• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BERMAIN LEMPAR TANGKAP BOLA DAN MENGGAMBAR TERHADAP MOTORIK ANAK PADA USIA DINI TK DHARMA WANITA PERSATUAN KECAMATAN SUKOHARJO PRINGSEWU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH BERMAIN LEMPAR TANGKAP BOLA DAN MENGGAMBAR TERHADAP MOTORIK ANAK PADA USIA DINI TK DHARMA WANITA PERSATUAN KECAMATAN SUKOHARJO PRINGSEWU"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGARUH BERMAIN LEMPAR TANGKAP BOLA DAN MENGGAMBAR TERHADAP MOTORIK ANAK PADA

USIA DINI TK DHARMA WANITA PERSATUAN KECAMATAN SUKOHARJO PRINGSEWU

Oleh

Anggiat Marudut Gultom

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar dan menggambar yang

dilanjutkan dengan lempar tangkap bola terhadap peningkatan motorik anak TK Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Sampel yang digunakan sejumlah 30 anak dan di bagi menjadi dua kelompok dengan menggunakan the match ordinal pairing. Kelompok 1 diberi perlakuan lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar dan kelompok 2 diberi perlakuan menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola. Data diambil dengan tes awal dan tes akhir dengan menggunakan skala observasi dengan r= >0,05 lalu dianalisis dengan menggunakan uji t.

Hasil penelitian dengan perhitungan uji t diketahui bahwa hasil tes awal pada kelompok 1 rata-rata skor yang diperoleh yaitu 26,67 dan kelompok 2 dengan rata-rata skor 26,53. Dari hasil tes awal maka diberikan perlakuan dengan latihan lempar tangkap bola dan menggambar. Setelah itu diketahui bahwa hasil tes akhir pada ke dua kelompok mengalami peningkatan yaitu di peroleh hasil skor tes akhir pada kelompok 1 dengan nilai rata-rata 46,13 dan kelompok 2 dengan nilai 44,00.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar lebih berpengaruh terhadap motorik anak dibandingkan menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa motorik kasar berpengaruh terhadap motorik halus. Implikasi, bagi para pengajar gerak khususnya guru TK dan guru SD kelas rendah disarankan agar melatih motorik kasar terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan motorik halus.

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Gaya Baru 2, Kecamatan Seputih Surabaya Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung, pada tanggal 7 November 1990. Penulis adalah anak ke-enam dari Sembilan bersaudara, buah hati dari pasangan Bapak M. Gultom dan Ibu L. Nainggolan.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Gaya Baru 2 pada tahun 2003, kemudian Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Seputih Surabaya pada tahun 2006, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kotagajah pada tahun 2009.

Pada tahun 2010, Penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Lampung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Saat di bangku kuliah, Penulis pernah aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2011 – 2012 sebagai anggota bidang Eksternal dan di Dewan Perwakilan

(7)

viii

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan YME,

kupersembahkan karya kecilku ini sebagai tanda baktiku

kepada:

Orang tuaku tercinta (M. Gultom dan L.Nainggolan) yang telah mendidikku sejak kecil dan tiada pernah lelah memberi semangat dan mendoakan anak-anaknya;

Kakak (Verawati Br. G, Rosiani Br. G, Englis Br. G, Sihol Marito Br. G) dan abangku (Riya Dinson G) yang telah

mendukung dan memberiku motivasi, selalu mengingatkanku dan memberikan contoh yang baik buat adik-adiknya,

Adikku (Junita Br. G, Parulian G, Bernadetha Neni Br. G) yang telah memberikan semangat dan dukungan buatku,

Serta

Keponakanku (Vincentia Br. Manik, Paulin Br. Manik, Vincentius Silalahi, Halomoan) yang selalu membuat hari-hariku penuh dengan canda tawa.

Para pendidikku yang ku hormati, terima kasih atas ilmu

yang telah diberikan

(8)

vii

MOTO

“Ketika menemui kegagalan, hanya ada dua pilihan

terpuruk dalam kegagalan atau bangkit dan mencoba

kembali”

(Anggiat Marudut Gultom)

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

(R. A Kartini )

“Barang siapa ingin mutiara, Harus berani terjun di lautan

yang dalam”

(9)

ix

SANWANCANA

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi dengan judul “Pengaruh Bermain Lempar Tangkap Bola Dan Menggambar Terhadap Motorik Anak Pada Usia Dini TK Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak memperoleh saran maupun kritikan yang bersifat membangun sekaligus merupakan sebuah pembelajaran baik dalam menambah ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan penulis sendiri. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

(10)

x

Pendidikan, Universitas Lampung sekaligus menjadi Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.

4. Bapak Drs. Herman Tarigan, M.Pd, selaku Pembimbing I dan

Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan, motivasi, serta kepercayaan kepada penulis.

5. Bapak Dr. Rahmat Hermawan, M.Kes, selaku Penguji yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, perbaikan, serta motivasi kepada penulis.

6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Lampung, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

7. Staf Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, terima kasih atas segala dukungan dan bantuannya terhadap penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepala TK Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu yang telah ikut membantu penulis mengumpulkan data penelitian.

(11)

xi

10.Sahabat terdekat saya R.A Syifa Miftahul H, Fahmi Firman W, Mukhroni, Arbi Wahyu S, Abdul Ghaffar, Teguh Iman T, Tomi Indra K, Maskuroch Adesti, Heru Wahyu F, Novia Ariska, Burhanudin Sadly, Rudi Saputra, yang selalu berusaha meluangkan waktu disaat saya membutuhkan teman cerita, yang terus berusaha menasehati dan memberi motivasi saat saya mulai mengeluh dalam segala hal.

11.Warga Mulya Asri terutama Pak Cik Usman sekeluarga, Mas Bambang sekeluarga, Mas Okta sekeluarga, Mas Riyan Sekeluarga, Mas Budi Gondrong Sekeluarga, Mas Ponco Sekeluarga, Pak Suko Sekeluarga, Mas Kamto Sekeluarga, Mas Uul Sekeluarga, Mas Dika, Mas Teguh, Mbak Siska.

12.Teman-teman saya Riris, Rohimin, Bambang, Arif Cahyanto, dan teman – teman KKN dan PPL-ku Fortina, Rahma, Eka, Rika, Via, dan Ratri serta seluruh teman-teman seperjuangan saya di Prodi Penjaskesrek khususnya angkatan 2010 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas do’a, saran, dukungan serta motivasinya yang selalu kalian berikan kepada

saya.

13.Kakak tingkat angkatan 2009 dan Adik tingkat angkatan 2011, 2012 dan 2013, saya ucapkan terimakasih atas do’a, saran, dukungan serta

motivasinya yang selalu kalian berikan kepadaku.

(12)

xii

Dalam menyusun Skripsi ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Penulis berharap Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bandar Lampung, Oktober 2014 Penyusun

(13)

xiii

2. Perkembangan Kemampuan Fisik……….. 14

3. Minat Melakukan Aktivitas Fisik……… 15

4. Aktivitas yang Diperlukan……….. 15

E. Anak Usia Dini……… 16

1. Pengertian Anak Usia Dini………. 16

2. Karakteristik Anak Usia Dini………. 16

3. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini………. 19

F. Motorik……….... 20

1. Pengertian Motorik………. 20

(14)

xiv

G. Motorik Halus……… 22

1. Pengertian Motorik Halus……….. 22

2. Faktor yang Mempengaruhi Motorik Halus………... 22

3. Karakteristik Perkembangan Motorik Halus……….. 24

4. Konsep Dasar Pengembangan Motorik Halus……… 25

5. Prinsip Dalam Pengembangan Motorik Halus……… 26

6. Tujuan Peningkatan Motorik Halus……… 27

7. Fungsi Perkembangan Motorik Halus……… 27

H. Motorik Kasar……… 28

1. Pengertian Motorik Kasar……….. 28

2. Unsur-unsur Motorik Kasar……… 29

3. Karakteristik Perkembangan Motorik Kasar……….. 29

4. Metode Pengembangan Motorik Kasar……….. 30

5. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar………... 31

6. Fungsi Pengembangan Motorik Kasar……… 31

I. Penelitian yang Relevan………. 32

1. Deskripsi Data (Responden)……….. 2. Analisis Kemampuan Awal Motorik Anak... 55

3. Analisis Peningkatan Kemampuan Motorik Anak... 58

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel halaman

3.1 Kriteria Reliabilitas... 43 3.2 Uji Normalitas Skor Awal Kemampuan Motorik Anak... 45 3.3 Uji Homogenitas Populasi Skor Awal Kemampuan Motorik

Anak... 47 3.4 Uji Normalitas Skor Akhir Kemampuan Motorik Anak... 50

3.5 Uji Homogenitas Populasi Skor Akhir Kemampuan Motorik

Anak... 51 4.1 Data SkorAwal Kemampuan Motorik Anak... 56 4.2 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Skor Awal Motorik

Anak... 57 4.3 Data Skor Akhir Kemampuan Motorik Anak... 59 4.4 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Skor Akhir Kemampuan Motorik

(16)

xvii

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran halaman

1. Perkembangan Kemampuan Lokomotor………... 70

2. Validitas Instrument……….. 76

3. Uji Validitas... 77

4. Uji Realibitas ... 83

5. Data Hasil Pretes... 84

6. Data Hasil Post-test ... 86

7. Uji Normalitas Skor Awal Motorik Anak... 88

8. Uji Homogenitas Varians Skor Awal Motorik Anak Antara Kelompok 1 dan Kelompok 2……….. 89

9. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Skor Awal Motorik Anak Antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 ……….……….. 90

10. Uji Normalitas Skor Akhir Motorik Anak ………... 91

11. Uji Homogenitas Varians Skor Akhir Motorik Anak Antara Kelompok 1 dan Kelompok 2………. 92

12. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Skor Akhir Motorik Anak Antara Kelompok 1 dan Kelompok 2... 93

13. Instumen Penelitian………... 94

14. Foto Penelitian………... 97

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman

2.1 Kerangka Pikir ... 35

3.1 Rencana Penelitian Pengaruh Bermain Lempar Tangkap Bola dan Menggambar terhadap Motorik Anak. ... 41

3.2 Uji Normalitas Skor Awal Kemampuan Motorik Anak... 46

3.3 Uji Homogenitas Populasi Skor Awal Kemampuan Motorik Anak... 48

3.4 Uji Normalitas Skor Akhir Kemampuan Motorik Anak... 50

3.5 Uji Homogenitas Populasi Skor Akhir Kemampuan Motorik Anak... 51

4.1 Jumlah Keseluruhan anak TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu……….. 54

4.2 Tingkat Pendidikan Orang Tua Anak………... 55

4.3 Pekerjaan orang tua anak………. 55

4.4 Data SkorAwal Kemampuan Motorik Anak... .. 56

4.5 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Skor Awal Motorik Anak... 57

4.6 Data Skor Akhir Kemampuan Motorik Anak... .. 59

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada orang tua dan merupakan harta yang tak ternilai harganya. Pada usia dini di mana anak berada tahap pra sekolah atau belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal, seperti sekolah dasar (SD), biasanya mereka tetap tinggal di rumah tetapi sudah

mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pra sekolah seperti kelompok bermain (Play Group), sampai jenjang taman kanak-kanak (TK) atau taman penitipan anak (TPA).

Setiawan dalam Theresia (2012: 65), yang mengacu pada teori Piaget, anak usia dini dapat di katakan sebagai usia yang belum dapat dituntut untuk berpikir secara logis, yang ditandai dengan pemikiran sebagai berikut :

1. Berpikir secara konkrit, dimana anak belum daat memahami atau memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak (seperti cinta dan keadilan).

2. Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata.

3. Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari si lain.

4. Kecenderungan untuk berpikir sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk.

5. Animisme, yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua objek yang ada dilingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak.

(19)

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang sangat kaya dan keadaan ini sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreativitas pada anak.

Oleh sebab itu anak usia dini adalah anak yang berusia 2 – 6 tahun, yang berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki karakteristik berpikir konkrit, realisme, sederhana, animisme, sentrasi, dan memiliki daya imajinasi yang kaya. Dalam dunia pendidikan, khususnya pada konsep pembelajaran dan evaluasi pendidikan, kita sering mendengar istilah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Istilah-istilah tersebut bahkan menjadi mainstream atau arus utama yang melandasi pelaksanaan pendidikan. Karena dalam pengertian kognitif, afektif, dan psikomotorik terkandung totalitas potensi subyek didik yang perlu dikembangkan.

Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau faktor rasa atau emosi maupun keterampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus.

(20)

3

adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.

Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak, Teori yang menjelaskan secara detail tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen & whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun

kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik menampilkan kembali keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otak bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, seperti bergerak untuk mengambil bola, menghindarkan diri dari bola atau bahkan menendang dan menangkapnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.

Teori tersebut pun menjelaskan bahwa ketika bayi di motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat menciptakan kemampuan motorik yang baru, kemampuan baru tersebut merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu perkembangan sistem syaraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, keinginan anak yang memotivasinya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung

(21)

syarafnya sudah matang, proposi kaki cukup kuat menopang tubuhnya dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.

Berdasarkan penjelasan diatas maka perkembangan motorik anak sangat perlu diperhatikan dan di kembangkan. Oleh karena itu agar pertumbuhan motorik anak dapat berkembang secara optimal maka perlu dilakukan latihan-latihan yang dapat meningkatkan perkembangan motorik anak. Berdasarkan pengamatan di

kehidupan sehari-hari banyak guru TK yang mengutamakan perkembangan motorik halus terlebih dahulu seperti menulis, menggambar,menyanyi yang dilanjutkan dengan motorik kasar seperti bermain lempar tangkap bola, berlari. Namun ada juga guru yang mengutamakan motorik kasar terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan motorik halus. Oleh karena itu timbul hasrat peneliti untuk melakukan penelitian ini.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Banyak anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu yang kurang terampil dalam menggambar.

2. Banyak anak kurang tangkas dalam melemparkan bola di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

3. Banyak gerakan koordinasi antara mata dan tangan anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu yang belum optimal.

C. Batasan Masalah

(22)

5

“Pengaruh bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar

dan menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola terhadap motorik halus dan kasar pada anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu”.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan kelompok bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu?

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan kelompok menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu?

3. Manakah yang lebih berpengaruh antara kelompok bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar dan kelompok menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu?

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kelompok bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan menggambar terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu?

2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kelompok yang diberi perlakuan

(23)

3. Untuk mengetahui manakah yang lebih berpengaruh antara kelompok yang diberi perlakuan bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar atau menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu?

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya yang berkepentingan dalam bidang olahraga di tingkat TK, adapun yang menjadi harapan penulis dalam peneltian ini adalah:

1. Bagi Anak

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aspek motorik halus dan kasar anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

2. Program Studi Penjaskesrek

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi gambaran mengajar penjaskes di tingkat Taman Kanak-kanak.

