• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Tentang Pembelanjaan Usaha Pertanian di Jawa Tengah (Studi Kasus di Desa Larangan dan Desa Puncangrejo)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Tentang Pembelanjaan Usaha Pertanian di Jawa Tengah (Studi Kasus di Desa Larangan dan Desa Puncangrejo)"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

I

STUD8 T E N m l b l Q PENIBPLANJAAPI D A L A M U S A H A

P E R T A N I A N

R A K Y A T

D l JAW& TENGAM

(STUDI KASUS Q I DEEA LARANQAN DAN DBSA PUGAHOREJO)

Oleh

BASUKI SUWARDO

L

FAKULTAS PASCA SARJANA

INSTlTUT PERTANIAN BOGOR

(2)

BASUKI SUWARDO. Studi Tentang Pembelanjaan Dalam Usaha Pertanian Rak

yat Oi Jawa Tengah, Studi Kasus di Desa Larangan dan Desa Pucangrejo

(Di bawah bimbingan WILLIAM L. COLLIER, sebagai ketua, RUDOLF S. SINA

-

GA dan M . AMIN AZIS sebagai anggota).

!

Tujuan penelitian ini ialah mengetahui cara bagaimana atau dari

sumber mana saja kebutuhan modal dalam usaha pertanian rakyat dipe

-

nuhi, seberapa jauh petani berhasil mengelola usaha pertaniannya, ser

ta seberapa jauh kemampuan petani dalam pernbentukan modal. Daerah pe

-

nelitian hanya meliputi dua desa dan responden dibatasi hanya pada pz

tani pemilik penggarap dengan dua pola pergiliran tanaman. Yaitu un-

tuk pola pergiliran tanaman padi

-

bawang merah di desa Larangan Ka

-

b

bupaten Brebes, dan untuk pola padi

-

temakau di desa Pucangrejo Ka

-

bupaten Kendal.

Secara umum tidak terdapat banyak perbedaan mengenai kondisi pem

belanjaan dalam usaha pertanian di kedua desa sampel. Pada umumnya

petani tidak mengenal adanya pemisahan antara urusan usaha tani de

-

ngan urusan rumah tangga yang lain, sehingga dalam pengelolaan keuang

an juga tidak dijumpai adanya pemisahan secara khusus. Dana yang ter-

sedia terbuka untuk berbagai tujuan penggunaan, dan secara fleksibel

dibelanjakan untuk tujuan pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak p a

da saat itu. Oleh sebab itu berbagai usaha yang dilakukan oleh anggo

ta rumah tangga petani dalam menyediakan alat-alat pembayaran/dana,

sukar untuk diidentifikasi sebagai untuk satu tujuan penggunaan ter

-

(3)

rumah tangga dan sebagainya. Dengan perkataan lain ialah bahwa dari

segi pembelanjaan, usaha pertanian rakyat ini tidak dapat dipelajari

secara tersendiri sebagai suatu badan usaha terpisah dari rumah tang-

ga petani.

Sehubungan dengan masuknya usaha tanaman perdagangan (bawang me-

rah/tembakau) dalam pola pergiliran tanaman, kebutuhan petani akan mo

-

dal/dana menjadi lebih besar daripada yang dibutuhkan kalau petani

hanya mengusahakan tanaman pangan (padi). Untuk usaha tani bawang me

-

rah secara rata-rata petani telah mengeluarkan dana sebesar 3,4 kali

lipat daripada yang diperlukan untuk usaha tani padi di desa Larang -

an. Sedang untuk usaha tani tembakau di desa Pucangrejo, petani me

-

ngeluarkan dana sebesar 3,8 kali lipat daripada yang diperlukan untuk

usaha tani padi. Dengan berbagai cara ternyata petani juga mampu meng

-

usahakan tanaman perdagangan tersebut, bahkan nalaupun pemerintah ti-

dak menyediakan bantuan kredit secara khusus seperti halnya usaha ta-

ni padi.

Orientasi petani yang pertama dalam ha1 pembelanjaan pada umum -

nya ialah pada pendapatan usaha tani dari musim tanam yang terakhir.

Apabila dari sumber ini tidak dapat memenuhi jumlah dana yang diper

-

lukan, maka selanjutnya petani akan berusaha untuk menggali sumber

-

sumber dana yang lain secara lebih intensif. Sumber-sumber dana yang

dimaksud antara lain ialah : kerja sampingan, menjual atau menyewa-

kan aset, dan mencari pinjaman (kredit). Kebutuhan dana untuk usaha

tani bawang merah atau tembakau ternyata tidak dapat terpenuhi, kalau

petani hanya menggantungkan diri pada pendapatan dari usaha tani yang

(4)

Maka jelas bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut petani ter

-

paksa harus menggali sumber-sumber dana yang lain. Usaha tersebut

tercermin pula pada pola atau struktur penerimaan dalam pendapatan

rumah tangga petani. Pada tingkat pendapatan rumah tangga petani

yang rendah, di desa Pucangrejo, penerimaan dari sumber-sumber kre -

dit menjadi menonjol. Dari data yang terku~npul diketahui bahvia jum-

lah kredit yang diterima oleh rumah tangga petani berkorelasi secara

positip dengan luas lahan yang dikuasainya, yaitu di masing-masing

desa dengan koefisien korelasi sebesar 0 , s . Di samping dari sumber

kredit, ternyata rumah tangga petani rnasih menerima pula tambahan da

na dari hasil kerja rnereka sebagai buruh atau usaha sampingan yang

lain (di luar usaha taninya sendiri) dan dari hasil penjualan atau

penyewaan aset. Mengenai penerimaan pendapatan yang berasal dari lg

ar usaha tani sendiri, data yang ada menunjukkan adanya korelasi se-

cara negatip dengan luas lahan usaha tani yang dikuasai oleh petani,

yaitu di masing-masing desa sampel dengan koefisien korelasi sebesar

- 0 , L .

Walaupun usaha petani untuk mengusahakan tanaman perdagangan

tersebut kelihatannya melebihi kernampuan petani untuk membiayainya,

namun ternyata bahwa usaha tersebut rnerupakan suatu langkah yang po-

sitip dalam rnengejar pendapatan (laba kotor) yang lebih tinggi dari

lahan pertaniannya. Secara statistik telah dibuktikan bahwa, dengan

taraf kepercayaan sebesar 99 %, laba kotor yang diterima dari usaha

tani bawang rnerah dan usaha tani tembakau untuk seluruh sampel ada

-

lah lebih tinggi daripada laba kotor yang diterima dari usaha tani
(5)

Ini berarti bahwa dengan usaha tanaman perdagangan tersebut, petani

telah berhasil meningkatkan efisiensi daripada penggunaan lahan per-

taniannya.

Dengan memperbandingkan antara jumlah penerimaan pendapatan dan

jumlah belanja rumah tangga petani, dapat diketahui bahwa potensi

pembentukan modal oleh petani adalah sangat terbatas. Bahkan apabila

rumah tangga petani harus melunasi pula tunggakan hutangnya, saldo

anggaran untuk seluruh kelompok petani menunjukkan jumlah yang defi-

sit, kecuali kelompok petani luas di desa Larangan.

Hal ini berarti bahwa pada petani tidak tersedia lagi dana yang da -

pat dipergunakan sebagai modal kerja untuk usaha tani pada periode

berikutnya, bahkan masih juga mempunyai tunggakan hutang. Keadaan

ini menunjukkan bahwa petani sudah harus menghadapi dan menyelesai -

(6)

STUD1 TENTANG PEMBELANJAAN DALAM USAHA PERTANIAN RAKYAT

D I JAWA TENGAH

( S T U D I KASUS DI DESA LARANGAN DAN DESA P U C A N G R E J O )

o l e h

BASUKI SUWARDO

T e s i s s e b a g a i s a l a h s a t u s y a r a t untuk rnernperoleh g e l a r

M a g i s t e r S a i n s

pada

F a k u l t a s Pasca S a r j a n a , I n s t i t u t P e r t a n i a n Bogor

JURUSAN I L M U EKONOMI PERTANIAN

B o g o r

(7)

J u d u l t e s i s : S T U D 1 TENTANG PEMBELANJAAN DALAM USAHA P E R T A N I A N

RAKYAT D I JAWA TENGAH ( S T U D I K A S U S D I D E S A

LARANGAN DAN DESA P U C A N G R E J O )

N a r n a m a h a s i s w a : BASUICI SUWARDO

N o r n o r pokok : 78001

M e n y e t u j u i

1. K o r n i s i P e n a s e h a t

( D r William L . C o l l i e r )

K e t u a

( D r I r R u d o l f S . S i n a g a )

A n g g o t a

( D r I r M . A r n i n A z i s )

A n g g o t a

F a k u l t a s P a s c a S a r j a r l a

I r E d i G u h a r d j a )

(8)

P e n u l i s d i l a h i r k a n pada t a n g g a l 1 J a n u a r i 1 9 4 1 d i Sernarang.

Orang t u a n y a a d a l a h S r i A r t a t i d a n R . Soewardo. Pada t a h u n 1 9 6 1 i a

l u l u s d a r i SMA N e g e r i d i Sernarang.

P e n u l i s mernperoleh g e l a r S a r j a n a dalarn b i d a n g Ilrnu Ekonomi Umurn

d a r i F a k u l t a s Ekonorni U n i v e r s i t a s D i p o n e g o r o , S e m a r a n g , p a d a t a h u n

1 9 6 8 . Pada t a h u n 1 9 7 5 i a r n e n g i k u t i p e n d i d i k a n P u r n a S a r j a n a Ekonorni

P e r t a n i a n p a d a F a k u l t a s Ekonorni U n i v e r s i t a s G a d j a h Mada, Y o g y a k a r t a .

