IMPLIKASI KEBERADAAN SEMUT INVASIF TERHADAP
KOMUNITAS SEMUT LOKAL
ABDUL RAHIM
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Struktur Komunitas Semut di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Januari 2009
ABDUL RAHIM. 2009. Ant Community Structure in Seribu Island: Implication of Invasive Ant to Local Community Ant. Supervised by DAMAYANTI BUCHORI and LILIK BUDI PRASETYO.
The objectives of this research were to study (1) ant community structure in Seribu Islands and (2) the implication of invasive ant to local ant community. Ecological research was conducted in three islands with different land use in Seribu Islands. Ants were sampled using pitfall trap and winkler in 5 m x 5 m plots that were distributed randomly on each island. In total, we found 68.787 individual of ant belongs to 4 subfamilies, 21 genera, and 35 species. Ant species composition appears different among islands. Bokor and Rambut Island were dominated by species from genus Pheidole, Paratrechina, Odontomachus, Tetramorium, and Monomorium in ground surface, whereas in leaflitter habitat by predators (e.g Hypoponera and Ponera). In contrast, Untung Jawa Island was dominated by Iridomyrmex, Tapinoma, Monomorium, and Tetramorium, and also invasive species Anoplolepis gracilipes, Solenopsis geminata and Paratrechina longicornis. Based on multidimensional scalling analysis (MDS) revealed that ant community structure in Untung Jawa completely different with Bokor and Rambut Island. Species invasive seems to change the ant species composition and tend to dominating in appropriate habitat. S. geminata might have significant effect on shaping ant community in Untung Jawa Island.
RINGKASAN
ABDUL RAHIM. 2009. Struktur Komunitas Semut Di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal. Dibimbing oleh DAMAYANTI BUCHORI dan LILIK BUDI PRASETYO.
Karakteristik pulau dan keberadaan spesies invasif berperan dalam menyusun struktur komunitas semut lokal, terutama di daerah Kepulauan. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui struktur komunitas semut di Kepulauan Seribu; dan (2) untuk mempelajari implikasi keberadaan semut invasif terhadap semut lokal di Kepulauan Seribu. Pengambilan contoh semut dilaksanakan pada tiga pulau yang memiliki karakteristik pulau yang berbeda yaitu; (1) Pulau Untung Jawa (pulau yang banyak mengalami gangguan habitat), (2) Pulau Rambut (pulau yang belum banyak mengalami gangguan dan habitatnya sesuai bagi burung), dan (3) Pulau Bokor (pulau yang belum banyak mengalami gangguan habitat).
Koleksi semut dilakukan dalam plot dengan metode koleksi pitfall trap dan winkler. Indeks Shannon dan Simpson digunakan untuk membedakan keanekaragaman semut antar pulau. Selain itu, kurva akumulasi spesies juga digunakan untuk menggambarkan perbedaan kekayaan spesies berdasarkan jumlah plot pengambilan contoh. Pendugaan kekayaan spesies semut dilakukan dengan menggunakan abundance coverage estimator (ACE). Indeks Sorenson digunakan untuk melihat kemiripan komposisi spesies semut antar pulau. Perbedaan komposisi spesies antar plot di setiap pulau atau untuk melihat pengaruh keberadan spesies invasif digunakan analisis multidimensional scalling (MDS) dan analisis ragam.
Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman semut yang diperoleh dari keseluruhan pengambilan contoh pada tiga pulau adalah 68.787 individu yang terdiri dari 4 subfamili, 21 genus dan 35 spesies. Selain itu Pulau Bokor dan Pulau Rambut memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa, sedangkan jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa lebih tingi dibandingkan dengan pulau lainnya, walaupun berdasarkan estimasi dengan menggunakan ACE, jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa telah mencapai 96,86%, lebih tinggi dibandingkan dengan pulau lainnya (Pulau Bokor 92,05% dan Pulau Rambut 77,70%).
spesies paling tinggi (86%), dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa dan Pulau Bokor (72%), Hal tersebut menunjukkan bahwa kemiripan komposisi spesies dipengaruhi oleh luas, jarak (isolasi), tipe habitat, dan intensitas gangguan habitat (frekuensi kehadiran manusia di suatu pulau).
Spesies invasif P. longicornis, S. geminata, ditemukan di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa, sedangkan A. gracilipes hanya ditemukan di Pulau Untung Jawa. Ada perbedaan antara pengaruh keberadaan spesies invasif S. geminata terhadap komposisi spesies di Pulau Bokor, Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa. Pada Pulau Bokor dan Pulau Rambut, keberadaan spesies S. geminata tidak mengubah komposisi spesies, sedangkan di Pulau Untung Jawa terdapat perbedaan komposisi spesies antar plot yang terdapat spesies invasif dan plot yang tidak terdapat spesies invasif S. geminata. Hal ini dapat disebabkan S. geminata memiliki kemampuan berkompetisi dengan spesies lokal dan didukung oleh habitat yang sesuai (lahan terbuka) di Pulau Untung Jawa.
Nilai keanekaragaman pada plot yang tidak memiliki spesies invasif memiliki kecendrungan berubah pada setiap waktu pengambilan contoh, hal ini disebabkan umumnya semut memiliki perilaku mencari makan dari berbagai sumber (generalized forages), predator, dan perantara bagi penyebaran benih (granivore), sehingga dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, sedangkan pada plot yang memiliki spesies invasif memberikan informasi nilai keanekaragaman yang relatif sama, disebabkan terjadinya kompetisi ruang yang dapat mengganggu pergerakan semut permukaan tanah masuk ke plot tersebut.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
IMPLIKASI KEBERADAAN SEMUT INVASIF TERHADAP
KOMUNITAS SEMUT LOKAL
ABDUL RAHIM
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Entomologi-Fitopatologi
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal Nama : Abdul Rahim
NRP : A451060021
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Entomologi-Fitopatologi
Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S
PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang diberikan sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tesis ini berjudul ”Struktur Komunitas Semut di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif
Terhadap Komunitas Semut Lokal”. Tesis ini merupakan salah syarat untuk memperoleh gelar magister sains di Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc sebagai ketua komisi pembimbing, Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc sebagai anggota komisi pembimbing, yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, saran, dan motivasi selama penelitian dan penulisan tesis. Ucapan terimakasih, kami sampikan pula kepada Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, M.Si selaku penguji luar komisi pada ujian tesis
Kepada ibunda Simay, ayahda Usman, istri Siti Hadijah, putra Radja SR dan Rakjat HA, serta seluruh keluarga dan sahabat atas dukungan moral maupun materilnya sehingga penelitian dan penyusunan tesis dapat diselesaikan.
Penulis menyampaikan terimakasih kepada Universitas Borneo Tarakan, Ditjend Dikti, Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Pemerintah Propinsi Kaltim, Pemerintah Kota Tarakan, yang telah memberikan kesempatan dan membantu pendanaan pendidikan di Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada Akhmad Rizali, M.Si atas bimbingan teknis ilmiah selama kegiatan penelitian dan penulisan tesis, serta Yayasan PEKA Indonesia yang memberikan kesempatan penulis ikut serta pada kegiatan penelitian ini.
Penulis dilahirkan di Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal 16 Desember 1978 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara dari ayah bernama Usman dan ibu bernama Simay.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN... xiv
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
STRUKTUR KOMUNITAS SEMUT DI KEPULAUAN SERIBU Pendahuluan ... 4
Bahan dan Metode ... 5
Hasil ... 9
Pembahasan... 19
Kesimpulan ... 27
IMPLIKASI KEBERADAAN SEMUT INVASIF TERHADAP STRUKTUR KOMUNITAS SEMUT LOKAL DI KEPULAUAN SERIBU Pendahuluan ... 28
Bahan dan Metode ... 29
Hasil ... 30
Pembahasan... 38
Kesimpulan ... 41
PEMBAHASAN UMUM... 42
KESIMPULAN DAN SARAN... 46
Kesimpulan ... 46
Saran... 46
DAFTAR PUSTAKA... 47
Halaman
1 Deskripsi lokasi dan waktu penelitian di Kepulauan Seribu ... 6 2 Keanekaragaman semut di Pulau Bokor, Rambut, dan Pulau
Untung Jawa ... 9 3 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan
keberadaanya di Pulau Bokor, Pulau Rambut dan Pulau Untung
Jawa ... 10 4 Perbandingan hasil penelitian dengan penelitian Rizali et al.
