PENENTUAN KADAR SODA YANG HILANG DI TAHAP
PENCUCIAN IV PADA PROSES
PEMBUATAN PULP
DI
PT. TOBA PULP LESTARI (TPL)
Diajukan untuk melengkapi gelar Ahli Madya Diploma Kimia Analis
TUGAS AKHIR
SAMPE TULUS P MANALU 032401072
DEPARTEMEN KIMIA PROGRAM D-3 KIMIA ANALIS
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERSETUJUAN
Judul : PENENTUAN KADAR SODA YANG HILANG DI
TAHAP PENCUCIAN PADA PROSES PEMBUATAN PULP
Kategori : TUGAS AKHIR
Nama : Sampe Tulus P Manalu
Nomor Induk Mahasiswa : 032401072
Jurusan/Program Studi : Kimia Analis/Diploma-3
Departemen : Kimia
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
(FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Diluluskan di : Medan , Mei 2007
Disetujui Oleh :
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua, Dosen Pembimbing,
PENGHARGAAN
Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini, yang berjudul
“Penentuan Kadar Soda Yang Hilang di Tahap Pencucian IV Pada Proses Pembuatan Pulp”.
Karya ilmiah ini disusun untuk melengkapi persyaratan ujian akhir untuk
memperoleh gelar Ahli Madya Diploma pada Jurusan Kimia Analis, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, serta adik-adikku tersayang, Erika, Renata,
Fernandez, dan Fransiska atas dukungan dan kasih sayang mereka selama penulis duduk
di bangku perkuliahan.
Selanjutnya dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Ibu Dra. Saur Lumban Raja, MSi, selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah
memberikan penulis dorongan, bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan karya
ilmiah ini.
2. Ibu Dr. Rumondang Bulan,M.S. selaku ketua Departemen Kimia.
3. Bapak dan Ibu Staf Pengajar di Jurusan Kimia Analis yang telah mendidik dan
memberikan disiplin ilmu selama penulis duduk di bangku perkuliahan.
4. Bapak Irwan Kelana Putra selaku Seksi Head Training And Development Centre
5. Bapak Arlodis Nainggolan selaku Pembimbing Lapangan penulis yang telah
membimbing penulis selama berada di tempat PKL.
6. Kak Serenova yang telah banyak membantu penulis selama berada di tempat PKL.
7. Buat teman-teman satu stambuk yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
banyak memberikan dorongan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan
karya ilmiah ini.
8. Buat rekan rekan seperjuangan Papaga, Munirul, dan buat Hengki makasih ya buat
ABSTRACT
Soda loss was explained as Na2SO4 which carried by porridge pulp product
washing can not took from pulp product cooking. Soda loss counted as dry heavy solid
unit of weight and than converted as total sodium in this case is Na2SO4/ton pulp.
Lossing Na2SO4 is pulp extremely hanging to increase of water washing.
Increase of water washing in a great number was extremely influential to decrease solid
ABSTRAK
Kandungan soda dinyatakan sebagai Na2SO4 yang terbawa bubur pulp hasil
pencucian yang sudah tidak bisa diambil lagi dari pulp hasil pemasakan. Kehilangan
soda dihitung sebagai berat kering padatan terlarut per satuan berat pulp, kemudian
dikonversikan jumlah senyawa sodium, dalam hal ini adalah Na2SO4/ton pulp.
Penghilangan kandungan soda dalam bubur pulp sangat tergantung pada
penambahan air pencuci. Penambahan air prncuci dalam jumlah yang sangat banyak
DAFTAR ISI
Halaman
PENGHARGAAN ... i
ABSTRACT... iii
ABSTRAK ... iv
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Permasalahan ... 2
1.3. Tujuan ... 2
1.4. Manfaat ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Tentang Pulp ... 3
2.2. Komposisi dan Sifat Kimia Kayu ... 3
2.2.1. Selulosa ... 5
2.2.2. Poliosa ... 5
2.2.3. Lignin ... 6
2.2.4. Zat Ekstraktif ... 7
2.3. Proses Umum Pembuatan pulp di P.T. Toba Pulp Lestari ... 9
2.4. Washing ... 10
2.4.1. Dasar Operasi Washing ... 10
2.4.2. Uraian Proses Washing ... 12
2.4.1. Washer Losses ... 14
2.4.2. Permasalahan Pada Soda Loss ... 16
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1. Proses Analisa ... 17
3.1.1. Alat-alat ... 17
3.1.2. Bahan-bahan ... 17
3.2. Persiapan Analisa ... 17
3.2.1. Penyiapan Sampel ... 17
3.2.2. Cara Kerja ... 18
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hasil Pengamatan ... 19
4.2. Perhitungan ... 20
4.3. Pembahasan ... 21
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 22
5.2. Saran ... 22
DAFTAR PUSTAKA TABEL DATA Tabel 1. Komposisi Unsur Kimia Kayu... 4
Tabel 2. Komposisi Penyusun Kayu ... 5
Tabel 3. Penyebab Kehilangan Soda Terlalu Tinggi ... 16
Tabel 4. Tabel Data Analisa ... 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar BelakangDalam era globalisasi sekarang ini, kebutuhan manusia dalam berbagai bidang
meningkat dengan pesat, diantaranya adalah kebutuhan sandang dan kertas. Sandang
merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh setiap manusia, sejalan dengan
bertambahnya penduduk dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka
meningkat pula kebutuhan akan sandang dan kertas.