J a b a t a n p e n u l i s s e k a r a n g a d a l a h s e b a g a i d o s e n t e t a p p a d a Fakul-

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis sangat berterima kasih kepada Dr William L. Collier, pe-

nasehat utamanya, atas saran dan bimbingannya selama penelitian.

Kepada anggota penasehat lainnya, Dr Ir Rudolf S. Sinaga dan

Dr Ir M. Amin Azis atas saran dan kritik mereka diucapkan terima ka

-

sih.

Penulis juga sangat berterima kasih kepada pihak "The Agricultur

a1 Development Council, Inc.", atas bantuan keuangan selama pendidik-

an. Demikian pula kepada isteri penulis, Sri Heriani, dan anak-anak

penulis : Bayu, Austa, Boma dan Delta atas dukungan dan dorongannya.

Kepada semua pihak, yang belum disebutkan, yang telah membantu

(10)

Halaman

DAFTAR TABEL

...

I

.

PENDAHULUAN

...

Latar Belakang

...

Tujuan Penelitian

...

Perumusan Masalah dan Hipotesa

...

Tinjauan Pustaka

...

Metodologi

...

I1

.

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

...

Lokasi Daerah

...

...

Mata Pencaharian Penduduk

...

Kondisi Usaha Tani

...

.

I11 GAMBARAN UMUM PETANI SAMPEL

Keadaan Petani Sempel

...

...

Kegiatan Usaha Petani Sampel

...

IV

.

KEBUTUHAN MODAL DALAM USAHA TAN1

...

Penguasaan Modal oleh Petani

Penggunaan Tenaga Kerja Keluarga dan Non Kelu-

arga

...

Kebutuhan Modal bagi Usaha Tani

...

Penggunaan Modal Sendiri dan Modal Luar

...

V

.

PENDAPATAN USAHA TAN1

...

Pemilihan Pola Rotasi Tanaman

...

(11)

V I I

.

F l u k t u a s i Pendapatan Usaha Tani

...

PENDAPATAN DAN BELANJA RUMAH TANGGA

...

Surnber Pendapatan Rurnah Tangga

...

Kebutuhan dan B e l a n j a Rurnah Tangga

...

.

P o t e n s i Pernbentukan Modal

. . .

KESIMPULAN DAN SARAN

. . .

Kesirnpulan

. . .

S a r a n - s a r a n

. . .

DAFTAR PUSTAKA

...

LAMPIRAN

...

Halarnan

115

121

121

138

147

154

154

160

162

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman

Teks

-

1. Mata P e n c a h a r i a n Penduduk Desa Larangan dan Desa

...

P u c a n g r e j o t a h u n 1979

...

2 . Luas Tanah Desa Larangan dan Desa P u c a n g r e j o

3. Jumlah Sampel P e t a n i d i Desa Larangan dan Desa

...

P u c a n g r e j o

4 . Luas M i l i k , J e n i s Lahan, dan Luas Garapan Usaha

...

Tani d i Desa Larangan t a h u n 1979

5 . Luas M i l i k , J e n i s Lahan, dan Luas Garapan Usaha

...

Tani d i Desa P u c a n g r e j o t a h u n 1979

6 . T i n g k a t P e n d i d i k a n P e t a n i Sampel d i Desa Larang-

a n dan Desa P u c a n g r e j o

...

7. Jumlah Anggota Keluarga dan Angkatan K e r j a d a r i -

pada P e t a n i Sampel d i Desa Larangan dan

P u c a n g r e j o

...

8 . N i l a i A s e t Rumah Tangga P e t a n i d i Desa Larangan

( F e b r u a r i 1 9 8 0 )

...

9 . N i l a i A s e t Rumah Tangga P e t a n i d i Desa Pucangre-

j o (Maret 1980)

...

1 0 . P e r h i t u n g a n Biaya Usaha Tani P a d i , Bawang Merah,

Cabe Merah, dan Tembakau p e r Ha

...

11. P e n g e l u a r a n Dana u n t u k Usaha T a n i d i Desa Larang

a n

...

1 2 . P e n g e l u a r a n Dana untuk Usaha Tani d i Desa Pucang

-

r e j o

...

1 3 . Penggunaan Sumber Dana o l e h Rumah Tangga P e t a n i

d i Desa Larangan

...

1 4 . Penggunaan Sumber Dana o l e h Rumah Tangga P e t a n i

d i Desa P u c a n g r e j o

...

1 5 . Jumlah Sumber Dana b a g i Rumah Tangga P e t a n i d i

(13)

Teks

-

1 6 . F r e k u e n s i Penggunaan Sumber K r e d i t o l e h P e t a n i d i

Desa Larangan dan Desa P u c a n g r e j o

...

1 7 . Tunggakan Hutang pada P e t a n i Sampel d i Desa La

-

rangan dan Desa P u c a n g r e j o

...

1 8 . F a s i l i t a s P e r k r e d i t a n b a g i P e t a n i d i Desa Larang-

a n dan Desa P u c a n g r e j o

...

1 9 . Pendapatan Kotor Usaha Tani P a d i dan Kebutuhan

Dana untuk Usaha Tani Bawang Merah dan Tam

-

bakau

...

20. Laba Kotor ( G r o s s Margin) d a r i Usaha Tani d i Desa

Larangan

...

21. Laba Kotor ( G r o s s Margin) d a r i Usaha Tani d i Desa

P u c a n g r e j o

...

2 2 . Pendapatan b a g i Tenaga K e r j a Keluarga d a r i Usaha

Tani d i Desa Larangan dan Desa P u c a n g r e j o

..

2 3 . Pendapatan Tenaga K e r j a Keluarga p e r b u l a n d a r i

Usaha Tani d i Desa Larangan dan P u c a n g r e j o

.

2 4 . Pendapatan Rumah Tangga P e t a n i d i Desa Larangan

.

25. Pendapatan Rumah Tangga P e t a n i d i Desa P u c a n g r e j o

2 6 . Penerimaan Rumah Tangga P e t a n i d a r i Non Usaha Ta-

n i d i Desa Larangan dan Desa P u c a n g r e j o

....

2 7 . Penerimaan Rumah Tangga P e t a n i d a r i Usaha Tani

dan Non Usaha Tani d i Desa Larangan dan Pu

-

c a n g r e j o

...

28. B e l a n j a Rumah Tangga P e t a n i d i Desa Larangan Th

1979

...

29. B e l a n j a Rumah Tangga P e t a n i d i Desa P u c a n g r e j o Th

1979

...

30. P r i o r i t a s Usaha Pertama b i l a Panen Gaga1

...

3 1 . Anggaran Pendapatan d a n B e l a n j a Rumah Tangga Pe

-

(14)

Teks

-

3 2 . Modal Kerja Yany Tersedia pada AM1i.r Tahun Any-

garan 1979 d i Desa Larangan dan Desa Pu

-

(15)

Nomor

Lampiran

Halaman

1. Pendapatan Usaha Tani dan Pengeluaran Belanja Ru- mah Tangga Petani di Desa Larangan dan Desa

Pucangrejo tahun 1979

...

2. Pendapatan Non Usaha Tani dan Pengeluaran Dana

untuk Usaha Tani tahun 1979

...

3. Bahwa Laba Kotor dari Usaha Tani Bawang Merah lebih besar daripada Usaha Tani Padi di Desa

Larangan

...

4. Bahwa Laba Kotor dari Usaha Tani Tembakau lebih

besar daripada Usaha Tani Padi di Desa Pu

-

cangrejo

...

5. Bahwa Pengeluaran Biaya Usaha Tani oleh Petani

Luas lebih besar daripada oleh Petani Sempit

di Desa Larangan

...

6. Bahwa Pengeluaran Biaya Usaha Tani oleh Petani

Luas lebih besar daripada oleh Petani Sempit

di Desa Pucangrejo

...

7. Bahwa Laba Kotor daripada Petani Luas lebih besar daripada Laba Kotor daripada Petani Sempit

di Desa Larangan

...

8. Bahwa Laba Kotor daripada Petani Luas lebih besar

daripada Laba Kotor Petani Sempit di Desa

Pucangrejo

...

9. Hasil Perhitungan Nilai t daripada Pengeluaran

Biaya Usaha Tani Bawang Merah/Tembakau di

-

bandingkan dengan Pengeluaran Biaya Usaha

...

Tani Padi per Ha

10. Perhitungan Koefisien Korelasi daripada Hipotesa

1.3.2.2.

...

11. Perhitungan Koefisien Korelasi daripada Hipotesa

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hasil Sensus Penduduk Th 1971 mengungkapkan bahwa

-

+

62 % pendu-

duk Indonesia menggantungkan hidupnya dari usaha di bidang produksi

pertanian. Hampir semua usaha yang dilakukan di sektor pertanian

rakyat yang ada diusahakan sebagai usaha perseorangan, yang sebagian

besar adalah bersekala kecil. Diketahui (Sensus Pertanian Th 1973)

bahwa rata-rata luas garapan petani di Indonesia adalah 1,04 Ha, se-

dangkan di Jawa adalah 0,66 Ha. Dan bahwa

-

+

69,7 % jumlah petani me

-

ngusahakan tanah dengan rata-rata luas garapan 0,256 Ha per kepala

keluarga.

Usaha di bidang pertanian seperti halnya jenis usaha yang lain,

memerlukan tersedianya modal secara cukup. Bagi usaha di bidang per

tanian, tanah merupakan faktor modal utama yang diperlukan selain

modal dalam bentuk uang. Oleh karena itu jumlah modal yang dikuasai

oleh seorang petani sampai pada suatu tingkat tertentu akan berpeng-

aruh terhadap besar pendapatan yang diterima. Di samping itu sedi

-

kit banyak juga ikut menentukan status yang dapat dicapainya atau ke

berhasilannya dalam tangga usaha. Tanpa modal seorang petani kira

-

nya hanya dapat menempati posisi sebagai petani buruh. Tetapi de

-

ngan sedikit modal seorang petani buruh kemungkinan akan dapat ber

-

alih posisi sebagai petani penyakap, penyewa atau sebagai petani pe-

milik. Demikian pula bagi petani penggarap modal memegang peranan

penting antara lain dalam ha1 pemilihan pola produksi, sekala usaha

(17)

Sehubungan dengan yang terakhir tersebut seorang petani yang keku

-

rangan modal kemungkinan akan cenderung memilih pola produksi yang

relatif sedikit biayanya, dan lambat dalam mengadopsi teknologi baru

yang pada umumnya intensif modal. Gejala kekurangan modal seperti

tersebut terakhir, jelas akan merupakan faktor penghambat yang besar

bagi petani kecil untuk memperbaiki tingkat hidupnya.

Kebutuhan modal oleh seorang petani dapat dipenuhi dari berba

-

gai sumber, antara lain dari : pendapatan sekarang, tabungan dari

masa yang lalu, pemberian, kredit, warisan, hubungan perkawinan dan

sebagainya. Menghimpun modal dengan melalui menabung pada umumnya

berjalan dengan sangat lambat, yang sering kali bahkan karena sesua-

tu ha1 tidak memberikan kemungkinan sama sekali bagi seorang petani

untuk memulai suatu usaha tanpa mendapatkan bantuan keuangan dari pL

hak luar. Namun demikian adanya modal sendiri tetap merupakan sya -

rat utama yang diperlukan bagi seorang petani untuk masuk pertama kg

li dalam bidang usaha

Penggunaan modal yang semakin meningkat di bidang usaha pertanian,

sebagai suatu akibat daripada kemajuan teknologi, menempatkan kredit

sebagai sumber dana tambahan yang penting setelah tabungan. Dalam

ha1 ini kredit memberikan kesempatan bagi seorang petani untuk ber

-

kembang dengan lebih cepat daripada kalau petani hanya bersandar pa-

da sumber tabungan sendiri saja, walaupun cara ini membawa serta re-

siko apabila petani tidak rnempunyai kemampuan atau tidak berhasil me

ngelolanya dengan baik.

Dalam suasana pembangunan seperti yang sedang dilaksanakan pada

(18)

3

Untuk dapat berproduksi lebih banyak seorang petani membutuhkan pe-

ngeluaran dana yang lebih besar, yaitu untuk : tambahan input yang

harus dibeli dengan digunakannya teknologi baru yang intensif mo -

dal, upah bagi tenaga kerja yang disewa dan faktor-faktor produksi

lain yang diperlukan. Sehubungan dengan tujuan tersebut sebagian

petani di Jawa Tengah, seperti halnya di propinsi lain, sejak pelak

sanaan Pelita I telah menggunakan jasa kredit dari Pemerintah me

-

lalui Bank Rakyat Indonesia dalam rangka pelaksanaan program Bimas.

Bantuan kredit tersebut diberikan dengan pertimbangan bahwa sebagi-

an besar petani tidak mempunyai cukup modal untuk membiayai usaha

inkensifikasi yang membutuhkan pengeluaran biaya yang lebih besar.

Dalam pelaksanaan pemberian kredit ini tercatat terjadinya penung

-

gakan dalam pembayaran kembali oleh petani yang semakin bertambah

besar dari tahun ketahun, walaupun jumlah kredit yang diterima per

petani sebenarnya relatif kecil. Sebagai sekedar gambaran dapat di

-

kemukakan bahwa tunggakan kredit yang terjadi di Jawa Tengah saja

sejak tahun 1970/71 sampai tahun 1980 adalah sebesar

Rp 15.111.159.000,OO (limabelas milyar rupiah lebih) dan berada di

tangan 23.812 orang petani .I) Sepintas lalu data ini memberikan pe-

tunjuk bahwa keadaan keuangan kebanyakan petani adalah begitu le

-

mah, sehingga mereka tidak mampu membayar kembali kredit walau da

-

lam jumlah kecil sekalipun. Tetapi data lain menunjukkan keadaan

(19)

4

yang memberikan kesan yang berbeda, di mana justru pada musim tanam

sesudah tanaman padi oleh petani banyak ditanam tanaman non-padi

(tanaman perdagangan) yang membutuhkan pengeluaran dana yang jauh

lebih tinggi daripada yang dibutuhkan dalam usaha tani padi atau

jumlah kredit yang dihutang. Sebagai contoh dapat dikemukakan ya -

itu berkembanganya sentra tanaman perdagangan di Jawa Tengah yang

terjadi sejak tahun tujuh puluhan, yaitu tanaman bawang merah di

daerah Kabupaten Brebes atau tanaman tembakau di daerah Kabupaten

Kendal, yang juga merupakan areal Bimas pada musim tanam padi.

Dari kedua data tersebut di atas, mengundang timbulnya sekelompok

pertanyaan yang menyelidik antara lain :

a. Apakah petani yang juga mengusahakan tanaman perdagangan terse

-

but termasuk dalam populasi penunggak kredit ?

b. Apabila mereka juga merupakan anggota populasi, maka dengan cara

bagaimana atau dari sumber mana mereka dapat menyediakan kebutuh

-

an dana yang lebih besar tersebut.

c. Apabila ternyata mereka itu bukan anggota populasi penunggak

kredit, apakah dengan pola tanam padi dan tanaman perdagangan

tersebut petani berada dalam kondisi keuangan yang lebih baik,

sehingga mereka masih mampu melunasi kredit yang diambilnya se

-

kalipun mereka menghadapi kondisi yang sama kurang menguntungkan

dalam memproduksi padi.

Pengetahuan yang mendalam sehubdngan dengan jawaban atas pertanyaan

pertanyaan tersebut di atas, kiranya akan dapat diperoleh melalui

studi tentang pembelanjaan usaha pertanian (agricultural finance)

(20)

5

Melalui studi ini diharapkan akan diperoleh gambaran secara terpe

-

rinci tentang cara bagaimana para petani menyediakan alat-alat pem-

bayaran yang diperlukan bagi usaha pertaniannya. Dengan pengetahu-

an tersebut akan diperoleh beberapa petunjuk tentang stabilitas dan

potensi pertumbuhan daripada kehidupan eltonomi petani atas dasar ke

adaan yang ada. Hal ini kiranya akan sangat bermanfaat bagi pemeric

tah dalam menyusun kebijaksanaan di bidang pertanian, sehubungan

dengan usaha untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan go

-

(21)

6

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum dimaksudkan untuk memperoleh penge-

tahuan secara mendalam tentang : cara bagaimana atau dari sumber

mana saja kebutuhan petani akan modal dipenuhi dalam pertanian rak-

yat, seberapa jauh petani berhasil mengelola usaha taninya, serta

seberapa jauh kemampuan petani dalam pembentukan modal. Disebabkan

oleh adanya keterbatasan dalam faktor biaya dan waktu, maka ruang

lingkup daripada penelitian ini dibatasi hanya pada petani yang be:

gerak dalam bidang usaha tani padi, bawang merah dan ternbakau.

Adapun secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :

1.2.1 Mengukur tingkat penggunaan modal dalam usaha tani padi,

bawang merah dan tembakau.

1.2.2 Mengidentifikasi sumber-sumber dana yang dipergunakan oleh

petani dalam usaha tani padi, bawang merah dan tembakau.

1.2.3 Mengukur tingkat efisiensi daripada penggunaan lahan dalam

usaha tani padi, bawang merah dan tembakau.

1.2.4 Mengukur penggunaan dana kredit dalam usaha tani padi, bawang

merah dan tembakau.

1.2.5 Mengidentifikasi potensi pembentukan modal pada kelompok pe-

tani dengan pola pergiliran tanaman padi

-

bawang merah dan
(22)

7

1.3 Perumusan Masalah dan Hipotesa

Usaha pertanian rakyat merupakan salah satu bidang usaha yang

masih banyak diliputi/dibayangi oleh falctor ketidak pastian dan re-

siko, baik dalam segi produksi maupun dalam segi pemasarannya.

Dalam segi produksi faktor-faktor yang banyak menimbulkan ketidak

pastian dan resiko antara lain ialah iklim, bencana alam dan hama

penyakit, sedang dalam segi pemasaran ialah sifat daripada produk

-

nya dan faktor harga. Dengan demikian maka pendapatan yang diteri-

ma oleh petani cenderung berubah-ubah naik turun, yang kadang-ka

-

dang bahkan mendekati no1 atau defisit. Berdasarkan pada kenyataan

bahwa : kebanyakan petani yang ada tergolong petani kecil dengan

lahan pertanian yang relatif sempit, sifat usaha pertanian yang ba-

nyak mengandung ketidak pastian dan resiko, serta jumlah tanggungan

beban keluarga petani yang relatif besar, maka dilihat dari segi

pembelanjaan permasalahannya ialah cara bagaimana petani menyedia

-

kan alat-alat pembayaran yang diperlukan bagi usaha pertaniannya

yang dalam perkembangannya membutuhkan kapital yang semakin bertam-

bah besar.

Beberapa kemungkinan jawaban atas pokok permasalahan tersebut

di atas secara hipotetis dapat dikemukakan sebagai berikut :

1.3.1 Petani mampu menghimpun dana yang diperlukan dari hasil usa-

hataninya.

1.3.2 Petani memiliki sumber pendapatan lain di luar usahatani

yang dapat menjadi sumber dana bagi usaha pertaniannya bila

(23)

8

1.3.3 Tersedia sumber dana kredit bagi petani secara cukup, yang

dapat dipergunakan setiap waktu diperlukan.

Dari hipotesa induk tersebut dapat disusun sejumlah hipotesa kerja

sebagai berikut :

1.3.1.1 Pendapatan kotor yang diterima petani dari kegiatan usaha

tani, dengan pola rotasi tanaman padi

-

bawang merah dan

padi

-

tembakau, adalah lebih besar daripada pengeluaran

belanja rumah tangga petani selama tahun anggaran yang ber

-

sangkutan.

