STUDI KEKUATAN PASANGAN BATU BATA PASCA
PEMBAKARAN MENGGUNAKAN BAHAN
ADDITIVE
ABU SEKAM PADI
Oleh :
DIDIK HANDOKO
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA TEKNIK
Pada
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Lampung
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
STUDY KEKUATAN PASANGAN BATU BATA PASCA PEMBAKARAN
MENGUNAKAN BAHAN ADDITIVE ABU SEKAM PADI
Oleh :
Didik Handoko
Batu bata merupakan material konstruksi bangunan yang ramah lingkungan, memiliki sifat kuat tekan yang baik, dapat menahan beban dalam batasan tertentu, dan mudah dalam pekerjaan pemasangan. Batu bata terbuat dari campuran tanah, air. Pada penelitian ini proses pembuatan Batu bata akan dicoba mencampurkan tanah dengan abu sekam padi untuk mengurangi pemakaian bahan aslinya dan meningkatkan kuat tekan dengan tujuan mencapai spesifikasi SNI Batu bata.
Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah lempung yang berasal dari daerah Seputih Mataram, Lampung Tengah. Dengan Variasi kadar campuran yang digunakan adalah 5%, 10%,15%, dan 20% Abu sekam padi, 5% Abu sekam padi dan sisanya adalah 95% tanah, begitu juga untuk campuran yang lain. Dengan waktu pengeringan 7 hari serta dan perlakuan pembakaran serta tanpa pembakaran untuk sampel Batu bata. Berdasarkan hasil pengujian fisik tanah asli, Unified system mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah berbutir halus dan termasuk ke dalam kelompok CL.
Hasil penelitian menujukkan bahwa pembuatan Batu bata pasca bakar dengan menggunakan campuran 5%abu sekam padi + 95%tanah memenuhi SNI Batu bata untuk material bangunan. Secara umum penambahan bahan Abu sekam padi pada tanah tidak meningkatkan sifat fisik dan mekanik tanah secara signifikan.Untuk nilai kuat tekan Batu bata tanpa pembakaran dan dengan proses pembakaran paling baik ditunjukkan pada penambahan kadar campuran 5% - 10%, yaitu 101,93 kg/cm2 – 108,85 kg/cm2
ABSTRACT
STUDY THE POWER SPOUSE POST BURNING BRICK MATERIAL USING RICE HUSK ASH ABDITIEVIED
by :
Didik Handoko
Brick building construction material that is environmentally friendly , has good compressive strength properties , can withstand load within certain limits , and easy in installation work . The bricks are made from a mixture of soil , water . In this study the process of making bricks will try mixing the soil with rice husk ash to reduce the use of original materials and increasing compressive strength with the goal of achieving SNI specifications Bricks .
Soil samples were tested in this study are derived from clay Seputih Mataram ,Lampung Tengah . Variations in levels of the mixture used was 5 % , 10 % , 15 % , and 20 % ash rice husk , rice husk ash 5 % and the rest is the percentage of land with 7 - 14 days drying time and with treatment and without burning burning Bricks sample . Based on the results of physical testing native soil , soil samples Unified system classifies as fine-grained soil and included in the CL group .
The results showed that after the fuel manufacturing bricks using a mixture of 5 % rice husk ash + 95 % soil meets SNI bricks for building materials . In general, the addition of rice husk ash material on the ground does not improve the physical and mechanical properties of soil signifikan. The compressive strength bricks without burning and the burning process are best shown in the addition of a mixture of levels 5 % - 10 % .it this 101,93 kg/cm2 – 108,85 kg/cm2
DAFTAR ISI
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tanah ... 6
C. Metode Pencampuran Sampel... 26
D. Pelaksanan Pengujian... 27
F. Urutan Prosedur Penelitian ... 30
G. Analisis Hasil Penelitian. ... 32
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengujian Tanah Asli. ... 35
B. Klasifikasi Tanah Asli. ... 38
C. Pengujian Batu Bata Campuran. ... 40
D. Pengujian Kuat Tekan ... 40
a. Uji Kuat Tekan Sebelum Pembakaran ... 40
b. Uji Kuat Tekan Pasca Pembakaran ... 42
c. Uji Berat Jenis Campuran. ... 45
E. Perbandingan Kuat Tekan Batu Bata Menggunakan Tanah Yang Sama dengan Campuran Berbeda. ... 49
V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 53
B. Saran ... 55
DAFTAR PUSTAKA
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Batu bata merupakan salah satu bahan yang sudah banyak dikenal oleh
masyarakat umum untuk bahan kontruksi bangunan. Ini dapat diketahui dari
banyaknya masyarakat yang membuat home industry batu bata untuk
memproduksi batu bata. Batu bata biasa dipakai untuk kontruksi sipil dalam
membangun perumahan, bangunan gedung, dinding penahan, pagar, dan aplikasi
bangunan teknik sipil yang lain. Batu bata pada umumnya memiliki fungsi non
struktur. fungsi non struktur, batu bata biasanya digunakan pada pembangunan
gedung yaitu sebagai dinding penyekat ruangan dan dapat sebagai nilai
keindahan dan estetika.
Oleh karena meningkatnya pembangunan perumahan dan gedung di Indonesia
saat ini mengakibatkan kebutuhan akan bahan bangunan semakin meningkat,
salah satu bahan bangunan yang sangat diperlukan yaitu batu bata sebagai bahan
Pemanfatan batu bata dalam kontruksi sipil perlu peningkatan produksi dan
kualitas bahan material batu bata sendiri (bahan dasar lempung atau tanah liat)
dengan di tambah bahan lain. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan
mencampur bahan utama dengan abu sekam padi yang merupakan limbah yang
berasal dari sisa pembakaran sekam padi.
Batu bata adalah batu buatan yang terbuat dari bahan dasar tanah liat dengan atau
tanpa bahan campuran lain, yang dicetak lalu dikeringkan beberapa hari, setelah
itu dibakar dengan suhu yang sangat tinggi sehingga mengeras. Dalam pembuat
batu bata bisa dilakukan dengan atau tanpa bahan tambahan tergantung terhadap
tanah liat yang di pakai.
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang objektif terhadap masalah ini,
yaitu pembuatan batu bata dari tanah liat di campur dengan bahan tambahan
yaitu abu sekam padi, dimana telah diketahui bahwa abu sekam padi banyak
mengandung zat silika yang dihasilkan dari proses pembakaran sekam padi
dengan penambahan bahan tambahan diharapkan dapat meningkatkan kekuatan
batu bata dan penghematan bahan utama yaitu tanah liat, karena semakin lama
ketersediyaan bahan utama pembuatan batu bata semakin berkurang dan terbatas
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penambahan abu
sekam padi dalam pembuatan batu bata dapat mempegaruhi dan meningkatkan
kuat tekan dan sifat fisik tanah pada batu bata.
C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang di bahas dalam penelitian ini adalah :
1. Tanah liat bahan baku berasal dari desa Sumber Agung di kecamatan Seputih
Mataram Lampung Tengah.
2. Bahan campuran yang digunakan adalah abu sekam padi berasal dari sisa
pembakaran sekam padi yang berasar dari desa Rukti Harjo Kampung Baru
Kec.Seputih Raman.
3. Pengujian dilakukan di laboratorium untuk tanah liat.
4. Jinis batu bata yang diteliti adalah batu bata tradisonal jenis batu bata.
5. Pencampuran abu sekam padi menggunakan kadar tertentu dari berat total
sampel yang kemudian diuji untuk memperoleh kadar abu ampas padi
optimum untuk campuran batu bata.
6. Menjelaskan dan menerangkan cara pembuatan batu bata yang di tambahkan
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Pemanfaatan limbah abu sekam padi yang digunakan untuk pembuatan batu
bata.
2. Membandingkan kekuatan batu bata biasa dengan batu bata campuran abu
sekam padi.
3. Mengetahui sifat-sifat fisik tanah liat di desa Sumber Agung kecamatan
Seputih Mataram, Lampung Tengah.
4. Mengetahui nilai kuat tekan batu bata yang menggunakan campuran abu
sekam padi.
5. Mencari salah satu bahan alternatif campuran pembuatan batu bata yaitu abu
sekam padi .
E. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapar memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Dari hasil penelitian ini diharapkan para produsen industry batu bata dapat
mengurangi bahan utama pembuaatan batu bata dan dapat memanfaatkan
limbah abu sekam padi sebagai bahan penguat dalam pembuatan
pembuatna batu bata.
2. Hasil penelitian ini dapat menghasilkan batu bata yang berkualitas yang
3. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang
cara pembuatan dan mengetahui kekuatan batu bata yang terbuat dari
II. Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Tanah
Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang
berlangsung di muka daratan bumi di bawah pengaruh faktor-faktor
lingkungan yang bekerja selama waktu yang sangat panjang, dan mewujud
sebagai suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi tertakrifkan
(Schroeder,1984). Selain itu tanah dalam arti lain yaitu semua
bahan,organik,dan anorganik,yang ada di atas lapisan batuan tetap (I.S
Dunn dkk,1992).
Bahan tanah tersusun atas empat komponen, yaitu bahan padat mineral,
bahan padat organik, air, dan udara. Bahan padat mineral terdiri atas bibir
batuan dan mineral primer, lapukan batuan dan mineral, serta mineral
sekunder. Bahan padat organik terdiri atas sisa dan rombakan jasad,
terutama tumbuhan, zat humik, dan jasad hidup penghuni tanah, termasuk
akar tumbuhan hidup. Air mengandung berbagai zat terlarut sehingga
B. Klasifikasi Tanah
Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis
tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam
kelompok-kelompok dan sub kelompok-sub kelompok berdasarkan
pemakaiannya.(Das, 1995).
Sistem klasifikasi tanah memberikan bahasa yang mudah untuk
menjelaskan secara singkat sifat-sifat tanah yang bervariasi tanpa
penjelasan yang terperinci.
Klasifikasi tanah juga berfungsi untuk study yang lebih terperinci mengenai keadaan tanah tersebut serta kebutuhan akan pengujian untuk
menentukan sifat teknis seperti karakteristik pemadatan, kekuatan tanah,
berat isi, dan sebagainya (Bowles, 1989).
Adapun sistem klasifikasi tanah tersebut sebagai berikut :
1. Klasifikasi tanah berdasarkan Unified system
Sistem klasifikasi tanah ini yang paling banyak dipakai untuk
pekerjaan teknik pondasi seperti untuk bendungan, bangunan dan
konstruksi yang sejenis. Sistem ini biasa digunakan untuk desain
lapangan udara dan untuk spesifikasi pekerjaan tanah untuk jalan.
Klasifikasi berdasarkan Unified system (Das. Braja. M, 1988), tanah dikelompokkan menjadi :
1. Tanah butir kasar (Coarse-grained-soil) yaitu tanah kerikil dan
ayakan no. 200. Simbol dari kelompok ini dimulai dengan huruf
awal G atau S. G adalah untuk kerikil (gravel) dan S untuk pasir (sand) atau tanah berpasir.
2. Tanah berbutir halus (fine-grained-soil) yaitu tanah dimana lebih
dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan no. 200. Simbol
dari kelompok ini dimulai dengan huruf awal M untuk lanau (silt)
anorganik, C untuk lempung (cly) anorganik, dan O untuk lanau organik dan lempung organik. Simbol PT digunakan untuk tanah
gambut (peat), muck,dan tanah-tanah lain dengan kadar organik yang tinggi.
3. Tanah organik yang dapat dikenal dari warna, bau, dan sisa
Tabel 1. Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sistem Unified
Divisi Utama Simbol Nama Umum Kriteria Klasifikasi
Ta atau sama sekali tidak mengandung butiran halus atau sama sekali tidak mengandung butiran halus
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk GW GC Kerikil berlempung, campuran
kerikil-pasir-lempung
Pasir bergradasi-baik , pasir berkerikil, sedikit atau sama sekali tidak mengandung butiran halus berkerikil, sedikit atau sama sekali tidak mengandung butiran halus
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk SW
SM Pasir berlanau, campuran pasir-lanau SC Pasir berlempung, campuran
pasir-lempung
Lanau anorganik, pasir halus sekali, serbuk batuan, pasir halus berlanau atau berlempung
Diagram Plastisitas:
Untuk mengklasifikasi kadar butiran halus yang terkandung dalam tanah berbutir halus dan kasar. Batas Atterberg yang termasuk dalam daerah yang di arsir berarti batasan klasifikasinya menggunakan dua simbol. plastisitas rendah sampai dengan sedang lempung berkerikil, lempung berpasir, lempung
berlanau, lempung “kurus” (lean clays)
Lanau anorganik atau pasir halus diatomae, atau lanau diatomae, lanau yang elastis plastisitas sedang sampai dengan tinggi tanah lain dengan kandungan organik tinggi
C. Tanah Lempung
1. Definisi Tanah Lempung
Tanah lempung merupakan tanah yang berukuran mikroskopis
sampai dengan sub mikroskopis yang berasal dari pelapukan
unsur-unsur kimiawi penyusun batuan, tanah lempung sangat keras dalam
keadaan kering dan bersifat plastis pada kadar air sedang. Pada
kadar air lebih tinggi lempung bersifat lengket (kohesif) dan s angat
lunak (Das, 1995).
Warna tanah pada tanah lempung tidak dipengaruhi oleh unsur kimia
yang terkandung di dalamnya, karena tidak adanya perbedaan yang
dominan dimana kesemuanya hanya dipengaruhi oleh unsur Natrium
saja yang paling mendominasi. Semakin tinggi plastisitas, grafik yang
dihasilkan pada masing-masing unsur kimia belum tentu sama. Hal ini
disebabkan karena unsur-unsur warna tanah dipengaruhi oleh nilai
Liquid Limit (LL) yang berbeda-beda (Marindo, 2005 dalam Afryana, 2009).
