• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mempelajari Neraca Air Tanah Harian untuk Estimasi Besarnya ETc dan Kc Tanaman Teh di PTPN VII Perkebunan Gunung Mas Puncak, Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mempelajari Neraca Air Tanah Harian untuk Estimasi Besarnya ETc dan Kc Tanaman Teh di PTPN VII Perkebunan Gunung Mas Puncak, Jawa Barat"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

UNTUK ESTIMASI BESARNY A ETc DAN Kc TANAMAN TEH

DI PTPN VIII PERKEBUNAN GUNUNG MAS

PUNCAK, JA WA BARA T

Oleh:

HELDlYANA F 290053

1998

FAKULTASTEKNOLOGIPERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

INSTITUT PERT ANIAN BOGOR

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

MEMPELAJARI NERACA AIR T ANAH HARlAN

UNTUK ESTlMASI BESARNY A ETc DAN Kc T ANAMAN TEH

Dl PTPN Vlll PERKEBUNAN GUNUNG MAS

PUNCAK, JA WA BARA T

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

Pada Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

HELDIYANA

F 290053

1998

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERT ANIAN BOGOR

(3)

UNTUK ESTIMASI BESARNY A ETc DAN Kc T ANAMAN TEH

DI PTPN VIII PERKEBUNAN GUNUNG MAS

PUNCAK, JAWA BARAT

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

Pada Jurusan Teknik Peltanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

HELDIYANA F 290053

Dilahirkan di Garut, 14 April 1974

(4)

Heldiyana (F2900S3). Mempelajari Neraca Air Tanah Harian Untuk Estimasi Besarnya ETc dan Kc Tanaman Teh Di PTPN VIII Perkebunan Gunung Mas Puncak Jawa Bara!. Dibawah bimbingan Dr. Ir. H.M. Azron Dhalhar. MSAE

RINGKASAN

Didalam proses pertanian, air merupakan salah satu faktor terpenting. Kebutuhan air bagi tanaman sebagian besar dari air tanah yang diserap akar tanaman dan ditranspirasikan melalui daun (Suseno, 1974). Banyaknya air yang diperlukan tanaman tergantung antara lain pada jenis tanaman, fase pertumbuhan dan evapotranspirasi yang ada hubungannya dengan faktor lingkungan seperti iklim, kesuburan tanah dan kelembaban tanah (Richards dan Wedleich, 1952). Hubungan antara kandungan air tanah dan pertumbuhan tanaman antara lain dapat dikemukakan bahwa pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh bertambahnya kekeringan setelah kapasitas lapang. Pada lapisan tanah atas kandungan air tanah akan berkurang karena evaporasi dan transpirasi yang sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur klimatologi, jenis tanah dan kedalaman tanah.

Tanaman teh termasuk dalam genus Cammellia famili Theaceae. Menurut daerah asalnya, tanaman teh terbagi menjadi 3 jenis yaitu species sinensis dari Cina, species assamica dari Assam (India) dan species cambodiensis dari Indo Cina.

Interaksi antara air, tanah dan tanaman dalam mempengaruhi hasil tanaman sangat kompleks. Menurut Slayter dan Goode (1967) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tanaman adalah tanah, tanaman itu sendiri dan iklim. F aktor tanah yang berpengaruh adalah kandungan air tanah, tekstur, tebal, salinitas, kesuburan, suhu, aerasi dan drainasenya. Faktor

dari

tanaman itu sendiri adalah varietas, kerapatan dan kedalaman akar, laju pertumbuhan akar dan ketahanan terhadap musim kering. Sedangkan faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu, kelembaban, angin, hujan dan lama penyinaran matahari. Pada kondisi kapasitas lapang, akar dengan mudah mengabsorpsi air. Laverton (1964) menyatakan bahwa kekurangan air akan mengakibatkan turunnya produksi tanaman dibawah kemampuan produksi maksimum. Perubahan kandungan air tanah berpengaruh terhadap produksi tanaman. Hal ini dapat dilihat dengan melakukan neraca air di daerah perakaran tanaman yaitu jumlah volume air yang berada di daerah perakaran tanaman yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman. lumlah air tersebut berubah menurut waktu, ada atau tidaknya hujan, naungan danjenis tanah (Sumama, 1982).

Tujuan dari penelitiall ini adalah mempelajari neraca air tanah berdasarkan perubahan kadar air tanah harian pada (anaman teh dan menggunakan neraca air tanah harian untuk estimasi besamya ETc dan Kc tanaman teh dengan menggunakan ETo terhitlmg.

(5)

kelembaban tanah perlu dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk pengukuran. Pengkalibrasian dilakukan dengan menggunakan eontoh tanah pada lahan yang akan digunakan sesuai dengan kedalaman tanah yang akan diukur. Penentuan kadar air untuk kalibrasi alat ini dilakukan dengan metode gravimetrik. Hasil kalibrasi ini diplotkan pad a grafik yaitu skala pada sumbu X dan kadar air pada sumbu Y, sehingga akan didapatkan hubungan antara skala dan kadar air. Evapotranspirasi tanaman diduga dengan menggunakan metode radiasi kemudian menentukan koefisien tanaman sesuai dengan jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman (Doorenbos dan Pruitt, 1977). Profil kandungan air tanah diamati mulai dari permukaan tanah dengan selang 20 em sampai dengan kedalaman perakaran dengan menggunakan alat ukur kelembaban tanah (blok gipsum). Blok gipsum ditanamkan pada kedalaman 10. 30, 50. 70 dan 90 em dan ditempatkan seeara aeak di sekeliling tanaman teh tersebllt pada masing-masing tanaman dari tiga tanaman teh. Perubahan kadar air tanah total hasil pengamatan memberikan gambaran profil kandungan air tanah di dalam tanah.

Berdasarkan hasil analisa sifat fisik tanah, seeara umum lapisan tanah di lokasi penelitian makin ke bawah bobot isi makin tinggi dan sebaliknya makin ke bawah porositas makin rendah. Hal ini menllnjllkkan bahwa granlllasi lapisan tanah makin ke bawah makin buruk, lapisan tanah makuin ke bawah makin padat. Nilai bobot isi tanah di lokasi penelitian berkisar antara 0.86-0.96 glee. Sedangkan nilai porositas berkisar antara 63.77-67.17 %.

Analisis pF memberikan petunjuk mengenai kemampuan menahan air dari suatu tanah. Kandllngan air pada kapasitas lapang ditunjukkan dengan pF=2.S4 yaitu sebesar 41.83%. Kandungan air pada titik layu permanen ditunjukkan dengan pF=4.20 yaitu sebesar 23.02%. Air tersedia bagi tanaman merupakan selisih antara kandungan air pada pF=2.54 dengan pF=4.20 yaitll sebesar 18.80%. Penneabilitas tanah berkisar antara 3.53-35.8 em/jam dimana pada kedalaman 0-100 em termasuk klasifikasi permeabilitas eepat. Tekstur tanah di lokasi penelitian termasllk kedalam tekstur tanah lempllng liat berpasir yang terdiri dari 275.41% pasir, 95.41% debu dan 129.18% liat. Nilai ETo aeuan selama penelitian berkisar antara 5.3-14.2 mm/hari dengan rata-rata 10.40 nun/hari. Sedangkan nilai ETc rata-rata dari tiga tanaman yaitu 6.96 mmlhari. Dengan membandingkan nilai ETc rata-rata dengan ETo rata-rata maka diperoleh nilai koefisien tanaman yatu sebesar 0.72.

(6)

KATA PENGANTAR

Wawasan serta kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh selama di bangku kuliah perlu dikembangkan. Oleh karena itu mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian FA TETA-IPB diwajibkan melaksanakan penelitian masalah khusus.

Penelitian merupakan salah satu perwujudan dari Tri Dharma perguruan tinggi yaitu kegiatan yang mengintegrasikan unsur pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dalam kebijaksanaan pendidikan tinggi dijelaskan bahwa pendidikan tinggi harus merupakan bagian integral dari pembangunan nasional maupun regional dan merupakan penghubung antara dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari laju dan jumlah penyerapan air tanah berdasarkan perubahan kadar air tanah pada tanaman teh serta membandingkan nilai ETc terukur dengan ETo terhitung berdasarkan mmus dan menghitung nilai Kc untuk tanaman teh.

Penelitian dilakukan dengan bimbingan dosen pembimbing akademik. Penelitian dilakukan dengan metode pengamalan langsung serta studi pustaka.

Perkebunan teh Gunung Mas Puncak merupakan salah satu pabrik pengolahan teh yang berada dibawah naungan PTPN VIII yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari lahan perkebunan sendiri. Selain itu perkebunan teh Gunung Mas juga mempakan salah satu areal wisata pegullullgall di kawasan PUllcak dan dikenal dengan sebutan agrowisata.

(7)

rakhmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempuma. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Atas segal a dorongan, bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis mengueapkan terima kasih kepada :

I. Bapak Direktur PTPN VIII , Bapak Manajer Perkebunan teh Gunung Mas serta seluruh staf dan karyawan yang telah berkenan memberikan izin serta bantuan selama penelitian 1111

2. Bapak Dr. Ir. H.M. Azron Dhalhar, MSAE sebagai dosen pembimbing akademik yang dengan begitu sabar telah memberikan bimbungankepada penulis

3. Bapak Dr. Ir. Asep Sapei, MS dan Bapak Ir. Gardj ito, Mse se bagai dosen penguj i yang telah banyak memberikan masukan dalam penyempumaan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Asep Syaiful H selaku pimpinan Lembaga Pendidikan "LogicaiAsashi"(LPLA) Wanaraja, Garut beserta staf

5. Ibunda, Ayahanda, Teh Imas dan Kang Omay serta Enei, Teh Susi serta Kang Dadang juga Fitri, Asep. Evi. Eva dan Eli dan semua anggota keluarga besar Aim. Bapak Usup yang dengan sabar telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis

6. Seno serta Oei. Charles Djokaho, Dedi Noval, Irwan, Wikri, Hanny, Ari, Sonny, Indri, Dudy, Lenny, Tari, Yossy. Sandy, Dry. Binson, Mita, Andar, Juve, Santi, Nina. Pupung, Asep, Udin, Amy serta semua rekan MP 29 yang tidak dapat disebutkan satu persatu

(8)

7. Nano dan Otang yang suka bercanda melulu

8. Tita Rosdaliatini yang selalu memberikan semangat

Bogor, April 1998

Penulis,

(9)

DAFT AR T ABEL... VI DAFTAR GAMBAR... VII

DAFTAR LAMPlRAN... VIII

I. PENDAHULUAN... I A. LATARBELAKANG... I

B. TUJUAN... 3

II. TINlAUAN PUSTAKA... 4

A. TEl·f... 4

B. TANAH SEBAGAI MEDIA UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN... 5

C. HUBUNGAN TANAH, AIR DAN TANAMAN... 5

C.I. ABSORPSI AIR DAN TlTlK LA YU... 7

C.2. ARTI AIR BAG! TANAMAN... 8

C.3. EVAPOTRANSPlRASI... 8

D. CURAH HUlAN EFEKTIF... II E. PERUBAHAN KANDUNGAN AIR TANAH... 14

F. PENENTUAN KELEMBABAN TANAH... 14

G. SIFAT-SIFATFISIKTANAH... 16

III. METODOLOGI ... 21

A. WAKTU DAN TEMPATPENELITIAN... ... 21

B. ALAT DAN BAHAN... 21

C. PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN... 21

C.I. PENYIAPAN LAHAN... 21

C.2. PENGKALIBRASIAN ALAT... 21

C.3. PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASJ... 22

C.3. PENGUKURAN PERUBAHAN KADAR AIR TANAH... 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 24

A. KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TANAH... 24

B. EYAPOTRANSPIRASI DAN CURAH HUJAN... 27

C. PERUBAHAN KANDUNGAN AIR TANAH... 29

Y. KESIMPULAN DAN SARAN... 32

(10)

A. KESIMPULAN... 32

B. SARAN... 32

DAFT AR PUST AKA... 33

LAMPlRAN... 36

(11)

Tabel2. Klasifikasi kelembaban tanah dan tegangan air... ... 18 Tabel 3. Oaya menahan air dari berbagai tekstur tanah... 20 Tabel4. Kadar air tanah (% vol) pad a pF = 2.54 dan pF = 4.20, air tersedia (%

vol) untuk tiap kedalaman... ... ... ... 25 Tabel 5. Keadaan permeabilitas untuk tiap-tiap kedalaman... ... 26 Tabel6. Tekstur tanah pada tiap-tiap kedalaman... 27 Tabel7. Perbandingan ETo rata-rata bulanan dengan curah hujan dari tahun

1985-1996... .... 28

Tabel 8. Hasil perhitungan nilai ETc 30

Tabel9. Nilai Eto, Etc dan Kc. ... .... ... ... ... 31

[image:11.600.62.503.117.397.2]
(12)
[image:12.600.74.489.116.319.2]

DAFT AR GAMBAR

Gambar 1. Tiga komponen utama dari faktor-faktor yang mempengaruhi produksi teh (Flinn, 1971 )... ... 6 Gambar 2. Hubungan umum antara sifat air tanah-tekstur tanah (Soepardi,

1979)... ... ... 7 Gambar 3. Pola ekstraksi tanaman terhadap kelembaban tanah (Hansen, et aI,

1979)... ... ... .... 19 Gambar 4. Kurva pF untuk tiap-tiap kedalaman... ... 25 Gambar 5. Kurva ETo, ETc dan Kc... 31

(13)

Lampiran 2. Data sifat fisik tanah... ... .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. 38

Lampiran 3. Data sifat tekstur tanah.... ... ... . . . . .. . ... ... . .. 38

Lampiran 4. Hasil perhitungan ETo penelitian... 39

Lampiran 5. Perhitungan ETo rata-rata bulanan dari tahun 1985-1996... ... ... 40

Lampiran 6. Nilai ETo bulan September dan Oktober 1997... 40

Lampiran 7. Hasil kalibrasi alat... 41

Lampiran 8. Hasil perhitungan perubahan kadar air tanah... 45

Lampiran 9. Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dari tahun 1985-1996 57 Lampiran 10. Segitiga tekstur tanah... ... 58

Lampiran II. Nilai faktor tanaman (C) di Indonesia (Hammer, 1980 dalam Hardjowigeno, 1987)... ... ... ... 59

Lampiran 12. Grafik hubungan antara RH (%), angin (mldt) dan faktor

WRs

(mmlhari) untuk penghitungan ETo ( mmlhari) dengan metoda radiasi (Doorenbos dan Pruitt, 1977).. ... ... 60

Lampiran 13. NiJai Radiasi ekstrateresterial (Ra)... 61

[image:13.599.66.502.104.554.2]
(14)

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dalam pengertian fisika pertanian, tanaman memerlukan 5 hal untuk kelangsungan

pertumbuhannya dengan sehat, yaitu : media dukung, oksigen, air, unsur hara dan suhu.

-Media dukung, tanah merupakan media dukung utama dimana sistem perakaran

berkembang dan mendukung pertumbuhan.

-Oksigen, akar tanaman dan organisme tanah yang hidup perlu oksigen untuk respirasi.

Porositas dan aerasi tanah penting kaitannya dengan tersedianya oksigen dalam tanah.

-Air berfungsi sebagai zat hara dan pelarut zat hara lain, terikat oleh pal1ikel-partikel

tanah dan selanjutnya mempengaruhi tingkat ketersediaan hara didalam tanah yang

terserap oleh akar tanaman.

-Unsur hara, tanaman menyerap unsur hara yang tersedia didalam tanah dengan cara

mengabsorpsinya dari tanah.

-Suhu, suhu mempengaruhi pertumbuhan tanaman, optimum atau tidak optimum.

Apabila kelima hal tadi tidak tersedia secara baik, maka pertumbuhan tan am an

akan tidak optimum. Kekurangan air akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman

terhambat dan menyebabkan mudah terserang hama dan penyakit (Kozlowski, 1972).

Keadaan cuaca selama musim hujan dan musim kemarau dapat mempengaruhi

tingkat produksi pllcuk tanaman teh, karena hal terse but dapat menyebabkan perbedaan

neraca air dalam kedua mllsim tersebllt. Mllsim kemarall yang berkepanjangan dapat

mengakibatkan tanaman teh mengalami tekanan kekurangan air karena kadar air tanah

(15)

Didalam proses pertanian, air merupakan salah satu faktor terpenting. Oleh karena

itu haruslah diusahakan agar dapat disediakan air bagi pertumbuhan tanaman dalam

jumlah yang cukup dan dalam waktu yang tepa!.

Air merllpakan senyawa yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman dalam jumlah

yang besar. Air terdapat di seluruh bagian tubuh tanaman. Dibandingkan dengan

faktor lingkllngan lain, air merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap laju

pertllmbuhan. Lebih dari 80% berat basah sel dan jaringan tumbllhan terdiri dari air.

Walauplln demikian, hanya sebagian kecil (umumnya kllrang dari I %) air yang

diabsorbsi tanaman dipergunakan llntllk reaksi metabolisme. Keblltuhan air bagi

tanaman sebagian besar dari air tanah yang diserap akar tanaman dan ditranspirasikan

melailli daun (Sllseno, 1974).

Banyaknya air yang diperlukan tanaman tergantung antara lain pada jenis tanaman,

fase pertumbuhan dan faktor-faktor lingkllngan seperti iklim, kesuburan tanah dan

kelembaban tanah (Richards dan Wedleich, 1952). Selanjutnya Chang (1968)

mengemukakan bahwa setiap proses yang terjadi dalam tanaman dipengaruhi oleh air,

hubungan terse but bervariasi menurut ciri tanaman, tingkat pertumbuhan, keadaan

tanah dan iklim. Hubungan antara kandungan air tanah dan pertumbuhan tan am an

antara lain dapat dikemukakan bahwa pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh

bertambahnya kekeringan setelah kapasitas lapang.

Tadjang (1980) mengemukakan bahwa salah satu hambatan pengelolaan tanah

kering untuk pertanian adalah sulitnya mempertahankan kelembaban tanah yang cukup

bagi tanaman selama masa pertumbuharU1ya, terutama jika diinginkan pertumbuhan

(16)

3

Perubahan kandungan air tanah (kadar air tanah) adalah perbedaan kandungan air

tanah pada suatu periode dengan peri ode yang akan datang. Pada lapisan tanah atas,

kandungan air tanah akan berkurang karen a evaporasi dan transpirasi yang sangat

dipengaruhi oleh unsur-unsur klimatologi seperti radiasi matahari, kelembaban udara,

kecepatan angin, suhu tanah dan suhu udara. Selain itu perubahan kandungan air tanah

akan bervariasi menurut jenis tanah dan kedalaman tanah.

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah :

I. Mempelajari neraca air tanah berdasarkan perubahan kadar air tanah harian pada

tanaman teh.

2. Menggunakan neraca air tanah harian untuk estimasi besarnya ETc dan Kc tanaman

(17)

Tanaman teh termasuk dalam genus Cammellia famili Theaceae. Menurut daerah asalnya. tanaman teh dibedakan menjadi 3 jenis yaitu species sinensis dari Cina, species assamica dari Assam (India) dan species cambodiensis dari Indo Cina.

Tanaman teh tumbuh di daerah tropis dan subtropis dengan curah hujan sepanjang tahun tidak kurang dari 1500 mm. Tanaman ini memerlukan kelembaban yang tinggi dan temperatur udara antara 13-29.5°C dengan ketinggian diatas 800 m. Tanaman ini secara komersial diusahakan selama 50-60 tahun tergantung pada kondisi lingkungan dan pengelolaannya. Tanaman teh termasuk tanaman perdu dan jika dibiarkan akan tumbuh mneneapai ketinggian lebih dari 10 meter. Batang dan dahan tanaman teh mengayu dan keras baik untuk digunakan sebagai bahan bakar. Akar tanaman teh adalah akar tunggang yang eukup panjang. Kedalaman perakaran tanaman teh adalah 90-150 em dengan perakaran utama lapisan atas tanah sedalam 0-25 em. Daun teh adalah daun tunggal dan mempunyai bentuk lanset dengan ujung meruncing dan bertulang menyirip. tepi daun licin dan bergerigi dengan wama daun yang sudah tua adalah wama hijau tua sedangkan yang muda berwama hijau muda. Pucuk daun teh mempunyai tangkai yang lunak sehingga mudah dipetik akan tetapi sifat yang lunak ini menyebabkan pucuk teh tidak tahan terhadap hembusan angin yang kencang.

(18)

5

Pertumbuhan tunas tanaman teh tidak terus menerus. Ada suatu masa dimana tanaman teh dapat tumbuh aktif dan pada masa lain tidak tumbuh. Karena kejadian ini silih berganti maka dinamakan uperiodisitas" (Sutedjo, 1972).

B. Tanah Sebagai Media untuk Pertumbuhan Tanaman

Tanah adalah benda alami yang heterogen terdiri dari fase padat, cair dan gas. Sebagai prod uk alami yang heterogen dan dinamik, maka sifat dan perilaku tanah berbeda dari satu tempat ke tempat lain (Arsyad, 1982).

Tanah sebagai media dimana tanaman menggabungkan energi matahari dan karbondioksida dari atmosfer dengan unsur hara dan air dari tanah kedalam bentuk

j aringan hidup.

C. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman

Interaksi antara air, tanah dan tanaman dalam mempengaruhi hasil tanaman sangat kompleks. Menurut Slayter dan Goode (1967) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tanaman adalah tanah, tanaman itu sendiri dan iklim. Faktor tanah yang berpengaruh adalah kandungan air tanah, tekstur tanah, tebal, salinitas, kesuburan, suhu, aerasi dan drainasenya. Faktor yang berpengaruh dari tanaman itu sendiri adalah varietas , kerapatan dan kedalaman akar, laju pertumbuhan akar dan ketahanan terhadap musim kering. Sedangkan faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu, kelembaban, angin, hujan dan penyinaran matahari. Tiga komponen utama dari faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tanaman diperlihatkan pada Gambar I.

Menurut Flinn (197 I) tiga komponen utama tersebut yaitu :

(19)

Hasil Kualilas Kua lilas

Tingkal pertumbuhan fisiologi tanaman

1

Tingkat pertumbuhan fisiologi tanaman

Tegangan kelembaban

Tanah

Tingkat kelembab n tanah

ManaJemen

isap oleh tanaman

2

Volume dan kerapatan akar

[image:19.599.86.510.77.577.2]

Genotif

(20)

7

2. Pemenuhan kelembaban tanah terhadap tanaman

3. Interaksi antara pemberian dan penggunaan air terhadap hasil

Kemampuan tanah untuk menahan air (water holding capacity) adalah besamya kadar air yang dapat disimpan di daerah perakaran pada batas antara kapasitas lapang dan titik layu perman en. Kemampuan tanah untuk menahan air akan berbeda untuk setiap tekstur tallah (Soepardi, 1979). Pada Gambar 2 diperlihatkan hubungan umum antara sifat air tanah dengan tekstur tanah (Soepardi, 1979).

% air cm air/3D cm tanah

24

18 Kapasitas lapang

Air tidak tersedia Pasir

Air tersedia

Koefisien layu

セ@ L· lat

Gambar 2. Hubungan umum antara sifat air tanah-tekstur tanah (Soepardi, 1979)

C.l Absorpsi Air dan Titik Layu

Pada kondisi kapasitas lapang, akar -akar dapat dengan mudah mengabsorpsi aIr. Air yang dekat dengan akar-akar akan bergerak perlahan-Iahan searah dengall akar.

[image:20.600.81.489.288.451.2]
(21)

ditahan oleh tanah setelah air berperkolasi ke bawah secara gravitasi menjadi sangat pelan dan air yang ditahan menjadi relatif stabil (Kramer, 1983).

C.2 Arti Air 8agi Tanaman

Ail' mempunyai peranan penting terhadap tanaman. Pemberian atr yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Melalui akarnya setiap tanaman mencoba mengabsorpsi air secukupnya dari tanah untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Yang terpenting adalah bahwa air itu dalam keadaan yang mudah diabsorpsi oleh tanaman (Sosrodarsono dan Takeda, 1977). Tersedianya air tanah bagi tanaman tergantung dari jenis tanah dan kemampuan tanaman itu sendiri untuk memanfaatkan air yang ada. Bersama

garam-garam yang larut membentuk larutan yang merupakan sumber hara bagi

tanaman (Soepardi, 1979). Laverton (1964) menyatakan bahwa kekurangan air akan mengakibatkan turUlmya produksi tanaman dibawah kemampuan produksi maksimllm.

Disamping itll air tanah berguna untuk mempertahankan kelembaban tanah. Sebagai pelarut zat-zat hara yang dibutuhkan tanaman dan juga untuk melunakkan tanah sehingga akar tanaman mudah masuk kedalam tanah.

C.3 Evapotranspirasi

(22)

9

Dastane (1974) mengemukakan bahwa evapotranspirasi merupakan

kebutuhan air tanaman. Menurut Doorenbos dan Pruitt (1977), kebutuhan air

tanaman didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan melalui evapotranspirasi tanaman sehat yang tumbuh pada lahan luas

dan kondisi air tanah bukan merupakan faktor pembatas untuk mencapai

produksi potensial dibawah kondisi pertumbuhan tertentu.

Selanjutnya oleh Doorenbos dan Pruitt (1977) dinyatakan bahwa ada tiga

tahap pekerjaan untuk menentllkan nilai evapotranspirasi tanaman, yaitu:

I. Penentuan pengaruh kondisi setempat

2. Penentuan nilai evapotranspirasi acuan

3. Penentuan koefisien tanaman sesllai dengan tingkat pertumbllhan tanaman

Evapotranspirasi tanaman yang juga merupakan kebutuhan air tanaman

adalah:

ETc

=

ETo x Kc ... {l)

dimana:

ETc

=

Evapotranspirasi tanaman, mm/hari Kc

=

Koefisien tanaman

ETo = Evapotranspirasi acuan, mmlhari

Angka koefisien tanaman berbeda untuk setiap jenis dan rase atau urnur

tan am an. Menllrut Sosrodarsono dan Takeda (1983), evapotranspirasi potensial

adalah besamya evapotranspirasi dimana air tanah tersedia cukup banyak.

Evapotranspirasi tergantung dari unSllf-unSllf klimatologi yang meliputi radiasi

(23)

Besamya nilai evapotranspirasi acuan (ETo) dapat ditentukan dari persamaan

empiris, yaitu :

a. Metode Blanney- Criddle (1950) dalam Doorenbos dan Pruitt (1977)

ETo = C Ip(0.46 T + 8>1 ... (2)

dimana:

ETo = evapotranspirasi acuan, mm/hari

C faktor penyesuaian yang tergantung pada kelembaban relatif, lama

penyinaran dan perkiraan kecepatan angin pada siang hari

T = suhu rata-rata harian selama satu bulan,

°c

P = rata-rata persentase harian waktu siang b. Metode Radiasi (Doorenbos dan Pruitt, 1977)

ETo

=

C(W x Rs) ... (3)

dimana:

ETo = evapotranspirasi acuan, mmlhari

C faktor penyesuaian yang tergantung pada kelembaban relatif dan

kecepatan an gin

W faktor pemberat yang tergantung pada suhu udara dan letak geografis

Rs radiasi matahari setara dengan nilai evaporasi, mmlhari

c. Metode Penman (1948) dalam Doorenbos dan Pruitt (1977)

ETo

=

C( WRn + (I-W) f(U) (ea-ed» ... (4) dimana:

ETo = evapotranspirasi acuan, mmlhari

C = faktor penyesuaian

(24)

II

f(U)- fungsi kecepatan angin

Rn セ@ radiasi netto, setara dengan evaporasi, mmlhari

(ea-ed) = perbedaan antara tekanan uap jenuh pad a suhu rata-rata udara dengan

uap aktual di lIdara, mbar

N i lai Rn dapat ditentukan dengan persamaan :

Rn

=

(l-a)Rs-f(T).f(ed).f(n/N) ...••.•...•...••...•.••.. (5) dimana:

Rs radiasi matahari, mm/hari

a = koefisien pantulan (Penman mengambil 0.25) f(T)

=

fungsi dari sllhu lIdara

f{nIN)

=

fllngsi dari lama penyinaran matahari f( ed) = fllngsi dari (ed)

d. Metode Panci Evaporasi

ETo = Kp x Epan ...•...••...••... (6) dimana :

ETo

=

evapotranspirasi aCllan, mm/hari Kp = koefisien panci

Epan = evaporasi panci

D. Clirah Hujan Efektif

(25)

selama musim pertumbuhan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan air dari suatu

tanaman. Iskandar (1983) mendefinisikan total curah hujan yang digunakan untuk

kebutuhan tanaman terhadap air dan sekaligus mengurangi evapotranspirasi tanaman

dan jumlah air irigasi sebagai curah hujan efektif. Kalsim (1978) dalam Kusmana

(1983) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya air hujan yang

dianggap efektif bagi tanaman, yaitu: (I) intensitas dan distibusi curah hujan, (2)

Kapasitas penyimpanan air yang tersedia waktu hujan dan (3) sifat drainase. Dalam

studi analisa curah hujan efektif oleh FAO (Dastane, 1974) dikemukakan beberapa

metode untllk menghitung curah hujan efektif. Metode-metode tersebut antara lain:

a. Metode perubahan kelembaban tanah

Curah hujan efektif dihitung sebagai kenaikan kelembaban tanah ditambah

evapotranspirasi aktual dan dihitung mulai turun hujan sampai pengambilan contoh.

CHeff= M2-MI

+

ETc ... (7)

dimana :

CH eff= curah hujan efektif, mm

M2 kandllngan air tanah setelah hujan

M I = kandllngan air tanah sebelum hujan

ETc evapotranspirasi tanaman

b. Metode neraca air tanah harian

Dalam metode ini perkolasi dan aliran pennukaan bukan bagian yang efektif.

Data yang diperlllkan ialah kapasitas menahan air, curah hujan, air irigasi jika ada dan

(26)

13

c. Lisimeter

Metode pengukuran dengan lisimeter mempunyai ketelitian yang cukup tinggi

dan dapat dipakai untuk memeriksa rumus empms dalam perhitungan

evapotranspirasi.

Oldeman dan Syarifuddin (1977) mengatakan bahwa jumlah curah hlljan yang

jatuh dan efektif untuk pertumbllhan tanaman tergantung pada intensitas hlljan,

topografi daerah, sistem penanaman dan tahap pertumbuhan tanaman. Oldeman dan

Syarifuddin (1977) menghitllng cllrah hujan efektif secara empiris yaitu untuk

tanaman padi di sawah sebesar 100% dari peluang terlewati 75% serta untuk

palawijaltanaman tahunan sebesar 75% dari peluang terlewati 75%. Peluang terlewati

untuk hujan bulan an diduga dengan persamaan empirik:

Y

=

0.82 X - 30 ... (8)

Sehingga persamaan empirik curah hujan efektif bulanan untuk padi sawah adalah

sebagai berikut:

-Re = 1.0 (0.82 X - 30) ... (9)

Sedang untuk tanaman palawija dan tanaman tahunan:

Rep=0.7S (0.82 X - 30) ... (10)

dimana:

Re curah hujan efektif bulanan untuk padi, mm/bulan

Rep

=

curah 11luan efektif bulanan untuk palawijaltanaman tahllnan. mmlblilan
(27)

E. Perubahan Kandungan Air Tanah

Perubahan kandungan air tanah adalah perbedaan kandungan air tanah pada suatu peri ode dengan peri ode sesudahnya. Bila eurah hujan efektif kurang dari evapotranspirasi potensial (ETp) maka terjadilah defisit air yaitu kekurangan evapotranspirasi aktual dari nilai potensialnya., yang menunjukkan persediaan air didalam tanah semakin berkurang.

Untuk melihat pengaruh perubahan kandungan air tanah terhadap produksi tanaman dapat dilakukan dengan neraea air di daerah perakaran yaitu jumlah volume air yang berada di daerah perakaran tanaman yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Jumlah tersebut berubah menurut waktu, ada tidaknya hujan, naungan dan jenis tanah (Soemarna, 1982).

Evapotranspirasi aktual umumnya lebih kecil dari evapotranspirasi potensial. Besarnya ETa tergantung pada kandlmgan air tanah tersedia dan evapotranspirasi potensial (ETp) (Doorenbos dan Kassam, 1979).

F. Penentuan Kelembaban Tanah

eara yang ul11um untuk menyatakan persentase kelembaban tanah ialah dalam satuan persentase bobot basah atau dalam gram air yang terdapat dalam 100 gram

tanah.

(28)

15

Beberapa cara pen eta pan kelembaban tanah antara lain: a. Cara gravimetrik

Cara ini merupakan cara yang paling umum digunakan. Sejumlah contoh tanah dimasukkan dalam suatu wadah kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan elektronik lalu dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 10SoC. Setelah itu ditimbang kembali, selisih massanya merupakan jumlah air yang dikandung oleh contoh tanah terse but.

Persamaan menentukan kelembaban tanah secara gravimetrik menurut Sitorus, Haridjaja dan Brata (1980) adalah sebagai berikut :

X-V

e

m = ---x 100 010 ... Hエセ@ V

dimana :

em: Kelembaban tanah (% berat) X : Massa tanah basah (gram) Y : Massa tanah kering (gram) b. Cara Tensiometrik

Cara tensiometrik ini menggunakan alat tensiometer. Dengan alat ini diukur besarnya tegangan tanah mengikat air. Jadi tidak mengukur jumlah absolut air di dalam tanall. Keefektifannya didasarkan pada keseimbangan air dalam tensiometer melalui ujung porous yang berhubungan dengan air tanah. Hisapan dalam tanah sama dengan yang ada dalam tensiometer.

(29)

c. Cara tahanan listrik

Cara ini menggunakan sebuah blok tahanan (resistance block) yang biasanya dibuat dari CaS04, ditempatkan didalam tanah. Tahanan blok terhadap arus listrik tergantung dari jumlah air yang diserapnya. Dengan mengkalibrasikan tahanan terhadap kelembaban tanah, maka dapat dihitung beberapa jumlah air yang terdapat didalam tanah (Soepardi, 1979).

d. Cara pembauran neutron

Cara pembauran neutron merupakan cara penetapan kadar air tanah yang mutakhir. Bila neutron yang dipancarkan bertabrakan dengan atom hidrogen yang terdapat dalam molekul air, maka arah lintasan neutron akan berubah dan kehilangan sebagian dari energinya. Jumlah neutron yang dibaurkan dan diperlambat ini dikorelasikan dengan jumlah atom H dan selanjutnya dengan moleklll H20.

G. Sifat-sifat Fisik Tanah

a. Bulk density dan ruang pori total

Bulk density (bobot isi) menunjukkan perbandingan antara massa tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori-pori tanah.

Bulkdensity

=

Massa tanah kering (g) ... (U)

volume tanah (cc)

(30)

17

Tanah-tanah liat mempunyai pori-pori total lebih tinggi daripada tanah-tanah pasir (Hardjowigeno. 1986).

b. Kapasitas menahan air (Water Holding Capacity)

lumlah air tanah yang bermanfaat untuk tanaman mempunyai batas-batas tertentu. Baik kelebihan air maupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Berdasarkan adanya gaya-gaya adhesi. kohesi dan gravitasi. air didalam tanah dapat dibedakan menjadi (Hardjowigeno, 1986) :

I. Air higroskopis : air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat digunakan tanaman (adhesi antara tanah dengan air ).

2. Air kapiler : air dalam tanah dimana daya kohesi dan adhesi lebih kuat dari gravitasi. Air ini dapat bergerak ke samping atau ke atas karena gaya-gaya kapiler. Sebagian besar dari air kapiler merupakan air yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman.

3. Air gravitasi : air yang tidak dapat ditahan oleh tanaman sehingga meresap· ke bawah karena gaya gravitasi. Air gravitasi hi lang dari tanah dengan membawa unsur-unsur hara seperti N. K dan Ca sehingga dapat menyebabkan tanah menjadi kurus.

(31)

Tabel I. Hubungan antara satuan bal'. em tinggi air dan pF

Bar em tinggi air pF

JIog tinggi air)

0.01 10 I

0.1 100 2

1/3 346 2.53

I 1000 3

10 10000 4

IS 15849 4.18

31 31623 4.5

100 100000 5

1000 1000000 6

10000 10000000 7

Kandungan air pada kapasitas lapang ditunjukkan oleh kandungan air pada

tegangan 1/3 bar. Sedangkan kandungan air pada titik layu permanen adalah pada

tegangan 15 bar. Air tersedia bagi tanaman adalah air yang terdapat pada tegangan

113 - IS bar.

Tabel 2. Klasifikasi kelembaban tanah dan tegangan air

Klasifikasi kelembaban tanah Tegangan

Bar pF

Jenllh 0 0

Air gravitasi (air tanah hi lang)

Kapasitas lapang 1/3 2.53

Air kapiler (dapat diserap tanaman)

Titik laYli permanen IS 4.18

Air kapiler(tidak dapat diserap tanaman)

Koefisien higroskopis 31 4.5

Ail' higroskopis (tidak dapat diserap tanaman)

Kering oven 10000 7.0

Sumber: HardJowlgeno, 1986

Kemampuan tanah untuk menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur

tanah. Tekstllr liat mempllnyai kemampuan menahan air lehih tinggi daripada

[image:31.599.94.366.122.309.2] [image:31.599.95.445.411.607.2]
(32)

19

lumlah air total tersedia (A TT) dapat dinyatakan dalam ketinggian kolom air

seperti pada persamaan berikut (Hansen et al. 1979):

ATT

=

(PWI - PW2) x As x D ... (1J) dimana:

A TT = air total tersedia. mm

PW I = rata-rata kadar air tanah pada kapasitas lapang di daerah perakaran, % berat

PW2= rata-rata kadar air tanah pada titiik layu permanen di daerah perakaran, %

berat

As = apparent specific gravity sarna dengan bulk density dalam satuan metrik

D kedalaman penyerapan air oleh akar tanaman, mm

Menurut Hansen et al (1979) ekstrasi tanaman terhadap air tanah pada

umumnya mempunyai pola 40-30-20-10 persen dari kebutuharmya terhadap air yang

benar-benar tersedia untuk tanaman atau "Total Readily Available Moisture

(TRAM)". seperti diperlihatkan pada Gambar 3.

Kedalaman perakaran 25% pertama 25% kedua

2),Yo kettga

25% keempat

Ekstrasi air

(33)

Sedangkan pada Tabel 3 diperlihatkan daya menahan air dari berbagai tekstur tanah setiap unit kedalaman tanah (Black, 1968).

Tabel3. Daya menahan air dari berbagai tekstur tanah Kelas tekstur tanah Kapasitas air tersedia

(em air/em kedalaman)

Pasir 0.015

Pasir berlempung 0.074

Lempung berpasir 0.121

Lempung bel]l3sir hal us 0.171 Lempung berpasir sangat hal us 0.257

Lempung 0.191

Lempung berdebu 0.234

Debu 0.256

Lempung liat berpasir 0.209

Lempung liat berdebu 0.201

Liat berpasir 0.085

Liat berdebu 0.180

[image:33.599.95.394.166.413.2]
(34)

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan selama 3 bulan terhitung mulai bulan Agustus 1997 sampai dengan bulan Oktober 1997.

Penelitian sifat fisik tanah dan tekstur tanah serta pengkalibrasian alat dilakukan di Laboratorium Fisika dan Kimia Tanah Jurusan Tanah Faperta IPB dan di Laboratoriul11 Mekanika Tanah Jurusan Teknik Pertanian Fateta IPB.

Penelitian lapang dilakukan selama I bulan terhitung mulai 16 September 1997 sal11pai dengan 15 Oktober 1997 di PTPN VIII Perkebunan teh Gunung Mas Puncak.

B. Ala! dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu: alat ukur kelel11baban tanah (blok gipsuml, Oven, bor tanah, ring sampel, dan ampermeter sensor. Sedangkan bahan yang digunakan adalah contoh tanah di areal perkebunan teh Gunung Mas PlIncak, Jawa Bara!.

C. Pengukllran dan Perhitungan I. Penyiapan Lahan Penelitian

Lahan yang akan dipersiapkan untllk pengllkllran adalah lahan di perkebunan teh Gunung Mas, PlIncak.

2. Pengkalibrasian Alat

(35)

kelembabannya, dimana pengukuran akan dilakukan pada kedalaman 0-100 em.

Pengkalibrasian dilakukan dengan menggunakan contoh tanah pada lahan yang akan

digunakan sesuai dengan kedalaman tanah yang akan diukur.

Penentuan kadar air untuk kalibrasi alat ini dilakukan dengan metode

gravimetrik (Persamaan II). Hasil kalibrasi ini diplotkan pada grafik yaitu skala

pada sumbu X dan kadar air pada sumbu Y, sehingga akan didapatkan hubungan

antara skala dan kadar air.

3. Perhitungan Evapotranspirasi

Dalam pendugaan besamya evapotranspirasi tanaman dilakukan beberapa

tahapan yaitu menduga evapotranspirasi acuan dengan menggunakan metode radiasi

(Persamaan 3) dan ketepatan perhitungan yang diinginkan. Kemudian menetukan

koefisien tanaman sesuai jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman (Doorenbos dan

Pruitt, 1977).

4. Pengukuran Perubahan Kadar Air Tanah

Profil kandungan air tanah diamati mulai dari permukaan tanah dengan selang

20 cm sampai dengan kedalaman perakaran dengan menggunakan alat ukur

kelel11baban (blok gipsum). Blok gipsum ditanamkan pada kedalaman 10, 30, 50,

70 dan 90 cm serta ditempatkan seeara aeak pada sekeliling tanaman teh dari tiga

tanaman teh yang diamati.

Perubahan kadar air tanah dial11ati l11elalui al11perl11eter sensor yang menunjukkan

skala nilai kadar air tanah didalal11 tanah. Nilai skala pada ampermeter sensor

terse but dikonversikan kedalal11 persal11aan linear hasil kalibrasi kadar air tanah

(36)

23

Kadar air tanah dalam satuan persen berat dikonversikan kedalam satuan mm

dengan menggunakan Persamaan If (dimana PWI-PW2 diasumsikan sebagai

perubahan kadar air tanah hasil pengamatan). Kadar air tanah (mm) diamati pada

kedalaman 0-20 em, 20-40 em, 40-60 em, 60-80 em dan 80-100 em pada pukul

07.00, 10.00, 13.00, 16.00 dan 19.00 WIB. Besamya kehilangan air akibat , ,

evapotranspirasi merupakan selisih jumlah total kadar air tanah pada kedalaman

0-100 em an tara kadar air tanah pada pukul 07.00 hari itu dengan hari berikutnya.

Nilai evapotranspirasi tanaman adalah selisih antara jumlah penambahan air pada

selang waktu 3 jam antara pukul 07.00 sampai pukul 19.00 dengan perubahan

kandungan air tanah antara pukul 07.00 pada hari itu dengan kandungan air tanah

pada pukul 07.00 hari berikutnya. JUl111ah perubahan kadar air tanah tersebut

dijadikan acuan untuk menghitung nilai ETe tanaman teh rata-rata dari tiga tanaman.

Selain itu perubahan kadar air tanah hasil pengamatan memberikan gambaran profil

kandungan air tanah didalam tanah. Berikut adalah eontoh perhitungan ETe dan Ke.

Berdasarkan pada Lampiran 8 (tan am an teh I), diambil data hari ke-2:

Perubahan kandungan air tanah sedalam I meter dari pukul 07.00 sampai pukul

07.00 hari berikutnya adalah 156.60-119.45=37.15 mm, sedangkan jumlah

penambahan air antara pukul 07.00 sampai puku119.00 adalah 13.37 mm maka nilai

evapotranspirasi tanamannya beltanda negatif yaitu sebesar 13.37-37.15=-23.78

mm. Berdasarkan data hari ke-3: Perubahan kandungan air tanah : 121.18-119.45 =

1.73 mm. Penambahan air: 5.34 + 1.71+0.23 = 7.28mm, Nilai ETc:7.28-1.73=

5.55 mm.

Untuk perhitungan Kc dilakukan dengan membandingkan ETc yang bemilai

(37)

Hasil analisa sifat fisik tanah di Laboratorium Tanah Jurusan Tanah Faperta IPB yang mcliputi bulk density (bobot isi), porositas, kadar air pada pF=2.54 dan pF=4.20, air tersedia dan permeabilitas dapat dilihat pada Lampiran 2. Sedangkan hasil analisa tekstur tanah pada berbagai kedalaman dapat dilihat pada Lampiran 3.

I. Bobot isi, porositas, anal isis pF dan permeabilitas

Bobot isi merupakan petunjuk tingkat kepadatan tanah, makin tinggi nilai bobot isinya, makin tinggi pula tingkat kepadatan tanahnya ( Soepardi, 1983 dan Hardjowigeno, 1986).

Hansen e/ al mengemukakan bahwa ruang pori (porositas) mempunyai hubungan langsung terhadap nilai produksi tanah disebabkan pengaruhnya terhadap kapasitas menahan air dan terhadap gerakan udara, air dan akar-akar tanaman sehingga akan menghambat proses pertumbuhan tanaman.

Berdasarkan pada Lampiran 2 dapat dilihat bahwa secara umum lapisan tanah makin kebawah hobot isi makin tinggi sebaliknya makin ke bawah porositas makin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa granulasi lapisan tanah makin kebawah makin buruk. Lapisan tanah bawah rata-rata lebih padat daripada lapisan tanah atas.

Analisis pF merupakan petunjuk untuk l11elihat kemal11puan tanah l11enahan air

(WaleI' Holding Capacity). Kandungan air pada kapasitas 1apang ditunjukkan

(38)

25

Keadaan air tersedia (% volume) dan kadar air (% volume) pada pF=2.54 dan pF= 4.20 untuk tiap-tiap kedalaman diperlihatkan pada Tabel4.

Tabel4. Kadar air tanah(% volume) pad a pF=2.S4 dan pF=4.20 d' d ' k d I

serta air terse 13 pa a hap-hap e a am an

Kedalaman pF=2.54 pF=4.20 Air tersedia

セ」ュI@ (% vol) (% vol) (% vol)

0-20 46.38 22.02 24.36

20-40 41.84 24.00 17.84

40-60 39.09 24.13 14.96

60-80 36.66 22.19 14.47

80-100 45.16 22.78 22.38

Berdasarkan pada Tabel 4 dapat dikemukakan bahwa secara umum jumlah air tersedia bagi tanaman cenderung makin ke bawah makin menurun. Pada Gambar 4 diperlihatkan kurva pF pada kedalaman yang berbeda.

Kadar airj%vol) 50

TPセセ@

301

-20

10

o

2.54 4.2

pF

Gambar 4. Kurva pF

--0-20 --20-40 --40-60 --60-80 -80-10e

[image:38.600.91.390.181.358.2]
(39)

dipengaruhi oleh besar dan bentuk partikel tanah dan rongga (tekstur dan stmktur

tanah) dan bebas dari sifat-sifat air tanah (kerapatan jenis dan viskositas).

Tabel 5. Keadaan permeabilitas pada masing-masing kedalaman

Kcdalaman Permeabilitas Keterangan

(em) (em/jam)

20 18.64 ada akar

40 25.08 ada akar

60 28.04

80 35.30

100 35.80

Klasifikasi pem1eabilitas (Arsyad, 1979) :

PI

=

lambat, kurang dari 0.5 em/jam P2 = agak lambat, 0.5-2.0 em/jam

P3 = sedang, 2.0-6.25 em/jam

P4 = agak eepat, 6.25-12.5 em/jam P5 = eepat, lebih dari 12.5 em/jam

Berdasarkan klasifikasi permeabilitas dalam Arsyad (1979), maka permeabilitas

tanah di Perkebunan teh Gunung Mas blok A-18 GM I pada kedalaman 0-100 em

termasuk cepa!.

2. Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah susunan relatif dari tiga ukuran zarah tanah. Pasir 2

mm-20 fl, debu 50-2 fl, liat < 2 fl.

Berdasarkan segitiga tekstur tanah (Anonimous, 1975 dalam Arsyad, 1989)

tekstur tanah di lokasi penelitian termasuk kedalam jenis tanah lempung liat berpasir

[image:39.603.94.410.173.340.2]
(40)

27

ini berdasarkan pada Tabel! yang menunjukkan daya menahan air dari berbagai tekstur tanah (Black, 1968). Pada Tabel6 diperlihatkan keadaan tekstur tanah pada

masing-masing kedalaman.

Tabel6. Tekstur tanah pada masing-masing kedalaman

Kedalaman Tekstur (%) Kelas Tekstur

(em)

Pasir Debu Liat

20 68.21 7.73 24.06 Lempung liat berpasir

40 50.87 27.02 22.11 Lempung liat berpasir 60 52.85 15.94 31.21 Lempung liat berpasir 80 46.50 24.08 29.42 Lempung liat berpasir 100 56.98 20.64 22.38 Lempung liat berpasir

B. Evapotranspirasi dan eurah hujan

Evapotranspirasi tanaman merupakan petunjuk untuk melihat kebutuhan air tanaman. Besamya evapotranspirasi tergantung dari jenis tanaman, fase pertumbuhan tanaman, dan faktor-faktor klimatologi antara lain radiasi, subu, RH dan kecepatan angin (Doorenbos dan Pruitt, 1977).

Besamya evapotranspirasi acuan (ETo) yang dihitung dengan menggunakan metode radiasi selama penelitian diperlihatkan pada Lampiran 4. Sedangkan besamya rata-rata ETo bulanan dalam satuan mm/hari dari tahun 1985-1996 diperlihatkan pada Tabel 7. Dari Lampiran 4 diperoleh bahwa besamya nilai ETo rata-rata selama penelitian adalah 10.40 mmlhari.

(41)

Tabel 7. Perbandingan ETo bulanan rata-rata berdasarkan metode radiasi dengan cura h h' uJan e e 11 fik'fd' h an ta un 19851996

-Bulan ETo (mm/hari) Curah hujan Chelf

(mm/bulan) {mllllbulanl

Januari 2.55 481.47 273.60

Februari 2.61 463.28 262.42

Maret 2.82 346.12 190.36

April 2.39 263.29 139.42

Mei 2.35 172.56 83.62

Juni 2.25 107.06 43.34

Juli 2.33 89.20 32.36

Agustus 2.50 109.72 44.98

September 2.88 138.65 62.77

Oktober 2.71 213.27 108.66

November 2.60 337.54 185.09

Desember 2.75 407.15 227.90

Berdasarkan pada Tabel 7 dengan membandingkan ETo dengan curah hujan efektifnya terlihat bahwa antara bulan Juni sampai dengan bulan September jumlah curah hujan efektif lebih rendah daripada ETo. Hal ini menunjukkan terjadi defisit ketersediaan air didalam tanah atau nilai ETa lebih rendah daripada ETp. Apabila defisit kandungan air tanah melewati titik kritis kandungan air tanah sehingga evapotranspirasi aktual lebih kecil dari evapotranspirasi potensial, maka akan terjadi pengurangan hasil seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Curah hujan efektif berkisar antara 32.36 sampai 273.60 mmlbulan. Jumlah eurah hujan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.

C. Perubahan Kandungan Air Tanah

[image:41.602.77.490.114.349.2]
(42)

29

menunjukkan nilai ETc dari tanaman teh. Perhitungan nilai ETc berdasarkan perubahan kadar air tanah yang diamati mulai pukul 07.00,10.00,13.00,16.00,19.00 dan 07.00 pada hari berikutnya. Hasil perhitungan ETc berdasarkan perubahan kadar air tanah tersebut dapat dilihat pada Tabel 8. Apabila dibandingkan dengan nilai ETo maka pada umumnya nilai ETc lebih kecil daripada ETo. Dari perbandingan ETc dengan ETo maka diperoleh nilai koefisien tanaman (Kc). Pada perhitungan ETc berdasarkan perubahan kadar air tanah ini, nilai perubahan kadar air tanah yang bernilai negatif tidak dimasukkan dalam perhitungan ETc dikarenakan nilai ETc tersebut menunjukkan tidak terjadinya proses evapotranspirasi melainkan menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Dalarn hal ini tanda negatif menunjukkan adanya penambahan air kedalarn tanah yang disebabkan oleh pengaruh gerakan kapiler air didalam tanah ataupun pengaruh air hujan sehingga penarnbahan airnya tidak dapat terukur secta pengaruh adanya proses perkolasi di dalam tanah dan keadaan cuaca secta suhu udara yang terlalu rendah yang menyebabkan teIjadinya pengembunan sehingga kelembaban tanah meningkat.

(43)

Hari ke- ETc-l(mmlhari) ETc-2(mmlhari) ETc-3(mmAlari)

1 11.02 1.04 -6.74

2 -23.78 8.24 4.35

3 5.55 7.45 7.42

4 20.98 13.08 12.41

5 -2.43 15.93 6.51

6 -11.59 4.25 5.37

7 3.87 11.98 5.02

8 -6.00 8.32 1.36

9 9.66 8.25 7.56

10 14.52 7.80 5.37

I I 8.43 8.01 4.58

12 2.44 2.52 2.04

13 4.78 5.93 2.65

14 11.24 -17.12 1.71

15 7.67 11.24 3.10

16 0.83 1.10 2.66

17 -0.51 -0.97 1.20

18 1.30 4.02 -1.88

19 -9.73 1.94 11.92

20 -10.35 8.99 7.65

21 -33.98 -2.34 -5.30

22 0.23 12.58 5.99

23 7.64 4.00 -1.33

24 12.28 10.22 12.96

25 4.38 7.89 9.63

26 -41.27 9.00 5.12

27 5.67 7.42 0.44

28 2.91 5.64 6.14

29 -1.30 3.82 2.66

• Han yang dlcelak lebal menunJukkan han hUJ3n sehmgga IIdak dlpergunakan dalam

[image:43.602.110.484.104.674.2]
(44)

31

Tabel9 Nilai Etc dan Kc

No. Hari ke- Eto Etc-1 Kc-1 Etc-2 Kc-2 Etc-3 Kc-3

1 3 5.8 5.55 0.96 7.45 1.28 7.42 1.28

2 4 9.6 20.98 2.19 13.08 1.36 12.41 1.29

3 7 7.3 3.87 0.53 11.98 1.64 5.02 0.69

4 9 11.5 9.66 0.84 8.25 0.72 7.56 0.66

5 10 13 14.52 1.12 7.8 0.6 5.37 0.41

6 11 12.6 8.43 0.67 8.01 0.64 4.58 0.36

7 12 10.4 2.44 0.23 2.52 0.24 2.04 0.2

8 13 13.6 4.78 0.35 5.93 0.44 2.65 0.19

9 15 12.5 7.67 0.61 11.24 0.9 3.1 0.25

10 16 8.7 0.83 0.1 1.1 0.13 2.66 0.31

11 22 12.7 0.23 0.02 12.58 0.99 5.99 0.47

12 24 6.1 12.28 2.01 10.22 1.68 12.96 2.12

13 25 11.5 4.38 0.38 7.89 0.69 9.63 0.84

14 27 13.7 5.67 0.41 7.42 0.54 0.44 0.03

15 28 14.2 2.91 0.2 5.64 0.4 6.14 0.43

Jumlah 163.2 104.2 10.62 121.11 12.25 87.97 9.53

Rata-rata 10.88 6.95 0.71 8.07 0.82 5.86 0.64

Rata-rata tl9a tanaman teh: Etc-6.96, Kc-O.72

25

20

-+-Etc

E

Etc·1

.s

... Kc·1

.t: 15

"""*-Etc·2

セ@

0

.'S -lIE-Kc-2

セ@

"ii ...-Etc·3

0 -+-Kc-3 セ@

'"

0 10 セ@

"

c

セ@

'"

5

o

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Harl

[image:44.600.49.502.92.328.2] [image:44.600.58.493.315.662.2]
(45)

1. ETo acuan berkisar antara 5.3-14.2 mm/hari dengan rata-rata 10.40 mmlhari. Nilai ETc dari hasil pengukuran merupakan ETc rata-rata dari tiga tanaman yaitu sebesar 6.96 mmlhari. Sedangkan nilai Kc adalah perbandingan antara ETc rata-rata dengan ETo rata-rata yaitu sebesar 0.72.

2. Berdasarkan perbandingan ETo bulanan rata-rata dengan curah hujan efektif terdapat defisit ketersediaan kandungan air tanah antara bulan Juni sampai dengan bulan September dikarenakan curah hujan efektif pada bulan-bulan tersebut lebih rendah daripada ETo. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pengurangan hasil sehingga pada saat itu harus dilakukan penambahan air.

B. Saran

1. Untuk melakukan pendugaan kandungan air tanah bulanan yang lebih akurat, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang meliputi waktu jangka waktu yang cukup lama. 2. Faktor kedalaman perakaran dari suatu jenis tanaman yang akan diamati perlu lebih

(46)

DAFT AR PUST AKA

Anonimous. 1968. Guide to Agroclimatological Practices. WMO. Geneva.

Arsyad, S. 1975. Fisika Tanah. Departemen Ilmu-ilmu Tanah, Faperta, IPB. Bogor. Arsyad, S. 1979. Konservasi Tanah. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah, Faperta,IPB. Bogor. Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.

Black, C.A. 1968. Soil Plant Relationship. John Willey and Sons, Inc, New York. Chang, J .H. 1968. Climate and Agriculture An Ecological Survey. Aldene, Chicago Damanik, E.L. 1987. Hubungan Kelembaban Tanah dengan Faktor-Faktor Klimatologi.

Skripsi. Fateta, IPB, Bogor.

Dastane, N.D. 1974. Effective Rainfall in Irrigated Agricultural. Irrigation and Drainage Paper. Vol. 25. FAO. Roma.

Doorenbos, J. and A.H. Kassam. 1979. Yield Respon to Water. Irrigation and Drainage Paper. Vol. 33. FAO. Roma.

Doorenbos, J. And W.O. Pruitt. 1977. Guidelines for Prediction Crop Water Requirement. Irrigation and Drainage Paper. Vol. 24. FAO. Roma.

Flinn, J.C. 1971. The Simulation of Water Crop Irrigation System dalam J.B. Dent dan J.R. Anderson (Ed). System Analysis in Agricultural Management. John Willey and Sons. Inc. New York.

Hansen, V. E., O.W. lsraelsen and G.E. Stingham. 1979. Irrigation Principles and Practices. John Willey and Sons. Inc. New York.

Hardjowigeno, S. 1986. IIn1U Tanah. Jurusan Tanah. Faperta. IPB. Bogor.

(47)

Hasan, A. 1988. Hubungan Perubahan Kandungan Air Tanah dengan Unsur-unsur Klimatologi di Perkebunan Tebu Cinta Manis. Sumatera Selatan. Skripsi. Fateta. IPB. Bogor.

Kalsim, D.K. 1989. Fisika Lengas Tanah. Jurusan Mekanisasi Pertanian. Fateta. IPB. Kozlowski, T.T. 1972. Water Deficit and Plant Growth. Vol. 3. Treatise Academic Press.

New York.

Kramer, P.J. 1983. Water Relation of Plant. Academic Press. New York.

Laverton, S. 1964. Irrigation Its Profitable Use for Agriculture and Horticultural Crops. Oxford University Press. London.

Rahardjo, P. 1990. Aplikasi Isotop dan Radiasi dalam Bidang Pertanian, Petemakan dan Biologi. BATAN. Jakarta.

Richards, L.A. and C.H. Wedleich. 1952. Soil Water and Plant Growth. Ed. By. セNtN@

Shaw. Vol. II. Academic Press. Inc. New York: 72-227.

Richards, L.A. ans S.J. Richard. 1957. Soil Moisture. The Yearbook of Agricultural. USDA. Washington, D.C.

Sitorus, S.R.P., O. Haridjaja dan K.R. Brata. 1980. Penuntun Praktikum Fisika Tanah. Departemen !lmu-Ilmu Tanah. Faperta. IPB. Bogor.

Slayter, P.J. and J.E. Goode. 1967. Crop Respon to Water at different Stage of GrO\'ith. Commonwealth Agricultural Bureaux, Farnhan Royalbucks. England.

Soepardi, G. 1979, 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Faperta. IPB. Bogor.

Sosrodarsono dan K. Takeda. 1977, 1983. Hidrologi untuk Pengairan. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Sumama, A. 1982. Analisa Sumber-Sumber Air di Wilayah Kabupaten Cianjur Selatan. Masalah khusus. FPS. IPB. Bogor.

(48)

35

Sutedjo, R. 1972. Teh. Surungan. Jakarta. Dalam Lylavati, F. 1995. Kajian Pasar Intemasional Komoditi Teh. Skripsi. Fateta. IPO. Bogor.

Oldeman, L.R. dan Syarifuddin. 1977. An AgrocIimatic Map of Sulawesi, Central Research Institute for Agriculture. Bogor.

(49)
(50)

Lall1piran I. Tala lelak dan kcadaan tanall1an di lokasi penelilian

a. Tata lelak lokasi penelilian

0 0 0 0 0 0 0

p

0 0 0 0 0

0 X

0 X

0 X X X

X 0 X

0

0

X

X X 0

0

0

Keterangan : 0 X

III

0 0

= tanall1an teh

=

titik pengall1atan I, II, III = ulangan

X

0 0 0

b. Keadaan tanaman di lokasi penelitian blok A-IS Gunung Mas I

UlI1ur tanall1an: 20-28 tahun

Kerapatan tajuk : 7000 lanaman/ha

Jenis tanaman : seedling, kional 2024

Ketinggian daerah : 800 m dpl

37

0 0

0

X

II

X

X

X I

(51)

Lampiran 2. Sifat-sifat Fisik Tanah

No. Kedalaman Bulk Porositas Kadar air Air Permeabilitas

(em) density (% vol) tcrsedia (em/jam)

(glee)

2.54 4.20

I. 20 0.86 67.17 46.38 22.02 24.36 18.64

2. 40 0.93 64.91 41.84 24.00 17.84 25.08

3. 60 0.96 63.77 39.09 24.13 14.96 28.04

4. 80 0.91 65.66 36.66 22.19 14.47 35.30

5. 100 0.89 66.42 45.16 22.78 22.38 35.80

Sumber: Lab. Fisika Tanah Faperta IPB

Lampiran 3. Tekstur tanah

No. Kedalaman Tekstur Keterangan

Lab. (em) Pasir Debu Liat

2443 20 68.21 7.73 24.06 Lempung liat berpasir

2444 40 50.87 27.02 22.11 Lempung liat berpasir

2445 60 52.85 15.94 3l.21 Lempung liat berpasir

2446 80 46.50 24.08 29.42 Lempung liat berpasir

2447 100 56.98 20.64 22.38 Lempung liat berpasir

..

(52)

39

ETo

2

2 21.95 75 2 0.72 15 9.15 0.73 6.680 5.30

3 21.45 73 4 0.82 15 9.90 0.72 7.128 5.80

4 22.65 62 4 1.56 15 15.50 0.74 11.470 9.60

5 21.50 66 2 1.92 15 18.20 0.73 13.286 11.90

6 22.65 72 3 1.66 15 16.20 0.74 11.988 8.40

7 21.85 77 3 1.16 15 12.50 0.73 9.125 7.30

8 21.55 67 3 1.92 15 18.20 0.73 13.286 12.20

9 22.05 62 3 1.76 15 17.00 0.72 12.240 11.50

10 21.60 69 3 1.94 15 18.30 0.73 13.359 13.00

11 22.20 69 5 1.78 15 17.10 0.73 12.483 12.60

12 22.50 75 3 1.76 15 17.00 0.74 12.580 10.40

13 23.00 62 5 1.96 15 18.50 0.74 13.690 13.60

14 24.00 44 3 1.98 15 18.60 0.75 13.950 13.60

15 22.70 58 3 1.90 15 18.00 0.74 13.320 12.50

16 22.10 75 2 1.37 15.7 14.70 0.73 10.731 8.70

17 22.60 69 3 1.37 15.7 14.00 0.74 10.360 10.20

18 21.60 79 2 1.28 15.7 14.70 0.73 10.731 8.20

19 22.15 72 3 1.37 15.7 19.00 0.73 13.870 8.90

20 21.85 77 2 1.92 15.7 11.50 0.74 8.510 10.90

21 22.45 76 3 0.96 15.7 18.70 0.73 13.651 7.00

22 22.10 69 3 1.89 15.7 19.30 0.74 14.282 12.70

23 22.25 76 2 1.96 15.7 9.00 0.73 6.570 11.50

24 22.20 69 3 0.65 15.7 19.30 0.73 14.089 6.10

25 22.10 71 3 1.96 15.7 12.90 0.73 9.417 11.50

26 22.70 70 4 1.14 15.7 19.00 0.74 14.060 8.80

27 24.10 63 3 1.92 15.7 19.30 0.75 14.475 13.70

28 23.25 41 4 1.96 15.7 19.30 0.75 14.475 14.20

29 23.35 49 4 1.96 15.7 19.30 0.74 14.282 14.10

23.60 65 1.73 15.7 17.50 0.75 13.125 12.20

(53)

("C) (mm/hari) ( mm/h ari )

lanuari 20.34 92.27 1.15 15.90 1.38 12.43 4.86 0.71 3.46 2.55

Februari 20.79 89.82 1.19 16.04 1.27 12.34 4.83 0.72 3.46 2.61

Maret 21.25 88.91 1.28 15.56 1.99 12.10 5.17 0.72 3.74 2.82

April 21.65 87.00 1.05 14.60 2.04 11.94 4.90 0.73 3.56 2.39

Mei 21.76 86.18 1.01 13.30 2.22 11.80 4.58 0.73 3.33 2.35

JUlli 21.65 83.55 1.10 12.66 2.18 11.68 4.35 0.73 3.16 2.25

Jlili 21.24 83.27 1.24 12.96 2.43 11.73 4.59 0.72 3.32 2.33

Agustus 21.05 83.00 1.36 13.90 2.51 11.87 4.94 0.72 3.57 2.50

September 21.25 83.36 1.05 14.96 2.19 12.00 5.11 0.72 3.70 2.88

Oktoher 21.51 84.55 1.18 15.74 1.63 12.24 4.98 0.73 3.61 2.71

November 21.22 87.64 1.09 15.87 1.31 12.41 4.80 0.72 3.46 2.60

Descmber 21.01 87.18 1.46 15.80 1.69 12.51 5.01 0.72 3.61 2.75

Lampiran 6. ETo bulan September dan bulan Oktober 1997

Hari ke- ETo ETo Hari ke- ETo ETo (mmlhari)

(mmlhari) (mm/hari) (mmlhari)

September Oktober September Oktober

1 10.8 865 17 5.3 10.8

2 10.2 10.20 18 5.8 13.1

3 98 8.15 19 9.6 107

4 9.75 8.90 20 11.9 11.8

5 8.25 10.90 21 8.4 141

6 7.0 7.0 22 7.3 11.8

7 12.7 12.7 23 12.2 5

8 100 11.45 24 11.5 12

9 77 6.10 25 13 8.75

10 745 115 26 12.55 7.35

11 10.8 8.8 27 10.4 3.10

12 148 13.7 28 13.6 9.5

13 13.6 14.2 29 13.6 1225

14 124 14.2 30 12.5 7.25

15 9.3 12.2 31 12.6

16 585 11.3 Jumlah 30805 319.95

Rata- 10.27 10.32

(54)

Lampiran 7. Data hasil kalibrasi

0-20 (I)

Skala Kadar air

54 39.17

59.5 44.53

61 46.07

63.5 48.79 64.5 49.69

74 59.2

74.5 59.4 76.5 62.15

0-20 (II)

Skala Kadar air

60.5 46.03

65 50.32

66.5 52.63

75 59.7

77.5 62.98

79 66.13

81 68.33

84 70.78

0-20 (III)

Skala Kadar air

51.5 36.86 52.5 38.04

53 38.43

58 43.86

58.5 43.9

61 46.34

63.5 48.59

66 52.49

20-40 (I)

Skala Kadar air

51.5 36.86 52.5 38.04

53 38.43

58 43.86

58.5 43.9

61 46.34

63.5 48.59

66 52.49

80

セ@_ 60 '

..,

..

40 ,

セ@

..

"

..

20 .

"

o .

0

80

70 1

セ@ 60

..

..

セ@ 50

"

..

40

"

30 . 20· 10, 01 0

60

セ@ 50; 40 i

セ@

30;

..

セ@

..

20·

"

..

10

"

o .

0

60

;< 50 .

:s:-

..

40 '

:u 30 .

-g 20

"

10 : '

o .

o

10 10 10 10 41 0-20 (I)

....

y= 1.0087x-15.389 II II

R2 = 0.9993

...

.-20 30 40 50 60 70 80

Skala

0-20 (II)

Y = 1.062x -18.508

セ@

R' = 0.9924

+. - --+- --- . . ,

20 30 4OSkal. 5O 60 70 80 90

0-20 (III)

Y = 1.0307x -16.218 R' = 0.9948

20 30 40 50 60 70

Skala

20-40 (I)

y = 1.0307x· 16.218

セ@

R2 = 0.9948 . . . . - - .
(55)

59.5 44.57

64.5 49.59

65.5 51.29

66 52.3

77 62.66

78 63.42

78.5 63.88

20-40 (III)

Skala Kadar air

42 27.7

44 29.39

47.5 32.73

52 37.18

56 41.41

57 42.07

58 43.88

60 45.76

-4060 (I)

Skala Kadar air

48 34.49

49 34.84

52.5 38.06

54 39.03

59 45.19

59.5 45.47

60 45.62

61 46.2

40-60 (II)

Skala Kadar air

58 45.35

59 45.69

60 45.88

65 50.51

66 51.59

66.5 52.51

67 53.74

69 54.93

60 ,60

20

1

0 lQO 10 o 50 セo@

....

o

.>SO .

..

セo@ セo@ o . o 50

to

セSP@

..

. :;20 .

..,

..

><10 .

o . o

60

;to .

,::,,0 .

セo@

.a>0

..

><10

o .

58

10 20

10

10 20

60

20

y = 1.0081 X - 15.049

R2 a:: 0.9976

30 50

20-40 (III)

y = 1.0061x - 14.863

R' = 0.9982

30 Skala

40-60 (I)

y = 0.9698x - 12.591

R' = 0.9916

30 Skala 40

40-60 (II)

60 70

40 50

50 60

I

Y

=

0.9166x - 8.4686

R'

=

0.9802

62 64 66 68

(56)

40-60 (III)

Skala Kadar air

60 45.53

61 45.98

61.5 46.79

65 50.63

76.5 62.13

77 62.3

78 65.77

80 67.52

60-80 (I)

Skala Kadar air

59.5 44.86

61 45.95

62 47.41

66 51.07

66.5 51.54

70 52.48

71 56.11

71.5 56.7

60-80 (II)

Skala Kadar air

58 43.2

59 44.09

59.5 44.88

60 45.05

61 46.63

62 47.23

63.5 48.71

64 49.28

60-80 (III)

Skala Kadar air

67 53.75

69 54.32

69.5 55.38 71.5 56.95

74 58.83

74.5 58.92

76 61.86

78 63.54

70 60

セ@

10

..

110 'iJ

'fo .

0 0

60 .

50,

セo@セ@

セo@ .

セ@

i

O

"io .

0

50 49 .

セ@ 'l7. 1IIl·

..,

, セN@ 44 43 58 64 62 •

ib.

10

10

40-60 (IU)

Y = 1.0821x - 19.779

R' = 0.9931

20 30 sセYQ。@

60-80 (I)

Y = 0.921x - 9.962

R' = 0.9597

20 30 sセセ。@

60-80 (U)

59 60 Sli.lla

60-80 (III)

y = 0.9109x - 8.0408 R' = 0.969

70 Siala

50

50

43

60 70 80

60 70 80

y = 1.014x-15.594

R' = 0.9933

62 63 64

(57)

64 65.5 69 71 73 75 76 80-100 (II) Skala 66 67 71.5 75 75.5 77.5 79 80 80-100 (III) Skala 63.5 64 66 69.5 74 75 76 78 49.19 50.99 54.96 56.05 57.07 60.73 61.61 Kadar air 51.91 53.44 56.64 59.37 60.61 62.68 66.04 66.89 Kadar air 48.92 49.07 51.54 55.77 58.05 60.36 61.03 65.64 セ@

"

3Il

"

セ@ 10 o o 70 60 .

セUP@

'i

40 :; 30

-g 20

'"

70 60

@

"

lP

セ@

10 o 10 o o o

10 20

10 20

10 20

30

y = 0.9794x -13.217 R' = 0.9869

SMii. 50

80-100 (II)

60

y = 1.0224x -15.893

R' = 0.9698

50 60

80-100 (III)

30

y = 1.0436x - 17.537

R' = 0.972

siIll. 50 60

70 80

70 80

(58)

45

Lampiran 8. Hasil pengamatan perubahan kandungan air tanah

a Tanaman leh I

Uari ke- Kedalaman Kandungan air tanah (mm)

(em)

07.00 10.00 13.00 16.00 19.00 07.00

1. 0-20 lo.s3 10.72 10.89 12.28 11.06 5.95

20-40 10.92 10.92 10.92 10.92 10.92 10.95

40-60 46.37 46.93 47.49 47.49 46.37 セUNXR@

60-80 32.98 30.29 33.65 32.98 32.98 31.64

80-100 49.25 59.71 !'i9.71 59.71 57.97 58.40

Jumlah 150.05 158.57 162.66 163.38 159.30 152.36

+8.52 +4.09 +0.72

-2. 0-20 10.19 10.54 10.89 10.72 10.28 9.50

20-40 10.55 10.93 11.30 10.93 10.93 10.17

40-60 45.82 47.49 12.58 12.02 12.02 12.02

60-80 31.64 34.32 34.65 34.32 32.98 31.97

80-100 58.40 66.69 60.58 59.71 57.97 55.79

Jumlah 156.60 169.97 130.00 127.70 124.18 119.45

+13.37

-

-

-3. 0-20 9.50 10.02 10.19 10.19 12.54 11.67

20-40 10.17 10.93 10.93 10.93 10.55 1018

40-60 12.02 12.02 12.02 12.02 12.02 11.46

60-80 31.97 32.98 33.65 32.98 32.98 31.64

80-100 55.79 58.84 59.71 59.71 57.97 5623

Jumlah 119.45 124.79 126.50 125.83 126.06 121.18

+5.34 + 1.71 - +0.23

4. 0-20 11.67 12.20 1281 12.28 11.76 11.24

20-40 10.18 10.93 11.67 10.93 10.55 10.18

40-60 11.46 12.02 12.58 12.02 12.02 11.46

60-80 31.64 33.31 34.65 33.31 31.97 3097

80-100 56.23 61.45 71.05 61.45 57.97 56.23

Jumlab 121.18 129.91 142.76 129.99 124.27 120.08

+8.73 +12.&5

-5. 0-20 11.24 11.94 12.02 12.02

Gambar

Tabel I. Hubungan antara bar, em (tinggi) airdan pF................. .....................
Gambar 1. Tiga komponen utama dari faktor-faktor yang mempengaruhi
Grafik hubungan antara RH (%), angin (mldt) dan faktor
Gambar I. Tiga komponen utama dalam hubungan tanah, air dan tanaman (Flinn, 1971)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tingginya AKI juga dipengaruhi oleh tiga terlambat yang kemudian dikembangkan menjadi empat terlambat, yaitu terlambat pengenalan dini adanya tanda bahaya atau masalah atau

Jika diamati, hasil akhir dari riset tersebut adalah mengubah teknologi yang ada sekarang yang umumnya berbasis pada material skala mikrometer menjadi teknologi

INOVASI INSTRUMEN SIT AND REACH BERBASIS DIGITAL TECHNOLOGY Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada D Huruf kecil ke samping (dalam satu baris) menunjukkan

Beri air pada wajan, taruh roller plate di bawah stick roller plate, taruh rak di atas wajan, taruh wajan di atas kompor, nyalakan api, setelah pemutar api

Instrumen yang akan digunakan haruslah valid dan reliable sebab benarnya data yang diambil melalui instrument menentukan kualitas suatu penelitian. Oleh karena itu

Suo- men lohisaaliskiintiöstä hyödynnettiin 87 % (367 tonnia). Suomen ammattikalastuksen koko lohisaalis pyydettiin Pohjanlahden ja Suomenlahden rannikoilta. Istutettujen lohien

Nilai mean sampel digunakan untuk menjadi titik plot pada control chart X bar Chart, mean ini akan digunakan sebagai acuan apakah data tersebut berada batas kendali UCL