• • ...
PRODUKSI-BENIH UMBI MINI KENTANG
(Solanum tuberosum
L. )
SECARA AEROPONIKMELALUI INDUKSI PENGUMBIAN
'
·MEKSYDIANAWATI
•
.ZNM セ
....
,
-1<siiJ)1
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi beIjudul :
"Produksi Benib Umbi Mini Kentang (Solanum tuberosum L.) secara Aeroponik melalui Induksi Pengunlbian"
adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber infonnasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagiart akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2013
Meksy Dianawati A261090011
·.RINGKASAN
MEKSY DIANA W A TI. Produksi Benih Umbi Mini Kentang (Solanum
tuberosum L.) secara Aeroponik melalui Induksi Pengumbian. Dibimbing oleh SATRIYAS ILYAS, G.A. WATTIMENA, danANAS D. SUSILA.
Rendahnya produktivitas antara lain akibat rendahnyil penggunaan
benih berkualitas. Ketersediaan benih kentang bersertifikat nasional saat
ini mencapai 15% dari kebutuhan total 1 ton benih tahun. Produksi
umbi mini secara aeroponik cara pengabutan ke akar
tanaman di Indonesia untuk GO. Hasil
umbi mini 1 umbi tanaman lebih tinggi
dibandingkan konvensional sekitar 3-5 umbi tanaman. Tidak adanya
penghalang di daerah perakaran pada aeroponik meningkatkan jumlah
jumlah stolon sekunder berkisar 10-15. Namun
150 stolon tanaman.
peluang meningkatkan jumlah stolon waktu
membentuk umbi metode pengumbian
tepaL ini bertujuan untuk menetapkan konsentrasi waktu
primerlebih dari 10
umbi hanya 5-10% dad 1
pupuk daul1 N, P,
K
dan paklobutrazol tepat uiltuk meningkatkan jumlahumbi mini kentang varietas Granola dalam peningkatan produksi umbi
kentang secara aeroponik. Percobaan dilaksanakan di rumah plastik di
Lembang, Bandung Jawa Barat dari 10 sampai dengan
Oktober 201
Percobaan 1a bertujuan untuk
pupuk daun N.
kelcimpok dengan satu faktor dan enam Y L L U L S ...
«""",,>Au.» konsentrasi pupuk daun N yaitu 0, 500, 1000, 2000, and
N L-1 • Pupuk N yang digunakan adalah Ca(N03h dan diaplikasikan 1
setelah pindah tanam (MST) dengan interval HasH
penelitian menunjukkan bahwa pup uk daun Ca(N03)z nyata meningkatkan bobot
umbi per tanaman 17% 72.1 menjadi 86.8 tetapi tidak
meningkatkal1 jumlah stolon yang umbi.. Konsentrasi optimum pupuk
daun Ca(N03)2 umbi tanaman sistem adalah 2173
mg N L-t•
Penelitian 1 b bertujuan untuk meningkatkan produksi umbi mini kentang dengan berbagai konsentrasi pupuk daun P. Percobaan menggunakan rancangan
kelompok (RAK) satu faktor dan enam
konsentrasi daun P yaitu 0, 100, 200, 400, and 800 mg
digunakan adalah H3P04 dan diaplikasikan 1 MST dengan
interval sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk daun
nyata meningkatkan' jumlah umbi sedang dad 1 menjadi 16.8,
dapat meningkatkan jumlah stolon membentuk umbi.
optimum pupuk I-hP04 jumlah umbi sedang pada
aeroponik adalah 482 mg P L-1• .
tetapi
Ie bertujuan untuk meningkatkan produksi umbi mini kentang
dengan konsentrasi pupuk daun K. menggunakan
kelompok (RAK) dengan satu perlakuan danenam ulangan. Faktor
.;;
K2S04 nyata meningkatkan bobot umbi per tanaman 26%
menjadi 71.6 g, エセエ。ーゥ@ dapat jumlah yang membentuk
umbi. optimum pupuk daun K2S04 untuk bobot umbi per tanaman
pada aeroponik adalah 1917 mg K
l-I.
Penelitian 2 bertujuan meningkatkan produksi umbi kentang
berbagai waktu aplikasi pupuk daun NPK.
U11'-'UJ.l.F;UU acak kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ...,.t-,...
adalah waktu aplikasi N+P, yaitu 1 MST, 1-4
1-6 MST. perlakuan adalah waktu pupuk
1 MST, 2-8 3-8 MST, dan 5-8 Hasil
menunjukkan bahwa pupuk daun pada 1-4
memiliki jumlah umbi sebesar 1 1, sedangkan "!.lUAU;:"
pupuk daun K pad a dengan seminggu' memiliki
umbi 17.6, Waktu aplikasi pupuk daun NPK tidak meningkatkan
jumlah yang membentuk pad a sistem aercponik,
. Penelitian 3 bertujuan untuk meningkatkan
berbagai dan aplikasi
kelompok (RAK) dengan
tiga Faktor adalah konsentrasi PBZ, yaitu 1 20, and 40
L-l. Faktor perlakuan kedua adalah waktu PBZ, yaitu 4 MST; 5 MST; 6
MST; 4 dan 5 MST; 5 dan 6 dan 4, dan 6 MST. Kontrol tanpa
aplikasi PBZ.· Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum PBZ
antaI'a 1 1.3 mg Lol jumlah umbi berkisar
20.9 [;1 pada 6 MST nyata jumlah umbi
12.3 . jumlah
stolon yang umbi tanaman ken tang 11.4 menjadi
1 % pada aeroponik.
Produksi GO secara aeroponik dapat memotong perbenihan kentang
tanpa tanam 1 karena lebih waktu biaya produksi, serta
ramah lingkungan. 'Produksi umbi mini secara aeroponik
ketersediaan GO nasional, sehingga diharapkan produksi "",,,to,,
meningkat.
K2S04,PUpuk daun, paklobutrazol, stolon
replications. The foliar fertilizer of Ca(N03)2 was applied at 1-4 UlI'"''''''''
weight
. SUMMARY
MEKSY DIANA W ATL Mini Tuber Production of Potato (Solanum tuberosum
L.) on Aeroponics System by Tuberization Induction. Supervised.by.SATRIYAS ILYAS, G.A WATTIMENA, and ANAS D. SUSILA.
I
Low productivity of potato Indonesia is mainly caused by low utilization of quality potato seed. The availability of nationally certified potato in Indonesia is only 15% total of 103,582 ton of year. Mini tuber production by spraying nutrient to plant roots as aeroponics system, began to developed in Indonesia. Conventional production system produced abi.mt3-5 tuber per plant, while aeroponics system about 16-29 tubers per plant. The absence of barrier in the root on aeroponics system made stolon number more than 10, while the number of secondary stolon branches from 10-15. However, the of tuber formation was estimated only 5-10% of total of 100-150 stolons per plant. it is still a high potency to the number
tubers by various' ways. This of was to
rate application of NPK foliar and paclobutrazol (PBZ) to increase potato mini tuber production on aeroponics system. was conducted in a plastic house in Lembang, West Bandung, West Java, Indonesia, from December 2010 to October 201
The research 1 a was conducted to mini tuber production using several rates of nitrogen foliar fertilizer. Randomized Block Design was used with one factor of nitrogen foliar rates 0, 500, 1000, 2000, and 4000 mg N L- '
tra..flsplanting (WA T) weekly. The results that Ca(N03h tuber weight plant significantly by 17%, from
but there was no increasing tuber fonnation from stolon on yet. The optimum rate of foliar of Ca(N03h for was 2173 rrig N .
The of 1 b was conducted to increase mini tuber production using rates of fosfor foliar fertilizer. Randomized Block Design was used with one factor of fosfor foliar fertilizer rates i.e. 0, 100, 200, 400, and 800 mg P in six replications. The foliar fertilizer H3P04 was applied at 1-4 W A T weekly.
The showed that foliar fertilizer of H3P04 increased number
medium-tubers significantly by 25% from 12.7 to 16.8, but there was no increasing tuber
formation from stolon on aeroponics yet. optimum rate of foliar
fertilizer of H3P04 for number was P
The research of 1 c was conducted to increase mini tuber production several rates potassium foliar fertilizer. Randomized Block was used with one factor of potassium foliar fertilizer rates 0, 250, 500, 1000, and 2000 mg K L1 in six replications. The foliar of was applied at 28 WAT weekly. results showed that fertilizer of K2S04 increased tuber
plant significantly by 26% from 53.2 to 71.6 but there was no
increasing fonnation from stolon on aeroponics yet. The optimum
rate of foliar fertilizer of K2S04 tuber per plant was 1917 mg .
of 2 was conducted to tuber production by
--
-times of K foliar fertilizer i.e. 1-8 WAT, 2-8 W AT, 3-8 W AT, 4-8 W AT, and 5-8
WAT. The results showed that the application time of N+P foliar fertilizer which
was 1-4 WAT weekly has 19.1 tubers. The applicatiohtime ofK foliar fertilizer which vJas 5-8 WAT weekly has 17.6 tubers. The application times ofNPK foliar fertilizer could not increase tuber formation from stolon on aeroponics system yet.
The research of 3 was conducted to increase mini tuber production by using several rates and times of PBZ application on aeroponics system. Two treatment factors were arranged in Randomized Completely Block Design in three
rerlications. The first treatment factor was rates of PBZ i.e. 5, 10, 20, and 40 mg
L- . The second treatment factor was application times of PBZ i.e. 4 W A T; 5 WAT; 6 WAT; 4 and 5 WAT; 5 and 6 WAT; 4,5, and 6 WAT. Control was no PBZ application. The results showed that the range of optimum rate of PBZ was
J
7.9 -21.3 mg PBZ L-1 and the maximum of number of tubers was 24.8 - 35.2.The application 0[20.9 mg PBZ L-1 on 6 WAT increased significantly numbers of
total-tuber by 65% from 12.3 to 35.2. Paclobutrazol increased tuber formation
from stolon significantly by 59% from llA to 28.1 on aeroponics system.
Minituber production on aeroponics system can cut the system of seed production of potato nationally without G 1 planting, because of reduced time and production cost, and more environmental friendly. The mini tuber production on aeroponics system could increase supply of GO seed nationally and potato production.
Key words: Ca(N03h H3P04, KjS04, paclobutrazol, foliar fei-tilizer, stolon
-セM ---セ@MセN@ -. MセMMMBN@ --
Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta DilindungiUndang-Undang
Dilarang menguttp atau seluruh kmya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan hanya untuk . pendidikan,
penulisan karya ilmiah, pr:;nyusunan kiitik, atau
suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak ""'/0.-.1£7;
117a!l7'" atau seluruh karya tulis ini
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
MEKSYDIANAWATI
Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk gelar Doktor
pada
Studi Ilmu . Teknologi
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Penguji Luar Komisis pada Ujian Tertutup: 1. Dr. Dewi Sukma, SP. MSi
StafPengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
2. Dr. Ir. Yusdar Hilman, MSc
Staf Peneliti Pusat Penelitian Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian
Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka: 1. Dr. Ir. Hasanuddin Ibrahim Sp. I
Direktur Jenderal Hortikultura,Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian '
2. Prof. Dr. Ir. Memen Swachman, MSc.Agr.
StafPengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
-NIM : A261090011
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
セ@
Prof Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS.
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi 'Ilmu dan Teknologi Benih
セ@
Prof. pro Ir. Satriyas Ilyas, MS.
。ャjセf[Gu@ Ujian: 18 Juli 3 Tanggal Lulus:
2 5
J
U L 2813
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
Nya penyusunan disertasi dengan judul "Produksi Benih Umbi Mini Kentang (Solanum tuberosum L.) secara Aeroponik melalui Induksi Pengumbian" berhasil diselesaikan berdasarkan penelitian yang penulis lakUkan sejak April 2010 Oktober 20
J
Penulis menyampaikan dan terima kasih
1. Prof. Dr. If. Satriyas Ilyas MS., Prof. If.
G.
A. Wattimena MSc., dan Dr. Ir. Anas D. Susila MSi. selaku komisi pembimbing.Prof. Dr. Slamet Susanto MSc., Dr. Ir. Agus Purwito MSL, Dewi Sukma SP. MSi., Dr. Ir. Yusdar HUman MSc., Ir. Hasanuddin Ibrahim, Sp 1., Dr. Memen Surachman, Prof. Dr. Ir. Dadang, MSc., dan Widajati MS. selaku penguji komisi saat Ujian Pra Kualifikasi, Ujian Tertutup, dan Ujian Terbuka Program Doktor.
3. Badan Pertanian, Haryono MSc., Badan
Litbartg Ir. MSc., dan Kepala BPTP Jawa
Barat atas kesempatan Doktor dan dana penelitian.
4. Dr. Ir. Saeful Bachrein MSc., Dr. Ir. Ety Sumiati MS., dan Fred Davies Ph.D., CPH. atas bantuanreview pada -Hortechnology Journal. Dr. If. Mei Rochjat Darmawiredja MSc.,
Ir.
Ika Djatnika MSL, Dr. Ir. Sofiari MSc., danAgustiansyah MSi. atas bantuan pada JournaL
5. Rekan-rekan pengkaji dan teknisi di Jawa Barat, peneliti dan di dan seluruh stakeholder, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Barat, Balai dan Sertifikasi Benih dan Hortikultura (BPSBTPH) Propinsi Jawa
Luau5uu Benih (BPBK) Pangalengan, Ditjen Perbenihan dan
Alsintan Kementan, serta dan Petani Benih Kentang Pangalengan.
6. PD. Jaya Mandiri Farm beserta seluruh karyawan.
7. Rekan-rekart kos H4 (Mba Iva, Mbak Wiwik, Mbak Darni, Mbak Mbak Meri), rekan-rekan
ITI3
(M,bak Pak Awaludin keluarga Trikeluarga Budiyanti, rekan-rekan PBT. Ayahanda H. SoedibyoSoemomarto (alm) dan Dra. Mertodiningrat kedua mertua Ismaun dan Ibu (aIm). Juga seluruh kakak dan adik serta suami.
9. Demikian pula semua pihak yang telah membantu penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Allah SWT membalas semua kebaikannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juli 2013
Meksy Dianawati
セN@ N⦅NセN⦅N@ セ@ MMNMNセ
DAFTAR xv
DAFTARGAMBAR xvii
DAFTAR LAMPIRAN
1 PENDAHULUAN
1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 3
Penelitian 3
3 4
2 TINJAUAN PUSTAKA 5
Kentang 5
Perturnbuhan dan Produksi Tanaman Kentang 5
SisternAeroponik pada Produksi Urnbi Mini Kentang 7 Nitrogen, Fosfor, Kalium bagi Tanaman Kentang 9
Pemupukan pada Tanarnan Kentang 12
Paklo butrazol 14
3 PRODUKSI UMBI MINI KENTANG (Solanum tuberosum L.)
PADA SrSTEM AEROPONIK MELALUI PENETAPAN
KONSENTRASI OPTIMUM DAUN 17
Abstrak 17
Pendahuluan 18
Bahan dan 19
Hasil dan Pernbahasan 21
Sirnpulan 27
4 PRODUKSI UMBI MrKI KEN TANG (Solanum tuberosum L.)
SISTEM AEROPONIK MELALUI PENETAPAN
KONSENTRASI OPTIMUM PUPUK DAUN FOSFOR 28
Abstrak 28
Pendahuluan
Bahan 30
32
5 PRODUKSI UMBI MINI KENTANG (Solanum tuberosum
PADA AEROPONIK MELALUI PENETAPAN
KONSENTRASI OPTIMUM PVPUK DAUN KALIUM 38
Abstrak Pendahuluan Bahan
HasH dan Pembahasan Simpulan
38 39 40 42 48 6 PRODUKSI UMBIMINI KENTANG (Solanum tuberosum L.)
PADA SISTEM AEROPONIK MELALUI PENGA TURAN
WAKTU PUPUK DAUN NPK
Pe1)dahuluan Bahan dan Metode
dan Pembahasan Simpulan
49
51
7 PRODUKSr UMBI MINI KENTANG (Solanum tuberosum
PAD A DENGAN BERBAGAI
KONSENTRASI DAN W AKTU APLIKASI PAKLOBUTRAZOL 64 Abstrak
Pendahuluan Bahan dan Metode
dan Pembaha5an Simpulan
64 66 79
8 PEMBAHASAN UMUM 80
Kondisi Suhu
Pertumbuhan Tanaman pada Sistem Aeroponik Umbi Mini Aeroponik dalam Mendukung Perbenihan Kentang Nasional
80
84
9 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan Saran
88 88
DAFTAR PUSTAKA
89
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP 104
L pertumbuhan pupuk daun
21 2.
pada4 MST
peubah pertumbuhan pada 5 MST
4. Pengaruh konsentrasi pupuk daun N pertumbuhan umbi pada paneh kentang aeroponik
5. konsentrasi pupuk daun N hasil panen ken tang pada 90 HST
6. konsentrasi pupuk daun N umbi hasil panen pada 90 HST
konsentrasi pup uk P peubah pertumbuhan pada 3
8. pupuk P peubah pertumbuhan
aeroponik pada 4 MST
9. konsentrasi pupuk daun P peubah pertumbuhan '-'!!LUBE> aeroponik pada 5 MST
] O. konsentrasi pupuk daun P pertumbuhan umbi
waktu panen kentang 35
11. konsc::ntrasi pupuk daun P terhadap hasil panen ken tang
pada 90 HST 36
konsentrasi pupuk P terhadap umhi hasil panen i|NカャQャ。hセ@ pada 90 HST
konsentrasi pupuk peubah
aeroponik pada 3 42
konsentrasi pupuk peubah pertumbuhan aeroponik pada 4
15. konsentrasi pupuk terhadap peubah
aeroponik pada 5 MST 43
16.
konsentrasi pupuk
aeroponik pada 90 HST 45
18. Pengaruh konsentrasi pupuk daun terhadap umbi hasil
. ."'••« ....' 6 aeroponik 90 47
Perkembangan jumlah jumlah inisiasi umbi, dan jumlah umbi 55 Perkemb(J.ngan C dan N serta rasio CN tajuk
berbagai waktu daun N+P 56
21. Perkembangan aeroponik
aplikasi pupuk daun 56
waktu aplikasi DUDUk daun 57
3. konsentrasi pupuk daun N
Pengaruh konsentrasi pupuk terhadap pertumbuhan berbagai waktu panen kentan cr ",Mr.nr..,
Perkembangan jumlah
Perkembangan jumlah umbi aeroponik pada waktu
aplikasi daun N+P 58
Umbi kentang aeroponik pada berbagai waktu aplikasi pupuk daun N+P
Perkembangan panen aeroponik berbagai waktu
aplikasi pupuk (faun N+P 59
26. Peubah hasil panen kentang aeroponik pada berbagai waktu aplikasi
pupuk daun .
27. Perkembangan C dan N tajuk serta rasio tajuk aeroponik
pada berbagai aplikasi pupuk daun 60
Perkembangan jumlah stolon kentang aeroponik berbagai waktu .
aplikasi pupuk daun 60
Perkembanganjumlah inisiasi umbi kentang aeroponik pada berbagai
waktu aplikasi pupuk daun K 61
30. Perkembanganjumlah aeroponik pada waktu
aplikasi pupuk daun 61
31. Umbi kentang aeroponik pada berbagai waktu pupuk daun K 62 Perkembangan hasil panen kentang aeroponik pada berbagai waktu
aplikasi pupuk daun
Peubah hasil kentang aeroponik pada
terhadap peubah pertumbuhan ken tang
68 Pengaruh . PBZ terhadap peubah kentang aeroponik pada 16 MST
SVセ@ Pengaruh waktu aplikasi terhadap peubah pengamatan
aeroponik pada 8 MST 74
37. Pcngaruh waktu aplikasi terhadap peubah panen
aeroponik pada 16 MST 75
Interaks-i dan waktu aplikasi PBZ terhadap peubah aeroponik pada 16 MST
39. peubah panen kentang aeroponik pada 16 MST
40. Suhu udara bulanan selama penelitian 80
waktu avu1\..Q.';'!
pupuk daun 34.
ーセ。Xmst@
xvi
、。ョセ@
Pengaruh
pada 16
umbi dan kecepatan
n..VH,:)\..tJ,j
1995)
secara aeroponik
me1alui induksi 4
pertumbuhan tanaman kentang (Pitojo 2004) 6
1.
3. Sistem aeroponik mini benih kentang 2009) 8
Asimilasi nitrat daun (Marchner 1995) 9
5. Asimilasi ammonia (Marchner 1995) 10
Pengaturan sintesis pati dan transport karbohidrat dalam sel daun
oleh P (Taiz & 1997) 10
asam
11
8. penghambatan pembentukan giberilin berbagai retardan
(Verma et at. 2010)
Rumus bangun paklobutrazol 15
10. P ertum buhan tinggi tanaman (a) dan j umlah
aeroponik pada konsentrasi pupuk daun
11. tajuk tanaman bobot segar tanaman (b), bobot kering
tanaman (c), dan (d) kentang 4 MST
N
per timaman ken tang aeroponik Dada 26
konsentrasi pupuk daun N
Pertumbuhan tinggi tanaman (a) danjumlah (b) kentang
pada berbagai konsentrasi pupuk daun fosfor
P
akar (a), bobot tajuk (b) dan bobot segar tanaman (c) kentang
pada 3 MST konsentrasi daun P 34
15. umbi sedang pada
37 tinggi tanaman (a) danjumlah cabang (b)
aeroponik pad a berbagai pupuk daun 42
17. Bobot segar tanaman (a) bobot kering tanaman (b)
pada 4 MST pada konsentrasi pupuk K 44
18. inisiasi umbi (a),jumlah umbi (b), bobot tanaman
(c), bobot umbi per petak (d) kentang aeroponik berbagai
konsentrasi pup uk daun 46
19. C dan N tajuk serta tajuk
20. tanaman cabang (b) tanaman
54
21. jumlah stolon dan kecepatan pembentukan stolon (a)
umbi (b) 55
22. PBZ terhadap peubah pengamatan 8 MST 69
23. PBZ terhadap peubah panen
71
24. Perbandingan jumlah umbi dan kecil pada 16
dengan 72
25. Interaksi konsentrasi dan waktu aplikasi terhadap jumlah umbi
(a) dan stolon efektif(b) 77
harian dalam rumah drum larutan dan bak
81
27. Lintasan biosintesis giberilin, sitokinin, dan ABA (Wattimena1988)" 83 28. Sistem Perbanyakan Benih Kentang di Indonesia (SUWarrlO 2008) . 86
29. kebutuhan benih kentang nasional 87
30. pemenuhan benih nasional
teknologi aeroponik (a) pemenuhan benih
kentang nasional dengan teknologi aeroponik tanpa melalui G 1 (b) . 87
セM
1.
mikro umbi mini pada
tunggal NPK 99
cm:m1mm nitrogen total dengan metode Kjedahl et al.
1982) 100
101
5. dengan metode Walkley dan Black et
7.
103
xix
PENDAHULUAN
Latar Belakang Kentang (Solanum tuberosum L.)
di Indonesia yang menjadi sumber mineral, dan vitamin. Konsumsi kentang per kapita tahun 2009 ke 2010 meningkat 6.0% (Pusdatin
kecil berbahan baku kentang makanan masyarakat yang mulai mengonsumsi kentang
Konsumsi ken tang nasional per tahun pada tabun 2010 ton (Pusdatin 2012) tidak didukung oleh kemampuan produksi
hortikultura kaya protein, Indonesia dari
·.<
di Indonesia pada tahun 2011 pertanaman 59.8
kentang sebesar 25 t
kentang antara lain akibat
2000). Peningkatan kebutuhan 1'\.vl1laJ.!)o:,
kentang GO, G 1, G2, di tingkat petani konsumsi.<
mencapai 15% dad kebutuhan
pengadaan benih kentang cukup kentang, sehingga petani
musim tanam berikutnya (Wattimena 2010). berkualitas dilakukan dengan teknik kultur
11"110 11<1;)111'\.<111 umbi mikro dan stek mikro
Perbanyakan umbi mikro dan stek
Produksi umbi mini kentang secara aeroponik mulai di (Sub 2005). Aeroponik merupakan proses penumbuhan tanaman dengan cara pengabutan hara ke akar tanaman tanpa menggunakan tanah atau 2009). HasH umbi mini kentang secara aeroponik 1 tanaman (Muhibuddin et al. 2009) lebih tinggi dibandingkan secara sekitar umbi per tanaman
et at. 2004; Correa et at. 2008). yang tinggi dengan
aeroponik karena pemanenan umbi
pertumbuhan dan relatif bebas
pengontrol'an tanaman 2001; Nugaliyadde et al. 2005;
& Castel 2006; Nhut et et 2008; Correa et al. 2009;
2009).
Semakin banyak tanaman pada produksi benih GO meningkatkan keuntungan U;:,i:tUi:tli:tlU karena umbi mini GO dijual
satuan hlmbi ke petani . Tidak adanya penghalang di daerah perakaran pada U)o:,"-"CL\.Q.U jumlah stolon primer lebih
menggunakan pupuk daun NPK dan anti gibereIin paklobutrazol (PBZ). Informasi induksi pengumbian dengan pupuk daun NPK dan diharapkan
digunakan terhadap induksi· van£! lain.
Ii:
Perumusan Masalah
Persentase menjadi umbi pada· aeroponik rendah sekitar 10% akibat pertumbuhan yang dan tidak se£!era beralih menjadi pertumbuhan umbi. Menurut Beukema dan (1990),
penginduksi pengumbian tanaman kentang antara lain adalah hari pendek, suhu dingin, anti giberelin, dan pengurangan hara nitrogen. Chang et af. (2008) menyatakan bahwa pengalihan pertumbuhan menjadi pertumbuhan umbi kentang pada sistem aeroponik memerlukan mekanisme stres. Beberapa stres telah diteliti pada aeroponik antara interupsi
'-./",AL . . . . et 2008), suhu tinggi (Chang et al. 2006) dan
anti et al. 2005), cycocel (Chun et al. 2007) dan metil jasmonat (Zhonggun lichun 2006), serta pengurangan jumlah daun (Biao et al.
2008).
Induksi pengumbian harus dilakukan pada waktu yang tepat. Harris (1978) menyatakan bahwa peri ode penting penentu banyaknya jumlah umbi tanaman
(2004) teIjadi
adalah saat permulaan pembentukan stolon sampai pembentukan umbi,
hari tunas
(2008) bahwa interupsi N
muncul
cukup hari tanam (HST)
jumlah' umbi 18%, sedangkan perturnbuhan tanaman dan umbi.
Pupuk daun sering diberikan pad a produksi benih ken tang baik pada sis tern konvensional maupun pada sistem aeroponik, tetapi pengaruhnya sangat bervariasi. Pupuk daun dapat rnengoreksi kekurangan hara
(Collings 1975) dan menghindari kepekaan tanarnan
busuk pada kondisi hidroponik yang lernbab (Wheeler et al. 1990). dengan
melaporkan bahwa daun 2.7 KH2P04 ha-1 pada 18 dan 2 . ha-I dalam kondisi cukup air 28 HST dapat jumlah umbi. Zengshuo et af. (2010) bahwa 4 g KH2P04 L-1 aeroponik
ngkatkan jumlah stolon, jumlah umbi besar, dan hasil umbi.
3
adalah
waktu aplikasi pupuk daun N,
mini kentang secara aet'ODom percobaan
Paklobutrazol merupakan giberelin yang menghambat
biosintesis asam pada asam kaurene, dan kaurenal,
menghambat pertumbuhan dan beralih pertumbuhan umbi
(Verma 'et al. 2010). Wattimena (l melaporkan bahwa 10 mg PBZ
merupakan terbaik untuk produksi umbi Gunawan
(l998) 15 mg merningkatkan
ULV ...U. tanah. (J 994) bahwa 30
konsentrasi terbaik untuk produksi mini pada media Sitepu (2007)
melaporkan bahwa aplikasi PBZ HST terlambat untuk meningkatkan
jumlah umbi umbi telah Dengan perlu ditetapkan
konsentrasi dan aplikasi tepat, sehingga pemberian PBZ
meningkatkan jumlah umbi mini tahaman kentang.
Penelitian
jumlah peningkatan
adalah:
, waktu
aplikasi pupuk daun N, P, K
mInI secara aeroponik,
aplikasi yang
kentang secara l'lP.."nr,n
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini terdiii atas penelitian utama (Gambar 1) yaitu :
1. konsentrasi
produksi
Penelitian ini dibagi a, 'Studi I-''-''<>''''"''I-''''U n,'J"..,"',
1)
• Studi penetapan optimum pupuk daun N =-,,:':"'==":==;"";:"'::;:;J
• optimum pupuk daun P セGM]]]MBMセ@
'''VJLL0''',UUU0' optimum pupuk daun K セZNNN]G]]NNANNNセ@
t'eI'CODaalll 1a, 1b, 1c dilakukan secara
pel'Calbaal11 1 digunakan untuk percobaan
b. Studi pengaturan waktu aplikasi pupuk K QNNQAj[NセANANAjZ[AヲゥャャNNᆪl@
aplikasi pupuk hasil percobaan 2 digunakan untuk percobaan
3.
secara aeroponik (percobaan 3)
terhadap produksi umbi
2. Studi dan waktu
mInI
Manfaat PeneIitian
penangkar benih GO memperoleh
dapat meningkatkan jumlah umbi mini pada
mendapatkan aeroponik
benih dan memperoleh benih sumber kentang
sehingga benih Produksi
meningkat penggunaan benih· berkualitas, sehingga dapat mendukung diversifikasi Peningkatan Ket:en;edlaan benih berkualitas dapat mengurangi kebutuhan benih impor kentang,
terhindarmasuknya baru luar k・「・イィセウゥャ。ョ@ teknologi aeroponik produksi kentang diharapkan dapat memberikan masukan kebijakanterhadap perbenihan . nasional lebih
Konsentrasi optimum pupuk daun
·
Nitrogen·
Fosfor·
KaliumKonsentrasi dan waktu aplikasi
paklobutrazol
lumlah umbi meningkat
lb. la.
Stud; Studi
Konsentrasi Konsentrasi
Optimum Optimum
Pupuk Pupuk
Oaun Oaur.
Nitrogen Fosfor
Percoba .. n 3
1e.
Studi Konsentrasi
Optimum Pupuk
Daun
Kalium
Studl Penentuan Konsentrasi dan Waktu
. Aplikasi Paklobutrazol
[image:22.612.64.556.13.818.2]terbaik
Gambar peneiitian produksi umbi mini kentang. secara aeroponik melalui induksi pengumbian
Kebaruan Penelitian
Penelitian produksi umbi secara aeroponik telah dilakukan oleh peneliti. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dalam rangka meningkatkan induksi pengumbian pada aeroponik antara lain adalah interupsi hara et at. 2008). penggunaan SW1U
et al. 2006) anti uniconazole et at. 2005), cycocel (Chun et al. 2007) metit jasmonat & Jichun 2006), serta penguranganjumlah (Biao et al. 2008). .
penelitian terdahulu belum memperhatikan pentingnya waktu induksi pengumbian pada aeroponik terutama kaitannya banyaknya jumlah stolon yang membentuk umbi. Metode induksi pengumbian diperoleh penelitian ini dapat acuan untuk met ode induksi pengumbian yang lain. Penelitian aeroponik ini memberikan masukan kebijakan Pemerin'tah untuk memotong perbenihan kentang nasional,
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Kentang
Kentang termasuk tanaman C3 dalam kelas dikotil dad keluarga Solanaceae. J\kar tanaman tumbuh dangkal pada lapisan tanah atas. Tanaman yang tumbuh dari biji memiliki akar tung gang yang membentuk akar serabut, sedangkan yang tumbuh dari umbi memiliki akar serabut (Permadi et al. 1989).
Susunan daun kentang yang majemuk diakhiri oleh daun tunggal pada ujung tangkai. Tangkai daun majemuknya mempunyai tunas ketiak yang berkembang menjadi cabang sekunder dengan sistem percabangan simpodial (Cutter 1978).
Menurut Permadi et al. (1989), tanaman yang berasal dari biji menghasilkan satu batang utama, sedangkan tanaman yang berasal dari umbi menghasilkan lebih dad satu batang utama. Tanaman kentang memiliki dua tipe batang yaitu di atas tanah dan di bawah tanah. Batang di bawah tanah menjadi stolon yang kemudian membentuk umbi, sehingga umbi kentang disebut sebagai umbi batang. Stolon merupakan tajuk lateral yang tumbuh dari buku batang di bawah permukaan tanah (Wareing & Philips 1970). Umbi tanaman kentang merupakan tempat penyimpanan makanan dan sebagai alat perbanyakan tanaman. Mata tunas umbi terdiri dari kuncup utama dan beberapa kuncup lateral. Makin ke ujung umbi, mata tlmas umbi makin rapat dan makin muda (Pennadi ef al. 1989).
Pengumbian merupakan peristiwadimana stolon berhenti memanjang dan mulai membcsar secara radial, kemudian berdiferensiasi menjadi tipe jaringan yang berbeda. Jaringan utama umbi terdiri dari periderm, korteks, jaringan pengangkut, dan medulla (Xu et al. 1998). Umbi yang belum matang memiliki periderm masih aktif dan sel kambium tipis, sehingga kulit umbi mudah dikupas. Sel kambium menghentikan aktivitas membelahnya ketika umbi matang, sehingga kulit limbi lebih lengket. Menurut Permadi et al. (1989), penggunaan pupuk N dan K menghasilkan kulit umbi yang tipis, sedangkan pupuk P menghasilkan kulit
(
umbi yang tebal. Lentisel pada umbi berperan sebagai sistem komunikasi di dalam umbi clengan sekelilingnya. Peningkatan pupuk P meningkatkan jumlah lentisel (Beukema & Zaag 1990).
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang
Pertumbuhan tanaman kentang diuraikan oleh Pitojo (2004) seperti pada Gambar 2. 'Tunas muncul di atas pennukaan tanah pada 10-14 HST dan diikuti dengan pertumbuhan stolon dari ketiak daun pertama di dalam tanah. Pertumbuhan stolon terus berlanjut hingga mencapai jumlah terbanyak, yaitu sekitar 25 hari setelah tunas muncul ke permukaan tanah. Ujung stolon menebal dan membentuk umbi saat stadia pertumbuhan tertinggi. Umbi mulai membesar sekitar 20-2) hari setelah tunas muncul ke ー・イュオィエセョ@ tanah. Pada tahap ini, jumlah umbi yang terbentuk dapat ditentukan, sehingga menjadi periode kritis tanaman ken tang. Menurut Harris (1978), peri ode kritis tanaman kentang adalah saat pennulaan pembentukan stolon sampai dengan pembentukan umbi. Peliumbuhan batang paling aktifterjadi sekitar 25-30 hari setelah tunas muncul ke permukaan tanah dengan pertambahan jumlah panjang batang per hari sekitar 3 em. Pertumbuhan batang berhenti 45-50 hari setelah tunas muneul ke permukaan
" W W _ _ """"
tanah. Daun mulai dan mati sekitar 75
permukaan エ。ョ。ィセ@ Tanaman dibiarkan selama 10-15 semua daun hingga kulit urnbi mudah terkelupas dan kemudian umbi dipanen (Pitojo 2004).
Jumiah hari seteiah tari!'iITI
o 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
10 9
8
7
6 5 4
3 2
10; 20 30
ウ・エ・ャセィ@ bertunas
0
tanam
. , : 50
o pertumbuhannya
berhenli
60 70 o
o. meOl9unln9
90
Gamo'ar 2 Fase perturnbuhan tanaman kentang (Pitojo 2004)
Menurut Beukema dan memiliki
pertumbuhan yaitu pertumbuhan
dan bibit berpernn utama
sebagai pada peri ode kemunculan tunas.
Pembentukan akar kemunculannya atas tanah dipercepat apabilaumbi benih sudah bertunas sebelum ditanam. Kelembaban tanah rendah dan suhu tanah yang dingin menunda kemunculan tunas ke at as tanah. Brangkasan mulai tunas muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan tanaman menjadi autotrop.
pertumbuhan
dan Zaag (1990), faktor yang mempenganihi dan umbi hari, suhu, intensitas cah'!ya, fisiologi umur benih, kerapatan tanaman, suplai nitrogen, kelembaban, varietas, dan zat pengatur tumbuh. Faktor-faktor ini berpengaruh secara individual atau saling berinteraksi selama tahap pertumbuhan awal tanaman, tetapi menjadi kurang berpengaruh setelah mencapai tahap umbi.
Pertumbuhan vegetatif kentang membutuhkan suhu hati pembentukan umbi suhu rendah dan pendek (Beukema Zaag 1990). Aplikasi giberelin memberikan pengaruh hari panjang, sehingga menurunkan alokasi asimilat ke umbi dan menghambat pengumbian, tetapi mendukung perpanjangan stolon dIm pertumbuhan tajuk (Viola 2000). Daerah yang mempunyai suhu maksimal 30
minimal 15°C sangat untuk pertumbuhan daripada daerah suhu relatif 24°C. Suhu malam yang rendah lebih efektif mempengaruhi pengumbian daripada suhu di had.
7
yang cepat terjadi
"',,",UUAot,," terlihat pembengkakan ujung stolon
U.A... .,... dan mulai
penuaan daun. Menurut dari dua
secara
J.'I.vJ.U.... ,l/o<.
Ullten:mSllaSl stolon menjadi primordia terjadi saat inisiasi umbi. Pembelahan dengan akumulasi pati pembesaran umbi,
nyata (Hannapel 2007).
ー・イャュjセk。ャ。ョ@ pertumbuhan vegetatifumbi
menjadi dorman pada saat pemasakan umbi, diikuti
et al. (1998), proses pada
aspek, yaitu morfologi umbi dan dan
terdiri dua tahap pembentukan umbi di ujung stolon.
tergantung waktu kecepatan pengisian, dan lama peri ode pengumbian. Bobot umbi waktu disebut kecepatan
pengisian, waktu antara inisias1 umbi disebut
peri ode umbi
tinggi, dan harus untuk memperoleh hasil yang (Beukema Zaag 1990). Kecepatan pengisian umbi pada kondisi optimum sekitar 800-1.000 kg ha-1 -J (Adisarwanto 1993). Warnita et al.
(2006) melaporkan bahwa rata-rata inisiasi umbi, lama dan umur panen beberapa kentang diuji masing-masing adalah 44, dan hari.
, Asimilat selama pertumbuhan awal pertumbuhan daun,
batang, dan akar, lebih dominan
akumulasi. Jumlah pertumbuhan umbi
pertumbuhan umbi di sedangkan pertumbuhan
dan tajuk berhenti. tahap terakhir ditransportasikan ke umbi (Beukema Zaag 1990). Menumt et at. (1989), perkernbangan umbi diawali dengan peningkatan asimilasi , sampai 3 kali dibandingkan saat umbi terbentuk. Asimilat ditranslokasi umbi mencapai 2 kali , jumlah yang digunakan bagian di atas tanah. Laju
perkembangan ukuran umbi pad a mengikuti fungsi
eksponensiaI selanjutnya menumn ketika
tetap.
Jumlah umbi terbentuk dipengamhi oleh pada saat pembentukan umbi, sedangkan ukuran umbi dipengaruhi kondisi pertumbuhan berikutnya. Jumlah umbi tinggi memerlukan kondisi yang baik minggu pertama kedua tahap pengumbian, sedangkan ukuran memerlukan kondisi baik selama pertumbuhan umbi (Adiyoga et
at. 2004).; Jumlah penting produksi benih
dibandingkan pada produksi kentang konsumsi. Distribusi asimilat tanaman diatur kekuatan umbi sebagai dominan et al. 1 Kekuatan sink yang meningkat puncak perturnbuhan umbi rneningkatkan laju fotosintesis & 1990).
Aセ[ェウエ・ュ@ Aeroponik pad a Produksi Umbi Mini Kentang
Salah satu teknologi produksi dikembangkan saat ini
a"'''''CUI sistem hidroponik, aeroponik. Aeroponik
dari kata aero yang udara yang daya.
menjadi pertumbuhan
jumlah daun (Biao et af. 2008), interupsi hara N anti giberelin (Li et al.
tanaman tanpa menggunakan tanah atau aggregat media (Gambar 3) (BPBK 2009). Sistem aeroponik dalam produksi 「セ・ョゥィ@ umbi mini kentang dilakukan di dalam rumah ketat serangga dengan menggunakan bak fiberglass atau kayuJbambu yang ditutup plastik styroform. . . tanaman menggantung dan· larutan disemprotkan metaluC sprinkler, sehingga akar
[image:26.612.55.551.29.822.2]menyerap hara tersebut (Sub 2005). . .
Gambar 3
Tampal
]BZZZ]ZZ[[Wセセ]BBMセセT Tanarrian
benih (BPBK 2009)
Sistem aeroponikdengan sirkulasi tertutup menyebabkan kondisi makro dan mikro cocok untuk menjaga udara secara konstan. aeroponik terletak pada oksigenasi butiran kabut larutan hara yang sampai akar (Mariana 2009). Butiran hara selama perjalanan sprinkler sampai ke menambat dari udara, sehingga kadar oksigen terlarut dalam butiran menjadi meningkat. JJ'v.l1"''''U
lancar dan ban yak sehingga meningkatkan
Davis (J menyutakan bahwaakar pada sistem aeroponik memiliki kandungan pereduksi dan gula total rendah
konsekuensi peningkatan respirasi akibat banyaknya O2 untuk akar.
Pemberian larutan hara pad a aeroponik mudah diatur tahap pertumbuhan tanaman, pertumbuhan tanaman terkontrol (Gunawan 2009). Pemakaian larutan hara pada sistem aeroponik lebih hemal karena
digunakan untuk cukup ramah lingkungan
(Correa et 2008; et af. 2009). Manfaat lain adalah terdapat
p'-'l'E;,E;,. UH'M,U1 lahan dan tidak tanah steril untuk produksi
benih umbi mini kentang, masalah eksploitasi tanah secara berlebihan (Nhut' et al. 2006). Penanaman dalam rumah ketat serangga tanpa tanah pada aeroponik menyebabkan serangan hama penyakit relatif lebih rendah dapat berproduksi kapan produsen benih dapat mengatur sesuai kebutuhan konsumen benih kualitas lebih baik et 2009; Gunawan 2009).
Beberapa perlakuan telah dilaporkan dapat mengubah arah pertumbuhan umbi kentang pada aeroponik seperti et af. 2008), 1005; et af. 2006; Chun et af. suhu tinggi pada daerah perakaran (Chang et af. 2006). hasil penelitian telah dilakukan untuk perbaikan produksi benih
9
menunjukkan penambahan NPK (10:1 16) dalam hara AB meningkatkanumbi 36%, bobot umbi 41 %, dan karbohidrat 14% dibandingkan tanpa dan Castel (2006) melaporkan bahwa umbi kentang aeroponik banyak memiliki lentisel terbuka karena
NセN@
kcle..l1babannya tinggi. Menurut et ai.· (2008), lentisel yang
meningkatkan kepekaan terh;adap beberapa penyakit terutama busuk umbi. Namun demikian menurut Farran (2006), peminganan pasca panen dan penyimpanan yang benar memperbaiki kulit umbi mini hasil aeroponik. Kim et al. (1999) bahwa umbi hasil aeroponik memiliki perbedaan dalam
dibandingkan dengan umbi konvensionaL
et (2008) menyatakan jumlah panjang tunas umbi kentang hasil aeroponik tidak berbeda nyata dengan konvensional.
Nitrogen, Fosfor, Kalium Kentang
Tanaman kentang responsif pemupukan karena
perakarannya dangkal et 2008) dan akar dan brangkasan yang (Ekelof 2007), Kentang membutuhkan hara N dan K tinggi daripada hara P (Laszlo 20 I a). Menurut Harris (1978), konsentrasi hara N dan K di pertumbuhan dengail N tertinggiberada di sedangkan K di batang. Konsentrasi P tidak terlalu bervariasi dalam tananian halnya N dan penyerapan tanaman kentang terhadap pupuk N 50-60 % (Bucher & Kossman 2007), P 25-40% (Ekelof 2007), dan
55% & Sharma 1998).
dan P metabolisme
merupakan iriorganik terbanyak jaringan tanaman (Romheld &
20 1 0). Nitrogen berperan penting dalam sintesis dan klorofil, sehingga penting bagi pertumbuhan luas dan produktivitas tanaman (Marchner 1995). Nitrat dan ammonium merupakan sumber utama N anorganik diserap tanaman. nitnit menjadi ammonia di sitoplasma, sedangkan nitrit
dan
reduksi di kloroplas dan proplastida di akar, serta hijau lainnya
セエ。オ@
Asimilasi nitrat asam terjadi di tajuk pada vakuola, sedangkan asimilasi UJ.UUAV.lU
di akar. Asimilasi ammonia dapat terjadi dengan asam glutamate
(G8mbar Reaksi transaminasi glutamate dan oksaloasetat dapat aspartat dan 2-oxoglutarat, sedangkan pembentukan glutamate diperoleh da.ri reaksi glutamine dan aspartat. Glutrunat dan glutamine. dapat
untuk sintesis amida lain dan peptide protein.
Nitrate reductase Nitrite reductase
Pt>Olosystem I
セ@
erredOX,)
red. ""NADP-'NADPH + H+
C.OOH
COOH
Hl N-CH .. Glu1atnine
イMMMMMMMMMMMMMMMMMセG@ ケhセ@
.
o-CH
::--'---..,.--1. Suplai ammonia rendah pャNセセMBLM
2. Suolai ammonia tinaoi 0
..
\ ...•. COOH
rf2N-¢H
CH.
6;,
COOH
,
CH 1 •••
9
HlCOOH
/ Proteins
f./
NU<::Iaic addsセセᄁ[[[M -.... Othel' nitrogen
\3Iutamale Glutamate compo<.l(\d3
5 UH\.J'HU4 (Marcr-..ner 1995)
Fasfar tanaman dalam bentuk H2P04' dan HP04= dan bersenyawa di dalam organik dalam bent uk teroksidasi. P berperan penting dalam sistem energi karena menjadi bagian dari struktur DNA, RNA, ATP, dan fosfolipid membran (Ekelof2007). dan (1997) menyatakan bahwa P terlibat dalam pengaturan sintesis pati dan transport karbohidrat dalam sel daun. ADP·glucose pyrofosforilase yang mengatur pati dihambat oleh P, sedangkan P translokator yang mengatur pelepasan asimilat dari kloroplas ditingkatkan oleh P (Gaplbar 6).
CHLOROPLAST S7ROMA
ChlOroplaS\ inner
r.;embrane - - - t i l l !
Calvin cyCle intermediates
Nセ@
Triose phosphate CO, P, AOPGI
Starch . CYTOSOLFructose
1.6-\
b isphOsphale
Flue!;"Se 6-phOsphate
T€iosc p.
phOsph<i>le
co/
Sucrose/
p. AntipOl'l (phOsphate Sucrose \lanstocatorlGambar 6 Pengaturan sintesis pati dan transport. karbohidrat dalam sel oleh P (Taiz & 1997)
Kalium diserap tanaman dalam bentuk secara aktiC K berperan penting
)
[image:28.612.48.493.41.838.2]11
potensiaI osmotik saat pemuatan dan pembongkaran sukrosa (Gambar Taiz dan
LJ'-'llf.'-'l (1997) menyatakan bahwa K meningkatkan aktivitas ADP·glucose menjadi
dan aktivitas proton ATPase.
Sieve Tube
Leaf cell:
sukrosa diatUf ATPase, K, dan asam
d e f i s i e n s i d a u n
amino (Marchner 1
Harris (1978) menyatakan sepanjang
pertumbuhan sehingga me nunda pengumbian kentang. Pemberian hara P meningkatkan luas daun awal pertumbuhan, pemberian selanjutnya penuaan sedangkan K berpengaruh pada awal pertumbuhan! tetapi meningkatkan daun pertumbuhan berikutnya dan menunda penuaan daun. Jika hara N dinaikkan, hara P juga harus dinaikkan.
sebagai dalam tanaman menyebabkan gejala
tua 1978). membatasi
pertumbuhan yaitu tajuk pendek kecil
berwatna hijau Oliveira (1 melaporkan yang rendah menurunkan daun,jumlah cabang, bobot tajuk, bobot umbi, danjumlah umbi. Defisiensi P ditunjitkkan dengan tanaman kerdil dengan buku yang pendek, batang berkayu dan berwarna biru pennukaan daun lebih rendah
menjadi akar kerdil 1995). (2007) melaporkim
pemberian P bobot akar, bobot tajuk, bobot umbi,
jumlah tanaman kentang. K daun
diikuti nekrosis. Charloq (2008) melaporkan pemberian K rendah menurunkanbobot tanaman bobot umbi tanaman.
N berlebihan pada tan am an kentang pembentukan umbi, gula pereduksi protein tinggi, serta yang dipanen tidak matang, muqah rusak, dan sulit (Beukema & 1990; Chang et al. 2008). hara P dan jarang terjadi pada tanaman kentang
N (Ekelof dan Kirbky (2010),
pemberian terlalu tinggi tanaman
un."",·VL
dan hasil sedangkan menurut Zelalem et al. (2009), pemberian P berlebihan
penuaan waktu umbi hanya
Setiap fase pertumbuhan kentang membutuhkan hara yang berbeda (Robert & 1985). Menurut Zebarth dan Rosen (2007), pertumbuhan tanaman kentang berdasarkan dibagi lima . tahap pertumbuhan tanaman. Dengan ilustrasi Russet Burbank, tahap pertumbuhan pertan}?
tahap perkembangan tunas yang terjadi hingga 30 Umbi benih merupakan sumber hara dan energi utama untuk tahap pertumbuhan Tahap pertumbuhan kedua tetjadi antara 30-55 yang merupakan pertumbuhan vegetatif. Akar menyediakan hara untuk brangkasan dan fotosintesis pada daun
menyediakan untuk pertumbuhan. akhir tahap ini
sekitar 20%. Tahap pertumbuhan ketiga adalah inisiasi umbi tetjadi 50-70 HST dengan peningkatan pertumbuhan vegetatif dan serapan hara yang cepat. Tahap pertumbuhan keempat adalah pengisian umbi. Pertumbuhan dan
pada tahap ini mulai menurun, sedangkan asimilat dan hara mulai ditranslokasikan ke umbi. Pertumbuhan umbi pada tahap ini kondisi pertumbuhan adalah optimum.. Hampir セ@ hara N, P, tanaman ditranslokasikan ke umbi. Menurut
mengakumulasi 2/3 total keempat. Pematangan umbi
BLuセNGGGGujuh@ mulai daun
sudah tidak ada atau sedikit sekali serapan hara.
dan Dole (1985), pada tahap pertumbuhan "'."'.'1"><4
pertumbuhan
pertumbuhan
makro N, dan tidak banyak dilaporkan berperan dalam induksi pengumbian. dan Marschner (1982) melaporkan bahwa pemberian N kontinu me nunda pengumbian, tetapi pengurangan N pada kondisi terinduksi menyebabkan terjadinya pengumbian, sedangkan pada kondisi non induksi tidak menyebabkan terjadinya pengumbian. Jackson (1999) menyatakan bahwaN tidak terlibat dalam induksi pengumbian, tetapi menekan pembentukan umbi meskipun induksi pengumbian tclah terjadi. Pengurangan N mempengaruhi level fitohormon dalam tanaman, yang menurunkan level dan meningkatkan· ABA dalam tanaman (Krauss & Marschner 1982). Jackson (I 999) menyatakan rasio karbon karbon nitrogen rrierupakan· indikator dalam pengumbian.
umbi, tingginya
nitrogen mendorong pertumbuhan tajuk dan akar yang menghabiskan persediaan karbohidrat, sehingga menurunkan ketersediaannya untuk pembentukan ttmbi. Sarkar dan Sharma (2010) melaporkan bahwa tidak berperan penting dalam induksi pengumbian in vitro, tetapi berperan penting induksi pengumbian terhadap pertumbuhan dan perkembangan umbi, umbi berukuran lebih besar dan lebih
Pemupukan pada Tanaman Kentang
p・ュオーオォセョ@ .- (;.,. merupakan tindakan pemberian hara kepada tanaman secara
buatan. Filosofi petnupukan tingkat kecukuptm adalah pemupukan kebutuhan tanaman di kemampuan untuk Tanaman tidak merespon pemupukan dilakukan sesuai
apabila kebutuhan tanaman terhadap hara sudah dipenuhi dad tanah secara alami. Pupuk tambahan selain melalui tanah diberikan bagian tanaman atas tanah pupuk daun. Pupuk daun mengurangi kondisi stres hara ketika
13
tanaman 1975). Pupuk daun rnenghindari kerusakan akar bibit dad
aplikasi pupuk tanah, rnerniliki lebih baik dalam jumlah
dan arnan, serta Iebih unggul bila kondisi tanah dan pupuk kurang baik.
Namun pupuk daun tidak dapat pupuk tanah, ""'UJ'U5E;<4
atau defisiensi
et al. (1990) pup uk daun
hidroponik untuk rnenghindari periderm
u ....","",. . umbi kentang, rnernpengaruhi kualitas
ALLY,J''''- rnelal ui pembukaail stomata berdifusi ke pada ....p • .;>...
rnesofil secara Hara dirnetabolisasi
';"".""uu ...,,,"np·tr,,,,, rnelalui plasrnalema atau ditranspor secara sirnplastik ke
hara ke daun sering di batasi adanya kristalisasi garam
akumulasi hara yang tinggi di daun, rnenurunkan serapan hara dan tanah
1992). Kecepatan hara sangat tergantung struktur
tanarnan, urnur tanaman dan pH-nya
aplikasi. Faktor pupuk
""...""... , kelernbaban, daun sering kOI1lVerlSlOinal (Karjadi 1
(Fan et af. 2008;
sangat bervariasi.
meningkatkan jumlah ..","",",u, (2009) rnenemukan
rneningkatkan jumlah umbi 61 %
Konsentrasi pupuk daun terlalu tinggi rnenyebabkan terbakar,
terbuang, atau meracuni tanaman, sedangkan konsentrasi terlalu rendah tidak
rnernpengaruhi pertumbuhan tanaman. Karjadi (1993) rnenyarankan agar
daun diberikan dalarn jurnlah sedikit, tetapi sering dengan pupuk yang
rnerusak daun. (1994), kisaran pupuk
Ca(N03h adalah . Ani (2004) melaporkan 0.5% pupuk
daun plot kelas A Granola .
...""_lVL (2007 melaporkan pupuk daun ha-) pada
dan sebesar 2 pada 28 HST pada tercukupi air
meningkatkan jumlah dan Sharma (1999) aplikasi
pupuk daun 2% KCI 70 BST meningkatkan tidak
dapat menggantikan tanah. Interval
terbaik untuk s,tek kentang 5 hari sekali (Krujadi 1
Pemupukan daun harus diberikan pada waktu tepat untuk
menyediakan hara potensial perkembangan tanaman, sehingga
efisiensi pemupukan (Vos 2009; Zebarth & ,,"""J...,U 2007; Romheld &
Kirkby 2010). Kumar et (2007) melaporkan bahwa hara K rnelalui
daun baik. pade: tanah Hat berpasir rneningkatkan hasil umbi kentang.
Westermann dan (1985) melaporkan suplai N di awal
pertumbuhan sebesar hasil umbi
tertinggi. Menurut (2007),
menurunkan (2007) melaporkan
daun P segera tunas rnuncul dapat mencukupi
hara
berpengaruh nyata terhadap hasH umbi. Trehan dan Sharma (1998) menyatakan bahwa pertumbuhan berlebihan ' pehgisian umbi memerlukan untuk pertumbuhan tanaman' , transfer selama umbi. et al. (2008) bahwa pemberian pupuk pada ,,,')I,v,," aeroponik lebih berpengaruh setelah fase pembentukan umbi dibandingkan
r ' ' "
saat pertumbuhan awal kentang. '
Paklobufrazol
Srivastava (2001) menyatakan bahwa biosintesis (GA) terbagi dalam tiga tahap. pertama proses siklisasi geranyl geranyl pyrofosfat (GGPP) menjadi ent-kaurene yang terjadi di plastid. Tahap kedua merupakan oksidasi ent kaurene pada mikrosomal oleh P450 monoxygenase menjadi GAI2-aldehyde. Setelah GAl2-aldehyde tahapan pembentukan
GA ' tanaman yang terbentuknya
(1979) dalam Wattimena (1988) mendefinisikan retardan '"'v ..."",....
senyawa organik yang dapat menghambat perpanjangan sel pada meristem sub apikal, mengurangi laju perpanjangan batang tanpa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daun' atau tanpa mendorong pertumbuhan abnormaL Srivastava (2001) menyatakan bahwa retard an dibagi dalam kelompok. Kelompok onium seperti quaternary ammonium (seperti
mepiquat chloride, dan AMO-1618) dan phosphonium (seperti chlorphonium
chloride) dapat menghambat ent-kaurent GGPP. Kelompok kedua
terdiri dari komponen heterosiklik mengandung pitimidin (ancymidol) (paklobutrazol, uniconazole). Kelornpok
oksidasi ent kaurent menjadi ent oleh P450
Kelompok ketiga termasuk acylcyclohexailediones, menghambat aktivitas dioxygenases pada tahap ketiga pembentukan GA prehexadione-Ca trinexapac-ethyl) (Gambar 8).
enl-kaurerwl
セB@
.
cnt-kaurcnolc
gaセZZMョャ、cィycィNNセ@
P"H.;lohut'<.Izol. midoJ
Daminozidc
Gi llin:s
15
Paklobutrazol CPP memiliki rumus· (2RS, 1-(4-chlorophenil)-4,4-dimethyl-2-(1 ,2,4-triazol-l-yl)pentan-3-ol, rumus
ClsH20CIN30, rumus pada 9 (Fletcher et al. 2001). Mekanisme kerja retardan pada tanaman kentang adalah menurunkan pertumbuhan vegetatif dengan menurunkan pertnintaan fotosintesis atau sedikit menggunakan karbohidrat untuk pertumbuhan dan pati pertumbuhan umbi (Chang et al. 2008). Ewing (1995) menyatakan bahwa pengumbian pengaruh langsung dari pertumbuhan yang terhenti. Pertumbuhan umbi ditunjukkan rendahnya kandungan GA di ujung stolon.
01-1
Cl
Gambar 9 Rumus bangun paklobutrazol
Paklobutrazol diaplikasikan disemprot melalui daun atau ,...,...,u.., ...
dengan tanah (Wattimena 1988). Paklobutrazol oleh tanaman melalui daun, batangatau akar, kemudian diangkut xylem secara akropetal bagian tanaman lain. Paklobutrazol berdifusi secara tanaman beberapa menit setelah penyemprotan . bertahan dan
."'L\...."'. et at. 2001).
Paklobutrazol mempunyai spektrum luas efektif untuk mengendalikan 'pertumbuhan berbagai tanaman. Paklobutrazol menurunkan pertumbuhan . tanaman diikuti peningkatan kekerasan batang tanaman akibat perpanjangan ruas, jumlah sel, dan panjang xylem serta sel korteks yang memendek. tanaman diaplikasikan PBZ lebih tetapi lebih tebal lebih banyak kutikula dan kloroplas serta
wama lebih sehingga per area meningkat
(Fletcher et al. 2001; 2007). Sumiati (2000), penurunan Itlas akibat retardan memperbaiki tanaman, sehingga
menaungi, persaingan antar daun rendah, dan radiasi matahari dalam kanopi daun lebih baik. Akar tanaman yang diaplikasikan menjadi tebal dan pendek, diameter akar serta rasio bobot kering umbi bobot tajuk 60% (Ami en 2007). Balamani dan Poovaiah (1 menyatakan bahwa
meningkatkan mobilisasi asimilat dan zat makanan umbi. (2007) menambahkan bahwa penggunaan PBZ menghambat penuaan tanaman.
Penggunaan retardan dapat menimbulkan efek seperti bentuk umbi beraturan, sehingga diperhatikan penggunaan konsentrasi dan waktu Menurut Fletcher et al. (2001), efektif konsentrasi rendah, A"1£i56'" tidak fitotoksik. Wattimena (1995) melaporkan bahwa 10
merupakan konsentrasi terbaik untuk produksi umbi mikro kentang.
L·j
mini pada media Hutabarat (1994) melaporkan bahwa 30 mg PBZ L-I
merupakan untuk produksi
Sitepu (2007) bahwa aplikasi PBZ meningkatkan karena umbi telah melaporkan bahwa waktu aplikasi PBZ .
inisiasi saat pembentukan
penuh. (2000) melaporkan bahwa meningkatkan jumlah umbi kentang lebih Sembiring dan Simatupang (1996) melaporkan 21, 35, dan 49 meningkatkan diameter dan 42 atau 42, dan 56 HST.
mediakompos. HST terlambat untuk terbentuk. Ganoot (1 tanaman kedelai adalah saat
atau saat pada 35 dan daripada pada 42
Percobaan la.
PRODUKSI UMBI MINI (Solanum tuberosum L.)
PADA AEROPONIK MELALUI PENETAPAN
KONSENTRASI OPTIMUM PUPUK DAUN NITROGEN
(Minituber Production ofPotato (Solanum tuberosJum L.) on Aeropo1'lics System by Determining Optimum Rate ofNitrogen Foliar Fertilizer)
Abstrak
dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman,
sehingga produksi umbi meningkat. stolon umbi pada produksi umbi secara hanya 5-1 sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan produksi mmI melakukan induksi Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi umbi mini dengan berbagai konsentrasi pupuk N. Percobaan dilaksanakan rumah plastik di Lembang, Bandung Barat, Barat mulai 20 10 sampai Juni 2011.· menggunakan acak kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan dan enam ulangan. adalah konsentrasi N yaitu 500, 1000, 2000, N L-1• Pupuk N
adalah dan diaplikasikan MST dengan .
Hasil penelitian bahwa pupuk claun Ca(N03)2 nyata meningkatkan bobot per tanaman 17% dari 72.1 86.8 tetapi tidak meningkatkan j um]ah . yang membentuk umbi. optimum pupuk daun Ca(N03h untuk bobot umbi tanaman pada aeroponikadaJah 2173 mg N C 1•
Kata kunci : induksi, pengumbian, stolon
Abstract
Nitrogen could increase leaf area of plant tuber production. Percentage tuber formation from stolon on minituber production aeroponically is only 10%.
"''''' ....,01'''"''..'''' it can be increased by tuberization The was
'""Vl1U ...''"'''....u to production foliar
fertilizer. was conducted West
Bandung, Java from December 2010 June
was used with one treatment factor nitrogen fertilizer rates 500, 1000, 2000, 4000 mg N in 6 replications. The foliar
Ca(N03h 1 W AT weekly. results showed that foliar fertilizer tuber per plant 17% significantly from 1 to was no increasing tuber formation from on aeroponics yet. optimum rate of of Ca(NOJ)2 for tuber
per plant was 21 N
Pendahuluan
VU,,"U.,...>L umbi dengan cara IJ'-'L.tl".{.J'VU
hara di umbi
secara aeroponik sekitar 1 umbi per tanaman (Muhibuddin et al. 2009)
dibandingkan secara konvensionial sekitar umbi per tanaman et al. 2004; Correa et al. 2008). Produksi umbi mini yang tinggi dengan
2009).
karena . penyerapan hara efisien, umbi berkali-kali, dan stolon tinggi, relatif bebas penyakit, dan tanaman (Ritter et al. 2001; N ugaliyadde et 2005; 2006; 2006; et 2008; Correa et 2009;
Tidak adanya di daerah pad a
primer lebih dad 10 dengan jum1ah
Namun stolon umbi hanya 5-10%
stolon per tanaman. demikian masih terdapat peluang meningkatkan jum]ah stolon yang membentuk umbi berbagai induksi
UAF."-UW,'\.",", jumlah
produksi dengan nitrogen.
pemupukan sistem
sekitar berperan penting dalam sintesis pertumbuhan daun dan produktivitas tanaman (Marchner 1995). (I978) menyatakan bahwa N sepanjang pertumbuhan tanaman, produksi semakin tinggi N, semakin sintesis
menjadi pembentukan dinding
tanaman menjadi roboh hama
penyakit. Peningkatan produksi umbi akibat pemberian hara teIjadi pada tanaman det1gan umur yang panjang (Beukema & Zaag 1990).
Penelitian
responsif
yang tetapi efisiensi penyerapan terhadap % (Bucher & ...V.:...Hl.l«H 2007).
dan klorofil, sehingga· penting Juas
semakin sedikit
Pupuk diberikan produksi benih
sistem konvensional mal:lpun pad a aeroponik, tetapi
bervariasi. Pupuk mengurangi kondisi' stres hara ketika permintaan metabolik m:elebihi kemungkinan akar mentranspor ke atas tanaman sangat
(Collings 1975). et al. (1990) menyatakan bahwa pupuk daun pada akibat kualitas Konsentrasi pupuk daun yang terlalu tinggi menyebabkan daun terbakar, terbuang, at au meracuni tanaman, sedangkan konsentrasi rendah tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Oliveira (1999) melaporkan pemberian N rendah menurunkan daun, jumlah bobot tajuk, bobot umbi, dan jumlah umbi.
kentang tinggi, serta (Beukema &
menyarankan dengan jenis
pemberian N berlebihan pada tanaman dan protein solit
itu Karjadi (1993) tetapi
19
aplikasi 0.5% pupuk urea terhadap stek umbi kentang Granola U1'-'111A16L'""""""-,1 - jumlah umbi per plot kelas A.
Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan untuk produksi umbi kentang pada dengan menggunakan berhagai konsentrasi pupuk daun nitrogen,
Bahan dan Metode Penelitian dilaksanakan di rumah plastik di
pada ketinggian sekitar 1200 In dpl, 107° 36' bujur timur, 6° 49' lintang selatan. Penelitian dilaksanakan dad bulan Desember 10 sampai Juli 2011.
Pereobaan menggunakan raneangan aeak kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan dan enam ulangan. Faktor perlakuan yang diuji adalah konsentrasi pupuk daun nitrogen, yaitu 0, 500., 1000, 2000, dan 4000 mg N atau setara dengan 0; 5.8; 11.7; dan g pereobaan
pada 1).
Penelitian dilakukan dalam rumah plastik dan berdinding Rumah plastik kayu dengan lebar 13 m, pa.'1jang 20 m, dan tinggi 6 m. aeroponik terbuat Icbar 1.0 m, panjang 11.0 m, dan tinggi 0.8 m. Bak aeroponik dilapisi styroform dan ditutup mulsa hitam perak, Drum penampung air berukuran 1000 L dihubungkan bak aeroponik dengan panjang 11 m. Sprinkler yang digunakan berukuran 1.6 mm. Pompa yang digunakan adalah Grpndfoss. Satu unit pereobaan berukuran 1 m x I m \..1\.-11/;::."'11
.36 tanaman. .
Perbanyakan Bibit
. digunakan adalah Sayuran
(Balitsa). Planlet umur satu dibersihkan dipotong sebagian'daun dan Planlet kemudian pada media pembibitan steril dengan jarak tanam 5 em x 5 em. Bibit dilindungi dari cahaya matahari
langsung dengan' .
Perbanyakan bibit dengan penyetekan dilakukan pertama
planlet berumur 3-4 minggu di pembibitan. Bibit siap distek kembaH bila kali -"""""'1<)''''
memiliki 5-7 daun, batang kuat, dan berakar sehat. Setelah stek ketiga berumur 2 bibit dipindah tanam aeroponik.
Produksi Umbi Mini secara Aeroponik
Bibit hasil perbanyakan ditanam dengan jarak tanam 15 em x 15 em pada sistem aeroponik dan kemudian ditutup rockwool untuk menyangga batang Stek dilindungi dengan dad cahaya matahari langsung
. seminggu (Lampiran melalui
sprinkler seeara hantar elektrolit (EC) dan (pH)
larutan hara dipelihara pada nilai ュ。ウゥョァセュ。ウゥョァ@ 1 mS em'l dan UNXセVNPN@ hantar elektrolit disesuaikan dengan penambahan larutan
Pupuk tung gal sumber N yang digunakan adalah Ca(N03)z (spesifikasi pad a Lampiran 3). Waktu aplikasi stand¥ pupuk tunggal N dari 1-4 MST dengan aplikasi seminggu sekali, sedangkan konsentrasi yang diaplikasikan sesuai perlakuan. Pupuk diaplikasikan ke daun secara merata saat sore hari dengan volume semprot 8-60 mL per tanaman sesuai perkembangan tanaman.
Pemeliharaan bibit kentang antara lain adalah pengendalian hama dan penyakit dengan insektisida dan fungisida seminggu sekali, pengecekan suhu udara dengan termometer, pengeeekan sprinkler agar lamtan hara yang disemprotkan berjalan lancar, dan pengeeekan kepekatan larutan hara dengan menggunakan EC dan pH meter (Ezodo 7200). Lima hari sebelum panen, penyemprotan hara melalui sprinkler dihentikan. Panen dilakukan pada 90 HST ketika daun sudah mengering.
Pengamatan dan Analisis Data
Pertumbuhan tanaman mingguan yang diamati adalah tinggi tanaman (em) dan jumlah eabang tan am an (buah) sejak 1 hingga 8 MST sebanyak 5 tanaman sampel. Tanaman diukur dari pangkal batang sampai titik tUrribuh terakhir. Cabang tanaman dihitung sejak eabang terbentuk dan eabang yang telah gugur tidak dihitung lagi.
Pemanenan sebanyak satu tanaman sampel dilakukan pada umur 3, 4, dan 5 MST untuk mengetahui pertumbuhan tanaman. Peubah pengamatan yang diamati adalah bobot tajuk tanaman (g), bobot akar (g), bobot segar tanaman (g), bobot kering tanaman (g), dan luas daun (cm2). Pengamatan hasil panen umbi
terhadap lima tanaman sampel an tara lain berupa jumlah stolon per tanaman (buah), persentase stolbn efektif (%), jumlah inisiasi umbi (buah), jumlah umbi per tanaman (buah) dan persentase jumlah umbi berdasarkan standar bobot umbi, bobot kering tanaman, bobot kering umbi, dan indeks panen.
Luas daun dihitung berdasarkan metode gravimetri dengan rumus bobot kertas replika daun dibagi bobot total kertas dikalikan luas total kertas (Sitompul
& Guritno .1995). Stolon mulai dihitung apabila panjang stolon sudah meneapai 1
cm. Inisiasi umbi terjadi bila ujung stolon mencapai dua kali diameter stolon atau stolon membengkak sekitar 0.5 em (Adisarwanto 1993). Persentase stolon efektif merupakan pembagianjumlah umbi denganjumlah stolon dikalikan 100%. Semua umbi dihitung berdasarkan standar bobot umbi besar (> 10 g), sedang (1-10 g), dan kecil
«1
g). Bobot kering tanaman (g) merupakan gabungan bobot brangkasan, akar, dan umbi yang telah dikeringanginkan selama lima hari. Bobot kering umbi per tanaman.\
dan per petak (g) merupakan bobot umbi yang telah dikeringanginkan selama lima hari per tanaman dan per petak. Indeks panen merupakan pembagian bobot kering umbi dengan bobot kering tanaman dikalikan
100%.
Data dianalisis dengan analisis varian dan bila terdapat beda nyata, dilanjutkan dengim uji polinomial 0110gonal dengan tingkat kepereayaan 95%. Persentase stolon efektif yang berbeda nyata menunjukkan perlakuan mempengaruhi jumlah stolon yang membentuk umbi.
⦅セ⦅MMMMMM c
-21
HasH dan Pembahasan Pertumbuhan Tanaman
Semua peubah pengamatan pada 3 dan 5 MST (Tabel 1 dan 3) tidak berbeda nyata dengan adanya perlakuan konsentrasi pupuk daun N, tetapi perbedaan nyata terjadi pada 4MST (Tabel ini menunjul4:an bahwa perbedaan konsentrasi pupuk daun N hanya berpengaruh 4 MST, saat terjadi pelonjakan pertumbuhan tanaman (Gambar lOa). Tinggi tanaman terus
'"'"'''''''6''''''''' hingga8 MST. Pertumbuhan tanaman terlihat ekponensial antara
4 dan 5 MST. Tanaman mulai menunjukkan pertumbuhan tanaman yang mulai mendatar pada 6 MST. Saat terjadi pelonjakan pertumbuhan tinggi tanaman tanamanmembutuhkan hara N lebih tinggi, selain hara telah disediakan oleh larutan mix. Colling (1975) bahwa saat
kebutuhan pupuk tambahan melalui
Tabel 1 Pengaruh konsentrasi pupuk daun N peubah
kentang pada 3 MST
Konsentrasi Bobot Sobot
pupuk daun tanaman Bobot tajuk daun'
500 9.3 3.4
1000 17.7 9.7 0.47 3.1 3.6 102.3
2000 19.3 10.0 0.48 3.1 0.39
4000 18.5 , 10.0 0.54 2.7 3.3 0.34 89.2
Respon tn tn tn In tn tn
2.6 9.5
tn: nyata
Angka dalam kurung te,lah ditransformasi logaritma
Tabel 2 Pengaruh konsentrasi pupuk daun N terhadap peubah pertumbuhan kentang aeroponik 4 MST
Tinggi Jumlah
1 1.3 7.7 1.04 235.7
1000 23.7 12.7 1.2 7.9 9.2 1.08 248.9
2000 25.0 12.7 1.5 8.9 10.5 1.29 .8
4000 23.7 12.7 1.2 8.0 9.3 1.00
tn tn tn K* K* L*K*
31.6 34.6 31.7 30.3
7.9
Tabel 3 Pengaruh konsentrasi pupuk daun N terhadap peubah pertumbuhan kentang aeroponik pada 5 MST
tajuk (g)
500 41.3 4.6 20.2
1000 41.2 15.3 22.1
2000 42.8 14.6 5.8 20.7
4000 41.7 14.6 3.9 20.0 23.9 2.4 519.6
2.6 2.7
2.9 527.7
tn tn tn tn tn
19.9 15.4 14.8 10.0 15.1
tn:
70.00 25.00
(a) (