Permintaan akan kebutuhan kertas semakin meningkat, sehingga perlu
didirikan suatu perusahaan atau pabrik yang bergerak di bidang produksi pulp. Dengan
melihat sumber daya alam Indonesia yang kaya akan bahan baku pulp maupun kertas
mendorong didirikannya suatu pabrik pulp dan rayon yang bernama P.T. INTI
INDORAYON UTAMA.
Salah satu bagian penting dalam proses pembuatan pulp ialah proses
pencucian (washing). Proses pencucian dilakukan setelah melewati proses pemasakan
(digester). Pada proses pencucian tahap IV akan diperiksa kadar soda yang tertinggal di
dalam pulp dengan parameter Soda Loss. Dimana kadar soda yang layak pada pulp agar
produksi pulp layak unrtuk diperdagangkan biasanya maksimal 10 kg/ton pulp. Soda ini
1.2.
PermasalahanKegunaan dari parameter ini yaitu agar dapat mengetahui berapa kadar bahan
kimia yang dibutuhkan pada proses berikutnya. Sehingga tidak terjadi pemborosan
bahan kimia yang akan ditambahkan ataupun kekurangan di proses berikutnya.
Dengan alasan inilah, maka penulis memilih judul “Penentuan Kadar Soda yang Hilang di Tahap Pencucian IV pada Proses Pembuatan Pulp”.
1.3.
TujuanAdapun tujuannya sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui kadar soda yang hilang pada tahap pencucian pada proses
pembuatan pulp.
b. Soda yang hilang akan sangat berpengaruh untuk menentukan kadar Na2SO4 yang
akan ditambahkan pada proses berikutnya.
c. Jika kadar sodanya terlalu tinggi maka keputihan pulp yang dihasilkan akan semakin
rendah, sedangkan jika terlalu rendah maka mutu pulp yang dihasilkan tidak bagus
karena kadar ligninnya sedikit.
1.4.
ManfaatManfaatnya adalah dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai
kadar soda di pabrik karena jika kadar sodanya terlalu tinggi maka keputihan pulp yang
dihasilkan akan semakin rendah maka mutu pulp yang dihasilkan tidak bagus karena
kadar ligninnya sedikit.
Soda yang hilang juga akan sangat berpengaruh untuk menentukan kadar
BAB II
2.1. Gambaran Umum Tentang Pulp
Pulp termasuk ke dalam polisakarida berupa selulosa yang berat molekulnya
20.000-40.000. Pulp yang merupakan bahan baku industri kertas dan rayon (serat
sintesis) termasuk serat tiruan. Proses pembuatan pulp bertujuan untuk memisahkan
serat-serat selulosa dari komponen lain yang terdapat dari bahan berserat selulosa.
Sumber utama serat selulosa terdapat dalam tumbuh-tumbuhan. Serat selulosa
sebagai bahan baku pembuatan pulp kertas dapat dihasilkan dari kayu dan nonkayu.
Serat selulosa dari bahan baku kayu menurut penggunaannya dapat dibagi
menjadi dua golongan besar :
a. Kayu daun lebar menghasilkan serat pendek (LBKP = Laubholtz Bleach Kraft Pulp)
dengan panjang serat sekitar 1,1 mm (hardwood), seperti Eucalyptus (Eucalyptus
sp), Meranti (Shorea sp), Bakau (Rhizopur sp), Kaliandar (Calyandara calthyrsus),
Akasia (Accassia mangium).
b. Kayu daun jarum menghasilkan pulp serat panjang (NBKP = Nadelholz Bleach
Kraft Pulp) dengan serat panjang sekitar 2,5 mm (soft wood), seperti Pinus (Pinus
sp), Agata (Agathis sp).
2.2. Komposisi dan Sifat Kimia Kayu
Komponen kimia kayu mempunyai arti yang sangat penting, karena dapat
menentukan susunan jenis kayu, juga dengan mengetahuinya dapat membedakan
didapat hasil yang maksimal pada setiap pengerjaannya. Pada umumnya komponen
kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri atas unsur :
a. Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
b. Unsur non-karbohidrat terdiri dari lignin
c. Unsur yang diendapkan dari kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat
ekstraktif
Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding kayu tidak merata. Kadar
selulosa dan hemiselulosa banyak terdapat dalam dinding sekunder, sedangkan lignin
banyak terdapat dalam dinding primer dan lamela tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar
dinding sel kayu.
Tabel 1. Komposisi Unsur-Unsur Kimia Kayu
Unsur Komposisi
Karbon 50 %
Hidrogen 6 %
Nitrogen 0,04 % - 0,10 %
Abu 0,02 % - 0,05 %
Oksigen 43,85 % - 43,94 %
Menurut Eero Sjostrom, (1998), secara kimia, kayu terdiri dari empat komponen yaitu
selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif. Berdasarkan perbedaan empat dan
penyusun serta jenis kayu, kayu dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu kayu
Tabel 2. Komponen Penyusun Kayu
Komponen
% Komposisi
Kayu lunak (soft wood) Kayu keras (hardwood)
Selulosa 40 – 44 43 – 47
Hemiselulosa 25 – 29 23 – 35
Lignin 25 - 31 16 – 24
Ekstraktif 1 – 5 2 – 8
2.2.1. Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama dinding sel kayu yang merupakan
polimer glukosa (C6H10O5)n dimana n adalah jumlah pengulangan unit-unit atau n
disebut juga derajat polimerisasi (DP). Selulosa dalam kayu mempunyai derajat
polimerisasi sekitar 3500, namun pada proses pembuatan pulp, Derajat polimerisasi ini
biasanya akan menurun sehingga menghasilkan pulp yang lemah. Selulosa ini adalah
merupakan komponen utama dari kayu lunak dan kayu keras dan merupakan polimer
dari D-glukosa.
2.2.2. Poliosa
Disamping selulosa dalam kayu maupun dalam jaringan tanaman terdapat
sejumlah polisakarida yang disebut poliosa atau hemiselulosa. Nama hemiselulosa dapat
didasarkan pada anggapan bahwa polisakarida ini merupakan pendahulu selulosa.
Meskipun dalam bidang ilmu pengetahuan istilah hemiselulosa telah pasti, namun
dalam bidang teknis masih sering disalah artikan. Ekstraktif yang terdapat dalam lindi
alkalis dari pulp kimia terdiri dari poliosa dan selulosa rantai pendek yang disebut
Poliosa berbeda dari selulosa karena komposisi dari berbagai unit gula, karena
rantai molekul yang membentuk poliosa dapat dibagi menjadi kelompok seperti
pentosa, hektosa dan heksosa.
Klasifikasi secara umum untuk semua karbohidrat tumbuhan diketengahkan
oleh Asprinall (1973). Sistemnya terdiri atas kelompok-kelompok sebagai berikut :
a. Selulosa
b. Hemiselulosa
- Hinan (homopolimer)
- Glukomannan (heteropolimer)
c. Senyawa pektin
- Galakturonan
- Arabinan
- Galaktoran atau arabinogalaktan I (terutama rantai linear)
d. Polisakarida lain
- Arabinogalaktan II (rantai bercabang banyak)
e. Glikoprotein
Kayu lunak dan kayu keras tidak hanya berbeda dalam persentase poliosa total
tetapi juga dalam persentase masing-masing poliosa dan komposisi poliosa-poliosa
tersebut.
2.2.3. Lignin
Lignin dapat diisolasi dari kayu bukan ekstraktif sebagai sisa yang tidak larut,
setelah penghilangan polisakarida dengan hidrolisis. Secara alternatif lignin dapat
dihidrolisis dan diekstraksi dari kayu atau diubah menjadi turunan yang larut. Setelah
Penyatuan lignin ke dalam dinding sel tumbuhan memungkinkan lignin menguasai
permukaan bumi, lignin menaikkan sifat-sifat kekuatan mekanik.
Lignin merupakan komponen kimia dan morfologi yang karakteristik dari
jaringan tumbuhan tingkat tinggi, dimana lignin terdapat dalam jaringan vaskuler yang
khusus untuk pengangkutan cairan dan kekuatan mekanik.
Jumlah lignin yang terdapat dalam tumbuhan yang berbeda sangat bervariasi.
Meskipun dalam spesies kayu kandungan lignin berkisar antara 20-40 %. Disamping
spesies kayu kandungan lignin dalam dinding sel dan kandungan lignin dalam bagian
pohon yang berbeda tidak sama. Sebagai contoh, kandungan lignin paling tinggi adalah
pada baatang dan paling rendah terdapat pada cabang dan kulit. Dalam kebanyakan
penggunaan kayu, lignin digunakan sebagai bagian internal kayu.
Dalam pembuatan pulp pada proses pengelantangan (bleaching) lignin
dilepaskan dari kayu dalam bentuk terdegradasi dan berubah merupakan sumber karbon
lebih dari 35 juta ton tiap tahun di seluruh dunia dan sangat potensial untuk keperluan
kimia dan energi. Kandungan karbon lignin kayu lunak (60 % - 65 %), pada umumnya
lebih tinggi dibandingkan karbon lignin pada kayu keras (18 % - 22 %)
2.2.4. Zat Ekstraktif
Ekstraktif diartikan sebagai senyawa yang terdapat dalam kayu dan merupakan
senyawa-senyawa yang larut dalam pelarut organik baik bersifat polar ataupun
nonpolar. Kandungan dan komposisi ekstraktif berubah-ubah diantara spesies kayu
tergantung pada geografi dan musim.
Komposisi ekstraktif berubah selama pengeringan kayu, terutama
senyawa-senyawa tak jenuh, lemak dan asam lemak terdegradasi. Hal ini penting untuk
noda kuning (gangguan aneh) atau penguningan pulp. Ekstraktif ini juga dapat
mempengaruhi kekuatan pulp, perekatan dan pengerjaan akhir kayu maupun sifat-sifat
pengeringan.
Sejumlah kayu mengandung senyawa-senyawa yang dapat diekstraksi yang
bersifat racun dan dapat mencegah bakteri, jamur, dan rayap. Ekstraksi dapat
memberikan warna dan bau pada kayu. Salah satu ekstraktif disebut resin, suatu nama
yang tidak menunjukkan senyawa kimia tertentu tetapi sustu kondisi fisik. Resin
dipandang sebagai campuran senyawa-senyawa yang berbeda yang bersifat mencegah
terjadinya kristalisaisi.
Meskipun demikian senyawa-senyawa berikut dapat bersifat sebagai
komponen resin :
- Terpen
- Flavonoid
- Lignin
- Aromatik lain
- Stilbena
Disamping senyawa-senyawa tersebut senyawa organik lain yang terdapat
dalam ekstraktif :
- Lemak
- Alkohol
- Asam lemak
- Steroid
2.3. Proses Umum Pembuatan Pulp di P.T. Toba Pulp Lestari
Kayu batangan diangkut dengan menggunakan logging truk sampai ke area
penampungan kayu (woodyard), kemudian diangkut masuk ke dalam debarking drum
sehingga akan terjadi pengupasan kulit kayu. Setelah kayu keluar dari debarking drum,
kayu akan dibawa ke washing station untuk menghasilkan mutu chip yang diperlukan
untuk dimasak. Ukuran dari chip kira-kira tebalnya 4,0 mm dan panjangnya kira-kira 24
mm.
Proses pemasakan kayu yang telah dibuat menjadi chip dilakukan di digester
plant. Digester adalah suatu alat pemasak chip dengan menggunakan panas dan reaksi
kimia. Bahan kimia yang digunakan adalah kaustik soda (NaOH), natrium sulfida
(Na2S), dan natrium karbonat (Na2CO3) yang dikenal dengan white liquor. Pemasakan
biasanya dilakukan pada suhu 160-180oC selama 120-180 menit. Proses pembuatan
pulp di P.T. Toba Pulp Lestari dilakukan dengan proses Kraft (secara kimia sulfat).
Bubur pulp hasil pemasakan dibawa ke tangki penghembusan (blow tank) yang
berfungsi untuk menghembuskan bubur pulp menuju proses pencucian (washing).
Unit pencucian merupakan lanjutan dari proses pemasakan, dimana bubur
kayu dari blow tank selanjutnya mengalami proses pencucian pada unit washing,
perbandingan antara cairan dan padatan dari bubur pulp sekitar 3-4 %. Temperatur saat
terjadi pencucian ±120oC. Bubur kayu yang sudah bersih dimasukkan ke tangki yang
disebut unbleach tower dan dilanjutkan pada unit penyaringan dan diteruskan pada unit
pemutihan.
Pada unit pemutihan biasanya dilakukan secara bertahap dengan cara
untuk menghilangkan lignin sehingga diperoleh derajat keputihan (brightness) yang
tinggi.
2.4. Washing
2.4.1. Dasar Operasi Washing
Proses pembuatan pulp secara kimia yang dipilih oleh P.T. Toba Pulp Lestari
adalah proses Kraft yang berarti kuat dengan menggunakan NaOH dan Na2S yang
disebut lindi putih (white liquor). Tujuan pencucian bubur pulp adalah :
1. Untuk membersihkan (memurnikan) bubur pulp dari lindi pemasaknya.
2. Untuk menghemat biaya bahan-bahan kimia pemasak agar dapat dipakai kembali.
3. Untuk mengumpulkan bahan-bahan yang tidak larut yang dipakai kembali sebagai
bahan bakar pada tahap pemasakan.
Bila pencucian kurang sempurna akan timbul kerugian antara lain :
- pada proses pemutihan dibutuhkan pemutih yang besar jumlahnya
- timbul busa dan lendir yang sangat mengganggu pada proses pembuatan kertas.
Prinsip dan Mekanisme Pencucian :
Dengan penambahan air, bahan-bahan yang terlarut dalam air akan larut
sehingga akan didapatkan pulp yang bersih. Penggunaan air untuk pencucian tergantung
dari pengolahan kembali sisa pemasakan (recovery,) untuk mengurangi polusi dilakukan
penggunaan kembali air pencucian tersebut (water recycling). Pencucian ini dapat
dilakukan berulang-ulang (multi stage washing), sehingga didapatkan pulp yang bersih
atau digunakan air panas untuk pencucian (memurnikan efisiensi pencucian). Adapun
pengaliran air untuk pencucian mengalir lambat supaya terjadi distribusi air yang baik
Bubur pulp yang telah dimasak pada unit pemasakan (digester) kemudian
disaring dan dicuci (dibersihkan) dengan menggunakan air. Air berfungsi untuk
menghilangkan lindi hitam (black liquor) yang dapat mengotori produk akhir dari pulp.
Sebuah sistem perputaran alat pencuci (washer) adalah serba bertahap, biasanya
terdiri dari dua unit sampai lima unit. Tetapi di P.T. Toba Pulp Lestari mempunyai
sstem pencucian empat tahap. Air pencuci dan aliran bubur kayu/pulp arahnya
berlawanan, yang disebut counter current washing.
Alat pencuci (washer) yang berputar terdiri dari saringan (wire cloth) yang
menutupi silinder tersebut. Air pencuci menggunakan shower / spray di permukaan
bubur kayu secara terus-menerus.dan airnya turun ke tangki filtrate (dewatered) dengan
menggunakan vakum.
Bubur kayu yang sudah dikeluarkan airnya (dewatered) dimasukkan ke suatu
alat yang disebut screw conveyor dimana bubur kayu tersebut ditambah air pengencer
dan masuk ke tahap kedua washer / alat pencuci. Air saringan tersebut ditampung di
tangki filtrate yang letaknya di lantai bawah.
Di dalam sistem serba bertahap, bubur kayu tersebut diencerkan dengan lindi
hitam baru yang akan dikirim ke washer tahap berikutnya. Dari sana proses
pencuciannya terus diulang. Kekentalan bubur kayu di vat atau dipermukaan washer
normalnya 1%. Sedangkan kekentalan bubur kayu sesudah diputar dari washer antara
10 %-14 %.
Dalam hal ini proses pencucian bersifat kontinyu. Dan saat ini telah dibuat
indikasi yaitu pencucian atau pembersihan yang cukup efisien, dengan mengandung
lebih banyak padatan dalam lindi hitam encer ke evaporator. Filtrat dari lindi hitam
pertama. Bilamana pencucian bubur pulp sebelum dipompakan ke dalam evaporator
untuk penguapan.
Lindi hitam encer akan mengandung serat (fiber) yang jumlahnya berbeda-beda,
tergantung pada kondisi alat penyaring pada digester. Bubur pulp ini akan memberi
pengaruh buruk pada penguapan itu, dimana cenderung akan menumpuk dan
mengurangi kapasitas pemanasan. Oleh karenanya penyaringan lindi hitam sering
dilakukan untuk memperkecil jumlah serat-serat yang akan terbawa ke dalam
evaporator ataupun tower evaporasi lindi hitam.
Air panas yang digunakan untuk mencuci di washer# 4 dengan temperatur 70oC.
Air pencuci yang dipakai di washer# 4 kemudian dipakai untuk mengencerkan bubur
kayu yang akan masuk ke washer# 4 serta untuk mencuci bubur kayu pada washer
sebelumnya. Lindi hitam untuk mencuci bubur kayu di washer# 4 dapat memberikan
kekentalan / kekuatan untuk masing-masing tahap dan di dalam kotoran bubur kayu
untuk masing-masing tahap. Lindi hitam tersebut lalu dipompakan ke bagian evaporator
(system recovery) dan bubur kayu yang sudah bersih dari washer terakhir dimasukkan
ke tangki yang disebut unbleach tower.
Antara 98 %- 99 % dari bahan kimia yang dipakai keluar dari bubur pulp yang
dicuci. Kandungan soda dari bubur pulp maksimal kira-kira 10 kg Na2SO4 per ton pulp
kering, dan soda itu begitu kuat terikat pada bubur pulp. Natrium tersebut meninggalkan
sistem pencucian (bersama bubur pulp) dalam bentuk natrium sulfat yang bersifat
organik yang dinyatakan sebagai Na2SO4.
2.4.2. Uraian Proses Washing
Dari dua tangki blow hasil dari pemasakan di digester, pulp penyimpanan
(washing). Dibagian bawah tangki blow diencerkan dengan memakai pompa yaitu
pompa liquor 421 PC-301 yang lokasinya di daerah washing. Aliran pulp stock datang
dari tangki blow disetel dengan dua aliran katup kontrol FIC-171 dan FIC 172. Pulp
stock dimasukkan ke radiscreen, di pipa mau masuk ke radiscreen diencerkan oleh
katup kontrol FIC 213 sampai kira-kira 2 % kekentalannya. Pulp yang diterima dari
radiscreen masuk ke washer #1 vat dan serat kasar serta serat kayu masuk ke raditrim.
Mata kayu dipisahkan lagi dari raditrim dan dikirim ke screw press #1 dan yang
diterima di raditrim masuk ke washer #1 vat.
Kekentalan dari tangki blow “A” dan “B” dijaga pada 3,5 % - 4,0 % oleh alat
pengukur NIC-169 dan NIC-170. Peralatan raditrim dilengkapi dengan scraptrap yang
dapat memisahkan batu, bijian, besi dan material lain dari pulp. Peralatan scraptrap
terdiri dari katup isolasi 520A, katup 520B, katup pembersih / flushing
KV-520C, katup kent KV-520D, dan katup dilusi KV-520E. Semua katup ini dioperasikan
secara bergantian sesuai dengan kontrol waktu yang ditentukan. Katup flushing dan
katup dilusi dalam posisi tertutup selama tempat kosong. Dari radiscreen pulp yang
diterima ke washer #1 diencerkan menjadi 1,0 % - 1,5 % kekentalannya oleh katup
kontrol FIC-038 sebelum masuk ke washer #1 vat. Serat kasar dan mata kayu diolah
kembali oleh raditrim yang mana dipisahkan antara mata kayu dan material yang
lainnya. Pulp yang diterima dari raditrim dipompakan kembali ke pipa stock yang ke
washer #1. Pulp stock yang masuk ke washer #1, setelah keluar dari washer kira-kira 12
% - 14 %, kekentalannya dan untuk mencuci pulp tersebut diambil dari lindi hitam dari
tangki filtrat #2 melalui pompa 421 PC-035 dan aliran lindi hitam tersebut dikontrol
oleh FIC-042. Pulp stock yang tebal tersebut masuk ke High Speed Repulper dan Low
kekentalannya dengan katup HIV-041 dan pulp stock tersebut masuk ke washer #2.
Pulp stock yang tebal dari washer #2 vat kembali dicuci oleh lindi hitam yang kadarnya
lebih rendah dari tangki filtrat #3 melalui pompa 421 PC-306 aliran tersebut akan
dikontrol oleh FIC-046 dan kekentalan pulp tersebut kira-kira 12 % - 14 %.
Pulp stock yang tebal dari washer #2 dimasukkan ke sebuah repulper A-110 dan pulp
tersebut diencerkan oleh lindi hitam dari tangki filtrat #3 melalui pompa 421 PC-304
dan katup HIV-045, dimana stock pulp tersebut dicuci dan ditebalkan di washer #3.
Untuk mencucinya digunakan lindi hitam yang berkadar rendah dari tangki filtrat #4
melalui pompa PC-407 dan dikontrol oleh FIC-049. Stock pulp masuk ke sebuah
repulper conveyor (A-013) dimana stock pulp tersebut diencerkan lindi hitam dari
tangki filtrat #4 dan dikontrol oleh FIC-050 dan masuk ke sebuah tangki yang disebut
wash stock tank pada kekentalan kira-kira 4 % - 5 %. Wire washer dijaga agar selalu
bersih dengan disepraikan lindi hitam ke wire washer dari pompa 421 PC-307, PC-308,
PC-309. Lindi hitam dari tangki foam T-031 dipompakan melalui 421 PC-312 ke
saringan lindi hitam (liquor filter) dimana serat dan material kecil dipisahkan sebelum
dipompakan ke area evaporator. Lindi hitam yang sudah disaring lalu dikirim memakai
pompa 421 PC-313 ke area evaporator dengan sebuah alat pengontrol ketinggian /level
control valve) LIC-036.
2.5. Kehilangan Soda (Soda Loss) 2.5.1. Washer Losses
Pada awalnya penekanan washer losses dalam pengembalian / pemutihan bahan
kimia, terutama kandungan natrium. Oleh karenanya kehilangan soda (jumlah sisa
senyawa natrium yang tidak bisa diambil dari pulp hasil pemasakan) secara tradisional
ekuivalen dengan jumlah salt cake (bahan-bahan kimia) yang ditambahkan ke dalam
sistem pemulihan kembali bahan kimia pemasak untuk menjaga keseimbangan natrium
dalam sistem itu. Sehubungan dengan salt cake (bahan-bahan kimia) dalam pulp tercuci
adalah sangat kecil serta perbandingan kandungan natrium dalam padatan terlarut juga
bisa sangat bervariasi.
Oleh karena itu cara terbaik untuk menentukan kehilangan soda tersebut
pertama-tama dihitung sebagai berat kering padatan terlarut per satuan berat pulp
kemudian dikonversikan sebagai jumlah senyawa natrium, dalam hal ini misalnya
Na2SO4/ton pulp.
Oleh karena setiap pabrik pulp mempunyai perbedaan dalam faktor-faktor yang
berpengaruh pada proses pencucian seperti jenis kayu, proses pemasakan, metode
pencucian dan sebagainya. Maka setiap pabrik harus menentukan masing-masing
ekuivalen antara kandungan natrium dari berbagai konsentrasi padatan terlarut dalam
lindi hitam yang berasal dari berbagai tahapan proses. Selanjutnya, hubungan penentuan
Na+ secara mudah dapat dilakukan dengan Metode Atomik Absorbtion atau Flame
Photometer dan sebagainya. Untuk operasi tertentu yang menggunakan jenis kayu
tertentu dan kondisi proses yang tertentu pula.
Kandungan soda dari bubur pulp maksimal kira-kira 10 kg Na2SO4/ton pulp
kering, dan soda itu begitu kuat terikat dalam bubur pulp. Natrium tersebut
meninggalkan sistem pencucian (bersama bubur pulp) dalam bentuk natrium sulfat yang
bersifat organik yang dinyatakan sebagai Na2SO4. Kehilangan soda didefenisikan
sebagai kandungan soda dalam pulp yang meninggalkan sistem pencucian dinyatakan
2.5.2. Permasalahan pada Soda Loss
Dibawah ini adalah beberapa kemungkinan penyebab serta tindakan yang
disarankan jika kehilangan soda terlalu tinggi :
Tabel 3. Penyebab dan tindakan yang disarankan jika kehilangan soda terlalu tinggi.
No Kemungkinan Penyebab Tindakan yang Disarankan
a. Terlalu sedikit air pencuci yang dipakai
pada washer #4
Tambahkan jumlah air pencuci pada
batas-batas tertentu sehingga dicapai
keseimbangan dengan % solid pada
WBL yang dikirim ke evaporator
b. Tinggi cairan yang terlalu tinggi dalam
tangki filtrat akan memperpendek jarak
jatuhnya cairan sehingga akan
mengurangi gaya vakum dalam washer
Penurunan tinggi cairan dalam
tangki dengan memompakannya ke
evaporator atau dengan mengurangi
jumlah air pencuci yang digunakan
c. Tinggi cairan yang terlalu tinggi pada
vat washer karena adanya busa dan
kemasukan udara
Tinggi cairan dikontrol dengan
menambahkan defomer
d. Rendahnya efisiensi washer, terutama
pada saat pembentukan lembaran pada
drum dan lembaran pulp yang sulit
tersangkut
Meningkatkan gaya vakum pada
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Proses Analisa 3.1.1. Alat-alat
a. Buret Digital
b. Oven
c. pH Meter
d. Neraca Analitis
e. Magnetic Bar
f. Magnetic Stirrer
g. Beker plastik 500 ml
h. Sheeter
3.1.2. Bahan-bahan
- Larutan HCl 0,0969 N
- Sampel
- Air Destilat
3.2. Persiapan Analisa 3.2.1. Penyiapan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada tangki yang disebut vakum washer dengan
kapasitas 600.000 liter milik P.T. Toba Pulp Lestari. Dalam hal ini pengambilan sampel
Proses pengambilan sampel :
Diambil sampel dengan menggunakan ember kecil, dengan cara dicedokkan ember
tersebut ke dalam vakum washer IV. Sampel inilah kemudian yang akan dianalisa di
Laboratorium Quality Control.
3.2.2. Cara Kerja
3.2.2.1. Tahap Penentuan pH
a. Dimasukkan air destilat hangat dengan suhu kira-kira 60o-70oC ke dalam beker
plastik.
b. Diletakkan beker plastik diatas stirrer bar.
c. Diaduk dengan menggunakan magnetik stirrer.
d. Diukur pH air destilat tersebut dengan menggunakan pH meter, lalu ditambahkan
HCl ke dalam air destilat hingga pH larutan menjadi 4,3.
e. Setelah pH larutan menjadi 4,3 lalu ditambahkan sampel ke dalam larutan tersebut
sehingga pH larutan menjadi basa.
f. Ditambahkan kembali HCl ke dalam campuran sampel hingga pH campuran turun
menjadi 4,3.
g. Dicatat volume HCl yang terpakai pada penambahan yang kedua.
3.2.2.2. Tahap Pembuatan Sheet
a. Kemudian sampel dibentuk menjadi bentuk sheet (berbentuk lembaran).
b. Dimasukkan ke dalam oven untuk dikeringkan dengan suhu kira-kira 105-110oC
selama ± 30 menit.
c. Ditimbang sampel kering.
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Hasil Pengamatan
Tabel 4. Tabel Data Analisa
4.2. Perhitungan
4.2.1. Mencari Soda Loss
Wod
SO SL=VHCl x NHCl x BeNa2 4
Keterangan :
a. VHCl = Volume HCl yang ditambahkan setelah penambahan sampel
b. NHCl = Konsentrasi HCl yang terpakai
c. Be Na2SO4 = Berat ekivalen Na2SO4 yang dipakai
d. Wod = Weight Oven Dry Sample (Berat kering sampel)
Sebagai contoh Untuk Hari Pertama :
Wod
Untuk sampel yang lain caranya sama. Data ada dalam tabel 4.
4.1.Mencari Rata-rata Soda Loss Per-hari
Rata-rata
Sebagai contoh Untuk Hari Pertama
Rata-rata
Rata-rata SL perhari = 7,208 kg/ton.
Tabel 5. Tabel Rata-rata Harian Soda Loss
Tanggal Rata-rata Soda Loss Harian
27 Januari 2006 7,208 kg/ton
28 Januari 2006 6,546 kg/ton
30 Januari 2006 6,28 kg/ton
31 Januari 2006 7,3 kg/ton
1 Februari 2006 7,01 kg/ton
4.2. Pembahasan
Kehilangan soda didefenisikan sebagai kandungan soda dalam pulp yang
meninggalkan sistem pencucian dinyatakan sebagai berat Na2SO4/ton pulp kering tanur.
Berarti pada hari pertama rata-rata Na2SO4 yang ditambahkan mulai pukul 08.00
sampai dengan pukul 16.00 untuk menghilangkan sodanya sebanyak 7,208 kg setiap 1
ton pulp, pada hari kedua dibutuhkan Na2SO4 6,546 kg setiap ton pulp, untuk hari ketiga
dibutuhkan Na2SO4 6,28 kg setiap ton pulp, untuk hari keempat dibutuhkan Na2SO4 7,3
kg setiap ton pulp, untuk hari kelima dibutuhkan Na2SO4 7,01 kg setiap ton pulp. Dari 5
hari pengamatan soda loss di P.T. Toba Pulp Lestari masih memenuhi standart
perdagangan pulp yaitu sekitar 6-7 kg/ton.
Pada perdagangan pulp kadar keputihan (brightness) sangat mempengaruhi
kualitas dari pulp itu sendiri. Dan kadar (keputihan) brightness itu sendiri sangat
ditentukan oleh kadar soda yang hilang pada proses washing 4.
Pada proses washing banyak hal-hal yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya
kadar soda, oleh sebab itu hal-hal lain juga perlu diperhatikan karena tinggi atau
rendahnya kadar soda pada pulp sangat mempengaruhi kadar keputihan (brightness) dari
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisa yang dilakukan di P.T. Toba Pulp Lestari dapat disimpulkan
bahwa :
1. Range Soda Loss harian pada analisa 6,28 kg/ton pulp.
2. Soda Loss sangat penting karena mempengaruhi brightness / keputihan pulp dimana
pada perdagangan pulp kadar keputihan ini akan mempengaruhi kualitas pulp
tersebut.
3. Kadar Soda Loss P.T. Toba Pulp Lestari, Tbk masih memenuhi standart
perdagangan pulp yang telah ditetapkan yaitu sekitar 7-8 kg/ton pulp.
5.2. Saran
Diharapkan kepada analis agar pada waktu menentukan pH-nya lebih
berhati-hati dan teliti karena kesalahan sedikit saja dapat merusak hasil analisa dan dapat
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad H., (1992), Tinjauan Umum Proses Pembuatan Pulp, PT. Toba Pulp Lestari, Porsea
Casey & James. P., (1978), Pulp and Paper Chemistry and Chemichal Technology,
Third Edition, Intersience Publication, Vol 1, New York
Eero Sjostrom, (1995), Kimia Kayu Dasar-dasar Penggunaan, Gajah Mada University-Press, Yogyakarta
Hardjono S., (1995), Kayu Kimia, Ultrastruktur dan Reaksi-reaksi, Gajah Mada University-Press, Yogyakarta
Sirait. S., (2002), Washing and Screening Plant, Training and Development Centre, PT. Toba Pulp Lestari, Porsea
Sirait. S., (2002), Wood Preparation, Training and Development Centre, PT. Toba Pulp Lestari, Porsea