Pasal yang berkaitan dengan Usaha Perasu

Teks penuh

(1)

TUGAS HK. ASURANSI REGULER

Oleh: Jovico N. Honanda/1306410055

Peraturan Perundang-undangan Pelaksana

UU No. 40 Tahun 2014 Tentang

Perasuransian

 Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (Perubahan terakhir Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2008)

 Keputusan Menteri PMK No. 152/PMK.010/2012 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik Bagi Perusahaan Perasuransian

 PMK No.53/PMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi

 PMK No.11/PMK.010/2011 tentang Kesehatan Keuangan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi Dengan Prinsip Syariah

 PMK No.168/PMK.010/2010 tentang Pemeriksaan Perusahaan Perasuransian

 PMK No.18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaran Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah

 PMK No. 79/PMK.010/2009 tentang Sanksi Administratif Berupa Denda dan Tata Cara Penagihannya terhadap Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, atau Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi

 POJK No. 28/POJK.05/2015 tentang Pembubaran, Likuidasi, dan Kepailitan

Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah

 PMK No. 158 /PMK 010/2008 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 424.KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi

 KMK nomor 422/KMK/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi

 KMK nomor 424/KMK/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi

 KMK Nomor 425/KMK/2003 tentang Perizinan dan Penyelenggaraan Usaha Penunjang Usaha Asuransi

(2)

Pasal yang berkaitan dengan Usaha Perasuransian dalam UU No. 40

Tahun 2014 Tentang Perasuransian

Berdasarkan Pasal 1 angka (4) UU Perasuransian, yang dimaksud dengan Usaha Perasuransian adalah segala usaha menyangkut jasa pertanggungan atau pengelolaan risiko, pertanggungan ulang risiko, pemasaran dan distribusi produk asuransi atau produk asuransi syariah, konsultasi dan keperantaraan asuransi, asuransi syariah, reasuransi, atau reasuransi syariah, atau penilaian kerugian asuransi atau asuransi syariah. Dalam Seri Buku Ajar Hukum Asuransi, yang disusun oleh Kornelius Simanjuntak, Brian Amy Prastyo, dan Myra Setiawan, dituliskan bahwa kegiatan usaha perasuransian dapat dikelompokan menjadi dua kelompok jenis usaha yaitu usaha asuransi dan usaha penunjang usaha asuransi. Perbedaan keduanya adalah dalam hal pertanggungan resiko. Semua yang berjenis usaha asuransi adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha pertaggungan resiko sedangkan semua yang berjenis usaha penunjang usaha asuransi tidak melakukan pertanggungan resiko. Seluruh usaha asuransi harus dijalankan badan hukum sedangkan sebagian usaha penunjang usaha asuransi dapat dijalankan perorangan. Usaha asuransi menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi atau bertindak sebagai penanggung, sedangkan usaha penunjang usaha asuransi tidak memberikan pertanggungan.

Dalam Seri Buku Ajar Hukum Asuransi, usaha asuransi meliputi 3 usaha yaitu usaha asuransi kerugian, usaha asuransi jiwa, dan usaha reasuransi. Dalam UU Perasuransian juga diatur mengenai 3 jenis usaha diatas, namun usaha asuransi kerugian dikenal dengan usaha asuransi umum. Selain itu diatur juga 3 jenis usaha lainnya antara lain usaha asuransi umum syariah, usaha asuransi jiwa syariah, dan usaha reasuransi syariah.

Dalam Seri Buku Ajar Hukum Asuransi, usaha penunjang usaha asuransi meliputi 5 usaha yaitu usaha pialang asuransi, usaha pialang reasuransi, usaha penilai kerugian, usaha konsultan aktuaria, dan usaha agen asuransi. Dalam UU Perasuransian juga diatur mengenai usaha penunjang usaha asuransi diatas, selain itu terdapat usaha lain yang menunjang usaha asuransi sebagaimana diatur dalam Pasal 55 UU Perasuransian, antara lain konsultan aktuaria, akuntan publik, penilai, dan profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan. Secara keseluruhan usaha asuransi dan usaha penunjang usaha asuransi diatas disebut sebagai Perusahaan Perasuransian, sebagaimana dituliskan dalam Pasal 1 angka (14) UU Perasuransian.

(3)

Dalam UU Perasuransian dari Pasal 2 hingga 5 diatur mengenai ruang lingkup usaha perasuransian. Pasal 2 mengatur mengenai lingkup usaha asuransi umum, jiwa, dan reasuransi. Pasal 3 mengatur mengenai lingkup usaha asuransi umum syariah, jiwa syariah, dan reasuransi syariah. Pasal 4 mengatur mengenai lingkup usaha pialang asuransi, reasuransi, dan penilai kerugian asuransi. Pasal 5 mengatur mengenai kemungkinan perluasan lingkup usaha.

Pasal 6 dan 7 UU Perasuransian mengatur mengenai bentuk badan hukum dan kepemilikan Perusahaan Perasuransian. Sementara Pasal 8 hingga 10 mengatur mengenai perizinan usaha. Pasal 11 hingga 34 mengatur mengenai penyelenggaraan usaha. Pasal 35 mengatur mengenai tata kelola usaha perasuransian yang berbentuk koperasi dan usaha bersama, Pasal 36 hingga 38 mengatur mengenai peningkatan kapasitas usaha asuransi dalam negeri. Pasal 40 hingga 52 mengatur mengenai perubahan kepemilikan, penggabungan, peleburan, pembubaran, likuidasi, dan kepailitan perusahaan perasuransian.

Pengaturan dan pengawasan keguatan usaha perasuransian dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana diatur dalam Pasal 57 hingga 67 UU Perasuransian. Setiap perusahaan asuransi juga harus menjadi anggota asosiasi usaha perasuransian sebagaimana diatur dalam Pasal 68 dan 69. Mengenai sanksi administratif dan ketentuan pidana atas perusahaan perasuransian diatur dalam Pasal 70 hingga 82.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...