ANALISA WAKTU SIMPAN AIR TERHADAP KINERJA AC SPLIT
SATU PK DENGAN ALAT PENUKAR KALOR DENGAN TIPE SERPENTINE
SKRIPSI
Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
TULUS H. TAMBUNAN
NIM. 120421013
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
anugerah dan Kasih-Nya yang memberikan kesempatan kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik.
Skripsi berjudul “ANALISA WAKTU SIMPAN AIR TERHADAP KINERJA AC SPLIT 1 PK DENGAN ALAT PENUKAR KALOR TIPE
SERPENTINE”, disusun untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Teknik
Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Atas kerjasama yang baik dari semua pihak, penulis telah berhasil dengan
baik menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini ditulis guna
memenuhi salah satu pesyaratan pendidikan Sarjana Ekstensi di Departemen
Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Farel H. Napitupulu selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran – saran kepada penulis mulai dari
awal penyusunan proposal hingga peneliti sampai dengan selesainya
penulisan skripsi ini.
2. Dr.Ing.Ir. Ikhwansyah Isranuri, selaku Ketua Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik USU serta kepada seluruh Bapak dan Ibu dosen beserta staf
pegawai Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik USU.
3. Ir. A. Halim Nasution, M.Sc. selaku Penguji I
4. Dr. Eng. Himsar Ambarita, ST. MT. selaku Penguji II.
5. Ayah dan Ibu serta keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Universitas Sumatera Utara.
Antares Lainnya yang telah banyak membimbing penulis di lapangan dalam
melakukan pengujian dari awal hingga akhir.
7. Rekan-rekan satu tim skripsi, Jesayas O. F. Sitinjak , Sumantri Haloho
yang banyak meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dang juga
memberikan kritik dan saran terhadap penulis.
8. Ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman mahasiswa Teknik Mesin
Ekstensi 2012 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, para abang alumni dan
semua yang telah mendukung dan memberi semangat kepada penulis.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelesaikan skripsi
ini, namun penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun
tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini.
Kiranya isi skripsi ini bermanfaat dalam memperkaya pengetahuan dalam
ilmu teknik khususnya Perpindahan Panas.
Medan, 31 Agustus 2015
Penulis
TULUS H. TAMBUNAN
ABSTRAK
Sekitar tiga per empat penggunaan energi di dunia masih dengan bahan bakar fosil. Banyaknya gas buang yang dihasilkan oleh industri-industri besar yang menggunakan energi fosil menyebabkan pemanasan global semakin bertambah buruk. Konsumsi paling banyak akan bahan bakar fosil adalah penggunaan listrik. Mengingat iklim di Indonesia cukup panas, hampir setiap rumah menggunakan AC untuk menciptakan temperatur yang nyaman untuk manusia yang tinggal di dalamnya. Selain itu mulai dibutuhkannya pemanas air. Dengan memanfaatkan panas buang AC untuk memanaskan air, kita dapat menghemat konsumsi listrik yang digunakan oleh water heater. Sistem ini dikenal dengan Split Air Conditioning Water Heater (Split-AirConWater). Penelitian ini adalah penelitian ekperimental yang menggunakan suatu alat uji sistem AC dengan penambahan bak penampungan dengan metode pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan air panas dalam bak water heater selama AC Split 1 PK dijalankan untuk mendinginkan ruangan terhadap kinerja AC, kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air dan daya aktual kompressor. Alat Penukar Kalor tipe serpentine dibuat dari pipa tembaga ¼ inch dengan panjang 4 m. Pengujian mesin ini dilakukan selama 60 menit dengan mencatat data setiap 5 menit untuk data perhitungan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan AC Split-AirConWater dapat memanaskan air dari suhu 31,4 oC- 61,1 oC untuk 35 L selama 1 jam. Dan COP yang diperoleh rata-rata dalam 1 hari adalah 3,287. Angka ini mengalami penurunan 2% dari COP standar yang rata-ratanya sebesar 3,38. Dan pada kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air memiliki nilai tertinggi 1999,433 J/s dan nilai terendah 585,2 J/s. Kemudian pada daya aktual kompressor cenderung stabil dengan nilai tertinggi 710,6 W dan nilai terendah 617,1 W.
ABSTRACT
About three-quarters of the world's energy use is still with fossil fuels. The amount of exhaust gases produced by major industries that use fossil fuels causes global warming is getting worse. The consumption of most fossil fuels is the use of electricity. Given the climate in Indonesia is quite hot, almost every house uses air conditioning to create a comfortable temperature for humans who live in them. Additionally began heating needs air.Dengan utilize waste heat for heating water conditioning, we can save electricity consumption used by the water heater. This system is known as Split Air Conditioning Water Heater (Split-AirConWa ter). This study is experimental which uses a test apparatus air -conditioning system with additional tank with a data collection method which aims to determine the effect of storage time of hot water in a tub of water heater for AC Split 1 PK run to cool the room to the performance of air conditioning, heat needed for heat the water and the actual compressor power. Serpentine-type Heat Exchanger tool made of ¼ inch copper pipe with a length of 4 m. Engine testing was conducted for 60 minutes by recording data every 5 minutes for data calculation. Results of this study can be concluded that with AC Split-AirConWater can heat the water of a temperature of 61.1 ° C to 31.4 OC 35 L for 1 hour. And COP were obtained on average in one day is 3,287. This figure decreased 2% from the COP standard of the average of 3.38. And the heat required to heat the water has the highest value 1999.433 J / s and the lowest value of 585.2 J / s. Then the actual compressor power tend to be stable with the highest value and the lowest value of 710.6 W 617.1 W.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR SIMBOL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Peneitian ... 2
1.3 Batasan Masalah ... 2
1.4 Manfaat Penelitian ... 2
1.5 Metode Pengumpulan Data ... 3
1.6 Sistematika Penulisan ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Pengkondisian Udara ... 5
2.2 Siklus Refrigerasi Kompresi uap ... 6
2.3.1 Komponen-komponen AC Split dan fungsinya ... 9
2.4 Refrigeran ... 19
2.4.1 Sampel Produk Refrigeran ... 22
2.4.2 Aplikasi Refrigeran ... 22
2.5 Jenis-jenis Pemanas Air di Pasaran ... 23
2.5.1 Pemanas Air Listrik ... 23
2.5.2 Pemanas Air Berbahan Bakar Gas ... 23
2.5.3 Pemanas Air Tenaga Surya ... 24
2.5.4 Air conditioning Water Heater ... 25
2.6 Perhitungan kinerja sistem refrigerasi ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu ... 30
3.2 Bahan ... 30
3.2 Alat Ukur Yang Digunakan ... 30
3.4 Peralatan yang Digunakan ... 27
3.5 Langkah Pembuatan Water Heater dengan menggunakan Alat Penukar Kalor Tipe Serpentine ... 31
3.5.1 Pembuatan Rumah Kondensor dan Kompressor ... 32
3.5.2 Pembuatan Bagian Water Heater ... 32
3.5.3 Pembuatan Rumah Kondensor dan Kompressor ... 32
3.6 Prosedur Pengujian. ... 40
3.7 Prosedur Pengolahan Data dalam Penelitian ... 42
3.8 Flowchart Penelitian ... 43
BAB IV ANALISA DATA 4.1 Analisa Karakterisasi Split-AirConWater ... 45
4.1.1 Pengujian pada Siang Hari ... 45
4.1.2 Pengujian pada Sore Hari... 47
4.1.3 Pengujian pada Malam Hari ... 49
4.2 Pengolahan Data-Data ... 51
4.2.1 Perhitungan Daya Kompressor (Qkomp)………... 51
4.2.2 Perhitungan COP ... 53
4.2.3 Perhitungan Kalor yang Dibutuhkan untuk memanaskan Air (Q) ... 58
4.3 Pengujian AC dengan kondisi standard ... 59
4.3.1 Pengujian Siang Hari ... 59
4.3.2 Pengujian Sore Hari ... 63
4.3.3 Pengujian Malam Hari... 67
4.4 Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar .. 71
4.4.1 Pengujian Siang Hari ... 71
4.4.2 Pengujian Sore Hari ... 72
4.5 Analisis Biaya ... 74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 79
5.2 Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
2.1 Instalasi Air Conditioner Split... 6
2.2 Skematik Sistem Pendingin Siklus Kompresi Uap Standar ... 7
2.3 P-h Diagram Siklus Kompresi Uap Standar ... 7
2.4 Siklus Kompresi Uap Aktual dan Siklus Standar ... 8
2.5 Gambar 2.5 Split system ... 9
2.6 Gambar 2.5 Split system ... 10
2.7 Evaporator ... 11
2.8 Motor Stepper ... 12
2.9 Saringan Udara ... 12
2.10 Kontrol Panel Elektrik, Remote Kontrol dan Sensor Suhu (Thermistor) .. 13
2.11 Talang Air ... 13
2.12 Unit Outdoor... 14
2.13 Kondensor... 15
2.14 Kompresor tipe torak ... 17
2.15 Kompresor tipe rotary ... 18
2.16 Kapasitor Kompresor ... 19
2.17 Kipas (fan) ... 19
2.18 Accumulator ... 20
2.20 Refrigeran R 22 ... 23
2.21 Pemanas Air Listrik ... 24
2.22 Pemanas Air Berbahan Bakar Gas ... 25
2.23 Prinsip Kerja Pemanas Air Tenaga Surya ... 26
2.24 Pemanas Air Tenaga Surya ... 26
2.25 Siklus Air Conditioning Water Heater ... 27
2.26 Temperatur Penggunaan air di rumah tangga ... 28
3.1 Pipa Tembaga ... 31
3.2 Refrigeran R22 Dupont... 32
3.3 Bak penampungan air panas ... 32
3.4 Pipa Sambungan Siku ... 33
3.5 Clamp Meter ... 33
3.6 Manifold Gauge ... 34
3.7 Alat Pengukur Suhu ... 34
3.8 Pompa Vakum ... 35
3.9 Pentil Selang Manifold Gauge ... 36
3.10 Flaring Tool ... 36
3.11 Tube Cutter ... 36
3.12 Pengerjaan Rangka dan bodi Kondensor-Kompresor... 37
3.13 Dimensi Tempat Kondensor-Kompressor ... 37
3.15 Pipa tembaga yang telah disambung/di-las ... 38
3.16 Alat penukar kalor tipe serpentine ... 38
3.17 Pemasangan APK pada bak air ... 38
3.18 Alat Pengujian ... 39
3.19 Skema Alat Pengujian... 39
3.20 Desain Alat Pengujian ... 40
3.21 Pemasangan manifold gauge, pengukur suhu dan clamp meter. .... 41
3.22 Proses pengisian Freon Dupont R-22 ... 41
4.1 Skema Alat Pengujian ... 44
4.2 Grafik temperatur Split-AirConWater pada siang hari ... 45
4.3 Grafik tekanan pada siang hari Split-AirConWater ... 46
4.4 Grafik temperatur pada sore hari Split-AirConWater ... 47
4.5 Grafik tekanan pada sore hari Split-Air ConWater ... 48
4.6 Grafik temperatur pada malam hari Split-AirConWater ... 49
4.7 Grafik tekanan pada malam hari Split-AirConWater ... 50
4.8 Grafik Daya Kompresor terhadap waktu pada Split-AirConWater .. 52
4.9 Grafik COP system terhadap waktu pada Split-AirConWater ... 57
4.10 Grafik Q air terhadap waktu pada Split-AirConWater ... 58
4.11 Grafik Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar pada siang hari ... 72
pada sore hari ... 73
4.13 Grafik Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar
DAFTAR TABEL
2.1 Temperatur Pengembunan dan Tekanan Pengembunan dari
Beberapa Refrigeran ... 16
2.2 Jenis-jenis Refrigeran Holocarbon ... 23
2.3 Aplikasi Penggunaan Refrigeran Holocarbon ... 24
4.1 Data Pengujian AC Split-Air ConWater pada Siang Hari ... 46
4.2 Data Pengujian AC Split-Air ConWater pada Sore Hari ... 48
4.3 Data Pengujian AC Split-Air ConWater pada Malam Hari ... 50
4.4 Data Perhitungan Qkomp pada AC Split-Air ConWater ... 52
4.5 Data Perhitungan mref pada AC Split-AirConWater ... 53
4.6 Data Perhitungan href pada AC Split-AirConWater ... 54
4.7 Data Perhitungan Qev pada AC Split-AirConWater ... 55
4.8 Data Perhitungan Wc pada AC Split-AirConWater ... 56
4.9 Data Perhitungan COP pada AC Split-Air ConWater ... 56
4.10 Data Perhitungan Q air pada AC Split-AirConWater ... 58
4.11 Data Pengujian AC Standard Siang Hari ... 60
4.12 Tabel perhitungan AC kondisi standard pada Siang Hari ... 63
4.13 Nilai Entalphi dari tiap waktu dan tekanan ada siang hari ... 63
4.14 Data Pengujian AC Standard Sore Hari ... 64
4.16 Nilai Entalphi dari tiap waktu dan tekanan pada sore hari ... 67
4.17 Data Pengujian AC Standard Malam hari ... 68
4.18 Perhitungan AC dengan alat penukar kalor pada Malam Hari... 71
4.19 Nilai entalpi dari tiap tekanan dan waktu Malam Hari ... 71
4.20 Data Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar
pada siang hari ... 72
4.21 Data Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar
pada sore hari ... 73
4.22 Data Perbandingan AC Split-AirConWater dengan AC Standar
pada malam hari ... 74
4.23 Biaya Pembelian Bahan Teknik ... 75
DAFTAR SIMBOL
Simbol Arti Satuan
p Tekanan Psi
T Suhu °C
h Enthalpi kJ/kg
I Kuat Arus A
Wc Kerja Kompresor kW
Qc Panas Yang Dilepas Kondensor kW
Qe Kapasitas Evaporator kW
h1 Enthapi Refrigeran Keluar Evaporator kJ/kg
h2 Enthalpi Keluar Kompresor kJ/kg
h3 Enthalpi Keluar kondensor kJ/kg
h4 Enthalpi Keluar Pipa Kapiler kJ/kg
qr Dampak Refrigerasi kJ/kg
COP KoefisienPrestasi (coefisien of performance)
P Daya Kompresor W
V Tegangan V
cos θ Faktor Daya
ABSTRAK
Sekitar tiga per empat penggunaan energi di dunia masih dengan bahan bakar fosil. Banyaknya gas buang yang dihasilkan oleh industri-industri besar yang menggunakan energi fosil menyebabkan pemanasan global semakin bertambah buruk. Konsumsi paling banyak akan bahan bakar fosil adalah penggunaan listrik. Mengingat iklim di Indonesia cukup panas, hampir setiap rumah menggunakan AC untuk menciptakan temperatur yang nyaman untuk manusia yang tinggal di dalamnya. Selain itu mulai dibutuhkannya pemanas air. Dengan memanfaatkan panas buang AC untuk memanaskan air, kita dapat menghemat konsumsi listrik yang digunakan oleh water heater. Sistem ini dikenal dengan Split Air Conditioning Water Heater (Split-AirConWater). Penelitian ini adalah penelitian ekperimental yang menggunakan suatu alat uji sistem AC dengan penambahan bak penampungan dengan metode pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan air panas dalam bak water heater selama AC Split 1 PK dijalankan untuk mendinginkan ruangan terhadap kinerja AC, kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air dan daya aktual kompressor. Alat Penukar Kalor tipe serpentine dibuat dari pipa tembaga ¼ inch dengan panjang 4 m. Pengujian mesin ini dilakukan selama 60 menit dengan mencatat data setiap 5 menit untuk data perhitungan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan AC Split-AirConWater dapat memanaskan air dari suhu 31,4 oC- 61,1 oC untuk 35 L selama 1 jam. Dan COP yang diperoleh rata-rata dalam 1 hari adalah 3,287. Angka ini mengalami penurunan 2% dari COP standar yang rata-ratanya sebesar 3,38. Dan pada kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air memiliki nilai tertinggi 1999,433 J/s dan nilai terendah 585,2 J/s. Kemudian pada daya aktual kompressor cenderung stabil dengan nilai tertinggi 710,6 W dan nilai terendah 617,1 W.
ABSTRACT
About three-quarters of the world's energy use is still with fossil fuels. The amount of exhaust gases produced by major industries that use fossil fuels causes global warming is getting worse. The consumption of most fossil fuels is the use of electricity. Given the climate in Indonesia is quite hot, almost every house uses air conditioning to create a comfortable temperature for humans who live in them. Additionally began heating needs air.Dengan utilize waste heat for heating water conditioning, we can save electricity consumption used by the water heater. This system is known as Split Air Conditioning Water Heater (Split-AirConWa ter). This study is experimental which uses a test apparatus air -conditioning system with additional tank with a data collection method which aims to determine the effect of storage time of hot water in a tub of water heater for AC Split 1 PK run to cool the room to the performance of air conditioning, heat needed for heat the water and the actual compressor power. Serpentine-type Heat Exchanger tool made of ¼ inch copper pipe with a length of 4 m. Engine testing was conducted for 60 minutes by recording data every 5 minutes for data calculation. Results of this study can be concluded that with AC Split-AirConWater can heat the water of a temperature of 61.1 ° C to 31.4 OC 35 L for 1 hour. And COP were obtained on average in one day is 3,287. This figure decreased 2% from the COP standard of the average of 3.38. And the heat required to heat the water has the highest value 1999.433 J / s and the lowest value of 585.2 J / s. Then the actual compressor power tend to be stable with the highest value and the lowest value of 710.6 W 617.1 W.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini permasalahan global yang sering
diperbincangkan oleh masyarakat Internasional dan khususnya masyarakat
Indonesia adalah krisis ekonomi dan pemanasan global. Perkembangan teknologi
semakin maju dan digunakan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Krisis
ekonomi dan keuangan pada akhir tahun 2008 membuat konsumsi energi global
merosot pada tahun 2009. Perekonomian yang pulih kembali menyadarkan bahwa
dunia kembali menghadapi masalah mendasar mengenai kebutuhan akan energi
dimasa yang akan datang.
Lebih dari tiga per empat kebutuhan energi dunia masih dipenuhi bahan
bakar fosil. Minyak tetap menjadi tulang punggung, dengan konsumsi sebanyak
85 juta barrel minyak per hari pada tahun 2008. Jumlahnya diprediksi naik 1
persen per tahun. Tahun 2030 dunia akan membutuhkan 105 juta barrel minyak
per hari. Jumlah penduduk dunia terus meningkat setiap tahunnya, sehingga
peningkatan kebutuhan energy pun tak dapat dielakkan. [1]
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena
peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah
kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas
seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC
sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. [2]
Kebutuhan manusia akan energi semakin meningkat seiring dengan
keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan. Hal ini juga berarti kebutuhan
akan daya listrik juga meningkat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya
rumah dan apartemen yang menggunakan AC sekaligus pemanas air elektrik
pendinginan tersebut dddibuang begitu saja ke lingkungan. Padahal energi kalor
yang terbuang dari sistem pendinginan dapat dimanfaatkan untuk memanaskan
air.
Salah satu aplikasi konservasi energi yang nyata pada daerah residensial
adalah dengan Air Conditioner Water Heater. Air Conditioner Water Heater
memang bukan merupakan suatu sistem yang baru, sistem ini telah dikembangkan
lebih dari 50 tahun sebelumnya. Air Conditioner Water Heater bekerja dengan
cara memanfaatkan panas buang dari sistem AC untuk memanaskan air. Cara ini
dapat berlangsung dengan suatu alat penukar kalor yang tiddak membutuhkan
tenaga tambahan, tetapi memanfaatkan sebesarnya energi yang ada dalam sistem.
Dengan sistem ini, kita dapat dua keuntungan sekaligus, efek pendinginan ruangan
dan efek pemanasan air yang hemat energi.
Dalam hal ini, Penulis ingin meningkatkan pemakaian System Air
Conditioner Water Heater di masyarakat karena biaya yang ddiperlukan sangat
kecil dan dapat mengurangi konsumsi listrik yang berdampak pada penghematan
energi dan pengurangan efek pemanasan global.
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini antara lain adalah :
a. Untuk mengetahui kinerja AC Split 1 PK terhadap pengaruh waktu simpan
air pada tabung water heater dengan tipe serpentine.
b. Untuk mengetahui kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air dan daya
aktual kompresor pada AC yang dikombinasikan dengan water heater
dengan tipe serpentine.
1.3 Batasan Masalah
Pembatasan masalah pada skripsi ini adalah :
a. Unit Air Condditioning yang digunakan memiliki daya 1 PK
c. Pengukuran yang terdapat pada pengujian meliputi pengukuran temperatur
air, refrigran dan ruangan. Serta pengukuran tekanan refrigeran di dalam
sistem Air Conditioning
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini antara lain :
a. Pengembangan teknologi alternative mesin pendingin yang dapat
mendinginkan ruangan sekaligus dapat memanaskan air.
b. Mengurangi pemakaian bahan bakar minyak bumi dan gas untuk
memanaskan air untuk kebutuhan sehari-hari.
c. Untuk mengurangi pemanasan global yang disebabkan oleh udara panas
yang keluar dari kondensor AC ruangan.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan dengan :
1. Studi literatur dari beberapa buku referensi dan catatan kuliah mengenai
Perpindahan Panas
2. Melakukan Pengamatan dan pengambilan data secara langsung pada
proses pengujian Alat Penukar Kalor pada saat alat beroperasi di
lingkungan kantor engineering Hotel Antares Medan.
3. Informasi dan masukan dari pembimbing maupun dengan pihak-pihak
yang memahami materi tentang perancangan Alat Penukar Kalor di
lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU).
1.6 Sistematika Penulisan
Skripsi ini dibagi dalam beberapa bab dengan garis besar tiap bab adalah
sebagai berikut :
a. Bab I : Pendahuluan
Bab ini berisikan latar belakang yang melandasi penulisan skripsi, tujuan
b. Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab ini berisikan penjelasan mengenai jenis wa ter heater yang ada di
pasaran, prinsip kerja Air Conditioning Water Heater serta dasar teori perhitungan
alat penukar kalor. Dasar teori ini diambil dari beberapa buku, jurnal, dan
situs-situs di internet.
c. Bab III : Metodologi Penelitian
Bab ini berisikan desain awal, perancangan dan instalasi alat pengujian,
gambar instalasi alat pengujian, dan prosedur pengambilan data.
d. Bab IV : Hasil dan Analisa pengujian
Bab ini berisikan tentang hasil data yang diperoleh dari setiap pengujian
melalui pembahasan, perhitungan, dan penganalisaan dengan menggunakan
perumusan dari berbagai literature yang mendukung dan memasukkannya
kedalam bentuk table, dan grafik.
e. Bab V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisikan penutup berupa kesimpulan dan saran yang diperoleh
selama proses pengujian dilakukan.
f. Daftar Pustaka
Daftar pustaka berisikan literature-literatur yang digunakan pada saat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Pengkondisian Udara
Air conditioner atau yang biasa di sebut AC merupakan sebuah alat yang
mampu mengondisikan udara. Dengan kata lain, AC berfungsi sebagai penyejuk
udara. Penggunaan AC dimaksudkan untuk memperoleh udara yang dingin dan
sejuk serta nyaman bagi tubuh kita, AC lebih banyak di gunakan di wilayah yang
beriklim tropis dengan kondisi temperature udara yang relative tinggi seperti di
Indonesia. AC bisa di golongkan dengan barang mewah karena harganya yang
cukup mahal dan daya listrik yang digunakan cukup besar. Namun, bagi sebagian
orang AC sudah tidak lagi lagi termasuk barang mewah karena manfaatnya untuk
mengatur siklus temperature udra yang memberi efek pada kenyaman tubuh.
Dalam penggunanya AC tidak hanya menyejukan udara tetapi bisamengatur
kebersihan dan kelembaban uduara di dalam ruangan sehingga tercipta kondisi
udara yang berkualitas,sehat,dan nyamn bagi tubuh.
Pengkondisian udara pada bangunan berukuran sedang atau besar
kebanyakan pengkodisian udara yang digunakan sebagai kenyamanan (comfort air
conditioning).Untuk menciptakan kondisi udara yang nyaman bagi orang yang
berada didalam suatu ruangan. System pendingin dimusim panas telah menjadi
suatu kebutuhan pokok bagi bangunan besar diseluruh dunia. Diwilayah yang
suhu panasnya tidak terlalu tinggi, bangunan besar perlu didinginkan untuk
menyerap kalor yang dikeluarkan oleh orang,lampu-lampu, dan peralatan listrik
lainnya. Dengan berkembangnyainformasi dan teknologisekarang ini banyak
dijumpai mesin pendingin ruangan dengan menggunakan hidrokarbon atau
musicool yang ramah lingkungan dan tidak merusak lapisan ozon dibandingkan
refrigerant sintetik.
Refrigerasi mulai muncul pada awal abad keMechanics Journal oleh
penulis anonim. Paten pertama mesin refrigerasi tercatatnama Thomas Harris dan
merupakan kebalikan dari siklus carnot yang membutuhkan kerja untuk
memindahkan kalor dari memiliki temperatur lebih tinggi.
Sistem refrigerasi ini sering dimanfaatkan untuk mengkondisikan keadaan
udara dalamsuatu ruang tertentu, seperti ruang kantor, atau ruang penyimpanan
barang. Selain berfungsi sebagai pengkondisi udara manfaat lain bisa
dirasakan selama bertahun pada berbagai bidang industri seperti industri
manufaktur, industri perminyakan, industri kimia, dan industri pangan.
Sistem pengkondisian udara pada AC split yang umum dipakai terdiri dari
kompresor,kondensor,evaporator,katup ekspansidan serta refrigerant sebagai
fluida pendinginnya.Susunan atau rangkaian komponen untuk AC Split diletakkan
sedemikian rupa seperti terlihat pada gambar 2.1 dibawah berikut.
Gambar 2.1. Instalasi Air Conditioner Split
2.2 Siklus Refrigerasi Kompresi Uap
Siklus refrigerasi kompresi uap merupakan jenis mesin pendingin yang
paling sering digunakan saat ini. Mesin pendingin ini terdiri dari empat
komponen utama yaitu kompresor, kondensor, katup ekspansi dan evaporator.
Dalam siklus ini uap refrigeran bertekanan rendah akan ditekan oleh
kompresor sehingga menjadi uap refrigeran bertekanan tinggi, dan kemudian uap
refrigeran bertekanan tinggi diembunkan menjadi cairan refrigeran
tersebut tekanannya diturunkan oleh katup ekspansi agar cairan refrigeran tekanan
rendah tersebut dapat menguap kembali dalam evaporator menjadi uap refrigeran
tekanan rendah. Susunan keempat komponen tersebut secara skematik dapat
ditunjukkan pada gambar 2.1. Pada gambar 2.2 menunjukan P-h diagram Siklus
Kompresi Uap Standar.
Gambar 2.2 Skematik Sistem Pendingin Siklus Kompresi Uap Standar
Gambar 2.3 P-h Diagram Siklus Kompresi Uap Standar
Siklus Kompresi Uap Aktual
Pada kenyataannya siklus kompersi uap mengalami penyimpangan dari
kompresi uap standar, seperti ditunjukkan pada gambar 2.3. Perbedaan penting
siklus kompresi siklus uap aktual dari siklus standar adalah :
2. Adanya proses dibawah dingin (sub cooling) cairan yang meninggalkan
kondensor sebelum memasuki katup ekspansi.
3. Pendinginan lanjut uap yang meninggalkan evaporator sebelum memasuki
kompresor.
4. Terjadi kenaikan entropi pada saat proses kompresi (kompresi tak
isentropik).
5. Proses ekspansi berlangsung non-adiabatik.
Walaupun siklus aktual tidak sama dengan siklus standar, tetapi proses
ideal dalam siklus standar sangat bermanfaat dan diperlukan untuk mempermudah
analisis secara teoritik.
Gambar 2.4 Siklus Kompresi Uap Aktual dan Siklus Standar
2.3 Sistem AC split
Prinsip kerja AC split maupun pada mesin pendingin model lainnya adalah
sama yaitu menyerap panas udara didalam ruangan yang inginkan, kemudian
melepaskan panas keluar ruangan. Jadi pengertian AC split adalah seperangkat
alat yang mampu mengkondisikan suhu ruangan menjadi lebih rendah suhunya
dibanding suhu lingkungan sekitarnya.
Pada Air Conditioner udara ruangan terhisap disirkulasikan secara
terus-menerus oleh blower (pada indoor unit) melalui sirip evaporator yang mempunyai
melewati evaporator, udara ruangan yang bertemperatur lebih tinggi dari
evaporator diserap panasnya oleh bahan pendingin/refrigeran (evaporator),
kemudian kalor yang diterima evaporator dilepaskan ke luar ruangan ketika aliran
refrigerant melewati condenser (unit outdoor).
Jadi, temperatur udara yang rendah atau dingin yang kita rasakan pada
ruangan sebenarnya adalah sirkulasi udara di dalam ruangan, bukan udara yang
dihasilkan oleh perangkat AC split. Unit AC hanyalah tempat bersirkulasinya
udara ruangan yang sekaligus menangkap kalor (panas) pada udara ruangan yang
bersirkulasi melewati evaporator hingga mencapai temperatur yang diinginkan.
2.3.1 Komponen-komponen AC split dan Fungsinya 2.3.1.1Bagian Indoor
Gambar 2.6 Unit Indoor
Ket. : 1. Base 13. Face Plate
2. Cross Flow Fan Axletree 14. Step Motor
3. Cross Flow Fan 15. Armor Tubing
4. Cross Flow Fan Fixed Plate 16. Plate
5. Electric Heater 17. Motor Cabinet
6. Evaporator Assembly 18. Motor Platen
7. Room Temperature Sonde Frame 19. Motor
8. Louver 20. Electric Box Small
Coverplate
9. Outlet Part 21. Electric Box Cover
10. Screw Cover 22. Electric Control Plate
11. Middle Frame 23. Electric Box
Pada bagian outdoor AC split secara umum terdapat komponen utama, yaitu :
a. Evaporator
Pada mesin pendingin AC split evaporator terbuat dari pipa tembaga
dengan panjang dan diameter tertentu yang dibentuk berlekuk-lekuk agar
menghemat tempat dan lebih efektif menyerap panas dari udara ruangan yang
bersirkulasi melaluinya. Karena pipa evaporator menjadi rendah (dingin) dengan
kisaran suhu hingga mencapai 50C dengan begitu, suhu udara ruangan akan
menjadi rendah (dingin) ketika melewati evaporator.
Gambar 2.7 Evaporator
b. Motor Blower dan Motor Pengatur Aliran Udara (motor stepper) Motor Blower berfungsi untuk mensirkulasikan udara dalam ruangan,
sehingga udara ruangan dapat bersirkulasi melewati evaporator, setelah udara
melewati evaporator aliran udara diarahkan ke ruangan oleh pengatur aliran udara
(motor stepper). Blower akan bekerja sampai temperature udara ruangan sesuai
keinginan. Dengan kata lain blower akan berhenti kerja (off) ketika temperature
udara ruangan mencapai suhu yang kita inginkan (setting suhu pada pengaturan
Gambar 2.8 Motor Stepper
c. Saringan (filter) Udara
Pada indoor AC Split Saringan (filter udara) berfungsi menyaring udara
yang melewati evaporator, sehingga udara yang bersirkulasi dalam ruangan
menjadi lebih bersih. Pada unit AC Split model baru juga dilengkapi dengan filter
anti bakteri atau anti racun untuk menangkal bibit penyakit dan menyaring polutan
berbahaya bagi tubuh manusia yang terbawa melalui udara ruangan.
Gambar 2.9 Saringan Udara
d. Kontrol Panel Electric, Remote Kontrol dan Sensor Suhu (Thermistor)
Pada bagian indoor AC Split terdapat Kontrol Electric dan sensor suhu
compressor, fan outdoor dan fungsi timer. Dan remote berfungsi untuk memberi
perintah ke modul, mengatur suhu sesuai keinginan, dll.
Gambar 2.10 Kontrol Panel Elektrik, Remote Kontrol dan Sensor Suhu (Thermistor)
e. Talang Air
Berfungsi sebagai penampung air yang dihasilkan dari kondensasi di
evaporator lalu dibuang melalui selang.
2.3.1.2Bagian Outdoor
Gambar 2.12 Unit Outdoor
Keterangan :
1.Front Grille Guard 12. Outdoor unit Top Panel
2. Grille Guard Clip 13. Outdoor unit Back Net
3. Grille Guard Face Panel 14. Electric Installation Board Assembly
4. Small Handle 15. Outdoor unit Large Handle
5. Outdoor unit Fan Blade 16. Outdoor unit Right Panel
6. Outdoor unit Motor 17. Low-Pressure Valve
7. Motor Support 18. High-Pressure Valve
8. Outdoor unit Base 19.Valve Installation Panel
9. Air conditioner Compresssor
10. Partition Board
11. Air conditioner Condenser
Pada bagian outdoor AC split secara umum terdapat komponen utama, yaitu :
a. Kondensor
Ketika refrigerant keluar melewati bagian indoor AC Split (evaporator),
Serupa dengan evaporator, kondensor terbuat dari pipa tembaga yang dibuat
berkelok-kelok dan dilengkapi sirip-sirip yang bertujuan untuk melepas kalor
udara berjalan dengan efektif dan kalor (panas) udara yang terbawa oleh
refrigerant (Freon) lebih cepat dilepaskan atau dibuang ke udara bebas (luar
ruangan).
Gambar 2.13 Kondensor
Untuk mencairkan uap refrigerant yang bertekanan dan bertemperatur
tinggi (yang keluar dari kompresor) diperlukan usaha melepaskan kalor sebanyak
kalor laten pengembunan dengan cara mendinginkan uap refrigerant itu. Jumlah
kalor yang dilepaskan oleh uap refrigerant kepada air pendingin atau udara
pendingin di dalam kondensor sama dengan selisih entalpi uap refrigerant pada
seksi masuk keluar kondensor. Jumlah kalor yang dilepaskan di dalam kondensor
sama dengan jumlah kalor yang diserap oleh refrigerant di dalam evaporator dan
kalor yang ekivalen dengan energi yang diperlukan untuk melakukan kerja
kompresor.
Pada waktu mesin refrigerasi mulai bekerja, temperature benda yang harus
didinginkan masih tinggi, sehingga temperature penguapannya juga tinggi.Oleh
karena itu kalor pengembunannya juga bertambah besar.Dengan demikian, dalam
perancangan kondensor hal tersebut sangat diperhitungkan.
Faktor penting yang menentukan kapasitas kondensor dengan pendingin udara
adalah
Perbedaan suhu antara bahan pendingin dengan udara luar. Sifat dan karateristik bahan pendingin yang dipakai.
Laju perpindahan kalor yang dibutuhkan didalam kondensor merupakan fungsi
dari kapasitas refrigerasi, suhu penguapan serta suhu pengembunan.Uap
refrigerant yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi dapat
dengan mudah dicairkan dengan mendinginkannya dengan air pendingin (atau
dengan udara pendingin pada sistem dengan pendinginan udara) yang ada pada
temperature normal. Dengan kata lain, uap refrigerant menyerahkan panasnya
(kalor laten pengembunan) kepada air pendingin (atau udara pendingin) didalam
kondensor. Sehingga mengembun dan menjadi cair. Jadi, karena air (udara)
pendingin menyerap panas dari refrigerant, maka ia akan menjadi panas waktu
keluar dari kondensor. Selama refrigerant mengalami perubahan dari fasa uap ke
fasa cair, dimana terdapat campuran refrigerant dalam fasa uap dan cair, tekanan
(tekanan pengembunan) dan temperaturenya (temperature pengembunan)
konstan.Oleh Karena itu temperaturnya dapat dicari dengan mengukur
tekanan.Table 2.1 menunjukkan hubungan antara temperature pengembunan
(kondensasi) dan tekanan pengembuanan (kondensasi).
Tabel 2. 1. Temperatur pengembunan dan tekanan pengembunan dari
beberapa refrigerant.[4]
Kompressor AC Split berfungsi mensirkulasikan aliran refrigerant. Dari
compressor refrigerant (Freon) akan dipompa dan dialirkan menuju komponen
utama AC Split yaitu kondenser, pipa kapiler, evaporator, dan kembali lagi ke
Berikut ini jenis kompresor beserta keterangannya :
1. Kompresor Bolak-Balik (Reciprocating Compressor )
Kompresor bolak-balik merupakan jenis yang banyak dipakai., Kompresor
ini dapat bersilinder tunggal atau ganda. Dinamakan kompresor bolak-balik
karena gerak toraknya maju mundur dalam silindernya.Panjang gerakan dari torak
tersebut disebut langkah (stroke) atau panjang langkah. Panjang langkah ini
biasanya sama dengan diameter silinder.
Kapasitas kompresor tergantung dari faktor-faktor, antara lain : jumlah
silinder, panjang langkah, jumlah putaran per menit dan lain-lain, Gerak dari torak
yang bolak-balik ini didapat dari poros engkol yang menerima gerakan dari motor
listrik Untuk cara kerjanya, perjalanan refrigerant dari dan masuk ke kompresor
diatur oleh katup pembuang (discharge) dan klep pengisap (suction). Refrigeran
keluar melalui katup pembuang dan masuk melalui katup penghisap.Apabila torak
bergerak menjauhi katup maka langkah ini disebut suction-stroke dan tekanan aka
berkurang.Oleh karena tekanan didalam kompresor lebih rendah dari tekanan
saluran hisap, maka uap refrigerant masuk kedalam kompresor.
Gambar 2. 14. Kompresor tipe torak
2. Kompresor Rotari (Rotary Compressor)
Baling-baling/vane bergerak maju mundur secara radial dalam slot rotor
mengikuti kontur dinding silinder saat rotor berputar. Sudu didorong oleh gaya
sentrifugal yang timbul saat rotor berputar sehingga selalu rapat dengan dinding
port terkompresi dan kemudian dikeluarkan melalui discharge port. Untuk
menjamin kerapatan antara sudu dengan dinding silinder dipasang pegas pada slot
rotor. Untuk menjaga air sudu tidak cepat aus, maka biasanya diujung sudu yang
bersinggungan dengan casing digunakan logam lain. Kapasitas kompresor untuk
ukuran rotor dan casing sama yang sama adalah fungsi jumlah sudu. Semakin
banyak sudunya, makin besar kapasitasnya tetapi perbandingan kompresinya lebih
rendah dan volume vane lebih besar.
Gambar 2. 15. Kompresor tipe rotary
c. Kapasitor Kompresor
Running kapasitor merupakan komponen yang sangat penting untuk
kompresor satu fase karena memiliki fungsi sebagai pembeda fase antara lilitan
utama dan lilitan bantu, selain itu running kapasitor juga berfungsi untuk
penempatan kapasitor). Running kapasitor banyak digunakan pada mesin
pendingin.Kapasitor juga dapat difungsikan sebagai starting kapaitor.
Gambar 2. 16. Kapasitor Kompresor
d. Kipas (Fan)
Pada bagian kondensor AC split juga dilengkapi dengan kipas (fan).
Fungsinya adalah membuang panas pada kondensor ke udara bebas.
Gambar 2.17 Kipas (fan)
e. Accumulator
Accumulator pada mesin pendingin berfungsi sebagai penampung
sementara refrigerant cair bertemperatur rendah dan campuran minyak pelumas
evaporator. Selain itu, accumulator berfungsi mengatur sirkulasi aliran bahan
refrigerant agar bisa keluar-masuk melalui saluran isap compressor. Untuk
mengkondisikan wujud refrigerant yang masuk ke compressor tetap dalam wujud
gas. Sebab, ketika wujud refrigerant berbentuk gas akan lebih mudh masuk ke
dalam kompressor dan tidak merusak bagian dalam kompressor.
Gambar 2.18 Accumulator
f. Pipa Kapiler
Pipa Kapiler/Katup ekspansi pada unit AC Split berfungsi menurunkan
tekanan refrigerant sehingga merubah wujud refrigerant cair menjadi uap ketika
zat pendingin meninggalkan katup ekspansi/Pipa kapiler dan memasuki
evaporator.
Gambar 2.19 Pipa Kapiler
2.4 Refrigeran
Refrigeran adalah zat yang mengalir dalam mesin pendingin (refrigerasi)
atau mesin pengkondisian udara.Zat ini berfungsi untuk menyerap panas dari
benda atau udara yang didinginkan dan membawanya kemudian membuangnya ke
Berdasarkan jenis senyawanya, refrigeran dapat dikelompokan menjadi 8
kelompok yaitu sebagai berikut:
1. Kelompok refrigeran senyawa halokarbon.
Kelompok refrigeran senyawa halokarbon diturunkan dari hidrokarbon
(HC) yaitu metana (CH4), etana (C2H6), atau dari propana (C3H8) dengan
mengganti atom-atom hidrogen dengan unsur-unsur halogen seperti khlor (Cl),
fluor (F), atau brom (Br). Jika seluruh atom hidrogen tergantikan oleh atom Cl
dan F maka refrigeran yang dihasilkan akan terdiri dari atom khlor, fluor dan
karbon. Refrigeran ini disebut refrigeran chlorofluorocarbon (CFC).Jika hanya
sebagian saja atom hidrogen yang digantikan oleh Cl dan atau F maka refrigeran
yang terbentuk disebut hydrochlorofluorocarbon (HCFC).Refrigeran halokarbon
yang tidak mengandung atom khlor disebut hydrofluorocarbon (HFC).
2. Kelompok refrigeran senyawa organik cyclic.
Kelompok refrigeran ini diturunkan dari butana. Aturan penulisan nomor
refrigeran adalah sama dengan cara penulisan refrigeran halokarbon tetapi
ditambahkan huruf C sebelum nomor. Contoh dari kelompok refrigeran ini adalah:
a. R-C316 C4Cl2F6 1,2-dichlorohexafluorocyclobutane
b. R-C317 C4ClF7 chloroheptafluorocyclobutane
c. R-318 C4F8 octafluorocyclobutane
3. Kelompok refrigeran campuran Zeotropik.
Kelompok refrigeran ini merupakan refrigeran campuran yang bisa terdiri
dari campuran refrigeran CFC, HCFC, HFC, dan HC. Refrigeran yang terbentuk
merupakan campuran tak bereaksi yang masih dapat dipisahkan dengan cara
destilasi.
4. Kelompok refrigeran campuran Azeotropik.
Kelompok refrigeran Azeotropik adalah refrigeran campuran tak bereaksi
yang tidak dapat dipisahkan dengan cara destilasi. Refrigeran ini pada
konsentrasi, tekanan dan temperatur tertentu bersifat azeotropik, yaitu
refrigeran tunggal. Namun demikian pada kondisi (konsentrasi, temperatur atau
tekanan) yang lain refrigeran ini bisa saja menjadi bersifat zeotropik.
5. Kelompok refrigeran senyawa organik biasa
Kelompok refrigeran ini sebenarnya terdiri dari unsur C, H dan lainnya.
Namun demikian cara penulisan nomornya tidak dapat mengikuti cara
penomoran refrigeran halokarbon karena jumlah atom H nya jika ditambah
dengan 1 lebih dari 10 sehingga angka kedua pada nomor refrigeran menjadi dua
digit. Sebagai contoh butana (C4H10), jika dipaksakan dituliskan sesuai dengan
cara penomoran refrigeran halokarbon, maka refrigeran ini akan bernomor
R-3110, sehingga akan menimbulkan kerancuan.
6. Kelompok refrigeran senyawa anorganik.
Kelompok refrigeran ini diberi nomor yang dimulai dengan angka 7 dan
digit selanjutnya menyatakan berat molekul dari senyawanya. Contoh dari
refrigeran ini adalah: R-702 : hydrogen R-704 : helium R-717 : amonia R-718 : air R-744 : O2 R-764 : SO2
7. Kelompok refrigeran senyawa organik tak jenuh.
Kelompok refrigeran ini mempunyai nomor empat digit, dengan
menambahkan angka keempat yang menunjukkan jumlah ikatan rangkap didepan
Gambar 2. 20 Refrigeran R 22
2. 4. 1. Sampel Produk Refrigeran 1. Refrigeran Halocarbon (CFC)
Tabel 2. 2. Jenis-jenis refrigerant halocarbon (CFC) [5]
Refrigeran Titik didih
Jenis
Kompresor Temperatur Penguapan Temperatur
(0C) Pengembunan
R 11 23,8 Sentrifugal Tinggi Biasa
(Pendinginan udara) (Pendinginan air, udara
R 12 -298 Torak,Putar Tinggi-rendah Biasa
(Pembekuan,pendinginan (Pendinginan air, udara
ruangan)
R 13 -814 Torak,Putar
Temperatur sangat
rendaah Pendinginan biner R 21 8,9 Torak,Putar Tinggi (Pendinginan) Tinggi ( pendinginan
udara
R 22 -408 Torak,Putar Tinggi-rendah Biasa (Pendinginan air,
(refrigerasi, pendinginan udara
R 113 47,6 Sentrifugal Tinggi (Pendinginan) Biasa (Pendinginan air,
udara
R 502 -456 Torak,putar Tinggi-rendah Biasa (Pendinginan air,
(refrigerasi, pendinginan udara
2. 4. 2 Aplikasi Refrigeran
Tabel 2. 3 Aplikasi Penggunaan refrigerant Halocarbon (CFC) [6]
Refrigeran Penggunaan
R 11 Pendinginan air sentrifugal
R 13 Refrigerasi temperatur sangat rendah R 21 Pendingin kabin alat pengangkat
R 113 Pendingin air sentrifugal ukuran kecil
R 502 Unit temperatur rendah
2.5 Jenis-jenis Pemanas Air di Pasaran 2.5.1 Pemanas Air Listrik
Prinsip kerja pemanas air listrik adalah dengan cara mengalirkan air
dalam tangki berisolasi yang dilengkapi dengan elemen pemanas yang akan
memanaskan air karena adanya listrik. Pemanas air listrik dilengkapi dengan
adanya ther mosta t sehingga sistem dapat mati/hidup secara otomatis. Ketika
air panas ddigunakan, supply air akan masuk ke dalam tangki yang
menyebabkan turunnya temperatur air di tangki. Penurunan temperatur akan
mengaktifkan sistem pemanas sampai temperatur air panas tertentu tercapai.
Kekurangannya adalah dibutuhkan energi listrik yang besar untuk
menghasilkan panas yang dibutuhkan.
2.5.2 Pemanas Air Berbahan Bakar Gas
Prinsip kerjanya adalah dengan melewatkan air melalui pipa-pipa kedalam
sebuah tangki yang diisolasi sekelilingnya, kemudian pada bagian bawah tangki
tersebut dibakar dengan menggunakan gas, untuk menghasilkan air panas. Untuk
memperluas bidang perpindahan panas diperlukan agar input energi lebih besar
sehingga temperatur yang diperoleh lebih tinggi. Selain itu digunakan pula
pipa-pipa tembaga untuk mempercepat perpindahan panas.
Gambar 2.22 Pemanas Air Berbahan Bakar Gas [8]
2.5.3 Pemanas Air Tenaga Surya
Tipe ini merupakan tipe ramah lingkungan karena menggunakan radiasi
panas matahari sebagai sumber energinya, tetapi untuk harga alat ini jauh lebih
mahal dibandingkan dengan tipe lainnya. Prinsip kerjanya adalah dengan
memanfaatkan energi radiasi matahari yang diserap oleh absorber, kemudian air
panas ditampung di dalam tangki yang diisolasi. Fluida mengalir dengan cara
pemanas telah dilengkapi dengan heater tambahan sehingga dapat memanaskan
air walaupun tidak ada sinar matahari. Pemanas air tenaga surya yang paling
umum adalah jenis pemanas air tenaga surya plat datar(flat plate solar water
heater). Kekuranganya adalah pemasangan yang lebih rumit (diletakkan di atas
atap rumah) dan panas yang dihasilkan akan tegantung dari panas matahari yang
ada.Apabila panas matahari yang ddi butuhkan tidak cukup untuk memanaskan air
yang ada, maka pemanas listrik yang ada bekerja untuk memanaskan air. Jadi
dibutuhkan energi listrik tambahan lagi.
Gambar 2.23 Prinsip Kerja Pemanas Air Tenaga Surya
2.5.4 Air Conditioning Water Heater
Air Conditioning Water Heater adalah sistem yang memanfaatkan pans
buang dari sistem pendinginan untuk memanaskan air. Sebagian kalor dari
refrigan yang sudah dikompresi oleh kompresor ddigunakan untuk memanaskan
air dengan bantuan alat penukar kalor. Penukar kalor inilah yang sangat
menentukan kinerja dari Air Conditioning Water Heater.
Gambar 2.25 Siklus Air Conditioning Water Heater
Prinsip kerja Air Conditioner Water Heater adalah [9]: Proses 1-2 :
Uap refrigerant dihisap kompresor kemudian ditekan sehingga tekanan dan
temperature refrigeran naik. Proses 2-2 :
Panas refrigerant ditransfer kepada air didalam penukar kalor sehingga
air mengalami kenaikan temperature sedangkan refrigeran mengalami
penurunan dan sebagian telah berubah fasa menjadi cairan. Proses 2-3 :
Refrigeran didinginkan pada konddensor seperti pada siklus pendinginan
Proses 3-4 :
Refrigeran keluar kondensor dan penukar kalor digabungkan sebelum
diekspansi. Cairan refrigeran dengan tekanan dan temperatur tinggi
diekspansikan sehingga mengalami penurunan tekanan dan temperatur. Proses 4-1 :
Refrigeran di evaporator dalam keadaan temperatur rendah sehingga
dapat menyerap kalor ruangan. Cairan refrigeran menguap secara
berangsur-angsur karena menerima kalor sebanyak kalor laten
penguapan. Selama proses penguapan di dalam pipa terddapat campuran
refrigeran fase cair dan uap.
Secara teoritis dengan penggunaan Air Conditioner Water Heater dapat
meningkatkan jumlah kalor yang dapat dibuang yang berarti dapat menambah
beban pendinginan (cooling load) yang dapat dipinddahkan dengan kerja
kompresor yang sama. Namun perlu diperhatikan jika beban pendinginan tidak
ditambah, akan mengakibatkan refrigeran yang masuk ke dalam kompresor masih
berada dalam kubah uap (berfasa campuran antara liquid dan vapor) sehingga
dapat merusak kompressor.
Berdasarkan standar temperatur air panas untuk kepentingan mandi dan
mencuci tangan, maka temperatur yang harus dicapai oleh sistem
Split-AirCon-Water adalah 40–450C.
2.6 Perhitungan kinerja Sistem Refrigerasi
Dasar – dasar perhitungan perfomansi siklus kompresi uap standar
a) Kerja kompresi ( wc )
Untuk menghitung kerja kerja kompresi adalah sebagai berikut :
wc = h2– h1... (2.1) Dimana :
wc = Kerja Kompresi (kJ/kg)
h1 = Entalpi refrigeran saat masuk kompresor (kJ/kg)
h2 = Entalpi refrigeran saat keluar kompresor (kJ/kg)
b) Efek refrigerasi ( qr )
Untuk menghitung kerja kerja kompresi adalah sebagai berikut :
qr = h1– h4... (2.2) Dimana :
qr = Besarnya panas yang diserap di evaporator (kJ/kg)
h1 = Entalpi refrigeran saat keluar evaporator (kJ/kg)
h4 = Entalpi refrigeran saat masuk evaporator (kJ/kg)
c) Koefisien prestasi ( COP )
COP disebut dengan koefisien prestasi dipergunakan untuk menyatakan
perfomansi dari siklus refrigeransi. Untuk mencari COP menggunakan Persamaan
sebagai berikut:
COP =
��... (2.3)
d) Kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air
Kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :
Qwater = �x Cp x ∆T…....( 2.4 ) Dimana :
ρ = Massa air ( kg/m3 ) V = Volume air (m3) t = Waktu (s)
�p= Kalor spesifik air (J/kg.K)
Tawal = Temperatur air awal (˚C), Takhir= Temperatur air akhir (˚C)
Daya aktual kompresor
Daya aktual kompresor dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
P aktual = V . I . Cos θ….(2.5)
Dimana :
P = Daya aktual kompresor (watt) I = Arus Listrik ( Ampere )
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1. Tempat dan Waktu
Tempat penelitian atau pengujian dilakukan di Kantor Engineering Hotel
Antares Indonesia, Jalan Sisinga Mangaraja Medan. Waktu penelitian atau
pengujian selama 3 bulan.
3. 2. Bahan
Pada penelitian ini, bahan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Pipa tembaga
Pipa tembaga banyak dimanfaatkan di industri pendingin karena memiliki
konduktivitas termal yang baik dan ketahanan terhadap korosi.
Gambar 3. 1. Pipa Tembaga
2. Refrigeran
Untuk terjadinya suatu proses pendinginan diperlukan suatu bahan yang
mudah dirubah bentuknya dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Refrigeran
Gambar 3. 2 Refrigeran R22 Dupont
3. Triplek dan Besi Siku
Sebagai bahan utama untuk rangka dari rumah atau tempat kondensor dan
kompresor
4. Bak penampungan air panas
Bak penampungan yang digunakan adalah bak yang terbuat dari fiberglass,
hal ini dimaksudkan agar dapat menyimpan air dengan suhu tinggi tanpa
kehilangan panas seiring waktu.
Gambar 3.3 Bak penampungan air panas
5. Pipa Sambungan Siku
Digunakan untuk membentuk pipa-pipa tembaga yang akan dibentuk
Gambar 3.4 Pipa Sambungan Siku
3. 3. Alat Ukur Yang Digunakan
Alat-alat ukur yang digunakan pada pengujian alat penukar kalor ini
adalah sebagai berikut :
1. Clamp Meter (Tang Ampere)
Merupakan alat ukur praktis yang bisa dipergunakan dengan mudah saat
pengukuran kuat arus, tanpa harus memutus atau membuat kabel jumper guna
mengetahui berapa besaran kuat arus yang mengalir pada beban rangkaian
elektronik atau listrik.
Gambar 3.5 Clamp Meter
2. Manifold Gauge
Fungsi manifold :
Mengetahui adanya kebocoran pada sistem.
Jumlah manifold gauge yang digunakan pada pengujian mesin ini
sebanyak 5 manifold.
Gambar 3. 6 Manifold Gauge
3. Pengukur Suhu/Temperatur
Untuk mengukur suhu suatu benda yang diinginkan, alat pengukur suhu
yang digunakan untuk pengujian mesin ini sebanyak 6 pengukur.
Gambar 3.7 Alat Pengukur Suhu
3. 4. Peralatan Yang Digunakan 1. Sistem Air Conditioner
Air Conditioner yang digunakan dalam pengujian ini adalah tipe split
dengan daya sebesar 1 PK. Unit indoor, yang terdiri dari evaporator, dan unit
outdoor, yang terdiri dari kompressor, kondensor, dan pipa kapiler. Seluruh
jalur pemipaan (pipping) refrigerant yang ada diisolasi untuk mencegah
kebocoran thermal yang dapat menurunkan performa AC.
Spesifikasi AC :
1 PK
Model : S09LS-1
LG Model : HS-C096QDA3 Power input : 795 Watt
Voltage/Freq : 220-240 V/50 Hz Current : 4.1 A
Refrigerant : R-22 (0.41 kg)
2. Pompa Vakum
Pompa vakum digunakan untuk memvakumkan alat mesin pendingin agar
tidak ada kotoran yang tertinggal didalam sistem pendingin
Gambar 3. 8 Pompa Vakum
Spesifikasi Pompa Vakum :
Merek : ROBINAIR
Model No. : 15601
Kapasitas : 142 l/m
Motor HP : ½
Volt : 110-115 V / 220-250 V
3. Pentil Selang Manifold Gauge
Pentil digunakan sebagai tempat selang manifold gauge agar tekanan dapat
dibaca tanpa ada kebocoran dan dapat dibongkar pasang sehingga lebih
Gambar 3. 9 Pentil Selang Manifold Gauge
4. Las Tembaga dan Las Besi
Untuk menyambung pipa tembaga, menyambungkan pentil selang
manifold dan me-las keperluan lainnya.
5. Flaring Tool
Berfungsi untuk mengembangkan ujung pipa agar dapat disambung
dengan pipa lain atau sambungan berulir.
Gambar 3. 10 Flaring Tool
6. Pemotong pipa tembaga (Tube Cutter)
3. 5. Langkah Pembuatan Water Heater dengan menggunakan Alat Penukar Kalor Tipe Serpentine
3. 5. 1. Pembuatan Rumah Atau Tempat Kondensor dan Kompresor Rangka dari tempat kondensor dan kompresor menggunakan besi siku
ukuran 2cm x 2 cm dengan tebal 2mm dibentuk sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan. Setelah rangka selesai dilas atau dibentuk kemudian pemasangan
triplek setebal 8mm sebagai bodi dari rangka tersebut.
Gambar 3. 12 Pengerjaan Rangka dan bodi Kondensor-Kompresor
Gambar 3.13 Dimensi Tempat Kondensor-Kompressor
3.5.2. Pembuatan Bagian Water Heater
1. Membentuk pipa tembaga menjadi tipe serpentine
Pipa tembaga dibentuk dengan menggunakan pipa sambungan siku agar pipa
tersebut dapat saling menyambung, kemudian di-las disatu sisi setiap sambungan
dengan pipa.
Gambar 3. 15 Pipa tembaga yang telah disambung/di-las
Penelitian ini menggunakan desain pipa serpentine seperti yang terdapat
pada gambar 3.16, dengan menggunakan pipa tembaga berdiameter ¼ inch
dengan 34 laluan dan panjang 4.26 meter.
Gambar 3.16 Alat penukar kalor tipe serpentine
2. Pemasangan pipa tembaga pada bak penampungan air panas
Semua pipa yang disambung dipasang di dalam bak air
3.5.3. Instalasi Alat Pengujian
Alat pengujian terdiri dari system AC dengan aliran refrigerant dihubungkan
dengan penukar kalor tipe serpentine yang berada dalam bak air. Pipa outlet
kompresor dan pipa inlet kondensr dipotong kemudian dihubungkan dengan alat
penukar kalor. Dengan demikian, refrigerant dengan temperature tinggi yang
keluar dari kompressor akan mengalir terlebih dahulu melalui alat penukar kalor
lalu menuju ke kondensor.
Gambar 3.18 Alat Pengujian
Keterangan :
P1 = Tekanan keluaran Evaporator (Psi) T5 = Suhu lingkungan (0C)
P2 = Tekanan keluaran Kompressor (Psi) T6 = Suhu ruangan (0C)
P3 = Tekanan keluaran Kondensor (Psi) T7 = Suhu Air (0C)
P4 = Tekanan keluaran Pipa Kapiler (Psi)
T1 = Suhu keluaran evaporator (0C)
T2 = Suhu keluaran kompressor (0C)
T3 = Suhu keluaran kondensor (0C)
T4 = Suhu keluaran pipa kapiler (0C)
Gambar 3.20 Desain Alat Pengujian
3.6 Prosedur Pengujian.
Prosedur pengujian dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pemasangan alat ukur 5 manifold gauge untuk mengetahui besarnya tekanan
kondensor, pada pipa sesudah kondensor sebelum pipa kapiler, pada pipa
kondensor setelah pipa kapiler dan pada selang pengisian posisi : pada pipa
kompresor, pada pipa sebelum kondensor, pada pipa setelah refrigerant.
2. Pemasangan alat ukur temperature sebanyak 6 dengan kondensor sebelum
pipa kapiler, pada pipa setelah kondensor setelah pipa kapiler, didalam dan
diluar ruangan dan untuk bak penampungan air panas.
3. Pemasangan clamp meter untuk mengetahui besarnya arus listrik yang
digunakan mesin pendingin.
Gambar 3. 21 Pemasangan manifold gauge, pengukur suhu dan clamp meter.
4. Proses pemvakuman dengan menggunakan pompa vakum dengan tujuan agar
kotoran-kotoran yang ada dari sisa pemotongan pipa, saat me-las dapat
terbuang dan tidak terjadi penyumbatan serta dapat mnegetahui adanya
kebocoran. Proses pemvakuman dilakukan selama 15-20 menit
5. Pengisian Refrigeran Dupont R-22.
Pada saat pengisian refrigerant harus menggunakan manifold (keadaan
mesin pendingin telah dihidupkan) dan posisi tabung Freon harus terbalik agar
yang masuk pada mesin pendingin tidak hanya oksigen (angin) saja dan
ditunggu hinga tekanan konstan pada angka 60 Psi (30 menit) setelah itu
pengambilan data bisa dilakukan.
6. Setelah tekanan Freon konstan (60 Psi) maka bak penampungan air panas diisi
dengan air yang sebelumnya telah diukur suhunya, panas pipa tembaga akibat
dari kerja kompressor lambat laun akan memanaskan air yang ada di bak
penampungan air panas,
7. Proses pengambilan data dilakukan 3 kali yaitu : Siang hari : Pukul 13. 00
Sore Hari : Pukul 17. 00 Malam Hari : Pukul 21. 00
Pengambilan data dilakukan selama satu jam setiap 5 menit dan mencatat
semua data dari alat pengukur secara bersamaan.
3.7 Prosedur Pengolahan Data dalam Penelitian Pengolahan data dilakukan dengan beberapa asumsi :
Alat penukar kalor bekerja dalam keadaan steady Tidak ada kebocoran kalor (heat loss) ke lingkungan
Temperatur tiap fluida seragam pada setiap bidang perpotongan pada alat penukar kalor
Kecepatan aliran fluida terdistribusi merata pada sisi masing-masing
Nilai-nilai yang didapat dalam pengolahan data kali ini adalah :
Kalor yang diterima air dapat dihitung dari massa air pada tangki penyimpanan dikalikan dengan massa jenis air dan perbedaan temperatur
air awal & akhir. Kapasitas kalor air yang diambil adalah kapasitor kalor
rata-rata temperatur masuk dan temperatur keluar air.
Kerja kompressor didapatkan dari perkalian arus listrik yang dikonsumsi dengan tegangan listrik PLN.
Coefficient of Performance (COP) menyatakan rasio antara manfaat yang dicapai dengan kerja/usaha yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat
3.8 Flowchart Penelitian
Berikut merupakan tahapan dalam pengujian pendingin kondensor:
Mulai
BAB IV
ANALISA DATA PENELITIAN
Pengolahan data dilakukan sesuai dengan prosedur pengolahan data yang
sudah dijelaskan pada bab III. Pengolahan data dimaksudkan untuk mendapatkan
karakteristik sistem Split-Air ConWater yang diteliti. Data-data yang didapat
diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Pengujian dilakukan dengan
dua kondisi AC yang berbeda, yaitu :
1. Pengujian AC LG 1-PK dalam kondisi standard pabrikan, dimana data
yang diambil akan dijadikan bahan perbandingan dengan
Split-AirConWater.
2. Pengujian AC LG 1-PK yang telah dimodifikasi dengan menggunakan
Alat Penukar Kalor.
Keterangan :
Seperti dibahas pada bab III, sebelum pengujian dilakukan pemakuman
selama 15-20 menit pada kondensor untuk membersihkan dari kotoran dan untuk
mengetahui ada tidaknya kebocoran. Evaporator ditempatkan pada ruangan 6x5 m
dengan beban yang sama antara pengujian standart dan modifikasi.
4.1 Analisa Karakterisasi Split-AirConWater
4.1.1 Pengujian pada Siang Hari
Pada siang hari, temperature air maksimum dapat mencapai 61,6 0C.
Sedangkan temperature refrigerant maksimun tercapai pada 99,3 0C. kondisi
ruangan akan stabil pada temperature 25 0C.
Gambar 4.3 Grafik tekanan pada siang hari Split-AirConWater
Berikut data pada pengujian siang hari.
Tabel 4.1 Data Pengujian AC Split-AirConWater pada Siang Hari
Keterangan :
4.1.2 Pengujian pada Sore Hari
Gambar 4.4 Grafik temperatur pada sore hari Split-AirConWater
Pada sore hari, temperature air maksimum dapat mencapai 61,6 0C.
Sedangkan temperature refrigerant maksimun tercapai pada 95,9 0C. kondisi
Gambar 4.5 Grafik tekanan pada sore hari Split-AirConWater
Berikut data pada pengujian sore hari.
Tabel 4.2 Data Pengujian AC Split-AirConWater pada Sore Hari
P3 = Tekanan keluaran Kondensor (Psi) T4 = Suhu keluaran pipa kapiler (0C)
P4 = Tekanan keluaran Pipa Kapiler (Psi) T5 = Suhu lingkungan (0C)
A = Kuat Arus (Ampere) T6 = Suhu ruangan (0C)
T1 = Suhu keluaran evaporator (0C) T7 = Suhu Air (0C)
4.1.3 Pengujian pada Malam Hari
Gambar 4.6 Grafik temperatur pada malam hari Split-AirConWater
Pada sore hari, temperature air maksimum dapat mencapai 61,1 0C.
Sedangkan temperature refrigerant maksimun tercapai pada 97 0C. kondisi
Gambar 4.7 Grafik tekanan pada malam hari Split-AirConWater
Berikut data pada pengujian malam hari.
Tabel 4.3 Data Pengujian AC Split-AirConWater pada Malam Hari
P3 = Tekanan keluaran Kondensor (Psi) T4 = Suhu keluaran pipa kapiler (0C)
P4 = Tekanan keluaran Pipa Kapiler (Psi) T5 = Suhu lingkungan (0C)
A = Kuat Arus (Ampere) T6 = Suhu ruangan (0C)
T1 = Suhu keluaran evaporator (0C) T7 = Suhu Air (0C)
Penambahan beban pendinginan pada siang hari yang diakibatkan oleh
panas pada dinding-dinding, dan plafon, daripada malam hari yang cenderung
dingin mempengaruhi temperatur air pada bak penyimpanan. Dengan naiknya
beban pendinginan maka kalor yang diserap refrigerant akan meningkat pula
sehingga menaikkan temperature refrigerant itu sendiri. Dengan naiknya
temperature refrigerant maka kalor yang diserap air pun makin meningkat dan
secara langsung menaikkan temperature air tersebut. Untuk pengujian
Split-AirConWater dengan 1 PK menghasilkan temperature yang berkisar diantara 60 0
4.2.1 Perhitungan Daya Kompressor (Qkomp)
Tabel 4.4 Data Perhitungan Qkomp pada AC Split-AirConWater