• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mediakom Edisi 36 Juni 2012 - [MAJALAH]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mediakom Edisi 36 Juni 2012 - [MAJALAH]"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Bayi dan ASI Eksklusif

tak Terpisahkan

Bayi kita adalah pengisi masa depan bangsa ini. Beberapa

di antara mereka akan menjadi pemimpin Indonesia

masa nanti. Kita mempunyai kewajiban kolektif untuk

menyiapkan segala kebutuhannya sehingga mereka

bisa tumbuh menjadi manusia Indonesia yang sehat dan

pintar.

(2)
(3)

Tiap hari lahir sekitar 10.000 bayi baru di Indonesia. Kalau

ditotal dalam setahun jumlahnya mencapai 4.5 juta bayi.

Angka yang besar. Bayi itu lahir tersebar di seluruh Indonesia.

Tak memilih tempat. Tak memilih ibu. Dia datang saja setelah

sembilan bulan dikandung oleh ibunya.

U

ntungnya bayi yang baru lahir tak membutuhkan makanan tambahan. Semua kebutuhan gizinya bisa dipenuhi oleh air susu ibu, yang memang selalu tersedia setelah si bayi lahir. Ini seperti paket dari Tuhan: bayi membawa makanannya sendiri ke dunia melalui ibunya. Jadi, tak ada alasan bayi tak mendapat makanan dan tak tumbuh sehat. Memang ada pengecualian, yaitu bayi yang terlahir catat atau sakit yang perlu mendapat perawatan tambahan dari dokter.

Namun, ternyata tak semua bayi mendapatkan haknya, ASI eksklusif dari ibunya atau ASI dari ibu lain. Minimal selama enam bulan pertama usia bayi. Banyak penyebab mengapa bayi itu tak mendapatkan haknya. Misalnya, ketidak tahuan sang ibu betapa ASI sangat penting lalu menggantinya dengan susu formula, atau makanan lain yang dianggapnya baik. Atau sang ibu enggan menyusui karena alasan lain.

Kencenderungan seperti itu mungkin saja terjadi di masa depan, dengan berbagai alasan.

Kini, pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif. Peraturan ini menjamin bahwa semua bayi mendapatkan haknya atas ASI eksklusif, baik dari ibunya maupun dari ibu lain. Peraturan ini bukan saja mengatur bahwa bayi mendapatkan ASI, tetapi juga mengatur tentang tempat ibu menyusui di gedung umum. Juga tata cara mengadakan ASI dari ibu pengganti.

Peraturan ini, seperti peraturan lain di Indonesia, mengandung sanksi bagi yang tak menjalankannya. Jadi ini bukan imbaun moral saja, tapi keharusan melaksanakan bagi setiap ibu melahirkan.

(4)

ASI, adalah Hak Bayi

(5)

P

emenuhan hak bayi telah dijamin oleh Undang-Undang Nomor 36 Tentang Kesehatan pasal 128 yang berbunyi: Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Selama pemberian Air Susu Ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.

Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

Dan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin hak bayi dituangkan dalam pasal 129 yang berbunyi: Pemerintah bertanggungjawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif.

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pola pemberian makanan yang optimal bagi bayi dan anak yang telah direkomendasikan oleh WHO adalah memberikan hanya ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan; meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 24 bulan; dan memberikan makanan pendamping ASI kepada bayi mulai usia 6 bulan. Pemberian ASI tidak sekedar rekomendasi WHO tetapi diakui oleh agama sebagai makanan bayi dan anak ciptaan Tuhan yang tidak dapat digantikan dengan makanan dan minuman yang lain.

Kita masih menghadapi tantangan dalam memberdayakan perilaku menyusui secara eksklusif. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2005-2010, cakupan pemberian ASI Eksklusif pada seluruh bayi usia 0-6 bulan tidak ada peningkatan yang signiikan yaitu dari 59,7 % pada tahun 2005 dan 61,5% pada tahun 2010. Sedangkan cakupan untuk bayi 6 bulan meningkat dari 26,3 % tahun 2005 menjadi 33.6% pada tahun 2010. Meskipun terdapat kenaikan cakupan, tetapi keadaan ini belum menggembirakan, sehingga diperlukan upaya yang makin kuat dan komprehensif di antara para pemangku kepentingan pada lintas program dan lintas sektor.

(6)

akan manfaat menyusui dan ibu tidak cukup mendapat informasi tentang ASI yang benar; b). Kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung/ melindungi ibu untuk menyusui; c). Pemasaran susu formula yang belum tertib dan melibatkan petugas maupun institusi kesehatan.

Pengaturan pemberian ASI Eksklusif menjadi tanggung jawab Pemerintah, tanggung jawab Pemerintah Provinsi dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Pengaturan pemberian ASI Eksklusif ini bertujuan di samping untuk pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan usia 6 (enam), memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya serta meningkatkan peran serta dan dukungan keluarga, masyarakat, Pemda dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.

Dalam PP No. 33 Tahun 2012 yang telah diundangkan tersebut telah mengatur tentang pemberian ASI Eksklusif, pendonor ASI, pengaturan penggunaan susu formula bayi dan produk bayi lainnya, pengaturan bantuan produsen atau distributor susu formula bayi, sanksi administratif, serta pengaturan tempat kerja dan tempat sarana umum dalam mendukung program ASI Eksklusif. Tempat sarana umum dimaksud seperti fasilitas pelayanan kesehatan, hotel dan penginapan, tempat rekreasi, terminal angkutan darat, stasiun kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, pusat-pusat perbelanjaan dsb. Saya mengharapkan dengan diselenggarakannya sosialisasi pertemuan pada hari ini akan menghasilkan komitmen dan dukungan dari semua elemen terkait pemberian ASI Eksklusif.

Selanjutnya sekali lagi saya mengajak seluruh Pejabat Eselon 1 dan Eselon 2 di lingkungan Kementerian Kesehatan bersama-sama meningkatkan, melindungi dan mendorong pemberian ASI Eksklusif. Pemberian ASI yang tepat, tidak saja meningkatkan asupan gizi sehingga anak tumbuh dan berkembang optimal, juga penting dalam memelihara kesehatan sebagai suatu investasi bangsa yang sangat tinggi di masa kini dan masa yang akan datang.

(7)

Bayi adalah manusia yang baru lahir ke dunia. Tubuhnya

masih lemah, dan belum bisa berbuat apapun kecuali

terbaring, menangis, dan tertawa. Kelangsungan

hidupnya tergantung pada orang dewasa yang

merawatnya. Terutama ibunya.

ASI

(8)

B

eruntunglah bayi yang lahir di Indonesia. Sebab, Pemerintah telah mengeluarkan peraturan khusus untuk menjamin bayi menerima haknya. Peraturan itu adalah PP Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif. Uraian di bawah ini adalah Implementasi dan tindak lanjut PP No 33 tahun 2012 di atas. Isinya diambil dari presentasi Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS Direktur jendral Bina Gizi dan Kia.

Hal yang menggembirakan bagi kita semua adalah bahwa PP ini menunjukkan kepedulian kita pada bayi, kesehatannya, dan masa depannya. Ini terlihat jelas jika kita mencermati tujuan dari pengaturan ini. Setidaknya ada tiga tujuan dari PP ini. Pertama adalah menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif sejak dilahirkan hingga usia 6 (enam) bulan, dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya.

Tujuan kedua memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya; Dan terakhir, ketiga, dan meningkatkan peran dan dukungan Keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.

Tujuan mulia dari peraturan itu tidak akan tercapai jika peraturan tentang ASI eksklusif tersebut tidak ditindaklanjuti dengan peraturan lebih lanjut, terutama pasal yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Beberapa pasal yang perlu pengaturan tindak lanjut adalah seperti di bawah ini.

1.

Penggunaan Susu Formula dan Produk Bayi Lainnya (Pasal 14 ayat 3)

2.

Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui Dan/Atau Memerah ASI

(Pasal 30 ayat 4)

3.

Pemberian ASI Eksklusif Dari Donor ASI (Pasal 11 ayat 4)

4.

Sanki (pasal 29 ayat 3)

5.

Pengawasan Terhadap Produsen Susu Formula Bayi dan/atau Produk

Bayi Lainnya (Pasal 40 ayat 2)

Setiap pasal di atas membutuhkan penjelasan lebih detail agar implementasinya lebih mudah dan lebih pasti. Misalnya, pada pasal “Penggunaan susu formula dan produk bayi lainnya”, setidaknya mengandung muatan materi seperti di bawah ini:

(9)

2. Bayi Yang Hanya Diberi Susu Formula Khusus

3. Bayi Dengan Kebutuhan Makanan Selain ASI Dalam Jangka Waktu

Tertentu

4. Ibu Menghentikan Menyusui Sementara Waktu

5. Tata Cara Penggunaan Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya 6. Pemberian Susu Formula Bayi Pada Situasi Darurat dan/atau Bencana 7. Iklan Dan Promosi Susu Formula Bayi

8. Label

9. Pendidikan Dan Pelatihan Yang Disponsori Susu Formula Bayi 10. Pemberdayaan Masyarakat

11. Pencatatan dan Pelaporan 12. Pembinaan dan Pengawasan 13. Sanksi

Dalam hal ini pekerjaan selanjutnya untuk menyusun peraturan yang lebih rinci melibatkan banyak instansi, antara lain: Direktorat di lingkungan Ditjen GIKIA, Biro Hukor, Organisasi Profesi, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Perkumpulan Perinatologi Indonesia LSM , UNICEF, WHO Ikatan Konselor Menyusui Indonesia

Sedangkan pasal tentang “Tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah ASI”, membutuhkan penjelasan lebih lanjut yang berkaitan dengan:

1. Kebijakan Pengelolaan Ruang ASI 2. Pengkajian Pengelolaan Ruang ASI 3. Keempat Konseling

4. Ketenagaan 5. Pendanaan

6. Bangunan dan Ruang 7. Peralatan

8. Kewajiban Penyelenggaran Ruang ASI 9. Manajemen Laktasi

10. Pembinaan dan Pengawasan 11. Sanksi

(10)

Direktorat di lingkungan Ditjen GIKIA, Biro Hukor, Organisasi Profesi, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Perkumpulan Perinatologi Indonesia LSM , UNICEF, WHO dan Ikatan Konselor Menyusui Indonesia

Begitu juga dengan pasarl tentang “Pemberian ASI eksklusif dari donor ASI”. Beberapa hal yang harus diperhatikan atau diperjelas adalah tentang hal berikut:

n Pendonor ASI

n Penerima Donor ASI

n Unit Donor ASI

n Penyelenggaraan Donor ASI, termasuk di dalamnya

o Cara Memerah ASI o Cara Penyimpanan ASI o Cara Pengiriman ASI o Cara Pencairan ASI o Cara Penyajian ASI

n Pembinaan dan Pengawasan

n Sanksi

Dalam hal menjabarkan peraturan lebih lanjut tentang pemberian ASI eksklusif dari donor ASI akan banyak pihak yang terlibat, seperti Direktorat di lingkungan Ditjen GIKIA, Biro Hukor, Organisasi Profesi, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Perkumpulan Perinatologi Indonesia, LSM , Ikatan Konselor Menyusui Indonesia dan MPKS

Sejauh ini Ditjen Gikia Telah Menyiapkan Rancangan Permenkes di bawah ini.

n Tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui

n Penggunaan susu formula bayi dan produk bayi lainnya atas indikasi medis.

n Pemberian ASI eksklusif dan donor ASI

(11)
(12)

Referensi

Dokumen terkait