• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN SIFAT KIMIA TANAH DALAM PERAKARAN BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PADA TOPSOIL DAN SUBSOIL TANAH MARGINAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN SIFAT KIMIA TANAH DALAM PERAKARAN BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PADA TOPSOIL DAN SUBSOIL TANAH MARGINAL"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PADA

TOPSOIL

DAN

SUBSOIL

TANAH MARGINAL

Oleh

SHIAMITA KUSUMA DEWI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian

pada

Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PERBEDAAN SIFAT KIMIA TANAH DALAM PERAKARAN

BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PADA

TOPSOIL

DAN

SUBSOIL

TANAH MARGINAL

O l e h

S H I A M I T A K U S U M A D E W I

Kebutuhan akan tanah produktif terus meningkat, tetapi ketersediaannya terbatas, sehingga perbaikan lahan marginal perlu dilakukan, salah satunya dengan

introduksi C-Organik asal tumbuhan. Introduksi C-Organik dapat dilakukan dengan pemberian serasah atau penanaman vegetasi yang berpotensi memperbaiki sifat kimia tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan sifat kimia tanah dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan dan mengetahui tumbuhan yang paling memengaruhi perbedaan sifat kimia tanah. Penelitian dilakukan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Januari sampai Maret 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Split-Split Plot terdiri dari 3 faktor dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa introduksi C-Organik melalui penanaman vegetasi Asystasia gangetica, Arachis pintoi, Widelia sp., Paspalum conjugatum, dan Pennisetum purpureum

(3)

Tanjung Bintang berbeda, baik pada lapisan topsoil maupun subsoil. Setelah penanaman, reaksi tanah pada tanah Jabung secara umum lebih asam dibandingkan tanah Tanjung Bintang, menunjukkan lebih tingginya kapasitas sangga tanah Jabung dalam menetralisasi alkalinisasi akibat tanaman. A. pintoi mengakibatkan pH terendah pada tanah Jabung dan Widelia sp. juga mengakibatkan pH terendah pada tanah Tanjung Bintang, menunjukkan kedua tanaman ini menyebabkan tanah lebih asam. Kandungan C-Organik tanah Jabung lebih tinggi dibanding tanah Tanjung Bintang, di topsoil lebih tinggi daripada di subsoil pada kedua jenis tanah, tetapi tidak dipengaruhi jenis tumbuhan. Kandungan K-dd tanah Jabung lebih tinggi dibanding Tanjung Bintang, K-dd pada tanah dengan tanaman A. pintoi lebih tinggi dibanding tanaman lain. Bobot kering brangkasan tanaman di tanah Jabung secara umum lebih tinggi dibanding di tanah Tanjung Bintang dan di topsoil lebih tinggi daripada di subsoil. Bobot kering brangkasan tertinggi didapat akibat ditanami P. purpureum dan terendah akibat ditanami A. pintoi. Bobot kering akar pada tanah

Jabung lebih tinggi dibanding pada Tanjung Bintang, dan lebih tinggi pada subsoil daripada pada topsoil. Bobot kering brangkasan berbanding lurus dengan K-dd.

(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI 3.5 Parameter Pengamatan. ………. 16 18 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….20

4.1 Perbedaan Sifat Kimia Tanah dalam Perakaran Beberapa Jenis Tumbuhan pada Lapisan Topsoil dan Subsoil Tanah Marginal. 4.1.1 Sifat Kimia Tanah Awal. ………..…….. 4.1.2 Pengaruh Gulma, Jenis Tanah, dan Lapisan Tanah

terhadap Sifat Kimia Tanah. ……….... 4.1.2.1 Perbedaan pH akibat Pengaruh Gulma, Jenis

Tanah, dan Lapisan Tanah. ……….… 4.1.2.2 Perbedaan C-Organik akibat Pengaruh Gulma,

(7)

4.1.2.3 Perbedaan K-dd akibat Pengaruh Gulma, Jenis Tanah, dan Lapisan Tanah. ……… 4.2 Perbedaan Bobot Kering Brangkasan dan Akar Beberapa Jenis

Tumbuhan pada Lapisan Topsoil dan Subsoil Tanah Marginal. ...………. 4.2.1 Perbedaan Bobot Kering Brangkasan Akibat Interaksi

Gulma dan Jenis Tanah. …………..……….…… 4.2.2 Perbedaan Bobot Kering Akar Akibat Pengaruh Gulma,

Jenis Tanah dan Lapisan Tanah. ……….…. 4.3 Uji Korelasi antarpeubah Pengamatan. ………..…

28 31 32 33 35

V. KESIMPULAN DAN SARAN ……….………. 40

5.1 Kesimpulan. ..………. 40

5.2 Saran. ..………. 40

PUSTAKA ACUAN ……….………. 41

(8)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Tanah marginal adalah tanah sub-optimum yang potensial untuk pertanian baik untuk tanaman kebun, hutan, ataupun pangan. Tetapi secara alami kesuburanan tanah marginal ini tergolong rendah yang ditunjukkan oleh tingkat keasaman yang tinggi, ketersediaan hara yang rendah, kejenuhan, dan basa-basa dapat dipertukarkan rendah. (Suharta, 2010). Di Indonesia lahan marginal dijumpai baik pada lahan basah

maupun lahan kering. Lahan basah berupa lahan gambut, lahan sulfat masam dan rawa pasang surut seluas 24 juta ha, sementara lahan kering berupa tanah Ultisol 47,5 juta ha dan Oxisol 18 juta ha (Suprapto, 2002).

Kebutuhan akan lahan produktif semakin meningkat, tetapi ketersediaannya semakin terbatas, terutama pada saat ini, ketika kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak) mulai mendorong terjadinya pengembangan BBN (Bahan Bakar Nabati). BBN adalah bahan bakar yang berasal dari tanaman seperti kelapa sawit, kelapa, tebu, aren, sorgum, singkong ataupun jarak pagar. Ekstensifikasi pertanian dengan konversi lahan (pangan) atau konversi hutan tidak mungkin dilakukan, karena akan

(9)

Oleh karena itu perbaikan lahan marginal merupakan salah satu solusi alternatif untuk memperluas lahan produktif di Indonesia.

Perbaikan tanah marginal dapat dilakukan dengan memperbaiki sifat tanah baik fisika, biologi ataupun kimia. Menurut Prasetyo (2006), peningkatan produktivitas tanah marginal Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik. Perbaikan sifat fisika dapat dilakukan dengan perbaikan agregasi tanah, ataupun penggunaan lahan dengan penerapan sistem konservasi tanah dan air. Salah satu cara untuk memperbaiki sifat kimia tanah adalah dengan mengintroduksi C-organik melalui penanaman langsung

vegetasi/tumbuhan.

Penanaman vegetasi pada lahan bera telah dipercaya memiliki kemampuan untuk mempertahankan kesuburan tanah (Sanchez, 1976). Menurut Dyani dkk. (1990), secara umum vegetasi dapat memperkaya tanah bagian atas melalui litter fall (serasah daun) yang sekaligus dapat berfungsi sebagai perangkap nutrisi atau unsur hara agar tidak terlindi ke dalam tubuh tanah. Ini termasuk di dalamnya

meningkatkan kandungan C-tanah dan unsur hara lainnya.

(10)

1.2 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah

1. Mempelajari perbedaan sifat kimia tanah dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan.

2. Mengetahui jenis tumbuhan yang paling memengaruhi perbedaan sifat kimia tanah.

1.3 Kerangka Pemikiran

Tanah marginal di antaranya didefinisikan tanah kering bersolum dangkal,

kemiringan curam, tingkat erosi tinggi, dan banyak cadas di permukaan (Suwardjo, 1995). Tanah marginal umumnya memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Tanah marginal berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan produktif, tetapi perlu dilakukan tindakan-tindakan khusus untuk mengoptimalkan penggunaannya. Sifat-sifat tanah marginal di antaranya yaitu struktur tanah yang buruk, ketersediaan unsur hara rendah, tanahnya bersifat masam (biasanya karena kejenuhan Al tinggi), basa-basa dapat dipertukarkan rendah, aktivitas mikroorganisme rendah, dan sifat fisika tanah juga tidak baik.

