• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) Dan Lokasi Terhadap Minat Beli Konsumen Di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) Dan Lokasi Terhadap Minat Beli Konsumen Di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH SUASANA TOKO (STORE ATMOSPHERE) DAN LOKASI TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

DI RAMAYANA DEPARTMENT STORE CABANG BUANA PLAZA MEDAN

OLEH

M IQBAL SIREGAR 110502160

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

i ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH SUASANA TOKO (STORE ATMOSPHERE) DAN

LOKASI TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI RAMAYANA

DEPARTMENT STORE CABANG BUANA PLAZA MEDAN

Persaingan yang sangat ketat dalam bisnis ritel pada saat ini menuntut setiap perusahaan ritel untuk mampu bertahan dan memenangkan persaingan terebut lewat berbagai strategi pemasaran yang tepat, inovasi, serta perubahan-perubahan yang berdampak pada timbulnya rasa puas konsumen diantaranya dengan penciptaan suasana toko (store atmosphere) yang nyaman dan penentuan lokasi perusahaan yang strategis. PT. Ramayana Lestari Sentosa yaitu perusahaan ritel berbentuk department store dengan jaringan ritel terbesar di indonesia. Tingginya persaingan antar perusahaan rirel dalam mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan baru membuat para perusahaan ritel harus mampu membuat para konsumen dan pengunjung tertarik untuk datang dan berlama-lama berada di toko sehingga timbul minat yang kuat untuk berbelanja, dimana hal ini tidak terlepas dari faktor store atmosphere yang nyaman serta lokasi yang aman, strategis, dan mudah untuk dicapai pengunjung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh suasana toko (store atmosphere) dan lokasi terhadap minat beli konsumen di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan, sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Pengumpulan data primer menggunakan kuisioner dan pengumpulan data sekunder menggunakan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan dalam penelitia ini adalah metode analisis regresi linier berganda. Secara simultan store atmosphere dan lokasi secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil pengujian secara parsial atau individu menunjukkan bahwa store atmosphere dan lokasi masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

(3)

ii ABSTRACT

ANALYSIS OF EFFECT OF STORE ATMOSPHERE AND LOCATION TO BUY CONSUMER INTEREST IN THE DEPARTMENT STORE RAMAYANA

PLAZA BRANCH BUANA IN MEDAN

Fierce competition in the retail business today requires every retail companies to survive and win the competition stretcher through proper marketing strategies, innovation, as well as the changes that have an impact on the incidence of such consumer satisfaction with the creation of the atmosphere of the store Comfortable and determining the location of a strategic company. PT. Ramayana Lestari Sentosa is shaped department store retailer with the largest retail network in Indonesia. The high competition between companies rirel to retain customers and attract new customers making the retailer should be able to make the consumers and interested visitors to come and linger in the store so that the resulting strong interest to shop, where it is inseparable from factors store atmosphere convenient and secure location, strategic, and easy to achieve visitors. The purpose of this study was to determine and analyze the influence of the atmosphere store and the location of the consumer purchase interest in Ramayana Department Store Branch Buana Plaza Medan. This research is a descriptive study, the population in this study was the visitors Ramayana Department Store Branch Buana Plaza Medan, the sample was taken by purposive sampling technique with a sample size of 100 respondents. Primary data collection using questionnaires and secondary data collection using literature. Methods of analysis used in this empirically is the method of multiple linear regression analysis. Simultaneously store atmosphere and location together positive and significant impact on consumer buying interest. The test results in partial or individual indicates that the store atmosphere and the location of each positive and significant impact on consumer buying interest.

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan petunjuk dan karunia-Nya bagi penulis serta shalawat berangkai

salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan skripsi yang merupakan kewajiban dan salah satu syarat

dalam memenuhi dan melengkapi Program Studi Strata Satu di Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Sumatera Utara.

Pertama-tama penulis mempersembahkan skripsi ini kepada orang tua

tercinta serta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua

orang tua penulis papa dan mama tersayang, Henry Siregar, SE dan Hafsah Nasution yang telah memberikan cinta, kasih sayang, serta dukungan materi dan non materi, dan do’a yang tiada hentinya kepada penulis, serta segala nasihat yang

menjadi masukan dan penyemangat dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis juga menyadari bahwa semua proses ini tidak akan berjalan lancar

tanpa adanya bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu penulis

mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang

telah membantu dalam penelitian hingga penulisan skripsi ini, kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum,S.E, M.Ec, Ak selaku Dekan Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E, M.E, dan Ibu Dra. Marhayanie M.Si, selaku

Ketua dan Sekertaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan

(5)

iv

3. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E, M.Si, dan Ibu Dra. Friska Sipayung,

M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-1 Manajemen Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara .

4. Ibu Dr. Beby Karina Fawzeea Sembiring, S.E, M.M selaku dosen

pembimbing yang telah begitu banyak memberikan pengarahan, ilmu

pengetahuan, motivasi, masukan dan saran kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Prof. Dr. Paham Ginting, M.S selaku dosen pembaca penilai saya

yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi

ini.

6. Kepada Bapak dan Ibu dosen serta seluruh staf dan pegawai atas segala

jasa-jasanya.

7. Sahabat-sahabat terbaik penulis Rizky Zakaria, M Lizar Angkat, Wirga

Argian, Gaum Dharma, Muktadirsyah Al Ajam, Dian Asnita, Meuthia

Armaya, M Reza Azmi, Wahyu Kurnia Utama. terima kasih buat do’a,

dukungan, bantuan dan persahabatannya selama ini.

8. Kepada kawan-kawan di Departemen Manajemen Stambuk 2011 yang

telah membantu dan memberi banyak dukungan.

Medan, 19 Mei 2015

Penulis,

(6)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

ABSTRACT... .. ii

KATA PENGANTAR... . iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

BAB I PENDAHULUAN ... . 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... . 1

1.2 Perumusan Masalah ... . 8

1.3 Tujuan Penelitian ... . 9

1.4 Manfaat Penelitian ... . 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Pemasaran ... 11

2.2 Retailing ... 11

2.3 Retail Mix ... 14

2.4 Suasana Toko ... 15

2.5 Lokasi ... 32

2.6 Minat Beli ... 34

2.6.1 Motif-Motif Pembelian ... 37

2.6.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli ... 37

2.7 Penelitian Terdahulu ... 40

2.8 Kerangka Konseptual ... 43

2.9 Hipotesis ... 44

BAB III METODE PENELITIAN ... 46

3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan ... 46

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 46

3.3 Objek Penelitian ... 46

3.4 Desain Penelitian ... 46

3.5 Populasi dan Sampel ... 47

3.5.1 Populasi ... 47

3.5.2 Sampel ... 47

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 49

3.6.1 Sumber Data ... 49

3.6.2 Jenis Data ... 50

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 50

3.8 Variabel Penelitian ... 51

3.9 Operasionalisasi Variabel... 52

(7)

vi

3.10.1 Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian ... 54

3.11 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 55

3.11.1 UjiValiditas ... 55

3.11.2 Uji Reliabilitas ... 56

3.12 Teknik Analisis Data ... 57

3.12.1 Metode Analisis Deskriptif ... 57

3.12.2 Metode Analisis Regresi Berganda ... 57

3.12.3 Uji Asumsi Klasik...59

3.13 Pengujian Hipotesis ... 61

3.14 Pengujian Koefisien Determinan (R2)... 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 64

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian...64

4.2 Hasil dan Pembahasan...67

4.2.1 Analisis Deskriptif...67

4.2.2 Analisis Regresi Linier Berganda...76

4.2.3 Uji Asumsi Klasik...77

4.2.4 Pengujian Hipotesis... 83

4.3 Pembahasan...87

4.3.1 Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Minat Beli Konsumen...87

4.3.2 Pengaruh Lokasi Terhadap Minat Beli Konsumen...88

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...90

5.1 Kesimpulan...90

5.2 Saran...91

DAFTAR PUSTAKA...93

(8)

vii

DAFTAR TABEL

NO Judul Halaman

Tabel 1.1 Penghargaan yang pernah diraih Ramayana Department Store ... 4

Tabel 1.2 Gerai Ramayana di Medan ... 5

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu...42

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel...53

Tabel 3.2 Bobot Penilaian Jumlah Kuisioner ... 55

Tabel 3.3 Uji Validitas...56

Tabel 3.4 Uji Reliabilitas...58

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin...68

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur...68

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi/Pekerjaan...69

Tabel 4.4 Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Store Atmosphere....70

Tabel 4.5 Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Lokasi...72

Tabel 4.6 Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Minat Beli...74

Tabel 4.7 Analisis Regresi Linier Berganda...76

Tabel 4.8 Uji Kolmogrov-Smirnov...80

Tabel 4.9 Uji Multikolinieritas...82

Tabel 4.10 Uji Simultan (Uji-F)...84

Tabel 4.11 Uji Parsial (Uji-T)...85

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

NO Judul Halaman

Gambar 1.1 Grafik Perkembangan Omset Ritel Modern, 2004-2008 ... 2

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 45

Gambar 4.1 Histogram...78

Gambar 4.2 Pengujian Normalitas P-Plot...79

(10)

i ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH SUASANA TOKO (STORE ATMOSPHERE) DAN

LOKASI TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI RAMAYANA

DEPARTMENT STORE CABANG BUANA PLAZA MEDAN

Persaingan yang sangat ketat dalam bisnis ritel pada saat ini menuntut setiap perusahaan ritel untuk mampu bertahan dan memenangkan persaingan terebut lewat berbagai strategi pemasaran yang tepat, inovasi, serta perubahan-perubahan yang berdampak pada timbulnya rasa puas konsumen diantaranya dengan penciptaan suasana toko (store atmosphere) yang nyaman dan penentuan lokasi perusahaan yang strategis. PT. Ramayana Lestari Sentosa yaitu perusahaan ritel berbentuk department store dengan jaringan ritel terbesar di indonesia. Tingginya persaingan antar perusahaan rirel dalam mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan baru membuat para perusahaan ritel harus mampu membuat para konsumen dan pengunjung tertarik untuk datang dan berlama-lama berada di toko sehingga timbul minat yang kuat untuk berbelanja, dimana hal ini tidak terlepas dari faktor store atmosphere yang nyaman serta lokasi yang aman, strategis, dan mudah untuk dicapai pengunjung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh suasana toko (store atmosphere) dan lokasi terhadap minat beli konsumen di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan, sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Pengumpulan data primer menggunakan kuisioner dan pengumpulan data sekunder menggunakan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan dalam penelitia ini adalah metode analisis regresi linier berganda. Secara simultan store atmosphere dan lokasi secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil pengujian secara parsial atau individu menunjukkan bahwa store atmosphere dan lokasi masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

(11)

ii ABSTRACT

ANALYSIS OF EFFECT OF STORE ATMOSPHERE AND LOCATION TO BUY CONSUMER INTEREST IN THE DEPARTMENT STORE RAMAYANA

PLAZA BRANCH BUANA IN MEDAN

Fierce competition in the retail business today requires every retail companies to survive and win the competition stretcher through proper marketing strategies, innovation, as well as the changes that have an impact on the incidence of such consumer satisfaction with the creation of the atmosphere of the store Comfortable and determining the location of a strategic company. PT. Ramayana Lestari Sentosa is shaped department store retailer with the largest retail network in Indonesia. The high competition between companies rirel to retain customers and attract new customers making the retailer should be able to make the consumers and interested visitors to come and linger in the store so that the resulting strong interest to shop, where it is inseparable from factors store atmosphere convenient and secure location, strategic, and easy to achieve visitors. The purpose of this study was to determine and analyze the influence of the atmosphere store and the location of the consumer purchase interest in Ramayana Department Store Branch Buana Plaza Medan. This research is a descriptive study, the population in this study was the visitors Ramayana Department Store Branch Buana Plaza Medan, the sample was taken by purposive sampling technique with a sample size of 100 respondents. Primary data collection using questionnaires and secondary data collection using literature. Methods of analysis used in this empirically is the method of multiple linear regression analysis. Simultaneously store atmosphere and location together positive and significant impact on consumer buying interest. The test results in partial or individual indicates that the store atmosphere and the location of each positive and significant impact on consumer buying interest.

(12)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada masa era globalisasi seperti sekarang ini dan menjelang Pasar Bebas

Asean (MEA), kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknonologi (IPTEK) dapat

memberikan dampak dan pengaruh yang sangat berarti untuk perkembangan

perekonomian di Indonesia dalam sektor usaha pada umumnya maupun pada

perusahaan-perusahaan bisnis pada khususnya. Sejalan dengan hal tersebut

banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak pada bidang perdagangan

eceran (retailing) yang diantaranya seperti toko, distibution outlet (distro), mini

market, department store (toko serba ada), pasar swalayan (supermarket), dan

sebagainya.

Agar perusahaan dapat mengimbangi atau bahkan memenangkan

persaingan tersebut, mereka selalu memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang

ada dan berusaha untuk menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam

upayanya untuk menguasai pasar. Perusahaan-perusahaan yang unggul adalah

mereka yang dengan cerdas dapat mengatasi berbagai dinamika yang terjadi di

dalam lingkungan internal dan eksternal bisnisnya, kemudian mampu

menciptakan perubahan yang berdampak pada timbulnya rasa puas konsumen.

Dinamika dalam dunia usaha yang semakin menantang sekarang ini dan ke

depannya membuat para perusahaan harus dapat menjawab tantangan pasar dan

(13)

2 yang akan datang. Penguasaan terhadap pasar merupakan salah satu dari

kegiatan-kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk

mempertahankan kelangsungan hidup usahanya, berkembang, dan mendapatkan

laba semaksimal mungkin.

Menrut Handoyo (dalam digg.com/business_finance:2009) Kegiatan yang

dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa, atau keduanya

kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Berikut

perkembangan omset ritel modern 2004-2008 (Rp Triliun):

Gambar 1.1 Grafik Perkembangan Omset Ritel Modern, 2004-2008 (Rp Triliun) Sumber: AC Nielsen, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Media Data

Ket : - Pasar Modern (stand alone maupun yang berokasi di trade center atau di mall) - Department Store (stand alone maupun yang berlokasi di trade center atau di mall) - Specialty Store (stand alone maupun yang berlokasi di trade center atau di mall) - Lainnya (factory outlet , butik, yang bukan berlokasi di Department Store)

Dari grafik tersebut terlihat bahwa pasar modern di Indonesia terus

tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun, begitu juga dengan Department

(14)

3 bertambah banyak Departement Store yang berdiri di mall-mall ataupun trade

center yang ada di Indonesia.

Para pengusaha saat ini secara agresif melakukan ekspansi untuk

memperluas wilayah usahanya, terutama dalam bidang ritel. Kegiatan yang

dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa, atau keduanya

kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Salah satu

ritel yang ada di Indonesia dan telah lama berdiri di Indonesia adalah PT.

Ramayana Lestari Sentosa yaitu perusahaan ritel bebentuk department store. PT.

Ramayana Lestari Sentosa yang memiliki bidang usaha retail modren memiliki 99

cabang Ramayana Department Store yang tersebar di seluruh Indonesia dari

Indonesia bagian barat sampai Indonesia bagian timur (dikutip dari

Ramayana.co.id).

Ramayana terus melakukan berbagai inovasi menarik lainnya dengan

mengembangkan konsep belanja satu atap pusat perbelanjaan. Dengan konsep ini,

Ramayana semakin tumbuh dengan jaringan ritel yang terbesar di Indonesia.

Hingga saat ini jaringan ritel Ramayana telah tersebar di lebih dari 42 kota besar

yang ada di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan Ramayana telah

membuka jaringan toko di Papua pada tahun 2010 (dikutip dari Merdeka.com).