Tanah lempung merupakan partikel mineral yang berukuran lebih
kecil dari 0,002 mm. Partikel-partikel ini merupakan sumber utama
1. Jenis Mineral Lempung
a. Kaolinite
merupakan anggota kelompok kaolinite serpentin, yaitu hidrus
alumino silikat dengan rumus kimia Al2 Si2O5(OH)4. Kekokohan
sifat struktur dari partikel kaolinite menyebabkan sifat-sifat plastisitas dan daya pengembangan atau menyusut kaolinite
menjadi rendah.
b. Illite
Illite adalah mineral bermika yang sering dikenal sebagai mika
tanha dan merupakan mika yang berukuran lempung. Istilah illite
dipakai untuk tanah berbutir halus, sedangkan tanah berbutir kasar
disebut mika hidrus. Rumus kimia illite adalah KyAl2(Fe2Mg2Mg3)
c. Montmorilonite
Mineral ini memiliki potensi plastisitas dan mengembang atau
menyusut yang tinggi sehingga bersifat plastis pada keadaan basah
dan keras pada keadaan kering. Rumus kimia montmorilonite
adalah Al2Mg(Si4O10)(OH)2 xH2O.
d. Vermiculite
adalah suatu mineral alami yang memperluas dengan aplikasi
memanaskan. Rumus kimia vermiculite adalah
e. Attapulgite
koloid aktif adalah magnesium alumunium silikat alamiah yang
telah dimurnikan dan diaktifkan dengan cara pemanasan untuk
meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Berupa serbuk sangat
halus, mempunyai pH antara 7,0-9,5.
2. Sifat Tanah Lempung
Tanah lempung lunak mempunyai karakteristik yang khusus
diantaranya daya dukung yang rendah, kemampatan yang tinggi,
indeks plastisitas yang tinggi, kadar air yang relatif tinggi, dan
mempunyai gaya geser yang kecil. Kondisi tanah seperti itu akan
menimbulkan masalah jika dibangun konstruksi di atasnya.
Tanah lempung adalah tanah yang mempunyai partikel mineral
tertentu yang menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah bila
dicampur air dan dalam keadaan kering akan menjadi keras, sedangkan bila
dibakar akan menjadi padat dan kuat (Grim, 1953 dalam Darmady,
2009).
Tanah lempung (liat) mempunyai sifat – sifat fisis dan kimia yang
penting, antara lain : ( Daryanto, 1994)
a. Plastisitas
Plastisitas atau keliatan tanah liat ditentukan oleh kehalusan
partikel – partikel tanah liat. Kandungan plastisitas tanah liat
Plastisitas berfungsi sebagai pengikat dalam proses pembentukan
sehingga batu bata yang dibentuk tidak mengalami keretakan atau
berubah bentuk. Tanah liat dengan plastisitas yang tinggi juga akan
sukar dibentuk sehingga perlu ditambahkan bahan bahan yang lain.
b. Kemampuan bentuk
Tanah liat yang digunakan untuk membuat keramik, batu bata dan
genteng harus memiliki kemampuan bentuk agar dapat berdiri
tanpa mengalami perubahan bentuk baik pada waktu proses
maupun setelah pembentukan. Tanah liat dikatakan memiliki daya
kerja apabila mempunyai plastisitas dan kemampuan bentuk yang
baik sehingga mudah dibentuk dan tetap mempertahankan
bentuknya.
c. Daya Suspensi
Daya suspensi adalah sifat yang memungkinkan suatu bahan tetap
dalam cairan. Flokulan merupakan suatu zat yang akan
menyebabkan butiran – butiran tanah liat berkumpul menjadi
butiran yang lebih besar dan cepat mengendap, contohnya:
magnesium sulfat. Deflokulan merupakan suatu zat yang akan
mempertinggi daya suspensi (menghablur) sehingga butiran –
butiran tanah liat tetap melayang, contohnya: waterglass/sodium
d. Penyusutan
Tanah liat untuk mengalami dua kali penyusutan, yakni susut
kering (stelah mengalami proses pengeringan) dan susut bakar
(setelah mengalami proses pembakaran). Penyusutan terjadi karena
menguapnya air selaput pada permukaan dan air pembentuk atau
air mekanis sehingga butiran – butiran tanah liat menjadi rapat.
Pada dasarnya susut bakar dapat dianggap sebagai susut
keseluruhan dari tanah liat sejak dibentuk, dikeringkan sampai
sibakar. Persentase penyusutan yang dipersyaratkan untuk jenis
tanah liat earthenware sebaiknya antara 10% - 15%.
Tanah liat yang terlalu plastis pada umumnya memiliki persentase
penyusutan lebih dari 15% sehingga mengalami resiko retak/pecah
yang tinggi. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan pasir halus.
e. Suhu bakar
Suhu bakar berkaitan langsung dengan suhu kematangan, yaitu
kondisi benda yang telah mencapai kematangan pada suhu tertentu
secara tepat tanpa mengalami perubahan bentuk, sehingga dapat
dikatakan tanah liat tersebut memiliki kualitas kemampuan bakar.
Dalam proses pembakaran tanah liat akan mengalami proses
perubahan (ceramic change) pada suhu sekitar 600oC, dengan
f. Warna Bakar
Warna bakar tanah liat dipengaruhi oleh zat/bahan yang terikat
secara kimiawi pada kandungan tanah. Warna pada tanah liat
disebabkan oleh zat yang mengotorinya, warna abu – abu sampai
hitam mengandung zat arang dan sisa – sisa tumbuhan, warna
merah disebabkan oleh oksida besi (Fe).Perubahan warna batu bata
merah dari keadaan mentah sampai setelah dibakar biasanya sulit
dipastikan.
3. Sifat Tanah Lempung Pada Pembakaran
Tanah Lempung yang dibakar akan mengalami perubahan seperti berikut:
1 Pada temperatur ± 150ºC, terjadi penguapan air pembentuk yang
ditambahkan dalam tanah lempung pada pembentukan setelah menjadi
batu bata mentah.
2 Pada temperatur antara 400ºC - 600ºC, air yang terikat secara kimia
dan` zat-zat lain yang terdapat dalam tanah lempung akan menguap.
3 Pada temperatur diatas 800ºC, terjadi perubahan-perubahan Kristal
dari tanah lempung dan mulai terbentuk bahan gelas yang akan
mengisi pori- pori sehingga batu bata menjadi padat dan keras.
4 Senyawa-senyawa besi akan berubah menjadi senyawa yang lebih
5 Tanah lempung yang mengalami susut kembali disebut susut bakar.
Susut bakar diharapkan tidak menimbulkan cacat seperti perubahan
bentuk (melengkung), pecah-pecah dan retak. Tanah lempung yang
sudah dibakar tidak dapat kembali lagi menjadi tanah lempung atau liat
oleh pengaruh udara maupun air.
D. Abu Sekam Padi
Sekam padi merupakan salah satu limbah dari produk pertanian. Sekam
padi atau kulit padi adalah bagian terluar dari butir padi yang menjadi hasil
sampingan saaat proses penggilingan padi dilakukan sekitar 20 % dari
bobot padi adalah sekam padi dan kurang lebih 15 % dari komposisi
sekam adalah abu sekam padi yang dihasilkan saat sekam tersebut dibakar.
Sekam padi mengandung abu yang mempunyai kandungan silica yang
tinggi dan selulosa yang menghasilkan karbon ketika terdekomposisi
secara termal.
