• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERIZINAN MENDIRIKAN TOKO MODERN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA METRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERIZINAN MENDIRIKAN TOKO MODERN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA METRO"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PERIZINAN MENDIRIKAN TOKO MODERN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

KOTA METRO

Oleh Citra Febria

Pendirian toko modern merupakan upaya pemerintah kota Metro meningkatkan pendapatan asli daerahnya. Menurut Pasal 12 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern untuk mendirikan toko modern wajib memenuhi persyaratan dan memiliki izin. Namun, pada kenyataannya masih ada beberapa toko modern yang tidak memenuhi persyaratan, khususnya pada persyaratan jarak lokasi pendirian toko modern di kota Metro. Permasalahan penelitian adalah bagaimanakah perizinan mendirikan toko modern di kota Metro dan bagaimanakahkah kontribusi toko modern terhadap pendapatan asli daerah kota Metro.

Metode pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Pendekatan yuridis normatif empiris adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara mempelajari bahan-bahan pustaka yang berupa literatur dan perundang-undangan serta menggali informasi dan melakukan penelitian dilapangan guna mengetahui informasi lebih jauh mengenai permasalahan yang dibahas.

(2)

Citra Febria

kontribusinya adalah pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan, sedangkan yang terkecil adalah pajak air tanah. Penerimaan pajak toko modern tersebut menyumbang sebesar 2,83% pada pajak daerah kota Metro. Sedangkan kontribusi pajak toko modern terhadap PAD kota Metro pada bulan Maret 2015 sebesar 0,36%. Realisasi penerimaan pajak toko modern tersebut dapat mendorong peningkatan PAD kota Metro.

(3)

ABSTRACT

LICENSING STARTING A MODERN SHOP AND ITS CONTRIBUTION REVENUE REGION CITY METRO

By Citra Febria

The establishment of a modern store Metro city government efforts increase local revenue. According to Article 12 of the Republic of Indonesia Presidential Decree No. 112 of 2007 on the Management and Development of Traditional Markets, Shopping Centers and Modern Stores to establish a modern store should meet the requirements and have a license.However, in reality there are still some modern stores that do not meet the requirements, particularly the requirements of the location within the establishment of modern stores in the city Metro. The research problem is how the permit to construct modern stores in the city Metro and how contribution to modern shop on revenue the city Metro.

Methods of approach to the problem used in this thesis is a normative juridical approach and empirical jurisdiction. Normative juridical empirical approach is the approach taken by studying the materials library in the form of literature and legislation as well as gather information and conduct field research to determine more information about the issues discussed.

(4)

Citra Febria

contributions to PAD Metro city in March 2015 amounted to 0.36%. The realization of tax revenues modern stores can boost the city's Metro PAD.

(5)

PERIZINAN MENDIRIKAN TOKO MODERN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

KOTA METRO

Oleh CITRA FEBRIA

Skripsi

Sebagaisalahsatusyarat untukmencapaigelar SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Administrasi Negara FakultasHukumUniversitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap penulis adalah Citra Febria, penulis dilahirkan di Kotabumi pada tanggal 4 Februari 1994. Penulis merupakan anak pertama dari enam bersaudara, dari pasangan bapak Herman Toni dan Ibu Zulmaida.

Penulis mengawali pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) A'isiyah 1 Kotabumi pada tahun 1998, penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar di SDN 4 Tanjung Aman pada tahun 1999 hingga tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 3 Kotabumi pada tahun 2005 hingga tahun 2008 dan Sekolah Menengah Atas di SMA N 1 Kotabumi pada Tahun 2008 hingga tahun 2011.Penulis terdaftar sebagai mahasiwi Fakultas Hukum melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2011.

(9)

Atas Ri

tempatku

Ridho Allah S

Kedua o

A

ku memperol

P

h SWT dan d

sk

orang tuaku

Almamater t

oleh ilmu dan

langkah

PERSEMB

dengan segal

skripsiku ini

u tercinta He

r tercinta Uni

an merancang kahku menuju BAHAN gala kerendah ni kepada: erman Toni niversitas La

ang mimpi ya

ju kesuksesa

ahan hati kup

i dan Zulmai

Lampung

yang menjadi

san.

upersembahka

aida.

di sebagian je kan

(10)

MOTO

“Sekiranya air laut sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya laut itu kering sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, walaupun Kami

datangkan tambahan sebanyak itu (lagi)”

(Qs Al Kahfi: 109)

"Hukum bernilai bukan karena itu adalah hukum, melainkan Karena ada kebaikan di dalamnya"

(Henry Ward Beecher)

(11)

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Perizinan Mendirikan Toko Modern dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Metro”

sebagaisalahsatusyaratuntukmemperolehgelarSarjanaHukum di Fakultas Hukum Universitas Lampungdi bawah bimbingan dari dosen pembimbing serta atas bantuan dari berbagai pihak lain. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung.

2. Ibu Upik Hamidah selaku Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung dan selaku Pembahas I yang telah memberikan kritik dan saran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

(12)

pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Agus Triono, S.H., M.H., PembimbingII yang telah bersedia untuk meluangkan waktunya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini.

5. Ibu Ati Yuniati, S.H., M.H., Pembahas II yang telah memberikan kritik, saran, danmasukan yang membangun terhadap skripsi ini dan sebagai Pembimbing Akademik, yang telah membantu penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

6. Seluruh dosen dan karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan studi. 7. Bapak Suroto selaku Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Penanaman Modal

Terpadu Satu Pintu Kota Metro, Bapak Edi Yusmanto selaku Kepala Bagian Pembukuan Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, dan Ibu Anita selaku Kepala Bagian Perdagangan Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro yang telah membantu dan bersedia menjadi narasumber dalam penulisan skripsi ini. 8. Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda

(13)

9. Anakku Azka Abyan Hawwari, dan alm. Adella Kirana Dwi Putri, kegembiraan kalian adalah semangat terbesar Bunda dalam menyelesaikan skripsi ini.

10.Adik-adikku Fina Oktarina, Bripda Fini Oktarini, Marisa puspita Putri, Cynthia Zahra, dan M. Hafiz Nugrahaterimakasih atas semua dukungan moril, motivasi, kegembiraan, dan semangatnya.

11.Sahabat-sahabat Ines, Indra Budhi, Herra , Iis Priyatun,S.H., Kresna, Johanna , Ika Ristia, Andi MS ,S.H, Andika , Dhaniko, Beni Prawira, Aminah Camila,Adies, Heri, Tari, dan Rekas.

12.Seluruh teman-teman KKN Tematik 2014 di Tambah Luhur dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, terimakasih atas semua bantuan dan dukungannya.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas jasa dan budi baik yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsiini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Bandar Lampung, Juli 2015 Penulis,

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

RIWAYAT HIDUP ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

SANWACANA ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah... 7

1.3. Ruang Lingkup ... 7

1.4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

1.4.1. Tujuan Penelitian ... 8

1.4.2. Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perizinan ... 10

2.2. Pembangunan... 14

2.2.1. Pembangunan Ekonomi ... 15

2.2.2. Tindakan Hukum Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi 19 2.3. Otonomi Daerah dan Implikasinya Dalam Pembangunan ... 21

2.4. Toko Modern ... 24

2.5. Pendapatan Daerah sebagai Sumber Pembiayaan Daerah ... 25

2.6. Kontribusi ... 28

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Masalah ... 31

3.2. Sumber Data ... 32

3.3. Prosedur Pengumpulan dan PengolahanData ... 35

3.3.1. Prosedur Pengumpulan Data ... 35

3.3.2. Prosedur Pengolahan Data ... 36

(15)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. GambaranUmum ... 38

4.2. Perizinan Mendirikan Toko Modern di kota Metro ... 39

4.2.1. Persyaratan Mendirikan Toko Modern di kota Metro ... 39

4.2.2. Prosedur Penerbitan Izin Mendirikan Toko Modern ... 52

4.3. Kontribusi Toko Modern Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Metro ... 56

4.3.1. Kontribusi Perizinan Toko Modern Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Metro ... 57

4.3.2. Kontribusi Pajak Toko Modern Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Metro ... 61

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 67

5.2. Saran ... 68

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara yang masih berkembang, yang terus

melakukan pembangunan nasional di segala aspek kehidupan yang tujuannya

untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mewujudkan kesejahteraan

rakyat Indonesia.Pembangunan tersebut sangat diharapkan agar dapat

dilaksanakan secara merata bagi seluruh rakyat Indonesia yang sesuai dengan sila

ke-5 dalam Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan nasional pada hakekatnya merupakan upaya dalam meningkatkan

kapasitas pemerintah secara profesional untuk memberikan pelayanan yang baik

kepada masyarakat, serta dapat mengelola sumber daya didalamnya untuk

kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Pemerintah

berupaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui upaya

pertumbuhan ekonomi yang mencerminkan keberhasilan suatu pembangunan

yang ditekankan pada upaya peningkatan daya guna pembangunan sesuai dengan

potensi dan prioritas daerah. Pembangunan diarahkan untuk mendukung upaya

pemerataan kesejahteraan masyarakat, menyediakan lapangan pekerjaan dan

(17)

Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional yang

tidak dapat dilepaskan dari prinsip otonomi daerah yang titik beratnya diletakkan

pada daerah kabupaten/kota. Sebagai daerah otonom, daerah mempunyai

wewenang dan tanggung jawab menyelenggarakan kepentingan daerahnya

berdasarkan prinsip keterbukaan, partisipasi masyarakat, pertanggungjawaban

kepada masyarakat, berkeadilan, jauh dari politik, korupsi, kolusi dan nepotisme,

serta adanya perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah

daerah.

Dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengatur bahwa Negara

Republik Indonesia menganut asas desentralisasi. Asas tersebut berarti

memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk dapat

menyelenggarakan otonomi daerah dengan sebaik-baiknya.

Proses desentralisasi pemerintahan di Indonesia dilakukan oleh pemerintah pusat

terhadap pemerintah daerah sebagai wujud nyata dari pelaksanaan otonomi

daerah. Proses ini dilakukan agar pemerintah daerah bisa mandiri dengan

mengurus urusan penyelenggaraan pemerintahan daerahnya sendiri sesuai dengan

peraturan perundang-undangan. Tujuan yang dicapai dalam proses ini antara lain

untuk menumbuhkembangkan daerah dalam berbagai bidang, meningkatkan

pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan daya saing daerah dalam proses

pertumbuhan.1 Proses ini juga bertujuan untuk membantu pemerintahan pusat

dalam menjalankan pemerintahan daerah agar dapat membiayai pembangunan di

daerah tersebut. Pemerintah daerah dituntut mengoptimalkan keuangan daerah

1

HAW. Widjaja, Otonomi Daerah dan Daerah Otonom, Jakarta: Raja Grafindo Persada,

(18)

untuk kelangsungan pembangunan, dengan demikian, maka masalah keuangan

merupakan indikator utama bagi pemerintah daerah, bila tidak demikian, maka

pemerintah daerah tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Keuangan

inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata

kemampuan daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

Proses desentralisasi ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah yangmenyatakan bahwa Pemerintah Pusat memiliki

hubungan keuangan dengan daerah untuk membiayai penyelenggaraan urusan

Pemerintahan yang diserahkan dan/atau ditugaskan kepada Daerah. Dalam

menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan yang diserahkan dan/atau

ditugaskan, penyelenggara pemerintahan daerah mempunyai kewajiban dalam

pengelolaan keuangan daerah. Daerah dalam penyelenggaraan urusan

pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat memiliki hubungan

keuangan dengan daerah yang lain. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang

menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah. Dan pengelolaan keuangan daerah merupakan bagian yang

tidak terpisahkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi

kewenangan daerah sebagai akibat dari penyerahan urusan pemerintahan.

Sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan desentralisasi adalah pemberian

sumber-sumber penerimaan atau pendapatan bagi daerah yang dapat digali dan

(19)

Sumber Pendapatan Asli Daerah tersebut terdiri dari:2

1. Pajak Daerah;

2. Retribusi Daerah;

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan; dan

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah.

Pemerintah berupaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat

melalui upaya pertumbuhan ekonomi yang mencerminkan keberhasilan suatu

pembangunan yang ditekankan pada upaya peningkatan daya guna pembangunan

sesuai dengan potensi dan prioritas daerah. Upaya tersebut dilakukan untuk

pemerataan kesejahteraan masyarakat, menyediakan lapangan pekerjaan dan

meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan. Peranan

pemerintah daerah adalah sebagai fasilitator pembangunan di daerah yang

berusaha menghimpun dana sebanyak-banyaknya untuk pelaksanaan

pembangunan, disamping itu peranan masyarakat juga tidak kalah pentingnya dari

penyelenggaraan pembangunan di setiap daerahnya masing-masing, termasuk

pembiayaan pembangunan yang harus ditumbuhkan dengan adanya kesadaran

masyarakat yang melihat bahwa pembangunan merupakan hak dan kewajiban,

serta tanggungjawab semua masyarakat Indonesia.

Pemerintah daerah harus berupaya menggali sumber-sumber pendapatan untuk

daerah. Dalam menggali berbagai sumber pendapatan daerah, haruslah

disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya dengan berdasarkan pada

peraturan daerah. Semakin tinggi pendapatan asli daerah, maka semakin tinggi

2

(20)

pula kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhannya sendiri. Hal

ini berarti membuktikan bahwa pemerintah daerah telah berhasil

menyelenggarakan otonomi daerah. Begitupun sebaliknya, jika pendapatan asli

daerah yang didapat pemerintah daerah semakin sedikit atau mengalami

penurunan, maka penyelenggaraan otonomi daerah belum maksimal.

Kota Metro yang merupakan salah satu kota di Provinsi Lampung juga berupaya

meningkatkan pendapatan asli daerahnya. Untuk kelangsungan dan kemajuan

Kota Metro, makadiharapkan pemerintah daerah Kota Metro mampu menggali,

mengelola, dan memaksimalkan potensi sumber-sumber pendapatan daerah yang

ada di Kota Metro. Salah satunya upaya peningkatan pendapatan asli daerah Kota

Metro adalah dari sektor perekonomian dan perdagangan.

Peningkatan dari sektor perekonomian dan perdagangan tersebut dapat dilakukan

dengan upaya pendirian toko modern. Menurut Pasal 12 Peraturan Presiden

Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan

Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, danToko Modern untuk mendirikan toko

modern wajib memenuhi persyaratan dan memiliki izin.Keseluruhan maksud dan

tujuan pengaturan tersebut dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan,

keseimbangan, keserasian, pertumbuhan toko modern yang semakin meningkat

perlu diikuti dengan peningkatan kepastian usaha dan tata tertib usaha. Namun,

pada kenyataannya masih ada beberapa toko modern yang tidak memenuhi

persyaratan, khususnya pada persyaratan jarak lokasi pendirian toko modern di

(21)

Pendirian toko modern merupakan upaya meningkatkan pendapatan asli daerah

kota Metro, yang secara umum target Pendapatan Asli Daerah kota Metro sebesar

Rp.87.389.079.103 dan terealisasi Rp. 96.864.738.970,36 atau 110,84%.

Realisasi PAD yang telah tercapai tersebut terdiri dari sumbangan 11 pajak daerah

sebesar 110,93% dari target Rp. 11.400.000.000, dari retribusi daerah terealisasi

Rp. 114,38% dari target Rp. 4.691.927.250.Sedangkan target PAD Pemerintah

kota Metro tahun anggaran 2015 sebesar Rp 91.429.183.655. Dengan rincian hasil

pajak daerah Rp.12.735.500.000, hasil retribusi dan jasa umum Rp.

5.480.884.000.3

Melihat potensi dari komponen pajak yang cukup besar, maka pengelolaannya

memang harus dioptimalkan. Pengelolaan pajakdaerah kota Metro diatur di dalam

Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 9 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah, Peraturan Walikota Metro Nomor 42 Tahun 2014 tentang

Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun

Anggaran 2015, dan Peraturan Walikota Metro Nomor 1 Tahun 2015 tentang

Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2015.

Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, maka pengelolaan pajak daerah kota

Metro harus dilaksanakan dengan supaya memperoleh pemanfaatan hasil yang

optimal untuk kesejahteraan bersama. Pengelolaan pajak dapat dilakukan dengan

cara mengoptimalkan kinerja pemerintah daerah dalam pendirian toko modern,

baik melalui upaya peningkatan pungutan pajak melalui perbaikan atau

peningkatan sistem pungutantoko modern, perbaikan sarana dan prasaranapada

3

(22)

toko modern, dan peningkatan sumber daya aparat pada toko modern, baik secara

kualitas maupun kuantitas.

Melihat latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk membahas tentang

“Perizinan Mendirikan Toko Modern Dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Metro”.

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan pokok yang akan di bahas di dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Bagaimanakah perizinan mendirikan toko modern di kota Metro?

2. Bagaimanakah kontribusi toko modern terhadap Pendapatan Asli Daerah

Kota Metro ?

1.3. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian dari bidang Hukum Administrasi

Negara (HAN), khususnya pada bidang perizinan terkait dengan persyaratan dan

prosedur perizinan mendirikan toko modern dan kontribusinya terhadap PAD

Kota Metro. Penelitian ini dilakukan pada Dinas Perdagangan dan Pasar Kota

Metro, Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, Dinas Tata Kota dan Pariwisata

Kota Metro, dan Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

(23)

1.4. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian 1.4.1.Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

a. Untuk mengetahui perizinan mendirikan toko modern di Kota Metro.

b. Untuk mengetahui kontribusi toko modern terhadap Pendapatan Asli

Daerah Kota Metro.

1.4.2.Kegunaan Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoritis

a. Menambah informasi, wawasan, dan pengetahuan mengenaiperizinan

mendirikan toko modern dan kontribusinya terhadap PAD Kota Metro

dengan menerapkan dan mengaplikasikan Ilmu Hukum Administrasi

Negara yang diperoleh selama perkuliahan.

b. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan

pemikiran mengenai pengembangan dimensi Hukum Administrasi

Negara dan dapat dijadikan referensi bagi pengkaji hukum yang lain.

2. Kegunaan Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan

pemerintah daerah lainnya dalam meninjau kembaliperizinan pada

(24)

b. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat agar masyarakat lebih tahu

mengenai fungsi utama perizinan, sehingga dapat menganalisa

kegunaan dan peruntukkannya agar terjadi kemudahan dalam

perizinan.

c. Sebagai pemenuhan salah satu syarat akademik bagi peneliti untuk

menyelesaikan studi Strata satu (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perizinan

Perizinan adalah perbuatan hukum administrasi Negara bersegi satu yang

menghasilkan peraturan dalam hal konkret berdasarkan persyartan dan prosedur

sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku.4 Izin

merupakan suatu persetujuan dari seseorang atau badan yang bersifat

memperbolehkan untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan peraturan yang

berlaku dan mempunyai sanksi jika ketentuan yang terdapat dalam izin yang

dilanggar.5 Menurut WF. Prins, yang dikutip oleh Soehino dalam bukunya,

memberikan pengertian izin sebagai berikut: "Pernyataan yang biasanya

dikeluarkan sehubungan dengan suatu perbuatan yang pada hakekatnya harus

dilarang tetapi hal yang menjadi objek dan perbuatan tersebut menurut sifatnya

tidak merugikan dan perbuatan itu dapat dilaksanakan asal saja di bawah

pengawasan alat-alat perlengkapan Administrasi Negara".6

Berdasarkan beberapa pengertain di atas, secara umum izin adalah keputusan

pejabat administrasi yang berwenang yang memperbolehkan untuk melakukan

suatu perbuatan yang dilarang peraturan perundang-undangan setelah

4

Sjachran Basah, Pencabutan Izin Sebagai Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi Negara, Surabaya:FH UNAIR, 1995, hlm. 4.

5

Purwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1996, hlm. 24. 6

(26)

terpenuhinya syarat-syarat yang telah ditentukan oleh perundang-undangan,

sehingga terlibat hubungan hokum. Dapat diketahui bahwa izin merupakan

persetujuan yang dikeluarkan dari penguasa yang berfungsi sebagai alat

perlengkapan administrasi Negara yang pemberiannya berdasarkan peraturan

perundang-undangan. Pada umunya system izin terdiri atas larangan, persetujuan

yang merupakan dasar pengecualian dan ketentuan-ketentuan yang berhubungan

dengan izin.

Di dalam perspektif Prajudi Atmo Sudirjo, mengenai fungus-fungsi hokum

modern, izin dapat juga diletakkan pada fungsi menertibkan masyarakat,

ketetapan yang berupa izin diberikan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan

bagi para warga. Tentu saja tidak ada gunaya apa yang telah tertuang dalam

ketetapan tersebut, apabila tidak dipaksaan izin tersebut.7

Perizinan menurut perundang-undangan yang telah ditetapkan, selalu memuat

ketentuan-ketentuan penting yang melarang warga masyarakat yang bertindak

tanpa izin. Sehubungan dengan ketentuan tersebut sebagai konsejuensinya, maka

dalam rangka penegakan hokum yang bersangkutan, dilengkapi pula dengan

adanya ketentuan sanksi. Sanksi ini merupakan bagian penutup yang terpenting

adil dalam hokum termasuk hokum admnistrasi, karena setiap peraturan

perundang-undangan yang memuat perintah atau larangan, apabila tidak disertai

sanksi, maka efektifitas dari peraturan tersebut tidak lagi mempunyai daya paksa.

7

(27)

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, sebagaimana ditegaskan oleh Sjachran

Basah8, bahwa sanksi merupakan bagian terpenting dalam setiap undang-undang,

adanya perintah dan larangan yang dimuat dalam setiap undang-undang, tidak

mempunyai arti apabila tidak mempunyai daya paksa untuk dilaksanakan. Hal ini

lebih jelas bahwa mengatur itu bersifat jenis peraturan perundang-undangan yang

dikategorikan memaksa. Apabila terjadi suatu pelanggaran terhadapa peraturan

perundang-undangan harus dikenai sanksi.

Lalu ditegaskan pula bahwa unsur-unsur izin antara lain:9

1. Alat kekuasaan (machtsmiddelen).

2. Bersifat hokum public (publiekerchtlijke).

3. Digunakan oleh penguasa (overhead).

4. Sebagai reaksi ketidakpatuhan (recht eop niet naleving).

Sedangkan sanksi pada umumnya yang dikenal dalam lapangan hokum

administrasi adalah:10

1. Bestuursdwang (tindakan paksa pemerintah).

2. Penarikan kembali Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) yang

menguntungkan.

3. Pengenaan pidana sanksi dan atau pidana kurungan.

4. Pengenaan yang paksa oleh pemerintah (dwangsom).

Sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintah Daerah, dimana daerah diberi kekuasan atau wewenang mengatur

8

Sjachrab Basah, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi di Indonesia, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998, hlm. 58.

9 Ibid. 10

(28)

rumah tangganya sendiri dan dengan demikian pemerintah daerah harus

membiayai pengeluarannya dengan menggunakan pendapatan daerahnya karena

pemerintah pusat tidak mungkin menanggung seluruh pengeluaran daerah yang

ada. Dengan adanya kondisi tersebut, maka pemerintah daerah memberlakukan

suatu ketentuan tentang perizinan yang dapat menambah pendapatan daerahnya

serta untuk menjalankan tertib administrasi. Izin yang dapat diberlakukan oleh

pemerintahan daerah yaitu:11

1. Izin Penyelenggaraan Reklame.

2. Izin Mendirikan Bangunan.

3. Izin Gangguan/HO.

4. Surat izin Usaha Perdagangan (SIUP).

5. Wajib Daftar Perusahaan (TDP).

6. Tanda Daftar Gudang (TDG).

7. Izin pembuangan Limbah Cair.

8. Izin Trayek.

9. Izin Usaha Industri.

10.Tanda Daftar Industri.

11.Izin Penumpukan Kayu.

12.Izin Penyelenggaraan Lembaga Pelayanan Kesehatan.

13.Izin Sertifikasi Laik Sehat.

14.Izin Penyelenggaraan Kursus.

15.Izin Lembaga Pelatihan Kerja.

16.Izin Usaha Kepariwisataan.

11

(29)

17.Izin Usaha Jasa Konstruksi.

18.Izin Usaha Pemondokan.

19.Izin Usaha PAUD.

20.Izin Produksi Pangan Rumah Tangga.

21.Izin Pengelolaan Air Tanah

22.Izin Pendirian SPBU.

23.Izin Pengumpulan Pelumas Bekas.

24.Izin Pendirian Depot Lokal.

25.Izin Pengendalian Menara.

2.2. Pembangunan

Pengertian pembangunan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses,

cara, perbuatan membangun. Sedangkan TAP MPR No. IV/MPR/1999 tentang

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 menjelaskan bahwa

pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan

masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan

kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global.

Oleh karena itu, pembangunan merupakan bentuk dan perubahan sosial yang

terarah dan terencana. Pembangunan dilakukan dengan melalui berbagai macam

kebijakan yang kemajuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.

Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi,

(30)

mikro(community/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya

kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diverifikasikan.

2.2.1. Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan dalam pendapatan total dan

pendapatan per kapita dengan menghitung adanya pertambahan penduduk disertai

adanya perubahan fundamental (perubahan mendasar) dalam struktur ekonomi12.

Pembangunan ekonomi tidak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic

growth). Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan

sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.

Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses peningkatan

produksi perkapita yang berlangsung terus-menerus dari tahun ketahun dalam

kurun waktu yang panjang di suatu Negara. Pertumbuhan ekonmi dikatakan

meningkat apabila terjadi kenaikan Gross National Bruto (GNP) riil dari tahun ke

tahun sebelumnya.13 Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi

keberhasilan pembangunan ekonomi.

Di sini terdapat 3 (tiga) elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan

ekonomi, yaitu :14

a. Pembangunan sebagai suatu proses.

12

Sukwiaty, Sudirman Jamal, dan Slamet Sukamto, Ekonomi, Jakarta: Yudistira, 2002, hlm. 28.

13

Ibid, hlm. 38. 14

(31)

Pembangunan sebagai suatu proses, artinya bahwa pembangunan

merupakan suatu tahap yang harus dijalani oleh setiap masyarakat atau

bangsa.

b. Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita

Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus

dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan

perkapita. Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat,

pemerintah, dan smuua elemen yang terdapat dalam suatu negara untuk

berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Hal ini dilakukan karena

kenaikan pendapatan perkapita mencerminkan perbaikan dalam

kesejahteraan masyarakat.

c. Peningkatan pendapatan perkapita hams berlangsung dalam jangka panjang

Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila

pendapatan perkapita dalam jangka panjang cenderung meningkat. Hal ini

tidak brauti bahwa pendapatan perkapita harus mengalami kenaikan terus

menerus.

Ada 2 (dua) faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan

ekonomi,yaitu:15

a. Sumber daya manusia

Sumber daya manusia ialah faktor produksi yang penting. Sumber daya

manusia bisa melakukan dua peran dalam proses produksi untuk

15

Eeng Ahman dan Epi Indriyani, Membina Kompetensi Ekonomi, Bandung: Grafindo

(32)

menciptakan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, yaitu sebagai

tenaga kerja dan sebagai pengusaha (orang yang akan mengombinasi

seluruh factor produksi dalam proses produksi). Dalam proses pelaksanaan

pembangunan, sumber daya manusia senantiasa dituntut untuk terus

meningkatkan kualitas, berupa peningkatan kualitas ilmu pengetahuan,

teknologi, keterampilan, dan pola piker masyarakat.

b. Sumber daya alam

Faktor produksi alam (sumber daya alam) ialah factor penentu

pembangunan ekonomi. Hal-hal yang termasuk sumber daya alam yaitu

tanah, air, udara, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral, dan segala sesuatu

yang ada di alam. Tanpa faktor alam yang cukup, pembangunan ekonomi

tidak akan terjadi.

c. Modal

Bagi Negara-negara yang sedang berkembang, kekurangan modal

merupakan penghambat pembangunan. Para ahli ekonomi dunia sepakat

agar dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi, Negara berkembang

harus dapat memutus lingakran setan kemiskinan. Salah satu cara yang

bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu dengan pembentukan

dan pengembangan investasi serta pengembangan keahlian tenaga kerja.

Pada akhirnya pendapatan Negara berkembang akan meningkat. Tanpa

mampu melakukan pembentukan modal dan investasi, pemabngunan

ekonomi di Negara berkembang akan tetap tertinggal.

(33)

Dengan teknologi, proses produksi akan lebih cepat dan akan mampu

menghasilkan produk yang kualitasnya lebih baik dengan penggunaan

biaya lebih murah Teknologi canggih akan membantu peningkatan

efektivitas dan efesiensi produksi. Dengan demikian, teknologi akan

memberi nilai tambah terhadap proses pertumbuhan dan pembangunan

ekonomi yang dilakukan suatu negara.

Dalam pembangunan ekonomi di suatu negara ada 2 (dua), yaitu:16

a. Dampak pembangunan ekonomi terhadap pertumbuhan penduduk

Pertumbuhan penduduk yang disertai peningkatan pendapatan menjadi

faktor pendorong perekonomian. Pertambahan penduduk akan

mengakibatkan peningkatan permintaan secara umum. Hal ini akan

merangsang perluasan produksi yang pada akhirnya akan meningkatkan

investasi. Peningkatan investasi akan membuat dunia usaha semakin maju

dan pendapatan masyarakat meningkat.

b. Dampak pembangunan ekonomi terhadap lingkungan hidup

Pembangunan ekonomi dapat berdampak positif dan berdampak negatif

terhadap lingkungan hidup.

1) Dampak positif pembangunan ekonomi

a) Pembangunan ekonomi dapat menigkatkan taraf hidup.

b) Pembangunan ekonomi dapat memanfaatkan sumber daya alam

yang potensial menjadi riil.

c) Pembangunan ekonomi dapat meningkatkan persediaan

barang-barang kebutuhan masyarakat.

16

(34)

d) Pembangunan ekonomi dapat membantu mempermudah

masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.

e) Pembangunan ekonomi dapat menyediakan kebutuhan sesuai

dengan tuntutan zaman.

2) Dampak negatif pembangunan ekonomi

a) Pembangunan ekonomi dapat mengakibatkan kepunahan sumber

daya alam, jika pemanfaatan sumber daya alam tidak bertanggung

jawab.

b) Pembangunan ekonomi dapat menyebabkan pencemaran

lingkungan hidup.

c) Pembangunan ekonomi dapat menyebabkan kerusakan fisik

lingkungan hidup.

d) Akibat pencemaran dan pemanfaatan sumber daya alam yang

tidak bertanggung jawab, akan mengakibatkan bencana alam dan

penurunan tingkat kesehatan masyarakat.

e) Pada sebagian negara, pembangunan ekonomi yang tidak merata

menyebabkan kesenjangan ekonomi.

2.2.2. Tindakan Hukum Pemerintah dalam Pembangunan

Pembangunan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang

(35)

pendidikan terkait dengan fungsi pemerintah daerah sebagai agent of

development, agent of change, and agent of regulation.17

Dalam fungsinya yang demikian, pemerintah daerah berkepentingan terhadap

izin-izin pembangunan. Izin-izin tersebut dilakukan agar tidak terjadi

kekacau-balauan dalam penataan ruang kota, dan merupakan bentuk pengendalian

penggunaan ruang kota.

Menyinggung soal dampak pembangunan di bidang pertokoan, mall, tempat

hiburan, perumahan, dan bangunan lainnya, saat ini sangat diperlukan pengaturan

dalam rangka pengendalian dampak pembangunan, yang meliputi dampak

lingkungan, Impacr fee, dan Traffic Impact Assement. Impact fee adalah biaya

yang harus dibayar pengembang oleh pemerintah pusat kota akibat dari

pembangunan yang mereka laksanakan. Yang dimaksud dengan Traffic Impact

Assement adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh pengembang untuk

melakukan kajian analisis tentang dampak lalu lintas. Kajian tersebut harus dapat

menggambarkan kinerja jaringan jalan sebelum dan setelah ada pembangunan dan

dampak yang diakibatkannya, kemudian bagaimana mencari solusi untuk

mengatasinya18. Pencegahan dampak tersebut dalam pengelolaan perkotaan harus

dilakukan secara baik, terintegrasi dan holistik untuk mencegah berbagai dampak

tersebut melalui pertimbangan berbagai aspek dalam prosedur perizinan.

Sebagai landasan agar bangunan gedung dapat diwujudkan dan diselenggarakan

sesuai yang ditetapkan, serta sebagai wadah kegiatan manusia yang memenuhi

17

Adrian Sutedi, Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik, Jakarta: Sinar Grafika, 201 1, hIm. 222.

18

Ismail Zubir, Zoning Regulation: Instrimen yang Diperlukan Dalam Rangka Reformasi

(36)

nilai-nilai kemanusiaan yang berkeadilan, termasuk aspek kepatuhan dan

kepantasan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan bangunan

gedung yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2000 tentang

Bangunan Gedung, yaitu persyaratan kendala teknis untuk menjamin keselamatan

pemilik dan pengguna bangunan gedung, serta masyarakat di lingkungan di

sekitarnya, disamping persyaratan yang bersifat administratif. Di samping itu,

setiap bangunan gedung tidak boleh mengganggu kesenjangan ekosistem dan

lingkungan di sekitar bangunan gedung.

2.3. Otonomi Daerah dan Implikasinya Dalam Pembangunan

Dalam Karnus Besar Bahasa Indonesia, implikasi adalah keterlibatan atau

keadaan terlibat. Dalam Bahasa Indonesia, implikasi adalah efek yang

ditimbulkan di masa depan atau dampak yang dirasakan ketika melakukan

sesuatu.

Implikasi bila didefinisikan bisa disebut sebagai akibat langsung atau konsekuensi

dan temuan dan hasil atas suatu penelitian. Secara bahasa, kata implikasi

mempunyai makna yang cukup luas sehingga maknanya cukup beragam.Implikasi

didefinisikan sebagai suatu akibat yang terjadi karena sesuatu hal. Implikasi

memiliki makna bahwa sesuatu yang telah tersimpul atau disimpulkan dalam

suatu penelitian yang lugas dan jelas. Kebanyakan pengertian implikasi

inimemang dipandang dari sebuah penelitian sehingga sulit diartikan secara

jelas.Suatu implikasi dapat digunakan untuk membandingkan hasil penelitian

(37)

Ada 3 (tiga)jenis implikasi yang sering digunakan dalam keperluan penelitian dan

lainnya. Ketiga implikasi tersebut adalah sebagai berikut:19

1. Implikasi teoritis

Seorang peneliti menyajikan gambar secara lengkap mengenai implikasi

teoritis dari sebuah penelitian dengan tujuan untuk meyakinkan pengjui

pada kontribusi ilmu pengetahuan maupun teori yang digunakan dalam

menyelesaikan sebuah masalah penelitian.

2. Implikasi manajeral

Peneliti menyajikan implikasi tentang berbagai kebijakan yang mampu

dihubungkan dengan berbagai macam temuan yang diperoleh dari sebuah

penelitian. Implikasi ini dapat memberikan suatu kontribusi yang praktis

untuk manajemen.

3. Implikasi metedologi

Bersifat operasional dan mampu manyajikan refleksi penulis mengenai

metodologi yang akan dipakai mengenai penelitian yang telah dilakukan.

Sebuah penelitian mampu menyajikan pendekatan-pendekatan yang bisa

dipakai dalam sebuah penelitian lanjutan dan penelitian lain dengan fungsi

mempermudah atau meningkatkan mutu dari penelitian itu sendiri.

Dari definisi-definisi dan pengertian-pengertian impliksi di atas, maka di dalam

sub bab ini, definsi implikasi yaitu akibat langsung atau konsekuensi dari otonomi

daerah dalam pembangunan.

19

(38)

Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan

aspirasi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hokum yang mempunyai

batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat

setempat menurut praksarsa sendiri berdsarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemerintah daerah dengan otonomi adalh proses peralihan dari system

dekosentrasi ke sistem desentralisasi. Otonomi adalah penyerahan urusan

pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersifat operasional dalam

rangka sistem birokrasi pemerintahan. Tujuan otonomi adalah mencapai efesiensi

dan efektifitas dalam pelyanan kepada masyarakat.20

Peranan masyarakat sangat penting dalam pembangunan daerah. Perlu disadari

tanpa meningkatkan partisipasi masyarakat, otonomi akan kehilangan makna

sasarnya. Maka melalui otonomi, pemerintah daerah mempunyai peluang yang

lebih besar untuk mendorong dan memberi motivasi membangun daerah yang

kondusif, sehingga akan muncul kreasi masyarakat yang dapat bersaing dengaan

daerah lain. Oleh Karena itu, pembangunan daerah yang sebagai bagian integral

dari pembangunan nasional tidak bisa dilepskan dari prinsip otonomi daerah.

Sebagai daerah otonom, daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab

menyelenggarkan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip keterbukaan,

partisipasi masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.

20

(39)

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa implikasi otonmi daerah dalam

pembangunan sangat berperan dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi

dalam pelayanan publik, meningkatkan pertumbuhkan ekonomi dan mewujudkan

kemajuan pembangunan di seluruh daerah secara merata.

2.4. Toko Modern

Seiring dengan meningkat dan majunya perekonomian secara global, termasuk

Indonesia, ada kecenderungan masyarakat lebih suka berbelanja di toko yang

dikelola secara modern. Masyarakat dengan gaya hidup modern sekarang lebih

menyukai pasar-pasar dengan sistem pengelolaan secara modern, mudah, bersih,

nyaman, praktis, dan memiliki pilihan barang yang lengkap.

Menurut Pasal 1 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007

tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko

Modern Toko Modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual

berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk Minimarket, Supermarket,

Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk Perkulakan. Pada

took modern penjual dan pembeli tidak bertransaksi langsung melainkan pembeli

melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam

bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayanai

oleh pramuniaga.21

Secara kuantitas, toko modern umumnya mempunyai persediaan barang di gudang

yang terukur. Umumnya barang-barang yang telah dibeli dipusatkan di

gudang-33

(40)

gudang besar, sebelum itu disebar oleh bagian penyaluran barang. toko modern

yang biasanya berada dalam bangunan yang mewah selalu dilengkapi dengan

pendingin udara yang sejuk (air conditioning/AC), suasana yang nyaman dan

bersih, produk yang dijual dikelompokkan sehingga konsumen mudah

mendapatkan barang yang dibutuhkan (pemajangan barang per kategori), mudah

dicapai dan relative lengkap, informasi prosuksi tersedia melalui mesin pembaca,

serta adanya keranjang belanja dan keranjang dorong.22

2.5. Pendapatan Asli Daerah Sebagai Sumber Pembiayaan Daerah

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, pendaptan

daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai

kekayaan bersih. Pendapatan daerah berasal dari penerimaan dari dana

perimbangan pusat dan daerah, juga yang berasal dari daerah itu sendiri yaitu

pendapatan asli daerah serta lain-lain pendapatan yang sah. Pendaptan daerah

dalam struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah masih merupakan elemen

yang cukup penting fungsinya baik untuk mendukung penyelenggaraan

pemerintahan maupun pemberian pelayanan kepada publik. Apabila dikaitkan

dengan pembiayaan, maka pendapatan daerah masih merupakan alternatif pilihan

utama dalam mendukung program dan kegiatan penyelnggaraan pemerintahan dan

pelayanan publik di Kabupaten/Kota di Indonesia.

22

(41)

Di dalam pendapatan daerah, terdapat pendapatan asli daerah yang merupakan

pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh daeri sumber-sumber

pendapatan saerah dan dikelola sendiri oleh pemerintah daerah yang bertujuan

untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai

pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudkan

desentralisasi.23

Pendapatan asli daerah juga merupakan tulang punggung pembiyaan daerah, oleh

karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi

yang diberikan oleh pendapatan asli daerah terhadap anggaran pendapatan dan

belanja daerah, semakin besar kontribusi yang dapat diberikan oleh pendapatan

asli daerah terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah berarti semakin

kecil ketergantungan pemerintah terhadap bantuan pemerintah daerah.

Sumber-sumber pendapatan asli daerah tersebut terdiri atas:

1. Pajak daerah;

Menurut Tony Marsyahrul24, adalah pajak yang dikelola oleh pemrintah

daerah (baik pemrintah daerah tingkat 1 maupun pemerintah daerah

tingkat 2) dan hasilnya dipergunakan untuk membiayai pengeluran rutin

dan pembangunan daerah (anggaran pendapan dan belanja daerah). Jadi

pajak daerah yaitu pungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah daerah

23

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

24

(42)

untuk mengelola, membiayai pengeluaran rutin da pembangunan daerah

sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh daerah.

2. Retribusi Daerah;

Menurut Josef Kaho Riwu25, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran

pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik

daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh

daerah baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan menurut

Sugiyanto, pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian

izin tertntu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah

daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Jadi, retribusi daerah

adalah pungutan daerah yang dilakukan daerah atas jasa atau izin yang

telah diberikan pemerintah daerah untuk kepentingan umum, atau karena

jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.

3. Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan;

Penerimaan pendapatan daerah selain pajak dan retribusi ialah pengelolaan

kekayaan daerah yang dipisahkan, dimana didalam hal ini yang termasuk

di dalamnya ialah laba dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan hasil

kerja sama pemerintah daerah dengan pihak ketiga.

4. Lain-lain PAD yang sah.

Lain-lain PAD yang sah tersebut meliputi:

a. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan

b. Jasa giro

c. Pendapatan bunga

25

Josef Riwu Kaho, Prospek Otonomi Daerah Di Negara Republik Indonesia,

(43)

d. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

e. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan

dan/atau jasa oleh Daerah.

Dalam penjelesan di atas, Pendapatan asli daerah merupakan tulang punggung

pembiayaan daerah yang dapat diukur dari besarnya kontribusi yang diberikan

oleh pendapatan asli daerah terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Oleh karena itu, sangat diperlukan strategi untuk mengoptimalkan pendapatan asli

daerah, yaitu dapat dilakukan dengan cara:

1. Pendataan ulang terhadap objek dan wajib pajak (Data Consolidation

Strategi/DCS). Dengan demikian upaya pendataan yang selama ini

dilaksanakan sudah cukup baik dan perlu dilanjutkan;

2. Melakukan upaya intensifikasi. Dengan demikian, upaya intensifikasi yang

selama ini sudah dilaksanakan juga sudah tepat dan perlu dilanjutkan; dan

3. Memberi rangsangan kepada sector swasta untuk investasi. Upaya ini bisa

dilakukan antara lain dengan memberikan insntif fiscal kepada swasta

yang mau menginvestasikan modalnya.

2.6. Kontribusi

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian kontribusi adalah

sumbangan. Sedangkan menurut Kamus Ekonomi kontribusi adalah sesuatu yang

diberikan bersama-sama dengan piliak lain untuk tujuan biaya atau kerugian

tertentu atau bersama. Kontribusi mempunyai arti khusus dalam akuntansi dan

(44)

Definisi inii dapat diterapkan, baik untuk satu unit produksi atau lini produk dan

jasa. Kontribusi adalah laba sebelumsemua biaya tetap diperhitungkan, dan

mungkin ada diantara laba kotor dan laba bersih. Sehingga dalam penelitian ini

kontribusi toko modern terhadap pendapatan asli daerah dapat diartikan sebagai

iuran (yang didapatkan dari perizinan saat mendirikan toko modern yaitu dari

retribusi perizinan tertentu dan dari pajak daerah) terhadap besamya Pendapatan

Asli Daerah.

Kontribusi toko modern terhadap PAD, selanjutnya dinilai berdasakan kriteria

yang telah disusun oleh Tim Litbang Depdagri Fisipol UGM tahun 1991 yang

[image:44.595.105.517.431.628.2]

disusun dalam tabel berikut ini:

Tabel 1.

Interpretasi Nilai Kontribusi Toko Modern Terhadap PAD

Presentase Kriteria

Rasio 0,00 - 10,00% Sangat Kurang

Rasio 10,10 - 20,00% Kurang

Rasio 20,10 - 30,00% Sedang

Rasio 30,10 - 40,00% Cukup

Rasio 40,10 - 50,00% Baik

Rasio diatas 50,00% Sangat Baik

Sumber: Tim Limbang Pemdagri-Fisipol UGM, 1991 (dalam Yuri Mariana, 2005)

Fungsi kontribusi toko modern pada umumnya dapat diukur berdasarkan target

pencapaian pungutan, jika target pencapaian tinggi, maka fungsi kontribusi toko

(45)

kontribusi meningkat, maka akan memberikan peluang kepada peningkatan PAD.

Sehingga secara otomatis akan mengurangi rasio ketergantungan pemerintah

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Masalah

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan menggunakan 2 (dua) metode pendekatan, yaitu pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris:26

1. Pendekatan Yuridis Normatif

Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara mempelajari bahan-bahan pustaka yang berupa literature dan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas, dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan perizinan mendirikan toko modern dan kontribusinya terhadap PAD kota Metro.

2. Pendekatan Yuridis Empiris

Pendekatan yuridis empiris adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara menggali informasi dan melakukan penelitian dilapangan guna mengetahui secara lebih jauh mengenai permasalahan yang dibahas. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancaradenganKepalaBagian Perdagangan Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro, Kepala Bagian Pembukuan Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, Kepala Bagian Tata 26

(47)

Ruang Dinas Tata Kota dan Pariwisata, dan Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Metro.

3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa: 1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara lisan dari pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini melalui wawancara. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara pada Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro,Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, Dinas Tata Kota dan Pariwisata Kota Metro, dan Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Metro. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perizinan mendirikan toko modern dan kontribusinya terhadap PAD kota Metro yang dapat berfungsi sebagai data pelengkap.

2. Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku-buku hukum, dan dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Kegiatan pengumpulan data sekunder melalui tahapan-tahapan berikut:

a. BahanHukum Primer

(48)

1. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah.

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

5. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin

Lingkungan.

9. Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.

10. Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pajak Daerah.

(49)

12. Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 9 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015.

13. Peraturan Walikota Metro Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tanda Daftar Perusahaan.

14. Peraturan Walikota Metro Nomor 6 Tahun 2011 tentang Izin Usaha Perdagangan.

15. Peraturan Walikota Metro Nomor 29 Tahun 2012 tentang Tata Laksana Pemungutan Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

16. Peraturan Walikota Metro Nomor 30 Tahun 2012 tentang Tata Laksana Pemungutan Retribusi Izin Gangguan.

17. Peraturan Walikota Metro Nomor 42 Tahun 2014 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015.

18. Peraturan Walikota Metro Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015.

b. Bahan Hukum Sekunder

(50)

hukum yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan-bahan penunjang lain yang ada relevansinya dengan pokok permasalahan, memberikan informasi, petunjuk, dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, bukan merupakan bahan hukum, secara signifikan dapat dijadikan bahan analisa terhadap penerapan kebijakan hukum di lapangan, seperti hasil penelitian, buletin, majalah, artikel-artikel di internet dan bahan-bahan lainnya yang sifatnya seperti karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini.

3.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

3.3.1.Prosedur Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan-pengumpulan data dilaksanakan dengan cara sebagai

berikut:

a. Studi Kepustakaan (Library Research)

(51)

b. Studi Lapangan (Field Reasearce) 1) Observasi

Observasi dilaksanakan dengan jalan mengamati secara langsung, bagaimana prosedur perizinan serta kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan pendirian toko modern dan kontribusinya terhadap PAD kota Metro.

2) Wawancara

Wawancara ini dipergunakan untuk mengumpulkan data primer yaitud engan cara wawancara terarah atau directive interview. Dalam pelaksanaan wawancara terlebih dahulu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro, Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, Dinas Tata Kota dan Pariwisata dan Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Metro.

3.3.2.Prosedur Pengolahan Data

Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, maka pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi

(52)

2. Editing

Editing data, yaitu meneliti kembali data yang diperoleh dari keterangan para responden maupun dari kepustakaan, hal ini perlu untuk mengetahui apakah data tersebut sudah cukup dan dapat dilakukan.

3. Klasifikasi Data

Klasifikasi data yaitu menyusun data yang diperoleh menurut kelompok yang telah ditentukan secara sistematis sehingga data tersebut siap untuk dianalisis.

4. Sistematisasi Data

Sistematisasi data yaitu penyusunan data secara teratur sehingga dalam data tersebut dapat dianalisis menurut susunan yang benar dan tepat. 5. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan yaitu langkah selanjutnya setelah data tersusun secara sistematis, kemudian dilanjutkan dengan penarikan suatu kesimpulan yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.

3.4. Analisis Data

(53)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Menurut Pasal 12 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun

2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, PusatPerbelanjaan,

dan Toko Modern untuk mendirikan toko modern wajib memenuhi

persyaratan dan memiliki izin. Namun, pada kenyataannya masih ada

beberapa toko modern yang tidak memenuhi persyaratan, khususnya pada

persyaratan jarak lokasi pendirian toko modern di kota Metro.

Menurut Pasal 26 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor

70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar

Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, prosedur penerbitan izin

toko modern dilaksanakan oleh Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan

Terpadu Satu Pintu (KPMPTSP).

Adapun prosedur penerbitan izin toko modern pada KPMPTSP yaitu Pemohon

– Seleksi Berkas – Pemeriksaan Lapangan – Pembayaran – Pemrosesan –

Penyerahan.

2. Kontribusi toko modern terhadap pendapatan asli daerah kota Metro diperoleh

(54)

Gangguan/HO dan diperoleh dari pajak toko modern yang berupa pajak

reklame, pajak air tanah, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan,

pajak restoran, dan pajak hiburan. Total realisasi penerimaan pajak toko

modern di kota Metro pada bulan Maret 2015 di atas sebesar Rp. 33.371.333,-.

Pajak toko modern yang paling besar kontribusinya adalah pajak bumi dan

bangunan perdesaan dan perkotaan, sedangkan yang terkecila dalah pajak air

tanah. Penerimaan pajak toko modern tersebut menyumbang sebesar 2,83%

pada pajak daerah kota Metro. Sedangkan kontribusi pajak toko modern

terhadap PAD kota Metro pada bulan Maret 2015 sebesar 0,36%. Realisasi

penerimaan pajak toko modern tersebut dapat mendorong peningkatan PAD

kota Metro.

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diberikan, maka peneliti memberikan saran

sebagai berikut:

1.Sangat diperlukan adanya peninjauan kembali dan upaya pengawasan

terhadap pendirian toko modern tersebut. Karena tujuan izin antara lain

untuk memberdayakan Pasar Tradisional, usaha menengah dan

pedagang-pedagang kecil, mencegah terjadinya pembentukkan struktur

pasar yang dapat melahirkan persaingan tidak wajar dalam bentuk

monopoli, oligopoli, dan monosopsoni yang merugikan Pasar Tradisional

dan Pedagang-pedagang kecil, dan meningkatkan peran usaha mikro,

menengah dan kecil dalam perluasan kesempatan kerja agar peningkatan

(55)

2.Peningkatan Pendapatan Asli Daerah melalui kontribusi toko modern ini

digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan berguna

bagi seluruh masyarakat di kota Metro dan semua kegiatan-kegiatan

(56)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Ahman, Eeng dan Epi Indriyani, 2007, Membina Kompetensi Ekonomi, Grafindo Media Pratama, Bandung.

Basah, Sjachran, 1998, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

____________ , 1995, Pencabutan Izin Sebagai Salah Satu Sanksi Hukum

Administrasi Negara, FH UNAIR, Surabaya.

Malano, Herman, 2011, Selamatkan Pasar Tradisional, PT. Gramedia, Jakarta. Marsyahrul, Tony, 2006, Pengantar Perpajakan, Grasindo, Jakarta.

Kaho, Josef Riwu, 1997, Prospek Otonomi Daerah Di Negara Republik Indonesia, Grafindo Persada, Jakarta.

Purwadarminta, 1996, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Siahaan, Marihot Pahala, 2010, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Rajawali

Pers, Jakarta.

Soehino, 1984, Ilmu Negara, Edisi Ketiga, Liberty, Yogyakarta.

Soekanto, Soerjono, 2007, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Sudirjo, Prajudi Atmo, 2008, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Sukwiaty, Sudirman Jamal, dan Slamet Sukamto, 2002, Ekonomi Yudistira, Jakarta.

(57)

Widjaja, HAW., 2004, Otonomi Daerah dan Daerah Otonom, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zubir, Ismail, 2000, Zoning Regulation: Instrimen yang Diperlukan Dalam

Rangka Reformasi Penataan Ruang, BKPRN, Jakarta.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.

Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pajak Daerah.

Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 2 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pembinaan Pergudangan.

Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 9 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015.

Peraturan Walikota Metro Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tanda Daftar Perusahaan.

Peraturan Walikota Metro Nomor 6 Tahun 2011 tentang Izin Usaha Perdagangan. Peraturan Walikota Metro Nomor 29 Tahun 2012 tentang Tata Laksana

Pemungutan Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

(58)

Peraturan Walikota Metro Nomor 42 Tahun 2014 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015. Peraturan Walikota Metro Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Metro Tahun Anggaran 2015.

C. Sumber Lainnya

http://dilihatya.com/2411/pengertian-implikasi-menurut-para-ahli, diakses pada tanggal 13/10/20l5 pada pukul 00:27.

http://detiklampung.com/berita-2741-bila-skpd-kompak-dan-kerja-keras-pad-meningkat.html diakses pada tanggal 12 /01/2015 pada pukul 09:19.

Gambar

Tabel 1.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana peranan retribusi Izin Mendirikan Bangunan dalam Penerimaan Pendapatan Asli Daerah pada Dinas Tata

Hasil perhitungan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada sektor retribusi izin gangguan (HO) di Pemerintah Kota Palangkaraya diharapkan dapat dijadikan sebagai

1. Pada tahun 2009 kontribusi pajak parkir terhadap pendapatan asli daerah sebesar 1,60% yang diperoleh dari penerimaan pajak parkir sebesar Rp. Pada tahun 2010 kontribusi pajak

Berdasarkan analisis data yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Metro

Penulis dalam mengambil judul Analisis Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Makassar adalah untuk menjelaskan kontribusi penerimaan

Indikator pertama yaitu prosedur identifikasi, identifikasi dari para pembayar retribusi Izin Mendirikan Bangunan idealnya harus sudah terorganisir dengan baik,

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peranan pajak hotel dan restoran dalam meningkatkan pendapatan asli daerah kota metro ialah jumlah pembayaran atau

Faktor yang menyebabkan perubahan kontribusi pajak hotel menurun dalam meningkatkan Pendpatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar pada tahun 2012-2016 yaitu, pertama tingkat