(11)

secara cepat dibanding dengan biomassa vegetasi yang lain seperti Imperata cylindrica dan Saccharum cromolaena. Sedangkan Lumbantobing (1996)

menunjukkan bahwa penanaman dan pembenaman Calopagonium mucunoides memberikan pengaruh terbaik dalam merehabilitasi sifat kimia tanah dengan meningkatkan pH, K , Ca, Mg , C-organik, dan KTK tanah.

Introduksi C-organik melalui penanaman dapat mempengaruhi reaksi tanah. Akar tanaman mengeluarkan berbagai ion dan senyawa yang seperti ekskresi ion H+ dan asam organik yang dapat mengasamkan tanah pada daerah rizosfir sehingga meningkatkan pelarutan unsur hara dari mineral-mineral tanah. Hal tersebut

disebabkan ion H+ yang banyak terdapat di dalam sistem tanah akan berperan sebagai attacking agent yang mampu menghancurkan struktur mineral sehingga dapat

meningkatkan ketersediaan beberapa jenis hara (Salam, 2012). Beberapa peneliti melaporkan hubungan negatif pelepasan unsur hara dan pH tanah. Seperti yang telah dilakukan oleh Salam (1989) bahwa peningkatan proses pelapukan padatan mineral tanah dipengaruhi oleh turunnya pH tanah, sehingga lebih banyak unsur hara yang dilepaskan pada saat pH turun.

(12)

menjadi K dapat dipertukarkan. Jadi secara tidak langsung tingkat kemasaman tanah (pH) dan keberadaan asam organik berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara.

1.4 Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka dapat disusun hipotesis yaitu

1. Terdapat perbedaan sifat kimia tanah marginal dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan/vegetasi.

2. Arachis pintoi merupakan tumbuhan yang paling memengaruhi perbedaan sifat kimia tanah.

(13)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Tumbuhan

Banyak tumbuhan yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang ekstrim seperti tahan kekeringan, dapat hidup pada tanah masam dan tanah-tanah yang memiliki ketersediaan unsur hara rendah. Menurut Sembodo (2010), gulma umumnya memiliki daya adaptasi sangat tinggi karena sebagian besar gulma tergolong tanaman C4 sehingga lebih efisien dalam proses fotosintesisnya. Selain itu, gulma tertentu mampu mengubah lingkungannya sehingga sesuai untuk pertumbuhannya. Tanaman penutup tanah (cover crop) adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi, untuk memperbaiki sifat kimia, dan fisika tanah. Cover crop umumnya berasal dari family Leguminosae dan memiliki syarat : (a) mudah diperbanyak, (b) tumbuh cepat dan menghasilkan daun, (c) resisten terhadap hama penyakit dan kekeringan (Arsyad, 2010).

(14)

a. Widelia sp.

Klasifikasi Widelia sp. menurut Cronquist (1981) adalah Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Asterirales Famili : Asteraceae Genus : Widelia Spesies : Widelia sp.

Tumbuhan ini memiliki morfologi daun membundar telur, dengan pangkal membulat. Buah bongkah menyilinder-meruncing. Widelia biasanya melimpah pada belakang pantai dan sepanjang aliran pasang surut dan batas hutan bakau. Jenis ini dapat membentuk belukar yang sulit ditembus. Perbanyakan secara alami dilakukan dengan biji atau dapat dilakukan juga dengan stek (Van Valkenburg dan Bunyapraphatsara, 2002).

a. Pennisetum purpureum Schaum

Klasifikasi dari Pennisetum purpureum adalah Kingdom : Plantae

(15)

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Commelinidae Ordo : Cyperales Famili : Poaceae

Genus : Pennisetum Rich.

Spesies : Pennisetum purpureum (USDA, 2012).

Rumput gajah adalah tanaman yang dapat tumbuh di daerah yang bernutrisi rendah . Rumput gajah membutuhkan sedikit atau tanpa tambahan unsur hara dan dapat hidup pada tanah kritis tempat tanaman lain relatif tidak dapat tumbuh dengan baik

(Sanderson and Paul, 2008). Menurut Woodard dan Prine (1993) produktivitas rumput gajah adalah 40 ton per hektare berat kering pada daerah beriklim subtropis dan 80 ton per hektare pada daerah beriklim tropis.

b. Asystasia gangetica

Asystasia gangetica merupakan tanaman dikotil yang tumbuh liar dan hidup natural di tepi jalan (Backer dan Brink, 1968).