Abu sekam padi adalah hasil sisa dari pembakaran sekam padi, Abu sekam padi
merupakan salah satu bahan yang potensial digunakan di Indonesia karena
produksi pertanian yang tinggi dan penyebaran yang luas. Untuk menghasilkan
abu sekam padi yang bagus pada saat pembakaran suhu harus terkontrol,
sehingga menghasilkan abu sekam padi yang mengandung silika. Selama
proses perubahan sekam padi menjadi abu, pembakaran memghilangkan
zat-zat organik dan meninggalkan zat sisa yang kaya akan silika.
Selama proses perubahan sekam padi menjadi abu, pembakaran
silika.Komposisi kimia abu sekam padi adalah SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO,
Na2O, MgO, K2O, dan H2O.
E. Batu Bata
1. Difinisi Batu Bata
Batu bata merah adalah suatu unsur bangunan yang diperuntukkan
pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan
atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga
tidak dapat hancur lagi bila direndam dalam air. (NI-10,SII-0021-78)
Batu bata adalah salah satu unsur bangunan dalam pembuatan
konstruksi bangunan yang terbuat dari tanah liat ditambah air dengan
atau tanpa bahan campuran lain melalui beberapa tahap pengerjaan,
seperti menggali, mengolah, mencetak, mengeringkan, membakar
pada temperature tinggi hingga matang dan berubah warna, serta akan
mengeras seperti batu jika didinginkan hingga tidak dapat hancur lagi
bila direndam dalam air. Batu bata merah adalah batu buatan yang
terbuat dari suatu bahan yang dibuat oleh manusia supaya mempunyai
sifat-sifat seperti batu. Hal tersebut hanya dapat dicapai dengan
memanasi (membakar) atau dengan pengerjaan-pengerjaan kimia
(Djoko Soejoto, 1954).
Batu bata merupakan salah satu bahan material sebagai bahan
pembuat dinding. Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar
unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan kontruksi bangunan
dan yang dibuat dari tanah liat atau tanpa campuran bahan-bahan lain,
dibakar cukup tinggi hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam
dalam air. Menurut Frick (1980), bata merah merupakan hasil industri
rumah yang dilakukan oleh rakyat menggunakan bahan-bahan dasar
seperti lempung, sekam padi dan air.
Batu bata mempunyai sifat-sifat fisika sebagai berikut (Van Flack,
1992) :
1. Merupakan senyawa logam dan non logam.
2. Senyawa ini mempunyai ikatan ionik dan/atau ikatan kovalen.
Adanya ikatan ionik ini menyebabkan bahan keramik mempunyai
stabilitas yang relatif tinggi dan tahan terhadap perubahan fisika
dan kimia yang ekstrim.
3. Pada umumnya keramik bersifat isolator.
4. Keramik seperti batubata lainnya bersifat isolator karena memiliki
elektron bebas yang sedikit bahkan tidak ada. Elektron-elektron ini
berbagi dengan atom-atom yang berdekatan membentuk ikatan
kovalen atau perpindahan electron valensi dari kation ke anion
membentuk ikatan ion.
5. Mempunyai modulus elastisitas yang tinggi.
Modulus ini menyatakan tingkat kekakuan atau tegangan yang
Keramik umumnya dianggap material yang getas dan tidak ulet.
Sebelum dan sesudah perpatahan, deformasi plastis yang dialami
mikrostruktur hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Kekuatan keramik pada tegangan kompresi sangat baik, sehingga
pada perancangan barang-barang keramik diusahakan agar
pemakaian gaya bersifat kompresif . Sebaliknya kekuatan tarik
keramik tidak menyolok bahkan rendah karena pengaruh cacat
permukaan.
2. Setandar Batu Bata
Standarisasi merupakan syarat mutlak dan menjadi suatu acuan
penting dari sebuah industri di suatu Negara. Standar ukuran batu bata
di Indonesia berdasarkan Y.D.N.I (Yayasan Dana Normalisasi
Indonesia) nomor 15-2094-1991 menetapkan suatu ukuran bata merah
sebagai berikut :
a. Panjang 240 mm, lebar 115 mm dan tebal 25 mm
b. Panjang 230 mm, lebar 110 mm dan tebal 50 mm
Penyimpangan yang diijinkan oleh standar tersebt untuk panjang
adalah 3%, untuk lebar adalah maksimum 4%, sedangkan untuk tebal
adalah maksimum 5% .Sedangkan ukuran standar batu bata menurut
Tabel 2. Kelas modul batu bata SII – 0021 - 78
Penyimpangan ukuran maksimum batu bata yang diperbolehkan
dalam SII-0021-78, adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Daftar Penyimpangan Ukuran Maksimum Batu Bata sesuai
dengan SII-0021-78
Kelas Penyimpangan Ukuran Maksimum (mm)
Penyimpangan ukuran standar batu bata terbesar yang diperbolehkan
dalam SII-0021-78, yaitu 3% untuk panjang maksimum, lebar
maksimum 4%, dan tebal maksimum 5%. Sedangkan selisih antara
batu bata berukuran maksimum dengan batu bata berukuran minimum
yang diperbolehkan, yaitu untuk panjang 10 mm, lebar 5 mm, dan
tebal 4 mm. Seiring perkembangan zaman, batu bata yang beredar
dipasaran memiliki ukuran yang bervariasi, seperti contohnya batu
bata yang mempunyai ukuran 5 cm x 10 cm x 20 cm.
Adapun syarat-syarat batu bata dalam SNI 15-2094-2000 meliputi
beberapa aspek seperti :
a. Sifat Tampak
Batu bata harus berbentuk ptisma segi empat panjang, menpunyai
rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang sisanya harus datar, tidak
menunjukan retak-retak.
b. Ukuran dan Toleransi
Standar batu bata merah di Indonesia oleh BSN (Badan Standar
Nasional) nomor 15-2094-2000 menetapkan suatu ukuran standar
untuk batu bata merah sebagai berikut :
Tabel 4 .Ukuran Batu Bata Berdasarkan SNI 15-2094-2000
Modul Tebal (mm) Lebar (mm) Panjang(mm)
M-5a 65±2 90±3 190±4
Modul Tebal (mm) Lebar (mm) Panjang(mm)
M-6a 52±3 110±4 230±4
M-6b 55±3 110±6 230±5
M-6c 70±3 110±6 230±5
M-6d 80±3 110±6 230±5
Sumber : SNI 15-2094-2000
c. Kuat Tekan
Besarnya kuat tekan rata-rata dan koevisien variasi yang diijinkan
untuk bata merah pasangan dinding sesuai yaitu :
Table 5.Nilai Kuat Tekan
Kelas Kekuatan Tekan Rata-Rata
Batu Bata
Kg/cm2 N/mm2
Koefisien Variasi
Izin
50 50 5,0 22 %
100 100 10 15 %
150 150 15 15 %
Sumber : (SNI 15-2094-2000)
3. Kegunaan dan Keuntungan Batu bata
Keberadaan batu bata disaat ini banyak mendantangkan keuntungan
yang dimilikinya. Batu bata memiliki banyak kegunaan diantaranya
sipil, seperti gedung, dinding penahan, rumah, dan lain-lain.