3. Bagi Guru

Hasil penelitian untuk mengetahui bagaimana kondisi aspek motorik

masing-masing anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu dan bagaimana meningkatkan kemampuan motorik anak.

G. Penjelasan Judul

1. Pengaruh

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah

(24)

7

membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.” Pengaruh

dapat diartikan juga sebagai suatu daya atau kekuatan yang timbul dari sesuatu, baik itu orang maupun benda serta segala sesuatu yang ada di alam sehingga mempengaruhi apa-apa yang ada di sekitarnya.

2. Bermain

Menurut Mayke dalam Sudono ( 2000:3) menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk

memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktikan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta

pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.

3. Lempar tangkap bola

Menurut Montolalu (2009: 7.39) lempar tangkap bola merupakan salah satu permainan yang menggunakan bola sebagai media.

4. Menggambar

Menurut Montolalu (2009: 3.15) menggambar sebagai salah satu bentuk

seni yang diberikan pada anak usia dini. Aktivitas menggambar dimaknai

untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian anak agar kemampuan

logika dan emosinya tumbuh berkembang dengan seimbang.

5. Motorik

(25)

(koordinasi) dan proses pengaturan (kondisi fisik) yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi dan faktor psikis untuk mendapatkan suatu gerakan yang baik.

6. Anak usia dini

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis 1. Pengertian Bermain

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan

informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak. Menurut Mayke dalam Sudono ( 2000:3) menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk memanipulasi,

mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktikan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya.

Dari pengertian tersebut kita dapat memahami bahwa bermain merupakan suatu kebutuhan bagi anak yang dapat memberikan dampak yang positif untuk

seluruh aspek perkembangan anak. Dengan bermain kita dapat memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada anak untuk bereksplorasi sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian dasar suatu pengetahuan dapat dipahami oleh anak dengan lebih mudah.

2. Karakteristik Bermain

Beberapa karakteristik bermain menurut Sofia Hartati dalam Montolalu (2009:2.4), antara lain:

(27)

b. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan, mengasyikkan, dan menggairahkan.

c. Bermain dilakukan tanpa “iming-iming” apapun.

d. Bermain lebih mengutamakan aktivitas atau kegiatan daripada tujuan. Tujuan bermain adalah aktivitas itu sendiri.

e. Bermain menuntut partisipasi aktif baik fisik maupun psikis.

f. Kegiatan bermain yang bebas. Anak bebas membuat aturan sendiri dan mengoperasikan fantasinya.

g. Bermain sifatnya spontan, sesuai dengan yang diinginkan saat itu. h. Makna dan kesenangan bermain ditentukan oleh anak itu sendiri yang

sedang bermain.

Bermain harus dilakukan dalam situasi yang menyenangkan, menggembirakan, dipenuhi rasa suka dan ceria. Karakteristik bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Dalam bermain, permainan yang dilakukan anak sesuai dengan kehendak hati dan sesuai harapan mendatangkan kegembiraan dan keceriaan anak. Bermain merupakan bagian terpenting dalam kehidupan anak karena melalui bermain anak-anak tumbuh dan berkembang. Anak yang

kebutuhan bermainnya terpenuhi, makin tumbuh dengan keterampilan yang lebih tinggi dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

3. Fungsi Bermain Bagi Anak

Menurt Dworetzky dalam Moeslichatoen (1999: 33) sesuai dengan pengertian bermain yang merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi perkembangan anak usia taman Kanak-kanak, fungsi bermain bagi anak adalah :

(28)

11

b. Untuk melakukan berbagai peran yang ada didalam kehidupan nyata seperti guru mengajar dikelas, sopir mengendarai bus, petani menggarap sawah, dan sebagainya.

c. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata.

d. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air, dan sebagainya.

e. Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, pelanggar lalulintas, dan lain-lain.

f. Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota, dan sebagainya.

g. Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan misalnya semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya, dan semakin dapat berlari cepat.

h. Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makanan, pesta ulang tahun.

(29)

B. Lempar Tangkap Bola

Menurut Montolalu (2009: 7.39) lempar tangkap bola merupakan salah satu permainan yang menggunakan bola sebagai media. Permainan lempar tangkap bola ini seringkali diterapkan bagi anak usia dini dengan tujuan dapat melatih motorik. Media dalam permainan ini adalah bola, baik bola berukuran kecil maupun besar.

Cara bermain lempar tangkap bola ini sebagai berikut: 1. Bariskan anak-anak 2 bersaf secara rapih.

2. Lakukan pemanasan terlebih dahulu atau demonstrasi tentang permainan yang akan di mainkan.

3. Siapkan bola yang berukuran kecil.

4. Bagi anak menjadi 2 bagian dan secara berpasangan.

5. Masing- masing anak agar memilih pasangannya secara bebas.

6. Mulai mengambil bola yang diletakkan di depan anak dan lalu melemparkan ke pasangannya hingga bola dapat ditangkap oleh pasangannya.

7. Secara bergantian bagi pasangan anak yang bertugas menangkap menjadi melemparkan bola kembali ke pasangannya hingga bola tertangkap.

8. Bagi pasangan yang telah melemparkan seluruh bola maka mereka lah menjadi pemenang dalam permainan tersebut.

C. Menggambar

Menggambar sebagai salah satu bentuk seni yang diberikan pada anak usia dini

(taman kanak – kanak ). Aktivitas menggambar dimaknai untuk membentuk dan

mengembangkan kepribadian anak agar kemampuan logika dan emosinya tumbuh

(30)

13

3.15) bahwa dengan menggambar anak bisa mengeluarkan ekspresi dan

imajinasinya tanpa batas. Pada proses inilah anak dapat mengembangkan

gagasan, menyalurkan emosinya, menumbuhkan minat seni dan kreativitasnya.

Tujuan kegiatan ini adalah melatih motorik anak. Cara bermain menggambar sebagai berikut:

1. Siapkan alat tulis.

2. Berikan contoh cara membuat gambar misalkan gambar bentuk bangun ruang (segitiga, segi empat, dan lingkaran).

3. Lalu perintahkan anak mulai menggambar salah satu bangun ruang. 4. Bagi anak yang terlebih dahulu dapat menyelesaikan menggambar bentuk

bangun ruang menjadi pemenang.

D. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Kecil

1. Pertumbuhan fisik

Menpora dalam Tarigan (2009: 15-16) anak kecil adalah anak berumur 1 atau 2 tahun sampai dengan 6 tahun. Mulai 1 atau 2 tahun tergantung pada anak sudah bisa berjalan sendiri atau belum. Anak yang mulai bisa berjalan dapat dikatakan sebagai anak kecil. Pada masa ini pertumbuhan tubuh relatif cukup lambat. Kepesatan pertumbuhan fisik anak mengalami penurunan dibanding masa bayi. Pada masa ini secara profesional pertumbuhan tinggi badan relatif lebih besar dibanding pertumbuhan besar badan. Soetjiningsih juga

berpendapat bahwa penilaian pertumbuhan fisik anak terletak pada usia 3 tahun.

(31)

badan, presentase pertumbuhan kaki lebih besar dibanding pertumbuhan panjang togok. Perbandingan ukuran anthropemtrik antara laki-laki dengan anak perempuan belum menunjukkan perbedaan yang berarti.

2. Perkembangan Kemampuan Fisik

Menpora dalam Tarigan (2009: 15) pertumbuhan jaringan otot yang mulai cepat pada tahun terakhir masa anak kecil, hal ini menghasilkan peningkatan kekuatan yang lebih besar. Peningkatan kekuatan memungkinkan untuk mulai mampu melakukan bermacam-macam kemampuan gerak dasar yang semakin baik, yaitu gerakan-gerakan berjalan, berlari, meloncat, berjengkel, melempar, menangkap, dan memukul. Pertumbuhan panjang kaki dan tangan yang secara proporsional lebih besar dibanding pertumbuhan togok, menghasilkan

peniongkatan kemampuan gerak kaki dan tangan yang berbentuk gerakan yang mengikuiti prinsip fungsi sistem mengungkit seperti gerakan-gerakan dasar yang telah dikemukakan. Selain itu juga memungkinkan berkembangnya kemampuan melakukan gerakan-gerakan keterampilan lain.

Koordinasi gerak dan keseimbangan tubuh juga berkembang lebih baik. Perkembangan ini dipadukan dengan pertumbuhan jaringan otot dan daya ungkit kaki dan tangan yang lebih besar memberi kemungkinan pada akhir masa anak kecil menjadi mampu melakukan gerakan yang semakin kuat dan semakin cepat. Kemampuan melakukan gerakan yang semakin baik,

(32)

15

3. Minat Melakukan Aktivitas Fisik

Menpora dalam Tarigan (2009: 20) setelah anak bisa berjalan sendiri, minatnya untuk melakukan aktivitas fisik menjadi semakin besar. Anak kecil pada umumnya selalu aktif bergerak. Mereka selalu ingin berjalan menjelajahi lingkungannya, memanjat, memegang atau mengambil apa yang bisa diraihnya. Agar minat bergerak semakin berkembang, sebaiknya anak-anak tidak dilarang untuk banyak bergerak. Karena aktif bergerak merupakan salah satu sarana untuk berjalan, maka minat bergerak perlu terus dikembangkan.

4. Aktivitas yang Diperlukan

Menpora dalam Tarigan (2009: 16) anak kecil memerlukan aktivitas fisik yang cukup besar agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Memerlukan aktivitas gerak tubuh bukan hanya bermanfaat untuk pertumbuhan fisik semata, melainkan juga sangat penting untuk perkembangan daya fikir dan

kreativitasnya. Sebelum anak mampu membaca, menulis, dan berhitung, mereka belajar dan mengekspresikan buah fikirannya melalui gerakan tubuh. Oleh karena itu, anak-anak perlu diberi kesempatan yang cukup leluasa untuk melakukan aktivitas gerak tubuh. Aktivitas yang sebaiknya diberikan adalah sebagai berikut :

a. Aktivitas yang merangsang penggunaan otot kaki, lengan, bahu. b. Permainan sederhana yang mudah dilakukan dan untuk setiap macam

permainan tidak terlalu lama dilakukan karena anak kecil cenderung mudah bosan dengan hanya satu bentuk permainan.

c. Aktivitas menirukan gerakan-gerakan misalnya gerakan binatang dan aktivitas gerak lain menurut kemauannya sendiri.

(33)

e. Aktivitas bermain yang menggunakan sarana dengan berbagai ukuran dan bentuk, misalnya bola, kotak-kotak kecil, pasir, dan alat-alat permainan lainnya.

E. Anak Usia Dini

1. Pengertian Anak Usia Dini

Nenden Theresia (2012: 4) anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun. Hakikat anak usia dini adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio-emosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui anak tersebut. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertembuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental.

Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda .

2. Karakteristik Anak Usia Dini

(34)

17

a) Usia 0-1 Tahun

Perkembangan fisik pada masa bayi mengalami pertumbuhan yang paling cepat dibanding dengan usia selanjutnya karena kemampuan dan keterampilan dasar dipelajari pada usia dini. Kemampuan dan

keterampilan dasar tersebut merupakan modal bagi anak untuk proses perkembangan selanjutnya. Karakteristik anak usia bayi adalah sebagai berikut:

1) Keterampilan motorik antara lain anak mulai berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.

2) Keterampilan menggunakan panca indera yaitu anak melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulut.

3) Komunikasi sosial anak yaitu komunikasi dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi. b) Anak Usia 2–3 Tahun

Usia ini anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat pada

perkembangan fisiknya. Karakteristik yang dilalui anak usia 2-3 tahun antara lain:

1) Anak sangat aktif untuk mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Eksplorasi yang dilakukan anak terhadap benda yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif.

(35)

pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran.

3) Anak belajar mengembangkan emosi yang didasarkan pada factor lingkungan karena emosi lebih banyak ditemui pada lingkungan. c) Anak usia 4–6 Tahun

Anak pada usia ini kebanyakan sudah memasuki Taman Kanak-kanak. Karakteristik anak 4-6 tahun adalah :

1) Perkembangan fisik, anak sangat aktif dalam berbagai kegiatan sehingga dapat membantu mengembangkan otot-otot anak. 2) Perkembangan bahasa semakin baik anak mampu memahami

pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya. 3) Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat ditunjukkan

dengan rasa keingintahuan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Anak sering bertanya tentang apa yang dilihatnya.

4) Bentuk permainan anak masih bersifat individu walaupun dilakukan anak secara bersama-sama.

d) Anak usia 7–8 Tahun

Karakteristik anak usia 7-8 tahun adalah :

1) Dalam perkembangan kognitif, anak mampu berpikir secara analisis dan sintesis, deduktif dan induktif (mampu berpikir bagian per bagian).

2) Perkembangan sosial, anak mulai ingin melepaskan diri dari orangtuanya. Anak sering bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebayanya.

(36)

19

4) Perkembangan emosi anak mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak.

3. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Aspek-aspek perkembangan anak seperti aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif satu sama lain saling terkait secara erat. Perkembangan anak tersebut terjadi dalam suatu urutan yang berlangsung dengan rentang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masingmasing fungsi.

Perkembangan berlangsung ke arah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat.

Pengalaman pertama anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak. Perkembangan dan belajar dapat terjadi karena

dipengaruhi oleh konteks sosial dan kultural yang merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial tempat anak tinggal. Perkembangan mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh dan ketika mereka mengalami tantangan.

(37)

untuk mengetahui dan belajar tentang suatu hal yang kemudian mempresentasikan apa yang mereka tahu dengan cara mereka sendiri.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip anak usia dini adalah anak merupakan pembelajar aktif. Perkembangan dan belajar anak merupakan interaksi anak dengan lingkungan antara lain melalui bermain. Bermain itu sendiri merupakan sarana bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Melalui bermain anak memiliki kesempatan untuk

mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh sehingga perkembangan anak akan mengalami percepatan.

F. Motorik

1. Pengertian Motorik

Menpora dalam Tarigan (2009: 56 ) Motorik adalah keseluruhan proses yang terjadi pada tubuh manusia, yang meliputi proses pengendalian (koordinasi) dan proses pengaturan (kondisi fisik) yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi dan faktor psikis untuk mendapatkan suatu gerakan yang baik. Motorik dibedakan menjadi 2 yaitu motorik halus dan motorik kasar.

2. Perkembangan Motorik

(38)

21

a. Perkembangan Gerakan Motorik Halus

Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari

tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan.

Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar. Contoh gerakan motorik halus pada anak-anak adalah mencoret-coret dengan 1 tangan, menggambar garis tak beraturan, memegang pensil, belajar menggunting, mengancingkan baju, memakai baju sendiri.

b. Perkembangan gerakan motorik kasar

Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contoh gerakan motorik kasar pada anak-anak adalah berjalan, merangkak, memukul, mengayunkan tangan, berdiri dengan 1 kaki, naik tangga dan lompat di anak tangga terakhir,

(39)

G. Motorik Halus

1. Pengertian Motorik Halus

Menurut Profesor Janet W. Lerner dalam Sudono (2000: 53) motorik halus adalah keterampilan menggunakan media dengan koordinasi antara mata dan tangan. Hurlock (1978: 39) mengemukakan bahwa perkembangan motorik anak adalah suatu proses kematangan yang berhubungan dengan aspek deferensial bentuk atau fungsi termasuk perubahan sosial emosional. Proses motorik adalah gerakan yang langsung melibatkan otot untuk

bergerak dan proses persyaratan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan anggota tubuhnya (tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya).

Berdasarkan kutipan diatas motorik halus adalah pengorganisasian otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan koordinasi mata dan tangan.

2. Faktor yang Mempengaruhi Motorik Halus

Depdiknas dalam Rusli Lutan(1997: 76) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempercepat atau memperlambat perkembangan motorik halus antara lain :

a. Faktor Genetik

Individu mempunyai beberapa faktor keturunan yang dapat menunjang perkembangan motorik misal otot kuat, syaraf baik, kecerdasan yang menyebabkan perkembangan motorik individu tersebut menjadi cepat dan baik.

(40)

23

Janin yang selama dalam kandungan dalam keadaan sehat, tidak keracunan, tidak kekurangan gizi, tidak kekurangan vitamin dapat membantu memperlancar motorik anak.

c. Faktor Kesulitan Dalam Melahirkan

Faktor kesulitan dalam melahirkan misalnya dalam perjalanan melahirkan menggunakan bantuan alat vacuum, tang, sehingga bayi mengalami kerusakan otak dan akan memperlambat perkembangan motorik bayi.

d. Kesehatan dan Gizi

Kesehatan dan gizi yang baik pada awal kehidupan pasca melahirkan anak mempercepat perkembangan motorik bayi.

e. Rangsangan

Adanya rangsangan, bimbingan, dan kesempatan anak untuk

menggerakan semua bagian tubuh akan mempercepat perkembangan motorik bayi.

f. Perlindungan

Perlindungan yang berlebihan sehingga anak tidak ada waktu untuk bergerak misalnya anak hanya digendong terus, ingin naik tangga tidak boleh akan memperlambat perkembangan motorik anak.

g. Prematur

Kelahiran sebelum masanya disebut prematur biasanya akan memperlambat perkembangan motorik anak.

h. Kelainan

(41)

Peratutan daerah setempat dapat mempengaruhi perkembangan motorik anak misalnya ada daerah yang tidak mengizinkan anak putri naik sepeda maka tidak akan diberi pelajaran naik sepeda roda tiga.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kualitas perkembangan anak ditentukan oleh :

1) Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang berasal dari individu itu sendiri yang meliputi pembawaan, potensi, psikologis, semangat belajar serta kemampuan khusus.

2) Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar diri anak baik yang berupa pengalaman teman sebaya, kesehatan dan lingkungan.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motorik halus tidak lepas dari sifat dasar genetik serta keadaan pasca lahir yang berhubungan dengan pola perilaku yang diberikan kepada anak serta faktor internal dan eksternal yang ada disekeliling anak dan pemberian gizi yang cukup.

3. Karakteristik Perkembangan Motorik Halus

Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 10) menjelaskan bahwa karakteristik perkembangan motorik halus anak sebagai berikut :

a. Pada Saat Anak Berusia Tiga Tahun

(42)

25

dengan menggunakan jempol dan jari telunjuknya tetapi gerakan itu sendiri masih kaku.

b. Pada Usia Empat Tahun

Pada usia empat tahun koordinasi motorik halus anak secara substansial sudah mengalami kemajuan dan gerakannya sudah lebih cepat bahkan cenderung ingin sempurna.

c. Pada Usia Lima Tahun

Pada usia lima tahun koordinasi motorik halus anak sudah lebih sempurna lagi tangan, lengan, dan tubuh bergerak dibawah koordinasi mata. Anak juga telah mampu membuat dan melaksanakan kegiatan yang lebih majemuk, seperti kegiatan proyek.

d. Pada Akhir Masa Kanak-kanak Usia Enam Tahun

Pada akhir masa kanak-kanak usia enam tahun ia telah belajar bagaimana menggunakan jari-jemarinya dan pergelangan tangannya untuk

menggerakan ujung pensilnya.

4. Konsep Dasar Pengembangan Motorik Halus

Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 11) menyebutkan bahwa menggambar diawali dengan membuat garis vertikal dan horizontal, spielgaben dan spielformen dengan permainan bentuk, alat permainan berforbel (pekerjaan tangan) misalnya mozaik, menganyam kertas, kertas lipat dan tanah liat. Untuk melatih fungsi-fungsi motorik anak tidak perlu diadakan alat-alat tertentukehidupan sehari-hari cukup memberi latihan bagi motorik anak. Asas metode Mentoseri adalah :

(43)

Perkembangan itu terjadi dengan cara latihan yang dapat dikerjakan sendiri oleh anak-anak.

b. Masa Peka

Masa peka merupakan masa dimana bermacam-macam fungsi muncul menonjol diri tegas untuk dilatih.

c. Kebebasan

Mendidik untuk kebebasan dan dengan kebebasan bertujuan agar masa peka dapat menampakan diri secara leluasa dengan tidak dihalang-halangi didalam mengekspresikan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar pengembangan motorik adalah dari alat indera pengelihatan untuk melakukan pengamatan permulaannya. Setelah itu anak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan sesuai dengan kehendak anak.

5. Prinsip Dalam Pengembangan Motorik Halus

Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 13) menjelaskan bahwa untuk

mengembangkan motorik halus pada anak 4-6 tahun di Taman kanak-kanak agar berkembang secara optimal, maka perlu memperhatikan

prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Memberikan kebebasan untuk berekspresi pada anak

b. Melakukan pengaturan waktu, tempat, media (alat dan bahan) agar dapat merangsang anak untuk berkreatif.

(44)

27

d. Menumbuhkan keberanian anak dan hindarkan petunjuk yang dapat merusak keberanian dan perkembangan anak.

e. Membimbing anak sesuai dengan kemampuan dan taraf perkembangannya.

f. Memberikan rasa gembira pada anak dan menciptakan suasana yang menyenangkan.

g. Melakukan pengawasan menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan.

6. Tujuan Peningkatan Motorik Halus

Tujuan pengembangan motorik halus anak yaitu :

a. Mampu memfungsikan otot-oto kecil seperti gerakan jari tangan. b. Mampu mengkoordinasikan kecepatan tangan dengan mata. c. Mampu mengendalikan emosi.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan peningkatan motorik halus ini diantaranya adalah untuk meningkatkan kemampuan anak agar dapat mengembangkan kemampuan motorik halus khususnya jari tangan dan optimal kearah yang lebih baik.

7. Fungsi Perkembangan Motorik Halus

Elizabeth B. Hurlock (1978) mencatat tentang beberapa alasan fungsi perkembangan motorik halus bagi konsentrasi perkembangan individu yaitu:

(45)

keterampilan memainkan boneka, menangkap dan melempar bola, atau memainkan alat-alat mainan lainnya.

b. Melalui keterampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi

helpessness (tidak berbahaya), pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ke kondisi yang independence (bebas dan tidak bergantung) anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya, kondisi ini dapat menunjang perkembangan self confidence (rasa percaya diri).

c. Melalui keterampilan motorik anak dapat menyesuaikan dirinya dengan sekolah (school adjustment), pada usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau usia kelas awal dasar, anak sudah dapat dilatih menggambar,

melukis, baris-berbaris, dan persiapan menulis.

H. Motorik Kasar

1. Pengertian Motorik Kasar

Motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan

sebagainya. Perkembangan motorik kasar anak lebih dulu dari pada motorik halus, misalnya anak akan lebih dulu memegang benda-benda yang ukuran besar dari pada ukuran yang kecil. Karena anak belum mampu mengontrol gerakan jari-jari tangannya seperti meruncing pensil, menggunting dan lain-lain.

(46)

29

tubuh anak. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot-otot besar, seperti otot tangan, otot kaki dan seluruh tubuh anak. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gerakan motorik kasar adalah menggerakan berbagai bagian tubuh atas perintah otak dan mengatur gerkan badan

terhadap macam-macam pengaruh dari luar dan dalam. Motorik kasar sangat penting dikuasai oleh sesorang karena bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tanpa mempunyai gerak yang bagus akan ketinggalan dari orang lain seperti : berlari, melompat, mendorong, melempar, menangkap, menendang, dan lain sebagainya, kegiatan itu memerlukan dan menggunakan otot-otot besar pada tubuh seseorang.

Dengan demikian yang dimaksud motorik kasar adalah kemampuan yang membutuhkan koordinasi bagian tubuh anak seperti mata, tangan, dan aktivitas otot kaki, dalam menyeimbangkan badan dan kekuatan kaki.

2. Unsur-unsur Motorik Kasar

Keterampilan motorik setiap orang pada dasarnya berbeda-beda tergantung pada banyaknya gerakan yang dikuasainya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan motorik kasar unsur-unsurnya identik dengan unsur yang dikembangkan dalam kebugaran jasmani pada umumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 1) bahwa perkembangan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh.

3. Karakteristik Perkembangan Motorik kasar

(47)

Taman Kanak-kanak yang selalu bergerak, sulit untuk diam, memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu mengeksperimenkan diri secara kreatif, mempunyai imajinasi dan senang berbicara.

Perkembangan anak usia 5-6 tahun sangatlah pesat. Pada usia ini, anak mulai mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dan memperbaiki keterampilan yang sudah dimilikinya. Perkembangan ini juga ditunjukan oleh keseimbangan yang baik dalam meniti balok titian atau papan titian, melompati berbagai objek, meloncat dengan baik, melompati tali, melompat dan turun melewati beberapa anak tangga, memanjat, koordinasi gerakan berenang, dan bahkan mengendarai sepeda roda dua.

4. Metode Pengembangan Motorik Kasar

Metode merupakan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Untuk mengembangkan motorik anak guru dapat menerapkan metode-metode yang akan menjamin anak tidak mengalami cidera dan

menyesuaikannya dengan karakteristik anak TK. Hal-hal yang perlu dilakukan guru dalam pemilihan metode untuk meningkatkan motorik anak TK adalah menciptakan lingkungan yang aman dan kegiatan yang

menantang, menyediakan tempat, bahan dan alat yang digunakan dalam keadaan yang baik, serta membimbing anak mengikuti kegiatan tanpa menimbulkan rasa takut dan cemas dalam menggunakannya.

Selain itu metode yang akan dipilih harus memungkinkan anak bergerak dan bermain lebih leluasa, karena gerak adalah unsur yang paling utama

(48)

31

5. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar

Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 2) pengembangan motorik kasar di TK bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih gerak kasar, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dpat menunjang pertumbuhan jasmani yang sehat, kuat dan terampil. Sesuai dengan tujuan pengembangan jasmani tersebut, anak didik dilatih gerakan-gerakan dasar yang akan membantu perkembangannya kelak.

Pengembangan kemampuan dasar anak dilihat dari kemampuan motoriknya, sehingga guru-guru TK perlu membantu mengembangkan keterampilan motorik anak dalam hal memperkenalkan dan melatih gerakan motorik kasar anak, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan terampil.

Kartini Kartono dalam Nenden Theresia (2012: 68) mengatakan bahwa kompetensi anak TK yang diharapkan dapat dikembangkan guru saat anak memasuki TK adalah mampu melakukan aktivitas motorik secara

terkoordinasi dalam rangka kelenturan dan kesiapan untuk menulis, keseimbangan, dan melatih keberanian.

6. Fungsi Pengembangan Motorik Kasar

Depdiknas Dalam Rusli Lutan (1997: 6) disebutkan fungsi pengembangan motorik kasar pada anak TK adalah sebagai berikut :

(49)

b. Memacu pertumbuhan dan pengembangan fisik atau motorik, rohani dan kesehatan anak.

c. Membentuk, membangun, dan memperkuat tubuh anak.

d. Melatih keterampilan atau ketangkasan gerak dan berfikir anak. e. Meningkatkan perkembangan emosional anak.

f. Meningkatkan perkembangan sosial anak.

g. Menumbuhkan perasaan menyenangi dan memahami manfaat kesehatan pribadi.

I. Penelitian yang Relevan

Guna mendukung penelitian ini maka memerlukan penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan menggambar dekoratif (Disti Purwasih dan Tin Rustini, Jurusan Pedagogik, Kampus Cibiru, Universitas Pendidikan Indonesia).

Permasalahan yang terjadi di Tk Bina Pemula menunjukan bahwa metode pengembangan kemampuan motorik halus masih menekankan pada media yang digunakan, yaitu majalah. Sehingga anak nampak sudah bosan dalam

mengikuti kegiatan yang diberikan.

Hal tersebut menjadi alasan yang mendasari rumusan masalah, yaitu bagaimana proses kegiatan menggambar dekoratif dan bagaimana meningkatkan

(50)

33

2. Upaya Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Kegiatan Bermain Bola (Nikmah, Pendidikan Anak Usia Dini IKIP Veteran Semarang).

Berdasarkan data dari RA Minsya’ul Wathon Grogolan Dukuhseti Pati tentang

bermain bola untuk meningkatkan bermain akan memerintah orang banyak yang belum mampu meningkatkan motorik kasar dengan baik. hanya anak yang memenuhi keberhasilan dalam berbahasa baru mencapai 40% dari 25 anak. Berarti masih ada 60% atau 15 anak yang belum mampu berbahasa melalui pemanfaatan media gambar bertema. Dengan demikian banyak anak yang belum mampu memenuhi keberhasilan dari kegiatan tersebut. Berdasarkan observasi diatas, kami akan mengadakan penelitian tindakan kelas agar anak dapat mencapai ketuntasan dalam pembelajaran. Dalam konteks di atas bahwa pemanfaatan media gambar bertema diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan berbahasa anak. Sehingga dapat meningkatkan ilmu pengetahuan anak. Sehingga anak menjadi lebih kreatif, aktif, inovatif dan menyenangkan.

3. Pengaruh Permainan Modifikasi Terhadap Kemammpuan Motorik Kasar dan Kognitif Anak Usia Dini (Asep Deni Gustiana, UPI).

(51)

dini. Modifikasi yang dilakukan bisa dari segi bentuk permainan, peraturan, alat, jumlah pemain, dan lama permainan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif yakni metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian yang digunakan (nonequivalent control groups design) pada anak kelompok B TK Kartika dan TK Labschool, masing-masing sebanyak 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan motorik kasar antara kelas kontrol dan eksperimen pada saat postes dengan skor rata-rata kelas kontrol 21.4, dan kelas eksperimen 28.95.

Dari hasil penelitian tersebut terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif antara kelas kontrol dan eksperimen pada saat postes dengan skor rata-rata kelas kontrol 33.25 dan skor rata-rata-rata-rata kelas eksperimen 36.4, serta terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan (N-Gain) kemampuan motorik kasar antara kelas kontrol dan eksperimen, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan (N-Gain) kemampuan kognitif antara kelas kontrol dan eksperimen.

J. Kerangka Pikir

(52)

35

berkembang secara optimal. Melemparkan bola diperlukan otot lengan yang berkembang secara optimal.

Permainan ini merupakan salah satu permainan anak untuk usia 5-6 tahun yang dapat meningkatkan motorik halus dan motorik kasar karena dalam permainan ini melibatkan otot - otot besar dan otot - otot kecil. Dengan bermain lempar tangkap bola dapat melatih kelenturan, koordinasi otot dan jari tangan, meningkatkan perkembangan emosional dan sosial anak. Menggambar adalah membuat garis yang membentuk suatu pola yang menyerupai bangun ruang. Untuk memperoleh hasil gambar yang baik jari - jemari anak harus berkembang secara optimal. Dengan menggambar anak mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan, mampu mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan, mampu mengendalikan emosi.

Berdasarkan uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa melalui bermain lempar tangkap bola dan menggambar dapat mempengaruhi motorik anak baik itu motorik halus maupun kasar.

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Lempar Tangkap Bola - Menggambar

Motorik

(53)

K. Hipotesis

Sugiyono (2013: 96) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan menggambar terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan bermain lempar tangkap bola yang dilanjutkan menggambar terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan menggambar yang dilanjutkan lempar tangkap bola terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

H2 : Terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan menggambar yang dilanjutkan lempar tangkap bola terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

H0 : Kelompok yang diberi perlakuan menggambar yang dilanjutkan lempar tangkap bola lebih berpengaruh terhadap motorik anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu.

(54)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metodologi penelitian sebagai salah satu cara untuk memecahkan suatu masalah atau permasalahan yang dihadapi, memegang peranan penting dalam penelitian ilmiah. Selain membeberkan garis-garis yang cermat, juga akan menentukan harga ilmiah suatu penelitian. Metode penelitian sangat diperlukan untuk menentukan data dan pengembangan suatu pengetahuan dan serta untuk menguji suatu kebenaran ilmu pengetahuan. Menurut Arikunto (2013: 207) penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Dengan kata

lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok pembanding yang tidak menerima perlakuan.

Berdasarkan definisi di atas metode eksperimen merupakan metode yang tepat digunakan dalam penelitian ini.

B. Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2013: 117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

(55)

dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh anak TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu. Sampel penelitian ini adalah seluruh anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan Sukoharjo Pringsewu yang berjumlah 30 orang, dari sampel tersebut akan dibagi menjadi dua kelompok dengan menggunakan Ordinal Pairing yang berjumlah masing-masing sebanyak 15 anak dalam setiap kelompok.

C. Variabel Penelitian

Hatch dan Farhady dalam Sugiyono (2013: 60) mendefinisikan variabel sebagai atribut seseorang, atau objek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain.

Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel bebas dan dua variabael terikat. 1. Variabel Bebas (X)

Menurut Sugiyono (2013: 61) variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah permainan lempar tangkap bola dilanjutkan dengan menggambar (X1) dan menggambar dilanjutkan dengan lempar tangkap bola (X2).

2. Variabel Terikat (Y)

Menurut Sugiyono (2013: 61) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah motorik anak (Y).

D. Definisi Operasional Variabel

(56)

39

jelas, maka diperlukan pendefinisian variabel secara operasional. Untuk mempermudah pengukuran di lapangan, maka definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar adalah satu

rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan perkembangan motorik kasar lalu yang dilanjutkan dengan motorik halus.

2. Menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola adalah satu

rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan perkembangan motorik halus lalu yang dilanjutkan dengan motorik kasar.

3. Motorik adalah keseluruhan proses yang terjadi pada tubuh manusia, yang meliputi proses pengendalian (koordinasi) dan proses pengaturan (kondisi fisik).

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengambilan data dilaksanakan dengan tes dan pengukuran. Tes dan pengukuran merupakan bagian yang integral dalam proses penilaian hasil belajar siswa, dengan melelui tes dan pengukuran kita akan memperoleh data yang objektif. Menurut Nurhasan (1989: 1.3) tes adalah alat ukur yang dapat dipergunakan untuk memperoleh data yang objektif tentang hasil belajar anak, sedangkan pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi dari suatu objek tertentu dan dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Tes dan pengukuran dalam penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang keterampilan gerak motorik anak.

(57)

sampai memasukannya dan menggambar bangun ruang. Penelitian ini berlangsung selama 5 kali pertemuan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

Seluruh sampel selanjutnya di tes melakukan gerakan berlari mengambil bola dari satu tempat dan memasukan ke dalam kardus dan menggambar bangun ruang. Tujuan tes ini adalah untuk menilai keterampilan gerak motorik anak sebelum dilakukan latihan lempar tangkap bola dan menggambar. Pada penelitian ini sebelum diambil tesnya, maka teste diberikan pemanasan, petunjuk pelaksanaan tes.

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan tahap ini merupakan inti dari pelaksanaan penelitian secara

keseluruhan, karena itu kelompok eksperimen diberikan perlakuan dan beban latihan yang sama selama 5 kali pertemuan.

3. Tahap Pengambilan Data

Setelah selama 5 kali pertemuan diberi perlakuan selanjutnya dilakukan tes kembali sebagai tes akhir yang dilaksanakan seperti pada tes awal. Tujuan tes ini adalah untuk menilai keterampilan gerak motorik anak setelah diberikan perlakuan lempar tangkap bola dan menggambar. Pelaksanakan tes akhir sama dengan pelaksanaan tes awal. Dilaksanakannya tes akhir adalah untuk

mengetahui hasil yang dicapai oleh anak pada kelompok eksperimen.

F. Rancangan Penelitian

(58)

41

tangkap bola. Pemberian perlakuan dilakukan selama 5 kali pertemuan. Setelah 5 kali pertemuan kemudian dites kemampuan akhir (post-test).

Desain eksperimen dalam penelitian ini menggunakan pretest-posttest desain sperti gambar berikut :

K1 X1 T2 T1 Op

K2 X2 T2

Gambar 3.1 Rencana penelitian pengaruh bermain lempar tangkap bola dan menggambar terhadap motorik anak.

Keterangan gambar : T1 : Tes awal (pre-test) T2 : Tes akhir (post-test) Op : Ordinal Pairing

K1 : Kelompok eksperimen dengan perlakuan lempar tangkap bola yang dilanjutkan menggambar

K2 : Kelompok eksperimen dengan perlakuan menggambar yang dilanjutkan lempar tangkap bola

X1 : Perlakuan dengan lempar tangkap bola dan dilanjutkan menggambar X2 : Perlakuan dengan menggambar yang dilanjutkan lempar tangkap bola

G. Instrumen Penelitian

(59)

1. Uji Validitas Instrumen

Menurut Arikunto (2002 : 168) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Validitas tes adalah suatu alat ukur yang dikatakan valid apabila dapat mengukur atau apa yang seharusnya diukur. Setelah data didapat dan ditabulasikan maka pengujian validitas konstruksi (Construct) dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrumen. Dalam penelitian ini pengujian validitas item instrumen menggunakan bantuan software SPSS versi 17.0 dengan rumus korelasi product moment adalah :

  

Jumlah kuadrat skor variabel X Y2 : Jumlah kuadrat skor variabel Y

(60)

43

2. Uji Reliabilitas

Bentuk soal tes yang digunakan pada penelitian ini adalah soal tes tipe uraian. Menurut Arikunto (2008:109) untuk mencari koefisien reliabilitas (r11) soal

tipe uraian menggunakan rumus Alpha yang dirumuskan sebagai berikut:

r11 =

Keterangan:

r 11 = Koefisien reliabilitas alat evaluasi = Banyaknya butir soal

= Jumlah varians skor tiap soal

= Varians skor total

Menurut Guilford (Azwar, 2007:180) koefisien reliabilitas diinterpretasikan menggunakan kriteria seperti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kriteria Reliabilitas

Koefisien relibilitas (r11) Kriteria

r11≤ 0,20 Sangat rendah 0,20 < r11 ≤ 0,40 Rendah 0,40 < r11≤ 0,60 Sedang 0,60 < r11≤ 0,80 Tinggi 0,80 < r11≤ 1,00 sangat tinggi

Setelah dilakukan perhitungan didapatkan reliabilitas soal yang telah diujicobakan sebesar 0,96 atau reliabilitas sangat tinggi. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.

H. Teknik Analisis Data

(61)

setelah dilakukan pembelajaran (postes) pada kedua kelompok belajar. Setelah diperoleh data pretes dan postes, selanjutnya dibuat tabel pretes dan postes. Tahap selanjutnya adalah menghitung rata-rata skor pretes dan postes. Apabila skor pretes tidak berbeda secara signifikan maka besarnya peningkatan dilihat dari data postes. Namun, apabila skor pretes berbeda secara signifikan maka besarnya peningkatan dilihat dari skor gain ternormalisasi. Data yang diperoleh dari hasil pretes dan postes kemampuan motorik anak dianalisis untuk mengetahui besarnya peningkatan kemampuan motorik anak pada kelompok yang mengikuti latihan lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar dan anak yang mengikuti latihan menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola. Pengolahan dan analisis data kemampuan motorik anak dilakukan dengan

menggunakan uji statistik terhadap skor awal dan skor akhir dari kedua kelompok sampel dengan bantuan software SPPS versi 17.0. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

1. Data Awal Kemampuan Motorik Anak a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menentukan apakah data yang didapat berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Z. Adapun hipotesis uji adalah sebagai berikut:

Ho : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk menghitung nilai statistik Uji Kolmogorov Smirnov Z, dengan signifikansi uji, terbesar dibandingkan dengan nilai tabel Kolmogorov

(62)

45

Keterangan:

angka pada data

rata-rata data

s = standar deviasi

FT = Probabilitas komulatif normal Fs = Probablititas komulatif empiris (Trihendradi, 2005:110).

Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov Z (K-S Z) menggunakan software SPPS versi 17.0 dengan kriteria pengujian yaitu jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih besar dari , maka hipotesis nol

diterima (Trihendradi, 2005:113). Setelah dilakukan pengujian normalitas pada skor awal kemampuan motorik anak didapat hasil yang disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Uji Normalitas Skor Awal Kemampuan Motorik Anak

Kelompok Penelitian

Banyaknya Siswa K-S (Z) Probabilitas (Sig)

K1 15 0,198 0,118

(63)

Gambar 3.2 Uji Normalitas Skor Awal Kemampuan Motorik Anak.

Tabel 3.2 dan grafik 3.2 menunjukkan bahwa sig untuk k1 maupun k2 lebih besar dari 0,05, sehingga hipotesis nol diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data skor awal kemampuan motorik anak yang

mengikuti lempar tangkap bola yang dilanjutkan dengan menggambar dan kelas yang mengikuti latihan menggambar yang dilanjutkan dengan lempar tangkap bola berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Perhitungan uji normalitas data skor awal dapat dilihat pada Lampiran 7.

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas variansi dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok data memiliki varians yang homogen atau tidak. Untuk menguji homogenitas variansi maka dilakukan uji Levene. Adapun hipotesis untuk uji ini adalah:

Ho : (kedua kelompok populasi memiliki varians yang homogen)

H1 : (kedua kelompok populasi memiliki varians yang tidak

homogen).

(64)

47

Keterangan:

SSb = Jumlah kuadrat antar kelompok SSw = Jumlah kuadrat antar kelompok dengan

dan

(Fathoni, 2013: 8).

Dalam penelitian ini, uji Levene dilakukan dengan bantuan software SPSS versi 17.0 dengan kriteria pengujian adalah jika nilai sig lebih besar dari

, maka hipotesis nol diterima (Trihendradi, 2005:145).

Berdasarkan hasil uji normalitas pada data skor awal kemampuan motorik anak diketahui bahwa kedua kelompok berasal dari populasi yang

berdistribusi normal. Sehingga selanjutnya dilakukan uji homogenitas terhadap skor awal kemampuan motorik anak. Setelah dilakukan

perhitungan diperoleh hasil uji homogenitas yang disajikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Uji Homogenitas Populasi Skor Awal Kemampuan Motorik Anak

Kelompok

Penelitian Varians Statistik Levene

Probabilitas (Sig)

K1 1,809 0,251

0,251

0,620

(65)

Gambar 3.3 Uji Homogenitas Populasi Skor Awal Kemampuan Motorik Anak.

Tabel 3.3 dan gambar 3.3 menunjukkan bahwa nilai sig lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis nol diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa data skor awal kemampuan motorik halus dan kasar anak dari kedua kelompok populasi memiliki varians yang homogen. Perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran 8.

c. Uji Hipotesis

Setelah melakukan uji normalitas dan homogenitas data, diperoleh bahwa data skor awal dari kedua sampel berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Apabila data dari kedua sampel berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen maka untuk menguji kesamaan dua rata-rata dilakukan uji t (Sudjana, 2005:243). Adapun rumusan hipotesis uji sebagai berikut.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Pikir
Gambar 3.1  Rencana penelitian pengaruh bermain lempar tangkap bola
Tabel 3.1 Kriteria Reliabilitas
Tabel 3.2 Uji Normalitas Skor Awal Kemampuan Motorik Anak
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan lempar-tangkap bola basket memberi pengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan koordinasi visual motorik anak

Data ini menunjukkan terdapat peningkatan pendekatan bermain lempar tangkap terhadap hasil belajar servis bawah pada siswa kelas VII SMPN 1 Nanga Mahap

Dalam kegiatan observasi yang diamati adalah seluruh kegiatan anak selama mengikuti aktivitas bermain lempar tangkap bola besar. Pengamatan dilaksanakan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pendekatan bermain lempar tangkap terhadap hasil belajar servis bawah pada siswa kelas VII SMPN 1 Nanga

Bermain lempar tangkap bola voli merupakan suatu metode atau pendekatan belajar yang dapat membantu kesulitan siswa dalam pembelajaran bolavoli khususnya koordinasi gerak dasar

Pengaruh terapi bermain menggambar dekoratif … [email protected] 1 PENGARUH TERAPI BERMAIN MENGGAMBAR DEKORATIF TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK

Pra Siklus Kondisi pra siklus merupakan gambaran kondisi kemampuan anak dalam kesegaran jasmani lempar tanggkap bola sebelum media atau belajar yang baru digunakan.Gambaran kemampuan

Tidak hanya itu guru juga bisa melakukan gerakan melempar dan menangkap bola dan Peserta didik dapat menirukan, melihat dan mengamati kegiatan lempar tangkap bola, motorik kasar anak