Adapun klasifikasi tumbuhan Asystasia gangetica adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae

(16)

Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Scrophulariales Famili : Acanthaceae Genus : Asystasia

Spesies : Asystasia gangetica (L.) T. Anders. (FEPPC, 1999).

c. Paspalum conjugatum

Klasifikasi dari tumbuhan ini adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Subkingdom :Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Sub Kelas : Commelinidae Ordo : Poales

Famili : Poaceae Genus : Paspalum

(17)

d. Arachis pintoi

Arachis pintoi atau biasa disebut kacang hias adalah tanaman penutup tanah yang

banyak digunakan di perkebunan. Selain sebagai tanaman penutup tanah, tanaman ini juga dapat dijadikan sebagai sumber hijauan pakan ternak, terutama pada musim kemarau (Fanindi dkk., 2010). Hal tersebut dikarenakan Arachis pintoi dapat

beradaptasi baik pada daerah tropis baik pada kondisi kesuburan tanah rendah dan pH masam serta toleran terhadap kejenuhan Al tinggi (Maswar, 2004).

Adapun klasifikasi Arachis pintoi adalah Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae Genus : Arachis

Spesies : Arachis pintoi (Anonimb, 2013).

2.2 Potensi Tanah Marginal

(18)

menyangga pupuk anorganik, sehingga efisiensinya menurun karena sebagian besar pupuk akan hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan juga termasuk tanah marginal (Soepardi, 1983). Selain itu penggunaan lahan secara intensif dengan pemberian pupuk N, P, dan K ternyata mengakibatkan penurunan produktivitas tanah karena terjadi ketidakseimbangan hara akibat pengurasan hara Ca dan Mg dari tanah (Santoso dkk., 1995). Jadi, definisi umum tanah marginal adalah tanah yang

memiliki sifat fisika, biologi, dan kimianya rendah.

Tanah marginal dicirikan oleh tekstur tanah yang bervariasi dari pasir hingga liat.

Tanah bertekstur kasar dicirikan oleh kemampuan meretensi air dan hara yang rendah

sehingga tanah rawan kekeringan pada musim kemarau dan pencucian hara atau

basa-basa dapat dipertukarkan secara intensif pada musim hujan. Sebaliknya, tanah

bertekstur halus umumnya dicirikan oleh permeabilitas tanah yang lambat sehingga

diperlukan inovasi teknologi untuk memperbaiki produktivitasnya (Yatno dkk., 2000).

2.3 Pengaruh Vegetasi terhadap Sifat Kimia Tanah

2.3.1 Pengaruh C-organik terhadap Sifat Kimia Tanah

(19)

Karbon organik baik yang berasal dari akar tanaman, mikroorganisme, maupun makroorganisme tanah yang mengeluarkan senyawa kimia dan biokimia dalam bentuk ion H+, ion OH-, ion HCO3-, asam organik, dan enzim tanah. Ion H+

diekskresikan oleh tanaman ketika menyerap kation dari sekitar akar, sedangkan ion OH- dan ion HCO3- dikeluarkan pada saat akar tanaman menyerap H2PO4- dan NO3-. Karena ion H+ yang dikeluarkan oleh tanaman umumnya lebih banyak daripada ion ion OH- dan ion HCO3-, ekskresi akar tanaman dapat menurunkan pH tanah.

Penurunan pH dapat mempercepat pembebasan unsur hara dari mineral tanah. Akar tanaman juga menghasilkan enzim. Diantara enzim yang dihasilkan dan penting dalam pertanian adalah enzim fosfatase. Fosfatase adalah enzim yang berperan sebagai katalis, sehingga proses perombakan P-organik menjadi P-inorganik menjadi lebih cepat dan lebih tersedia untuk tanaman. Selain itu, bahan organik merupakan sumber unsur hara, meningkatkan humus tanah yang merupakan koloid tanah dan secara tidak langsung meningkatkan N-total, KTK dan KB tanah serta menurunkan kelarutan unsur hara mikro dan logam berat (Salam, 2012).

(20)

2.3.2 Pengaruh pH terhadap Sifat Kimia Tanah

(21)

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Januari 2013 sampai Maret 2013. Analisis tanah dan tanaman dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Universitas Lampung.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan penelitian meliputi bibit tanaman Asystasia gangetica, Arachis pintoi, Widelia sp., Paspalum conjugatum, Pennisetum purpureum, contoh tanah Tanjung

Bintang dan contoh tanah Jabung (topsoil dan subsoil). Topsoil diambil pada kedalaman 0-30 cm dan subsoil pada kedalaman 30-60 cm.

(22)

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini disusun secara faktorial dalam Rancangan split-split plot dengan 3 faktor dan 3 ulangan.

Petak utama adalah jenis tumbuhan yang terdiri dari : P1 : A. gangetica,

P2 : A. pintoi, P3: Widelia sp., P4: P. conjugatum, P5: P. purpureum.

Anak petak adalah jenis tanah yaitu: S1 : Tanah Jabung,

S2 : Tanah Tanjung Bintang.

Anak-anak petak adalah jenis lapisan tanah yaitu: L1 : Lapisan atas (0-30 cm),

L2 : Lapisan bawah (30-60 cm).

(23)

3.4 Pelaksanaan Penelitian

A. Pengambilan Contoh Tanah dan Pembuatan Tata Letak Percobaan

Contoh tanah diambil dari lahan petani di Desa Bandar Agung, Jabung, Lampung Timur pada 5,4117° LS dan 105,383° BT (untuk tanah S1) dan di Desa Serdang, Tanjung Bintang, Lampung Selatan pada 5,298° LS dan 105,687° BT (untuk tanah S2). Tata letak percobaan terlihat pada Gambar 1.

B. Persiapan Media Tanam

Media disiapkan dengan mengeringudarakan tanah, kemudian mengayaknya hingga lolos saringan 2 mm dan setelah tanah ditimbang per satuan percobaan tanah dibasahi sampai dengan kadar air 40%, dan dibiarkan selama 1 minggu.

C. Penanaman

Setiap polibag dengan tanah 5 kg ditanam 10 bibit tanaman. Jika tanaman tidak tumbuh atau terserang hama penyakit maka dilakukan penyulaman.

D. Pemeliharaan

(24)

(25)

E. Panen

Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur 2 bulan. Tanah dan tumbuhan diambil untuk analisis. Tumbuhan dipotong pada batas tanah dan ditentukan baik berat kering maupun berat basahnya. Berat basah dan berat kering akar juga ditetapkan. Berat basah ditetapkan dengan penimbangan langsung. Bobot kering dilakukan setelah pengovenan pada suhu 60° selama 3 malam.

3.5 Parameter pengamatan

A. Pertumbuhan Tanaman

1. Bobot basah brangkasan

Bobot basah brangkasan didapat dengan menimbang tumbuhan yang dipotong pada batas tanah.

2. Bobot kering brangkasan

Pengukuran bobot kering dilakukan setelah pengovenan brangkasan selama 3 malam dengan suhu 60°C.

3. Bobot basah akar

(26)

4. Bobot kering akar

Pengukuran bobot kering akar juga dilakukan dengan pengovenan selama 3 malam dengan suhu 60°C.

B. Faktor Kimia tanah

1. C-organik

Kandungan C-organik dianalisis dengan metode Walkey dan Black (1934), yaitu dengan menggunakan larutan Kalium Bikromat sehingga akan didapat

perhitungan % C-organik . 2. pH

Pengukuran pH dilakukan dengan metode pH meter. Kemasaman diukur dengan aquades dengan perbandingan tanah dan air 1 : 2.

3. K-tersedia

(27)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Perakaran vegetasi Asystacia gangetica, Arachis pintoi, Widelia sp., Paspalum conjugatum, dan Pennisetum purpureum pada tanah Jabung dan Tanjung Bintang

berpengaruh nyata terhadap perbedaan pH dan K-dd.

2. A. pintoi mengakibatkan pH terendah dan meningkatan K-dd tanah tertinggi, P. conjugatum mengakibatkan pH tertinggi, dan P. purpureum mengakibatkan K-dd

terendah.

3. Interaksi antara gulma dan jenis tanah, gulma dan lapisan tanah, serta jenis tanah dan lapisan tanah memengaruhi perbedaan pH dan K-dd.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lanjut dengan jenis gulma yang berbeda dan pada skala lahan.

(28)

PUSTAKA ACUAN

Anonima. 2012. Klasifikasi Paspalum conjugatum. www.Plantanamor.com. Diakses pada tanggal 11 Januari 2013.

Anonimb. 2013. Klasifikasi Arachis pintoi . www.Plantanamor.com. Diakses pada tanggal 5 Agustus 2013.

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

Backer, C. A. dan R. C. B. V. D. Brink. 1986. Flora of Java (Spermatophytes Only). Vol III. Wolter-Noordhoof N. V.- Groningen. Netherland.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Clasification of Flowering Plants. Columbia University Press. New York.

Dyani, S. K., P. Naranin, dan R. K. Singh. 1990. Studies on root distribution of five multipurpose tree species in Doon Valley, India. Agroforesty System 12: 149-161.

Fanindi, A., B.R Prawiradiputra, dan L. Abdullah. 2010. Pengaruh intensitas cahaya terhadap produksi hijauan dan benih Kalopo (Calopogonium mucunoides). JITV 15(3): 205-214.

Florida Exotic Pest Plant Council (FEPPC). 1999. Invasive plant list (19 October 1999). Florida Exotic Pest Plant Council. Florida.

Handayani, I. P., P. Prawito, dan Z. Muktamar. 2002. Lahan paskadeforestasi di Bengkulu : Kajian peranan vegetasi invasi. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. (4)1: 10-17 .

Harpstead, M. I. , F. D. Hole, dan W. F. Bennet. 1988. Soil Science Simplified. Edisi ke-2. Lowa State Unv. Press, Ames.

(29)

Lumbantobing, R. M. 1996. Rehabilitas Sifat Kimia Lahan Terdegradasi melalui Penanaman dan Pembenaman Tanaman Penutup Tanah. Skripsi Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Maswar. 2004. Kacang hias (Arachis pintoi) pada usaha tani lahan kering. Balai Penelitian Tanah

Mega, I Made, I. N. Dibia., I. G. P. R. Adi, dan T. B. Kusmiyarti. 2010. Buku Ajar Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan. Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.

Prasetyo, B. H. dan D. A. Suriadikarta. 2006. Karakteristik, potensi, dan teknologi pengelolaan tanah ultisol untuk pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. 25(2): 39-47.

Salam, A. K. 1989. Relative Rates of Plant Nutrient Release Through Wethering of Soil Minerals. MS Thesis. University of Wisconsin, Madison.

Salam, A. K. 2012. Ilmu Tanah Fundamental. Global Madani Press. Bandar Lampung.

Sanchez, P. A. 1976. Properties and Management of Soils in the Tropics. Wiley Inter Science. New York.

Santoso, D., I. G. P. Wigena, Z. Eusof., dan X. Chen. 1995. Nutrient Balance Study on Sloping lands. P 93-108. In Proc. of the International Workshop on Conservation Farming for Sloping Lands in South East Asia Challenges Opportunities, and Prospects. Manila. The Philiphines. 20-26 November 1994. IBRAM Proc. No. 14. IBRAM. Bangkok. Thailand.

Sanderson, M. A. dan R. A. Paul. 2008. Perennial forages as second generation bioenergy crops. Int. J. Molecular Sciences. 9: 768-788.

Sembodo, D. R. J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta. Sembodo, D. R. J., Nanik Sriyani dan Afandi. 2012. Kajian pemanfaatan gulma in

situ sebagai sumber bahan organik yang berpotensi untuk memperbaiki kualitas tanah kritis. J. Gulma dan Tumbuhan Invasif Trop. 3(1): 21-27. Setyani, H. S. 1991. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

(30)

Subroto dan Awang Yusrani. 2005. Kesuburan dan Pemanfaatan Tanah. Bayumedia, Samarinda.

Sulaeman, Suprapto dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah

Suprapto, A. 2002. Land and water resources development in Indonesia. Dalam: FAO. Investment in Land and Water. Proceedings of the Regional Consultation.

Suharta, N. 2010. Karakteristik dan permasalahan tanah marginal dari batuan sedimen masam di Kalimantan. Jurnal Litbang Pertanian 29(4): 139-146.

Suwardjo, N. L Nurida dan Irawan. 1995. Langkah-Langkah Pengembangan Usaha Tani Konservasi di Wilayah Perbukitan Kritis Daerah Istimewa Yogyakarta.Prosiding Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usaha Tani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian .Yogyakarta.17-19 Januari 1995.

United States Department of Agriculture. 2012. Pennisetum purpureum. http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=PEPU2. Diakses pada Tanggal 24 Desember 2012.

Van Valkenburg, J. L. C. H. dan N. Bunyapraphatsara (editor). 2002. Plant Resources of South East Asia; Medicinal & Poisonous Plants (2). PROSEA, Bogor. Indonesia.

Woodard, K. R., dan G.M. Prine, 1993. Dry matter accumulation of elephantgrass, energycane and elephantmillet in a subtropical climate. Crop Science, 33: 818–824.

Yatno, E., M. Hikmat, N. Suharta, dan B. H. Prasetyo. 2000. Plinthudults di Kalimantan Selatan: Sifat morfologi, fisika, mineralogi,dan kimianya. hlm.

353−366. Prosiding Seminar Nasional Reorientasi Pendayagunaan

Sumberdaya Tanah, Iklim, dan Pupuk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

(31)

Tabel 12. Perbedaan nilai pH dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada Lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(32)
(33)

Tabel 14. Analisis ragam perbedaan pH tanah dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

Nonaditivitas 1 0,004433274 0,004433 0,7704138tn 4,36 8,1

Sisaan 19 0,109333726 0,005754

TOTAL 79 4,632606274 4,017098

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%,tn = tidak nyata pada taraf 5%. KK (P) : 1,14

(34)

Tabel 15. Perbedaan nilai K-dd dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(35)
(36)

Tabel 17. Analisis ragam perbedaan K-dd tanah dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, tn = tidak nyata pada taraf 5%. KK (a) : 13,81

(37)

Tabel 18. Perbedaan nilai C-Organik dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Perlakuan Ulangan Jumlah Rataan

(38)
(39)

Tabel 20. Analisis ragam perbedaan C-Organik tanah dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, tn = tidak nyata pada taraf 5%. KK (P) : 32,19

(40)

Tabel 21. Perbedaan nilai bobot basah brangkasan beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(41)
(42)

Tabel 23. Analisis ragam perbedaan bobot basah brangkasan beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, tn = tidak nyata pada taraf 5%. KK (P) : 7,60

KK (S) : 3,80 KK (L) : 6,43

Sumber

DB JK KT F.hit F.0,5 F.0,1

Ragam

Petak Utama

Kelompok 2 0,04309 0,021545 1,470941tn 4,46 8,65 Gulma 4 7,625593 1,906398 130,1555** 3,84 7,01

Galat (P) 8 0,117177 0,014647

Anak Petak

Jenis tanah 1 0,730407 0,730407 199,7466** 4,96 10,04 PS 4 0,109627 0,027407 7,494986** 3,48 5,99

galat (S) 10 0,036567 0,003657

Anak-Anak

Petak

Lapisan tnah 1 0,192667 0,192667 18,37546** 4,36 8,1 PL 4 0,034033 0,008508 0,811477tn 2,87 4,43

SL 1 0,000667 0,000667 0,063583tn 4,36 8,1

PSL 4 0,031133 0,007783 0,74233tn 2,87 4,43

galat (L) 20 0,2097 0,010485

Nonaditivitas 1 0,007036 0,007036 0,659634tn 4,36 8,1

Sisaan 19 0,202664 0,010667

(43)

Tabel 24. Perbedaan nilai bobot kering brangkasan beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(44)
(45)

Tabel 26. Analisis ragam perbedaan bobot kering brangkasan beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

DB JK KT F.hit F.0,5 F.0,1

Ragam

Petak Utama

Kelompok 2 0,085703 0,042852 1,56729 tn 4,46 8,65 Gulma 4 7,95445 1,988613 72,73305** 3,84 7,01

Galat (P) 8 0,21873 0,027341

Anak Petak

Jenis tanah 1 0,504167 0,504167 81,75676** 4,96 10,04 PS 4 0,157917 0,039479 6,402027** 3,48 5,99

galat (S) 10 0,061667 0,006167

Anak-Anak

Petak

Lapisan tnah 1 0,13824 0,13824 11,17994** 4,36 8,1 PL 4 0,021977 0,005494 0,444332tn 2,87 4,43