Penggunaan batu bata memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
a. Dapat diproduksi secara massal
b. Dapat diaplikasikan pada pembangunn gedung dengan tanpa
memerlukan keahlian khusus.
c. Pada kondisi pembebanan yang normal batu bata dapat digunakan
selama masa-masa pelayanan dan batu bata tidak mudah rusak.
d. Batu bata memiliki nilai estetika yang unik terutama jika didesain
dengan pola dan warna yang indah.
e. Perbandingan harganya lebih rendah dibanding dengan jenis batu
bata konvensional yang lain.
f. Pemasangannya cukup mudah dan biaya perawatannya pun murah.
g. Dengan adanya lubang ditengah membuat proses pembakaran lebih
sempurna, dan lebih cepat.
4. Tahapan atau Proses Pembakaran Batu bata
Pembakaran Batu bata dapat dilakukan dengan menyusun batu bata
secara bertingkat dan bagian bawah tumpukan itu diberi terowongan
untuk kayu bakar. Bagian samping tumpukan di tutup dengan batu
bata setengah matang dari proses pembakaran sebelumnya atau batu
bata yang sudah jadi. Sedangkan bagian atasnya ditutup dengan
Saat kayu bakar telah menjadi bara menyala, maka bagian dapur atau
lubang tempat pembakaran tersebut di tutup dengan lumpur tanah liat.
Tujuanya agar panas dan semburan api selalau mengangah dalam
tumbukan bata. Proses pembakaran ini memakan waktu 1 hari
tergantung jumlah batu bata yang dibakar.
Proses ini ditata sedemikian rupa di atas tungku pembakaran,
memakai kulit sekam padi untuk membakar batu bata ini. Saat musim
hujan, proses pembakaran batu bata itu juga memerlukan waktu lebih
`
III. METODE PENELITIAN
A. Bahan Penelitian
1 Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung lunak (soft cly)
yang berasal dari desa Sumber Agung Kecamatan Seputih Mataram
Lampung tengah
2 Abu sekam padi diperoleh dari pembakaran sekam padi. Pengambilan
Abu sekam padi diambil dari industri pabrik padi di kecamatan Seputih
Raman Lampung Tengah.
3 Air yang berasal dari Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik
Universitas Lampung
B. Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel tanah menggunakan tabung pipa paralon sebanyak
tiga buah untuk mendapatkan data-data primer.
Pipa ditekan perlahan-lahan sampai kedalaman 50 cm, kemudian diangkat
ke permukaan sehingga terisi penuh oleh tanah dan ditutup dengan plastik
digunakan sebagai sampel untuk pengujian awal, dimana sampel ini
disebut tanah tidak terganggu. Sedangkan pengambilan sampel tanah
untuk tanah terganggu, dilakukan dengan cara penggalian menggunakan
cangkul dan dimasukan kedalam karung.
Abu sekam padi diperoleh dari industri pembuatan batu bata di desa Rukti
Harjo Kecamatan Seputih Raman Lampung Tengah. Pengambilan abu
sekam padi dilakukan dengan mengunakan cangkul dan ember dimasukan
didalam karung plastik.
C. Metode Pencampuran Sampel Tanah dengan Abu Sekam Padi
Metode pencampuran untuk masing-masing prosentasi abu sekam padi
adalah :
1 Abu sekam padi di campur dengan sampel tanah yang telah tertahan
saringan no.200 (0.075 mm) dengan variasi prosentase abu sekam
padi antara lain 5%, 10%,15% dan 20% masing-masing sebanyak 5
sampel dengan kadar campuran yang berbeda-beda.
2 Pencampuran sampel dengan cara mengaduk tanah dengan abu sekam
padi yang dicampur dalam wadah dengan memberi penambahan air.
Sampel tanah memiliki kumulatif berat 100%, maka variasi campuran
pertama abu sekam padi dan 5% terdiri dari 95% tanah, variasi
campuran kedua abu sekam padi 10% dan tanah 90%,dan variasi
campuran ketiga abu sekam padi 15% dan tanah 85%, dan variasi
3 Tanah yang sudah tercampur dengan abu sekam padi siap untuk
dicetak di cetakan batu bata, lalu diperam selama 14 hari, dibakar
selama 2x24 jam dan pengujian porositas air selama 1 hari.
D. Pelaksanaan Pengujian
Pelaksanaan pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah
Fakultas Teknik Universitas Lampung. Adapun pengujian-pengujian
tersebut adalah sebagai berikut:
1 Pengujian Sifat Fisik Tanah Antara lain :
a. Pengujian Kadar Air
b. Pengujian Berat Jenis
c. Pengujian Batas Atterberg
d. Pengujian Berat Volume
e. Pengujian Analisa Saringan
2 Melakukan pengujian kuat tekan dan porositas air terhadap batu bata
dengan komposisi campuran material tanah, dan abu sekam padi
dengan kadar tertentu untuk mendapatkan kadar dan abu sekam padi
optimum, nilai porositas dan kuat tekan optimum batu bata.
Pada pengujian ini setiap sampel tanah dibuat campuran dengan kadar
abu sekam padi 5%, 10%,15% dan 20% sebanyak 5 sampel dengan
dilakukan masa pemeraman 7 hari lalu, pembakaran selama 2x24 jam
dan pengujian porositas air selama 1 hari untuk sebagian sampel,
E. Pengujian Sifat Fisik Tanah
Sifat-sifat fisik tanah sangat berhubungan erat dengan kelayakan pada
banyak penggunaan yang diharapkan dari tanah. Kekuatan dan kekokohan
pendukung, kapasitas penyimpanan air, plastisitas, semuanya secara erat
berkaitan dengan kondisi fisik tanah. Hal ini berlaku apabila tanah akan
dijadikan sebagai bahan struktural dalam pembangunan rumah,
bendungan,pagar dan pondasi untuk sebuah gedung atau untuk suatu
sistem pembuangan limbah. Pengujian sifat fisik tanah dilakukan
berdasarkan Standar PB 0110 – 76 atau ASTM D-4318.
a. Uji Kadar Air
Pengujian ini digunakan untuk mengetahui kadar air suatu sampel tanah
yaitu perbandingan antara berat air dengan berat tanah kering.
Cara Kerja berdasarkan ASTM D-2216.
b. Uji Berat Jenis
Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis tanah yang lolos
saringan No. 200 dengan menggunakan labu ukur.
Cara kerja berdasarkan ASTM D -854.
c. Uji Batas Atterberg
1) Batas Cair (Liquid Limit)
Tujuan pengujian ini adalah untuk menentukan kadar air suatu jenis
tanah pada batas antara keadaan plastis dan keadaan cair.
2) Batas Plastis (Plasic limit)
Tujuannya adalah untuk menentukan kadar air suatu jenis tanah
pada keadaan batas antara keadaan plastis dan keadaan semi
padat.Cara kerja berdasarkan ASTM D 4318.
d. Uji Berat Volume
Sesuai dengan ASTM D-2937, pengujian ini bertujuan untuk
menentukan berat volume tanah basah dalam keadaan asli (undisturb
sample), yaitu perbandingan antara berat tanah dan volume tanah.
e. Uji Analisa Saringan
Tujuan pengujian analisis saringan adalah untuk mengetahui
persentasi butiran tanah dan susunan butiran tanah (gradasi) dari suatu
jenis tanah yang tertahan di atas saringan No. 200 (Ø 0,075 mm).
f. Uji Kuat Tekan
Pengujian kuat tekan pada batu bata adalah untuk mendapatkan
besarnya beban tekan maksimum yang bisa diterima oleh batu bata.
Alat uji yang digunakan adalah mesin desak. Pengujian ini dapat
dilakukan dengan meletakkan benda uji pada alat uji dimana dibawah
dan diatas benda uji diletakkan pelat baja kemudian jalankan mesin
desak dan dicatat gaya tekan maksimumnya. Kuat tekan batu bata
dihitung dengan menggunakan persamaan :
Kuat tekan = P L
Dimana :
P = beban hancur dengan satua (KN)
F. Urutan Prosedur Penelitian
Pencampuran material bahan Sebelum pencampuran material bahan tana
htelah diuji sifat fisik tanahnya dan hasilnya sebagai berikut :Dari hasil
pengujian percobaan kadar air, berat jenis, batas atterberg, berat volume dan analisis saringan untuk tanah asli ( 0 % ) digunakan untuk
mengklasifikasikan tanah berdasarkan klasifikasi tanah Unified Dari data hasil pengujian pemadatan tanah untuk sampel tanah asli (0%), grafik
hubungan berat volume kering dan kadar air untuk mendapatkan nilai
kadar air kondisi optimum
Data pengujian pemadatan berupa grafik hubungan berat volume kering
dan kadar air untuk mendapatkan kadar air kondisi optimum untuk sampel
tanah asli yang distabilisasi abu sekam padi dan .
Setelah mengetahui data uji diatas maka, Campuran dapat dibuat dengan
langkah menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu, seperti tanah lempung
yang telah diuji sifat fisik tanahnya, dan abu sekam padi. Kemudian
menentukan komposisi masing-masing bahan campuran ke dalam
kontainer/wadah baru kemudian memasukan air kedalam campuran
tersebut.
1. Pencetakan Batu Bata
Setelah campuran teraduk dengan rata kurang lebih 3 x 24 jam, maka
batu bata dapat dicetak. Langkah awal pencetakan batu bata yaitu
letakkan cetakan pada lantai dasar pencetakan, kemudian bahan yang
telah dicampur ditaruh pada bingkai cetakan dengan tangan sambil
bingkai cetakan. Pada proses pencetakan ini cetakan yang
dipergunakan yaitu cetakan persegi panjang. Dan pencetakan yang
lain yaitu dengan mengunakan mesin press cetak batu bata,yaitu
dengan cara memasukan adunan bahan yang sudah di diamkan selama
kurang lebih 3 x 24 jam, kedalm mesin cetak press.
2. Pengeringan Batu Bata
Proses pengeringan batu bata akan lebih baik bila berlangsung secara
bertahap agar panas dari sinar matahari tidak jatuh secara langsung,
maka perlu dipasang penutup plastik. Apabila proses pengeringan
terlalu cepat dalam artian panas sinar matahari terlalu menyengat akan
mengakibatkan retakan-retakan pada batu bata nantinya. Batu bata
yang sudah berumur satu hari dari masa pencetakan kemudian dibalik.
Setelah cukup kering, batu bata tersebut ditumpuk menyilang satu
sama lain agar terkena angin. Proses pengeringan batu bata
memerlukan waktu satu hari jika kondisi cuacanya baik. Sedangkan
pada kondisi udara lembab, maka proses pengeringan batu bata
sekurang-kurangnya dua hari.
3. Pembakaran Batu Bata
Pembakaran yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk
mencapai suhu yang dinginkan, melainkan juga memperhatikan
kecepatan pembakaran untuk mencapai suhu tersebut serta kecepatan
untuk mencapai pendinginan. Selama proses pembakaran terjadi
perubahan fisika dan kimia serta mineralogy dari bahan campuran
dengan kenaikan suhu dan kecepatan suhu. Proses pembakaran
dilakukan 2x24 jam setelah itu dilakukan proses pengujian porositas
air sebagian sampel dan sebagian sampel dilakukan uji kuat tekan.
G. Analisis Hasil Penelitian
Semua hasil yang didapat dari pelaksanaan penelitian akan ditampilkan
dalam bentuk tabel, grafik hubungan serta penjelasan-penjelasan yang
didapat dari :
1. Hasil yang didapat dari pengujian sampel tanah asli ( 0 % )
ditampilkan dalam bentuk tabel dan digolongkan berdasarkan sistem
klasifikasi tanah unified.
2. Dari hasil pengujian terhadap masing-masing campuran dengan kadar
abu sekam padi setelah waktu pemeraman ditampilkan dalam bentuk
tabel dan grafik hasil pengujian.
3. Pencampuran abu sekam padi, pada sampel tanah lempung dan hasil
pengujian setelah pengeringan 14 hari pada perubahan nilai dari
parameter pengujian batas – batas atterberg dan pengujian berat jenis
sebagai berikut:
a. Dari hasil pengujian berat jenis didapatkan hasil pengujian yang di
tampilkan dalam bentuk tabel dan grafik, dengan cara
membandingkan nilai berat jenis sampel pada masing-masing
perilaku. Dari tabel dan grafik nilai berat jenis tersebut maka akan
didapatkan penjelasan perbandingan antara pengaruh
masing-masing sampel yang komposisi berbeda terhadap nilai berat
b. Dari hasil pengujian batas cair dan batas plastis (batas
atterberg)didapatkan hasil pengujian yang di tampilkan dalam bentuk tabel dan grafik, dengan cara membandingkan nilai batas
cair dan batas plastis sampel pada masing-masing prilaku. Dari
tabel dan grafik nilai batas cair dan batas plastis tersebut.
c. Dari hasil pengujian kuat tekan didapatkan hasil pengujian yang
ditampilkan bentuk tabel dan grafik kuat tekan rata-rata batu
batadari komposisi masing-masing.
4 Dari seluruh analisis hasil penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan
berdasarkan tabel dan grafik yang telah ada terhadap hasil penelitian yang
didapat.
Pengambilan sampel tanah asli dan persiapan peralatan
Pembuatan Benda Uji
Gambar 1. Bagan Alir Penelitian
Pengujian tanah asli : Kadar Air
(dilakukan perendaman selama 24 jam)
Hasil penelitian
Kesimpulan dan saran Penganginan selama 7-14 hari
Pengujian :
Kuat Tekan Pembakaran selama 2x24 jam
Pengujian : Berat Jenis
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahaasan yang telah dilakukan terhadap
batu bata dengan bahan dasar tanah yang bersumber dari Seputih Mataram,
Lampung Tengah, serta bahan additive abu sekam padi, maka diperoleh beberapa kesimpulan :
1. Penggunaan campuran tanah dan Abu sekam padi sebagai bahan additive
pembuatan batu bata dengan material tanah mampu memberikan nilai kuat
tekan yang baik secara keseluruhan batu bata pada penelitian ini
memenuhi standar SNI batu bata kelas 100.
2. Hasil perbandingan antara batu bata murni dan batu bata campuran
penambahan 5%,10%,15% dan 20% kadar campuran tanah dan abu sekam
padi dengan prilaku pasca pembakaran menunjukan hasil yang bagus
terlihat dari nilai kuat tekan yang bertambah masuk dalam kelas SNI batu
bata.
3. Sampel tanah yang digunakan dalam penilitian ini berasal dari daerah
Unified (USCS) tanah ini digolongkan tanah berbutir halus dan termasuk
kedalam kelompok CL yaitu tanah lempung anorganik dengan plastisitas
rendah.
4. Nilai kuat tekan batu bata penambahan 5% - 10% kadar campuran tanah
dan abu sekam padi dengan prilaku pasca pembakaran menunjukan
peningkatan nilai kuat tekan di bandingkan dengan batu bata tanah murni
100% .
5. Abu sekam padi dapat dijadikan bahan arternative penambahan campuran
dalam pembuatan batu bata, berpengaruh pada sifat tanah yang digunakan
pada penelitian ini, yang menbuat nilai kuat tekan batu bata meningkat di
B. Saran
Untuk penelitian selanjutnya mengenai pembuatan batu bata menggunakan
tanah dengan bahan additive abu sekam padi disarankan beberapa hal di
bawah ini untuk dipertimbangkan :
1. Untuk mengetahui efektif atau tidaknya campuran abu sekam padi dengan
tanah perlu diteliti lebih lanjut untuk pembuatan batu bata dengan tanah
dari daerah lain dengan menggunakan campuran yang berbeda sehingga
akan diketahui nilai nyata terjadinya perubahan akibat pengaruh
penambahan abu sekam padi.
2. Diperlukan ketelitian yang tinngi pada proses pengujian sifat fisik tanah
agar memperoleh data yang akurat dan sesuai dengan yang diperlukan,
serta ketelitian pada saat proses pencampuran dan pencetakan batu bata
agar memperoleh hasil yang baik.
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan kadar campuran yang lebih
bervariasi untuk mengetahui nilai optimum kuat tekan yang dapat
dihasilkan oleh batu bata dari tanah dengan campuran abu sekam padi
dengan campuran bahan additive tidak lebih dari 20 % .
4. Perlu disosialisasikan pemanfaatan limbah abu sekam padi sebagai produk
yang bermanfaat namun aman bagi lingkungan bagi pelaku industri batu
bata.
5. Peneliti sabaiknya melakukan tahap penelitian yang benar seperti kadar air
DAFTAR PUSTAKA
Bowles, J. 1984. Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah). Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta
Badan Standardisasi Nasional. 1996. Standar Nasional Indonesia Nomor 03-4164-1996 tentang Metode Pengujian Kuat Tekan Dinding Pasangan Bata Merah Di Laboratorium. Jakarta
Badan Standardisasi Nasional. 2000. Standar Nasional Indonesia Nomor 15-2094-2000 tentang Bata Merah Pejal Untuk Pasangan Dinding. Jakarta
Craig, R.F. 1991. Mekanika Tanah. Penerbit Erlangga. Jakarta
Das, Braja. M. 1995. Mekanika Tanah. (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis). Jilid II. Erlangga. Jakarta
Gesang, S. Dan Hartono, J.M.V. 1979. Teknologi Bahan Bangunan Bata dan Genteng, Balai Penelitian Keramik. Bandung
Frick, Heinz. 1990. Ilmu Kontruksi Bangunan . Yogyakarta : Kanisius
Fluck, Van. 1992 . Ilmu dan Teknologi Bahan (Ilmu logan dan Bukan Logam), Edisi kelima, Penerbit Erlangga. Jakarta
Schroeder, 1984. Justice within social dilemmas. Personality and Social Psychology Review
http://axzx.blogspot.com. 2008. Proses Pembentukan Tanah Liat, PPG Kesenian Jogja
Bembin,Ferdinand. 2013. Studi Kekuatan Pasangan Batu Bata Pasca
Nurmalia, Dini. 2013. Pengaruh Tanah Terhadap Kekuatan Paving Block Pasca Pembakaran. Skripsi Universitas Lampung. Bandar Lampung
Siregar, Nuraisyah. 2010. Pemanfaatan Abu Pembakaran Ampas Tebu dan Tanah Liat Pada Pembuatan Batu Bata. Skripsi Universitas Sumatera Utara. Medan.
Suwardono. 2002. Mengenal Pembuatan Bata, Genteng Berglasir. VC, YramaWidya. Bandung.
Universitas Lampung. 2012. Format Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung. Universitas Lampung. Bandar Lampung
Pekerjaan : Tugas Akhir Date Test : Juli 2013
Sievering ( Wet/ Dry ) Berat benda uji Semula
4 4.75 0 0.00 0.00 100.00
10 2 1.72 0.35 0.35 99.65
20 0.85 17.57 3.54 3.89 96.11
30 0.6 15.47 3.12 7.01 92.99
40 0.43 29.82 6.01 13.03 86.97
60 0.25 19.67 3.97 16.99 83.01
80 0.18 21.55 4.35 21.34 78.66
100 0.15 2.17 0.44 21.78 78.22
120 0.125 0.16 0.03 21.81 78.19
200 0.075 0.16 0.03 21.84 78.16
PAN 0 387.51 78.16 100.00 0.00
JUMLAH 495.8
Catatan
Klasifikasi Tanah : Lempung
Persentase Tertahan di Saringan ( % )
Berat Tertahan di Saringan (gram)
Pekerjaan : Tugas Akhir Date Test : Juli 2013 Lokasi : Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah Test By : Didik Handoko
Judul : STUDI KEKUATAN PASANGAN BATU BATA Checked by : Ir. Idharmahadi Adha, M.T. PASCA PEMBAKARAN MENGGUNAKAN Ir. Hadi Ali, M.T.
BAHAN ADDITIVE ABU SEKAM PADI Sampel : Tanah Asli
No.
1 Nomor cawan A B
2 Berat cawan Wc (gr) 9.74 7.88
3 Berat cawan + TanWcs (gr) 53.40 48.61
4 Berat cawan + TaWds (gr) 46.92 42.65
5 Berat Air Ww=Wcs-Wds (gr) 6.48 5.96
6 Berat Tanah KerinWs=Wds-Wc (gr) 37.18 34.77
7 Kadar Air (ω) ( % ) 17.43 17.14
8 Kadar Air Rerata ( % )
KADAR AIR
Keterangan Sampel
17.28
KADAR AIR
100% x Ws Ww ) ( Air
Pekerjaan : Tugas Akhir Date Test : Juli 2013
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.92 35.82
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 54.34 52.25
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 96.53 95.20
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
Pekerjaan : Tugas Akhir Date Test : Juli 2013 Lokasi : Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah Test By : Didik Handoko
Judul : STUDI KEKUATAN PASANGAN BATU BATA Checked by : Ir. Idharmahadi Adha, M.T. PASCA PEMBAKARAN MENGGUNAKAN Ir. Hadi Ali, M.T.
BAHAN ADDITIVE ABU SEKAM PADI Sampel : Tanah Asli
No.
