2.1 Tinjuan Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, maka peneliti mengambil beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan. Tinjauan penelitian terdahulu yang membahas mengenai konservatisme akuntansi, GCG, fair value accounting dan kualitas laba antara lain:
Tuwentina dan Wirama (2014) telah melakukan penelitian mengenai pengaruh konservatisme akuntansi dan GCG pada kualitas laba. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang listing di BEI dan masuk pemeringkat Corporate Governance Perception Index (CGPI) periode 2008-2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservatisme akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laba. GCG yang diukur dengan indeks CGPI memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba.
Vatanparast, et al (2014) telah meneliti mengenai hubungan antara konservatisme dan kualitas laba di Tehran stock exchange. Dengan menggunakan panel data regression model dan equality test comparison, hasil yang ditunjukkan adalah adanya hubungan positif antara konservatisme akuntansi dengan kualitas laba. Hal ini mengindikasikan bahwa konservatisme dapat meningkatkan kualitas laba dan mengurangi konflik yang terjadi antara manajemen dengan investor.
Penman dan Zhang (2002) yang telah meneliti mengenai konservatisme akuntansi, kualitas laba dan stock returns. Hasil penelitiannya yaitu kualitas laba suatu perusahaan menjadi menurun dikarenakan adanya konservatisme akuntansi.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa konservatisme akuntansi memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba.
Siallagan dan Machfoedz (2006) telah melakukan penelitian mengenai mekanisme corporate governance, kualitas laba dan nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan komite audit memiliki pengaruh positif terhadap kualitas laba. Namun, untuk variabel dewan komisaris memiliki hasil yang kontradiktif, yaitu berpengaruh negatif terhadap kualitas laba. Indrawati dan Yulianti (2010) meneliti mengenai mekanisme corporate governance dan kualitas laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional memiliki pengaruh positif terhadap kualitas laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris dan komite audit memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba.
Febiani (2012) telah melakukan penelitian mengenai konservatisme akuntansi, corporate governance, dan kualitas laba dengan melalakukan studi empiris pada perusahaan manufaktur di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan kualitas audit berpengaruh positif terhadap (Earning Response Coefficient) ERC.
untuk mendesain mekanisme yang memperkecil praktek manajemen laba oleh manajer.
Sodan (2015) melakukan penelitian mengenai dampak fair value accounting terhadap kualitas laba di Negara Eropa Timur. Pengukuran terhadap kualitas laba menggunakan pendekatan persistensi, prediktabilitas, smoothness, kualitas akrual, nilai relevansi, dan konservatisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dan bank yang meningkatkan exposure dengan fair value acoounting dalam laporan keuangannya, memiliki kualitas laba yang lebih rendah. 2.2 Teori Keagenan
Teori keagenan muncul karena adanya hubungan antara agent dengan principal. Jensen dan Meckling (1976) dalam Waryanto (2010) mendefinisikan teori agensi sebagai sebuah kontrak antara manajer dengan pemilik. Hubungan kontraktual antara kedua belah pihak dapat berjalan dengan lancar jika pemilik mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan kepada manajer. Perencanaan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan manajer dan pemilik guna meminimalisir konflik kepentingan merupakan inti dari teori agensi.
Pemisahan dalam pengelolaan perusahaan dari pemiliknya ditujukan agar pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang maksimal dengan biaya yang seefisien mungkin. Tugas para agent adalah menjaga kepentingan perusahaan dan menjalankan manajemen perusahaan sesuai fungsi yang telah ditetapkan. Agent merupakan perantara para pemegang saham dalam menjalankan pengelolaan perusahaan, sementara para pemegang saham hanya mengawasi kinerja para agent-nya dan memastikan bahwa para agent bekerja sesuai dengan fungsi, tugasnya, dan menjunjung tinggi kepentingan perusahaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Kinerja manajemen dapat dilihat dari keberhasilannya dalam memaksimalkan laba perusahaan yang berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup perusahaan.
Teori agensi tersebut mendorong munculnya konsep GCG dalam pengelola bisnis perusahaan, dimana GCG diharapkan dapat meminimumkan hal-hal tersebut melalui pengawasan terhadap kinerja para agent. GCG memberikan jaminan kepada para pemegang saham bahwa dana yang diinvestasikan dikelola dengan baik dan para agent bekerja sesuai dengan fungsi, tanggung jawab dan untuk kepentingan perusahaan.