1.3.1.2 Laba kotor (gross margin) yang diterima oleh petani dari

usaha tani bawang merah dan usaha tani tembakau lebih be -

sar daripada yang diterima dari usaha tani padi.

1.3.1.3 Petani luas dalam usaha tani bawang merah dan usaha tani

tembakau memerlukan modal kerja untuk per kesatuan luas

usaha tani dalam jumlah yang lebih besar daripada petani

sempit untuk jenis usaha tani yang sama.

1.3.1.4 Petani luas dalam usaha tani bawang merah dan usaha tani

tembakau menerima laba kotor (gross margin) untuk per kesa

tuan luas usaha tani dalam juml.ah yang lebih besar dari

pada yang diterima oleh petani sempit untuk jenis usaha ta

ni yang sama.

1.3.2.1 Pendapatan rumah tangga petani yang berasal dari usaha di

luar usaha tani selama satu tahun anggaran adalah lebih be

sar daripada jumlah modal yang diperlukan untuk usaha ta

-

(24)

9

1.3.2.2 Bagian pendapatan rumah tangga petani yang berasal dari

usaha di luar usaha tani berkorelasi secara negatip de

-

ngan luas lahan usaha tani yang dikuasainya.

1.3.3.1 Bagian pendapatan rumah tangga petani yang berasal dari

sumber kredit berkorelasi secara positip dengan luas lahan

(25)

1.4 Tinjauan Pustaka

Dalam usaha pertanian moderen, seperti juga halnya di bidang

usaha yang lain, sebagai kunci untuk memperoleh tingkat pendapatan

yang memuaskan ialah dapat terciptanya kombinasi yang baik daripada

aktiva produktif seperti : tanah, ternak dan mesin-mesin dengan te

-

naga kerja dan kemampuan manajerial yang ada. 1)

Untuk mendapatkan aktiva produktif tersebut, maka modal merupakan

sesuatu yang sangat penting untuk keberhasilannya. Besarnya modal

yang dapat dikuasai oleh suatu keluarga petani untuk tujuan usaha

tani, sampai suatu tingkat tertentu akan berpengaruh terhadap ting-

kat pendapatan yang dapat dicapai oleh keluarga yang bersangkutan.

Modal dalam arti luas meliputi semua aktiva yang ada pada su

-

atu saat tertentu, yaitu sumber-sumber yang mampu menghasilkan ba

-

rang dan jasa pada suatu waktu yang akan datang. Dalam pengertian

tersebut meliputi modal sebagai aktiva produktif, modal yang berupa

dana untuk investasi dan pengetahuan teknis serta ketrampilan 2)

Pada pembicaraan selanjutnya akan lebih banyak dipergunakan istilah

modal dalam arti yang lebih sempit yaitu modal dalam bentuk dana

atau modal kerja yang diperlukan untuk membiayai suatu kegiatan us2

ha tani.

Dengan menguasai modal yang lebih besar seorang petani sebagai

1). W.G. Murray & A.G. Nelson : "Agricultural Finance", The

Iowa State University Press, Ames, Iowa, Fourth Ed., 1963, p 3.

(26)

manajer yang sekaligus juga pekerja dalam usaha pertaniannya, akan

memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pendapatannya. Diketahui

bahwa peningkatan pendapatan petani secara teoritis terjadi karena

meningkatnya produktivitas daripada tenaga kerja petani, yaitu me

-

lalui penggunaan lahan usaha tani yang lebih luas, penggunaan bibit

unggul, peningkatan kesuburan tanah, pencegahan kerusakan produksi

dari gangguan hama dan penyakit tanaman serta tindakan-tindakan la-

innya yang hanya dapat dilakukan asalkan tersedia modal yang lehih

besar. Dalam teori pembangunan ekonomi juga dikemukakan bahwa un

-

tuk tersedianya modal yang lebih besar dituntut adanya tingkat ta

-

bungan yang lebih besar pula. Sedangkan untuk terjadinya tingkat

tabungan yang lebih besar disyaratkan lebih dahulu tingkat pendapat

an riil yang lebih tinggi. Di muka telah disebutkan bahwa tingkat

pendapatan riil yang lebih tinggi akan terjadi apabila produktivi -

tas petani meningkat, yaitu melalui penggunaan modal yang lebih be-

sar. Di sini kita bertemu dengan lingkaran yang tidak berujung

pangkal (vicious circle) yang pernah dikemukakan oleh Ragnar R.

Nurkse 3), yang mengetengahkan terjadinya lingkaran kemiskinan da

-

lam masyarakat negara-negara yang sedang berkembang. Jadi di dalam

lingkaran kemiskinan tersebut terdapat empat variabel yang masing -

masing sukar untuk diidentifikasikan sebagai sebab pertama daripada

terjadinya lingkaran tersebut, demikian pula sukar diketahui varia-

be1 mana yang merupakan produk terakhir.

(27)

12

Maka untuk meningkatkan pendapatan riil, usaha yang perlu dilakukan

ialah mematahkan lingkaran pada salah satu bagian di mana saja yang

diperkirakan akan dapat memberikan hasil secara memuaskan. Mening

-

katkan tabungan dengan cara menekan tingkat konsumsi pada umumnya

sukar untuk dilaksanakan, berhubung dengan tingkat konsumsi sudah

cukup rendah atau karena adanya kesukaran dalam mengatasi efek de

-

monstratif daripada pola konsumsi baru yang semakin meningkat. Ca-

ra lain yang dapat dilakukan ialah dengan memasukkan dana kredit ke

dalam lingkaran tersebut, yang akan berfungsi memperbesar jumlah

modal yang ada. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa bantuan kre-

dit mempunyai potensi yang cukup besar untuk mematahkan lingkaran

kemiskinan tersebut. Cara ini juga sudah banyak dicobakan terhadap

kelompok petani untuk memecahkan masalah kekurangan modal yang di

-

hadapinya. Oleh karena i-tu tidaklah mengherankan kalau dunia per -

kreditan memperoleh perhatian yang besar pula di dalam studi ten

-

tang pembelanjaan di bidang usaha pertanian (agricultural finance).

Penggunaan modal dari luar (kredit) akan dapat rneningkatkan

pendapatan riil dan tabungan hanya apabila petani berhasil mening

-

katkan "margin" dan atau "capital turn-over'' nya, sehingga tingkat

laba yang dkperoleh lebih tinggi daripada tingkat bunga yang harus

dibayar. Setiap kegagalan yang terjadi dalarn penggunaan modal, ba-

ik yang berasal dari dalam maupun dari luar, akan berakibat menurur

nya jumlah modal yang dioperasikan dalam usaha pertanian pada peri-

ode berikutnya. Apabila ha1 itu benar-benar terjadi maka petani

(28)

dan mereka akan mengalami masalah kekurangan modal yang lebih besar

pula. Dalam ha1 demikian maka problema pembelanjaan usaha tani men

-

jadi lebih serius bagi petani yang bersangkutan. Keadaan seperti

tersebut terakhir dalam praktek banyak dijumpai pula pada usaha per

-

tanian rakyat yang bercirikan penguasaan lahan pertanian yang sem

-

pit dan dengan tujuan usaha untuk memperoleh pendapatan yang sebe -

J

sar-besarnya( Dengan ciri-ciri khusus yang demikian maka seluk be-

luk dalam pembelanjaan usaha pertanian rakyat sudah barang tentu

akan berbeda dengan yang terjadi dalam usaha pertanian yang komer -

siil. Jumlah petani yang mempunyai atau memenuhi ciri-ciri sebagai

petani komersiil di Indonesia diperkirakan hanya sebanyak 2 32 %

4)

jumlah petani yang ada

.

Sesuai dengan pokok permasalahan yang sedang dibahas serta kon

disinya, maka kiranya cukup memadai apabila dalam studi ini dipergs

nakan pendekatan anggaran (budgeting approach). Yaitu dengan cara

mempelajari kejadian-kejadian yang bersangkut pa~.t dengan aktivi

-

tas pemasukan dan pengeluaran dana yang dilakukan oleh petani, baik

untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan usaha pertanian

nya. Sedang untuk mengukur tingkat efisiensi daripada penggunaan

lahan usaha tani dalam usaha pertanian dipergunakan konsep "gross

margin" (laba kotor) sebagai standard perhitungan 5 )

4). Lihat Sajogyo. 1976. Dalam Kata Pengantar terjemahan buku Involusi Pertanian (C. Geertz)., Bhratara K S. Jakarta. hal. xxiv.

(29)

14

Perhitungan "gross margin" bertolak dari pembagian biaya suatu usa-

ha tani dalam dua kelompok yang berbeda, yaitu biaya tetap (fixed

costs) yang pada umumnya tidak tergantung pada tingkat "output",

dan biaya variabel (variable costs) yang secara langsung berhubung-

an dengan tingkat "output". Adapun "gross margin" (laba kotor) me

-

rupakan selisih aritara "gross output" dengan "variable costs". Be

-

saran "gross margin" inilah yang biasanya tertinggal di tangan pe

-

tani untuk menutup "fixed costs" dan "profit" yang diharapkan oleh

petani. Karena "fixed costs" per definisi adalah konstan, maka se-

makin besar "gross margin" yang diterima berarti "profit" yang di

-

terima petani akan menjadi semakin besar pula. Dengan cara menghi-

tung dan membandingkan "gross margin" dari beberapa jenis usaha ta-

ni, maka akan diperoleh petunjuk tentang tingkat efisiensi daripa-

da penggunaan lahan usaha tani pada tingkat pengetahuan teknik, ke-

mampuan manajemen dan kondisi pasar tertentu. Atas dasar konsep

perhitungan ini tenaga kerja petani beserta keluarganya tidak ter

-

masuk dalam kelompok biaya variabel. Hal ini kiranya sesuai dengan

cara berpikir petani yang menyerahkan harga daripada tenaga kerja

mereka pada hasil yang dapat diperoleh dari usaha taninya. 'Petani

dengan lahan usaha taninya adalah merupakan satu kesatuan yang ti-

dak dapat dipisahkan, dimana lahan usaha tani merupakan suatu tem

-

pat bagi petani dan keluarganya untuk menjual tenaga kerja mereka.

Sehingga setiap pencurahan modal yang dilakukan atas suatu usaha ta

ni, bagi petani adalah tidak lain daripada ksuatu usaha untuk me

-

(30)

ta u~ituk mengejar laba yang setinggi-tingginya seperti yang biasa

dikejar oleh para penanam modal dalam dunia usaha moderen. Dengan

kata lain dapat dikemukakan bahwa tujuan utama daripada usaha perta

-

nian rakyat ialah mengejar pendapatan keluarga yang sebesar-besar

-

nya dan bukan laba yang sebesar-besarnya seperti yang dituju oleh

pertanian komersiil 6 ) . Adapun pengertian daripada pendapatan ke

-

luarga yang sebesar-besarnya tersebut tidak lain adalah "gross

margin" yang sebesar-besarnya, yang di dalamnya mengandung unsur

nilai sewa tanah dan pendapatan tenaga kerja keluarga petani.

Melalui pendekatan anggaran akan dapat diketahui secara menye-

luruh mengenai : jumlah dan pola penerimaan rumah tangga petani se

lama satu siklus produksi, serta jumlah dan pola pengeluaran rumah

tangga petani dalam periode yang sama. Dari sini akan dapat dikaji

lebih lanjut tentang pengaruhnya terhadap kelangsungan penyediaan

dana bagi kegiatan usaha tani pada periode selanjutnya.

(31)

1.5 Metodologi

1.5.1 Kerangka Sampel

Kelompok petani yang menjadi sasaran penelitian ialah ke-

lompk petani yang mengikuti pola rotasi tanaman : padi

-

tem-

bakau, padi

-

bawang merah dan padi

-

padi.

Untuk pola rotasi tanaman padi

-

tembakau, dipilih daerah Ka

-

bupaten Kendal yang merupakan daerah sentra tanaman tembakau

dataran rendah yang terbesar di propinsi Jawa Tengah. Sedang-

kan untuk pola rotasi tanaman padi

-

bawang merah, dipilih dae

rah Kabupaten Brebes yang merupakan daerah sentra tanaman ba

-

wang merah.

Pada masing-masing daerah sentra tanaman tersebut dipilih satu

Kecamatan yang mempunyai w e a l tanaman paling luas pada musim

tanam terakhir. Maka sebagai Kecamatan terpilih masing-masing

ialah Kecamatan Gemuh untuk jenis usaha tani tembakau, dan Ke-

camatan Larangan untuk jenis usaha tani bawang merah.

Dengan menggunakan kriteria yang sama selanjutnya terpilih de-

sa Pucangrejo dan desa Larangan, masing-masing sebagai daerah

sampel terkecil untuk usaha tani tembakau dan usaha tani ba

-

wang merah. Adapun sebagai daerah penelitian untuk pola rota-

si tanaman padi

-

padi direncanakan sama dengan dua pola yang

lain. Namun dalam pelaksanaan penelitian pola rotasi yang ke-

tiga tersebut tidak diketemukan populasinya, sehingga selan

-

jutnya penelitian hanya dilakukan atas kelompok petani dengan

(32)

17

1.5.2 Cara Pemilihan dan Jumlah Sampel Petani

Atas dasar pola rotasi tanaman yang ada, maka populasi pe

-

tani pada desa sampel dibedakan dalam dua kelompok yaitu :

Kelompok 1 : petani dengan pola rotasi tanaman padi

-

bawang merah/tembakau.

Kelompok 2 : petani dengan pola rotasi tanaman yang lain.

Dalam penelitian ini hanya kelompok satu yang menjadi sasaran.

Pada tahap berikutnya sub-populasi petani kelompok satu dikla-

sifikasikan lagi dalam 3 sub-kelompok atas dasar luas pemilik-

an lahan usaha tani, yaitu : petani sempit, petani sedang dan

petani luas. Adapun kriteria yang dipergunakan dalam pengelot?

pokan tersebut ialah sesuai dengan persepsi daripada masyara -

kat petani atas peristilahan tersebut, yaitu :

Petani sempit : memiliki lahan usaha tani seluas

<

0,3550

Ha.

Petani sedang : memiliki lahan usaha tani seluas

>

0,3550

-

<

0,7100 Ha.

Petani luas : memiliki lahan usaha tani seluas

3

0,7100 Ha.

Di sini luas 0,7100 hektar adalah merupakan hasil konversi da-

ri pada satuan ukuran lokal untuk luas 1 bau. Selanjutnya

0,3550 hektar adalah untuk luas

t

bau atau disebut juga selu

-

pit, yang berikutnya ialah

2

bau atau disebut juga siring, dan

1/8 bau atau disebut juga separon.

(33)

18

tani pemilik penggarap yang mencurahkan sebagian besar daripa

da waktu kerjanya pada usaha dibidang pertanian. Direncana

-

kan jumlah sampel adalah sebanyak 30 orang petani pemilik

penggarap untuk masing-masing desa, atau sebanyak 10 orang pe

-

tani untuk setiap sub kelompok yang dipilih secara acak. De-

ngan demikian jumlah sampel petani yang diteliti seluruhnya

sebanyak 60 orang petani pemil-ik penggarap, yaitu sebanyak 30

orang petani di desa Larangan dan sebanyak 30 orang petani

yang lain dari desa Pucangrejo.

1.5.3 Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data hanya dilakukan satu kali dan meliputi

peristiwa yang terjadi selama dua musim tanam terakhir, yaitu

musim penghujan tahun 1978/1979 dan musim kemarau tahun 1979.

Data yang bersangkut paut dengan kegiatan rumah tangga petani

dikumpulkan dengan cara wawancara langsung dengan para petani

sampel, yang dibantu dengan menggunakan daftar pertanyaan yang

sudah dipersiapkan. Untuk data yang lebih bersifat umum, se

-

perti kondisi umum usaha tani dan kondisi pemasaran, dikumpul-

kan dari sumber-sumber yang dipandang dapat memberikan informs

si yang diperlukan. Yaitu antara lain pamong desa, dan peja

-

bat dari Dinas Pertanian Rakyat. Cara observasi dipergunakan

pula sebagai pelengkap terhadap cara wawancara sepanjang di

-

(34)

19

1.5.4 Macam Variabel dan Definisi.

Data yang dikumpulkan meliputi data yang menyangkut va

-

riabel-variabel sebagai berikut :

-

harta kekayaan rumah tangga petani

-

pendapatan dari usaha tani selama satu siklus produksi

-

penerimaan rumah tangga petani untuk jangka waktu satu ta

-

hun

-

pengeluaran dana untuk biaya usaha tani selama satu siklus

produksi

.

-

pengeluaran belanja rumah tangga petani untuk jangka waktu

satu tahun

-

penggunaan modal dari luar (kredit)

-

fluktuasi pendapatan usaha tani.

Untuk memperoleh keseragaman pengertian, maka atas bebe

-

rapa istilah penting yang dipakai di sini diajukan batasan se-

bagai berikut :

Pembelanjaan : sebagai suatu usaha untuk menyediakan alat-

alat pembayaran yang diperlukan.

Pertanian rakyat :

yaitu usaha pertanian keluarga di mana dipro

-

duksi bahan makanan seperti beras, palawija

(jagung, kacang-kacangan, dan ubi-ubian) dan

tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-

(35)

20

Laba kotor (gross margin) = Pendapatan kotor

-

Biaya variabel

= Sewa tanah

+

balas jasa bagi tenaga kerja keluarga.

Pendapatan kotor = Hasil produksi yang diterima dikalikan de-

ngan harga produk per kesatuan berat.

Biaya variabel meliputi sejumlah dana yang dibayarkan untuk

mendapatkan sarana produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan),

(36)

111. GAMBARAN UMUM PETIWI SAMPEL

3.1 Keadaan Petani Sampel

Petani sampel dipilih dari sub-populasi petani pemilik pengga

-

rap yang mencurahkan sebagian besar daripada waktu kerjanya pada bi-

dang usaha tani yang dikelolanya. Dengan demikian petani-petani la-

in yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok petani pedagang, petani

pengusaha, petani pegawai, petani penyakap, petani penyewa dan seba-

gainya tidak tercakup dalam kelompok petani yang sedang dipelajari.

Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk memperoleh keseragaman sampel

petani dilihat dari segi pembelanjaan, yang juga dihubungkan dengan

motivasi berusaha tani seperti yang telah disebutkan pada bab yang

terdahulu. Yaitu sebagai kelompok petani yang tidak memenuhi ciri

-

ciri sebagai petani komersiil, yang seperti diketahui meliputi seba-

gian besar daripada jumlah petani yang ada.

Atas dasar cara pemilihan sampel seperti yang telah ditetapkan dalam

metodologi yang dipergunakan, maka jumlah sampel petani yang terpi

-

(37)

Tabel 3. Jumlah Sampel Petani Di Desa Larangan dan Pucangrejo

! ! ! Jumlah Sampel 1

No. Kelompok Petani

! ! ! Larangan ! Pucangrejo !

! 1 ! Sernpit

! 2 ! Sedang

! 3 ! Luas I 12 ! 9 !

! 4 ! Seluruh Sampel ! 3 0 ! 3 0 !

! I I ! !

! !