1 Nomor Cawan 1 2 3
2 Berat Cawan + Ta (gram) 146.56 141.62 141.95
3 Berat Cawan (gram) 37.12 37.12 37.12
4 Berat Tanah Basah (gram) 109.44 104.50 104.83
5 Volume Tabung (gram) 59.73 59.73 59.73
6 Kadar Air (ω) (%) 17.28 17.28 17.28
7 Berat Volume Tan (cc) 1.56 1.49 1.50
8 Berat Volume Tan (cc)
9 Berat Volume Tan (cc) 1.83 1.75 1.76
10 Berat Volume Tan (cc)
WEIGHT OF VOLUME
Keterangan Sampel
1.52
1.78
Pekerjaan : Tugas Akhir Date Test : Juli 2013 Lokasi : Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah Test By : Didik Handoko Judul : STUDY KEKUATAN PASANGAN BATU BATA Checked by : Ir. Idharmahadi Adha, M.T. PASCA PEMBAKARAN MENGGUNAKAN Ir. Hadi Ali, M.T.
BAHAN ADDITIVE ABU SEKAM PADI Sampel : Tanah Asli
1 Jumlah Pukulan 10 20 30 40
2 Nomor Cawan 1 2 3 4 5
3 Berat Cawan (gram) 7.88 8.03 9.77 11.33 9.45
4 Berat Cawan + Ta (gram) 31.70 34.10 24.10 43.00 11.3
5 Berat Cawan + Ta (gram) 23.90 25.68 19.91 34.56 10.91
6 Weight of Water (gram) 7.80 8.42 4.19 8.44 0.39
7 Weight of Dry soil (gram) 16.02 17.65 10.14 23.23 1.46
8 Kadar Air (ω) ( % ) 48.69 47.71 41.32 36.33 26.71
LL PL PI
0.0000 26.71 -26.7123
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung (0721) 704947
LIQUID LIMIT AND PLASTIC LIMIT TEST ( ASTM D 4318 - 84 )
Liquid Limit Determination Plastic
limit
LIQUID LIMIT AND PLASTIC LIMIT
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 46.42 46.08
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 91.42 91.19
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 10.47 10.16
Sample Campuan 5% Sebelum Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 48.98 47.02
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 91.91 91.97
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 13.03 11.10
Sample Campuan 10% Sebelum Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 45.95 46.04
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 90.42 91.19
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 10.00 10.12
Sample Campuan 15% Sebelum Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 46.01 46.17
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 90.42 91.19
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 10.06 10.25
Sample Campuan 20% Sebelum Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 47.86 48.33
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 92.36 92.64
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 11.91 12.41
6 B = W4 - W1 (gram) 49.47 49.52
7 C = W3 - W2 (gram) 44.50 44.31
8 Berat Jenis A / (B-C) 2.396 2.382
9 Berat Jenis Rata-rata 2.389
BERAT JENIS CAMPURAN 5% BERAT JENIS
Sample Campuan 5% Setelah Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 45.95 46.15
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 91.13 91.33
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 10.00 10.23
Sample Campuan 10% Setelah Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 49.00 47.50
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 92.90 92.12
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 13.05 11.58
Sample Campuan 15% Setelah Dibakar
JL. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung ( 0721) 704947
1 Berat Picnometer (W1) (gram) 35.95 35.92
2 Berat Picnometer + Tanah Kering (W2) (gram) 48.54 46.69
3 Berat Picnometer + Tanah Kering + A (W3) (gram) 92.68 91.46
4 Berat Picnometer + Air (W4) (gram) 85.42 85.44
5 A = W2 - W1 (gram) 12.59 10.77
6 B = W4 - W1 (gram) 49.47 49.52
7 C = W3 - W2 (gram) 44.14 44.77
8 Berat Jenis A / (B-C) 2.362 2.267
9 Berat Jenis Rata-rata
Sample Campuan 20% Setelah Dibakar
1 1250 120 162 75.50874014 7.550874014
2 1254 125 162 78.65493764 7.865493764
3 1240 100 162 62.92395011 6.292395011
4 1242 120 162 75.50874014 7.550874014
5 1245 130 162 81.80113515 8.180113515
Rata- Rata 1246.2 119 162 74.87950064 7.487950064
Campuran 5 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1259 135 162 84.94733265 8.494733265
2 1207 140 162 88.09353016 8.809353016
3 1231 130 162 81.80113515 8.180113515
4 1247 130 162 81.80113515 8.180113515
5 1240 140 162 88.09353016 8.809353016
Rata- Rata 1236.8 135 162 84.94733265 8.494733265
Campuran 10%
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/Mpa
1 1200 130 162 81.80113515 8.180113515
2 1195 130 162 81.80113515 8.180113515
3 1218 130 162 81.80113515 8.180113515
4 1136 135 162 84.94733265 8.494733265
5 1102 140 162 88.09353016 8.809353016
Rata- Rata 1170.2 133 162 83.68885365 8.368885365
Campuran 15 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1129 120 162 75.50874014 7.550874014
2 1159 130 162 81.80113515 8.180113515
3 1180 125 162 78.65493764 7.865493764
4 1146 125 162 78.65493764 7.865493764
5 1132 130 162 81.80113515 8.180113515
Rata- Rata 1149.2 126 162 79.28417714 7.928417714
Campuran 20 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1100 120 162 75.50874014 7.550874014
2 1110 130 162 81.80113515 8.180113515
3 1130 100 162 62.92395011 6.292395011
4 1105 105 162 66.07014762 6.607014762
5 1120 100 162 62.92395011 6.292395011
1 1242 195 162 122.7017027 12.27017027
2 1250 150 162 94.38592517 9.438592517
3 1240 140 162 88.09353016 8.809353016
4 1235 150 162 94.38592517 9.438592517
5 1242 130 162 81.80113515 8.180113515
rata-rata 1241.8 153 162 96.27364367 9.627364367
Campuran 5 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1094 190 162 119.5555052 11.95555052
2 1099 180 162 113.2631102 11.32631102
3 1083 160 162 100.6783202 10.06783202
4 1066 175 162 110.1169127 11.01169127
5 1074 160 162 100.6783202 10.06783202
rata-rata 1083.2 173 162 108.8584337 10.88584337
Campuran 10 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1070 160 162 100.6783202 10.06783202
2 1071 150 162 94.38592517 9.438592517
3 1080 170 162 106.9707152 10.69707152
4 1053 170 162 106.9707152 10.69707152
5 1068 160 162 100.6783202 10.06783202
rata-rata 1068.4 162 162 101.9367992 10.19367992
Campuran 15 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1055 130 162 81.80113515 8.180113515
2 1060 150 162 94.38592517 9.438592517
3 1054 130 162 81.80113515 8.180113515
4 1063 140 162 88.09353016 8.809353016
5 1063 160 162 100.6783202 10.06783202
rata-rata 1059 142 162 89.35200916 8.935200916
Campuran 20 %
Sampel Berat (gram) Kuat tekan TerbacaLuas permukaan (cm2) Kuat Tekan (kg/MPa
1 1042 130 162 81.80113515 8.180113515
2 1045 100 162 62.92395011 6.292395011
3 1052 150 162 94.38592517 9.438592517
4 1042 150 162 94.38592517 9.438592517
5 1048 100 162 62.92395011 6.292395011
A. UJI ANALISA SARINGAN
B. KADAR AIR
F. BERAT VOLUME
G. PEMADATAN TANAH ASLI
G. PENCETAKAN DAN PEMBAKARAN BATU BATA