Masalah agensi yang menyebabakan konflik kepentingan dan asimetri informasi, menyebabkan perusahaan harus menanggung biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976) dalam Waryanto (2010) menjelaskan bahwa biaya keagenan terdiri dari tiga jenis yaitu:
1. Biaya monitoring, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas yag dilakukan oleh pihak agent
2. Biaya bonding, merupakan biaya untuk menjamin bahwa agent tidak akan merugikan pihak principal
3. Biaya kerugian, merupakan nilai uang yang ekuivalen dengan pengurangan kemakmuran yang dialami oleh principal sebagai akibat dari perbedaan kepentingan.
laporan keuangan yang berkualitas dapat mengurangi adanya konflik antara agent dan principal. Hasil penelitian Febiani (2012) menunjukkan bahwa GCG yang diproksikan melalui komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan kualitas audit berpengaruh positif terhadap koefisien ERC. 2.3 Teori Stakeholder
Teori stakeholder menjelaskan bahwa entitas tidak hanya beropreasi untuk kepentingan sendiri, namun harus dapat memberikan manfaat bagi stakeholder-nya. Kelangsungan usaha juga akan dipengaruhi oleh keberadaan stakeholder. Sehingga entitas memerlukan usaha untuk memenuhi keinginan stakeholder guna mendapatkan dukungan berupa sumber ekonomi bagi entitas. Gray, Kouhy, dan Adams (1994:53) dalam Probosari (2014) menyatakan bahwa kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan stakeholder dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful stakeholder, makin besar usaha perusahaan untuk beradaptasi. Hal inilah yang mendasari perbedaan cara perusahaan dalam bersikap terhadap satu stakeholder dan stakeholder lainnya.
Asumsi teori stakeholder juga diungkapkan oleh Jones, Thomas dan Andrew dalam Hadi (2011:94):
1. Perusahaan memiliki hubungan dengan banyak kelompok-kelompok konsistuen (stakeholder) yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan perusahaan.
2. Teori ini ditekankan pada sifat alami hubungan dalam proses dan keluaran bagi perusahaan dan stakeholder-nya.
3. Kepentingan semua legitimasi stakeholder memiliki nilai secara hakiki, dan tidak membentuk kepentingan yang didominasi satu sama lain.
Ullman (1985) dalam Probosari (2014) mengungkapkan,“ketika stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan cara-cara yang memuaskan keinginan stakeholder”. Dengan adanya reaksi perusahaan yang memuaskan keinginan stakeholder, maka hubungan harmonis dapat terbangun antara stakeholder dengan perusahaan tersebut.
pengguna laporan keuangan dalam menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate.
2.4 Teori Signal
Teori Signal (Signaling Theory) mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Pengungkapan informasi keuangan ini dapat memberikan sinyal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news). Menurut Jama’an (2008), teori sinyal mampu mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara perusahaan (agen), pemilik (prinsipal) dan pihak luar dengan cara menghasilkan informasi laporan keuangan yang berkualitas dan mempunyai integritas yang dapat diandalkan.
Dengan adanya teori signal, maka diharapkan perusahaan dapat memberikan informasi terkait kinerja perusahaan. Informasi ini bisa diproksikan pada laba perusahaan. Apabila sebuah perusahaan semakin konservatif, maka akan berdampak pada kualitas laba yang tercantum dalam laporan keuangannya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Tuwentina dan Wirana (2014) menunjukkan bahwa konservatisme berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Hal ini dapat diartikan bahwa perusahaan yang semakin menerapkan konservatisme, maka labanya akan lebih berkualitas, sehingga informasi ini akan lebih dipercaya dan dapat digunakan dalam memprediksi kinerja perusahaan di masa yang akan datang.
2.5 Good Corporate Governance (GCG)
GCG merupakan suatu mekanisme yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja perusahaan. GCG dapat mengatur mengenai pengelolaan perusahaan terhadap sumber daya yang dimiliki, hingga menjadi nilai ekonomi jangka panjang bagi pemegang saham maupun para stakeholder lainnya.
2.5.1 Pengertian Good Corporate Governance (GCG)
GCG merupakan sistem tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2009) GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan pertambahan nilai bagi semua pihak pemegang kepentingan (stakeholders).