(2006) ... 15 5 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan
keberadaanya berdasarkan metode pengambilan contoh ... 17 6 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan
keberadaanya berdasarkan waktu pengambilan contoh ... 18 7 Jenis, jumlah individu, dan jumlah plot yang ditemukan semut
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Peta lokasi penelitian Pulau Bokor (a), Pulau Rambut (b), dan
Pulau Untung Jawa (c) ... 7
2 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Bokor ... 7
3 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Rambut ... 8
4 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Untung Jawa ... 8
5 Kurva akumulasi spesies semut di ketiga pulau... 11
6 Komposisi semut di pulau Bokor... 12
7 Komposisi semut di pulau Rambut ... 12
8 Komposisi semut di pulau Untung Jawa... 13
9 MDS komposisi spesies antar pulau berdasarkan indeks kemiripan Sorensen ... 16
10 Perbandingan komposisi spesies ketiga pulau pada plot yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b) ... 31
11 Perbandingan komposisi spesies pada plot di Pulau Bokor yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b) ... 32
12 Perbandingan komposisi spesies di Pulau Rambut pada plot yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b) ... 33
13 Nilai rata-rata kekayaan spesies (a), keanekaragaman Shannon (b), keanekaragaman Simpson (c), dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Bokor (A: ada dan TA: tidak ada)... 34
14 Nilai rata-rata kekayaan spesies (a), keanekaragaman Shannon (b), keanekaragaman Simpson (c), dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Rambut (a: ada dan TA: tidak ada) ... 35
15 Nilai rata-rata kekayaan spesies (a), keanekaragaman Shannon (b), keanekaragaman Simpson (c), dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Untung (A: ada dan TA: tidak ada)... 35
(b); keanekaragaman Simpson (c); dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif A. gracilipes di Pulau
Untung Jawa (A: ada dan TA: tidak ada)... 37 18 Perbandingan nilai indeks Shannon (a) dan indeks Simpson (b)
antar plot pada ketiga pulau berdasarkan waktu pengambilan
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Data jenis dan jumlah individu per plot di Pulau Bokor ... 52 2 Data jenis dan jumlah indvidu semut per plot di Pulau Rambut ... 54 3 Data jenis dan jumlah indvidu semut per plot di Pulau Untung
Jawa ... 56 4 Nilai keanekaragaman dan keberadaan spesies invasif per plot... 58 5 Data suhu dan kelembaban di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan
Pulau Untung Jawa ... 60 6 Data hasil analisis sampel tanah di Kepulauan Seribu ... 61 7 Data vegetasi di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung
Latar Belakang
Kekayaan spesies pada sebuah pulau umumnya lebih rendah dibandingkan kekayaan spesies pada sebuah mainland (daratan luas) (Wilson 1961; McArthur & Wilson 1967; Whitakker 1998). Hal ini disebabkan keragaman habitat, relung, serta keberadaan sumber daya pada daratan luas lebih besar dibandingkan dengan sebuah pulau. Akibatnya, kapasitas penyangga daratan (carrying capacity) akan jauh lebih tinggi, sehingga akan memengaruhi jumlah spesies yang akan disangga oleh daratan tersebut. Berbeda dengan daratan luas, keberadaan spesies pada kepulauan akan sangat dipengaruhi oleh ukuran pulau tersebut. Umumnya makin luas pulau, makin tinggi spesies yang dapat disangganya (spesies area relationship) (McArthur & Wilson 1967).
McArthur & Wilson (1967) mengemukakan bahwa jumlah spesies yang berada pada sebuah pulau ditentukan oleh laju imigrasi serta laju kematian. Laju imigrasi dan kematian tersebut merupakan fungsi dari jarak (isolasi) serta ukuran pulau. Keseteimbangan antara laju kematian dan laju imigrasi lah yang akan menentukan titik keseteimbangan jumlah spesies di suatu pulau (teori biogeografi kepulauan). Teori ini menyatakan bahwa jarak pulau dari daratan luas akan memengaruhi laju imigrasi. Semakin jauh jarak pulau dari daratan luas (mainland), semakin kecil laju imigrasi. Semakin kecil ukuran pulau semakin tinggi laju kematian pada pulau tersebut. Jadi, keseteimbangan jumlah spesies yang dapat disangga oleh sebuah pulau akan ditentukan oleh ukuran serta jarak (isolasi) pulau tersebut dari daratan yang luas.
2
dibuktikan pula, bahwa semakin jauh jarak pulau dari mainland, semakin rendah laju imigrasinya. Walaupun demikian, tidak selamanya teori biogeografi kepulauan ini berlaku untuk pulau-pulau yang lain. Penelitian Torres & Snelling (1997) menunjukkan tidak adanya pengaruh jarak dan luas dengan keanekaragaman spesies semut di 44 pulau yang berada di sekitar Puerto Rico. Demikian pula dengan penelitian Rizali et al. (2006), juga menunjukkan pulau yang terdekat dengan sumber kolonisasi (Pulau Onrust) memiliki jumlah spesies lebih rendah dibandingkan dengan pulau yang terjauh (Pulau Dua Timur) dan pulau yang terkecil (Pulau Semak Daun) memiliki jumlah spesies lebih tinggi dari Pulau Onrust yang memiliki luas lebih besar.
Menurut Whitakker (1998) sejarah geografi pulau, fragmentasi habitat dan intensitas gangguan manusia, juga dapat memengaruhi keanekaragaman spesies. Intensitas gangguan manusia, dilakukan dengan mengubah habitat alam menjadi habitat buatan manusia, dan terbawanya spesies invasif di suatu pulau oleh perantara manusia (Andersen 1997; Debuse et al. 2007; Holway et al. 2002). Berdasarkan hasil penelitian Rizali et al. (2006) di Kepulauan Seribu, menunjukkan kekayaan spesies juga dipengaruhi oleh keberadaan dermaga, penggunaan lahan, dan keberadaan spesies invasif.
Spesies semut invasif memengaruhi keanekaragaman semut lokal (Holway et al. 2002; Donlan & Wilcox 2008), mereduksi kelimpahan spesies invertebrata lokal hingga 85% (Hoffman et al. 1994), menyebar hingga hutan alami dan menyebabkan penurunan spesies semut lokal di Kepulauan Hawaii (Cole et al. 1992; Holway et al. 2002; Suarez et al. 1998; Gotelli & Arnett 2000), serta keberadaan spesies invasif juga menyebabkan terjadinya homogenisasi biotik atau penggantian spesies lokal yang berakibat pada kepunahan spesies lokal (McKinney & Lockwood 2001; Olden et al.2004; Ward & Beggs 2007).
Seychelles yang memengaruhi struktur komunitas beberapa taxa dari invertebrata (Hill et al. 2003), sedangkan penelitian di Pulau Yasawa Kepulauan Fiji, spesies invasif Pheidole megacephala dan A. gracilipes memengaruhi komunitas semut lokal lainnya. Demikian pula, penelitian di Kepulauan Hawaii menunjukkan keberadaan spesies invasif Hypoponera opaciceps, Solenopsis papuana, dan spesies Linepithema humile menyebar hingga hutan alami, yang menyebabkan terjadinya penurunan semut lokal di Kepulauan Hawaii (Cole et al. 1992; Holway et al. 2002).
Kepulauan Seribu merupakan salah satu gugusan kepulauan Indonesia. Letak Kepulauan Seribu di sebelah utara Jakarta dan memiliki 106 pulau-pulau kecil dengan luas kurang dari 1 km2 (Alamsyah 2003). Jumlah ini tidak termasuk beberapa pulau yang hilang beberapa tahun yang lalu (UNESCO 1997). Hasil penelitian keanekaragaman semut di Kepulauan Seribu, telah memberikan informasi tentang keberadaan spesies semut lokal di Kepulauan Seribu, serta memberikan informasi keberadaan spesies invasif A. gracilipes, S. geminata, dan Paratrechina longicornis dibeberapa pulau (Rizali et al. 2006), namun informasi tentang struktur komunitas dan implikasi dari keberadaan spesies invasif belum diketahui, sehingga dibutuhkan penelitian tentang struktur komunitas semut dan implikasi keberadaan spesies invasif di Kepulauan Seribu terhadap komunitas semut lokal.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur komunitas semut di Kepulauan Seribu dan mempelajari implikasi keberadaan semut invasif terhadap struktur komunitas semut lokal.
Manfaat Penelitian
STRUKTUR KOMUNITAS SEMUT DI
KEPULAUAN SERIBU
Pendahuluan
Struktur komunitas semut dapat dijelaskan berdasarkan form (bentuk), function (fungsi), dan diversity (keanekaragaman). Bentuk meliputi ukuran dan biomasa, fungsi menjelaskan peranan dan kegiatan semut di dalam suatu ekosistem, sedangkan diversity menjelaskan komposisi, jumlah, dan hubungan taxonomi antar komunitas (Price 1997; Kaspari 2000).
Semut memiliki ukuran dan biomasa terbesar dari keseluruhan biomasa hewan, misalnya 15% dari total biomasa hewan di hutan hujan tropis Central Amazone berasal dari komunitas semut (Fitkau & Klinge 1973), dan di perkebunan kakao Palolo Sulewesi Tengah spesies semut mencapai 78,5% dari ordo Hymenoptera yang ditemukan (Hosang 2004). Menurut Bolton (1997) dari 750.000 spesies serangga yang telah dideskripsikan, berkisar 9500 merupakan spesies semut.
Peranan semut di ekosistem sebagai predator (pemangsa), herbivor (pemakan tumbuhan), scavenger (pemakan sisa-sisa organisme), detrivore (pengurai), seed harvester (pemakan biji), dan granivore (penyebar biji tanaman) (Hölldobler & Wilson 1990; Brown 2000; Hashimoto 2003; Folgarait 1998). Semut juga memiliki peran sebagai organisme yang membantu siklus nutrisi dan hara di dalam tanah (Hölldobler & Wilson 1990). Semut merupakan kelompok hewan darat yang mendominasi daerah iklim tropis dan dapat menjadi indikator terhadap kerusakan habitat (Andersen 1997; King et al. 1998; Peck et al. 1998), dan indikator kunci dalam mengukur keanekaragaman serangga (Brown et al. 2000).
Hasil penelitian Rizali et al. (2006) menemukan 48 spesies dari 5 subfamili, 28 genus, serta adanya beberapa spesies yang hanya ditemukan di pulau tertentu, misalnya Ponera sp.01 hanya ditemukan di Pulau Rambut. Selain itu, penelitian Rizali et al. (2006) juga menunjukkan bahwa ada kaitannya antara tipe habitat dan intensitas gangguan manusia (frekuensi kedatangan manusia) di Kepulauan Seribu. Demikian pula dengan hasil penelitian di Pulau Yasawa Kepulauan Fiji yang memiliki perbedaan habitat, ditemukan 27 spesies, yang terdiri atas 17 spesies lokal, termasuk enam diantaranya merupakan spesies endemic dan 10 spesies invasif (Ward et al. 2007), sedangkan penelitian Mikheyev & Solomon (2005) menginformasikan hasil penelitian di Kepulauan Coccus Costarica yang menemukan 19 spesies dari 14 genus dan 4 subfamili, serta menunjukkan perbedaan dari hasil penelitian sebelumnya, yang disebabkan oleh kepunahan spesies dan pengaruh teknik pengambilan contoh semut.
Hasil penelitian Rizali et al. (2006) telah menginformasikan kekayaan spesies semut yang terdapat di Kepulauan Seribu, yang diduga dengan menggunakan incidence-based coverage estimator (ICE) yang merupakan penduga kekayaan spesies berdasarkan presence-absence, sehingga tidak dapat menggambarkan kekayaan spesies berdasarkan kelimpahan spesies (spesies abundance). Berdasarkan pertimbangan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas semut di Kepulauan Seribu. Struktur komunitas semut dijelaskan dengan membandingkan presence-absence kekayaan spesies penelitian Rizali et al. (2006) dan menggunakan metode pitfall trap dan winkler untuk mendapatkan data jumlah individu (kelimpahan) spesies.
Bahan dan Metode
Lokasi dan Waktu Penelitian
6
mengalami gangguan dan habitatnya sesuai bagi burung), sedangkan Pulau Untung Jawa memiliki luas 39,12 ha (pulau yang banyak mengalami gangguan habitat) (Rizali et al. 2006).
Penelitian laboratorium meliputi sortasi (pemilahan) dan identifikasi contoh semut dilaksanakan di Laboratorium Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia (PEKA) Indonesia.
Tabel 1. Deskripsi lokasi dan waktu penelitian di Kepulauan Seribu
Pulau Jumlah
Plot Deskripsi Waktu Pengambilan
Bokor 16 Pulau belum banyak mengalami gangguan habitat, luas pulau 16,34 ha. Tipe habitat hutan primer dengan kanopi sangat rapat, tumbuhan yang sering ditemukan tumbuhan Kedoya (Dysoxylum amooroides), Kepuh (Sterculia futida), dan Jeruk Kingkit (Allophylus cobbe). Pulau ini merupakan Cagar Alam.
17 – 18 Maret 2008 8 – 9 April 2008 16 – 17 Mei 2008
Rambut 17 Luas pulau 45,80 ha (hanya berkisar 20 ha yang dapat digunakan untuk pengambilan contoh) dan merupakan habitat dari berbagai jenis burung, vegetasi mangrove, serta hutan primer, misalnya Kedoya (Dysoxylum amooroides), Jati pasir (Guettarda speciosa),
dan Jeruk Kingkit (Allophylus cobbe). Pulau ini merupakan kawasan Suaka Margasatwa.
14 – 15 Maret 2008 10 – 11 April 2008 18 – 19 Mei 2008
Untung Jawa
25 Pulau ini merupakan daerah wisata dengan luas pulau 39,12 ha. Penggunaan lahannya diperuntukkan bagi pemukiman, kebun, lahan terbuka dan tambak. Vegetasi yang umumnya ditemukan yakni Srikaya (Annona squamosa), Baru Laut (Thespesia populena), dan Sukun (Artocarpus communis).
12 – 13 Maret 2008 12 – 13 April 2008 13 – 14 Mei 2008
Pengambilan Contoh Semut
Contoh semut yang diperoleh ditempatkan dalam botol film yang berisi alkohol 70%, yang selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk kegiatan sortasi dan identifikasi. Selanjutnya, sortasi dan identifikasi contoh semut yang diperoleh dari lapangan, dilakukan berdasarkan kunci identifikasi semut (Bolton 1997). Contoh semut yang telah teridentifikasi akan dilakukan pengecekan ulang dengan spesimen rujukan (hasil penelitian terdahulu) yang terdapat di Laboratorium PEKA Indonesia, dibawah bimbingan Akhmad Rizali, M.Si.
Gambar 1 Peta lokasi penelitian Pulau Bokor (a), Pulau Rambut (b), dan Pulau Untung Jawa (c).
Gambar 2 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Bokor.
a
b c
8
Gambar 3 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Rambut.
Gambar 4 Letak plot dan jenis habitat di Pulau Untung Jawa.
Pengambilan data lingkungan
Data analisis fisik-kimia tanah menggunakan parameter, tekstur tanah, pH tanah, dan C/N Ratio yang dianalisis di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor, serta melakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara dengan menggunakan thermohygrometer.
Analisis Data
Indeks keanekaragaman Shannon dan Simpson (Magguran 1988) digunakan untuk membedakan keanekaragaman semut antar pulau. Selain itu, kurva akumulasi spesies juga digunakan untuk menggambarkan perbedaan kekayaan spesies berdasarkan jumlah plot pengambilan. Pendugaan kekayaan spesies semut yang ada pada suatu pulau dilakukan dengan menggunakan abundance coverage estimator (ACE) yang dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak EstimateS (Colwell & Coddington 1994; Colwell 1997). Indeks Sorenson (Magurran 1988) digunakan untuk melihat kemiripan komposisi spesies semut antar pulau dan menggunakan analisis multidimensional scalling (MDS) yang dilakukan dengan perangkat lunak Statistica 6 (Statsoft 1995).
Hasil
Keanekaragaman semut yang diperoleh dari keseluruhan pengambilan contoh pada tiga pulau adalah 68.787 individu yang terdiri atas 4 subfamili, 21 genus dan 35 spesies (Tabel 2 dan Tabel 3).
Tabel 2 Keanekaragaman semut di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa
Pulau Parameter
Bokor Rambut Untung Jawa
Subfamili 4 4 4
Genus 14 18 20
Spesies 24 27 29
Jumlah Individu 1.492 4.283 63.012
H 2,27 2,19 1,14
E 0,71 0,67 0,34
10
Tabel 3 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan keberadaanya di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa
No Spesies Bokor Rambut Untung
8 Paratrechina longicornis 245 976 2237 3458
Berdasarkan indeks Shannon (H’), Pulau Bokor memiliki keanekaragaman semut tertinggi dengan kemerataan (E) yang tinggi pula, namun dengan menggunakan indeks Simpson (1/D), keanekaragaman semut tertinggi ditemukan di Pulau Rambut (Tabel 2).
Jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa lebih tinggi bila dibandingkan dengan pulau yang lain (Gambar 5). Walaupun demikian, berdasarkan estimasi dengan menggunakan ACE, jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa telah mencapai 96,86%, sedangkan pulau lainnya lebih rendah (Bokor 92,05% dan Rambut 77,70%). Hal ini menunjukkan, masih banyak spesies semut yang belum terkoleksi di Pulau Bokor dan Pulau Rambut dengan menggunakan perangkat pitfalltrap dan winkler.
Gambar 5 Kurva akumulasi spesies semut di ketiga pulau.
12
Gambar 6 Komposisi semut di Pulau Bokor.
Iridomyrmex
Komposisi spesies yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, didominasi genus Iridomyrmex, Anoplolepis, Solenopsis, Tetramorium, dan Paratrechina, dengan genus tertinggi Iridomyrmex (71%)(Gambar 8).
Gambar 8 Komposisi semut di Pulau Untung Jawa
Perbedaan spesies yang ditemukan jika dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya (Rizali et al. 2006), akan memberikan informasi tentang beberapa spesies yang tidak ditemukan di Pulau Bokor yakni spesies D. thoracicus, Tapinoma sp.07, A. gracilipes, Paratrechina sp.17, Crematogaster sp.70, Monomorium sp.08, T. smithi, Crematogaster sp.70, Amblyopone sp.01, Hypoponera sp.04, dan Ponera sp.01. Selain itu, spesies yang tidak ditemukan pada saat pengambilan contoh dan ditemukan pada penelitian sebelumnya yakni spesies Philidris sp.01, Philidris sp.02, T. kraepelini, T. albipes, O. smaragdina, P. arcuata, C. nuda, P. parallela , dan Tetraponera sp.01, sedangkan spesies yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya (catatan baru) yakni spesies C. difformis.
14
sp.17, Pheidole sp.01, Pheidole sp.02, Amblyopone sp.01. Demikian pula, spesies yang tidak ditemukan pada saat pengambilan contoh dan ditemukan pada penelitian sebelumnya yakni spesies, T. kraepelini, T. albipes, Crematogaster sp.70, Monomorium sp.08, Hypoponera sp.03, Hypoponera sp.04, Pachycondyla sp.42, P. parallela, Ponera sp.01, dan Tetraponera sp.01. Sedangkan, spesies yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya (catatan baru) yakni spesies P. arcuata dan Hypoponera sp.02
Informasi tentang beberapa spesies yang tidak ditemukan di Pulau Untung Jawa yakni spesies Philidris sp.01, Philidris sp.02, T. kraepelini, Crematogaster sp.70, Pheidole sp.01, Pheidole sp.02, T. pacifium, Hypoponera sp.04. Pachycondyla sp.42, dan Tetraponera sp.01. Spesies yang tidak ditemukan pada saat pengambilan contoh dan ditemukan pada penelitian sebelumnya yakni spesies, Tapinoma sp.07, T. albipes, C. reticulatus, dan Amblyopone sp.01. Sedangkan spesies yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya (catatan baru) yakni spesies Camponotus sp.47, C. difformis, A. graeffei, Monomorium sp.08, Ponera sp.01, dan Hypoponera sp.03.
Tabel 4 Perbandingan hasil penelitian dengan penelitian Rizali et al. (2006)
Bokor Rambut Untung
Jawa
No Subfamili Spesies
A B A B A B
16
-2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00
Dim 1
Berdasarkan nilai indeks Sorensen dan analisis MDS, Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut memiliki kemiripan komposisi spesies 86%, Pulau Bokor dan Pulau Rambut sebesar 78%, sedangkan Pulau Untung Jawa dan Pulau Bokor sebesar 72% (Gambar 9).
Gambar 9 MDS komposisi spesies antar pulau berdasarkan indeks kemiripan Sorensen.
Keanekaragaman berdasarkan waktu dan metode pengambilan contoh.
Metode pengambilan contoh pitfall trap terdiri dari 33 spesies (68.075 individu), lebih tinggi dari metode pengambilan contoh winkler yakni 25 spesies (712 individu). Spesies yang dominan ditemukan pada metode pitfall trap yakni I. anceps, A. gracilipes, dan S. geminata, sedangkan pada metode winkler yakni Pheidole sp.01 dan T. walshi (Tabel5).
Tabel 5 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan keberadaanya berdasarkan metode pengambilan contoh
Metode No Spesies
Pitfall Winkler Jumlah
Dolichoderinae
1 Dolichoderus thoracicus 16 1 17
2 Iridomyrmex anceps 44914 1 44915
3 Tapinoma melanocephalum 969 27 996
Formicinae
4 Anoplolepis gracilipes 5757 15 5772
5 Camponotus reticulatus 2 0 2
6 Camponotus sp.47 316 3 319
7 Oecophylla smaragdina 18 0 18
8 Paratrechina longicornis 3455 3 3458
9 Paratrechina sp.17 21 0 21
15 Monomorium destructor 772 24 796
16 Monomorium floricola 728 42 770
23 Solenopsis geminata 4126 58 4184
24 Solenopsis sp.02 77 80 157
25 Strumigenys emmae 7 55 62
26 Tetramorium pacificum 82 0 82
27 Tetramorium smithi 124 41 165
28 Tetramorium walshi 3722 162 3884
Ponerinae
29 Anochetus graeffei 20 17 37
30 Hypoponera sp.01 7 0 7
31 Hypoponera sp.02 0 3 3
32 Hypoponera sp.03 0 3 3
33 Odontomachus similimus 926 16 942
34 Platyhyrea parallela 0 1 1
35 Ponera sp.01 1 0 1
Jumlah Individu 68.075 712 68.787
18
Tabel 6 Jenis dan jumlah individu spesies semut yang ditemukan keberadaanya berdasarkan waktu pengambilan contoh
Bulan No Spesies
1 2 3 Jumlah
Dolichoderinae
1 Dolichoderus thoracicus 5 3 9 17
2 Iridomyrmex anceps 30596 5508 8811 44915
3 Tapinoma melanocephalum 250 262 484 996
Formicinae
4 Anoplolepis gracilipes 1747 2568 1457 5772
5 Camponotus reticulatus 0 1 1 2
6 Camponotus sp.47 89 106 124 319
7 Oecophylla smaragdina 7 4 7 18
8 Paratrechina longicornis 1136 718 1604 3458
9 Paratrechina sp.17 8 8 5 21
23 Solenopsis geminata 2095 961 1128 4184
Pembahasan
Struktur komunitas Semut di Pulau Bokor, Rambut dan Untung Jawa.
Komunitas semut terdiri dari 4 subfamili yakni Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae, dan Ponerinae. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Rizali et al. (2006), maka subfamili Pseudomyrmicinae tidak ditemukan pada hasil penelitian ini. Menurut Hashimoto (2003), subfamili ini memiliki satu genus (Tetraponera) yang beraktivitas di bagian-bagian tumbuhan dan hasil penelitian Rizali et al. (2006), juga menunjukkan frekuensi ditemukan spesies Tetraponera sp.01 lebih banyak ditemukan pada vegetasi tumbuhan, sehingga metode winkler dan pitfall trap yang digunakan tidak efektif untuk mendapatkan spesies tersebut.
Subfamili Dolichoderinae. Hasil penelitian sebelumnya (Rizali et al. 2006) menemukan spesies Philidris sp.01, Philidris sp.02, Tapinoma sp.07, T. albipes, dan T. kraepelini, namun pada penelitian ini tidak ditemukan spesies-spesies tersebut. Faktor yang memengaruhi adalah ketidaksesuaian perilaku semut dengan metode pengambilan contoh semut yang digunakan. Genus Philidris merupakan kelompok spesies yang meletakkan sarang di bagian cabang atau ranting tumbuhan (Shattuck 2000; Brown 2000; Hashimoto 2003), dan sesuai dengan hasil penelitian Maeyama & Matsumoto (2000) yang menginformasikan genus Philidris merupakan spesies yang hidup di tumbuhan (arboreal), dan dapat ditemukan pada tumbuhan di hutan mangrove.
Genus Tapinoma menurut Brown (2000) merupakan spesies yang memiliki relung yang beragam, dan diduga Tapinoma sp.07 merupakan spesies yang banyak beraktivitas di tumbuhan. Sedangkan, genus Technomyrmex merupakan scavenger (pemakan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati) yang mencari makanan di permukaan tanah dan vegetasi tumbuhan, dengan sarang yang berada di tanah, cabang-cabang tanaman, ranting (Brown 2000; Hashimoto 2003), aktivitas ketiga serangga yang berada di bagian tumbuhan menyebabkan tidak terkoleksi dengan menggunakan metode winkler dan pitfall trap.
20
tanaman dan merupakan predator dari Conopomorpha cramerella, sehingga memungkinkan keberadaanya di Pulau Untung Jawa yang memiliki habitat tersebut. Walaupun hasil penelitian Rizali et al. (2006), menunjukkan bahwa spesies ini juga ditemukan pada pulau yang tidak memiliki areal budidaya tanaman (Pulau Bokor).
Spesies I. anceps dan T. melanocephalum merupakan spesies yang memiliki jumlah individu terbesar, disebabkan kedua spesies merupakan spesies yang berasosiasi pada daerah yang dihuni oleh manusia atau pemukiman hingga habitat alam (Hölldobler & Wilson 1990; Schultz & McGlynn 2000), dan menurut Hölldobler & Wilson (1990) spesies tersebut memiliki kemampuan menghasilkan semut pekerja dalam jumlah yang banyak, sehingga mampu berkompetisi dengan spesies lainnya dan mampu menempati relung yang beragam.
Subfamili Formicinae. Spesies A. gracilipes, O. smaragdina, Paratrechina sp.17, dan P. acuata tidak di temukan di Pulau Bokor. Selain itu, di Pulau Rambut spesies yang tidak ditemukan hanya A. gracilipes, dan P. acuata, sedangkan di Pulau Untung Jawa yang memiliki jumlah spesies tertinggi ditemukan seluruh spesies dari famili Formicinae yang diinformasikan oleh penelitian Rizali et al. (2006). Hal ini disebabkan Pulau Untung Jawa memiliki luas pulau tertinggi dan jarak dari sumber kolonisasi terdekat, sehingga memungkinkan spesies berada dan menempati berbagai relung di Pulau Untung Jawa. Menurut Sarty et al. (2006) kompleksitas habitat dapat memfasilitasi komunitas semut tropis untuk co-exist dengan lingkungannya.
tersebut hanya ditemukan di habitat yang terganggu dan merupakan spesies yang hidupnya berasosiasi dengan manusia (Hölldobler & Wilson 1990; Samways et al. 1997; Schultz & McGlynn 2000), namun spesies dari genus Paratrechina (P. longicornis dan Paratrechina sp.24) merupakan spesies yang mampu beradaptasi diberbagai tipe habitat (Hölldobler & Wilson 1990; Brown 1990), hal tersebut ditunjukkan dengan keberadaan spesies ini di Pulau Bokor, Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa.
Spesies C. reticulatus hanya ditemukan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut, meskipun pada penelitian sebelumnya ditemukan di Pulau Untung Jawa (Rizali et al. 2006), hal tersebut disebabkan sarang spesies lebih banyak diletakkan di vegetasi tumbuhan (Hashimoto 2003), selain itu genus Camponotus juga melakukan aktivitasnya pada malam hari (Hölldobler & Wilson 1990), sehingga perilaku dan waktu pergerakan semut pekerja di permukaan tanah relatif kurang.
Subfamili Myrmicinae. Spesies dari subfamili Myrmicinae merupakan spesies yang paling banyak ditemukan yakni 18 spesies. Spesies C. nuda dan T. smithi tidak ditemukan di Pulau Bokor, menurut (Brown 2000; Hashimoto 2003) C. nuda merupakan spesies yang tersebar di daerah hangat, generalized forager, dan bersarang di dalam tanah, sehingga di duga C. nuda di Pulau Bokor, kurang dapat beraktivitas akibat daerah yang ternaungi, sedangkan di Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut spesies ini ditemukan, karena sifat dari spesies yang generalized forager dan menyukai kondisi daerah yang terbuka, memungkinkan aktivitas yang lebih tinggi di permukaan tanah.
Spesies T. smithi tidak ditemukan di Pulau Bokor, diduga memang tidak terdapat di Pulau Bokor, sebagaimana hasil pengambilan contoh sebelumnya (Rizali et al. 2006), sedangkan genus Tetramorium lainnya umumnya meletakkan sarang di tanah (Hashimoto 2003), dan didukung hasil penelitian Rizali et al. (2006) menunjukkan frekuensi tertinggi ditemukannya spesies dari genus Tetramorium ditemukannya di permukaan tanah dan vegetasi tumbuhan.
22
al. 2006), sehingga diduga keberadaan C. difformis sangat berkaitan dengan keberadaan vegetasi tumbuhan di suatu pulau, sedangkan Crematogaster sp.10 yang tidak ditemukan pada penelitian ini, disebabkan spesies beraktivitas di vegetasi tumbuhan, sesuai dengan hasil penelitian Rizali et al. (2006) menginformasikan spesies ini lebih banyak ditemukan di vegetasi tumbuhan.
Spesies S. geminata merupakan spesies yang memiliki jumlah individu tertinggi di Pulau Untung Jawa. Menurut Hashimoto (2003) beberapa spesies dari genus Solenopsis merupakan spesies yang bersarang di tanah dan sering ditemukan berasosiasi dengan manusia (McGlynn 1999; Schultz & McGlynn 2000). Sedangkan, genus Monomorium merupakan spesies semut yang meletakkan sarang di bawah batu-batuan, di ranting dan kulit kayu tanaman dan merupakan scavenger, serta pemakan biji-bijian (Brown 2000; Hashimoto 2003). Spesies yang ditemukan dari genus ini M. destructor, M. floricola, M. monomorium, namun Monomorium sp.08 tidak ditemukan di Pulau Rambut. Hasil penelitian Rizali et al. (2006) juga menginformasikan spesies Monomorium sp.08 ditemukan hanya pada tiga pulau dari 18 pulau yang diteliti dengan frekuensi ditemukkannya lebih rendah dari spesies M. destructor, sehingga menunjukkan spesies ini banyak beraktivitas di vegetasi tumbuhan.
Spesies S. emmae merupakan spesies yang membuat sarang pada serasah tanaman (Brown 2000; Hashimoto 2003), sehingga ditemukan lebih tinggi jumlah individunya di Pulau Bokor dan Pulau Rambut yang memiliki banyak serasah dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa.
Subfamili Ponerinae. Spesies Amblyopone sp.01, Hypoponera sp.04, dan Pachycondyla sp.42 merupakan spesies yang ditemukan oleh Rizal et al. (2006) dan tidak ditemukan pada penelitian ini. Menurut Brown (2000) dan Hashimoto (2003) spesies dari genus Amblyopone, Hypoponera, dan Pachycondyla beraktivitas di dalam tanah, serasah daun, dan dibawah bebatuan atau kayu. Selain itu, spesies dari genus Hypoponera (Hypoponera sp.01 dan Hypoponera sp.02) ditemukan di Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa, sehingga diduga spesies ini selain beraktivitas di dalam tanah juga berada di serasah, termasuk Hypoponera sp.03 yang hanya ditemukan di Pulau Bokor.
Spesies A. graeffei merupakan spesies semut yang berperan sebagai predator (Brown 2000; Hashimoto 2003). Pada penelitian ini hanya ditemukan di Pulau Bokor dan Rambut, sedangkan di Pulau Untung Jawa tidak ditemukan. Menurut Rizali et al. (2006) spesies ini ditemukan beraktivitas di permukaan tanah dan serasah, dan hasil penelitian ini menunjukkan keberadaan A. graeffei dipengaruhi ketersediaan serasah di suatu pulau dengan tidak ditemukkannya spesies ini di Pulau Untung Jawa yang memiliki serasah lebih rendah dari Pulau Bokor dan Pulau Rambut.
Spesies Ponera sp.01 merupakan rare species pada penelitian ini disebabkan spesies ini memiliki jumlah individu terendah walaupun spesies P. parallela juga menunjukkan jumlah terendah, namun berdasarkan penelitian Rizali et al. (2006) spesies dari genus. Spesies Ponera hanya ditemukan di Pulau Rambut dari 18 pulau yang diteliti, sedangkan P. parallela ditemukan pada beberapa pulau.
24
(2000) dan Hashimoto (2003). keberadaan sisa lapukan kayu atau serasah tanaman dapat menjadi sarang bagi spesies O. similimus.
Tingkat kemiripan komposisi spesies dan keanekaragaman semut antar Pulau Bokor, Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa.
Pulau Bokor dan Pulau Rambut memiliki kemiripan komposisi spesies 78%, dan jika dibandingkan dengan kemiripan komposisi spesies antara Pulau Bokor dan Pulau Untung Jawa yang hanya 72%, maka Pulau Bokor dan Pulau Rambut memiliki kemiripan komposisi spesies lebih tinggi dari Pulau Bokor dan Pulau Untung Jawa. Faktor tersebut disebabkan kemiripan tipe habitat antara Pulau Bokor dan Pulau Rambut, yang memiliki habitat hutan (daerah bervegetasi) lebih luas, dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa. Selain itu, masih terbatasnya aktivitas manusia di kedua pulau dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa.
Komposisi spesies antara Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa memiliki kemiripan spesies 86%, dan jika dibandingkan dengan kemiripan komposisi spesies antara Pulau Bokor dan Pulau Untung Jawa yang hanya 72%, maka Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa memiliki kemiripan komposisi lebih tinggi dari Pulau Bokor dan Pulau Rambut. Hasil ini disebabkan pengaruh dari dekatnya jarak antara Pulau Untung Jawa dengan Pulau Rambut, yang memungkinkan aktivitas manusia di Pulau Rambut, selain itu jarak antara Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut lebih dekat dengan mainland (Pulau Jawa), yang memungkinkan keberadaan spesies yang sama dengan sumber tersebut, misalnya A. gracilipes dan D. thoracicus ditemukan pada penelitian Ito et al.(2001) di Pulau Jawa.
Pulau Rambut memiliki jumlah spesies lebih rendah dari Pulau Untung Jawa, namun lebih tinggi dari Pulau Bokor. Spesies Ponera sp.01 merupakan spesies yang hanya ditemukan di Pulau Rambut, spesies ini tergolong kelompok predator, hal ini sangat dimungkinkan karena Pulau Rambut memiliki tanah yang mengandung bahan organik tinggi (Lampiran Tabel 6), yang berasal dari kotoran burung dan serasah, menyebabkan melimpahnya keanekaragaman mikroganisme di tanah dan serangga yang hidup didalam tanah, seperti Collembola. Selain itu spesies predator lainnya O. similimus memiliki jumlah individu tertinggi, hal tersebut dimungkinkan karena spesies ini umumnya bersarang pada kayu yang sudah melapuk di tanah (Brown 2000), dan kondisi habitat tersebut banyak ditemukan di Pulau Rambut.
Pulau Bokor merupakan pulau yang memiliki jumlah spesies terkecil dari ketiga pulau (25 Spesies). Di Pulau Bokor Pheidole sp.01 merupakan jumlah spesies yang dominan, dan beberapa spesies tidak ditemukan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut yakni Hypoponera sp.03, Pheidole sp.02, sedangan Pheidole sp.03 hanya ditemukan di Pulau Bokor. Spesies dari genus Hypoponera merupakan predator khusus bagi Collembola, sedangkan genus Pheidole merupakan predator yang bersifat generalized foragers dan beberapa spesies merupakan omnivor (Brown 2000; Hashimoto 2003). Keberadaan spesies dari genus Hypoponera dan Pheidole yang dominan, menunjukkan banyak kandungan bahan organik di tanah yang merupakan habitat dari kedua spesies ini.
26
Pulau Bokor merupakan pulau yang memiliki intensitas gangguan habitat lebih rendah dari pulau lannya, memiliki keanekaragaman tertinggi jika dibandingkan dengan Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa. Beberapa faktor yang memengaruhi perbedaan tersebut yakni, masih terbatasnya aktivitas manusia (frekuensi kehadiran manusia) di Pulau Bokor, sehingga habitat hutan tidak beralih fungsi menjadi habitat lainnya. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan manusia memengaruhi keanekaragaman semut (Suarez et al.1998; Gibb & Hochli 2003; Hill et al. 2003), dan menurut Torres & Snelling (1997), keanekaragamaan habitat merupakan informasi terbaik dalam memprediksi kekayaan dan keanekeragaman spesies di suatu kepulauan.
Keanekaragaman berdasarkan metode dan waktu pengambilan contoh.
Metode dan waktu pengambilan contoh menentukan informasi keanekaragaman semut di Kepulauan Seribu. Pada penelitian ini metode pitfall trap merupakan cara yang efektif dibandingkan menggunakan winkler. Beberapa faktor yang menentukan adalah umumnya aktivitas semut berada di permukaan tanah, walaupun ada yang beraktivitas di dalam tanah dan tumbuhan, sedangkan penggunaan winkler sangat dipengaruhi oleh ketebalan serasah. Berdasarkan pengamatan di Pulau Bokor dan Rambut, memiliki lapisan serasah lebih tebal dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa.
Kesimpulan
IMPLIKASI KEBERADAAN SEMUT INVASIF TERHADAP
STRUKTUR KOMUNITAS SEMUT LOKAL
DI KEPULAUAN SERIBU
Pendahuluan
Keberadaan spesies semut invasif pada suatu pulau dapat disebabkan oleh perantara manusia. Menurut McGlynn (1999) manusia berperan dalam mendistribusikan spesies invasif ke suatu daerah, termasuk ke suatu daerah kepulauan. Spesies invasif secara umum dapat berada di daerah kepulauan, yang banyak mengalami intensitas gangguan manusia (Hölldobler & Wilson 1990; Schultz & McGlynn 2000).
Struktur komunitas semut lokal di suatu wilayah, terutama di daerah kepulauan dipengaruhi oleh keberadaan spesies invasif. Faktor yang berpengaruh adalah, kemampuan beradaptasi semut invasif terhadap intensitas gangguan manusia (Gibb & Hochuli 2003; Mikheyev & Solomon 2005), serta kemampuan spesies semut invasif untuk berada dan membuat sarang di sekitar struktur yang dibuat oleh manusia (Schultz & McGlynn 2000).
Spesies semut invasif memengaruhi keanekaragaman semut lokal (Holway et al. 2002; Donlan & Wilcox 2008), diantaranya spesies Hypoponera opaciceps, Solanopsis papuana dan Linepithema humile di Kepulauan Hawaii (Cole et al. 1992; Holway et al. 2002; Suarez et al. 1998; Gotelli & Arnett 2000), dan spesies invasif Pheidole megacephala dan Anoplolepis gracilipes di Pulau Yasawa Kepulauan Fiji (Ward & Beggs 2007). Pengaruh lainnya dari keberadaan spesies invasif menyebabkan terjadinya homogenisasi biotik dan kepunahan spesies semut lokal di suatu kepulauan (Holway et al. 2002; Holway & Suarez 2006).
dikarenakan kemampuan semut invasif untuk menghasilkan jumlah anggota koloni yang besar, sehingga dapat menguasai sumberdaya ruang dan makanan.
Penelitian tentang keberadaan spesies invasif telah diinformasikan oleh Rizali et al. (2006), yang menemukan spesies semut invasif A. gracilipes, P. longicornis, dan S. geminata di Kepulauan Seribu. Selain itu, keberadaan spesies invasif tersebut disebabkan adanya aktivitas manusia di Kepulauan Seribu, namun penelitian Rizali et al. (2006) tidak memberikan informasi tentang implikasi keberadaan sepesies invasif di Kepulauan Seribu, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi keberadaan spesies semut invasif terhadap struktur komunitas semut lokal di kepulauan Seribu.
Bahan dan Metode
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian lapangan dilaksanakan pada tiga pulau di Kepulauan Seribu dengan tipe habitat dan karakteristik pulau yang berbeda, yakni; (1) Pulau Untung Jawa (pulau yang banyak mengalami gangguan habitat dengan luas 39,12 ha), (2) Pulau Rambut (pulau yang belum banyak mengalami gangguan dan habitatnya sesuai bagi burung dengan luas pulau 45,80 ha), dan (3) Pulau Bokor (pulau yang belum banyak mengalami gangguan habitat dengan luas pulau 16,34 ha). Ketiga pulau berada antara 106020 – 106050’ BT dan 05020 – 06000’ LS.
Penelitian laboratorium meliputi Sortasi (pemilahan) dan identifikasi spesimen semut dilaksanakan di Laboratorium PEKA Indonesia.
Pengambilan contoh semut invasif
Spesies yang dikategorikan sebagai spesies invasif pada penelitian ini, mengacu pada informasi penelitian terdahulu (Rizali et al. 2006; McGlynn 1999) dan Global Invasive Database yang dikeluarkan oleh Invasif Spesialist Species Group International of the International Union for Conservation of Nature (ISSG IUCN 2008) yakni spesies S. geminata, A. gracilipes, dan P. longicornis.
30
berukuran 5 m x 5 m. Jarak antar plot di dalam satu pulau berjarak minimal 75 m. Metode koleksi semut dengan pemasangan perangkap pitfall trap dilakukan selama dua hari dan pengambilan serasah dengan luas 1 m x 1 m. Contoh semut yang diperoleh ditempatkan dalam botol film yang berisi alkohol 70%, yang selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk sortasi dan identifikasi.
Analisis Data
Data dianalisis berdasarkan perbedaan komposisi spesies pada plot yang tidak memiliki spesies invasif dengan plot yang memilikinya di ketiga pulau, dan antar plot di setiap pulau. Pengaruh keberadan spesies invasif digunakan analisis multidimensional scalling (MDS) dan analisis ragam dengan Uji Tuckey.
Hasil
Spesies invasif P. longicornis,S. geminata ditemukan di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa, sedangkan spesies invasif A. gracilipes tidak ditemukan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut (Tabel 7). Data ketiga pulau menunjukkan keberadaan spesies invasif mengubah komposisi spesies lokal disuatu habitat. Selain itu pada plot yang tidak ditemukan spesies invasif tampak Pheidole sp.01, O. similimus, dan T. walshi, merupakan spesies yang memiliki komposisi tertinggi, namun keberadaan spesies invasif pada plot mengubah komposisi spesies semut, sehingga didominasi oleh I. anceps, A. gracilipes, T. walshi, S. geminata dan P. longicornis, namunkeberadaan I. anceps pada data ini sangat dominan disebabkan letak plot di Pulau Untung Jawa berada di daerah sarang spesies I. anceps (Gambar 10).
Tabel 7 Jenis, jumlah individu, dan jumlah plot yang ditemukan semut invasif
Pulau
Bokor Rambut Untung Jawa
No Spesies
N P N P N P Total
1 Anoplolepis gracilipes 0 0/16 0 0/17 5772 18/25 5772
2 Paratrechina longicornis 245 15/16 976 16/17 2237 25/25 3458
3 Solenopsis geminata 43 10/16 112 15/17 4029 22/25 4184
Jumlah 288 1008 12.038
Iridomyrmex
Gambar 10 Perbandingan komposisi spesies ketiga pulau pada plot yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b).
Komposisi semut pada plot di Pulau Bokor yang memiliki spesies invasif didominasi oleh spesies Pheidole sp.01, dan O. similimus serta spesies invasif P. longicornis, sedangkan spesies yang dominan pada plot yang tidak memiliki spesies invasif yakni Pheidole sp.01, O. similimus dan T. walshi (Gambar 11).
(a)
32
Gambar 11 Perbandingan komposisi spesies di Pulau Bokor pada plot yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b).
Komposisi spesies di Pulau Rambut, menunjukkan pada plot yang memiliki spesies invasif didominasi oleh spesies P. longicornis, O. similimus, dan Pheidole sp.01, sedangkan spesies yang dominan pada plot yang tidak memiliki spesies invasif yakni O. similimus, T. walshi, dan Pheidole sp.01. Spesies invasif P. longicornis merupakan spesies yang dominan di Pulau Rambut (Gambar 12).
(a)
Pheidole sp.01
Gambar 12 Perbandingan komposisi spesies di Pulau Rambut pada plot yang memiliki spesies invasif (a) dan plot yang tidak memiliki spesies invasif (b).
Komposisi spesies semut pada plot di Pulau Untung Jawa yang tidak memiliki spesies invasif dengan plot yang memiliki spesies invasif tidak dapat dibandingkan, karena seluruh plot terdapat satu atau lebih spesies invasif.
(a)
34
Keberadaan spesies S. geminata. Keberadaan spesies ini di Pulau Bokor, berdasarkan hasil analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada nilai kekayaan spesies (S), indeks keanekaragaman Shannon (H), indeks kemerataan (E), dan indeks Simpson (1/D) (S : F1,14= 1,15, p = 0,31; H : F1,14= 0,0002, p = 0,99; E : F1,14 = 0,35, p = 0,56 ; dan 1/D : F1,14 = 0,18, p = 0,68) (Gambar 13), sedangkan di Pulau Rambut berdasarkan hasil analisis statistik juga menunjukkan tidak terjadi perbedaan (S : F1,15= 0,39, p = 0,54; H : F1,15 =2,91, p = 0,11; E : F1,15 = 1,93, p = 0,184 dan 1/D : F1,15 = 0,95, p = 0,34) (Gambar 14). Keberadaan spesies S. geminata menunjukkan pengaruhnya di Pulau Untung Jawa, yakni berdasarkan hasil analisis statistik, keberadaan spesies invasif ini memengaruhi nilai indeks kemerataan spesies dan keanekaragaman berdasarkan indeks simpson (E : F1,23 = 5,46, p = 0,028 dan 1/D : F1,23 = 6,31, p = 0,02), walaupun tidak menunjukkan perbedaan nilai kekayaan spesies, dan keanekaragaman berdasarkan indeks Shannon (S: F1,23= 1,94, p = 0,18; H : F1,23 = 3,54, p = 0,07) (Gambar 15).
Gambar 14 Nilai rata-rata kekayaan spesies (a), keanekaragaman Shannon (b), keanekaragaman Simpson (c), dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Rambut (a: ada dan TA: tidak ada).
36
-1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00
Dim 1
-1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00
Dim 1
-1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00
Dim 1
Di
m
2
stress: 0,20
Berdasarkan analisis MDS tidak terdapat hubungan antara keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Bokor dan Rambut, namun terdapat hubungan antara keberadaan spesies invasif dengan komposisi spesies di Pulau Untung Jawa, yang ditunjukkan dengan pemisahan antara plot yang memiliki spesies invasif dengan plot yang tidak memiliki spesies invasif (Gambar 16).
Gambar 16 MDS komposisi spesies semut invasif S. geminata berdasarkan indeks kemiripan Sorensen antar plot di Pulau Bokor (a), Pulau Rambut (b), dan Pulau Untung Jawa (c).
Keberadaan spesies A. gracilipes. Spesies ini hanya ditemukan di Pulau Untung Jawa. Keberadaan spesies ini di Pulau Untung Jawa berdasarkan hasil analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada nilai kekayaan spesies (S: F1,23= 0,31, p = 0,59), keanekaragaman berdasarkan indeks Shannon
(a) (b)
(c)
Keterangan:
Ì = Terdapat S. geminata
dan indeks Simpson (H: F1,23 = 0,77; p = 0,39 dan 1/D: F1,23 = 2,79; p = 0,11) serta nilai kemerataan (E : F1,23 = 1,15; p = 0,029) (Gambar 17).
Nilai rata-rata kekayaan spesies lebih tinggi ketika spesies ini berada di suatu plot, namun nilai keanekaragaman berdasarkan indeks Shannon (H) dan indeks Simpson (1/D) serta indeks kemerataan (E) menunjukkan nilai rata-rata lebih rendah daripada ketika spesies ini berada dalam satu plot.
Gambar 17 Nilai rata-rata kekayaan spesies (a); keanekaragaman Shannon (b); keanekaragaman Simpson (c); dan kemerataan (d) berdasarkan keberadaan spesies invasif A. gracilipes di Pulau Untung Jawa (A: ada dan TA: tidak ada).
Keberadaan spesies P. longicornis. Spesies ini ditemukan diseluruh plot yang ada di Pulau Untung Jawa, sedangkan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut, spesies ini hanya ditemukan pada plot ke-8, dan di Pulau Rambut hanya pada plot ke-16. Faktor ini menyebabkan data tidak dapat dianalisis dengan analisis ragam, namun dapat digambarkan bahwa keberadaan spesies P. longicornis di Pulau Bokor memiliki nilai keanekaragaman Simpson dan kemerataan lebih rendah jika spesies ini tidak berada disuatu plot, namun tidak pada nilai keanekaragaman
38
Shannon. Demikian pula, di Pulau Rambut nilai keanekaragaman Shannon, Simpson dan kemerataan lebih rendah jika spesies ini berada di plot.
Perbedaan nilai keanekaragaman berdasakan waktu pengambilan contoh.
Hasil analisis berdasarkan nilai keanekaragaman Shannon dan Simpson, pada plot yang ditemukan spesies invasif dan plot yang tidak ditemukan spesies invasif menunjukkan perbedaan nilai keanekaragaman pada bulan pertama dan bulan ketiga pengambilan contoh semut, namun menunjukkan nilai keanekaragaman yang relatif sama pada bulan kedua (Gambar 18).
Gambar 18 Perbandingan nilai indeks keanekaragaman Shannon (a) dan Simpson (b) antar plot pada ketiga pulau berdasarkan waktu pengambilan contoh.
Pembahasan
Implikasi keberadaan spesies invasif di Kepulauan Seribu, tergambar dari tingginya jumlah individu yang ditemukan pada saat pengambilan contoh dan perubahan nilai keanekaragaman pada daerah yang diinvasi, disebabkan kemampuan semut invasif dalam melakukan kolonisasi di suatu habitat. Keberadaan spesies invasif dapat menyebabkan terjadinya homogenisasi biotik atau penggantian spesies lokal oleh spesies pendatang yang dapat co-exist dengan gangguan manusia (McKinney & Lockwood 2001; Olden et al.2004; Holway & Suarez 2006; Ward & Beggs 2007).
Nilai keanekaragaman di Pulau Bokor yang mewakili pulau yang masih relatif tidak terganggu lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa yang banyak mengalami gangguan habitat akibat adanya aktivitas manusia. Informasi hasil penelitian Holway & Suarez (2006) menunjukkan hal yang sama, yakni spesies invasif L. humile menyebabkan hilangnya beberapa spesies lokal, rendahnya nilai keanekaragaman daerah yang diinvasi, dan terjadinya homogenisasi spesies invasif di pesisir California yang merupakan daerah urban.
Keberadaan spesies invasif berdasarkan waktu pengambilan contoh memberikan informasi nilai keanekaragaman yang relatif sama, hal ini disebabkan keberadaan spesies invasif dalam melakukan penguasaan ruang mengganggu pergerakan semut permukaan tanah masuk ke suatu daerah, sedangkan pada plot yang tidak memiliki spesies invasif, menunjukkan nilai keanekaragaman berubah, hal ini disebabkan spesies semut lokal yang ditemukan umumnya memiliki perilaku mencari makanan dari berbagai sumber (generalized forages), dan perantara bagi penyebaran benih (granivore) sehingga dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Menurut Holway et al. (2002) spesies invasif memiliki kemampuan dalam melakukan penguasaan ruang atau habitat.
Implikasi keberadaan spesies invasif S. geminata
Hasil penelitian menunjukkan spesies S. geminata merupakan spesies yang mampu beradaptasi dan menyebar luas pada berbagai kondisi habitat, baik habitat alam maupun habitat yang mengalami intensitas gangguan manusia yang tinggi, namun menurut Ness & Bronstein (2004) walaupun spesies ini dapat menyebar secara luas, habitat yang sesuai dengan spesies ini pada daerah pemukiman, tepi hutan dan daerah pertanian.
40
Keberadaan spesies invasif S. geminata di Pulau Untung Jawa memberikan pengaruh terhadap komposisi spesies, yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan antara plot yang diinvasi oleh S. geminata dengan plot yang tidak diinvasi. Hal ini dikarenakan S. geminata memiliki kemampuan menghasilkan kasta pekerja yang lebih banyak, polymorphic (berbagai bentuk morfologi), dan dapat bergabung dengan koloni yang berasal dari koloni lainnya, serta memiliki kemampuan agresifitas fisik dalam berinteraksi dengan komunitas semut lainnya (Hölldobler & Wilson 1990; Holway et al. 2002)
Implikasi keberadaan spesies invasif A. gracilipes
Pada penelitian ini A. gracilipes hanya ditemukan di Pulau Untung Jawa, dan koloni semut umumnya ditemukan di plot yang telah termodifikasi menjadi daerah pemukiman dan pertanian (Lampiran Tabel 7). Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Bos et al. (2008) yang menunjukkan terdapat spesies invasif A. gracilipes pada budidaya tanaman kakao dengan sistem agroforestri. Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan keberlanjutan koloni A. gracilipes dipengaruhi oleh kehadiran serangga lainnya di tanaman budidaya kakao Papua New Guinea (Holway et al. 2002).
Hasil penelitian ini menunjukkan, aktivitas manusia dalam pegelolaan habitat menentukan kemampuan spesies invasif A. gracilipes beradaptasi dan mendominasi suatu ruang dibandingkan dengan komunitas semut lainnya. Menurut Holway et al. (2002) spesies invasif A. gracilipes dalam melakukan mekanisme penguasaan ruang menggunakan senyawa kima dari tubuhnya, memiliki agresifitas fisik, beraktivitas siang dan malam hari, serta mampu bergabung dengan koloni A. gracilipes dari tempat lainnya.
Implikasi keberadaan spesies invasif P. longicornis
Menurut McGlynn (1999) dan Brown (2000) P. longicornis memiliki kemampuan penyebaran sangat baik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi habitat. Spesies invasif P. longicornis merupakan omnivor, mengkonsumsi serangga yang hidup atau mati, embun madu, buah, dan eksudat tanaman serta beberapa makanan yang ada di perumahan, spesies ini dapat membentuk koloni dengan cepat disuatu area yang baru diinvasi (ISSG IUCN 2008).
Kesimpulan
PEMBAHASAN UMUM
Kekayaan spesies di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa pada penelitian ini terdiri atas 4 subfamili, 21 genus, dan 35 spesies, sedangkan penelitian Rizali et al. (2006) menginformasikan kekayaan spesies ketiga pulau terdiri atas 5 subfamili, 26 genus, dan 45 spesies. Penelitian Rizali et al. (2006), menggunakan metode koleksi intensif, sehingga contoh semut dapat diperoleh dari berbagai relung yang ada, sedangkan penelitian ini menggunakan pitfall trap dan winkler yang hanya efektif memperoleh contoh semut di permukaan tanah dan serasah. Jadi, faktor yang memengaruhi perbedaan hasil disebabkan oleh metode pengambilan contoh.
Perbedaan waktu pengambilan contoh, juga memengaruhi kekayaan spesies semut. Pada penelitian Rizali et al. (2006) pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali pengambilan, sedangkan pada penelitian ini dilakukan selama tiga kali pengambilan contoh, sehingga terdapat contoh semut yang tidak ditemukan Rizali et al. (2006), misalnya Crematogaster difformis di Pulau Bokor dan Pulau Untung Jawa, serta Polyrachis arcuata di Pulau Rambut. Sehingga, waktu pengambilan contoh yang dilakukan beberapa kali, berpeluang memperoleh contoh semut yang baru di Kepulauan Seribu.
Pulau Jawa (Ito et al. 2001) dan ditemukan pula di Pulau Untung Jawa (Rizali et al. 2006), namun tidak ditemukan di Pulau Bokor.
Perbedaan tipe habitat memengaruhi struktur dan komposisi spesies di suatu pulau. Pada Pulau Bokor komposisi spesies didominasi spesies Pheidole sp.01, Paratrechina longicornis, dan Odontomachus similimus. Demikian pula, di Pulau Rambut spesies Pheidole sp.01, P. longicornis, dan O. similimus juga mendominasi komposisi spesies. Namun, hasil yang berbeda ditunjukkan pada Pulau Untung Jawa, komposisi spesies didominasi Iridomyrmex anceps, Anoplolepis gracilipes, dan Solenopsis geminata. Berdasarkan hasil ini, maka perbedaan spesies yang mendominasi di ketiga pulau dipengaruhi oleh perbedaan tipe habitat, yakni luasan vegetasi di suatu pulau memengaruhi komposisi spesies semut di kepulauan.
Pengaruh jarak dan luas terhadap komposisi spesies semut juga tampak pada hasil penelitian ini, dimana Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut yang memiliki luas yang lebih besar dan jarak yang lebih dekat dengan mainland, memiliki kemiripan spesies yang tinggi. Beberapa spesies ditemukan di Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut, namun tidak ditemukan di Pulau Bokor, misalnya spesies Tetramorium smithi. Demikian pula, hasil penelitian Rizali et al. (2001), juga menemukan keberadaan spesies T. smithi di Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut, namun tidak menemukannya di Pulau Bokor. Jadi, kemiripan komposisi spesies dipengaruhi oleh jarak (isolasi) dan luas pulau.
44
Intensitas gangguan manusia atau frekuensi kehadiran manusia di suatu pulau menyebabkan terbawanya spesies semut dari suatu pulau ke pulau lainnya. Hal itu tampak, pada keberadaan spesies invasif di tiga pulau pada penelitian ini, dimana ditemukan 3 spesies invasif di Pulau Untung Jawa yang memiliki intensitas gangguan tertinggi, dan hanya ditemukan 2 spesies invasif di Pulau Bokor dan Pulau Rambut yang memiliki intensitas gangguan manusianya rendah. Menurut Hölldobler & Wilson (1990) dan Schultz & McGlynn (2000) spesies invasif secara umum dapat berada di daerah kepulauan, yang banyak mengalami intensitas gangguan manusia, sedangkan menurut Rizali et al. (2006) meningkatkannya frekuensi manusia ke suatu pulau, menyebabkan terbawanya spesies eksotik (pendatang) di Kepulauan Seribu.
Struktur komunitas semut lokal di Pulau Bokor dan Pulau Rambut tidak dipengaruhi oleh keberadaan spesies S. geminata, dikarenakan rendahnya kemampuan beradaptasi dan menyebar, serta disebabkan kondisi habitat tidak mendukung keberadaaan spesies tersebut. Menurut Lomolino (2000) karakteristik pulau dan gangguan habitat yang ada pada suatu pulau dapat memengaruhi adaptasi dan penyebaran spesies invasif. Selain itu, kelimpahan S. geminata dipengaruhi oleh intensitas cahaya di suatu habitat (Perfecto & Vandermeer 1996). Jadi, Pulau Bokor dan Rambut yang memiliki naungan (tutupan lahan oleh vegetasi) lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa, menghambat penyebaran dari spesies invasif S. geminata
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan, serta dikaitkan dengan pustaka, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Struktur komunitas semut di Kepulauan Seribu (Pulau Untung Jawa, Pulau Bokor, dan Pulau Rambut) terdiri atas 68.787 individu, 4 subfamili dan 35 spesies, sedangkan spesies I. anceps, A. gracilipes. S. geminata merupakan spesies yang memiliki jumlah individu tertinggi.
2. Kekayaan spesies dan perbedaan komposisi spesies antar pulau disebabkan jarak, luas, tipe habitat, dan intensitas gangguan manusia.
3. Spesies invasif P. longicornis, S. geminata, ditemukan di tiga pulau, sedangkan A. gracilipes hanya ditemukan di Pulau Untung Jawa.
4. Implikasi keberadaan spesies invasif menyebabkan penguasaan (pengambilalihan) ruang oleh spesies invasif, penurunan keanekaragaman spesies lokal, dan terjadinya homogenisasi biotik di Pulau Untung Jawa.
Saran
Hasil penelitian ini dapat dikembangkan, dengan melakukan pemantauan terhadap spesies invasif, terutama A. gracilipes yang sejak tahun 2005 belum ditemukan keberadaan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut, serta impikasinya terhadap struktur komunitas arthropoda lainnya di Pulau Untung Jawa.