SL 1 0,00024 0,00024 0,01941tn 4,36 8,1

PSL 4 0,011443 0,002861 0,231365tn 2,87 4,43

galat (L) 20 0,2473 0,012365

Nonaditivitas 1 0,012519 0,012519 1,013119tn 4,36 8,1

Sisaan 19 0,234781 0,012357

TOTAL 79 9,414352 2,792694

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, tn = tidak nyata pada taraf 5%. KK (P) : 18,20

(46)

Tabel 27. Perbedaan nilai bobot kering akar beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(47)
(48)

Tabel 29. Analisis ragam perbedaan bobot kering akar beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, *= berbeda nyata pada taraf 5%, tn = tidak nyata pada taraf 5%.

(49)

Tabel 30. Perbedaan nilai bobot basah akar beberapa jenis tumbuhan pada lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

(50)
(51)

Tabel 32. Analisis ragam perbedaan bobot basah akar beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah.

Sumber

Keterangan : **= berbeda nyata pada taraf 1%, *= berbeda nyata pada taraf 5%, tn = tidak nyata pada taraf 5%.

(52)

Tabel 33. Perbedaan pH pada interaksi gulma dan jenis tanah serta gulma dan lapisan tanah.

Gulma

Jenis tanah Lapisan Tanah

Jabung Tanjung

Bintang Topsoil Subsoil

Asystasia gangetica 5,76 A (a) Paspalum conjugatum 5,65 A

(a) Pennisetum purpureum 5,61 A

(53)

Tabel 34. Perbedaan K-dd pada interaksi gulma dan jenis tanah serta gulma dan lapisan tanah.

Gulma

Jenis tanah Lapisan Tanah

Jabung Tanjung

Bintang Topsoil Subsoil

Asystasia gangetica 0,23 B (b) Paspalum conjugatum 0,25 B

(b) Pennisetum purpureum 0,12 B

(54)
(55)

Gambar

Gambar 1. Tata letak percobaan.
Tabel 12. Perbedaan nilai pH dalam perakaran beberapa jenis tumbuhan pada Lapisan topsoil dan subsoil dua jenis tanah
Tabel  13. Uji homogenitas ragam terhadap pH tanah.
Tabel 14. Analisis ragam perbedaan  pH tanah dalam  perakaran beberapa jenis tumbuhan pada topsoil dan subsoil dua jenis tanah
+7

Referensi

Dokumen terkait

SISCA CHRISTINE PRATIWI PARDOSI : Kajian sifat fisika dan kimia tanah pada lahan karet dengan beberapa jenis vegetasi yang tumbuh di kebun PTP.Nusantara III Gunung Para,

Hasil analisis sifat kimia tanah pada tanah dengan vegetasi paku harupat Parameter pH Kadar C-.

SRI APULINA : Kajian Sifat Fisika Dan Kimia Tanah Inceptisol pada Lahan Karet Telah Menghasilkan dengan Beberapa Jenis Vegetasi yang Tumbuh Di Kebun PTPN III Sarang

SRI APULINA : Kajian Sifat Fisika Dan Kimia Tanah Inceptisol pada Lahan Karet Telah Menghasilkan dengan Beberapa Jenis Vegetasi yang Tumbuh Di Kebun PTPN III Sarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sifat fisika dan kimia tanah pada lahan karet yang menghasilkan dengan beberapa jenis vegetasi penutup tanah yang yang tumbuh di kebun

12 Analisis sidik ragam cadangan karbon tanah 48 13 Sertifikat analisis kimia tanah sebelum perlakuan 49 14 Sertifikat analisis kimia tanah setelah perlakuan 49 15 Gambar

Walaupun demikian, Tabel 1 menunjukkan bahwa C-organik tanah cenderung meningkat dengan perlakuan Calopogonium mucunoides dan Panicum muticum pada lorong tanaman karet muda

Perubahan sifat kimia tanah berupa SiO 2 -tersedia, Retensi-P, pH tanah, P-tersedia dan C- organik terhadap pemberian bahan silikat disajikan pada Tabel 1 dan 2. SiO 2