Menurut Effendi (2009), pengertian Good Corporate Governance adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang. Sedangkan Batubara (2010) mendefinisikan Good Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah karyawan, serta para pemegang kepentingan internal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan Corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders).
Melalui penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa GCG merupakan sistem tata kelola perusahaan yang mengatur hubungan para stakeholder baik internal maupun eksternal. GCG diharapkan dapat menciptakan sistem pengendalian yang dapat mengelola resiko yang akan dihadapi oleh berbagai pihak.
GCG merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Terdapat banyak manfaat yang didapatkan dari penerapan GCG. Berikut penjabaran manfaat GCG dari berbagai sumber.
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2001) menyebutkan beberapa manfaat corporate governance yaitu:
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapatmeningkatkan corporate value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholder value dan dividen.
Manfaat GCG seperti yang diungkapakan Tunggal (2010:39) adalah: 1. Mengurangi agency cost, yaitu biaya yang harus ditanggung pemegang
2. Mengurangi cost of capital, yakni dampak dari pengelolaan perusahaan yang baik menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat resiko perusahaan
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang 4. Menciptakan dukungan dari para stakeholder dalam lingkungan
perusahaan terhadap berbagai strategi kebijakan yang diambil perusahaan, karena dengan diterapkannya GCG mereka merasa mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan para stakeholder.
Melalui penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa GCG bermanfaat untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan meningkatnya kinerja perusahaan, maka nilai perusahaan juga akan menjadi baik. Hal ini akan berdampak pada survival perusahaan di dunia bisnis karena mendapat kepercayaan dari berbagai pihak.
2.5.3 Asas Good Corporate Governance (GCG)
1. Transparansi (Transparency)
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
2. Akuntabilitas (Accountability)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3. Responsibilitas (responsibility)
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen. 4. Independensi (Independency)
5. Kewajaran dan Kesetaraan (fairness)
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. 2.5.4 Indikator Mekanisme Good Corporate Governance (GCG)
Pokok-pokok pelaksanaan GCG diwujudkan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab beberapa pihak terkait. Dalam penerapan GCG, terdapat beberapa indikator yang digunakan. Dalam penelitian ini, digunakan beberapa indikator untuk mengukur penerapan GCG dalam perusahaan perbankan, yaitu kepemilikan manajerial, dan komite audit.
2.5.4.1 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajer dalam sebuah perusahaan. Dengan adanya kepemilikan manajer, diharapkan pihak manajer sebagai agent perusahaan dapat berupaya penuh untuk mencapai tujuan perusahaan. Salah satu tujuan perusahaan yaitu untuk memenuhi kesejahteraan investor. Namun karena adanya konflik kepentingan serta asimetri informasi yang terjadi antara pihak agent dan principal, maka manajer seringkali mengambil keputusan untuk kesejahteraan pribadinya.
maka dia akan merasa menjadi bagian dari perusahaan tersebut, sehingga manajer akan melaksanakan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Apabila manajer mengambil suatu keputusan yang dapat merugikan perusahaan, maka konsekuensi yang timbul karena keputusannya akan berdampak pada dirinya juga.
Christiawan dan Tarigan (2004) menyebutkan bahwa kepemilikan manajerial adalah situasi dimana manajer memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan. Apabila dikaitkan dengan teori agensi, maka konflik kepentingan dan asimetri yang timbul diantara manajer (agent) dan investor (principal) akan dapat dikurangi. Hal ini sejalan dengan pendapat Itturiaga dan Sanz (2000) yang menyebutkan bahwa struktur kepemilikan manajerial dapat dijelaskan dari dua sudut pandang yaitu pendekatan keagenan (agency approach) dan pendekatan ketidakseimbangan (asymmetric information approach). Pendekatan keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial sebagai sebuah instrumen atau alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara beberapa klaim (claim holder) terhadap perusahaan. Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur kepemilikan manajerial sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal. Apabila konflik kepentingan ini dapat berkurang dengan adanya proporsi kepemilikan manajerial, maka hal ini akan berdampak pada kualitas laba yang meningkat.
2.5.4.2 Komite Audit
sangat penting bagi pengelolaan perusahaan, karena komite audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham, dewan komisaris dan pihak manajemen dalam menangani masalah pengendalian.
Pedoman pembentukan komite audit yang efektif (KNKG, 2006) dijelaskan bahwa komite audit yang dimiliki perusahaan paling sedikit beranggotakan tiga orang, yang diketuai oleh komisaris independen perusahaan dengan anggota lainnya merupakan orang eksternal yang independen terhadap perusahaan serta menguasai dan memiliki latar belakang keuangan dan akuntansi. Pengetahuan yang dimiliki komite audit diharapkan mampu memberikan pandangan mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan, akuntansi dan pengendalian intern perusahaan.
Kalbers & Fogarty (1993) menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan komite audit dalam menjalankan tugasnya yaitu kewenangan formal dan tertulis, kerjasama manajemen, dan kualitas/kompetensi anggota komite audit. Selain itu, Effendi (2005) juga menambahkan masalah komunikasi dengan komisaris, direksi, auditor internal dan eksternal serta pihak lain sebagai aspek yang penting dalam keberhasilan kerja komite audit. Dengan kewenangan, independensi, kompetensi dan komunikasi melalui pertemuan yang rutin dengan pihak- pihak terkait, diharapkan fungsi dan peran dari komite audit lebih bisa berjalan dengan efektif.
perusahaan melalui laporan pertanggungjawabannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Siallagan dan Machfoedz (2006). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba.
2.6 Konservatisme Akuntansi
Konservatisme akuntansi merupakan salah satu prinsip akuntansi yang menekankan pada konsep “kehati-hatian”. Konsep kehati-hatian ini merupakan bentuk penghindaran terhadap resiko kerugian atas ketidakpastian operasional bisnis/ kondisi bisnis di masa yang akan datang. Ketidakpastian dan resiko tersebut seharusnya tercermin melalui laporan keuangan perusahaan, agar dapat digunakan secara tepat oleh para stakeholder berkepentingan.
Terdapat beberapa pihak yang mendefinsikan konservatisme akuntansi menurut paradigmanya masing-masing. Definisi akuntansi konservatif yang umum digunakan adalah bahwa akuntan harus melaporkan informasi akuntansi yang terendah dari beberapa kemungkinan nilai untuk aktiva dan pendapatan serta melaporkan yang tertinggi dari beberapa kemungkinan nilai kewajiban dan beban (Belkoui, 2007). Menurut Basu (1997) konservatisme akuntansi merupakan praktik yang mengurangi laba saat perusahaan menghadapi bad news dan tidak menaikkan laba pada saat perusahaan menghadapi good news.
dan aset menjadi kurang saji. Kondisi penerapan konservatisme dengan menggunakan pendekatan akrual dapat menyebabkan adanya accrual reverse, yaitu kondisi ketika laporan yang disajikan dalam periode tertentu berada dalam kondisi understatement maka periode berikutnya laporan keuangan akan menjadi overstatement (Scott, 2012).
Lafond &Roychowdhury (2008) menyatakan bahwa dalam keadaan yang sulit diprediksi, manajemen akan menggunakan pilihan terhadap perlakuan akuntansi yang menggambarkan keadaan yang kurang menguntungkan. Konservatisme akuntansi berimplikasi pada pengakuan beban ataupun rugi sedini mungkin, tetapi menunda pengakuan pendapatan ataupun laba yang kemungkinan besar akan terjadi di masa mendatang. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan akan melaporkan laba dalam kondisi kurang saji (understatement).
Melalui berbagai definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konservatisme akuntansi adalah suatu konsep kehati-hatian mengenai ketidakpastian situasi bisnis perusahaan di masa yang akan datang, dengan memilih metode-metode akuntansi yang akan berimplikasi pada pengakuan beban ataupun rugi sedini mungkin, tetapi menunda pengakuan pendapatan ataupun laba yang kemungkinan besar akan terjadi di masa mendatang.
2.7 Kualitas Laba
sumber daya ekonomis yang mungkin dapat dikendalikan dimasa depan, menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada, dan untuk perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya tambahan. Sementara bagi pemilik saham dan atau investor, laba berarti peningkatan nilai ekonomis (wealth) yang akan diterima, melalui pembagian deviden. Laba juga digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan selama periode tertentu yang pada umumnya menjadi perhatian pihak-pihak tertentu terutama dalam menaksir kinerja atas pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan pada mereka, serta dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospeknya di masa depan.
Informasi laba merupakan komponen dari laporan keuangan yang harus memiliki kualitas tinggi, karena berbagai pihak sangat menaruh perhatian pada unsur ini. Apabila informasi laba menjadi berkualitas, maka laporan keuangan yang dibuat juga harus memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan agar bermanfaat bagi penggunanya. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Sutopo (2009), yang mengatakan bahwa laporan keuangan perlu mempunyai karakteristik sebagai laporan keuangan yang berkualitas, agar bermanfaat.
2.7.1 Pengertian Kualitas Laba
1998). Terdapat definisi kualitas laba yang dikemukakan oleh beberapa sumber. Donnelly (1990) dalam Listiani (2010) menyebutkan bahwa kualitas laba menentukan seberapa besar laba yang dipublikasikan oleh perusahaan menyimpang dari laba operasi yang sesungguhnya. Kualitas laba yang tinggi berarti kualitas laba yang menggambarkan prospek usaha dan sikap manajemen yang realistik dalam memandang keadaaan usahanya. Sebuah perusahaan yang melaporkan penurunan kualitas laba dapat diartikan bahwa manajemen memiliki prospek yang lebih buruk daripada kinerja sebelumnya.
Kualitas laba tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya laba yang dilaporkan, melainkan pada tingkat understatement dan overstatement dari laba bersih, stabilitas dari komponen-komponen dalam laba rugi, realisasi dari resiko aset, pemeliharaan atas modal dan dapat merupakan prediktor laba masa depan (predictive value) (Siegel, 2001). Kualitas laba juga ditentukan oleh tingkat manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2005), menunjukkan hasil penelitian bahwa manajemen laba berpengaruh negatif terhadap kualitas laba. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi manajemen laba, maka semakin rendah kualitas labanya.
dasarnya merupakan suatu upaya untuk memahami bagaimana suatu informasi dapat mempengaruhi harga saham (Bruegger dan Dunbar, 2009).
Melalui definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa laba yang berkualitas merupakan laba yang dapat menggambarkan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Laba yang berkualitas juga dapat digunakan oleh para investor dalam mengambil keputusan yang tepat. Kualitas laba yang tinggi bukanlah menggambarkan tinggi rendahnya laba yang dilaporkan, namun dapat diartikan minim akan manajemen laba.
2.7.2 Manajemen Laba
Pembahasan mengenai kualitas laba, sangat berkaitan dengan manajemen laba. Hal ini dikarenakan keberadaan praktik manajemen laba dapat menginterpretasikan tingkat kualitas laba (Hasim, 2009). Schipper (1989) mendefinisikan manajemen laba sebagai tindakan intervensi yang penuh arti terhadap proses pembuatan laporan keuangan kepada pihak eskternal dengan maksud mendapatkan beberapa keuntungan pribadi. Scott (2012) mengartikan manajemen laba sebagai pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk tujuan tertentu.
Ada beberapa faktor pendorong terjadinya manajemen laba. Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang dapat menjelaskan motivasi praktik manajemen laba (Watts dan Zimmerman, 1986):
1. Bonus Plan Hypothesis
kinerja manajemen dalam bentuk bonus menyebabkan para manajer cenderung memilih metode akuntansi yang dapat digunakan untuk meningkatkan laba.
2. Debt covenant hypothesis
Manajer di sebuah perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity yang cukup tinggi cenderung melakukan manajemen laba dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat mencerminkan angka laba yang lebih tinggi. Tujuannya adalah untuk menjaga reputasi perusahaan di mata pihak eksternal. Rasio debt to equity yang tinggi dapat menyebabkan perusahaan kesulitan mencari sumber dana eksternal. 3. Political cost hypothesis
Profitabilitas yang tinggi dapat menciptakan political cost yang tinggi pula. Profitabilitas tinggi akan menarik perhatian banyak pihak. Pemerintah tertarik pada perusahaan dengan profitabilitas tinggi karena berhubungan dengan pembayaran pajak yang tinggi. Oleh karena itu, manajer pada perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi cenderung memilih metode akuntansi menangguhkan laba pada periode mendatang sehingga angka laba yang dilaporkan kecil.
2.8 Fair Value Accounting
amount for which an asset could be exchanged between knowledgeable, willing parties in an arm’s length transaction.” Nilai wajar dinilai sebagai konsep yang paling sesuai dan relevan untuk penyusunan laporan keuangan sebuah perusahaan atau entitas bisnis sebab bisa menggambarkan nilai pasar yang sebenarnya terjadi. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat dari Suharto (2009). Nilai wajar dinilai sebagai konsep yang paling tepat dan relevan untuk penyusunan laporan keuangan sebuah perusahaan atau entitas bisnis sebab bisa menggambarkan nilai pasar yang sebenarnya.
Berdasarkan PSAK No. 55 (www.iaiglobal.or.id, diakses pada 5 Desember 2016), nilai wajar (fair value accounting) adalah jumlah suatu aset dipertukarkan atau liabilitas diselesaikan, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi yang wajar. Fair value accounting dibuat dengan maksud untuk memperbaiki atau mengatasi kelemahan dari historical cost. Namun, menurut Krumwiede dalam Zahro (2014), terdapat kritik penting terhadap kelemahan fair value, yaitu :
1. Meskipun bermaksud baik, namun perkiraan manajemen tentang fair value bisa menjadi salah pada luas berbagai prediksi dan asumsi yang salah.
2. Oportunistik dan ketidakjujuran manajemen dapat mengambil keuntungan dari penilaian dan estimasi yang digunakan dalam proses manipulasi dan mengurutkan angka pada hasil dalam angka pendapatan yang diinginkan.
digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak-pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan (willing) untuk melakukan transaksi yang wajar. Prinsip fair value ini memiliki kelemahan, namun diharapkan tetap bisa meningkatkan relevansi laporan keuangan dan dapat mengurangi konflik keagenan.
2.9 Bank
Bank merupakan salah satu penggerak perekonomian Negara. Terdapat beberapa peran perbankan dalam perekonomian. Salah satunya yaitu dengan adanya bank, maka dapat tersalur dana kredit bagi umkm, perusahaan besar maupun perseorangan.
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arahan, bentuk, dan tatanan industri perbankan. Di dalamnya terdapat enam pilar utama yang merupakan sasaran yang ingin dicapai, salah satunya adalah menciptakan corporate governance untuk memperkuat kondisi internal perbankan nasional. Tidak hanya berhenti sampai disitu, untuk menunjukan keseriusannya terhadap isu corporate governance, pada tanggal 30 Januari 2006 Bank Indonesia (BI) mengeluarkan paket kebijakan perbankan yang lebih dikenal dengan istilah Pakjan 2006, yang isinya mengenai peraturan baru tentang pelaksanaan good corporate governance, bagi bank umum berupa Peraturan Perbankan Indonesia (PBI) Nomor 8/4/PBI/2006 yang kemudian diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 (Sari, 2010).
Bank menurut UU RI No 10 Tahun 1998 merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannnya kepada masyarakat dalm bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak (www.bi.go.id, diakses pada 6 Desember 2016). Bank juga merupakan lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan kemudian menyalurkan kembali ke masyarakat, serta memberikan jasa-jasa perbankan lainnya (Kasmir, 2008:2).
Fungsi lembaga perbankan yang paling dominan adalah sebagai berikut: 1. Agent of Trust
Bank merupakan lembaga yang berlandaskan kepercayaan. Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan, baik dalam penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Fungdi ini dibangun atas dasar kepercayaan baiuk penyimpan dana maupun pihak bank dan kepercayaan juga berlanjut ke pihak debitur.
2. Agent of Development
Bank merupakan lembaga yang memobilisasi dana untuk pembangunan ekonomi. Kegiatan utama bank yang berupa penghimpun dan penyalur dana sangat diperlukan bagi lancarnya kegiatan perekonomian di sector riil.
3. Agent of Services
2.9.2 Pengelompokan Bank
Menurut UU No 10 Tahun 1998, bank dikelompokan atas: 1. Bank Umum
Bank umum atau yang biasa dikenal dengan nama bank komersial adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah umum, dalam arti memberikan seluruh jasa perbankan yang ada.
2. Bank Perkreditan Rakyat
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya disini bahwa kegiatan BPR jauh lebih sempit dibandingkan dengan kegiatan bank umum. Selain pengelompokan diatas, jenis-jenis bank juga dapat dibedakan:
1. Berdasarkan kepemilikannya, bank dapat dibedakan menjadi: a. Bank milik negara (BUMN)
b. Bank milik pemerintah daerah (BPD) c. Bank milik swasta nasional
d. Bank milik swasta asing
a. Retail banks (bank retail)
b. Corporate banks (bank korporasi) c. Commercial banks (bank komersial)
3. Berdasarkan fungsinya, bank dapat dibedakan menjadi: a. Bank sentral