• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daya Saing Ayam Ras Pedaging Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Daya Saing Ayam Ras Pedaging Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean."

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

DAYA SAING AYAM RAS PEDAGING DI INDONESIA

DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

SURYANI NURFADILLAH

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis berjudul Daya Saing Ayam Ras Pedaging Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2015

(4)

RINGKASAN

SURYANI NURFADILLAH. Daya Saing Ayam Ras Pedaging Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dibimbing oleh DWI RACHMINA dan NUNUNG KUSNADI.

Pada akhir 2015 ini era perdagangan bebas ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mulai diberlakukan bagi negara-negara anggota ASEAN. MEA adalah bentuk integrasi ekonomi regional yang bertujuan menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil, dan modal yang lebih bebas. MEA yang merupakan bentuk liberalisasi perdagangan menuntut setiap negara untuk memiliki daya saing yang tinggi. Industri ayam ras pedaging adalah salah satu sektor yang memerlukan perhatian menjelang diberlakukannya MEA. Biaya produksi dan harga jual daging ayam ras Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. Dengan berlakunya MEA, dikhawatirkan daging ayam lokal tidak dapat bersaing dengan daging impor yang harganya lebih murah.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing ayam ras pedaging di Indonesia sebelum dan setelah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan membandingkan dua jenis pengusahaan, yaitu pengusahaan oleh peternak rakyat dan perusahaan yang terintegerasi. Data primer diperoleh dari 39 peternak rakyat yang terdiri dari 30 peternak mitra dan 9 peternak mandiri, satu buah perusahaan unggas yang terintegerasi secara vertikal, dan pedagang besar daging ayam ras. Metode sampling yang digunakan adalah stratified random sampling untuk kelompok peternak mitra¸ metode survey untuk kelompok peternak mandiri, dan purposive untuk perusahaan. Metode analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengusahaan daging daging ayam ras Indonesia pada berbagai bentuk pengusahaan menguntungkan pada harga privat. Hasil ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah memberikan manfaat kepada produsen. Namun dilihat dari harga sosial, pengusahaan ayam ras pedaging oleh peternak rakyat bernilai negatif atau tidak menguntungkan, sedangkan pengusahaan oleh perusahaan masih menguntungkan. Analisis keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif berdasarkan nilai Private Cost Ratio (PCR) serta Domestic Resources Cost Ratio (DRC) menunjukan bahwa peternak rakyat memiliki nilai PCR<1 yang berarti memiliki keunggulan kompetitif namun peternak rakyat memiliki DRCR>1 yang berarti tidak memiliki keunggulan komparatif. Sedangkan perusahaan memiliki nilai PCR dan DRCR yang kurang dari satu yang berarti memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengusahaan ayam ras oleh perusahaan lebih berdaya saing daripada peternak rakyat.

(5)

keseluruhan kebijakan input-output yang diterapkan pemerintah bersifat protektif Terdapat tiga skenario yang digunakan untuk menggambarkan daya saing ayam ras pedaging saat berlangsunngnya MEA, yaitu penurunan tarif impor, penurunan tingkat suku bunga, dan penurunan biaya logistik. Penurunan tarif impor daging menyebabkan penurunan daya saing. Saat tarif impor dihapuskan, maka hanya pengusahaan oleh perusahaan yang masih tetap berdaya saing. Sedangkan penurunan tingkat suku bunga dan biaya logistik akan menyebabkan peningkatan daya saing. Pelaksanaan MEA akan mengurangi keunggulan kompetitif tetapi meningkatkan keunggulan komparatif.

(6)

SUMMARY

SURYANI NURFADILLAH. Indonesian Broiler Competitiveness Towards ASEAN Economic Community (AEC). Supervised by DWI RACHMINA and NUNUNG KUSNADI.

By the end of this year the 10 countries that make up the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) are supposed to join forces as a single economic community, the Asean Economic Community (AEC). The goal of ASEAN economic integration is to become a single production base where goods can be manufactured anywhere and distributed efficiently to anywhere within the region. Asean needs to work towards the goal of freer movement of labour and capital, but in reality, integration and the free flow of resources will only be gradual, step by step, sector by sector. AEC which is a form of trade liberalization requires high competitiveness. Broiler industry is one of the sectors that needs attention before the enforcement of the AEC. The price and production of local chicken meat is higher than other countries. With the enactment of the MEA, local chicken meat would be threated by cheaper imported product.

This study aimed to analyze the competitiveness and impact of government policy on the competitiveness of broiler in Indonesia before and after the implementation of the ASEAN Economic Community by comparing the two types of cultivation, ie cultivation by small farms and by vertically integrated company. Primary data were obtained from 39 people small farmers, an integrated company, and wholesalers. The sampling method used was stratified random sampling for partenered-farmers, survey method for independent farmers, and purposive sampling method for the company. The analytical method used was the Policy Analysis Matrix (PAM).

Based on the benefit analysis, known that the income in various form of chicken meat production is positive or profitable. These results indicate that the government policy provides benefits to producers. But from a social price, chicken meat production done by small farms is unprofitable while the production by the company is still profitable. Analysis of competitive advantage and comparative advantage based on the value of Private Cost Ratio (PCR) and Domestic Resources Cost Ratio (DRC) showed that small farms have PCR <1, which means that it has a competitive advantage, but DRCR> 1 means that it does not have a comparative advantage. While the company has a PCR and DRCR value less than one, it means that production by company has comparative and competitive advantages. It can be concluded that the production of chicken meat by company has more competitiveness.

The impact of government policies on output indicates the positive Output Transfer value, it means that the government has provided protection for farmers. Meanwhile, the input policies of broiler production also led farmers to buy inputs more expensive than its social price. Overall input-output policies applied by the government is protective.

(7)

reduced to zero by the end of 2015. ASEAN in general has been on the right track to eliminate all tariffs by the end of 2015. Meat import tariff reduction will lead to a decline in competitiveness. When import tariffs were eliminated, only the production done by company that remains competitive. While the reduction in interest rate and logistics costs will lead to increased competitiveness. The implementation of AEC will reduce competitive advantage but increase comparative advantage.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

DAYA SAING AYAM RAS PEDAGING DI INDONESIA

DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Agribisnis

pada

Program Studi Agribisnis

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2015

(10)
(11)

Judul Tesis : Daya Saing Ayam Ras Pedaging di Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Nama : Suryani Nurfadillah NIM : H351140456

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Dwi Rachmina, MSi Ketua

Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS Dr Ir Dahrul Syah, MscAgr

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari–Agustus ini adalah daya saing dengan judul Daya Saing Ayam Ras Pedaging Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa dorongan, bantuan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dalam kesempatan ini menyampaikan penghargaan yang tinggi dan terima kasih kepada Dr Ir Dwi Rachmina MSi dan Dr Ir Nunung Kusnadi MS selaku komisi pembimbing, Dr Ir Anna Fariyanti MSi selaku evaluator kolokium, Dr Ir Heny K. Daryanto MEc selaku penguji luar komisi, Dr Ir Joko Purwono MS selaku penguji wakil program studi, serta Prof Dr Ir Rita Nurmalina MS selaku Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis atas bimbingan, saran dan bantuannya yang telah diberikan. Selanjutnya terima kasih juga penulis sampaikan kepada PT. Malindo Feedmill serta para peternak ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan baik yang bermitra maupun yang tidak bermitra atas bantuan dan informasi yang diberikan selama penulis mengumpulkan data di lokasi penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada bapak, ibu, serta seluruh keluarga atas segala doa, dukungan, dan kasih sayangnya. Terakhir penulis sampaikan salam semangat dan terima kasih kepada teman-teman Agribisnis 47 IPB, MSA 4 IPB, dan sahabat-sahabat yang selalu memberi dukungan dan bantuan dalam pembuatan tesis ini.

Semoga tesis ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2015

(14)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 6

2 TINJAUAN PUSTAKA 7

Karakteristik Usahaternak Ayam Ras Pedaging 7

Daya Saing Produk Peternakan 8

Dampak Liberalisasi Perdagangan 9

Metode Pengukuran Daya Saing 11

3 KERANGKA PEMIKIRAN 12

Masyarakat Ekonomi ASEAN 12

Konsep Perdagangan Internasional 20

4 METODE PENELITIAN 28

Lokasi dan Waktu Penelitian 28

Jenis dan Sumber Data 28

Metode Pengumpulan Data 29

Metode Analisis Data 29

5 GAMBARAN UMUM PENELITIAN 41

Karakteristik Wilayah Kecamatan Pamijahan 41

PT. Malindo Feedmill 50

Kebijakan Pemerintah Pada Agribisnis Ayam Ras Pedaging 53

6 HASIL DAN PEMBAHASAN 57

Penggunaan Input Produksi Ayam Ras pedaging 57

Biaya dan Penerimaan 62

Analisis Tingkat Keuntungan Usaha Ayam Ras Pedaging 67 Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usaha Ayam Ras Pedaging 69

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah 70

Daya Saing Mutu Ayam Ras Pedaging Indonesia 75

7 SIMPULAN DAN SARAN 76

Simpulan 76

Saran 77

DAFTAR PUSTAKA 77

LAMPIRAN 82

(15)

DAFTAR TABEL

1 Neraca perdagangan pertanian Indonesia menurut subsektor

2011-2013 2

2 Konsumsi daging segar per kapita (kg/kapita/tahun), 2011-2013 2

3 Kebijakan harga pada komoditas pertanian 21

4 Produksi daging ayam ras Indonesia beserta lima sentra produksi

terbesar (ton), 2011-2013*) 28

5 Alokasi biaya berdasarkan komponen domestik dan asing 30

6 Policy Analysis Matrix (PAM) 33

7 Kelompok usia penduduk Kecamatan Pamijahan 42

8 Jenis pekerjaan penduduk Kecamatan Pamijahan 43 9 Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Pamijahan 43

10 Kelompok usia responden 44

11 Jenis kelamin responden 44

12 Tingkat pendidikan formal responden 45

13 Pekerjaan di luar beternak ayam 45

14 Lama usaha ayam ras pedaging 46

15 Kapasitas usaha ayam ras pedaging 46

16 Alasan beternak ayam ras pedaging 47

17 Harga ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan Mei 2015 50 18 Penggunaan DOC, pakan, dan obat-obatan pada usaha ayam ras

pedaging (per 1 ton karkas) 58

19 Feed Convertion Ratio (FCR) dan mortalitas pada usaha ayam ras

pedaging (per 1 ton karkas) 59

20 Penggunaan input penunjang pada usaha ayam ras pedaging

(per 1 ton karkas) 60

21 Rata – rata curahan tenaga kerja pada usaha ayam ras pedaging

(per 1 ton karkas) 62

22 Biaya Pengusahaan Ayam Ras Pedaging oleh Peternak Mitra

(per ton karkas) 63

23 Biaya Pengusahaan Ayam Ras Pedaging oleh Peternak Mandiri 65 24 Biaya Pengusahaan Ayam Ras Pedaging oleh Perusahaan (per ton

karkas) 66

25 Tingkat keuntungan pengusahaan ayam ras pedaging 68 26 Nilai keunggulan komparatif dan kompetitif usaha ayam ras pedaging 69 27 Indikator dampak kebijakan output pemerintah pada pengusahaan

ayam ras pedaging 70

28 Indikator dampak kebijakan input pemerintah pada pengusahaan

ayam ras pedaging 71

29 Indikator dampak kebijakan input-output pemerintah pada

pengusahaan ayam ras pedaging 72

(16)

DAFTAR GAMBAR

1 Faktor-faktor Pembangun Daya Saing 19

2 Kurva Aliran Perdagangan Internasional 20

3 Dampak Subsidi terhadap Produsen dan Konsumen pada Barang

Ekspor dan Impor 24

4 Pajak dan Subsidi pada Input Tradable 26

5 Pajak dan Subsidi pada Input Non-tradable 27

6 Hubungan Daya Saing dengan Faktor Pembangunnya dalam

Kerangka Teori Policy Analysis Matrix (PAM) 39

7 Integrasi vertikal sektor perunggasan 51

DAFTAR LAMPIRAN

1 Biaya dan penerimaan privat sistem komoditi ayam ras pedaging

pada pengusahaan dengan kemitraan di Kecamatan Pamijahan 82 2 Biaya dan penerimaan sosial sistem komoditi ayam ras pedaging

pada pengusahaan dengan kemitraan di Kecamatan Pamijahan 83 3 Biaya dan penerimaan privat sistem komoditi ayam ras pedaging

pada pengusahaan mandiri di Kecamatan Pamijahan 84 4 Biaya dan penerimaan sosial sistem komoditi ayam ras pedaging

pada pengusahaan mandiri di Kecamatan Pamijahan 85 5 Biaya dan penerimaan privat sistem komoditi ayam ras pedaging

pada perusahaan terintegerasi 86

6 Biaya dan penerimaan sosial sistem komoditi ayam ras pedaging

pada perusahaan terintegerasi 87

7 Policy Analysis Matriks untuk skenario perubahan tarif impor

menjadi nol persen 88

8 Policy Analysis Matriks untuk skenario perubahan interest rate

menjadi 5 persen 88

9 Policy Analysis Matriks untuk skenario penurunan biaya logistik

20 persen 89

(17)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada akhir 2015 ini era perdagangan bebas ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mulai diberlakukan bagi negara-negara anggota ASEAN. MEA adalah bentuk integrasi ekonomi regional yang bertujuan menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil, dan modal yang lebih bebas. Selanjutnya MEA diharapkan dapat menjadikan ASEAN sebagai kawasan yang mempunyai daya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata dan terintegrasi dalam ekonomi global.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan produk dalam negeri sehingga bersaing di pasar ASEAN. Dalam konteks ini, produk Indonesia dituntut untuk dapat bersaing menghadapi berbagai produk sejenis di pasar tunggal AEC 2015, khususnya produk‐produk pertanian. Pelaku usaha di dalam negeri diharuskan untuk mempersiapkan diri karena semua aturan ekonomi akan terintegrasi dan diberlakukan sama pada semua negara anggota.

Kesepakatan MEA akan memberi peluang bagi Indonesia untuk memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis, serta meningkatkan daya saing. Selain itu, MEA juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra‐ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan‐peraturan dan standarisasi domestik.

Namun pada sisi lain, pembentukan MEA menimbulkan tantangan bagi Indonesia berupa keharusan untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan efisiensi, meningkatkan pemahaman masyarakat, menciptakan good governance, mampu menentukan prioritas sektor‐sektor yang akan di liberalisasi serta menyelaraskan posisi Indonesia dalam berbagai negosiasi baik bilateral, regional maupun multilateral. Apabila Indonesia tidak mampu menjawab tantangan tersebut maka akan semakin tertinggal di kawasan ASEAN bahkan tertinggal di tingkat global.

(18)

2

Tabel 1 Neraca perdagangan pertanian Indonesia menurut subsektor 2011-2013

Subsektor Neraca

Berdasarkan data sensus pertanian oleh Badan Pusat Statistik (2014), dilihat dari jumlah ternak yang dipelihara oleh rumah tangga pertanian di Indonesia, ayam ras pedaging merupakan ternak yang paling banyak diusahakan (1.31 miliar ekor), diikuti ayam lokal (87.90 juta ekor) dan ayam ras petelur (81.15 juta ekor). Ternak ayam ras pedaging menjadi menarik untuk diusahakan karena waktu pemeliharaan yang lebih singkat dibanding ternak lainnya sehingga menyebabkan perputaran modal yang cepat pula. Selain itu, daging ayam ras merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi dibandingkan daging lainnya (Tabel 2). Konsumsi yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun akan menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam ras.

Tabel 2 Konsumsi daging segar per kapita (kg/kapita/tahun), 2011-2013

No Komoditas 2011 2012 2013 Laju

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak ) 2014, diolah

(19)

3 Dilihat dari sisi produksi, Indonesia memiliki potensi besar. Hal ini ditunjukkan dengan produksi daging ayam ras yang semakin meningkat setiap tahunnya. Produksi daging ayam ras pada tahun 2010 sebesar 1.21 juta ton dan meningkat menjadi 1.52 juta ton pada tahun 2014. Rata-rata laju pertumbuhan produksi daging ayam ras dari tahun 2010 hingga 2014 sebesar 5.89 persen per tahun. Jawa Barat merupakan produsen daging ayam ras tertinggi yang menyumbang 35.91 persen dari total produksi nasional, disusul Jawa Timur dan Jawa Tengah (Pusdatin 2014b).

Walaupun produksi ayam ras pedaging di Indonesia terus meningkat, namun biaya yang harus dibayarkan untuk memproduksi setiap kilogram ayam masih relatif tinggi. Biaya produksi per kilogram di Indonesia mencapai US$ 1.39, biaya produksi di negara ASEAN (Thailand dan Malaysia) sebesar US$ 1.2, sedangkan biaya produksi di negara eksportir utama (US, Brazil, dan Argentina) kurang dari 1 dolar (US$ 0.85-0.97) (USDA 2014). Hal ini menunjukkan bahwa biaya untuk memproduksi ayam ras pedaging di Indonesia lebih mahal 20 hingga 54 persen dari negara lain. Tingginya biaya produksi secara otomatis akan menyebabkan harga output menjadi lebih mahal sehingga dapat kalah bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan mulai diberlakukan pada akhir 2015 merupakan salah satu bentuk implementasi perdagangan bebas. Untuk dapat bertahan dalam iklim perdagangan bebas, setiap negara dituntut memiliki daya saing yang tinggi. Daya saing adalah kemampuan produsen dalam memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang baik dan biaya yang cukup rendah sesuai harga di pasar internasional, serta dapat dipasarkan dengan harga yang cukup sehingga dapat melanjutkan kegiatan produksi. Secara sederhana daya saing juga berarti apakah biaya produksi riil yang terdiri dari pemakaian sumberdaya domestik cukup rendah, sehingga harga jualnya cukup kompetitif dibandingkan harga yang terbentuk di pasar dunia. Melihat tingginya selisih biaya produksi ayam ras pedaging antara Indonesia dengan Thailand dan Malaysia, dikhawatirkan kesepakatan perdagangan bebas antarnegara ASEAN ini justru akan menjadi ancaman bagi agribisnis ayam ras pedaging Indonesia. Berdasarkan pemaparan diatas, daya saing ayam ras pedaging di Indonesia menarik untuk dikaji.

Perumusan Masalah

Ternak unggas merupakan salah satu komoditas subsektor peternakan yang sejak tahun 1972 mengalami pertumbuhan relatif cepat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh adanya perkembangan yang kuat dari sektor industri hulu (pabrik pakan, pembibitan dan industri farmasi) dan industri hilir yang meliputi rumah potong ayam, restoran dan lain-lain.

(20)

4

(backward linkage) dan kaitan kedepan (forward linkage); (4) kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja secara ekstensif.

Namun di sisi lain industri ayam ras pedaging masih memiliki permasalahan-permasalahan di berbagai subsektor agribisnis yang akan berpengaruh negatif terhadap daya saing. Pada subsektor hulu, permasalahan terkait penyediaan pakan menjadi isu yang sangat menonjol. Sebagian besar bahan baku pakan masih sangat tergantung pada impor, seperti impor jagung yang mencapai 40-50 persen; bungkil kedelai 95 persen; tepung ikan 90-92 persen; tepung tulang dan vitamin/feed additive hampir 100 persen impor. Jagung merupakan komponen utama pakan ayam ras pedaging. Negara-negara yang memiliki daya saing tinggi sangat tergantung pada pasokan jagung domestik. Ketergantungan terhadap impor jagung sangat merugikan bagi Indonesia karena pasokan untuk pakan (feed) semakin berkurang akibat persaingan dengan kebutuhan untuk pangan (food) dan bahan bakar nabati (fuel). Keadaan ini menyebabkan kecenderungan harga pakan yang terus meningkat. Padahal alokasi biaya untuk pakan merupakan yang terbesar, sekitar 60-70 persen dari biaya produksi. Dengan meningkatnya harga pakan, biaya produksi daging ayam ras secara otomatis juga akan meningkat.

Subsektor budidaya ayam ras pedaging merupakan subsektor yang dianggap paling baik kinerjanya dibanding ketiga subsektor lainnya. Hal ini didasarkan pada terus meningkatnya produksi ayam ras dari tahun ke tahun sehingga pada tahun 2010 sudah dapat memenuhi kebutuhan nasional. Namun, tingginya produksi ayam ras pedaging nasional tidak dapat dijadikan sebagai indikator efisiensi. Dapat disimpulkan dari beberapa penelitian bahwa usaha ayam ras pedaging di Indonesia sudah efisien secara teknis, namun masih belum efisien secara alokatif maupun ekonomi. Dilihat dari segi efisiensi teknis, walaupun sudah tergolong efisien namun Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya karena budidaya ayam ras pedaging pada negara-negara tersebut sudah menggunakan sistem closed house.

Dilihat dari segi biaya produksinya, biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi perkilogram ayam ras pedaging di Indonesia juga lebih tinggi. Sebagai contoh, menurut laporan United States Department of Agriculture (USDA) 2014, rata-rata harga pokok produksi ayam ras pedaging di Thailand rata-rata sebesar 36 bath/kg atau setara dengan Rp 13 965 per kg. Penggunaan biaya tersebut dibagi dalam empat hal, yaitu untuk ayam umur sehari atau DOC (21.95 persen), pakan (63.41 persen), obat-obatan dan vaksinasi (2.44 persen), dan tenaga kerja (12.19 persen). Sedangkan di Indonesia harga pokok produksi ayam ras pedaging pada periode yang sama berkisar antara 16 500 - 17 000 rupiah. Hal ini berarti biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi perkilogram ayam ras pedaging di Indonesia lebih tinggi 20 persen dibandingkan apabila diproduksi di Thailand.

(21)

5 prinsipnya peternak mandiri menyediakan seluruh input produksi dari modal sendiri dan bebas memasarkan produknya. Pengambilan keputusan mencakup kapan memulai berternak dan memanen ternaknya, serta seluruh keuntungan dan risiko ditanggung sepenuhnya oleh peternak. Peternak mitra pada dasarnya adalah peternak skala kecil yang menjalin kemitraan dengan peternak skala menengah atau besar untuk mendapat bantuan berupa bimbingan teknis, manajemen, permodalan, dan pemasaran hasil.

Industri broiler pada dekade terakhir abad-20 menunjukkan struktur produksi yang timpang, di mana pangsa produksi dikuasai oleh perusahaan peternakan skala besar (60%), skala menengah (20%) dan skala kecil (20%) (Yusdja et al. 1999). Padahal pelaku pengusaha ayam ras pedaging skala kecil ini paling banyak jumlahnya. Berdasarkan Sensus Pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (2014), ayam ras pedaging diusahakan oleh 6 620 410 rumah tangga dari keseluruhan 12 969 210 rumah tangga di subsektor peternakan.

Pertumbuhan yang pesat dalam industri broiler sejauh ini lebih banyak dinikmati oleh perusahaan multinasional (MNCs) berskala besar yang digerakkan oleh adanya keuntungan skala usaha dan globalisasi sistem rantai nilai dari hulu hingga hilir atau melakukan integrasi vertikal (Daryanto, 2009). Dengan terjadinya integrasi vertikal dalam industri broiler dari hulu hingga hilir tersebut pada satu sisi mampu memproduksi daging broiler secara efisien dan berdaya saing, namun pada sisi lain peran peternak rakyat makin terpinggirkan.

Permasalahan pada subsektor hilir sangat terkait dengan berfluktuasinya harga output (daging ayam) dan inefisiensi pemasaran akibat sistem perdagangan ternak hidup. Pertama, fluktuasi harga jual ayam menyebabkan adanya ketidakpastian keuntungan penjualan yang diterima oleh para peternak, bahkan sering kali harga daging ayam lebih rendah daripada harga pokok produksi (HPP) perkilogramnya. Fluktuasi harga daging ayam ras ini juga merupakan akibat dari belum adanya upaya pengelolaan logistik yang efektif, informasi pasar dan saluran pemasaran yang belum efisien, belum terbentuknya agroindustri yang menciptakan nilai tambah berbasis perubahan bentuk/form utility (Daryanto 2009). Tingginya biaya logistik di Indonesia juga menjadi penyebab tingginya harga daging ayam di tingkat konsumen. Sebagai contoh, biaya logistik di Indonesia rata-rata sebesar US$ 13.5/km sedangkan biaya logistik Malaysia hanya US$ 7.9/km1. Kedua, perdagangan ternak yang selama ini masih dalam kondisi hidup tidak efisien karena banyak mengeluarkan retribusi, resiko kematian selama perjalanan yang tinggi, serta berpotensi sebagai sarana penyebaran penyakit ternak. Seharusnya perdagangan ternak hidup sudah mulai digantikan dengan perdagangan ternak karkas dengan rantai dingin.

Permasalahan pada subsektor penunjang antara lain terkait investasi, kemitraan, dan kebijakan pemerintah. Investasi merupakan salah satu faktor yang krusial dalam pengembangan agribisnis ayam ras pedaging, mengingat besarnya modal yang diperlukan untuk membangun dan menjalankan usahaternak ayam ras. Saat ini industri ayam ras pedaging masih didominasi oleh investasi asing, sedangkan investasi dari dalam negeri masih rendah apalagi setelah diberlakukannya UU No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang memperbolehkan usaha peternakan unggas diselenggarakan secara

1 Kesiapan Sektor Usaha Sektor Pertanian dalam Mengahadapi AEC 2015. Disampaikan dalam

(22)

6

terintegrasi (suatu badan usaha peternakan yang dapat memiliki usaha sejak dari hulu hingga hilir) dan hasil usaha terintegrasi tersebut dapat sepenuhnya dipasarkan pada pasar tradisional dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, para perusahaan kecil PMDN serta peternakan rakyat akan sulit bersaing bahkan di pasar tradisional yang selama ini sebagai tempat pemasaran para peternak rakyat.

Permasalahan-permasalahan diatas merupakan permasalahan dasar yang semestinya dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan agribisnis ayam ras pedaging. Namun, pada kenyataannya agribisnis ayam ras pedaging terus menunjukkan kondisi yang semakin membaik, terutama dilihat dari sisi produksinya. Ternyata, hal ini disebabkan oleh adanya intervensi dari pemerintah berupa berbagai kebijakan yang bertujuan untuk memproteksi agribisnis ayam ras supaya menunjukkan performa yang baik. Pemerintah terus mendorong perbaikan dengan berbagai kebijakan, seperti subsidi input, kemudahan dalam mengakses modal, peraturan-peraturan bagi penanam modal asing, dan hambatan impor daging ayam. Berbagai kebijakan yang dijalankan terbukti efektif untuk meningkatkan kinerja agribisnis ayam ras pedaging.

Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir 2015 ini akan menuntut daya saing komoditi antarnegara. Bagi negara produsen dengan daya saing yang rendah, maka secara otomatis akan tersingkir dari persaingan. Perdagangan bebas juga merupakan instrumen yang akan menuntut pemerintah melepaskan proteksinya. Dengan begitu maka agribisnis ayam ras pedaging di Indonesia akan berada dalam masalah, karena selama ini baiknya kinerja industri ini adalah akibat berbagai kebijakan proteksi pemerintah. Berdasarkan hal tersebut pertanyaan penelitian yang muncul adalah bagaimana daya saing agribisnis ayam ras pedaging Indonesia dengan berbagai bentuk pengusahaan sebelum dan sesudah diberlakukannya era perdagangan bebas ASEAN Economic Community 2016. Apakah agribisnis ayam ras pedaging Indonesia masih dapat survive dan perform pada iklim perdagangan bebas.

Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas ayam ras pedaging di Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis daya saing agribisnis ayam ras pedaging di Indonesia melalui keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif pada berbagai.

(23)

7

2

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Usahaternak Ayam Ras Pedaging

Ayam ras pedaging merupakan ternak yang paling ekonomis dan banyak diusahakan bila dibandingkan dengan ternak lain. Kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 - 5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi Keunggulan ayam ras pedaging antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. (Situmorang 2013; Yunus 2009).

Usahaternak ayam ras pedaging memiliki karakteristik 1) bisnis ayam ras pedaging didasarkan pada pemanfaatan pertumbuhan dan produksi, dimana ayam ras pedaging memiliki pertumbuhan yang tergolong cepat; 2) produktivitas ayam ras pedaging sangat tergantung pada pakan baik secara teknis (pemberian pakan yang tepat) maupun ekonomis (penggunaan pakan yang efisien); dan 3) produk akhir (final product) dari agribisnis ayam ras pedaging merupakan produk yang dihasilkan melalui tahapan-tahapan produksi mulai dari hulu sampai hilir, dimana produk antara merupakan makhluk biologis bernilai ekonomi tinggi berupa ayam ras pedaging (Pakarti 2000; Situmorang 2013).

Pada peternakan ayam ras biaya tetap tergantung pada jumlah investasi untuk kandang, tanah, dan peralatan. Sedangkan biaya variabel meliputi bibit (DOC), pakan, obat-obatan dan vaksin, makanan tambahan (feed suplemen), tenaga kerja dan biaya-biaya lain yang habis dipakai dalam satu periode proses produksi. Biaya terbesar digunakan untuk pakan, DOC, vaksin dan obat-obatan, kemudian disusul biaya tenaga kerja (Lestari 2009; Nurfadillah 2014; Sarwanto 2004; Situmorang 2013; Yunus 2009).

Di Indonesia, ayam ras pedaging banyak diusahakan dengan pola kemitraan yakni mengintegrasikan antara perusahaan besar dengan peternak rakyat dengan tujuan meningkatkan efisiensi (Lestari 2009; Sarwanto 2014; Situmorang 2013; Yunus 2009). Petemakan rakyat umumnya mempunyai ciri-ciri berupa ukuran usaha relatif kecil, rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan peternak, penerapan manajemen dan teknologi yang masih konvesional, terbatasnya modal usaha, belum digunakannya bibit unggul, dan belum tepatnya cara penggunaan pakan sehingga produksinya rendah (Blair et al 2001; Broadway 2009; Brown et al 2002; Ellis 2005; Gardner 2000).

Karakteristik dasar bisnis ayam ras pedaging adalah sebagai industri biologi yang mempunyai implikasi pada tuntutan dalam pengelolaannya, yang akan berpengaruh terhadap struktur, perilaku dan kinerja industri perunggasan (Saragih, 1998). Karakteristik-karateristik tersebut antara lain adalah:

1. Bisnis ayam ras pedaging didasarkan pada pemanfaatan serta pendayagunaan pertumbuhan dan produksi broiler yang memiliki sifat dan pertumbuhan yang tergolong cepat dan mengikuti kurva pertumbuhan sigmoid.

(24)

8

hulu hingga hilir, di mana produk antara merupakan makhluk biologis bernilai ekonomi tinggi dan rentan terhadap keterlambatan waktu.

3. Produktivitas ayam ras pedaging sangat tergantung pada kualitas pakan. Produktivitas dan efisiensi produksi akan dicapai kalau memenuhi persyaratan-persyaratan tepat mutu, tepat waktu, dan konsumsi pakan yang efisien.

Ketiga karakteristik tersebut diatas menjadi penjelas pentingnya melakukan integrasi vertikal, baik oleh perusahaan dalam satu sistem manajemen pengambilan keputusan maupun melalui kemitraan usaha industri ayam ras pedaging. Pengelolaan ayam ras pedaging dengan pendekatan manajemen rantai pasok dan manajemen rantai nilai yang inklusif menjadi suatu keharusan

Daya Saing Produk Peternakan

Secara umum daya saing dapat dikelompokkan dalam 2 jenis, yakni kompetitif dan komparatif. Sebuah komoditas dapat unggul secara komparatif dan kompetitif, unggul secara kompetitif atau komparatif saja, atau bahkan tidak unggul secara kompetitif dan komparatif (Puspitasari 2011; Oguntade 2009; Najarzadeh R et al 2011)

Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya daya saing pada umumnya terdiri dari teknologi, produktivitas, harga, biaya input, struktur industri, kualitas permintaan domestik dan ekspor. Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi (1) faktor yang dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi produk, teknologi, pelatihan, riset dan pengembangan, (2) faktor yang dikendalikan oleh pemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga, exchange rate), kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, dan regulasi pemerintah, (3) faktor semi terkendali, seperti kebijakan harga input, dan kualitas permintaan domestik, dan (4) faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti lingkungan alam (Feryanto 2010; Dewanata 2011).

Subsektor peternakan di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan karena memiliki keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif subsektor peternakan Indonesia diantaranya berasal dari potensi sumber daya ternak, kekayaan alam dalam menyediakan pakan, dan rendahnya upah tenaga kerja (Deblitz et al. 2005; Daryanto 2009).

(25)

9 ketersediaan peternak terdidik dan produktivitas tenaga kerja yang cukup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan peternak berkorelasi positif dengan adopsi teknologi usaha peternakan, semakin tinggi pendidikan peternak, maka semakin cepat adopsi teknologi (Suppadit et al. 2006; Hendayana 2012). Berkaitan dengan hal diatas, inovasi teknologi baru dan pengembangan teknologi tepat guna serta adaptasinya di tingkat petani/perusahaan juga merupakan faktor penentu daya saing (Simatupang dan Hadi 2004; Daryanto 2009).

Daya saing selain ditentukan oleh produktivitas namun dapat pula dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (Rose 2010; Siggel 2007; Simanjuntak 1992; WB 2009). Selain itu, WB (2009) menambahkan bahwa kerangka kebijakan inti terhadap daya saing (core policy framework for competitiveness) adalah: (1) Insentif ekonomi seperti tarif impor dan ekspor, sistem nilai tukar, pasar faktor produksi dan kebijakan pajak, (2) Jasa dan biaya seperti energi, telekomunikasi, layanan bea cukai, transportasi dan logistik, keterampilan khusus dan layanan usaha serta (3) Lembaga dan kebijakan yang pro aktif antara lain badan promosi investasi dan ekspor, lembaga standarisasi, lembaga yang mendorong inovasi serta penelitian dan pengembangan.

Pengaruh kebijakan pemerintah telah diteliti oleh berbagai pakar sebelumnya. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pengaruh kebijakan terhadap daya saing bervariasi, yaitu berpengaruh positif, negatif maupun tidak berpengaruh nyata. Banse et al. (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara daya saing dengan kebijakan producer subsidy equivalent (PSE) ukuran mengenai besaran transfer dari konsumen dan pembayar pajak terhadap petani. Hal tersebut bermakna dengan semakin menurunnya daya saing (nilai DRC meningkat) maka nilai PSE akan semakin meningkat. Sebaliknya Bezlepkina et al. (2005) menyimpulkan bahwa kebijakan subsidi terhadap peternakan sapi perah di Rusia berpengaruh positif terhadap keuntungan usaha melalui pengurangan hambatan dalam kredit usaha.

Dari hasil kajian mengenai daya saing ayam ras pedaging di Indonesia , secara umum pengusahaan ayam ras pedaging di Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga bisa dikatakan ayam ras pedaging di Indonesia berdayasaing. Saptana dan Rusastra(2003) menyatakan bahwa pengusahaan ayam ras pedaging di berbagai wilayah di Indonesia dengan berbagai tipe pengusahaan, memiliki nilai PCR antara 0.851 – 0.989 dan nilai DRCR 0.790 – 0.917. Sedangkan Hidayati (2010) melihat pengaruh skala usaha terhadap daya saing dengan hasil bahwa pegusahaan dengan skala besar memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan dengan skala kecil. Pada skala kecil nilai PCR sebesar 0.85 dan DRCR 0.79. Sedangkan pada skala besar nilai PCR sebesar 0.72 dan DRCR 0.67. berdasarkan penelitian Chikangaidze (2011) diketahui bahwa nilai PCR pengusahaan ayam ras pedaginng di Brazil, Thailand, dan Afrika Selatan berturut-turut 0.38, 0.43, dan 0.68. Dari nilai PCR dan DRCR tersebut dapat disimpulkan bahwa pengusahaan ayam ras pedaging di Indonesia masih kurang berdaya saing dibandingkan ketiga negara tersebut.

Dampak Liberalisasi Perdagangan

(26)

10

unntuk mengurangi distorsi, serta konsistensi dalam implementasi komitmen. Secara umum, pelaksanaan liberalisasi perdagangan akan meningkatkan harga internasional, sementara dampak terhadap produksi, konsumsi, dan perdagangan bervariasi tergantung komoditas dan negaranya. Negara produsen yang efisien akan memeroleh manfaat yang lebih besar, sedangkan negara net-importir akan menderita kerugian akibat liberalisasi perdagangan (Susila 2005; Najarzadeh et al 2011).

Dampak positif dari adanya liberalisasi perdagangan yang dapat diidentifikasi antara lain berupa peningkatan dalam produksi, efisiensi produksi, manfaat bagi konsumen, dan dalam pertumbuhan ekonomi. Perdagangan bebas memungkinkan suatu negara untuk mengkhususkan diri dalam produksi komoditas di mana mereka memiliki keunggulan komparatif. Dengan spesialisasi negara dapat mengambil keuntungan dari efisiensi yang dihasilkan dari skala ekonomi dan peningkatan output (Chen et al. 2009; Langley et al. 2007). Perdagangan internasional meningkatkan ukuran pasar perusahaan, sehingga biaya rata-rata yang lebih rendah dan peningkatan produktivitas, akhirnya menyebabkan peningkatan produksi dan efisiensi. Selain itu, ketatnya kompetisi dalam perdagangan bebas akan memberi manfaat bagi konsumen berupa rendahnya harga barang dan jasa yang tersedia (Suh et al. 2013).

Tujuan jangka panjang dari kesepakatan perdagangan bebas (khususnya WTO) adalah menciptakan sistem perdagangan yang adil dan berorientasi pasar melalui 3 pilar yaitu perluasan akses pasar (market access), pengurangan dukungan domestik (domestic support) yang dapat mendistorsi pasar, dan pengurangan subsidi ekspor (export subsidy). Tujuan ini seharusnya mendatangkan manfaat bersama bagi seluruh negara di dunia. Namun faktanya kesepakatan perdagangan lebih banyak merugikan negara-negara sedang berkembang (Suryana 2004; Abdullateef dan Ijaiya 2010).

Kondisi ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Purba et.al (2007) dalam menilai dampak perdagangan bebas di sektor pertanian melalui WTO yang menggunakan model Agricultural Trade Policy Simulation Model (ATPSM). Menurut model ATPSM ini kesejahteraan total dihitung berdasarkan penjumlahan dari surplus produsen, surplus konsumen, dan penerimaan pemerintah. Liberalisasi perdagangan lebih banyak memberi keuntungan bagi negara maju melalui peningkatan kesejahteraan total dan sebaliknya merugikan negara berkembang. Negara maju mengalami total kesejahteraan yang diperoleh dari selisih surplus produsen dan konsumennya. Penurunan tarif bea masuk akan menurunkan surplus produsen negara yang mengenakan tarif, tetapi konsumennya akan mengalami peningkatan surplus sehingga kerugian produsen dapat diimbangi oleh keuntungan konsumen. Sebaliknya, liberalisasi perdagangan meningkatkan surplus petani produsen negara berkembang, tetapi menurunkan surplus konsumennya sehingga total kesejahteraan menunjukkan nilai negatif.

(27)

11 dan infrastruktur antara negara maju dan negara berkembang menyebabkan ketidakmampuan negara berkembang menciptakan equal playing field, 3) Ketidakadilan dalam membuka akses pasar, dimana di satu sisi negara maju memaksa negara berkembang membuka akses pasar seluas-luasnya, namun di sisi lain mereka berusaha membatasi akses pasar bagi produk-produk negara berkembang melalui berbagai instrumen, seperti tarif eskalasi, perlindungan sanitary dan phyto-sanitary, dan non-trade barrier lainnya.

Metode Pengukuran Daya Saing

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai daya saing suatu komoditas pertanian yang telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya antara lain Revealed Comparative Adventage (RCA), Berlian porter, dan Policy Analysis Matrix (PAM). Beberapa metode ini dapat digunakan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan.

Revealed Competitive Adventage (RCA) dapat digunakan untuk mengukur keunggulan kompetitif suatu komoditas dalam kondisi perekonomian aktual, (Karim dan Ismail 2007; Sembiring 2009). RCA ini biasa digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan penetapan komoditas di daerah tertentu untuk meningkatkan daya saing karena banyak manfaat yang dihasilkan, terutama untuk meningkatkan perekonomian daerah berbasiskan sumberdaya lokal. Kelemahan dari analisis ini adalah sifatnya yang statis, terbatas pada komoditas ekspor, dan tidak dapat menunjukkan darimana keunggulan komparatif berasal (Sembiring 2009; Purmiyanti 2002).

Metode Berlian Porter (Porter’s Diamond) digunakan untuk mengukur dan menganalisis keunggulan kompetitif suatu komoditas. Berlian Porter (Porter’s diamond) adalah model yang diciptakan oleh Michael Porter untuk membantu dalam memahami konsep keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu negara, berbeda dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) yang menyatakan bahwa suatu negara tidak perlu menghasilkan suatu produk apabila produk tersebut telah dapat dihasilkan oleh negara lain dengan lebih baik, unggul, dan efisien secara alami. Manfaat penggunaan metode berlian porter dalam menilai daya saing sebuah komoditas dapat memberikan gambaran yang lebih jelas karena analisis yang dilakukan terhadap komoditas tersebut lebih komprehensif.

(28)

12

dalam keunggulan kompetitif suatu negara. (Dunning 1993; Cartwright 1993; Rugman dan Verbeke 1993; Bellak dan Weiss 1993; Rugman dan Verbeke 1993)

Selain metode Revealed Comparative Adventage (RCA) dan metode Berlian Porter (Porter’s Diamond) yang dapat digunakan untuk mengukur daya saing, terdapat juga metode Policy Analysis Matrix (PAM) yang menggunakan tiga ukuran analisis yakni keuntungan privat, keuntungan sosial atau ekonomi, dan analisis daya saing berupa keunggulan komparatif dan kompetitif serta analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas. Namun metode ini membutuhkan data yang komprehensif dan akurat serta memiliki range hasil yang lebar (Ugochukwu dan Ezedinma 2011; Kasimin 2012).

3

KERANGKA PEMIKIRAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan hasil Deklarasi ASEAN Concord II (Bali Concord II) pada Oktober 2003, yang implementasinya mengacu pada Cetak Biru MEA(Kementerian Perdagangan, 2010). Cetak Biru MEAmerupakan pedoman bagi negara‐negara anggota ASEAN dalam mewujudkan MEA 2015. Cetak Biru MEA memuat empat pilar utama yaitu: (1) ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang bebas; (2) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan ecommerse; (3) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah; dan (4) ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

1. Pasar Tunggal dan Basis Produksi

Melalui realisasi MEA, diharapkan ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi. Pembentukan ASEAN sebagai suatu pasar tunggal dan basis produksi akan membuat ASEAN lebih dinamis dan berdaya saing dengan mekanisme dan langkah-langkah baru guna memperkuat pelaksanaan inisiatif-inisiatif ekonomi yang ada, mempercepat integrasi kawasan di sektor-sektor prioritas, memfasilitasi pergerakan para pelaku usaha, tenaga kerja terampil dan berbakat, dan memperkuat mekanisme kelembagaan ASEAN.

(29)

13 Sebuah pasar tunggal untuk barang dan jasa akan memfasilitasi pengembangan jaringan produksi di wilayah ASEAN dan meningkatkan kapasitas ASEAN sebagai pusat produksi global dan sebagai bagian dari rantai pasokan dunia. Tarif akan dihapuskan dan hambatan non-tarif secara bertahap juga akan dihapus. Perdagangan dan sistem kepabeanan yang terstandardisasi, sederhana dan harmonis diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi. Akan ada pergerakan bebas para profesional. Investor ASEAN akan bebas untuk berinvestasi di berbagai sektor, dan sektor jasa akan dibuka.

2. Kawasan Ekonomi yang Berdaya Saing

Perwujudan kawasan ekonomi yang stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi merupakan tujuan dari integrasi ekonomi ASEAN. Terdapat enam elemen inti bagi kawasan ekonomi yang berdaya saing ini, yaitu: (i) kebijakan persaingan; (ii) perlindungan konsumen; (ii) Hak Kekayaan Intelektual (HKI); (iv) pembangunan infrastruktur; (v) perpajakan; (vi) ecommerce. Negara-negara anggota ASEAN telah berkomitmen untuk memperkenalkan kebijakan dan hukum persaingan usaha secara nasional untuk menjamin tingkat kesetaraan dan menciptakan budaya persaingan usaha yang sehat untuk meningkatkan kinerja ekonomi regional dalam jangka panjang.

3. Pembangunan Ekonomi yang Merata

Di bawah karakteristik ini terdapat dua elemen utama: (i) Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan (ii) Inisiatif untuk Integrasi ASEAN. Kedua inisiatif ini diarahkan untuk menjembatani jurang pembangunan baik pada tingkat UKM maupun untuk memperkuat integrasi ekonomi Kamboja, Laos, Myanmar dan Viet Nam (CLMV) agar semua anggota dapat bergerak maju secara serempak dan meningkatkan daya saing ASEAN sebagai kawasan yang memberikan manfaat dari proses integrasi kepada semua anggotanya.

4. Integrasi dengan Ekonomi Global

ASEAN bergerak di sebuah lingkungan yang makin terhubung dalam jejaring global yang sangat terkait satu dengan yang lain, dengan pasar yang saling bergantung dan industri yang mendunia. Agar pelaku usaha ASEAN dapat bersaing

secara global, untuk menjadikan ASEAN lebih dinamis sebagai ”mainstream”

pemasok dunia, dan untuk memastikan bahwa pasar domestik tetap menarik bagi investasi asing, maka ASEAN harus lebih menjangkau melampaui batas-batas MEA. Dua pendekatan yang ditempuh ASEAN dalam berpartisipasi dalam proses integrasi dengan perekonomian dunia adalah: (i) pendekatan koheren menuju hubungan ekonomi eksternal melalui Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Area/FTA) dan kemitraan ekonomi yang lebih erat (Closer Economic Partnership/CEP), dan (ii) partisipasi yang lebih kuat dalam jejaring pasokan global.

Konsep Daya Saing

(30)

14

keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif menyatakan keunggulan yang dimiliki ketika pasar tidak terdistorsi yaitu didekati dengan menilai biaya dan penerimaan menggunakan harga sosial sedangkan keunggulan kompetitif adalah keunggulan pada saat harga aktual.

Keunggulan Absolut

Konsep keunggulan absolut pertama kali dikemukakan oleh Adam Smith yang merupakan tokoh pro perdagangan bebas. Asumsi dasar dari konsep ini adalah dua negara akan melakukan perdagangan secara sukarela apabila kedua negara tersebut memperoleh keuntungan. Jika satu negara memperoleh keuntungan sementara negara lainnya mengalami kerugian, maka hal tersebut akan mendorong penolakan terhadap perdagangan (Salvatore 1997). Adam Smith berpendapat bahwa setiap negara memiliki kemampuan yang berbeda dalam memproduksi barang secara efisien. Adam Smith mengasumsikan bahwa setiap negara dapat memproduksi satu atau lebih komoditas dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal ini menyebabkan suatu negara akan melakukan spesialisasi dengan hanya memproduksi produk yang memiliki biaya terendah. Jika suatu negara lebih efisien dalam memproduksi suatu barang (memiliki keunggulan absolut) dan kurang efisien dalam memproduksi barang lainnya (tidak memiliki keunggulan absolut) dibanding negara lain maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara melakukan spesialisasi masing-masing negara dalam memproduksi barang yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkannya dengan komoditi lain yang memiliki kerugian absolut. Melalui proses ini, sumber daya di kedua negara dapat digunakan dalam cara yang paling efisien. Salah satu kelemahan dari keunggulan absolut Adam Smith ini adalah karena tenaga kerja diasumsikan sebagai satu-satunya faktor produksi. Pertukaran komoditas dengan negara lainnya berdasarkan proporsi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk produksi mereka. Produktivitas tenaga kerja menjadi basis dalam menentukan spesialisasi produksi suatu barang (Salvatore 1997).

Keunggulan Komparatif

(31)

15 Keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Perdagangan internasional akan terjadi apabila ada perbedaan keunggulan komparatif antar negara. Negara yang mengalami kerugian absolut untuk dua komoditas atau lebih masih dapat melakukan perdagangan internasional dengan melakukan spesialisasi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut terkecil (komoditi dengan keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditi yang memiliki kerugian absolut terbesar (komoditi dengan kerugian komparatif) (Salvatore 1997).

Teori keunggulan komparatif dari David Ricardo ini ternyata mendapatkan kritikan karena menggunakan asumsi teori nilai tenaga kerja yang sama seperti Adam Smith di mana asumsi menyebutkan bahwa tenaga kerja hanya satu-satunya faktor produksi dan tenaga kerja bersifat homogen (satu jenis). Pada dasarnya, tenaga kerja bukanlah satu-satunya faktor produksi. Penggunaan tenaga kerja juga tidak dilakukan dalam proporsi yang tetap dan dalam jumlah yang sama pada setiap komoditas. Tenaga kerja juga tidak homogen karena adanya perbedaan dalam pendidikan, produktivitas, dan upah yang diterimanya (Salvatore 1997).

Berlangsungnya perdagangan internasional pada kenyataanya tidak hanya dipengaruhi oleh tenaga kerja tetapi juga faktor produksi lainnya seperti tanah, modal, keterampilan manajemen, sumber daya mineral, dan sebagainya. Dengan kata lain, sumber utama perdagangan internasional adalah adanya perbedaan sumber daya antar negara. Hal ini yang melandasi munculnya teori Heckscher-Ohlin yang dikembangkan oleh ekonom Eli Heckscher dan Bertil Heckscher-Ohlin sebagai penyempurnaan dari teori keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo. Heckscher dan Ohlin berpendapat bahwa keunggulan komparatif timbul dari adanya perbedaan faktor anugrah (factor endowment) suatu negara. Teori ini menyebutkan bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara tersebut dan akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara tersebut. Sebuah negara yang relatif memiliki tenaga kerja yang melimpah akan mengekspor komoditi yang padat tenaga kerja dan mengimpor komoditi yang padat modal (yang merupakan faktor produksi langka dan mahal di negara tersebut). Teori ini sangat menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antar negara dan perbedaan proporsi penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang. Oleh karena itu, teori ini sering juga disebut dengan teori proporsi faktor ( factor-proportion theory) (Salvatore 1997).

Keunggulan Kompetitif

(32)

16

industri terkait dan pendukung yaitu kehadiran atau ketidakhadiran industri pemasok dan industri terkait yang kompetitif secara internasional. Faktor keempat adalah strategi, struktur, dan persaingan perusahaan yaitu berkaitan dengan keadaan dimana perusahaan didirikan, diatur, dan dikelola serta sifat persaingan di dalam negeri.

Konsep keunggulan kompetitif merupakan suatu konsep baru dalam daya saing. Pada saat ini telah banyak dikemukakan mengenai konsep keunggulan kompetitif ini dalam literatur-literatur ekonomi. Konsep keunggulan kompetitif belum didefinisikan secara tepat pada literatur ekonomi sebelumnya. Hal ini menyebabkan belum adanya kesepakatan mengenai bagaimana mendefinisikan dan bagaimana mengukur keunggulan kompetitif secara tepat (Latruffe 2010).

Latruffe (2010) mendefinisikan keunggulan kompetitif sebagai kemampuan untuk menghadapi dan mencapai kesuksessan dalam kompetisi di mana kompetisi dapat terjadi di pasar domestik (perusahaan atau sektor yang dibandingkan satu dengan yang lainnya dalam negara yang sama) atau internasional (perbandingan antar negara). Keunggulan kompetitif juga berarti kemampuan untuk menjual produk yang sesuai dengan permintaan (harga, kualitas, jumlah) dan pada waktu yang tepat, serta dapat menjamin keuntungan setiap saat yang dapat memajukan perusahaan. Keunggulan kompetitif merupakan dasar kesuksesan dalam pasar lokal dan pasar internasional (Ivan et al. 2011). Sementara itu, menurut Kannapiran dan Fleming (1999) keunggulan kompetitif merupakan parameter yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam bersaing di pasar internasional dengan asumsi adanya intervensi pemerintah.

Secara prinsip, beberapa peneliti di bidang ekonomi menunjukkan bahwa konsep keunggulan kompetitif dengan keunggulan komparatif berbeda. Menurut Warr (1994) dalam Kannapiran dan Fleming (1999) menyatakan bahwa keunggulan komparatif merupakan parameter pengambilan keputusan untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan komoditas eksport yang diukur dengan harga bayangan. Sementara itu, keunggulan kompetitif merupakan parameter pengambilan keputusan untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan komoditas eksport yang diukur dengan harga pasar. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Akhtar et al. (2009), Siggel (2007) dan Boossabong dan Taylor (2009) yang menyatakan bahwa keunggulan kompetitif memasukkan distorsi pasar (harga pasar) sedangkan keunggulan komparatif menggunakan asumsi pasar tidak terdistorsi (harga equilibrium).

(33)

17 komparatif ditentukan oleh efisiensi alokasi sumberdaya pada tingkat nasional, terutama diantara sektor ekonomi produksi barang dan jasa yang diperdagangkan.

Keunggulan kompetitif diukur pada kondisi pasar aktual di mana masih terdapat distorsi pasar, sedangkan keunggulan komparatif diukur dalam kondisi pasar tanpa adanya distorsi pasar. Keunggulan kompetitif dan komparatif akan menjadi sama pada kondisi pasar persaingan sempurna di mana kondisi pasar dengan produk yang homogen, arus informasi lancar, dan tidak ada kegagalan pasar (Kannapiran dan Fleming 1999). Di dunia nyata, kedua indikator tersebut berbeda dikarenakan adanya distorsi pada input dan sistem pemasaran produk yang sering dihubungkan dengan intervensi pemerintah secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menjadikan penting untuk menghitung kedua indikator tersebut dan mengidentifikasi akibat dari divergensi. Divergensi timbul dari distorsi dalam (Kannapiran dan Fleming 1999): (1) harga output dikarenakan kondisi ekonomi dan rezim perdagangan, (2) harga faktor produksi, (3) harga faktor yang digunakan dalam kegiatan pemasaran dan pengolahan yang mempengaruhi marjin pemasaran, (4) tingkat suku bunga dan (5) nilai tukar.

Konsep Daya Saing dalam Policy Analysis Matrix

Policy Analysis Matrix merupakan sebuah pendekatan dalam analisis kebijakan pertanian yang menyediakan konsep dalam memahami pengaruh kebijakan maupun teknik untuk mengukur besaran transfer kebijakan. PAM dapat mengukur daya saing sistem usahatani sebuah negara dan pendapatan aktual yang diterima petani, efisiensi alokasi sumber daya pertanian, serta dampak dari kebijakan terhadap daya saing pertanian.

Menurut Monke dan Pearson (1989) daya saing yang digunakan dalam Policy Analysis Matris diklasifikasikan menjadi 2 yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif merupakan keunggulan yang dimiliki ketika pasar tidak terdistorsi yang dinilai dengan harga sosial sedangkan keunggulan kompetitif merupakan keunggulan yang dimiliki pada tingkat harga yang diterima produsen aktual saat ini (harga pasar).

(34)

18

Faktor-Faktor yang Membangun Daya Saing

Gupta (2009) memaparkan bahwa daya saing (competitiveness) dibangun oleh empat hal yaitu keunggulan teknologi (technological superiority), sumberdaya (resources endowment), pola permintaan (demand pattern), dan kebijakan pemerintah (policy).

1. Keunggulan teknologi akan menyebabkan proses produksi menjadi lebih efisien dengan cara menggeser kurva produksi ke atas. Hal ini berarti bahwa dengan adanya peningkatan ternologi maka produsen dapat menghasilkan output yang lebih banyak dengan jumlah input tetap.

2. Ketersediaan sumberdaya di suatu negara menjadi sumber lain untuk berdaya saing tanpa harus memiliki teknologi yang lebih unggul. Dengan asumsi pembatasan tertentu, keunggulan komparatif dapat diperoleh karena perbedaan sumberdaya relatif. Seperti dikemukakan oleh Heccksher dan Ohlin, suatu negara memiliki keunggulan komparatif dalam produksi bahwa komoditas yang menggunakan sumber daya cukup melimpah di negara itu secara lebih intensif. Selain sumberdaya alam, terdapat 3 faktor lain yang dapat dikatagorikan sebagai resources endowment.

a. Kemampuan dari sumberdaya manusia (Human skills) dapat juga dianggap sumber daya. Negara-negara dengan kemampuan manusia yang melimpah akan memiliki keunggulan dalam produk yang menggunakan keterampilan manusia secara lebih intensif. Produk tertentu seperti elektronik membutuhkan tenaga kerja terampil (seperti insinyur, programer, desainer, dan tenaga profesional lainnya). Produk-produk yang dibangun oleh tenaga profesional tersebut dapat menyebabkan suatu negara memperoleh keunggulan, seperti Taiwan, Singapura, Hong Kong. Kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk pendidikan dan pelatihan yang lebih baik dapat menciptakan sumberdaya manusia yang terampil.

b. Skala ekonomi (Economies of scale) dapat memberikan suatu keunggulan dengan menurunkan biaya produksi. Skala ekonomi ini konsisten dengan model Ricardian dan Model Faktor Proporsi. Skala ekonomi (internal) yang dicapai melalui besarnya pasar dalam negeri atau aksesibilitas terhadap pasar luar yang lebih besar akibat adanya kebijakan (misalnya karena Custom Union) juga menyebabkan biaya produksi yang lebih rendah. c. Industri negara maju umumnya lebih awal (Benefits of an Early Start/

Technological Gap) dalam memproduksi produk dan jasa. Hal ini memungkinkan mereka untuk menikmati pasar nasional dan internasional yang besar karena industri negara maju dapat mengekspor produk baru hingga beberapa lama sampai negara lain dapat memproduksi dengan biaya yang cukup rendah (Product Cycle).

(35)

19 4. Kebijakan pemerintah (Policy) diklasfikasikan menjadi tiga jenis, yaitu kebijakan nasional, kebijakan industri, dan kebijakan komersil. Kebijakan nasional berupa kebijakan terhadap infrastruktur, promosi ekspor, pendidikan dan pelatihan, kebijakan R & D. Sedangkan kebijakan industri seperti subsidi produksi, preferensi pajak, tender terbatas kontrak pemerintah, kebijakan anti-trust, dan sejumlah cara lain yang sering digunakan untuk memberikan keuntungan untuk industri dalam negeri. Kebijakan komersial bertujuan mengatur kegiatan perdagangan misalnya membatasi impor melalui tarif, kuota, pembatasan ekspor sukarela, lisensi impor, aturan konten lokal, pembatasan outsourcing, sehingga industri dalam negeri dapat bertahan ditengah persaingan dengan produk impor.

Gambar 1 Faktor-faktor Pembangun Daya Saing

(36)

20

Konsep Perdagangan Internasional

Krugman dan Obstfeld (2003) menyatakan bahwa setiap negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama, yang masing-masing menjadi sumber bagi adanya keuntungan perdagangan (gain from trade) bagi mereka. Alasan pertama negara berdagang adalah karena mereka berbeda satu sama lain. Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan untuk mencapai skala ekonomis (economies of scale) dalam produksi. Maksudnya, seandainya setiap negara bisa membatasi kegiatan produksinya untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu saja, maka mereka berpeluang memusatkan perhatian dan segala macam sumber dayanya sehingga ia dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut mencoba memproduksi berbagai jenis barang secara sekaligus.

Gambar 2 Kurva Aliran Perdagangan Internasional

Sumber: Salvator 1997

Keterangan:

P2 : Harga keseimbangan di pasar dunia

P3 : Harga keseimbangan di negara B sebelum berdagang P1 : Harga keseimbangan di negara A sebelum berdagang Da : Permintaan domestik negara A

Sa : Penawaran domestik negara A D : Permintaan di pasar dunia S : Penawaran di pasar dunia Sb : Permintaan domestik negara B Db : Penawaran domestik negara B

(37)

21 Pada negara B, terjadi harga yang lebih besar dibandingkan harga pada pasar internasional. Sehingga akan terjadi kelebihan permintaan (excess demand) di pasar internasional. Pada keseimbangan di pasar internasional kelebihan penawaran negara A menjadi penawaran pada pasar internasional yaitu pada kurva E*. Sedangkan kelebihan permintaan negara B menjadi permintaan pada pasar internasional yaitu sebesar ED. Kelebihan penawaran dan permintaan tersebut akan terjadi keseimbangan harga sebesar P*. Peristiwa tersebut akan mengakibatkan negara A mengekspor, dan negara B mengimpor komoditas tertentu dengan harga sebesar P2 di pasar internasional. Dari penjelasan di atas didapat bahwa perdagangan internasional (ekspor-impor) terjadi karena terdapat perbedaan antara harga domestik (P1 dan P3), dan harga internasional (P2), permintaan, dan penawaran pada komoditas tertentu

Konsep Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah ditetapkan dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor ataupun sebagai usaha dalam melindungi produk dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk luar negeri. Kebijakan tersebut biasanya diberlakukan untuk input dan output yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara harga input dan harga output yang diminta produsen (harga privat) dengan harga yang sebenarnya terjadi jika dalam kondisi perdagangan bebas (harga sosial).

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada suatu komoditas ada dua bentuk yaitu subsidi dan hambatan perdagangan. Kebijakan subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif (pajak), sedangkan hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota. Menurut Monke dan Pearson (1989) perbedaan kebijakan perdagangan dengan subsidi berbeda dalam tiga aspek yaitu pada budget pemerintah, tipe alternatif kebijakan yang dilakukan, dan tingkat kemampuan penerapan kebijakannya. Beberapa tipe alternatif kebijakan yang dilaksanakan pemerintah terdapat pada Tabel 2.

Tabel 3 Kebijakan harga pada komoditas pertanian

Instrumen Dampak bagi produsen Dampak bagi konsumen Kebijakan Subsidi Subsidi pada produsen Subsidi bagi konsumen

Tidak merubah harga Pada barang-barang substitusi impor

Sumber : Monke and Pearson 1989

Keterangan: S+ : Subsidi S- : Pajak

(38)

22

PI : Produsen barang substitusi impor CI : Konsumen barang substitusi impor TCE : Hambatan barang ekspor

TCI : Hambatan barang impor

Tabel 3 menunjukkan bahwa kebijakan harga dapat dibedakan dalam tiga kriteria. Pertama, tipe instrumen yang berupa subsidi atau kebijakan perdagangan. Kedua, kelompok penerima, meliputi produsen atau konsumen, dan ketiga, tipe komoditas yang berupa komoditas dapat di impor atau dapat di ekspor.

1. Tipe Instrumen

Dalam kebijakan tipe instrumen, dibedakan pengertian antara subsidi dan kebijakan perdagangan. Subsidi adalah pembayaran dari atau untuk pemerintah, apabila dibayar dari pemerintah maka disebut subsidi positif, sedangkan apabila dibayar untuk pemerintah disebut subsidi negatif (pajak). Pada dasarnya, subsidi positif dan negatif bertujuan untuk menciptakan harga domestik agar berbeda dengan harga internasional untuk melindungi konsumen atau produsen dalam negeri.

Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada ekspor atau impor suatu komoditas. Pembatasan dapat diterapkan baik terhadap harga komoditas yang diperdagangkan (dengan suatu pajak perdagangan) atau dengan pembatasan jumlah komoditas (dengan kuota perdagangan) untuk menurunkan jumlah yang diperdagangkan secara internasional dan mengendalikan antara harga internasional (harga dunia) dengan harga domestik (harga dalam negeri). Untuk barang yang di impor misalnya dapat dilakukan dengan menekan tarif per unit (pajak impor) maupun pembatasan kuantitas (kuota impor) untuk membatasi kuantitas yang di impor dan meningkatkan harga domestik di atas harga internasional.

Kebijakan perdagangan ekspor dimaksudkan untuk membatasi jumlah yang di ekspor melalui penekanan baik pajak ekspor maupun pembatasan jumlah ekspor sehingga harga domestik lebih rendah bila dibandingkan dengan harga di pasar dunia. Kebijakan subsidi dan perdagangan berbeda dalam tiga aspek. Pertama, yang berimplikasi pada anggaran pemerintah, kedua berupa alternatif kebijakan dan ketiga adalah kemampuan penerapan.

a. Implikasi pada Anggaran Pemerintah

Kebijakan perdagangan tidak mempengaruhi anggaran pemerintah, sedangkan subsidi positif akan mengurangi anggaran pemerintah dan subsidi negatif (pajak) akan menambah anggaran pemerintah.

b. Tipe Alternatif Kebijakan

Ada delapan tipe subsidi untuk produsen dan konsumen pada barang orientasi ekspor (PE) dan barang substitusi impor (SI) yaitu :

Gambar

Tabel 1  Neraca perdagangan pertanian Indonesia menurut subsektor 2011-2013
Gambar 1 Faktor-faktor Pembangun Daya Saing
Gambar 2  Kurva Aliran Perdagangan Internasional
Tabel 3  Kebijakan harga pada komoditas pertanian
+7

Referensi

Dokumen terkait

daya manusia Indonesia untuk dapat bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang.. sebentar lagi

Keberadaan Anggun Jaya Meubel banyak menghadapi tantangan yang besar untuk dapat bertahan, seiring dengan pertumbuhan masyarakat disekitarnya namun memilki produk yang

Berdasarkan atas berbagai macam kendala yang dihadapi oleh pelaku peternakan di bidang budidaya ayam ras pedaging dan diterapkannya kemitraan oleh pemerintah sebagai strategi

Berdasarkan hal tersebut, kabijakan kedua yang dapat diterapkan terkait dengan pengembangan ekspor sektor industri prioritas ke kawasan ASEAN adalah melalui peningkatan

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan

(rimpang dan simplisia) atau meningkatkan pasar produk herbal yang menggunakan bahan baku Temulawak. Perluasan pasar dapat dilakukan dengan memperkenalkan Temulawak

uji syukur kehadirat Allah S.W.T., atas segala rahmat dan hidayah-Nya Prosiding SEMIRATA 2016 Bidang MIPA BKS Wilayah Barat yang bertemakan “ Peran MIPA dalam

Berdasarkan hal tersebut, kabijakan kedua yang dapat diterapkan terkait dengan pengembangan ekspor sektor industri prioritas ke kawasan ASEAN adalah melalui peningkatan