Catatan : Jumlah sampel untuk setiap kelompok petani tidak sesuai

dengan yang direncanakan, antara lain disebabkan oleh adanya perbedaan antara luas penguasaan lahan oleh peta- ni menurut Buku Induk di Kelurahan ( ~ a n g menjadi dasar

daripada pemilihan sampel) dengan luas penguasaan efek

-

tif pada saat penelitian dilakukan.

Petani sampel tersebut seluruhnya memiliki lahan pertanian sa

wah serta pekarangan, dan sebagian kecil di antaranya juga memili-

ki tanah tegalan. Data mengenai luas pemilikan rata-rata lahan

pertanian daripada kelompok petani sampel dapat dilihat pada tabel

4 dan tabel 5.

Sebagai petani ternyata bahwa luas tanah garapan mereka setiap wak

tu tidak selalu sama dengan luas lahan yang dikuasainya. Kelompok

petani sempit kebanyakan masih juga berusaha untuk memperluas gargp

annya dengan cara menyewa atau menyakap, sepanjang tenaga kerja ke

(38)

4 2

Sedang kelompok petani luas di pihak lain akan berusaha untuk menye

-

suaikan luas garapannya dengan tenaga kerja keluarga yang tersedia

dan kemampuan keuangannya, terutama untuk memperoleh tambahan tena-

ga kerja yang diperlukan dan sarana produksi yang harus dibelinya.

Dalam usaha penyesuaian ini petani luas menempuh berbagai cara, an-

tara lain dengan mempersempit tanah garapannya baik dengan menyewa-

kan sebagian daripada lahan pertanian yang dikuasainya atau dengan

menyakapkannya. Mereka akan rnenyewakannya apabila sedang menghadapi

kebutuhan dana yang besar, baik untuk tujuan mengolah lahan usaha

taninya maupun untuk tujuan yang lain. Tindakan menyakapkan diam -

bil antara lain karena didorong oleh rasa kekeluargaan, sedikitnya

tenaga kerja keluarga sedang nilai sewa tanah di pandang terlalu

(39)

Tabel 4. Luas Milik, Jenis Lahan, dan Luas Garapan Usaha Tani di Desa Larangan

Tahun 1979

I

! . I I ! ! Luas ! Luas Garapan 1

Kelompok ' Sawah ' Tegalan Pekarangan

!No' ! Petani ! Ha I Ha ! Ha ! Milik ! M.H./Ha. ! M.K./Ha

Ha

! 1 ! Sempit ! 0,17355 ! 0,0900 ! 0,06285 ! 0,22418 ! 0,2770

(0,02829 (0) (0,09844) (0,09844) (0,1405)

! ! 12 ! 1 ! 11 ! 12 ! 12

! 2 ! Sedang ! 0,37167 ! 0 ! 0,05462 ! 0,42457 ! 0,3410

(0,04083) (0,03927) (0,06459) (0,0866)

! ! ! 6 ! 6 ! 6 ! 6 ! 6

! 3 ! Luas ! 2,32458 ! 0,1800 ! 0,16529 ! 2,50614 ! 1,5230 (1,61257) (0,12728) (0,25766) !(1,78587) (0,9169)

! ! ! 12 ! 2 I 11 ! 12 ! 12

Sumber : Data Primer.

(40)

Tabel 5. Luas Milik, Jenis Lahan dan Luas Garapan Usaha Tani di Desa Pucangrejo Tahun 1979

! ! I I I 1 Luas ! Luas Garapan

Kelompok' Sawah ' Tegalan ' Pekarangan !

! No. ! Petani ! Ha ! Ha ! Ha ! Milik ! M.H./Ha. ! M.K./Ha.

Ha

I I

! 3 ! Luas ! 0,6550 ! 0,56429 ! 0,06469 ! 1,15744 ! 0,8700 ! 0,8700 !

(0,23393) (0,32305) (0,03831) (0,45510) (0,4390) (0,4390)

I ! ! 9 ! 7 ! 9 I 9 I 9 ! 9 !

! 4 ! 5. Sampel! 0,40466 ! 0,37875 ! 0,04804 ! 0,63926 ! 0,5960 ! 0,5960 !

(0,23614) (0,27773) (0,03546) (0,43841) (0,3820) (0,3820)

! ! ! 30 ! 16 ! 29 ! 30 ! 30 ! 30 !

Sumber : Data Primer.

(41)

Dilihat dari segi pendidikan, diketahui bahwa tingkat pendidik

-

an formil yang dicapai oleh sebagian besar daripada petani sampel

adalah rendah. Jumlah mereka yang buta huruf cukup besar, yaitu di

desa Larangan sebanyak 10 % dan di desa Pucangrejo sebanyak 23 % da

-

ri jumlah sampel. Sedang yang berkesempatan mencapai pendidikan di

atas sekolah dasar di desa Larangan hanya sebanyak 14 % dan di desa

Pucangrejo sebanyak 7 % dari jumlah sampel. Data mengenai tingkat

pendidikan petani sampel dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Tingkat Pendidikan Petani Sampel di Desa Larangan dan Pucangrejo

I ! Kelompok ! Buta Hrf! SD 3 th.! SD 6 th.! SLTP ! SLTA !

Petani

! ! ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC !

! l ! Sempit ! 2 ! 2 ! 4 ! 3 ! 5 ! l ! l ! O ! O ! O !

! 2! Sedang ! l ! 5 ! 2 ! 6 ! 2 ! 3 ! l ! l ! O ! O !

! 3! Luas ! O ! O ! 7 ! 2 ! 3 ! 6 ! O ! l ! 2 ! O !

Sumber : Data Primer

Tingkat pendidikan daripada petani sampel tersebut kiranya akan me;

punyai pengaruh pula terhadap kemampuan dan intensitas usahanya da-

(42)

46

Diketahui bahwa usaha pertanian rakyat yang sering disebut pu-

la sebagai usaha tani keluarga, banyak mengandalkan pada tenaga ker

-

ja keluarga sebagai modal kedua setelah lahan usaha tani yang di

-

kuasainya yang disebut sebagai modal utama. Jumlah tenaga kerja ke

-

luarga yang tersedia dalam suatu rumah tangga petani banyak diper

-

gunakan sebagai alat ukur pertama untuk menentukan luas garapan

atau skala usaha tani bagi suatu keluarga. Semakin banyak tenaga

kerja tersedia dalam suatu keluarga, berarti bahwa kemampuannya un-

tuk mengerjakan lahan usaha tani juga akan menjadi semakin besar.

Dengan catatan bahwa tenaga kerja yang dimaksud adalah tenaga kerja

laki-laki. Adapun data mengenai besarnya jumlah anggota keluarga

dan tenaga kerja keluarga daripada petani sampel dapat dilihat pada

(43)

Tabel 7 . Jurnlah Anggota Keluarga dan Angkatan Kerja d a r i p a d a P e t a n i Sarnpel d i Desa Larangan dan Desa Pucangrejo

! ! I Larangan ! Pucangrej o

Kelompok

lNo. ! P e t a n i ! Anggota ! Angkatan ! Anggota ! Angkatan

Keluarga K e r j a Keluarga Kerja

! 1 ! Sernpit ! 4 , 6 7 !

( 1 , 7 9 )

! 2 ! Sedang ! 5 , 1 7 !

( 2 , 4 0 1

! 3 ! Luas ! 5 , 7 5 !

( 2 , 0 8 1

! 4 ! S e l u r u h ! 5 , 2 0 !

Sarnpel ( 2 , l O )

Sumber : Data Primer.

C a t a t a n :

-

Anggota Keluarga r n e l i p u t i semua orang yang berternpat

t i n g g a l d i dalarn s a t u rurnah dan a t a u sepenuhnya rnenja- d i tanggung jawab Kepala Keluarga.

-

Angkatan K e r j a t e r d i r i d a r i rnereka yang sudah rnasuk

dalarn u s i a k e r j a ( d i a t a s 10 t a h u n ) dan a k t i f b e k e r j a a t a u membantu mencari pendapatan b a g i rumah t a n g g a .

-

Angka d i dalarn t a n d a kurung a d a l a h angka S t a n d a r d De

-

v i a s i

.

D a r i t a b e l 7 d a p a t d i k e t a h u i bahwa jurnlah anggota k e l u a r g a dan jurn-

l a h angkatan k e r j a s e c a r a r a t a - r a t a t i d a k jauh berbeda a n t a r a ke

-

dua d e s a sarnpel. Demikian p u l a perbedaan dalarn jurnlah angkatan key

j a a n t a r a kelompok p e t a n i sernpit dengan kelornpok p e t a n i l u a s d i ke-

dua d e s a sarnpel, hampir t i d a k b e r a r t i k a l a u dibandingkan dengan

(44)

48

3.2 Kegiatan Usaha Petani Sampel

Kegiatan usaha pertanian secara intensif hanya dilakukan di ta

-

nah sawah serta tegalan. Sedang pada tanah pekarangan sebagian be-

sar dipergunakan untuk mendirikan bangunan tempat tinggal. Tanaman

di tanah pekarangan pada umumnya hanya berupa tanaman kitri tahun

seperti tanaman kelapa dan buah-buahan (sebagian besar pohon pi

-

sang), yang ditanam di sekeliling bangunan rumah. Walaupun tanaman

tersebut pada umumnya belum diusahakan secara intensif, namun pada

saat-saat tertentu dirasakan banyak membantu petani dalam mengatasi

problema pembelanjaan yang dihadapinya.

Dengan tingkat pendidikan seperti tertera pada tabel 6 , diketahui

bahwa usaha sampingan yang dilakukan oleh sebagian besar petani sap!

pel adalah terbatas pada kegiatan berburuh tani saja. Hanya tiga

orang petani saja di desa Larangan yang mengaku mempunyai usaha sap!

pingan selain berburuh tani, yaitu sebagai pedagang perantarahsaha

jasa, tengkulak padi dan sebagai tukang kayu. Sedang di desa Pu

-

cangrejo juga terdapat tiga orang petani yang mengaku mempunyai pe-

kerjaan sampingan sebagai pedagang perantara, tukang kayu dan seba-

gai peternak sapi kereman. Kegiatan berburuh tani sendiri hanya dg

pat dilakukan secara musiman, yaitu pada masa panen dan masa mengo-

lah tanah yang berlangsung sekitar 3

-

6 bulan setiap tahun. Se

-

dangkan pada saat-saat tersebut biasanya mereka juga sedang sibuk

dalam usaha taninya sendiri. Dengan jumlah tenaga kerja yang ter

-

sedia secara berlimpah di daerah pedesaan, maka kesempatan untuk

(45)

49

Bahkan kelompok petani pemilik penggarap ini, khususnya kelompok pe

tani luas, kebanyakan tidak lagi memperoleh kesempatan untuk berbu-

ruh tani, yang disebabkan oleh status sosialnya yang sudah dipan

-

dang tinggi.

Dalam melaksanakan usaha taninya, pada umumnya petani dibantu

oleh isteri dan anggota keluarganya yang lain. Qi antara para is

-

teri petani sampel terdapat beberapa orang yang mempunyai usaha

sampingan di luar bidang pertanian dan beberapa orang yang lain se

cara aktif berburuh tani. Di desa Larangan usaha sampingan yang

dimaksud adalah sebagai penjahit, penjual makanan dan pedagang kain

di pasar. Sedang di desa Pucangrejo adalah sebagai pengusaha/pen -

jual makanan, pedagang keliling dan sebagai pedagang kecil di pa

-

sar. Namun demikian usaha bercocok tanam tetap merupakan sandaran

hidup dan sumber pendapatan utama bagi seluruh keluarga petani sam-

pel. Sehingga intensitas daripada usaha sampingan juga akan me

-

ngecil, bilamana intensitas kegiatan dalam berusaha tani meningkat.

Bercocok tanam padi di tanah sawah pada musim penghujan meru

-

pakan usaha yang secara tetap dilakukan oleh seluruh petani sampel.

Jenis usaha tani tersebut dikatakan sebagai usaha yang bersifat ru-

tin yang tidak terlalu banyak memberikan lcesibukan kepada petani,

kecuali hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Di samping itu juga

dikatakan sebagai tidak menuntut adanya pemeliharaan secara khusus,

sehingga pada waktu-waktu tertentu petani masih dapat meninggalkan-

nya untuk melakukan usaha (sampingan) yang lain. Bercocok tanam

padi sebagai bahan makanan pokok, dirasakan sebagai memberikan su

-

(46)

50

Cok untuk musim penghujan di mana air berlimpah.

Sedang pada musim kemarau di tanah sawahnya petani sampel di desa

Larangan, sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, selalu mengusa-

hakan tanaman bawang merah. Tetapi petani sampel di desa Pucangre-

jo baru sekitar lima tahun terakhir saja mengusahakan tanaman tern

-

bakau di tanah sawah, yang sebelumnya masih mengusahakan tanaman

padi. Pergeseran ini semula terjadi sebagai akibat daripada terja-

dinya serangan hama wereng pada tanaman padi secara terus menerus,

sehinggi pemerintah setempat menyarankan petani untuk mengusahakan

tanaman lain bukan padi. Pilihan petani terhadap dua jenis tanaman

perdagangan tersebut antara lain didorong oleh pengetahuan mereka

,

bahwa jenis usaha tani tersebut dapat memberikan harapan pendapat

-

an yang lebih besar dibanding dengan jenis usaha tani lain yang da-

pat mereka lakukan.

Berbeda dengan usaha tani padi, ternyata usaha tani bawang me-

rah dan usaha tani tembakau memerlukan pencurahan tenaga kerja

yang lebih besar. Perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh si

-

fat daripada pekerjaan yang diperlukan, yaitu mulai dari pengolahan

tanah, pemeliharaan tanaman sampai dengan pengolahan hasil panen

yang siap untuk di pasarkan.

Untuk memperoleh gambaran secara lebih jelas mengenai peranan dari

pada tenaga kerja dalam ketiga jenis usaha tani tersebut, maka per-

lu diketahui tentang macam-macam kegiatan yang diperlukan.

a. Usaha tani padi di sawah, secara terperinci meliputi pekerjaan

(47)

-

Membuat pesemaian

-

Babat jerami

-

Membajak ke i dan ke I1

-

Mencangkul bagian tepi

-

Memperbaiki pematang (galeng)

-

Mencangkul meratakan tanah

-

Membersihkan rumput

-

Menggaru ke I dan ke I1

-

Tanam

-

Menyiang ke I dan ke I1

-

Memupuk ke I , ke 11, dan ke I11

-

Memberantas hama

- Mengairi sejak pengolahan tanah sampai menjelang panen

-

Panen

b. Usaha tani bawang merah, secara terperinci meliputi pekerjaan

sebagai berikut :

-

Membuat selokan

-

Ngungkab

-

Nocrok

-

Malem ke I

-

Meratakan tanah

-

Tanam

-

Menyiang ke I, ke I1 dan ke I11

-

Penyemprotan hama sampai panen
(48)

-

Malem ke I1

-

Menyiram s e j a k tanam sampai panen

-

Panen

-

Menjemur h a s i l panen

Dengan tumpang s a r i tanaman c a b e , p e k e r j a a n s e l a n j u t n y a i a l a h :

-

Njeblos s e l o k a n

- Menyiang k e I dan ke I1

-

Memupuk ke I , ke I1 dan ke I11

-

Memberantas hama sampai panen

-

Menyiram

-

Panen (sampai beberapa k a l i )

c . Usaha t a n i tembakau, s e c a r a t e r p e r i n c i m e l i p u t i p e k e r j a a n s e b a g a i

b e r i k u t :

-

B a b a t , b a k a r j e r a m i

-

Membuat s e l o k a n

-

Meratakan t a n a h

-

Ngowak

-

Ngecruk

-

Membuat beberapa sumur

-

Memupuk k e I

-

Tanam

-

Memupuk ke I1

-

Menyiram

-

Memberantas hama
(49)

-

Menggarpu t a n a h

-

M u n g g e l h r i t i l

-

Panen ( 6 k a l i )

-

Mernbuang s i r i p daun (ngruwek)

-

Ngrajang ( 6 k a l i )

-

Nganjang, ngawut, n g e l e r ( 6 k a l i )

-

Menjemur ( 6 k a l i )

-

Memasukkan ke dalam k e r a n j a n g .

Berbagai k e g i a t a n dalam p r o s e s p r o d u k s i t e r s e b u t hampir s e l u

-

ruhnya d i k e r j a k a n dengan menggunakan t e n a g a k e r j a manusia, k e c u a l i

untuk p e k e r j a a n membajak dan rnenggaru yang menggunakan t e n a g a ter

-

nak. Walaupun jumlah k e g i a t a n pada usaha t a n i p a d i t i d a k k a l a h ba-

nyak d i b a n d i n g dengan dua j e n i s usaha t a n i yang l a i n , namun volume

p e k e r j a a n n y a r e l a t i f k e c i l . Untuk usaha t a n i bawang merah m i s a l n y a ,

p e k e r j a a n menyiram dan memberantas hama yang d i l a k u k a n s e c a r a t e r u s

menerus s e t i a p h a r i , menyerap t e n a g a k e r j a yang l e b i h banyak d a r i

-

pada yang d i p e r l u k a n dalam usaha t a n i p a d i . D i samping i t u tanaman

bawang merah yang sudah berumur l e b i h d a r i s a t u bulan juga p e r l u d i

j a g a s i a n g malam d a r i gangguan p e n c u r i a n . Demikian p u l a dengan u s 2

ha t a n i tembakau yang memerlukan beberapa k a l i panen, kebutuhan t e -

naga k e r j a yang r e l a t i f b e s a r bahkan t e r j a d i sampai dengan t a h a p

pemrosesan d a r i daun tembakau basah sampai menjadi tembakau k e r i n g

r a j a n g a n . Untuk k e g i a t a n t a h a p t e r a k h i r t e r s e b u t ( ~ e m r o s e s a n ) s e

-

b a g i a n p e k e r j a a n , y a i t u p e k e r j a a n merajang daun, hanya d a p a t d i k e r -

(50)

54

Oleh k a r e n a i t u b i a y a pemrosesan juga menjadi r e l a t i f t i n g g i , yang

kadang-kadang j u s t r u l e b i h t i n g g i d a r i p a d a h a r g a j u a l tembakau i t u

s e n d i r i . Apabila keadaan yang demikian i t u benar-benar t e r j a d i , ma

-

ka b a g i p e t a n i yang t i d a k mampu memproses s e n d i r i tembakaunya keba-

nyakan akan membiarkan s a j a tanaman tembakaunya t e r b e n g k e l a i d i s a -

wah

.

Dengan volume p e k e r j a a n yang r e l a t i f b e s a r dalam usaha t a n i

bawang merah dan usaha t a n i tembakau, menyebabkan p e t a n i hampir-ham

-

p i r t i d a k sempat l a g i melakukan usaha sampingan. Atau dengan k a t a

l a i n p e t a n i t i d a k l a g i mempunyai cukup waktu untuk mencari tambahan

pendapatan. Hal i n i a n t a r a l a i n menyebabkan bertambah b e s a r n y a

jumlah modal yang d i p e r l u k a n p e t a n i dalam menyelenggarakan usaha

ta

(51)

111. GAMBARAN UMUM PETIWI SAMPEL

3.1 Keadaan Petani Sampel

Petani sampel dipilih dari sub-populasi petani pemilik pengga

-

rap yang mencurahkan sebagian besar daripada waktu kerjanya pada bi-

dang usaha tani yang dikelolanya. Dengan demikian petani-petani la-

in yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok petani pedagang, petani

pengusaha, petani pegawai, petani penyakap, petani penyewa dan seba-

gainya tidak tercakup dalam kelompok petani yang sedang dipelajari.

Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk memperoleh keseragaman sampel

petani dilihat dari segi pembelanjaan, yang juga dihubungkan dengan

motivasi berusaha tani seperti yang telah disebutkan pada bab yang

terdahulu. Yaitu sebagai kelompok petani yang tidak memenuhi ciri

-

ciri sebagai petani komersiil, yang seperti diketahui meliputi seba-

gian besar daripada jumlah petani yang ada.

Atas dasar cara pemilihan sampel seperti yang telah ditetapkan dalam

metodologi yang dipergunakan, maka jumlah sampel petani yang terpi

-

(52)

Tabel 3. Jumlah Sampel Petani Di Desa Larangan dan Pucangrejo

! ! ! Jumlah Sampel 1

No. Kelompok Petani

! ! ! Larangan ! Pucangrejo !

! 1 ! Sernpit

! 2 ! Sedang

! 3 ! Luas I 12 ! 9 !

! 4 ! Seluruh Sampel ! 3 0 ! 3 0 !

! I I ! !

! !

Catatan : Jumlah sampel untuk setiap kelompok petani tidak sesuai

dengan yang direncanakan, antara lain disebabkan oleh adanya perbedaan antara luas penguasaan lahan oleh peta- ni menurut Buku Induk di Kelurahan ( ~ a n g menjadi dasar

daripada pemilihan sampel) dengan luas penguasaan efek

-

tif pada saat penelitian dilakukan.

Petani sampel tersebut seluruhnya memiliki lahan pertanian sa

wah serta pekarangan, dan sebagian kecil di antaranya juga memili-

ki tanah tegalan. Data mengenai luas pemilikan rata-rata lahan

pertanian daripada kelompok petani sampel dapat dilihat pada tabel

4 dan tabel 5.

Sebagai petani ternyata bahwa luas tanah garapan mereka setiap wak

tu tidak selalu sama dengan luas lahan yang dikuasainya. Kelompok

petani sempit kebanyakan masih juga berusaha untuk memperluas gargp

annya dengan cara menyewa atau menyakap, sepanjang tenaga kerja ke

(53)

4 2

Sedang kelompok petani luas di pihak lain akan berusaha untuk menye

-

suaikan luas garapannya dengan tenaga kerja keluarga yang tersedia

dan kemampuan keuangannya, terutama untuk memperoleh tambahan tena-

ga kerja yang diperlukan dan sarana produksi yang harus dibelinya.

Dalam usaha penyesuaian ini petani luas menempuh berbagai cara, an-

tara lain dengan mempersempit tanah garapannya baik dengan menyewa-

kan sebagian daripada lahan pertanian yang dikuasainya atau dengan

menyakapkannya. Mereka akan rnenyewakannya apabila sedang menghadapi

kebutuhan dana yang besar, baik untuk tujuan mengolah lahan usaha

taninya maupun untuk tujuan yang lain. Tindakan menyakapkan diam -

bil antara lain karena didorong oleh rasa kekeluargaan, sedikitnya

tenaga kerja keluarga sedang nilai sewa tanah di pandang terlalu

(54)

Tabel 4. Luas Milik, Jenis Lahan, dan Luas Garapan Usaha Tani di Desa Larangan

Tahun 1979

I

! . I I ! ! Luas ! Luas Garapan 1

Kelompok ' Sawah ' Tegalan Pekarangan

!No' ! Petani ! Ha I Ha ! Ha ! Milik ! M.H./Ha. ! M.K./Ha

Ha

! 1 ! Sempit ! 0,17355 ! 0,0900 ! 0,06285 ! 0,22418 ! 0,2770

(0,02829 (0) (0,09844) (0,09844) (0,1405)

! ! 12 ! 1 ! 11 ! 12 ! 12

! 2 ! Sedang ! 0,37167 ! 0 ! 0,05462 ! 0,42457 ! 0,3410

(0,04083) (0,03927) (0,06459) (0,0866)

! ! ! 6 ! 6 ! 6 ! 6 ! 6

! 3 ! Luas ! 2,32458 ! 0,1800 ! 0,16529 ! 2,50614 ! 1,5230 (1,61257) (0,12728) (0,25766) !(1,78587) (0,9169)

! ! ! 12 ! 2 I 11 ! 12 ! 12

Sumber : Data Primer.

(55)

Tabel 5. Luas Milik, Jenis Lahan dan Luas Garapan Usaha Tani di Desa Pucangrejo Tahun 1979

! ! I I I 1 Luas ! Luas Garapan

Kelompok' Sawah ' Tegalan ' Pekarangan !

! No. ! Petani ! Ha ! Ha ! Ha ! Milik ! M.H./Ha. ! M.K./Ha.

Ha

I I

! 3 ! Luas ! 0,6550 ! 0,56429 ! 0,06469 ! 1,15744 ! 0,8700 ! 0,8700 !

(0,23393) (0,32305) (0,03831) (0,45510) (0,4390) (0,4390)

I ! ! 9 ! 7 ! 9 I 9 I 9 ! 9 !

! 4 ! 5. Sampel! 0,40466 ! 0,37875 ! 0,04804 ! 0,63926 ! 0,5960 ! 0,5960 !

(0,23614) (0,27773) (0,03546) (0,43841) (0,3820) (0,3820)

! ! ! 30 ! 16 ! 29 ! 30 ! 30 ! 30 !

Sumber : Data Primer.

(56)

Dilihat dari segi pendidikan, diketahui bahwa tingkat pendidik

-

an formil yang dicapai oleh sebagian besar daripada petani sampel

adalah rendah. Jumlah mereka yang buta huruf cukup besar, yaitu di

desa Larangan sebanyak 10 % dan di desa Pucangrejo sebanyak 23 % da

-

ri jumlah sampel. Sedang yang berkesempatan mencapai pendidikan di

atas sekolah dasar di desa Larangan hanya sebanyak 14 % dan di desa

Pucangrejo sebanyak 7 % dari jumlah sampel. Data mengenai tingkat

pendidikan petani sampel dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Tingkat Pendidikan Petani Sampel di Desa Larangan dan Pucangrejo

I ! Kelompok ! Buta Hrf! SD 3 th.! SD 6 th.! SLTP ! SLTA !

Petani

! ! ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC ! Lr ! PC !

! l ! Sempit ! 2 ! 2 ! 4 ! 3 ! 5 ! l ! l ! O ! O ! O !

! 2! Sedang ! l ! 5 ! 2 ! 6 ! 2 ! 3 ! l ! l ! O ! O !

! 3! Luas ! O ! O ! 7 ! 2 ! 3 ! 6 ! O ! l ! 2 ! O !

Sumber : Data Primer

Tingkat pendidikan daripada petani sampel tersebut kiranya akan me;

punyai pengaruh pula terhadap kemampuan dan intensitas usahanya da-

(57)

46

Diketahui bahwa usaha pertanian rakyat yang sering disebut pu-

la sebagai usaha tani keluarga, banyak mengandalkan pada tenaga ker

-

ja keluarga sebagai modal kedua setelah lahan usaha tani yang di

-

kuasainya yang disebut sebagai modal utama. Jumlah tenaga kerja ke

-

luarga yang tersedia dalam suatu rumah tangga petani banyak diper

-

gunakan sebagai alat ukur pertama untuk menentukan luas garapan

atau skala usaha tani bagi suatu keluarga. Semakin banyak tenaga

kerja tersedia dalam suatu keluarga, berarti bahwa kemampuannya un-

tuk mengerjakan lahan usaha tani juga akan menjadi semakin besar.

Dengan catatan bahwa tenaga kerja yang dimaksud adalah tenaga kerja

laki-laki. Adapun data mengenai besarnya jumlah anggota keluarga

dan tenaga kerja keluarga daripada petani sampel dapat dilihat pada

(58)

Tabel 7 . Jurnlah Anggota Keluarga dan Angkatan Kerja d a r i p a d a P e t a n i Sarnpel d i Desa Larangan dan Desa Pucangrejo

! ! I Larangan ! Pucangrej o

Kelompok

Gambar

Tabel  4.  Luas Milik, Jenis Lahan, dan Luas Garapan  Usaha Tani di Desa Larangan
Tabel 5.  Luas Milik, Jenis Lahan dan Luas Garapan  Usaha Tani di Desa Pucangrejo Tahun 1979
Tabel 6.  Tingkat Pendidikan Petani Sampel  di Desa Larangan dan Pucangrejo
Tabel  7 .   Jurnlah  Anggota  Keluarga  dan  Angkatan  Kerja  d a r i p a d a   P e t a n i   Sarnpel  d i   Desa  Larangan  dan  Desa  Pucangrejo
+5

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam pningkaan hasil belajar

Keragaan Alat Tangkap dan Jenis lkan di Perairan Sungai Siak,. Provinsi

Sistem yang digunakan memiliki kesamaan yaitu melacak suatu objek menggunakan GPS, namun yang menjadi perbedaan adalah GPS yang dipasang didalam kendaraan dan

Telkom Wilayah Telekomunikasi Riau Daratan sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa telekomunikasi dengan tingkat kompetisi yang tinggi

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Peraturan Bupati Bantul Nomor 32 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Keuangan Khusus Kegiatan

Beberapa praktikum yang sering memerlukan alat ini yaitu praktikum mikrobiologi dan kultur jaringan, dimana neraca ini digunakan untuk menimbang bahan yang

Este pensamiento colonial y estos objetivos quedan reflejados en las veintiocho bases que componen el Estatuto de Enseñanza de los Territorios Españoles del Golfo de Guinea, de 6

Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahnmat, berkah serta hidayat Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul