TRANSFORMASI TARI BUNGKUS
DI KABUPATEN SIMEULUE
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
PUTRI KHAIRANI
2113132061
JURUSAN SENDRATASIK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TARI
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PERNYATAAN
Dengan ini menyatakan bahwa Dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan
epanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh orang ;lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah
ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Maret 2016
ABSTRAK
PUTRI KHAIRANI, NIM 2113142061, Transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue, Jurusan Sendratasik, Program Studi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. 2016.
Penelitian ini membahas tentang transformasi tari bungkus di Kabupaten Simeulue. Tari Bungkus merupakan salah satu tari tradisi di daerah Kabupaten Simeulue yang berasal dari daerah Pesisir Sibolga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sejarah dan transformasi tari bungkus di Kabupaten Simeulue.
Dalam pembahasan penelitian ini teori yang digunakan terdiri atas 3 teori, diantaranya teori sejarah dari Gilbert J, S.J, teori transformasi dari Sumaryono dan teori akulturasi dari Koentjaraningrat.
Pada penelitian ini metode yang dipakai yaitu metode deskriptif kualitatif. Waktu penelitian transformasi tari bungkus ini dilakukan selama dua bulan dimulai dari awal bulan September hingga akhir bulan Oktober 2015. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat Simeulue dan yang menjadi sampel pada penelitian ini yaitu ketua adat, narasumber, seniman dan masyarakat umum yang mengetahui tari bungkus.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa transformasi pada tari bungkus dapat dilihat dari rupa gaya, rasa dan makna.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan dan menganugerahkan rahmat, nikmat dan hidayah-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat melakukan penelitian dan menyelesaikannya serta
menuangkan hasil penelitiannya kedalam bentuk Skripsi dengan judul
“Transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue”.
Dengan usaha yang telah dilakukan penulis semaksimal mungkin,
akhirnya Skripsi ini yang merupakan tugas akhir dan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Sendratasik, Program
Studi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan dapat
diselesaikan dengan baik meskipun dalam proses penyelesaiannya penulis
mengalami berbagai hambatan. Penulis juga menyadari bahwa Skripsi ini masih
jauh dari kesempurnaan.
Namun demikian, terselesaikannya Skripsi ini adalah berkat doa dan
motivasi serta bantuan dari semua pihak yang membantu penulis dimulai dari
awal penulisan yang dilanjutkan pada penelitian hingga pada akhirnya
terselesaikannya Skripsi ini. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Rektor Universitas Negeri Medan.
2. Dr. Isda Pramuniati, M. Hum Dekan Fakultas Bahasa dan Seni.
3. Uyuni Widiastuti, M. Pd Ketua Jurusan Sendratasik.
4. Sitti Rahmah, S.Pd.,M.Si Ketua Program Studi Pendidikan Tari dan juga
5. Nurwani, S.S.T .M.Hum Pembimbing Skripsi I
6. Iskandar Muda, M.Sn Narasumber I
7. Martozet, M.Si Narasumber II
8. Seluruh Dosen Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Medan yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis
selama proses perkuliahan berlangsung.
9. Teristimewa penulis ucapkan teima kasih kepada Papa tercinta Sudirman
serta Mama tersayang Hasriyati Nasution, S.Pd yang telah memberikan kasih
sayang yang tulus, yang telah membesarkan penulis dengan didikan yang
sangat baik. Terima kasih juga atas nasihat serta dukungan yang telah
diberikan baik secara moril maupun materil, motivasi dan doa yang tiada
hentinya. Tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada kedua
saudara kandung penulis Abangda Suhandi Nata Putra dan Adinda tersayang
M. Ridwan Fadly atas segala bantuannya, yang selalu menemani penulis
dalam keadaan apapun, yang selalu menjadi teman bertukar pikiran serta
memotivasi penulis dalam segala hal yang bersifat positif.
10. Angku Syamsuir (Ketua Adat Kota Sinabang, Kabupaten Simeulue), Bapak
Karib (Kepala Bagian Kebudayaan di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Simeulue), dan Bapak Juman (Seniman Senioran di
Kabupaten Simeulue) selaku narasumber yang memberikan imformasi kepada
penulis dan membantu penulis dalam melakukan penelitian untuk
menyelesaikan skripsi ini. Kepada seluruh keluarga besar penulis dan
arahan kepada penulis terkhususnya kepada Abangda Fitrah yang telah
membantu penulis dalam melakukan penelitian selama di Kabupaten
Simeulue.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh pihak
yang turut membantu, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amiin.
Medan, 28 Maret 2016
Penulis,
DAFTAR ISI
BAB II. LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL .. 9
1. Lokasi Penelitian ... 15
2. Waktu Penelitian ... 15
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 16
1. Populasi ... 16
A. Letak Geografis Kabupaten Simeulue ... 22
B. Sejarah Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ... 24
C. Transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ... 32
d. Makna ... 74
BAB V. KESIMPULAN... 75
A. Kesimpulan ... 75
B. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
DAFTAR INFORMAN ... 79
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Bentuk Transformasi Gerak Tari Bungkus ... 39
Tabel 4.2. Transformasi Syair Dan Instrument Tari Bungkus ... 69
Tabel 4.3. Busana yang digunakan oleh penari dan pemusik tari Bungkus ... 72
Table 4.4. Transformasi Gaya Pada Tari Bungkus... 73
Table 4.5. Transformasi Rasa Pada Tari Bungkus ... 74
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 2.1. Proses Transformasi Budaya ... 10
Gambar. 2.2. Kerangka Konseptual ... 13
Gambar. 4.1. Letak Geografis Kabupaten Simeulue ... 23
Gambar. 4.2. Makam Halilullah ... 29
Gambar. 4.3. Makam Halilullah ... 29
Gambar. 4.4. Proses Transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ... 32
Gambar. 4.5. Transformasi Pola Lantai Pada Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ... 51
Gambar. 4.6. Biola ... 64
Gambar. 4.7. Alat Musik Pada Tari Bungkus ... 64
Gambar. 4.8. Alat musik yang digunakan pada tari sapu tangan pesisir sibolga yang disebut dengan Singkadu ... 65
Gambar. 4.9. Pemain dan Alat Musik Biola pada Tari Bungkus Kabupaten Simeulue ... 65
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hidup adalah sebuah karunia sang Ilahi dimana didalam hidup ini banyak
hal-hal yang dapat menambah gairah untuk hidup, salah satunya adalah seni dan
budaya. Indonesia merupakan negara di dunia ini yang memiliki ragam budaya
dan kesenian yang sangat unik serta bernilai tinggi. Budaya dan kesenian yang
terdapat di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu dan tetap dilestarikan hingga
zaman sekarang. Pengertian budaya sendiri adalah suatu kebiasaan yang
dilakukan oleh nenek moyang pada zaman dahulu dan tetap dilakukan secara
turun temurun sehingga menjadi sebuah tradisi dalam daerah tersebut. Kebiasaan
tersebut akan melahirkan budaya tersendiri dan menjadi sebuah ciri khas dari
suatu daerah.
Sementara pengertian seni adalah hasil karya dari suatu ide atau gagasan
proses oleh manusia yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk yang
memiliki nilai estetika yang dapat dinikmati oleh orang lain. Salah satu cabang
seni yang dapat kita lihat dan rasakan hingga saat ini adalah seni tari. Seni tari
sudah ada sejak manusia lahir kebumi dan merupakan sebuah cabang seni yang
sudah memiliki perjalanan sejarah yang begitu panjang. Hal tersebut dapat dilihat
dari gerak sebagai bahan dasar tari, dimana gerak merupakan kegiatan vital yang
terdapat pada setiap manusia yang lahir dan hidup dimuka bumi (Nurwani,
2
Berbicara tentang seni tari, Indonesia adalah satu-satunya negara didunia
yang memiliki hasil karya seni tari tradisional paling banyak dan setiap daerah di
Indonesia memiliki tari-tarian khas daerahnya masing-masing. Tari tradisional di
Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu, sejak awal masuknya Agama Islam di
Indonesia. Tari-tarian tradisional tersebut diciptakan oleh para leluhur dan terus
dilestarikan hingga saat ini dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat
mengenal dan mengetahui budaya asli Indonesia serta dapat mengetahui sejarah
kebudayaan di Indonesia. Tari-tarian tradisional yang dilestarikan diberbagai
daerah tidak jarang mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi karena
adanya transformasi budaya dari satu daerah kedaerah yang lain dan perubahan
pada kebudayaan disesuaikan dengan peraturan pada daerah setempat. Seperti
tari-traian di Kabupaten Simeulue misalnya.
Kabupaten Simeulue merupakan salah satu daerah terpencil di Aceh yang
memiliki berbagai macam kesenian tradisi, baik itu kesenian musik maupun tari,
seperti kesenian musik nandong dan tari silongor. Selain kesenian tradisi tersebut,
kesenian yang terdapat di Kabupaten Simeulue juga ada yang berasal dari daerah
luar Kabupaten Simeulue. Kesenian yang berasal dari daerah luar Kabupaten
Simeulue mengalami adaptasi yang disesuaikan dengan adat istiadat di daerah
setempat. Salah satunya adalah tari bungkus.
Tari bungkus adalah sebuah tari sapu tangan yang menceritakan tentang
kisah awal perjumpaan sepasang muda-mudi daerah Pesisir Sumatera. Dari hasil
3
Simeulue kepada Bapak Juman (narasumber penulis yang merupakan keturunan
dari salah satu murid Alm. Halilullah dan salah seorang seniman senior daerah di
Kabupaten Simeulue) dapat diketahui bahwa tari bungkus berasal dari daerah
Pesisir Sibolga yang dibawakan oleh Alm. Halilullah pada akhir abad ke 18 atau
sebelum tahun 1907.
Alm. Hailullah merupakan salah seorang pemuka agama dan budayawan
yang berasal dari daerah Pesisir Minangkabau yang berimigrasi ke daerah Pesisir
Sibolga untuk mendalami ajaran Agama Islam kemudian beliau melanjutkan
perjalanannya ke Kabupaten Simeulue dengan tujuan melakukan menyebarkan
ajaran Agama Islam di Kabupaten Simeulue. Beliau menyebarkan ajaran Agama
Islam melalui seni dan budaya yang berasal dari daerah Pesisir Sibolga seperti tari
bungkus. Tari bungkus yang diajarkan disesuaikan dengan hukum dan adat
istiadat yang berlaku di daerah Kabupaten Simeulue. Tari bungkus yang telah
diadaptasi tersebut terus diajarkan hingga pada akhir hayatnya beliau meninggal
dunia di Kabupaten Simeulu dengan bukti autentik terdapatnya makam Alm.
Hailullah dijalan Teungku Diujung Kabupaten Simeulue.
Berbeda dengan informasi yang telah dijelaskan diatas, menurut buku
yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Sibolga dengan judul Bunga Rampai
Pesisir Kota Sibolga yang disusun oleh Sjawal Pasaribu (2014:88), tari sapu
tangan berasal dari Pantai Barat Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga. Tari sapu
tangan ini menggambarkan bagaimana kisah dan cara perkenalan sepasang muda
mudi pada zaman dahulu di daerah pesisir. Kejadiannya bermula dari perkenalan
4
Barat Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga. Dari tata cara perkenalan yang mereka
lakukan didasari adat istiadat, terlukislah sebuah tata cara yang diperagakan dalam
tarian yang bernama tari sapu tangan.
Dari kedua informasi mengenai asal usul tari bungkus tersebut ditemukan
persepsi budaya yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan munculnya varian tari
sapu tangan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat jelas dilihat dari nama tari,
bentuk penyajian, ragam gerak, iringan musik dan busana yang terdapat pada tari
tersebut. Nama tari sapu tangan di Kabupaten Simeulue adalah tari bungkus.
Nama dari tari bungkus tersebut diambil dari sebuah pembungkus bekal yang
menggunakan kain sebagai pembungkusnya dan diikatkan sebanyak dua kali.
Apabila dihubungkaitkan dengan tari bungkus, nama dari tari bungkus tersebut
diartikan sebagai permulaan kisah karena pembungkus tersebut merupakan bagian
paling luar. Nama dari tari bungkus juga sangat berkaitan dengan adat istiadat di
Kabupaten Simeulue karena ikatan dari pembungkus tersebut diikat sebanyak dua
kali dan apabila dikaitkan dengan tari bungkus, ikatan pembungkus itu diibaratkan
seperti sebuah rantai yang kuat sama halnya dengan Kabupaten Simeulue yang
memiliki sebuah peraturan dan hukum adat istiadat yang sangat kuat.
Selain nama, bentuk penyajian tari bungkus juga berbeda dengan tari sapu
tangan Pesisir Sibolga disajikan dengan cara berpasangan seperti muda-mudi
diperbolehkan untuk menari, namun berbeda halnya pada tari bungkus di
Kabupaten Simeulue yang diperbolehkan untuk menarikannya adalah sepasang
muda-muda dan pasangan yang telah menikah. Hal tersebut dikarenakan adanya
5
perkembangan zaman, tari bungkus tersebut saat ini hanyalah ditarikan oleh
muda-muda saja dikarenakan adanya keterikatan pekerjaan bagi pasangan yang
telah menikah baik itu pekerjaan rumah maupun pekerjaan untuk mencari nafkah.
Sehingga banyak diantara pasangan yang telah menikah tersebut menolak untuk
menarikan tari bungkus pada acara pernikahan maupun acara besar di Kabupaten
Simeulue. Bukan hanya perbedaan pada bentuk penyajiannya saja yang dapat
dilihat, ada beberapa perbedaan lainnya yang dapat dilihat pada tari bungkus
Kabupaten Simeulue. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan
sebelumnya, penulis sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam dan
mengangkatnya dalam suatu karya tulis ilmiah yang berjudul “Transformasi Tari
Bungkus di Kabupaten Simeulue”.
B. Identifikasi Masalah
Persepsi budaya yang berbeda memunculkan varian tari yang berbeda pula
seperti halnya pada tari bungkus. Perbedaan pada tari bungkus inilah yang
menjadi sebuah masalah sehingga penulis mengidentifikasikan masalahnya
sebagai berikut :
1. Bagaimanakah sejarah tari bungkus di Kabupaten Simeulue ?
2. Bagaimanakah aspek gaya, rasa, rupa maupun makna tari bungkus di
Kabupaten Simeulue?
6
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah merupakan suatu sortiran dari identifikasi masalah
yang ada. Pembatasan masalah dilakukan agar pembahasan yang dilakukan
nantinya tidak melebar. Menurut Ali (1984:49) menyatakan bahwa “Untuk
kepentingan karya ilmiah sesuatu masalah yang perlu diperhatikan masalah
penelitian sebisa mungkin diusahan tidak terlalu luas, masalah luas akan
menghasilkan analisis yang sempit dan sebaliknya bila ruang lingkup masalah
dipersempit maka akan diharapkan analisis secara luas dan mendalam.” Dari
identifikasi masalah yang ada maka masalah yang dibatasi terdiri dari:
1. Bagaimanakah sejarah Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ?
2. Bagaimana transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ?
D.Rumusan Masalah
Sugiyono (2010:35) mengatakan bahwa “rumusan masalah merupakan
suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data”.
Untuk lebih fokus dalam sebuah penelitian seorang peneliti harus dapat
merumuskan masalah yang akan diteliti. Hal tersebut dilakukan guna
memfokuskan penulis dalam melakukan proses penelitian seperti pengumpulan
data dilapangan. Dari uraian tersebut dapat dirumuskan bahwa “Bagaimana
Transformasi Tari Bungkus di Kabupaten Simeulue ?”. yang menjadi
7
E. Tujuan Penelitian
Didalam sebuah penelitian, seorang penulis haruslah memiliki tujuan
penelitian. Karena tanpa adanya tujuan dalam sebuah penelitian, seorang penulis
tidak tahu apa yang harus dilakukan pada suatu penelitian. Secara tidak langsung
tujuan penelitian membantu seorang penulis untuk dapat melakukan penelitian
dengan baik dan terarah.
Menurut pendapat Arikunto Suharsini (1978:69) menyatakan bahwa
“Penelitian adalah suatu rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil yang
diperoleh setelah penelitian ini selesai. Berhasil atau tidaknya suatu penelitian
yang dilakukan terlihat dari tercapai atau tidaknya tujuan penelitian yang telah
ditetapkan”. Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah tari bungkus di Kabupaten
Simeulue.
2. Untuk mengetahui bagaimana transformasi tari bungkus di Kabupaten
Simeulue.
F. Manfaat Penelitian
Pada dasarnya setiap penelitian memiliki manfaat yang bias menjadi
pelajaran, tidak terkecuali pada penelitian yang dilakukan penulis. Adapun
manfaat yang terdapat pada penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti bermanfaat untuk membantu penuli dalam menyelesaikan
salah satu tugas atau syarat kelulusan dalam mencapai sebuah gelar sarjana
8
2. Untuk menambah wawasan penulis dan semua pihak mengenai
kebudayaan di Kabupaten Simeulue khususnya tari bungkus
3. Sebagai salah satu sumber informasi mengenai kesenian yang terdapat di
Kabupaten Simeulue khususnya tari bungkus.
4. Sebagai salah satu referensi yang dapat digunakan oleh siapapun yang
ingin membuat sebuah karya ilmiah yang berhubungan dengan
transformasi tari bungkus di Kabupaten Simeulue.
5. Sebagai salah satu karya tulis ilmiah untuk mengantisipasi agar kesenian
BAB V
KESIMPULAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan diuaraikan didalam
penulisan ini mulai dari latar belakang hingga pembahasan terhadap transformasi
tari bungkus di Kabubaten Simeulue, maka secara keseluruhan dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Tari Bungkus merupakan sebuah tari tradisi yang berasal dari daerah Pesisir
Sibolga yang kemudian oleh Hailullah pada tahun 1907 dibawa dan diajarkan
ke daerah Pesisir Kabupaten Simeulue. Hailullah adalah salah seorang pemuka
agama dan budayawan yang berasal dari daerah Pesisir Minangkabau yang
berimigrasi ke daerah Pesisir Sibolga untuk mendalami ajaran agama Islam dan
kemudian berlayar ke Kabupaten Simeulue dengan tujuan untuk menyiarkan
ajaran agama Islam di Kabupaten Simeulue.
2. Dalam proses pengajarannya, tari bungkus mengalami perubahan. Perubahan
tersebut terjadi karena adanya penyesuaian terhadap adat istiadat di Kabupaten
Simeulue yang sangat dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
3. Perubahan atau transformasi yang terjadi menghasilkan wujud yang baru dari
tari sapu tangan. Wujud dari tari yang baru tersebut dinamakan tari bungkus.
Wujud dari tari bungkus dapat dilihat dari rupa (bentuk gerak, pola lantai,
76
B.Saran
Dari hasil kesimpulan penelitian diatas, maka dapat dihasilkan beberapa
saran oleh penulis yang sangat diharapkan untuk diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Adapun beberapa saran tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Penulis berharap dengan adanya penelitian ini masyarakat Kabupaten
Simeulue untuk menjaga, mengembangkan serta melestarikan kesenian asli
Kabupaten Simeulu khususnya tari-tarian yang berada di Kabupaten
Simeulue.
2. Diharapkan kepada masyarakat Kabupaten Simeulue khususnya kepada
pemerintah daerah Kabupaten Simeulue dan pemerintah provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam senantiasa memperkenalkan berbagai kesenian asli dan
tari-tarian khas Simeulue kepada masyarakat luas baik lokal maupun interlokal.
Dengan begitu keberadaan kesenian daerah dan tari-tarian khas Kabupaten
Simeulue tersebut dapat dikenal dan dipelajari oleh khalayak banyak.
3. Dengan menjaga, mengembangkan serta melestarikan dan meningkatkan
kepedulian terhadap kesenian daerah, berarti telah menyelamatkan anak cucu
77
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sachari dan Yan Yan Sunarya. (1998) “Reformasi Budaya Kita sebuah
wacana Dinamika, Desain dan Dunia Kesenirupaan di Indonesia”.
Koentjaraningrat. (2003). Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta
---. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. PT Rineka Cipta
Moleong. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi revisi. PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
Nugrahaningsih, Yusnizar Heniwaty. (2012). Tari Identitas dan Resistensi. Medan :Unimed Press
Nurwani. (2014). Bahan Ajar Pengetahuan Seni Tari. Medan : Unimed Press
Nurwani (2015). Seni Dalam Perspektif Ilmu Sosial : Unimed Press
Pasaribu Sjawal. (2014). Bunga Rampai Pesisir Kota Sibolga. Pemerintah Kota Sibolga.
Pelly Usman. (1994). Urbanisasi dan Adaptasi:Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.
Ruwaida. (2014). Kesenian Sikambang: Prespektif Multikultural sebagai Identitas Budaya Pesisir Sibolga. Skripsi untuk memeuhi syarat Sarjana S-1 pada Program Studi Pendidikan Tari, Jurusan Sendratasik, Universitas Negeri Medan.
Sibarani Robert. (2014). Kearifan Lokal “Hakikat, Peran dan Metode Tradisi Lisan”. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Sugiyono. (2010) Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sumaryono. (2003). Restorasi Seni Tari dan Transformasi Budaya. Yogyakarta : Ikaphi.
78
Daftar Acuan Internet
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Simeulue
http://www.simeuluekab.go.id/index.php/page/2/tentang-simeulue
http://1000warna-thecolourofindonesia.blogspot.co.id/2014/11/budaya-aceh.html