Seiring dengan terus tumbuh dan berkembangnya Ramayana Department

Store, mereka juga telah membuktikan bahwa pelayanan dan atmosfer toko yang

diberikan cukup memuaskan konsumennya dalam berbelanja di Ramayana, hal ini

(15)

4 Department Store. Beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh Ramayana

Department Store akan disajikan pada Tabel 1.1:

Tabel 1.1

Penghargaan yang pernah diraih Ramayana Department Store

NO Nama Penghargaan Tahun

1 Best Investor Relation Ist Place Indonesia Buy-side view dalam Asia Equities Investor Relations

2005

2 Asia's Best Companies oleh FinanceAsia 2012

3 The Best of Medan Service Excellence Champion kategori Supermarket dalam MSEA (Medan Service Excellence Award)

2011

4 Superbrands 2010-2011

Sumber: Merdeka.com (2013)

Kota Medan dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi yaitu

sebesar 7,41 % pada tahun 2013 (dikutip dari TRIBUN-MEDAN.com) semakin memberikan gambaran bahwasanya persaingan bisnis khususnya di kota Medan

cukup ketat. salah satu ritel yang ada di kota Medan adalah Ramayana

Department Store Cabang Buana Plaza. Department Store (Toko Serba Ada)

disini adalah toko yang menjual produk dari berbagai produsen pakaian jadi dan

kebutuhan rumah tangga dan menjualnya langsung kepada konsumen tingkat

akhir. Agar berhasil dalam memenangkan persaingan, perusahaan ritel Ramayana

harus dapat menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain

perusahaan harus dapat menarik minat beli konsumen agar konsumen tersebut

menjadi pelanggan yang loyal berbelanja di Ramayana Department Store Cabang

Buana Plaza tersebut. Terdapat tiga gerai Ramayana Department Store di kota

(16)

5 Tabel 1.2

Gerai Ramayana di Medan

NO NAMA ALAMAT KOTA

1 Ramayana Buana Plaza Jalan Aksara No 2 Medan

2 Ramayana Teladan Jalan SM Raja Medan

3 Ramayana Peringgan Jalan Iskandar Muda Medan

Sumber: Data yang dihimpun (2015)

Suasana toko sebagai salah satu sarana komunikasi yang dapat berakibat

positif dan menguntungkan dibuat semenarik mungkin. Lebih lanjut, suasana toko

dapat mempengaruhi emosi pembelanja, dimana emosi tersebut dapat berupa

emosi positif atau emosi negatif. Penciptaan suasana yang menyenangkan,

menarik, serta bisa membuat konsumen merasa nyaman ketika berada di dalam

toko merupakan salah satu cara agar bisa menarik konsumen untuk melakukan

tindakan pembelian (Levy dan Weitz dalam Achmad, 2010). Belanja merupakan

kegiatan menyenangkan bagi sebagian orang, karena belanja bukan hanya sebagai

aktivitas rutin untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, tetapi

seringkali kegiatan belanja menjadi sarana rekreasi dan hiburan (Achmad,

2010:3). Berman and Evan (2007:604) membagi elemen-elemen store atmosphere

ke dalam empat elemen, yaitu Exterior, General Interior, Store Layout dan

Interior Display.

Bagi seorang konsumen, suasana yang aman dan nyaman menjadi bahan

pertimbangan sendiri sebelum memutuskan untuk datang atau mengunjungi toko

tertentu. Ramayana Buana Plaza sendirimenyediakan berbagai sarana untuk

membuat konsumen merasa aman dan nyaman seperti tempat parkir yang

disediakan aman, dilengkapi dengan karcis parkir, penitipan helem, di dalam

gedung tersedia AC yang memadai, eskalator serta lift yang akan membuat

(17)

6 Chen dan Hsieh (2010) mengatakan identitas sebuah toko dapat

dikomunikasikan terhadap konsumen melalui dekorasi toko atau secara lebih luas

dari atmosfernya. Mowen dan Minor (2002:238) mengatakan bahwa store

atmosphere merupakan unsur senjata yang dimiliki toko. Setiap toko memiliki tata

letak fisik yang memudahkan atau menyulitkan pembeli untuk berputar-putar

didalamnya. Pendapat ini sesuai dengan konsep belanja yang dikembangkan oleh

Ramayana sebagaimana telah disebutkan sebelumnya yaitu konsep belanja satu

atap pusat perbelanjaan sehingga konsumen dapat dengan mudah mencari barang

belanjaan yang ingin dibeli.

Penampilan toko memposisikan toko dalam benak konsumen, jika

konsumen tekesan akan penampilan toko yang indah, bersih, sejuk dan nyaman

maka akan dengan mudah terekam di benak konsumen dan juga sebaliknya.

Ramayana Department Store cabang Buana Plaza sangat menjaga hal tersebut

terbukti dengan kerapian di dalam toko selalu terjaga, pencahayaan di dalamnya

cukup terang, begitu juga dengan kebersihan lantainya dan temperature udara

yang sejuk.

Selain store atmosphere yangbaik faktor lain yang juga akan berpengaruh

pada minat konsumen untuk berkunjung dan membeli pada suatu toko adalah

lokasinya. Lokasi yang strategis akan semakin mendukung suksesnya suatu bisnis.

Menurut Tjiptono (2006:93) pemilihan lokasi memerlukan pertimbangan yang

cermat terhadap beberapa diantaranya yaitu akses adalah kemudahan untuk

menjangkau, visibilitas adalah kemudahan untuk dilihat, lalu lintas, tempat parkir

(18)

7 Dilihat dan ditinjau dari segi lokasi Ramayana Department Store Cabang

Buana Plaza terbilang strategis. Kemudahan akses untuk bisa sampai di

Ramayana Buana Plaza dari berbagai sudut kota Medan terutama lewat sarana

angkutan umum. Dimana kendaraan umum sangat banyak yang melewati lokasi

Ramayana tersebut. Hal ini dikarenakan letak Ramayana cabang Buana Plaza

yang terletak di jalan Aksara yang merupakan salah satu jalan protokol di kota

Medan yang banyak dilalui angkutan umum beberapa di antaranya : PT. Mars

nomor 60, Rute: Aksara- Hayam Wuruk- Pd. Bulan- Pasar I, PT. Rahayu Medan Ceria nomor 105, Rute Terminal Amplas – Marelan – Pancing – Aksara – Komplek

Uka Terjun – PP, RMC nomor 57, dan sebagainya (dikutip dari

kabarmedan.com).

Lokasi Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza yang strategis

juga dikarenakan bagian depan tokonya langsung berhadapan dengan Jalan

Aksara kota Medan dan bagian Samping sebelah kiri menghadap ke Jalan Prof

H.M Yamin kota Medan, serta bersebelahan dengan pasar Aksara kota Medan

yang merupakan pasar tradisionaldimana frekuensi orang dan kendaraan yang

melewati lokasi Ramayana ini setiap harinya sangat tinggi sehingga dari sisi

visibilitas dan lokasi Ramayana cabang Buana Plaza terbilang strategis.

Pada akhirnya store atmosphere dan lokasi tersebut dirancang

sedemikianrupa untuk dapat menarik minat beli konsumen. Hal yang harus

diperhatikan dalam menarik minat beli konsumen yakni penjual harus sanggup

menjual kesan yang baik serta lokasi yang nyaman sebelum menjual barangnya,

(19)

8 Sutisna (2001:64) bahwa suasana toko (store atmosphere) juga akan menentukan

citra toko itu sendiri.

Jika toko dilengkapi dengan pengaturan ruangan yang nyaman, penyejuk

udara, dan artistik penggunaan warna cat dinding yang sejuk, semuanya

menunjukkan adanya suasana toko yang berkelas. Dengan demikian Suasana

Toko (Store Atmosphere) dan lokasi yang tepat dapat menjadi sarana komunikasi

yang positif, menguntungkan dan memperbesar peluang untuk mempengaruhi

keputusan pembelian konsumen.

Atas dasar penjabaran pemikiran diataslah, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) dan Lokasi Terhadap Minat Beli Konsumen Di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat

dirumuskan permasalahan penelitian adalah:

1. Apakah Store Atmosphere berpengaruh terhadap minat beli konsumen di

Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan?

2. Apakah Lokasi berpengaruh terhadap minat beli konsumen di Ramayana

Department Store Cabang Buana Plaza Medan?

3. Apakah Store Atmosphere dan Lokasi secara bersama-sama berpengaruh

terhadap minat beli konsumen di Ramayana Department Store Cabang Buana

(20)

9 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian

adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Store Atmosphere terhadap

minat beli kosumen di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza

Medan.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh lokasi terhadap minat beli

konsumen di Ramayana Department Store Cabang Buana Plaza Medan.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis secara bersama-sama pengaruh Store

Atmosphere dan Lokasi terhadap minat beli konsumen di Ramayana

Department Store Cabang Buana Plaza Medan.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi Perusahaan

Diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas implementasi strategi Store

Atmosphere dan lokasi yang mereka miliki untuk dapat mempertahankan

konsumen mereka dalam persaingan yang ada, dimana diharapkan hasil

penelitian ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah yaitu masalah

praktis dalam perusahaan yang ada hubungannya dengan penelitian yang

akan digunakan.

