Iklan Rokok ditinjau Berdasarkan Undang-Undang

Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia”. Skripsi ini

membahas mengenai pengaturan dari iklan rokok yang dapat dilihat dari berbagai

peraturan perundang-undangan, diantaranya Undang Undang Nomor 10 Tahun

1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia. Kemudian

juga dibahas mengenai pengawasan dari pemerintah, masyarakat, lembaga

perlindungan swadaya konsumen, dan asosiasi pelaku usaha. Dan skripsi ini juga

membahas mengenai pertanggungjawaban pelaku usaha terhadap tayangan iklan

rokok, bagaimana pelaku usaha bertanggungjawab terhadap konsumen secara

perdata, pidana serta administrasi negara dan mekanisme penyelesaian sengketa

tayangan iklan rokok yang dapat diselesaikan melalui 2 (dua) jalur yaitu secara

damai dan melalui pengadilan formal.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan baik dalam tata bahasa maupun ruang lingkup pembahasannya. Hal

ini tidak terlepas dari keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki. Oleh

(4)

karena itu, dengan senang hati saya menerima kritik dan saran yang sifatnya

membangun dan membantu penulis dalam menyempurnakan skripsi ini.

Saya menyadari bahwa keberhasilan dalam meyelesaikan skripsi ini tidak

terlepas dari bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini

saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum sebagai Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak sebagai Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum sebagai Pembantu

Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syafruddin, S.H., M.H., D.F.M sebagai Pembantu Dekan II Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak M.Husni, S.H.,M.Hum sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Sinta Uli, S.H., M.Hum sebagai Dosen Pembimbing I yang telah banyak

membantu dan memberikan pengarahan kepada saya dalam proses

penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum sebagai Dosen Pembimbing II yang

telah banyak membantu dan memberikan pengarahan kepada saya dalam

proses penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum , sebagai Ketua Jurusan Hukum

Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Dr. Suwarto, S.H., M.Hum sebagai Dosen Wali saya selama saya

(5)

9. Keluarga saya yang sangat saya kasihi: Papaku Drs J. Tambunan, MPd dan

Mamaku Dra N. Hutapea. Orangtua terbaik yang diberikan Tuhan pada saya,

yang tak pernah lelah mendukung saya dalam segala hal dan memberikan

motivasi yang membuat saya bangkit dari segala kelelahan saya. Buat kakak

saya Christine Sonya Tambunan,SE yang selalu memberikan nasihat yang

membangun kembali diri saya untuk semakin kuat sehingga bisa

menyelesaikan skripsi ini dan adik-adik saya Deddy Junior Tambunan dan

Lois Oinike Tambunan yang selalu memberi dukungan doa dan semangat buat

saya.

10.Saudara-saudara saya Anestasya Silaban, Febrima Silaban dan Septika Silaban

yang selalu membantu dalam segala hal dan memberikan nasihat-nasihat dan

saran-saran di luar dugaan yang membuat saya semangat dalam mengerjakan

skripsi ini.

11.Sahabat saya Christanti Silaban, Miranda Chairunnisa Li Pei Jung, Maryetta

Gultom dan Margareth Panjaitan yang selalu menjadi motivator bagi saya

dalam mengerjakan skripsi ini hingga dapat terselesaikan.

12.Teman-teman saya di Fakultas Hukum : Kak Tetty Sihombing, Kak Dea

Laura, Peggy Siahaan, Devi Juliana, Cory Sinaga, Bardixcon Tamba, Dian

Natalia, Andrianto Pasaribu, Howard Limbong, Lira Apriana, Sarah

Cascarina.

13.Buat seluruh staf dan pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(6)

Saya menyadari sepenuhnya bahwa terdapat kekurangan dalam

penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita

semua.

Medan, Januari 2011

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

ABSTRAK ... ..v

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 7

D. Tinjauan Kepustakaan ... 8

E. Metode Penelitian ... 26

F. Keaslian Penulisan ... 28

G. Sistematika Penulisan ... 28

BAB II : PENGATURAN TAYANGAN IKLAN ROKOK DAN BENTUK-BENTUK PELANGGARAN TAYANGAN IKLAN ROKOK ... 30

A. Pengertian Iklan ... 30

B. Tujuan, Prinsip serta Fungsi Iklan ... 31

C. Media Periklanan dan Pengaturan serta Perlindungannya ... 38

D. Tayangan Iklan Rokok dalam Peraturan Perundang-undangan dan Etika Pariwara Indonesia ... 42

E. Bentuk-Bentuk Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok ... 43

BAB III : PENGAWASAN TERHADAP TAYANGAN IKLAN ROKOK ... 51

A. Peranan Pemerintah dalam Pengawasan terhadap Tayangan Iklan Rokok ... 51

B. Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Pengawasan Tayangan Iklan Rokok ... 57

C. Pengawasan Iklan Rokok Yang Dilakukan Lembaga Perlindungan Swadaya Masyarakat ... 61

D. Bentuk Partisipasi Asosiasi Pelaku Usaha dalam Pengawasan Iklan Rokok ... 64

BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU USAHA TERHADAP TAYANGAN IKLAN ROKOK SERTA MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA TAYANGAN IKLAN ROKOK ... 67

(8)

B. Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Terhadap Pelanggaran Tayangan Iklan

Rokok ... 81

C. Penyelesaian Sengketa Konsumen Berkenaan Tayangan Iklan Rokok ... 93

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 114

A. Kesimpulan ... 114

B. Saran ... 117

(9)

PENGATURAN DAN PENGAWASAN TAYANGAN IKLAN ROKOK DITINJAU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

DAN ETIKA PARIWARA INDONESIA

Elsamaria Tambunan1 Sinta Uli 2 Dedi Harianto 3

ABSTRAK

Perkembangan iklan khususnya iklan rokok yang ditayangkan di televisi dan media massa mengakibatkan peningkatan terhadap jumlah konsumsi terhadap rokok. Hal ini diakibatkan oleh karena tayangan iklan rokok yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik perhatian masyarakat, termasuk anak-anak. Hal ini mengundang perhatian yang cukup banyak dari masyarakat apalagi tingkat perokok di bawah umur semakin bertambah. Disamping subtansi iklan rokok yang dibuat dalam bentuk animasi sehingga menarik, tak jarang pula iklan rokok yang melanggar jam tayang rokok sehingga tak jarang pula iklan rokok dilihat oleh anak-anak. Permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah Pengaturan Tayangan Iklan Rokok dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia serta Bentuk-Bentuk Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok yang Kerap Terjadi, Pengawasan terhadap Tayangan Iklan Rokok, dan Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Periklanan terhadap Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok.

Metode penulisan yang mendasari penulisan ini adalah yuridis normatif dengan penelitian kepustakaan yaitu penelitian terhadap data sekunder yaitu kajian yang digunakan terhadap peraturan peraturan perundang-undangan dan berbagai literatur yang berhubungan dengan judul skripsi. Pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah dengan penelitian kepustakaan (library research) dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet yang berkenaan dengan judul skripsi. Dalam menganalisis data digunakan metode analisis kualitatif agar dapat dipahami gejala yang ditelitinya.

Pengaturan mengenai tayangan iklan rokok diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 dan Etika Pariwara Indonesia. Pengawasan terhadap Tayangan Iklan rokok dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, lembaga perlindungan swadaya masyarakat dan asosiasi pelaku

      

1

Mahasiswi Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara

2

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3

(10)

usaha. Pertanggungjawaban pelaku usaha secara perdata, pidana dan administrasi negara serta mekanisme penyelesaian sengketa diluar pengadilan yakni secara damai dan melalui BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen), serta melalui pengadilan formal.

Pelaksanaan Iklan Rokok di Indonesia sebaiknya disertai dengan pengaturan mengenai iklan rokok sehingga terjamin perlindungan konsumen terhadap iklan rokok, ditingkatkannya kerjasama yang lebih besar lagi oleh Pemerintah, masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan pelaku usaha dalam melakukan pengawasan dan dimaksimalkannya pertanggungjawaban oleh pelaku usaha periklanan.

Kata kunci : * iklan rokok

(11)

PENGATURAN DAN PENGAWASAN TAYANGAN IKLAN ROKOK DITINJAU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

DAN ETIKA PARIWARA INDONESIA

Elsamaria Tambunan1 Sinta Uli 2 Dedi Harianto 3

ABSTRAK

Perkembangan iklan khususnya iklan rokok yang ditayangkan di televisi dan media massa mengakibatkan peningkatan terhadap jumlah konsumsi terhadap rokok. Hal ini diakibatkan oleh karena tayangan iklan rokok yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik perhatian masyarakat, termasuk anak-anak. Hal ini mengundang perhatian yang cukup banyak dari masyarakat apalagi tingkat perokok di bawah umur semakin bertambah. Disamping subtansi iklan rokok yang dibuat dalam bentuk animasi sehingga menarik, tak jarang pula iklan rokok yang melanggar jam tayang rokok sehingga tak jarang pula iklan rokok dilihat oleh anak-anak. Permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah Pengaturan Tayangan Iklan Rokok dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia serta Bentuk-Bentuk Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok yang Kerap Terjadi, Pengawasan terhadap Tayangan Iklan Rokok, dan Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Periklanan terhadap Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok.

Metode penulisan yang mendasari penulisan ini adalah yuridis normatif dengan penelitian kepustakaan yaitu penelitian terhadap data sekunder yaitu kajian yang digunakan terhadap peraturan peraturan perundang-undangan dan berbagai literatur yang berhubungan dengan judul skripsi. Pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah dengan penelitian kepustakaan (library research) dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet yang berkenaan dengan judul skripsi. Dalam menganalisis data digunakan metode analisis kualitatif agar dapat dipahami gejala yang ditelitinya.

Pengaturan mengenai tayangan iklan rokok diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 dan Etika Pariwara Indonesia. Pengawasan terhadap Tayangan Iklan rokok dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, lembaga perlindungan swadaya masyarakat dan asosiasi pelaku

      

1

Mahasiswi Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara

2

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3

(12)

usaha. Pertanggungjawaban pelaku usaha secara perdata, pidana dan administrasi negara serta mekanisme penyelesaian sengketa diluar pengadilan yakni secara damai dan melalui BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen), serta melalui pengadilan formal.

Pelaksanaan Iklan Rokok di Indonesia sebaiknya disertai dengan pengaturan mengenai iklan rokok sehingga terjamin perlindungan konsumen terhadap iklan rokok, ditingkatkannya kerjasama yang lebih besar lagi oleh Pemerintah, masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan pelaku usaha dalam melakukan pengawasan dan dimaksimalkannya pertanggungjawaban oleh pelaku usaha periklanan.

Kata kunci : * iklan rokok

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Iklan dapat dilukiskan sebagai komunikasi antara produsen dan pasaran,

antara penjual dan calon pembeli.4 Dalam proses komunikasi itu iklan

menyampaikan sebuah “pesan”. Dengan demikian menimbulkan kesan bahwa

periklanan terutama bermaksud memberi informasi yang tujuan terpentingnya

adalah memperkenalkan sebuah produk atau jasa. Meski banyak orang tidak

begitu menyukai selingan iklan namun iklan dapat menarik perhatian dan cukup

berpengaruh bagi perilaku konsumen sehingga berpengaruh pula terhadap

keputusan pembeli. Masyarakat cenderung merasa bangga memakai produk –

produk yang diiklankan dibandingkan produk yang tidak pernah dilihat dalam

iklan.

Iklan adalah “segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang

disampaikan lewat suatu media, baik cetak maupun elektronik yang ditujukan

kepada sebagian atau seluruh masyarakat”.5 Dengan demikian, iklan merupakan

suatu alat komunikasi antara produsen / penjual dan para konsumen/ pembeli.

Periklanan adalah “keseluruhan proses yang meliputi penyiapan,

perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan iklan”.6 Sebelum menyampaikan

iklan kepada masyarakat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, pertama perlu

mengenal dan menentukan sasaran khalayaknya. Setelah itu, dapat ditentukan

      

4

K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, ( Yogyakarta : Kanisius, 2000 ), hal. 264.

5

Niken Tri Hapsari, Seluk-Beluk Promosi & Bisnis : Cerdas Beriklan untuk Usaha Kecil & Menengah , (Yogyakarta : A+ Plus Books, 2010), hal. 36.

6

(14)

media yang akan digunakan lalu merancang pesan iklan yang sesuai dengan

kebutuhan.

Periklanan memiliki dua fungsi yaitu; fungsi informatif dan fungsi

persuasif. Didalam dunia bisnis sering berbicara tentang periklanan seolah-olah

fungsinya yang utama adalah menyediakan informasi, sedangkan dalam dunia

konsumen periklanan terutama dilihat sebagai usaha promosi. Pada kenyataannya

tidak ada iklan yang mata informatif dan tidak iklan juga yang

semata-mata persuasif. Sebagai perbandingannya, iklan dalam sektor jasa, seperti asuransi

dan pariwisata, memiliki unsur informatif yang dominan sedangkan iklan yang

ada banyak mereknya, seperti iklan pakaian dan makanan, memiliki unsur

persuasif yang dominan.7

Pada aspek pemasaran (marketing) iklan menempati posisi penting. Setiap

perusahaan selalu mengalokasikan dana khusus yang tidak sedikit untuk

keperluan periklanannya. Besarnya pengeluaran bagi periklanan merupakan

konsekuensi yang logis dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari

hasil penjualan produk.8

Iklan merupakan sarana bagi produsen untuk menjual produknya pada

masyarakat selaku konsumen secara tidak langsung. Masyarakat selaku konsumen

akan mengetahui mengenai adanya suatu produk ketika melihat iklan mengenai

produk tersebut di televisi ataupun surat kabar. Dan ketika konsumen tersebut

merasa tertarik dengan mutu, kualitas, fungsi, dan lain-lain yang dijanjikan

melalui iklan dan dianggap sesuai dengan kebutuhannya saat itu maka mereka

      

7

Ibid, hal. 264-265.

8

(15)

akan memakai atau membeli barang tersebut. Sejak awal para pelaku usaha

meyakini bahwa iklan memberikan sumbangsih yang berharga pada pasca

produksi.

Banyaknya iklan terkadang tidak disadari oleh masyarakat pada umumnya.

Sejak mulai berangkat dari rumah, membaca surat kabar, melihat reklame,

pamflet, menyetel radio, televisi, sampai kembali kerumah. Mulai dari iklan yang

bermutu sampai iklan yang hanya menjual mimpi, selalu mengikuti kemana dan

dimanapun masyarakat berada. Daya pikat psikologis dan sentimen-sentimen

konsumtif menjadi sasaran utama sebagian besar pelaku usaha periklanan.

Meskipun iklan tersebut ditopang oleh data yang tidak cukup untuk dijadikan

rujukan bagi relevansi iklan. Oleh karena itu sudah menjadi tanggung-jawab bagi

pelaku usaha untuk memberikan data atau informasi yang sebenarnya bagi

konsumen untuk diketahui, bukan data yang dilebih-lebihkan atau yang

dikurang-kurangi.

Produk-produk yang memiliki inovasi iklan yang sangat tinggi adalah

seperti sabun mandi, sabun cuci, deterjen, pasta gigi, susu balita, dan rokok.

Apabila diteliti secara seksama, iklan rokok merupakan penyumbang income yang

cukup tinggi bagi media elektronik dan media massa. Namun, kebanyakan pada

media elektronik yaitu televisi sehingga dapat dilihat frekuensi iklan rokok yang

cukup tinggi pada televisi. Iklan mengenai rokok yang muncul di televisi

memberikan banyak pandangan dari kalangan luas, ada banyak pandangan yang

muncul namun sebagian besar adalah pandangan buruk. Iklan rokok yang

(16)

dikarenakan iklan rokok yang dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak muda

atau bahkan anak-anak yang dibawah umur yang merupakan generasi muda

bangsa melihat tayangan iklan tersebut menjadi tergoda dan terangsang

mengkonsumsinya tanpa mengetahui secara nyata dampak yang ditimbulkan dari

pengkonsumsian rokok tersebut.9

Bentuk pelanggaran dalam suatu tayangan iklan rokok dapat berupa

pelanggaran terhadap jam tayang ataupun substansi dari iklan tersebut yang dibuat

sedemikian rupa sehingga menarik perhatian penonton. Bentuk pelanggaran

terhadap substansi atau isi iklan berupa penggunaan animasi yang dapat menarik

perhatian anak-anak atau adanya penunjukkan wujud rokok secara nyata dalam

iklan tersebut. Sedangkan bentuk pelanggaran terhadap jam tayang biasanya

dilakukan diluar waktu penayangan iklan rokok ( pukul 21.30 hingga 05.00).

Seringkali iklan rokok tidak dilakukan secara nyata sebagai iklan namun

pengiklanan melalui event-event atau acara tertentu sebagai sponsor acara tersebut

yang mana acara yang disponsori melibatkan anak-anak muda, misalnya acara

olahraga atau konser musik.10

Tayangan iklan rokok tersebut tentu saja menimbulkan keresahan dalam

masyarakat. Pemerintah secara tidak langsung dituntut untuk mengatur dan

mengawasi pelaksanaan iklan rokok yang ditayangkan di berbagai media, baik

media cetak maupun media elektronik. Berbagai upaya yang dilakukan oleh

masyarakat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan Badan-Badan

      

9

“Pelanggaran Media Televisi Terhadap Iklan Rokok”, (http:// belajareti

ka.blogspot/2010/05/pelanggaran-media-televisi-terhadap.html ), diakses pada tanggal 22 September 2010.

10

(17)

Perlindungan Konsumen, seperti : YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen

Indonesia), BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional) yang menutut sikap

tanggap dari pemerintah untuk mengatasi keresahan masyarakat.

Keberadaan YLKI sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran

atas hak-hak konsumen. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau

pengujian, penerbitan, dan menerima pengaduan, tetapi sekaligus juga

mengadakan upaya advokasi langsung melalui jalur pengadilan.11

Meskipun sebagian besar dari gugatan yang diajukan tidak memberikan

hasil yang memuaskan namun membuktikan bahwa masyarakat dan lembaga

swadaya lainnya dapat bertindak untuk melindungi hak-hak konsumen khususnya

atas pelanggaran tayangan iklan rokok.

Disamping menggugat para pelaku usaha apabila melakukan pelanggaran

tayangan iklan rokok, masyarakat dan lembaga swadaya lainnya dapat mendesak

pemerintah untuk menegakkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Masyarakat jakarta dominan mendukung KTR dibandingkan dengan yang

tidak mendukung KTR. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai

resah dengan akibat yang ditimbulkan oleh rokok tersebut yang mana kemunculan

dari pengkonsumsian rokok berasal dari banyaknya tayangan-tayangan iklan

rokok yang dilihat oleh masyarakat yang secara tidak langsung mendorong

pengkonsumsian dari rokok tersebut.

Hal-hal yang telah diuraikan diatas menunjukkan bahwa tayangan dari

iklan rokok memerlukan suatu pengaturan dan pengawasan yang baru dari

      

11

(18)

pemerintah selaku aparat hukum yang paling berwenang dalam masalah ini. UU

No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara

Indonesian sebagai produk hukum dari pemerintah diharapkan dapat membantu

dalam pengaturan terhadap pelaku usaha dalam membuat tayangan iklan rokok

yang tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Disamping itu juga,

diperlukan adanya peranan dari Masyarakat, Lembaga Perlindungan Konsumen

Swadaya Masyarakat (LPKSM), Asosiasi Pelaku Usaha Periklanan, Komisi

Penyiaran Indonesia dan Departemen Kesehatan sebagai pihak-pihak yang dapat

membantu tugas dari pemerintah dalam pengawasan dari perilaku pelaku usaha

dalam membuat tayangan iklan rokok. Dan diharapkan akan ada sikap

bertanggungjawab bagi pelaku usaha dalam mengiklankan produknya (dalam hal

ini rokok) dan upaya penyelesaian sengketa apabila ternyata akan timbul suatu

masalah konsumen.

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakan masalah diatas, maka penulis merumuskan

latar belakang dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaturan tayangan iklan rokok dalam Undang-undang

Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia serta

bentuk-bentuk pelanggaran tayangan iklan rokok yang kerap terjadi ?

(19)

3. Bagaimanakah pertanggungjawaban pelaku usaha periklanan terhadap

pelanggaran tayangan iklan rokok dan mekanisme penyelesaian sengketa

pelanggaran tayangan iklan rokok ? 

C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui Pengaturan Tayangan Iklan Rokok dalam Undang-Undang

Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara Indonesia serta

Bentuk-Bentuk Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok yang Kerap Terjadi.

2. Mengetahui Pengawasan Tayangan Iklan Rokok oleh Pemerintah,

Masyarakat, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat dan

Asosiasi Pelaku Usaha Periklanan.

3. Mengetahui Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Periklanan terhadap

Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok dan Mekanisme Penyelesaian

Sengketa Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan manfaat

praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan

pemikiran bagi peneyempurnaan peraturan perundang-undangan di bidang

perlindungan konsumen, khususnya berkaitan dengan periklanan rokok.

Selain itu, hasil penelitian ini juga akan dapat menambah khasanah

(20)

periklanan pada khususnya, serta dapat dijadikan sebagai bahan informasi

yang memuat data empiris sebagai dasar penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan Yayasan

Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI), Persatuan

Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) dan Pemerintah dalam menata

Peraturan Perlindungan Konsumen serta peraturan yang berkaitan dengan

periklanan di Indonesia, juga bagi para produsen, serta masyarakat umum,

mengenai berbagai problema praktis yang dihadapi dalam menegakkan

hak konsumen dalam memperoleh informasi produk, terutama melalui

media iklan. Juga dapat dijadikan sebagai landasan operasional bagi

instansi yang terkait dalam menanggulangi hambatan-hambatan dalam

penerapan peraturan perlindungan konsumen pada umumnya, hak

konsumen atas informasi melalui media iklan pada khususnya.

D. Tinjauan Kepustakaan

Iklan mengandung arti advertensi, reklame, pemberitahuan. Advertensi itu

sendiri berarti pemberitahuan di surat kabar (majalah, dan sebagainya), untuk

menawarkan barang dan sebagainya. Sedangkan arti reklame adalah

pemberitahuan kepada umum tentang barang dagangan (pujian, gambar dan

sebagainya) supaya laku. Jadi pemasangan suatu iklan, bertujuan untuk

mempengaruhi konsumen agar membeli barang atau produk atau suatu jasa dari

(21)

produsen dengan konsumen, harus menyajikan kebenaran dari apa yang

diiklankan. Iklan yang ditujukan ini haruslah menarik perhatian, menimbulkan

kesan, membangkitkan perhatian dan memancing reaksi.12

Agar promosi melalui iklan tidak sia-sia, sebaiknya promosi diarahkan

untuk mencapai tujuan khusus dari periklanan. Tujuan-tujuan periklanan adalah

tujuan yang diupayakan untuk dicapai oleh periklanan. Secara umum, tujuan iklan

adalah : 13

1. Menciptakan pengenalan merek dan perusahaan

Dengan beriklan, seorang pemilik usaha dapat memperkenalkan produk, dan perusahaan.

2. Memosisikan produk di mata konsumen

Dengan mengiklankan produk, berarti merupakan usaha memosisikan hal tersebut di benak konsumen. Tujuan mengiklankan barang atau jasa adalah agar produk yang dijual masuk dalam posisi utama di benak konsumn sehingga mereka bisa menjadi pelanggan yang setia.

3. Mendorong konsumen untuk mencoba barang maupun jasa yang ditawarkan karena iklan yang bagus adalah iklan yang membuat orang yang melihat penasaran untuk mencoba apa yang ditawarkan dalam iklan tersebut.

4. Mendukung terjadinya pembelian uang

Sebuah iklan yang dimaksudkan untuk mendorong konsumen melakukan pembelian ulang. Seandainya sudah konsumen yang pernah membeli produk yang dijual, maka dengan adanya iklan diharapkan bisa mengingatkan para konsumen atas keberadaan barang maupun jasa yang dijual tersebut sehingga mendorong konsumen untuk melakukan pembelian ulang.

5. Membina loyalitas pelanggan

Salah satu harapan yang diinginkan setelah mengiklankan adalah membina loyalitas dengan pelanggan. Secara tidak langsung, iklan mampu mengingatkan konsumen atas keberadaan produk yang diiklankan itu dan bisa saja produk itu mampu menempati posisi yang bagus di benak konsumen sehingga mereka bisa menjadi pelanggan yang setia.

6. Menginformasikan keistimewaan barang atau jasa baru

Iklan juga bisa digunakan untuk menginformasikan produk baru dengan menjelaskan keunggulan dan keistimewaan dari barang baru tersebut. 7. Meningkatkan citra

      

12

WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1986 ), hal. 372.

13

(22)

Sebuah produk yag diiklankan kemungkinan kenaikan citranya lebih besar daripada produk yang tidak diiklankan sama sekali. Jadi, agar produk dari usaha kita bisa naik nilai citranya di mata konsumen, maka ada baiknya produk tersebut diiklankan. Sebagian besar konsumen Indonesia akan merasa bangga mengkonsumsi produk-produk yang terkenal atau paling tidak yang pernah mereka lihat dari iklan atau dengar dari orang lain.

Menurut Howard Beales, yang dikutip dalam buku Taufik H.S, setidaknya

ada 4 (empat) hal yang harus diatur dalam suatu regulasi yang efisien, berkenaan

dengan pentingnya informasi bagi konsumen yang mengikat secara hukum bagi

pelaku usaha yang terlibat dalam memproduksi suatu iklan :14

1. Consumers Information in the Law

Bahwa informasi bagi konsumen sekaligus menjadi kewajiban bagi produsen, yang dilindungi secara hukum.

Informasi penting yang harus dikemukakan oleh produsen tersebut menyangkut tentang harga, kualitas/mutu, efek samping, dan hal-hal lain yang perlu diketahui konsumen sebagai rujukan ketika konsumen berniat hendak membeli produk barang atau jasa.

2. Information Markets and Market Failures

Yaitu : suatu informasi pasar yang mengiklankan suatu produk barang dan jasa secara berlebihan, sehingga konsumen mendapatkan informasi yang salah.Dari arti kata market failures, yang apabila diterjemahkan secara bebas berarti “kegagalan pasar”, patut diduga hal tersebut sengaja dilakukan untuk menarik minat pembeli.

Meskipun tidak tertutup kemungkinan informasi yang salah tersebut disebabkan salah satu pihak pengiklan (perusahaan yang mengeluarkan produk), perusahaan periklanan (biro iklan), atau media periklanan- dengan maksud yang tidak baik memberikan informasi secara berlebihan. 3. Information Remedies

Pegendalian Informasi dapat diklasifikasikan pada 3 (tiga) kategori umum, yaitu:

a. Removing restrains on information

Yaitu : suatu usaha-usaha untuk melakukan pemantauan sekaligus pengendalian secara terus-menerus terhadap informasi-informasi produk barang dan jasa yang diterima konsumen.

b. Correcting misleading information

Yaitu : suatu usaha-usaha untuk mengklasifikasikan claim (gugatan) yang memang disebabkan kesalahan dan perilaku buruk dari produsen. Atau, justru, bukan karena kesalahan produsen, melainkan lebih

      

14

(23)

disebabkan kesalahan perusahaan periklanan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

c. Encouraging additional information

Yaitu : kecenderungan produsen memberikan informasi secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi dan karakteristik produk yang sebenarnya.

4. Policy Implication

Yaitu suatu kondisi dimana hak-hak konsumen, khususnya untuk mendapatkan informasi yang benar dari suatu produk barang dan jasa, akan semakin terlindungi.

Dengan demikian, informasi-informasi yang diperlukan oleh konsumen

sekaligus yang harus disampaikan produsen adalah menyangkut tentang harga

(price), jumlah (quantity), mutu (quality), cara penggunaan, efek samping, dan

keterangan-keterangan lainnya, yang dapat membantu konsumen dalam

memutuskan untuk membeli atau tidak suatu produk barang dan jasa. Sekaligus

informasi-informasi tersebut juga membantu produsen untuk menetapkan bentuk

atau standar produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Penetapan tujuan periklanan harus berdasarkan sasaran pasar, penentuan

posisi pasar dan gabungan metode pemasaran dan juga untuk meningkatkan

penjualan yang menguntungkan perusahaan. Setelah sasaran pasar, penentuan

posisi pasar dan gabungan metode pemasaran jelas, baru menetapkan tujuan

periklanan. Jika dilihat berdasarkan sasarannya, periklanan memiliki tujuan

sebagai berikut : Iklan Informatif, Iklan Pembujuk (Persuasif), Iklan Pengingat,

Iklan Penambah Nilai, Iklan Bantuan Aktivitas lain.15

Berdasarkan kategori diatas, iklan rokok memiliki sasaran Pembujuk

(Persuasif). Iklan persuasif berfungsi untuk meyakinkan konsumen bahwa produk

mereka benar-benar berbeda atau bahkan lebih baik dibandingkan produk pesaing.

      

15

(24)

Maka iklan rokok pada umumnya berusaha untuk melakukan upaya-upaya dalam

periklanan yang berusaha untuk membujuk konsumen agar memakai merek

tertentu.

Dalam membuat suatu iklan, pelaku usaha harus memperhatikan asas- asas

umum kode etik periklanan agar tidak melanggar hak-hak konsumen antara lain

:16

1. Iklan harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan

ketentuan hukum yang berlaku.

2. Iklan tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat

negara, agama, adat budaya, hukum dan golongan.

3. Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat.

Tetapi sekarang ini, banyak sekali pelaku usaha yang melakukan

pelanggaran terhadap tayangan iklan yang dibuatnya untuk mempromosikan

produknya. Hal-hal tersebut dapat berupa materi periklanan tersebut sampai jam

penayangan dari iklan tersebut. Dan iklan yang akan menjadi konsentrasi dari

penulis adalah iklan rokok.

Iklan rokok merupakan suatu jenis iklan yang memiliki banyak sekali

pembatasan dalam penayangan di media elektronik. Media elektronik terdiri dari

media komunikasi, media visual, dan media audio visual. Yang termasuk media

komunikasi adalah radio dan televisi. Televisi juga dapat disebut sebagai media

audio visual. Sedangkan media visual dan media audio visual bertujuan agar

konsumen dapat melihat dengan jelas iklan tersebut. Media visual misalnya,

      

16

(25)

papan reklame, alat transportasi umum, slide, spanduk, dan pameran-pameran.

Sedangkan media audio visual contohnya adalah video, bioskop, tempat-tempat

pertunjukan, dan lain-lain. Yang akan menjadi pembahasan dalam skripsi ini

adalah tayangan iklan rokok dalam media media komunikasi yakni televisi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen

Indonesia) terhadap hasil monitoring yang dilakukan serentak terhadap lima

stasiun televisi swasta, mengambil waktu tayang antara jam 18.00-22.00

(diambilnya jam tayang tersebut dengan alasan merupak an primetime dengan

acara unggulan yang banyak dikonsumsi dari kalangan remaja, anak, dan ibu

[image:25.595.107.517.443.642.2]

rumah tangga. Dari kegiatan tersebut didapat hasil dalam tabel berikut :17

Tabel 1

Rating Stasiun Televisi Swasta dalam Penayangan Iklan Rokok.

No. Stasiun Jumlah Penayangan

1. RCTI 43 kali penayangan

2. SCTV 43 kali penayangan

3. INDOSIAR 33 kali penayangan

4. ANTV 19 kali penayangan

5. TPI 7 kali penayangan

Jumlah : 145 kali penayangan

Sumber : YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)

      

17

(26)

Tabel diatas menunjukkan bahwa setiap stasiun televisi swasta sering

seklai menayangkan iklan rokok. Dan semakin tinggi rating dari suatu stasiun

swasta itu, maka semakin sering pula stasiun televisi swasta itu melakukan

penanyangan iklan rokok. Hal ini mengakibatkan masyarakat semakin sering

melihat tayangan iklan rokok karena sering ditayangkan oleh stasiun-stasiun

televisi favorit dari masyarakat.

Lebih lanjut berdasarkan pemantauan YLKI (Yayasan Lembaga

Konsumen Indonesia) selama November-Desember 2001 ditemukan pelanggaran

jam tayang yang dilakukan oleh PT Djarum Kudus dan PT HM Sampoerna

sebanyak 34 pelanggaran. Dimana PT Djarum Kudus melakukan 32 pelanggaran

antara lain, iklan rokok merek Djarum Black yang ditayangkan di RCTI pada jam

13.51.50, jam 14.04.19, jam 10.05.24, dan jam 11.05.24 WIB. Adapun

pelanggaran yang dilakukan oleh PT HM Sampoerna ada dua : iklan rokok

Sampoerna A Mild ditayangkan di RCTI pukul 21.27.25 dan SCTV pukul

20.05.25 WIB.18

Pada tahun 2006, iklan rokok menempati urutan kedua setelah iklan

industri telekomunikasi, yaitu sebesar Rp. 1,6 triliun (satu koma enam triliun

rupiah), dari total belanja iklan nasional sebesar Rp. 37 triliun (tiga puluh tujuh

triliun rupiah). Pada tahun 2009, iklan nasional mencapai Rp. 48,5 triliun (empat

puluh delapan koma lima triliun rupiah) dan iklan rokok semakin dominan.19

Artinya stasiun televisi semakin banyak yang menayangkan iklan rokok

dibandingkan dengan iklan produk-produk lain.

      

18

Andriani Lumankun – Soetoto, Majelis Hakim Tolak Gugatan Iklan Rokok, (http://pub web.acns.nwu.edu/-ejw923/iklan1.html), diakses tanggal 5 Desember 2010.

19

(27)
[image:27.595.107.517.159.538.2]

Tabel 2

Rating Merek pemasang iklan di media Elektronik.

No. Merek Jumlah Ditayangkan

1. Sampoerna A Mild 43 kali ditayangkan

2. Djarum Super 43 kali ditayangkan

3. Gudang Garam 33 kali ditayangkan

4. Pall Mall 19 kali ditayangkan

5. Bentoel Light 9 kali ditayangkan

6. Long Beach 7 kali ditayangkan

7. Sampoerna Hijau 5 kali ditayangkan

8. Mustang 3 kali ditayangkan

9. Wismilak Diplomat 3 kali ditayangkan

10. Wismilak Spesial 1 kali ditayangkan

11. Kennedy 1 kali ditayangkan

Jumlah : 145

[image:27.595.100.517.165.537.2]

Sumber : YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)

Tabel kedua menunjukkan mengenai tingkat penayangan terhadap merek

dari rokok. Tabel diatas menunjukkan bahwa semakin terkenal merek rokok

tersebut maka semakin sering pula merek rokok tersebut ditayangkan di televisi.

Pada Tahun 2007, Komisi Nasional Perlindungan Anak pernah melakukan

penelitian terhadap dampak iklan rokok. Dari hasil penelitian tersebut diketahui

bahwa anak yang berusia antara 13 - 15 tahun cenderung terdorong dan

(28)

besarnya pengaruh dari sebuah iklan rokok terhadap anak-anak. Anak-anak yang

cenderung masih dalam keadaan labil otomatis akan terpengaruh atas iklan yang

ditayangkan pada televisi, dan kemungkinan akan meniru apa yang ditunjukkan

dalam iklan tersebut tanpa dapat menyaring apakah perbuatan tersebut baik atau

buruk. Apalagi anak-anak yang menonton tayangan iklan rokok tanpa didampingi

orangtua atau orang dewasa.

Besarnya pengaruh tayangan iklan rokok yang ditayangkan pada televisi

otomatis meningkatkan jumlah konsumsi rokok dalam masyarakat. Apabila

berbicara mengenai konsumen rokok, tidak ada batasan terhadap umur. Bagi

orang dewasa mengkonsumsi rokok merupakan hal yang lazim meskipun

dipandang dari segi kesehatan tetap tidak baik. Namun bila berbicara soal anak

yang berada dibawah umur menjadi pertimbangan lain. Pengaruh tayangan iklan

rokok terhadap konsumsi rokok oleh anak dibawah umur dapat dibuktikan melalui

data yang dikeluarkan oleh Data Survei Ekonomi Nasional 2004 yang

menunjukkan prevelansi merokok anak usia 15-19 tahun mencapai 32,8 % (tiga

puluh dua koma delapan persen). Perokok yang mulai merokok pada usia 5-9

tahun meningkat tajam 144 % (seratus empat puluh empat persen) dari tahun 2001

ke 2004. Pada tahun 2008 prevelensi diperkirakan meningkat mencapai 37 % (tiga

puluh tujuh persen) sehingga dari 70 (tujuh puluh ) juta jumlah anak di Indonesia,

25,9 (dua puluh lima koma sembilan) juta anak diantaranya merokok. Hal ini

(29)

merokok, juga mempengaruhi kemajuan negara dimana sebagian besar generasi

muda sudah mulai merokok sejak dini.20

Selain itu, penelitian dari Satgas Perlindungan Anak Pengurus Pusat

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2000 menemukan bahwa anak

mulai merokok pada usia yang semakin kecil. Pada tahun 1970 - 1980 anak mulai

merokok pada usia 12 (dua belas) tahun , pada tahun 1980 - 1990 anak mulai

merokok pada usia 10 (sepuluh) tahun, sedangkan pada awal 2000 ditemukan

bahwa anak mulai merokok pada usia 7 (tujuh) tahun.21 Hal ini jelas menjadi

pemikiran yang serius bagi pemerintah dimana semakin kedepan semakin tinggi

tingkat konsumsi rokok dan semakin muda usia perokok.

Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa sejak 10 (sepuluh)

tahun lalu telah terdapat banyak sekali pelanggaran yang dilakukan terhadap jam

tayang iklan rokok yang menyebabkan dampak yang begitu besar pada

masyarakat terutama anak-anak. Dengan dimulainya pengkonsumsian rokok oleh

anak-anak mulai dari sejak dini akan mengakibatkan dampak buruk bagi

perkembangan anak-anak tersebut. Dan apabila semakin banyak anak yang

mengkonsumsi rokok sejak kecil akan berdampak pada masa depan generasi

muda dan masa depan bangsa.

Hal tersebut ditunjang oleh tayangan iklan rokok yang secara tidak

langsung mendorong para remaja untuk bereksperimen dengan tembakau dan

mencoba merokok.WHO (World Health Organization) atau Badan Kesehatan

      

20

“Kisah Anak – Anak Tersihir Iklan Rokok”, (http://www.vhrmedia .com/ vhr-story/kisah,anak-anak-tersihir-iklan-rokok-142.html ), pada tanggal 23 juli 2010.

21

(30)

Dunia menyatakan sudah terbukti bahwa larangan menyeluruh terhadap iklan

rokok mengurangi konsumsi tembakau tetapi larangan sebagian (parsial) hanya

sedikit atau bahkan tidak berdampak sama sekali. Ketika suatu jenis iklan

dilarang, industri tembakau akan beralih ke jenis lain. Iklan rokok di Indonesia

oleh Perusahaan Tembakau termasuk juga dalam keterlibatan sebagai sponsor

dalam kegiatan olahraga, acara remaja, dan konser musik. Akibatnya, anak-anak

di Indonesia sangat terpengaruh oleh iklan rokok yang mengasosiasikan merokok

dengan keberhasilan dan kebahagiaan. 22

Apabila hendak berbicara mengenai pengaturan dan pengawasan maka

tidak akan terlepas dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga konsumen swadaya

masyarakat.

Dalam UU Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa “ Pengawasan

terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan ketentuan

peraturan perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat,

dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat”.23

Dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001

tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen,

disebutkan bahwa perlindungan konsumen dilakukan secara bersama-sama oleh

      

22

“WHO : Iklan Rokok Dorong Remaja Merokok”, (http://www.info anda.com/ id/link.php?ih=VIVVBVNUVFVY), diakses pada tanggal 23 juli 2010.

23

(31)

pemerintah, masyarakat dan LPKSM, mengingat banyak ragam dan jenis barang

dan/atau jasa yang beredar di pasar serta luasnya wilayah Indonesia.24

Berdasarkan penjelasan tersebut, tugas pengawasan tidak hanya

dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat umum dan Lembaga Perlindungan

Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) juga bisa terlibat secara aktif. Namun

apabila kita menitikberatkan pada Pasal 30 UUPK yang telah diuraikan diatas

dapat disimpulkan bahwa pengawasan lebih banyak menitikberatkan pada peran

masyarakat dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat,

dibanding dengan peran pemerintah yang pelaksanaanya dilakukan oleh menteri

dan/atau menteri terkait.

Seperti terlihat dalam pasal tersebut pemerintah diserahi tugas melakukan

pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan

ketentuan peraturan perundang-undangannya. Sementara pengawasan oleh

masyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat, selain

tugas yang sama dengan apa yang menjadi tugas pemerintah diatas, juga diserahi

tugas pengawasan terhadap barang dan/ atau jasa yang beredar di pasar.

Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 30 ayat 4 juga menentukan bahwa, “apabila pengawasan oleh masyarakat dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPSKM) ternyata mendapatkan hal-hal yang menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dan membahayakan konsumen, menteri dan/atau menteri teknis mengambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”25

      

24

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen , Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 103, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4126.

25

(32)

Maka, dapat disimpulkan bahwa tugas pengawasan terhadap iklan rokok

paling besar terletak pada masyarakat serta lembaga perlindungan konsumen

masyarakat sedangkan pemerintah hanya melakukan pengawasan terhadap produk

(rokok) itu telah tersebar dalam pasar akibat dari pengaruh tayangan iklan dalam

media elektronik yakni televisi. Dimana pemerintah akan melakukan pengawasan

terhadap iklan rokok apabila telah terdapat pengaduan dari masyarakat maupun

lembaga perlindungan konsumen terhadap adanya suatu pelanggaran terhadap

ketentuan periklanan rokok dalam media elektronik.

Sejalan dengan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah maka

pemerintah akan melakukan suatu pengaturan terhadap tayangan iklan rokok yang

terealisasi dari produk-produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah baik

berupa undang-undang maupun peraturan pemerintah.

Beberapa peraturan perundangan yang mengatur antara lain :

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Etika Pariwara

Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan

pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen, Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dan Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2000 tentang Perubahan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 1999 tentang

Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Melalui peraturan perundangan yang diatas

maka pemerintah dapat melakukan pengaturan terhadap tayangan iklan rokok

(33)

Namun, apabila ternyata tayangan yang dilakukan oleh pelaku usaha

menimbulkan sengketa pada suatu waktu terhadap konsumen, maka pelaku

konsumen dapat dituntut pertanggungjawabannya.

Prinsip tentang tanggungjawab merupakan perihal yang sangat penting

dalam hukum perlindungan konsumen. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak

konsumen, diperlukan kehati-hatian dalam menganalisis siapa yang harus

bertanggungjawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada

pihak-pihak terkait.26

Beberapa sumber formal hukum, seperti peraturan perundang-undangan

dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan

pembatasan-pembatasan terhadap tanggung jawab yang dipikul oleh si pelanggar

hak konsumen. Secara umum, prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat

dibedakan sebagai berikut :27

1. Kesalahan (liability based on fault);

2. Praduga selalu bertanggungjawab (presumption of liability);

3. Praduga selalu tidak bertanggungjawab (presumption of nonliability);

4. Tanggung jawab mutlak (strict liability);

5. Pembatasan tanggung jawab (limitation of liability).

Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault liability atau

liability based on fault ) adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalan hukum

pidana dan perdata. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, khususnya

Pasal 1365, 1366, dan 1367, prinsip ini dipegang secara teguh. Prinsip ini

      

26

Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta : Grasindo, 2000), hal. 59.

27

(34)

menyatakan, seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara

hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya. Yang dimaksud kesalahan

adalah unsur yang bertentangan dengan hukum. Secara common sense, asas

tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat

salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. Dengan kata lain, tidak adil

jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang

lain.28

Prinsip Praduga untuk selalu bertanggung jawab menyatakan, tergugat

selalu dianggap bertanggung jawab (presumption of liability principle), sampai ia

dapat membuktikan ia tidak bersalah. Jadi, beban pembuktian ada pada si

tergugat.29

Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab adalah kebalikan

dari prinsip kedua. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab

(presumption nonliability principle) hanya dikenal dalam lingkup transaksi

konsumen yang sangat terbatas, dan pembatasan demikian biasanya secara

common sense dapat dibenarkan.30

Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) mengandung pengertian

prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang

menentukan. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan

      

28

Ibid, hal. 93-94.

29

Ibid.

30

(35)

konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha, khususnya

produsen barang, yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. 31

Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability

principle) sangat merugikan konsumen apabila ditetapkan secara sepihak oleh

pelaku usaha. Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

Konsumen seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan

klausul yang merugikan konsumen, termasuk membatasi maksimal tanggung

jawabnya. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan

perundang-undangan yang jelas.32

Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

Konsumen dapat diketahui bahwa terdapat tiga jenis pertanggungjawaban pelaku

usaha antara lain:

1. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerusakan

2. Tanggung jawab ganti kerugian atas pencemaran

3. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen.33

Pasal ini menjelaskan bahwa bentuk ganti kerugian tersebut dapat berupa

pengembalian uang dan/atau penggantian barang atau jasa yang senilai harganya

dan/atau perawatan kesehatan atau pemberian santunan langsung kepada

konsumen. Namun yang menjadi permasalahan disini adalah termasuk pada

kategori manakah apabila seorang pelaku usaha dituntut pertanggungjawabannya

atas tayang iklan rokok yang dibuatnya.

      

31

Celina Tri Siwi Kristiyanti, op. cit, hal. 96-97.

32

Ibid, hal. 98.

33

(36)

Pertanggungjawaban pelaku usaha adalah ganti kerugian konsumen karena

pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha terhadap tayangan iklan rokok

termasuk perbuatan melanggar hukum. Oleh karenanya, pertanggungjawaban

yang dapat dimintakan adalah pertanggungjawaban ganti kerugian atas kerugian

konsumen.

Apabila permasalahan konsumen pada akhirnya menimbulkan sengketa

maka dalam hal ini akan melibatkan BPSK ( Badan Penyelesaian Sengketa

Konsumen) dan Peradilan Umum. Dimana BPSK untuk menyelesaikan sengketa

diluar pengadilan. Dan hal ini diatur didalam Undang-Undang Perlindungan

Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 yaitu : “ Setiap Konsumen yang dirugikan dapat

menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa

antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui badan peradilan yang berada di

lingkungan peradilan umum.34

Sengketa konsumen terjadi karena adanya ketidakpuasan konsumen

terhadap suatu produk atau kerugian yang dialami konsumen karena penggunaan

atau pemakaian barang atau jasa.

Bentuk sengketa konsumen karena kerugian yang dapat dialami oleh

konsumen adalah :35

1. Cacat Tubuh / Fisik (Personal Injury)

Adalah cacat fisik atau kerugian yang melekat pada diri konsumen sebagai akibat mengkonsumsi akibat mengkonsumsi suatu produk.

2. Cacat Fisik (Injury To The Product Itself / Some Other Property)

      

34

Pasal 45 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821.

35

(37)

Adalah kerugian yang diderita akibat rusaknya produk atau tidak berfungsinya produk yang sudah dibeli.

3. Kerugian Ekonomi (Pure Economic Loss)

Adalah kerugian yang langsung berkaitan dengan produk yang dibelinya yang muncul ketika produk itu tidak sesuai dengan tingkat performance yang diharapkan.

Kerugian semacam ini ada dua tipe yaitu :

a. Kerugian Ekonomi Langsung (Direct Economic Loss / Diminution Value of The Product ) adalah kerugian yang dialami konsumen karena pengurangan nilai dari produk yang dibelinya.

b. Kerugian Ekonomi Tidak Langsung (Indirect Economic Loss / Resulting From The Performance of Product) adalah kerugian yang disebabkan oleh performace dari produk yang dibelinya atau produk yang cacat sehingga tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya.

Seorang konsumen yang dirugikan dapat mengajukan gugatan ganti rugi

langsung ke pengadilan atau di luar pengadilan melalui Lembaga Perlindungan

Konsumen Swadaya Masyarakat, sedangkan gugatan yang dilakukan oleh

sekelompok konsumen, lembaga konsumen swadaya masyarakat maupun

pemerintah atau instansi terkait hanya dapat diajukan ke pengadilan.36

Banyaknya reaksi keras masyarakat ditunjukkan oleh banyaknya gugatan yang

dilayangkan oleh masyarakat maupun lembaga swadaya masyarakat terhadap

produsen-produsen rokok antara lain : Gugatan Legal Standing yang diajukan oleh

YLKI dengan NGO mitra atas pelanggaran jam tayang pada tahun 2000 terhadap

PT. Djarum Kudus dan PT H.M. Sampoerna dimana kedua produsen tersebut

melakukan penyangan iklan produknya diluar jam 21.30 s/d 05.00 37, Gugatan

Legal Standing pada tahun 2002 terhadap PT Djarum selaku pelaku usaha oleh 5

      

36

Ibid, hal. 81.

37

(38)

LSM (YLKI dll) yang diputuskan bebas oleh PN Jakarta Selatan No.

278/Pdt.G/2002/PN.Jaksel.38

Gugatan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran atau kerugian yang dialami

konsumen akibat ulah pelaku usaha diajukan berdasarkan pelanggaran atas Pasal

19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,

sehingga beban pembuktian ada pada pihak produsen berdasarkan asas tanggung

jawab mutlak (strict liability). Bila gugatan diajukan berdasarkan atas pelanggaran

pelaku usaha terhadap ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata, khususnya Pasal 1365 tentang Perbuatan Melawan

Hukum dan Pasal 1234 tentang Ingkar Janji, maka pembuktian harus dilakukan

oleh konsumen sebagai penggugat, hal ini akan memberatkan konsumen.

E. Metode Penelitian

Adapun metode penelitian hukum yang digunakan oleh penulis dalam

mengerjakan skripsi ini meliputi :

1. Spesifikasi Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan adalah yuridis normatif.

Penelitian yuridis normatif merupakan penelitian kepustakaan yaitu penelitian

terhadap data sekunder.39 Data sekunder dalam skripsi ini yaitu kajian yang

digunakan terhadap peraturan peraturan perundang-undangan dan berbagai

literatur yang berhubungan dengan judul skripsi.

      

38

Eni Wahyuni, (http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tab ID=61&src=k&id=138338), 

yang diakses pada tanggal 24 Juli 2010

39

(39)

2. Jenis Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah Data Sekunder yaitu data yang

diperoleh melalui studi kepustakaan, meliputi peraturan perundang-undangan,

buku, situs internet, media massa, dan kamus serta data lain yang terdiri atas :40

a. Bahan Hukum Primer, yaitu : Norma atau kaedah dasar seperti Pembukaan

UUD 1945, Peraturan Dasar seperti Peraturan Perundang-undangan yang

meliputi Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu : Buku-buku yang memberikan penjelasan

terhadap bahan hukum primer.

c. Bahan Hukum Tertier, yaitu : Kamus, bahan dari internet dan lain-lain

yang merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan tentang bahan

hukum primer dan bahan hukum sekunder.

3. Alat Pengumpulan Data

Alat Pengumpulan Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah

metode library research (penelitian kepustakaan), yaitu dengan mempelajari

peraturan perundang-undangan, buku, situs internet, media massa, dan kamus

yang berkaitan dengan judul skripsi ini yang bersifat teoritis ilmiah yang dapat

dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan menganalisa

masalah-masalah yang dihadapi.41

4. Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode analisis kualitatif.

Metode kualitatif digunakan agar penulis dapat mengerti dan memahami gejala

      

40

Ibid, hal. 24-25.

41

(40)

yang ditelitinya.42 Maka dalam skripsi ini digunakan metode analisis kualitatif

agar lebih fokus kepada analisis hukumnya dan menelaah bahan-bahan hukum

baik yang berasal dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, bahan dari

internet, kamus dan lain-lain yang berhubungan dengan judul skripsi yang

dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi.

F. Keaslian Penulisan

Skripsi ini berjudul “Pengaturan dan Pengawasan Tayangan Iklan Rokok

Ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Etika Pariwara

Indonesia”. Dan judul skripsi ini belum pernah dibahas dan ditulis sebelumnya.

Oleh karena itu, skripsi ini merupakan hasil tulisan saya.

G. Sistematika Penulisan

Secara garis besar skripsi ini dibagi atas 5 (lima) Bab dan masing-masing

bab dibagi lagi dalam beberapa sub bagian sesuai dengan kepentingan penulisan.

Bab I Pendahuluan, dalam bab ini menerangkan secara ringkas mengenai

Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tinjauan Penulisan, Manfaat Penulisan,

Tinjauan Kepustakaan, Metode Penulisan, Keaslian Penulisan dan Sistematika

Penulisan.

Bab II membahas mengenai Pengaturan Tayangan Iklan Rokok dalam

Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Etika

Pariwara Indonesia yang membahas Pengertian, Tujuan, Prinsip-prinsip dasar,

      

42

(41)

serta Fungsi Iklan, Media Periklanan dan Pengaturan serta Perlindungannya,

Tayangan Iklan Rokok dalam Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk-bentuk

Pelanggaran Tayangan Iklan Rokok.

Bab III membahas mengenai Pengawasan Tayangan Iklan Rokok oleh

Pemerintah, Masyarakat, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat

dan Asosiasi Pelaku Usaha Periklanan.

Bab IV membahas mengenai Pengaturan dan Pengawasan Tayangan Iklan

Rokok serta Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Periklanan terhadap Pelanggaran

Tayangan Iklan Rokok dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pelanggaran

Tayangan Iklan Rokok.

Bab V berisi Kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya dan

Saran yang mungkin berguna dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan

penulisan skripsi ini.

(42)

BAB II

PENGATURAN TAYANGAN IKLAN ROKOK DAN BENTUK-BENTUK PELANGGARAN TAYANGAN IKLAN ROKOK

F. Pengertian Iklan

Sampai saat ini belum ada satu defenisi pun mengenai iklan yang dapat

memuaskan berbagai pihak dan yang mencakup semua aspek periklanan. Hal ini

disebabkan karena pemberian defenisi iklan oleh berbagai kalangan, tinjauannya

berbeda-beda.

Menurut Etika Pariwara Indonesia, iklan ialah “pesan komunikasi

pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan

melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan

kepada sebagian atau seluruh masyarakat.”43

Iklan adalah “segala bentuk pesan tentang suatu produk barang / jasa yang

disampaikan lewat suatu media, baik cetak maupun elektronik yang ditujukan

kepada sebagian atau seluruh masyarakat”. Dengan demikian, iklan merupakan

suatu alat komunikasi antara produsen/penjual dan para konsumen/pembeli.44

Menurut Soehardi Sigit memberikan defenisi atau pengertian mengenai

iklan ditinjau dari cara penyajiannya, yakni sebagai berikut : “cara penyajian

dengan cetakan, tulisan, kata-kata dan gambar-gambar oleh suatu lembaga

(perusahaan) dengan maksud untuk mempengaruhi dan meningkatkan penjualan,

      

43

Anonim, Etika Pariwara Indonesia, (Jakarta : Dewan Periklanan Indonesia (DPI)), hal.18.

44

(43)

meningkatkan pemakaian, atau memperoleh jasa, dukungan serta

pendapat-pendapat.”45

Menurut Kotler, periklanan didefenisikan sebagai “bentuk penyajian dan

promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang

memerlukan pembayaran”.46 Secara sederhana, iklan didefenisikan sebagai “pesan

yang menawarkan suatu produk yang ditujukan oleh suatu masyarakat lewat suatu

media”. Agar iklan memiliki perbedaan dengan pengumuman biasa, akan lebih

baik bila diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli.

Menurut Tams Djajakusumah melihat bahwa iklan merupakan salah satu

bentuk publisistik. Secara lengkap dikemukakan sebagai berikut : “Iklan adalah

salah satu bentuk spesialisasi publisistik yang bertujuan untuk mempertemukan

sesuatu pihak yang menawarkan sesuatu dengan pihak lain yang membutuhkan”.47

G.Tujuan, Prinsip serta Fungsi Iklan

1. Tujuan Iklan

Iklan memang bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan untuk

melaksanakan pemasaran dan dapat memberikan dampak peningkatan

penjualan jangka panjang. Meskipun demikian, iklan merupakan salah satu

      

45

Soerjono Wirjodiatmo, Konsepsi Marketting Modern dan Tempat Advertising di dalamnya, (Jakarta : PPPI, 1977), hal. 50, dalam Jurnal Hukum (Juistheid), (Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Djuanda, 2003), hal 49.

46

Philip Kotler dan A.B. Susanto. Manajemen Pemasaran di Indonesia. ( Jakarta : Salemba Empat, 1999), hal. 658 dalam Niken Tri Hapsari, Ibid.

47

(44)

kegiatan yang efektif dalam menunjang aktivitas pemasaran, sehingga secara

umum tujuan iklan :48

a. Menciptakan pengenalan merek dan perusahaan. b. Memposisikan produk di mata konsumen.

c. Mendorong konsumen untuk mencoba barang maupun jasa yang ditawarkan.

d. Mendukung terjadinya pembelian ulang. e. Membina loyalitas pelanggan.

f. Menginformasikan keistimewaan barang atau jasa baru. g. Meningkatkan citra.

Dalam hal ini perlu diperhatikan pula bahwa periklanan pada dasarnya

merupakan komunikasi yang beresensi persuasi (membujuk atau

mempengaruhi). Jadi tujuan akhir yang hakiki dari penyusunan iklan dimaksud

adalah kegiatan komunikasi untuk menjangkau khalayak tertentu, agar mereka

dapat membantu memperluas serta menyebarkan informasinya, dan

mempergunakannya selama mungkin.

Para konsumen tidak selalu bisa mengubah dirinya secara tiba-tiba dari

insan yang tidak tertarik menjadi pembeli yang berkeyakinan. Dalam banyak

kasus, mereka melakukan langkah-langkah tertentu sebelum membeli sesuatu

barang atau jasa. Umumnya mereka bergerak dari keadaan tidak tahu tentang

barang atau jasa yang dihadapi atau dilihatnya menjadi tahu dan kemudian

mengenalinya, menyukainya, memilihnya, menerima (atau meyakininya), dan

akhirnya membeli barang atu jasa dimaksud.

Langkah-langkah atas komunikasi persuasif tersebut menunjukkan adanya

3 (tiga) tujuan utama dari pemasangan iklan dimaksud, yaitu :49

      

48

Niken Tri Hapsari, op.cit, hal. 40-42.

49

(45)

a. Membentuk kesadaran khalayak untuk mengetahui segala sesuatunya tentang barang atau jasa tertentu (yang ditawarkan);

b. Menciptakan perasaan khalayak sedemikian rupa sehingga menyukai dan memilih barang atau jasa yang ditawarkan tersebut;

c. Mendorong khalayak agar berpikir dan bertindak (membeli) serta menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan ini.

Tujuan tersebut bisa tercapai bertahap atau berubah dari tujuan yang

pertama ke tujuan berikutnya, sampai tujuan akhir sesuai dengan kegunaan

atau fungsi barang atau jasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari khalayaknya.

Apabila barang atau jasa itu mulai dipasarkan, maka tujuan utama pemasangan

iklan dimaksud mungkin baru memberikan informasi tentang barang atau jasa

tersebut secara rinci (tujuan utama yang pertama). Kemudian jika laju

pemasarannya makin pesat, maka tekanan tujuannya ditempatkan pada daya

tarik yang bersaing (tujuan utama yang kedua). Selanjutnya apabila pasaran

barang atau jasa itu masuk ke dalam tahap yang lebih mantap

perkembangannya, pemasangan (pembuatan) iklan pun bisa lebih ditujukan

pada memelihara nama dan merek dari barang atau jasa tersebut di kalangan

konsumennya (tujuan utama yang ketiga).

2. Prinsip-prinsip Dasar Iklan

Sebagai salah satu bentuk proposal, jelas bahwa iklan memiliki

prinsip-prinsip dasar. Prinsip-prinsip-prinsip dasar iklan tersebut perlu diketahui sebelum

membuat atau mengiklankan usaha bisnis agar iklan yang dibuat nantinya tidak

melenceng dari tujuan. Ada beberapa prinsip dasar iklan antara lain :50

      

50

(46)

a. Adanya pesan tertentu

Dalam sebuah iklan, pasti ada pesan tertentu yang tersirat untuk pihak lain.

Iklan tidak akan ada tanpa adanya pesan. Itu berarti tanpa pesan, iklan

tidak akan terwujud. Pesan yang disampaikan dalam sebuah iklan dapat

berbentuk perpaduan antara pesan verbal dan pesan nonverbal.

Pesan verbal adalah pesan yang disampaikan dalam bentuk kata-kata.

Dalam pesan verbal, iklan merupakan rangkaian kata-kata yang tersusun

dari huruf vokal dan konsonan yang membentuk makna tertentu dalam

mempromosikan suatu produk atau merek. Bentuk pesan verbal dapat

disampaikan melalui media audio maupun audio. Sementara pesan verbal

tulisan dapat disampaikan melalui media cetak ataupun audio visual.

Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi ketika pesan yang

disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal

adalah komunikasi yang menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh,

ekspresi wajah, dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian,

potongan rambut, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi,

kualitas suara, gaya emosi dan lain sebagainya.

b. Dilakukan oleh Komunikator (sponsor)

Pesan iklan ada karena dibuat oleh komunikator. Sebaliknya, bila tidak ada

komunikator, maka tidak akan ada pesan iklan. Dengan demikian, ciri

sebuah iklan adalah bahwa pesan tersebut dibuat dan disampaikan oleh

(47)

tertentu. Komunikator dalam iklan dapat datang dari perorangan,

kelompok, lembaga atau organisasi, bahkan negara tertentu.

c. Dilakukan dengan Cara Nonpersonal

Dari pengertian iklan yang diberikan, hampir semua bahwa iklan

merupakan penyampaian pesan yang dilakukan secara nonpersonal

meskipun ada juga iklan secara personal. Nonpersonal artinya tidak dalam

bentuk tatap muka secara langsung, tetapi melalui sebuah media.

Penyampaian pesan dapat disebut iklan bila dilakukan melalui media, baik

itu media cetak atau audio visual seperti koran dan televisi.

d. Disampaikan untuk Khalayak Tertentu

Untuk mendapatkan hasil maksimal dalam beriklan, sebaiknya sasarannya

bersifat khusus, yaitu ditujukan untuk khalayak tertentu saja. Pesan yang

disampaikan dalam sebuah iklan tidak diberikan kepada semua orang,

tetapi kelompok masyarakat tertentu sesuai dengan produk yang dijual.

Sasaran khalayak yang dipilih tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa

pada dasarnya setiap kelompok memiliki keinginan, kebutuhan,

karakteristik, dan keyakinan tertentu terhadap sesuatu. Dengan demikian,

pesan yang diberikan harus dirancang khusus sesuai dengan target

khalayak.

e. Dalam Penyampaian Pesan Dilakukan dengan Cara Membayar

Penyampaian pesan yang dilakukan dengan cara tidak dibayar oleh

kalangan pengiklan sebuah produk, dianggap bukan iklan. Pesan

Gambar

Tabel 1 Rating Stasiun Televisi Swasta dalam Penayangan Iklan Rokok.
Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Dapat tidaknya sertifikasi halal sebagai upaya perlindungan hak atas keamanan dan keselamatan konsumen Prosedur pelaksanaan sertifikasi halal di LPPOM MUI Yogyakarta

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ROKOK ELEKTRIK YANG MENGANDUNG ZAT ADIKTIF YANG BELUM TERSTANDARISASI.. BERDASARKAN

(Studi Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Iklan Provider Telekomunikasi di

Permasalahan yang dikaji adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap konsumen di kota Semarang ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang

Dalam bab ini akan menguraikan pertanyaan pada rumusan masalah terkait bagaimana perlindungan anak sebagai konsumen yang dirugikan oleh iklan televisi yang tidak benar

Studi ini berjudul analisis pengaturan Arbitrase dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dikaitkan dengan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan

Kurangnya Niat beli dari konsumen terhadap rokok Star mild, dikarenakan iklan yang ada pada televisi kurang menarik dan kurang variatif sehingga sikap konsumen dan

Pengawasan e-commerce di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perdagangan dan Undang-Undang Perlindungan