Model Pendidikan Seks Pada Anak Sekolah Dasar Berbasis Teori Perkembangan Anak

Teks penuh

(1)

MODEL PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK SEKOLAH DASAR

BERBASIS TEORI PERKEMBANGAN ANAK

Muhammad Abduh1, Murfiah Dewi Wulandari2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Murfiah.wulandari@ums.ac.id

ABSTRACT: This article is a theoretical study that discusses the importance of developing a model of sex education to primary school children based on child development theory. Cases of violence and sexual perversions against children certainly can not be detached from the education system in Indonesia. The phenomenon of violence and sexual perversion that afflicts children in their own environment is caused by several factors, one of which is the lack of sex education to children and community. Some people think that sex education for children is taboo, was wrong. Sex education is closely related to how to educate children at home and at school. It is necessary for the module to be developed and can be used by teachers and parents as a guide to educate children about sex education. In addition, as a guideline of sex education for elementary school age children, through a module that will be generated is expected to prevent violence and sexual perversion, especially against children, add a reference to teachers and parents about the importance of education, and be taken into consideration or recommendation for the government in designing sex education integrated into the curriculum of primary school.

Keywords: sex education, child development theories, models of sex education

ABSTRAK: Artikel ini merupakan kajian teori yang membahas pentingnya mengembangkan sebuah model pendidikan seks pada anak sekolah dasar dengan berbasis teori perkembangan anak. Kasus kekerasan dan penyimpangan seksual terhadap anak tentu saja tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan di Indonesia. Fenomena kekerasan dan penyimpangan seksual yang menimpa anak-anak di lingkungan mereka sendiri disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pendidikan seks pada anak dan masyarakat.Pendapat beberapa orang yang menganggap bahwa pendidikan seks untuk anak-anak adalah tabu, ternyata keliru. Pendidikan seks erat kaitannya dengan cara mendidik anak di rumah maupun di sekolah. Untuk itu diperlukan modul yang akan dikembangkan dapat digunakan oleh guru maupun orang tua sebagai pedoman dalam mendidik anak mengenai pendidikan seks. Selain sebagai pedoman pendidikan seks untuk anak usia SD, melalui modul yang akan dihasilkan diharapkan mampu mencegah tindak kekerasan dan penyimpangan seksual khususnya terhadap anak-anak, menambah referensi guru dan orang tua tentang pentingnya pendidikan, serta dijadikan bahan pertimbangan atau rekomendasi bagi pemerintah dalam merancang pendidikan seks yang diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah dasar.

Kata kunci: pendidikan seks, teori perkembangan anak, model pendidikan seks

PENDAHULUAN

Fenomena kekerasan dan penyimpangan seksual yang menimpa anak di bawah umur menjadi fokus perhatian pemerintah. Sejak masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kekerasan Terhadap Anak, permasalahan tersebut telah mencuri perhatian pemerintah karena tidak sedikit anak yang menjadi korban kekerasan dan penyimpangan seksual. Menurut data yang dihimpun dari kpai.go.id pelaku kekerasan terhadap anak meningkat setiap tahunnya. Hasil pemantauan KPAI dari 2011

sampai 2014, terjadi peningkatan yang sigfnifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus (kpai.go.id).

(2)

menghindari hadirnya potensi masalah (http://nasional.kompas.com/). Pelaku kekerasan dan penyimpangan terhadap anak menurut pendapat Anies Baswedan tersebut adalah didominasi oleh orang dewasa. Bahkan menurut Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Advianti, melalui kpai.go.id (2015) menyatakan bahwa pelaku kejahatan seksual pada anak dapat dibagi menjadi tiga, yaitu orang tua, keluarga dekat, dan orang yang dekat di lingkungan rumah (kpai.go.id). Hal ini berarti anak yang seharusnya merasa aman dan terlindungi di lingkungan mereka sendiri, bersama orang-orang yang mereka kenal, justru menjadi korban oleh orang-orang dewasa yang dekat dengan mereka.

Fenomena kekerasan dan penyimpangan seksual yang menimpa anak-anak di lingkungan mereka sendiri disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pendidikan seks pada anak dan masyarakat. Menurut Yuliana (2016), seorang pemerhati perempuan dan anak dari Komunitas Jejer Wadon Solo, menyatakan bahwa maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dipicu karena masih rendahnya pemahaman sex education atau pendidikan seks (http://solo.tribunnews.com/). Masyarakat, terutama orang tua, menganggap bahwa pendidikan seks merupakan sesuatu yang tabu dan tidak layak untuk diberikan kepada anak-anak mereka. Hal ini sejalan dengan pendapat Musdah (2016), Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), menyatakan bahwa Pendidikan seksual yang komprehensif adalah untuk mengajarkan menghargai dan mengapresiasi sesama manusia (http://nasional.kompas.com/).

Pendapat beberapa orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seks untuk anak-anak adalah tabu, ternyata keliru. Pendidikan seks tidaklah sesempit yang diekspektasikan kebanyakan masyarakat, pendidikan seks sangatlah luas. Pendidikan seks erat kaitannya dengan cara mendidik anak di rumah maupun di sekolah. Menurut Suwaid (2010: 548) ada beberapa cara mengarahkan kecenderungan seksual anak, diantaranya: 1) melatih anak meminta izin ketika masuk rumah atau kamar orang tua; 2) membiasakan anak menundukkan pandangan dan menutup aurat; 3) memisahkan tempat tidur anak; 4) melatih mandi wajib; 5)

menjelaskan perbedaan jenis kelamin dan bahaya berzina.

Menurut Hurlock (1978) terdapat enam perkembangan anak yang menjadi pertimbangan, yaitu: 1) perkembangan fisik; 2) perkembangan motorik; 3) perkembangan bicara; 4) perkembangan emosi; 5) perkembangan sosial dan; 6) perkembangan bermain. Modul yang akan dikembangkan dapat digunakan oleh guru maupun orang tua sebagai pedoman dalam mendidik anak mengenai pendidikan seks. Selain sebagai pedoman pendidikan seks untuk anak usia SD, melalui modul yang akan dihasilkan diharapkan mampu mencegah tindak kekerasan dan penyimpangan seksual khususnya terhadap anak-anak, menambah referensi guru dan orang tua tentang pentingnya pendidikan, serta dijadikan bahan pertimbangan atau rekomendasi bagi pemerintah dalam merancang pendidikan seks yang diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah dasar.

KAJIAN TEORI a. Pendidikan Seks

(3)

pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual, memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya, untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan dan memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai suami istri/suami, orang tua, anggota masyarakat.

Pendidikan Seks (sex education) adalah suatu pengetahuan yang kita ajarkan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin. Ini mencakup mulai dari pertumbuhan jenis kelamin (Laki-laki atau wanita). Bagaimana fungsi kelamin sebagai alat reproduksi. Bagaimana perkembangan alat kelamin itu pada wanita dan pada laki-laki. Tentang menstruasi, mimpi basah dan sebagainya, sampai kepada timbulnya birahi karena adanya perubahan pada hormon-hormon. Termasuk nantinya masalah perkawinan, kehamilan dan sebagainya. Pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi atau yang lebih trend-nya “sex education” sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya sex education maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Jadi tujuan dari pendidikan seksual adalah untuk membuat suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor tetapi lebih sebagai bawaan manusia (Singgih D. Gunarso, 2002).

Pendidikan seks merupakan upaya transfer pengetahuan dan nilai (knowledge

and values) tentang fisik-genetik dan fungsinya khususnya yang terkait dengan jenis (sex) laki-laki dan perempuan sebagai kelanjutan dari kecenderungan primitif makhluk hewan dan manusia yang tertarik dan mencintai lain jenisnya. Pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah- masalah seksual yang diberikan pada anak, dalam usaha menjaga anak terbebas dari kebiasaan yang tidak Islami serta menutup segala kemungkinan ke arah hubungan seksual terlarang. Pengarahan dan pemahaman yang sehat tentang seks dari aspek kesehatan fisik, psikis, dan spiritual.

b. Teori Perkembangan Anak

Perkembangan pada masa anak-anak akhir merupakan kelanjutan dalam masa awal anak-anak. Periode ini berlangsung dari usia 6 tahun hingga tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Permulaan pada masa anak-anak akhir ini ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu sekolah dasar. Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupannya. Sebab, masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi anak yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku.

Anak-anak masa akhir atau sekolah dasar memiliki tugas-tugas perkembangan dalam perjalanan kehidupannya, antara lain:

1) Perkembangan Fisik

Masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relative seragam. Masa ini sering juga disebut sebagai

“periode tenang” sebelum

pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja.

2) Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget ( Hurlock, 1993 ), pemikiran anak usia SD disebut pemikiran operasional konkrit. Operasi adalah hubungan logis antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan Operasi Konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata (konkrit dan dapat diukur).

(4)

Masa akhir anak-anak merupakan suatu masa perkembangan di mana anak-anak mengalami sejumlah perubahan-perubahanyang cepat dan menyiapkan diriuntuk memasuki masa remaja serta bergerak memasuki masa dewasa. Pada masa ini mereka mulai sekolah dan kebanyakan anak-anak sudah mempelajari mengenai sesuatu yang berhubungan dengan manusia, serta mulai mempelajar berbagai ketrampilan praktis.

4) Perkembangan moral

Moral adalah kebiasaan atau tata cara atau adat. Menurut Santrock(1995) perkembanganmoral berkaitan dengan aturan tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral bergantung dari perkembangan kecerdasan. Dengan berubahnya kemampuan menangkap dan mengerti, anak-anak bergerak ke tingkat perkembangan moral yang lebih tinggi. Pada waktu perkembangan

kecerdasan mencapai

tingkatkematangannya, perkembangan moral juga harus mencapai tingkat kematangannya. Bila hal ini tidak terjadi, maka individu dianggap sebagai orang yang tidak matang secara moral (Hurlock, 1999).Untuk itu Kohlberg (Patnani, 2005) membagi tahap perkembangan moral sesuai dengan tingkat kecerdasan menjadi tiga tingkatan, di mana masing-masing tingkatan terdapat dua tahap, yaitu :

1)

Moralitas pra konvensional, aturan dianggap sebagai faktor eksternal. Anak mengikuti aturan karena adanya hukuman dan hadiah dari orang lain.

 Orientasi pada hukuman dan kepatuhan, yaitu menilai kebaikan dan keburukan berdasarkan konsekuensi yang diterima.

 Orientasi pada pemuasan kebutuhan, yaitu mengikuti aturan dalam rangka

memuaskan orang lain atau mendapatkan reward.

2)

Moralitas konvensional, menganggap peraturan sebagai kesepakatan bersama sehingga aturan perlu ditaati.

 Orientasi pada label anak baik, melakukan tindakan moral dalam rangka mendapatkan penilaian positif dari orang lain.

 Orientasi pada

mempertahankan aturan sosial, menilai kebaikan berdasarkan tuntutan

masyarakat yang

dituangkan dalam peraturan hukum.

3)

Moralitas pasca konvensional, menentukan nilai kebaikan berdasarkan prinsip keadilan yang universal.

 Orientasi pada

kesejahteraan manusia, memandang peraturan dan hukum sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

 Orientasi pada kesadaran

sendiri, memandang

kebaikan berdasarkan prinsip etis yang diyakini individu.

(5)

PEMBAHASAN

a. Perlunya Pendidikan Seks

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesatnya beberapa dekade ini memberikan dampak yang beragam bagi masyarakat. Segala hal dan sesuatu dapat diakses dengan amat mudah dan cepat. Beragam informasi dengan berbagai bentuk dapat dicari dengan bebas dan tanpa filter yang menjamin. Dampak yang paling terasa dan nampak adalah bergesernya tugas perkembangan psikis anak dan remaja pada saat ini. Tugas perkembangan psikis mereka seakan-akan mendapat stimulus yang begitu kuat, sehingga terjadi perkembangan psikis yang prematur, belum siap namun sudah dipaksa menerima berbagai produk globalisasi yang tersedia bebas di berbagai media.

Menurut Roqib (2008: 273), penerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian rupa akan menciptakan manusia mesin dalam masyarakat modern. Manusia mesin yang dimaksud adalah manusia yang berkembang hanya berdasarkan Stimulus (S) dan Respon (S), sebagaimana telah dicetuskan oleh ahli-ahli psikologi behaviorisme. Stimulus yang begitu mendera pada anak bahkan orang dewasa sekalipun di era globalisasi saat ini, siap tidak siap mereka harus memberikan respon terhadap stimulus-stimulus tersebut. Akibatnya dapat terbentuk budaya, sikap, dan perilaku yang cenderung tidak berbudaya, sebagai akibat dari keprematuran dalam merespon.

Bentuk keprematuran yang saat ini mudah terlihat adalah banyaknya kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak, dengan beberapa kasus yang pelakunya adalah berasal dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa yang dinggap dekat. Kuatnya dorongan untuk merespon bahkan mampu merapuhkan benteng nilai dan norma yang telah dibentuk oleh keluarga dan masyarakat. Pondasi dan batasan yang dibentuk oleh lingkungan

keluarga dan masyarakat-pun seolah-olah tak nampak oleh kalangan masyarakat mesin yang tidak berbudaya ini. Mengapa sampai terbentuk masyarakat mesin tersebut? apakah mereka tidak pernah didik tentang nilai, moral, norma dan karakter? ataukah ada celah lain yang memang belum diperhatikan oleh para orangtua, guru, ustadz dan alim ulama?

Menurut Roqib (2008: 273) selain budaya masyarakat mesin yang memola dengan sangat jenius terhadap perilaku manusia, pendidikan seks perlu diberikan sejak dini terkait dengan perkembangan psikis manusia itu sendiri. Pendidikan seks bisa jadi adalah salah satu celah yang terabaikan selama ini, yang menyebabkan prematurnya respon yang dihasilkan oleh masyarkat. Pertimbangan lain, pendidikan seks diberikan lebih awal disebabkan karakter dasar manusia itu dibentuk pada masa kanak-kanak. Ahli psikoanalisa telah membuktikan tentang pengaruh yang baik atau tidak baik pada tahun-tahun pertama terhadap pertumbuhan karakter dasar anak. Pendidikan yang salah dapat mempengaruhi

perkembangan berbagai bentuk

penyimpangan seksual pada masa-masa berikutnya.

Posisi anak dalam keluarga yang amat penting tersebut membuat sejumlah tokoh membuat risalah, pesan khusus buat anak. Lukman al-Hakim pesan edukatifnya diabadikan dalam al-Qur’an dan menjadi rujukan bagi pembacanya. Imam Ghazali juga membuat risalah kecil, Ayyuha al-Walad, untuk anak anakagar memiliki perhatian yang tinggi terhadap ilmu, moral, kerja positif, jiwa, dan spiritual.Jika anak adalah amanah maka mendidiknya dalam arti yang seluas-luasnya juga amanah yang harus dilaksanakan oleh orangtua dan guru, termasuk pendidikan seks pada anak usia sekolah dasar.

b. Tujuan Pendidikan Seks

(6)

biologi, psikososial, perilaku, klinis, moral, dan budaya.

Pendekatan biologi tentang seks menyatakan bahwa faktor biologis memiliki peran mengendalikan perkembangan seks, dimulai sejak pembuahan hingga kelahiran, dan kemampuan reproduksi sesudah pubertas. Seks mempengaruhi gairah seksual, fungsi seksual, dan secara tidak langsung mempengaruhi kepuasan seksual manusia.Pendekatan psikososial tentang seks lebih menekankan bahwa faktor psikologi (emosi, fikiran, dan kepribadian) dan faktor sosial (proses manusia berinteraksi). Dalam hal ini identitas gender (pria/wanita) terbentuk oleh kekuatan psikososial. Sikap terhadap seks sebagian besar ditentukan oleh orang tua, masyarakat, dan guru.

Sedangkan pendekatan perilaku tentang seks menjelaskan bahwa perilaku seks merupakan hasil kekuatan biologis dan psikososial. Perilaku tidak hanya memperhatikan apa yang dikerjakan manusia tetapi juga memahami bagaimana dan mengapa manusia berperilaku dan bertindak. Dalam hal ini semestinya tidak menggunakan istilah normal atau abnormal, namun lebih pada istilah perilaku yang kurang atau berlebihan atau tidak semestinya.Pendekatan klinis lebih menekankan seks sebagai fungsi natural. Masalah fisik (sakit, infeksi, atau obat) dapat mempengaruhi pola respon seksual. Demikian juga masalah psikis (cemas, berdosa, malu, depresi, atau konflik) dapat menganggu seksualitas. Pendekatan budaya tentang seks kadang menimbulkan pertentangan, namun relatif tergantung waktu, tempat, dan keadaan. Moral dan hak sangat berbeda dari latar belakang budaya.

Dilihat dari sifat pendidikan seks yang multidimesional tersebut, maka upaya mengenalkan, mengajarkan dan mendidik mengenai keenam aspek mengenai seks tidaklah sesederhana sudut pandang kebanyakan orang tua dan guru saat ini. Masih banyak orang tua dan guru yang berpikiran sempit mengenai seks, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak membahas seks kepada anak-anak mereka. Kebanyakan dari mereka menganggap seks

itu hal yang tabu. Padahal, beberapa riset menyimpulkan bahwa pendidikan dan diskusi tentang seks bersama orang tua dan guru akan berdampak positif bagi perkembangan anak.

Hasil riset yang dilakukan oleh Zelnik dan Kim (1982) dalam Paramastri dan Helmi (1998:27) menunjukkan bahwa jika orang tua bersedia mendiskusikan seks dengan anaknya, maka anaknya cenderung menunda perilaku seksual premarital.

Demikian juga riset Fisher

(1986)dalamParamastri dan Helmi (1998:27) menunjukkan remaja cenderung meniru sikap perilaku orang tuanya. Namun sangat disayangkan bahwa informasi yang didapat melalui media massa kadanghanya sepotong-potong dan umumnya hanya menekankan pada seks secara sempit. Padahal masalah seks tidak sesederhana dan sesempit itu. Riset yang dilakukan oleh Bennet dan Dickinson (1980)dalam Paramastri dan Helmi (1998:28) menyebutkan bahwa sebagian besar remaja memilih mendapatkan pendidikan seksual dini orang tua, namun karena orang tua kurang tahu bahkan tidak menjelaskan secara detail, maka remaja mencari informasi dari kelompok atau di mana saja. Demikian juga hasil riset yang dilakukan oleh Kallen, Stephenson, dan Doughty (1983)dalamParamastri dan Helmi (1998:28) menunjukkan bahwa kebanyakan remaja mendapat informasi tentang seks melalui teman- temannya tidak melalui orang tuanya.

Menurut Halstead ( Roqib, 2008: 276) secara garis besar pendidikan seks yang diberikan sejak dini memiliki tujuan sebagai berikut:

1) Membantu anak mengetahui topik-topik biologis seperti pertumbuhan, masa puber, dan kehamilan;

2) Mencegah anak-anak dari tindak kekerasan;

3) Mengurangi rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan akibat tindakan seksual;

(7)

6) Mencegah remaja di bawah umur terlibat dalam hubungan seksual (sexual intercourse);

7) Mengurangi kasus infeksi melalui seks;

8) Membantu anak muda yang bertanya tentang peran laki-laki dan perempuan di masyarakat.

Delapan tujuan pendidikan seks menurut Halstead tersebut jika dikaitkan dan disesuaikan dengan latar belakang artikel ini, dapat dirangkum menjadi: 1) Pendidikan seks pada anak sekolah

dasar bertujuan untuk mengenalkan anggota-anggota tubuhnya, sehingga anak mampu merawat dan menjaga anggota tubuhnya dengan baik.

2) Pendidikan seks pada anak sekolah dasar bertujuan untuk merubah pola pikir orang tua, guru, dan masyarakat tentang pendidikan seks,

sehingga mereka mampu

memberikan dan mendiskusikan mengenai pendidikan seks kepada

anak sesuai tingkat

perkembangannya.

3) Pendidikan seks pada anak sekolah dasar bertujuan untuk memberi kesadaran terhadap orang tua, guru, dan masyarakat tentang pentingnya menjaga anak-anak dari perbuatan kekerasan dan pelecehan seksual. c. Teknik Pendidikan Seks Anak Usia Sekolah

Dasar

Anak adalah organisme yang memiliki keunikannya masing-masing. Namun, terdapat kesamaan diantara anak-anak usia sekolah dasar, yaitu mereka sering melakukan peniruan. Terkadang sifat peniruan ini tidak disadari oleh kebanyakan orang tua dan guru,terutama mengenai seks. Secara edukatif, anak bisa diberi pendidikan seks sejak ia bertanya di seputar seks. Bisa jadi pertanyaan anak tidak terucap lewat kata-kata, untuk itu ekspresi anak harus bisa ditangkap oleh orangtua atau pendidik. Nurhayati Syaifuddin(Roqib, 2008: 277) menyatakan bahwa pendidikan seks untuk anak usia sekolah dasar tahun adalah dengan teknik atau strategi sebagai berikut:

1) Membantu anak agar ia merasa nyaman dengan tubuhnya.

2) Memberikan sentuhan dan pelukan kepada anak agar mereka merasakan kasih sayang dari orangtuanya secara tulus.

3) Membantu anak memahami

perbedaan perilaku yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan di depan umum seperti anak selesai mandi harus mengenakan baju kembali di dalam kamar mandi atau di dalam kamar. Anak diberi tahu tentang hal-hal pribadi, tidak boleh disentuh, dan dilihat orang lain.

4) Mengajar anak untuk mengetahui perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan.

5) Memberikan penjelasan tentang proses perkembangan tubuh seperti hamil dan melahirkan dalam kalimat yang sederhana, bagaimana bayi bisa dalam kandungan ibu sesuai tingkat kognitif anak. Tidak diperkenankan berbohong kepada

anak seperti “adik datang dari langit ataudibawa burung”. Penjelasan

disesuaikan dengan keingintahuan atau pertanyaan anak misalnya dengan contoh yang terjadi pada binatang.

6) Memberikan pemahaman tentang fungsi anggota tubuh secara wajar yang mampu menghindarkan diri dari perasaan malu dan bersalah atas bentuk serta fungsi tubuhnya sendiri.

7) Mengajarkan anak untuk

mengetahui nama-nama yang benar pada setiap bagian tubuh dan fungsinya. Vagina adalah nama alat kelamin perempuan dan penis adalah alat kelamin pria, daripada mengatakan dompet atau burung. 8) Membantu anak memahami konsep

pribadi dan mengajarkan kepada mereka kalau pembicaraan seks adalah pribadi.

(8)

untuk setiap pertanyaan tentang seks.

10) Perlu ditambahkan, teknik

pendidikan seks dengan

memberikan pemahaman kepada anak tentang susunan keluarga (nasab) sehingga memahami struktur sosial dan ajaran agama yang terkait dengan pergaulan laki-laki dan perempuan.

11) Membiasakan dengan pakaian yang sesuai dengan jenis kelaminnya dalam kehidupan sehari- hari dan juga saat melaksanakan salat akan mempermudah anak memahami dan menghormati anggota tubuhnya. Sebagaimana telah disebutkan, teknik pendidikan seks tersebut dilakukan dengan menyesuaikan terhadap perkembangan anak sehingga teknik penyampaian dan bahasa amat perlu dipertimbangkan.

KESIMPULAN

Sebagai suatu usaha preventif terhadap kekerasan dan penyimpangan perilaku seksual terhadap anak-anak, maka diperlukan sebuah model pedidikan seks bagi anak usia sekolah dasar. Model pendidikan seks tersebut dapat berfungsi sebagai: 1). Mengenalkan anggota-anggota tubuhnya, sehingga anak mampu merawat dan menjaga anggota tubuhnya dengan baik. 2). Merubah pola pikir orang tua, guru, dan masyarakat tentang pendidikan seks, sehingga mereka mampu memberikan dan mendiskusikan mengenai pendidikan seks kepada anak sesuai tingkat perkembangannya. 3). Memberi kesadaran terhadap orang tua, guru, dan masyarakat tentang pentingnya menjaga anak-anak dari perbuatan kekerasan dan pelecehan seksual.

Model pendidikn seks sebaiknya dirancang dengan menyesuaikan terhadap tugas-tugas perkembangan yang sedang dialami oleh anak, khususnya pada usia sekolah dasar. Selain itu, orang tua, guru dan msyarakat memiliki andil yang besar kepada keberhasilan usaha preventif terhadap kekerasan dan penyimpangan seksual yang dapat menimpa anak-anak. Pendidikan seks bukan lagi sebuah hal yang tabu untuk dibahas, didiskusikan dan diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. dan Asrori, M. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Budiningsih, A. (2004). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Dahar, R.E. (2011). Teori-Teori Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Erlangga Ilahi, F. (2014). Bersama Rasulullah Mendidik

Generasi Idaman. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Paramastri, I & Helmi, F. (1998). Efektivitas Pendidikan Seksual Dini Dalam Meningkatkan Pengetahuan Perilaku Seksual Sehat. Jurnal Psikologi, No. 2, 25-34.

Roqib, M. (2008). Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan, Vo. 13, No. 2, 271-286 Santrock, J.W. (2007). Perkembangan Anak

(Edisi Kesebelas) (Jilid I). (Terjemahan Mila Racmawati & Anna Kuswati). New York City: McGraw-Hill. (Buku asli diterbitkan tahun 2007).

_________. (2012). Perkembangan Masa Hidup (Edisi Ketigabelas) (Jilid I). (Terjemahan Benedictine Widyasinta). New York City: McGraw-Hill. (Buku asli diterbitkan tahun 1997).

Sarwono, S. W. (2008). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajagrafindo Persada

Slavin, R.E. (2008). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik (Edisi Kedelapan) (Jilid I). (Terjemahan Marianto Samosir). Upper Saddle River: Pearson. (Buku asli diterbitkan tahun 2006).

Suwaid, M. (2010). Propethic Parenting; Cara Nabi SAW Mendidik Anak. Yogyakarta: Pro-U Media.

Willis, S. (2005). Remaja dan Masalahnya, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja. Bandung: Alfabeta

Internet

http://solo.tribunnews.com/2016/05/23/marak- kasus-kekerasan-seksual-jejer-wadon-solo-nilai-respon-pemerintah-telat, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.00 WIB

(9)

kekerasan-seksual-pada-perempuan-dan-anak, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.08 WIB

http://solo.tribunnews.com/2016/05/22/rendahny

a-pendidikan-seks-picu-kasus- kekerasan-seksual-ke-perempuan-dan-anak, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.12 WIB

http://news.metrotvnews.com/read/2016/02/19/4 86654/perilaku-seks-menyimpang-mengancam-anak, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.18 WIB

http://www.pontianakpost.com/darurat-kejahatan-seksual-anak, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.24 WIB

http://news.okezone.com/read/2015/12/29/525/1 276488/21-anak-tertular-perilaku-penyimpangan-seksual, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.36 WIB

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku- kekerasan-terhadap-anak-tiap-tahun-meningkat/, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.45 WIB

http://nasional.kompas.com/read/2016/05/13/230 25921/Mendikbud.Nilai.Kekerasan.Seks ual.pada.Anak.Muncul.karena.Potensi. Masalah.Dibiarkan, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.50 WIB

http://nasional.kompas.com/read/2016/05/13/225 72821/Pendidikan.Seksual.Komprehensi f.Dinilai.Efektik.untuk.Atasi.Kekerasan. Seksual, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 21.55 WIB

http://www.tribunnews.com/nasional/2014/11/29 /semester-i-2014-angka-kekerasan-seksual-terhadap-anak-726-kasus, diakses tanggal 3 Juni 2016, Pukul 22.05 WIB

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...