2. Bagi Akademis

Sebagai masukan bagi pihak lain yang ingin melakukan penelitian lebih

(21)

10 wawasan pengetahuan bagi yang membacanya terutama mengenai masalah

Store Atmosphere, lokasi dan minat beli konsumen dan juga penulisan

hasil penelitian ini diharapkan dijadikan sebagai informasi tambahan atau

refrensi

3. Bagi Penulis

Diharapkan dapat menambah atau memperkaya wawasan dan ilmu

pengetahuan dalam penerapan ilmu manajemen pemasaran, dan untuk

belajar mengenai cara-cara penerapan yang penulis peroleh selama

mengikuti perkuliahan dan kenyataan yang dihadapi di lapangan serta

pengetahuan penulis mengenai Store Atmosphere dan lokasi sebagai

(22)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran

Pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan di mana individu dan

kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan

menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa

yang bernilai dengan orang lain (Kotler, 2008: 5). Inti dari pemasaran adalah

mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi

yang baik dan singkat dari pemasaran adalah “memenuhi kebutuhan dengan cara

yang menguntungkan”.

Manajemen Pemasaran terjadi bilamana setidak-tidaknya salah satu pihak

dalam pertukaran potensial mempertimbangkan sasaran dan sarana untuk

memperoleh tanggapan yang diinginkan dari pihak lain. Defenisi manajemen

pemasaran yang disahkan pada tahun 1985 oleh Asosiasi pemasaran Amerika

(American Marketing Association) dalam Kotler (1996) adalah proses

perencanaan dan konsepsi harga, promosi dan distribusi gagasan, barang dan jasa

untuk menghasilkan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran perorangan dan

organisasi.

2.2 Retailing

Menurut Kotler (2006:77) Pengeceran (retailing) adalah semua kegiatan

(23)

12 akhir untuk penggunaan pribadi, nonbisnis konsumen. Menurut Utami (dalam

Probowati 2011:71-72), fungsi-fungsi retailing adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan berbagai produk dan jasa, Peritel berusaha menyediakan

beraneka ragam produk dan jasa yang dibutuhkan konsumen.

2. Memecah, Peritel memecah beberapa ukuran produk menjadi lebih kecil

yang disesuaikan dengan pola konsumsi para konsumen secara individual

dan rumah tangga, yang akhirnya menguntungkan produsen dan

konsumen.

3. Penyimpan persediaan, Fungsi utama ritel adalah mempertahankan

persediaan yang sudah ada, sehingga produk akan selalu tersedia saat

konsumen menginginkannya.

4. Penyedia jasa, Konsumen mendapat kemudahan dalam mengkonsumsi

produk-produk yang dihasilkan produsen melalui ritel dengan mengantar

produk hingga dekat konsumen, menyediakan jasa yang memudahkan

konsumen dalam membeli dan menggunakan produk, maupun

menawarkan kredit, Ritel juga memajang produk sehingga konsumen bisa

melihat dan memilih produk yang akan dibeli.

5. Meningkatkan nilai produk dan jasa, Dengan adanya beberapa jenis barang

dan jasa, maka untuk suatu aktifitas pelanggan mungkin memerlukan

beberapa barang. Pelanggan membutuhkan ritel karena tidak semua barang

dijual dalam keadaam lengkap.

Usaha eceran (retailing) dapat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori.

(24)

13 Pengecer toko (store retailing), Penjual eceran tanpa toko (non store retailing),

dan Organisasi eceran (retail organizational). Jenis-jenis toko pengecer menurut

Kotler (2006:216) sebagai berikut:

1. Toko Khusus (Speciality Store)

Menjual lini produk yang sempit dengan ragam yang banyak dengan lini

tersebut, seperti toko pakaian, toko buku, dan lain sebagainya.

2. Toko Serba Ada (Department Store)

Menjual berbagai lini produk, biasanya pakaian, perlengkapan rumah, dan

berbagai barang kebutuhan rumah tangga dan lini beroprasi sebagai satu

departemen tersendiri yang dikelola oleh pembeli atau pedagang khusus.

3. Pasar Swalayan (Supermarket)

Operasi yang relatif besar, biaya rendah, margin rendah tapi dengan

volume tinggi. Supermarket dirancang untuk memenuhi semua kebutuhan

konsumen.

4. Toko Kelontong (Convenience Store)

Merupakan toko yang relatif kecil dan terletak di daerah pemukiman dan

menjual lini produk convenience yang terbatas dengan tingkat perputaran

yang tinggi.

5. Toko Diskon (Discount Store)

Menjual barang-barang standar dengan harga yang lebih murah karena

mengambil margi yang lebih rendah dan menjual dengan volume yang

lebih tinggi.

(25)

14 7. Membeli dengan harga yang lebih rendah daripada harga grosir dan

menetapkan harga path konsumen lebih rendah dan pada eceran.

8. Ruang Pamer Retailing (Catalog Showrooms)

Memberi banyak pilihan produk yang bermerek, mark up tinggi,

perputaran cepat dengan harga diskon. Pelanggan memesan barang dengan

katalog di ruang pamer, lalu mengambil barang tersebut di suatu area

pengambilan barang di toko.

2.3 Retail Mix

Menurut Kotler dan Amstrong (2004:442) keputusan pemasaran pedagang

ritel terdiri dari keputusan pasar sasaran, keputusan ragam produk dan perolehan,

keputusan pelayanan dan suasana toko, keputusan harga, keputusan promosi, dan

keputusan tempat.

Retailing adalah suatu rangkaian aktifitas bisnis dalam rangka untuk

memasarkan barang dan jasa untuk menambah nilai guna barang dan jasa yang

dijual kepada konsumen untuk keperluan pribadi atau rumah tangga (Karmela dan

Junaedi 2009).

Bauran penjualan eceran adalah semua variabel yang dapat digunakan

sebagai strategi pemasaran untuk berkompetisi pada pasar yang dipilih. Bisnis

ritel adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa pada perorangan untuk

keperluan sendiri, keluarga dan rumah tangga (Ma’ruf, 2006:7). Klasifikasi bisnis

(26)

15

store, factory outlet, distro dan distribution outlet, supermarket, department store,

dan hypermarket (Ma’ruf, 2006:74).

2.4 Suasana Toko (Store Atmosphere)

Levy and Weitz (2001:576) mengemukakan bahwa suasana toko

merupakan penciptaan suasana toko melalui visual, penataan, cahaya, musik dan

aroma yang dapat menciptakan lingkungan pembelian yang nyaman sehingga

dapat mempengaruhi persepsi dan emosi konsumen untuk melakukan pembelian.

Atmosfir toko merupakan suatu bagian dari suasana dan tata letak suatu

toko yang sangat penting dalam menarik konsumen untuk menjadi konsumen

(Gillani, 2012).

Beberapa faktor yang berpengaruh dalam menciptakan suasana toko menurut

Lamb, Hair dan McDaniel (2001:108), yaitu:

1. Jenis karyawan, karakteristik umum karyawan, sebagai contoh; rapi,

ramah, berwawasan luas, atau berorientasi pada pelayanan.

2. Jenis barang dagangan dan kepadatan, Jenis barang dagangan yang dijual

bagaimana barang tersebut dipajang menentukan suasana yang ingin

diciptakan oleh pengecer.

3. Jenis perlengkapan tetap (fixute) dan kepadatan, Perlengkapan tetap bias

elegan (terbuat dari kayu jati), trendi (dari logam dan kaca tidak tembus

pandang). Perlengkapan tetap harus konsisten dengan suasana umum yang

(27)

16 dengan meja dan rak, memungkinkan pelanggan lebih mudah melihat dan

menyentuh barang dagangan dengan mudah.

4. Bunyi suara, Bunyi suara bias menyenangkan atau menjengkelkan bagi

seorang pelanggan. Musik juga bias membuat konsumen tinggal lebih

lama di toko. Musik dapat mengontrol lalu lintas di toko, menciptakan

suasana citra, dan menarik atau mengarahkan perhatian pembelinya.

5. Aroma, Bau bisa merangsang maupun mengganggu penjualan. Penelitian

menyatakan bahwa orang-orang menilai barang dagangan secara lebih

positif, menghabiskan waktu yang lebih untuk berbelanja, dan umumnya

bersuasana hati lebih baik bila ada aroma yang dapat disetujui. Para

pengecer menggunakan wangi antara lain sebagai perluasan dan strategi

eceran.

6. Faktor Visual, Warna dapat menciptakan suasana hati atau memfokuskan

perhatian, warna merah, kuning, atau oranges dianggap sebagai warna

yang hangat dan kedekatan yang diinginkan. Warna-warna yang

menyejukkan seperti biru, hijau, dan violet digunakan untuk membuka

tempat yang tertutup, dan menciptakan suasana yang elegan dan bersih.

Pencahayaan juga dapat mempunyai pengaruh penting bagi suasana toko.

Konsumen takut untuk berbelanja pada malam hari di daerah tertentu dan

lebih merasa senang bila tempat itu memiliki pencahayaan yang kuat

untuk alasan keselamatan. Tampak luar suatu toko juga mempunyai

pengaruh pada suasana yang diinginkan dan hendaknya tidak menerbitkan

(28)

17

Store atmosphere mempunyai tujuan tertentu. Menurut Lamb, Hair dan

McDaniel (2001:105-109), dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penampilan eceran toko membantu menentukan citra toko, dan

memposisikan eceran toko dalam benak konsumen.

2. Tata letak yang efektif tidak hanya akan menjamin kenyamanan dan

kemudahan melainkan juga mempunyai pengaruh yang besar pada

pola lalu lintas pelanggan dan perilaku belanja.

Berman dan Evans (2001:604), mengemukakan bahwa Store atmosphere

terdiri dari empat elemen sebagai berikut:

1. Exterior (Bagian Luar)

Karakteristik eksterior mempunyai pengaruh yang kuat pada citra

toko tersebut, sehingga harus direncanakan sebaik mungkin, kombinasi

dari eksterior ini dapat membuat bagian luar toko menjadi lebih unik,

menarik, menonjol, dan mengundang orang untuk masuk ke dalam

toko. Elemen untuk eksterior ini terdiri dari sub elemen-elemen

sebagai berikut:

a. Store Front (Tampak Muka)

Bagian depan toko meliputi kombinasi dari marquee pintu masuk,

jendela, pencahayaan, dan konstruksi gedung. Store Front harus

mencerminkan keunikan, kematangan, atau hal-hal lain yang sesuai

(29)

18 warna terlebih dahulu sehingga eksterior merupakan faktor penting untuk

mempengaruhi konsumen untuk mengumjungi toko. Ada banyak alternatif

bagi retailer untuk dipertimbangkan sebagai dasar perencanaan. Store

Front diantaranya:

1. Modular Structure, struktur bangunan yang berbentuk persegi.

Atau lingkaran yang menghubungkan beberapa toko

2. Prefabricated Structure, kerangka bangunan telah dibuat

sebelumnya di sebelah pabrik dan kemudian di rakit kembali di

lokasi toko berada

3. Prototype Store; digunakan oleh franchisor dan toko jaringan

sehingga bagian store front dibangun seragam

4. Unique Building Design; store front mempunyai desain rancangan

yang unik daripada yang lain

Store Front dapat ditambahkan dengan pepohonan, air mancur, dan

kursi-kursi yang ditempatkan di sekitar toko. Hal ini dapat

menciptakan lingkungan yang santai di sekitar toko.

b. Marquee

Marquee adalah suatu tanda yang digunakan untuk memajang

nama atau logo suatu toko. Marquee dapat dibuat dengan teknik

pewarnaan, penulisan huruf, atau penggunaan lampu neon. Marquee dapat

(30)

19 informasi lainnya. Supaya efektif Marquee harus diletakkan di luar,

terlihat berbeda dan lebih menarik atau mencolok daripada toko lain.

c. Entrances (Pintu Masuk)

Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin sehingga dapat

mengundang konsumen untuk masuk dan melihat ke dalam toko. Serta

harus dapat mengurangi lalu lintas kemacetan keluar masuk konsumen.

Pintu masuk mempunyai tiga masalah utama yang harus diputuskan yaitu:

1. Jumlah pintu masuk disesuaikan dengan besar kecilnya bangunan.

Salah satu faktor yang membatasi jumlah pintu masuk adalah

masalah keamanan.

2. Jenis pintu masuk yang akan digunakan. Apakah akan

menggunakan pintu otomatis atau tank dorong.

3. Lebar pintu masuk, pintu masuk yang lebar akan menciptakan

suasana dan kesan yang berbeda dibandingkan dengan pintu masuk

yang sempit, kecil dan berdesak-desakan. Lebar pintu masuk

ditujukan untuk mengindari masalah kemacetan lalu lintas orang

yang keluar masuk toko.

d. Display Window (Jendela Panjang / Etalase)

Mempunyai dua tujuan, yaitu pertama adalah untuk

mengidentifikasi suatu toko dengan memajang barang-barang yang

ditawarkan, misalnya toko sepatu. Tujuan kedua adalah menarik

(31)

20 dipertimbangkan mengelola ukuran jendela. Jumlah barang yang akan

dipajang karena bentuk, tema dan frekuensi penggantiannya.

e. High and Size of Building (Tinggi dan Luas Bangunan)

Dapat mempengaruhi kesan tertentu terhadap toko tersebut,

misalnya tingginya. Langit-langit toko dapat membuat ruangan

seolah-olah terlihat lebih luas.

f. Visibility (Jarak Pandang)

Orang harus melihat bagian marquee suatu toko dengan jelas. Jika

suatu toko mempunyai jarak yang jauh dan jalan raya, maka toko dapat

membuat billboard yang menarik agar para pengendara yang lewat dengan

cepat dapat melihat toko tersebut.

g. Uniqueness (Keunikan)

Dapat mempengaruhi kesan tertentu terhadap toko tersebut, dan

dapat melalui desain toko yang lain daripada yang lain, seperti marquee

yang mencolok, etalasi yang dekoratif, tinggi dan ukuran gedung yang

berbeda dari sekitarnya.

h. Surrounding Area (Lingkungan Sekitar)

Citra toko dipengaruhi oleh keadaan lingkungan masyarakat di

(32)

21 negatif jika lingkungan sekitar toko mempunyai tingkat kejahatan yang

tinggi yang akan mempengaruhi citra toko itu sendiri.

i. Surrounding Stores (Toko Sekitar)

Toko-toko lain di sekitar toko itu berada juga dapat mempengaruhi

citra suatu toko. Toko tersebut bisa berada di suatu gedung yang sama atau

gedung lain yang berdekatan dengan toko.

j. Parking (Tempat Parkir)

Tempat parkir merupakan hal yang sangat penting bagi konsumen.

Konsumen biasanya bekerja untuk kebutuhan akan fashion, sehingga pada

umumnya mereka selalu membawa kendaraan. Tempat parkir yang luas,

aman, gratis, dan mempunyai jarak yang dekat dengan toko akan

menciptakan atmosphere yang positif bagi toko.

2. General Interior (Interior Umum)

General Interior dari suatu toko harus dirancang untuk

memaksimalkan Visual Merchandising. Seperti yang kita ketahui hal ini

akan dapat menarik pembeli untuk datang ke toko. Namun yang paling

utama yang dapat membuat penjual menarik pembeli setelah berada di

toko adalah display.

Display yang baik yaitu display yang dapat menarik perhatian

pengunjung dan membantu mereka agar mudah mengatasi, memeriksa,

(33)

22 konsumen masuk ke dalam toko ada banyak yang akan mempengaruhi

persepsi mereka pada toko tersebut.

Elemen-elemen dari General Interior terdiri dari:

a. Flooring (Tata Letak Lantai)

Penentuan jenis lantai (kayu, keramik, karpet), ukiran, desain, dan

warna lantai penting karena konsumen dapat mengembangkan persepsi

mereka berdasarkan apa yang mereka lihat.

b. Colors and Lighting (Pewarnaan dan Pencahayaan)

Setiap toko harus mempunyai pencahayaan yang cukup dan

mengarahkan atau menarik perhatian konsumen ke daerah tertentu dari

toko. Konsumen yang bebelanja akan tertarik oleh sesuatu yang paling

terang yang berada dalam pandangan mereka. Tata cahaya yang baik

mempunyai kualitas dan warna yang dapat membuat produk-produk yang

ditawarkan terlihat lebih menarik, dan berbeda bila dibandingkan dengan

keadaan yang sebenarnya.

c. Scent and Sound (Aroma dan Suara)

Tidak semua toko memberikan layanan ini, tetapi jika layanan ini

dilakukan akan memberikan suasana yang lebih santai pada konsumen,

khususnya konsumen yang ingin menikmati suasana yang santai dengan

menghilangkan kejenuhan, kebosanan maupun stress. Sambil berbelanja

(34)

23 lebih sedikit waktu berbelanja. Lain halnya apabila mereka dihadapkan

pada musik yang lembut.

d. Fixtures (Perabot Toko)

Memilih peralatan penunjang dan cara penyusunan barang yang

harus dilakukan dengan baik agar didapat hasil yang sesuai dengan

keinginan. Karena barng-barang tersebut berbeda bentuk, karakter,

maupun harganya, sehingga penempatannya pun berbeda. Dengan bantuan

peralatan penunjang dan cara penyusunan yang berbeda dapat diciptakan

kesan atau image yang berbeda pula.

e. Wall Texture (Tekstur Dinding)

Tekstur dinding dapat menimbulkan kesan tertentu pada konsumen

dan dapat membuat dinding terlihat lebih menarik.

f. Temperature (Suhu Udara)

Pengelola toko harus mengatur suhu udara di dalam ruangan.

Jangan terlalu panas atau dingin. Jika memasang AC mereka harus

mengatur jumlah AC yang dipasang yang mana harus disesuaikan dengan

luas atau ukuran toko. Mereka juga harus mengatur di bagian toko mana

saja AC harus dipasang. Jika tidak memasang AC, maka mereka perlu

(35)

24 g. Widht of Aisles (Lebar Jalan)

Jarak antara rak barang harus diatur sedemikian rupa agar cukup

lebar dan membuat konsumen merasa nyaman dan betah berada di dalam

toko.

h. Dressing Facilities (Kamar Ganti)

Fasilitas kamar ganti dengan warna, desain serta tata cahaya dan

privasi yang baik perlu diperhatikan dan dibuat sedemikian rupa

memberikan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen.

i. Vertical Transportation (Alat Transportasi Vertikal)

Suatu toko yang terdiri dari beberapa tingkat atau lantai, harus

memperhatikan sarana transportasi ini seperti escalaotor, lift, tangga.

Penempatan sarana berpengaruh pada suasana toko yang diinginkan.

j. Dead Areas

Dead Area merupakan ruangan di dalam toko di mana display yang

normal tidak bisa diterapkan karena akan terasa janggal, misalnya pintu

masuk toilet, vertical transportation, dan sudut pandang ruangan.

Pengelola toko harus dapat menempatkan barang-barang pajangan yang

(36)

25 k. Personal (Karyawan)

Karyawan yang sopan, ramah, berpenampilan menarik, dan

memiliki pengetahuan yang cukup mengenai produk yang di jual akan

meningkatkan citra perusahaan dan loyalitas konsumen dalam memilih

toko itu sebagai tempat untuk berbelanja.

l. Merchandise (Barang Dagangan)

Pengelola toko harus memutuskan variasi warna, ukuran, kualitas,

lebar dan variasi pada produk yang akan di jual. Mereka harus memilih

produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen hal ini

sangat penting, karena dengan pemilihan merchandise kesukaan konsumen

yang tepat akan menyebabkan waktu yang dibutuhkan konsumen untuk

berbelanja sedikit.

m. Prices Levels and Display (Tingkat Harga dan Etalase Label)

Label harga dicantumkan pada kemasan pada produk tersebut,

pada rak tempat produk tersebut, dipajang, atau kombinasi dari keduanya.

Pengelola toko harus selalu memastikan agar label itu selalu jelas dan

benar, sehingga memudahkan konsumen untuk mengetahui harga produk

yang ditawarkan.

n. Cash Register (Kasir)

Pengelola toko harus memutuskan dua hal yang berkenaan dengan

(37)

26 konsumen tidak terlalu lama antri atau menunggu untuk melakukan proses

pembayaran. Kedua adalah penentuan lokasi kasir, kasir harus

ditempatkan di lokasi yang strategis dan sedapat mungkin menghindari

kemacetan/antrian antara konsumen yang keluar masuk toko.

o. Technology/modernization;

Pengelola toko harus dapat melayani konsumen secanggih

mungkin. Misalnya dalam proses pembayaran harus dibuat secanggih

mungkin dan cepat baik pembayaran secara tunai atau menggunakan

pembayaran dengan cara lain seperti kartu kredit atau debet, diskon

voucher. Toko dengan gedung yang modern, store front, marquee dan

produk yang baru akan menciptakan atmosphere yang jauh lebih

menguntungkan dari pada fasilitas yang sudah lama atau tua.

p. Cleanliness (Kebersihan)

Kebersihan dapat menjadi pertimbangan utama bagi konsumen

untuk berbelanja di toko. Pengelola toko harus mempunyai rencana yang

baik dalam pemeliharaan kebersihan toko walaupun eksterior dan interior

baik apabila tidak dirawat kebersihannya akan menimbulkan penilaian

yang negatif dari konsumen.

3. Store Layout (Tata Letak)

Pengelola toko harus mempunyai rencana dalam penentuan lokasi

(38)

27

aisles dan fasilitas toko. Pengelola toko juga harus memanfaatkan ruangan

toko yang ada seefektif mungkin. Layout toko yang baik akan mampu

mengundang konsumen untuk betah dan berkeliling lebih lama dan

membelanjakan uangnya lebih banyak. Dalam merancang layout

diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Allocation of floor space of selling, merchandise, personnel, and

customers

Dalam suatu toko, ruangan yang ada harus dialokasikan untuk:

1. Selling Space (Wilayah Penjualan)

Tempat untuk memajang barang dagangan, tempat untuk

berinteraksi antara wiraniaga dengan konsumen, tempat untuk

mendemonstrasikan produk dan sebagainya.

2. Merchandise Space (Tempat Barang Dagangan)

Tempat di mana barang-barang yang tidak dipajang disimpan atau

bisa disebut gudang.

3. Personnel Space (Ruangan untuk Karyawan)

Ruangan yang disediakan untuk meminimalisasi luas ruangan ini

harus diminimalisir karena luas lantai sangat berharga. Oleh sebab itu

(39)

28 juga harus mempertimbangkan moral karyawan sebelum menetapkan luas

ruangan untuk karyawan.

4. Customer Space (Ruangan untuk Konsumen)

Dirancang untuk meningkatkan minat belanja konsumen biasanya

meliputi ruang tunggu, bangku dan kursi, kamar pas, toilet, tempat parkir,

restoran, lift atau elevator, lorong yang lebar dan lain sebagainya.

b) Product Groupings (Pengelompokan Barang)

Barang yang dipajang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1) Functional Product grouping (pengelompokan produk berdasarkan

fungsinya); pengelompokkan barang berdasarkan penggunaan

akhir yang sama

2) Purchase motivation product groupings(pengelompokan produk

berdasarkan motif pembelian); pengelompokan produk dirancang

untuk menarik minat konsumen berbelanja dalam jumlah dan

waktu tertentu yang dimiliki konsumen

3) Market segment product groupings (pengelompokan produk

berdasarkan segmen pasar); pengelompokan atas barang-barang

yang berbeda secara bersama-sama untuk menarik minat dan target

pasar yang telah ditentukan

4) Storability product groupings (pengelompokan produk berdasarkan

kemampuan toko); pengelompokan barang berdasarkan cara

(40)

29 5) Traffic Flow (arus lalu lintas),

a. Straight(gridiron traffic flow) (Arus lalu lintas berbentuk

lurus).

Yaitu barang-barang yang dipajang dan lorong-lorong atau gang

ditempatkan dalam bentuk persegi.

Manfaat dari straight traffic:

1. Penciptaan store atmosphere yang efisien

2. Luas lantai yang dapat digunakan untuk memajang produk lebih

banyak

3. Konsumen dapat berbelanja dengan cepat

4. Pengendalian atas persediaan dan keamanan lebih mudah

5. Kemudahan toko sehingga biaya tenaga kerja dapat ditekan

b. Curving (free-flowing) traffic flow (Arus lalu lintas bebas)

Peraturan ini memungkinkan pelanggan membentuk pola lalu

lintasnya sendiri

c. Space / Merchandise Category

Menentukan kebutuhan akan kebutuhan luas lantai. Setiap

(41)

30 persediaan juga dapat menentukan jumlah luas lantai yang

diperlukan untuk memajang barang dagangan yang dibutuhkan.

d. Departement Location (Lokasi Departemen)

Lokasi tiap departemen harus dipetakan. Untuk toko yang

bertingkat harus dapat diberi tanda ke setiap lantai di mana

letak setiap departemen berada. Produk apa saja yang harus

berada di setiap lantai dan bagaimana tata letak setiap lantai.

Untuk toko dengan satu luas lantai harus menentukan

bagaimana tata letak setiap lantainya.

e. Arrangement within Department (Pengaturan di departemen)

Penyusunan barang dalam departemen berdasarkan ukuran,

harga, warna, kegunaan barang, dan minat konsumen. Merek

barang yang paling banyak memberi keuntungan mempunyai

tempat yang paling banyak dilalui konsumen.

4. Interior (Point-of-purchase) Display

Setiap point-of-purchase display menyediakan informasi kepada

pelanggan untuk mempengaruhi suasana lingkungan toko. Tujuan utama

Interior display ialah untuk meningkatkan penjualan dan laba toko

tersebut.

(42)

31 a. There-setting

Dalam satu musim atau peringatan tertentu retailer dapat

mendesain dekorasi toko tertentu untuk menarik perhatian konsumen.

b. Rack and cases

Rak mempunyai fungsi utama untuk memajang dan meletakkan

barang dagangan secara rapi. Case berfungsi untuk memajang barang yang

lebih berat atau besar dari pada barang di rak.

c. Cut cases and dump bins

Cut case adalah kotak yang digunakan untuk membawa atau

membungkus barang-barang yang berukuran kecil. Dump bins adalah

kotak yang berisi tumpukan barang yang telah diturunkan harganya. Dump

bins dapat menciptakan open assortments dengan penanganan yang tidak

rapi dan seadanya, keuntungan menciptakan kesan harga murah dan dapat

mengurangi biaya display.

d. Posters, signs, and cards

Tanda-tanda yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang

lokasi barang di dalam toko. Iklan yang dapat mendorong konsumen untuk

berbelanja barang adalah iklan promosi barang baru atau diskon khusus

untuk barang tertentu. Tujuan dan tanda-tanda ini sendiri untuk

meningkatkan penjualan barang-barang melalui informasi yang diberikan

(43)

32 biasanya dibuat menarik dengan tampilan tanda-tanda yang sifatnya

komunikatif pada konsumen.

2.5 Lokasi

Bagi setiap bisnis khusunya bisnis ritel, penentuan lokasi sangat penting

dalam menentukan kesuksesan suatu bisnis. Menurut Lupiyoadi (2001:61-62)

mendefinisikan lokasi adalah tempat dimana perusahaan harus bermarkas

melakukan operasi.

Pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam menentukan lokasi

menurut Tjiptono (2005:41-42) meliputi faktor-faktor:

1. Akses, misalnya lokasi yang mudah dilalui atau mudah dijangkau sarana

transportasi umum:

2. Visibilitas, misalnya lokasi dapat dilihat dengan jelas dari tepi jalan;

3. Tempat parkir yang luas dan aman;

4. Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha di

kemudian hari;

5. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung jasa yang ditawarkan

6. Persaingan, yaitu lokasi pesaing;

7. Peraturan pemerintah.

Lamb dan Carl (2001:96), menetapkan komnbinasi enam variabel

sebagai bauran ritel / pengecer, yaitu salah satunya adalah lokasi yang

baik. Dalam pemilihan lokasi, pengecer perlu mempertimbangkan faktor

(44)

33 luas, bebas parkir atau biaya rendah), lokasi masuk / keluar, arus lalu

lintas, keselamatan dan keamanan lokasi serta lokasi pesaing.

Keputusan lainnya adalah apakah memilih lokasi pada suatu pusat

perbelanjaan (mall), pusat perbelanjaan komunitas / toko uang berdiri

sendiri (freestanding stores) dan mempertimbangkan fasilitas penunjamg

atau fasilitas umum yang ada di sekitar lokasi.

Menurut Kotler dan Armstrong (2002:603), para pengecer biasanya

mengatakan bahwa tiga kunci keberhasilan adalah lokasi, lokasi,

lokasi.Menurut Syahrizal (dalam Nandi 2011:40-41), secara umum

faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi perusahaan

adalah sebagai berikut:

a. Lingkungan Masyarakat

Kesediaan masyarakat suatu daerah menerima segala konsekuensinya,

baik konsekuensi positif didirikannya lokasi di daerah tersebut merupakan

suatu syarat penting. Perusahaan memperhatikan nilai-nilai lingkungan

dan ekologi dimana perusahaan akan berlokasi. Di lain pihak masyarakat

membutuhkan perusahaan karena menyediakan berbagai lapangan

pekerjaan yang dibawa industri ke masyarakat.

b. Kedekatan dengan pasar

Dekat dengan pasar akan membuat perusahaan dapat memberikan

(45)

34 biaya distribusi. Dalam sektor jasa, biasanya ditentukan oleh waktu

perjalanan para pembeli pelayanan jasa ke pelanggan.

c. Penyediaan Tenaga Kerja

Dimanapun lokasi perusahaan, harus memilili tenaga kerja. Karena itu,

cukup tersedianya tenaga kerja menjadi hal yang mendasar.

d. Kedekatan dengan bahan mentah dan supplier

Apabila bahan mentah berat dan susut cukup besar dalam proses produksi

maka perusahaan lebih baik berlokasi dekat dengan bahan mentah. Begitu

pula bila bahan mentah cepat rusak seperti perusahaan pengalengan

buah-buahan. Dengan lebih dekatnya dengan bahan mentah dan para penyedia

(supplier) memungkinkan suatu perusahaan mendapatkan pelayanan

supplier yang lebih baik dan menghemat biaya pengadaan bahan.

e. Fasilitas dan Biaya Transportasi

Tersedianya fasilitas transportasi akan melancarkan pengadaan

faktor-faktor produksi dan penyaluran produk perusahaan. Lokasi dekat dengan

pasar akan menghemat biaya pengangkutan produk jadi.

2.6 Minat Beli

Minat beli merupakan proses menuju ke arah tindakan pembelian yang

dilakukan oleh seorang konsumen. Minat beli dapat ditingkatkan dengan

(46)

35 pendorong yang berasal dari dalam diri konsumen yaitu motivasi, persepsi,

pengetahuan, keyakinan, dan sikap. Selain itu, faktor sosial yang merupakan

proses dimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh keluarga, status sosial, dan

kelompok acuan, kemudian pemberdayaan bauran pemasaran yang terdiri dari

produk, harga, promosi, dan juga distribusi. (Kotler 2000:228)

Meldarianda dan Lisan (2010) mengatakan minat beli merupakan suatu

proses perencanaan pembelian suatu produk yang akan dilakukan oleh konsumen

dengan mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya adalah banyak unit produk

yang dibutuhkan dalam periode waktu tertentu, merek, dan sikap konsumen dalam

mengkonsumsi produk tersebut.

Setiadi (2003:216), menyatakan bahwa “Minat beli (niat beli) dibentuk

dari sikap konsumen terhadap produk yang terdiri dari kepercayaan konsumen

terhadap merek dan evaluasi merek, sehingga dari dua tahap tersebut muncullah

minat untuk membeli”. Semakin rendah tingkat kepercayaan konsumen terhadap

suatu produk akan menyebabkan semakin menurunnya minat beli konsumen.

Menurut Schiffman dan Kanuk (2004:72) menyatakan bahwa motivasi

sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk

melakukan tindakan. Jika seseorang memiliki motivasi yang tinggi terhadap

obyek tertentu, maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai produk

tersebut. Sebaliknya jika motivasinya rendah maka dia akan mencoba untuk

(47)

36 untuk kemungkinan orang tersebut berminat untuk membeli produk atau merek

yang ditawarkan pemasaran atau tidak.

Jenis stimulus yang mungkin dapat mempengaruhi minat beli konsumen

antara lain: physiological, emotional cognitive dan environment stimulus.

Physiological stimulus yaitu dorongan fisik pada saat tertentu, contoh rasa lapar.

Emosi dan cognitive stimulus dapat dipengaruhi melalui iklan sedangkan

environment stimulus misalnya iklan fastfood, pajangan roti dan berita. (Karmela

dan Junaedi 2009)

Menurut Karmela dan Junaedi (2009) aspek yang dapat membangkitkan

minat beli konsumen diantaranya:

a. Aspek kelengkapan barang yang meliputi aneka macam jenis dan

merek produk.

b. Aspek harga yaitu nilai yang diberikan oleh seorang pembeli terhadap

suatu produk.

c. Aspek Suasana toko, tempat yang strategis dimana lokasi toko yang

mudah dijangkau oleh orang maupun kendaraan, tersedianya sarana

tempat parkir dan lingkungan keamanan toko yang memadai bagi para

pengunjung mampu mempengaruhi minat beli konsumen.

d. Aspek kualitas barang yaitu ciri, mutu serta nilai dari suatu produk.

e. Aspek pelayanan adalah segala pekerjaan atau tindakan yang sifatnya

tidak berwujud untuk dapat memberikan bantuan apa saja yang

(48)

37 2.6.1 Motif-motif pembelian (Buying motives)

Menurut Karmela dan Junaedi (2009) para pembeli memiliki motif-motif

pembelian yang mendorong mereka untuk melakukan pembelian. Mengenai

buying motives ini terdapat tiga macam yaitu:

a. Primary buying motive, yaitu motif untuk membeli yang sebenarnya

misalnya, kalau orang mau makan ia akan mencari nasi.

b. Selective buying motive, yaitu pemilihan terhadap ini berdasarkan

ratio, berdasarkan waktu berdasarkan emosi. Jadi Selective buying

motive dapat berbentuk rational buying motive, emotional buying

motive atau impulse (pembelian seketika).

c. Patronage buying motive, ini adalah selective buying motive yang

ditujukan kepada tempat atau toko tertentu. Pemilihan ini bisa timbul

karena layanan yang memuaskan, tempatnya dekat, cukup persediaan

barang, ada halaman parkir, orang-orang besar suka berbelanja ke situ

dan sebagainya.

2.6.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli

Super dan Crites (dalam Lidyawati, 1998) menjelaskan bahwa ada

beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu:

a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan

seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pendidikan yang

ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu

(49)

38 b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial

ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkan

daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.

c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang

menggunakan waktu senggangnya.

d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan

minat pria, misalnya dalam pembelanjaan.

e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua

akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan

seseorang.

Sedangkan menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1999:156) terdapat dua

faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan

keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (unexpected situation) dan sikap

terhadap orang lain (Respect to Others).

Schiffman dan Kanuk (2004:146) mengatakan bahwa persepsi seseorang

tentang produk akan berpengaruh terhadap minat membeli yang terdapat pada

individu. Persepsi yang positif tentang atribut produk akan merangsang timbulnya

minat konsumen untuk membeli yang diikuti oleh perilaku pembelian.

Indikator-indikator dari minat beli dari Schiffman dan Kanuk (2004:470),

sebagai berikut:

1. Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk

(50)

39 3. Tertarik untuk mencoba

4. Mempertimbangkan untuk membeli

5. Ingin memiliki produk

Adapun indikator-indikator minat beli menurut Crow dan Crow (dalam

Astuti, 2010) sebagai berikut:

1. Ketertarikan, yaitu ketertarikan konsumen yang menimbulkan rasa

senang, puas, dalam diri seseorang yang dapat membangkitkan rasa

ingin membeli.

2. Perhatian, yaitu keaktifan pikiran, akal, ingatan yang dapat

membangkitkan rasa ingin membeli.

3. Pencarian informasi, yaitu adanya rasa ingin tahu yang dapat

membangkitkan rasa ingin membeli.

Menurut Ferdinand (2002:129), minat beli dapat diidentifikasi melalui

indikator-indikator sebagai berikut:

a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk

membeli produk.

b. Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk

merefrensikan produk kepada orang lain.

c. Minat preferensial, yaitu minat yaitu minat yang menggambarkan

perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk

tersebut. Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu

(51)

40 d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang

yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya

dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari

prouk tersebut.

2.7 Penelitian Terdahulu

Semuel (2005) dalam penelitiannya yang berjudul Respon Lingkungan

Berbelanja Sebagai Stimulus Pembelian Tidak Terencana Pada Toko Serba Ada

(Toserba) (Studi Kasus Carrefour Surabaya) yang menggunakan teknik analisis data

dengan Structure equation meodeling (S.E.M) yang merupakan kombinasi dari analisis

faktor, analisis regresi, dan analisis path dengan stimulus pembelian tidak terencana

sebagai variabel independen dan Lingkungan berbelanja sebagai variabel dependen.

Dalam penelitian ini Hanate Semuel menjelaskan bahwa variabel respon lingkungan

belanja dominan berpengaruh positif terhadap pembelian tidak terencana, terungkap juga

bahwa variabel pengalaman belanja resources expenditure merupakan variabel mediator

antara respon lingkungan belanja dan variabel pengalaman belanja lainnya, serta

berpengaruh negatif terhadap pembelian tidak terencana.

Hidayati (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Hubungan Daya Tarik

Kreative Iklan dan Store Atmosphere terhadap Minat Beli Produk Kedai Digital yang

menggunakan daya tarik iklan kreatif dan store atmosphere sebagai variabel independen

dan minat beli sebagai variabel dependen menjelaskan bahwa hubungan daya tarik kreatif

iklan dan store atmosphere terhadap minat beli produk kedai digital sangat signifikan

apabila dilaksanakan secara bersamaan namun secara parsial antara store atmosphere

(52)

41

merupakan penelitian Eksplanatori, dengan teknik analisis data menggunakan Koordinasi

Rank Kendall.

Erlangga (2007) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Store Atmosphere

Terhadap Emosi Pembelanja dan Dampaknya Terhadap Niat Untuk Berkunjung Ulang di

Toko House Of Rotten Apple. Menggunakan variabel Exterior, General Interior, Store

Layout, dan Interior Display. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Analisis

yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis). Metode

pengambilan sampel menggunakan non probability sampling dengan teknik purposive

sampling. Menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel store

atmosphere terhadap emosi pembelanja dan emosi pembelanja berpengaruh signifikan

terhadap niat untuk berkunjung ulang.

Syafik (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Store Atmosphere

Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen di Eva Bakery Gresik. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Store Atmosphere terhadap Keputusan

Pembelian Konsumen di Eva Bakery Gresik. Hipotesis yang penulis rumuskan dalam

penelitian ini adalah bahwa Store Atmosphere terdiri yang dari: exterior, general interior,

store layout dan display interior berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan

pembelian konsumen di Eva Bakery Gresik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

konsumen yang ada di Eva Bakery Gresik, dengan menggunakan 100 sampel konsumen.

Alat analisis yang digunakan adalah dengan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS

10 for windows. Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t dengan tingkat signifikan

2,5% dan uji F dengan tingkat signifikan 5%. Hasil persamaan regresi yang diperoleh

adalah Y = 1,833 + 0,274 X1 + 0,317 X2 + 0,326 X3 0. 100 X4 Kesimpulannya yaitu,

Gambar

Tabel 1.1 Penghargaan yang pernah diraih Ramayana Department Store
Tabel 2.1
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Tabel 3.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

mengetahui sejauh mana store atmosphere ini memberi pengaruh terhadap minat beli konsumen yang datang ke toko Priangan Jaya, sehingga pemilik toko dapat melakukan

Sehingga melihat kasus di atas maka saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Pengaruh Store Atmosphere dan Lokasi terhadap Minat beli pada Toko

VITA KUSUMA WARDHANI, Hubungan Antara Suasana Toko ( Store Atmosphere ) dengan Minat Beli di Indomaret Cabang Siaga Raya Pada Warga RW 01 Kelurahan Pejaten Barat

Pada pendekatan store atmosphere untuk meningkatkan minat beli konsumen, toko kelontong di Kecamatan Wono- kromo, Surabaya masih memiliki ke- lemahan yang disebabkan

Suasana Toko (Store Atmosphere) ditinjau dari exterior, general interior, store layout, dan interior display. Lokasi ditinjau dari lalu lintas, transportasi,

Dengan demikian hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini yaitu Suasana Toko dan Lokasi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap minat beli konsumen pada

ABSTRAK.‘ Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengamh suasana toko, keragaman produk, dan promosi terhadap keputusan pembelian pada konsumen Ramayana Department

Pengaruh Suasana Toko Store Atmosphere Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2017.. Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha,