• Tidak ada hasil yang ditemukan

ekonomi pemb ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ekonomi pemb ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

KABUPATEN SLEMAN DALAM MASA OTONOMI DAERAH TAHUN 2000 - 2004

Di Susun Oleh

Nama : Tri Suprapto

Nomor Mahasiswa : 01313082

Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Yogyakarta, Desember 2006 Telah disetujui dan disahkan oleh

Dosen Pembimbing,

Dra. Priyonggo Suseno, M.Sc.

(2)

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyatan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman/sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, 20 Januari 2007 Penulis,

Tri Suprapto

(3)

Seiring rasa syukurku, karya ini

kupersembahkan untuk:

Ayahanda dan Ibundaku tercinta,

Papi, Mami….aku bisa seperti ini

karena Papi dan Mami……..

Kakak-kakakku dan Adikku

Istri KU Tercinta dan tersayang yang

memberiku arahan dan semangat

untuk keberhasilanku………….

(4)

Orang yang pandai adalah yang merendah diri 

dan beramal sebagai persiapan setelah mati 

Sedang orang bodoh adalah yang memperturutkan hawa nafsunya 

namun kemudian berharap muluk kepada Allah. 

(HR. Turmudzi. Ibnu Majal dan Ahmad) 

 

Masa lalu yang terburukpun jangan kau toleh lagi, 

 karena tak ada kata terlambat untuk berbenah diri. 

      (Penulis) 

 

Cinta sejati adalah jika kita selalu memikirkannya 

dan memberi perhatian dengan tulus, jika kita tetap peduli padanya 

walau dia sudah lupa dan tidak lagi peduli sama kita 

dan kita tetap tersenyum ketika dia bersama orang yang dicintainya. 

( KHALIL GIBRAN)   

(5)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ““ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SLEMAN DALAM MASA OTONOMI DAERAH TAHUN 2000 – 2004”. Tak lupa shalawat serta salam penulis panjatkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.

Skripsi ini merupakan suatu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi jurusan Ekonomi Pembangunan dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

Skripsi ini dapat diselesaikan berkat adanya bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangan pikiran, waktu dan tenaga serta bantuan moril dan materiil, khususnya kepada :

1. Bapak Drs. H . Suwarsono, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

(6)

3. Semua dosen dan karyawan khususnya di jurusan Ekonomi Pembangunan. 4. Seluruh karyawan/staf perpustakaan di Fakultas Ekonomi, BPKKD Sleman,

yang telah membantu dalam pengumpulan data-data dan bahan skripsi ini. 5. Ayahanda H.Sugimin dan Ibundaku Hj.Maryamah terima kasih atas do’a

yang tiada henti untukku, kasih sayang dan bimbingan yang sangat berharga. Almarhumah “Mbah Kakung dan Mbah Putri”, Mbah..Tri sudah lulus.

6. Kakak-kakakku tersayang, Dwi Sugiarti,akbid , Sri Widiyati, Sri Setyawati, Dicky Ibrahim, Murtiyah, Komariyah dan Adikku Tersayang Suprapti Wisma Ningsih, terima kasih atas dorongan, bantuan tenaga dan pikiran serta kebersamaan kita dalam suka maupun duka.

7. Ila Kurniasih, terima kasih atas kesabaran, dan dengan semangat, cinta serta kasih sayang untukku, jadilah yang terbaik didalam hidupku.

8. Sobat-Sobatku yang selalu menjadi ‘teman’ terbaikku, terimakasih atas petuah-petuah bijakmu, Mas Hendro+Calon Istri Erna, Ari Begenk+Calon Istri Kusum, Ujang+Istri, Rojali+Istri, Imam Malih, Aday, Edy, Rozak, Angga, end banyak lagi, sekali lagi Thanks All Best friend

(7)

Mas Topan. Spesial thanks for Ita end Bakwan You are my best friend in Yogya

10.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa, sebagai manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi suatu karya yang berguna bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Yogyakarta, Januari 2007 Penulis

Tri Suprapto

(8)

DAFTAR TABEL... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.0 Latar belakang masalah... 1

1.2Rumusan masalah ... 6

1.3Tujuan penelitian ... 6

1.4Manfaat penelitian ... 7

1.5 Sistematika Penulisan………..7

BAB II GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN 2.1Keadan Umum Kabupaten Sleman ... 10

2.2Prioritas pembangunan daerah Kabupaten Sleman... 11

2.3Bidang Pemerintahan………. ... 13

2.4Bidang ekonomi dan pembangunan ... 15

2.5Sumber Pendapatan Anggaran Daerah……….17

2.6Bidang kesejahteraan masyarakat ... 27

2.7Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah ... ... 30

2.8APBD Dalam Era Otonomi Daerah… ... 31

BAB III TELAAH PUSTAKA BAB IV LANDASAN TEORI 4.1Otonomi daerah... 41

4.2Keuangan daerah dalam masa otonomi... 48

(9)

5.1 Jenis penelitian ... 62

5.2 Lokasi penelitian dan sumber data... 62

5.2.1 Data yang dicari/dibutuhkan ... 63

5.2.2 Teknik pengumpulan data ... 63

5.2.3 Teknik analisis data... 64

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis data… ... 72

6.1.1 Tingkat kemandirian Kabupaten Sleman ... 73

6.1.2 Efektivitas Pendapatan Asli Daerah... 82

6.1.3 Efisiensi Pendapatan Asli Daerah ... 86

6.2Pembahasan... 91

6.2.1 Perkembangan Tingkat Kemandirian Daerah………...91

6.2.2 Perkembangan Efektivitas Keuangan Daerah……... 95

6.2.3 Perkembangan Efisiensi Keuangan Daerah…… ... 99

6.2.4 Prediksi Perkembangan kemandirian ,Rasio Efektivitas dan Efisiensi tahun 2005-2010 Kabupaten Sleman…...101

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1Kesimpulan……… ... 102

7.2Saran……... 103

7.3 Keterbatasan Penelitian... 104

(10)

Tabel 2.2 Perkembangan Realisasi APBD Kabupaten SLeman Tahun 2004

Tabel 2.3 Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman tahun 2004

Tabel 2.4 Kontribusi PAD terhadap APBD Kabupaten SlemanTahun 2004

Tabel 2.5 Banyaknya perusahaan industri kecil dan besar-menengah di Kabupaten Sleman tahun 2004

Tabel 2.6 Jumlah penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sleman tahun 2004 Tabel 2.7 Jumlah Produksi tanaman pangan di Kabupaten Sleman tahun 2004 Tabel 2.8 Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 Tabel 2.9 Populasi ternak besar, ternak kecil dan unggas di Kabupaten Sleman p

tahun 2004

Tabel 2.10 Data panjang jalan dan status jalan di Kabupaten Sleman tahun 2004 Tabel 2.11 Banyaknya sekolah, kelas. Guru dan siswa SD,SMP, SMA Negri dan

Swasta di Kabupaten Sleman

Tabel 2.12 Jumlah pencari kerja di Kabupaten SlemanTahun 2004 Tabel 2.13 Jumlah Pemeluk Agama di Kabupaten SlemanTahun 2004

(11)

Tabel 6.2 Ringkasan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten SlemanTahun 2001

Tabel 6.3 Ringkasan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten SlemanTahun 2002

Tabel 6.4 Ringkasan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten SlemanTahun 2003 dan Tahun 2004

Tabel 6.5 Tingkat kemandirian Kabupaten Sleman Tahun anggaran 2000-2004 Tabel 6.6 Trend Perkembangan Tingkat Kemandirian Kabupaten Sleman Tahun

Anggaran 2000-2004

Tabel 6.7 Proyek Perkembangan Tingkat Kemandirian Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2005-2010

Tabel 6.8 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sleman Tahun anggaran 2000-2004

Tabel 6.9 Trend Perkembangan Rasio Efektivitas Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2000-2004

(12)
(13)

2. Struktur Organisasi BPKKD

3. Perhitungan Trend Perkembangan Tingkat Kemandirian Kabupaten Sleman 4. Perhitungan Trend Perkembangan Efektivitas Kabupaten Sleman

5. Perhitungan Trend Perkembangan Efisiensi Kabupaten Sleman 6. Realisasi PAD 2000

7. Realisasi PAD 2001 8. Realisasi PAD 2002 9. Realisasi PAD 2003 10. Realisasi PAD 2004

(14)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah tingkat II yang dijadikan proyek percontohan uji coba otonomi daerah. Pemilihan daerah tingkat II untuk dijadikan proyek percontohan otonomi daerah ini didasarkan pada kemampuan dan potensi daerah untuk mandiri secara ekonomi, artinya pada saat otonomi daerah, daerah yang bersangkutan harus mampu melaksanakan seluruh tugas-tugas pemerintah didaerahnya termasuk menggaji pegawai yang sudah dilimpahkan dari pusat kepada daerah tingkat

(15)

Kebijakan pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah merupakan langkah strategis dalam dua hal. Pertama, Otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia yang berupa ancaman disintegrasi bangsa, kemiskinan, ketidakmerataan pembangunan, rendahnya kualitas hidup masyarakat, dan masalah pembangunan sumber daya manusia. Kedua, Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal merupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perekonomian daerah.

(16)

pertama, yaitu seluruh kewenangan perpajakan berada pada pemerintah pusat, kemudian membiayai pemerintah daerah dengan sistem hibah atau transfer, baik melalui bagi hasil seluruh penerima maupun melalui bagi hasil penerimaan pajak-pajak tertentu. Ketiga, merupakan kombinasi dari pilihan satu dan dua, yaitu memberi beberapa kewenangan pemungutan pajak kepada daerah. Apabila terjadi ketimpangan vertikal karena pemberian kewenangan ini maka untuk melengkapi eksistensi pajak daerah tersebut diberikan pula bagi hasil atau transfer dari pemerintah pusat.

Untuk terciptanya kemandirian pemerintah daerah, pemerintah pusat memberikan otonomi kepada pemerintah daerah agar dapat menyelenggarakan pemerintahannya sendiri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sehingga pembangunan di daerah diarahkan agar lebih mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

(17)

daerah mempunyai kewajiban untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat secara demokratis, adil, merata, dan berkesinambungan. Kewajiban itu bisa dipenuhi apabila pemerintah daerah mampu mengelola potensi daerah yaitu potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan potensi sumber daya keuangan secara optimal.

Sesuai dengan bunyi pasal 155 Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah disebutkan:

1. Penyelenggaraan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah

2. Penyelenggaraan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah

3. Administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintah sebagaimana maksud pada nomor (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintah sebagaimana maksud pada nomor (2)

(18)

pada peraturan perundang-undangan yang beralaku, efisien, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan. Kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang langsung maupun tidak langsung mencerminkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan sosial masyarakat.

(19)

daerah, mengukur efektifitas dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan daerah (http://www.feuhamka.com/artikel22.htm).

Berdasarkan uraian di atas, perlu diteliti mengenai kinerja keuangan daerah di Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah. Oleh karena itu penulis mengambil judul “ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SLEMAN DALAM MASA OTONOMI DAERAH TAHUN 2000 - 2004”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan tingkat kemandirian keuangan daerah kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah selama tahun anggaran 2000 – 2004 dan prediksi sampai dengan tahun 2010?

2. Bagaimana perkembangan efektivitas keuangan daerah Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah selama tahun anggaran 2000-2004 dan prediksi sampai dengan tahun 2010?

3. Bagaimana perkembangan efisiensi keuangan daerah Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah selama tahun anggaran 2001 – 2004 dan prediksi sampai dengan tahun 2010?

1.3. Tujuan Penelitian

(20)

2. Untuk mengetahui perkembangan efektivitas daerah Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah selama tahun anggaran 2000 – 2004 dan prediksi sampai dengan tahun 2010

3. Untuk mengetahui perkembangan efisiensi daerah Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah selama tahun anggaran 2000 – 2004 dan prediksi sampai dengan tahun 2010

1.4. Manfaat penelitian

1. Bagi Pemerintah Kabupaten Sleman

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi tentang kebijakan keuangan daerah.

2. Bagi Universitas

Hasil penelitian ini dapat memberi masukan bagi pihak-pihak yang ingin memperdalam pengetahuan tentang keuangan daerah.

3. Bagi Penulis

Penulis memperoleh tambahan wawasan, pengalaman, dan pengetahuan dalam mempraktekan ilmu dan teori yang diperoleh selama kuliah.

1.5. Sistematika Penulisan

(21)

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini berisikan Latar Belakang Masalah penulisan skripsi ini, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II. GAMBARAN UMUM KABUPATEN SLEMAN

Bab ini akan membahas tentang Struktur dan Karakteristik Fisik Dasar, Keadaan Sosial Kependudukan, Keadaan Ekonomi, Badan Keuangan Daerah (BKD).

BAB III. TELAAH PUSTAKA

Bab ini menguraikan mengenai penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Dimana hasil penelitian tersebut menjadi acuan untuk penelitian berikutnya khususnya penelitian ini.

BAB IV. LANDASAN HUKUM DAN TEORI

Bab ini membahas tentang Sumber-sumber Pendapatan Daerah Otonomi Daerah, kinerja keuangan Daerah.jenis rasio yang digunakan sebagai tolak ukur di Kabupaten Sleman

(22)

Bab ini berisi tentang sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dan metode analisis untuk memperoleh jawaban dari masalah yang telah dirumuskan.

BAB VI. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang Analisis Data, Penerimaan PAD dan menganalisis kinerja keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman dalam masa otonomi daerah serta Analisis Perkiraan Penerimaan Daerah di Kabupaten Sleman dimasa yang akan datang.

BAB VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

2.1. Keadaan Umum Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman adalah salah satu dari 5 kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di sisi utara. Wilayah Kabupaten Sleman membentang ke arah lereng Gunung Merapi, gunung berapi yang termasuk 10 besar teraktif di dunia dan berketinggian 2.968 meter. Dengan posisi tersebut, wilayah Kabupaten Sleman merupakan wilayah hulu propinsi DIY.

Pengembangan wilayah Kabupaten Sleman tidak terlepas dari kondisi Sleman sebagai bagian integral dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan kondisi, potensi wilayah dan social ekonomi masyarakat, pengembangan pembangunan Kabupaten Sleman diarahkan sebagai pusat pendidikan, pusat kebudayaan, penghasil pangan, daerah tujuan wisata, pengembangan industri kecil, agro industri dan industri jasa. Bahkan dalam perkembangannya, Kabupaten Sleman diibaratkan miniatur Indonesia, karena latar belakang budaya masyarakat Sleman yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Walaupun demikian kehidupan masyarakat Sleman baik penduduk asli dan pendatang sehari-hari tetap menjujung tinggi nilai budaya Yogyakarta, dengan cirri khas sikap gotong royong yang tinggi dan sikap ramah tamah.

(24)

Kabupaten Sleman secara geografis terletak di antara 107o 15‘ 03 “ dan 100o 29‘ 30“ Bujur Timur, 7o 34‘ 51“ dan 7 o 47‘ 03‘’ Lintang Selatan. Jarak terjauh Utara-Selatan 32 Km, Timur-Barat 35 Km.

Wilayah Kabupaten Slemna seluas 18%dari luas wilayah Propinsi DIY atau seluas 57.482 ha. Dari luas wilayah tersebut termanfaatkan untuk tanah sawah seluas 23.426 ha (40,75%), tanah tegalan seluas 6.429 ha (11,18%), tabah pekarangan seluas 18.794 ha (32,69%), hutan rakyat seluas 1.592 ha (2,77%), hutan negara seluas 1.335 ha (2.32%), kolam seluas 370 ha (0,64%) dan lain-lain seluas 5.536 ha (9,63%).

Batas-batas wilayah Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut: Sebelah Utara :Kabupaten Boyolali Jateng

Sebelah Timur :Kabupaten Jateng

Sebelah Selatan :Kabupaten Bantul dan Kotamadya Yogyakarta

Sebelah Barat :Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Jateng.

Iklim di wilayah Kabupaten Selman termasuk tropis dengan musim hujan antara November – April dan musim kemarau antara Mei – Oktober. Curah hujan rata-rata bekisar antara 1500-3000.

2.2. Prioritas Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman

(25)

a. Mewujudkan Perintahan Derah Yang Baik

Prioritas pembangunan untuk mewujudkan pemerintahan daerah/kabupaten yang baik dilakukan melalui pembangunan dibidang hukum, bidang politik, bidang penyelenggaraan pemerintahan, bidang komunikasi, informasi dan media masa, bidang ketentraman dan ketertiban.

b. Meningkatkan Kegiatan Ekonomi Daerah

Untuk meningkatkan kegiatan ekonomi daerah, priortas pembangunan dibidang ekonomi meliputi industri, pertanian dan kehutanan, sumber daya air dan irigasi, perdagangan, koperasi, usaha kecil dan menengah, pengembangan usaha dan keuangan daerah, transportasi, pertambangan, energi dan parwisata.

c. Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Prioritas pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui pembangunan bidang agama, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, pemuda dan olah raga, kependudukan, keluarga berencana, tenaga kerja dan transmigarsi, kesehatan dan kesejahteraan social, pemberdayaan perempuan, kebudayaan dan kesenian.

(26)

Prioritas pembangunan dalam rangka meningkatkan kapasitas pengembangan potensi wilayah dilaksanakan melalui pembangunan bidang pedesaan dan perkotaan, pemanfaatan ruang, pertanahan, perumahan dan pemukiman, wilayah perbatasan serta sumber daya alam dan lingkungan hidup.

2.3. Bidang Pemerintahan

Bidang Pemerintahan Kabupaten Sleman meliputi: wilayah administrasi, penduduk, aparat pemerintahan, pemerintah daerah, pemerintahan umum, keamanan dan ketertiban, serta pertanahan. a.Wilayah Administratif

(27)

Tabel 2.1

Pembagian Wilayah Administratif Kabupaten Sleman Tahun 2004

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman tahun 2004

Untuk membantu pelaksanaan pemerintah desa di Kabupaten Sleman terdapat 1.212 dusun, 3.010 RW dan 7.391 RT. Dengan mempertimbangkan status Kabupaten Sleman sebagai hiterland dari kota Yogyakarta maka dari 86 desa yang ada 27 desa terkategorikan sebagai desa pedesaan dan 59 desa merupakan desa perkotaan.

(28)

Menurut registrasi penduduk pada akhir tahun 2004, jumlah penduduk Sleman tercatat 884.727 jiwa, terdiri dari 427.967 laki-laki dan 446.760 perempuan. Dengan luas wilayah 57.482 km2 , maka kepadatan Penduduk Kabupaten Sleman adalah 1.539 jiwa per km2 . Beberapa kecamatan yang relatif padat penduduknya adalah Depok dengan 3.238 jiwa per km2 , Mati dengan 2.469 jiwa per km2 serta Gamping dan godean dengan masing-masing 2.408 jiwa dan 2.210 jiwa per km2 .

c.Aparat Pemerintahan

Jumlah pegawai instansi otonom pada tahun 2004 sebanyak 13.014 orang. Dari jumlah tersebut 192 orang adalah pegawai golongan I, 2.258 orang pegawai golongan II, 6.776 pegawai golongan III, dan 3.791 orang adalah pegawai golongan IV. Menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan pegawai otonom terdiri dari 316 pegawai berijasah SD, 525 berijasah SMP, 4.144 pegawai berijasah SMA, 4.327 pegawai berijasah DI, DII dan 3.705 pegawai berijasah DIV-S2.

(29)

Pada tahun 2004 DPRD Kabupaten Sleman menyelenggarakan 110 kali rapat komisi, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang menunjukkan angka 129. Sedangkan sidang panitia diselenggarakan 133 kali, juga lebih rendah dari tahun sebelumnnya yang diselenggarakan sebanyak 146 kali. Keputusan yang diterapkan oleh DPRD pada tahun 2004 sebanyak 103 keputusan, sedangkan kunjungan kerja yang dilakukan 22 kali. Komisi A paling banyak melakukan kunjungan kerja yaitu 7 kali, sedangkan komisi E paling sedikit yaitu 2 kali.

2.4.Bidang Ekonomi dan Pembangunan a. Keuangan Daerah

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah urusan yang harus dikelola Kabupaten Sleman sebagai konsekuensi pelaksanaan otonomi daerah, beban pembiayaan semakin berat. Perkembangan realisasi APBD selama 5 tahun adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2.

Perkembangan Realisasi APBD Kabupaten Sleman Tahun 2004

Tahun APBD (Rp)

2000 128.038.616.420 2001 308.531.584.637 2002 383.093.699.115 2003 452.878.625.018 2004 520.548.874.863

(30)

Peningkatan realisasi APBD Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun juga diikuti dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebagai gambaran kondisi Pendapatan Asli Daerah selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3.

Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman tahun 2004 Tahun Realisasi PAD (Rp)

2000 17.889.886.435 2001 29.571.153.214 2002 38.908.192.768 2003 52.972.697.478 2004 70.499.050.998

Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kab. Sleman Tahun 2004

Dari Realisasi Pendapatan Asli Daerah yang tergali tersebut dapat tergambarkan kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4.

Kontribusi PAD terhadap APBD Kabupaten Sleman Tahun 2004

(31)

2.5. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Sumber PAD yang menjadi andalan dari sector pajak adalah pajak hotel dan restoran, pajak penerangan umum serta pajak air bawah tanah dan air permukaan.

a. Industri

Industri menurut Bidang Perindustrian dikelompokkan ke dalam 2 sektor yaitu Sektor Industri Kecil dan Sektor Industri Besar-Menengah. Kelompok sektor industri kecil merupakan perusahaan yang mempunyai nilai asset kurang dari Rp. 200 juta, sedangkan perusahaan yang mempunyai nilai asset lebih dari Rp. 200 juta dikelompokkan menjadi sektor industri Besar-menengah.

Tabel 2.5.

Banyaknya Perusahaan Industri Kecil dan Besar-Menengah di Kabupaten Sleman

Tahun Industri Kecil

Industri Besar menengah 2002 16.633 perusahaan 64 perusahaan 2003 14.764 perusahaan 71 perusahaan 2004 14.842 perusahaan 77 perusahaan Sumber data: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman tahun 2004

(32)

adalah kecamatan Gamping, yaitu 7.506 orang, disusul kecamatan Sleman sebanyak 6.752 orang.

Tabel 2.6.

Jumlah penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sleman tahun 2004

Tahun Jumlah Penyerapan

Tenaga Kerja

2002 59.133 orang

2003 59.885 orang

2004 60.922 orang

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman tahun 2004

Sementara jika dilihat dari perusahaan yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah kecamatan Gamping, yaitu 7.506 orang, disusul kecamatan Sleman sebanyak 6.752 orang.

b. Pertanian

Visi pembangunan sektor pertanian Kabupaten Sleman adalah pembangunan pertanian menciptakan pertanian modern, tangguh, efektif dan efisien, berbudaya, industri berwawasan agrobisnis serta tetap mempertahankan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup guna meningkatkan kesejahteraan petani.

(33)

pemanfaatan iptek, mengembangkan agribisnis, mengembangkan hortikultura dan upaya pengentasan kemiskinan

c. Tanaman Pangan

Tanaman pangan meliputi padi, palawija dan holtikultura. Tanaman palawija mencakup komoditas jagung, ubi kayu, kacang tanah, kedelai serta kacang hijau. Adapun hotikultura terdiri dari sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat-obatan.

Tabel 2.7.

Jumlah Produksi tanaman pangan di Kabupaten Sleman tahun 2004

No Tanaman Pangan Jumlah Produksi

1. Padi sawah dan padi lading 253.873 ton - Kacang panjang - Tanaman Mawar - Tanaman Anggrek - Krisan

(34)

d. Perkebunan

Visi bidang perkebunan adalah mewujudkan keluarga pertanian dan kehutanan yang professional, mampu bersaing dan memenangkan persaingan. Untuk itu misi yang diemban adalah memberdayakan SDM pertanian dan kehutanan secara professional, mengelola SDM secara optimal dan lestari, serta meningkatkan kesejahteraan dan membangun daerah.

Tabel 2.8.

Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 No Tanaman

Perkebunan

Jumlah

1. Tebu 642.872 kwintal

2. Kelapa 84.659 kwintal

3. Mendong 30.279 kwintal

4. Tembakau Rakyat 12.273 kwintal Sumber data : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman Tahun 2004

e. Kehutanan

(35)

stabil, terpeliharanya keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup serta tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar di hutan yang cukup tinggi.

Potensi kehutanan di Kabupaten Sleman adalah relative kecil. Hal ini karena dari sekitar luas Kabupaten Sleman 57.482 hektar hanya memiliki hutan seluas 5.089 hektar atau 8,85%. Kawasan hutan tersebut terdiri dari 3.360 hektar hutan rakyat dan selebihnya merupakan hutan Negara yakni sekitar 1.728 hektar. Letak hutan rakyat tersebar di beberapa kecamatan dengan kawasan hutan terluas di Kecamatan Prambanan seluas+1.350 hektar.

Sedangkan sebagian besar hutan Negara berlokasi di Kecamatan Pakem yang digunakan sebagai hutan wisata dengan luas +118,61 hektar, hutan lindung seluas +193,117 hektar dan hutan cagar alam seluas +163,64 hektar,

f. Peternakan

(36)

Tabel 2.9.

Populasi ternak besar, ternak kecil dan unggas di Kabupaten Sleman pada tahun 2004

Sumber data : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman Tahun 2004

Selain produksi daging, kegiatan peternakan di Kabupaten Sleman juga menghasilkan telur dan susu. Pada tahun 2004, susu yang dihasilkan mencapai 6.976 ton. Sebagian besar dihasilkan oleh peternakan yang dikelola oleh perusahaan dan hanya sebagian kecil dihasilkan dari peternakan rakyat.

(37)

g. Pertambangan dan Penggalian

Banyaknya usaha pertambangan bahan galian golongan C di Kabupaten Sleman hanya ada 2, jenis bahan galiannya hanya pasir. Adapun lokasinya berada di kecamatan Kalasan dan Pakem. Jumlah pemegang ijin penggunaan air bawah tanah di Kabupaten Sleman sebanyak 362. Jumlah sumur bor dan gali sebanyak 353 sumur dan terbanyak ada di kecamatan Depok yaitu sebesar 121 sumur.

h. Transportasi

Tersedianya sarana dan prasarana transportasi yang memadai, merupakan salah satu syarat utama untuk mengembangkan potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman. Di Kabupaten Sleman data panjang jalan dirinci menurut status jalan yaitu jalan negara, jalan propinsi, dan jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Sleman.

Tabel 2.10.

Data Panjang Jalan dan Status Jalan di Kabupaten Sleman Tahun 2004

Status Jalan Panjang Jalan Negara 61,65 km Jalan Propinsi 139,69 km Jalan Kabupaten 1.085,13 km

Sumber data : Badan Pusat Statistik Kab. Sleman tahun 2004

(38)

sepanjang 113,28 km dan kondisi sedang 26,41 km. sedangkan untuk jalan kabupaten hanya 335,80 km saja yang kondisinya baik yaitu sekitar 33%.

Untuk jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di wilayah huku Polres Sleman pada akhir tahun 2004 mencapai 305.529 kendaraan tidak termasuk kendaraan milik TNI. Kondisi ini menunjukkan kenaikan sebesar 12,89% jika dibandingkan pada akhir tahun 2003.

i. Perdagangan

Arah pembangunan perdagangan di Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut:

• Peningkatan wawasan manajemen perdagangan bagi pengusaha menuju profesionalisme untuk dapat bersaing di pasara dalam maupun luar negri. • Pementapan peningktan ekspor barang dan jasa serta diarahkan pada

penganekaragaman produk dan mutu komoditas ekspor.

• Pembangunan perdagangan diarahkan untuk meningkatkan iklim dan kepastian berusaha yang konduktif terhadap perkembangan dan peningkatan perekonomian.

• Peningkatan peluang pasar dengan mendorong peningkatan daya saing serta optimalisasi kegiatan promosi yang terstruktur dan terarah.

(39)

bahwa volume ekspor mengalami kenaikan sebesar 12,50% dan nilai nominalnya naik 27,58%

j. Hotel

Dari hasil pendaftaran banyaknya hotel/penginapan di Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun cenderung menigkat. Dibandingkan tahun 2001 yang tercatat 255 hotel/penginapan, terjadi peningkatan 9,02 % menjadi 278 hotel/penginapan pada tahun 2002. Banyaknya kunjungan wisatawan asing ke wilayah Kabupaten Sleman dari benua Amerika, Asia, Eropa dan Australia selama tahun 2004 seluruhya mengalami penurunan 2,13% (dari Amerika) dan 23,77% (dari Asia).

k. Periwisata

Aktivitas pariwisata di Kabupaten Sleman digerakkan oleh wisata museum, wisata candi, alam serta kegiatan kesenian pentas. Empat museum yang tersebar di Kabupaten Sleman mampu menyedot pengunjung sebanyak 376.926 orang pada tahun 2004. dari kunjungan tersebut diperoleh pendapatan dari karcis masuk sekitar Rp. 666.175 juta.

(40)

pengunjung. Dari hasil pertunjukkan tersebut diperoleh pendapatan dari karcis masuk sekitar Rp. 1.752.817,-

Untuk wisata alam, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mencatat sebanyak 872.926 orang pengunjungpada tahun 2004. sebagian besar adalah wisatawan nusantara sebnayak 869.167 orang dan wisatawan mancanegara hanya 3.759 orang.

2.6 Bidang Kesejahteraan Mayarakat a. Pendidikan

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam pengembangan sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidkan penduduknya. Beberapa factor yang mendukung penyelenggaraan pendidikan adalah ketersedian sekolah yang memadai dengan sarana prasaranya, pengajar dan keterlibatan anak didik maupun komite sekolah.

Tabel 2.11.

Banyaknya Sekolah, Kelas. Guru dan siswa SD,SMP, SMA Negri dan Swasta di Kabupaten Sleman

Jenjang sekolah

Sekolah Kelas Guru Siswa

SD 503 3.218 3.292 78.747

SMP 105 867 2.623 30.905

SLTA 52 450 1.484 12.943

Sumber data :Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman tahun 2004 b. Tenaga Kerja

(41)

industrial yang harmonis, meningkatkannya ketrampilan tenaga kerja yang mandiri dan profesional, serta terwujudnya derajad perlindungan dan kesejahteraan pekerja.

Di Kabupaten Sleman dari 15.330 pencari kerja, sebanyak 3.703 orang atau 24.16 % telah ditempatkan bekerja yang tersebar pada berbagai sector. Banyaknya pencari kerja yang mendaftar pada Depnaker Kabupaten Sleman pada tahun 2004 tercatat sebanyak 15.330 orang, yang diantaranya:

Tabel 2.12.

Jumlah Pencari Kerja di Kabupaten Sleman Tahun 2004

Jenjang Pendidikan

Jumlah Pencari Kerja

SD 61 orang

SMP 700 orang

SMU/sederajat 8.874 orang

Sarjana 4.325 orang

Sumber data : Badan Pusat Statistik Kab. Sleman tahun 2004

Sebagian besar yakni sebanyak 1.606 orang terserap pada sector jasa kemasyarakatan, kemudian diikuti sector listrik, gas dan air minum sebanyak 1.903 orang.

• Gerakan Keluarga Berencana

(42)

Pasangan usia subur (PUS) yang merupakan salah satu sasaran program Keluarga Berencana pada tahun 2004 tercatat sebanyak 136.092 pasangan. Mereka tesebar pada 17 kecamatan dengan jumlah terbesar di Kecamatan Depok sebanyak 14.417 pasangan, disusul Kecamatan Gamping 12.473 pasangan dan Kecamatan Malti sebanyak 11.625 pasangan.

Jumlah pesrta Keluarga Berencana aktif di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 tercatat sebanyak 105.999 pasangan.

c. Transmigrasi

Penempatan transmigrasi menurut daerah penempatannya di bedakan dua kawasan yaitu Kawasan Barat dan Kawasan Timur. Kawasan Barat terdiri dari D.I Aceh, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sementara di Kawasan Timur terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

d. Agama

Komposisi penduduk menurut agama yang dipeluk di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 tercatat sebagai berikut:

Tabel 2.13.

Jumlah Pemeluk Agama di Kabupaten Sleman Tahun 2004

Agama Jumlah Pemeluk

Islam 878.812 orang

Katolik 56.710 orang

Kristen 22.606 orang

Hindu 1.324 orang

Budha 746 orang

(43)

2.7. Badan Pengelolaan Kekuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Kabupaten Sleman

Badan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Kabupaten Sleman terbentuk pada tahun 2000 yaitu setelah dikeluarkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 tahun 2000 tentang “Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman”. Badan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Kabupaten Sleman ini merupakan penggabungan dari Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda), Bidang Keuangan (bagian dari Aiaten Administrasi Sekretaris Daerah) dan Bidang Perlengkapan (bagian dari Asisten Adminiatrasi Sekretaris Daerah). Dalam organisasi pemerintahan daerah di Kabupaten Sleman, BPKKD ini berkedudukan sebagai unsur penunjang pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaeis Daerah yang mempunyai tugas pokok untuk membantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dibidang pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah. Dalam menjalankan tugasnya BPKKD mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Perumusan kebijikan teknis di bidang pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah; dan

(44)

Selain mempunyai tugas pokok untuk membantu bupati dalam penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah, BPKKD juga bertugas antara lain:

a. Menyusun program di bidang pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah sesuai dengan rencana strategis pemerintah daerah.

b. Merumukan kebijakan teknis dibidang pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah.

c. Melaksanakan pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah, menyususn perhitungan APBD.

d. Melaksanakan pelayanan penunjangan terhadap penyelenggaraan pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah oleh instansi dilingkungan pemerintah daerah.

e. Memfasilitasi penyelenggaraan pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah pemerintah kabupaten.

2.8 APBD Dalam Era Otonomi Daerah

(45)

sumber-sumber penerimaan daerah guna meutupi pengeluaran-pengeluaran dimaksud.

Definisi tersebut mengandung unsur sebagai berikut (Mamesah, 19995:20-21): 1. Rencana operasional daerah, yang mengagambarkan adanya aktivitas atau

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dimana aktivitas tersebut telah diuraikan secara rinci.

2. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk menutupi biaya-biaya yang ada merupakan batas maksimal pengeluaran-pengeluaran yang akan dilaksankan.

3. Dituangkan dalam bentuk angka jenis kegiatan dan jenis proyek

4. Untuk keperluan satu tahun anggaran yaitu 1 April dengan 31 Maret tahun berikutnya

(46)

Di Era (pasca) rerformasi, bentuk APBD mengalami perubahan cukup mendasar. Bentuk APBD yang baru didasar pada peraturan-peraturan mengenai Otonomi Daerah terutama UU No. 22/1999 yang telah diubah menjadi UU No. 32/2004, UU No. 25/1999 yang telah diubah menjadi UU No. 33/2004, PP No. 105/.2000. Akan tetapi, karena untuk menerapkan peraturan yang baru diperlukan proses, maka untuk menjembatani pelaksanaan keuangan daerah pada kedua era tersebut dikeluarkan Surat Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No.903/2375/SJ tanggal 17 November 2001. Peraturan tersebut dikeluarkan untuk mengakomodasi transisi dari UU No. 5/1974 ke UU No. 22/1999 yang kini telah diubah menjadi UU No.32/2004.

(47)

Dalam bentuk APBD yang baru itu pula, penerimaan dibagi menjadi tiga kategori yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Selanjutnya pengeluaran diklasifikasikan menjadi lima kategori yaitu Belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan Pemeliharaan, Pelayanan Publik, Belanja Modal, Belanja Transfer, dan Belanja tak Tersangka.

Tabel 2.14

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2004

NOMOR URAIAN JUMLAH Pendapatan Asli Daerah

Pajak Daerah Retribusi Daerah

Bagian Laba Badan Usaha Daerah

Lain-lain Pendapatan

Dana Perimbangan

Pos Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak

(48)

2.1.2

Belanja Operasi dan Pemeliharaan

Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan

Belanja Operasi dan Pemeliharaan

Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan

BELANJA MODAL

Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan

Belanja Tak Tersangka

Jumlah Belanja:

Surplus/(Defisit)

(49)

BAB III

TELAAH PUSTAKA

1. Penelitian yang dilakukan oleh Widodo disusun dalam sebuah paper yang berjudul “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali”. Paper tersebut disunting oleh Abdul Halim yang tergabung dalam buku “Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah Edisi Revisi” tahun 2002. Tujuan Penelitian yang dilakukan Widodo tersebut adalah untuk mengetahui kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerahnya, apakah pemerintah sebagai pihak ynag diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Untuk menganalisa kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerahnya peneliti menggunakan analisa rasio keuangan terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakan pemerintah daerah tersebut.

Beberapa Rasio Keuangan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain yaitu Rasio Kemandirian, Rasio Efektifitas dan Efisiensi dan Debt Service Coverage Ratio (sub mengacu pada HalimAbdul,2002). Dari penelitian yang dilakukan oleh Widodo ini diperoleh hasil sebagai berikut:

(50)

2. Kemandirian Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial masyarakat masih relatif rendah dan bahkan cenderung turun yaitu dari 16,65% pada tahun anggaran 1997/1998 menjadi 9,69% pada tahun anggaran 2000.

3. Sebagian besar pendapatan daerah Kabupaten Boyolali, masih diprioritaskan untuk mencukupi belanja rutin yaitu rata-rata mencapai 80% dari total pendapatan yang diterima.

4. Aktivitas penyerapan dana untuk belanja pembangunan masih terkonsentrasi pada triwulan IV yaitu sebesar 72,96% dari total anggaran pembangunan.

5. Secara potensial apabila terjadi kekurangan dana, maka untuk mencukupi kebutuhan belanjanya, Kabupaten Boyolali memiliki kesempatan untuk melakukan pinjamaman. Hal ini karena pada tahun anggaran 2000 mempunyai DSCR sebesar 11,89, dan pada tahun 2001, menurut penelitian Tim dari LPEM UI, Kabupaten Boyolali dapat melakukan pinjaman dengan maksimum pokok angsuran pinjaman sebesar Rp. 15,055 miliar.

(51)
(52)

dan setiap tahun anggaran mengalami penurunan sebesar 0,1%. Hal ini menunjukkan bahwa pemungutan PAD Kabupaten .Maluku Tenggara dari tahun ke tahun semakin efisien karena biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD semakin proposional dengan realisasi PAD yang didapatkan. Hal ini menunujukkan kinerja pemerintah daerah yang semakin baik.

3. Penelitian (Skripsi) karya Fitriyah Nurlaili (2004), dengan judul “Peran Retribusi Pasar Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jombang”. Dalam analisisnya , penulis menyimpulkan menjadi beberapa kesimpulan yaitu :

a. Besar kontribusi retribusi pasar terhadap PAD Kabupaten Jombang dirasa belum cukup maksimal. Kontribusi pasar pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 mengalami fluktuasi tetapi dua tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup berarti. Rata-rata kontribusi retribusi pasar terhadap PAD sebesar 4,57%.

b. Elastisitas retribusi pasar di Kabupaten Jombang terhadap PDRB tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 berfluktuasi. Rata-rata elastisitasnya yaitu sebesar 8,75%.

c. Potensi retribusi pasar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

(53)

e. Efektifitas retribusi pasar terlihat berfluktuasi, meski sebagian besar mengalami penurunan. Efektifitas retribusi pasar di Kabupaten Jombang rata-rata tiap tahunnya sebesar 106,78% dan semuanya digolongkan kinerja yang efektifitasnya sangat efektif.

(54)

BAB IV LANDASAN TEORI 4.1. Otonomi Daerah

1. Pengertian otonomi daerah

Menurut Widarta ( 2001:2 ) dijelaskan bahwa otonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Autos dan Nomos. Autos berarti sendiri, dan Nomos berarti aturan. Otonomi bermakna kebebasan dan kemandirian daerah dalam menentukan langkah-langkah sendiri. Ketentuan umum pasal 1 Undang-Undang No.32 tahun 2004 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Daerah otonomi yang dimaksud adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilyah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam system negara Kesatuan republik Indonesia.

(55)

menentukan hukum sendiri, dan berpemerintahan sendiri. Sedangkan Syafrudin sendiri berpendapat bahwa istilah otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atas kemandirian adalah wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggung jawabkan. Pengertian otonomi daerah yang melekat dalam keberadaan pemerintah daerah, juga sangat berkaitan dengan desentralisasi. Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat (Nasional) kepada pemerntah lokal atau daerah dan kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingannya sesuai dengan aspirasi dan keputusannya dikenal sebagai otonomi daerah. Dengan pemahaman ini, otonomi daerah merupakan inti dari desentralisasi. Jadi yang dimaksud otonomi daerah pada pokoknya selalu melihat otonomi itu sebagai hal, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Dasar Hukum Otonomi Daerah

(56)

3. Prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah

Untuk mencapai tujuan otonomi daerah, maka diperlukan prinsip-prinsip dalam pemberian otonomi daerah antara lain, pelaksanaan otonomi harus didasarkan pada otonomi seluas-luasnya, nyata, dan bertanggung jawab.

Penjelasan umum Undang-Undang No.22 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.32 tahun 2004 mengenai prinsip otonomi yang seluas-luasnya, nyata dan bertanggung jawab, yaitu:

a. Otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenagan mengurus pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

b. Nyata berarati bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasrkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang senyata-nyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.

(57)

daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.

Sedangkan prinsip-prinsip otonomi daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.32 tahun 2004 adalah:

a. Penyelenggaraan otonomi derah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman daerah.

b. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.

c. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota, sedang otonomi daerah propinsi merupakan otonomi yang terbatas.

d. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan daerah serta antar daerah.

(58)

kawasan perkebunan, kawasan perkotaan baru, kawasan pariwisata, dan semacamnya berlaku ketentuan “Peraturan Daerah Otonom”.

f. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif saerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atau penyelenggaraan pemerintah daerah.

g. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu yang dilimpahkan kepada gubernur sebaga wakil pemerintah.

h. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah kepada daerah, tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.

4. Tujuan otonomi daerah

Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitu:

(59)

sebagai elemen dasar dalam menciptakan kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Pemberian otonomi dan pembentukan institusi pemerintah daerah akan mencegah terjadinya sentralisasi dan mencegah terjadinya bentuk pemisahan diri. Adanya institusi pemerintah daerah akan mengajarkan kepada masyarakat untuk menciptakan kesadaran membayar pajak dan sebaliknya juga memposisikan pemerintah daerah untuk mempertanggungjawabkan pemakaian pajak rakyat.

b. Tujuan administratif adalah mengisyaratkan pemerintah daerah untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan ekonomis dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

5. Pemantapan pelaksanaan otonomi daerah

Secara kualitatif pelaksanaan otonomi daerah dan dampaknya tersebut dapat dirasakan sebagai berikut :

a. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan semakin meningkat.

b. Peran serta aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan, baik dalam penentuan kebijakan, dan pelaksanaan maupun proses evaluasi dan pengawasan semakin meningkat.

(60)

d. Meningkatkan gairah birokrasi pemerintahan daerah, karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi karena kompetisi professional.

e. Meningkatkan pengawasan atas jalannya pemerintahan daerah, baik yang dilakukan masyarakat maupun DPRD, sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih, dan terpercaya sangat didambakan oleh masyarakat.

f. Meningkatkan DPRD, sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. g. Pemberian pelayanan umum kepada masyarakat secara bertahap

semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitas, sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat aka pelayanan lebih baik.

h. Munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya.

Beberapa hal yang perlu mendapat prioritas dalam pemantapan otonomi daerah adalah hal-hal sebagai berikut:

a. Peningkatan kemitraan antar pemerintah kabupaten dan DPRD serta kinerja dan pelayanan aparatur pemerintah kabupaten,

b. Penataan kelembagaan dan sinkronisasi-harmonisasi antara peraturan pemerintah pusat dan daerah,

(61)

d. Peningktan partisipasi masyarakat dan kemitraan sinergis pelaku pembangunan terkait,

e. Peningkatan koordinasi dengan pusat dan propinsi serta kerjasama antar daerah.

4.2. Keuangan daerah dalam masa otonomi

Keuangan daerah mempunyai arti yang sangat penting dalam rangka pelaksanaan pemerintahan dan kegiatan pembangunan oleh pelayanan kemasyarakatan di daerah, oleh karena itu keuangan daerah diupayakan untuk berjalan secara berdaya guna dan berhasil guna.

(62)

Tujuan keuangan daerah pada masa otonomi adalah menjamin tersedianya keuangan daerah guna pembiayaan pembangunan daerah, pengembangan pengelolaan keuangan daerah yang memenuhi prinsip, norma, asas dan standar akuntansi serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah secara kreatif melalui penggalian potensi, intensifikasi dan ekstensifikasi. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai keuangan daerah adalah kemandirian keuangan daerah melalui upaya yang terencana, sistematis dan berkelanjutan, efektif dan efisien.

Pada masa orde baru kemampuan daerah dalam menjalankan pemerintahannya didasarkan pada UU. No. 5 / tahun 1974 di samping mengatur pemerintahan daerah, Undang-undang tersebut juga menjelaskan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Untuk bisa menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang dimilikinya pemerintah daerah dilengkapi dengan seperangkat kemampuan pembiayaan dimana menurut pasal 55, sumber pembiayaan pemerintah daerah terdiri dari tiga komponen besar yaitu;

1. Pendapatan asli daerah yang meliputi: ƒ Hasil pajak daerah

ƒ Hasil retribusi daerah

(63)

2. Pendapatan yang berasal dari pusat meliputi: ƒ Sumbangan dari pemerintah

ƒ Sumbangan-sumbangan lain yang diatur dengan peraturan perundang-undangan

3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah

Diantara ketiga komponen sumber pendapatan tersebut, komponen kedua yaitu pendapatan yang berasal dari pusat merupakan cerminan atau indikator dari ketergantungan pendanaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Di samping itu besarnya dana dari pusat tersebut juga membawa konsekuensi kebijakan proyek pemerintah pusat yang secara fisik implementasinya itu berada di daerah. Sehingga ada beberapa proyek pemerintah pusat melalui APBN tetapi dana itu juga masuk di dalam anggaran pemerintah daerah (APBD). Adapun pembiayaan pemerintah dalam hubungannya dengan pembiayaan pemerintah pusat diatur sebagai berikut:

ƒ Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi dibiayai atas beban APBN.

ƒ Urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi dibayar dari dan atas beban APBD.

(64)

dibiayai oleh pemerintah pusat atas beban APBN atau pemerintah daerah diatasnya atas beban APBD pihak yang menugaskan.

Sepanjang potensi sumber keuangan daerah belum mencukupi Pemerintah pusat memberikan sejumlah sumbangan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian bagi Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten atau Kodya disamping mendapat bantuan dari pemerintah pusat ajuga mendapat limpahan dari Pemda Tingkat I Propinsi. Meskipun bisa jadi limpahan, dana propinsi tersebut berasal dari pemerintah pusat lewat APBN. Berbagai penelitian empiris yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa dari ketiga sumber pendapatan daerah seperti tersebut diatas peranan dari pendapatan yang berasal dari pusat sangat dominan.

Ketergantungan yang tinggi dari keuangan daerah terhadap pusat tersebut tidak lepas dari makna otonomi dalam UU No. 5 Tahun 1974 tentang “Pokok-pokok Pemerintah di Daerah”. Undang-undang tersebut lebih tepat disebut sebagai penyelenggaraan pemerintah yang sentralistik daripada desentralistik. Unsur sentralistik ini sangat nyata dalam pelaksanaan dekosentrasi. Dalam implementasinya dekonsentrasi merupakan sarana bagi perangkat birokrasi pusat untuk menjalankan praktek sentralisasi yang terselubung sehinggga kemandirian daerah menjadi terhambat.

(65)

tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang “Pemerintah Daerah”, dan dan UU No. 25 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.33 tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah”. Pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang-Undang-Undang No.32 tahun 2004, perlu dibarengi dengan pelimpahan keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang diatur dalam UU No. 25 tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.33 tahun 2004 tanpa adanya otonomi keuangan daerah tidak akan pernah ada otonomi bagi pemerintah daerah. Jadi kedua Undang-undang tersebut saling melengkapi.

(66)

terhadap Undang-undang ini, peranan PAD di masa mendatang akan tetap menjadi marginal seperti masa orde baru mengingat pajak-pajak potensial bagi daerah tetap menjadi wewenang pemerintah pusat. Pemerintah daerah tingkat II hanya memiliki enam sumber PAD dimana sebagian besar dari padanya dari pengalaman masa lalu sudah terbukti hanya memiliki peranan yang relatif kecil bagi kemandirian daerah (http://www.ideasrespec.org)

4.3. Kinerja keuangan pemerintah daerah

Pemerintah daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan layanan sosial masyarakat wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan daerahnya untuk dinilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak.

(67)

Pelaporan keuangan pemerintah pada umumnya hanya menekankan pada pertanggung jawaban apakah sumber yang diperoleh sudah digunakan sesuai dengan anggaran atau perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian pelaporan keuangan yang ada hanya memaparkan informasi yang berkaitan dengan sumber pendapatan pemerintah, bagaimana penggunaannya dan posisi pemerintah saat itu.

Salah satu alat untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerahnya adalah dengan melaksanakan analisis rasio terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakannya (http://www.feuhamka.com/artikel22.htm). Hasil analisis rasio keuangan ini selanjutnya digunakan untuk tolok ukur dalam:

a. Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelengggaraan otonomi daerah.

b. Mengukur efektivitas dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan daerah.

c. Mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan pendapatan daerahnya.

d. Mengukur kontribusi masing-masing sumber pendaptan dalam pembentukan pendapatan daerah.

(68)

Penggunaan analisis rasio pada sektor publik khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan, sehinggga secara teori belum ada kesepakatan secara bulat mengenai nama dan kaidah pengukurannya. Meskipun demikian dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur, demokratis, efektif, efisien dan akuntabel, analisis rasio terhadap APBD perlu dilaksanakan meskipun kaidah pengakuntansian dalam APBD berbeda dengan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan swasta (Halim, 2002:127-130).

Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehinggga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan pemerintah daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun potensi daerahnya relatif sama untuk dilihat bagaimana posisis keuangan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada APBD ini adalah:

1. DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)

DPRD adalah badan yang memberikan otorisasi kepada pemerintah daerah untuk mengelola laporan keuangan daerah.

(69)

Badan eksekutif merupakan badan penyelenggara pemerintahan yang menerima otorisasi pengelolaan keuangan daerah dari DPRD, seperti Gubernur, Bupati, Walikota, serta pimpinan unit Pemerintah Daerah linnya. 3. Badan pengawas keuangan

Badan Pengawas Keuangan adalah badan yang melakukan pengawasan atas pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Yang termasuk dalam badan ini adalah Inspektorat Jendral, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Badan Pemeriksa Keuangan.

4. Investor, kreditor dan donatur

Badan atau organisasi baik pemerintah, lembaga keuangan, maupun lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang menyediakan sumber keuangan bagi pemerintah daerah.

5. Analisis ekonomi dan pemerhati pemerintah daerah

Yaitu pihak-pihak yang menaruh perhatian atas aktivitas yang dilakukan Pemerintah Daerah, seperti lembaga pendidikan, ilmuwan, peneliti dan lain-lain.

6. Rakyat

(70)

7. Pemerintah Pusat

Pemerintah pusat memerlukan laporan keuangan pemerintah daerah untuk menilai pertanggungjawaban Gubernur sebagai wakil pemerintah (Pasal 2 PP No. 108/2000).

4.4. Jenis Rasio berdasarkan data yang bersumber dari APBD

Beberapa jenis rasio yang dapat dikembangakan bedasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD antara lain:

1. Kemandirian

Menurut Halim (2002:128) gambaran citra kemandirian daerah dalam berotonomi dapat diketahui melalui beberapa besar kemampuan sumber daya keuangan untuk daerah tersebut, agar mampu membangun daerahnya disamping mampu pula untuk bersaing secara sehat dengan kabupaten lainnya dalam mencapai otonomi yang sesungguhnya. Upaya nyata didalam mengukur tingkat kemandirian yaitu dengna membandingkan besarnya realisasi PAD dengan total pendapatan daerah

Pendapatan Asli Daerah Tingkat Kemandirian = ---

Total Penerimaan Daerah

(71)

yang merupakan komponen utama Pendapatan Asli Daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi pula.

Secara konsepsional, pola hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, harus dilakukan dengan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan, walaupun pengukuran kemampuan keuangan daerah ini akan menimbulkan perbedaaan. Ada empat macam pola yang memperkenalkan “hubungan situasional” yang dapat digunakan dalam pelaksanaan otonomi daerah, terutama pelaksanaan undang-undang nomor 25 tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.33 tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah” (Halim, 2002:168-169), antara lain:

a. Pola hubungan instruktif, peranan pemerintah pusat lebih dominan dari pada kemandirian pemerintah daerah. (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi daerah)

(72)

c. Pola hubungan partisipatif, peranan pemerintah pusat semakin berkurang mengingat daerah yang bersangkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi daerah.

d. Pola hubungan delegatif, campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mampu mandiri dalam melaksanakan urusan otonomi daerah.

Bertolak dari teori tersebut, karena adanya potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda, akan terjadi pula perbedaan pola hubungan dan tingkat kemandirian suatu daerah. Sebagai pedoman dalam melihat pola hubungan daerah dengan kemampuan daerah (dari sisi keuangan) dapat dikemukakan tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1.

Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah Kemampuan keuangan Kemandirian % Pola Hubungan Rendah Sekali

Rendah Sedang Tinggi

0% - 25% 25% - 50% 50% - 75% 75% - 100%

(73)

2. Rasio Efektivitas

Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. (Halim, 2002:129-130)

Realisasi Penerimaan PAD

Rasio Efektivitas = ---Target Penerimaan PAD yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah

Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen. Namun demikian semakin tinggi rasio efektifitas, menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

3. Rasio Efisiensi

(74)

diterimanya sehingga dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau tidak. Hal itu perlu dilakukan karena meskipun Pemerintah Daerah berhasil merealisasikan pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan, namun keberhasilan itu kurang memilki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih besar dari pada realisasi pendapatan yang diterimanya.

Biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD

Rasio Efisensi = ---Realisasi Penerimaan PAD

4. Analisis Trend

Analisis trend dilakukan untuk mengetahui perkiraan kemungkinan Tingkat Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Kabupaten Sleman pada tahun-tahun yang akan datang. Dalam perhitungan ini menggunakan analisis time series dengan persamaan trend sebagai berikut :

Y’ = a + bX

Besarnya a dan b dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

a = n

Y Σ

b = 2

X XY Σ Σ

(75)

Y’ = Perkembangan Kemandirian, atau Efektivitas atau juga Efisiensi Y = Variabel tingkat kemandirian.

a = Besarnya Y saat X=0

b = Besarnya Y jika X mengalami perubahan 1 satuan

X = Waktu

Dengan mengadakan peramalan, seseorang atau suatu badan lebih mempunyai pandangan untuk merencanakan kegiatan-kegiatan maupun untuk menetapkan anggaran keuangan di tahun berikutnya. Dengan menggunakan dasar data-data masa sebelumnya, dikumpulkan, kemudian dianalisa untuk meramalkan waktu yang akan datang. Data-data yang dikumpulkan dengan rangkaian waktu disebut dengan rangkaian waktu (time series)

(76)
(77)

BAB V

METODOLOGI PENELITIAN

5.1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan berupa Statistika deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah dan kemudian menyajikan data observasi agar pihak lain dapat dengan mudah memperoleh gambaran mengenai sifat (karakteristik) Obyek dari data tersebut. Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian hanya meliputi daerah atau subyek yang sangat sempit (Arikunto, 1998:131).

5.2. Lokasi Penelitian dan Sumber Data

Penelitian ini dilakukan di Pemerintahan Daerah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

(78)

2000-2004 Kabupaten Sleman mempunyai Penerimaan Asli Daerah yang paling besar diantara Kabupaten-kabupaten yang ada di Propinsi DIY. Data yang dicari diperoleh dari badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Kabupaten Sleman.

5.2.1. Data yang di Gunakan adalah :

1. Pendapatan Asli Daerah dan Total Penerimaan Daerah tahun anggaran 2000 sampai dengan tahun anggaran 2004.

2. Realisasi Pemungutan PAD dan Target Penerimaan PAD tahun anggaran 2000 sampai dengan tahun anggaran 2004.

3. Biaya Pemungutan PAD dan Realisasi Penerimaan PAD tahun anggaran 2000 sampai dengan tahun anggaran 2004.

5.2.2. Teknik Pengumpulan Data

(79)

dari BPKKD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah) Kabupaten Sleman.

5.2.3. Teknik Analisis Data

1. Untuk menjawab permasalahan pertama, penulis menggunakan dua langkah yaitu :

A Menghitung Tingkat Kemandirian dengan rumus : (Halim, 2002:128) Pendapatan Asli Daerah

Tingkat Kemandirian = --- Total Penerimaan Daerah

Langkah-langkah untuk melakukan penghitungan Tingkat Kemadirian adalah :

1) Membuat tabel perkembangan APBD tahun Anggaran 2000 sampai dengan tahun Anggaran 2004.

2) Mengidentifikasi PAD dan total Penerimaan untuk masing-masing tahun Anggaran.

3) Membandingkan antara PAD dengan Total Penerimaan.

4) Menarik kesimpulan dari hasil perbandingan tersebut dengan berpatokan pada :

(80)

b) Apabila tingkat kemandirian 25% - 50% berarti kemampuan keuangan daerah tersebut rendah, namun campur tangan pemerintah pusat mulai berkurang dengan demikian dianggap sedikit mampu melaksanakan otonomi daerah.

c) Apabila tingkat kemandirian 50% - 75% berarti kemampuan keuangan daerah tersebut sedang, dengan demikian daerah yang bersangkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi.

d) Apabila tingkat kemandirian 75% - 100% berarti kemapuan keuangan daerah tersebut tinggi, maka campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena benar-benar mampu dan mandiri melaksanakan urusan otonomi daerah.

(81)

karena matematis metode tersebut memang sudah terbaik (Dajan, 1983:312). Pencarian nilai trend deret berkala pada metode kuadrat terkecil, observasi-observasi umumnya dilakukan pada waktu yang sama sehingga penentuan nilai-nilai konstanta dalam persamaan linier guna penerapan kurva lebih mudah dilakukan. Bila jumlah observasi n ganjil maka rata-rata x hitung adalah observasi yang tertengah (Dajan, 1983:304). Sedangkan bila jumlah observasi n genap, penentuan rata-rata hitung x akan mengalami sedikit perubahan. Data yang disajikan dalam penelitian ini merupakan data ganjil sehingga penentuan rata-rata hitung x lebih mudah, yaitu dengan menentukan observasi yang tertengah. Penggunaan analisis trend dengan metode kuadrat terkecil pada kasus data ganjil lebih praktis dibandingkan metode setengah rata-rata.

Dengan formula : Y’ = a + bx, dimana. Y

a = --- n

Formula:(5.1) XY

b = --- X2 Keterangan :

(82)

a = Besarnya Y saat X = 0

b = Besarnya perubahan Y jika X mengalami perubahan 1 satuan

X = waktu

2. Untuk menjawab permasalahan kedua penulis menggunakan dua langkah yaitu :

A. Menghitung rasio Efektivitas dengan rumus : (Halim,2002:129) Realisasi Penerimaan PAD

Rasio Efektivitas = --- Target Penerimaan PAD yang ditetapkan berdasarkan

potensi riil daerah

Langkah-langkah untuk melakukan penghitungan Rasio Efektivitas 1) Membuat tabel target dan realisasi penerimaan PAD tahun

anggaran 2000/2001 sampai dengan tahun anggaran 2004.

2) Mengidentifikasi target penerimaan PAD dan realisasi penerimaan PAD untuk masing-masing tahun anggaran.

3) Membandingkan antara realisasi dan target yang ditetapkan untuk masing-masing tahun anggaran.

4) Menentukan tingkat efektivitas.

(83)

a) Apabila kontribusi keluaran yang dihasilkan (realisasi PAD) semakin besar terhadap nilai pencapaian sasaran tersebut (target PAD) maka dapat dikatakan pemungutan PAD semakin efektif

b) Apabila kontribusi keluaran yang dihasilkan (realisasi PAD) semakin kecil terhadap nilai pencapaian sasaran tersebut (target PAD) maka dapat dikatakan pemungutan PAD kurang efektif. Namun menurut Halim (2002:129) apabila rasio efektivitas mencapai 1 (100%) berarti daerah tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan efektif. B. Untuk mengetahui perkembangan dan Proyeksi Rasio Efektivitas

(84)

n ganjil maka rata-rata x hitung adalah observasi yang tertengah (Dajan, 1983:304). Sedangkan bila jumlah observasi n genap, penentuan rata-rata hitung x akan mengalami sedikit perubahan. Data yang disajikan dalam penelitian ini merupakan data ganjil sehingga penentuan rata-rata hitung x lebih mudah, yaitu dengan menentukan observasi yang tertengah. Penggunaan analisis trend dengan metode kuadrat terkecil pada kasus data ganjil lebih praktis dibandingkan metode setengah rata-rata.

Dengan formula : (5.1)

3. Untuk menjawab permasalahan yang ketiga penulis menggunakan dua langkah yaitu :

A. Menghitung Rasio Efisiensi dengan rumus : (Halim, 2002:131) Biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD Rasio Efisiensi = ---

Realisasi Penerimaan PAD

Langkah-langkah untuk melakukan penghitungan Rasio Efisiensi adalah:

1) Membuat tabel biaya dan realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah tahun anggaran 2000/2001 sampai dengan tahun anggaran 2004.

Gambar

Tabel 2.3.
Tabel 2.6.
Tabel 2.7.
Tabel 2.8.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terakhir untuk rasio pertumbuhan, secara rata-rata pendapatan asli daerah dan total belanja pembangunan terjadi peningkatan nilai, sedang untuk total pendapatan daerah dan

Analisis rasio keuangan digunakan untuk menghitung rasio kemandirian, rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), rasio aktivitas, Debt Service Coverage Ratio (DSCR),

Pada pendapatan Kota Tegal untuk tahun anggaran 2020 mengalami kenaikan dibanding tahun anggaran 2019 dikarenakan adanya kenaikan pada pendapatan asli daerah (PAD)

terhadap ringkasan Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Magelang tahun 2012-2016, maka diperoleh Share sebesar rata-rata 20,44% dan Growth

Teknik analisis data yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan rumus: Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Efektifitas dan Efisiensi Pendapatan Asli

Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Situbondo selama tahun anggaran dari tahun 2010 hingga tahun 2014, jika dilihat tingkat keefektivannya, pemerintah Kabupaten Situbondo

Sumber Daya Manusia Berdasarkan hasil perhitungan rasio efisiensi menunjukkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara masih dalam kategori efisiensi

Hasil perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah dapat dilihat pada tabel berikut berdasarkan lampiran: Tabel 1 Perhitungan Rasio Kemandirian Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran