• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Deodorisasi Sederhana Pada Cocoa Butter Substitutes (CBS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Proses Deodorisasi Sederhana Pada Cocoa Butter Substitutes (CBS)"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA ILMIAH

JONNY AFANDI NABABAN 112401027

PROGRAM STUDI DIPLOMA-III KIMIA DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh Ahli Madya

JONNY AFANDI NABABAN 112401027

PROGRAM STUDI DIPLOMA-III KIMIA DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : Proses Deodorisasi Sederhana Pada Cocoa Butter Substitutes (CBS)

Kategori : Karya Ilmiah

Nama : Jonny Afandi Nababan

Nim : 112401027

Program Studi : Diploma-3 Kimia Analis

Departemen : Kimia

Fakultas : Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara

Disetujui di Medan, Juni 2014

Diketahui/Disetujui Oleh : Diketahui/Disetujui Oleh: Ketua Program Studi Diploma 3 DosenPembimbing

Dra. Emma Zaidar, M. Si Drs. Darwis Surbakti, M.Sc NIP. 195512181987012001 NIP. 195307071983031001

Departemen Kimia FMIPA USU

(4)

PERNYATAAN

PROSES DEODORISASI SEDERHANA PADA

COCOA

BUTTER SUBSTITUTES

(CBS)

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juli 2014

(5)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karuniaNya tugas akhir ini dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan.Adapun karya ilmiah ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada program Diploma-3 Kimia , Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Karya ilmiah ini ditulis berdasarkan penelitian penulis selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan dengan judul”Proses Deodorisasi Sederhana Pada Cocoa Butter Substitutes (CBS)”.

Karya ilmiah ini dapat ditulis dengan terwujud atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Dr. Sutarman, M.Sc, selaku Dekan FMIPA USU.

2. Darwis Surbakti, M.Sc, selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan Pikiran dalam mambantu penulisan Karya Ilmiah ini .

3. Dr.Rumondang Bulan, MS, selaku Ketua Departemen Kimia FMIPA USU. 4. Dra. Emma Zaidar, M.Si, selaku Ketua Program Studi D-3 Kimia FMIPA

USU.

5. Bapak Hasrul A Hasibuan M.S selaku peneliti, Agha P Hardika selaku teknisi dan seluruh karyawan PPKS di lab PAHAM.

6. Rekan-rekan satu PKL yaitu: Khairun Nisa, Azlia Hafisa Hrp, dan Tiurma. 7. Sahabat-sahabat saya Ideline, Sonny, kak Nami, Syuhada, kak Lina, Riana,

bang Niko, kak Maria, kak Yana, kak Mai, abang dan kakak Kimia 2010, Kiris, Gabe, Josh, kak Dewi, Rona, Reinhad, Bintang, Ira dan Vero.

8. Seluruh keluarga besar Kimia Analis dan Kimia Industri stambuk 2011 yang banyak memberikan masukan-masukan kepada penulis.

Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya keapada keluarga terkasih, Ibunda alm. Nelly Hutasoit yang senantiasa selalu memberikan doa serta dukungan moril dan materil hingga akhirnya penulis menyelesaikan studi.

Dalam kesempatan ini, penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna dan terdapat banyak kekurangan didalamnya. Penulis juga berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan penulis khususnya.

Medan, Juli 2014

(6)

PROSES DEODORISASI SEDERHANA PADA COCOA BUTTER SUBSTITUTES (CBS)

ABSTRAK

(7)

SIMPLE DEODORIZATION PROCESS FOR COCOA BUTTER SUBSTITUTES (CBS)

ABSTRACT

(8)
(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel

1 Komposisi Asam Lemak Minyak Inti Sawit 6 2 Bilangan Peroksida dan Asam Lemak Bebas 22 3 Bilangan peroksida Deodorasi CBS Ulangan I 31 4 Bilangan peroksida Deodorasi CBS Ulangan II 32

5 ALB Deodorasi CBS Ulangan I 32

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar

(11)

DAFTAR SINGKATAN

CBS = Cocoa Butter Substitutes PKO = Palm Kernel Oil

CPO = Crude Palm Oil

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran

1. Rangkaian Alat Deodorisasi Sederhana 31

2. Data Bilangan Peroksida 31

(13)

PROSES DEODORISASI SEDERHANA PADA COCOA BUTTER SUBSTITUTES (CBS)

ABSTRAK

(14)

SIMPLE DEODORIZATION PROCESS FOR COCOA BUTTER SUBSTITUTES (CBS)

ABSTRACT

(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Coklat merupakan salah satu hasil perkebunan yang dapat memberikan kontribusi

untuk peningkatan devisa Indonesia selain itu coklat memiliki nilai ekonomis

yang tinggi. Produksi coklat semakin meningkat dan kita ketahui pemanfaatan

kakao sangat banyak mulai dari biji sampai lemaknya dapat dimanfaatkan sebagai

produk.

Mentega coklat merupakan campuran dari beberapa jenis trigliserida.

Trigliserida terdiri dari gliserol dan tiga asam lemak bebas. Salah satu diantaranya

lemak tidak jenuh. Komposisi asam lemak bervariasi, tergantung pada sifat tekstur

makanan coklat dalam proses pembuatannya. Mentega coklat memiliki sifat khas

yakni bersifat plastis, dan memiliki kandungan lemak padat yang relatif tinggi

(Wahyudi, 2008).

Mentega coklat mengandung asam oleat, palmitat dan stearat. Mentega

coklat yang digunakan dalam pembuatan permen coklat, harus memiliki ciri-ciri

(16)

rapuh, serta warnanya tidak buram dan tetap cerah jika dicampur dengan bahan

lain serta memadat pada suhu kamar (Ketaren, 2008).

Lemak yang tidak memiliki persamaan dengan mentega coklat tetapi dapat

digunakan dengan baik apabila dicampurkan dalam jumlah kecil pada pembuatan

makan coklat disebut Cocoa Butter Substitutes (CBS). Lemak ini dapat diproduksi

dari minyak kelapa, kelapa inti sawit, serta minyak kacang (Minifie, 1999).

Rafinasi CBS yang terakhir dalam pembuatannya adalah dengan cara

deodorisasi. Deodorisasi adalah suatu tahap proses pemurnian minyak yang

bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak dalam

minyak/lemak. Menurut Ketaren (2008) komponen minyak/lemak yang

menyebabkan bau dan rasa yang tidak enak dalam minyak sawit berasal dari

flavor yang dihasilkan dari kerusakan minyak/lemak. Flavor alami ini terdiri dari

hidrokarbon tidak jenuh, terpen, sterol, dan tokoferol. Flavor yang dihasilkan dari

minyak/lemak biasanya merupakan hasil dari kerusakan minyak/ lemak yang

merupakan hasil degradasi trigliserida dalam minyak/lemak, yang menghasilkan

asam lemak bebas, aldehid, keton, dikarbonil, alkohol, dan sebagainya.

Komponen – komponen flavor tersebut bersifat volatil, sehingga dapat dikurangi

dengan proses deodorisasi. Sehingga parameter keberhasilan deodorisasi adalah

(17)

1.2Permasalahan

Pengganti mentega coklat pada proses akhir pembuatannya diduga masih

mengandung asam lemak bebas dan terjadinya proses hidrolisa pada pengganti

mentega coklat yang ditandai dengan bau tengik. Pada proses deodorisasi jam ke

dua ke proses deodorisasi jam ke tiga mengalami peningkatan bilangan peroksida

dan pada proses deodorisasi jam ke empat mengalami penurunan bilangan

peroksida.

1.3Tujuan

- Untuk mengetahui tingkat keberhasilan rafinasi Cocoa Butter Substitutes

(CBS) dengan proses deodorisasi sederhana.

- Untuk mengetahui penurunan atau peningkatan kadar asam lemak bebas

dan bilangan peroksida disetiap jam proses deodorisasi.

1.4Manfaat

- Agar mengetahui tingkat keberhasilan rafinasi Cocoa Butter Substitutes

(CBS) dengan proses deodorisasi sederhana.

- Agar mengetahui penurunan atau peningkatan kadar asam lemak bebas

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mentega Coklat

Mentega coklat (cocoa butter) merupakan lemak nabati yang sangat penting dan

harga mentega coklat mahal. Karena itu selalu dilakukan usaha untuk

meningkatkan kemungkinan metode produksi yang lebih baik. Akibat mahalnya

mentega coklat jika dibandingkan dengan lemak/minyak lain, telah menjadi

pemikiran untuk mengembangkan variasi pengganti lemak coklat. Lemak

mempunyai kompatibilitas yang sangat terbatas dengan mentega coklat yang

mempengaruhi karakteristik dari mentega coklat. Derajat kompatibilitas lemak

dengan mentega coklat dan titik leburnya menentukan kualitas dan harganya.

Kualitas dari mentega coklat yang baik adalah berwujud padat pada suhu kamar

dan mempunyai titik lebur yang sama dengan suhu tubuh (Sara and Rickard,

1997).

Mentega coklat adalah komponen terpenting pembutan penyalut coklat

karena mempengaruhi kualitas permen coklat, dimana 29,5% dari penyalut coklat

(19)

Penambahan lemak susu pada mentega coklat dapat menyebabkan turunanya titik

lebur dan melembutkan sehingga memberikan efek yang merugikan pada

kristalisasi dan kekerasannya. Mentega coklat berbentuk semi cair pada

temperatur kamar dan memiliki titik lebur antara 32-35oC dan mulai melebur pada

30-32oC. Mentega coklat diekstraksi dari buah dan membutuhkan biaya yang

besar dalam memprosesnya sebagai penyalut permen coklat, selain itu produksi

mentega coklat sangat dipengaruhi oleh produksi buah coklat sehingga harganya

mahal (Tarigan, 2005).

Dalam komposisi mentega coklat secara predominan (> 75 persen)

merupakan trigliserida simetris dengan asam oleat pada posisi dua. Kira – kira 20

persen trigliserida cair pada temperatur kamar dan memiliki titik lebur antara

32-35 oC, ini sangat penting dalam fungsinya sebagai mentega coklat. Hal ini

disebabkan mentega coklat mengandung trigliserida seperti, POP, PSO, SSO; (P =

asam palmitat, O = asam Oleat, S = asam stearat) ; posisi dari huruf

menunjukkan susunan asam lemak di dalam molekul trigliserida (Sara and

Rickard, 1997).

2.2 Minyak Inti Sawit

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang sangat potensial di Indonesia

khususnya di Sumatera Utara dan terus diupayakan pemanfaatannya. Minyak

(20)

diperoleh dari inti kelapa sawit dan bagian mesokrap buah kelapa sawit (Tarigan,

2005).

Berbeda dengan Palm Oil/PO, PKO berasal dari biji yang terdapat dalam

buah sawit. Inti dibungkus dengan rangka yang keras, sehingga mudah untuk

memisahkan dari daging buah di bagian luar. Jenis PKO dari Amerika memiliki

nilai komersil yang tinggi dan banyak dipasarkan di pasar internasional. PKO

hampir sama dengan minyak kelapa tetapi lebih tidak jenuh. Ada pun komposisi

asam lemak dari PKO antara lain, asam kaprilat(1,4%), asam kaprat (2,9%), asam

laurat (50%), asam miristat (18,4%), asam palmitat (8,7%), asam stearat (1,9%),

asam oleat (14,6%), dan asam linoleat (1,2%) (Weiss, 1983).

TABEL 1. Komposisi Asam Lemak Minyak Inti Sawit

Nama Asam Lemak Kadar

(21)

PKO lebih padat dari pada minyak kelapa dan fraksinasinya menghasilkan

produk yang keras, dan titik lebur yang jelas dan banyak digunakan pada

jenis-jenis produk penyalut coklat tertentu. PKO memiliki kemampuan untuk

terhidrogenasi lebih lanjut dari pada minyak kelapa karena sifatnya yang lebih

tidak jenuh. Hal ini membuat PKO banyak digunakan secara khusus untuk

konveksi mentega keras dan memiliki bebebrapa karakter (Potter, 1986).

Produksi Palm Kernel Oil (PKO) Indonesia meningkat tiap tahunnya,

namun umumnya diekspor dan sebagian kecil digunakan sebagai bahan baku

industri oleokimia. Padahal PKO memiliki sifat fisiokimia yang dapat

dimanipulasi untuk menghasilkan Cocoa Butter Substitute (CBS/pengganti lemak

kakao). CBS digunakan sebagai bahan baku produksi campuran coklat yang

umumnya memerlukan kandungan lemak dengan sifat khusus sekitar 28-35%.

CBS kompatibel dalam proses pembuatan produk coklat: pencampuran bahan

baku, penghalusan, conching, tempering, pencetakan, pendinginan dan stabilisasi

(Siahaan dan Hasrul, 2012).

2.3 Cocoa Butter Substitutes

Untuk mendapatkan mentega coklat yang murah dan mudah dan diperoleh dicar

alternatif lain dengan mengganti mentega coklat dengan minyak nabati dalam

pembuatan penyalut coklat. Untuk beberapa tahun, ilmuan telah bekerja untuk

(22)

coklat, mentega coklat kualitas tinggi atau menggantikan secara penuh dalam

penyalut. Lemak – lemak yang digunakan sebagai pengganti mentega coklat

adalah minyak kelapa, minyak sawit dan minyak inti sawit yang telah didapatkan

dengan cara hidrogenasi (Minifie, 1999).

Lemak nabati dapat dipakai sebagai bahan dasar untuk membuat pengganti

mentega coklat dalam pembuatan penyalut coklat. Produk yang dihasilkan ini

disebut juga hard butter (mentega keras) dapat diperoleh dengan menggunakan

minyak kelapa sawit, kelapa, dan minyak khusus lainnya. Proses pembuatan

mentega keras meliputi hidrogenasi lemak, interesterifikasi lemak, dan blending.

Beberapa mentega keras dapat mengkombinasi proses hidrogenasi.

Cocoa Butter Substitutes (CBS) dapat dibedakan menjadi dua jenis, CBS

laurat dan CBS non-laurat. CBS laurat adalah yang sebagian besar komposisinya

terdiri dari triacylgliserol jenuh antara lain asam laurat (C:12) dan miristat (C:14)

yang merupakan derivat dari dua bagian besar minyak laurat yang disebut, inti

kelapa sawit dan minyak kelapa. Minyak laurat dapat difraksinasi, hidrogenasi,

interesterifikasi dan dicampurkan. Fraksinasi dapat dilakukan dengan

menggunakan dry detergent atau proses pelarutan dengan menambahkan stearin

dengan pelarut memiliki sifat fisika yang sama dengan cocoa butter. Stearin

dengan atau tanpa proses hidrogenasi adalah CBS yang memiliki susunan partikel

yang sesuai untuk menghasilkan padatan atau produk palsu coklat yang dicetak

(23)

Lemaknya memiliki bagian padatan yang sangat tinggi, dengan

memberikan tampilan yang baik dan daya tahan yang baik terhadap lemak yang

berkembang. Ketika CBS digunakan sebagai pengganti coklat dan formula

pelengkapnya, pelengkap yang digunakan harus diformulasikan dengan tepung

coklat rendah lemak dalam keperluan untuk menghindarkan ketidaksesuaian

dasarnya dengan tepung coklat. Hidrogenasi Palm Kernel Oil (HPKO) dapat

diinteresterifikasi dan dicampurkan dengan produk minyak sawit lainnya untuk

mengubah sifat lelehnya dan komponen padat dari lemak dan memberikan lemak

yang sesuai untuk kegunaannya. Sedangkan untuk hal yang lain, Palm Kernel Oil

(PKO) tak terhidrogenasi merupakan pengganti lemak coklat yang baik untuk es

krim dan manisan yang harus dalam bentuk dingin karena pengganti yang

terbentuk keras, namun elastis dan tidak rapuh (Basiron, 2007).

CBS non-laurat selalu terbuat dari minyak yang cair yang sesuai dengan

temperatur dan oleh karena itu, harus dihidrogenasi dalam keperluan untuk

mendapatkan konsistensinya terhadap level yang tepat. Sumber-sumber dari

lemak non laurat yang sesuai antara lain adalah minyak kacang kedelai, biji kapas,

kelapa sawit dan kacang tanah. Produk-produk ini memiliki kegunaan yang baik

sebagai campuran pelengkap untuk biskuit dan penambah rasa pengembang chips

coklat (Basiron, 2007).

CBS dapat diproduksi dari minyak dan lemak dengan cara kimia atau cara

fraksinasi maupun enzimatik. Teknologi pembuatan CBS dari PKO telah

(24)

hidrogenasi serta kombinasinya. Namun teknologi ini dalam skala industri kecil

belum tersedia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah menghasilkan

teknologi proses hidrogenasi penuh (full hydrogenation) PKO mentah dan

terafinasi skala laboratorium tanpa mengasilkan asam lemak trans dalam kondisi

temperatur yang moderat dan tekanan tinggi. Pembesaran skala ke 100 kg/batch

perlu dilakukan dan dioptimasi kondisi prosesnya untuk mendukung pemanfaatan

PKO pada industri kecil menengah (Siahaan dan Hasrul, 2012).

Proses hidrogenasi adalah suatu proses menggunakan hidrogen untuk

menjenuhkan asam lemak tak jenuh dengan bantuan katalis, umumnya katalis

yang digunakan adalah nikel. PKO terhidrogenasi yang dihasilkan pada skala

laboratorium oleh PPKS masih memiliki asam lemak bebas, bau yang tidak

disukai dan residu nikel yang tinggi. Ketiganya dapat diminimalisir dengan proses

rafinasi, umumnya digunakan secara fisika meliputi proses degumming, bleaching

dan deodorisasi. Degumming menggunakan asam fosfat pangan sebesar 0,1% -

0,4% dan dipanaskan pada suhu 90-110oC sekitar 15 menit. Bleaching

menggunakan tanah pemucat tergantung pada kualitas minyak sawit, umumnya

sebesar 1,0% - 2,0%. Deodorisasi vakum dilakukan pada suhu 240-245OC

(25)

2.4 Deodorisasi

Deodorisasi adalah suatu tahap proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk

menghilangkan rasa dan bau (flavor) yang tidak enak dalam minyak. Prinsip

proses deodorisasi yaitu penyulingan minyak/lemak dengan uap panas dalam

tekanan atmosfer atau keadaan vakum. Proses deodorisasi perlu dilakukan

terhadap minyak/lemak yang digunakan untuk bahan pangan. Beberapa jenis

minyak/lemak yang diekstrak mengandung flavor yang baik untuk tujuan bahan

pangan, sehingga tidak memerlukan proses deodorisasi; misalnya lemak susu,

lemak babi, lemak coklat dan minyak olive (Ketaren, 2008).

Menurut Bernadini (1983), deodorisasi dengan sistem batch biasanya

dilakukan pada suhu 180 oC sampai 200 oC tergantung pada jenis minyak atau

lemaknya yang dideodorisasi, selama lima sampai dua belas jam pada tekanan

10-20 Torr. Sedangkan menurut Henon (1997) dalam proses pemurnian minyak,

deodorisasi dilakukan selama satu sampai empat jam pada suhu tinggi ( 180

sampai 260 oC) dan tekanan rendah.

Senyawa yang menimbulkan flavor dalam minyak terdiri dari dua

golongan, yaitu 1) flavor alamiah (natural flavor), dan 2) flavor yang dihasilkan

(26)

1. Flavor Alamiah (Natural Flavor)

Flavor tersebut secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung

minyak/lemak dan ikut teresktrak saat pemisahan miyak/lemak dengan cara

pengepresan, rendering atau dengan menggunakan pelarut menguap. Senyaawa

tersebut terdiri dari hidrokarbon tidak jenuh, pigmen karotenoid, terpen, sterol,

dan tokoferol. Minyak yang berbau sengit (pungent odor) dan rasa getir

disebabkan oleh glukosida. Senyawa ini terdapat dalam minyak yang berasal dari

biji-bijian.

2. Flavor yang Dihasilkan dari Kerusakan Minyak atau Bahan yang

Mengandung Minyak.

Kerusakan tersebut terjadi selama pengolahan, penyimpanan,

pengangkutan, adanya kotoran dalam minyak dan prosees pemurnian. Senyawa

yang terbentuk merupakan hasil degradasi trigliserida dalam minyak, yang

menghasilkan asam lemak bebas, aldehida, keton, dikarbonil, alkohol dan

sebagainya. Bau tengik dan rasa getir mulai dapat dirasakan jika komponen

tersebut terdapat di dalam minyak dengan jumlah lebih dari 0,1 persen dari berat

minyak (Ketaren,2008).

Proses deodorisasi menghilangkan komponen residu tertinggal dalam

minyak setelah pemurnian seperti, komponen penyebab bau dan rasa, sterol,

(27)

terhadap oksidasi. Pemisahan asam lemak bebas (ALB) juga berlangsung pada

tahap ini. Aplikasi Suhu Tinggi dan Tekanan yang rendah akan mengakibatkan

ALB menguap dan bersifat volatil sehingga bisa dipisahkan dari minyak

(trigliserida) yang kurang volatil. Kondisi proses deodorisasi, lama deodorisasi

yang menentukan kualitas lemak dan minyak yang dihasilkan. Kondisi proses

utama yang mempengaruhi mutu hasil deodorisasi yaitu suhu dan tekanan

deodorisasi serta lama deodorisasi. Banyaknya steam yang diperlukan serta bahan

dan peralatan deodorisasi (Bernadini, 1983).

2.5 Bilangan Peroksida

Peroksida yang dihasilkan bersifat tidak stabil dan akan mudah mengalami

dekomposisi oleh proses isomerisasi atau polimerisasi, dan yang akhirnya

menghasilkan persenyawaan dengan berat molekul lebih rendah. Secara umum,

reaksi pembentukan peroksida dapat digambarkan sebagai berikut:

Reaksi pembentukan peroksida

R-CH=CH-R' + O=O R-CH-CH-R'

O

O

R-CH-CH-R'

O O

Moloksida Petoksida

R-CH + CH-R'

(28)

Senyawa peroksida mampu mengoksidasi molekul asam lemak yang

masih utuh, dengan cara melepaskan dua atom hidrogen, sehingga membentuk

ikatan rangkap baru dan juga sampai direduksi sampai membentuk oksida.

Terbentuknya peroksida disusul terbentuknya aldehida dan asam jenuh dengan

berat molekul lebih rendah.

Bilangan peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat

kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat

oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida ini

dapat ditentukan dengan metode iodometri.

Cara yang sering digunakan untuk menentukan bilangan peroksida

berdasarkan pada reaksi antara alkali iodida dalam larutan asam degan ikatan

peroksida. Iod yang dibebaskan pada reaksi ini kemudian dititrasi dengan natrium

tiosulfat. Penentuan peroksida ini kurang baik dengan cara iodometri biasa,

meskipun peroksida bereaksi sempurna dengan alkali iod. Hal ini disebabkan

karena peroksida jenis lainnya hanya bereaksi sebagian. Disamping itu dapat

terjadi kesalahan yang disebabkan oleh reaksi antara alkali iodida dengan oksigen

(29)

2.6 Asam Lemak Bebas

Lemak hewan dan nabati yang masih berada dalam jaringan, biasanya

mengandung enzim yang dapat menghidrolisa lemak. Semua enzim yang

termasuk lipase, mampu menghidrolisa lemak netral (trigliserida). Sehingga

menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol, namun enzim tersebut inaktif oleh

panas.

Dalam organisme hidup, enzim pada umumnya berada dalam bentuk

zimogen inaktif, sehingga lemak yang terdapat dalam jaringan lemak tetap bersifat

netral dan masih utuh. Dalam organ tertentu,misalnya hati dan pankreas dimana

kegiatan proses metabolisme cukup tinggi,sehingga sejumlah asam lemak bebas.

Jika organisme telah mati, koordinasi mekanisme sel-sel akan rusak.

Enzim lipase mulai bekerja dan merusak molekul lemak. Kecepatan hidrolisa oleh

enzim lipase yang terdapat dalam jaringan relatif lambat pada suhu

rendah,sedangkan pada kondisi yang cocok, proses hidrolisa oleh enzim lipase

akan lebih intensif daripada dengan enzim lipolitik yang dihasilkan oleh bakteri.

Indikasi dari aktivitas enzim lipase dalam organ yang mati dapat diketahui

dengan mengukur kenaikan bilangan asam. Sebagai contoh, lemak daging ayam

yang mengandung lipase menunjukkan kenaikan bilangan asam yang cepat

(30)

mengandung lemak dengan bilangan asam sekitar 0,2 namun setelah penyimpanan

selama 24 jam pada suhu 0oC, bilangan asam akan naik menjadi 0,5.

Minyak nabati hasil ekstraksi dari biji-bijian atau buah yang disimpan

dalam jangka panjang dan terhindar dari proses oksidasi,terrnyata mengandung

bilangan asam tinggi. Hal ini terutama disebabkan akibat kombinasi kerja enzim

lipase dalam jaringan dan enzim yang dihasilkan oleh kontaminasi mikroba. Asam

lemak bebas yang dihasilkan oleh proses hidrolisa dan oksidasi biasanya

bergabung dengan lemak netral dan pada konsentrasi sampai 15%, belum

menghasilkan flavor yang tidak disenangi.

Lemak dengan kadar asam lemak bebas lebih besar dari 1%, jika dicicipi

akan terasa membentuk film pada permukaan lidah dan tidak berbau tengik,

namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah asam lemak

bebas. Asam lemak bebas, walaupun berada dalam jumlah kecil mengakibatkan

rasa tidak lezat. Hal ini berlaku pada lemak yang mengandung asam lemak tidak

dapat menguap dengan jumlah atom C lebih besar dari 14 (C > 14).

Asam lemak bebas yang dapat menguap dengan jumlah atom karbon C4,

C6, C8, dan C10, menghasilkan bau tengik dan rasa tidak enak dalam bahan

pangan berlemak. Asam lemak ini pada umumnya terdapat dalam lemak susu dan

(31)

BAB 3

BAHAN DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

- Neraca analitik

- Labu leher tiga

- Labu leher dua

- Tabung kondesnsor

- Erlemenyer

- Termometer

- Propipet

- Pompa vakum

- Selang

- Pipa sambung L

- Penutup karet

- Botol sampel

- Water bath

(32)

- Corong pisah

- Baskom kecil

- Erlenmeyer bertutup 250 mL

- Beakerglass 500 mL

- Gelas ukur 50 mL

- Buret 50 mL dengan ketelitian 0,1 mL

- Erlenmeyer 250 mL

- Buret digital

- Pipet tetes

3.1.2 Bahan

- Cocoa Butter Substitutes (CBS)

- Kapas

- Air kran

- Plastik

- Na2S2O3.5H2O

- KI

- KIO3

- HCl pekat

- Amilum

- Asam asetat glasial : kloroform (3:2)

- KOH

(33)

- Indikator penolftalein

- Aquadest

3.2 Prosedur

3.1.1 Proses Deodorisasi Sederhana

- Dicairkan bahan baku CBS lalu ditimbang ± 3,5 kg

- Dimasukan kedalam labu leher tiga

- Dirangkai alat deodorasi sederhana ( terlampir)

- Dipanaskan pada suhu antara 190-200˚C

- Diodorisasi selama 4 jam

- Diambil ±50 ml CBS tiap jamnya selama proses deodorisasi untuk analisa

- Dimasukkan ke dalam botol sampel

3.2.2 Penentuan Bilangan Peroksida

a. Pembuatan larutan Natrium Thiosulfat (Na2S2O3.5H2O) 0,1 N

- Ditimbang 2,48 gram kristal Na2S2O3.5H2O didalam beaker glass

- Ditambahkan dengan aquades sampai kristal Na2S2O3.5H2O habis larut

- Dimasukkan kedalam labu takar 1 L

- Ditambahkan aquadest sampai haris batas

(34)

b. Pembuatan Indikator Amilum 1 % dan 5 %

- Amilum 1 %

- Ditimbang 1 gram amilum di dalam beaker glass

- Diukur 100 mL aquades

- Ditambahkan ± 10 mL aqua dingin

- Diaduk hingga menjadi pasta

- Dipanaskan ± 90 mL aquades hingga mendidih

- Ditambahkan kedalam pasta

- Diaduk dengan menggunakan stirer di atas hot plate

- Dibiarkan mendidih selama 2 – 3 menit

- Didiamkan dan didinginkan

- Dimasukkan kedalam wadah

- Amilum 5 %

- Ditimbang 5 gram amilum di dalam beaker glass

- Diukur 100 mL aquades

- Ditambahkan ± 10 mL aqua dingin

- Diaduk hingga menjadi pasta

- Dipanaskan ± 90 mL aquades hingga mendidih

- Ditambahkan kedalam pasta

- Diaduk dengan menggunakan stirer di atas hot plate

- Dibiarkan mendidih selama 2 – 3 menit

- Didiamkan dan didinginkan

(35)

c. Pembuatan KI jenuh

- Ditimbang 10 gram kristal KI dalam erlemeyer bertutup 50 mL yang

diselubungi dengan aluminium foil

- Ditambahkan 5 mL aquades

- Diaduk

- Dimasukkan kedalam lemari pendingin selama satu malam sebelum

digunakan

d. Pembuatan HCl 2 N

- Diukur 2,6 mL HCl pekat dengan menggunakan propipet

- Dimasukkan kedalam labu takar 10 mL

- Ditambahkan aquades dari dinding labu takar secara perlahan – lahan

sampai garis batas

e. Standarisasi Na2S2O3 0,1 N

- Ditimbanag KIO3 ± 0,01 gram kedalam erlenmeyer bertutup 250 mL

- Ditambahkan 50 mL aquades

- Dilarutkan

- Ditambahkan KI 0,2 gram

- Ditambahkan 1 mL HCl 2 N

- Dititrasi dengan Na2S2O3 sampai warna kuning lemah

- Ditambahkan indikator amilum beberapa tetes

(36)

Perhitungan

f. Penentuan Bilangan Peroksida

- Dicairkan sampel

- Ditimbang sampel sebanyak ± 5 gram kedalam erlenmeyer bertutup 250

mL

- Dimasukkan 30 ml larutan asam asetat glasial : kloroform ( 3:2 ) kedalam

erlenmeyer bertutup 250 ml

- Ditambahkan 0,5 ml KI jenuh

- Diaduk selama ± 1 menit

- Ditambahkan 30 ml aquadest

- Ditambahkan 1-2 ml indikator amilum 1% hingga terjadi perubahan warna

menjadi biru dongker

- Diaduk

- Dititrasi dengan Na΍S΍OΎ 0,1134 N hingga terjadi perubahan warna dari

biru dongker menjadi bening pada titik akhir titrasi

- Dicatat volume Na΍S΍OΎ yang terpakai

(37)

3.2.3 Penentuan Asam Lemak Bebas

a. Pembuatan KOH 0,1 N

- Ditimbang 2,8 gram KOH pelet

- Ditambahkan aquades sampai tepat larut

- Dimasukkan kedalam labu takar 1 L

- Ditambahkan aquadest sampai garis batas

- Dihomogenkan

b. Standarisasi KOH

- Ditimbang ± 0,1 gram asam oksalat H2C2O4 . 2 H2O

- Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 250 mL

- Ditambahkan 25 mL aquades

- Ditambahkan 2 – 3 tetes indikator penolftalein

- Dititrasi dengan KOH 0,1 N yang akan distandarisasi sampai berwarna

merah lembayung

Perhitungan

c. Penentuan Asam Lemak Bebas

- Dicairkan sampel

- Ditimbang sampel sebanyak ± 10 gram kedalam erlenmeyer

- Ditambahkan etanol netral sebanyak 50 mL

(38)

- Ditambahkan 3 tetes indikator penolftalein

- Dititrasi dengan KOH 0,1063 N hingga terjadi perubahan warna dari

bening menjadi merah lembayung pada titik akhir titrasi

(39)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan

Tabel 2. Bilangan Peroksida dan Asam Lemak Bebas

Waktu

Deodorisasi

Bilangan Peroksida Asam Lemak Bebas

Ulangan I Ulangan II

Rata-Dari data di atas didapatkan nilai asam lemak bebas menurun, hal ini disebabkan

(40)

Dalam penelitian ini proses deodorisasi dilakukan dengan menggunakan alat

vakum evaporator. Dalam proses deodorisasi pompa vakum dihidupkan dan uap

dialirkan kedalam alat dengan tekanan ± 10 mbar. Dengan adanya tekanan ini

maka asam lemak bebas dan bau akan menguap dan masuk ke puncak alat,

selanjutnya akan dihisap oleh pompa vakum (Siahaan et al,2003).

Hasil penelitian Haryanto (2000) juga menunjukkan adanya pengaruh

antara suhu dan waktu deodorisasi terhadap kadar asam lemak bebas. Hal ini

menunjukkan keberhasilan proses deodorisasi karena kadar asam lemak bebas

merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui keberhasilan proses

deodorisasi dan merupakan indikator dalam kerusakan minyak. Menurut Siahaan

et al (2003) karena banyak komponen yang tidak diinginkan dalam minyak yang

memiliki tekanan uap kisaran yang sama dengan asam lemak bebas, maka

kandungan asam lemak bebas merupakan salah satu ukuran keberhasilan

deodorisasi.

Asam lemak bebas dalam minyak tidak dikehendaki karena degradasi

asam lemak bebas tersebut menghasilkan rasa dan bau yang tidak disukai. Jumlah

asam-asam lemak bebas yang semakin meningkat merupakan tanda dari adanya

proses ketengikan dalam bahan pangan. Asam-asam lemak bebas dihasilkan dari

proses hidrolisis karena terdapatnya sejumlah air dan dalam lemak atau minyak

(41)

Menurut Hamn (1994) penurunan peroksida pada proses deodorisasi

dikarenakan peroksida terdekomposisi oleh panas menjadi komponen volatil yang

mempunyai berat molekul yang rendah. Bilangan peroksida menunjukkan

terjadinya suatu reaksi oksidasi yang terjadi pada minyak atau lemak yang

dipanaskan dan adanya kontak minyak dengan udara. Bilang peroksida adalah

nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak.

Asam lemak jenuh dapat mengikat oksigen pada iktan rangkapnya sehingga

membentuk peroksida (Shahidi, 1997).

Dari percobaan yang dilakukan didapatkan nilai peroksida dari 0 jam

sampai 2 jam proses menurun yang menandakan proses berhasil, tetapi tidak

dengan 3 jam berikutnya bilangan peroksida meningkat. Hal itu dikarenakan

pompa vakum juga dipakai untuk kegitatan lain yang menyebabkan oksigen

semakin banyak masuk sehingga menyebabkan oksidasi asam lemak yang akan

membentuk peoksida (Ketaren,1986). Karena adanya pemadaman listrik yang

memnyebabkan suhu proses deodorisasi turun sehingga waktu deodorisasi

semakin lama untuk menunggu suhu konstan dan waktu proses deodorisasi

diulang. Menurut Ketaren (1986) semakin lamanya pemanasan dengan suhu yang

tinggi maka akan meningkatkan proses oksidasi asam lemak sehingga akan

menyebabkan kenaikan bilangan peroksida. Pada 4 jam kemudian bilangan

(42)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

- Proses deodorisasi sederhana pada cocoa butter substitutes (CBS) selama 4 jam

pada tekanan ± 10 mbar dan suhu 180o-200oC berhasil. Hal tersebut terlihat dari

kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida yang menurun pada proses

deodorisasi jam ke 4.

- Bilangan peroksida mengalami penurunan kecuali pada proses deodorisasi jam

ke dua mengalami peningkatan ke proses deodorisasi jam ke tiga mengalami

peningkatan dan mengalami penurunan kembali pada proses deodorisasi jam ke

empat. Sedangkan untuk kadar asam lemak bebas konstan mengalami penurunan

(43)

5.2 Saran

- Sebaiknya alat vakum pada saat proses deodorisasi tidak digunakan juga

untuk melakukan percobaan lain agar tidak mengganggu proses deodorisasi

yang dilihat dari bilangan peroksida dan asam lemak bebasnya.

- Sebaiknya pada saat menganalisa dilakukan dengan teliti dan memperhatikan

faktor-faktor yang memengaruhi analisa sehingga mendapatkan hasil yang

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Basiron, Y. 2007. “Palm Oil” Bailey’s Industrial Oil and Fat Product, Volume 2: Edible Oil and Fat Product. Edible Oils.

Bernardini, E. 1983. Vegetable Oils and Fats Prossesing. Publishing House. Roma.

Ketaren, S. 2008. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI-Press.

Minifie, W.B. 1999. Chocolate, Cocoa and Confrictinary Sains Technology. An Aspen Publication.London.

Potter, N. 1986. Food Science. Fourth edition. Avi Book, Van Nostrand Reinhold Company. Australia.

Sara and Richard. 1997. Mixtures of Palm Kernel Oil With Cocoa Butter & Milk Fats in Compound Coating. JAOCSc74.

Siahaan, D., dan Hasrul A.H. 2012. Optimasi Hidrogenasi Inti Sawit Skala 100kg/Batch dan Rafinasi Cocoa Butter Substitute Yang Dhihasilkan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Tarigan, J.Br. 2005.Pembuatan Pengganti Mentega Coklat (Cacao Butter Sunstitutes) Melalui Reaksi Interesterifikasi Antara Refined Bleached Deodorizet Palm Oil (RBDPO) DAN Palm Kernel Oil (PKO) Dengan Menggunakan Katalis Natrium Methoksida.Jurnal Sains Kimia Volume 9.Nomor 3.Universitas Sumatera Utara.Medan.

Wahyudi, T.P. dan Pujiyanto. 2008.Panduan Lengkap Kakao. Penebar Swadaya. Jakarta.

(45)

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Rangkaian Alat Deodorisasi Sederhana

Gambar 1. Rangkaian Alat Deodorisasi Sederhana

LAMPIRAN 2. Data Bilangan Peroksida

Tabel 3. Bilangan peroksida Deodorasi CBS Ulangan I

(46)

Tabel 4. Bilangan peroksida Deodorisasi CBS Ulangan II

LAMPIRAN 3. Penentuan Asam Lemak Bebas (ALB)

Tabel 5. ALB Deodorasi CBS Ulangan I

NO Waktu

Tabel 6. ALB Deodorisasi CBS Ulangan II

Gambar

TABEL 1. Komposisi Asam Lemak Minyak Inti Sawit
Tabel 2. Bilangan Peroksida dan Asam Lemak Bebas
Tabel 3. Bilangan peroksida Deodorasi CBS Ulangan I
Tabel 4. Bilangan peroksida Deodorisasi CBS Ulangan II

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengupayakan teknik kendali proses dalam produksi minyak sawit merah serta aplikasinya pada beberapa produk pangan seperti teknik formulasi dan produksi

Prinsip kerja alat destilasi vakum didasarkan pada fenomena pemvakuman dibawah 1 atm agar menurunkan titik didih pelarut sehingga komponen minyak jahe yang terkandung tidak rusak

Pembuatan Karbon Aktif Dari Biji Kelor Dapat Menurunkan Asam Lemak Bebas dan Bilangan Peroksida Pada Minyak Jelantah 4. BEP ini digunakan untuk menganalisa proyeksi sejauh

Dari data pada tabel 1, besarnya bilangan asam dan kadar asam lemak bebas yang diperoleh dari hasil adsorbsi minyak jelantah dengan buah mengkudu sebagai adsorben, dapat

Pada penelitian ini Reaksi hidrogenasi minyak kelapa mengalami peningkatan kecepatan saat komposisi katalis komersial Pricat 9910 ditambahkan dengan katalis nikel sebanyak 0,75 gram

Penelitian ini mempelajari kemampuan bioadsorben dari ampas tebu untuk menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan peroksida (PV) dan warna gelap minyak

Dari data pada tabel 1, besarnya bilangan asam dan kadar asam lemak bebas yang diperoleh dari hasil adsorbsi minyak jelantah dengan buah mengkudu sebagai adsorben, dapat

Sehingga diperoleh aktivitas adsorben NCA lebih besar daripada NZA dalam proses Refreshing minyak goreng jelantah berdasarkan tolok ukur bilangan peroksida, kadar asam