(Studi Empiris pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten)
THE INFLUENCE OF TAXPAYER AWARENESS, TAXPAYER
ENVIRONMENT, TAXPAYER RELIGIOSITY AND EXPEDIENCY TAX ID
NUMBER ON TAXPAYERS COMPLIANCE
(Empirical Study on Individual Taxpayers Registered in Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Klaten)
Disusun Oleh:
LADY AYU ANGGRAENI 20130420408
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
(Studi Empiris pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten)
THE INFLUENCE OF TAXPAYER AWARENESS, TAXPAYER
ENVIRONMENT, TAXPAYER RELIGIOSITY AND EXPEDIENCY TAX ID
NUMBER ON TAXPAYERS COMPLIANCE
(Empirical Study on Individual Taxpayers Registered in Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Klaten)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh
Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh:
LADY AYU ANGGRAENI 20130420408
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
(HR.Turmudzi)
“Allah akan meninggikan orang
-orang yang beriman diantara kamu dan
orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu
kerjakan” (Q.S Al
-Mujadillah: 11)
“Dan orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling
baik akhlaknya”
(HR.Ahmad)
“Sebaik
-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya
” (HR.
Thabrani)
“Jika kamu berbuat baik (berarti)
kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika
kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (Q.S Al
-Isra: 7)
“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang
-orang yang
berbuat baik”
(QS. Al-Baqarah: 195)
“Sesungguhnya
bersama kesukaran itu ada keringanan. Karena itu bila kau
sudah selesai (mengerjakan yang lain). Dan berharaplah kepada Tuhanmu” (Q.S
Al Insyirah: 6-8)
“
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai
kabar gembira bagi kemenanganmu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan
kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Tiada yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selain engkau Allah SWT.
Taburan cinta dan kasih sayang-Mu telah memberikan kekuatan, membekaliku
dengan ilmu serta memperkenalkanku dengan cinta. Atas karunia serta
kemudahan yang engkau berikan akhirnya saya bisa menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini ku persembahkan untuk:
Kedua orang tuaku, mama dan papa yang selalu mengiringi setiap langkahku
dengan doa dan kasih sayang yang tiada henti-hentinya. Terimakasih atas
dukungan moril dan materiil yang diberikan kepadaku.
Adikku yang senantiasa memberikan dukungan, semangat, dan doa untuk
keberhasilan skripsi ini.
Untuk segenap keluarga besar yang selalu memberikan semangat dan
motivasi untuk kelancaran skripsi ini.
Bapak dan Ibu dosen UMY yang selama ini dengan ikhlas meluangkan
waktu untuk menuntun dan mengarahkanku, memberikan pelajaran yang
tiada ternilai harganya. Terimakasih banyak Bapak dan Ibu dosen jasa
kalian tak akan terlupakan.
Terimakasih untuk dosen pembimbing skripsiku Bapak Afrizal Tahar, S.H.,
S.E., M.Acc., Ak., CA yang telah memberikan bimbingan, saran, serta
masukan dalam penyusunan skripsi ini sehingga menjadi sebuah skripsi yang
lebih baik.
Untuk teman-teman kos aku Wisma Dentisia yang selalu memberikan
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
INTISARI ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah Penelitian ... 10
C.Rumusan Masalah ... 11
D.Tujuan Penelitian ... 11
E. Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
5. Wajib Pajak ... 23
6. Kesadaran Wajib Pajak ... 25
7. Lingkungan Wajib Pajak ... 26
8. Sikap Religiusitas Wajib Pajak ... 27
9. Kemanfaatan NPWP ... 29
10.Kepatuhan Wajib Pajak ... 31
B.Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis ... 35
1. Kesadaran Wajib Pajak dan KepatuhanWajib Pajak ... 35
2. Lingkungan Wajib Pajak dan Kepatuhan Wajib Pajak ... 36
3. Sikap Religiusitas dan Kepatuhan Wajib Pajak ... 37
4. Kemanfaatan NPWP dan Kepatuhan Wajib Pajak ... 38
C.Model Penelitian ... 40
BAB III METODE PENELITIAN ... 41
A.Objek dan Subjek Penelitian ... 41
B. Jenis Data ... 41
C.Teknik Pengambilan Sampel ... 42
D.Teknik Pengumpulan Data ... 42
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 43
1. Variabel Independen ... 43
a. Kesadaran Wajib Pajak ... 43
b. Lingkungan Wajib Pajak ... 43
c. Sikap Religiusitas Wajib Pajak ... 44
d. Kemanfaatan NPWP ... 44
2. Variabel Dependen ... 44
F. Analisis Data ... 45
1. Uji Kualitas Data ... 45
a. Uji Validitas ... 45
c. Uji Multikolinearitas ... 47
3. Uji Hipotesis dan Analisis Data ... 48
a. Regresi Linier Berganda ... 48
b. Uji t (Uji Parsial) ... 49
c. Uji F (Uji Simultan) ... 49
d. Uji Koefisien Determinasi ... 49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51
A.Gambaran Umum Objek Penelitian ... 51
B.Analisis Karakteristik Responden ... 52
C.Statistik Deskriptif ... 55
D.Uji Kualitas Data ... 56
E. Uji Asumsi Klasik ... 58
F. Analisis Regresi Linier Berganda ... 61
G.Uji Parsial (Uji t) ... 63
H.Uji Simultan (Uji F) ... 66
I. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 66
J. Pembahasan ... 67
BAB V SIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN ... 74
A. Simpulan ... 74
B. Keterbatasan Penelitian ... 76
C. Saran ... 77
DAFTAR PUSTAKA
4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 52
4.2 Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 53
4.3 Responden Berdasarkan Usia ... 53
4.4 Responden Berdasarkan Lama Bekerja ... 54
4.5 Statistik Deskriptif ... 55
4.6 Hasil Uji Validitas ... 56
4.7 Hasil Uji Reliabilitas ... 58
4.8 Hasil Uji Normalitas ... 59
4.9 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 59
4.10 Hasil Uji Multikolinearitas ... 61
4.11 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 62
4.12 Hasil Uji Hipotesis (Uji t) ... 63
4.13 Hasil Uji Simultan (Uji F) ... 66
6.2 Tabulasi Data ... 92
6.3 Hasil Uji Regresi ... 96
6.4 Tabel r ... 107
6.5 Tabel F ... 112
6.6 Surat Ijin Penelitian ... 118
yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten. Penelitian ini menguji faktor-faktor pada kepatuhan Wajib Pajak mulai dari kesadaran Wajib Pajak, lingkungan Wajib Pajak, sikap religiusitas Wajib Pajak, dan kemanfaatan NPWP. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan media kuesioner. Kuesioner diberikan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling
sebanyak 113 kuesioner yang dibagikan dan 100 kuesioner yang sempurna dan dapat diolah. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran Wajib Pajak, sikap religiusitas Wajib Pajak, dan kemanfaatan NPWP berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak, sedangkan lingkungan Wajib Pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Kata Kunci : Kepatuhan Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak, Lingkungan Wajib
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten. This research tests the factors on the taxpayer’s compliance from the taxpayer’s awareness, taxpayer’s environment, taxpayer’s attitudes of religiosity and expediency of tax ID number. The data collection in this research uses questionnaire. The questionnaire was distributed to individual taxpayers in Kantor Pelayanan Pajak Pratama Klaten. The sampling technique uses convenience sampling with 113 questionnaires distributed and 100 perfect questionnaires and can be processed. The collected data is processed by using multiple linear regression analysis. The result of this research shows that the taxpayer’s awareness, taxpayer’s attitudes of religiosity and expediency of tax ID number give positive influence on taxpayer’s compliance. On the other hand, the taxpayer’s environment has no influence on taxpayer’s compliance.
Keywords : Taxpayer’s compliance, Taxpayer’s awareness, Taxpayer’s
environment, Taxpayer’s attitudes of religiosity, Expediency of tax
A.Latar Belakang
Pembangunan nasional dalam suatu negara sangatlah diperlukan,
sehingga diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu
tujuan pemerintah negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan
Undang-undang Dasar 1945 adalah untuk memajukan kesejahteraan umum.
Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia yang dapat diwujudkan dengan
menjalankan pemerintahan yang baik dan melaksanakan pembangunan di
segala bidang, tentunya dengan didukung oleh sumber pembiayaan yang
memadai.
Salah satu sumber pembiayaan negara adalah pajak, dimana pajak
merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan nasional. Sumber
penerimaan negara di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) berasal dari pajak yang dikelola oleh pemerintah pusat, sedangkan
sumber penerimaan daerah di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) berasal pajak yang dikelola oleh pemerintah daerah (Marjan, 2014).
Semakin besar pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk pembangunan
Menurut Pasal 1 angka 1 UU No 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak merupakan kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Kewajiban membayar pajak juga tertuang dalam Q.S
At-Taubah ayat 29 yang artinya:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan
patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.
Saat ini peningkatan dari sektor pajak sebagai salah satu sumber
penerimaan negara yang masih sangat dimungkinkan dan memiliki peluang
yang sangat luas. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Wajib Pajak baik Wajib
Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan yang setiap tahunnya semakin
bertambah seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kesejahteraan
masyarakat (Aryobimo, 2012). Sebagian besar masyarakat masih memiliki
kesadaran Wajib Pajak yang rendah, sehingga hal ini dapat mengurangi
penerimaan pajak negara bahkan dapat merugikan negara.
Kasus salah seorang Wajib Pajak berinisial ZS menjadi salah satu bukti
bahwa kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar pajak di Indonesia masih
rendah. ZS merupakan penanggung pajak CV GSP yang terdaftar di KPP
tunggakan pajak dalam jumlah yang besar. Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
akhirnya melepaskan ZS dari Rumah Tahanan Negara kelas II A Pondok
Bambu Jakarta Timur. ZS dibebaskan karena telah membayar tunggakan
pajaknya lebih dari Rp 325 juta (Yudha dan Indrawan, 2015).
Kasus serupa juga dialami RY seorang pengusaha di bidang produksi
sepatu yang diserahkan ke Lembaga Permasyarakatan Bulak Kapal, Bekasi
oleh penyidik Kejaksaan Negeri Bekasi karena melakukan tindak pidana
perpajakan dengan kerugian negara sebesar Rp 1,6 miliar. Hal ini dilakukan
karena upaya DJP tidak membuahkan hasil (Warsono, 2015). Dua kasus
tersebut mengindikasikan bahwa kepatuhan Wajib Pajak di Indonesia masih
rendah. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti secara hukum, maka dapat
menghambat pembangunan nasional di Indonesia.
DJP Kementerian Keuangan menyampaikan kepatuhan Wajib Pajak
masih rendah. Hal tersebut tercermin dari tax ratio atau perbandingan antara jumlah pajak yang terhimpun dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi
penerimaan negara pada kuartal I 2016 hanya sebesar Rp 247,6 triliun atau
lebih rendah dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya Rp 284 triliun.
Realisasi tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan Rp 204,7 triliun dan
penerimaan negara bukan pajak Rp 42,8 triliun (Afriyadi, 2015).
Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Pajak Fuad
Rachmany yang mengatakan bahwa belum optimalnya penerimaan pajak di
Indonesia disebabkan oleh tiga hambatan, salah satunya adalah tingkat
membayar pajak masih sangat rendah. Fuad Rachmany menjelaskan bahwa
dari total 240 juta penduduk Indonesia, 110 juta adalah jumlah penduduk
Indonesia yang aktif bekerja, dari 110 juta pekerja, yang masuk dalam kategori
Wajib Pajak hanya berjumlah 60 juta karena pendapatannya dikenakan pajak.
Total 60 juta pekerja hanya 25 juta pekerja yang sudah membayar pajak
penghasilan sedangkan 35 juta masih bebas berkeliaran dan belum membayar
pajak, begitu juga dengan Wajib Pajak Badan (Syukro, 2013).
Penerimaan negara akan berkurang apabila Wajib Pajak tidak
menjalankan kewajibannya membayar pajak. Jika penerimaan pajak kecil,
maka pemerintah tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik karena
adanya kendala biaya dalam melaksanakan fungsi tersebut. Oleh karena itu,
DJP telah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan kepatuhan Wajib
Pajak, seperti sosialisasi, pendekatan persuasif, pelayanan yang lebih baik,
penegakan hukum, serta mengajak tokoh-tokoh bangsa dan masyarakat untuk
menjadi panutan dalam segara melaporan SPT Tahunan PPh-nya (Hadi, 2012).
Pemungutan pajak di Indonesia didasarkan atas Undang-undang Dasar
1945 Pasal 23A yang menyebutkan bahwa pajak dan pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur oleh undang-undang. Sistem
pemungutan pajak di Indonesia telah mengalami perubahan dari official
assessment system menjadi self assessment system sejak reformasi perpajakan
pada tahun 1983. Official assessment system merupakan suatu sistem
pemungutan pajak dimana yang menentukan besarnya pajak terutang adalah
sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk
menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang (Budileksmana, 2000).
Self assessment system ini memberi kemudahan dan kepercayaan
kepada Wajib Pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri
jumlah pajak terutang yang harus dibayarkan kepada otoritas perpajakan
(fiskus), oleh karena itu Wajib Pajak dituntut untuk berperan aktif dan positif
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Dalam hal ini DJP diharapkan
dapat memberikan upaya-upaya yang dapat mendukung peran aktif Wajib
Pajak, seperti melakukan penyuluhan secara intensif, pelayanan yang baik, dan
upaya penegakan hukum (Budileksmana, 2001). Rahmawati (2015)
berpendapat bahwa berdasarkan self assessment system ini Wajib Pajak wajib
mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak
sekaligus mendapatkan NPWP, dimana fungsi utama NPWP adalah untuk
memenuhi kewajiban perpajakan dan untuk keperluan yang berhubungan
dengan dokumen perpajakan.
Kemudahan self assessment system ini dimanfaatkan oleh Wajib Pajak
yang tidak bertanggungjawab untuk mengurangi kewajiban pajak terutang yang
seharusnya ia bayarkan, dari sinilah muncul masalah ketidakpatuhan Wajib
Pajak. Hal ini dikarenakan kesadaran Wajib Pajak untuk memenuhi
kewajibannya kepada negara masih rendah. Selain itu, Arestanti, dkk (2016)
berpendapat bahwa masih banyak Wajib Pajak yang tidak menghitung sendiri
menyetorkan pajak terutangnya dan ada juga Wajib Pajak yang melakukan
pelaporan namun bukan karena kesadaran Wajib Pajak melainkan karena
adanya denda. Rahmawati (2015) menyatakan bahwa masalah kepatuhan pajak
merupakan masalah klasik yang dihadapi di hampir semua negara yang
menerapkan sistem perpajakan. Kepatuhan perpajakan menjadi penting karena
ketidakpatuhan secara bersamaan akan menimbulkan upaya penghindaran
pajak, seperti tax evasion dan tax avoidance, yang mengakibatkan
berkurangnya penyetoran dana pajak ke kas negara, dimana tax evasion sendiri
dapat diartikan sebagai penghindaran pajak yang dilakukan dengan cara yang
ilegal, sedangkan tax avoidance merupakan penghindaran pajak dengan cara
yang legal.
Menurut Jotopurnomo dan Mangoting (2013) kepatuhan Wajib Pajak
dipengaruhi oleh dua jenis faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri Wajib Pajak sendiri dan
berhubungan dengan karakteristik individu yang menjadi pemicu dalam
menjalankan kewajiban perpajakannya, seperti faktor pendidikan, faktor
kesadaran perpajakan, faktor pemahaman terhadap undang-undang dan
peraturan perpajakan, dan faktor rasional. Berbeda dengan faktor internal,
faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri Wajib Pajak, seperti
situasi dan lingkungan di sekitar Wajib Pajak.
Usaha meningkatkan penerimaan negara di sektor pajak mempunyai
banyak kendala, antara lain tingkat kepatuhan Wajib Pajak yang masih rendah,
kecil dari yang seharusnya dan juga masih banyak Wajib Pajak yang tidak
melaporkan dan membayarkan pajaknya. Usaha memaksimalkan penerimaan
pajak tidak dapat hanya mengandalkan peran dari DJP maupun petugas pajak
saja, tetapi dibutuhkan peran aktif dari Wajib Pajak itu sendiri dimana Wajib
Pajak diharapkan memiliki kesadaran yang tinggi akan kewajiban
perpajakannya (Jotopurnomo dan Mangoting, 2013).
Kesadaran Wajib Pajak atas fungsi perpajakan sebagai pembiayaan
negara sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
(Jatmiko, 2006). Masyarakat harus sadar akan keberadaannya sebagai warga
negara yang selalu menjunjung tinggi Undang-undang Dasar 1945 sebagai
dasar hukum penyelenggaraan negara (Muliari dan Setiawan, 2011). Kesadaran
merupakan unsur dalam diri manusia untuk memahami realitas dan bagaimana
mereka bertindak atau bersikap terhadap realitas (Arum, 2012). Menurut
Rahmawati (2015) terdapat beberapa bentuk kesadaran membayar pajak yang
mendorong Wajib Pajak untuk membayar pajak. Pertama, kesadaran bahwa
pajak merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara.
Kedua, kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban
pajak sangat merugikan negara. Ketiga, kesadaran bahwa pajak ditetapkan
dengan undang-undang dan dapat dipaksakan.
Interaksi sosial erat kaitannya dengan lingkungan. Lingkungan
merupakan sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan
pengaruh tertentu kepada individu (Jotopurnomo dan Mangoting, 2013).
lingkungan yang tidak baik akan membawa dampak yang tidak baik pula bagi
individu, termasuk dalam hal perpajakan.
Pada umumnya semua agama memiliki tujuan yang sama yaitu
mengontrol perilaku yang baik dan menghambat perilaku yang buruk. Agama
diharapkan dapat memberi kontrol internal untuk pemantauan diri dalam
perilaku moral (Basri, 2014). Menurut Mohdali dan Pope (2010) religiusitas
merupakan tingkat keyakinan spiritual dalam diri Wajib Pajak yang
mempengaruhi perilaku untuk melakukan pembayaran pajak. Seseorang yang
memiliki religiusitas yang tinggi dapat mengontrol dirinya untuk tidak
melakukan penipuan pajak. Selain itu, dengan tingginya tingkat religiusitas
Wajib Pajak, maka dapat mencegah perilaku yang menyimpang.
Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP merupakan salah satu
kewajiban seorang Wajib Pajak apabila telah memenuhi persyaratan subjektif
dan objektif berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
(Masruroh, 2013). Saat ini, pemerintah telah mengeluarkan peraturan baru
dengan mewajibkan hampir semua sektor akan kepemilikan NPWP. Hal ini
membuat Wajib Pajak semakin sulit untuk mengindar dari kewajiban memiliki
NPWP. Jika Wajib Pajak ingin menjalankan usaha atau pekerjaan bebas maka
Wajib Pajak tersebut harus memiliki NPWP, karena NPWP tersebut menjadi
salah salah satu syarat administratif untuk memperoleh izin usaha. Tetapi,
beberapa Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP tetap dapat menjalankan
berarti bahwa perlu ditingkatkannya faktor kebutuhan akan kepemilikan NPWP
dengan kepentingan usaha Wajib Pajak (Rahmawati, 2015).
Menurut Muharani (2015) yang meneliti tentang pengaruh faktor
internal dan faktor eksternal terhadap kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi,
dimana variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari kesadaran Wajib
Pajak, lingkungan Wajib Pajak, sikap religiusitas Wajib Pajak, pengetahuan
Wajib Pajak, dan sanksi perpajakan, sedangkan kepatuhan Wajib Pajak sebagai
variabel dependen dan Wajib Pajak Orang pribadi sebagai sampelnya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel kesadaran Wajib Pajak, lingkungan
Wajib Pajak, Sikap Religiusitas Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Hal ini sejalan dengan variabel
pengetahuan Wajib Pajak dan sanksi perpajakan yang berpengaruh positif
terhadap kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Masruroh (2013), yang meneliti
pengaruh kemanfaatan NPWP, pemahaman Wajib Pajak, kualitas pelayanan,
dan sanksi perpajakan terhadap kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris Pada
Wajib Pajak Orang Pribadi di Kabupaten Tegal) menunjukkan bahwa variabel
pemahaman Wajib Pajak secara parsial berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepatuhan Wajib Pajak, sedangkan variabel kemanfaatan NPWP,
kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan secara parsial tidak berpengaruh
signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk
PAJAK, LINGKUNGAN WAJIB PAJAK, SIKAP RELIGIUSITAS
WAJIB PAJAK, DAN KEMANFAATAN NPWP TERHADAP
KEPATUHAN WAJIB PAJAK”. Penelitian ini dilakukan dalam rangka
memperoleh tambahan bukti atas penelitian yang dilakukan oleh Muharani
(2015) yang menguji tentang pengaruh faktor internal dan faktor eksternal
terhadap kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Dalam penelitian ini peneliti
menambahkan variabel kemanfaatan NPWP, karena menurut teori atribusi
kemanfaatan NPWP merupakan penyebab internal yang dapat mempengaruhi
Wajib Pajak dalam membuat keputusan, sedangkan menurut teori
pembelajaran sosial menyatakan bahwa Wajib Pajak akan berproses dalam
membuat keputusan dengan mempertimbangkan manfaat dari NPWP tersebut.
B.Batasan Masalah Penelitian Batasan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel independen yang akan diuji secara empiris ada 4, yaitu Kesadaran
Wajib Pajak, Lingkungan Wajib Pajak, Sikap Religiusitas Wajib Pajak, dan
Kemanfaatan NPWP, sedangkan variabel dependen yang akan diuji secara
empiris yaitu Kepatuhan Wajib Pajak.
2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Orang
C.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Apakah kesadaran Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan
Wajib Pajak?
2. Apakah lingkungan Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan
Wajib Pajak?
3. Apakah sikap religiusitas Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan Wajib Pajak?
4. Apakah kemanfaatan NPWP berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib
Pajak?
D.Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian:
1. Untuk menguji secara empiris apakah kesadaran Wajib Pajak berpengaruh
terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
2. Untuk menguji secara empiris apakah lingkungan Wajib Pajak berpengaruh
terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
3. Untuk menguji secara empiris apakah sikap religiusitas Wajib Pajak
berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
4. Untuk menguji secara empiris apakah kemanfaatan NPWP berpengaruh
E.Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
perkembangan ilmu pengetahuan tentang kesadaran membayar pajak dan
faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam kepatuan Wajib Pajak.
Selain itu, penelitian ini juga memberikan wawasan bagi masyarakat luas
tentang kepatuhan Wajib Pajak.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian
selanjutnya mengenai faktor internal dan faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak.
2. Secara Praktis
a. Bagi Kantor Pelayanan Pajak
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam memberikan
informasi mengenai perpajakan kepada Wajib Pajak.
b. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
pemerintah (DJP) dalam menentukan kebijakan dan peraturan
A.Landasan Teori
1. Theory of Planned Behavior
Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan salah satu model
psikologi sosial yang paling sering digunakan untuk meramalkan perilaku.
TPB dirancang untuk meramalkan dan menjelaskan tingkah laku manusia
dalam konteks yang spesifik. TPB merupakan prediksi perilaku yang baik
karena diseimbangkan oleh niat untuk melaksanakan perilaku tersebut
(Wati, 2016).
Theory of Planned Behavior didasarkan atas pendekatan terhadap
beliefs yang dapat mendorong individu untuk melakukan perilaku tertentu.
Pendekatan terhadap beliefs dilakukan dengan mengasosiasikan berbagai
karakteristik, kualitas, dan atribut berdasarkan informasi yang telah dimiliki,
kemudian secara otomatis akan terbentuk intensi untuk berperilaku.
Pendekatan dalam Theory of Planned Behavior ini dikhususkan pada
perilaku individu yang spesifik dan pada umumnya dapat digunakan untuk
semua perilaku individu (Fishbein dan Ajzen dalam Yuliana, 2004).
Menurut Mustikasari (2007) munculnya niat untuk berperilaku
a. Behavioral Beliefs
Behavioral beliefs merupakan keyakinan individu terhadap hasil dari
suatu perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut (beliefs strength and
outcome evaluation).
b. Normative Beliefs
Normative beliefs merupakan keyakinan tentang harapan normatif orang
lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (normative beliefs
and motivation to comply).
c. Control Beliefs
Control beliefs merupakan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang
mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan (control
beliefs) dan persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung
dan menghambat perilakunya tersebut (perceived power).
Hambatan yang mungkin timbul saat perilaku ditampilkan dapat
berasal dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan. Secara berurutan,
behavioral beliefs menghasilkan sikap terhadap perilaku positif atau negatif,
normative beliefs menghasilkan tekanan sosial yang dipersepsikan
(perceived social pressure) atau norma subyektif (subjective norm) dan
control beliefs menimbulkan perceived behavioral control atau kontrol
keperilakuan yang dipersepsikan (Ajzen, 2005).
Behavioral beliefs, normative beliefs, dan control beliefs menjadi
tiga faktor yang menentukan seseorang untuk berperilaku. Setelah adanya
akhir adalah behavior. Tahap intention merupakan tahap dimana seseorang
menentuka niat untuk berperilaku, kemudian tahap behavior adalah tahap
dimana seseorang berperilaku (Mustikasari, 2007).
Fishbein dan Ajzen (1975) dalam Yuliana (2004) menjelaskan
bahwa intensi sebagai suatu kognitif dan konatif dari kesiapan individu
untuk memaparkan suatu perilaku. Secara spesifik dijelaskan bahwa intensi
untuk melakukan suatu perilaku mengindikasikan bahwa kecenderungan
individu untuk melakukan suatu perilaku dan merupakan anteseden
langsung dari perilaku tersebut.
Ajzen (2005) berpendapat bahwa jika individu memiliki intensi
untuk melakukan suatu perilaku maka individu cenderung akan melakukan
perilaku tersebut. Sebaliknya, jika individu tidak memiliki intensi untuk
melakukan suatu perilaku maka individu cenderung tidak akan melakukan
perilaku tersebut. Intensi individu untuk melakukan suatu perilaku
mempunyai keterbatasan waktu dalam mewujudkan perilaku yang nyata,
oleh karena itu terdapat empat elemen utama dalam melakukan pengukuran
intensi untuk melakukan suatu, yaitu target dari perilaku yang dituju
(target), tindakan (action), situasi saat perilaku ditampilkan (contex), dan
waktu saat perilaku ditampilkan (time).
2. Teori Pembelajaran Sosial
Teori pembelajaran sosial mengatakan bahwa seseorang dapat
2006). Teori pembelajaran sosial memiliki asumsi bahwa perilaku
merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi dan teori ini juga mengakui
keberadaan pembelajaran melalui pengamatan secara langsung dan
pentingnya persepsi dalam pembelajaran tersebut. Seseorang akan merespon
bagaimana orang tersebut merasakan dan mendefinisikan konsekuensi,
bukan dari konsekuensi objektif itu sendiri (Julianti, 2014).
Komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi
merupakan fokus utama dari teori pembelajaran sosial. Faktor sosial dan
kognitif serta faktor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran
setiap individu. Faktor sosial dapat berupa pengamatan, sedangkan faktor
kognitif dapat berupa ekspektasi untuk meraih keberhasilan (Marjan, 2014).
Menurut Jatmiko (2006), proses dalam pembelajaran sosial meliputi:
a. Proses perhatian (attentional)
Proses perhatian adalah proses dimana orang hanya akan belajar dari
sesorang atau model, jika mereka telah mengenal dan menaruh perhatian
pada orang atau model tersebut. Salah satu contohnya adalah seseorang
yang tidak patuh dalam membayar pajak akan belajar mematuhi
perpajakan jika pegawai pajak telah melakukan pengelolaan perpajakan
dengan benar.
b. Proses penahanan (retention)
Proses penahanan adalah proses mengingat tindakan suatu model setelah
akan patuh dalam hal perpajakan jika orang tersebut mengingat bahwa
fasilitas negara yang didapat adalah hasil pengelolaan pajak yang baik.
c. Proses reproduksi motorik
Proses reproduksi motorik adalah proses mengubah pengamatan menjadi
perbuatan. Salah satu contohnya adalah seseorang akan patuh terhadap
pajak jika masyarakat di sekitarnya telah memiliki kesadaran dalam
kewajiban perpajakannya.
d. Proses penguatan (reinforcement)
Proses dimana individu-individu diberikan rangsangan yang positif
supaya berperilaku sesuai dengan model. Salah satu contohnya adalah
dengan diadakannya penyuluhan dan pelayanan pajak yang baik, maka
diharapkan dapat mendorong individu-individu untuk berperilaku baik
terhadap perpajakan.
Jatmiko (2006) juga menyatakan bahwa teori pembelajaran sosial ini
relevan untuk menjelaskan perilaku Wajib Pajak dalam memenuhi
kewajibannya perpajakannya. Seseorang akan taat membayar pajak maupun
melaporkan pajaknya tepat pada waktunya jika lewat pengamatan dan
pengalaman secara langsung.
3. Teori Atribusi
Pada dasarnya teori atribusi menyatakan bahwa jika
individu-individu mengamati perilaku seseorang, maka mereka mencoba untuk
atau eksternal (Lubis, 2010). Perilaku yang disebabkan secara internal
adalah perilaku yang diyakini berada di bawah kendali pribadi individu itu
sendiri, sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah
perilaku yang dipengaruhi faktor dari luar, seperti faktor situasi dan faktor
lingkungan. Artinya individu akan terpaksa berperilaku karena tuntutan
situasi atau lingkungan (Julianti, 2014).
Teori atribusi berkaitan erat dengan perilaku individu dalam
menginterpretasikan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pemikiran
dan perilaku mereka. Asumsi dari teori atribusi adalah seseorang akan
mencoba untuk mencari informasi mengapa orang tersebut melakukan apa
yang mereka lakukan. Seseorang berusaha untuk memahami mengapa orang
lain melakukan perilaku tersebut, dimana satu atau lebih atribut mungkin
menjadi penyebab perilaku tersebut (Heider dalam Marjan, 2014).
Menurut Heider (1958) dalam Marjan (2014) seseorang dapat
menciptakan dua atribusi, yaitu atribusi internal dan atribusi eksternal.
Atribusi internal adalah seseorang akan berperilaku yang disebabkan oleh
faktor internal, seperti sikap, karakter, dan kepribadian, sedangkan atribusi
eksternal adalah seseorang akan berperilaku yang disebabkan oleh faktor
eksternal.
Julianti (2014) menyatakan bahwa relevansi teori atribusi dengan
kepatuhan Wajib Pajak adalah seseorang dalam menentukan perilaku patuh
atau tidak patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dipengaruhi
mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak antara lain kondisi keuangan Wajib
Pajak, pengetahuan Wajib Pajak dan pemahaman Wajib Pajak tentang
perpajakan. Sedangkan, faktor eksternal yang mempengaruhi kepatuhan
Wajib Pajak antara lain kualitas pelayanan dan sistem perpajakan.
Menurut Robbins dan Judge (2013), penentuan apakah perilaku
disebabkan secara internal atau eksternal dipengaruhi oleh tiga faktor
berikut:
a. Kekhususan
Kekhususan merujuk pada perilaku seorang individu yang berbeda dalam
situasi yang berbeda. Apabila perilaku dianggap biasa maka perilaku
tersebut disebabkan secara internal. Sebaliknya, apabila perilaku
dianggap tidak biasa maka perilaku tersebut disebabkan secara eksternal.
b. Konsensus
Konsensus merujuk pada apakah semua individu yang menghadapi
situasi yang serupa merespon dengan cara yang sama. Apabila konsensus
rendah, maka perilaku tersebut disebabkan secara internal. Sebaliknya,
apabila konsensus tinggi maka perilaku tersebut disebabkan secara
eksternal.
c. Konsistensi
Konsistensi merujuk pada apakah individu selalu merespon dengan cara
yang sama. Apabila perilaku semakin konsisten, maka perilaku tersebut
disebabkan secara internal. Sebaliknya, apabila perilaku semakin tidak
Teori atribusi mengelompokkan dua hal yang dapat
memutarbalikkan arti dari atribusi. Pertama, kekeliruan atribusi mendasar
yaitu kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor-faktor eksternal
daripada internalnya. Kedua, prasangka layanan dari seseorang cenderung
menghubungkan kesuksesan akibat faktor-faktor internal, sedangkan
kegagalan dihubungkan dengan faktor-faktor eksternal.
4. Pajak
Pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No 28 Tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib
kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menurut Jotopurnomo dan Mangoting (2013)
pajak dapat diartikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh negara terhadap
warga negaranya, berdasarkan undang-undang yang berlaku dimana atas
pungutan tersebut negara tidak memberikan kontraprestasi secara langsung
kepada pembayar pajak.
Mardiasmo (2013) menyatakan bahwa pajak adalah iuran rakyat
kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan)
dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat
Supramono dan Damayanti (2010) menguraikan pajak dalam empat unsur,
yaitu:
a. Pajak merupakan iuran dari rakyat kepada negara. Negara berhak
memungut pajak, baik melalui pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah. Iuran yang dibayarkan berupa uang, bukan barang.
b. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Sifat pemungutan pajak
adalah dipaksakan berdasarkan kewenangan yang diatur oleh
undang-undang beserta aturan pelaksanaannya.
c. Tidak ada kontraprestasi secara langsung oleh pemerintah dalam
pembayaran pajak.
d. Digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara.
Menurut Mardiasmo (2013), terdapat 2 fungsi pajak, yaitu:
a. Fungsi budgetair
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai
pengeluaran – pengeluarannya.
b. Fungsi mengatur (regulerend)
Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Kebijakan pemerintah dalam memaksimalkan fungsi pajak sebagai
fungsi penerimaan negara salah satunya adalah reformasi administrasi
perpajakan, dimana peningkatan kualitas pelayanan kepada Wajib Pajak
(Tahar dan Sandy, 2012). Pemungutan pajak di Indonesia dilaksanakan atas
beberapa teori (Supramono dan Damayanti, 2010), antara lain:
a. Teori Asuransi
Perjanjian asuransi menyatakan bahwa setiap peserta wajib untuk
membayar premi asuransi dengan tujuan untuk perlindungan bagi orang
yang bersangkutan atas diri dan harta bendanya. Demikian halnya dengan
pajak, Wajib Pajak yang melakukan pembayaran pajak disamakan
dengan pembayaran premi.
b. Teori Kepentingan
Teori kepentingan menyatakan bahwa pembebanan pajak kepada
masyarakat didasarkan atas besarnya kepentingan masyarakat dalam
suatu negara. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika pengeluaran negara
ini dibebankan kepada masyarakat.
c. Teori Daya Pikul
Teori daya pikul menyatakan bahwa biaya-biaya atas perlindungan yang
diberikan oleh negara kepada warga negara seharusnya dipikul oleh oleh
segenap orang yang menikmatinya dalam bentuk pajak. Berdasarkan asas
keadilan, pajak yang dikenakan terhadap masyarakat tergantung dari
daya pikul masing-masing masyarakat berdasarkan besarnya penghasilan.
d. Teori Bakti
Teori bakti beranggapan bahwa masyarakat memiliki kewajiban untuk
kepada negara, masyarakat harus memenuhi kewajibannya membayar
pajak.
e. Teori Asas Daya Beli
Teori asas daya beli beranggapan bahwa pajak digunakan untuk menarik
daya beli masyarakat. Pajak yang dipungut oleh negara dapat mengurangi
penghasilan yang akan digunakan oleh masyarakat untuk konsumsi,
sehingga akibat dari pemungutan pajak adalah berkurangnya daya beli
masyarakat secara individu.
5. Wajib Pajak
Menurut Pasal 1 angka 2 UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau
badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang
mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Undang-undang Nomor 28
Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dalam
Pasal 1 angka 3 menyatakan bahwa:
“Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi
Menurut Mardiasmo (2013) Wajib Pajak adalah orang atau badan
yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk
melakukan kewajiban perpajakan. Supramono dan Damayanti (2010)
mengatakan bahwa Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah orang
pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari (tidak harus
berturut-turut) dalam jangka waktu 12 bulan melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas di Indonesia.
Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak terdiri dari
Wajib Pajak efektif dan Wajib Pajak non efektif. Wajib Pajak efektif
merupakan Wajib Pajak yang mempunyai kegiatan usaha dan terdaftar di
kantor pajak yang masih aktif dalam memenuhi kewajiban menyampaikan
SPT masa dan atau tahunan sebagaimana mestinya, sedangkan Wajib Pajak
Orang Pribadi dapat dikategorikan menjadi Wajib Pajak Orang Pribadi yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, Wajib Pajak Orang Pribadi
pengusaha tertentu, dan Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan
usaha atau pekerjaan bebas seperti karyawan atau pegawai yang hanya
memperoleh passive income (Santi, 2012).
Perbedaan antara Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan
usaha atau pekerjaan bebas dengan Wajib Pajak Orang Pribadi pengusaha
tertentu adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha
merupakan Wajib Pajak pengusaha maupun pegawai yang memiliki
penghasilan lain dari kegiatan usaha di luar pendapatan gaji, sedangkan
Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha di bidang pedagangan yang
memiliki tempat usaha berbeda dengan domisili lebih dari satu (Santi,
2012).
6. Kesadaran Wajib Pajak
Kesadaran adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan
perpajakan adalah perihal pajak. Sehingga kesadaran perpajakan adalah
keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak (Jotopurnomo dan
Mangoting, 2013). Menurut Muliari dan Setiawan (2011) Wajib Pajak
dikatakan memiliki kesadaran apabila sesuai dengan hal-hal berikut:
a. Mengetahui adanya undang-undang dan ketentuan perpajakan.
b. Mengetahui fungsi pajak untuk pembiayaan negara.
c. Memahami bahwa kewajiban perpajakan harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
d. Memahami fungsi pajak untuk pembiayaan negara.
e. Menghitung, membayar, melaporkan pajak dengan suka rela.
f. Menghitung, membayar, melaporkan pajak dengan benar.
Widayati dan Nurlis (2010) menjelaskan bahwa terdapat tiga macam
kesadaran membayar pajak yang mendorong Wajib Pajak untuk membayar
pajak. Pertama, kesadaran bahwa pajak merupakan salah satu bentuk
partisipasi dari rakyat dalam menunjang pembangunan negara. Jika Wajib
Pajak menyadari hal ini, maka Wajib Pajak bersedia membayar pajak karena
kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban
pajak sangat merugikan negara. Jika Wajib Pajak menyadari hal ini, maka
Wajib Pajak bersedia membayar pajak karena memahami bahwa penundaan
membayar pajak dan pengurangan beban pajak berdampak pada kurangnya
sumber daya finansial yang diterima negara yang dapat mengakibatkan
terhambatnya pembangunan negara. Ketiga, kesadaran bahwa pajak
ditetapkan dengan Undang-undang dan dapat dipaksakan. Jika Wajib Pajak
menyadari hal ini, maka Wajib Pajak bersedia membayar pajak karena
pembayaran pajak memiliki landasan hukum yang kuat dan merupakan
kewajiban mutlak setiap warga negara.
7. Lingkungan Wajib Pajak
Menurut Jotopurnomo dan Mangoting (2013) lingkungan adalah
sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna atau pengaruh
tertentu kepada individu. Lingkungan dapat mempengaruhi seseorang untuk
compliance dan non compliance tidak dapat ditinjau dari satu variabel
penyebab saja. Santi (2012) menjelaskan terdapat tiga tipe lingkungan yang
compliance yang pada akhirnya membuat Wajib Pajak patuh dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Lazy compliance, merupakan tipe lingkungan yang berkaitan erat dengan
tipe atau komponen perilaku Wajib Pajak sendiri dengan mengharuskan
untuk belajar kerumitan seperti perubahan peraturan, formulir yang sulit
penghasilan yang bermacam-macam sehingga banyak orang yang gagal
untuk meluangkan waktu dan energi dalam melaporkan pajaknya.
b. Brokered compliance, merupakan tipe lingkungan dimana kepatuhan
Wajib Pajak timbul ketika seseorang mendapat anjuran dari professional.
c. Social compliance, merupakan kepatuhan seseorang terhadap hukum
yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan hasil dari
tekanan dan pengharapan orang-orang disekitar dan komunitas.
Indikator lingkungan Wajib Pajak berada ditunjukkan dengan
masyarakat atau lingkungan, perekonomian dan prosedur pelaporan.
Ketidakpatuhan Wajib Pajak dapat diminimalkan apabila kondisi
lingkungan Wajib Pajak kondusif, seperti lingkungan kondusif Wajib Pajak
berada mudah untuk menerapkan yang berlaku, prosedur yang mudah dan
sederhana dan biaya yang dikeluarkan untuk urusan kantor pajak sebanding
dengan apa yang didapatkan (Nalendro, 2014).
8. Sikap Religiusitas Wajib Pajak
Kepatuhan membayar pajak merupakan salah satu tanggung jawab
bagi pemerintah dan Wajib Pajak kepada Tuhan, dimana kedua pihak
memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Kewajiban pemerintah
adalah melakukan pengaturan penerimaan dan pengeluaran sehingga berhak
melakukan pemungutan atas Wajib Pajak berdasarkan Undang-undang yang
berlaku, sedangkan Wajib Pajak memiliki kewajiban membayar pajak
telah dibayarkan kepada negara. Kedua pihak yaitu pemerintah dan Wajib
Pajak saling terkait, oleh karena itu diperlukan peran pemerintah dan Wajib
Pajak dalam menciptakan kemandirian suatu negara dengan kepercayaan
bahwa Tuhan selalu mengawasi tanggung jawab masing-masing pihak
(Tahar dan Rachman, 2014).
Religiusitas menunjuk pada tingkat keterikatan individu dengan
nilai-nilai agama yang dianut. Semua agama umumnya memiliki tujuan
yang sama dalam mengontrol perilaku yang baik dan menghambat perilaku
buruk. Agama diharapkan memberikan kontrol internal untuk pemantauan
diri dalam perilaku moral. Komitmen agama digunakan sebagai variabel
kunci untuk mengukur tingkat religiusitas individu berdasarkan pada
penerapan nilai-nilai agama, keyakinan dan praktik dalam kehidupan
sehari-hari (Rahmawaty, 2014).
Menurut Glock (1962) dalam Basri (2014) menyatakan bahwa
religiusitas dapat dibagi menjadi lima dimensi. Pertama, dimensi ideologis,
dimana para pengikut agama diharapkan untuk mematuhi peraturan tertentu
dari suatu keyakinan. Kedua, dimensi ritualistik, dimana praktik keagamaan
tertentu dianut oleh pengikut seperti shalat, puasa, dan meditasi. Ketiga,
dimensi pengalaman yang menekankan pengalaman religius sebagai
indikator tingkat religiusitas. Keempat, dimensi intelektual yang berfokus
pada pengetahuan agama digunakan untuk memperkuat satu adalah
keyakinan agama. Pada akhirnya, dimensi konsekuensial mengidentifikasi
Basri (2014) menyatakan bahwa banyak orang mengandalkan
nilai-nilai agama sebagai sumber moralitas untuk membentuk sikap dan perilaku
mereka. Menurut Mohdali dan Pope (2010) bahwa faktor religiusitas
merupakan faktor yang sangat menentukan perilaku seseorang dalam
kepatuhan membayar pajak.
9. Kemanfaatan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan dalam Pasal 1 angka 6 dinyatakan bahwa:
“Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada
Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya”.
Pasal 2 angka 1 menyatakan bahwa:
“Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan
objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok
Wajib Pajak”.
Mardiasmo (2013) mendefinisikan NPWP adalah nomor yang
diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan
yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas. Fungsi NPWP
a. Sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak.
b. Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam
pengawasan administrasi perpajakan.
Supramono dan Damayanti (2010) menyatakan bahwa syarat
Wajib Pajak Orang Pribadi untuk memperoleh NPWP jika penghasilannya
sudah melebihi penghasilan tidak kena pajak. Untuk Wajib Pajak Badan,
ketika Wajib Pajak Badan mendaftarkan usahanya maka badan yang
didirikan sekaligus terdaftar di DJP untuk memperoleh NPWP. Pendaftaran
NPWP dapat dilakuakan di DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak (bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi) dan DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan atau
kegiatan Wajib Pajak (bagi Wajib Pajak Badan).
DJP dapat menerbitkan NPWP secara jabatan apabila Wajib Pajak
tidak mendaftarkan diri. Sebaliknya, NPWP dapat dihapuskan dari tata
usaha Kantor Pelayanan Pajak dengan syarat tertentu (Supramono dan
Damayanti, 2010), antara lain:
a. Dilakukan permohonan penghapusan NPWP oleh Wajib Pajak atau ahli
warisnya apabila Wajib Pajak tidak memenuhi persyaratan subyektif atau
obyektif.
b. Wajib Pajak Badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan
usaha.
c. Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menghentikan kegiatan usahanya di
d. Direktur Jenderal Pajak menganggap perlu untuk menghapuskan NPWP
dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subyektif atau
obyektif. Setelah melakukan pemeriksaan, Direktur Jenderal Pajak harus
memberikan keputusan atas permohonan penghapusan NPWP dalam
jangka waktu 6 bulan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi atau 12 bulan
untuk Wajib Pajak Badan sejak tanggal permohonan diterima secara
lengkap.
10. Kepatuhan Wajib Pajak
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
544/KMK.04/2000 menyatakan bahwa kepatuhan perpajakan adalah
tindakan Wajib Pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan
perpajakan yang berlaku dalam suatu negara. Nurmantu (2005)
mendefinisikan kepatuhan perpajakan sebagai suatu keadaan dimana Wajib
Pajak dengan sukarela memenuhi semua kewajiban perpajakan dan
melaksanakan hak perpajakannya.
Kriteria kepatuhan Wajib Pajak menurut Keputusan Menteri
Keuangan No.544/KMK.04/2000 adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan SPT tepat waktu untuk semua jenis pajak dalam dua
b. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali
telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran
pajak.
c. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di
bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.
d. Menyelenggarakan pembukuan selama dua tahun terakhir dan pernah
dilakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak, koreksi pada pemeriksaan
yang terakhir untuk tiap-tiap jenis pajak yang terutang paling banyak
lima persen.
e. Untuk laporan keuangan Wajib Pajak yang telah diaudit oleh akuntan
publik selama dua tahun terakhir dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak
mempengaruhi laba rugi fiskal.
Kepatuhan Wajib Pajak dapat dipengaruhi oleh dua jenis faktor
yaitu faktor internal dan faktor ekternal (Fuadi dan Mangoting, 2013).
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri Wajib Pajak
dan berhubungan dengan karakterisktik individu yang menjadi pemicu
dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, seperti kesadaran dan
kemauan Wajib Pajak. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang
berasal dari luar diri Wajib Pajak, seperti situasi dan lingkungan Wajib
Pajak berada. Hal ini sependapat dengan Tahar dan Rachman (2014) yang
menyatakan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi Wajib Pajak dalam
internal dapat berupa kesadaran dan religiusitas, sedangkan faktor eksternal
dapat berupa iklan pajak, kemudahan pelayanan, dan berita korupsi oknum
pajak.
Menurut Mangoting dan Sadjiarto (2013) kepatuhan pajak dibagi
menjadi dua, yaitu:
a. Kepatuhan pajak formal
Kepatuhan pajak formal adalah kepatuhan yang diatur sesuai dengan
ketentuan dalam Undang-undang perpajakan. Misalnya, bagi yang sudah
memiliki penghasilan wajib untuk memiliki NPWP, melaporkan SPT
Masa maupun Tahunan tepat waktu dan tidak pernah terlambat, tidak
terlambat melunasi utang pajak sesuai dengan batas waktu yang
ditetapkan.
b. Kepatuhan pajak material
Kepatuhan pajak material adalah suatu keadaan saat Wajib Pajak secara
substantif memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai
isi dan jiwa undang-undang perpajakan. Misalnya, Wajib Pajak yang
telah mengisi SPT dengan benar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Kepatuhan dalam perpajakan erat kaitannya dengan sumber
penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN). Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang
Keuangan Negara, APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintah
penerimaan dan pengeluaran negara dalam APBN berasal dari penerimaan
[image:50.595.150.514.186.680.2]perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak.
TABEL 2.1
Ringkasan APBNP 2014, APBN 2015, dan RAPBN 2015 (Miliar Rupiah)
Uraian 2014
APBNP
2015
APBN RAPBN
A. Pendapatan Negara 1.635.378,5 1.793.588,9 1.768.970,7 I. Pendapatan Dalam Negeri 1.633.053,4 1.790.332,6 1.765.662,2 1. Pendapatan Perpajakan 1.246.107,0 1.379.991,6 1.484.589,3
1. Pendapatan Negara
Bukan Pajak 386.946,4 410.341,0 281.072,9 II. Pendapatan Hibah 2.325,1 3.256,3 3.308,4 B. Belanja Negara 1.876.872,7 2.039.483,6 1.994.888,7 I. Belanja Pemerintah Pusat 1.280.368,6 1.392.442,3 1.330.766,8 1. Belanja K/L 602.292,0 647.309,9 779.536,9 2. Belanja Non K/L 678.076,6 745.132,4 551.229,9 a.l Subsidi 403.035,6 414.680,6 232.716,1 II. Transfer ke Daerah dan
Dana Desa 596.504,2 647.041,3 664.121,9 1. Dana Perimbangan 491.882,9 516.401,0 521.281,7 2. Dana Otonomi Khusus 16.148,9 16.615,5 17.115,5 3. Dana Keistimewaan
DIY 523,9 547,4 547,5
4. Dana Transfer Lainnya 87.948,6 104.411,1 104.411,1 5. Dana Desa 0,0 9.066,2 20.766,2 C. Keseimbangan Primer (106.041,1) (93.926,4) (70.529,8) D. Surplus (Defisit) Anggaran (241.494,3) (245.894,7) (225.918,0) % Defisit terhadap PDB (2,40) (2,21) (1,90) E. Pembiayaan 241.494,3 245.894,7 225.918,0 I. Pembiayaan Dalam Negeri 254.932,0 269.709,7 244.537,1 II. Pembiayaan Luar Negeri (13.437,7) (23.815,0) (18.619,1) Kelebihan (Kekurangan)
Pembiayaan 0,0 0,0 0,0
Sumber: Kementrian Keuangan
Berdasarkan tabel 2.1 dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 76,20%
tahun 2015 sebesar 76,94% dari total penerimaan negara berasal dari
pendapatan pajak. Sedangkan sisanya 23,8% untuk tahun 2014 dan
23,06% untuk tahun 2015 bersumber dari pendapatan bukan pajak. Hal ini
mengindikasikan bahwa pendapatan pajak dari tahun 2014-2015
mengalami peningkatan sebesar Rp. 133.884,6 Miliar. Pada tahun 2015
realisasi pendapatan perpajakan yang terkumpul sebesar Rp. 1.379.991,6
Miliar dari target pendapatan sebesar Rp. 1.484.589,3 Miliar, artinya
pendapatan perpajakan hanya terealisasi sebesar 92,95%. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa kepatuhan Wajib Pajak masih rendah.
B.Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis
1. Hubungan Kesadaran Wajib Pajak dengan Kepatuhan Wajib Pajak Kesadaran Wajib Pajak merupakan suatu kondisi dimana Wajib
Pajak mengetahui, memahami dan melaksanakan ketentuan perpajakan
dengan benar dan sukarela. Semakin tinggi tingkat kesadaran Wajib Pajak
maka semakin baik pula pamahaman dan pelaksanaan kewajiban perpajakan
sehingga dapat meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak (Muliari dan
Setiawan, 2011). Jatmiko (2006) menyatakan bahwa kesadaran perpajakan
masyarakat yang rendah seringkali menjadi salah satu sebab banyaknya
potensi pajak yang tidak dapat dijaring.
Penelitian yang dilakukan oleh Jotopurnomo dan Mangoting (2013)
dan Rahmawati (2015) menyatakan bahwa kesadaran Wajib Pajak
dengan penelitian yang dilakukan oleh Rohmawati dan Rasmini (2012) dan
Muliari dan Setiawan (2011) yang menyatakan bahwa kesadaran Wajib
Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
Yahaya, dkk (2013) menyatakan bahwa kesadaran akan tanggung jawab
otoritas pajak berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan pajak. Penelitian
yang dilakukan Wilda (2015) memperoleh hasil berbeda yang menyatakan
bahwa kesadaran Wajib Pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Berdasarkan penjabaran di atas,
maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Kesadaran Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
2. Hubungan Lingkungan Wajib Pajak dengan Kepatuhan Wajib Pajak Kepatuhan pajak merupakan hasil secara langsung maupun tidak
langsung tekanan maupun pengharapan orang-orang disekitar dan
komunitas dimana Wajib Pajak berada. Lingkungan yang kondusif akan
lebih mendukung Wajib Pajak untuk patuh. Lingkungan yang kondusif
dapat dilihat dari beberapa kriteria, antara lain lingkungan bisnis Wajib
Pajak berada yang mudah menerapkan peraturan yang berlaku, masyarakat
tidak memberikan peluang untuk menghindar dari pajak dan menganggap
penting pajak, prosedur sederhana dan biaya murah, dan terdapat tokoh
masyarakat yang secara sukarela memberikan contoh untuk patuh terhadap
Penelitian yang dilakukan oleh Jotopurnomo dan Mangoting (2013)
menyatakan bahwa lingkungan Wajib Pajak berpengaruh signifikan
terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Santi (2012) dan Widyastuti (2015) yang menyatakan bahwa
lingkungan Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan
Wajib Pajak Orang Pribadi. Penelitian yang dilakukan Sumantri (2013)
memperoleh hasil berbeda yang menyatakan bahwa lingkungan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan penjabaran di
atas, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Lingkungan Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
3. Hubungan Sikap Religiusitas Wajib Pajak dengan Kepatuhan Wajib Pajak
Religiusitas menunjuk pada tingkat keterikatan individu dengan
nilai-nilai agama yang dianut. Religiusitas mempunyai pengaruh terhadap
perilaku Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya (Wati,
2016). Komitmen agama digunakan sebagai variabel kunci untuk mengukur
tingkat religiusitas individu berdasarkan pada penerapan nilai-nilai agama,
keyakinan dan praktik dalam kehidupan sehari-hari (Rahmawaty, 2014).
Berdasarkan theory of planned behavior prediksi perilaku yang baik
disebabkan oleh niat untuk berperilaku, dalam hal ini religiusitas merupakan
kewajiban perpajakannya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa orang
yang religius cenderung untuk lebih taat dalam melakukan segala hal,
termasuk kewajiban membayar pajak.
Penelitian yang dilakukan Rahmawaty (2014) menyatakan bahwa
religiusitas tidak berpengaruh terhadap kepatuhan perpajakan. Hal ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wati (2016) yang
menyatakan bahwa religiusitas tidak berpengaruh terhadap kepatuhan
perpajakan. Penelitian yang dilakukan oleh Basri (2014) dan Mohdali dan
Pope (2012) memperoleh hasil berbeda yang menyatakan bahwa religiusitas
berpengaruh terhadap perilaku Wajib Pajak. Berdasarkan penjabaran di atas,
maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Sikap religiusitas Wajib Pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
4. Hubungan Kemanfaatan NPWP dengan Kepatuhan Wajib Pajak Berdasarkan teori atribusi, kemanfaatan NPWP merupakan penyebab
internal yang dapat mempengaruhi persepsi Wajib Pajak dalam membuat
keputusan mengenai perilaku kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan
kewajiban perpajakan. Berdasarkan teori pembelajaran sosial, Wajib Pajak
dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsungnya mengenai
manfaat yang dapat diperoleh Wajib Pajak atas kepemilikan NPWP
Menurut Masruroh (2013) mendaftarkan diri untuk memperoleh
NPWP merupakan salah satu kewajiban seorang Wajib Pajak apabila telah
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib Pajak diharapkan
memiliki kesadaran yang tinggi dan dengan sukarela mendaftarkan diri
untuk memperoleh NPWP. Namun, DJP juga mempunyai kewenangan
untuk memberikan NPWP secara jabatan bagi Wajib Pajak yang telah
memenuhi syarat untuk memiliki NPWP tetapi belum memilikinya.
Kepemilikan NPWP merupakan suatu kewajiban, selain itu kepemilikan
NPWP juga dilatarbelakangi oleh berbagai kebutuhan Wajib Pajak atas
NPWP tersebut.
Priantara (2011) berpendapat bahwa kebutuhan memiliki NPWP
bagi Wajib Pajak dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana Wajib Pajak
tersebut sangat memerlukan NPWP. Faktor kebutuhan tersebut berkaitan
dengan manfaat dari memiliki NPWP itu sendiri. NPWP tersebut harus
dapat memberikan manfaat yang selaras dengan kepentingan Wajib Pajak,
sehingga Wajib Pajak akan termotivasi untuk membayar dan melaporakan
pajaknya dengan patuh dibandingkan dengan Wajib Pajak yang tidak
memperoleh manfaat atas kepemilikan NPWP.
Penelitian yang dilakukan oleh Masruroh (2013) menyatakan bahwa
kemanfaatan NPWP secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepatuhan Wajib Pajak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
kemanfaatan NPWP tidak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Berbeda dengan pendapat Putri (2013) yang menyatakan keptuhan Wajib
Pajak dalam mendaftarkan NPWP dilatarbelakangi oleh manfaat atas
kepemilikan NPWP tersebut. Semakin banyak manfaat yang diperoleh
Wajib Pajak atas kepemilikan NPWP, maka Wajib Pajak tersebut akan
semakin patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu,
kemanfaatan NPWP diduga sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan penjabaran di atas, maka diajukan
hipotesis sebagai berikut:
H4 : Kemanfaatan NPWP berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
[image:56.595.126.511.485.644.2]C.Model Penelitian
GAMBAR 2.1 Model Penelitian
+
+
+
+
Kesadaran Wajib Pajak
Lingkungan Wajib Pajak
Sikap Religiusitas Wajib
Pajak
Kemanfaatan NPWP
Kepatuhan Wajib
A.Objek atau Subjek Penelitian
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan
sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh